Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau

Comments

Transcription

Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
PETA KEPULAUAN RIAU
93
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
A. Umum
1. Dasar Hukum
Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan
Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 tanggal 24 September 2002
merupakan Provinsi ke-32 di Indonesia.
2.
Lambang
Lambing Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari 6 dengan rincian sebagai berikut :
Bintang berwarna kuning melambangkan ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Mata rantai berjumlah 32 berwarna hitam melambangkan
kebersamaan masyarakat Provinsi Kepulauan Riau yang
bersatu padu dan menunjukkan berdirinya Provinsi
Kepulauan Riau sebagai provinsi ke 32 di Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Perahu berwarna kuning melambangkan semangat
kebersamaan dalam satu tekad mengisi laju pembangunan
di Provinsi Kepulauan Riau.
Padi berwarna kuning berjumlah 24 butir dan kapas yang
berwarna putih dan hiau berjumlah 9 kuntum
melambangkan kesejahteraan masyarakat Provinsi
Kepulauan Riau sebagai tujuan utama dan mengingatkan tanggal disahkannya Undang-undang
pembentukan Provinsi Kepulauan Riau sebagai provinsi ke 32 tanggal 24 September 2002.
3.
Pemerintahan
Sebagai sebuah provinsi tentunya di dukung oleh pemerintahan tingkat 2 yang menjadi penopang
berdirinya suatu provinsi. Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari 5 kabupaten dan 2 Pemerintahan
kota, dengan rincian sebagai berikut :
No.
Nama Kabupaten / Kota
Ibukota
1.
Pemerintahan Kota Tanjungpinang
2.
Pemerintahan Kota Batam
3.
Kabupaten Bintan
Bandar Seri Bentan
4.
Kabupaten Karimun
Tanjung Balai Karimun
5.
Kabupaten Natuna
Ranai
6.
Kabupaten Lingga
Daik
7.
Kabupaten Kepulauan Anambas
Tarempa
4.
Letak Geografis dan Batas Wilayah
Secara geografis Provinsi Kepulauan Riau terletak diantara 5o Lintang Utara – 1o lintang selatan
dan 101o – 109o Bujur Timur. Luas wilayah secara keseluruhan adalah 8.084,01 km2. Batas wilayah
:
Utara
= Laut cina selatan dan selat singapura
Selatan
= selat karimata
Barat
= selat berhala
Timur
= selat karimata
5.
Komposisi Penganut Agama
a. Islam
= 92%
b. Kristen
= 2,8 %
94
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
6.
7.
8.
c. Hindu
= 0,0046%
d. Budha
= 4,6%
Bahasa dan Suku Bangsa
Bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu riau, tetapi sebagian besar masyarakat
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Sementara suku bangsa
yang mendiami wilayah provinsi kepulauan riau adalah suku melayu, suku bugis dan lain-lain.
Budaya
a. Lagu Daerah
b. Tarian Tradisional
c. Senjata Tradisional
d. Rumah Tradisional
e. Alat Musik Tradisional
f. Makan Khas Daerah
tarik
Bandara dan Pelabuhan Laut
a. Bandara
: Hang Nadim (batam)
b. Pelabuhan Laut
: Sekupang (batam), dll
9. Perguruan Tinggi Negeri
10. Industri dan Pertambangan
B.
: Dendang Nelayan, Segantang Lada
: Tari Joget Lambak, Tari Zapin, Tari Makinang
: Badik
: Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar
: gendang
: Otak – otak, Lakse, mie lender, siput gong gong, kopi tarik, teh
: UMRAH
: Industri Pakaian Jadi, Bouksit, Gas, Minyak.
Obyek Wisata
1.
Wisata Sejarah
a.
95
Masjid Sultan Riau
Masjid Raya Sultan Riau adalah salah satu obyek wisata sejarah termasyhur yang
berada di Pulau Penyengat,
Propinsi
Kepulauan
Riau.
Masjid ini mulai dibangun
ketika pulau ini dijadikan
sebagai tempat tinggal Engku
Puteri Raja Hamidah, istri
penguasa Riau waktu itu,
Sultan Mahmudsyah (1761—
1812 M). Pada awalnya, masjid
ini hanya berupa bangunan
kayu sederhana berlantai batu
bata yang hanya dilengkapi
dengan sebuah menara setinggi
kurang lebih 6 meter. Namun,
seiring berjalannya waktu,
masjid ini tidak lagi mampu
menampung jumlah jamaah yang terus bertambah, sehingga Yang Dipertuan Muda Raja
Abdurrahman —Sultan Kerajaan Riau pada 1831—1844 M— berinisiatif untuk memperbaiki
dan memperbesar masjid tersebut.
Untuk membuat sebuah masjid yang besar, Sultan Abdurrahman menyeru kepada
seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah. Peristiwa bersejarah
itu terjadi pada tanggal 1 Syawal 1248 H (1832 M), atau bertepatan dengan hari raya
Idulfitri. Panggilan tersebut ternyata telah menggerakkan hati segenap warga untuk
berkontribusi pada pembangunan masjid tersebut. Orang-orang dari seluruh pelosok teluk,
ceruk, dan pulau di kawasan Riau Lingga berdatangan ke Pulau Penyengat untuk
mengantarkan bahan bangunan, makanan dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus
kepada sang Pencipta dan sang sultan. Bahkan, kaum perempuan pun ikut serta dalam
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
pembangunan masjid tersebut, sehingga proses pembangunannya selesai dalam waktu yang
cepat. Terbukti, pondasi setinggi sekitar 3 meter dapat selesai hanya dalam waktu 3 minggu.
Konon, karena banyaknya bahan makanan yang disumbangkan penduduk, seperti
beras, sayur, dan telur, para pekerja sampai merasa bosan makan telur, sehingga yang
dimakan hanya kuning telurnya
saja. Karena menyayangkan
banyaknya putih telur yang
terbuang, sang arsitek yang
berkebangsaan
India
dari
Tumasik (sekarang Singapura)
punya
ide
untuk
memanfaatkannya
sebagai
bahan bangunan. Sisa-sisa
putih telur itu kemudian
digunakan
sebagai
bahan
perekat, dicampur dengan pasir
dan kapur, sehingga membuat
bangunan masjid dapat berdiri
kokoh, bahkan hingga saat ini.
Masjid
dengan
ketebalan dinding mencapai 50
cm ini adalah bangunan
istimewa yang wajib dilindungi, karena merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan RiauLingga yang masih utuh. Luas keseluruhan kompleks masjid ini sekitar 54,4 x 32,2 meter.
Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, dan ditopang oleh empat tiang. Lantai
bangunannya tersusun dari batu bata yang terbuat dari tanah liat. Di halaman masjid,
terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat
menyelenggarakan musyawarah. Selain itu, di halaman masjid juga terdapat dua balai,
tempat menaruh makanan ketika ada kenduri dan untuk berbuka puasa ketika bulan
Ramadhan tiba.
Dari Dermaga Panjang dan Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang,
bangunan Masjid Raya Sultan Riau yang berwarna kuning cerah terlihat mencolok di antara
bangunan-bangunan lainnya di pulau kecil seluas 240 hektar itu. Tiga belas kubah dan empat
menara masjid berujung runcing setinggi 18,9 meter yang dulu digunakan oleh muadzin
untuk mengumandangkan panggilan shalat membuat bangunan itu tampak megah seperti
istana-istana raja di India. Susunan kubahnya bervariasi, mengelompok dengan jumlah tiga
dan empat kubah. Ketika kubah dan menara tersebut dijumlah, ia menunjuk pada angka 17.
Hal ini dapat diartikan sebagai jumlah rekaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap
umat Islam dalam sehari.
Dilihat dari bentuk arsitekturnya, Masjid Sultan Riau di Penyengat ini sangat unik.
Tidak diketahui secara persis gaya arsitektur mana yang diadopsi oleh masjid ini. Ada yang
mengatakan, masjid ini bergaya India, karena tukang-tukang yang membuat bangunan
utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Tumasik (Singapura). Namun,
dilihat dari bentuk bangunan utama dan bagian-bagian yang mendukungnya, arsitektur
masjid ini merupakan perpaduan dari berbagai gaya, yaitu Arab, India, dan Melayu. Dalam
dua kali pameran masjid pada Festival Istiqlal di Jakarta tahun 1991 dan 1995, Masjid Sultan
Riau ini ditetapkan sebagai masjid pertama di Indonesia yang memakai kubah di atapnya.
Keistimewaan dan keunikan masjid ini juga dapat dilihat dari benda-benda yang
terdapat di dalamnya. Di dekat pintu masuk utama, pengunjung dapat menjumpai mushaf
Alquran tulisan tangan yang diletakkan di dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini
ditulis oleh Abdurrahman Stambul pada tahun 1867 M. Ia adalah salah seorang putra Riau
yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Mushaf bergaya
Istambul ini ditulis oleh penulisnya di sela-sela kegiatannya mengajar agama Islam di Pulau
Penyengat.
Sebenarnya, masih ada satu lagi mushaf Alquran tulisan tangan yang terdapat di
masjid ini, namun tidak diperlihatkan untuk umum. Usianya lebih tua dibanding mushaf
yang satunya, karena dibuat pada tahun 1752 M. Di bingkai mushaf yang tidak diketahui
96
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
siapa penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran. Hal ini
mengindikasikan bahwa orang-orang Melayu tidak hanya menulis ulang mushaf, tetapi juga
mencoba menerjemahkannya. Sayangnya, mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan
kepada wisatawan lantaran kondisinya sudah rusak. Mushaf ini tersimpan bersama sekitar
300-an kitab di dalam dua lemari yang berada di sayap kanan depan masjid. Kita-kitab
tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan RiauLingga, saat terjadi eksodus besar-besaran masyarakat Riau ke Singapura dan Johor pada
awal abad ke-20 karena kecamuk perang melawan penjajah Belanda.
Benda
lainnya
yang
menarik untuk dilihat adalah
sebuah mimbar yang terbuat dari
kayu jati. Mimbar ini khusus
didatangkan dari Jepara, sebuah
kota kecil di pesisir pantai utara
yang terkenal dengan kerajinan
ukirnya sejak lama. Sebenarnya ada
dua mimbar yang dipesan waktu
itu, yang satu adalah mimbar yang
diletakkan di Masjid Sultan Riau ini,
sedangkan yang satunya lagi, yang
berukuran lebih kecil, diletakkan di
masjid di daerah Daik. Di dekat
mimbar Masjid Sultan Riau ini
tersimpan sepiring pasir yang konon berasal dari tanah Mekkah al-Mukarramah, melengkapi
benda-benda lainnya seperti permadani dari Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh
Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan Riau pertama yang menunaikan ibadah haji, yaitu
pada tahun 1820 M. Pasir tersebut biasa digunakan masyarakat setempat pada upacara
jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi anak-anak.
Selain itu, masjid yang memiliki tujuh pintu dan enam jendela ini juga dilengkapi
dengan beberapa bangunan penunjang, seperti tempat wudhu, rumah sotoh, dan balai
tempat melakukan musyawarah. Bangunan tempat mengambil air wudu berada di sebelah
kanan dan kiri masjid. Sedangkan rumah sotoh dan balai tempat pertemuan berada di
bagian kanan dan kiri halaman depan masjid. Balai-balai yang bentuknya menyerupai rumah
panggung tak berdinding ini dulu digunakan sebagai tempat untuk menunggu waktu shalat
dan berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Sedangkan rumah sotoh—bangunan dengan
gaya arsitektur menyerupai rumah di Arab namun beratap genting ini, sebelumnya
merupakan tempat untuk bermusyawarah dan mempelajari ilmu agama. Beberapa ulama
terkenal Riau pada masa itu, seperti Syekh Ahmad Jabrati, Syekh Arsyad Banjar, Syekh
Ismail, dan Haji Shahabuddin pernah mengajarkan ilmu agama di tempat ini. Masjid Raya
Sultan Riau terletak di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau,
Indonesia. Pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, bagi pengunjung yang ingin beramal, di
pintu utama masjid terdapat kotak amal, atau dapat diberikan langsung kepada pengurus
masjid.
Untuk mencapai Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, pengunjung harus
menaiki perahu motor yang dermaganya berada di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung
Pinang. Perahu motor berkapasitas 13 orang yang bentuknya seperti bangunan rumah adat
Melayu itu akan membawa pengunjung melintasi laut selama kurang lebih 15 menit, dengan
ongkos perjalanan Rp 5.000 (Juli 2008). Namun, ongkos perahu motor tersebut menjadi
berlipat-lipat bagi rute sebaliknya, yaitu dari Pulau Penyengat menuju Pelabuhan Sri Bintan
Pura. Jika malam belum tiba, ongkos balik tersebut berada pada kisaran antara Rp 10.000—
15.000. Namun, jika malam sudah menjelang, ongkosnya bisa naik mencapai 100 persen,
yaitu sekitar Rp 30.000 sekali jalan.
b.
97
Makam Raja Ali Haji
Di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kepulauan Riau, terdapat sebuah makam seorang
tokoh yang sangat termasyhur tidak hanya di wilayah Riau saja, melainkan juga hampir di
seluruh penjuru Nusantara, yakni Makam Raja Ali Haji. Bahkan Pulau tempat makam
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
tersebut bernaung, Penyengat, selalu dikait-kaitkan dengan nama besar sang pujangga besar
Nusantara tersebut. Oleh masyarakat Melayu, khususnya di semenanjung Malaka, nama ini
dianggap sebagai pahlawan besar
yang layak diagungkan dan
dimonumenkan.
Nama lengkap Raja Ali Haji
adalah Raja Ali al-Hajj ibni Raja
Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji
Fisabilillah bin Opu Daeng Celak
alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji
Ahmad Riau. Ia dilahirkan pada
tahun 1808 M/1193 H di pusat
Kesultanan Riau-Lingga di Pulau
Penyengat, Kepulauan Riau dan
meninggal pada tahun 1873 M di
pulau itu juga. Seperti tercatat
dalam sejarah, Raja Ali Haji (RAH)
adalah cucu dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Riau-Lingga dan
juga merupakan bangsawan Bugis dari garis keturunan nenek, Opu Daeng Celak, yang telah
bermigrasi ke Riau dan memperoleh gelar Yang Dipertuan Agung (pembantu sultan dalam
urusan pemerintahan). Riwayat tentang garis keturunan Bugis RAH sangat terkait dengan
Raja Bugis yang pertama kali memeluk agama Islam, La Madusilat.
Ayah RAH bernama Raja Ahmad dengan gelar Engku Haji Tua. Ia dikenal sebagai
intelektual muslim yang produktif menulis karya-karya besar seperti, Syair Perjalanan Engku
Putri ke Lingga (1835 M) dan Syair Perang Johor (1843 M). Sedangkan ibunya bernama Encik
Hamidah binti Panglima Malik Selangor atau Putri Raja Selangor yang meninggal pada
tanggal 5 Agustus 1844 M.
Sejak kecil, RAH telah mendapatkan pendidikan yang cukup dari ayahnya (Raja
Ahmad), selain tambahan pelajaran informal dari suasana lingkungan Istana Kerajaan RiauLingga. Dalam iklim kehidupan istana ini, RAH banyak mendapatkan pelajaran berharga dari
tokoh-tokoh terkemuka yang sering berkunjung. Saat itu, sebagai pusat kebudayaan Melayu
yang giat mengembangkan bidang agama, bahasa, dan sastra, kerajaan ini memang banyak
didatangi oleh para tokoh maupun ulama terkemuka, baik untuk keperluan mengajar
maupun belajar. Di antara para ulama ini adalah Habib Syeikh as-Saqaf, Syeikh Ahmad
Jabarti, Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minangkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas alManduri, dan masih banyak lagi. Di luar kerajaan, RAH juga sempat mengenyam pendidikan
di Batavia, Mekkah, dan Kairo.
Pulau Penyengat sebagai tempat kelahiran RAH memiliki arti khusus dalam
pembentukan kepribadiannya. Di pulau inilah ia mendedikasikan pengetahuan kepada
suluruh masyarakat Riau, dan kemudian menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Konon,
sebelum dijadikan pusat kerajaan, Penyengat dikenal sebagai pulau yang sering dikunjungi
oleh para nelayan atau pelaut yang ingin mencari air bersih. Pada suatu waktu, saat
mengambil air, seorang di antara mereka dikejar-kejar oleh sejenis hewan yang punya alat
sengat. Sejak saat itulah pulau ini oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Pulau Penyengat.
Selain itu, Penyengat juga dikenal sebagai pulau mas kawin. Menurut legenda masyarakat
Melayu, pulau ini dihadiahkan Sultan Mahmud Marhum Besar, Sultan Riau-Lingga periode
1761—1812 M, kepada Engku Putri Raja Hamidah, sebagai mas kawin untuk meminangnya.
98
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Illustrasi wajah Raja Ali Haji
Sumber Foto: www.rajaalihaji.com
Raja Ali Haji selama masa hidupnya banyak mengahasilkan karya-karya besar di
bidang sejarah, sastra, agama, dan politik. Namun oleh masyarakat, ia lebih dikenal sebagai
seorang pujangga besar Nusantara yang telah melahirkan karya monumental “Gurindam Dua
Belas”—diterbitkan dalam bahasa Belanda Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap II
(oleh E. Netscher) pada tahun 1854 M. Aktivitas politiknya yang padat, yakni sebagai
Penasehat Keagamaan Sultan Ali bin Ja’far (Yang dipertuan Muda Riau VIII), serta lawatannya
ke berbagai wilayah di Nusantara tak menyurutkan RAH untuk terus berkarya. Dari buah
tangannya tak kurang ada puluhan karya, di antaranya Bustanul Katibin (dicetak di Betawi
pada tahun 1850 M), Tuhfat al-Nafis (diselesaikan tahun 1866 M), Mukkadimah fi Intizam,
Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.
Karya-karya ini banyak dibicarakan oleh para pengkaji bahasa, sastra, dan sejarah di
Nusantara dan juga di luar negeri.
Selain itu, RAH juga dianggap peletak dasar pertama tata bahasa Melayu melalui
Kitab Pengetahuan Bahasa (1885/1886 M), yakni buku yang menjadi standar bahasa Melayu.
Bahasa Melayu standar itulah yang dikemudian hari ditetapkan oleh Konggres Pemuda
Indonesia sebagai bahasa nasional (Bahasa Indonesia) pada tanggal 28 Oktober 1928. Karena
jasanya yang begitu besar, maka pada tanggal 10 November 2004, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawanan Nasional kepada RAH, pada saat peringatan
Hari Pahlawan 10 November di Istana Negara, Jakarta.
Mengunjungi Pulau Penyengat sungguh dapat membawa alam imajinasi wisatawan
pada kebesaran Kerajaan Riau-Lingga di masa lalu. Bayangkan saja, di pulau yang hanya
memiliki lebar sekitar satu kilometer dan panjang sekitar dua sampai tiga kilometer ini,
terdapat puluhan situs bersejarah peninggalan sultan, entah itu berbentuk istana, gedung
mahkamah, tempat mandi, gedung tabib, masjid, ataupun makam—termasuk di dalamnya
Makam Raja Ali Haji sendiri. Beragam situs bersejarah yang menyebar di pulau ini seolah
terangkai dalam satu kontinum yang menggambarkan kebesaran sejarah kerajaan Malayu
Riau.
Terletak di kaki bukit kecil yang dikelingi oleh pohon rindang ambacang, mengkudu,
dan jambu, kompleks makam Raja Ali Haji terkesan sederhana. Ada beberapa bangunan yang
tampak saat wisatawan memasuki kompleks pemakaman ini, di antaranya sebuah masjid
mini, berkubah, dan bermihrab. Dinding-dindingnya didominasi warna kuning dan sedikit
warna hijau, dengan jendela bulat layaknya jendela kapal. Di dalam bangunan utama ini
terdapat cuplikan “Gurindam Dua Belas”. Makam Raja Ali Haji sendiri terletak di luar
bangunan utama dengan naungan atap berwarna hijau. Tidak adanya dinding penyekat yang
menutupi makam, seolah membiarkan para peziarah masuk dan melihat secara lebih leluasa.
Dua nisan di atas makam ini dibungkus rapi oleh kain berwarna kuning, mirip seperti cara
membungkus jenazah saat prosesi penguburan. Mengamati detail makam ini, wisatawan
99
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
akan segera menangkap tulisan di atas makam yang berbunyi: “Raja Ali Haji, Terkenal,
Gurindam XII”.
Makam Raja Ali Haji dari dekat
Sumber Foto: www.melayuonline.com
Sebenarnya dalam kompleks ini terdapat banyak makam para raja/sultan
Kesulatanan Riau Lingga yang bersanding-sisi dengan makam Raja Ali Haji. Makam permaisuri
terletak di bangunan utama, sedangkan makam raja laki-laki—seperti Raja Ahamad Syah,
Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX, dan Raja Ali Haji sendiri—terdapat di luar
ruangan. Makam Engku Putri Raja Hamidah yang secara simbolis merupakan pemilik mas
kawin Pulau Penyengat dari Sultan Mahmud Marhum Besar, terdapat di dalam ruang utama.
Selain itu, masih terdapat banyak makam orang-orang yang punya hubungan kekerabatan
kerajaan di luar pagar kompleks makam.
Melongok makam RAH mungkin akan menimbulkan kesan unik bagi wisatawan.
Pasalnya, meski secara resmi dikenal sebagai kompleks makam Engku Putri Raja Hamidah,
pengelola makam sengaja menonjolkan atribut formal untuk penghormatan terhadap Raja
Ali Haji. Lihat saja, dua baliho yang merujuk pada kebesaran sang pujangga: “Raja Ali Haji
Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia” dan sebuah lagi, “Raja Ali Haji Bapak Bahasa
Melayu-Indonesia, Budayawan di Gerbang Abad XX”. Mungkin hal ini dimaksudkan sebagai
penghormatan terhadap tokoh besar Nusantara (RAH) yang ditabalkan oleh Keppres RI
Nomor 089/TK/2004 sebagai Pahlawan Nasional, tanpa menafikan penghormatan terhadap
raja-raja lain dalam makam ini.
Baliho yang mengangungkan kebesaran Raja Ali Haji di makamnya
Jika masih belum puas mengunjungi makam RAH, pengunjung dapat melanjutkan
perjalanan wisatanya di pulau kecil ini. Di antaranya adalah Istana Kedaton tempat Sultan
100
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Riau-Lingga terakhir tinggal; Istana Bahjah tempat tinggal Raja Ali Kelana; Gedung Hakim
Mahkamah Syariah Raja Haji Abdullah dengan tiang-tiang kukuh menyerupai bangunan
Yunani kuno; Gedung Tabib, bekas tempat praktek Engku Haji Daud, tabib kerajaan; dan
Perigi Kunci, tempat mandi putri istana. Selain situs-situs sejarah ini juga masih terdapat situs
lain di antaranya makam Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah, Tapak
Percetakan Kerajaan, Benteng Bukit Kursi, Makam Embung Fatimah di Bukit Bahjah, dan
Bukit Penggawa. Daftar situs-situs sejarah ini tercatat rapi pada katalog wisata yang dijajakan
penduduk kepada para wisatawan saat mengunjungi pulau Penyengat.
Makam Raja Ali Haji terletak di Pulau Penyengat, Kelurahan Penyengat, Kota
Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Indonesia. Lokasinya terletak di kompleks pemakaman
Engku Putri Raja Hamidah, tepatnya di luar bangunan utama Makam Engku Putri Raja
Hamidah.
Kota terdekat untuk mencapai Pulau Penyengat adalah Tanjungpinang, Pulau
Bintan. Jaraknya sekitar enam kilometer atau sekitar 30 menit perjalanan laut dengan
menggunakan perahu pompong (perahu kecil). Namun, meskipun begitu, wisatawan yang
berasal dari luar daerah Kepulauan Riau biasanya mengambil rute melalui Pulau Batam—juga
masih termasuk Kepulauan Riau—karena jumlah penerbangan ke kota ini cukup ramai. Di
Kota Batam terdapat Bandara Hang Nadim, tempat singgah sebelum menuju Penyengat. Dari
bandara ini, wisatawan dapat mencari taksi menuju pelabuhan terdekat. Setelah sampai di
pelabuhan, wisatawan disarankan untuk naik kapal feri menuju Pulau Bintan dengan waktu
tempuh sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan wisatawan akan disuguhi pemandangan pulaupulau kecil nan eksotis dengan hiasan hijau pohon bakau dan dedaunan yang melambai,
serta air laut yang jernih. Selain itu, perahu yang saling berselisih jalan juga akan menambah
suasana riang perjalanan.
Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau
Setelah kapal feri merapat di Pulau Bintan, tepatnya di Pelabuhan Sri Bintan Pura,
Tanjung Pinang, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan berpindah dermaga, untuk
mencari kapal kecil bermesin tempel alias pompong. Caranya cukup mudah, yakni memutar
ke arah pusat Kota Tanjungpinang dengan menggunakan becak atau jalan kaki menuju
dermaga. Di dermaga Tanjungpinang, wisatawan akan menemukan perahu pompong yang
akan mengantarnya menuju Pulau Penyengat. Jika tak mau terburu-buru, singgahlah dulu
untuk sekedar berkeliling di Kota Tanjungpinang. Di kota ini banyak tersedia toko pakaian,
kedai cenderamata, kantor agen perjalanan, tempat penukaran uang, restoran, toko emas,
dan lain-lain.
Saat berangkat dengan pompong dari Tanjungpinang, wisatawan secara jelas dapat
menikmati gugusan kecil Pulau Penyengat yang telah semakin dekat. Dalam waktu kurang
dari 30 menit, wisatawan akan sampai di sebuah dermaga kecil yang tak jauh dari Masjid
Sultan Riau, di Pulau Penyengat. Menjejakkan kaki pertama di pulau ini, wisatawan akan
disambut oleh pintu gerbang pulau yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari bibir pantai.
Jika wisatawan telah masuk beberapa ratus meter, deretan becak motor akan menawarkan
jasanya berkeliling pulau dengan tarif sekitar Rp 20.000 (November 2008). Tentu harga ini
101
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
bisa ditawar oleh para pengunjung. Dengan becak inilah wisatawan dapat berkeliling menuju
situs-situs bersejarah di Pulau Penyengat, tak terkecuali Makam Raja Ali Haji.
c.
Gedung Mesiu
Pulau Penyengat yang terletak di
sebelah barat Kota Tanjung Pinang dengan
panjang sekitar 3,5 km ini banyak
menyimpan simbolisasi kejayaan Kerajaan
Melayu Riau. Simbolisasi kejayaan tersebut
terlihat dari peninggalan benda dan
gedung-gedung bersejarah, seperti istana,
kompleks
makam,
dan
gedung
persenjataan. Salah satu dari sekian gedung
yang masih berdiri kokoh hingga sekarang
adalah Gedung Obat Bedil (Gudang Mesiu).
Penamaan gedung obat bedil disesuaikan
dengan penyebutan masyarakat Melayu
terhadap bubuk mesiu yang lebih dikenal
dengan obat bedil. Pada masa lalu, gedung
mesiu ini memiliki fungsi penting sebagai
tempat penyimpanan bubuk mesiu ketika
terjadi peperangan melawan musuh.
Pada masa jaya Kerajaan Riau,
Gedung Obat Bedil didirikan sebanyak
empat bangunan. Untuk memudahkan para
prajurit kerajaan menjalankan tugas
pertahanan, maka lokasi Gedung Obat Bedil diusahakan tidak terlalu jauh dari benteng
pertahanan dan juga pusat kerajaan. Akan tetapi, dari empat bangunan tersebut, sekarang
hanya tinggal satu bangunan saja. Sementara gedung yang lain telah hancur karena
kurangnya perawatan dan pelestarian oleh Pemda setempat.
Semenjak tahun 2002, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melakukan beberapa
upaya untuk menyelamatkan peninggalan sejarah yang tersisa di Pulau Penyengat dengan
cara memugar bangunan-bangunan bersejarah, termasuk Gedung Obat Bedil. Pemugaran
dilakukan untuk mengembalikan nuansa bangunan agar terlihat lebih indah dengan
memoles bagian-bagian bangunan yang sudah lusuh dan usang. Pemilihan warna pun
disesuaikan dengan warna khas Melayu, yaitu warna kuning. Setelah dilakukan pemugaran,
bangunan yang semula terlihat kusam dan lusuh tersebut berubah memancarkan pesona
indah dan menawan.
Gedung Obat Bedil sekilas terlihat kokoh dan tebal. Gedung ini sengaja didesain
khusus agar tahan dari pengaruh cuaca lembab dan basah. Untuk itu, mulai dari pondasi
sampai atap bangunan dibuat menggunakan beton dan ukuran dinding dibuat melebihi
ketebalan bangunan biasa. Sehingga, bubuk mesiu yang tersimpan di dalam bangunan
kualitasnya tetap terjaga. Pada sisi kanan dan kiri gedung dilengkapi dengan jendela kecil
yang dipasang jeruji besi. Pada zaman dahulu, jendela tersebut berfungsi untuk memberi
cahaya masuk ke dalam bangunan.
Sembari melihat keindahan bangunan Gedung Obat Bedil, para wisatawan dapat
menyaksikan beberapa peninggalan sejarah kejayaan Kerajaan Melayu Riau yang menjadi
destinasi objek wisata menarik Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, seperti Istana Raja Ali
Haji, Masjid Sultan Riau, makam para raja dan pembesar Kerajaan Melayu Riau, serta
Benteng Bukit Kursi.
Gedung Obat Bedil terletak di Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjung Pinang,
Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
Untuk menuju Gedung Obat Bedil, para wisatawan dapat menggunakan kapal laut.
Perjalanan dimulai dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah di Kota Tanjung Pinang menuju
Pelabuhan Sri Bintan Pura dengan menggunakan angkutan kota. Kemudian, dari Pelabuhan
Sri Bintan Pura perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Penyengat dengan menggunakan
perahu motor berbentuk bangunan rumah adat Melayu yang oleh masyarakat setempat
102
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
d.
disebut pompong sekitar 15 menit dengan ongkos sekitar Rp 5.000. Disarankan, bagi para
pelancong agar tidak menempuh perjalanan pada sore hari menjelang malam. Karena pada
saat itu biasanya biaya yang mesti dikeluarkan untuk ongkos perjalanan bisa naik mencapai
200—300% dari harga normal. Sesampainya di Pulau Penyengat, perjalanan dilanjutkan
dengan menggunakan becak bermotor menuju Gedung Obat Bedil dan obyek wisata lainnya
dengan uang sewa sebesar Rp 20.000 selama satu jam (November 2008).
Masjid Jamik Daik
Masjid Jamik Daik dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat
Syah (1761-1812 M), di saat ia memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga. Sumber
setempat menyebutkan bahwa, pembangunan masjid dimulai sekitar tahun 1803 M. Seluruh
bangunan asli berasal dari kayu. Ketika Masjid Penyengat selesai dibangun, Masjid Jamik ini
kemudian dirombak dan dibangun lagi dari beton.
Struktur ruang utama masjid tidak menggunakan tiang untuk menyangga kubah
atau loteng. Pada mimbar, terdapat tulisan yang terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi),
bertuliskan: "Muhammad saw. Pada 1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen
membuat mimbar di dalam negeri Semarang Tammatulkalam." Tulisan ini memberi petunjuk
bahwa mimbar indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah, dengan memasukkan motif-motif
ukiran tradisional Melayu. Masjid Jamik Daik terletak di kampung Darat, Daik, Kabupaten
Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
e.
103
Pulau Galang
Pulau Galang mulai mencuat namanya sejak tahun 1980-an, ketika ratusan ribu
penduduk Vietnam bagian selatan lari meninggalkan kampung halamannya untuk
mengungsi ke negara lain pascaperang saudara di Vietnam. Para pengungsi ini,
meninggalkan negaranya dengan menggunakan perahu-perahu yang kondisinya
memprihatinkan. Dalam satu perahu, bisa ditempati 40—100 orang. Berbulan-bulan para
pengungsi terombang-ambing di tengah perairan Laut Cina Selatan, tanpa tujuan yang jelas.
Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan, dan sebagian lagi dapat
mencapai daratan yang termasuk wilayah Indonesia, seperti Pulau Galang, Tanjung Pinang,
dan pulau-pulau lain di sekitarnya.
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Gelombang pengungsi ini menarik perhatian United Nations High Commissioner for
Refugees (UNHCR) dan juga Pemerintah Indonesia. Pulau Galang, tepatnya di Desa
Sijantung, Provinsi Kepulauan Riau, akhirnya disepakati untuk digunakan sebagai tempat
penampungan sementara bagi para pengungsi. UNHCR dan pemerintah Indonesia
membangun berbagai fasilitas seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan
sekolah, yang digunakan untuk memfasilitasi sekitar 250.000 pengungsi. Di tempat ini, para
pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya sepanjang tahun 1979—1996, hingga akhirnya
mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka, ataupun
dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi ini, dikonsentrasikan di satu permukiman seluas 80
hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk
mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk
menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa oleh para pengungsi
ini.
Saat ini, bekas kamp pengungsian tersebut dijadikan tempat wisata oleh pihak
Otorita Batam, sebagai salah satu usaha untuk mewujudkan program Visit Batam 2010.
Berkunjung ke tempat ini, dapat mengingatkan Anda akan tragedi masa lalu, yang
menyebabkan ratusan ribu orang harus hengkang dari negaranya untuk mencari
perlindungan.
Datang ke kawasan ini, pengunjung dapat melihat beberapa monumen dan sisa
peninggalan dari kamp pengungsian. Dari sisa-sisa peninggalan ini, pengunjung dapat
membayangkan bagaimana para pengungsi Vietnam mencoba bertahan hidup, jauh dari
tanah kelahirannya. Pengunjung yang memasuki pulau ini akan disambut dengan Patung
Taman Humanity atau Patung Kemanusiaan. Patung ini, menggambarkan sosok wanita yang
bernama Tinhn Han Loai, yang diperkosa oleh sesama pengungsi. Malu menanggung beban
diperkosa, akhirnya ia memutuskan bunuh diri. Dalam rangka mengenang peristiwa tragis
itulah maka patung ini dibuat oleh para pengungsi.
Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para
pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri bahkan membunuh. Oleh karena itulah
sebuah penjara juga dibangun di tempat ini. Penjara ini digunakan untuk menahan para
pengungsi yang melakukan tindakan-tindakan kriminal tersebut, juga untuk menahan
pengungsi yang mencoba melarikan diri. Selain itu, bangunan penjara ini juga dijadikan
markas satuan Brimob Polri yang bertugas di Pulau Galang.
Tak jauh dari Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman yang bernama
Ngha Trang Grave. Di sini, dimakamkan 503 pengungsi Vietnam yang meninggal karena
berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain
itu, depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah. Hampir setiap tahun,
banyak sanak keluarga dari yang meninggal ini, datang ke Pulau Galang untuk berziarah.
104
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Patung Taman Humanity
Sumber Foto: inzagiena.multiply.com
Ngha Trang Grave
Sumber Foto: taufikjalanjalan.blogspot.com
Di pulau ini, para wisatawan juga dapat melihat Monumen Perahu, yang terdiri dari
tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam. Dengan perahu
seperti itulah mereka selama berbulan-bulan mengarungi Laut Cina Selatan, hingga akhirnya
tiba di Pulau Galang dan sekitarnya. Pada tahun 1996, perahu-perahu ini dengan sengaja
ditenggelamkan oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan
Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi. Lima ribu pengungsi
ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru.
Mereka tidak hanya menenggelamkan perahu sebagai bentuk protesnya, namun juga dengan
membakarnya. Sepeninggal para pengungsi ini, oleh Pemerintah Otorita Batam, perahu ini
diangkat ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah,
yang mengingatkan pengunjung akan penderitaan para pengungsi tersebut.
105
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Monumen Perahu
Sumber Foto: inzagiena.multiply.com
Selain itu, berbagai tempat ibadah yang dulu dibangun untuk memfasilitasi
pengungsi, juga masih ada hingga kini. Seperti, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho
Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola. Vihara Quan Am TU, merupakan
salah satu tempat ibadah yang paling mencolok di situ. Cat bangunan yang berwarna-warni
membuat pengunjung dapat mengenalinya dari kejauhan. Dalam bangunan ini, terdapat tiga
patung berukuran besar dengan warna-warna yang mencolok. Di depannya terdapat patung
naga raksasa yang seakan menjaga ketiga patung ini. Salah satu dari ketiga patung ini adalah
Patung Dewi Guang Shi Pu Sha. Di bawah kaki patung sang dewi, terdapat plakat yang
menceritakan bahwa dewi ini dapat memberikan hoki, jodoh, keharmonisan dalam rumah
tangga, dan juga dapat memberi kepintaran serta mengabulkan cita-cita bagi anak-anak. Jika
ingin mendapat berkat-berkat yang bisa diberikan oleh Dewi Guang Shi Pu Sha, maka
pengunjung dapat berdoa, memohon sang dewi mengabulkan permintaan, setelah itu
melemparkan koin ke arah dewi tersebut.
Vihara Quan Am Tu
Sumber Foto: anied.blogspot.com
Salah satu tempat yang dapat memberikan gambaran jelas kepada pengunjung
mengenai kehidupan sehari-hari para pengungsi adalah gedung bekas kantor UNHCR.
Memasuki gedung ini, pengunjung dapat melihat foto seribu wajah pengungsi yang pernah
tinggal di pulau tersebut. Selain itu, di gedung yang kini difungsikan sebagai kantor
resepsionis dan sumber informasi bagi pengunjung ini, terdapat foto-foto berbagai peristiwa
yang terjadi pada orang-orang Vietnam ini selama masa pengungsian.
Tempat ini, terletak sekitar 50 km dari pusat Kota Batam. Tepatnya di Desa
Sijantung, Pulau Galang, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
Untuk memasuki pulau ini, pengunjung harus menyusuri Jembatan Barelang dan melewati
beberapa pulau lainnya terlebih dahulu. Untuk sampai ke Pulau Galang, pengunjung dapat
menggunakan taksi ataupun menyewa mobil travel dari Pulau Batam. Perjalanan menuju
Pulau Galang ini, memakan waktu sekitar satu jam. Memasuki lokasi Bekas Kamp Pengungsi
Vietnam ini, pengunjung dikenakan tiket masuk seharga Rp 20.000,00—Rp 25.000,00 per
mobil (Mei 2008).
106
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
f.
Benteng Bukit Kursi
Benteng
Bukit
Kursi yang terdapat di
Pulau
Penyengat,
merupakan salah satu
bukti peninggalan sejarah
Kerajaan Melayu dalam
menjaga
dan
mempertahankan
kedaulatan
diri
dari
serangan musuh. Nama
benteng tersebut diambil
dari nama tempat di
mana
benteng
itu
dibangun, yaitu Bukit
Kursi.
Bukit
Kursi
merupakan lokasi yang cukup strategis untuk benteng pertahanan. Selain berada pada
dataran tinggi di Pulau Penyengat, bukit ini juga langsung menghadap laut lepas.
Mengingat pentingnya peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, maka
muncullah ide untuk membangun benteng pertahanan. Ide tersebut disetujui oleh Raja Haji
Fisabillah yang saat itu menjabat sebagai Raja Kerajaan Melayu Riau. Sebuah benteng
kemudian dibangun di Bukit Kursi dalam waktu 4 tahun atau sekitar tahun 1782—1784 M.
Untuk menyempurnakan keberadaan benteng sebagai basis pertahanan kerajaan, maka
didatangkan sebanyak 80 meriam dari Eropa yang dipasang di tiap-tiap sudut strategis untuk
memudahkan para prajurit kerajaan menghalau tentara musuh.
Berkat Benteng Bukit Kursi ini, istana dan bangunan kerajaan lainnya yang terdapat
di dalam kompleks kerajaan bisa terhindar dari serangan musuh dalam waktu yang cukup
lama. Bahkan, pernah tercatat dalam sejarah perjuangan Kerajaan Melayu Riau, benteng ini
mampu menjadi perisai yang tangguh guna menghalau penjajah Belanda yang akan
memasuki Pulau Penyengat. Butuh strategi yang matang dan waktu yang cukup lama bagi
Pemerintah Kolonial Belanda menguasai basis kerajaan dan benteng pertahanan tersebut.
Desain
bangunan benteng
ini cukup menarik.
Benteng
pertahanan yang
terletak di atas
bukit ini dibangun
dalam
bentuk
parit-parit. Desain
ini dibuat untuk
menghindari
serangan musuh
yang datang dalam
jumlah besar serta
memiliki
persenjataan yang
lengkap.
Di
samping itu, paritparit tersebut juga berfungsi sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi persenjataan
meriam. Hingga saat ini, parit-parit tersebut masih membentang di Benteng Bukit Kursi.
Parit-parit ini digali dengan kedalaman 1 m dan menghubungkan tiap-tiap lokasi meriam
berdiri. Tetapi kondisi parit-parit tersebut, sekarang ini kurang terawat dan terkesan kumuh.
Di atas Benteng Bukit Kursi ini, terdapat beberapa peninggalan meriam kuno.
Tetapi, jumlah meriam yang terdapat di bukit tersebut jauh berkurang dari jumlah semula
yang berjumlah sekitar 90 meriam. Sebagian meriam-meriam tersebut, oleh pemerintah
kolonial Hindia Belanda, dijual ke Singapura dengan harga yang cukup murah sebagai barang
107
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
rongsokan. Sementara itu, sebagian lainnya hilang karena kurangnya pemeliharaan dan
perawatan dari pemerintah daerah setempat.
Tak jauh dari Benteng Bukit Kursi, terdapat sebuah bangunan yang pada zaman
dahulu dipergunakan untuk menyimpan bubuk mesiu. Oleh masyarakat setempat bangunan
ini dinamakan Gedung Obat Bedil (gudang mesiu). Keberadaan gudang mesiu ini erat
kaitannya dengan Benteng Bukit Kursi. Ketika pertempuran sedang berkecamuk, gudang ini
menjadi penyuplai mesiu untuk senjata meriam guna menghalau musuh. Gedung Obat Bedil
hingga sekarang masih berdiri kokoh walau telah berusia cukup lama.
Bentang Bukit Kursi terletak di Pulau Penyengat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan
Tanjung Pinang, Kota Tanjung Pinang, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
Untuk menuju Benteng Bukit Kursi, para wisatawan mesti melintasi laut lepas.
Perjalanan dapat dimulai dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah menuju Pelabuhan Sri
Bintan Pura dengan menggunakan angkutan kota. Kemudian, dari Pelabuhan Sri Bintan Pura
perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Penyengat dengan lama perjalanan sekitar 15 menit
menggunakan perahu pompong dengan ongkos perjalanan sekitar Rp 5.000. Bagi para
pelancong disarankan agar tidak menempuh perjalanan pada sore hari menjelang malam.
Karena biaya yang dikeluarkan untuk ongkos perjalanan dari pelabuhan menuju Pulau
Penyengat atau sebaliknya bisa naik mencapai 200—300% dari harga normal.
Sementara itu, di Pulau Penyengat para wisatawan dapat menggunakan jasa becak
bermotor untuk mengelilingi pulau tersebut. Termasuk menuju Benteng Bukit Kursi. Untuk
mendapatkan jasa pelayanan becak bermotor tersebut, para wisatawan cukup membayar
uang sebesar Rp 20.000 selama satu jam (November 2008). Para wisatawan tinggal duduk
dan menunjukkan daerah tujuan wisata kepada pengemudi yang sekaligus bertindak sebagai
pemandu.
g.
Benteng Bukit Cening
Daik sebagai pusat kerajaan Riau-Lingga tentulah
memerlukan pengawalan ketat. Perairan selat Malaka
yang masa silam selalu ramai dengan desingan peluru
dan asap mesiu. Untuk menjaga berbagai kemungkinan
dalam pertempuran, di Daik Lingga dan sekitarnya
didirikan kubu-kubu yang kokoh dengan persenjataan
lengkap menurut keadaan zamannya, yang terdapat di
pulau Mepar, Kubu Bukit Ceneng dan Kubu Kuala Daik.
h.
Makam Merah
Disebut makam merah karena warna cat bangunannya merah, tiangnya terbuat dari
besi, pagarnya dari besi dan atapnya seng tebal. Makam
ini tidak berdinding dan atapnya berbentuk segi empat
melingkari makam. Makam ini letaknya tidaklah berapa
jauh dari bekas istana Damnah. Makam ini terkenal
bukanlah karena bangunan makamnya, tetapi karena
yang dimakamkan disini adalah Raja Muhammad Yusuf
Yang Dipertuan Muda Riau X.
i.
Bekas Istana Damnah
Yang tersisa dari bangunan yang dahulunya
sangat megah ini hanyalah tangga muka, tiang-tiang dari
sebahagian tembok pagarnya yang seluruhnya terbuat
dari beton. Sekarang puing istana ini terletak dalam
hutan belantara yang disebut kampung Damnah. Istana
Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AIAhmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899).
Dalam tahun 1860 olehnya didirikan istana Damnah
untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II,
108
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
dimana sebelumnya Sultan ini di Istana Kota Baru tak berjauhan dari pabrik sagu yang
didirikannya.
2.
j.
Gedung Bilik 44
Yang disebut gedung bilik 44 adalah pondasi gedung yang akan dibangun oleh
Sultan Mahmud Muzafar Syah.
Gedung
ini
baru
dikerjakan
pondasinya saja karena Sultan keburu
dipecat
Belanda
tahun
1812.
Lokasinya terletak di lereng gunung
Daik. Walaupun gedung ini belum
sempat
berdiri,
tetapi
dari
pondasinya yang berjumlah 44 itu
sudah dapat kita bayangkan betapa
besarnya minat Sultan Mahmud
untuk membangun negerinya. Di
gedung ini, menurut rencana Sultan
akan ditempatkan para pengrajin
yang ada di kerajaan Riau-Lingga, supaya mereka dapat bekerja lebih tenang serta
mengembangkan keahliannya. Namun cita-cita Sultan Mahmud terkandas oleh penjajah
asing.
k.
Rumah Datuk Laksemane Daik
Bangunan tua ini terletak di kampung Bugis, berbentuk limas penuh. Rumah ini
selain pernah ditempati oleh Datuk Laksemana Daik,pernah pula ditempati oleh Datuk Kaya
pulau Mepar, karena beliau ini menantu Datuk Laksemana. Rumah ini masih agak baik dan
ditempati oleh keluarga Datuk Laksemana dan Datuk Kaya Daik.
Di rumah ini masih tersimpan sisa-sisa benda milik Datuk Laksemana dan Datuk
Kaya, seperti : beberapa jenis pakatan kebesaran Datuk Kaya dan Datuk Laksemana, bendabenda upacara adat, motifmotif tenunan, batik, ukiran-ukiran dan sebagainya.
Wisata Alam
a.
Pantai Trikora
Berkunjung
ke
Bintan,
Propinsi Kepulauan Riau terasa
kurang lengkap sebelum melihat
keindahan panorama alam Pantai
Trikora. Pantai yang mempunyai
panjang kurang lebih 25 km ini
memiliki panorama alam yang indah,
baik kawasan daratnya maupun
kondisi dasar lautnya.
Pantai ini merupakan salah
satu obyek wisata kebanggaan
Pemerintah
Kabupaten
Bintan.
Untuk meningkatkan kunjungan
wisatawan, Pemerintah Kabupaten
Bintan
bertekad
akan
terus
mengembangkan kawasan wisata ini menjadi obyek wisata berkelas dunia seperti Pantai
Kuta di Pulau Bali atau Pantai Lagoi yang terletak satu kabupaten dengan pantai ini.
Menurut cerita masyarakat setempat, nama Trikora ini terkait dengan kunjungan
seorang bule ke pantai ini puluhan tahun yang lalu. Sewaktu bule itu berkunjung, kondisi
pantai ini masih sepi dan belum banyak orang yang menghuninya. Karena bule itu merasa
belum mengenal daerah yang ia kunjungi, maka kemudian ia bertanya kepada seorang warga
yang kebetulan ia temui dengan sebuah pertanyaan yang di dalamnya terdapat kata “three
Corrals”. Karena merasa bahasa yang diucapkan bule itu tidak dipahaminya, maka
109
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
pertanyaan yang disampaikan bule itu tidak dijawabnya. Dengan rasa penasaran terhadap
kata “three Corrals”, warga tersebut kemudian menyebarkan kata itu ke seluruh warga
lainnya. Selain itu, terdapat juga versi lain yang menyebutkan bahwa nama Pantai Trikora ini
dihubungkan dengan peristiwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia tahun 1961 yang
dilatarbelakangi oleh ketidaksetujuan Indonesia dengan rencana penggabungan antara
Brunei, Sabah, dan Sarawak oleh kolonial Inggris. Oleh sebab itu, bagi sebagian orang, nama
Pantai Trikora dianggap memiliki semangat nasionalisme.
Keistimewaan Pantai Trikora terletak pada hamparan pasir putihnya yang luas dan
landai, sehingga pelancong dapat bermain, berjemur, maupun olahraga seperti sepakbola,
lari-lari, jalan santai, dan lain-lain. Di tempat ini, pelancong juga dapat berenang atau sekedar
berendam menikmati terpaan gelombang air laut yang pelan dan jernih. Keindahan alam
lainnya tampak pada banyaknya pohon kelapa yang berjajar rapi di sepanjang tepian pantai.
Terdapat juga batu-batu besar yang teronggok di tepian hingga menjorok ke laut yang turut
menambah suasana indah di Pantai Trikora. Dari atas batu-batu ini, pelancong dapat dudukduduk bersantai menikmati deburan ombak yang saling berkejaran atau melihat perahu
nelayan yang berlalu-lalang di kejauhan.
Di pantai ini, pelancong juga dapat melihat berbagai macam tumbuhan dan
binatang laut berukuran kecil-kecil yang berada di pinggiran pantai. Jika wisatawan ingin
melihat keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya, dapat menyelam menyusuri
dasar laut untuk melihat karang-karang yang cantik, tumbuhan-tumbuhan laut, berbagai
macam ikan laut, dan berbagai bentuk kerang laut. Pelancong tak perlu khawatir dengan
kegelapan selama menyelam karena sinar matahari dapat menembus sampai ke dasar laut.
Para pelancong juga diperbolehkan membawa pulang kerang cantik yang ditemuinya selama
menyelam itu.
Setelah puas menikmati keindahan dasar lautnya, pelancong dapat berkunjung ke
pulau-pulau kecil yang berada di tengah laut atau sekitar puluhan meter dari pantai ini. Di
pulau-pulau kecil ini, pelancong dapat melihat berbagai macam binatang seperti kera, ular
piton, burung, dan satwa-satwa lainnya. Namun, bagi wisatawan yang ingin melanjutkan
perjalanan wisatanya, dapat menuju Rumah Kelong, tempat untuk menangkap ikan teri yang
terbuat dari kayu dan beratapkan daun rumbia. Dari Rumah Kelong ini, pelancong dapat
melihat nelayan yang sedang mencari ikan teri dari dekat. Untuk menuju kedua lokasi itu,
pelancong dapat menyewa perahu-perahu nelayan yang berada di Pantai Trikora ini. Obyek
wisata Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten
Bintan, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
Untuk menuju lokasi obyek wisata Pantai Trikora ini perjalanan dapat dimulai dari
Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan mobil sewaan, taksi, travel, atau naik ojek,
karena di daerah ini masih jarang terdapat kendaraan umum (bus) yang dapat mengantarkan
pelancong sampai ke lokasi wisata. Jika pelancong naik taksi dari Kota Tanjung Pinang, untuk
sampai ke lokasi obyek wisata Pantai Trikora ini akan membutuhkan waktu sekitar 1 jam
perjalanan, dengan tarif kurang lebih Rp 30.000. Namun, jika wisatawan naik ojek dari
Tanjung Pinang sampai ke lokasi wisata itu, maka tarif yang harus dikeluarkan pelancong
sekitar Rp 60.000 per orang (Desember 2008).
b.
110
Gunung Daik
Bila Anda berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau, sempatkanlah bertamasya ke
Kabupaten Lingga. Sebab, selain menyimpan situs-situs dan benda-benda bersejarah yang
berusia ratusan tahun, kabupaten yang dijuluki Bunda Tanah Melayu ini juga memiliki
berbagai destinasi wisata alam yang membuat para turis berdecak kagum tatkala melihatnya.
Salah satunya adalah Gunung Daik.
Menyebut Gunung Daik, seseorang akan terkenang dengan sebuah pantun yang
sangat familiar, terutama pada masyarakat rumpun Melayu: Pulau Pandan jauh di tengah/
Gunung Daik bercabang tiga/ Hancur badan dikandung tanah/ Budi baik dikenang juga.
Cabang gunung yang paling tinggi disebut Gunung Daik, yang menengah dinamakan Gunung
Pejantan atau Gunung Pinjam-pinjaman, dan yang paling rendah dinamakan Gunung Cindai
Menangis.
Masyarakat setempat mempercayai, puncak Gunung Daik dihuni oleh mahkluk halus
bernama bunian. Sedangkan para nelayan yang berada di sekitar gunung itu meyakini bahwa
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
arwah nenek moyang mereka, yakni Datuk Kemuning dan istrinya, bersemayam di gunung
tersebut. Konon, nama Lingga yang berasal dari akar kata Ling (naga) dan Ge (gigi), terilhami
oleh bentuk puncak Gunung Daik yang mirip dengan gigi naga.
Keberadaan gunung ini kian populer berkat sebuah pabrik sagu dari kabupaten
tersebut yang menjadikan Gunung Daik sebagai merek dagangnya, yaitu Sagu Cap Gunung
Daik. Merek tersebut merupakan jaminan sagu berkualitas, yang dari dahulu hingga sekarang
banyak dikirim ke berbagai daerah, seperti Cirebon, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Melalui
merek tersebut, perlahan-lahan Gunung Daik ikut dikenal oleh masyarakat dari berbagai
daerah di Indonesia.
Penuh mistis, tapi
eksotis.
Menakutkan,
namun
memesona.
Begitulah kira-kira kesan
pelancong
ketika
mengunjungi Gunung Daik,
gunung tertinggi di Provinsi
Kepulauan
Riau,
yang
memiliki ketinggian sekitar
1.165
meter
di
atas
permukaan laut (mdpl).
Meskipun rute menuju
gunung tersebut penuh
tantangan,
namun
semuanya akan terbayarkan
begitu memasuki kawasan hutannya yang berhawa sejuk. Kontur medan yang beragam
dengan jalan setapak yang berliku-liku, mengakomodir keinginan wisatawan yang menyukai
olahraga lintas alam, menyusuri lembah, memotret, berkemah, dan off road.
Sepanjang perjalanan, wisatawan akan terpesona melihat kawasan hutan yang
masih perawan dengan aneka pohon besar dan kecil yang berdaun rimbun dan hijau. Di
kawasan hutan ini dapat ditemukan dengan mudah berbagai jenis tumbuhan, seperti pohon
cucuk atap, cantiqi, pakis hutan (diplazium esculentum/faco fem), getah merah (gutta
perca/isonandra gutta), pohon aren (arenga pinnata merr), dan aneka jenis buah-buahan.
Burung murai batu (copsychus malabaricus), beo (gracula religiosa), ular piton (python
molurus), ular kobra (ophiophagus hannah) dan babi hutan (sus scrofa) adalah binatangbinatang langka yang masih dapat dijumpai di kawasan hutan Gunung Daik.
Sebelum sampai di kaki gunung, terdapat sebuah sungai kecil dan air terjun
bernama Air Terjun Daik. Biasanya, kawasan air terjun ini digunakan oleh pelancong sebagai
tempat beristirahat, selain Pos Gajeboh I dan Pos Gajeboh II. Suara gemericik air terjun yang
jatuh di atas batu-batu kali, dapat mengobati rasa penat selama menempuh perjalanan.
Untuk melepas gerah, pelancong juga memanfaatkan air terjun yang berair jernih ini untuk
mencuci muka dan mandi.
Sesampainya di Kaki Puncak Daik, batas akhir perjalanan, pelancong akan terkesima
melihat gunung nan eksotis dan penuh mistis tersebut. Biasanya, kawasan ini merupakan
tempat favorit pelancong untuk berkemah. Pada sore hari, bila cuaca sedang cerah,
pelancong akan berdecak kagum melihat matahari terbenam. Pada pagi hari, bila cuaca
sedang cerah, pelancong juga akan terpesona melihat indahnya matahari terbit.
Secara administratif, Gunung Daik masuk dalam wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi
Kepulauan Riau, Indonesia. Bagi wisatawan yang berada di Kota Tanjung Pinang, Ibu Kota
Provinsi Kepulauan Riau, dapat menuju Gunung Daik dengan naik kapal feri dari Pelabuhan
Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, menuju Pelabuhan Mepar/Dabo, Pulau Singkep, dengan
waktu tempuh sekitar 4 jam. Dari Pelabuhan Mepar, wisatawan dapat naik kapal kecil
(pompong) sekitar 10 menit menuju Pelabuhan Daik, Pulau Lingga. Setelah sampai di Daik,
Ibu Kota Kabupaten Lingga, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek menuju pintu gerbang
Gunung Daik. Kemudian, wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Daik dengan
berjalan kaki. Perjalanan akan berakhir di Kaki Puncak Daik, yang oleh masyarakat setempat
diberi nama Kandang Babi, yaitu sebuah lokasi yang berada di ketinggian 1.000 meter di atas
111
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
permukaan laut (mdpl). Puncak Gunung Daik sendiri tidak bisa didaki karena puncaknya
terdiri dari bebatuan yang rapuh dan tebing yang curam.
c.
Gunung Bintan
Berwisata ke Pulau Bintan, Propinsi Kepulauan Riau terasa kurang lengkap sebelum
menyambangi Gunung Bintan.
Satu-satunya gunung yang
berada di Pulau Bintan ini
sebenarnya lebih mirip sebuah
bukit, karena ketinggiannya
hanya sekitar 400 m di atas
permukaan laut. Ketinggian
gunung ini mungkin tidak
seberapa jika dibandingkan
dengan gunung-gunung yang
ada di Pulau Jawa, namun
Gunung Bintan mempunyai
peran penting bagi masyarakat
setempat, yaitu sebagai daya
tarik kunjungan wisata dan
area resapan air (catchment area).
Gunung yang terletak di tengah-tengah Pulau Bintan dan berjarak sekitar 55 km dari
Kota Tanjung Pinang (Ibukota Propinsi Kepulauan Riau) ini juga merupakan kawasan hutan
lindung yang di dalamnya terdapat ekosistem khas hutan hujan tropis yang masih terjaga
keasliannya, baik aspek flora maupun faunanya.
Pengunjung akan mendapati banyak hal menarik selama mendaki gunung ini.
Gunung yang puncaknya dapat dicapai hanya dalam waktu dua jam dengan berjalan kaki ini
menyimpan keindahan panorama alam yang memesona. Dari puncak gunung, pengunjung
dapat menikmati keindahan pemandangan di sekeliling Pulau Bintan.
Pemandangan alam dari atas Gunung Bintan
Sebagai kawasan hutan hujan tropis, Gunung Bintan juga menyimpan kekayaan flora
dan fauna yang khas. Pengunjung dapat melihat berbagai jenis tumbuhan tropis dan pohonpohon raksasa yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) kawasan hutan dari ancaman erosi.
Di kawasan yang juga berfungsi sebagai area resapan ini juga hidup aneka satwa seperti
monyet, tupai, ular, pelanduk, berbagai jenis burung, dan sebagainya.
112
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Pepohonan di Gunung Bintan
Setelah puas menyisir keindahan alam dari puncak gunung, pengunjung dapat melengkapi
perjalanan wisatanya menuju sebuah air terjun yang terletak di kaki gunung. Tempat ini
sering digunakan oleh para pengunjung sebagai tempat singgah setelah lelah menyusuri
kawasan wisata ini. Tak jarang di antara mereka memanfaatkan air terjun ini sebagai tempat
mandi karena kesejukannya dianggap dapat menghilangkan rasa lelah.
Air terjun di kaki Gunung Bintan
Kawasan di kaki gunung juga dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan
pertanian mereka. Di tempat ini banyak terdapat kebun buah penduduk, seperti durian,
rambutan, manggis, duku, dan lain-lain. Jika wisatawan berkunjung tepat pada saat musim
buah, wisatawan dapat membeli buah langsung dari petaninya, tentu saja dengan harga yang
lebih murah. Selain itu, rasanya juga lebih enak dan segar karena langsung dipetik dari
pohonnya.
Bagi wisatawan yang tertarik dengan acara-acara khas pariwisata, sempatkanlah
bertandang ke Gunung Bintan pada bulan Juli. Pada setiap bulan ini diselenggarakan acara
tahunan yang bertajuk `Bintan Mountain Tracking and Durian Party`. Acara ini berupa
perlombaan menyusuri jalan berundak menuju puncak gunung pada malam hari yang
kemudian diakhiri dengan pesta makan durian dan ikan bakar. Acara yang telah dimasukkan
ke dalam kalender wisata Pemerintah Kabupaten Bintan ini selalu berlangsung meriah,
karena diikuti tidak hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga oleh turis mancanegara.
Gunung Bintan terletak di Kampung Bekapur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk
Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia.
Untuk menuju Pulau Bintan, wisatawan biasanya harus transit terlebih dahulu di
Pulau Batam, karena Batam telah menjadi semacam pintu masuk menuju Pulau Bintan. Akses
menuju Batam terbilang mudah, karena setiap hari terdapat rute penerbangan dari kota-kota
besar di Indonesia menuju Batam. Dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia,
akses menuju Batam malah lebih mudah, cukup naik kapal feri satu kali.
Dari kota Batam, perjalanan ke Bintan terlebih dahulu harus melewati pelabuhan
penyeberangan Telaga Punggur, menggunakan taksi dengan biaya antara Rp 60.000—Rp
65.000. Sesampainya di pelabuhan Telaga Punggur, pengunjung dapat menyeberang ke
113
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Pulau Bintan dengan menggunakan kapal feri menuju kota Tanjung Pinang, kota yang
ditetapkan sebagai Ibu Kota Propinsi Kepulauan Riau. Sarana angkutan penyeberangan
Telaga Punggur—Tanjung Pinang beroperasi setiap hari, mulai dari jam 7:30 pagi hingga jam
8 malam, begitu juga sebaliknya. Wisatawan dapat memilih menggunakan feri yang
berukuran agak besar, atau memilih menggunakan speed boat yang berukuran lebih kecil.
Pengelola jasa transportasi ini juga fleksibel dalam menentukan tarif. Pengunjung dapat
membeli tiket untuk sekali jalan sebesar Rp 35.000 per orang, atau sekaligus tiket pergipulang sebesar Rp 60.000 (November 2008). Selain itu, tiket yang sudah dibeli juga berlaku
kapan saja, asalkan masih dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan, yaitu satu bulan.
Sesampainya di Tanjung Pinang, perjalanan sekitar 55 km menuju Gunung Bintan dapat
ditempuh dengan menggunakan taksi atau mobil sewaan. Letak Gunung Bintan yang tepat di
tengah-tengah Pulau Bintan, didukung dengan kondisi jalan yang sudah baik, membuat
perjalanan menuju ke gunung ini terasa mudah.
d.
Wisata Sungai Sebong
Pulau Bintan tidak hanya terkenal dengan kawasan pantainya yang elok, tetapi juga
terkenal dengan keindahan dan keaslian lingkungan alamnya. Keaslian kawasan hutan bakau
menjadi salah satu ciri khas Pulau Bintan. Hutan bakau di Pulau Bintan yang masih kaya akan
flora dan fauna ini pernah dinobatkan sebagai obyek wisata ekologi terbaik dengan meraih
penghargaan bergengsi, yaitu PATA Gold Award 2003. Salah satu kawasan di Pulau Bintan
dengan kualitas hutan bakau yang masih bagus ada di sepanjang Sungai Sebong. Dengan
potensi yang dimilikinya, Pemerintah Kabupaten Bintan menetapkan kawasan ini sebagai
bagian dari obyek-obyek wisata andalan di Kabupaten Bintan. Daya tarik kawasan wisata ini
kian bertambah setelah beberapa tahun belakangan masyarakat setempat
memanfaatkannya sebagai lokasi untuk wisata memancing. Wisatawan akan disuguhi
bagaimana nelayan setempat memeragakan kebolehannya dalam menangkap ikan. Untuk
menarik perhatian para wisatawan, nelayan setempat sengaja tidak menggunakan
perlengkapan modern, melainkan memilih menggunakan alat-alat penangkap ikan
tradisonal.
Kondisi hutan bakau di Sungai Sebong yang masih terjaga dengan baik
Sumber Foto: www.ekowisata.info
Kegiatan wisata ini sangat sederhana. Nelayan setempat hanya membawa wisatawan
mengarungi Sungai Sebong dengan menggunakan sampan (perahu tradisional) sembari dia
memeragakan keahliannya dalam menangkap ikan. Di Sungai yang tenang dan dikelilingi oleh
hutan bakau ini, wisatawan juga dapat menyaksikan aneka satwa menari-nari lincah di
pohon-pohon bakau menunjukkan ketangkasannya seakan-akan tak mau kalah dengan
kecekatan para nelayan dalam menangkap ikan.
114
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Nelayan setempat mengajak wisatawan menyisir keindahan alam
Sungai Sebong dengan sampan
Sumber Foto: www.ekowisata.info
Berwisata di Sungai Sebong melihat para nelayan setempat menangkap ikan
sungguh merupakan pemandangan yang menarik. Wisatawan akan disuguhi beberapa teknik
menangkap ikan dengan menggunakan alat-alat tradisional, seperti tangkul, bubu, dan jala.
Tangkul merupakan jaring lebar berukuran sekitar 10 x 8 m yang digunakan khusus untuk
menangkap ikan belanak. Tangkul biasanya dioperasikan minimal dua orang. Nelayan harus
menunggu ikan melewati tangkul ini, kemudian setelah ada tanda-tanda bahwa ikan belanak
telah terjebak di dalamnya, maka seketika para nelayan akan menarik tangkul secara
serentak. Biasanya, kegiatan‘nangkul‘ ini dapat memakan waktu 6 sampai 8 jam, tergantung
seberapa sering ikan melewati jaring raksasa ini.
Cara menangkap ikan dengan tangkul
Sumber Foto: www.ekowisata.info
Masih di lokasi yang sama, wisatawan juga dapat melihat cara lain menangkap ikan
dengan menggunakan bubu dan jala. Bubu adalah perangkap ikan yang terbuat dari kayu
nipah, sebuah alat yang biasanya digunakan untuk menangkap Kepiting Bakau. Sedangkan
jala digunakan para nelayan untuk menangkap udang. Setelah satu-persatu teknik
menangkap ikan selesai diperagakan, para nelayan biasanya menawari dan mengajak
wisatawan untuk mencoba memeragakan teknik-teknik menangkap ikan tersebut.
115
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Menangkap Kepiting Bakau dengan bubu dan menangkap udang dengan jala
Sumber Foto: www.ekowisata.info
Perjalanan wisata yang biasanya berdurasi 2,5 jam ini juga akan mengantarkan
wisatawan menyisir pemandangan alam sepanjang Sungai Sebong yang memiliki kekayaan
flora dan fauna mengagumkan. Selama perjalanan, wisatawan dapat menyaksikan aneka
jenis pohon bakau, kera, burung bangau, ular, biawak, burung "Raja Udang", yang masih
banyak berkeliaran di kawasan ini. Kekhasan lainnya dari Sungai Sebong ini adalah adanya
pohon yang oleh masyarakat setempat disebut pohon kacang-kacang, pohon yang daunnya
menjadi makanan kunang-kunang, sejenis serangga yang badannya mengeluarkan sinar pada
malam hari. Jika wisatawan tertarik untuk menyaksikan kunang-kunang ini, maka trip malam
hari dapat menjadi pilihan. Melalui pemandu wisata yang menyertai perjalanan, wisatawan
akan diajak mengenali lebih detail setiap informasi yang terkait dengan ekosistem hutan
bakau yang ada di Sungai Sebong ini.
Pemandu wisata memberi informasi tentang kegiatan wisata di Sungai Sebong
Sumber Foto: www.ekowisata.info
Di akhir perjalanan wisata, wisatawan akan disuguhi makanan khas daerah Bintan,
seperti Mie Lendir dan Siput Gonggong. Sembari menikmati makanan, wisatawan akan
dihibur oleh penari lokal dengan tarian tradisional Melayu. Wisatawan juga dipersilakan
untuk ikut menari bersama bagi mereka yang tertarik. Sebelum pulang, wisatawan akan
diajak singgah di sebuah kelong atau bangunan khas nelayan Melayu, yang di dalamnya
terdapat beberapa outlet yang menawarkan souvenir khas Bintan buatan para ibu-ibu
setempat.
116
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Para penari tradisonal Melayu menghibur para wisatawan
Sumber Foto: www.ekowisata.info
Satu hal lagi yang membuat perjalanan wisata di Sungai Sebong ini terasa istimewa
adalah mekanisme pelayanan pariwisata yang telah tersusun secara rapi. Masing-masing
anggota masyarakat yang terlibat bekerja sesuai dengan peran dan bidang keahliannya
masing-masing. Nelayan bertugas mendayung sampan dan melakukan atraksi menangkap
ikan, pemandu bertugas memandu acara dengan baik, penari menampilkan tarian Melayu,
dan ibu-ibu bertugas membuat makanan dan benda-benda kerajinan. Mereka yang terlibat
dalam kegiatan wisata ini menerima pendapatan sesuai dengan perannya masing-masing,
yang nominalnya telah ditentukan secara bersama. Sungai Sebong terletak di Desa Sebong
Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Untuk menuju Pulau Bintan, wisatawan biasanya harus transit terlebih dahulu di
Pulau Batam, karena Batam telah menjadi semacam pintu masuk menuju Pulau Bintan. Akses
menuju Batam terbilang mudah, karena Batam memiliki Bandara Udara Internasional Hang
Nadim yang setiap hari terdapat rute penerbangan dari kota-kota besar di Indonesia maupun
dari luar negeri. Jika wisatawan menggunakan jalur laut, banyak rute menggunakan kapal
ferry menuju Batam, terutama dari kota-kota di Sumatra, seperti dari Pekanbaru, Dumai,
Pulau Karimun, Pulau Natuna, Palembang, dan Kuala Tungkal di Jambi. Dari negara tetangga,
seperti Singapura dan Malaysia, akses menuju Batam malah jauh lebih mudah, karena cukup
naik kapal ferry satu kali.
Dari kota Batam, perjalanan ke Bintan terlebih dahulu harus melewati pelabuhan
penyeberangan Telaga Punggur, menggunakan taksi dengan biaya antara Rp 60.000—Rp
65.000. Sesampainya di Pelabuhan Telaga Punggur, pengunjung dapat menyeberang ke
Pulau Bintan dengan menggunakan kapal ferry menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura di Kota
Tanjung Pinang, kota yang ditetapkan sebagai Ibu Kota Propinsi Kepulauan Riau. Sarana
angkutan penyeberangan Telaga Punggur—Sri Bintan Pura beroperasi setiap hari, mulai dari
jam 7.30 pagi hingga jam 8 malam, begitu juga sebaliknya. Wisatawan dapat memilih
menggunakan ferry yang berukuran agak besar, atau memilih menggunakan speed boat yang
berukuran lebih kecil. Pengelola jasa transportasi ini juga fleksibel dalam menentukan tarif.
Pengunjung dapat membeli tiket untuk sekali jalan sebesar Rp 35.000 per orang, atau
sekaligus tiket pergi-pulang sebesar Rp 60.000 (November 2008). Selain itu, tiket yang sudah
dibeli juga berlaku kapan saja, asalkan masih dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan,
yaitu satu bulan. Sesampainya di Tanjung Pinang, perjalanan sekitar 2 jam menuju Desa
Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, dapat ditempuh dengan menggunakan taksi, mobil
sewaan, atau jasa travel.
e.
117
Pantai Nongsa
Kota Batam menyandang imej sebagai kota industrial, mulai dari garmen, elektronik,
sampai galangan kapal. Ia juga menjadi kota pusat belanja murah, seperti barang-barang
elektronik, hingga sebutan sebagai kota ‘ruli‘ (rumah liar) akibat tingginya arus migrasi dari
berbagai daerah di Nusantara untuk mencari pekerjaan di kota ini. Namun, pada
kenyataanya Kota Batam memiliki kawasan wisata alam yang layak diperhitungkan
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
keberadaannya. Yakni, sebuah pantai yang terletak di bagian timur laut Pulau Batam. Pantai
Nongsa namanya.
Pantai Nongsa merupakan salah satu potensi wisata alam yang mampu menyedot
wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang ke Kota Batam. Karena, pantai
yang terletak di bagian
timur laut Pulau Batam ini
memadukan keindahan
pantai dengan nuansa
kota modern.
Nama ‘nongsa‘
diadopsi
dari
nama
seorang tokoh Melayu
yang
pertama
kali
mengembangkan wilayah
pesisir ini, dari lahan
kosong dan tidak terurus
dengan balutan semakbelukar berupa pohon
bakau dan perdu menjadi kawasan yang memiliki nilai jual. Oleh masyarakat setempat,
kawasan ini dijuluki sebagai wilayah Nongsa Tua.
Dari pantai ini, pesisir pantai Singapura bagian selatan bisa dicapai hanya dengan
setengah jam berperahu motor. Dekatnya jarak ini menyebabkan masyarakat desa di sana
pada tahun 1970an hingga 1980an lebih mengenal mata uang dolar Singapura atau ringgit
Malaysia ketimbang rupiah.
Pada periode itu, para nelayan di wilayah Nongsa menjual ikannya, seperti ikan
kerapu, selar, dan ikan-ikan karang lainnya, langsung ke Singapura. Selain menjual ikan,
mereka juga biasa menjajakan kayu dari hutan-hutan di Pulau Batam yang kala itu wajah
pulau ini masih berupa hutan bakau yang menjadi habitat berang-berang, pelbagai burung
rawa, serta elang laut putih.
Kini, Pantai Nongsa Tua telah menjelma sebagai kawasan rekreasi yang prestisius.
Tempat ini juga merupakan sebuah kawasan yang selalu diperebutkan oleh para investor
untuk membangun resort. Tak jarang penduduk lokal hanya bisa melihat resort eksklusif yang
tak terjangkau harganya. Sebagai masyarakat nelayan yang menjadikan laut sebagai
penopang hidupnya, penduduk lokal kini tidak lagi bisa bebas berlayar. Pengelola resort
kerap melarang mereka membangun bagang di sekitar pantai karena dianggap
membahayakan kapal-kapal pesiar atau kapal wisata yang akan berlabuh di salah satu resort
yang ada.
Biasanya orang mengungkapkan kekagumannya, kesannya, pada pantai yang
dikunjungi tidak jauh dari apa yang ‘dimiliki‘ pantai itu. Misalnya hal-hal lumrah seperti
kondisi air pantai yang tenang atau berombak besar, warna air lautnya, pasirnya yang putih,
terumbu karang sebagai rumah ribuan biota laut, dan seterusnya. Dari semua itu, Pantai
Nongsa punya hal lain dan unik yang tidak banyak dimiliki sebagian besar pantai di Indonesia,
yakni pemandangan kota Singapura pada malam hari.
Pantai ini menghadap ke barat laut, karena itu Anda akan disuguhi pemandangan
matahari terbenam yang memukau di kala senja. Saat senja, pudarnya mega di ufuk barat
mengiringi kepergian sang surya, sementara di sebelah utara Anda akan menyaksikan
gemerlap lampu-lampu gedung di Singapura mulai menyala mengganti peran matahari.
Singapura malam hari menampilkan kerlap-kerlip dan kilau ribuan lampu kota megapolitan a
la New York khas Asia Tenggara, di mana tampak gedung-gedung hunian dan perkantoran
pencakar langit masa kini. Moment ini jangan pernah terlewat bila mengunjungi Pantai
Nongsa.
Lebih dari itu, mengunjungi Pantai Nongsa akan terasa natural karena
lingkungannya terjaga dengan baik. Bagi pengunjung yang ingin berenang di resiknya air laut,
maupun ber-snorkeling menyaksikan panorama bawah laut, ada baiknya lebih berhati-hati
karena di tempat ini belum ada penjaga pantai yang memantau wisatawan. Terutama bagi
para orang tua yang membawa putra-putrinya untuk bermain air.
118
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Selain keindahan pantai dan laut, serta nuansa metropolis Singapura yang dapat
Anda nikmati sepuasnya, ada baiknya Anda mengunjungi masyarakat lokal di kawasan ini
yang sebagian besar merupakan warga asli Melayu. Di sini, Anda dapat mengunjungi
permukiman penduduk yang terdapat di sepanjang pesisir pantai di Teluk Tering, yakni
Kampung Batu Besar dan Kampung Nongsa. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian
sebagai nelayan, sebagian yang lain berprofesi sebagai pedagang di kawasan sekitar pantai.
Menyaksikan dan mengikuti aktivitas keseharian mereka yang barangkali berbeda jauh dari
kehidupan rutin Anda, tentunya merupakan sebuah pengalaman yang mengasyikkan.
Kawasan ini makin istimewa karena wisatawan mudah menjangkau tempat wisata
unggulan lainnya di Provinsi Kepulauan Riau, seperti Pantai Sekilak dan Pantai Maimun yang
juga tidak kalah cantiknya dengan Pantai Nongsa, Pulau Penyengat, Pulau Lingga, Jembatan
Barelang, Kamp Pengungsian Vietnam di Pulau Galang, serta pusat-pusat perbelanjaan di
Kota Batam, seperti kawasan Nagoya yang hanya memerlukan waktu 20 menit perjalanan.
Kawasan wisata pantai ini terletak di Kelurahan Sambu, Kecamatan Batam Timur,
Kota Batam, Kepulauan Riau, Indonesia. Untuk sampai di Pantai Nongsa, wisatawan dapat
menggunakan taksi yang ‘berkeliaran‘ di sekitar Kota Batam. Dengan taksi, wisatawan
membutuhkan waktu lebih-kurang 40 menit dengan tarif Rp75.000,- dari pusat Kota Batam
(November 2008). Bila dari Bandara Hang Nadim, Kota Batam, kurang lebih akan memakan
waktu 25 menit dengan mobil atau sepeda motor sewaan. Untuk menuju Pantai Nongsa dari
bandar udara ini, pengunjung disarankan melalui Jalan Hang Tuah ke arah timur, hingga
bertemu pertigaan jalan. Kemudian belok kiri (ke arah utara), melewati Jalan Hang Jebat
sampai di pertigaan jalan kedua. Di persimpangan ini, pengunjung harus belok kiri untuk kali
kedua dan lewat Jalan Hang Lekiu yang langsung menuju Pantai Nongsa dengan waktu
tempuh 10 sampai 15 menit. Alangkah lebih baik menanyakan arah dan jalan pada warga
sekitar agar tidak tersesat. Karena, ada kemungkinan arah dan jalan di sekeliling pantai akan
terasa membingungkan untuk kunjungan kali pertama. Selain itu, bagi wisatawan yang
tengah berada di Singapura, dapat menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Tanah Merah,
Singapura. Kapal ferry ini akan berlabuh di Terminal Ferry Nongsa (ferry port Nongsa).
f.
119
Gunung Ranai
Berkunjung ke Kabupaten Natuna, salah satu kabupaten kepulauan terluar di
Indonesia,
akan
memberikan
pengalaman menarik bagi wisatawan.
Daerah ini memiliki perairan yang relatif
bersih dengan lingkungan alam yang
masih asri. Pada salah satu pulau
terbesar di kabupaten ini, yaitu Pulau
Ranai, terdapat potensi obyek-obyek
wisata yang belum banyak dikenal, di
antaranya Gunung Ranai dan Pantai
Tanjung Ranai.
Mengunjungi pulau ini, sejak
pendaratan pertama mata wisatawan
akan langsung tertambat oleh bentangan lanskap alam berupa Gunung Ranai yang tampak
elok menantang. Bahkan karena keindahannya, kantor-kantor Pemerintah Kabupaten
Natuna seolah-olah memanfaatkannya sebagai latar belakang (background) pemandangan
yang alami.
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Gedung-gedung perkantoran dengan latar belakang Gunung Ranai
Sumber Foto: liamustafa.multiply.com
Sebagai sebuah gunung tertinggi di kawasan Natuna, Gunung Ranai tak hanya
dikenal sebagai daerah pendakian yang menarik. Penduduk setempat yang umumnya bekerja
sebagai nelayan juga memiliki pedoman mistis berkaitan dengan Gunung Ranai. Masyarakat
percaya, apabila puncak gunung tersebut nampak diselimuti oleh awan tebal, maka perairan
laut Natuna sedang tidak bersahabat. Hujan lebat, gelombang besar, bahkan badai dapat
“dideteksi” melaui pertanda alam tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika Gunung Ranai
tampak dilatari langit yang cerah tanpa awan, pertanda laut sedang menyambut para
nelayan untuk menangkap ikan.
Gunung Ranai merupakan gunung dataran rendah, sebab ketinggiannya berkisar
antara 300—1.035 meter di atas permukaan laut (dpl). Meskipun demikian, para pelancong
yang mendaki gunung ini akan menemukan fenomena menarik, yaitu gradasi jenis-jenis
tanaman dari hutan dataran rendah hingga hutan dataran atas. Pada ketinggian tertentu,
para pendaki akan menemukan tipe-tipe vegetasi yang memperlihatkan ciri khas
pegunungan dataran atas (gunung dengan ketinggian rata-rata 2.000 meter dpl).
Menurut pengamatan tim dari Highcamp The Adventure‘s, sampai ketinggian 800
meter dpl, hutan di Gunung Ranai masih dominan ditumbuhi oleh jenis-jenis tanaman seperti
meranti (dipterocarpaceae), rasamala (altingia excelsa), keruing (dipterocarpus spp.), dan
turi (quercus spp.). Namun, antara ketinggian 800—968 meter dpl, akan tampak perubahan
tipe vegatasi, yaitu perubahan dari tipe hutan dataran rendah ke tipe kawasan hutan dataran
atas. Hal ini terlihat misalnya dari tumbuh-tumbuhan yang didominasi oleh semak, belukar,
dan pohon-pohon dengan ukuran pendek seperti umumnya pada hutan dataran atas.
Fenomena alam ini biasa disebut sebagai hutan berawan dataran rendah (Lowland
Cloud Forest). Hutan berawan (Cloud Forest) umumnya terjadi di wilayah pegunungan yang
terdapat di pulau besar serta jauh dari pantai, atau bisa juga terjadi pada pegunungan di
wilayah pulau yang kecil serta dekat dengan pantai. Tipe hutan seperti ini sebagian
wilayahnya sering diselimuti oleh kabut, sehingga memungkinkan tipe-tipe vegetasi tertentu
dapat tumbuh di kawasan gunung tersebut.
Untuk mencapai puncak Gunung Ranai, para pendaki harus melampaui tiga puncak
berupa tebing batu dengan ketinggian yang berbeda-beda. Puncak pertama bernama Puncak
Serendit dengan ketinggian 968 meter dpl. Puncak ini merupakan gugusan tebing dengan
tinggi mencapai 100 meter. Puncak selanjutnya adalah Puncak Erik Samali yang berada pada
ketinggian 999 meter dpl. Puncak ini merupakan tebing kedua dengan tinggi tebing sekitar
150 meter. Sementara puncak ketiga (puncak tertinggi) bernama Puncak Datuk Panglima
Husin, terletak pada ketinggian 1.035 meter dpl. Seperti dua puncak sebelumnya, Puncak
Datuk Panglima Husin juga merupakan tebing dengan ketinggian kira-kira 200 meter.
120
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Salah satu tim ekspedisi pendakian Gunung Ranai
Sumber Foto: mozank3roet.multiply.com
Para pendaki yang ingin menjajal tantangan Gunung Ranai sebaiknya berhati-hati
dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Sebab, tak jarang para pendaki harus rela turun
sebelum mencapai puncak teratas akibat didera angin kencang dan diselimuti kabut tebal.
Keputusan untuk mendirikan tenda atau menginap di atas gunung juga harus
mempertimbangkan banyak faktor, seperti ketersediaan bahan logistik, peralatan yang
cukup, dan kondisi cuaca yang bersahabat. Selain mendaki Gunung Ranai, wisatawan juga
dapat menikmati panorama Kota Ranai dari ketinggian melalui obyek wisata Bukit Batu
Sindu. Gunung Ranai terletak di Pulau Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau,
Indonesia.
Pulau Ranai merupakan lokasi pusat Pemerintahan Kabupaten Natuna. Pulau ini
berjarak sekitar 562 km dari Kota Tanjungpinang atau sekitar 589 km dari Kota Batam.
Perjalanan menuju pulau ini dapat ditempuh dengan kapal laut maupun pesawat udara.
Untuk transportasi laut, telah ada kapal laut dengan rute Tanjungpinang-Natuna. Hanya saja,
kapal laut tersebut dapat mengundurkan jadwalnya karena cuaca buruk. Terutama pada
bulan Oktober—April, di mana sedang berlangsung musim angin utara, biasanya perjalanan
dapat terganggu oleh curah hujan yang tinggi, gelombang besar, maupun badai.
Selain kapal laut, wisatawan juga dapat memanfaatkan penerbangan Riau Air Lines
(RAL) dengan rute Pekanbaru-Tanjungpinang-Ranai (PP) atau Pekanbaru-Batam-Ranai (PP)
yang melayani penerbangan setiap hari. Setelah mendarat di Bandara Perintis Pulau Ranai
(bandara yang dikelola oleh TNI-AU), wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan mobil
sewaan menuju Gunung Ranai.
g.
121
Pantai Lagoi
Pantai
Lagoi
merupakan salah satu obyek
wisata
kebanggaan
Pemerintah
Kabupaten
Bintan, Propinsi Kepulauan
Riau. Obyek wisata berkelas
dunia
ini
memiliki
pemandangan alam yang
indah dan kondisi lingkungan
yang bersih. Pohon kelapa
yang
berjajar rapi di
sepanjang tepian pantai juga
menjadi salah satu daya tarik
kawasan wisata Pantai Lagoi.
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau
Di samping keindahan alamnya, keramahan penduduk setempat juga menjadi keistimewaan
tersendiri, sehingga mampu memikat para pelancong yang berkunjung ke kawasan wisata ini.
Keberadaan obyek wisata Pantai Lagoi didukung pula dengan keindahan alam
lainnya yang tak kalah menarik, yaitu Sungai Sebong, Hutan Mangrove, dan berbagai macam
resort. Berbagai tempat tersebut masing-masing menawarkan panorama alam yang indah
beserta keistimewaan-keistimewaannya.
Mengunjungi Pantai Lagoi Anda dapat menyaksikan deburan ombak sambil
melakukan aktivitas-aktivitas seperti mandi, berenang, berendam, atau menyelam menyusuri
keindahan dasar lautnya. Setelah puas menikmati aktivitas di air ini, pelancong dapat
berjemur di atas hamparan pasir putihnya yang luas dan landai, sembari menikmati
hangatnya sinar matahari. Anda juga dapat berjalan-jalan santai menyusuri keindahan pesisir
pantai sambil menghirup udaranya yang sejuk.
Setelah puas menikmati panorama alam tersebut, pelancong juga dapat menikmati
keindahan dan kenyamaan resort-resort yang berada ratusan meter dari pantai ini. Di resort
ini, pelancong dapat bermain golf, berenang di kolam renang, menikmati spa, melihat
keindahan wahana laut, dan melakukan aktivitas seperti diving, snorkeling, dan lain-lain.
Pelancong juga dapat melanjutkan berwisata menyusuri keindahan Sungai Sebong
dengan menyewa perahu nelayan. Selama perjalanan, pelancong dapat melihat indahnya
berbagai macam tumbuhan mangrove. Pemandangan menarik lainnya adalah berbagai
macam tumbuhan yang tumbuh subur di pinggiran sungai seperti rhizophora, bakau, pandan,
dan pohon nipah yang tergolong langka. Dari atas perahu itu, pelancong juga dapat melihat
hewan-hewan liar yang hidup di pinggiran Sungai Sebong.
Bagi pelancong yang
gemar
memancing,
dapat
mengunjungi gubuk-gubuk kecil
milik nelayan yang berada di
muara Sungai Sebong. Gubukgubuk kecil yang terbuat dari
pohon bakau dan beratapkan
daun nipah ini, biasanya
digunakan untuk menangkap
ikan bilis dan cumi-cumi.
Keistimewaan
Hutan
Mangrove di Sungai Sebong
yaitu kondisi airnya terbagi
menjadi tiga jenis: air asin, air
payau, dan air tawar. Dari
kawasan ini, wisatawan dapat
melihat berbagai spesies tumbuhan yang hidup di dalamnya. Di daerah air asin misalnya,
pelancong dapat melihat jenis spesies rhizophora. Di zona air payau terdapat tumbuhan
dengan jenis bruguiera. Sementara pada daerah air tawar terdapat tumbuhan jenis
xylocarpus.
Pantai Lagoi terletak di Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Propinsi
Kepulauan Riau, Indonesia.
Untuk menuju Pantai Lagoi, perjalanan dapat dimulai dari Tanjung Pinang dengan
menggunakan mobil sewaan, taksi, atau travel. Dari kota Tanjung Pinang sampai ke lokasi
wisata biasanya akan dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Bagi wisatawan dari Batam,
perjalanan dapat dimulai dari pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur. Dari pelabuhan ini,
pelancong dapat naik speed boat menuju Tanjung Uban dengan ongkos sekitar Rp 30.000 per
orang. Setelah sampai di Tanjung Uban, kemudian pelancong naik taksi menuju Pantai Lagoi.
Perjalanan dari Tanjung Uban sampai ke lokasi wisata membutuhkan waktu sekitar 15—25
menit. Selain speed boat, wisatawan juga dapat naik kapal ferry dari Telaga Punggur menuju
ke Lagoi. Kapal ferry menuju Lagoi beroperasi sebanyak 3 kali setiap hari (Desember 2008).
122
Kepariwisataan : Provinsi Kepulauan Riau

Similar documents

representasi budaya masyarakat lokal dan politik identitas desa adat

representasi budaya masyarakat lokal dan politik identitas desa adat Bali, mengalami banyak perubahan fisik dan transformasi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat di dalamnya. Realitas ini diterima dan disadari oleh komuniti desa adat, dalam hal ini Desa Adat Kut...

More information