J - Aceh Books

Comments

Transcription

J - Aceh Books
0060 1656
J
tv - v;
Milik Depdikbud
Tidak Diperdagangkan
REVOLUSI NASIONAL
DI TINGKAT LOKAL
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL
PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI
SEJARAH NASIONAL
JAKARTA
1989
2794
REVOLUSI NASIONAL
DI TINGKAT LOKAL
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL
PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI
SEJARAH NASIONAL
JAKARTA
1989
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku-buku hasil
kegiatan penelitian Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai
Budaya, dalam rangka menggali dan mengungkapkan khasanah
budaya luhur bangsa.
Walaupun usaha ini masih merupakan awal dan memerlukan
penyempurnaan lebih lanjut, namun dapat dipakai sebagai bahan
bacaan serta bahan penelitian lebih lanjut.
Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dapat saling memahami
kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di tiap-tiap
daerah. Dengan demikian akan dapat memperluas cakrawala
budaya bangsa yang melandasi kesatuan dan persatuan bangsa.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu kegiatan proyek ini.
Jakarta, Desember 1989
Direktur Jenderal Kebudayaan,
Drs. GBPH. Poeger
NIP. 130 204 562
iii
DAFTAR ISI
Halaman
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN
v
DAFTAR ISI
REVOLUSI INDONESIA DAN PERGOLAKAN SOSIAL DI DELANGGU (Oleh: Suyatno)
vii
1
PERANG CUMBOK DI ACEH TAHUN 1945 (Oleh:
RatnaR.)
DUNIA GRAYAK DAN REVOLUSI LOKAL (Oleh:
Ryadi Gunawan)
-9
REVOLUSI SOSIAL PIHAK KIRI 1946 DI SERDANG
(Oleh: Tengku Lukman Sinar)
48
KEGIATAN PEMUDA MINYAK PADA AWAL PROKLAMASI (Oleh: Darto Harnoko)
104
KAUM ADAT DAN REVOLUSI DEWAN PERWAKILAN NEGERI DI AWAL PROKLAMASI (Oleh: J.R.
Chaniago)
PERANG KEMERDEKAAN DI SUMATERA UTARA:
MOTIVASI UNTUK BERPERANSERTA RAKYAT
(Oleh: Payung Bangun)
l4
l
-°
140
vu
F
REVOLUSI INDONESIA DAN PERGOLAKAN SOSIAL
DI DELANGGU
(Oleh; Suyatno)
Pendahuluan
Perubahan yang fundamental di dalam masyarakat Indonesia sangat terasa sekali pada saat setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Revolusi Indonesia yang mencakup periode 1945-1950 adalah revolusi yang anti kolonial. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kolonialisme dipandang sebagai
penghambat jalannya revolusi. Perubahan yang fundamental
tersebut disertai timbulnya pergolakan-pergolakan sosial, yang
dalam beberapa kasus di daerah-daerah di Indonesia merupakan
suatu revolusi sosial. Perubahan yang fundamental ini tampak
pada perubahan struktur sosial dan politik, dan struktur kolonial dan feodal ke struktur masyarakat yang bercorak republik.
Pergolakan-pergolakan sosial ini sering merupakan suatu
proses waktu yang singkat dengan gerakan radikal yang intensif,
misalnya keganasan, penculikan, pembunuhan dan lain sebagai1
nya. Kadangkala pergolakan sosial itu berjalan dalam proses
waktu yang lama. Dalam konteks Revolusi Indonesia ini. pergolakan-pergolakan sosial ini timbul karena terjadinya transformasi
sosial dan pohtik yang secara mendadak, dan erat dengan nilainilai Revolusi Indonesia, seperti anti kolonialisme, anti feodalisme, patriotisme, nasionalisme, radikalisme, idealisme, dan heroisme. Revolusi Indonesia adalah revolusi nasional yang menghasilkan kemerdekaan dan pembentukan bangsa. Oleh sebab
itu anti kolonialisme men.iadi suatu kehidunan politik yang
menyeluruh bagi bangsa Indonesia.1
Drama awal Revolusi Indonesia merupakan perjuangan
antara Indonesia dan Belanda, yang merupakan bagian dari pembebasan nasional bagi bangsa Indonesia yang telah berhasil
mencapai kemerdekaan dan membentuk bangsa yang baru
Pembebasan nasional di Indonesia, seperti di negara-negara lain.
disertai oleh dengan "perang pembebasan nasional" yang di
Indonesia lebih dikenal dengan nama Perang Kemerdekaan Indonesia.
Pergolakan-pergolakan sosial yang terjadi di daerah-daerah,
seperti di Delanggu yang terjadi pada tahun 194S sebenarnya
ditimbulkan oleh transformasi sosial dan politik di tingkat
lokal pada masa Revolusi Indonesia 1945-1950. Makalah yang
disajikan ini akan membahas respon masyarakat lokal terhadap
Proklamasi Kemerdekaan dan konflik sosial di tingkat lokal dalam konteks Revolusi Indonesia.
Delanggu pada Awal Revolusi
Status administratif daerah Delanggu sebelum kemerdekaan merupakan distrik (kawedanan) yang terdiri dari lima onder
distrik (kecamatan). Pada masa Revolusi Kemerdekaan. 19451950 daerah Delanggu masih meneruskan statusnya sebagai kawedanan. Pada masa penjajahan Belanda daerah Delanggu ini,
seperti distrik-distrik lain di Kabupaten Klaten dijadikan daerah
perkebunan-perkebunan tebu, tembakau dan indigo. Di Kabu:
paten Klaten, termasuk distrik Delanggu ini, ada 35 perusahaan
perkebunan milik orang-orang Belanda pada tahun 1915 .
Pengaruh dan kegiatan perusahaan-penibdha^n ini terhadap para
petani adalah adanya aneka ragam keria wajib yang memberatkan mereka. Oleh sebab itu sering timbul keresahan sosial di
lingkungan petani ini. Selama tahun 1919-1920. Dr. Tjipto
Mangunkusumo atas nama Sarekat Hindia menjalankan aksi
dan kegiatan revolusioner di desa-desa daerah Delanggu dan
berhasil menghsut para petani menolak kerja wajib. Pada bulan
April 1920 sekitar 2200 petani menghadiri rapat Sarekat Hindia di Delanggu mendengarkan pidato Haji Misbach untuk
menentang pemerintahan kolonial.J
Tradisi pergolakan sosial di Delanggu ini muncul kembali
pada masa revolusi, terutama pergolakan sosia! yang terjadi
pada tahun 1948. Sejak bulan-bulan pertama dan pada Revolusi
Kemerdekaan, kepemimpinan revolusioner lokal di Delanggu
tampak lebih condong ke aliran komunis. Buruh-buruh dari
perkebunan kapas dan rami (rosela). pabrik karung goni tetap
menjalankan kewajibannya sebagai buruh setelah Proklamasi
Kemerdekaan. Para buruh ini kemudian masuk ke dalam Barisan
Buruh Indonesia (B.B.L). B.B.I. Cabang Delanggu ini dibentuk
setelah B.B.I. Surakarta didirikan pada bulan Oktober 1945.
dan ini merupakan tindakan setelah B.B.I. Pusat didirikan di
Jakarta pada bulan September 1945 oleh kelompok Pemuda
Menteng 31 Jakarta. B.B.I. Karesidenan Surakarta ini di bawah
pimpinan Aliman. seorang komunis muda yang erat hubungannya dengan tokoh-tokoh komunis sebelum Perang Dunia II.
seperti Ahmad Dasuki Djuwardi dan Sujono.
Di Delanggu B.B.I. merupakan kekuatan sosial yang kuat
pada awal revolusi, B.B.I. Delanggu. seperti B.B.I. Surakarta
juga membentuk Lasykar Buruh Indonesia (L.B.L). Dalam
perkembangannya yang kemudian L.B.I. Surakarta ini dinamakan L.B.I. Divisi VIII yang terdiri dari 5 resimen. Kekuatan
sosial lain adalah Hizbullah, suatu organisasi pemuda Islam yang
3
dibentuk pada masa pendudukan Jepang yang masih tetap kuat
pada awal revolusi. Hizbullah daerah Delanggu ini. seperti
daerah-daerah lain di Jawa di bawah naungan Masyumi. Badanbadan perjuangan yang lain di samping L.B.I. dan Hizbullah
yaitu Lasykar Rakyat dan Barisan Pemberontakan Republik
Indonesia (B.P.R.I.J. B.P.R.I. berpusat di Surabaya dan di bawah pimpinan Bung Tomo. seorang pemuda revolusioner yang
memimpin kaum pemuda Surabaya melawan Inggris pada akhir
tahun 1945. Pertempuran bulan September 1945 di Surabaya
antara para pejuang R.I. melawan tentara Inggris mendorong
badan-badan perjuangan di Delanggu mengirimkan para anggotanya ke Surabaya untuk membantu kaum pemuda Surabaya.
Untuk menjalankan Pemerintahan Republik, seperti
daerah-daerah lain di Jawa. Komite Nasional Indonesia Daerah
(K.N.I.D) dibentuk pula di Delanggu. Di tingkat Pusat Komite
Nasional Indonesia Pusat (K.N.I.P.) atas dasar keputusar Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (P.P.K.I.). yang keputusonnya diumumkan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 22
Agustus 1945. Dan K.N.I.P. ini baru dilantik oleh presiden
pada tanggal 29 Agustus. K.N.I.D. Surakarta dibentuk pada
bulan September yang diketuai oleh Sumodiningrat. seorang
bangsawan Kasunanan lulusan Fakultas Hukum. Leiden. Sumodiningrat pernah menjadi perwira Pembela Tanah Air (PETA)
pada masa pendudukan Jepang KNID merupakan badan yang
mempunyai anggota-anggota dari berbagai aliran dan kelompok
sosial di dalam masyarakat.
Para petani di Klaten, termasuk petani-petani di daerah
Delanggu masuk ke dalam organisasi Barisan Tani Indonesia
(B.T.I.) yang berdiri pada bulan Desember 1945. Kemudian
pada pertengahan 1946 berdiri pula organisasi petani Islam
yang disebut Sarekat Tani Islam Indonesia (S.T.I.L). Dalam kerangka organisasi yang lebih luas B.T.I. ini bernaung di bawah
P.K.I. sedang S.T.I.I. di bawah naungan Masyumi.
4
Timbulnya anekaragam badan perjuangan dan organisasiorganisasi politik di Delanggu ini menciptakan suatu polarisasi
horizontal yang menjadi sangat tajam perbedaan sosial dan politiknya, terutama pada pergolakan sosial tahun 1948.
Konflik Sosial dan Politik
Dua minggu setelah Kabinet Hatta terbentuk, Maruto Darusman. seorang yang berorientasi kepada ideologi Marxist
dan pernah menjadi anggota Perhimpunan Indonesia tahun
1932, sebagai ketua Sarbupri (Sarekat Buruh Perkebunan Seluruh Indonesia) membuka konperensi nasional Sarbupri di
Delanggu pada tanggal 1 7 Pebruari 1948. 4 Konperensi ini dihadiri oleh wakil-wakil Sobsi (Sentral Organisasi Buruh Seluruh
Indonesia). B.T.I. dan cabang-cabang Sarbupri. termasuk Sarbupri cabang Delanggu. Konperensi ini bertujuan memperkuat
kesatuan kaum tani dan kaum buruh Konperensi memutuskan
bahwa Sarbupri akan membantu program-program B.T.I. terutama perjuangannya dalam menghapuskan hak konversi atas
tanah untuk perkebunan.
Setelah Pemerintahan Republik berdiri tanah konversi
merupakan problem dalam penyusunan undang-undang agraria.
Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan organisasiorganisasi politi telah mengadakan aksi tuntutan untuk menghapuskan tanah konversi ini dan kemudian dijadikan hak milik
perseorangan. Pada bulan Desember 1945 tuntutan penghapusan hak konversi ini dimulai oleh gerakan B.T.I. dengan kongres
pertamanya di Sragen. Kemudian B.T.I. daerah Klaten mengikuti aksi B.T.I. Cabang Sragen tersebut pada permulaan 1946.
Pada akhirnya dengan dikeluarkannya Undang-Undang
no. 13, tahun 1948, maka hak konversi dihapuskan dan tanah
konversi dihubungkan dengan tanah yang sejak permulaannya
di bawah hak konversi.5 Ada dua macam tanah konversi yaitu
tanah konversi glebagan dan tanah konversi terus-menerus,
5
Tanah konversi yang pertama untuk tanaman tebu dan tembakau, sedang tanah konversi yang kedua untuk tanaman karet,
teh. Tanah konversi glebagan ini dibagikan kepada para petani
yang tidak memiliki tanah pertanian. Pelaksanaan U.U. no. 13,
1948 tidak memuaskan B.T.I. karena sebagian besar para petani
tidak memperoleh pembagian tanah konversi glebagan. Situasi
ini mendorong B.T.I. memprogandakan aksi untuk membagi
tanah bengkok (tanah sebagai gaji pegawai desa) dan tanah
kas desa (tanah milik pemerintahan desa).
Agaknya kongres bulan Pebruari ini mengilhami Saruapri
Cabang Delanggu dalam perjuangannya atas nama kaum buruh.
Gondowidjojo. salah seorang staf pimpinan Pabrik Karung Goni
Delanggu. 1945-1949 menjelaskan bahwa Sarbupri Cabang
Delanggu sebagian besar para anggotanya adalah buruh-buruh
perkebunan kapas, perkebunan rami dan Pabrik Karung Goni.6
Kegiatan utama Sarbupri Cabang Delanggu setelah kongres
17 Pebruari ini adalah kampanyenya agar Badan Tekstil Negara
(B.T.N.) menaikkan upah buruh dan membagikan jatah beras
dan bahan pakaian bagi buruh-buruh serta keluarganya Sejak
tanggal 26 Pebruari kampanye Sarbupri mendapat dukungan
kuat dari Sobsi.
Front Demokrasi Rakyat (F.D.R.) suatu organisasi di bawah kepemimpinan P.K.I. dengan programnya yang sistematik
dalam bidang ekonomi, sesungguhnya tertarik kepada program
Sarbupri. misalnya tuntutan FDR. tentang waktu kerja bagi
para buruh dengan maksimal 8 jam per hari." Program ini sangat erat dengan program Sarbupri. Program ekonomi FDR
menjadi tema utama dai; berbagai rapat di desa-desa untuk
memperoleh dukungan massa dalam beroposisi terhadap Pemerintahan Kabinet Hatta. Pada bulan April 1948 seksi propaganda F.D.R. Surakarta mulai mengadakan pertemuan-pertemuan
massa pedesaan untuk menjelaskan program-programnya kepada petani-petani.
Pada bulan Mei 1948 F.D.R. Surakarta mendorong Sarbupri Delanggu melakukan pemogokan dengan harapan bahwa
6
situasi semacam itu F.D.R. dapat mencapai tujuan politiknya
di tingkat nasional. Pemogokan-pemogokan pertama diperintahkan oleh ketua Sarbupri Delanggu pada minggu pertama
bulan Mei. Kemudian pemogokan i berlangsung terus hingga
bulan Juli. Aksi mogok buruh-buruh ini dijalankan melalui
tiga cara yaitu:
1.
2.
3.
mogok lambat kerja
mogok tidak bekerja sama sekali secara umum. namun
mereka hadir di tempat kerja
mogok secara regu atau kelompok
Pada permulaan bulan Juli pertemuan-pertemuan telah diselenggarakan oleh B.T.N. dan Sarbupri, unti k memecahkan
masalah pemogokkan tersebut. Tiga pertemuan telah diselenggarakan di kantor pusat B.T.N. di Surakarta, di kantor Sarbupri
Delanggu dan di ibukota R.I. Yogyakarta. Pertemuan-pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil dari Sobsi dan Perbuts (Persatuan Buruh Tenun Seluruh Indonesia) dan B.T.N. Pembicaraan
dalam pertemuan tersebut dipusatkan pada tuntutan Sarbupri
atas nama para buruh, terutama tentang kenaikan, upah buruh,
pembagian beras dan bahan pakaian. Ternyata pihak B.T.N:
tidak menerima segala tuntutan Sarbupri ini. dalam hal ini
B.T.N. menawarkan rencananya yaitu pertama. B.T.N. akan
membagikan bahan pakaian® 3 meter untuk setiap buruh tetap,
sebagai jatah mereka tahun 1947. B.T.N. akan memberikan
beras juga kepada setiap buruh, tetapi tidak kepada keluarganya. Sobsi dan Sarbupri menolak tawaran B.T.N. ini.
Tidak dapat dihindari adanya ketegangan politik antara
B.T.N. dan Sarbupri. Lembaga Buruh dan Tani (L.B.T.) Delanggu, suatu badan yang dibentuk oleh B.T.I. dan Sobsi. dan
berfungsi menangani berbagai permasalahan dari para buruh
dan petani makin lebih intensif mencampuri hubungan B.T.N.
dan Sarbupri, yang kenyataannya lebih mempertajam situasi
politik. Pada tanggal 14 Juni 1948 L.B.T. mengirimkan surat
kepada B.T.N. di Surakarta dengan tiga tuntutan, yaitu: 1. skala
7
gaji yang baru bagi buruh perkebunan; 2. distribusi bahan pakaian bagi para buruh, dan 3. pembagian beras untuk setiap
buruh dan keluarganya.8 Komite Kesatuan Aksi Delanggu yang
telah didirikan oleh para pemimpin B.T.I. dan Sarbupri pada
bulan Pebruari 1948, tampak sangat kuat di bawah pengaruh
Sobsi. telah menyelenggarakan rapat pada tanggal 15 Juni
1948. 9 Rapat ini dihadiri oleh wakil-wakil dari 7 cabang Komite
Kesatuan Aksi Delanggu. Rapat membahas soal bagaimana
mempercepat jawaban B.T.N. terhadap tuntutan Sarbupri.
Lembaga buruh dan tani yang hadir dalam rapat 15 Juni
itu mengajukan tuntutan agar perundingan segera dilaksanakan
antara B.T.N. dan Sarbupri." Tuntutan L.B.T. ini berhasil
dan rapat diselenggarakan dari tanggal 17 hingga 19 Juni di
Delanggu. Perundingan ini mengalami kemacetan karena B.T.N.
tidak memenuhi tuntutan dari L.B.T. terutama soal distribusi
beras dan bahan pakaian bagi keluarga buruh. 1 ]
Menteri Kemakmuran dan Menteri Urusan Perburuhan dan
Sosial yang hadir pada perundingan 17 Juni ini mengusulkan
agar pembicaraan masalah tuntutan Sarbupri ditangani oleh
Menteri Kemakmuran, dengan alasan bahwa B.T.N. di bawah
kekuasaan Kernenterian Kemakmuran. Usul kedua Menteri ini
diterima oleh L.B.T. dan B.T.N. Pada tanggal 19 Juni Menteri
Kemakmuran mengirimkan jawaban terhadap tuntutan Sarbupri dan L.B.T. yang isinya sebagai berikut: Menteri hanya
akan memberikan tekstil kepada sejumlah 8.823 orang buruh
dan buruh musiman tidak mendapat pembagian tersebut. Sedang pihak L.B.T. tetap menuntut pembagian tekstil untuk
13.872 orang buruh dari 7 daerah perkebunan. 12
Pada akhirnya ketegangan antara B.T.N. dan L.B.T. tidak
dihindari. Pada tanggal 20 Juni 1948, L.B.T. mengadakan rapat
umum dengan buruh-buruh yang jumlahnya sekitar 8.000 orang.
Pada tanggal 23 Juni pemogokkan diteruskan kembali oleh lebih
dari 15.000 orang buruh. Mereka menempatkan bendera-bendera merah di perkebunan lokasi perkebunan kapas dan rami
8
dan lokasi pabrik, yang menyatakan bahwa tak seorang pun
diperbolehkan meneruskan pekerjaan. 13
Pada tanggal 26 Juni ketika beberapa anggota Sarekat
Tani Islam Indonesia (S.T.1.1.) bekerja di perkebunan kapas
telah diserang oleh para pemogok. Sarbupri mengecam tindakan
orang-orang S.T.I.I. ini di mana mereka berusaha akan menggantikan buruh-buruh yang sedang mogok. S.T.I.I.. sebagai
kekuatan sosial petani Islam, seperti halnya Sarbupri tidak dapat dilepaskan dengan kekuatan Sosial Islam yang lain. Apabila
Sarbupri berafiliasi dengan Sobsi, P.K.I.. L.B.T.. B.T.I. dan Perbutsi, maka S.T.I.I. berafiliasi dengan Masyumi dan Hizbullah.
Bahkan Sarbupri dalam konteks politik yang lebih luas lagi
didukung oleh F.D.R. dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia)
Konflik sosial antara S.T.I.I. dan Sarbupri yang berpangkal
dari soal pemogokan berubah menjadi suatu konflik aliran
S.T.I.I. yang cenderung mendukung Pemerintah Kabinet
Hatta telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah kerugian negara, yaitu: 1. membentuk Panitia Tanah dan Tanaman
S.T.I.I. yang bertugas mengambil alih pekerjaan buruh-buruh
yang mogok di perkebunan-perkebunan selama pemogokan
belum diselesaikan: 2. mengadakan penerangan kepada masyarakat umum di daerah Delanggu bahwa pemogokan yang dilaksanakan oleh Sarbupri itu tidak benar, karena akan merugikan
negara.
Sebagai jawaban politik terhadap aksi S.T.I.I. ini. Komite
Kesatuan Aksi Delanggu dan L.B.T. menyebarkan pamfletpamflet di perkebunan pabrik, tempat umum yang isinya sebagai berikut: Kaum pemogok bukanlah pemberontak, jangan
menganggu kita yang sedang mogok, alangkah baiknya apabila
polisi dan tentara membantu kita lA Pamflet-pamflet ini ternyata lebih memanaskan situasi politik. Beberapa kompi dari
Divisi Sih wangi yang ada di Delanggu, yang baru tiba dari Jawa
Barat untuk memasuki wilayah R.L menurut perjanjian Renville
dianggap oleh F.D.R. akan mengganggu kaum pemogok. Sebe-
9
narnya kedatangan Divisi Siliwangi di Jawa Tengah dan Jawa
Timur pada awal 1948 karena tekanan Belanda untuk memasuki
wilayah R.I. atas dasar perjanjian Renville. Jadi tidak ada hubungannya dengan masalah pemogokan Delanggu mengenai
penempatan kompi Siliwangi di daerah Delanggu ini.
Pada tanggal 10 Juli 1948 terjadilah pertempuran kecil
antara S.T.I.I. yang sedang bekerja mengambil alih pekerjaan
kaum pemogok dan kaum pemogok yang bersenjata. Pada peristiwa ini Pesindo dan FDR terlibat langsung membantu kaum
pemogok, sed. - kompi Siliwangi atas pertimbangan terhadap
keselamatan paia anggota S.T.I.I. berusaha membubarkan kaum
pemogok yang sedang melakukan teror terhadap orang-orang
S.T.I.I. Badan Pekerja K.N.I.P.
Sementara peristiwa 10 Juli berlangsung, Badan Pekerja
K.N.I.P. mengadakan sidang yang telah dimulai tanggal 9 Juli
dan baru berakhir tanggal 10 Juli. Sidang yang membahas masalah pemogokan Delanggu telah gagal, terutama karena tuntutan
wakil-wakil dari F.D.R. Sobsi dan L.B.T. seperti tuntutan Sarbupri yang pernah diajukan kepada B.T.N. tidak terpenuhi.
Atas usul-usul dari wakil-wakil Masyumi, P.N.I. dan Partai
Kristen maka dianjurkan agar pihak Sobsi dan B.T.I. mengadakan pertemuan lagi dengan B.T.N. di Yogyakarta. Pada akhirnya
Pemerintahan Kabinet Hatta menyelenggarakan rapat khusus
dengan anggota-anggota K.N.I.P. wakil-wakil B.T.N. dan L.B.T.
Delanggu. Dalam pertemuan ini telah dicapai kesepakatan
bahwa segala tuntutan kaum pemogok dipenuhi oleh B.T.N.
antara lain pembagian bahan pakaian bagi seluruh buruh perkebunan dan pembagian beras bagi keluarga buruh. Pihak L.B.T.
juga setuju tentang penundaan untuk penyusunan peraturan
upah buruh yang baru. 15 Pada tanggal 16 Juli, sore hari Pemerintahan Kabinet Hatta mengumumkan melalui radio Yogyakarta bahwa semua tuntutan L.B.T. telah diterima oleh Pemerintah, dan semua buruh yang mogok akan mulai bekerja kembali pada tanggal 18 Juli 1948.
10
Pemogokan Delanggu telah mengakibatkan kerugian yang
besar bagi Pemerintah. Surat kabar Pacific melaporkan bahwa kerugian yang diderita oleh Pemerintah sebesar Rp.
13.901.050.000. 16 Kerugian ini karena rusaknya perkebunan
kapas yang telah terlantar pemeliharaannya selama beberapa
bulan. Sebenarnya pemogokan Delanggu tersebut adalah suatu
taktik dari F.D.R. sebagai bagian kampanye beroposisi terhadap
Kabinet Hatta. Surat kabar Buruh, sebuah surat kabar dari
golongan kiri, menjelaskan bahwa pemogokan Delanggu itu
dimaksudkan sebagai reaksi terhadap Kabinet Hatta. 17 Program
Kabinet Hatta, terutama yang menyangkut soal RERA (Reorganisasi dan Rasionalisasi) bagi badan-badan perjuangan dan kesatuan militer, adalah program yang ditentang oleh P.K.I. dan
para organisasi-organisasi pendukungnya, karena program ini
sangat bertentangan dengan taktik P.K.I.
Kesimpulan
Pergolakan sosial di Delanggu timbul karena transformasi
sosial yang berjalan sangat cepat yang disertai polarisasi horizontal di dalam masyarakat, sehingga menimbulkan konflik
sosial dan politik yang luas. Konflik yang terjadi bukan saja
antara partai-partai politik, tetapi antara keseluruhan organisasi
yang berafiliasi dengan partai-partai tersebut. Pada aspek yang
lain karena ketidakseimbangan antara dinamika sosial dan politik di lingkungan masyarakat lokal dengan kemampuan Pemerintah Pusat dalam berkomunikasi dengan para pemimpin yang
menggerakkan dinamika sosial dan politik tersebut. Akibatnya
terjadi kesenjangan antara Pemerintah Pusat dan organisasioie;anisasi massa di tingkat lokla. Keadaan sosial dan politik semacam ini mudah digunakan oleh pihak oposisi, seperti terlihat
taktik F.D.R. dalam beroposisi terhadap Kabinet Hatta.
Pergolakan sosial di Delanggu merupakan suatu contoh bagaimana proses terjadinya aliran-aliran di dalam masyarakat lokal selama Revolusi Nasional. Kristalisasi pembentukan aliran11
aliran di Delanggu telah menguatkan kedudukan dua kekuatan
sosial, yaitu golongan Islam dan golongan kiri.
12
CATATAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
John Dunn, Modern Revolutions A n Introduction to the A nalysis of Political
Phenomenon (London Gambridge University Press. 1972) halaman 124.
Lijst van Particuliere Ondernemingen in Nederlandsch Indie (Batavia Landsdrukkerij. 1915). halaman 206-210.
RC Kwantes (ed). De Ontwikelling van de Nationalistische Beweging in Nederlandsch Indie, VoL I (Groningen HD. Tjeenk Willink. 1975). halaman 267.
Merdeka. 19 Pebruari 194S.
Kementerian Pertanian (ed), Agraria (Djakarta Kantor Pusat Urusan Tam
tanpa tahun), halaman 293-95.
Wawancara dengan Gondowidjojg. 14 Agustus 1979.
Djamal Marsudi. Menyingkap Pemberontakan PKJ dalam Peristiwa Madiun
(Djakarta. Merdeka Press, 1966) halaman 4-5.
Berkas-berkas Sekitar Peristiwa Solo dan Delanggu. Bende! B.83/7. Arsip
Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Ibid.
Ibid.
Uraian djalannja perundingan antara delegasi2 Lembaga Buruh dan Tani (LBT
dan Badan Tekstil Negara (BTN) di Delanggu pada hari Kamis tanggal 1 "Juni
1948. Bendel B 83/7, ANRI
Ibid.
Pelaporan Pendek Tentang Kedjadwn penting dalam Karesidenan Laporan
Djawatan Kepolisian Negara Surakarta. Juli 1948. Bendel B.4/13. ANRI
Ibid.
Ibid.
Pacific, 23 Agustus 1948.
Buruh, 20 Juli 1948.
13
PERANG CUMBOK DI ACEH TAHUN 1945
(Oleh: Ratna R.)
Perang itu pecah pada tanggal 4 Desember 1945 di Sigli.
ibukota Kabupaten Aceh Pidie antara kelompok ulama kontra
kelompok uleebalang Titik persoalan sekitar perebutan senjata
milik bangsa Jepang yang berkedudukan di Sigli.
Kegagalan TKR untuk memperoleh senjata dari tangan
Jepang' ' telah mendorong mereka untuk mengambil langkahlangkah lain yakni dengan cara-cara demonstrasi dengan melibatkan sejumlah rakyat setempat. Di Sigli. untuk mempersiapkan semua rencana ini telah diutus T. Abdullah dan Bachtiar
Idham pada awal Desember 1945. Oleh Bachtiar Idham kesempatan ini dipergunakan untuk mengunjungi T.M. Daud Cumbok
(uleebalang V Mukim Cumbok) yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengannya di Lam Meulo lebihkurang
10 km dan Kota Sigli. Dalam acara kunjungan ini tanpa disengaja diceritakan juga maksud kedatangan mereka ke Kota
Sigli.' > Berita ini telah menarik perhatian para uleebalang yang
berada di Lam Meulo dan telah menimbulkan keinginan untuk
14
dapat memilikinya terlebih dahulu. Kekhawatiran mereka adalah takut kalau-kalau senjata tersebut jatuh ke tangan ulama dan
rakyat, karena selama ini cara-cara demonstrasi yang dipakai
meskipun merupakan tanggungjawab TKR tetapi selalu di bawah komando ulama.
Dua hari sebelum rencana perlucutan senjata dilakukan
oleh TKR (5 Desember 1945) Barisan Penjaga Keamanan
(BPK) Markas Uloebalang memasuki Kota Sigli. menguasai dan
mendudukinya. 3 ) Penduduk setempat yang dianggap sebagai
pendukung golongan ulama dihukum, sedangkan orang-orang
dari luar kota dilarang memasuki Kota tersebut. 4 ' Perbuatan
golongan uleebalang ini menimbulkan reaksi dari pihak ulama,
salah satu adalah terselip rasa khawatir bila senjata-senjata yang
berada di Sigli jatuh ke tangan uleebalang nantinya mengingat
tindakan-tindakan negatif yang pernah dilakukan oleh golongan
ini beberapa waktu yang lalu. 5) Bersama-sama rakyat yang memihak, mereka bergerak menuju Kota Sigli dengan perlengkapan
senjata dari yang tradisional sampai ke moderen mengepung
Kota Sigh yang telah dikuasai oleh tentara BPK uleebalang
Kepada para pembesar Jepang yang berada di Sigli diserukan
agar senjata-senjata tersebut tidak diserahkan kepada golongan
uleebalang, tetapi kepada Pemerintah Republik Indonesia
Daerah Aceh. Sampai beberapa lama pihak Jepang tidak dapat
mengeluarkan keputusan apapun, sedangkan barisan rakyat
yang berada di luar Kota Sigh semakin meningkat jumlahnya
Situasi ini mengharuskan asisten residen Aceh T.M.A. Panglima
Polem turun tangan untuk menyelesaikannya 'Melalui rapat
yang dihadiri juga oleh wakil-wakil dari Jepang, ulama, uleebalang6) ditetapkan persetujuan bulat bahwa senjata-senjata tersebut akan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia
Daerah Aceh. 7) Menurut T.M.A. Panglima Polem, selagi perjanjian tersebut di tandatangani tiba-tiba terdengar suara tembakan dari rumah T. Pakeh Sulaiman uleebalang Pidie.8 * Ternyata ketika pertemuan tersebut sedang berlangsung, rakyat
yang berada di pinggiran Kota Sigli semakin mendesak mema15
suki kota melalui Jembatan Benteng dengan teriakan Allahu
Akbar, sedangkan di seberang jembatan tentara BPK telah bersiap siaga. Mencegah agar jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Syamaun Gaharu sebagai Ketua Markas Daerah API
TKR memberi tembakan peringatan. Hal itu oleh kedua belah
pihak diartikan lain. Golongan ulama mengartikan isyarat tersebut sebagai pertanda kepada pihak BPK untuk melakukan
penyerangan terhadap golongan ulama Golongan uleebalang
menafsirkannya sebagai tembakan yang terlebih dahulu dilancarkan oleh golongan ulama sehingga golongan uleebalang
dengan segera menyerang rakyat. 9 ' Rakyat yang berada di
pinggiran Kota Sigli memencar mencari perhndungan sambil
melepaskan serangan balasan. Peristiwa ini terjadi pada tanggal
4 Desember 1945. pertanda awalnya Perang Cumbok di Aceh.
Tiga hari kemudian pertempuran ini baru dapat diatasi
setelah dicapai kesepakatan bersama yang berisi antara lain.
penyerahan Kota Sigli beserta senjata-senjata yang telah direbut
dari tentara Jepang oleh golongan uleebalang. serta penarikan
mundur tentara uleebalang dan rakyat dari Kota Sigli ke tempatnya masing-masing. 10 ' Namun ketetapan ini tidak dipatuhi
secara keseluruhan karena ternyata di luar Kota Sigli pertempuran kembali berlangsung, dan senjata-senjata yang diperoleh
Markas Uleebalang dari Jepang tidak diserahkan kepada Pemerintah Daerah Aceh.1 ' '
Suasana semakin bertambah parah dengan dibukanya kembali pertemuan oleh Markas Uleebalang di rumah T. Laksamana
Umar. Uleebalang Njong di Luengputu pada tanggal 10 Desember 1945. 1 -' Dari hasil pertemuan ini dikeluarkan lagi persetujuan di antara mereka agar bertindak lebih tegas terhadap
orang-orang yang menentang gerakan golongan ini. 1 3 ) Malam
harinya setelah acara pertemuan tanggal 10 dan 11 Desember
tersebut, pasukan Markas Uleebalang memulai penyerangan
lagi. terhadap rumah-rumah pemimpin Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Lam Meulo. Di antaranya ke rumah Tgk. Zainal
16
Abidin, rumah Hasan Mohammad keluarga Tgk. Umar Tiro dan
terhadap rumah Tgk. Sulaiman yang kesemuanya memegang
jabatan sebagai bendaharawan, ketua I dan Ketua Badan Keamanan Pemuda Republik Indonesia Lam Meulo. 1 4 '
Di Samarinda pada tanggal 11 Desember T. Ma ali melakukan penyerangan terhadap markas besar PUSA di Garut
(Garut terletak lebih kurang 8 km dari Kota Sigh, termasuk
wilayah kekuasaan Uleebalang Samarinda). 1 "'. Penyerangan
itu terhenti karena dari Sigh datang missi perdamaian di bawah
pimpinan T. Chik M. Said, asisten residen Aceh Utara.1 6 '
Dari Lam Meulo gerakan T. Mohammad Daud Cumbok
meluas sampai ke Meutareum (sekitar 7 km dari Lam Meulo)
yang memiliki Sekolah Dasar Islam dan tempat pemusatan
para ulama serta aktivitas PRI yang telah terusir dari Lam
Meulo. 1 7 ' Selanjutnya menembaki kampung-kampung yang
terdapat di sekitar Leungputu serta menyerang gedung sekolah
agama dan Kantor Kehakiman di Titeu. 18 '
Menghadapi perbuatan Markas Uleebalang ini. golongan
ulama dan pemudanya menetapkan untuk membentuk Badan
Perjuangan Rakyat yang bernama Markas Besar Rakyat Umum
(MBRU) pada tanggal 22 Desember di Garut. Pidie. 1 9 ' Organisasi ini bertujuan mengkonsohdasi barisan rakyat yang ada di
Kabupaten Pidie guna menggempur golongan Cumbok." '
Pimpinan MBRU keseluruhannya diserahkan kepada Hasan Ali
dengan bantuan para ulama dan pemuda dari seluruh Pidie
seperti Tgk. Banta, Peutua Husin Sanggeue dan lain-lainnya. ! '
Penyerangan pertama yang dilakukan MBRU terhadap
Markas Uleebalang di Lam Meulo terjadi 5 han setelah hari
pembentukannya. 22 ' Berikutnya pada tanggal 20 Desember
Markas Uleebalang kembali mengadakan serangan balasan secara besar-besaran ke Kampung Langga. Gle Gapui dan kampung-kampung sekitar Meutareum seperti Ie Lot, Pulo Kameng
habis terbakar." 3^
1"
Dari wilayah Lam Meulo. Beureuneun, Luengputu. kekacauan semakin meningkat sampai ke Meureudu (perbatasan
Aceh Utara) sampai perbatasan Aceh Besar wilayah Uleebalang
XII Mukim Pidie, jadi hampir meliputi seluruh Daerah Aceh
Pidie.
Menghadapi persoalan perang saudara yang semakin bertambah parah. Pemerintah Daerah Aceh mengadakan sidang
pertama pada tanggal 6 Januari 1946 di Markas TKR Daerah
Aceh. yang kemudian dilanjutkan lagi pada tanggal 8 Januari.-' ' Berdasarkan hasil laporan dari badan penyelidik. 25 ' dikeluarkan maklumat serta ultimatum bersama Pemerintah
Daerah Aceh dan Markas Umum Daerah Aceh 2 6 ' yang ditujukan kepada Markas Uleebalang di Lam Meulo. Dalam maklumat
tersebut secara terang-terangan dinyatakan bahwa golongan
yang berpusat di Cumbok serta tempat-tempat lain yang memegang senjata melawan rakyat umum sebagai penghianat
bangsa dan negara, sedangkan isi ultimatum meminta agar
mereka menghentikan peperangan dan menverah. 2 7 ' Karena
memperhitungkan kemampuan serta kekuatan persenjataan
yang cukup tangguh menyebabkan golongan uleebalang sama
sekali tidak menggubris ultimatum tersebut. Bagi pihak pemenntah tidak ada jalan lain kecuali memulai pengerahan kekuatan
mihter sebagai tindak lanjut menghadapi kekerasan Markas
Uleebalang yang telah di cap sebagai penghianat bangsa dan
negara. Di dalam penyerangan ini pasukan pemerintah mendapat bantuan dari barisan-barisan rakyat. Mujahidin PRI dan
bansan senjata berat dan Seuhmeum. 28 ' Bantuan-bantuan ini
bersifat spontan mengingat telah begitu banyak korban vane
berjatuhan dari pihak rakyat. 2 9 ' Akhirnya pada tanggal 13
Januari 1946 Markas Uleebalang di Lam Meulo berhasil direbut
oleh pasukan pemerintah beserta pengikut-pengikutnva 'Bersamaan dengan jatuhnya Lam Meulo, MBRU mengeluarkan
maklumat berupa pemberitahuan tentang berhasilnya kekuatan
Markas Uleebalang yang berpusat di Lam Meulo kekuatan Markas Uleebalang yang berpusat di Lam Meulo dilumpuhkan serta
18
larangan mengadakan perampasan atau penyelewengan terhadap
semua harta-benda milik uleebalang.30' T. Mohammad Daud
Cumbok bersama pengikutnya yang sempat melarikan diri berhasil ditangkap pada tanggal 16 Januari 1946 di Gunung Seulawah setelah melalui pertempuran-pertempuran kecil terlebih
dahulu. Mereka dibawa ke Sigh, dan kemudian ke Markas Besar
Rakyat Umum (MBRU) di Garot.^ 1 ' Dari sini mereka dipindahkan lagi ke Sanggeue untuk dihukum mati. 32 '
Gerakan perlawanan yang dilancarkan oleh kelompok
ulama dan pengikut-pengikutnya serta pertahanan yang dilakukan oleh golongan uleebalang dalam Perang Cumbok menunjukkan bahwa jauh sebelum Perang Cumbok ini pecah telah ada
konflik-konflik terpendam yang
melatarbelakangi
pada
periode-periode sebelum kemerdekaan.
Sikap damai yang diciptakan uleebalang dengan mengakui
pertuanan Belanda di Aceh agar kedudukan mereka sebagai
kepala-kepala pemerintahan di daerah tetap bertahan.""' disusul kemudian penerimaan model pendidikan Barat oleh golongan ini juga telah menyinggung golongan ulama. Perbuatan
golongan uleebalang menimbulkan pertentangan dan kalangan
ulama dan sekaligus memandang perbuatan pihak uleebalang
sebagai satu bentuk penghianatan. Keinginan dari golongan
ulama agar para uleebalang mengikuti jejak mereka untuk tetap
terus berjuang melawan Belanda yang kafir tidak tercapai seluruhnya. Situasi ini akhirnya memisahkan mereka sesuai dengan
kepentingan masing-masing kelompok
Pada mulanya keinginan golongan ulama untuk memukul
golongan uleebalang karena perbuatannya ini. tidak tampak
jelas. Tetapi dengan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai kemudian oleh golongan ini kesempatan ke arah ini semakin terbuka lebar Rerkembangan pertama dirasakan sekali adalah dengan lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) pada tahun 1939 di Sigli. 34 ' Lahirnya PUSA telah turut mempengaruhi semua kegiatan golongan ulama di Aceh karena bila selama
19
ini golongan ulama dikenal sebagai golongan yang hanya melibatkan diri dalam urusan-urusan yang berhubung dengan pendidikan Islam: atau orang-orang yang giat melakukan peperangan terhadap Belanda secara terpisah-pisah, kini bersatu dalam
wadah berwarna keislaman sehingga semakin berhasil menarik
jumlah pengikut yang Danyak. Secara berangsur-angsur kegiatan
mereka meningkat, dari organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, lambat-laun berubah ke lapangan politik terutama setelah Jepang berkuasa di Aceh menggantikan Belanda.
Jauh sebelum pendaratan Belanda ke Aceh, melalui utusanutusan PUSA yang dikirim ke Penang semua tindak-tanduk golongan uleebalang selama menjadi penguasa di Aceh ikut menjadi sasaran pembicaraan. 35 ' Dikemukakan bahwa adanya
perbuatan-perbuatan golongan uleebalang di masa lalu yang
membekas di hati sanubari rakyat dalam bentuk dendamdendam tersembunyi. 36 ' Tepatlah kiranya bila kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh golongan ulama lewat PUSA dipakai
untuk memukul golongan uleebalang.
Jasa-jasa baiK PUSA terhadap Jepang karena keaktifan
mereka dalam propaganda penyambutan Jepang menjadikan
golongan ini sebagai orang-orang kepercayaan Jepang. 3 7 ' Dalam
beberapa bidang mereka diberi jabatan-jabatan utama walaupun
jabatan tersebut masih berbau keagamaan (Islam) dan hasilnya
masih harus tertuju kepada kepentingan Jepang. 3 8 ' Mengenai
golongan uleebalang. maka sesuai dengan politik keseimbangan
yang telah digariskan oleh Pemerintah Jepang, 3 9 ' kedudukan
mereka sebagai kepala-kepala pemerintahan daerah tidak berobah. Walaupun jabatan pemerintah tetap berada di tangan golongan ini. tetapi dalam bidang lain seperti peradilan, mereka
telah kehilangan jabatan. Hal ini sesuai dengan ketetapan bahwa
keanggotaan dan kekuasaan peradilan tidak harus dari golongan
uleebalang seperti pada masa-masa Belanda, tetapi diserahkan
kepada hakim baru dengan anggotanya bukan melulu dari golongan uleebalang*0)
Perubahan ini menyebabkan peranan
20
golongan uleebalang semakin merosot semasa Jepang. Di pihak
lain. kedudukan golongan ulama melonjak walaupun tidak sampai menduduki jabatan sebagai kepala-kepala wilayah.
Dua kebijaksanaan berbeda dari dua penguasa asing yang
pernah bercokol di Aceh turut serta mempengaruhi kedudukan
kedua golongan tersebut. Belanda lebih bersifat membatasi
golongan ulama dalam urusan politik dan pemerintahan Berbeda dengan Jepang, maka dengan politik keseimbangan berusaha melibatkan kedua golongan ini secara bersama-sama.
Namun yang terlihat adalah kesempatan sebenarnya lebih banyak terbuka untuk golongan ulama ketimbang uleebalang
Oleh golongan ulama keadaan ini diusahakan untuk tetap bisa
dipertahankan sampai masa kemerdekaan Indonesia. Golongan
ulama semakin menampakkan diri dalam keaktifan mempertahankan kemerdekaan melalui front-front pertahanan yang mereka bentuk mendampingi front-front pertahanan Pemerintah
Daerah Aceh.4 ] '
Kegiatan golongan ulama menyaingi golongan uleebalang.
setidak-tidaknya golongan ulama dipandang semakin membahayakan kedudukan golongan uleebalang Terkandung maksud
untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan kepentingan kelompoknya, menumbuhkan keinginan untuk menghadapi
bahaya ini dengan cara-cara kekuatan. Golongan uleebalang
membentuk bansan-barisan kekuatan tersendiri. 42 ' Insideninsiden kecil terjadi untuk menunjukkan kekuatan dan melemahkan kekuatan lawan. 4 3 ' Akhirnya ketegangan ini mencapai
puncaknya untuk pertama kali dalam bentrok senjata pada tanggal 4 Desember 1945 di Sigli antara kedua golongan tersebut.
Kecurigaan-kecurigaan yang telah terpupuk selama ini telah
menimbulkan salah penafsiran terhadap isyarat yang diberikan
oleh Syamaun Gaharu dalam usaha mendamaikan kedua golongan tersebut sebelum bentrok senjata itu terjadi.
Peristiwa tersebut di atas menunjukkan bahwa persiapanpersiapan antara kedua golongan telah ada melalui gelombang21
gelombang yang cukup panjang, hanya tinggal menanti saat
yang tepat untuk meletus. Pada klimaksnya karena sudah tidak
terkendalikan lagi persaingan sebagai akibat tidak terbukanya
kesempatan mengadakan kontak antara kedua golongan ini.
telah mengubah suasana persaingan ke dalam bentrok senjata.
Dalam bentrok senjata yang berkepanjangan ini. prasangkaprasangka yang telah muncul dibuat semakin bermakna melalui
berbagai issu 44 ' Sasaran issu lebih banyak tertuju kepada golongan uleebalang sebagai akibat perbuatan golongan ini di masa
lalu dan karena pengaruh golongan ulama maka golongan
uleebalang menjadi golongan yang tidak disukai lagi.
Keikutsertaan Pemenntah Daerah Aceh meremsikan cap
penghianat melalui maklumat pemerintah setelah terlebih dahulu mengadakan penyelidikan melalui badan-badan penyelidik
Pemerintah Daerah Aceh yang terdiri dan orang-orang ulama
telah semakin melemahkan posisi golongan uleebalang Maklumat ini kemudian disusul oleh ultimatum yang semakin mengancam kedudukan golongan uleebalang disatu pihak, tetapi menambah semangat golongan ulama untuk ikut bersama-sama
Pemerintah Daerah Aceh menghancurkan golongan uleebalang
Berakhirnya Perang Cumbok di Aceh memberi arti semaki r, lumpuhnya kekuatan dan kekuasaan golongan uleebalang
sebagai kepala-kepala pemerintahan daerah Aceh yang telah
berabad-abad lamanya mereka pegang. Otomatis kekuasaan itu
kini beralih kepada dolongan ulama yang menang perang.
Karena itu tidak mengherankan bila kemudian kita dapati
bahwa kebanyakan dari anggota-anggota ulama kelak yang menduduki jabatan pada aparat-aparat
Pemerintahan
Daerah
Aceh. 45 ' Di samping itu. nama Lam Meulo sebagai pusat Perang
Cumbok yang dianggap berbau feodal telah dirobah menjadi
Kota Bhakti.
22
CATATAN
1.
Senjata yang berada di tangan Jepang ada tiga macam,
yaitu senjata perorangan, senjata yang dikuasai oleh pemerintah
sipil yang dipakai oleh alat pemerintah Jepang serta senjatasenjata tentera Jepang yang berada dalam kesatuan masingmasing. Lihat. Syamaun Gaharu. Beberapa Catatan Tentang
Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan Republik Indonesia di
Aceh Sejak Proklamasi Sampai Dengan Kemerdekaan Republik
Indonesia. Medan. 1976. him 24.
2.
Wawancara dengan Syamaun Gaharu. Medan. 1980.
3.
Ibid. BPK dibentuk pada tanggal 22 Oktober 1945 dan
merupakan pasukan kekuatan dari Markas Uleebalang di bawah
pengawasan T. Daud Cumbok. BPK terbagi dalam tiga kesatuan,
yaitu: Barisan Cap Bintang. Barisan Cap Sauh. Barisan Cap
Tombak. Lihat. T. Alibasyah Talsya Sejarah dan DokumenDokumen Pemberontakan di Aceh. Jakarta: Kesuma. him. 7.
4.
Wawancara dengan Syamaun Gaharu. Medan. 1980.
5.
Diantaranya. pada tanggal 25 Oktober 1945 terjadi
penangkapan-penangkapan terhadap anggota PRI yang ditunjuk
2?
oleh Pemerintah Daerah Aceh untuk menjaga kantor Pos dan
Telegram di Lam Meulo. Tanggal 3 November beberapa pemuda
yang dianggap saingan mereka dipukul Lihat. Pemerintah R.I.
Daerah Aceh. Revolusi Desember 45 di Aceh atau Pembasmian
Penghianaian Tanah Air, Kutaraja. 1946. him. 18-19.
6.
Dari pihak Pemerintah Daerah Aceh hadir T.M.A. Panglima Pohm. Abu Bakar. T. Johan Meurâxa, T. Cut Hasan. Dan
PUSA hand Hasan Ali beserta seorang temannya sedangkan
dan pihak uleebalang dipilih T. Pakeh Sulaiman, uleebalang
Pidie. T.M.A. Panglima Pohm. Memoir, Banda Aceh: Alambra^
him. 17.
7.
Ibid.
8.
Ibid , him. 19
Atas Penstiwa ini Syamaun Gaharu ditangkap oleh
para pemuda dengan tuduhan memihak kepada golongan
uleebalang. tetapi ia dibebaskan kembali atas jasa Tgk. Abdurrahman Meunasah Meucap. seorang tokoh PUSA. Wawancara
dengan Syamaun Gaharu. Medan. 1980.
10
T. Alibasyah Talsya. op.cit., him. 16
n
Ibid.. him. 11. Lihat juga. S.M. Amin, KenangKenanga Dari Masa Lampau. Jakarta: Pardnva Paramita
1978. him. 135.
1 2.
T. Alibasyah Talsya. op.cot., him 9
13.
Ibid.
14.
Abdullah Arif. Di Sekitar Peristiwa Penghianaian
Cum bok. Kutaraja: Abdullah Arif - Semangat Merdeka 1946
him. 10-11.
15.
Ibid.. him. 14.
Laporan-laporan yang ditenma dari T. Chik M Said
dianggap pihak PUSA bersifat berat sebelah, memihak kepada
golongan uleebalang karena isi laporan menyatakan bahwa
pasukan T. Daud Cum bok bukan menyerang tetapi meneadakan
latihan. Ibid.. him. 14-15.
17.
Ibid.
18.
S.M. Amin. loc.cit.
24
19.
T.M.A. Panglima Polim. op.cit.. him. 21. Lihat juga.
Pemerintah R.I. Daerah Aceh, op.cit.. him. 25
20.
M. Nur El Ibrahim, "Darul Islam Sebuah Pemberontakan'*. Waspada. Medan. Desember 1983.
21.
MBRU memiliki cabang-cabang kecil seperti di Gle
Gapui Mukim Meutareum yang dikordinir oleh M. Hasballah
Daud. putra Tgk. M. Daud Beureuh. di Gigieng di bawah Husin
Sab dan Sab Cut. Lihat Abdullah Arif. op.cot . 15-16.
22.
Ibid.
23.
Ibid.. him. 17
24.
Sebelumnya usaha ke arah perdamaian telah dilakukan, di antaranya oleh Gubernur Sumatra T.M. Hasan dalam
rangka perjalanan kerjanya dari tanggal 9-12 Desember, dengan
wakil dari Markas Uleebalang T. Mahmud. Wawancara dengan
T.M. Hasan. Jakarta. 1981.
25.
Badan penyelidik ini beranggotakan: Tgk. H. Hasan
Krureng Kale. Tgk. Ismail Ya kub. T.M. Amm. Tgk. M. Junus
Jamil. T. Ali Lam Lagang. Lihat. M. Nur El Ibrahimy. Kisah
Kembalinya Tgk. Mohmmad Daud Beureueh ke Pangkuan
Republik Indonesia. Jakarta: M. Nur El Ibrahimy. 1980. him.
64.
26.
Markas Umum Daerah Aceh adalah badan perjuangan
rakyat.Anggotanya terdridari TKR. Polisi NRI. Barisanbansan Pemuda, laskar-laskar rakyat dan lain-lainnya. T.M.A.
Panglima Polim. op.cit.. him. 21.
.27.
Ibid.. him. 22-23.
.28.
Wawancara dengan H. Hasballah Haji. Medan. 1981.
29.
Korban dari pihak rakyat secara pasti tidak diketahui
jumlahnya. Menurut keterangan T. Manyak yang pada saat itu
ditugaskan menjaga keamanan Kota Sigli. bahwa RSU yang ada
di Kota Sigli penuh oleh para korban yang kebanyakan dari
pihak rakyat, sehingga melebihi dari fasilitas sebenarnya.
Wawancara dengan T. Manyak. Banda Aceh. 1981.
30.
S.M. Amin, op.cit.. him. 139-141.
31.
Di sini mereka diperintahkan berdiri di atas meja
25
sambil meneriakkan kata "Merdeka" dengan disaksikan oleh
rakyat banyak. Wawancara dengan T.H. Ya kub Ah. Meureude.
Aceh Pidie. 1981.
32.
Ada sekitar 16 orang penting dan golongan uleebalang yang menemui ajalnya dalam Perang Cumbok. Di antaran\a ialah: T. Muda Dalam, T. Pakeh Sulaiman. T. Laksamana
Umar. T. Mohammad Daud Cumbok. T. Pocut Umax Keumangan ayah kandung Uleebalang Keumangan dan lain-lainnya.
Lihat S.M. Amm. op.cit . him. 254
33.
Antara tahun 1874-1876 dari sebanyak 111 jumlah
uleebalang yang berada di luar Aceh besar, terdapat 31 uleebalang yang bersedia menandatangani perjanjian kerja sama.
Jumlah ini meningkat menjadi 43 uleebalang. antara tahun
1876-1884. Lihat. Handelingen Staten General. 1885-1886
110. No. 2.
34.
PUSA berdiri pada tahun 1 939 atas inisiatif dari Tgk.
Abdul Rahman Meunasah Meucap. dengan mendapat perlindungan dari T. Haji Chik Johan Alamsyah. Uleebalang Peusangan. Sebagai Ketua diangkat Tgk M. Daud Beureueh. A.J.
Piekaar. Atjeh en de Oorlog met Japan, 's Gravenhage Bandung W. Van Hoeve. 1949. him. 18.
35.
Pengaruh besar PUSA pada waktu itu menyebabkan
semua kontak kerjasama yang terjadi antara PUSA dan Jepang
yang berada di Penang selalu mengatasnamakan PUSA. seperti
misalnya penginman T. Muda CS ke Penang. Lihat M. Junus
Jamil. Riwayat Barisan F Fuiiwara Kikan. Banda Aceh' PLPIIS
1975. him. 8.
36.
Menurut keterangan Said Abubakar kepada M. Junus
Jamil ketika ia bersama teman-temannya di hadapan kepada
Mayor Fuiiwara di Penang, ia memberi keterangan antara lain
mengenai kebencian rakyat Aceh pada Belanda dan Uleebalang
yang memeras rakyat. Dicenterakan juga sikap rakyat terhadap
Islam sehingga untuk Islam mereka tidak takut mati Ibid
him. 17
37.
Pada bulan Desember 1941 diadakan rapat rahasia
26
gabungan antara PUSA dan uleebalang di Lam Nyong rumah T.
Nyak Arif. Mereka membulatkan ikrar sumpah setia kepada
agama Islam, bangsa dan tanah air serta setia pada Dai Nippon
dan kerjasama mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda atas nama PUSA. Ibid . him. 4-5.
38.
Misalnya di dalam Majelis Agama islam Untuk Bantuan Kemakmuran Asia Timur Raya (MAIBKATRA). Tgk
Mohammad Hasbi dan Tgk. M. Daud Beureueh diangkat sebagai wakil. Di Mahkamah Agama atau Syukyo Horn diangkat
Tgk. Haji Jakfat Siddik Lamjabat. seorang ulama terkemuka
Aceh Besar sebagai ketua. S.M. Amm. op.cit . him. 19-21.
39.
Politik Keseimbangan yang dimaksud adalah dengan
mengikutsertakan kedua golongan yang berpengaruh di Aceh
dalam sistim Pemerintahan Jepang. Ibid., him. 27.
40.
Ibid . him. 19.
41.
Seperti misalnya. A. Hasimy membentuk PRI (berobah menjadi PESINDO pada 30 Desember 1945) dengan laskar
bernama Devisi Rencong PESINDO: pembentukan laskar Mujahidin oleh T.M. Daud Beureueh dan Divisi Tgk Chik Paya
Balong atau lebih terkenal sebagai Pasukan Berani Mati di bawah Tgk. Amir Husin Al Mujahid. Wawancara dengan Mohammad Amin dan T. Ah Ya'kub. Meureudu. 1981. Lihat juga
M. Nur El Ibrahimy. op.cit.. him. 28.
42
Lihat keterangan pada No. 3.
43.
T.M. Daud Cumbok melarang diumumkannya surat
edaran Proklamasi dan memerintahkan agar bendera merah
putih yang telah berkibar di kantor pemerintah setempat diturunkan. Wawancara Nazaruddm Syamsuddin dengan Hasan
Ah, wakil PESINDO daerah Pidie. The Course of The National
Revolution in Aceh, 1915-1949. Tesis yang belum diterbitkan.
Monash University. 1974. him. 123. Lihat juga keterangan lam
pada No. 5.
44.
Issu-issu tersebut antara lain. telah dibentuknya panitia penyambutan Belanda di Lam Meulo. pemakaian lencanalencana berbendera Belanda serta pembakaran Kitab Suci Al2^
Qur'an. Menurut T.M. Hasan, ketika issu tersebut ditanyakan
kepada T. Mahmud mewakili pihak Cumbok. dengan tegas T.
Mahmud menolak. T. Mahmud menunjukkan lencana merah
putih yang dipakainya dan mengatakan bahwa terbakarnya
Al Qur'an bersamaan dengan terbakarnya rumah-rumah akibat
kerusuhan. Mengenai panitia penyambutan Belanda ke Aceh.
juga tidak diketemukan bukti-bukti yang nyata. Wawancara
dengan T.M. Hasan. Jakarta, 1981.
45.
Dan sebanyak 20 bupati yang diangkat untuk seluruh
kabupaten di Aceh terdapat sebanyak 10 orang ulama dengan
gelar kehormatan mereka Teungku (Tgk). Lihat H.T.M. Amin.
Susunan Pemerintah Republik Indonesia di Aceh, Banda Aceh:
Kantor Wilayah Departemen P & K Propinsi Daerah Istimewa
Aceh. 197t>. him. 5.
2^
DUNIA GRAYAK DAN REVOLUSI LOKAL
(Oleh: Ryadi Gunawan)
I
"... sebuah jembatan dirusak. dua puluh satu ekor sapi
penduduk lenyap, sebuah desa di lereng gunung Merapi bagian
timur dibakar ..." begitu bunyi Siaran Kilat pada tahun 1945.
Kekacauan terus terjadi, grayak merajalela. Mengapa mereka
menjgadi grayak? Apakah kondisi setempat ikut berperan
untuk terbentuknya grayak0 Bagaimanakah peran mereka saat
revolusi0 Wajah mereka masih terlalu samar untuk diteliti,
karena proses kelahiran kelompok grayak yang terlibat revolusi
merupakan proses sejarah masyarakat di wilayah ini. Tak perlu
berdebat tentang definisi1 revolusi, apalagi masih diimbuhi
pengertian tingkat lokal. Terima saja pengertian ini: restruktu
rasi fundamental dari suatu sistem politik dengan kekerasankekerasan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Revolusi
tingkat lokal menunjukkan gerakan sosial lingkup kecil, hal ini
29
pernah kita alami, dalam perjalanan revolusi nasional, yang
terserta juga kegiatan agresi militer Belanda/
Kehidupan mcng-grayakA yang merupakan kehidupan
"dunia bawah" akan selalu menampakkan diri pada saat-saat
tertentu. Hal ini tidak hanya saat revolusi tetapi jauh sebelumnya, bahkan juga hingga jauh sesudahnya. Bentuk kegiatan semacam ini sebenarnya dapat dinyatakan, hadir saat terjadi
wabah kemiskinan, krisis ekonomi, terhentinya sistem administrasi, ketegangan dalam masyarakat gerakan-gerakan protes,
atau pemberontakan. 5 Kegiatan ini sering dipandang oleh mereka yang dihinggapi rasa a priori, sebagai tindakan negatif.
Kegiatan itu dengan cepat dinyatakan sebagai tindakan yang
buruk . tanpa mengkaji lebih jauh bahwa sebenarnya kegiatan
itu dapat juga dilihat dalam konteks tindakan protes atas lingkungannya . Berbagai sebutan yang terlingkup dalam aktivitas
mtng-grayak. seperti benggol, brandal. wen. blater. bromocorah, dugdeng. tukang-geluu pentol, wong atos, pada umumnya menui juk akan sifat jago Di dalam kepustakaan alam kebudayaan Jawa pengertian di atas menunjuk terhadap dunia
perbanditan 8 . yang sebenarnya kesemua sebutan itu mencerminkan akan penghargaan atau keseganan masyarakat Jawa terhadap para pelaku.
Makalah ini merupakan suatu studi awal atas fenomena
perbanditan dalam periode revolusi yang terjadi di beberapa
wilayah daerah Boyolali. Harapan yang ingin diperoleh dari
penelitian semacam ini, untuk mendapatkan gambaran arti revolusi di tingkat lokal, khususnya di tingkat pedesaan. Studi kepustakaan disertai wawancara dengan masyarakat sekitar, sebenarnya akan dapat memperlihatkan pengertian yang mendalam terhadap arti revolusi di tingkat lokal.
Studi atas masalah ini, disadari masih sangat terbatas 9 ,
namun secara faktual, fenomena kegiatan meng-grayak saat
revolusi dapat dianggap sebagai salah satu bentuk partisipasi
masyarakat pedesaan, meski dengan menampakkan wajah yang
30
beraneka rupa1 °. Mengapa harus diingkan jika hal semacam ini
merupakan suatu bentuk partisipasi masyarakat bawah di sebuah lokalitas tertentu? Sepenuhnya disadan. bahwa jika obyek
sejarah adalah: all man's act and thought in the past] ! . maka
dengan meminjam pendapat Mandelbaun 12 . sesungguhnya yang
akan terkisahkan hanya merupakan bagian kecil dan porsi yang
sebenarnya.
II
Secara pasti sangat sulit untuk dapat dinyatakan bahwa
semenjak kapan kegiatan meng-grayak itu dilakukan0 Namun
secara umum dapat dikatakan bahwa kegiatan meng-grayak
telah ada sebelum dibukanya usaha-usaha perkebunan di wilayah Boyolali 13 . Di wilayah ini, yang masuk ke dalam "tanah
raja-raja*' atau sering disebut sebagai daerah Vorstelanden.
nampaknya kehidupan menjadi grayak atau sejenisnya, lebih
disebabkan karena tiadanya kekuatan hukum yang menjamin
dinnya 1 4 .
Sejak usaha perkebunan dilaksanakan, daerah ini menjadi
terbuka bagi usaha semacam itu. Proses pertumbuhan perkebunan ternyata mampu menarik penduduk daerah lain untuk
bermukim di sekitar perkebunan dengan mengandalkan tenaganya sebagai buruh perkebunan. 15 Hal semacam ini justru melonggarkan ikatan sosial16 lama dari penduduk asli dalam kehidupan bersama untuk suatu penderitaan 17 . Berkembangnya
perkebunan di wilayah ini, dikarenakan terjaminnya status hak
tanah, serta terjaminnya jumlah tenaga kerja yang diperlukan
melalui peranan pimpinan setempat 1 .
Dilihat dalam konteks historis, sebagai proses, munculnya
perkebunan, pemukiman baru. merupakan bentuk usaha perubahan sosial masyarakat. Bagi Wertheim 19 , bentuk perubahan
sosial itu dapat terjadi dari luar atau dari dalam diri masyarakat
itu sendin. Hukum yang bersifat tradisional memang masih
berlaku, karena menjadi bagian wilayah kekuasaan dari Sunan 2 0 , tetapi Pemerintah Kolonial dengan seluruh aparatnya,
baik residen, asisten residen, serta kontrolir akan berusaha agar
31
semua itu dapat disesuaikan dengan sistem indirectrule sebagai
kebijaksanaan Pemenntah Kolonial. Perubahan yang bersifat
dinamis dalam masyarakat membawa akibat bagi berubahnya
nilai, yang sering tidak membawa ketentraman. ]
Bagaimana kehidupan grayak semenjak berkembangnya
perkebunan-perkebunan di wilayah ini? Tak dapat disangsikan
mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
perkebunan. Kesempatan untuk tampil menjadi pemimpin masyarakat perkebunan selalu terbuka. Meminjam istilah Sartono
Kartodirdjo 22 . tipe kepemimpinan ini lebih cenderung berdimensi sosial-historis. yang kemunculannya disebabkan oleh
waktu, tempat dan keadaan. Tak jarang sebagai pemimpin dalam
suatu hngkungan. mereka menentang "kebijaksanaan ndoro
tuwan*' dalam hal yang berkaitan dengan sumber-sumber ekonomi setempat. 2? Jika pertentangan ini mewakili keinginan
masyarakat perkebunan sering dirinya dianggap sebagai "pahlawan" 2 4 dan tak jarang mitos kepemimpinannya dapat bertahan
hingga kini 2 5 . sebagai keturunan benggol.
Bagi masyarakat sendin yang nampaknya kehadiran seorang benggol sebagai pimpinan lingkungan akan dianggap lebih
baik 26 ketimbang tiadanya perlindungan, karena ketidakmampuan para petugas keamanan perkebunan menjaga wilayahnya.
Keunggulan seorang benggol dalam ilmu kenuragaan" biasanya merupakan sarat utama bagi kesediaan warga perkebunan
menenma dirinya. Tak jarang dalam persaingan perebutan antar
kepemimpinan antar benggol, masyarakat tak dapat berbuat
banyak.
Hubungan sosial seorang benggol dengan masyarakat setempat biasanya dilakukan melalui jalur para wuku! yang dibantu oleh para bala2 8 . Jika wilayah kekuasaan seorang benggol
cukup luas dan mencakup beberapa wilayah perkebunan, maka
seorang wukul akan diangkat menjadi lurah untuk melaksanakan "roda pemerintahan dinasti seorang benggol". Penghianatan
atas diri benggol, hanya dapat terjadi, jika permusuhan antar
32
para wukul karena posisi yang diberikan benggol tidak dapat
segera teratasi 29 , atau karena wanita.
Prestise sosial seorang benggol di samping ketinggian ilmu
kanugaraan yang dimiliki, luas wilayah kekuasaan, besarnya
jumlah anggota, juga masih dapat ditambahkan, yakni: keroyalan diri di tempat koplakan30. serta banyaknya wanita simpanannya Hubungan antar banyaknya wanita simpanan dengan
upaya keamanan diri dapat terlihat jika ia harus menghindarkan
diri dari kekuatan resmi pemerintah. Setiap tahun di perkebunan-perkebunan itu diadakan keramaian- l. biasanya kesempatan
semacam ini merupakan saat yang tidak akan dilewatkan oleh
penduduk sekitar' Kegiatan ini sebenarnya dapat dilihat dalam
kerangka proses kelahiran benggol-benggo! muda yang belum
punya wilayah kekuasaan secara pasti. Perebutan kepemimpinan
dapat terjadi setiap saat melalui arena judi. minuman dan
tayuban.
III
Sebelum masuk ke dalam pembicaraan tentang revolusi,
ada baiknya kita melihat suasana kehidupan dunia grayak
pada masa kehadiran pemerintahan Jepang. Hal ini dikarenakan
tindakan-tindakan mereka pada awal revolusi memperlihatkan
wajah yang berbeda dengan masyarakat sebelumnya. Bagaimana
hal itu dapat terjadi?
Kehadiran pemerintahan pendudukan Jepang dengan kekuatan militernya, disambut dengan suka cita oleh masyarakat
perkebunan yang masih dikuasai oleh "'ndoro-ndoro tuwan".
Hal ini terjadi di daerah-daerah perkebunan sekitar Boyolali.
Pengumuman tentang berubahnya pimpinan perkebunan menimbulkan keberanian beberapa kelompok grayak meningkatkan aksinya, Desa Cabean Kunti. Gedangan. Jombong. menjadi
langganan akibat kegiatan beberapa mandor perkebunan terhadap penduduk sebelum kedatangan Jepang 3 -.
Kejadian demi kejadian yang berlangsung hingga akhir
tahun 1942. Awal tahun 1943 tampaknya pemerintah pendu33
dukan Jepang tidak tinggal diam karena grayak dianggap mengganggu program peningkatan produksi bagi keperluan perang
Patroli sering dilakukan meski belum sepenuhnya memperlihatkan secara jelas tujuan unjuk kekuatan di lingkungan pegunungan3 ? . Akhir bulan Oktober, saat terjadi kebakaran di
wilayah Boyolali Utara, tanpa diduga dilakukan penangkapan
terhadap penduduk dan terserta beberapa anggota grayak
Kejadian ini merupakan awal bagi penangkapan-penangkapan
berikutnya terhadap kelompok-kelompok grayak2 4 .
Pembersihan yang dilakukan berulang kali menimbulkan
suasana yang berbeda dengan masa sebelumnya . Ketakutan
penduduk perkebunan pada khususnya dan penduduk wilayah
Boyolali pada umumnya tidak saja ditujukan kepada orangorang Jepang yang selalu berpatroli ke gunung, tetapi juga takut
terhadap tindak balas dendam kelompok grayak yang anggotaanggotanya terbunuh . Para mandor dan pegawai administrasi
perkebunan setiap saat diberi penerangan oleh orang-orang
pemenntah pendudukan akan bahaya '"orang-orang kota'" yang
menyusup ke desa-desa di wilayah perkebunan 3 . Mereka wajib
melaporkan jika melihat orang asing di wilayahnya Resiko
tidak melapor akan menerima hukuman berat. Mereka juga diwajibkan mengumpulkan para buruh perkebunan setiap minggu
untuk diberi penerangan 38 . Teror atas kehidupan tetap berlanjut, dan dapat dimengerti jika suasana revolusi di tingkat lokal
nanti merupakan gerakan tanpa koordinasi, karena proses sejarah kehidupan masyarakat di wilayah ini.
Proklamasi yang dikumandangkan dari Jakarta, disambut
dengan pekik '"MERDEKA" dan menampakkan hasilnya di
tingkat lokal dengan tersiaganya seluruh lapisan masyarakat untuk mempertahankannya. Suasana kebebasan menampakkan
diri dalam gaya dan corak yang tak sama untuk setiap daerah.
Akibatnya, hanya beberapa bulan semenjak Proklamasi dikumandangkan Perdana Menteri Sutan Sjahrir terpaksa memberikan peringatan bahwa bukan hal-hal semacam ini yang dikehen34
daki oleh Pemenntah:
**... Penuangan Pemerintah akan lebih diperteguh lap. Haruslah
diingat, bahwa perdjuangan kita tidak hanya menempuh satu djalan.
akan tetapi semua djalan akan dilalui. Pada masa ini perasaan rakjat
memang tadjam sekali, semangat rakjat benar-benar telah meluap
serta siap sedia untuk setiap waktu tangkas membela hak dan keadilan Akan tetapi perbuatan-perbuatan rakjat yang diluar garis
kemanusiaan, misalnya membakari rumah-rumah orang dan merampok, uu tidak dapat ditenma sekali-kali oleh Pemenntah..."Peringatan bukan menunjukkan bahwa Pemerintah tidak sadar
akan situasi yang melatar belakangi ke semua ini Kehinaan,
ketakutan, kebencian, yang selama ini mengungkung eksistensi
dm sekarang memperoleh kesempatan untuk dilemparkan kepada mereka-mereka yang pernah bersikap kurang dapat diterima dalam logikanya revolusi 40 . Mengapa harus ditunggu kesempatan vang ada ini? Begitu mungkin jalan pikiran massa yang
terlibat dalam geloranya revolusi di tingkat lokal itu tanpa harus
berpusing tentang makna revolusi Nasional yang sesungguhnya4 ' . Kerusuhan sosial muncul hampir di setiap wilayah pedesaan Jawa tak terkecuali di Boyolali karena terhentinya sistem
administrasi. Terjadinya kekosongan kekuasaan merupakan
proses otonomi daerah atas pemerintah propinsi dan pusat, dengan pimpinan setempat. Proses anarsistik terjadi kembali . .
Di Bovolali dan sekitar lereng Gunung Merapi kondisikondisi anarkis juga terjadi dalam tingkat tertentu terhadap
orang-orang perkebunan. Kosongnya kekuasaan memunculkan
jenis benggol yang selama ini bersembunyi, untuk memainkan
peran utama dalam pengertian revolusi lokal tingkat pedesaan.
Pendaulatan atas kepemimpinan hasil '"karbitan" Jepang, serta
golongan-golongan tertentu di Kecamatan Cepogo. Bauran.
merupakan kejadian umum. Banyak pimpinan lama yang bukan
berasal dan jenis benggol merasa tidak aman. melarikan diri
ke luar wilayah4 3 . Saat di kota Surakarta terjadi hal yang sama
karena aktivitas pemuda yang berpendidikan, buruh mengambil
tindakan sendin-sendin di berbagai perkebunan
35
Mandor tebu yang bernama Darmo. rumahnya dihancur
kan dan seluruh barang-barangnya diambil oleh massa, dibagibagikan, sedangkan sang mandor tak dapat melepaskan diri
dari kepungan mereka Di desa Gubug dan di desa Jelok. seorang benggol yang bernama Kentrung menggiring massa untuk
menggerayak rumah-rumah penduduk yang pernah dianggap
membantu kekuasaan asing dan mengorbankan saudara-saudara
mereka semasa pemerintahan pendudukan Jepang. Hasil kegiatan, berupa tujuh ekor sapi dan lima ekor kerbau segera disembelih, dagingnya dibagi-bagikan kepada seluruh massa yang terlibat. Kentrung sendiri, berhasil membawa beberapa perabot
rumah tangga dan seorang wanita yang selama ini sering dianggap sebagai tledek Tindakan semacam ini hampir berlangsung
setiap han pada bulan-bulan setelah proklamasi dengan menunjukkan tingkatan sekitar pertengahan Oktober 1945 hingga
awal Februari 1946. 4>
Selama bulan-bulan di atas. Kentrung selalu memakai
perlengkapan seorang benggol, dengan berbagai jimat yang melekat di badannya. Ia senng mondar-mandir mendatangi rumahrumah penduduk dan mengambil apa saja yang diinginkan. Tak
ada yang berani menolaknya, tak terkecuali Noto. seorang pegawai perkebunan yang dianggap mampu. Peran benggol begitu
besar, tak jarang mereka mampu kembali menduduki posisi
sebagai lurah seperti sebelum kedatangan Jepang. Posisi semacam ini dijabat hingga jauh setelah penode revolusi berlalu.
Salah seorang benggol lain. Sodo. diketemukan mati di batas
desa Kembang Kuning dan Cepogo. dengan luka-luka di seluruh
tubuhnya. Kejadian ini menunjukkan bahwa proses pembantaian di antara benggol berlangsung antar mereka sendiri. Factionalisme saat itu merupakan hal yang umum baik di kota maupun
di desa.
Menyingkirkan orang-orang yang dibenci akibat tindakannya pada masa lalu terhadap masyarakat, merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari rangkaian kegiatan ini di tingkat pede36
saan. Tak jarang ditemukan bagi yang tak dapat memanipulasi
situasi akan segera memperoleh posisi sebagai pemimpin, meski
hanya dalam batas berteriak secara keras. Hal ini terjadi pada seorang mantri polisi perkebunan yang bernama mBendol karena
kepandaiannya berbicara dapat membeberkan kejelekan bekerja
di perkebunan dan bagaimana rusaknya moral pegawai-pegawai
administrasi perkebunan terhadap penduduk di wilayahnya,
khususnya terhadap buruh wanita 46 . Kenyataan semacam ini
menunjukkan sebenarnya tiadanya kepemimpinan yang terorganisasi, sering juga berakibat bagi aktivitas itu sendiri menjadi
kelompok-kelompok yang tidak berfungsi dalam kerangka perjuangan nasional4 .
Berdirinya badan-badan penuangan setelah kegiatan pendaulatan 48 tidak mengurangi gambaran umum dari tingkah laku
para benggol sebelumnya. Keberanian dan kegagahan pemuda
dalam aktivitas yang dipersatukan dengan situasi saat itu. merupakan hasil didikan pemerintah militer Jepang, menjadikan
peran mereka seperti dalam dongeng, khususnya semasa terjadi
perang gerilya. Keberanian mereka merampas barang-barang
milik Jepang, dengan berbagai perlengkapan perang yang dibutuhkan di berbagai pabrik, nampaknya merupakan persoalan
lain bagi gambaran revolusi itu sendiri di tingkat lokal
Keberhasilan mereka merampas barang-barang milik Jepang, diulang kembali pada masa gerilya terhadap wilayah yang
dilaluinya. Hubungan mereka dengan lurah-lurah desa yang berasal dari benggol, terjalin dengan sendirinya 49 Para pemuda
kota yang kini masuk ke desa-desa untuk bergerilya, disambut
dengan "'mesra*' oleh masyarakat. Di daerah yang penuh dengan
tebing dan juga para pemuda membuat pertahanan. Kepala desa
yang berasal dari benggol memperoleh kesempatan menggunakan senjata api melalui latihan yang diberikan oleh pemuda
gerilya. Kembali hidup berdampingan saling menguntungkan
menjadi pameo. Hubungan mesra ini kelak akan berakibat bagi
kekuasaan yang sah setelah periode revolusi fisik50.
37
Proses pemiskinan yang begitu panjang bagi sebuah sejarah
kehidupan masyarakat, dengan lingkungan kriminalitas yang
suht dipisahkan, pada akhirnya memisahkan gambaran perjuangan mereka dalam kerangka perjuangan nasional. Revolusi
agrana. anti Kapitalisme, benuasi. sebagai kosakata dididikan
politik di kota kini menjalar di pedesaan karena pengaruh kehadiran pemuda yang bergerilya5 ' . Siapa yang harus dipersalahkan dan siapa yang berhak menyalahkan 9
Kehadiran perkebunan-perkebunan yang dikelola dengan
kebijaksanaan politik pemenntah kolonial, yang sempat memiskinkan petani desa sekitarnya, saat revolusi dibalas oleh mereka Tanah-tanah onderneming itu kini dikuasai dan dibagi
oleh mereka sebagai pemilik yang "sah". Pemerintah dalam
menjaga citra revolusi Nasional Indonesia, tidak dapat menerima
hal itu Tanah-tanah yang telah dibagikan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah. Kesemua ini harus dilaksanakan untuk ketertiban dan keamanan nasional menjaga arti wibawa revolusi di forum internasional. Masyarakat desa menolaknya karena menganggap ini merupakan hasil ber "revolusi".
Tindakan ini didukung oleh para pemuda kota yang bersenjata
vang pernah bergerilya di desa-desa. dan menganggap petani itu
sebagai keluarganya 52 . Persoalan yang muncul saat revolusi,
berlanjut hingga jauh bertahun-tahun setelah pengakuan kedaulatan, dalam bentuk konflik'_s '"?
IV
Revolusi di tingkat lokal yang terjalin dengan perang
gerilya sebenarnya memunculkan kelemahan tujuan "'berevolusi" khususnya di daerah perkebunan di wilayah Boyolali.
Ha! semacam ini dikarenakan terisolirnya wilayah-wilayah perkebunan dan tiadanya pengertian kordinasi gerakan, khususnya
pada awal revolusi. Meski demikian ada jalur benang merah vang
menunjukkan kesamaan kehadiran mereka di masyarakat: semua mempunyai lawan baik masa kolonial revolusi atau setelah
38
itu. Kesamaan yang terjadi, ialah, dipergunakannya bentukbentuk kanuragan sebagai modal utama.
Saat terjadi knsis politik, kepemimpinannya tertampilkan, dan kepemimpinan itu dalam konteks revolusi lokal, lebih
terlihat sebagai suatu tindakan: pekik revolusioner dalam genangan darah. Hal ini sebenarnya menunjuk juga akan keterbatasannya untuk mengkordinir massa. Wajah dunia grayak
dalam revolusi tingkat lokal lebih menyerupai bergantinya jenis
kepemimpinan dengan berbagai cara. melalui bentuk pertentangan yang bersifat dialektis, antar sesama mereka atau yang
dianggap sebagai lawan-lawannya. Dunia grayak dalam revolusi
lokal adalah dunia yang tidak terlepas dan: kanuragan. darah,
dan wanita. Jika revolusi didutakan oleh para filsuf, dilaksanakan oleh para politisi, maka para grayak dapat dinyatakan sebagai penikmatnya. Apakah demikian pengertian revolusi di
tingkat lokal itu 0
34
CATATAN
1. Periksa. David V J. Bell. Resistance ad Revolution
(Bostor Houghton
M iffin Compan>. 1973X haL 7-10;
2. Lihat. Anthony Reid. The Blood of The People. Revolution and the End
o' Traditional Rule in Sortie* Sumatra (Kuala Lumpur Oxford University Press.
1979) 218-251.
3. Periksa. Masse 4 Sep. 1948.: Berdaulat. 12 Feb. 1950. (disebutkan pangkal
pokok agresi Belanda karena kekacauan sering teriadi: gedor, rampok, perbandingan
>anc mengganggu masyarakat umum).. H L Switser. Dokumenten Betrefende de
Eerste Politionale Actie (20/21 Juli - 4 Agustus 194/"). ('s-Gravenhage Sectie Militaire Geschiedenis van de Landmachtstaf. 1983).
4. Pengertian mengrgrayak adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh
sekelompok orang untuk mengambil sesuatu milik orang lain dengan cara kekerasan,
kelompok grayak biasanya dipimpin oleh segrang benggol. Pembantu utama disebut.
wuku!. Pengikut biasa disebut bak.
5. Sartono kanodirdic. The Peasant Revolt of Banten in ]88ê. (The Hague.
1966) hal. 117.
6. Sasional 12 Agustus 195G. No. 16. hal 14.: Masyarakat 18 Februari
1950. T h a I haL 2.
7. Joseph R. Gusfield. (ed). Protest. Reform, and Revolt. A Reader in Social
Movement (New York Jhon Wiley & Sons. Inc. 1970) haL 200-201.
8. Suatu tulisan yang baik tentang masalah perbanditan. lihat E J Hobsbawn.
Bahdtts (London Penguin Books Ltd. 19^2 >
9. Belum ada studi khusus tentang pyrbandingan saat revolusi yang dapat
benar-benai diandalkan, biasanya masalah semacam ini hanya disinggung secara sepintas. Periksa, terhadap buku-buku tentang revolusi Indonesia, antara lain B.R.O'G.
Anderson. Java in a Time of Revolution. Occupation and Resistance. 1944-1946.
40
(Ithaca and London CorneU University Press. 1972) : Anthony Reid The Indonesian
National Revolution 1945-1950. (Australia Longman. Untuk tuhsan lepas tentang
perbanditan Onghokham. "Peran Jago Dalam Sejarah' KOMPAS 2~ April 1983.;
Ryadi Gunawan. "Jagoan dalam Revolusi Kita ' PRISMA No. 8 Agustus 1981, haL
10. A.M Sandra. "Apa bedanya PESINDO Kota dengan PESINDO Desa1
di dalam Gyrilya. 15 Mei 1948. hal 6.: Merriu Suar 16 Oktober. 194". Thn. II
No. 3.. haL 2.
11. Hoemer Corey Hoeken. The Critical Methods m Historical Research and
Writing (New York The Macmillan Compam. 1967). haL 3.
12. Maurice Mandelbaum, The Problem of Historical Knowledge An Answer
to Relativism New York Harper & Row Pusblisher. 1967). haL 83.
13 Almanak Perkebunan. (Semarang Serayu. 1955) haL 4".
o
14 Sarjmn Wawancara 4 April 1983. (sebagai bekas mandor perkebunan,
senn» dicegat oleh orans-oiang semacam ini dan diminta uang. tembakau bahkan
pakaiannya. Setelah sering bertemu akhirnya mereka bercerita bahwa mereka merupakan buron. Mereka merupakan orang-orang yang cepat beradaptasi dengan lingkungannya
15. Siaran Ekonomi. Maret 1946.
16. D H Burger, (terjemahan Prajudi). Sejarah Ekonomis Sosiologi. (Djakarta
Pradnjaparamita. 1962) Jilidi haL 94.
h „-„«r,
17. Lihat James C Scott. Moral Ekonomi Petan, Pergolakan dan Subststees,
di Asia Tenggara. (Jakarta LP3ES, 1981) haL 8-10.
18. Sartono Kaitodirdjo. Lembaran Sedjarah. No. S. Yogyakarta Seks!
Penelitian Djurusan Sedtarah. Djum. 1972). haL 16.
19. W.F. Wertheim. Indonesia Society in Transition A Study of Social Change
(The HaEue Bandung W. van Hoeve Ltd.. 1956) haL 38-5Û.
T u t a t George D Larson. Prelude to Revolution Palaces ang Politics in
Surakarta. 1912-1942. (Disertasi yang belum diterbitkan. Northern Illinois Universe
ty
- ' ' n . ' KeVamsistem ekonomi baru yang terpisah dari kegiatan keluarga sering
menimbulkan kegelisahan masyarakat inherent dalam setiap perubahan. Warta Per-
* ^
<
^
l
S ^
a
U - * Ä
^ermmpinan Oalam Dimensi So-
non of Culture Difference. (Boston Little. Brown and Company. 1969Ï haL 9 38
'24 Penilaian kepahlawanan mi bukanlah pynliaian sejarah kritis akan tetapi
,ebih bersifat: moril Dipandang dari gejala sejarah nasionaL ha! itu dapat tidak beraru aSn t l p i Ï a d a n d a n ! dan gejala sosial budaya maka hal ini akan menjad,
' ' H " . Kende, merupakan seorang benggol yang memperoleh tempat d.
Hati penduduk wilayah desa Gedangan karena sifat-sifat ^ e p e m j m p w ^ g r t u
akrab dengan masyarakat setempat, ia merupakan benggol yang beran, m e l a w a n ^
kuasaan ndoro tuwan ' perkebunan deygan melakukan berbagai bentuk keonaran
41
saat mengetahui ada beberapa penduduk wilayah kekuasaannya diberhentikan sebagai buruh perkybunan. Solidaritas masyarakat pedesaan menampakkan wajahnya
dalam gambaran budaya sebagai "kita yang bebas, kita yang setempat tinggal dan
kita yang berperanan '
26. Tenong. Wawanca-a 5 April 1982. (seorang penduduk desa Wonodoyo.
berusia 72 tayun)
2". Ilmu kesaktian dengay iimat-jimau merupakan bagian > ang tak terpisahkan
di lingkungan masyarakat sejenis mi. Mencari guru yang dapat dianggap ampuh dilakukan oleh mereka hingga keluar wilayah daerah Vorstenlanden. Umumnya kegiatan
semacam mi dilaKukan sebelum mereka madeg menjadi benggolan.
28. Masalah ini berkaitan dengan pajak yang tidak hanya berupa uang. tetapi
juga sumber-sumber lain berupa pelayanan keamanan bagi anggota grayak wilayah
bersangkutan saat diburu oleh kekuasaan yang sah yang sewaktu-waktu dapat muncuL
29. Rebo. adalah seorayg benggol yang dihianati oleh salah seorang pembantu
utamanya. Saat pendudukan Jepang, terjadi kebakaran di sebuah perkebznan tebu
dan Rebo dianggap sebagai pelaku utama. Beberapa han kymudian ia ditemukan mau
dengan tragis, beberapa bagian tubuhnya terpisah. Para isten peliharaaenya vang bermmlah lima orang masing-masing mendapat kiriman bagian tubuh benggol Rebo. Tersebar kabar ia merupakan orang-orang komunis bawah tanah yang dicurigai pemerintah Jepang, akan tetapi berdasarkan informasi seorang penduduk yang dapat dipercaya, kematian Rebo akibat dendam kumpulan grayak Lain ditambah dendam pembantu utamanya karena alasan wanita. Kuwato, Wawancara. 3 April 1982. (seorang
penduduk desa Gedangan. berusia 77 tahun).
30. Koplakar adalah suatu tempat untuk bersenang-senang. Di sini tersedia
permainan judi dari dadu. ceki atau minuman keras dan wanita. Tempat semacam ini
tumbuh dengan sendirim a di sekitar perkebunan, sebagai tempat persinggahan dalam
perjalanan.
31. Ada keharusan tak tertulis bagi setiap "ndoro tuwan ' perkebunan untuk
memberikan hadiah hiburan bagi para pekerjanya sekali dalam setahun. Biasanya
keramaian ini dapat berlangsung hingga beberapa hari. Akan terlihat bahwa keramaian semacam ini merupakan proses pemiskinan bagi penduduk perkebunan. Mereka
meneriza gaji - ada berbagai hiburan termasuk perjudian, minum, nayub - setelah
keramaian usai kembali kepada0kehidupan sebagai buruh dengan hutang yang baru.
Warta Pyrkebunan. Op. Cr... haL 32-48.: Sariiun, Wawancara 4 April 1983. (seorang
benggol akan tampil dalam acara nayub hingga berhasil mendapatkan primadona
tledek \ang ada. Kepandaian menari seorang benggol memperlihatkan juga rasa seninya tvrhadap jenis keseman perkebunan ini)
32. Kuwato. Wawancara 3 April 1982. (Pegawai perkebunan sering merusak
pagat ayu penduduk setempat dengan berbagai cara. umumnya dengan imbalan ekonomi;
33. Ada banyak ditemukan gua-gua perundungan yang dibuat Jepang dalam
kerangka pertahanann\ a terhadap sekutu. Mungkin patroU itu merupakan sebagian
dari sistem pertahanannya.
34. Sarjiun. Wawancara. 4 April 1983. (sebagai mandor perkebunan ia sering
meUhat mayat-mayat -bekas grayak yang dikenalnya di samping mayat beberapa penduduk perkebunan yang dianggap sebagai orang-orang komunis bawa> tanah yang
42
menyusup ke wilayah ini. Penangkapan itu sering tanpa dapat diteliti lagi mana anggota grayak dan mana yang dianggap sebagai orang-orang susupan dan berideologi
komunis. Hal ini sering dilakukan dengan ancaman kematian bagi para pegawai administrasi perkebunan).
35. Kuwatc. Wawancara. 3 April 1982. (tak ada keramaian perkebunan, tak
ada tempat untuk minum, tak ada tempat koplakan. dan yang ada hanya ketakutan
serta curiga antar sesama).
36. Sarjiur.. Wawancara 4 April 1983 (ancaman para grava k lebih ditujukan
kepada pegawai-pegawai administrasi perkebunan karena orang-orang tersebui hampir
selalu ikut saat terjadi pembersihan. Tak ada yang dapat disalahkan, semuanya haru<
selalu bersiap diri menjaga kemungkinan!.
37. Sarjiun. Wawancara. 4 April 1983. (maksudnya adalah kader-kader bawah
tanah komunis yang selalu ditakuti oleh Jepangl.: George D Larson. Op.Cit. khususnya bab LV
38. Sarjiun. Wawancara 4 April 1983. (kesalahan rekan-rekannya sebagai pegawai administrasi perkebunan adalah sering memanfaatkan kesempatan yang ada
untuk menarik keuntungan bagi dirinya. Tak jarang wanita yang tidak mau melayani
keinginannya dituduh sebagai orang-orang susupan dan harus dibawa untuk diperiksa
ke kantor perkebunan)
39. Osman Raliby. Documenta Historica. Sedjarah Dokumenter Dari Pertumbuhan dan Perdjuangan Segara Republik Indonesia. (Djakarta Penerbit Bulan-Bintana. 1953) haL 98.
40. Soeara Pesindo Maret Thn. 1 1946. (yang dimaksud dengan logika revolusi adalah pendidikan tingkat kwalitas dalam aktivitas kehidupan masyarakat
41. Siaran Kilat. Desember 1945.
42. Ibid..
43. Warta Indonesia Oktober 1945.
44. Djawa Tengah Di Dalam Setahoen Repoeblik. hal. 16.: Metthosoear. 16
Febroeari. thn. 1 1946. HaL 15. (menyatakan ini merupakan kebangkitan massa
rakjat untuk ikut bersama para pemimpin menegakkan sebuah cita-cita yang sudah
diinginkan. Para pemimpin tidak perlu gusar, seharusm a my rasa bangga bahwa massa
rakjat telah sadar akan harga dirinya sebagai orang-orang merdekai
45. Soeara Pesindo. April. Thn. I 1946 (para pemuda ini disebut sebagai pesindo desa. umumnya memakai pakaian hitam berselempang sarung dan membawa
kekuatan-kvkuatan tertentu yang berasal dari kiai-kiai tertentu. Mereka merupakan
susunan masyarakat baru yang mengenal kegiatan politik. Pernah di wila\ah mi akar,
dibuat basis, dalam bentuk desa kader seperti di Ambarawa).
46. Sarjiun. Wawancara 4 April 1983.
4 ' . Periksa berbagai isi siaran kilat vang sering dilakukan oleh Kementerlar.
Penerangan, sekitai tahun 1945 akhir hingga pertengahan tahun 1946. Sering menilai
gerakan-gerakan lokal ini tidak dapat dipertanggung jawabkan dan merupakan pertanggungan bagi pemerintah yang sah di forum-forum internasional.
48. Di wilayah Boyolali, khususnya di qesa-desa Mliwis. Paras dan Sumbung.
Organisasi Pesindo Desa hadir berpartisipasi dalam suasana revolusi tingkat lokal tidak
dapat diketahui secara pasti tetapi melahirkan nama-nama seperti Multayat. Waloeyo, Muchsin sebagai tokoh laskar setempat.
43
49. Supran. Wawancara. April 1983. (sebagai bekas pemuda?kota yang bergerilya di wilayah tersebut menyatakan kami butuh makan tempat berteduh. dan
mereka para lurah ingin memperoleh pengetahuan persenjataan untuk bergerilya.
Apanya >ang salah 9 )
50. Lihat. Republik Indonesia Propinsi Jawa Tengah. (Semarang Djawatan
Penerangan Propinsi Jawa-Tengah. 1952j. 210-211.
51. Sengaja saya tidak menyebutkan peran tentera resmi pemerintah karena
beberapa0haL yakni sulit memperoleh data kehadiran tentera di wilayah ini secara
benai. Data-data yang sempat terkumpulkan hanya menunjuk sebagai laskar bersenj a t a . Djawa Tengah Di Dalam Setahoen Repoeblik. Op.Cit. haL 20. (yang membahas
tentang hancurnya moriel tentera).: Xasional. Ho. 23. 1950, haL 4.
52. Nasional No. 29. 1950. haL 4.
53. Pengertian konflik dapat berarti sebagai bentuk perselisihan, pertempuran,
bentrokan, baik secara fisik atau fikiran. Konflik dapat terjadi secara perseorangan
atau kelompok. Konflik memungkinkan terjadinya perubahan atas lembaga resmi
atau kepemimpinan Cakupan pengertian konflik ini. dapat begitu luas. Periksa, dalam George H Nadel (ed.). Studies in the Philosophy of History Selected Essa)
from Histon and Theon. (New York Harper Torchbooks Harper & Row Publishers.
1965). haL 117-147.;
44
DAFTAR PUSTAKA
Almanak Perkebunan. Semarang: Seraju. 1955.
Anderson. B.R.O.G. Java in a Time of Revolusiton Occupation
and Resistance. 1944-1946. Ithaca and London: Cornell
University Press. 1972.
Barth. Fredrik. (ed.). Ethnic Group and Boundaries Boston
Little Brown and Company. 1969.
Bell. David V.J. Resistance and Revolution Boston: Houghton
Miffin Company. 1973.
Burger. D.H. Sedjarah Ekonomis Sosiologis. Jilid 1. Djakarta:
Pardja Paramita. 1962.
Gusfield. Joseph R (ed.J. Protest. Reform, and Revolt A Reader
in Social Movements. New York: John Wiley & Sons. Inc. 1970.
Hobsbawn. E J. Bandits London Penguin Books Ltd. 1972.
Hockett. Homer Core). The Critical Methods in Historical
Research and Writing New York. Harper L Row Publisher. 1967.
Larson. George D. Prelude to Revolution Palaces and Politics
in Surakarta, 1912-1942. Disertasi yang belum diterbitkan.
Northern Illinois University 1979.
Mandelbaum, Maurice. The Problem of Historical Knowledge:
45
An Answer to Relativism. New York: Harper & Row
Publisher. 1967.
Osman RaJiby. Documenta Historica Djakarta: penerbit Bulan
Bintang. 1953.
Republik Indonesia Propinsi Djawa Tengah Semarang: Djawatan Penerangan Propinsi Djawa Tengah. 1952.
Reid, Anthony. The Blood of the People: Revolution and the
End of Traditional Rule in Northern Sumatra. Kuala
Lumpur: Oxford University Press, 1979.
. The Indonesian National Revolution, 1945-1950
Australia: Longman.
Sartono Kartodirdjo. (penyunting). Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3ES, 1984.
. Lembaran Sedjarah. No. 8. Yogyakarta: Seksi
Penelitian Djurusan Sedjarah. 1972.
. The Peasant Revolt of Banten in I88S. VGravenhage: Martinus Nijhoff. 1966.
Scott. James C. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES. 1981.
Switser. H.L. Documenten Betreffende de Eerste Politionele
Actie. 20 21 Juli - 4 Agustus 1947. "s-Gravenhage: Sectie
Militaire Geschiedenis van de Landmachtstaf. 1983.
Wertheim. W.F. Indonesian Society in Trantition A Study of
Social Change The Hague: W van Hoeve Ltd. 1956.
KORAN/MAJALAH
Berdaulat. 1 2 Februari 1950.
Djawa Tengah di dalam Setahoen Repoeblik
Gerilja, 15 Mei 1948.
Kompas, 27 April 1983.
Massa. 4 September 1948.
Masjarakat. tahun I. 18 Februari 1950
Mertju Suar, tahun I, 16 Februari 1946.
Mertju Suar. No. 3. 16 Oktober 1947.
4ö
Nasional, no. 23, 1950.
Nasional, no. 29, 1950.
Prisma, No. 8 Agustus 1981.
Siaran Ekonomi, Maret 1946.
Siaran Kilat, Desember 1945.
Soeara Pesindo, Maret 1946 :
Soeara Pesindo, Tahun L April 1946.
Warta Indonesia. Oktober 1945.
Warta Perkebunan, Oktober 1958.
47
REVOLUSI SOSIAL POHAK KIRI 1946 DI SERDANG
(Oleh Tengku Luckman Sinar)
Introduksi
Kerajaan Serdang berada di dalam wilayah Kabupaten
Deli dan Serdang. Propinsi Sumatera Utara sekarang. Ketika
di dalam Kerajaan Deli. yang didirikan oleh Panglima Sultan
Aceh di sekitar tahi n 1640. terjadi perang saudara (1720)
di antara 4 orang cicitnya, maka putera mahkota Deli bernama
TUANKU UMAR KEJERUAN JUNJUNGAN terpaksa menyingkir bersama ibundanya Permaisuri Tuanku Puan Sampali.
ke wilayah Serdang. Kemudian oleh Raja Urung Senembah
(suku Karo merga Barus) dan Raja Urung Tanjong Morawa
(suku Timur merga Saragih) Tuanku Umar dinobatkan menjadi
Sultan Serdang yang pertama di tahun 1 723 1 K
Kerajaan Serdang menjadi besar dan makmur di bawah
pemerintahan cucunya SULTAN THAF SINAR BASTARSYAH
alias "Sultan Besar". Ketika missi pemerintah Inggeris dari
48
Penang berkunjung ke Serdang di tahun 1823 yang diketuai
oleh JOHN ANDERSON, dia ini bertemu dengan Sultan Besar
yang dikelilingi oleh Raja Dolok dari Simelungun. Raja Tanjung
Morawa dan Raja Siantar. Perdagangan Serdang juga ramai
dengan Tanah Alas dan Penang 2 '. Karena itu pihak Inggeris
buru-buru membuat perjanjian dengan Serdang, meskipun berdasarkan cerita Belanda. Serdang pernah ditaklukkan oleh Siak
dalam tahun 1780.
Perjanjian dagang antara Inggens dengan Serdang itu berbunyi sebagai berikut:
Tanda tangan SULTAN BESAR
dari Serdang
Ditujukan kepada
Hon. W.E. Phillips.
Gubernur Inggeris di
Pulau Pinang
(didahului oleh komplimen yang biasa)
Beta sangat berbesar hati meletakkan dasar persahabatan
dengan Paduka Sahabat Beta dan memandang perlu bertambahnya perdagangan antara negeri Beta dengan Pulau
Pinang, dan Beta tidak merasa perlu lagi untuk mengadakan perjanjian dagang atau hubungan-hubungan lainnya
dengan negeri-negeri lain.
"Beta telah menerima surat sahabat Beta melalui agennya.
Tuan John Anderson dengan penuh kegembiraan. Paduka
sahabat mengemukakan didalam surat itu. tentang perdagangan antara Serdang dengan Pulau Pinang, dan menyatakan harapan untuk kemakmuran negeri Beta dan bertambahnya hubungan antara kedua negeri ini.
Beta berharap dapat membuat hubungan dengan pedagang-pedagang Pulau Pinang, dan sebarang apa barang dagangan keluar dari Kerajaan ini Beta bersedia mengirimkannya ke Pulau Pinang.
49
Mengenai persoalan perdagangan secara umum. Beta
telah memperbincangkannya secara bebas dan panjang lebar dengan agen dan Paduka Sahabat Beta. yaitu Tuan
John Anderson, dan menyampaikan kepadanya mengenai
jenis-jenis barang dagangan yang diperlukan untuk negeri
inj dan dengan memperhatikan ketentuan Bea Cukai negeri
Beta".
Tertanggal 18 Jumadil Awal 1238 Hijrah, hari Jumat
(A.D.1823) 3 '
Diceritakannya lagi bahwa negeri Serdang "... possesses
many advantages, and there was an appearance of quiet content,
peaceful industry . and numerous population, extremely pleasing,
while the number of small vessels, lying loaded in the river,
denoted the flourishing condition and prosperity of the place.
At this place, the agent met many chiefs from the neighbouring
small states and from the interior". 4}
(Sedang memiliki banyak keuntungan, dan kelihatan adanya industri yang aman dan damai, dan banyak rakyatnya.
sangat menyenangkan, sementara banyaknya kapal-kapal kecil
yang berlabuh dengan penuh muatan di sungai, menunjukkan
kondisi kemakmuran dan perkembangan negeri itu. Di tempat
ini, utusan telah menemui banyak raja-raja dari negeri-negeri
kecil tetangganya dan juga dari pedalaman).
Tetapi sementara itu awan mendung meliputi kawasan
Sumatera Timur. Untuk menghindan pertikaian sengit dalam
menggarap jajahan masing-masing, maka Inggeris dan Belanda
sepakat membuat "TRAKTAT LONDON" 1824 di mana Sumatera dianggap masuk kawasan pengaruh Belanda.
Atas dasar itu Belanda membuat perjanjian dengan Siak di
tahun 1858 di mana dicantumkan bahwa Kerajaan Siak dan
rantau jajahan takluknya berada di bawah kedaulatan Belanda.
50
Di dalam kontrak itu disebutkan bahwa negeri-negeri dari batas
Temiang sampai seluruh Sumatera Timur adalah taklukan Siak
dan diharapkan Belanda agar melindunginya dari musuh Siak
yaitu Aceh
Atas dasar inilah Belanda beberapa kali mengirimkan ekspedisi politik dan militer ke Sumatera Timur untuk mengakhiri
kedaulatan kerajaan-kerajaan di pantai Sumatera Timur.
Pada tanggal 2 Agustus 1862, Residen Belanda di Riau.
Elisa Netscher, dengan dilindungi oleh kapal-kapal perang penuh
dengan serdadu Belanda bersenjata modern, mengunjungi satu
persatu kerajaan Melavu di pesisir Sumatera Timur. Di Serdang.
SULTAN BASYARUDDIN SYAIFUL ALAMSYAH (putera
dan pengganti Sultan Besar), menyambut kedatangan rombongan Belanda itu dengan menaiki perahu-perahu perang berbendera Aceh. karena di dalam tahun 1845 Serdang sudah ditaklukkan Sultan Ibrahim Mansvursyah dan Aceh dan lalu diberi gelar
"SULTAN BASYARUDDIN SYAIFUL ALAMSYAH WAZIR
SULTAN ACEH". Kontrak yang disodorkan Netscher lalu ditandatangani .iuga tetapi dengan memakai cap "Wazir Sultan
Aceh". Hal ini membuat palak Netscher sehingga mengancam
akan meratakan ibu kota Rantau Panjang, sehingga perjanjian
itu ditandatangani juga tanpa pakai cap dan tanpa ditandatangani dengan persetujuan Orang-orang BESAR kerajaan (yang
sebenarnya menurut adat adalah tidak sah ). Juga turut diakui
Belanda wilayah jajahan Serdang yaitu Denai. Percut. Bedagai
dan Padang. Tindakan Belanda yang lancang itu membuat palak
Aceh. sehingga dalam bulan Mei 1863 dikirimlah 13buah perahu
perang dipimpin oleh Raja Meredu untuk menghukum Deli dan
Langkat. Di Serdang expedisi Aceh itu disambut hangat dan dijanjikan bahwa Aceh akan membantu Serdang dan Asahan melawan Belanda.
Sultan Basyaruddin lalu mempersiapkan kekuatan di Bedagai dan wilayah pedalaman serta mengangkat Kepala Suku
51
Lima Laras (Batubara) menjadi wakilnya di Batubara. Sementara itu d. Labuhan Deh sudah bercokol Kontrolir Belanda
Cat, Baron de Raet yang mendekking J. Nienhuys yang sejak
- Juli 1863 telah menenma konsensi tanah yang luas dan Miltan Deli untuk membuka kebun tembakau di sana.
Karena sikap Asahan dan Serdang pro Aceh dan membangkang ultimatum Belanda sehingga dan Betawi dan Riau disiapkan^pasukan ekspedisi militer untuk menundukkan Asahan dan
Sedane vane kekuatannva sesuai beslit Gubernur Jendral Hindia Belanda no. 1 tanggal 25 Agustus 1865 adalah sebagai
berikut:
1
Setengah batalvon Infantri dengan staf satu Detasemen
terdiri dan 1 Opsir dengan 25 orang artilenst. 2 meriam
lapangan. 2 mortir 12 inci. 2 orang dokter dan staf kesehatan. P 9 orang serdadu Belanda totok dan 22/ orang
serdadu bumiputera:
2
Bantuan dari Angkatan Laut dengan kapal-kapal perang
"Djambi". "Sindoro". "Amsterdam". "Montrado". "Delfzijl". "Dassoon" dan beberapa Kruisboot.
3.
Kapal-kapal perang itu mengangkut pasukan Marinir sebanyak 1000 orang dengan 49 pucuk menam.
Begitu besar kelengkapan modern tentara Belanda itu untuk menghadapi negeri yang hanya mempunyai perajurit terdiri
dan rakyat biasa ribuan saja yang bersenjata tombak dan pedang ditambal! beberapa buah senapan locok dan meriam lela.
Negeri vane mula-mula diserang ialah Batubara dan dari
sana ke Asahan. Pada tanggal 20 September 1865 ibu kota
Tanjung Balai dapat direbut dan Sultan Ahmadsyah sebelumnya
sudch sempat undur ke pedalaman untuk bergerilya Pada tanggal 30 September 1865 sebagian armada Belanda telah memblo52
kade Serdang dan tanggal 1 Oktober pasukan Belanda yang
lengkap dengan senjata berat dan modern itupun didaratkan di
Rantau Panjang. Sultan Serdang tak sempat undur untuk bergerilya ke pedalaman sehingga pada tanggal 6 Oktober 1865 :
mengingat situasi yang tak ada harapan lagi untuk berperang
karena tiadanya bantuan Aceh dan Inggens dan Asahan sudah
diserang pula. maka Sultan Basyaruddin terpaksa tunduk untuk
menghindarkan korban banyak. Sebagai hukuman atas pembangkangan Serdang ini maka dicabutlah wilayah Bedagai.
Perçut, Padang dan Denai dari tangan Serdang dan lalu diserahkan kepada Deli.
Serdang di Masa Pemerintahan Sultan Sulaiman.
Sejak itu Sultan Basyaruddin menarik diri lebih banyak
menghabiskan waktunya berkhalwat saja. Baginda mangkat
tanggal " Muharram 1279 H (Pebruari 1881) digelar "'Marhom
Kota Batu'' dan meninggalkan seorang putera yang masih di
bawah umur sebagai penggantinya yaitu TENGKU SULAIMAN.
Tanpa menunggu persetujuan dan Belanda sebagaimana yang
diharuskan menurut perjanjian Belanda dengan Serdang, maka
menurut adat "Raja Mangkat. Raja juga menanam", oleh para
Orang Besar dan rakyat banyak ditabalkanlah ia sebagai SULTAN SULAIMAN SYARIFUL ALAMSYAH Karena Sultan
Sulaiman terus membangkang terhadap Belanda mengenai soal
wilayah Senembah. Percut. Denai dan perbatasan dengan Deli
maka barulah setelah selesai masalah itu ditekan Belanda untuk
kepentingan Deli. 29-1-188" ia barulah diakui Belanda sebagai
Sultan Serdang, tujuh tahun kemudian. Begitupun hubungannya dengan kapitalis perkebunan Belanda taklah mesra betul.
"De Sultan van Serdang was minder verlicht en den ambtenaren
minder genegen den Sultan van Deli, op Wien hij zich naijverig
toomde. En met eene Sultans gezindheid moest de ondernemingsgeest dier dagen rekenen". '
53
(Sultan Serdang kurang dapat diyakinkan dan Orang-orang Besarnya
kurang keinginan dibandingkan dengan Sultan Deli yang sangat
mesra Dan dengan dukungan Sultan masa itulah baru bisa diharapkan semangat pembangunan perkebunan dapat terlaksana).
Pada tanggal 21 Maret 1891 Sultan Sulaiman kawin dengan
Tengku Permaisuri Darwisyah binti Raja Burhanuddin. turunan
Raja Pagarruyung Minangkabau. Sultan Bagagarsyah yang dibuang Belanda ke Betawi Itu komentar pihak Belanda karena
di dalam hal soal kerjasama dengan politik pemerintah Hindia
Belanda. Sultan Sulaiman dianggap paling sedikit kerja samanya
dengan Belanda.
"Hij is de munste" (dia adalah yang paling sedikit), begitu
komentar Memorie van Overgave \ dan Gubernur Sumatera
Timur S Van der Plas. Sultan Sulaiman sering dianggap Belanda
keras kepala dan selalu saja protes jika ada hal-hal yang dirasa
merugikan rakyatnya atau negeri Serdang. Mengenai perbatasan
Serdang dengan Deli yang ditetapkan dengan keuntungan Deli.
selalu saja ia protes. Misalnya di dalam bulan Desember 1925
disuruhnya penduduk Serdang menggarap-tanah untuk dijadikan persawahan di dalam wilayah yang ditetapkan untuk Deli
yang dikerjakan oleh penduduk Rambai. Pamai dan Pamungkiran. Oleh Belanda mereka diusir kembali ke Serdang. 8}
Menurut perubahan Politik Kontrak antara Belanda dengan
Serdang tl"-2-191 7 ) dipaksakan oleh Belanda agar dikeluarkan
dan kaula Swapraja Serdang orang-orang Indonesia yang menjadi pegawai-pegawai Belanda dan buruh-buruh perkebunan
yang ada dalam wilayah Serdang. Sultan tetap memprotes hal
ini berulang kah kepada Belanda agar mereka itu dikembalikan
sebagai kaula Swapraja Serdang.
Akhirnya sebagian dari tuntutan itu terpaksa dikabulkan
Belanda juga. yaitu "vrije arbeiders" (buruh-buruh lepas),
transmigran, drjadikan kembali rakyat Swapraja Serdang di tahun 1929. 9)
54
Adalah Politik pemerintah Hindia Belanda untuk memisahkan wilayah Serdang yang dihuni oleh penduduk Karo dan
Timur dan kekuasaan Sultan Serdang dan dan saudara-saudaranya orang Melayu yang Islam, di pesisir. Pembesar Belanda
menganggap bahwa :
"Het is met wenselijk de Maleische Zelfbestuurders hun directen
invloed op de Bataks to doen uitbreiden, iets waarop zij. vooral
in SERDANG, steeds bedacht zijn" (p. 8). Dan kemudian
"Ik acht her zeer gewenscht om politieke redenen dan rechstreekschen invloed van Sultan en Oeroenghoffden die allen Mohammed
aan zijn. ook niet to versterken en veeleer de Batakdoesoens als
afzonderlijke, of laat ik liever zeggen als meer byzondere eenheden
te blijven beschouwen" (p.26).
(Tidaklah diinginkan Raja-raja Melayu memperteguh pengaruh mereka secara langsung kepada orang-orang Batak, yang sebagaimana
halnya di SERDANG selalu agak mencungakan (p.8). Saya ingin
berdasarkan pertimbangan politik agar pengaruh langsung Sultan
dan Kepala-kepala Urung yang Islam itu jangan diperkuat dan dianggap wilayah Batak Dusun selaku wilayah tersendiri, atau katakanlah sebagai wilayah kesatuan vang khusus sekali harus diperlakukan) 1 0 ) .
Untuk mempersiapkan agar dalam wilayah Batak Dusun semuanya memeluk agama Knsten yang akan dihadapkan dengan
wilayah pesisir Melayu yang Islam, maka Belanda memperbesar
pertentangan suku Karo dan Timur dengan suku Melayu itu dan
Belanda berpura-pura membela mereka tersebut antara lam
dengan mengusulkan agar di dalam Kerapatan Dusun Serd a n g ' n ditempatkan Wakil Zending'Pendeta Belanda sebagai
penasehat. hal mana ditentang oleh Sultan. Memang pada masa
pemerintahannya di Serdang, perkembangan missi Islam ke wilayah pedalaman di Hulu Serdang sangatlah pesatnya, terutama
setelah oleh Sultan Sulaiman dibiayai perkumpulan "SYAIRUS
SILAIMAN !; dimana Mufti Kerajaan Syeikh Zainuddin duduk
di dalamnya untuk memajukan perkembangan Islam itu.
Laporan Belanda juga mengakui :
55
"De Islam heef in het grensgebied van Boven Serdang meer resultaat,
dan de zendmg van het Rotterdamsche Zendinggenootschap te
Gunung Mariah en Kota Jurung. De animo om Christen te worden
is bij de Batak bevolking van deze streken niet groot.12)
(Islam lebih berhasil di wilayah Serdang Hulu danpada Rotterdamsche Zendinggenootschap di Gunung Mariah dan Kota Jurung.
Keinginan untuk masuk Kristen di kalangan penduduk Batak dalam
wilayah ini tidaklah besar).
Bahkan atas anjuran Sultan melalui perkumpulan "BANGSAWAN SEPAKAT'-diminta agar di sekolah-sekolah umum di
Serdang diajarkan mata pelajaran agama Islam. 13)
Ketika Sultan dengan permaisuri 1890 mengadakan perjalanan dengan rombongan ke luar negeri, baginda tidaklah pergi
menemui Raja Belanda ke Nederland sebagaimana undangan,
tetapi sebaliknya pergi ke Jepang dan beraudensi dengan Kaisar
Mutsuhito dan Jepang. Ketika ditanya mengapa baginda menyatakan ingin sekali mempelajan bagaimana Jepang Meiji itu berhasil maju sehingga bisa mengalahkan orang Eropah. Rupa-rupanya kunjungan ini kelak membawa juga kebaikan. Ketika tentara Jepang singgah di Istana Serdang mereka melihat potret
Tenno Heika. Anak Tuhan mereka, terpampang di ruangan singgasana, sehingga mereka menjadi sangat Kaum dan hormat dan
tidak mengganggu wanita dan penduduk Serdang. Sebaliknya
simpati Sultar. kepada Jepang dan adanya Sultan membawa
orang-orang Jepang selalu pegawainya ke Serdang (tuan-tuan
Ohon dan Imada) menimbulkan cunga Belanda.
Adanya tindakan berbagai protes, tindakan mengulur waktu untuk memperlambat keinginan pemerintah Hindia Belanda
hampir kejadian setiap hari. sampai kepada sikap pro Jepang
dan hubungan Sultan Sulaiman yang erat dengan Dr. Sutomo.
pemimpin "Budi Utomo" yang pernah menjadi dokter Swapraja
Serdang (1913) dan dengan Pahlawan Nasional H.H. Thamrin
yang sering berkunjung ke Serdang dan didukungnya T. Fachruddin mendirikan "Serikat Islam" di Serdang, membuat hu56
bungan baginda dengan Belanda menjadi dingin dan akhirnya
ketika mulai pecah perang dengan Jepang di tahun 1941. pemenntah Hindia Belanda lalu memberikan penngatan keras tingkat
terakhir dengan mengerahkan "pameran Bendera Kekuatan".
di mana masa itu pasukan KNIL mengadakan latihan perangperangan di kota Perbaungan dan sekitar kraton Kota Galuh.
Hal ini disebabkan kecungaan Belanda karena Putera Mahkota
Serdang telah membentuk bansan para-militer yang disebut
"Senam Serdang" (SS) diambil dan pemuda-pemuda dan sege-nap pelosok Serdang dan latihan-latihan bans-berbans diadakan
di Perbaungan.
Hubungan baginda dengan ambtenar Belanda di Serdang
tidak pernah mesra sehingga rata-rata tidak ada yang lebih 2
tahun Kontrohr Belanda dapat bertahan di Serdang
Bagaimana seretnya hubungan Sultan Sulaiman dengan
pembesar Belanda di Serdang dapat kita simpulkan dari Memories van Overgave Kontelir Serdang Hulu G.L.J.D Kok1
"Sultan Serdang adalah seorang yang aneh. ia hanya memikirkar.
kepentingannya sendiri dan melihat setiap pegawai Hindia Belanda
sebagai musuh bebuyutannya. Terutama mengenai Politik KontraK
yang baru ditanda tangani sangatlah menyakitkan hatinya terhadap
kita la selalu bersikap cunga. maka setiap tindakan sesuatu diperhitungkannya keburukan-keburukar. yang mungkin terselimuti di
belakang layar. Jika kita menjumpainya untuk urusan sesuatu hal.
tidak pernah ia mau memberikan keputusan. Selalu saja mengulur
waktu dan jikapun setelah berunding panjang lebar akhirnya kita
mendapat jawaban tetapi janganlah dengan demikian kita merasa
sudah past; bahwa ia akan bekerjasama. kita kelak akan terkejut,
bahwa setelah beberapa bulan kemudian, ternyata bahwa Baginda
Sultan berbuat seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun dan
tidak pernah terdapat persesuaian paham. Saya memperingatkan
dengan sangat kepada para pengganti saya. akan kebenaran nasehat
mereka-mereka yang terdahulu dari saya. bahwa mereka haruslah
sangat berhati-hati di Serdang, jika kita dengan gembira dapat bekerja di Deli. sebaliknya di Serdang kita mestilah setiap saat berada
57
di dalam ketakutan, bahwa setiap waktu bisa terjadi sesuatu hal
yang aneh".
Ketika baginda yang terakhir dipaksa untuk menandatangani perubahan Politik Kontrak yang baru antara Belanda
dengan Kerajaan-kerajaan Bumiputera (1907), Sultan Sulaiman
datang ke istana Residen Sumatera Timur tidak dengan pakaian
kebesaran seperti raja-raja yang lain. tetapi dengan berseragam
putih, yang menyatakan ia saat itu dalam suasana dukacita.
Ia berdukacita. karena para raja-raja bumiputera diikat dengan
rantai emas. tetapi dipaksa menandatangani perjanjian baru
yang setiap kali mengurangi hak mereka dan membuat mereka
kelak hanya tinggal sebagai am tenar Belanda saja.
Agar raja-raja Melayu di Sumatera Timur bisa bersatu di
dalam menghadapi pemerintah Hindia Belanda. Sultan Sulaiman
membuat prakarsa mendirikan perkumpulan raja-raja Sumatera
Timur pada 20 September 193 2 yang diben nama "SYARIKATUL MULUK". Sayang perikatan itu tidak dapat bertahan
lama. karend dengan issue-issue dari pamongpraja Belanda kepada beberapa Sultan diadakan politik pecah belah Tiba-tiba
timbul suara dari salah satu Sultan yang tidak bersedia hak keanggotaannya disamakan dengan Raja Melayu yang memakai
"Pernyataan Pendek" yang dirasa lebih rendah martabatnya.
Bagaimana pun Belanda memerlukan situasi stabilisasi di Sumatera Timur di mana ditanam jutaan dollar investasi Belanda dan
asing dan yang menghasilkan bahan ekspor 1/3 dan seluruh
ekspor Hindia Belanda Raja-raja dan pemimpin rakyat haruslah
dininabobokkan dan dibuat terpecah belah.
Oleh karena itu ketika pada tanggal 29-1-193" genaplah
baginda 50 tahun menjadi raja yang diakui Belanda, tidaklah
dirayakan baginda, tetapi sebaliknya di tahun 1941 ketika merayakan 60 tahun baginda dinobatkan oleh rakyat dan Orangorang Besar Serdang, dirayakanlah secara besar-besaran diseluruh negeri Serdang dengan pesta-pesta rakyat dan medali diberikan.
58
Meskipun Kerajaan Serdang merupakan kerajaan yang miskin di Sumatera Timur, tidaklah mengurangi minat Sultan Sulaiman untuk memajukan negeri dan penduduknya, sampai
Kerajaan Serdang pernah berhutang pada Kerajaan Kutai.
Kalimantan Timur Beberapa contoh dapat dikemukakan di
sini :
1.
Proyek Irigasi Persawahan
Dan hasil kunjungan Sultan Sulaiman ke Jepang. Muangthai dan Bah. lalu baginda mendirikan proyek persawahan dengan kapital S. 10.000.- di Rantau Panjang (1893). tetapi
karena penduduk Melayu yang mengerjakan kurang ahli dan
berpengalaman dalam persawahan, maka proyek itu gagal ditambah pula dangkalnya sungai Serdang mengakibatkan wilayah
itu digenangi banjir kronis.
Setelah Sultan pindah ke Perbaungan (tidak mau mengikuti jejak Kontrolir Serdang yang pindah ke Lubuk Pakam) di
tahun 1891. maka disiapkanlah proyek persawahan yang lebih
baik dan sukses yang disebut "Bendang" di Perbaungan dengan
biaya S 1.200.000.- meniru persawahan ingasi sistem Subak
di Bali.
Untuk mengerjakan sawah tersebut didatangkanlah petanipetani dari Kalimantan Timur (suku Banjar) lengkap dengan pemimpin dan keluarga-keluarga mereka, pada tahun 1909. Dari
hasil proyek "Bendang" ini negeri Serdang terkenal Selfsupporting beras 1 5 1 . Begitu juga persawahan di lembah Sei Buaya (Serdang Hulu) cukup maju.1 6 }
2.
Pemberian Tanah terhadap Transmigran (Kolonisasi)
Setelah berhasil memperjuangkan agar bekas kuli kontrak
yang kini menjadi buruh lepas dan juga imigran dan Jawa dan
Tapanuli Selatan kembali menjadi rakyat (kaula) Kerajaan Serdang, maka Sultan Sulaiman membenarkan mereka tinggal berbaur dengan penduduk asli di kampung-kampung, dengan hak
59
pula memperoleh tanah dan jaluran seperti halnya Rakyat
Penunggu penduduk asli lainnya 1 7 ) . Biasanya mereka yang
baru ini diwakili oleh lurah yang menjadi pembantu penghulu
kampung.
Atas anjuran Dr. Sutomo dari "Budi Utomo" yang menjadi
sahabat Sultan Sulaman, maka Sultan menyediakan 1000 bahu
tanah kosong tahap pertama sebagai hibah pada tahun 1929
vang terletak di Kotosan. teruntuk imigran orang Jawa dan
bekas kuli kontrak perkebunan ! s '
3.
Proyek "Serdang Kanaal"
Karena ahran sungai Serdang (Belumei) sudah dangkal
maka daerah di sekitar kualanya tergenang air sehingga menjadi
banjir menahun yang mendatangkan kesusahan kepada penduduk kampung-kampung di sekitar wilayah itu. Konon ceritanya
gara-gara Kontrolir Deli. Van Cats Baron de Raet. di tahun 1865.
menyuruh cabut cerocok di kuala Serdang karena takut itu
nanti bakal dijadikan alat pertahanan jika Serdang bermaksud
memberontak kepada Belanda kembali. Berkali-kali permohonan diajukan ke pemerintah pusat di Betawi, tetapi tidak pernah
digubns. sehingga sejak 1881 ibukota Serdang. Rantau Panjang,
dilanda banjir dan Kontrolir Serdang terpaksalah memindahkan
kedudukannya dan ibukota ke Lubuk Pakam dalam tahun
1890. Tetapi Sultan Sulaiman tidak mengikuti jejak Kontrohr
Belanda itu. bahkan membuka pusat pemerintahannya dan mendirikan kraton barunya di Perbaungan Bandar Setia dalam tahun
1891. Di dalam tahun 1930 dan rencana pemerintah pusat untuk m en drop biaya Fl. 1 juta buat perbaikan itu. tetapi karena
timbulnya krisis ekonomi (depressi) terpaksalah niat itu dibatalkan Dalam tahun 1936 Sultan Sulaiman sendiri mengambil
inisiatip dari kas kerajaan yang miskin itu dan dengan biaya
Fl. 225.000,- dibuatlah "Serdang Kanaal" di mana di beberapa
tempat ahran sungai itu diluruskan sepanjang 7 Km dan diresmikan pada tanggal 8 Juru 1936. Dengan demikian dapatlah
60
diselamatkan kira-kira 2000 Ha tanah untuk persawahan rakyat
yang subur.1 9 )
4.
Politik Penambahan Kaula Swapraja Serdang
Agar rakyat Serdang menjadi bertambah, di samping penduduk ash Melayu-Karo-Timur. maka Sultan Sulaiman membuka pintu lebar-lebar kepada orang Indonesia dan daerah lain
(pendatang) agar beralih menjadi kaula Swapraja Serdang, di
mana mereka nanti bebas pajak personele belasting, bebas
memperoleh hak milik atas tanah di dalam wilayah Serdang,
dan tidak usah terkena beberapa pasal dan K.U.H. Pidana.
Hal ini kurang disenangi Belanda karena berarti rakyat
Gubernemen akan berkurang dan berkurang jugalah wajib pajak
buat Gubernemen Hindia Belanda Belanda berhasil membujuk
Sultan Deh untuk mengeluarkan Peraturan Swapraja Deli no 42
tanggal 30 Nopember 1920 yang menghukum setiap kaula Swapraja Deli yang berani menyerahkan tanahnya kepada bangsa
Indonesia kaula Gubernemen. Tetapi meskipun berkali-kali
dibujuk oleh pembesar Belanda. Sultan Sulaiman tidak mau
mengikuti anjuran itu. bahkan sebaliknya menyediakan banyak
tanah dan kemudahan agar saudara-saudara pendatang dari luar
daerah bisa mentadi berbaur dan menjadi kaula Swapraja Serdang. 2 0 '
5.
Pendidikan dan Kesehatan Rakyat
Perhatian yang besar ditaruh kepada pendidikan rakyat.
Pertama-tama putera dan puten kaum bangsawan dan dari
Orang Besar dipaksa harus sekolah dan memang Serdang membanggakan diri mempunyai putera dan puten dari kalangan
bangsawan yang umumnya telah bersekolah sejak dekade terakhir abad ke-I9. dan bangsawan puten yang sejak 1915 sudah
bersekolah di Betawi seperti Tengku Durad es di mana pada
masa itu di kerajaan-kerajaan lainnya baik puteri bangsawan
maupun puteri rakyat biasa masih dipingit dan bertudung ling61
kup Berbapa
untuk rakya: (Sekolah Mei.
di seh
- .une a..
.:ng khusus teruntuk kaum batu
LS umum
K.
:
. ..
-
u Suà
dian
me-
nu
n
141 dar. agar
. . . .
ang yang miskin itu. agar
Untuk memajukan rakyi x
Huh Kai dan Timur Dusun). Sultan Sulaiman mena*
Pertanian pada tahun 1° 10 dan
iah untuK proyek
. 0 0 0 . - . teup. usul mi tidaklah ditang]
.... Belanda, mungkin karena taktil akan
Zendmg yang beroperasi di >an.: : : Di
i mem buk« pohkhmk kesehatan di
im tahun l c . ; . ;
Perbaungan dan Galang. >ang kemudian dukun di kota-kot..
lain di Serdang d; mana kepada rakvat diberi)
»bal dengan
...ma Begitu juga bag: rakyat Serdang vang menderu.:
r biayanya di Lau Simono dar bag: rakyat
jiwa ditanggung juga biayanva oleh kerajaan. : ; '
Di samping itu pencacaran dan penyuntikan rakv.t secara
massal anti tiphus dan anti kolera diadakan dengan mtensip
dan secara cuma-cuma
. dibenka
c
Perkebunan dan Pertanian
Untuk setarap dengan orang-orang Eropa dan Amerika
yang membuka perkebunan besar di Sumatera Timur maka
Sultar. Sulaiman tidaklah mau ketinggalan. Baginda dengan
DR. Mr. Dekema membentuk sebuah perseroan terbatas hukum
Barat dengan modal Fl. 1.000.000.- dalam tahun 1918 dan
memohonkan hak konsesi tanah perkebunan karet di Taryong
Purba (Serdang Hulu).
62
Mula-mula pemerintah Hindia Belanda menentang b
dengan dalih atau Sultan mau jadi raia atau mau jadi penguleh pilih Tetapi baginda tidak pvtvstkal Piangkatnxj
ranya Tengku Rajih Anwar sebagai Direktur perkebunan itv
:<inda hanya sebagai persero tunggal, setelah dengar betang ke sana ke man berhasil mem
orang Eropa itu sehingga baginda memilik' sehm
dah
-kebunan itu balam perusahaan tenebut S e ' .
ginda memihh seorang bangsa Swiss dan buruh-buadalah buruh-buruh pelarian dan perkebunar-r-.
d: sekitarnya Di dalam salah satu keputusan rapat pemef
saham perusahaan perkebunan itu. ditetapkan bahwa priOl
pertama sebagai pegawai dibenkar. kepada bumiputer
Serdang Perusahaan perkebunan itu sudah berkembang baik
sampai kini Di samping itu baginda juga membuka perkebr
tembakau 'Cinta Kasih*' dan sudah mulai men.iual prodi
cerutunya, tetapi karena dihimpit konkurensJ dan perusa!
raksasa asing perkebunan tembakau tersebut ditutup di tahun
1934. Tetapi perkebunan kelapa "Pantai Labi:' dekat Lubuk
Pakam berkembang baik sampai sekarang Perusahaan perkebunan karet baginda itu adalah pertama kali buat orang bangsa
Indonesia yang memakai hak barat d; Sumatera Utara ini
Lntuk memajukan
Serdang Hulu baginda
TAK' d: Serdang Hulu
kooperatip oleh rakyat
perekonomian bumiputera Serdang di
mendukung didirikannya "BANK BApadi tanggal 14 Agustus \V)b secara
Sayang usianya tidak berjalan lama.
7
Peraturan Jaluran untuk Tanah Penunggu
Sultan Serdang memperjuangkan agar rakyat kampung di
sekitar konsesi perkebunan tembakau dibenarkan mengerjakan
tanah itu untuk tanam padi di dalam areal yang sedang dibelukarkan setiap tahun Tetapi baik pihak perkebunan asing maupun pihak ambtenar Belanda selalu saja mempersulit pelaksanaan hak itu dengan berbagai alasan yang dicari-cari, bahkan tidak
henti-hentinya mereka menganjurkan agar peraturan adat itu
63
dihapuskan saja Untuk menghilangkan suara-suara negatip itu
Sultan Serdang dan Orang-orang Besarnya lalu membuat kodifikasi yang pertama mengenai Hak Adat Rakyat Penunggu itu
sehingga peraturan mi dijadikan pedoman dan unifikasi untuk
seluruh Kerajaan lainnya.* 41
Di dalam peraturan ini juga dibuka kesempatan kepada
rakyat pendatang yang sudah bersemenda dan memenuhi syarat
tertentu untuk memperoleh hak jaluran. Berbagai cara ambtenar
Belanda menyabot pelaksanaan peraturan-peraturan ini antara
lain dengan gagasan agar hak mengerjakan tanah penunggu itu
diganti saja dengan sejumlah wang atau sejumlah 300 gantang
padi per jaluran. sehingga menjadi rakyat penunggu seperti penyewa rentenir saja Hal ini ditentang oleh Su [tan Sulaiman. 2 5 )
8.
Kesenian dan Kebudayaan
Sultan Sulaiman juga membentuk Bangsawan (opera
teater) "INDERA RATU';yang membawakan cerita Melayu.
India dan Barat dan dengan suksesnya melaksanakan debutnya
ke daerah-daerah di Sumatera. Malaya dan Jawa pada awal kurun ke-20 ini. Sekali setahun rombongan itu pulang ke Perbaungan untuk istirahat dan memperbaiki alat-alat. Ini ditandai
ketika seturunnya mereka dari kereta api di stasiun Perbaungan.
mereka berbaris memakai aneka ragam pakaian indah-indah diiringi musik dan nyanyian berarak ke halaman Istana Serdang
untuk menghadap Sultan Ini disebut "Bona''. Setelah itu beberapa malam mereka bermain di halaman luar istana untuk menghibur rakyat. Mereka juga bermain di beberapa tempat di pelosok Serdang secara gratis menghibur rakyat. Ini dipakai sebagai
alat penerangan kepada rakyat jelata dengan membawakan
cerita-cerita berisi tata cara adat istiadat Melayu, kepahlawanan
menegakkan keadilan dan lain-lain. Setiap tahun ditampung
pemuda dan pemudi yang berbakat seni untuk turut di dalam
kelompok teater tradisional ini.
64
Di samping itu Sultan Sulaiman menghidupi pula pemain
kelompok teater tradisional "MAKYONG" yang pemainpemainnya didatangkan dari Pelis (Malaya). Begitu juga serombongan "Wayang Kulit Jawa" yang dihadiahkan oleh Sultan
Ham engku bu won o- VIII. Setiap tahun diadakan sayembara
permainan Gambus (Zapin) dan Silat dan perkumpulan yang
ada di kampung-kampung dan yang terbaik akan dimainkan di
Istana. Begitu juga kelompok-kelompok Ronggeng Melayu
Semua permainan-permainan keseman ini dipertunjukkan secara
cuma-cuma untuk tontonan rakyat di halaman Istana Perbaungan pada tiap Hari Raya dan hari-hari besar lainnya Arakarakan akan didahului oleh Brass Band Musik Serdang yang dipimpin oleh Tengku Muzir Karena Sultan Sulaiman adalah
juga seorang seniman (pemain biola yang cekatan), tidaklah
aneh jika kehidupan bidang keseruan mendapat prioritas juga.
Terkenallah masa itu orang Serdang rata-rata ahli menari Melayu
atau seni musik lainnya. Ahli-ahli ukir > ang terkenal di seluruh
pelosok Serdang dipakai untuk mengerjakan ukiran di interior
Istana Perbaungan. Adapun pimpinan pertukangan di dalam
Istana diawasi oleh pegawai orang Jepang. OHOR1
9.
Bidang Agama
Karya yang utama dari Sultan Sulaiman ialah menciptakan
suatu Lembaga yang disebut "MAJELIS SYAR'l KERAJAAN
SERDANG". Seperti kita ketahui, raia Melayu selain sebagai kepala pemerintahan dan adat juga kepala Agama Islam
(ULIL AMRY). Berbeda dengar, kerajaan-kerajaan Melayu
lainnya di Sumatera Timur, maka sejak tahun 1928 jabatan
MUFTI Kerajaan Serdang dihapus baginda dan kekuasaan baginda sebagai kepala Agama Islam itulah yang diserahkan baginda kepada suatu badan bernama "Majelis Syar'i Kerajaan
Serdang" yang bersifat Kollegial diketuai oleh Tengku Fachruddin. Jadi Majehs ini mengambil alih kekuasaan soal agama
Islam dari tangan Sultan. Wewenangnya luas sekali, bahkan
lebih luas daripada Pengadilan Syan'ah dan Kantor Urusan Aga65
ma sekarang ini. Ia mengadili dan memberikan putusan yang
tertinggi dan terakhir atas perkara Nikah Talak, Rujuk serta
harta warisan, sebagai badan Baitalmal. menentukan bila mulai
puasa Ramadhan dan Hari Raya Idu[ Fitri, Pengumpul Zakat
Fithrah teruntuk semua fakir miskin di seluruh Serdang Pengurusan dan pengaturan semua tempat-tempat ibadah dan sekolahsekolah agama Islam di Serdang. Pengurusan dan pengaturan
kadhi-kadhi dan naib kadhi di kampung-kampung dalam wilayah Serdang. Anggota-anggota Majelis yang diambil dan para
ulama yang agli dalam hukum Islam di kalangan rakyat Serdang, bersama Ketua dan Panitera digaji oleh kas Kerajaan.
Ketika Tengku Fachruddin meninggal dunia di tahun 1937,
jabatan Ketua Majelis lowong dan Sultan ingin mengangkat Haji
Abdul Majid Abdullah, bekas anggota pimpinan Pengurus Besar
PERMI, tetapi dilarang Belanda Kemungkinan sekali larangan
ini atas anjuran Polisi Rahasia Bagian Politik Belanda (PID) 26 '.
mengingat Tuan Haji tersebut tidaklah bersimpati terhadap
Belanda Lowongan Ketua Majelis Syar'iah Kerajaan Serdang
mi kemudian diisi oleh Tengku Jafiszham sekemdahnya beliau
dan studi di Kairo 1939.
Di samping hal di atas Sultan Serdang juga giat membantu
perkembangan Sekolah dan Panti Asuhan Islam antara lain Al
Jamiatul Washliyah di Serdang dan baginda yang pertama kali
yang mengizinkan diresmikannya Cabang Serdang "Syarikat
Islam" (SI) di Perbaungan yang diketuai oleh Tengku Fachruddin.
Begitu juga di dalam menjaga agar masyarakat Islam jangan
terpecah belah antara "Kaum Muda" dan "Kaum Tua" karena
cum2 soal-soal chilafiyah saja. maka Sultan Sulaiman mengundang ke istana Perbaungan 5-2-1928 para ulama dan semua
kerajaan di Sumatera Timur dan kotapraja di Sumatera Timur
untuk bertukar pikiran dalam masalah ini di mana baginda sendin turut hadir. 27)
66
10. Hubungan mesra dengan orang pendatang
Untuk kesejahteraan negen Serdang dan berkembangnya
penduduk Serdang. Sultan Sulaiman menjalankan politik pintu
terbuka yang lembut terhadap suku bangsa Indonesia lainnya
yang datang dan luar Sumatera Timur. Bukan saja kemudahan
untuk memperoleh tempat tinggal buat berniaga, tetapi juga
kemudahan memperoleh hak tanah tidak berbeda dengan penduduk asli (Melayu. Karo dan Timur) di Serdang seperti yang
sudah dibentangkan di atas.
Banyak orang-orang pendatang (Mandailing. Jawa. Minangkabau) yang diangkat menjadi Penghulu-penghulu Kampung
dan pegawai-pegawai kerajaan. Bahkan di Serdanglah satu-satunya kerajaan Melayu di mana seorang pendatang. JAKSA KEPANG LUBIS. diangkat menjadi salah satu Orang Besar Kerajaan Serdang, yaitu Wakil Sultan Wilayah Batak Timur.
11. Cita-cita ke arah Demokratisasi
Sultan Sulaiman menentang politik Belanda untuk menghapuskan Instituut Orang Besar di mana Belanda bermaksud
menciptakan hanya seorang Raja Tunggal di setiap kerajaan di
mana tidak perlu berkonsultasi dan meminta keizinan dan para
Orang Besarnya setiap kali. yang dirasa Belanda sering mengganjal kelancaran kebijaksanaan politiknya. Cara Belanda ialah
perlahan-lahan. Bila ada Orang Besar yang meninggal dunia,
kedudukannya tidaklah lagi digantikan. Diangkat juga puteranya tetapi hanya sebagai "Kepala Distrik", yaitu pamongpraja
kerajaan saja. Lama kelamaan Raja tinggai sendirian dan kehilangan kekuatan akarnya ke bawah dan dengan mudah dapat
dipahat Belanda. Oleh sebab itu sebagai gant; kehilangan itu
nanti. Sultan Sulaiman memajukan gagasan di tahun 1925 kepada pemerintah Hindia Belanda, agar dapat dibentuk di Serdang suatu "LANDSCHAPSRAAD" (Dewan Perwakilan Kerajaan), di mana tokoh-tokoh masyarakat Sedang dalam berba67
gai bidang dan semua kalangan dapat didudukkan dalam suatu
dewan untuk membantu Sultan memerintah negeri,~8 '
Karena ide ini dianggap berbahaya bagi kolonialisme Belanda, maka ia tidaklah ditanggapi, sehingga membuat Sultan
Sulaiman menyampaikannya kepada Mangaraja Soangkupon.
Wakil Sumatera Timur d; dalam Yolksraad waktu itu, agar
mengemukakan hal mi di dalam sidang di tahun 1928. untuk
menjadi perhatian gubernur jendral Tetapi inipun tidaklah
digubris pemerintah Hindia Belanda.
Untuk mengatasi hal ini. Sultan Su[aiman memakai sistem
komunikasi langsung atau tatap muka dengan rakyat jelata
Apabila tidak dipenuhi oleh acara Sidang Kerapatan atau acara
resmi lainnya, maka baginda duduk di tangga depan istana sejak
pagi untuk menerima semua orang dan segenap lapisan berbincang dengan santai dari hati ke hati. Sambil mencicipi langsung
bawaan (oleh-oleh) dan rakyat itu yang berupa buah-buahan
atau penganan, baginda berbahas soal kesulitan yang dihadapi
ataupun baginda akan menanyakan pikiran mereka mengenai
suatu rencana pembangunan atau kebijaksanaan baru yang
akan dilaksanakan di dalam wilayah mereka. Tidak jarang suatu
kepurusan yang sudah diambil di dalam rapat Orang Besar bisa
berubah kern bah. karena baginda mendengar adanya pandangan
positip dan rakyat biasa itu Di samping itu baginda hampir
tiap tninggu turun ke daerah pesisir dan kampung-kampung
ataupun ke pesanggerahan baginda di daerah hulu yaitu di
Gunung Panbuan sehingga dapat bertemu muka dengan pembesar-pembesar rendahan dan rakyat jelata. Perkembangan politik dan kejadian di dalam maupun di luar negeri baik melalui
pers maupun radio diikuti baginda setelah menenma ulasan
berita dan keponakannya. Tengku Syahril. 29 '
Zaman Penjajahan Jepang
Di atas telah diceritakan mengenai bagaimana Sultan Sulaiman melindungi wanita-wanita Perbaungan ketika tentara
D-
pelopor Jepang yang ganas itu lewat menuju Medan Gambar
yang ditandatangani oleh Tenno Heika Mutsuhito pribadi besar
jasanya menimbulkan respect tentara Jepang tersebut terhadap
baginda.
Ketika pemenntah balatentara Jepang memerintah melalui
"Bunshucho" (Bupati) Deli-Serdang. Narusho. agar Kerajaan
Serdang dapat menyediakan rombongan tenaga pekerja berkala
untuk dijadikan "romusha" (pekerja paksa) Jepang, maka baginda dengan halus mengelakkannya dengan berdalih bahwa
rakyat Serdang dari dahulu kala adalah pandai bertani dan lebih
baik dibiarkan terus bertani yang lebih besar manfaatnya menghasilkan produksi padi buat keperluan praiunt di front depan
daripada menjadi romusha. Oleh sebab itulah di zaman Jepang.
Serdang dikenal sebagai lumbung padi di mana tanah belukar
dan tanah perkebunan dijadikan areaal pertanian. Untuk mengurus bahan makanan rakyat baginda menumbuhkanlah Kantor
Distribusi Bahan Makanan yang mengontrol hasil padi rakyat
dan kilang padi di seluruh Serdang. Oleh sebab itu wilayah Serdang termasuk yang paling aman dan tidak teraapat pemberontakan rakyat petani seperti halnya pemberontakan petan; Kayo
'Guro-guro Aroan" di bulan Juni 1942 di Kerajaan Deii (Pancur
Batu) dan Bulilir di Kerajaan Langkat/ 0 ' Sultan juga menganjurkan beberapa kerabat dan keluarga Orang Besarnya untuk
mengikuti pendidikan kemiliteran Jepang, yang dirasa perlu di
masa depan kelak. Tetapi meskipun di masa mudanya memandang kepada kemajuan Jepang, tidaklah berarti baginda bersimpati kepada penjajahan militerisme Jepang. Di dalam upacara
resmi tidak pernah baginda mau tunduk ke arah timur (Tenno
Heika). dan dengan alasan sudah tua dan sakit-sakitan beliau
duduk saja di kursi. Memang pada akhir masa Jepang itu baginda sudah berusia lebih 83 tahun sehingga praktis pemerintahan
sehari-hari dipegang oleh Putera Mahkota Rajih Anwar. Masa
mi Tengku Yafizham dan Serdang terpilih menjadi Ketua
Umum "Persatoean Oelama Kerajaan-kerajaan Soematera Timoer", sedang abangnya Tengku Dhamrah. duduk di dalam
69
"Sumatera Tyo Sangi In". Dalam kenyataannya Jepang mengadakan politik adu domba yang licin antara golongan kerajaan
dengan golongan "pergerakan kemerdekaan" dan antara golongan ulama Syafei dari kerajaan-kerajaan dengan ulama "Mohammadiyah". Di mana saja Jepang memakai kedua golongan
ini berdampingan. Kecurigaan dan iri mulai ditimbulkan politik
adu domba licin dari Jepang ini antara ke dua belah pihak, yang
nantinya bakal membawa akibat fatal di zaman masa pemulaan
kemerdekaan itu.
Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945-1946)
Bahwa Tentara Sekutu sudah merencanakan akan mendarat d; Sumatera Utara yang kaya minyak dan hasil perkebunan
itu. Mereka akan berhadapan dengan inti Tentara ke-25 Jepang
(Divisi Imperial Guards'Divisi Konoe-Daini) yang menjaga
tambang-tambang minyak di Sumatera Utara Aceh. Rencana
pendaratan itu sudah diputuskan di sekitar Agustus-September
1945. yang oleh Churchill disebut "Operation Culvenn". 3 l )
Jika itu kejadian, tentulah wilayah Aceh-Sumatera Timur akan
jadi kancah peperangan yang hebat, karena Jepang menganggap
wilayah itu masuk "The nuclear zone of the Empire's plans for
the Southern Area" 3 2 ', di mana wilayah itu akan dijadikan
wilayah Jepanz asli. Oleh sebab itu pusat latihan kader gerakan
di bawah tanah untuk gerilya rakyat menghadapi pendaratan
Sekutu kelak, yang diben nama TALAPETA (Taman Latihan
Pemuda Tani) dipusatkan di Serdang Hulu yaitu di Gunung
Rintih d; tahun 194? Namanya sangat sederhana kedengarannya, tetapi ia dibangun dan dipimpin langsung oleh ahli intelejen Jepang yang ditakuti Sekutu. Kapten INOUE TETSURO.
Kepala dan Tokoka (Polisi Rahasia Jepang), merangkap Sekretaris Gubernur Nakashima dan merangkap Bupati Deh Serdang
(sampai Mei 1943). Semua pemuda-pemuda yang terpilih itu
dilatih selaku pemimpin dari semua garis front terdepan di saat
70
di mana tentara Jepang bertemput mati-matian melawan Sekutu
kelak3 3 ) .
Untuk persiapan. 1 regu "Anglo-Dutch Country Section"
(ADCS) dari "Mountbatten' Force 136" telah dibentuk di Colombo awal 1945 dan dipimpcn oleh Marinir Belanda Letnan
Brondgeest dan didrop di Hulu Besitang (Langkat) Pada saat
diumumkannya Jepang bertekuk lutut maka mereka lalu muncul dari tempat persembunyiannya dan bergerak ke Medan dan
membuka markas Belanda di Hotel De Boer (Hotel DHARMA
DELI sekarang). Sementara itu mendarat pula rombongan Mayor Jacob di Medan yang diikuti oleh kedatangan Letnan Turk
Westerling tanggal 14 September 1945 yang lalu membentuk
group bersenjata dari kalangan orang-orang Indo. Menado dan
Ambon ex-KNTL. dan bermarkas di Jalan Bali (Pension Wilhelmina) 3 4 1 .
Proklamasi 1 "-8-1945 hampir-hampir tidak ada pada tarap
permulaan ditanggapi dengan serius di Medan Orang masih
pada kebingungan dan hanya mendengar desas-desus saja di
samping berita bahwa tentara Sekutu akan mendarat pula.
Dr. Tengku Mansur. Ketua "Shu Sangi Kai" (DPR Sum
Timur ada Jepang) pada tanggal 25 Agustus mengundang beberapa tokoh-tokoh masyarakat di rumahnya, antara lain Xarim
MS dan Mr. Yusuf, dan dikeluarkanlah pengumuman untuk
menjaga keamanan dan membentuk panitia diketuai Sultan
Langkat dan Dr. Mansur untuk menjelaskan kepada tentara
Sekutu kelak mengapa diadakan selama ini kerjasama dengan
Jepang. Panitia inilah kemudian didesas-desuskan oleh golongan
kiri sebagai "COMITE VAN ONTVANGST 'i (Panitia Penyambut) kedatangan Belanda yang bertugas akan menangkapi
orang-orang pergerakan kemerdekaan - *' Desas-desus inilah
kemudian dijadikan seolah-olah fakta dan lalu dijadikan bukti
tunggal untuk membenarkan dicetuskannya "Revolusi Sosial"
terhadap Swapraja-swapraja pribumi di Sumatera Timur pada
bulan Maret 1946, oleh golongan kiri.
7!
Mr. Teuku Hasan dan Dr. Amir yang masing-masing diangkat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera, baru
tiba dari Jakarta di Medan tanggal 28 Agustus 1945. dengan semangat lesu. Terutama ketika berada di Tarutung mereka mendengar sudah adanya "Comitee van Ontvangst" yang akan menangkap orang-orang yang anti Belanda Oleh sebab itu mereka
tidaklah dengan tegas mengumandangkan proklamasi kemerdekaan itu dengan segera Ketika datang telegram dan Dr. A.K.
Gani dari Palembang mengapa belum ada pelaksanaan dari keputusan Jakarta dilaksanakan, oleh beberapa bekas pegawai
BOMPA didesak agar dibentuk Komite Nasional Indonesia.
Masa itu Xanm MS aktip ke sana kemari menjadi perantara dengan golongan pemuda yang tergabung di dalam ex-Heiho
atau Gyugun yang menghasilkan Letnan Ahmad Tahir pada
tangga! 23 September mengundang para pemuda untuk rapat di
Jalan Istana, kemudian dilanjutkan di Asrama Rensheikei (Hotel Dirga Surya sekarang). Badan ini lalu mengadakan rapat besar tanggal 30 September dan dihadiri oleh 1000 orang pemuda.
Setelah Ahmad Tahir dan Sugondo Kartoprojo menjelaskan
mengenai terbentuknya BPI. maka Gubernur Hasan menjelaskan
proklamasi kemerdekaan di Jakarta dan adanya dukungan massa
rakyat, tetapi pidato dari Xarim MS (Komunis revolusioner
yang sudah bergerak sejak tahun 1920) itulah yang membangkitkan semangat pemuda sehingga kemudian ia diangkat menjadi penasihat. Setelah melihat dukungan pemuda dan pengakuan
"De Facto" tentara Sekutu di Jawa terhadap NRI dan penjelasan Gubernur Jepang Nakashima bahwa ia tidak akan menghalangi, maka Hasan mengeluarkan pengumuman-pengumuman
sejak tanggal 3 Oktober 1945. Dimuatlah pengambilalihan
kantor-kantor jawatan Jepang. Surat kabar "Kita Sumatera
Shimbun" kini sudah beralih menjadi organ Republik ' Soeloeh
Merdeka" tanggal 4 Oktober. Panitia Kpbangsaan tanggal 17
September kini ditransform menjadi KNI di mana Dr. Sunario
diangkat menjadi ketuanya. Pada tanggal 6 Oktober 1945 diadakan oleh Gubernur Hasan rapat raksasa di Esplanade Medan
72
yang bersamaan dengan terjadinya upacara adat menabalkan
Sultan Osman Deli di istana Maimoon yang dihadiri oleh pembesar Jepang dan Sekutu itu. Sejak terjadinya pawai raksasa pihak
Republik pada tanggal 9 Oktober, mulailah dimana-mana terjadi hubungan dingin dengan Sekutu yang mendekking Belanda.
Di luar kota Medan masih berkuasa kerajaan-kerajaan dengan
aparatnya sebagaimana seperti di zaman Jepang. Dengan adanya
pengumuman Gubernur Hasan mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang disampaikan kepada rakyat banyak di dalam
rapat raksasa tanggal 6 Oktober 1945 di Esplanade Medan itu.
maka Sultan Serdang sudah menganjurkan dinaikkannya bendera Merah Putih di rumah-rumah penduduk
Baginda juga menganjurkan agar pemuda-pemuda bangsawan memasuki barisan bersenjata terutama T.K.R. dan partai
serta organisasi massa dan kelompok-kelompok pemuda mulailah mengadakan latihan baris berbaris dan kemiliteran lainnya.
Pada tanggal 1 Desember 1945. Sultan Sulaiman secara resmi
mengirimkan telegram kepada Gubernur Hasan untuk disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia dan pemerintah N.R.I
sebagaimana dicatat oleh sumber Belanda :
"De SULTAN VAN SERDANG zond begin December een telegram
aan T.M. Hasan :
- Verzoek den President der N.R.I. te melden, da: het SULTANAAT SERDANG en al zijn ondernoongheden alJeen het gezag
van de Indonesische Republiek erkannen en met alle krachten
de Republiek zullen steunen".35]
(Sultan Serdang telah mengirim telegram awal Desember kepada
T.M. Hasan :
- Mohon dilaporkan kepada Presiden N.R.I. bahwa kerajaan Serdang dengar seluruh rakyatnya hanya mengakui kekuasan R.I.
dan dengan segala tenaga akan membantu Republik).
Isi pernyataan itu diikuti dengan pembentukan sebuah organisasi kecil yang disebut "PENCINTA KEAMANAN DAN KEMPRDEKAAN INDONESIA 'i (P.K.K.I) yang diketuai oleh
73
rengku Ataillah (Orang Besar/Kepala Distnk Perbaungan)
Wakil Ketua Tengku P n . Sekretaris Umum O.K Ojir (juga
utusan di dalam KNI Serdang). Sekretaris II Muhammad dan
pelatih-pelatih bidang kemiliteran Tengku Ziwar (putera Tengku
Mahkota Serdang) dan O.K Chairuddin Ais. Kedua mereka
yang belakangan ini adalah lulusan latihan pendidikan Jepang
di Batusangkar Tugas organisasi ini lebih ditekankan kepada
penjagaan keamanan dalam daerah Swapraja Serdang 3 6 '
Sementara itu di Medan telah terjadi perubahan radikal
yang d,landai dengan
menonjolnya oknumoknLT'
mendudukj
P°S1S1 Pating baik di dalam PestdoM T " ?
m d a Markas Agung dan pemerintahan dengan secara terangterangan maupun secara infiltrasi Beberapa tokoh komunis
yang menonjol untuk merebut kedudukan kunc, pentingpenting saja kami sebutkan beberapa yaitu
A' S e l a i n m e n j £ d ) 0 r a t o r P e n a r a k massa juea
sudah duduk di pemerintahan Sumatera mendekking Gubprnur Hasan dan Dr. Amir. kemana saja mereka berserak
Xanm MS kemudian menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia wilayah Sumatera.
XA R M
A1 A
M
b.
.XATHAR ZAINÜDDIN; ia bertindak selaku ketua "'Biro
Khusus yang menjadi penggerak di belakang lavar di
Markas Agung", yaitu badan pucuk pimpinan semua kesatuan bersenjata R.I. dan kegiatan perjuangan lainnva. vang
diketuai oleh Komunis Sarwono. Badan ini banyak pengaruhnya kepada pemenntah dan sebagai alat ideal dipakai
oleh Nathar Zainuddin bisa menggerakkan aksi untuk menekankan kepada tujuan tertentu, sebagaimana politik
yang dijalankan juga oleh gembong-gembong komunis
yang duduk di situ (Xanm MS - Yurïus Nasution - Sarwono - Bustami).
'
MR. LUAT SIREGAR,
bergerak di dalam pemerintahan
R.I. eselon Keresidenan Sumatera Timur dan Kotapraja
~4
Medan. Ia kemudian muncul sebagai Wakil Ketua PKI Sumatera.
d.
YUNUS NASUTION; juga bergerak di dalam bidang pemerintahan di eselon Keresidenan Sumatera Timur. Ia kemudian menjadi Ketua PKI Sumatera Timur dan pimpinan
penggerak ''Revolusi Sosial" 1946.
e.
SARWO.W S SUTARJO . mulanya memimpin gang "Gagak Hitam"-nya perampok Amat Boyan. lalu kemudian ia
membentuk "Pemuda Republik Indonesia'', yang lalu meleburkan diri kedalam "PESINDO' sejak 16 Nopember
1945, mengikuti jejak komunis Mr. Amir Syarifuddin di
pusat. Sarwono kemudian dikenal sebagai tokoh pemuda
dan buruh PKI:
f.
BUSTAM1.
menjelang "Revolusi Sosial" 1946 muncul
sebagai "menteri" perekonomiannya PKI untuk mengatur
harta-harta rampasan.
Eselon II orang-orang komunis, termasuk yang menginfiltrasi ke berbagai partai dan organisasi, pada mulanya
tidaklah disangka oleh masyarakat awam. Barulah kemudian
diketahui warna merahnya, terutama setelah Maklumat Hatta
3 Nopember 1945 yang membenarkan berdirinya berbagai
partai, dimana PKI diresmikan berdirinya di Medan pada pertengahan Nopember 1945 itu juga '
Di dalam bulan Desember 1945 terjadi lagi perombakan di
dalam tubuh "Komite Nasional Indonesia" (KNIi Sumatera Timur. Kini pimpinan ketua sudah berada di dalam tangan komunis Mr. Luat Siregar. Lalu gerakan pembersihan di dalam KNI
ini dilakukan PKI sampai ke tingkat daerah. Atas anjuran Komunis Yunus Nasutuion maka pada tanggal 11 Desember 1945
terbentuk pula "BAPER" (Badan Pusat Ekonomi Rakyat Sumatera) yang pimpinannya berada di tangan Komunis Bustami dan
komunis Amir Yusuf. Di sini digodoklah rencana untuk mengatur pengambilan alih perkebunan'harta asing dan kaum "feo75
dal" Bulan Februari 1946 merupakan bulan yang penuh peningkatan suhu pengganyangan terhadap "kaum feodal" oleh
orang-orang komunis dan antek-anteknya. Tuduhan utama mereka ialah bahwa para raja-raja telah membentuk badan yang disebut "Komite van Ontvangst" (Panitia Penyambutan) untuk
menyambut kedatangan Belanda, dan tuduhan inilah yang dianggap benar yang mendasari digerakkannya "Revolusi Sosial"
pada bu(an Maret 1946. tuduhan mana sebenarnya tidak dapat
dibuktikan sampai sekarang. Slogan revolusioner dan lagu-lagu
revolusioner berkumandang dengan galaknya di mana-mana.
Kegiatan kaum komunis dan kaum kiri dalam bulan Maret
1946 ini juga dimonitor oleh intelijen Sekutu (Inggris) seperti
yang dapat dibaca di dalam Laporan Intelijen mereka tertanggal
2 Maret 1946 yang kami sitir di sini3 " ' :
"The PKI ui the East coast of Sumatra has ordered its members,
through the medium of the newspapers to refrain from displaying
the hammer and sickle so as avoid unpleasantness".
(PKI di Sumatera Timur sudah memerintahkan anggota-anggotanya
melalui surat kabar agar menjauhkan diri daripada menonjol-nonjolkan palu arit agar mengelakkan hal-hal yang tak diingini).
Di dalam laporan itu Part II. Section 1 (mengenai situasi
müiter) di Sumatera Timur, sudahlah disinyalir Sekutu bahwa
ada rencana pihak komunis akan mengambil ahh perkebunan
asing. Kemudian ditambahkannya lagi :
"The HARIMAU LIAR (Mild Tiger) and the PKI are working in
close conjunction, and are stirring up the population with AntiAllied speeches and demonstration. The PASUKAN KELIMA Party
has been disolvec and now comes under the PARSI party in the
area "
(Harimau Liar dan PKI bekerjasama erat sekali, dan kini menghasut
rakyat dengan pidato dan demonstrasi anti-Sekutu. Pasukan ke-V
sudah dibubarkan dan kini berada di bawah partai PARSI dalam
wilayah ini).
Kemudian diikutinya pula berita dari spion mereka di dalam wilayah Pangkalan Berandan dari spion no. C. 1630 :
76
"The influence of the PKI in the area TAN JONG PORA is increasing
gradualy Their influence is now beginning to gain power in the
surrounding estates, and local clashes between POESA and this
party are likely to occur"
(Pengaruh PKI dalam wilayah Tanjung Pura perlahan-perlahan makin
meningkat. Pengaruh mereka kini mulai kuat di perkebunan-perkebunan sekitarnya, dan bentrokan setempat antara POESA (mungkin
maksudnya golongan Islam, pen.) dengan mereka setiap saat bisa
saja terjadi).
Perwira intel Mayor Ferguson, yang ikut rombongan Yunus Nasution ke Tanjung Balai, hanya melaporkan kaum "ekstnmis" dari berbagai penjuru sudah masuk kota Tg Balai di
mana konon disangka Belanda akan mendarat. Juga dilaporkannya bahwa ALRI di sini lebih berdisiplin daripada di tempat
lain.
Melihat makin meningkatnya suhu pengganyangan terhadap raja-raja. maka Gubernur Hasan mengambil prakarsa untuk
mengundang para raja-raja di Sumatera Timur mengadakan pertemuan di Sukamulia Medan pada tanggal 3 Februari 1946.
sebelum keberangkatan Gubernur Hasan turne ke Selatan Sumatera 6 Februari. Di dalam pertemuan itu Serdang diwakili
oleh Putera Mahkota Rajih Anwar. Di dalam pertemuan itu dibacakan kebulatan tekad seluruh raja-raja mendukung N.R.I.
dan dalam waktu singkat membentuk panitia penyusun Dewan
Perwakilan Rakyat ditiap Kerajaan di dalam rangka demokratisering dalam kerajaan itu. Panitia Penyusun itu antara lain
terdiri dari Mr. Mahadi. Mr. Tengku Bahnun dan Wan L'maruddin Baros. Tetapi baru beberapa kali panitia ini bersidang, maka
meletuslah "Revolusi Sosial".
Karena PESINDO sudah sedemikian parahnya diinfiltrasi
oleh PKI. maka golongan Sosialis pengikut Syahnr yang moderat, mendinkan partai baru yaitu "PARTAI SOSIALIS INDO
77
NESIA'; (PARSI) pada pertengahan Februari 1946. di mana
"Pasukan Ke-5nya Dr. F.J. Nainggolan turut bergabung. Hal
ini mungkin ada hubungannya dengan terbunuhnya pemimpin
"Pasukan Kelima". Sihite, di Berastagi. Untuk menggalang
kekuatan kaum kiri. kaum komunis mensponsori berdirinya
badan perjuangan yang lebih revolusioner lagi yaitu "VOLKSFRONT" (Front Rakyat atau Persatuan Perjuangan), yang di
Sumatera Timur sudah dikuasai oleh kaum komunis dan ïnfiltran kiri lainnya.
Ternyata bahwa pertemuan antara Gubernur Hasan dengan
pihak Swapraja Sumatera Timur tanggal 3 Februari 1946 melegakan hati banyak pihak, ternyata tidak menyenangkan hati
kaum komunis, karena selesai pertemuan itu komunis Xarim
MS sempat menyeletuk "... perkembangan akan ketahuan kalau
-Mangkubumi- (istilah julukan Xarim MS untuk Gubernur Hasan) sudah berangkat". Kemudian Dr Amir memberikan pula
komentar :
"Nah. dengan berangkatnya Mangkubumi. kita lebih bebas bertindak
dan mem utuskan! "3 81
Dengan demikian rencana kaum komunis sejak tahun 1924
untuk membentuk masyarakat sosialis di Sumatera Timur bakal
menjadi kenyataan. Sesuai impian mereka, daerah ini adalah
sasaran yang ideal untuk itu di mana di sini pertentangan kelas
antara kapitalis Belanda asing melawan kaum buruh perkebunan
setengah budak (kuli kontrak) yang tertindas cukup kuat.
Di samping itu di Sumatera Timur terdapat pula masyarakat
heterogeen di mana di luar Gemeente (kota yang dikuasai Belanda), masih merupakan kerajaan bumiputera yang dipegang
oleh penduduk asli (Melayu. Karo dan Simelungun» tetapi merupakan golongan minoritas, di samping penduduk luar daerah
(pendatang) yang kebanyakan tinggal di dalam perkebunan,
merupakan golongan mayoritas yang tidak mempunyai hak atas
tanah dan lain priveleges. Ketika diadakan sensus kependuduk78
an di Sumatera Timur dalam tahun 1930, orang suku Melayu
di seluruh Sumatera Timur ternyata hanyalah 23% dan seluruh
total penduduk Sumatera Timur, sedang orang suku Jawa yang
tinggal di dalam kebon sudah mencapai jumlah 40,51 %. Bahkan
dibandingkan seluruh penduduk Sumatera Timur masa itu penduduk suku Melayu 232 - Suku Simelungun 6.53/, + suku
Karo 9.989c maka total penduduk ash Sumatera Timur barulah
berjumlah 3S.51('c saja*9)
Sejauh laporan dan polisi rahasia Belanda yang diketahui,
kaum komunis sudah memulai gerakan d; bawah tanah di Sumatera Timur sejak tahun 1924. Pimpinan PKI seksi Medan telah dibangun oleh Hasanussi dan Kusni es dan pada bulan Nopember 1925 mereka telah mencoba kekuatan partai dengan
mengadakan mogok massaal buruh pelabuhan Belawan satu hari
sebelum tibanva rombongan Gubernur Jendral Mr. de Fock di
Belawan dari Jawa. Sub-seksi PKI di Belawan telah memutuskan
hubungan kawat telepon dan Belawan ke Medan. Setelah diadakan Belanda razzui besar-besaran maka aksi mogok itu dapat
diatasi Ketua PKI seksi di Belawan. Mudin. dihukum dengan
Beslit Gubernur Jendral 8-9-192" no SX Tetapi di dalam bulan
Februari 1926. PKI di Medan berhasil menyelenggarakan rapat
besar tanpa dapat dideteksi oleh polisi rahasia Belanda. Di situ
oleh anggota pimpinan pusat PKI. Sutan Said Ali. diinstruksikan
aksi pemberontakan pada akhir 1926 dengan cara :
a)
b)
c)
Merampok uang bank untuk pembiayaan gerakan
Mengumpulkan senjata
Mengadakan pemogokan terhadap golongan kaum kapitalis
Belandaasing di perkebunan.
Seksi Medan sudah berjumlah 15 sub-seksi dengan kantor pusat di Amaliastraat 47 Medan. Ini diketahui ketika terjadinya perampokan bank di Kotapraja (Banda Aceh) dan
pemberontakan di Biang Kejeren (Aceh Tenggara) sehingga Sutan Ah dapat tertangkap. Tetapi pimpinan kemudian
digantikan oleh Abdul Hamid gelar Sutan Perpatih dan propagandis Rustam, Abdul Chalid Salim, yang diutus oleh Tan
7Q
Malaka dan Singapura untuk mereorganisasi PKI kembali.
Ketika pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera Barat 1927
meletus, maka pada April 1927 di Sumatera Timur muncul komunis Urbanus Pardede dan Syamsuddin yang selama ini di
belakang layar Kemudian maju juga ke depan Komunis Yusuf
Effendi. Kano Deli dan Jayusman Tetapi mereka ini bertindak
dengan cara-cara baru untuk mengelakkan penangkapan. Mereka
tidak mengeluarkan kartu-kartu baru keanggotaan, tetapi propaganda terus dilaksanakan dan untuk disiplin mereka tak segansegan melakukan balas dendam terhadap anggota-angeota peng
khianat seperti kejadian di Bengkalis. Propaganda'ditujukan
terhadap massa kaum kuli kontrak di maskapai-maskapai besar
Belanda asing yang kebanyakan berisi tuntutan-tuntutan perbaikan nasib dan pertentangan ras. sehingga masa itu banvaklah
terjadi keributan-keributan di perkebunan dan ban vak pula
mandor-mandor yang dipecat atau dikembalikan ke Jawa.
c t .*?! kabupaten D e l ] Serdang, oleh Chalid Salim dibentuk
beksi PKI yang dikepalai oleh Yusuf Effendi (juru earn bar DSM
Pulau Berayan). D] Simalungun bergerak Urbanus Pardede
(yang kemudian nanti kita jumpai menggerakkan "Revolusi
^osiai di Simalungun). Tetap, meskipun oleh Belanda dapat
ditangkap beberapa tokoh-tokoh: Ismail. Abdul Wahab Idris
Ubanus Pardede. Nahar. Baginda Syamsuddin. Suman dan
Gontar Nasution di tahun 192" itu, tetapi kader-kader mereka
yang lain berhasil mengadakan rapat-rapat gelap di berbaeai
perkebunan termasuk peristiwa terbunuhnya Asisten kebon
Van \essem tanggal 30-1-1927. Juga tertangkap dalam bulan
Pebruan 1928 Haji Mohamad Saleh asal Bengkulu, vana menurut Belanda bertopengkan guru Muhammadivah tetapi" adalah
agen Komunis yang diatur dan Singapura ketika mengadakan
rapat gelap di Kisaran. Sabotase pada tanggal 16 April 19^8 di
percetakan Varekamp Medan pimpinan Mandor Suman" dan
rapat gelap di Hotel Raffles Tanjung Balai adalah gerakan-gerakan mereka. Di dalam bulan Maret 1928 ditangkap Belanda lagi
tokoh-tokoh komunis Sutan Denai, Toha gelar Sutan Jambi
80
Nerus Ginting dan Si Nolong dan Kabanjahe. Juga tertangkap
Rustam. Marzuki. Syamsuddin. Ismail. Idris. Nahar dan lain-lain
yang kesemuanya dibuang ke Digul
Di Tanjung Pura (Langkat) tertangkap orang Cina komunisi Han Mi Shen alias "Dr Hamid Zen" 4 0 ) . Meskipun tokohtokoh mereka sudah pada ditangkapi dan kegiatan mereka
sudah dapat ditangkis dan ditumpas, tetapi Gubernur Van Kempen masih menyatakan :
"... al wordt er soms niets gemerk at schijnt het rustig te zijn dat het
dan in werkelijkheid vaak met rustig is" (p.60).
(Meskipun tidak dapat dilihat walaupun nampak-nampaknya tenang
tetapi dalam kenyataannya tidaklah selalu demikian).
Masa kegiatan PKI itu di Sum Timur diselenggarakan pula
ketika diderita zaman malaise iresessi) oleh rakyat di mana harga karet tidak berarti lagi dan banyaknya pengangguran dan keadaan ekonomi merosot. Tetapi di Serdang, gerakan Komunis
di kalangan rakyat kecil kerajaan tidak terdapat sama sekali
"Het is gebleken, dat het extnmisme op de autochtone bevolking
van SERDANG, geen of uiterst weining vat heeft, zij moei e: me:
van hebben"41'.
(Ternyata, bahwa sikap extnmisme itu di kalangan pendudud asli
SERDANG, tidak ada tempat sama sekali, mereka sama sekali tidak
mau tahu tentang itu).
Itu adalah berkat hubungan yang mesra antara rakyat Serdang
dengan Sultan Sulaiman.
Rencana kaum Komunis di Sumatera Timur itu disesuaikan dengan penntah "Commmterr Executive Committee"
(ECCI) pada bulan Maret 1925. d: man* kaum komunis d.
negen-negeri yang terjajah haruslah bergerak secara halus dan
harus merangkul golongan-golongan lain bahkan bila perlu menyelundup masuk ke dalam golongan lain itu. Secara diam-diam
mereka harus mengusahakan terbentuknya "Genuine National
Front" (Front Nasional Asli) sebagai taktik mengganyang kaum
penjajah, tetapi sementara itu memperkuat cengkeraman me81
reka terhadap organisasi massal tadi. sebagaimana yang kemudian dikeluarkan oleh pimpinan PKI di tahun 1926 dengan
nama "Double Order" atau "Dictatorial Order" antara lain:
"... kepada pemimpin-pemimpin golongan agama agar dibayangkan
mati syahid, di mana yang tewas akan masuk sorga. Kepada orangorang bangsawan dijanjikan untuk mendirikan kerajaan yang baru
supaya mereka membantu pergerakan"42'
Seperti sudah kita saksikan. 2 bulan setelah gagalnya
pemberontakan PKI di Sumatera Barat di tahun 192". mereka
sudah merencanakan pula pemberontakan baru di Sumatera
Timur yang penuh dengan pertentangan antagonistik itu Ini
kemudian terlaksana ketika Komunis Yacob Siregar dan Saleh
Umar berhasil menggerakkan pemberontakan petani Karo di
dalam peristiwa "Guro-guro Aroan" pada bu[an Juni 1942 di
Deh Tua dan Bulihr (Langka) melawan Kerajaan Deli dan Kerajaan Langkat, pemberontakan mana kemudian ditindas oleh
tentera Jepang, pimpinan Kapten Inous Tetsuro. Ketika Jepang
masuk. Tan Malaka sudah berhasil menyelundup masuk ke Sumatera Timur dan terus ke Jawa. Ketika Jepang kalah, maka
para "illegal PKI" keluar dari persembunyian mereka. Satu sel
PKI pimpinan Yusuf sudah mencoba mengadakan "Re\olusi
Sosial" di Jawa Barat dan Jawa Tengah tanggal 21 Oktober
1945, tetapi putsch pertamanya di Cirebon gagal pada bulan
Pebruari 1946. Timing untuk melaksanakan "masyarakat sosial"
itu di Sumatera Timur direncanakan sebelum tentera Belanda
tiba secara besar-besaran untuk menggantikan tentara Sekutu
(INggens) yang harus pulang. Di kalangan para Swapraja ternyata tidak ada keijasama dan koordinasi satu dengan lainnya.
Mereka hanya bersikap menunggu instruksi dan pemerintahan
Gubernur Hasan yang lemah itu. Karena mereka sejak saman
Belanda dan Jepangpun sudah terbiasa menunggu perintah.
Sementara itu kemiskinan rakyat akibat penindasan zaman
Jepang masih belum ditanggulangi, sebaliknya kraton-kraton
merupakan tumpukan harta-harta kekayaan yang menggiurkan. Di beberapa Swapraja praktis sudah terdapat kekuasaan
82
yang dualisme, yaitu Volkfront yang makin berkuasa dengan
organisasi-organisasi bersenjatanya di samping P e m e r ^ a n
Swapraja vang makin lemah tanpa mempunyai kekuasaan persenjataan (kecuali di Langkat dan Swapraja Deli serta Asahan).
Untuk pelaksanaan pengganyangan, sering dipakai 'Frontmen" vaitu boneka-boneka yang terdiri dari keluarga raja sesetempat' ataupun penduduk asli sesetempat. yang didekking o eh
organisasi utamanya yaitu PESINDO: Robbespierenya adalah
Saleh Umar dan Dantonnya Yunus Nasution. Sangat menarik
perhatian juga kerja sama yang aneh antara Xarim MS pihak kin
dengan Wakil Gubernur Dr. Amir (yang istennya seorang wanita
Belanda) yang dia sendiri adalah spion Belanda kaliber wahid
dalam rencana menghapus peranan swapraja.
"Dit is dezelfde Dr. Amu var, wien een eigenhandig geschreven
rapport in Uw handen is". (Ini adalah Dr. Amir yang sama yang
laporan tertulisnya sendiri sudah ada di tangan Tuan)
. Kata sumber Belanda.
Malam Berdarah "Revolusi Sosial" 3 Maret 1946
Setelah Gubernur Hasan bersama Xarim MS dan rombongannya berangkat menuju ke selatan Sumatera pada tanggal 6
Februari 1946, maka pimpinan pemerintahan di Medan berada di tangan spion besar Belanda. Wakil Gubernur Dr. Amir.
yang segera melaksanakan rencana rahasia itu. la beserta Yunus Nasution lalu mengadakan turne ke Siantar tanggal 27
Februari. Tebingtinggi. Kisaran dan Tanjung Balai dan di dalam
rapat-rapat tertutup dengan pimpinan Volksfront
setempat
dihasut mereka lagi tentang hubungan pihak kerajaan dengan
Belanda melalui apa yang disebut "Comité van Ontvangst" itu.
Di dalam perjalanan pulangnya ke Medan di banyak tempat
ditemukan slogan seperti "Rakyat menjadi Hakim". "Raja
penghisap darah Rakyat" dan lagu "Darah Rakyat". Pada tanggal 2 Maret 1946 rombongan mereka sampai di Medan dan pada
tanggal 3 Maret 1946 tengah malam dikeluarkanlah perintah
83
untuk melaksanakan "Revolusi Sosial" itu di seluruh Sumatera
Timur.
Tindakan pertama ialah membunuhi para bangsawan yang
ada di dalam daftar hitam, kemudian menangkapi semua bangsawan atau yang dianggap musuh baik juga wanita dan anak-anak.
lalu merampok] harta benda mereka, dan kemudian baru mencari bukti kalau ada mengenai hubungan mereka dengan NICA.
Lalu kemudian barulah tokoh rakyat yang dianggap moderat
atau pro Barat
"Many persons were ïmpnsoned or killed simply because the\ dusplayed obvius westernised life styled'" 4 4 '
(Banyak orang yang ditangkap atau terbunuh cuma lamaran mereka
menunjukkan cara hidup ke barat-baratan saia)
Di TANAH KARO. Komunis Sarwono menelpon Ketua
\ olksfront Tama Ginting yang lalu menghubungi Selamat Ginting yang kuat pasukannya itu. Mereka kumpulkan para Sibayak
(raja) dan Rai. Urung d: suatu tempat dan lalu mereka tanek'ap
begitu juga Wakil N.R.I. di Tanah Karo. Sibayak Ngerajai Menala. Karena yang melaksanakan gerakan adalah putera-putera
asal Karo sendiri, maka terhindarlah dan pembunuhan. Ketika
itu pimpinan "Barisan Harimau Liar" anak asuh Saleh Umar
Yacob Siregar yaitu payung Bangun, masih berada di dalam
tahananm a Meliala Kelak di tahun 1 94" dia inilah algojo kejam
yang merampok dan membunuhi rakyat pengungsi di Tanah
Karo dan perbatasan Karo dengan Simelungun dan Toba.
D, SIMELUNGUN kebanyakan pelaksana penggerak adalah suku Toba meskipun pimpinan utamanya adalah Saragih
Ras PU tera Simelungun asli. karena ketika Saleh Umar memberikan instruksi rahasia untuk penangkapan raia-raja di sana
kepada Pesindo. PKI. dan B.H.L., sudah disetujui agar peranan
kunci dipegang oleh B.H.L. pimpinan Saragih Ras yang dijadikan "Frontman" yang kebetulan ada dendam pribadinya dengan beberapa keluarga raja-raja di sana. sehingga terjadilah perampokan dan pembunuhan antara lain Raja Raya.
84
Di ASAHAN terjadi pertempuran antara pihak pengganas
dengan "Polisi Keamanan Rakyat" pimpinan Karim Saleh.
Sultan Saibun Asahan dapat menyelamatkan din berenang
ke Pulau Buaya dan setelah beberapa hari di dalam rawarawa itu ia berhasil menyerahkan diri kepada Butai tentera Jepane di Tanjune Balai vang kemudian memberinya kesempatan
untuk diselundupkan ke Camp Nica di Medan, tetapi behau tidak mau dan minta diantarkan ke Gubernur Hasan d, Siantar.
Sesampainya di Siantar ia berada di bawah perlindungan TKR
dan kemudian diserahkan ke kamp tawanan Kampung Merdeka (Berastagij. Gerakan para pengganas di Asahan yang dipimpin oleh Harns Fadillah. Usfflan Manurung. komunis Rakut
Sem hiring dan lain-lain itu telah melaksanakan pembunuhan
massaal ("termasuk wanita dan anak-anak i dan kalangan bangsawan dan tokoh-tokoh masyarakat sehingga mendekati korban
400 orang. Turut terbunuh wakil NRI di Asahan. Tengku Musa.
dan bahkan ketua KN1. Abdullah Eteng. sempat juga ditahan
mereka.
Di LABUHAN BATI' gerakan pimpinan oleh oknumoknum dan Pesindo dan PKl. Wakil pemerintah NRI untuk
Labuhan Batu. Tengku Hasnan. dibunuh begitu juga sekretaris
KN1. Seluruh raja-raja Kualuh. Panai. Bilah dan Kota Pinang dibunuh didekat titi Gunting Saga. kecuali Abu Tohir Harahap
dan Abdul Hamid leher mereka yang dipenggal tak sempat putus, sehingga berhasil dihanyutkan air sungai dan kemudian ditolong oleh Pasukan Kelima Di Rantau Perapat dibunuh juga
Raden Sukarman dan seorang pembantunya. Di Kualuh. selain
rajanya, juga dibunuh puteranya Tengku Darmansyah dan
Tengku Mansyursyah serta cucu-cucunya T Badaru! Kamal.
T. Harun dan T. Sulong Yahya. Juga dipenggal T. Ibrahim. Raja
Andak dan T. Yacub. Mayat T. Ibrahim bahkan sempat dipertontonkan oleh Pemuda Rakyat komunis pimpinan Marzuki
kepada orang ramai D. Bilah pembantaian dilaksanakan atas
pimpinan Wiryono dan PKl (kepala kantor pos) dan temannya
Bahrum Nahar. Yang dipenggal ialah Sutan Bilah dan putera85
puteranya T. Harun dan menantunya T. Sri Muda ditanam di
dalam satu bang di pinggir jalan raya Wingfoot-Kota Pinang.
Raja Kota Pinang beserta putera-puteranya T. Abd. Hamid.
Tengku Besar. T. Maun dan T. Monel ditanam mayat mereka
di dalam satu liang pada sisi kanan jalan Wingfoot-Kota Pinang
Pada tanggal 10 Maret ditangkap lagi putera Sutan Bilah. T.
Murad. yang lalu ditikam dengan tombak tetapi tidak segera
mati. Kemudian ia tertangkap lagi lalu ditebas lehernya dengan
kampak dan ditanamkan di pinggir sungai. Kemudian semua
harta benda para korban dan kaum moderat dirampok hem
yang dipimpin oleh Panji Aflus dan Pesindo dan teman-temannya Rang Mengket dan Muhamad Din. Di Panai (Labuhan
Bilik), gerakan pembantaian dipimpin oleh Mudiruddin dari
Pesindo dan selain Raja Penai juga dibunuh T. Hamlet. T.
Aziz. T Husin dan Sutan Namora. Tengku Aziz dan T. Husm
dibunuh dengan cara membenamkan mereka di tengah laut.
Di daerah Marbau (Rantau Perapat) Mohamad Arsad dari Pesindo memenntahkan pembunuhan atas Raja Lela. Raja Ludin
dan R. Amirsyah. Di wilayah Kedatukan Batubara, pembunuhan dilaksanakan dengan cara membenamkan ke laut Tengku
Nur. Wan Bachtin. O.K. Sabandar. OK. Nur. OK. Ahmad. OK
Musa. Sohor dan Tengku Anif
Di Kerajaan LANGKAT, aksi pengganas dipusatkan di
Binjei dan Tanjung Pura yang dipimpin oleh oknum Pesindo dan
PKL terutama pimpinan pembunuh dan pemerkosa Komunis
Marwan dan Usman Parinduri. Mereka ini akhirnya kemudian
mati dihukum tembak atas reaksi kaum ulama Langkat karena
perkosaan atas puteri-puteri Sultan Langkat yang dilakukan
mereka. Ada 38 orang bangsawan utama yang dibunuh dan
dikuburkan di dalam beberapa lubang massal termasuk Wakil
Pemerintah NRI untuk Langkat. Pujangga Baru Tengku Amir
Hamzah. Korban lain di sekitar Binjei ialah ratusan orang India
dan orang terkemuka berbagai sukubangsa dan orang Toba dari
Pasukan Kelima.
86
Di Kerajaan DELI yang ditangkapi dan ditawan ke Kampung Merdeka, umumnya adalah pemuka rakyat MELAYU
yang ada hubungan dengan organisasi "PERSATUAN ANAK
DELI ISLAM" (PADI), tetapi sebagian besar keluarga Sultan
Deli sendin sempat diungsikan ke Istana Maimoon dan segeralah
Sultan Osman meminta kepada panglima tentera Sekutu agar
komplek istana Maimoon itu dikawal oleh pasukan Patiala. sehingga tidak ada yang berani menyerbu istana itu. Di dalam gerakan di wilayah Datuk Sunggal. banyak juga korban jatuh di
pihak pengganas. karena pemuda-pemuda Melayu Sunggal di
bawah pimpinan Datuk Hitam telah menggabungkan din menjadi bagian dan Pasukan Kelima Dr. Nainggolan. sehingga mereka memperoleh juga senjata Bagaimana pun jatuh juga 3
orang korban di pihak keluarga Datuk Sunggal yaitu seorang
terbunuh oleh pengganas dan yang 2 orang lagi sengaja datang
dari Medan (mereka guru silat) untuk mengamuk sampai mati di
tengah perkemahan pengganas di Sunggal.
Sebenarnya yang dikemukakan di atas ialah korban-korban
yang menjadi kerabat rapat dan raja saja. belumlah terhitung
dari luar kalangan bangsawan lagi. 45 '
Di SERDANG, keadaan agak berbeda sedikit dengan di kerajaan-kerajaan lain di Sumatera Timur. Berkat adanya dukungan positip dari Sultan Serdang terhadap pergerakan kemerdekaan dan pemerintah NRI. maka tidaklah terjadi pembunuhan dan
perkosaan di smi. Serdang sendiri dengan positip tidak mau
menyandarkan diri kepada perundungan pihak Jepang (.yang pasukan intinya ada di Melati-Perbaungan) atau kepada Belanda.
Laporan NICA Belanda telah menulis :
"Aangaande de SULTAN VAN SERDANG bestaat die (loyaalej
°"
,, Af.)
zekerheid geenszins . '
(Mengenai SULTAN SERDANG sudah pasti tidak dapat diharapkan
lagi kesetiaannya).
87
Oleh sebab itu ketika meletus peristiwa "Revolusi Sosial"
di Simelungun malam tanggal 3 Maret 1946 itu. Kolonel Ahmad Tahir yang sedang rapat staf di Medan menerima kabar
telpon itu dan markas TKR di Siantar.- Segeralah ditelponnya
pula Kapten Tengku Nurdin. Komandan Batalion III TKR di
Melati (Perbaungani agar segera mengambil kebijaksanaan melindungi Sultan Serdang dan keluarga dan serangan pengganas.
Segeralah diadakan perundingan oleh Kapten Tengku Nurdin
dengan Tengku Mahkota Serdang dan para Orang Besar yang
dapat dikumpulkan dan kemudian diputuskan bahwa pemerintahan Kerajaan Serdang diserahkan kepada Tentera Keamanan
Rakyat (TKRi Batalyon III yang diwakili Pemenntah NRI.
Kemudian keesokan harinya diutuslah Tengku Jaksa Mahmuddin dan Panitera Tengku Dhaifah untuk atas nama Kerajaan
Serdang menyerahkan pemerintahan kepada pihak TKR.
Timbang terima pemenntahan itu dihadiri juga oleh pihak
K.N.I dan partai-partai lainnya.4 ' Timbang terima itu mulai
berjalan sejak tanggal 4 Maret 1946 ke segenap pelosok Serdang,
sehingga resmilah pada langgal 4 Maret J 946 p ernennt aliar.
militer berlaku d: Serdang, agaknya suatu peristiwa yang unik
yang mungkin pertama kalinya berlaku di Indonesia.
Sejak han itu semua keluarga bangsawan dan pembesar
kerajaan dan kawasan Serdang Hilir dan Serdang Hulu diangku tlah dengan mobil dan dikumpulkan di dalam Istana Perbaungan Begitu juga beberapa bangsawan dari Bedagai datang
mencari perlindungan ke sana. Untuk penjagaan keamanan yang
ketat maka masuk keluar kompleks Istana Perbaungan haruslah
dengan surat izin T.K.R. sejak tanggal 5 Maret 1946. Penjagaan
pasukan TKR Batalyon III d: tempat di dalam lingkungan
cordon keamanan seluruh kompleks Kraton Kota Galuh dan
kubu-kubu (fortresse) adalah di sekeliling istana Kemudian
sejak tanggal 4 Maret itu terdapat pula dualisme dalam pemenntahan di Serdang yaitu satu yang dilaksanakan oleh pihak
sipil NRI (tetapi tidak berkuasa) dan satu lagi oleh pihak TKR.
Untuk membantu biaya pemerintah maka biaya makan dan
88
biaya umum mereka yang dilindungi dan pengawal ditanggung
oleh keluarga Sultan Serdang pribadi. Tetapi meskipun keadaan
mereka di Serdang sudah selamat, perasaan mereka sangat
sedih, karena setiap waktu ada saja benta dan luar yang tiba yang melaporkan terjadinya pembunuhan perkosaan perampokan di bebagai kerajaan. Siang dan malam penghuni
istana mengadakan sembahyang bersama dan ratib serta doa
selamat memohonkan perlindungan kepada Tuhan Sementara
itu menantu Sultan. Tuanku Mahmud, yang menjabat residen
Aceh. datang dengan rombongannya untuk mengambil isterinya
dibawa ke Aceh. Behau menitipkan juga pesan agar dijaga keselamatan mertoanya sekeluarga.
Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946. Komite Nasional
Indonesia di Serdang bersidang dan pihak kiri yang diwakili
Alwi (PKl) dan Kocik alias M Said Nasution tinfhtran kin dalam Naqindo!. mengusulkan agar beberapa orang antara lain
Tengku UbaiduUah (sekretaris Kerajaan). Tengku Mahmuddin
(jaksa), Tengku Yaudin (pedagangt dar. Tengku Ataillah kepala distrik Perbaungan supaya diarak memakai goni dan ke
mudian dibunuh Hal ini ditentang oleh Ketua KNI Tengku
Nizam dan golongan moderat lainnya Kocik dan Alwi mengendurkan tuntutannya dengan mengeluarkan Tengku Ataillah dan
daftar hitam itu. karena dirasa mereka Tengku Nizam mungkin
tersinggung sebab T. Ataillah adalah kemenakannya Tetapi usul
mereka mi pun ditentang, karena menurut Tengku Nizam. pembunuhan tanpa proses peradilan dilarang oleh U.U.D.R.I danbertentangan dengan hukum agama Kemudian rapat KNI yang
gemuruh itu hanya berhasil mengambil putusan yaitu melaksanakan suatu pawai besar yang menuntut dihapuskannya kerajaan Serdang. Pawai itu dengan aman lewat di tangga istana diterima oleh Tengku Rajih Anwar. Setelah resolusi mereka bacakan, maka diberitahukan bahwa Kerajaan Serdang sudah menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Tentara Keamanan
Rakyat sebagai representatip dan Negara Repubhk Indonesia
pada tanggal 4 Maret 1946. Pawai dengan dikawal oleh barisan
89
TKR kemudian dengan tenteram berlalu dan kemudian membubarkan diri.
Untuk menyelamatkan harta benda ratna mutu manikam
para bangsawan dari perampokan oknum-oknum pengganas
di masa depan, maka semua mahkota kerajaan dan harta perhiasan emas dan berlian milik para bangsawan/penghuni di
dalam istana itu didaftarkan dan diserahkan kepada pihak TKR
untuk menjadi sumbangsih para bangsawan Serdang terhadap
perjuangan NRI. Harta perhiasan itu jika ditaksir sekarang berjumlah bilhunan rupiah. Sebagian dari harta-harta itu diambil
oleh tentara Belanda dari Kluis Bank Dagang Nasional Siantar
dan diserahkan kembali.
Perkembangan Politik di Sumatera Timur setelah Kejadian
Revolusi Sosial
Setelah di mana-mana berhasil mengadakan pembantaian
terhadap para raja-raja dan bangsawan Sumatera Timur (kecuali
di Serdang), maka kaum komunis telah berada di dalam posisi
puncak di Sumatera Timur untuk bisa melaksanakan "sosialisasi
masyarakat dan pemerintahan". Komunis Yunus Nasution telah
menjadi residen Sumatera Timur didampingi Mr. Luat Siregar
dan Sarwono, sedangkan Wakil Gubernur Dr. Amir mengikut
saja apa yang dikatakan mereka karena sesuai dengan tugasnya
sebagai spion DR. Beck, yaitu mengadakan kekacauan dan pecah belah di dalam wilayah pemerintahan RI. Bahkan di dalam
wawancaranya dengan harian "SOELOEH MERDEKA" 7-31946. untuk pertama kalinya Dr. Amir memakai istilah "Revolusi Sosial" dan di dalam pengumuman yang dikeluarkannya,
ia sepenuhnya berdiri di belakang gerakan itu. Karena eksesekses pembunuhan, perampokan, dan perkosaan di manamana, maka pihak TKR di bawah pimpinan Kolonel Ahmad
Tahir mengumumkan diberlakukannya "Staat van Oorlog
en Beleg" (SOB) dan mengambil alih pemerintahan Sumatera Timur sehingga praktis juga, sebagaimana halnya di Ser90
dang, terdapat 2 macam pemerintahan di Sumatera Timur
(kecuali Kota Medan).
Karena tugasnya sudah selesai menimbulkan keonaran dan
pecah belah serta merusak nama dan kewibawaan pemerintahan
NRI di Sumatera Timur, maka Dr. Amir kemudian bersama
keluarganya menyeberang cepat-cepat ke kamp MCA pada
tanggal 25 Apnl 1946. Ia telah melaksanakan tugasnya sebagai
spion DR. Beck dengan baik. 48)
Dengan sekaligus mendayung Belanda telah melampaui
dua tiga pulau. Sambil membuat keonaran sehingga menghilangkan kewibawaan pemerintah NRI yang disebutnya sebagai
"ekstrimis" itu, ia sekaligus melenyapkan kemungkinan masa
depan untuk merehabilitasi kerajaan-kerajaan bumiputera di
Sumatera Timur kembali.
Sementara itu kaum komunis sudah mabuk kemenangan.
Di dalam konperensi persnya yang pertama di Siantar pada
tanggal S-9 Apnl 1946, PKl menyombongkan din dengan
mengklim bertambahnya anggota mereka sebanyak 40.000
orang.
Tetapi di dalam mabuk kemenangan itu. para pemimpin
mereka lupa daratan dan lalu ingin hidup mewah dan harta
rampokan itu. sehingga mereka melalaikan ujud dan "Revolusi
Sosial" mereka yaitu membentuk pemenntahan dan masyarakat
yang sosialistis di Sumatera Timur. Sementara itu pemerintah
pusat segera mengirim 3 orang menteri ke Sumatera Timur yaitu
Menteri Pertahanan, Komunis Mrs Amir Syanfuddin. Mohamad
Natsir dan Masyumi dan Rasyidi yang tiba di Medan tanggal
9 April 1946. Bersama mereka turut juga membonceng gembong komunis I aliran Moskow) Abdul Majid Joyodiningrat.
Nampaknya mereka mencoba mendisiplinkan kembali orangorang komunis di Sumatera Timur agar tetap mengikuti "Gans
Dimitrov" yaitu tetap digalangnya persatuan dengan golongan
Nasionahs dan Agama dengan pemegang benderanya orang
vi
komunis, sampai tercapai kemampuan melawan pihak kolonialisme/imperialisme.
Partai Sosialis Syahnr sangat terkejut akan akibat "Revolusi Sosial" tersebut dan mereka mencap gerakan itu merupakan bahaya besar terhadap nama baik dan penuangan kemerdekaan Indonesia. Kebijaksanaan pemerintah pusat kemudian
tetap mendukung kepemimpinan Gubernur Hasan di Sumatera
Timur. Di dalam rapat Volksfront, akhirnya Wakil Ketua Marnicus Hutasoit berhasil mendorong rapat mengambil kesimpulan
bahwa :
Tengambilan alih harta benda, penangkapan-penangkapan dan pembunuhan terhadap seseorang dan mengadilinya, hanyalah boleh dilakukan oleh pemerintah, yang didukung oleh Volksfront**.
Kemudian ditambahkan lagi, bahwa semua wanita dan
anak-anak tawanan "Revolusi Sosial" haruslah diserahkan kepada TKR dan semua tawanan laki-laki dikonsentnr dalam satu
kamp di Tanah Karo (bekas kamp tawanan Jerman di Kampung
Merdeka kemudian di Raya). Lalu mengenai pemimpin-pemimpin "Revolusi Sosial" yang ternyata sudah memperkaya diri
mereka dengan ""harta feodal" itu supaya dibawa ke depan
pengadilan. Tetapi kenyataannya semua keputusan yang
muluk-muluk itu sulit untuk dilaksanakan oleh aparat pemerintahan Gubernur Hasan yang lemah itu. Nyatanya untuk
waktu yang lama para tawanan dikuasai oleh gerombolan bersenjata Pesindo dan tiada satu orang pun yang dihadapkan ke
depan Pengadilan mengenai masalah "harta feodal". Tetapi
untuk sekedar mencuci tangan, maka PKl segeralah mengorbankan Yunus Nasution. Ia ditangkap di Binjai 25 April 1946 dan
kemudian dimasukkan ke kamp tawanan bersama-sama "kaum
feodal** yang revolusioner itu. la ditangkap dengan tuduhan
berkomplot untuk membunuh Gubernur Hasan ketika berada
di Siantar, di dalam wilayah kekuasaannya komunis Urbanus
Pardede. Ia lalu dipecat oleh PKL Kemudian lembaga pereka
nomian "Baper" yang digantikan "ERRI" (Ekonomi Rakyat
92
Republik Indonesia) yang dikuasai komunis Bustami. ternyata
kemudian setelah mengambil alih harta feodal dan asing menjadi sumber korupsi dan memperkayai diri. sehingga diganyang
dan dihapuskan.
Gembong PKI Xarim MS. yang suka pakai dasi ke sana ke
man naik mobil "'Maybach" mobil kebesaran Sulian Langkat,
yang disitanya untuk pribadinya, kini menjadi bahan ejekan
khalayak ramai 49 V Rencana kaum komunis selanjutnya ialai
membujuk Gubernur Hasan sesampainya ia di Medan tanggal
9 April 1946 agar menandatangani dicabutnya kekuasaan
militer SOB-nya Kolonel Ahmad Tahir dan kemudian mengangkat Mr Luat Siregar menjadi Residen Sumatera Timur
dan mengesahkan semua kepala daerah pengganti mereka
yang dicopot karena "Revolusi Sosial" itu.
Putsch Golongan Kiri di Serdang (Mei 1946i
Merasa malu dari rekan-rekan golongan kirinya di tempat
lain karena gagal mengadakan perampokan dan pembunuhan
di Serdang, maka Ketua PKI Serdang ALWI dan teman-temannya dan golongan kir; sepert. MARAH ADAM dan AM1R
HUSIN (Pesindoi. SALAM (Barisan Merahi dan HAMZAH.
serta KOCIK (infiltran kiri dalam PNI-Napinde berunding
untuk membuat strategi baru di dalam suatu rapat rahasia yang
diadakan mereka di perkebunan Fortuna Hulu (Perbaungan).
Di situ direncanakan mengadakan penyerbuan ke dalam fortress
Istana Sultan dan merampokinya. setelah terlebih dahulu menangkapi pejabat-pejabat pemerintahan NRI Serdang dan partai
golongan kanan dan moderat di Serdang seperti Tengku Nizam.
Camat Tengku Nasrun. Dr. Sutan Namora. Nurdin Sutan Temenggung dan lain-lain dan kemudian mereka itu digantikan
oleh tokoh-tokoh yang bisa mereka kendalikan. Tetapi penghalang yang paling besar ialah adanya Kapten Tengku Nurdin
dengan batalyon TKR-nya di Melati. Oleh sebab itu melalui
boss mereka di tingkat atas agar diusahakan Kapten Tengku
Nurdin bisa pindah dari Melati.
93
Akhirnya saat baik yang ditunggu mereka itu pun tiba juga
Pada tanggal 1 Mei 1946 nanti akan terjadi perubahan di dalam
struktur Angkatan Perang RI di Sumatera Timur Pada hari itu
Divisi TKR-IY (Sumatera Timur) akan diubah menjadi DIVISI
GAJAH-II Tentera Republik Indonesia, dengan markas besarnya di Siantar dan Komandan Divisinya Kolonel Ahmad Tahir.
sedangkan Komandan Resimen-I yang berkedudukan di Berastagi akan dipimpin oleh MAYOR TENGKU NURDIN dan TRI
Batalyon V di Melati untuk sementara akan diserahterimakan
kepada Kapten Zeid Ali.
Pada hari yang ditunggu-tunggu itu. diadakanlah rapat
raksasa oleh Volksfront Serdang di tanah lapang Perbaungan.
Dikerahkan juga buruh-buruh dan perkebunan-perkebunan
di sekitarnya dan berbeda dengan kejadian-kejadian biasa kali
ini hadir juga pasukan bersenjata anak buah Yacob Tembung
dan front Medan lengkap dengan truk-truknya Kemudian
setelah Ketua KN1 Tengku Nizam berpidato sebagai pembukaan, maka majulah ke depan Kocik dan Napindo. Pidatonya
lebih banyak diarahkan kepada kekejaman raja-raja yang menghisap darali rakyat. Pidatonya kemudian disudahi
dengar,
berkata sambil membuka bajunya
"Tak perlu lagi memakai baju ini kalau pengecut' '
Gerakannya ini rupa-rupanya merupakan kode (sandi) agar
anak buahnya bergerak. Isyarat ini diikuti oleh tindakan laskarlaskar bersenjata melalui informan menangkapi orang-orang
bangsawan, bekas pegawai kerajaan. golongan PNI moderat seperti Tengku Nizam. Harun Bacik dan lain-lain, golongan
Masyumi seperti Haji Mat Jüdin. Guru Syarial (Sekretaris KNI).
Tengku Teh Nasrun (Camat Perbaungan). Dr. Sutan Namora.
dan berbagai tokoh ada kira-kira 400 orang serentak di seluruh
pelosok Serdang, kebanyakan golongan bangsawan orang-orang
MELAYU. Mereka kemudian dikumpulkan d: penjara kota
Lubuk Pakam.
Penangkapan
94
terhadap
keturunan
bangsawan
Melayu
Serdang tidak berdasarkan pola tertentu Ada yang bekas pegawai kerajaan. tetapi ada pula seorang "Tengku"' yang kehidupannya sebagai petani atau nelayan miskin juga ditangkap Ada
juga "Tengku" yang menjadi pemimpin satu regu Laskar Hizbullah tidak ditangkap karena dilindungi anak buahnya (Tengku
Thabrani). begitu juga Tengku Heder (putera dan Bendahara
Serdang), tidak ditangkap karena sebagai staf perkebunan
negara di Sungai Karang ia dilindungi oleh staf dan kaum buruh
Di antara mereka yang ditangkap itu ada yang di dalam waktu
Z minggu dibebaskan kembali, tetapi ada juga yang kemudian
dengan rombongan besar diangkut dengan truk dan bus menuju
kamp tawanan "feodal" di Kampung Merdeka (Berastagi).
Nampaknya Kepolisian RI di bawah pimpinan Karip Hasibuan.
tidak dapat berbuat banyak untuk mengatasi hal itu atau mengairi bilalih penahanan itu dari tangan Pesindo Napindo.
Pada hari itu juga rombongan bersenjata anak buah ^ acob
Tembung itu mencoba memasuki kompleks Kraton tetapi melihat ketegasan pihak TRI dengan moncong senapan mesin dan
kubu-kubu sekeliling istana dihadapkan kepada mereka, mereka
gentar juga Akhirnva oleh Letnan Syamsul Sulaiman dibenarkan 2 orang utusan dan gerombolan bersenjata itu antara lain
bernama Harun, untuk masuk melihat suasana ke dalam istana,
di mana para penghuni tidaklah hidup bennewah-mewah bahkan tidak tidur di atas tilam. Oleh karena tekad yang bulat dari
Letnan Syamsul Sulaiman dan anak buahnya maka rencana
gerombolan bersenjata dan front Medan itu untuk menyerbu
istana hari itu tidaklah kesampaian Sikap Letnan Syamsul
Sulaiman itu mendapat dukungan dan komandannya. Letnan-I
Julius Washington Manullang yang memerintahkan apabila
ada serangan segera dibalas dengan tegas.
Ketika Mayor Tengku Nurdin mendengar kabar peristiwa
penangkapan di Perbaungan tanggal 1 Mei 1946 itu dan berita
telepon yang disampaikan oleh Pembantu Letnan Tengku Hefni.
segeralah Tengku Wahidin dikirimnya kembali ke Perbaungan.
95
Pada malam itu juga Letnan Ajir Saman, Letnan Washington
Manullang. Letnan Tengku Zulkufly iputera dari Tengku Nizam) beserta anak buahnya mengadakan razia di kota Perbaungan dan sekitarnya, tetapi tidak betemu dengan Kocik
maupun Alwi es Kepada pihak Pesindo'Napindo di penjara
Lubuk Pakam hanya disampaikan penngatan keras agar jangan
sampai terjadi pembunuhan atas mereka yang ditangkap.
Kalau itu terjadi maka TRI Batalyon V akan bertindak (50)
Keesokan harinya Letnan Syamsul Sulaiman didatangi oleh
ajudan Kapten Okada. Komandan Batalyon tentara Jepang yang
ada di Melati. Rupa-rupanya sore itu oleh Jepang dapat tertangkap seorang laskar kiri dan dan padanya diterima berita bahwa
ada rencana golongan laskar kiri untuk menyerbu pertahanan d:
istana Kapten Okada menawarkan bantuan tentara Jepang untuk menjaga kompleks istana itu. tetapi Letnan Syamsul Sulaiman menolak dengan mengucapkan tenma kasih dengan mengatakan bahwa TRI masih bisa mengatasi hal tersebut
Keesokan harinya pagi-pagi tanggal 3 Mei ! 946 Letnan
Syamsul Sulaiman memerintahkan kepada penghuni istana agar
mengunci jendela dan pintu-pintu istana. Benar sekali, kirakira pukul 12.00 ratusan barisan laskar rakyat dan orangorang Banjar dari Kampung Cinta Air dan Ara Panjang dengan
telanjang dada membawa tombak bambu dan didekkmg oleh
satu peleton laskar Yacob Tembung yang bersenjata berat mulai mengepung kompleks istana, tetapi tertahan oleh sarangsarang senapan mesin di dalam kubu-kubu pertahanan di sekeliling istana itu. Akhirnya mereka menggerebek bekas rumah
Tengku Mahkota Serdang di sebelah istana di mana tinggal pejabat Komandan Batalyon Y. Kapten Zeid Ali. Ditangkap mereka
Kapten Zeid Ali dan sambil ditolong sang komandan meneriakkan kepada pasukan TRI yang menjaga kubu-kubu pertahanan
itu agar jangan menembak karena nyawanya sudah terancam
Perintah komandan batalyon ini terpaksa dituruti anak buahnya. Maka menyerbulah gerombolan pengganas itu mema%
suki halaman istana tanpa halangan laga. Pasukan TRI lalu mundur menjaga tangga naik ke istana. Sementara itu tibalah pula
rombongan wakil-wakil pemerintah RI. seperti Jafar SiH* <**"
dana). Sampurno Kolopakinß (m»»-u;i, buuau). Umar Radin
Udii LUDUK Pakam. Kepala Polisi Kanp dan lain-lain. Mereka
dapat menengahi kedua belah pihak sehingga tidak terjadi
pertumpahan darah.
Didapat keputusan bahwa penghuni-penghuni istana akan
dibawa dengan kereta api istimewa ke Siantar di bawah perlindungan TRI dan Napindo. Lalu diperkenankan utusan-utusan
dari Napindo, Pesmdo dan partai-partai beserta pejabat pemerintah untuk masuk ke dalam istana. Di ruangan makan tingkat
bawah sudah disiapkan peti-peti di mana semua perhiasan harus
dimasukkan di dalamnya dan tidak boleh dibawa. Mula-mula diperkenankan setiap orang membawa 3 pasang pakaian, tetapi
akhirnya ini pun tidak diperbolehkan lagi. Semua yang memakai
kacamata harus membuang kaca matanya. Keluar dari tangga
semua digeledah tidak terkecuali wanita dan anak-anak. Kepada
para inang pengasuh diperkenankan keluar dan rombongan tawanan, tetapi hanyalah sedikit yang bersedia mengikuti perintah
itu. Kebanyakan mereka telah memilih untuk bersama-sama sehidup semati dengan majikannya.
Atas keputusan Volksfront Serdang. Sultan Sulaiman yang
sudah uzur dan terbaring sakit-sakitan itu beserta Tengku Suri
Darwisyah. Encik Zahrah dan seorang pembantu diperkenankan
tinggal di ruangan belakang istana Tengku Sun. Kemudian rombongan penghuni istana itu lalu diarak berjalan kaki menuju
stasiun dan segera menaiki kereta api istimewa dengan gerbonggerbong tertutup rapat dan dikawal ketat dibawa ke Siantar.
Sepanjang perjalanan menuju stasiun Perbaungan. kota yang
dilintasi sunyi senyap dan tidak ada jendela-jendela yang terbuka. Apakah rakyat Perbaungan secara diam-diam menunjukkan keprihatinan mereka?
Sepanjang perjalanan menuju Siantar tidak diberikan ma97
kanan apa pun. Sesampainya di Siantar pukul 20.00 malam
pengawalan digantikan oleh Kapten Nur Nasution dan dikawal
oleh Polisi Istimewa berseragam hitam. Mereka ditempatkan di
beberapa barak Hospital Siantar
Pada tengah malam rombongan dibagi dua. satu rombongan wanita dan anak-anak berusia 14 tahun ke bawah tinggal dan
sisanya dibawa dengan truk ke kampung Merdeka (Berastagi),
yaitu kampung tawanan "feodal" yang mengerikan yang masih
berada di bawah pengawasan Volksfront. Rombongan wanita
dan anak-anak itu sebulan kemudian dikirim ke kampung tawanan untuk wanita di perkebunan Pematang Raya (Bah
Koras).
Pada tanggal 13 Oktober 1946 pagi Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah mangkat dalam osia 84 tahun. Esok harinya
baginda dengan upacara militer dan diantar oleh rakyat banyak
dikebumikan di pemakaman raja-raja di sebelah Mesjid Raya
"Sulaimiyah" Perbaungan. Di dalam pidatonya pada upacara
pemakaman itu. baik oleh Jenderal Mayor Timur Pane maupun
oleh Bupati Nunar S. Hamiboyo. dikenangkan jasa-jasa almarhum sebagai pemimpin rakyat yang terkenal anti Belanda.5 1 ^
PEN U T U P
Berbeda dengan di Aceh. di mana dipinjam juga dari Pesindo, istilah "Revolusi Sosial" pada awal tahun 1946. di mana
pihak Ulama (di sini PUSA) merebut pimpinan rakyat dari pihak Uleebalang, maka di Sumatera Timur karakter "Revolusi
Sosial" bulan Maret 1946 itu bermotipkan hendak mendirikan
"masyarakat sosialistis" sama rata sama rasa yang disponsori
oleh orang-orang komunis dan pihak kiri terhadap para raja-raja
bumiputera asli Melayu. Karo dan Simalungun di mana unsur
etnis kesukuan joga turut serta.
Revolusi Sosial yang dilakukan oleh sementara pihak terhadap pejabat-pejabat suku Toba di Dairi (Sidikalang sekitar98
nya) pada bulan April-Juni 1946 dan di Samosir terhadap Raja
Huta pada bulan Maret-April 52j tidaklah terlepas dan masalah
itu.
Pukulan yang paling menentukan dan fatal adalah terutama pada masyarakat Melayu di mana bukan saja harta dan nyawa tetapi kekuasaan raja Melayu di pesisir Sumatera Timur
yang dibangun sejak 400 tahun sebelumnya, rontok dalam satu
malam saja. Meskipun Belanda kemudian dengan Aksi Militer I
telah menguasai di tahun 1947 sebagian besar wilayah Sumatera
Timur, mereka tidaklah lagi berpartner dengan kerajaan-kerajaan itu tetapi kini mereka berkolaborasi dengan para intelektual
yang menjadi teras "Negara Sumatera Timur" (NST) Bahkan
tuntutan para bangsawan keluarga dan korban pembunuhan
"Revolusi Sosial" agar Dr. Amir diajukan ke depan pengadilan,
ternyata ditolak oleh Belanda dan dia cepat-cepat diterbangkan
ke Nederland. Tetapi para intelektual Melayu, Karo dan Simalungun teras NST itu tidak mempunyai akar dengan masa kaum
tani, dibandingkan dengan partai UMNO di Melayu pimpinan
Datuk Husin Onn bin Jafar masa itu dan di mana raja-raja Melayu hanya dijadikan simbol belaka. Pihak NST malahan seolaholah tidak menginginkan kembalinya kerajaan-kerajaan bumiputera dipulihkan. Begitu juga pendirian Belanda Sementara
itu rencana kaum komunis untuk mendirikan "pemerintahan
dan masyarakat sosialistis" di Sumatera Timur tidaklah kesampaian. Hal itu bukan saja karena sadarnya kemudian golongangolongan lain akan bahaya itu. tetapi juga disebabkan dirusakkan oleh para pemimpin mereka sendiri yang mencerminkan
hidup mewah dan korup.
Gagalnya mereka merebut posisi pemerintahan dan kemudian dibubarkannya "ERRI". tidaklah mengurangi keganasan
mereka yang dilampiaskan oleh organisasi anteknya, yaitu "Barisan Harimau Liar" pimpinan Payung Bangun dan Saragih
Ras yang melaksanakan penyembelihan massal di Tanah Karo.
Simalungun dan perbatasan Tapanuli sejak Juli 1947, terhadap
99
1
rakyat jelata dan kesatuan-kesatuan bersenjata Republik Indonesia lainnya. Diperkirakan lebih 2000 orang korban penyembelihan mereka.5 3 )
100
CATATAN
1)
2)
3 ».
4).
M
' '
6)
7).
8)
9)
10)
U,'
12).
13)
14).
15).
16).
17)
18)
19).
T Luckman Sinar. SH "Sari Sedjarah Serdang" p. 33-34.
John Anderson. "'Mission to the Eastcoast of Sumatra ' Edinburgh 19.6
John Anderson. "Acheen and the Port on the North and Eastcoast of Sumatra" London 1840. p.234.
op.cit. p.191.
,.
J- w . ,
T Luckman Sinar. SH
The Impact of Dutch Colonialism on the Ma a>
Coastal States on the East Coast of Sumatra during the 19-th Centun
makalah dalam Dutch-Indonesian Historical Conference. Noordwi.kerhout (Holand;
22-5-1976.
DR R. Broersma. "Oostkust van Sumatra" I. De Ontluiking van Deb.
Memori timbang terima tertanggal 2-7-1917. p.230-231.
M v. Overgave Ass. Residen Deli-Serdang S. Bouman 1-8-1929.
Ibid S. Bouman.
Memorie v.Overeave Residen Deli-Serdang S van der Plas 2-6-1913.
M v O Ass. Rvïiden Deli-Serdang R.J. Koppenol Aug. 1927. "Kerapatan Dusun ' adalah instansi peradilan tertinggi untuk wilayah penduduk Batak d, Serdang Hulu yang diketuai oleh Sultan Serdang.
M \. O Kontelir Serdang J Reuvers 4 6 192^ p 16
lbid. Reuvers, p. 23.
M \. O. G 1. J. D. Kok. Controleur Bataksche Zaken. 30-6-1910.
'Sari Sedjarah Serdang" p. 151. Lihat juga Broersma, II (De Ontwikkelingvan
het Gewest)
M \ . 0 Residen S. Timur W.J. Rahder. 3-10-1913, p. 9.
M v.O Gubernur Sumatera Timur H F K. Ezerman, 24-6-1933.
M v.O.
Als.
Residen
Deli-Serdang,
L Van
Kesteren.
15-9-1919.
M v.O. Kontelir Serdang Mr. J. Gerritsen 20-7-1938.
101
20X
21).
22).
23)
24).
25)
26)
27)
28)
291.
301
31 i.
32)
331
34».
35).
35).
36).
37)
38).
39).
40)
41).
42).
43).
102
M v.O Ass. Residen Deli-Serdang. H E K . Ezerman 21-12-1921.
M v.O Gubernur Sumatera Timur, H E K Ezeiman 24-6-1933.
M v.O Kontelir urusan Batak Serdang Dusun, G L K D Kok. 30-6-1910.
p. 149.
M v.O Kontelir Serdang, Mr. J Gerritsen. 20-7-1938. p.16.
Lihat untuk ini juga Mr. Boot "Oe Landbouwconcessies in de Residentie
Oostkust van Sumatra"
Lihat juga M v.O. Kontelir Serdang DR J De Ridder 2-9-1933 p 30-34
Berkas Surat Sultan Serdanp Kepada Kontelir Serdang no. S / R a h a s i a tgL
25-9-1937, no. 79a/Rahasia tgL 26-10.1937 no. 94 Rahasia uL 28-12-1937
dan Surat Kepala Reserse Sum. Timur no. 1017/CI tgl. 4-9-1937 kepada Kontelir Serdang.
Lihat Tengku Jafizham, "Verslag Debat Faham Kaoem Moeda dan Kaoem
Toea ' 5-2-1928. Perc. Sumatra Drukkerij Medan.
Lihai dalam "Locomotief 26-11-1925, dimana Parada Harahap menanyakan
Sultan Amaluddin dari Deh. apakah tidak mau mengikuti jejak Sultan Serdang
mengenai idee 'Dewan Perwakilan Kerajaan seperti banyak ditzlis di dalam
berbagai surat kabar itu.
Tengku Syahril semasa hayatnya pernah berkali-kali menjadi Ketua P W.I dan
ketua S.P S di Jakarta.
Mengenai pemberontakan mi baca T. Luckman Sinar. SH "The East coast of
Sumatra Under the Japanese Heel ' Sumatra Research Bulletin. HuU Unjversit> (England). VoL I no. 2 (May, 1972; p.29. Baca juga Inoue Tetsuro. "Bapa Jango Bapa Dianggut ' Juga Shiraishi Saya. 'Rural Unrest in Sumatra.
1942: A Japanese R e p o r " INDONESIA 21. April 1976.
War Cabinet. Joint Staff. 8-8-1943. "Operation azainst the northern tip of
Sumatra ' WO 203/4893.
Instruksi Jepang tentang Administrasi dan pemerintahan buat Malaya dan
Sumatera. April 1942 p.100. Lihat juga "Penang Shimbun ' 19-12-42.
Lihat juga Zainuddin "The Japanese Occupation ' Indonesia Nationalism
and Revution 6 first-hand accounts' Monash Um\. Merlbourne 1971 p
13-14.
Lihat Turk Westerling. "Challenge to Terror" p.38-39.
Catatan Dr. Amir tgL 14-6-1946, R.v.0 I.C 005967. Lihat juga Anthony Reid.
"The Blood of the People ' p. 150.
Lihat DR S L van de Wal, "Officieele Bescheiden
' VoL I p. 521.
Wawancara dengan Tengku Ataillah di Mydan tanggal 11-2-1984.
Oalam "26 Indian Division Weekly Intelligence Summary No. 20 ' 2-3-1946.
Lihat Mohd. Said, "Apa itu Revolusi Sosial 1946 di Sumatera Timur ' Harian
WASPADA Medan.
Sumber dari "Indische Verslag" 1940.
Lihat M v.O Gubernur Sum. Timur D J . van Kempen 10-9-1928.
Lihat M v.O Kontelir Serdang J de Ridder 2-9-1933.
Brackman, "Indonesian Communism ' p. 17.
Ibid. "Officieele Bescheiden betreffende de Ned,-Indonesilche betrekkingen
1945-1950' VoL III p.9.
44).
45)
46).
47).
48)
49)
50).
51).
52).
53)
Malcolm R. Wilson, "Leaders of Revolution The Social Origin of the member
in Indonesia 1945-55" p.57.
Kebanyakan informasi dari hasil wawancara dengan berbagai tokoh dan semua
bekas kera.aan di Sumatera Timur. Untuk ini lihat juga Tengku Yusuf Aziddin, "Revolutie Anti Social" dan Anthony Reid. T h e Blood of the People '
p. 230-245.
VandeWaL op.cit. Vol. I p.521.
Wawancara dengan Jendral A. Tahir dan Tengku Nurdin di rumah kediaman
Pangkowilhan-I Sumatera &. Kalbar, di Medan pada tanggal 5-8-19 7 l.
Surat Dr. Amir kepada Residen Beck setelah melaksanakan "Revolusi Sosial
tgL 20 April 1946. "Jika keadaan makin parah, dalam 2 hari mi kami sudah
berada di dalam kapal menuiu Eropah ' Dokumen NEF1S 120" di ARA
Dari hasil pemeriksaan di Singapura ternyata bahwa di tahun 1947 kekayaar
Komunis Mr. Luat Siregar dalam Bank of India adalah S 1.761.000. Lihat
"Korte Beschrijving van Mr. Luat Siregar" arsip Procureur General (ARAl no.
67. Lihat juga Reid. "The blood .... ' p. 264.
Wawancara dengan Tengku Nurdin. tgL 31 Mei 1984.
Wawancara dengan Tengku Sahar tanggal 26 Pebman 1983 (bekas Staf Timur
Pane/Napindo Naga Terbang)
Reid, p. 257.
'Republik Indonesia ' (Propinsi Sumatera Utara) p. 344-345.
103
KEGIATAN PEMUDA MINYAK PADA
AWAL PROKLAMASI
(Oleh: Darto Harnoko )
I
Hampir dapat dipastikan jika pembicaraan tentang revolusi, perbendaharaan fakta hanya akan berada di sekitar tokohtokoh yang memang meniadi pimpinan tanpa pernah menyebut
bagian lain dari keberhasilan mereka. Jika pernyataan ini dapat
diterima, maka sebenarnya kejadian penting dalam sejarah tidak
akan pernah dan tidak akan terjadi hanya hasil buatan selapis
masyarakat Begitu juga dengan Revolusi Indonesia. Tanpa mengurangi arti bagi mereka yang telah dianggap memimpin perjuangan di tingkat nasional.1 makalah ini ingin menguak gambaran kecil kegiatan di tingkat lokal. Tanpa melihat hal ini.
kiranya tidak ada kejadian yang terjadi dengan tiba-tiba. Tiap
kejadian pasti ada sangkut pautnya, hubungan, sebagaimana halnya dengan awal proklamasi itu.
Studi atas sejarah Indonesia modern 2 akan lebih menarik
manakala melihat bagaimana partisipasi masyarakat terserta
104
dalam berbagai aktivitas, kususnya yang biasa disebut dengan
'"gerakan bawah tanah" Mengapa gerakan mereka disebut sebagai gerakan bawah tanah 0 Pertanyaan awal yang harus dicari
hubungannya atas berbagai aktivitas mereka saat pemerintah
pendudukan Jepang masih berkuasa. Makalah ini merupakan
studi awal dari suatu gerakan pemuda yang belum banyak diketahui karena sifat gerakan yang berbeda dengan gerakan-gerakan
lainnya. Sasaran yang diarah dari gerakan ini adalah kesadaran
buruh minyak akan arti minyak menjelang dan saat mempertahankan proklamasi. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya kerja
ini, di saat pemerintah pendudukan Jepang sedang mengalami
'"masa sekarafnya. 3 Taktik Antareja. tokoh dalam dunia pewayangan yang selalu berada di bawah tanah, harus dilakukan.
Mengapa demikian9 Jawaban secara umum yang dapat diberikan
untuk sementara, adalah: mengurangi jumlah korban dari kegagalan sebagaimana yang sering terjadi di kalangan gerakangerakan politik oi berbagai negeri.
Bentuk perjuangan yang dilakukan oleh para kader4 di
lingkungan buruh-buruh minyak ini, sebenarnya merupakan
suatu usaha pembaharuan garis perjuangan dengan sasaran
grass rootlevel, dan semboyan sedikit bicara bamak kena."
Siapakah di antara golongan-golongan dalam masyarakat yang
sudah siap dan menyadari kondisi situasi masa itu"1 Tak banyak
didapatkan keterangan atas masalah ini. kecuali dari eolonean
pemuda. 6 dan para politisi tingkat atas.
Menyadari situasi ini. bahwa kesiapan yang tidak merata
di kalangan masyarakat, akan merupakan kegagalan yang tidak
diinginkan, maka beberapa tokoh pemikir pergerakan8 saat itu
merencanakan suatu taktik strategi perjuangan yang dianggap
lebih berbobot, menyertakan masyarakat, dipilih lapisan buruh
minyak. Mengapa demikian0 Ternyata ada perhitungan-perhitungan tersendiri dari strategi ini9 atas masalah minyak pertempuran perjuangan eerakan-gerakan radikal di beberapa negeri
lain. 10
105
Studi politik menunjukkan bahwa janngan sosial1 ' merupakan suatu bentuk kegiatan yang dapat dianalisis meski tidak
mudah, 12 karena secara umum pengertian ini telah menunjuk
pada hasil dan tindakan dari orientasi tertentu. Kenyataan itu
dalam artian pendidikan politik di lingkungan buruh-buruh minyak sebenarnya memperlihatkan pada pengertian di atas dengan kondisi tertentu yang melingkupinya. Pendekatan atas
studi awal ini. dipergunakan pendekatan dari Oran R. Young 13
Kesemuanya ini dilakukan untuk lebih mendekatkan pengertian
yang sebenarnya atas gambaran kekuasaan dan individu dalam
proses interaksi dalam suatu lingkup tertentu.
II
Gerakan di lingkungan minyak yang dilakukan oleh Djohan Sjahruzah ialah mengusulkan kepada Jepang agar disiplin
kerja untuk menunjang perang Asia Timur Raya perlu ditingkatkan mengingat bahwa di antara buruh-buruh perusahaan
minyak yang ada di Krukah. Lidah. Wonokromo serta sebagian
di dekat Jawa Tengah seperti di Nglobo dan Wonosari. terdapat
orang-orang Belanda yang dipekerjakan dan kemungkinan membuat sabotase bagi sekutu setiap saat dapat terjadi. Lsul ini diterima oleh Jepang dan kesempatan tersebut dipergunakan
oleh Djohan Sjahruzah untuk memasukkan tenaga-tenaga muda
yang diambil dari berbagai daerah. Kerjasama Djohan Sjahruzah
dengan Soedjono Djemblong yang telah lebih awal berada di
lingkungan buruh minyak sebenarnya menunjukkan adanya kerjasama di kalangan aktivis-aktivis gerakan bawah tanah sebelum
kemerdekaan ' 4
Cara kerja Djohan Sjahruzah di samping mencari tenagatenaga baru khususnya di kalangan buruh yang muda juga diimbangi dengan suaranya yang menjadikan Jepang terlena
yakni tentang bahayanya sabotase yang dapat terjadi di lingkungan minyak. Mengapa dipilih buruh-buruh yang muda 0
Jawabnya sederhana, bahwa mereka para buruh muda itu lebih
mudah diajak untuk berjuang, untuk bersiap diri merebut mi106
nyak serta merebut kekuasaan. Buruh dianggap lebih paham
tentang taktik kerja serta resiko yang akan dihadapi dibandingkan dengan para pelajar atau mahasiswa.15 Cara berpikir para
kader lebih ditekankan pada bentuk perjuangan yang bersifat
patriotisme untuk memerdekakan negeri ini dan penjajahan
dari pada gerakan Sarekat Buruh yang selama ini dilakukan
oleh Soedjono Djemblong. Para tenaga muda ada yang bertugas
di bagian pengawasan perburuhan (Hodo-mJ yang bertugas
mengawasi buruh. Hakekat dari pengawasan dibalik oleh para
kader untuk menginsyafkan para buruh agar selalu berjuang
dengan kerja sebaik mungkin untuk menghilangkan kecurigaan
orang-orang Jepang. Gerakan di lingkungan minyak, ditautkan
dengan gerakan yang berpusat di jalan Embong Malang. Surabaya. Tempat ini merupakan tempat bertemunya para pejuang
bawah tanah baik yang berada di Bali. Madura. Solo. Madiun.
Semarang maupun Yogyakarta. Mengapa tempat ini merupakan
berkumpulnya orang-orang bawah tanah 0 Peta politik di wilayah pulau Jawa. 16 kota Surabaya merupakan kota yang kedudukannya dianggap penting oleh para eksponen gerakan bawah
tanah setelah kota Jakarta. Jika perlu dari kota inilah akan dibangkitkan perjuangan kemerdekaan.1
Melihat gambaran peta perjuangan para aktivis gerakan
bawah tanah 18 pada masa pendudukan Jepang, dapat dipertanyakan: mengapa bentuk perjuangan di lingkungan perusahaan
minyak yang dianggap sebagai suatu bentuk perjuangan yang
merupakan strategi baru di kalangan aktivis politik hanya berpusat di daerah-daerah perminyakan pulau Jawa0 Bukankah
pengertian daerah-daerah minyak yang tersebar di wilayah luar
Jawa lebih menunjukkan gambaran sebagai obyek strategi jalan
baru yang lebih luas daya jangkaunya, mengingat persebaran
letak sumur-sumur minyak pada masa itu 0
III
Proklamasi kemerdekaan yang diumumkan oleh SoekarnoHatta cukup mengejutkan beberapa kader aktivis gerakan bawah
107
tanah, mengingat bahwa kekuatan Jepang atas wilayah perminyakan dirasakan masih dapat dipergunakan dalam jangka panjang. ' q Kenyataan berbicara lain. bahwa Jepang tetap menyerah. Kemerdekaan yang dijanjikan tak dapat ditepati bahkan
kini kedudukan Jepang telah berubah dari musuh sekutu menjadi alat sekutu. Mungkin bagi sebagian orang aktivis pergerakan
yang semula bersikap menunggu hadiah kemerdekaan yang dijanjikan akan menjadi bingung menghadapi situasi yang tibatiba seperti saat itu akan tetapi jelas bagi mereka yang konsekuen dengan bentuk non-kooperasi dan bekerja secara ilegal dengan tujuan merebut kekuasaan dan kemerdekaan bagi negerinya tidak menjadi bingung. Moment sejarah yang harus dilakukan tidak boleh dilewatkan begitu saja jika tidak ingin dijajah
kembali. Hal ini berkaitan dengan keputusan postdam2(> yang
isi pokoknya menyatakan semua negeri jajahan kembali pada
yang berkuasa sebelum perang dunia kedua meletus. Belanda
mendapat perlindungan dari keputusan ini.
Bagaimana sikap kader dan buruh minyak di lingkungan
daerah minyak khususnya yang berada di Jawa Timur 0 Ternyata
Djohan Sjahruzah dan Soedjono Djemblong membuat suatu
"permainan" yang tak kalah bahayanya mengingat situasi dan
kondisi pada waktu itu. Mereka membuat telegram yang isinya
mendukung kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh
Soekarno-Hatta. Para buruh minyak diminta membayar ongkos telegram sebesar satu sen dan membubuhkan tanda tangannya, jika mereka menyetujui mendukung proklamasi
itu. Ternyata dengan senang hati dan berani menempuh resiko.
bersedia ""dikutip koceknya" sebanyak satu sen serta membubuhkan tanda tangan. Nilai satu sen saat itu tak ada artinya
jika dilihat dalam pengertian materiil, namun untuk resiko
membubuhkan tanda tangan sangat besar. Jika ketahuan dapat
berakibat kematian. dipotong kepalanya oleh tentara Jepang
karena minyak masih berada di bawah pengawasan tentara
Jepang.
108
Persoalan yang muncul sekarang bagaimana caranya merebut kekuasaan0 Siapa yang harus maju dan bagaimana jika gagal0 Siapa yang harus menggantikan0 Peringatan satu bulan
Proklamasi yang dilakukan di lapangan sepak bola Pasar Turi
Surabaya, yang dihadiri oleh pimpinan-pimpinan golongan
pemuda.yang berada di luar minyak seperti dari Kereta Api.
Pos Telegram dan Telepon, Gas dan Listrik, pemuda balaikota.
setelah acara peringatan selesai di tempat yang terbuka itu mereka mengadakan perundingan tindakan apa selanjutnya yang
harus dilakukan oleh kamum muda. 21 Dan pemuda minyak diusulkan agar diadakan rapat raksasa pemuda dan rakyat pada
tanggal 21 September 1945. 22 Disetujui, agar Angkatan Muda
Indonesia (AMI) bikinan Jepang yang dipimpin oleh Roeslan
Abdulgani supaya diajak serta. Ternyata Roeslan Abdulgam
menolaknya dan tidak mau turut campur. 23 ia lebih senang menunggu instruksi dari Jakarta dengan menyatakan bahwa segala
resikonya tidak mau ditanggungnya Tekad meneruskan rencana
tetap ada dan para pemuda yang dipelopori oleh pemuda minyak kembali ke tempat masing-masing.
Pemuda Kereta Api 24 memberikan satu rumah kosong untuk dijadikan markas sementara serta dibuatkan siaran dan
pamflet-pamflet serta menulisi gerbong-gerbong kereta api tentang Indonesia yang sudah merdeka dan penjajah harus segera
diusir dari bumi tercinta. Esok harinya gerbong-gerbong itu digerakkan dan dengan demikian stasiun-stasiun serta jalan yang
dilalui, sebenarnya memberikan kesadaran kepada setiap masyarakat yang telah membaca tulisan yang tertera di gerbong dan
diharapkan mereka semua dapat mempersiapkan diri. Tempattempat terpencil yang juga merupakan tempat berdiamnya
kaum pergerakan bawah tanah dengan segera menjadi tahu sehingga peneaturan perebutan kekuasaan dapat segera dimulai.
Secara tak terduga pada tanggal 18 September 1945 25 di hotel
Yamato bendera Belanda dikibarkan oleh N1CA. Berita ini menjadi ramai dan sikap pemuda menjadi satu bahwa hotel tersebut
harus diserbu untuk menurunkan bendera Belanda tersebut
109
karena berkibarnya bendera merah putih biru dapat menjadi
lambang kembalinya kaum penjajah.
Tanggal 19 September 1945, pukul 10.30 pagi insiden bendera terjadi, semua kaum buruh terutama minyak dengan para
pemudanya berduyun-duyun datang ke jalan Tunjungan. sebagian dari mereka ingin tahu akan kebenaran berkibarnya bendera Belanda di hotel Yamato. sebagian lagi dari kaum muda yang
marah terus naik ke atas menurunkan bendera menyobek bagian
biru dan dikibarkan kembali sebagai bendera nasional Indonesia.
Teriakan merdeka, disambut oleh masa dengan gegap gempita.
Merdeka! Merdeka! Merdeka' Rakyat Surabaya menjadi bangkit
semangatnya dan kelihatannya sudah siap untuk melakukan
perebutan kekuasaan. Siapakah yang akan menjadi pelopornya'1
20 September 1945, disepakati secara bersama untuk menunjukkan adanya persatuan, tanpa ada bentuk organisasi yang
lain selain pemuda Republik Indonesia (PRI). dengan tokohtokohnya Soemarsono. Kaslan. Krissubance, Roeslan Widjaja.
Kusnadi,- 6 serta sejumlah pemuda pemudi yang merupakan
motor penggerak organisasi. Pada tanggal 21 September 1945
diadakan rapat raksasa. 27 Alasan mengapa organisasi pemuda
disebut PRI? Menurut beberapa informan nama itu sebenarnya
menunjukkan akan adanya kesadaran sebagai sebuah bangsa,
yang berpihak kepada republik bukan monarchi atau otokrasi
serta bukan pula theokrasi.
23 September 1945 kantor Konpetei diserbu oleh massa rakyat untuk melucuti senjata tentara -tentara Jepang, di manamana terjadi bentrokan tak terkecuali di pos-pos perminyakan
baik yang berupa sumur maupun penyulingannya. Minyak
menjadi masalah yang utama. Soedjono Djemblong melakukan
aksi di kantor pusat yang terletak di Wonokromo. Pimpinan
kemudian beralih kepada Abdullah yang bukan merupakan
kader dari kelompok Djohan Sjahruzah atau Soedjono Djemblong. Sumur-sumur minyak di sekitar Surabaya akhirnya dikuasai oleh Soenarjo. Di penyulingan minyak Cepu 28 , akhirnya
dapat dikuasai oleh Salam dan Abiosi khususnya di bagian ma110
nagement. Pardi di bagian pemasakan. Soemantri dan Soerjono
di bagian teknik. Salaz dan Soerjono bukan merupakan kader
Djohan Sjahruzah atau Soedjono Djemblong. Sumur-sumur
yang ada di Wonosari atau Nglobo. berada di tangan kader
Soedjono Djemblong yang bernama Hadi. Sejak berpindahnya
kekuasaan di lingkungan minyak ke tangan para pemuda. Djohan Sjahruzah dan Soedjono Djemblong melepaskan kepemimpinannya di lingkungan pergerakan minyak. Djohan Sjahruzah
lebih banyak berada di Jakarta mengatur perjuangan di tingkat
nasional.2"9 sedangkan Soedjono Djemblong sulit diketahui
tempat tinggalnya yang terakhir.- °
Sejak saat itu kepemimpinan gerakan bawah tanah di lingkungan minyak tidak menjadi fokus isi makalah ini. meski masalah minyak akan menjadi soal kembali pada masa Agresi Belanda kedua. Pemerintah Indonesia melalui menteri kemakmuran
sejak tahun 1947 berusaha mengendalikan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi khususnya dari buruh-buruh atau kader yang tidak berada di bawah asuhan Djohan Sjahruzah dan
Soedjono Djemblong.
IV
Dan uraian makalah ini. apa yang ingin ditampilkan dari
kegiatan pemuda minyak pada awal proklamasi sebagai suatu
studi awal atas masalah pergerakan pemuda Indonesia dapat disebutkan, bahwa sebenarnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan
oleh para kader untuk memberi kesadaran kepada buruh atas
bimbingan Djohan Sjahruzah dan Soedjono Djemblong memperlihatkan bahwa dalam konteks lokal gerakan-gerakan ini
patut diperhatikan karena menunjukkan akan perbedaan dan
berbagai gerakan lokal vang ada diseluruh wilayah Indonesia
pada awal atau saat revolusi. Tak ada kekerasan yang berbau
darah, tak ada tindakan yang bersifat sindikalistis, yang bersifat
anarchi Hal ini menunjukkan bagaimana peran kepemimpinan
dari gerakan yang biasa disebut sebagai gerakan bawah tanah.
111
Masalahnya kini bagi kita. pengertian gerakan bawah tanah
sebagaimana yang ditunjukkan oleh aktivitas pendukungnya
lebih merupakan keinginan dari pemerintah pusat sendiri bahwa
revolusi nasional di tingkat lokal sebagai bentuk perubahan tanpa adanya tindakan-tindakan anarchis. Studi ini melihat bagaimana kepemimpinan yang bersifat '"approach individu ' akan
mampu melahirkan tindakan politik dari individu yang bersangkutan sesuai dengan pengertian kekuasaan yang dapat dihayatinya.
Gerakan pemuda minyak pada awal revolusi lebih menunjukkan gambaran yang khusus memiliki ciri-ciri kedewasaan
dari gerakan pemuda-pemuda lain di berbagai tempat sehingga
sangat tepat jika dinyatakan gerakan ini merupakan suatu bentuk baru yang belum pernah dan tidak akan pernah dialami oleh
pemuda baik pada masa sebelum kemerdekaan ataupun sesudahnya yang pernah mendapat pengalaman pendidikan fasisme
militer Jepang. Kesadaran yang dimiliki oleh para anggota untuk
melakukan self kontrol yang bersifat kritis sebenarnya dikarenakan apa0 Faktor-faktor apa saja yang ikut berperan untuk tercegahnya tindakan-tindakan mereka selama itu. baik yang bersifat ekstern maupun yang bersifat intern. Pertanyaan ini lebih
merupakan pertanyaan yang dilontarkan untuk terlanjutnya
penelitian yang masih terasa bersifat umum.
Tanpa ingin mengusik kehadiran berbagai tipe pemimpin 3 '
yang pernah dilahirkan pada saat tercetusnya revolusi nasional
di tingkat lokal, maka ada baiknya disinggung juga secara sepintas pribadi Djohan Sjahruzah dalam makalah ini sebagaimana
yang diuraikan oleh Kwee Thiam Hong: Djohan Sjahruzah dilahirkan di Muara Enim. tanggal 26 Nopember 1912. ayahnya
adalah seorang geolog yang sering berpindah tempat tinggal.
Memasuki sekolah menengah Djohan lebih banyak diasuh oleh
ibunya dari pada ayahnya yang banyak bertugas di lapangan minyak. Saat berusia 15 tahun dia berhasil menyusup dalam suatu
rapat yang khusus untuk orang-orang yang berusia 17 tahun saat
112
tenadi rapat Perserikatan Nasional Indonesia. Sejak itu ia besar
perhatiannya terhadap pergerakan nasional, la seorang kutu
buku dan buku vang paling disenangi adalah cerita-cerita detektif. Pertengahan tahun 1928 Djohan kembali ke Palembang
untuk myneruskan pelajaran ke kias tiga MULO. Sebelum keberangkatan sempat mendirikan perhimpunan yang disebut
Jong Asia. Perhimpunan ini tak bisa lama namun cita-cita yang
dikandung olehnya pada jaman revolusi terealisir dengan lahirnya kongres Pemuda Asia di Hotel Merdeka Yogyakarta pada
tanggal b Oktober 1946. Tercetus resolusi membentuk lembaga
persatuan pemuda-pemuda Asia. Setamatnya dari MULO Palembang ia kembali ke Jakarta untuk meneruskan sekolahnya
ke AMS B Perhatian politiknya semakin berkembang setelah
tamat dan AMS dia masuk ke perguruan tinggi hukum yang lazim disebut Recht Hooge School. Sebagai mahasiswa ia termasuk angeota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
Tulisannva vang mengritik pemerintah berakibat bagi dirinya,
dihadapkan'ke meja hijau. Vonis penjara dr.atuhkan kepada
Djohan untuk satu setengah tahun. Dari penjara Jakarta akhirnya ia dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Saat akan
bebas pemerintah kolonial menyodorkan kepada Djohan sepucuk surat pernvataan untuk .ditandatangani . Boleh kuliah
kembali asal tidak berpolitik, jika ingin berpolitik harus keluar
dari sekolah. Djohan memilih yang kedua, memilih berhenti sekolah "Manusia vane tidak punya pendirian dan prinsip ibarat
seekor bunga tak dapat dipercaya". Setelah keluar dan penjara
Sukamiskin. ia bekerja di biro advertensi dan surat kabar
\RTA Berbekal pengalaman dari pekerjaan di pers biro. ia
ikut terlibat mendirikan kantor berita Antara bersama Adam
Malik dan Mr. Soemanang. Saat tentara Jepang datang kantor
berita Antara dibubarkan. Sewaktu Hatta dalam tahun 194_
menjadi pemimpin kantor penasihat pemerinbah balatentara
Jepana Djohan Sjahruzah menjadi salah seorang pembantunya,
di samping bekerja sama dengan Sjahrir mengkoordmir aksi
gerakan bawah tanah.
113
Dan gambaran di atas akan terlihat sikap dan pribadi Djohan hingga berhasil menjadi salah seorang pimpinan golongan
bawah tanah. Menurut D i m y a t r : strategi perjuangannya yang
non-kooperasi dilakukan dengan sistem lima orang. Berkumpul
lima orang tidak akan mencurigakan pihak pemerinbah Belanda
oleh karena menurut peraturan hal itu tidak tergolong dalam
bentuk mengadakan rapat gelap.
Apa yang tertangkap dari gambaran semacam di atas suatu
kepemimpinan yang terlahirkan jelas akan berpengaruh pada latar belakang individu yang bersanqkutan. Apakah diingkari jika
proses kepemimpinan pada diri Djohan lebih ditunjukkan oleh
latar belakang pengalaman dan proses kehidupan di masa yang
lalu° Sejarah mencatat kesemua hal itu dan kembali mencatat
dalam tingkat yang terkecil saat terjadi revolusi nasional.
Bagaimana kata yang tepat untuk tipe kepemimpinannya khususnya pada saat memimpin pemuda-pemuda di lingkungan
minyak0
Faktor keturunankah yang mengakibatkan kehadiran Djohan dan mempengaruhi gerakan pemuda minyak ini menjadi
demikian? Yang jelas masih terbuka kemungkinan untuk melihat masalah ini secara luas. Makalah ini hanya merupakan
studi awal untuk mengantar sebuah pembicaraan yang berkaitan dengan masalah revolusi nasional di tingkat lokal. Sosok itu
terwakili dalam diri Djohan dan diri pemuda-pemrrda minyak
yang memberikan sumbangan dan tak pernah dicatat oleh bukubuku sejarah, dalam setting tertentu atas keunikan-keunikan
yang mengakibatkan terjadinya perbedaan gambaran atas gerakan-gerakan yang dilakukan oleh mereka.
114
CATATAN
1
2.
3.
4
5
6
7.
8
9
Umumnva oranc mengetahui Soekarno. Hatta, Sjahnr. Tan Malaka. Amu Sjarifuddm tetapi jarang yang mengerti Djohan Sjahruzah. la merupakan seorang
tokoh penggerak buruh di kilang minyak dengan pusat gerakan di Surabaya.
MC Ricklefs. A History of Modern Indonesia i London and Basingstoke The
MacmiUan Press. 1981).
Lihat tentang situasi pada jaman pendudukan Jepang, dalam ODP Sihombing.
Pemuda Indonesia menantang fasisme Jepang ("Djakarta Sinar Diaja. 1962)
Sejumlah orang-orang muda dari berbagai daerah, yang kelak ikui memainkan
peranan setelai Proklamasi. Mereka antara lain adalah Soemarsono. Soepradjan Rambee. Djamal Marsudi. Roeslan Widjaja, Dimyati, Abioso. Pardi.
Satn'o Wawancara. 11 Juni 1984. (behau sebagai salah seoraeg penghubung
antar beberapa kelompok pemuda masa awal proklamasi untuk wilayah Jawa
Tengah-Jawa Timun.
Studi vane cukup mendalam tentang golongan ini. lihat pada BR.U O Andersoa Java m a Time of Revolution Occupation and Resistance 1944-1946
(Ithaca Viornell University Press. 1972)
B.M Diah. Angkatan Baru 1945 (Jakarta: P T Masa Merdeka. 1983) halaman
96-9"'iL
, „
Sjahnr dan Diohan Siahruzah merupakan gabungan antar tipe pemikir dan
pelaksana. Sjahnr memberikan analisa situasi politik dan menyatakan bahwa
Jepang pasti'kalah. Djohan Siahruzah merupakan tipe pemimpin yang selama
ini merupakan zenyambung gerakan Tan Malaka. Kumpulan Surat-surat dan
Dimvati (Arsip pribadi i.
Untuk gambaran pnbad, Djohan Sjahruzah, tulisan dari Kweetfuamhong,
yang merupakan gambaran terlengkap yang dapat saya temui untuk studi
yang lebih mendalam tentang diri Djohan Sjahruzah.
115
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
116
Periksa. Kemenangan Aegeri Jepang Atas Rusia, tahun 1905. (Tanpa kota
penerbit tahun 1953).
SF NadeL (Ed) 0 The Theory of Structure (London Routledge dan Kegan
PauL Ltd. 1957) halaman 7-19.
Stanley Alien Reshon (ed ) Handbook of Political Socialization Theory and
Research. (New York The Free Press, 1977) haL 3.
Lihat. Orang R. Young. Syttem of Political Sciences (englewood Cliff N J
Prentice. Hall In,.. 1968). halaman 2-4. (ada empat cara pendekatan dari
ilmu politik, yang pertama: pendekatan terhadap lembaga-lembaga politik
di dalam masyarakat. Yang kedua, pendekatan yang memusatkan pada kekuasaan yang di dalamnya termasuk penggunaan kekuasaan, persaingan dan
perebutan kekuasaan itu sendiri. Ketiga, pendekatan individu melalui pola
interaksi antar individu untuk memahami gejala politik tertentu dari individu yang bersangkutan, keempat, pendekatan vang bertitik tolak dari pembentukan pengalokasian nilai dalam masyarakat, dengan analisa lebih terarah
pada kebijaksanaan. Di dalam makalah ini sav a akan mempergunakan bentuk
vang ketiga).
Kumpulan surat-surat . loc.cU.
Mohammad, wawancara, tanggal 5 Juli 1983. bekas aktivi<, pymuda minyak.
Loenarjo. wawancara, tanggal 2 Jub 1983. bekas aktivis pemuda minyak
Suwarno, wawancara tanggal 11 Nopember 1983 (Ia merupakan seorang
aktivis dari lingkungan Kereta Api).
BROG. Anderson, op.cit. halaman 36-49. (tidak menunjukkan kejelasan
pengertian gerakan bawah tanah, maka keterangan-keterangan yang ada dalam
buku tersebut kiranya masih perlu ditambah dengan sejumlah orang-orang
yang memang benar-benar pada wa:tu itu berada di lingkungan semacam ini)
DjamaL wawancara, tanggal 23 Pebruari 1984 (Menurut analisa beliau kondisi
minyak yang tidak berada di luar Jawa yang dipergznakan oleh Jepang tidak
sebagaimana yang sering digembar-gemborkan, dikuras habis, mengingat terbatasnya tingkat eksploitasi dengan teknologi yang dipergunakan pada waktu
itu).
Kumpulan surat-surat
loc.cit.
Periksa tentang.hal mi dalam Dokumentasi Pemuda Sekitar Proklamasi Indonésie Merdeka (Yogyakarta. 1948). halaman 49-51.
Kumpulan surat-surat...... loc-cit.
Mohammad, wawancara, tanggal 5 Juli 1983.
Terompet, no. 20. tahun I 1946. (Diterbitkan oleh Angkatan Moeda Keretd
Api).
Kumpulan surat-surat
loacit. (hampir sebagian sumber menganggap penstiwa ini dalam bentuk perobekan bendera vakni pada tanggal 19 September
1945 tanpa menunjukkan bahwa bendera tersebut berkibar pada tanggal 18
September 1945.
B.R.O.G. Anderson, op.cit. halaman 129.
Tidak ada satu buku apa pun yang.menyebut tentang hal ini. ternyata pengungkapan fakta dapat juga dilakukan melalui surat-surat dari informan yang
sempat dihubungi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa menggali ingatan para
28.
29.
30
3L
32.
pelaku harus disertai dengan fakta-fakta yang pemah dikemukakan oleh penulis buku.
Periksa untuk hal ini dalam Republik Indonesia Propinsi Djawa Tengah (Semarang Djawatan Penerangan R.l 1953) halaman 234-235.
Periksa. Kepartaian di Indonesia (Djakarta Kementenan Pynerangan Republik Indonesia. 1951) halaman 298. (menyybutkan bahwa Djohan Sjahruzah
menjadi orang penting di lingkungan Partai Sosialis Indonesia khususnya dalam poht biro sebagai anggota)
Satrio, wawancara tanggal 1 Juni 1984.
Sartono Kartodirdjo. (penyunting). Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial
(Jakarta LP3ES 1984) halaman VII.
Kumpulan surat-surat
loccit.
117
DAFTAR PUSTAKA
Anderson. Brog. Java in a Time of Revolution Occupation
and Resistance. 1944-1946. Ithaca Cornell University
Press 1972.
B.M Diah. Angkatan Baru 194S Jakarta: PT. Masa Merdeka.
1983.
Dokumentasi Pemuda Sekitar Proklamasi Indonesia Merdeka.
Yogyakarta. 1948.
"Kemenanqan Negeri Jepang atas Roesia. tahun 1905"' Madjalah, tanpa kota penerbih 1953.
Kumpulan surat-surat dari Dimyati (Arsip pribadi).
Kepartaian di Indonesia. Djakarta: Kementerian Peneranqan
Republik
Indonesia.
1951.
Madjalah Terompet, no. 20. tahun I. 1946.
Nadel. S F (ed). The Theory of Structure. London Routledge
dan Kegan Paul. Ltd. 1957.
O.D P Sihombing. Pemuda Indonesia Menentang Fasisme DjePang. Djakarta: Sinar Djaja. 1962.
118
Republik Indonesia Propinsi Djawa Tengali. Semarang Djawatan Peneranqan Republik Indonesia. 1953.
Reshon. Stahley Allen, (ed). Handbook of Political Socialization Theory and Research. New York The Free Press.
1971
Ricklefs. M.C. A History of Modern Indonesia. London and
Basingstoke The Macmillan Press. Ltd. 1981.
Sartono Kartodirdjo. (Penyunting). Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, Jakarta LP3ES. 1984.
Young. Oran R. System of Political Sacnce,. Englewood Clifl
N J. Prentice-Hall. Inc. 1968.
119
KAUM ADAT DAN REVOLUSI
DEWAN PERWAKILAN NEGERI DI AWAL PROKLAMASI
(Oleh: J.R. Chaniago)
Pendahuluan
Ketentuan adat Minangkabau mengakui keluarga (Ibu.
anak. mamak) sebagai kesatuan terkecil. Tingkat yang lebih luas
disebut paruik (perut atau anggota keluarga yang dianggap seperut) antara lain satu nenek yang sama dari garis ibu. Walaupun keluarga dianggap sebagai kesatuan terkecil, namun konsep
keluarga batih tidak dapat ditrapkan secara tepat dalam masyarakat Minangkabau yang menganut garis matrilinial.
Di atas paruik dikenal istilah sejangka (sejengkal) dan
saeto (sehasta) Keseluruhan itu bernaung di bawah suku, dengan seorang penghulu (datuk) sebagai pimpinannya.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau lama beberapa
suku (sebanyak-banyaknya sembilan suku) membentuk kesatuan
120
sosial yang lebih besar yang disebut sebagai negeri. Pada bentuk
kesatuan pemukiman yang lain yang lebih kecil dari negeri disebut kampung atau jorong. Seringkah jorong'kampung ini
memisahkan paruik dengan sukunya dalam kehidupan seharihari.
Beberapa negeri (seringkali masih memiliki ikatan adat)
membentuk kesatuan yang lebih besar yang disebut luhak
Singkatnya masyarakat Minangkabau lama mengenal keluarga,
paruik. suku. negeri dan luhak.
Satu wilayah dianggap berada dalam kesatuan satu negeri
apabila memenuhi tujuh syarat adat.1 '
1.
Memiliki wilayah dan batas-bata^- yang jelas dengan daerah
sekelilingnya.
2.
Memiliki pemukiman tempat tinggal dan pasar sendiri:
3.
Meuiliki kampung-kampung yang satu sama lain dari anggotanya diikat oleh tali adat:
4.
Memiliki tempat pemakaman sendiri:
5.
Memiliki areal sawah dan ladang tertentu:
6.
Memiliki jalan-jalan kampung dan tempat tertentu untuk
mandi:
7.
Memiliki balairung (semacam rumah adat yang dipergunakan untuk bermusyawarah dan mengadili anggotanya)
dan mesjid tempat beribadah.
Musyawarah dimulai dari tingkat keluarga. Seringkali diteruskan ke tingkat paruik. suku. dan negeri. Kebiasaan ini berakar sangat kuat dalam masyarakat. Walaupun pemerintah kolonial Belanda kemudian mencoba memperkenalkan bentukbentuk baru. namun dasar dan kebiasaan ini terus dipertahankan.
Belanda berhasil campur tangan dalam berbagai kehidupan
masyarakat Minangkabau dengan memanfaatkan perpecahan
121
antara kaum adat dengan kaum agama. Keikutsertaan Belanda
yang lebih kentara dalam kehidupan negeri dan adat terlihat
setelah dikeluarkannya Plakat Panjang. 2 ' Dalam masa ini Belanda berhasil mempergunakan sebagian kaum adat di setiap
negeri sebagai alat untuk menguasai negeri yang bersangkutan.
Karena itu Plakat Panjang sebetulnya tidak lebih dari satu cara
Belanda untuk menumbuhkan semacam aristokrasi di Sumatera
Barat. Dan' penghulu-penghulu yang setia kepada mereka.
Belanda berhasil menguasai pemerintahan yang paling bawah
melalui tangan-tangan aristokrat ciptaan mereka ini. Belanda
memperkenalkan Kelarasan sebagai aparat yang mengkoordinasi
negeri-negeri. Tetapi pada tahun 1914 Kelarasan itu diganti lagi
dengan Kedemangan (districtshoofd).
Belanda mengadakan seleksi tertentu terhadap para penghulu. Bagi penghulu yang dianggap pandai dan patuh diangkat
menjadi Demang atau asisten demang.
Kekuasaan negeri dipusatkan pada Kerapatan Nygeri. \ang
anggota-anggotanya sebagian besar adalah para penghulu adat.
Semua anggota kerapatan negeri ini memperoleh pengangkatan
(besluit) dari pemerintah Belanda. Dengan pengangkatan itu
Belanda bukan hanya berhasil menguasai kerapatan negeri, juga
berhasil menjadikan para penghulu ini menjadi pemungut pajak
(belasting) untuk kepentingan pemerintah 3 )
Dewan Kerapatan Negeri Buatan Belanda
Beberapa tahun menjelang mendaratnya tentara Jepang di
Indonesia Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Inland sehe
Gemeente Ordonnantie Buitengewesten (1GOB) atau ketentuan-ketentuan umum mengenai pengaturan dan penyelenggaraan
urusan rumah tangga negeri-negeri ditanah seberang. 4) IGOB ini
terdiri dari 1 8 pasal. Ketentuan ini mengakui bahwa susunan
dan hak-hak satu negeri ditentukan menurut ketentuan hukum
adat.
122
Pemerintahan negeri dijalankan oleh seorang Kepala Negeri
dan didampingi sebuah dewan negeri yang disebut sebagai Dewan Kerapatan Negeri. Kepala Negeri adalah ketua Dewan Kerapatan Negeri. Ia memegang pimpinan sehari-hari dan melaksanakan keputusan-keputusan yang dibuat dewan. Karena susunan
dan hak-hak dewan ini ditentukan menurut hukum adat. maka
susunan keanggotaannya sebagian besar berasal dari kepala suku
atau para penghulu yang ada dalam satu negeri. Anggota-anggota yang lain ditunjuk dari mereka yang dianggap cerdik pandai, alim ulama dan ninik mamak.
Jabatan penghulu biasanya turun temurun. Karena itu para
penghulu vang duduk dalam Dewan Kerapatan Negeri juga turun temurun. Metfeka tidak mempunyai periode masa jabatan.
Para penghulu vang duduk dalam dewan ini memperoleh pengangkatan (besluit) dari pemerintah. Secara teoritis Belanda dapat mengganti anggota dewan, walaupun penggantinya adalah
dari keturunan penghulu itu juga. Karena itu anggota dewan kerapatan negeri tidak lain adalah orang-orang >ang dapat diterima
pemerintah.
Menurut 1GOB peraturan-peraturan negeri ditentukan oleh
Dewan Kerapatan Negeri. Namun peraturan seperti itu baru dianggap memiliki kekuatan hukum apabila telah didaftarkan dan
disahkan pemerintah. Keputusan-keputusan dewan yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah dengan sendirinya
akan dibatalkan. Dengan demikian, di permukaan bentuk musyawarah dan keputusan vang diambil berdasarkan ketentuan
adat. tetapi di dalamnya yang berlaku adalah keinginan pemerintah.
Masalah vane diurus Dewan Kerapatan Negeri bukan hanya
soal adat. luga masalah pemerintahan negeri: walaupun keputusan-keputusan mengenai pemerintahan negeri sangat tergantung pada kebijaksanaan yang dilaksanakan Kepala Negeri.
Situasi Dewan Kerapatan Negeri ini berjalan sampai pecahnya Perang Pasifik. Kehadiran Jepang di Sumatra Barat.
123
mengubah nama dewan itu menjadi Son-hoko-kai.5 * Dan nama
kepala Negeri menjadi Son-cu. Tugas Son-hoko-kai tidak lebih
dari sebuah alat penggerak tenaga rakyat, baik untuk tujuan
gotong-royong atau kerja paksa, pengumpulan padi dan sayursayuran, atau mencari tenaga untuk mengangkut peralatan
militer.
Proklamasi dan Dewan Perwakilan Negeri ( DPN )
Proklamasi kemerdekaan RI mengubah bentuk, susunan dan
sifat Dewan Kerapatan Negeri Son-hoko-kai. Hal itu disebabkan
karena adanya ketentuan dan petunjuk-petunjuk baru mengenai
bentuk perwakilan rakyat di tingkat desa yang ditetapkan oleh
pemerintah.
Salah satu alat perlengkapan negara yang ditentukan oleh
Aturan Peralihan UUD 1945 adalah Komite Nasional. Proses
realisasinya sudah dimulai ketika berlangsungnya sidang-sidang
PPKI. Komite Nasional kemudian dibentuk dengan nama Komite Nasional Indonesia Pusat (KNTPi dan diresmikan Presiden
RI di Jakarta pada tanggal 29 Agustus 1945. Fungsi KNIP adalah : 6 )
1.
Komite Nasional dibentuk di seluruh Indonesia dengan pusatnya di Jakarta:
2.
Komite Nasional adalah penjelmaan kebulatan tujuan dan
cita-cita Bangsa Indonesia untuk menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia yang berdasarkan kedaulatan rakyat:
3.
Usaha Komite Nasional ialah :
a. Menyatakan keinginan rakyat Indonesia untuk hidup
sebagai bangsa yang merdeka:
b. Mempersatukan rakyat dari segala lapisan dan jabatan,
supaya terpadu pada segala tempat di seluruh Indonesia,
persatuan kebangsaan yang bulat dan erat:
124
c. Membantu menenteramkan rakyat dan turut menjaga
keselamatan umum:
d. Membantu pemimpin dalam menyelenggarakan cita-cita
bangsa Indonesia dan di daerah membantu Pemerintah
Daerah untuk kesejahteraan umum:
4.
Komite Nasional di pusat memimpin dan memberi petunjuk kepada komite-komite nasional di daerah.
5.
Komite Nasional di pusat, di pusat daerah dan di daerah
dipimpin oleh seorang ketua dan beberapa orang anggota
pengurus, yang bertanggung)awab kepada Komite Nasional. Buat pertama kalinya Ketua Pusat Daerah ditetapkan
oleh Pemimpin Besar Presiden Sukarno.
Sesuai dengan Pasal IV dan Aturan Peralihan UUD 1945
maka KNIP berfungsi sebagai pembantu presiden dan di daerah
sebagai pembantu Pemerintah Daerah. Situasi berikutnya menghendaki agar fungsi tersebut .diubah, yang semula pembantu
presiden kemudian menjadi badan legislatif, yakni satu lembaga
tersendiri di samping presiden.7} Keinginan tersebut terwujud
dalam sidang Pleno KNIP di Jakarta tanggal \b 1" Oktober
1945. KNIP dijadikan sebagai lembaga legislatif. Sebagai pelaksana sehari-hari dibentuk sebuah Badan Pekerja KNIP yang beranggotakan 15 oraeg. Badan Pekerja ini diketuai oleh Sutan
Sjahrir.
Produk pertama dan Badan Pekerja KNIP berbentuk
Undang-undang adalah Undang-undang No. 1 Tahun 1945
tanggal 23 Nopember 1945. berisi tentang Komite Nasional
Daerah.8 > Komite Nasional Daerah diadakan di keresidenan . di
kota berotonomi, kabupaten, dan lain-lain daerah yang dianggap perlu oleh Menteri Dalam Negeri. Komite Nasional Daerah
menjadi Badan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersama-sama
dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah menjalankan pekerjaan mengatur rumah tangga daerahnya, asal tidak bertentangan
dengan peraturan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
125
yang lebih luas dari padanya. Komite Nasional Daerah memilih
beberapa orang, sebanyak-banyaknya 5 orang sebagai Badan Eksekutif yang bersama-sama dengar dan dipimpin oleh Kepala
Daerah menjalankan Pemerintahan sehari-hari dalam daerah itu.
Dengan ketentuan tersebut berarti bahwa Komite Nasional
Daerah diketuai oleh Kepala Daerah. Mengenai car., untuk
merekrut keanggotaannya tidak disebutkan secara jelas. Dengan
demikiar. diserahkan kepada kebijaksanaan daerah masingmasing.
Di Sumatra Barat Komite Nasional Daerah dibentuk pada
tanggal 31 Agustus 1945. 9> Di tingkat Luhak kabupaten dibentuk KN1 Cabang, dan di setiap negeri dibentuk KNI Ranting.
Antara tahun 1945-1 Q 4S KNL Sumatra Barat telah mengadakan sepuluh kali sidang pleno. Salah satu rapat plenonya
yang sangat relevan untuk uraian ini adalah rapat pleno kelima
yang diadakan tanggal 16 18 Maret 1946. Dalam rapat pleno
tersebut diputuskan untuk membentuk tiga tingkatan dewandewan perwakilan rakyat. Tingkat pertama adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatra Barat, kedua Dewan Perwakilan Kota. dan Dewan Perwakilan Negeri (DPNJ di setiap negeri
di seluruh Sumatra Barat. 1 0 ) Guna menyusun rencana peraturan rumah tangga dan cara pemilihan dewan tersebut dibentuk sebuah panitia terdiri dari: Adinegoro. Djamin Dt. Bagindo.
A. Gafar Djambek. Anwar St. Saidi. Iskandar Tedjasukmana.
Aziszhan. dan Basjrah Lubis. 1} '
Putusan sidang pleno kelima KNI daerah Sumatra Barat
ini mendapat sambutan dari masyarakat. Hal itu antara lain
karena rakyat di setiap negeri akan memperoleh wadah untuk
menyumbangkan pikirannya dalam pemerintahan negeri, sesuatu hal yang tidak mungkin dicapai dengan komposisi yang
ditetapkan IGOB.
Salah satu gagasan yang terikut dalam keputusan KNI
Sumatra Barat itu adalah sifat keterbukaan dari keanggotaan
DPN asal terpilih dalam pemilihan yang diadakan untuk keper126
luan itu. Sifat keanggotaan yang terbuka ini tentu saja mengingkari hak-hak khusus para penghulu adat. Jika memakai
IGOB para penghulu otomatis akan menjadi anggota Dewan
Kerapatan Negeri. Tetapi jika memakai ukuran keputusan pleno
KNI daerah, seorang penghulu belum tentu akan duduk menjadi
anggota Dewan Perwakilan Negeri (DPN). Karena itulah reaksi
pertama terhadap putusan sidang pleno KNI daerah ini datang
dari para pemangku adat.
Para penghulu atau yang sering juga disebut sebagai ninik
mamak yang tergabung dalam Majelis Tinggi Kerapatan Adat
Alam Minangkabau (M T.K.A.A.M i dalam kongresnya tanggal
15 April 1946 menolak keputusan KNI Sumatra Barat tersebut. 12 ' Alasan yang dikemukakan adalah bahwa Dewan Kerapatan Negeri (>ang berdasarkan IGOB) sudah bersifat dan menjamin kedaulatan rakyat Jika Dewan yang lama ingin disempurnakan, bisa dilakukan dengar, menambah anggota-anggotanya vang diambil dan kekuatan-kekuatan yang hidup di kalangan masvarakat. Dengan kata lain Dewan Kerapatan Negeri
tidak perlu diubah menjadi Dewan Perwakilan Negeri (DPN).
Mosi MTKAAM ini ditolak dengan tegas oleh Residen Sumatra Barat. Dr. M Djamil. 13 ' Menurut Residen Dewan Kerapatan Negeri belum menjamin kedaulatan rakyat seperti yang
dituntut oleh perjuangan kemerdekaan. Lagi pula DPN hanya
akan membatasi diri pada persoalan yang menyangkut pemerintahan. Sedangkan persoalan adat akan tetap ditanggulangi oleh
para pemangku adat.
Dengan jawaban yang tegas itu berarti bahwa Pemerintah
terikat dengan keputusan sidang pleno KNI Sumatra Barat. Dan
dengan demikian pula akan melaksanakan konsep yang bakal
dihasilkan panitia yang ditugaskan untuk menyusun rencana
rumah tangga dan cara pemilihan DPN.
Dari penjelasan tersebut terlihat ada dua pola pemikiran
pemimpin masyarakat tentang cara bagaimana mengatur partisipasi masyarakat dalam revolusi Kaum adat berpendapat
127
bahwa Dewan Kerapatan Negeri yang berdasarkan IGOB bisa
saja disempurnakan dengan suasana revolusi. Dengan kata lain
kekurangan-kekurangan pada wadah Dewan Kerapatan Negeri
dapat diisi dengan keinginan-kenginan baru. Suasana revolusioner memang seringkali memunculkan tokoh-tokoh dan kaum
muda yang militan. Kaum adat menginginkan mereka-mereka
yang termasuk dalam kategori itu masuk dalam wadah Dewan
Kerapatan Negeri.
Sebaliknya KNI daerah dan Pemerintah Daerah sebagai
motor dan pengendali revolusi di tingkat lokal menginginkan
bukan hanya suasana bani dalam Dewan Kerapatan Negeri,
tetapi wadah yang baru sama sekali. Dalam hal ini Proklamasi
diartikan lebagai terhentinya tata hukum kolonial dan mulainya tatanan hukum nasional. Karena Dewan Kerapatan Negeri
merupakan produk tata hukum kolonial, para pendukung revolusi meminta keabsahannya Bagi mereka tidak soal apakah
orang yang sama ikut bergabung, asal meninggalkan baju yang
lama dan menggantinya dengan baju yang baru. Masalah yang
dipentingkan adalah perlunya wadah baru dengan suasana yang
baru pula. bukan wadah lama dengan suasana baru. Suasana revolusi memang menuntut demikian. Dan pimpinan Pemerintahan Sumatera Barat saat itu berhasil secara jernih menangkap keinginan tersebut. Sikap mereka yang secara tegas menolak mosi
MTKAAM adalah perwujudan dari realisasi keinginan revolusi.
Karena itu ketika panitia penyusun rencana DPN menelorkan
hasilnya. Pemerintah dengan segera merealisasinya.
Hasil kerja panitia tersebut tertuang dalam dua Maklumat
Residen Sumatra Barat tanggal 21 Mei 1946. 1 4 ' Maklumat
pertama tentang Peraturan Dewan Perwakilan Negeri (DPN)
dalam daerah Sumatra Barat. Dan Maklumat kedua tentang
tata cara pemilihan anggota Dewan Perwakilan Negeri.
Menurut ketentuan Maklumat pertama, pimpinan pemerintahan negeri terdiri dari :
1.
128
Dewan Perwakilan Negeri (DPN)
2.
3.
Dewan Harian Negeri (DHN)
Wali Negeri (WN)
Anggota DPN dipilih oleh warga negara yang bertempat
tinggal di suatu negeri. Mereka yang berhak dipilih adalah calon
yang telah berumur 25 tahun dan tidak hilang hak memilih dan
dipilihnya, tidak buta huruf, dan mencukupi syarat kepatuhan.
umum untuk menjadi wakil rakyat. Jumlah anggota DPN diatur
berdasarkan jumlahnya penduduk, yakni setiap 1000 penduduk
memperoleh 9 orang wakil. Dan setiap melebihi 250-500 memperoleh tambahan satu wakil. Jumlah keseluruhan anggota DPN
tidak melebihi 22 orang.
Masa jabatan anggota DPN adalah satu tahun, dimulai sejak
1 Juli 1946. Masa jabatan ini bisa diperpanjang atas permintaan
Dewan Perwakilan Daerah Sumatra Barat. Sekurang-kurangnya
sekali dalam 6 bulan DPN bersidang. Sidang lainnya dapat diadakan atas permintaan ketua atau atas permintaan seperempat
anggota. Wali Negeri menjadi Ketua DPN dan sekaligus ketua
DHN.
Anggota DHN dipilih dari anggota DPN. Jumlah anggota
DHN antara 3 sampai dengan 5 orang. Dewan Perwakilan Negeri
bersama-sama dan dengan dipimpin oleh Wali Negeri menjalankan pekerjaan mengatur rumah tangga negeri. Dewan Harian
Negeri menjalankan putusan-putusan Dewan Perwakilan Negeri
dan menyelenggarakan pemerintahan sehari-hari di bawah pimpinan Wali Negeri.
Tata cara penyelenggaraan pemilihan DPN diatur oleh KNI
ranting. Jumlah anggota DPN dan penyeleksian calon, serta
tanggal pemilihan ditentukan oleh suatu panitia yang dibentuk
oleh KNI ranting. Ketua KNI ranting nantinya akan menjadi
wakil ketua dari Dewan Perwakilan Negeri.
Dengan keluarnya kedua Maklumat Residen Sumatra Barat
tersebut maka sekitar lima ratus negeri yang ada saat itu segera
memasuki babak baru dalam proses demokratisasi kehidupan
bernegara di tingkat yang paling bawah. 15} Demokratisasi se129
macam ini bukan hanya dikehendaki oleh revolusi Indonesia,
lebih-lebih oleh kekuatan politik yang berkuasa saat itu di tingkat pusat. Revolusi Indonesia menurut mereka "kalau dilihat
dari luar negeri merupakan revolusi nasional, tetapi apabila dikaji dari dalam merupakan revolusi sosial" 1 6 ) Pemikiran semacam ini bukan hanya hidup pada sebagian elite politik di
Jawa saat itu. tetapi juga menjalar ke daerah, antara lain ke
Sumatra Barat.
DPN Sumani
Salah satu negeri dari sekian ratus negeri di Sumatra Barat
yang melaksanakan pemilihan DPN adalah Negeri Sumani.
Negeri ini berada sekitar 7 Km dari kota Solok arah ke utara.
Saat ini merupakan wilayah dari Kecamatan X Koto Singkarak.
Kabupaten Solok.
Negeri Sumani terletak pada wilayah yang strategis, sekitar 200 M di atas permukaan laut. beriklim sejuk, dan merupakan hamparan dataran yang di kiri kanannya diapit oleh Bukit
Barisan. Sebelah utara berbatasan dengan Danau Singkarak. Sebelah Selatan dengan Negeri Tanjung Bingkung. yakni negeri
yang berbatasan langsung dengan Kotamadya Solok sekarang ini.
Sumani memiliki areal sekitar 14 Km2 memanjang jalan
raya Trans Sumatra dan dibelah oleh Sungai Batang Lembang
yang bermuara ke Danau Singkarak. Negeri Sumani terletak
pada simpang empat yang menghubungkan negeri-negeri sekitarnya dengan jalan raya Trans Sumatra. Negeri-negeri tersebut
adalah Aripan. Tanjung Balit disisi timur. Koto Sani di sebelah
barat, dan Saningbakar di utara.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda Negeri Sumani
merupakan bagian dari Onder districtshoofd (asisten demang)
Singkarak. Sedangkan demangnya berkedudukan di Solok.
Residen Sumatra Barat berkedudukan di Padang.
Menurut sensus penduduk tahun 1930 tercatat bahwa
penduduk Sumatra Barat berjumlah 1.919.109 orang. 1 7 ) Dari
130
jumlah tersebut penduduk Solok tercatat: bumi putera 5.894
orang, Eropa 50 orang, Cina 215 orang, dan Timur Asing 55
orang. Tidak diketemukan data.yang jelas mengenai penduduk
Sumani baik pada waktu sensus 1930 maupun pada tahun
1945. Salah seorang Wali Negeri pada masa revolusi memperkirakan penduduk Sumani masa itu sekitar 1500 orang
Dapat dipastikan bahwa seluruh penduduk Sumani beragama Islam. Hal itu tergambar dari hampir setiap kampung memiliki mesjid sendiri dengan sejumlah surau tempat mengaji.
Perekonomian Sumani bersifat agraris, terlihat dari produksi padi dan palawija. Di samping itu fungsi perdagangannya juga menonjol, antara lain karena letaknya di perempatan
negeri-negeri sekitarnya. Pasar Sumani bukan hanya merupakan
wadah jual beli bagi warga Sumani. juga sekaligus menampung
negeri-negeri sekitarnya. Karena itu seringkali Sumani justru
lebih penting daripada pusat pemerintahan asisten demangnya
atau yang sekarang menjadi ibukota Kecamatan Singkarak.
Ketika negeri di Minangkabau diatur oleh IGOB. negeri
Sumani memiliki beberapa jorong, yakni :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Simpang-Kapuh:
Sumagek Bandaliko:
Balaimansiang:
Kajang-Sikumbang:
Koto Pinyangek:
Guci-Kotobaru:
Ranah.
Setiap jorong dipimpin oleh Kepala Jorong yang dipilih
langsung oleh rakyat. Jorong tidak memiliki dewan kerapatan
sendiri, tetapi bergabung dalam dewan kerapatan negeri. Menurut adat penduduk yang berdiam dari satu jorong atau berada
dalam sukunya masing-masing. Karena itu dalam dewan kerapatan negeri mereka diwakili melalui penghulu mereka masingmasing.
131
Suku-suku yang ada di Sumani adalah Sumagek-Bandaliko. Balaimansiang. Malayu. Koto Sikumbang. Guci. dan Panyalai. 19) Satu suku adakalanya memiliki lebih dari satu orang
penghulu. Beberapa contoh misalnya: dalam suku SumagekBandaliko ada penghulu bergelar Dt. Majolelo. Dt. Rajo Bagaga.
dan Dt. Rajo Mangkuto. Begitu juga dalam suku Sikumbang
ada Dt. Tumanggung. Dt. Rajolelo. Dt. Putih, begitulah seterusnya. Sehingga ketika Dewan Kerapatan Negeri Sumani dibentuk
jumlah anggotanya adalah 63 orang. 2 0 ) Dari jumlah tersebut
kelihatan bahwa jabatan penghulu menjadi sangat penting.
Sehingga keluarga tertentu berusaha membentuk penghulu
sendiri, atau yang biasa disebut sebagai batagak penghulu.
Walaupun jumlah anggota kerapatan adat bukan hanya penghulu, tetapi dapat dipastikan jumlah mereka menjadi mayoritas.
Lenggek Dt. Panduko Sati adalah Wali Negeri yang dipilih
melalui Dewan Kerapatan Negeri Sumani. Jabatan ini terus dipegangnya pada zaman Jepang, walaupun istilah Wali Negeri
diganti dengan Son-co. Hampir semua anggota Dewan Kerapatan Negeri kemudian memilih menjadi anggota Son-ho-ko-kai.
Sejalan dengan itu fungsi mereka juga berubah menjadi alat
tentara Jepang, seperti sebagai pengumpul padi. sayur-sayuran,
atau mencari tenaga kasar untuk keperluan perang. Situasi
ini bertahan sampai Proklamasi.
Letak Sumani yang dilalui oleh jalan raya Sumatra, membantu mempercepat berita Proklamasi sampai ke wilayah ini.
Dan ketika KNI dibentuk di berbagai tingkatan di Sumatera
Barat. Sumani segera membentuk KNI ranting di bawah Bermawi Dt. Majolelo. Tokoh muda yang kebetulan keturunan
penghulu ini dapat mynguasai keadaan dan diterima banyak
pihak dalam masyarakat.
Seperti juga di banyak tempat di Sumatra Barat. Bermawi
juga berhasil mengorganisasi para pemuda untuk mempengaruhi
masyarakat agar membela Proklamasi.
Jumlah anggota KNI ranting Sumani tidak ditetapkan
132
jumlahnya. Siapa saja yang merasa dirinya revolusioner dapat
hadir di setiap rapat yang diadakan KNI. Aktivitas mereka menyebabkan Son-ho-ko-kai tidak lagi populer di mata masyarakat. Bahkan seperti juga Dewan Kerapatan Negeri. Son-ho-kokai menghilang secara diam-diam. Sebagian dari bekas anggota
kedua badan ini menyesuaikan diri dengan keadaan, dan mulai
hadir dalam rapat-rapat yang diadakan oleh KNI Sumani.
Ketika Maklumat Residen Sumatera Barat sampai ke wilayah ini. KNI ranting Sumani segera melaksanakannya. Secara
kebetulan. Bermawi dalam fungsinya sebagai ketua KNI sering
mengikuti rapat-rapat umum yang diadakan pemerintah, baik
di kota Solok maupun di Padangpanjang. Dalam rapat-rapat
seperti itu Bermawi memperoleh informasi bahwa perlunya
DPN selain mengatur partisipasi masyarakat dalam revolusi juga
untuk memberi kesempatan kepada tenaga-tenaga muda yang
revolusioner untuk menyumbangkan pemikirannya kepada negerinya masing-masing. 21 ' Maklumat Residen tersebut pada
mulanya memang sangat ditentang oleh sebagian penghulu yang
ikut dalam rapat-rapat KNI. Namun Bermawi berhasil meyakinkan mereka, sehingga tidak diketemukan hambatan yang berarti.
Pertama-tama penjelasan ditujukan tentang kenapa TPN
perlu dan kenapa Dewan Kerapatan Negeri harus diubahi dengan DPN. Kedua tentang siapa yang bisa menjadi anggota DPN
Dan terakhir tentang tata-cara pemilihan.
Dari ketiga masalah tersebut yang paling berat menurut
Bermawi adalah masalah pertama dan kedua. 2 2 ) Satu hal yang
menguntungkan adalah karena sebagian besar para ninik mamak
dan penghulu pernah memperoleh pendidikan pada pusat pendidikan agama tertentu di berbagai tempat di Sumatera Barat. Ketua KNI Sumani menjelaskan bahwa sebagai akibat dari kemajuan pendidikan, maka banyak anak muda terdidik yang terdapat dalam negeri Sumani. Mereka itu aktif dalam revolusi. Dan
karena itu pula mereka harus diberi tempat dalam wadah DPN.
133
Lagi pula DPN itu samasekali tidak akan mengecilkan peranan para pemangku adat. Masalah adat tetap menjadi wewenang para penghulu. DPN membatasi diri pada masalah pemerintahan saja Penjelasan ini dapat diterima para pemangku
adat. Sehingga mereka dapat menerima DPN dan susunan keanggotaannya.
Dari penjelasan singkat di atas kelihatan bahwa keberatankeberatan yang diajukan MTKAAM dalam mosinya pada bulan
April kepada Residen Sumatera Barat, nampaknya cenderung
tidak didukung para penghulu-penghulu di masing-masing negeri. Situasi setempat dan kualitas pimpinan lokal banyak
memberikan warna dalam usaha meyakinkan para pemangku
adat tentang urgensinya DPN.
Jumlah anggota DPN Sumani ditetapkan 22 orang. Jumlah
tersebut tentunya mengambil batas maksimal yang ditentukan
dalam Maklumat Residen. Menurut perbandingan jumlah penduduk Sumani dengan wakil yang bisa dihasilkan, nampaknya
angka 22 merupakan kompromi agar para penghulu bisa banyak
masuk dalam DPN. Hal ini ternyata benar, karena ketika pemilihan diadakan pada bulan Juni 1946 lebih dari separuh kursi
DPN Sumani diisi oleh para pemangku adat. Walaupun begitu
DPN Sumani memang tidak sama dengan Dewan Kerapatan Negeri Sumani yang dibentuk berdasarkan IGOB Manusianya
bisa saja sama. tetapi dengan suasana dan jiwa yang baru. Revolusi, di mana pun tempatnya memang menjanjikan kemungkinan-kemungkinan dan alternatif-alternatif. Salah satu alternatif
itu telah dipilih oleh rakyat Sumani.
134
CATATAN
1.
2.
3.
4.
5.
Pepatah adat Minangkabau menyebutkan :
"Basosok bajurami,
bapandan bapakuburan,
balabuah batapian.
bakarong bakampuang.
barumah batanggo.
basawah baladang.
babalai bamusajik"
Lihat Hakimi. 1978. halaman 54.
Amran. 1981. halaman 591.
Plakat Panjang diumumkan oleh Van den Bosch tanggal 25
Oktober 1833.
Stbl No 677 tanggal 27 September 1918.
Stbl. No. 490 tanggal 3 September 1938, yang sekaligus
mencabut Stbl No. 677 tanggal 27 September 1918.
Strukture pemerintahan di Sumatra Barat ditentukan Residen, asisten Residen, Controleur. Kedemangan. asisten
Demang, dan Negeri.
Bentuk ini merupakan institusi terendah dari lembaga masyarakat yang dibentuk Jepang, mengikuti lembaga-lem135
baga serupa di Jawa. seperti Jawa Ho-ko-kai dan CuoSangi-in.
6. Lihat keputusan PPKI tanggal 22 Agustus 1945 dalam
Raliby. 1953. halaman 16.
Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 berbunyi:
"Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk
menurut Undang-undang Dasar ini. segala kekuasaannya
dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite
Nasional"
7. Chaniago. 1979. halaman 78.
Baca juga Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945.
8. Dokumentasi Republik Indonesia No. 1. 1945. Lihat juga
Sin-Po. XXXVI. No. 2 7 24 Nopember 1945.
9. Seiarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di
Minangkabau. 1978. halaman 143.
10. Republik Indonesia. Propinsi Sumatra Tengah, tt. halaman
114.
11 Ibid.
12. Ibid. halaman 330. Wawancara dengan Amiruddin M S
Jakarta. 19 dan 20 Agustus 1984.
13. Ibid. Wawancara dengan Amiruddin MS Jakarta. 19 dan
20 Agustus 1984.
14. Lihat Maklumt Residen Sumatra Barat No. 20 46 dan
No. 21/46 tangga] 21 Mei 1946.
15. Menurut Negeri Ordonantie 1915. jumlah negeri di Minangkabau adalah 532. Lihat Stbl. 356 1 Mei 1915.
16. Sjahrir. halaman 23. Menurut Mr. Moh. Rasjid penggantian
Wali Negeri dan DPN agar tidak terjadi Revolusi Sosial
Seperti di Sumatra Timur. Keterangan Mr. Moh. Rasjid.
Jakarta. 8 September 1984.
17. Indisch Verslaag, halaman 13. Volkstelling, halaman 19
dan 22.
18. Wawancara dengan Bermawi. Dt. Majolelo. Sumani, 27
Agustus 1984.
136
19. Wawancara dengan Amiruddin M S . Jakarta: Jakarta
dan 20 Agustus 1984.
20. Wawancara dengan Amiruddin M S Jakarta. 19 dan
Agustus 1984.
21. Wawancara deegan Bermawi Dt. Majolelo. Sumani
Agustus 1984.
22. Wawancara dengan Bermawi Dt. Majolelo, Sumani.
Agustus 1984.
19
20
27
27
137
DAFTAR SUMBER
A.
Publikasi Resmi, dan Koran :
1. Antara, 17Pebruari 1947.
Z. Dokumentasi Republik Indonesia. No. 1. 1945. Jakarta Kementerian Penerangan RI 1950.
3. Indisch Verslaag. 1931. Batavia: Departemen Van Economische Zaken.
4. Sin-Po. XXXVI. No. 2". 24 Nopember 1945.
5. Stbl. No. 677 Tanggal 27 September 1918.
6. Stbl. No. 490 Tanggal 3 September 1938.
1. Volkstelling. 1930. IV Batavia: Departemen Van
Economiche Zaken.
B.
Buku-buku :
1. Amran. Rush. Sumatra Barat hingga Plakat Panjang.
Jakarta : Sinar Harapan. 1981.
2. Chaniago. JR. "Wajah Dua Muka Sebuah Kekuatan Politik Badan Pekerja KNTP periode Jakarta" (manuskrip)
3. Hakimy. Idrus. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak
di Minangkabau. Bandung Rosda. 1978.
138
4. Mansoer, M D. dkk. Sedjarah Minangkabau. Jakarta.
Bhratara. 1970.
5. Republik Indonesia. Propinsi Sumatra Tengah. Jakarta
Kementerian Penerangan, tt. [I?5'6J
6. Sjahrir: Perdjoangan Kita. Jakarta. LK1 tt. 23.
7. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di
Minangkabau 1945-1950, Jilid I Jakarta : BPSIM.
1978.
C.
Wawancara :
1. Amiruddin M S , bekas wali negeri Sumani masa revolusi. Jakarta. 19 dan 20 Agustus 1984.
2. Bermawi Dt. Majolelo. bekas Wali Negeri Sumani/Ketua
KNI ranting Sumani. Sumani 27 Agustus 1984.
3. Mr. Moh. Rasjid. bekas Gubernur Militer. Jakarta. 8
September 1984.
139
PERANG KEMERDEKAAN DI SUMATERA UTARA
MOTIVASI UNTUK BERPERANSERTA RAKYAT
(Oleh: Payung Bangun)
Pendahuluan
Suatu hal yang menarik, tetapi sepanjang pengetahuan saya
belum diungkapkan atau setidak-tidaknya belum terungkap sepenuhnya, adalah para penulis atau pengisah sejarah Perang
Kemerdekaan Indonesia pada umumnya memberi gambaran
bahwa tanggapan rakyat atas tuntutan kembalinya kemerdekaan itu menunjukkan spontanitas yang tinggi. Kenyataannya
memang demikian dan pada umumnya adalah spontanitas yang
positif. Sudah barang tentu tidak menjadi sesuatu yang tidak
wajar apabila terdapat pula tanggapan yang negatif baik.yang
bernada sinisme maupun yang berbentuk usaha-usaha kongkrit
yang menentangnya- Namun apabila diambil secara umum.
maka tanggapan yang negatif itu tidak begitu berarti.
Tanggapan-tanggapan yang positif dan spontan itu adalah
dalam wujud (1) penerimaan berita kemerdekaan yang menim140
bulkan kegembiraan dan kelegaan: (2) penyusunan kekuatan
yang akan mempertanyakan kemerdekaan: (3) penyusunan
aparat pemerintah republik: (4) kesediaan berperanserta dari
segenap lapisan dan golongan masyarakat, dan (5) penghapusan semua yang dianggap berbau penjajahan.
Kenyataan-kenyataan yang ditemukan sepanjang Perang
Kemerdekaan tersebut menimbulkan pertanyaan: kekuatan
atau faktor apakah yang menggerakkan rakyat di Sumatera
Utara dalam berperan serta aktip secara menyeluruh dalam
perang itu?
Wujud Peranserta dalam Mempertahankan Kemerdekaan
Peranserta rakyat di Sumatera Utara dalam usaha-usaha
mempertahankan kemerdekaan dapat dilihat dalam dua macam, yaitu peranserta dalam (1) penyusunan kekuatan bersenjata dan perang, dan (2) penyusunan kelengkapan-kelengkapan negara.
Berita telah adanya proklamasi kemerdekaan, meskipun
agak terlambat sampainya, dengan cepat kemudian tersebar
luas di Sumatera Utara. Setelah melewati masa-masa keraguan
untuk sementara waktu, kemudian berita itu tersebar dan sampai kepada rakyat melalui jalur-jalur komunikasi yang ada pada
waktu itu. baik dari mulut ke mulut, melalui rapat atau pertemuan lain maupun melalui media massa lainnya (Team Asistensi
Pangdam II/BB. 1977:57-59). Sudah barang tentu adanya kembali kemerdekaan itu membawa konsekuensi-konsekuensi sesuai
dengan perwujudan kemerdekaan yang tertuang dalam wadah
sebuah negara. Berbeda dengan sebuah negara yang dibentuk
dan kemudian disusul oleh keadaan yang damai, pembentukan
Negara Republik Indonesia segera dibayangi oleh konsekuensikonsekuensi terancam oleh kekuatan dan usaha pengembalian
kekuasaan kolonial. Usaha dan kekuatan tersebut terutama se141
kali berasal dari luas. yaitu dari pihak Belanda sendiri, dan yang
mendapat dukungan dan dalam, yaitu dan pihak sebagian
orang Indonesia. Di Sumatera Utara, misalnya, segera setelah
adanya kepastian mengenai menyerahnya Jepang, melalui
penerjunan dan udara mendarat di Medan serombongan orang
Belanda d) bau, ah pimpinan Letnan Brondgesst. Kemudian
menyusu] rombongan kedua dari pasukan komando di bawah Letnan Westerling beserta sejumlah senjata yang dimaksudkan sebagai perlengkapan pasukan 'polisi yang akan dibentuk (Reid. 19 7 9:151). Dari pihak Indonesia terdapat gerakan
yang mendukung melalui pembentukan sebuah panitia penerimaan kembali (Comité van ontvangst) yang pada umumnya
terdiri dan para sultan dan raja.
Baik karena telah adanya bahaya dan ancaman yang telah
terlihat maupun oleh karena adanya negara yang baru merdeka
itu. segera kelihatan kesibukan-kesibukan membenahi diri dan
menyusun kelengkapan-kelengkapan yang diperlukan oleh sebuah negara.
Sesuatu yang paling mendesak yang harus dilakukan ialah
pengadaan kekuatan yang dapat diperhadapkan kepada kekuatan bersenjata yang mengancam. Westerling setibanya di
Medan segera menghubungi dan mengkonsolidasikan para anggota KNTL sekalian mempersenjatainya dengan senjata yang diterjunkan bersamanya. Sehubungan dengan itu maka para pemuda Indonesia yang berintikan bekas Heiho. Gyugun dan para
pelajar mengadakan rapat pertemuan di jalan Fuji (sekarang
Hotel Dirga Surya) Medan. Melalui rapat tersebut sebuah
organisasi yang dimaksud untuk menghimpun para pemuda
menjadi kekuatan yang akan mempertahankan negara terhadap
serangan. Organisasi tersebut yang bernama Barisan Pemuda
Indonesia (BPI) kemudian menyebar dengan pembentukan
cabang-cabangnya di daerah-daerah di Sumatera Utara.
Dalam perjalanan sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera Utara, yang di antaranya karena pengaruh dari Maklumat X
142
tentang pembentukan partai-partai politik, kemudian dikenal
satuan-satuan bersenjata yang dianggap sebagai pasukan 'resmi
negara, yaitu Tentera Keamanan Rakyat (yang kemudian berubah nama menjadi Tentera Republik Indonesia) dan pasukanpasukan 'tidak resmi' yaitu lasykar rakyat yang merupakan
pasukan-pasukan bersenjata yang dibentuk oleh partai-partai
politik. Demikianlah sehingga berdiri dan terdapat bermacammacam satuan bersenjata yang menjadi wadah yang menampung peranserta dan rakyat.
Pembenahan kekuasaan pemerintah Republik Indonesia
berjalan sebagian dengan mulus dan sebagian kecil mengalami kesulitan. Kesulitan timbul dari adanya rintangan-rintangan
yang terutama berasal dan usaha-usaha para sultan dan raja-raja
untuk mempertahankan kekuasaannya. Mereka melihat dasar
pemenntahan Republik Indonesia dapat mengancam stabilitas
kelangsungan kekuasaannya.
Di daerah-daerah yang berada di luar jangkauan langsung
dan kesultanan dan kerajaan proses pembenahan dapat berjalan
dengan mudah. Demokratisasi pemerintahan dan penyusunan
struktur dan personalia yang sesuai dengan tuntutan demokrasi
berjalan dengan lancar. Gambaran umum dalam hubungan mi
ialah kecenderungan besar untuk mengganti semua personalia
pemegang kekuasaan dengan tokoh-tokoh yang sesuai dengan
keinginan rakvat. Di mana-mana terjadi pemilihan untuk itu sebagai cara baru yang berbeda dengan apa yang dilakukan untuk
hal yang serupa pada waktu sebelumnya. Hasilnya ialah pengikisan semua yang dianggap berbau kolonial.
Sumber Dorongan Berperanserta
Tanggapan rakvat yang berwujud tindakan setelah tersebar
luasnya Proklamasi Kemerdekaan dan terbentuknya Negara Republik Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan merupakan kunci pembuka katub penutup gejolak-gejolak masya143
rakat yang ada selama kekuasaan penjajahan. Di atas permukaan
selama kekuasaan penjajahan kelihatannya keadaan aman dan
tenteram seakan-akan cita-cita dan idaman rust en orde benarbenar telah tercapai. Namun di bawah permukaan yang kelihatannya aman dan tenteram itu pada hakekatnya hidup dan
bergerak gejolak-gejolak sedemikian rupa sehingga merupakan
sesuatu gejolak yang laten.
Keadaan selama kekuasaan penjajahan yang demikian itu
terutama sekali terjadi setelah perlawanan-perlawanan bersenjata dari rakyat dapat dipadamkan oleh kekuatan militer Belanda,
dan penataan ketatanegaraan yang baru dirampungkan.
Perlawanan-perlawanan rakyat yang terwujud dalam berbagai bentuk pada hakekatnya dapat disimpulkan didasari oleh
dan kemudian tetap menghidupkan semangat anti-penjajahan.
Bentuk perlawanan rakyat yang mula-mula didasari oleh semangat anti penjajahan dalam bentuk khusus anti penanaman modal asing. Seperti yang ternyata dari bagian awal perkenalan
dan hubungan antara Sumatera Utara dengan Belanda pada abad
XLX terutama sekali didasari oleh kepentingan perluasan daerah
operasi modal, yaitu dalam rangka pembukaan perkebunan.
Keberhasilan percobaan Nienhuijs dalam penanaman tembakau
dan tuntutan logis dari Undang-undang Agraria 1870 menempatkan Sumatera Utara, khususnya daerah-daerah kesultanan,
sebagai daerah inceran dari perluasan penanaman modal asing.
Segera setelah keberhasilan percobaan tersebut dengan arus
yang cukup deras masuklah modal asing, seperti kelihatan dari
dibukanya perkebunan-perkebunan dan dibentuknya perserikatan perusahaan perkebunan kembali Deli Maatschapij pada
1869.
Perluasan daerah perkebunan mempunyai akibat pada
tanah garapan rakyat yang pada waktu itu penghidupan seluruhnya hampir tergantung pada pertanian. Selain itu diciptakan hukum baru yang menyatakan para penguasa tradisional (sultan atau raja-raja) sebagai pemilik tanah (Furnivall,
144
1967:179) suatu hukum yang berbeda dengan yang berlaku
selama ini yang menyatakan tanah adalah milik komunal dan
desa. Tindakan perluasan dengan dasar hukum yang baru itu
menimbulkan pertentangan dengan rakyat. Demikianlah penentangan itu berkepanjangan sehingga menimbulkan perlawanan
rakyat terbuka, seperti halnya dengan pecahnya Perang Batak
atau Perang Sunggal pada 1872.
Selain perluasan wilayah yang dengan langsung berhubungan dengan perluasan daerah operasi modal asing. Belanda melakukan pula perluasan wilayah yang terutama dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan politik, khususnya
politik keamanan Tindakan-tindakan seperti itu ditujukan
terhadap penaklukan daerah-daerah di luar operasi perusahaan
perkebunan, seperti yang terjadi di Tapanuli dan Tanah Karo.
Usaha-usaha Belanda dalam penaklukan ini menghadapi perlawanan bersenjata dari rakyat di bawah pimpinan para panglima
dan ahli strategi mereka. Demikianlah terjadi perang perlawanan
selama 30 tahun lebih dan Tapanuli di bawah pimpinan Sisingamangaraja XII dan di Tanah Karo selama beberapa tahun pula
di bawah pimpinan Kiras Bangun.
Seperti halnya dengan peperaygan-peperangan melawan
penanaman kekuasaan penjajahan di bagian lain dari Indonesia,
peperangan-peperangan di Sumatera Utara kemudian berakhir
dengan kemenangan bagi pihak Belanda. Namun berakhirnya
peperangan bukan berarti semua perlawanan ikut pula berakhir.
Perlawanan kemudian berubah cara dan bentuk. Berakhirnya
peperangan di Tapanuli, misalnya setelah tewasnya Sisingamangaraja XII memang menghentikan perlawanan bersenjata.
Namun para pengikut Sisingamangaraja XII yang tetap setia
mengalihkan bentuk perlawanan dengan secara diam-diam
meneruskan cita-cita dan ajaran Silingamangaraja XII. Cita-cita
dan ajaran-ajaran itu dijadikan sebagai pegangan dan sumber
nilai-nilai. Gerakan Sihudamdam (Sidjabat. 1982:330-333)
yang lahir dua puluh tahun setelah berakhirnya perang di Tapa145
nuli adalah gerakan millenarium dari orang Batak yang berlandaskan cita-cita dan nilai-nilai perjuangan tersebut. Demikian
pula halnya dengan berakhirnya Perang Batak atau Perang
Sunggal sebagai perlawanan terbuka berlanjut dalam cara dan
bentuk yang agak tertutup sebagai gerakan Aron. Gerakan
Aron jelas menunjukkan ciri-ciri gerakan petani yang diperkaya
dengan ajaran politik.
Gerakan petani yang diperkaya dengan ajaran politik
(nasionalisme), tetapi berbeda dehgan gerakan Aron yang terutama bersasaran merebut kembali tanah yang diambil oleh
penguasa dan perkebunan, di Tapanuli tersebar gerakan "Tiga
O" yang dipimpin oleh Manullang. Gerakan di Tapanuli ini
mempunyai tujuan perjuangan untuk mencegah masuknya modal asing dengan jalan menguasai semua tanah yang ada. sehingga tidak ada alasan bagi Belanda untuk menyatakan adanya
tanah yang kosong yang dapat dikategorikan sebagai 'tanah tak
bertuan'
Apa yang dapat disimpulkan dari uraian di atas yang menunjukkan adanya kesinambungan perlawanan terbuka berupa
peperangan dengan perlawanan bukan berupa peperangan ialah
bahwa berakhirnya suatu perlawanan terbuka tidak berarti keadaan seluruhnya aman dan damai, tetapi beralih menjadi arus
bawah dari gerakan politik' (Kartodirdjo. 1966 2). Hal ini dapat
terjadi oleh karena setiap perlawanan itu dilihat dan diterima
oleh rakyat adalah perang dan perlawanan mereka sendiri
(Sidjabat. 1982).
Beralihnya perlawanan terbuka berupa peperangan menjadi
gerakan-gerakan millenarium yang menjadi arus bawah atau
gejolak yang laten kemudian bersambut dan bersambung dengan
tersebarnya gerakan-gerakan nasionalisme melalui pembentukan-pembentukan organisasi pergerakan kebangsaan. Gerakangerakan yang bermula di Jawa itu kemudian melalui lembaga
pendidikan, dan kaum terdidik menyebar di Sumatera Utara.
Gerakan-gerakan nasionalisme yang modern itu tidak hanya
terwujud sebagai organisasi politik seperti Partai (Pendi146
dikan) Nasional Indonesia. Gerakan Rakyat Indonesia. Partai
Indonesia dan lain sebagainya. tetapi juga mempengaruhi bidang
kehidupan lain. Di kalangan umat beragama terbentuk organisasi yang bernafaskan nasionalisme, seperti halnya dengan Jamiatul Washlijay di kalangan yang beragama Islam, berdirinya
Hatopan Christen Batak di kalangan yang beragama Kristen.
Semangat anti-penjajahan yang tertanam selama perlawanan-perlawanan semakin bertambah besar dan bertambah dalam
pula dengan adanya usaha Belanda lebih memantapkan kekuasaannya. Setelah secara fisik Sumatera Utara ditundukkan dan dimasukkan ke dalam bagian dari Hindia Belanda kemudian
diadakan penataran struktur agar sepadan dengan struktur kolonial yang mencakup seluruh Indonesia. Model yang dipakai untuk itu sama pula dengan struktur yang berlaku di bagian lain
di Indonesia meskipun istilahnya dapat berbeda. Model tersebut adalah pada bagian atas terdapat kekuasaan Belanda
dan pada bagian bawah terdapat kekuasaan pribumi yang
bagian terbesarnya mengikuti dasar-dasar yang tradisional
Sumatera Utara yang sekarang pada waktu kekuasaan penjajahan terdiri dua keresidenan, yaitu Keresidenan Sumatera
Timur dan Keresidenan Tapanuli. Masing-masing keresidenan
dibagi atas daerah satuan pemerintahan (administrasi) yang lebih kecil yang disebut afdeeling. Kalau keresidenan diperintah
oleh seorang residen, maka afdeeling diperintah oleh seorang
asistent-resident. Pada tingkatan yang lebih rendah, yaitu ketiga, memerintah seorang controleur yang mempunyai wilayah
kekuasaan meliputi onderafdeeling. Ketiga pejabat tersebut
adalah orang-orang Belanda. Di bawah controleur dan memerintah daerah yang menjadi bagian dari onderafdeeling, yang
di beberapa tempat disebut kerajaan. dan di tingkat yang lebih
rendah sampai yang terendah di desa-desa memerintah para pemegang kekuasaan pribumi.
Reorganisasi atau penstrukturan baru dari wilayah dan administrasi tersebut mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang
147
sering berlainan dengan apa yang telah ada terlebih dahulu.
Di Tanah Karo. misalnya, dibentuk satuan-satuan politik (administrasi) yang baru. Daerah itu dibagi atas lima daerah administrasi yang dinamai masing-masing landschap yang sebenarnya
dalam ketatanegaraan Karo tidak dikenal. Meskipun sebelumnya satuan yang serupa telah dibentuk atas pengaruh dan permintaan Kesultanan Aceh. tetapi pada hakekatnya tidak berfungsi. Tindakan seperti itu sudah barang tentu menimbulkan
tanda tanya dan rasa kurang serasi karena dapat mengganggu
rasa kedaulatan dari masing-masing desa. Seperti diketahui
desa-desa Karo sebenarnya merupakan satuan politik yang
tertinggi dan tidak berada di bawah kekuasaan lain yang berada
di luarnya.
Kemudian pemberian semacam gaji berupa 'uang kehormatan' yang tetap dan diberikan setiap bulan kepada para pemegang kekuasaan pribumi pada hakekatnya menjadikan mereka
sebagai alat kekuasaan penjajahan yang diperhadapkan kepada
rakyat dan menuruti serta menjalankan perintah-perintah kekuasaan penjajahan. Hal ini berbeda dengan sumber penghasilan
para penguasa pribumi sebelumnya yang mempunyai sumber
penghasilan dari jasa rakyat dan penghasilan daerahnya. Para
.raja Iperbapaan) di Simalungun, misalnya, menerima hasil pertanian tahunan dalam jumlah yang tertentu (bunga tanah)
atau sebagian hasil hutan (pansongalas atau suhei) di samping
menjadi pemegang monopoli perdagangan candu.
Kedua tindakan pemerintah penjajahan tersebut, yaitu
pembaharuan struktur dan sistem "penggajian" menjadikan timbulnya alienasi para pemegang kekuasaan pribumi dengan
rakyat.
Apa yang telah dilukiskan di muka adalah gambaran yang
menunjukkan adanya pembedaan yang menimbulkan pemisahan
antara rakyat dengan pemegang kekuasaan baik Belanda maupun pribumi. Pemisahan tersebut semakin besar lagi dengan semakin besarnya perbedaan dalam tingkat kehidupan. Dalam
148
hubungan ini konsep dualisme ekonomi dari Booke kiranya
dapat dipakai. Meskipun di beberapa daerah ada usaha-usaha
untuk meninggikan taraf kehidupan rakyat, namun secara
umum perekonomian rakyat yang dijalankan secara tradisional
tidak mampu bersaing atau berjalan bersama beriringan dengan
perekonomian uang dari para pengusaha besar (asing). Kedudukan ekonomi yang sepeni itu kemudian berpengaruh ke
dalam kedudukan sosial yang mempunyai konsekuensi dalam
hak-hak. Kemudahan-kemudahan untuk memperoleh perbaikan kedudukan ekonomi dan kedudukan tinggi lainnya
yang ditentukan secara askriptif.
Dengan demikian, maka dorongan dan keinginan yang
berhubungan dengan mobilitas sosial, khususnya mobilitas
yang vertikal, hampir-hampir tidak mungkin bagi sebagiar,
paling besar dan rakyat. Oleh karena sebagian kecil dapat menikmati hak-hak istimewa (privileges) yang memungkinkannya
memanfaatkan mobilitas sosial yang vertikal dengan segala kenikmatan-kenikmatan yang menyertainya sedang pada pihak
lam dan sebagian yang paling besar tidak dapat, maka struktur masyarakat jajahar di Sumatera Utara berbeda dengar.
struktur masyarakat pra-penjajahar.. Perbedaan itu ialah jauhm a
tingkat kehidupan para pemegang kekuasaan dibandingkan dengan kehidupan rakyat yang sangat rendait Antara para pemegang kekuasaan dengan rakyat terdapat jurang dan kesenjangan
yang sangat besar yang sebelumnya tidak dikenal.
Kalau peperangan-peperangan sebagai akibat dan perluasan kekuasaan penjajahan dan nasionalisme menimbulkan
semangat anti-penjajahan. alienasi pemegang kekuasaan pribumi dengan rakyat menimbulkan semangat anti-alat-penjajahan. Kedua jenis anti tersebut berbaur menjadi satu pada
awal kemerdekaan. Pembauran itu terjadi oleh karena munculnya perintis kembalinya kekuasaan penjajahan dan adanya
usaha-usaha dari pihak para pemegang kekuasaan pribumi
untuk menyambut kedatangan kern bah kekuasaan penjajahan
149
sebagaimana yang telah disinggung di muka. Pembauran kedua
semangat anti itu melahirkan dorongan-dorongan untuk ikut
serta dalam usaha menghalangi dan menolak kembalinya penjajahan dan penghapusan sisa-sisa yang dapat mengingatkan kembali akan penjajahan. Demikianlah terbentuk pasukan-pasukan
bersenjata baik yang dianggap pasukan penghapusan resmi maupun yang dinamakan lasykar rakyat. Dalam rangka penghapusan
sisa-sisa penjajahan dan yang berbau alat penjajahan kemudian
terjadi revolusi sosial pada bulan Maret 1946.
Keseluruhan uraian dalam bagian ini berticara atau mencoba untuk memberikan gambaran tentang konflik yang terjadi
dalam hubungan suasana penjajahan, yaitu konflik antara kekuasaan penjajahan di satu pihak dengan pihak yang terjajah
pada pihak yang lain. Namun di dalam hubungan di Sumatera
t tara masih ada pihak yang lain. walaupun bukan pihak ketiga,
yaitu para pemegang kekuasaan pribumi yang dalam keadaannya pada waktu itu lebih merupakan alat dan dengan demikian
dianggap oleh rakyat sebagai pihak-penjajahan. Konflik-konflik
tersebut timbul oleh karena tindakan-tindakan penjajahan yang
melanggar hak rakyat, melanggar harga diri dan kedaulatan serta
mengabaikan aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Kesemuanya menimbulkan gejolak-gejolak yang mulamula terbuka, tetapi kemudian hilang dari permukaan dan tersembunyi ke bawah dan bila ada kesempatan akan muncul kembali ke permukaan.
Konflik sebagai Pendorong Peranserta
Bila uraian mengenai sumber motivasi atau dorongan berperanserta dari rakyat dapat disimpulkan, maka ditemukan
bahwa dorongan itu adalah anti-penjajahan dan anti-semua-yang
berbau-penjajahan. Kedua macam anti tersebut lahir dari adanya hubungan-hubungan konflik atau pertentangan kepentingan
yang kemudian melahirkan tindakan-tindakan. Konflik atau
pertentangan kepentingan tersebut bernula pada pertemuan per150
tama antara kekuasaan penjajahan dengan pribumi dan berlanjut terus serta semakin meruncing dan bertambah panas segera
setelah adanya Proklamasi Kemerdekaan.
Adapun konflik kepentingan itu pada bagian terakhir
dari kekuasaan penjajahan dan segera setelah Proklamasi Kemerdekaan pada permukaannya adalah konflik politik. Selama penjajahan pihak kolonial melakukan tindakan-tindakan penataran
baru struktur politik. Penataran itu menghasilkan struktur yang
berdua lapis, yaitu pada lapisan atas disusun struktur politik
yang meniru model Eropa dan dipengaruhi oleh perkembangan
politik dan ilmu politik Eropa pada lapisan bawah dibiarkan
berjalan struktur politik pribumi dan dalam hal yang perlu diadakan penyesuaian atau pengukuhan sedemikian rupa. sehingga mampu mendukung kepentingan-kepentingan penjajahan.
Namun kalau diperiksa lebih dalam dan lebih seksama lagi.
di bawah konflik politik itu sebenarnya terdapat konflik ekononomi yang pada hakekatnya menjadi sumber dari struktur politik. Perekonomian penjajahan adalah berorientasi kepada pasar
dunia. Hal ini berarti produksi terutama adalah untuk segala
sesuatu yang tunduk kepada pasar dunia. Produksi sedemikian,
oleh karena sumbernya adalah pertanian, memerlukan ekspansi
areal. Untuk menjamin tersedianya lahan, maka disusunlah
struktur politik yang akan dapat menjamin pengadaan lahan tersebut. Melalui "pemegawainegerian para pemegang kekuasaan
pribumi dan pengertian baru dalam pemilik tanah luas lahan
yang dibutuhkan dapat terjamin pengadaannya.
Pelaksanaan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah penjajahan di sejumlah daerah menimbulkan kemiskinan, sebagian
daerah terjadi pelanggaran hukum dan kebiasaan yang ada. kemudian menimbulkan pula pengurangan atau penghilangan kedaulatan dan harga diri.
Tindakan-tindakan kekuasaan penjajahan dalam usaha mewujudkan kepentingan-kepentingannya itu mendapat reaksi
dari pihak pribumi yang pada hakekatnya berupa usaha-usaha
151
untuk mempertahankan kepentingan mereka. Reaksi dari
pribumi tersebut ada yang bersifat menyerang, seperti halnya
dengan perlawanan-perlawanan bersenjata terbuka, dan ada
yang berupa mempertahankan diri sedemikian rupa sehingga
cenderung berwujud menutup diri. Reaksi pertama menimbulkan perang dan reaksi kedua menimbulkan gerakan-gerakan
millenarium dan keagamaan. Keduanya kemudian dijembatani
oleh gerakan-gerakan nasionalisme modem.
Kejadian sejak awal kemerdekaan yang berlanjut dalam
Perang Kemerdekaan juga merupakan produk dan adanya
konflik yang dialektik itu. Pada satu pihak terdapat kepentingan Belanda mengembalikan ke keadaan sebelum Perang
Dunia II sedangkan pada pihak lain timbul kepentingan bangsa
Indonesia untuk menolak pengembalian tersebut. Perang kemudian terpaksa terjadi oleh karena pohak Belanda memaksakan
kepentingannya dengan kekuatan senjata.
Kesimpulan
Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera Utara memperlihatkan peranserta rakyat yang'besar. Demikian pula dalam
perang-perang perlawanan penanaman kekuasaan penjajahan
sebelumnya sejak abad XIX menunjukkan peranserta rakyat
yang sangat besar. Peranserta tersebut adalah dalam bentuk
menyediakan tenaga manusia sebagai kekuatan dalam peperangan, penyediaan segala sesuatu yang diperlukan dalam peperangan dan dalam menyebarluaskan cita-cita atau ideologi nasional.
Peranserta tersebut didorong oleh adanya konflik-konflik
yang menimbulkan perasaan dan semangat anti penjajahan dan
anti segala yang berbau penjajahan.
Tindakan-tindakan dalam menentang penjajahan itu tidak
selalu hanya berupa perang, tetapi bila peperangan selesai secara
resmi perlawanan diteruskan dalam bentuk gerakan-gerakan keagamaan, millenarium dan menutup diri. Dengan demikian per152
juangan anti penjajahan dan kemudian ditambah pula oleh perjuangan anti segala yang berbau penjajahan menjadi benang merah yang terentang sejak usaha-usaha pertama penanaman penjajahan hingga berakhirnya penjajahan pada pertengahan abad
XX ini.
Catatan Akhir
Sejarah perjuangan rakyat Sumatera Utara yang telah ditulis dan diterbitkan selama ini masih lebih berbau elitis. Kiranya sudah waktunya dan menjadi sesuatu yang wajib untuk
mengadakan pengajian yang lebih mendalam lagi, sehingga dihasilkan sejarah yang populis yang sesuai dengan tuntutan sejarah yang Indonesia-sentris yang melihat pemeran sejarah adalah rakyat yang dibimbing oleh pemimpinnya.
153
KEPUSTAKAAN
Boeke. J.H 1983 PRAKAPITALISME DI ASIA Jakarta: Sinar Harapan
Frederick. William H dan Soeri Soeroto. 1982. PEMAHAMAN
SEJARAH INDONESIA. Sebelum dan sesudah Revolusi.
Jakarta: LP3ES
Kartodirdjo. Sartono. 1966. THE PEASANTS" REVOIT OF
M ANTEN IN 1888. Its conditions, course and sequel. A
case study of Social Movements in Indonesia, "s Gravenhage Martinus Nijhoff
Kartodirdjo. Sartono. 1973. PROTEST MOVEMENTS IN
RURAL JAVA. Kualalumpur: Oxford University Press
Kartodirdjo. Sartgno. 1982. PEMIKIRAN DAN PERKEM
BANGAN HISTORIOGRAFI INDONESIA. Suatu alternatif. Jakarta: Gramedia
Kipp. Rita dan Richard (eds). 1983. BEYOND SAMOSIR.
Recent studies of the Batak Peoples of Sumatera. Athens,
Ohio University
Reid, Anthony. 1979. THE BLOOD OF THE PEOPLE Revolution and the end of traditional rule in Northern Sumatera. Kualalumpur: Oxford University Press
154
Tyam Asistensi Pangdam Il/BB 1977. SEJARAH PERJUANG
AN KOMANDO DAERAH MILITER II BUKIT BARISAN Medan: Dinas Sejarah Kodam II/Bukit Barisan
Wertheim. W.T. 1956, INDONESIA SOCIETY IN TRANSITION. The Hague. Bandung: W van Hoeve Ltd
Sidjabat, W.B. 1982. AHU SISINGAMANGARAJA. Jakarta:
Sinar Harapan.
155
I
_