i ISLAM DI DUNIA MELAYU

Transcription

i ISLAM DI DUNIA MELAYU
ISLAM DI DUNIA MELAYU:
Keragaman Ekspresi dan Pertautan Tradisi
Kumpulan Abstrak Makalah
Pada International Conference on Islam in Malay Word
Hotel Puri Khatulistiwa, Bandung
20-22 November 2011
Tim Editor
Anton Athoillah
Munir
Bambang Qomaruzzaman
Kerjasama
Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri
Sunan Gunung Djati Bandung
dan
Akademi Pengkajian Islam
Universiti Malaya Kuala Lumpur
2011
i
KATA PENGANTAR DIREKTUR PROGRAM PASCASARJANA
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Realitas Islam di dunia Melayu (-Nusantara) adalah Islam yang memiliki
keunikan tersendiri, karena itu dapat disebut memiliki wajahnya sendiri. Di samping
berkembang di daerah yang jauh dari pusat ajaran Islam, Dunia Melayu juga –
menurut beberapa ahli sejarah-- mendapatkan sebaran Islam pada saat Peradaban
Islam mengalami saat-saat awal kemunduran. Lebih dari itu, masuknya Islam di
Dunia Melayu berlangsung dengan cara damai, hampir tanpa ekspansi dari pasukan
Daulah Islamiyah (seperti Umayah, Abasiyah di Timur Tengah, atau Mughal India).
Semua fenomena sejarah tersebut menghadirkan corak Islam yang khas, yang
berbeda dari pusat ajaran Islam (Timur Tengah).
Corak Islam Dunia Melayu yang khas ini kadang-kadang dianggap sebagai
―penyimpangan‖ dari bentuk aslinya, atau kerap dianggap sebagai ―Islam
Pinggiran‖. Penamaan ini disertai konotasi serba kurang dalam hal ketaatan,
misalnya kurang taat ajaran karena lebih didominasi oleh kebudayaan local masingmasing, kurang menunjukkan ekspresi budaya keseharian sebagaimana
dikembangkan di pusat ajaran (misalnya ketaatan terhadap aturan berpakaian), dan
kurang dapat merealisasikan ajaran Islam dalam bentuk peradaban (misalnya dalam
bentuk Negara) sebagaimana dalam peradaban Islam Timur Tengah.
Kekhasan wajah Islam Melayu ini sayangnya selama beberapa dekade
terabaikan, selalu dianggap sebagai catatan kaki dari Islam Timur Tengah. Atas
dasar itulah, konferensi Internasional ini digelar oleh umat Islam di Dunia Melayu.
Dunia Melayu yang dibayangkan adalah wilayah komunitas Muslim yang tersebar di
pelbagai Negara Asia Tenggara dan sekitarnya (seperti Indonesia, Malaysia,
Singapura, Thailand, Filiphina, Kamboja, Vietnam) dan yang terpengaruh oleh
Islam Dunia Melayu (seperti Srilangka, Afrika Selatan).
Untuk itulah, konferensi ini digagas dan menjadi benih yang akan
menumbuhkan gairah studi akademik yang menjadikan fenomena Islam di Dunia
Melayu sebagai kawasan baru penelitian ilmiah. Untu itu pula, kehadiran buku
kumpulan abstraks ini menjadi penting sebagai dokumen awal yang akan
memancing studi lebih lanjut dan lebih mendalam.
Buku kumpulan abstrak Konferensi Islam Dunia Melayu ini adalah salah
satu jejak dari ikhtiar bersama antara PPs UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan
API University of Malaya dalam memulai ―Renaissance Islam‖ dari Dunia Melayu.
Tentu saja, terima kasih sebesar-besarnya dihaturkan pada Direktur API University
ii
of Malaya seraya berharap bahwa kerjasama ini akan terus berlanjut dalam bidang
yang lain.
Selamat mengikuti Konferensi Internasional.
Prof. Dr.H. Dadang Kahmad, M.Si
Direktur
Program Pascasarjana
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
iii
KATA PENGANTAR DIREKTUR AKADEMI PENGAJIAN ISLAM
UNIVERSITI MALAYA MALAYSIA
Dalam kesempatan yang amat mulia ini, saya ingin mengucapkan
ribuan terima kasih kepada Editor yang bertungkus-lumus menyiapkan buku ini
yang merupakan sebahagian dari Seminar Antarabangsa Islam di Dunia Melayu.
Seminar dan buku ini adalah merupakan hasil daripada kerjasama Perjanjian
Persefahaman (MoU) di antara Universiti Malay dan Universiti Islam Negeri (UIN)
Bandung. Dalam buku ini, para penulis yang terdiri daripada pelbagai latarbelakang
keilmuan telah berjaya mewujudkan situasi kontemporari Islam di Dunia Melayu,
khususnya di Malaysia dan Indonesia.
Penerbitan buku ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah jaringan
pintar di antara para sarjana di Indonesia dan Malaysia. Setakat ini, keupayaan
untuk melihat konsep dan peranan Islam dalam konteks semasa telah banyak
dilakukan oleh para sarjana berkenaan. Dengan demikian, buku ini akan memberi
suatu warna baru mengenai keadaan semasa. Secara khususnya, para pensyarah dari
Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya telah berusaha secara padu untuk
memaparkan bagaimana bentuk pengajian Islam yang mereka terapkan dan
kesannya terhadap pemikiran Islam di Malaysia. Seminar ini tentu sahaja memberi
harapan yang amat maksima, manakala isu-isu berkenaan juga ditulis oleh para
penyelidik sama ada dari Indonesia mahupun luar Indonesia. Oleh itu, saya
merasakan buku ini dapat dijadikan sebagai satu rujukan semasa dan boleh
diperbaharui mengikut perkembangan zaman.
Saya juga ingin mengambil kesempatan untuk mengucapkan tahniah
kepada kedua-dua penganjur seminar iaitu Akademi Pengajian Islam, Universiti
Malaya, Malaysia dan Program Pascasarjana, Universiti Islam Negeri (UIN), Sunan
Gunung Djati, Bandung, Indonesia, serta penerbit buku ini atas kejayaan
melaksanakan seminar ini, seterusnya berjaya menerbitkan buku yang bermakna ini
dalam waktu yang singkat. Ucapan terima kasih juga kami tujukan kepada para
pensyarah di Akademi Pengajian Islam dan Program Pasca-Sarjana, Universiti Islam
Negeri (UIN) Bandung yang telah berjaya dengan cemerlang dalam melaksanakan
tugas mulia ini untuk jangka masa yang amat terhad.
Harapan saya agar komitmen dan semangat yang tinggi ini dapat diteruskan
bagi mengisi Memorandum Persefahaman (MoU) yang ditandatangani terdahulu di
antara kedua-dua institusi serumpun ini. Kita juga berharap akan banyak lagi usaha
dan upaya yang dilakukan oleh kedua-dua institusi pengajian tinggi ini dalam hal
lain seperti pertukaran pelajar, pensyarah dan penyelidikan bersama. Ini kerana
usaha ini akan menghasilkan kesan yang mendalam serta mendapat sokongan dari
masyarakat terutama di kalangan golongan yang berpendidikan, yang amat
iv
mencintai ilmu pengetahuan serta yang sangat berminat untuk melakukan
penyelidikan.
Profesor Madya Dr. Ruzman bin Md. Noor
Pengarah
Akademi Pengajian Islam
Universiti Malaya
Malaysia
v
Pengantar Editor
WARNA-WARNI WAJAH ISLAM DI DUNIA MELAYU
Buku ini merupakan kumpulan abstrak makalah yang disampaikan pada
International Conference on ―Islam in the Malay World,‖ yang diselenggarakan atas
kerjasama antara Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan
Akademi Pengajian Islam, Universitas Malaya, Kuala Lumpur, pada 20-21
November 2011 di Hotel Puri Khatulistiwa, Bandung. Sesuai dengan sesi yang
ditawarkan dalam konferensi tersebut, abstrak yang ada ini kemudian dipilah ke
dalam beberapa tema sebagai berikut.
Pertama, ―Kelahiran Bentuk Islam dalam Pelbagai Bidang di Kawasan
Dunia Melayu melalui Pendidikan Tinggi Islam,‖ membicarakan seluk beluk
pendidikan tingkat tinggi di Malaysia dan Singapura. Isu utama yang diangkat dalam
tema ini adalah masalah kurikulum dan hubungan sains dan agama. Ini bisa
dimaklumi mengingat kurikulum memiliki peran penting dalam pendidikan Islam,
khususnya di perguruan tinggi dan tidak selalu ajeg karena perubahan yang terjadi.
Isu penting lainnya adalah hubungan sains dan agama, yang terus menjadi
perdebatan di berbagai kalangan, terutama dengan munculnya upaya Islamisasi.
Perdebatan muncul bukan sekadar apakah perguruan tinggi dengan kurikulumnya
harus melahirkan ilmuan yang sekadar mengerti agama, atau ilmuan yang tetap
memiliki iman, tetapi juga bagaimana sesungguhnya rangka bangun keilmuan Islam
(epistemologi) itu sendiri, terutama dalam kaitannya dengan sains modern. Isu yang
tak kalah menarik diangkat dalam tema ini, tentu saja, adalah pendidikan Islam di
Singapura. Sebab, Singapura, seperti dimaklumi, merupakan negara dengan
penduduk mayoritas non-Muslim. Karena itu, pendidikan Islam di negara itu akan
memberi inspirasi yang besar bagi pendidikan Islam di negara-negara yang
mayoritas penduduknya Muslim.
Kedua, ―Tradisi Intelektual Islam Melayu,‖ yang mengangkat isu-isu
penting, seperti akidah, kearifan lokal dan arsitektur Islam, serta studi kasus tentang
Islam di Batam. Tokoh yang diangkat untuk membicarakan isu pertama adalah
Syaikh Wan Ismail, yang diyakini telah berperan besar dalam mengajarkan Islam
secara umum dan ilmu akidah secara khusus di wilayah Patani (Thailand Selatan)
dan sekitarnya. Ia memiliki tanggung jawab besar bagi penyebaran akidah Sunni di
wilayah tersebut, karena karya-karyanya telah menjadi buku ajar yang terus dikaji
hingga sekarang. Dengan kata lain, akidah yang diajarkan Syaikh tidak bisa tidak
mewarnai keagamaan di wilayah tersebut. Sementara itu, kedatangan Islam ke
wilayah Melayu terbukti tidak serta merta menghapus seluruh tradisi lokal yang ada,
tetapi hingga batas tertentu mengukuhkan tradisi itu sepanjang sejalan dengan
prinsip-prinsip Islam, sedangkan yang tidak sesuai dihilangkan atau dihapus. Dalam
bidang arsitektur, keberadaan menara masjid di samping menjadi simbol arsitektur
Islam, juga memiliki signifikansi geografis, iklim dan lain sebagainya. Tentu saja
perbedaan antara satu daerah dengan lainnya tak terhindarkan karena faktor-faktor
tersebut. Hal itu terlihat, misalnya, antara menara Masjid Demak dan menara Masjid
Kampung Hulu Melaka. Keduanya keluar dari tradisi arsitektur Arab dan lebih
vi
mengedepankan tradisi lokal. Semua itu, tak syak lagi, memperkaya ragam tradisi
arsitektur Islam secara keseluruhan.
Ketiga, ―Islam dalam Keragaman Budaya Melayu,‖ mendiskusikan berbagai
isu menarik seputar kesenian Islam. Pembahasan diawali dengan penerapan ―teori
takmilah‖ dalam seni visual, yang kini coba diaktifkan di Malaysia. Diyakini bahwa
teori tersebut akan dapat diadopsi dalam seni visual Islam modern. Bidang kesenian
lain yang tak kalah menariknya adalah seni ukir, yang mewarnai berbagai bangunan
Islam seperti masjid, istana, rumah, perabotan dan lain sebagainya. Bersamaan
dengan datangnya Islam di wilayah Melayu, seni ukir bukan semata-mata sebagai
seni, tetapi memiliki dimensi keagamaan yang mendalam, di samping memiliki basis
matematis yang kuat. Hal yang sama terjadi pada seni rupa, yang banyak
mendasarkan diri pada keharmonisan yang bertumpu pada gabungan simetri dan
matematika, seperti tercermin dalam seni rupa modern di Malaysia.
Keempat, ―Lembaga Sosial-Intelektual dan Jaringan Islam di Melayu, ‖yang
mendiskusikan berbagai lembaga yang memiliki peran penting bagi pengembangan
Islam. Salah satunya adalah Lembaga Pusat Motivasi di Malaysia yang kini
bermunculan. Diprediksi lembaga-lembaga ini akan memainkan peran penting
bersamaan dengan upaya penciptaan generasi Muslim cemerlang. Lembaga lain
yang menarik diangkat dalam bagian ini adalah lembaga pengelolaan zakat, yang
terbukti membagikan dana zakat tidak hanya kepada fakir-miskin Muslim, tetapi
juga kepada non-Muslim. Akan tetapi, hal itu hanya dimaksudkan sebagai upaya
berdakwah. Isu lain yang diangkat adalah hubungan antara kelembagaan adat dan
agama di Malaysia, khususnya di Negeri Sembilan. Dikemukakan bahwa adat
dengan berbagai lembaganya di wilayah ini tetap dipertahankan selama hal itu tidak
berlawanan dengan spirit Syariah. Sementara itu, lembaga perbankan Islam di
Malaysia diangkat terutama karena perkembangannya yang sangat cepat dan
kelebihannya di atas bank-bank Islam di negara-negara Islam lainnya. Karena itu,
perbankan Islam di Malaysia sering dijadikan model dalam pembangunan bank
Islam oleh negara-negara lain.
Kelima, ―Islam, Multikulturalisme dan Pluralisme,‖ membicarakan tentang
berbagai persoalan terkait dengan pluralisme, baik pluralisme agama, etnis dan lain
sebagainya, yang tercermin di negara Malaysia dan Indonesia. Sebenarnya,
pluralisme di satu sisi dapat menjadi daya kekuatan bagi suatu negara, akan tetapi ia
juga menjadi prima causa bagi benturan antara masyarakat dalam negara tersebut.
Terbukti, pluralisme agama sering menjadi pemicu konflik antarmasyarakat akibat
pengelolaan pluralisme yang tidak memadai. Ini akan semakin mengemuka
bersamaan dengan proses globalisasi yang cenderung mengikis nilai-nilai jati diri
lokal sebuah masyarakat. Tidak heran jika kemudian pluralisme dipandang tidak
sejalan dengan Islam dan melampaui batas akidah yang sederhana. Sementara itu,
pluralitas etnik juga menjadi pemicu konflik antarmasyarakat berbeda suku, seperti
sering terjadi baik di Malaysia maupun di Indonesia. Di Malaysia, misalnya, konflik
antara etnis China dan India, di samping bumi putera, sebagai penduduk asli.
Konflik-konflik inilah yang mendorong terbitnya koran Saudara, yang diterbitkan
oleh kelompok reformis Melayu di Malaysia. Melalui koran ini, bumi putera
didorong agar dapat bersaing dengan etnis lain, terutama mereka yang selama ini
vii
dikenal sebagai etnis asing. Terakhir, pembahasan dalam tema ini berkaitan dengan
pernikahan antar-agama di Indonesia menurut Kompilasi Hukum Islam. Menurut
kompilasi ini, nikah beda agama jelas dilarang berdasarkan argumen-argumen
keagamaan. Akan tetapi, ditinjau dari perspektif HAM, pernikahan semacam itu sahsah saja, dan bahkan pelarangan seperti yang terkandung dalam KHI dapat
dipandang bertentangan dengan prinsip HAM.
Keenam, ―Wajah Baru Dunia Islam Melayu,‖ memaparkan transformasi
definisi ―Melayu‖ seperti terjadi di Malaysia. Sejauh ini, yang disebut orang Melayu
hanya berlandaskan pada keturunan dan adat istiadat Melayu dengan Islam sebagai
agama yang dianutnya. Akan tetapi, definisi semacam itu mengalami persoalan,
karena tidak sedikit mereka yang berketurunan Melayu terbukti tidak berbahasa
Melayu, bahkan mulai meninggalkan adat istiadat yang selama ini diklaim sebagai
Melayu. Di sini, satu-satunya kriteria yang tetap bertahan kokoh adalah Islam, yang
terbukti efektif dijadikan sebagai asas penting untuk mengonstruksi jati diri Melayu.
Isu lain yang diangkat dalam bagian ini adalah perkembangan Islam di Sabah,
Malaysia. Sebagai agama mayoritas, Islam diharapkan dapat berperan besar selama
agama ini dipahami secara multi-dimensional dan memberikan manfaat bagi
masyarakat.
Ketujuh, ―Demokrasi dan Masyarakat Islam,‖ menampilkan isu-isu
peradilan dan konsep negara Islam. Dalam isu pertama, kasus yang diangkat adalah
sistem peradilan Islam di Aceh. Salah satu keistimewaan provinsi ini adalah
pemberian status otonomi khusus, termasuk dalam pelaksanaan syariat Islam.
Mengingat sistem peradilan di sana masih berada di bawah Mahkamah Agung,
sistem peradilan Islam seringkali memunculkan persoalan, seperti hukum rajam dan
lain sebagainya. Isu lain yang diangkat dalam bagian ini adalah konsep negara Islam
di Malaysia, yang diperdebatkan oleh dua partai terkemuka, UMNO dan PAS.
Meskipun Islam telah diakui sebagai agama resmi negara, hal itu dipandang oleh
PAS belum dapat memenuhi kriteria sebagai negara Islam. UMNO, sebaliknya,
berpandangan bahwa negara Islam tidak harus dipahami secara formal. Yang lebih
penting bagi partai ini adalah bagaimana kebijakan-kebijakan negara memiliki
semangat Islam, meskipun tidak secara eksplisit disebut Islam. Terlepas dari
perdebatan ini, penyelenggaraan pemerintahan di Kelantan justru didasarkan pada
siyasah syar‘iyyah. Melalui pendekatan ini pemerintah dapat berhasil dalam
berbagai kebijakannya.
Kedelapan, ―Teks Islam di Dunia Melayu,‖ membicarakan berbagai isu
keagamaan, terutama terkait dengan teologi Islam dan hadis. Salah seorang teolog
penting yang diangkat dalam bagian ini adalah Syaikh Dau bin ‗Abdullah al-Fatani,
yang menulis kitab Hidayat al-Muta‘allim wa ‘Umdat al-Mu‘allim. Pembahasan
difokuskan pada sifat dua puluh yang menjadi tradisi kalam Sunni. Meskipun
demikian, pengaruh teolog pembaharu, Muhammad ‗Abduh, juga sangat besar di
Alam Melayu, terutama para tokoh-tokoh yang kemudian dikenal sebagai revivalis
Muslim. Isu lain yang diangkat adalah kajian hadis di Malaysia. Seperti di tempattempat lain, minat Muslim terhadap hadis tak sebanyak peminat fikih dan akidah.
Meskipun demikian, belakangan ini minat masyarakat untuk mengkaji hadis
mengalami peningkatan besar, baik dalam masyarakat umum maupun para sarjana.
viii
Isu lain yang juga dibicarakan adalah konsep jati diri Melayu dan peran Islam.
Dikatakan bahwa Islam sesungguhnya telah berakar dalam pemikiran dan jati diri
Muslim Melayu. Meskipun demikian, unsur-unsur tradisi non-Islam, seperti
animisme, belum dapat dihilangkan secara tuntas dalam kehidupan mereka
bersamaan dengan kedatangan Islam.
Kesembilan,―Filantropi Islam di Dunia Melayu,‖ mengangkat isu-isu
tentang zakat, wakaf, sedekah dan sejenisnya. Kasus yang pertama dibicarakan
adalah tentang pengelolaan zakat di Malaysia dan Brunei Darussalam. Meskipun ada
persamaan antara keduanya, perbedaannya tidak dapat dihindarkan. Di antara
persamaan itu meliputi peran raja, pendistribusian, dan lembaga yang ada di bawah
kekuasaan raja. Sementara itu, pengelolaan zakat di Malaysia dikatakan mengalami
perubahan besar bersamaan dengan semangat kebangkitan Islam. Bahkan saat ini,
lembaga zakat kini menjadi media ekonomi yang sangat penting. Peningkatan dana
yang terkumpul dari zakat ini juga didukung oleh sistem tanggung jawab
perusahaan, yang wajib menyerahkan zakat kepada lembaga yang berhak
menerimanya. Aspek filantropi lain yang diangkat adalah peran wakaf dalam
pembangunan masyarakat Muslim, seperti tercermin di Penang, Malaysia. Peran itu
diwujudkan dalam bentuk pembiayaan fasilitas, seperti bangunan kantor, masjid atau
donasi tunai melalui berbagai lembaga masjid.
Kesepuluh, ―Islam, Gender dan Trafickings,‖ membicarakan isu-isu
perempuan di Dunia Melayu. Isu yang pertama diangkat adalah persoalan
kedudukan perempuan di Negeri Kelantan, Malaysia. Di sini, pelaksanaan peran
perempuan terus ditingkatkan dan menjadi perkembangan politik yang menarik.
Terkait dengan isu tersebut adalah masalah ketentuan kifayah dan ma‘ruf dalam
pemberian infak kepada isteri dan anak sebagaimana yang diputuskan dalam
Mahkamah Syariah Malaysia. Dikatakan bahwa ketentuan tersebut sangat
bergantung pada situasi masyarakat dan dilakukan berdasarkan taksiran.
Kesebelas, ―Kajian Islam di Dunia Melayu,‖ memaparkan beberapa wacana
keislaman mutakhir. Salah satunya adalah gagasan fiqh Malaysia. Yang demikian itu
dikarenakan Malaysia memiliki realitas tersendiri, sehingga dibutuhkan fiqh khas
negeri ini. Karena itu, fiqh Malaysia merupakan upaya membentuk kompendium
hukum Islam yang tetap mengacu kepada syariat Islam, namun dalam konteks
Malaysia. Isu lain yang diangkat adalah penolakan doktrin trinitas yang dianut
agama Kristen. Penolakan ini didasarkan baik pada sumber-sumber sendiri, maupun
nalar akal sehat. Isu lainnya adalah penerapan istihsan dalam pengadilan di
Malaysia, yang ternyata dibolehkan bagi hakim untuk melakukannya. Terkait
dengan peradilan syariah adalah masalah harta bersama antara suami dan isteri. Isu
ini terus mengalami perkembangan bersamaan dengan perkembangan konsep harta
itu sendiri. Isu terakhir yang dibicarakan adalah pemikiran ekonomi Islam di
Melayu, yang melihat kekuatan dan kelemahannya.
Terakhir, ―Transisi Islam di Dunia Melayu,‖ membicarakan perdebatan
seputar pejuang komunis dan nasionalis di Indonesia dan Malaysia. Di samping itu,
dalam bagian ini juga dibicarakan tentang pengajaran ekonomi Islam di Jurusan
Sharia dan Ekonomi di Universiti Malaya.
ix
Dari berbagai topik tersebut terlihat bahwa Islam di Alam Melayu memiliki
keragaman ekspresi yang berbeda satu dari lainnya, namun tetap dalam bingkai
semangat keislaman. Meskipun makalah-makalah tersebut membicarakan Islam di
Melayu, namun secara keseluruhan belum mewakili Alam Melayu sebagaimana arti
sebenarnya kata tersebut. Sebab, sesungguhnya masih banyak kaum Muslim yang
dapat digolongkan sebagai Melayu, tetapi belum dibicarakan di sini. Terlepas dari
itu, cukuplah dikatakan bahwa makalah-makalah tersebut merepresentasikan
sebagaian dari ekspresi Islam di Alam Melayu.
Tim Editor
Anton Athoillah
Munir
Bambang Qomaruzzaman
x
Kata Pengantar Direktur PPs UIN SGD Bandung ..............................................
Kata Pengantar Direktur APIUM Malaysia ..........................................................
Pengantar Editor .............................................................................................................
ii
iv
vi
Daftar Isi..............................................................................................................................
xi
Topik: Kelahiran Bentuk Islam dalam Pelbagai Bidang di Kawasan
Dunia Melayu melalui Pendidikan Tinggi Islam ...............................................
1
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DAN BAHASA
ARAB DI MADRASAH AL-JUNEID, SINGAPURA
Dr. Muhammad Azhar Bin Zailaini, Ahmad Qadri bin Mohamed Sidek .....................
1
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI INSTITUSI PENGAJIAN TINGGI
AWAM MALAYSIA: PENGALAMAN AKADEMI PENGAJIAN ISLAM,
UNIVERSITI MALAYA (APIUM)
Shamsiah Binti Mohamad, Saiful Akhyar Lubis, Muhammad Lukman bin Ibrahim,
MohdAnuar Bin Mamat, Asyraf Isyraqi Bin Jamil ................................................
1
PENGAJIAN TINGGI ISLAM DI AKADEMI PENGAJIAN ISLAM
UNIVERSITI MALAYA: REALITI DAN PROSPEK MASA DEPAN
Prof Madya Dr Mustaffa bin Abdullah, Dr Ahmad Kassar,
Nor Zahiyan Hanafi ...............................................................................................................
1
KE ARAH MELAHIRKAN SAINTIS AGAMAWAN: PENGALAMAN DI
AKADEMI PENGAJIAN ISLAM, UNIVERSITI MALAYA (APIUM)
Noor Naemah Abdul Rahman, Wan Suhaimi Wan Abdullah, Madiha , Fatin Majdina
dan Abdul Halim Ibrahim ......................................................................................................
KURIKULUM SAINS POLITIK ISLAM DI INSTITUSI PENGAJIAN TINGGI:
PENGALAMAN DI AKADEMI PENGAJIAN ISLAM UNIVERSITI MALAYA
2
Dr. Bharuddin bin Che Pa .....................................................................................................
2
Topik: Tradisi Intelektual Islam Melayu...............................................................
4
ISLAM DI NUSANTARA: KAJIAN KE ATAS PULAU BATAM BANDAR
MADANI DI ALAM MELAYU
Amin Maulana, Ahmad Dahlan, Dr. Mohd Roslan Haji Mohd Nor,
Profesor. Dato' Dr Zulkifli Haji Mohd Yusoff ......................................................................
xi
4
)‫م‬5691( ‫الشيخ واى إسواعيل بي واى عبد القادر وجهىده في هجال علن العقيدة اإلسالهيت‬
‫د يجاْد يصطفٗ بٓجج‬.‫ أ‬:‫ى‬ٚ‫ حقد‬...................................................................................................
4
ISLAM SEBAGAI PENYUMBANG KEARIFAN TEMPATAN DI ALAM
MELAYU
Prof. Madya Dr. Rahimin Affandi Abd. Rahim, Prof. Dato’ Dr. Othman Md. Yatim,
Prof. Dato’ Zainal Abidin Borhan, Badriah Nordin ............................................................
WACANA DAN TEORI REKABENTUK MENARA MASJID DI NUSANTARA
Azizul Azli Ahmad, Dr. Aizan Ali@Mat Zin .........................................................................
KAJIAN KOMPERATIF TERHADAP REKA BENTUK DAN RUANG
DALAMAN MASJID INDONESIA DAN MALAYSIA PADA ABAD KE-18
5
5
Azizul Azli Ahmad, Syaimak Ismail .......................................................................................
5
Topik: Islam dan Keragaman Budaya .......................................................................
7
PENDEKATAN TEORI TAKMILAH DALAM SENI VISUAL DI MALAYSIA:
SUATU PENGENALAN
Ishak Bin Ramli, Rahmin Bin Amin,
Professor Madya Hj. Ponirin Bin Amin ...............................................................................
7
RAGAM HIAS MOTIF ORGANIK DAN GEOMETRI DALAM HIASAN UKIRAN
RUMAH TRADISIONAL MELAYU DI TERENGGANU
Dr. Sabzali Musa Kahn , En.Mohd. Effendi Shamsuddin
7
PENJENAMAAN ISLAM DALAM KONTEKS KOMUNIKASI VISUAL
PENGARUH DARI SENI ISLAM DI MALAYSIA
Muhammad Fauzan Bin Abu Bakar, Dr. Ghazali Daimin ..................................................
8
STUDI TENTANG INTERNALISASI NILAI-NILAI SUFISTIK
MELALUI MUSIKALISASI QASHIDAH BURDAH
Fadlil Yani Ainusyamsi ..........................................................................................................
8
SIMETRI DINAMIK: MENCARI KEINDAHAN SENI RUPA MODEN ISLAM
DI MALAYSIA DALAM GABUNGAN MATEMATIK DAN ESTETIK
Prof. Dr. Dzul Haimi Mohd Zain, Alina Abdullah...............................................................
9
Topik: Lembaga Sosial-Intelektual dan Jaringan Islam di
Dunia Melayu ....................................................................................................................
10
xii
PUSAT MOTIVASI SEBAGAI PUSAT KECEMERLANGAN UMAT ISLAM:
SATU KAJIAN PUSAT-PUSAT MOTIVASI DI LEMBAH KLANG,
MALAYSIA
Nur Shahidah Pa’ad, Prof. Dr. Ab Aziz Mohd Zin, Nurul Husna Mansor,
Selamat Amir ..........................................................................................................................
DANA ZAKAT DAN ASNAF PELBAGAI ETNIK NON-MUSLIM DI
MALAYSIA
Zahri Hamat............................................................................................................................
ADAT PERPATIH DAN HUKUM ISLAM DI NEGERI SEMBILAN,
MALAYSIA: SUATU TINJAUAN SEJARAH
10
10
Nurul Shima Bt Taharuddin, Prof Madya Mohamad Khalil Amran ...................................
11
WAKAF SEBAGAI SUMBER EKONOMI SYARI’AH
Dr. Mukhlisin Muzari, M.Ag .................................................................................................
11
PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN ISLAM MALAYSIA SEBAGAI
MODEL TRANSFORMASI PERBANKAN ISLAM DUNIA
Mohammad Taqiuddin Mohamad, Prof. Dr. Joni Tamkin Borhan, Dr. Ahmad Azam
Sulaiman@Mohamad, Dr. Asmak Ab Rahman, Azizi Che Seman,
Dr. Patmawati Hj Ibrahim.....................................................................................................
12
Topik: Islam, Multikulturalisme, dan Pluralisme di Dunia Melayu ..........
13
CABARAN PLURALISME DAN PEMBANGUNAN JATI DIRI MASYARAKAT
MELAYU ISLAM DI MALAYSIA
Nurul Husna Mansor, Dr. Fakhrul Adabi Abdul Kadir, Nor Shahidah Paad,
Selamat Amir ..........................................................................................................................
MAYARAKAT MELAYU NUSANTARA: ANTARA KESEDERHANAAN
PEGANGAN IKTIKAD DAN CABARAN PLURALISME AGAMA
Dr. Mohd. Fauzi Hamat, Wan Adli Wan Ramli, Azmil Zainal Abidin ................................
INTERRELIGIOUS MARRIAGE IN THE KOMPILASI HUKUM ISLAM:
A HUMAN RIGHT PERSPECTIVE
13
13
Dr. Widyawati.........................................................................................................................
14
Topik: Wajah Baru Dunia Islam Melayu ................................................................
15
PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM MELAYU
Muhammad Syukri Salleh ......................................................................................................
xiii
15
PROSPEK ISLAM DI NEGERI SABAH: REALITI DAN CABARAN
Selamat Bin Amir, Nurul Husna Binti Mansor, Nurul Shahidah Binti Paad,
Prof. Dato’ Dr. Zulkifli Bin Yusoff........................................................................................
MELAYU DAN ISLAM: SATU ANALISIS DARI PERSPEKTIF JATI DIRI
15
Nur Azah binti Razali, Prof. Madya Dr. Ahmad Nidzammuddin Sulaiman .......................
16
MEMBINA GOLONGAN PAKAR PENGAJIAN ISLAM DAN ISU-ISU
KONTEMPORARI DALAM KONTEKS TAJDID ILMIAH : SATU PENGALAMAN
AKADEMI PENGAJIAN ISLAM, UNIVERSITI MALAYA (1993-2011)
Ishak Bin Hj. Suliaman, Ruzman Bin Md Noor, Mohd Yakub @ Zulkifli Bin Mohd
Yusoff, Mustaffa Bin Abdullah dan Mohd Roslan Bin Mohd Nor .......................................
16
PERANAN PESANTREN DALAM PEMBANGUNAN DESA (Kajian Kes di
Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia)
Mohamad Mustari ..................................................................................................................
17
Topik: Demokrasi dan Masyarakat Muslim ........................................................
18
SISTEM KEADILAN ISLAM DI NUSANTARA: PENGALAMAN NANGGROE
ACEH DARUSSALAM
Dr. Siti Zubaidah Ismail, Mohd Zaidi Daud ........................................................................
KONSEP NEGARA ISLAM MALAYSIA: SATU STUDI PERBANDINGAN
ANTARA PARTI MELAYU (UMNO) DAN PARTI ISLAM (PAS)
Dr Mohd Alwee Yusoff, Prof Madya Dr Shukeri Mohamad ...............................................
PENDEKATAN SIASAH SYAR‘IYYAH DALAM PENTADIRAN NEGARA
DAN KESANNYA KEPADA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT:
SATU KAJIAN KEPIMPINAN MENTERI BESAR KELANTAN, MALAYSIA
(1990-2011)
Mohamad Azrien Mohamed Adnan, Prof Madya Dr Shukeri Mohamad ..........................
PENERTAAN POLITIK TUANKU TAREKAT SYATTARIYAH DALAM
PARTAI NASIONALIS DI PADANG PARIAMAN, SUMATERA BARAT
Sadri Chaniago, Nidzam Sulaiman .......................................................................................
DEMOKRASI INDONESIA: PENGALAMAN NEGARA SEBAGAI NEGERI
MUSLIM TERBESAR
18
18
19
20
Dr. Fauzan Ali Rasyid, M.Si..................................................................................................
21
Topik: Teks Islam di Dunia Melayu .........................................................................
23
xiv
PERBAHASAN SIFAT DUA PULUH DALAM MUQADDIMAH MANUSKRIP
HIDAYAH AL-MUTA’ALLIM WA ‘UMDAH AL-MU’ALLIM KARYA SHAYKH
DAUD BIN ‘ABDULLAH AL-FATANI
Ahmad Sharifuddin bin Mustapha, Profesor Madya Dr Abdul Karim Ali .........................
23
PENGAJIAN AL-QURAN DI MALAYSIA: PERKEMBANGAN, CABARAN
DAN MASA DEPAN
Mohd Yakub@Zulkifli Hj Mohd Yusoff, Mustaffa Abdullah, Faisal Ahmad Shah,
Monika @ Munirah Abd Razzak, Ahmad K. Kasar, Jilani Ben Touhami Meftah,
Sedek Arifin.............................................................................................................................
23
PENGAJIAN HADITH DI MALAYSIA: CABARAN DAN MASA DEPAN
Faisal Ahmad Shah, Fauzi Deraman, Ishak Suliaman, Thuraya Ahmad,
Khadher Ahmad, Mohd Murshidi Mohd Noor .....................................................................
TASAWUR MELAYU: WARISAN PRA-ISLAM DAN ISLAM
24
Mohd Shukri Hanapi ..............................................................................................................
25
Topik: Filantropi Islam di Dunia Islam Melayu .................................................
26
URUS TADBIR ZAKAT DI NEGARA MELAYU: PERBANDINGAN AMALAN
DI MALAYSIA DAN BRUNEI DARUSALAM
Zakaria bin Bahari .................................................................................................................
THE IMPACT OF ISLAMIC REASSERTION ON MALAYSIAN ZAKAT
ADMINISTRATION
26
Mr. Suhaili bin Sarif, Dr. Nor`Azzah Kamri, Dr. Azian Madun .........................................
26
IMPLEMENTASI HUKUM WAKAF DI INDONESIA
Deden Effendi .........................................................................................................................
27
Topik: Islam, Gender, dan Traficking .....................................................................
29
DASAR WANITA DARI PERSPEKTIF ISLAM: SATU STUDI
PELAKSANAAN & KESANNYA DI NEGERI KELANTAN, MALAYSIA
Prof Madya Dr Shukeri Mohamad,
Prof Dato’ Dr Mohd Yakub @ Zulkifli Mohd Yusoff ...........................................................
PENENTUAN KADAR KIFAYAH DAN MAKRUF NAFKAH ANAK DAN
ISTERI: RUJUKAN KHUSUS KEPADA KEPUTUSAN PENGHAKIMAN DI
MAHKAMAH-MAHKAMAH SYARIAH DI MALAYSIA
Raihanah Azahari (PhD), Cik Bahiyah Ahmad....................................................................
xv
29
29
NEW ERA OF MUSLIM WOMEN IN MALAY WORLD: THE CONTESTED
WOMEN'S ADVANCEMENT IN DECISION MAKING BODIES
Erni Haryanti .........................................................................................................................
PERKEMBANGAN SEMASA DALAM PEMBAHAGIAN HARTA
SEPENCARIAN: ANALISIS PENGHAKIMAN DI MAHKAMAH SYARIAH
MALAYSIA.
30
Raihanah Abdullah dan Mohd NorHusairi Mat Hussin .....................................................
31
Topik: Kajian Keislaman di Dunia Melayu ...........................................................
32
TRANSFORMASI HUKUM ISLAM KOTEMPORARI MELALUI GAGASAN
FIQH MALAYSIA
Dr. Saadan Man .....................................................................................................................
ANALISIS PENOLAKAN DOKTRIN NON-TRINITI DALAM AJARAN
KRISTIAN;
ANALISIS KAJIAN DI MALAYSIA
Khadijah Mohd Hambali @ Khambali, Mahmud bin Ahmad.............................................
SYARIAH COURTS IN MALAYSIA AND THE DEVELOPMENT OF ISLAMIC
JURISPRUDENCE: THE STUDY OF ISTIHSAN
32
32
Mohd. Hafiz Jamaludin, Prof. Dr. Ahmad Hidayat Buang .................................................
33
PENANGGALAN ISLAM KEJAWEN : DIALOG ISLAM
DAN BUDAYA JAWA
Misno.......................................................................................................................................
34
Topik: Transmisi Islam di Dunia Melayu .....................................................................
35
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERBEZAAN PENETAPAN FATWA DI
MALAYSIA DAN SINGAPURA: PENELITIAN TERHADAP BEBERAPA
FATWA TERPILIH MJFK MUIS
Prof. Madya Datin Dr. Noor Naemah bt Abdul Rahman,
Mohd Akram bin Dato‘ Dahaman@Dahlan .........................................................................
BALAI CERAP AL-BIRUNI DAN UNIT FALAK SYAR’IE, PEJABAT MUFTI
NEGERI SABAH: PERANAN DAN SUMBANGANNYA DALAM BIDANG
FALAK
Ibnor Azli Ibrahim, Mohd. Jumat AbdulRazak, Susiknan Azhari ......................................
xvi
35
35
ISLAM DAN KOMUNISME DALAM ALAM MELAYU: KAJIAN MENGENAI
PEJUANG KIRI DAN NASIONALIS DI INDONESIA DAN MALAYSIA
SEBELUM MERDEKA
Muhammad Harya Ramdhoni, Nidzam Sulaiman ................................................................
TOKOH-TOKOH DI BALIK GERAKAN DA'WAH PERSIS: DARI A.
HASSAN HINGGA SHIDDIEQ AMIEN
36
M. Taufik Rahman ..................................................................................................................
36
Topik: Orientalisme, Oksidentalisme & Globalisasi ........................................
37
ORIENTALISM DAN OCCIDENTALISM DALAM KAJIAN ISLAM:
PENDEKATAN AKADEMI PENGAJIAN ISLAM,
UNIVERSITI MALAYA, KUALA LUMPUR, MALAYSIA
Prof. Madya Dr. Rahimin affandi abd. Rahim, Prof. Madya Dr. Ruzman Md Noor
Prof. Madya Mohammad Kamil Ab Majid, Nor Hayati Bt Md Dahlal ................................
IMAGES OF THE WEST IN URBAN INDONESIA: MUSLIMS
NEGOTIATING THE WESTERN PATH TO MODERNITY
37
Melanie V. Nertz, MA .........................................................................................................................
37
MUTUAL RESPECT AND DIALOGUE IS A CHALLENGE FOR THE FUTURE OF
DIVERSITY IN THE GLOBALIZATION
DR. Suraiya IT ........................................................................................................................
38
PENUTUP.............................................................................................................................
DAFTAR PENULIS ............................................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN ..................................................................................................
39
41
45
xvii
Paralel I (08.00 – 10.00)
Ruang I
Topik:
Kelahiran Bentuk Islam dalam Pelbagai
Bidang di Kawasan Dunia Melayu melalui
Pendidikan Tinggi Islam
Nama Pembentang
Dr. Muhammad Azhar Bin Zailaini &
Ahmad Qadri Bin Muhammad Sidek (API
Univerity of Malaya, Kuala Lumpur)
Judul Makalah
Sejarah Dan Perkembangan
Pendidikan Islam Dan Bahasa
Arab Di Madrasah Al-Juneid,
Singapura
Shamsiah binti Mohamad, Saiful Akhyar
Lubis, Muhammad Lukman bin Ibrahim,
Mohd Anuar bin Mamat, Asyraf Isyraqi bin
Jamil, & Nasharuddin Muhamad (API
Univerity of Malaya, Kuala Lumpur)
Kurikulum Pendidikan Tinggi
Islam di Institusi Pengajian
Tinggi Awam Malaysia:
Pengalaman Akademi
Pengajian Islam, Universiti
Malaya (APIUM)
Prof. Madya Dr. Mustaffa Bin Abdullah, Dr.
Ahmad Kassar, & Nor Zahiyan Hanafi (API
University of Malaya, Kuala Lumpur)
Pengajian Tinggi Islam Di
Akademi Pengajian Islam
Universiti Malaya: Realiti Dan
Prospek Masa Depan
Noor Naemah Abdul Rahman, Wan Suhaimi
Wan Abdullah, Madiha, Fatin Majdina, &
Abdul Halim Ibrahim (API University of
Malaya, Kuala Lumpur)
Kearah Melahirkan Saintis
Agamawan: Pengalaman di
Akademi Pengajian Islam,
Universiti Malaya (APIUM)
Dr. Bharuddin Bin Che Pa (API University of
Malaya, Kuala Lumpur)
Kurikulum Sains Politik Islam
Di Institusi Pengajian Tinggi:
Pengalaman Di Akademi
Pengajian Islam Universiti
Malaya
Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, MA
(Pembanding)
Dr. Izzuddin Mushthafa, MA
xviii
Topik:
Kelahiran Bentuk Islam dalam Pelbagai Bidang di Kawasan Dunia Melayu
melalui Pendidikan Tinggi Islam
Dr. Muhammad Azhar Bin Zailaini,
Ahmad Qadri bin Mohamed Sidek
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DAN BAHASA ARAB
DI MADRASAH AL-JUNEID, SINGAPURA
Kertas kerja ini bertujuan untuk menyingkap sejarah pendidikan Islam dan
bahasa Arab di Singapura dengan secara khusus melihat perkembangan pendidikan
di Madrasah Al-Junied. Ini kerana madrasah ini telah melahirkan ramai sekali para
ulama, ilmuan dan juga pemimpin agama yang tersohor dan dikenali di Singapura
dan rantau ini. Madrasah yang ditubuhkan pada tahun 1927 ini mempunyai
beberapa asas penting pendidikan yang membolehkannya terus memainkan peranan
penting dalam perkembangan Islam sehingga ke hari ini.
Shamsiah Binti Mohamad, Saiful Akhyar Lubis, Muhammad Lukman bin Ibrahim,
MohdAnuar Bin Mamat,
Asyraf Isyraqi Bin Jami
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
DI INSTITUSI PENGAJIAN TINGGI AWAM MALAYSIA :
PENGALAMAN AKADEMI PENGAJIAN ISLAM,
UNIVERSITI MALAYA (APIUM)
Kertas ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah perkembangan kurikulum
Pendidikan Islam di Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya (APIUM). Ia juga
bertujuan untuk menjelaskan secara terperinci kerangka kurikulum Pendidikan Islam
di bawah Malaysian Quality Framework yang mula dikuatkuasakan mulai sesi
2010/2011. Seterusnya kertas ini juga akan mengemukakan beberapa cadangan
penambahbaikan kepada kurikulum yang sedang berjalan sekarang ini. Bagi tujuan
pengumpulan data, kaedah historis, dokumentasi dan temubual akan digunakan.
Maklumat dan data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan kaedah analisis
deskriptif dan perbandingan.
Prof Madya Dr Mustaffa bin Abdullah, Dr Ahmad Kassar,
Nor Zahiyan Hanafi
PENGAJIAN TINGGI ISLAM DI AKADEMI PENGAJIAN ISLAM UNIVERSITI
MALAYA: REALITI DAN PROSPEK MASA DEPAN
Akademi Pengajian Islam dalam meniti usia kematangan telah melalui likuliku perjalanan yang panjang yang akhirnya menjelma sebuah institusi pendidikan
Islam ternama di Malaysia. Ia berupaya meneroka dan memacu pelbagai bidang
1
pengajian Islam di peringkat Ijazah Dasar dan Ijazah Tinggi dengan sempurna.
Penekanan kepada aspek ini adalah selari dengan misi Akademi Pengajian Islam
untuk menjadi pusat pengajian tinggi Islam kontemporari cemerlang di negara dan
serantau bergiat dalam penyelidikan, pengajaran dan perundingan.Bagi mencapai
misi ini pelbagai usaha dan aktiviti dilakukan khususnya di Bahagian Ijazah Tinggi,
antaranya menyediakan kurikulum yang komprehensif dan holistik supaya selari
dengan keperluan pasaran. Penyediaan fasilitis dan prasarana serta ruang
pembelajaran yang kondusif dengan peralatan moden, sumber tenaga akademik yang
mahir dari dalam dan luar negara dalam pelbagai bidang, jaringan kerjasama dan
perkongsian pintar dengan tenaga pakar dari luar negara bagi menjamin mutu dan
kecemerlangan akademik. Aktiviti pengukuhan ini secara jelasnya melibatkan tadbir
urus, kepimpinan, akademik, pengajaran dan pembelajaran serta aktiviti
penyelidikan dan pembangunan serta pembangunan modal insan para pelajar.
Beberapa aspek ini akan dibahaskan dalam makalah ini dalam kerangka untuk
melihat realiti dan prospek masa depan pengajian tinggi Islam di Akademi Pengajian
Islam Universiti Malaya.
Noor Naemah Abdul Rahman, Wan Suhaimi Wan Abdullah, Madiha , Fatin Majdina
dan Abdul Halim Ibrahim
KE ARAH MELAHIRKAN SAINTIS AGAMAWAN:
PENGALAMAN DI AKADEMI PENGAJIAN ISLAM, UNIVERSITI MALAYA
(APIUM)
Program Sains Gunaan Dan Pengajian Islam di Akademi pengajian Islam
Universiti Malaya dibentuk bagi mencapai objektif melahirkan golongan saintis
agamawan.Kertas ini akan mengetengahkan pengalaman dan usaha yang dijalankan
oleh Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya (APIUM) dalam menyediakan
program integrasi Islam-Sains sebagai suatu platfom ke arah melahirkan saintisagamawan Islam di Malaysia. Ia memaparkan program yang sedang dijalankan serta
perkembangannya, di samping masalah dan cabaran yang dihadapi dalam
menjayakan program sedemikian. Bagi tujuan pengumpulan data, kaedah historis,
dokumentasi dan temubual akan digunakan. Maklumat dan data yang diperolehi
akan dianalisis menggunakan kaedah analisis deskriptif dan perbandingan.
Dr. Bharuddin bin Che Pa
KURIKULUM SAINS POLITIK ISLAM DI INSTITUSI PENGAJIAN TINGGI:
PENGALAMAN DI AKADEMI PENGAJIAN ISLAM UNIVERSITI MALAYA
Di peringkat awal ilmu siasah syar‗iyyah merupakan satu sub bidang dalam
pengajian ilmu fiqh sahaja.Sebaliknya hari ini siasah syar`iyyah telah menjadi suatu
disiplin ilmu yang wujud secara terpisah.Dalam kurikulum pendidikan hari ini ilmu
siasah syar`iyyah lebih dikenali dengan istilah ilmu sains politik Islam atau Islamic
political Sciences.Kertas kerja ini bertujuan untuk membincangkan perkembangan
2
kurikulum Sains Politik Islam yang terdapat di beberapa institusi pengajian tinggi di
Malaysia dan Indonesia.Bidang Sains Politik Islam juga merupakan suatu bidang
dalam pengajian Islam yang ditawarkan di APIUM sejak Akademi tersebut
ditubuhkan sehinggalah hari ini. Oleh itu huraian kertas kerja ini akan dibuat
berdasarkan pengalaman semakan kurikulum Sains Politik Islam yang dilakukan di
Jabatan Siasah Syar‗iyyah Akademi Pengajian Islam pada tahun 2009 dan 2010.
Kurikulum Sains Politik Islam yang diperkenalkan di Jabatan siasah syar`iyyah pada
asasnya menyediakan dua bidang utama dalam Sains Politik Islam iaitu bidang
politik dan pentadbiran. Kurikulum dalam bidang politik termasuklah perbincangan
tentang; Pengantar sains politik, kaedah siasah syr‗iyyah, institusi politik Islam,
perhubungan antarabangsa Islam, kepimpinan Islam, pemikiran politik Islam, etika
ahli politik, Sejarah Politik Islam, Politik Islam Dan Masyarakat serta lain-lain.
Manakala kurikulum dalam bidang pentadbiran pula merangkumi beberapa bidang
seperti; Pentadbiran Islam, Pentadbiran Awam Perbandingan, Pengurusan
Organisasi Islam, Pentadbiran Awam di Malaysia, Pentadbiran Sumber Manusia,
Etika Dalam Pentadbiran Awam, Sistem Governan Islam, Etika Kerja Islam dan
lain-lain. Aspek utama yang perlu ditekankan melalui semakan kurikulum siasah
syar‗iyyah di APIUM ialah malaksanakan kurikulum tersebut secara berkesan
sehingga dapat melahirkan para graduan yang berketerampilan, bermutu tinggi dan
bersedia untuk bersaing dalam persekitaran sejagat yang kompetitif.
3
Paralel I (08.00 – 10.00)
Ruang II (08.00 – 10.00)
Topik:
Tradisi Intelektual Islam Melayu
Nama Pembentang
Judul Makalah
Prof. Dato‘ Dr. Zulkifli Bin Mohd
Yusoff, Dr. Mohd. Roslan Haji Mohd.
Nor, Amin Maulana & Ahmad Dahlan
(API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Islam di Nusantara: Kajian Ke Atas
Pulau Batam Bandar Madani di Alam
Melayu
Pof. Dr. Mujahid M. Bahjat & M Sayidi
Sali bin Shalih (API University of
Malaya, Kuala Lumpur)
‫الشيخ واى إسواعيل بي واى عبد القادر وجهىده‬
)‫م‬5691( ‫في هجال علن العقيدة اإلسالهيت‬
Prof. Madya Dr. Rahimin Affandi Abd.
Rahim (API University of Malaya,
Kuala Lumpur), Prof. Dato‘ Dr. Othman
Md. Yatim, Prof. Dato‘ Zainal Abidin
Borhan (APM University of Malaya), &
Badriah Nordin (CITU, Machang,
Kelantan)
Islam sebagai Penyumbang
Kearifan Tempatan di Alam
Melayu
Dr. Aizan Ali @ Mat Zin (API
University of Malaya, Kuala Lumpur)
dan Azizul Azli Ahmad (Jabatan Seni
Bina Dalaman, Fakulti Seni bina,
Perancangan dan Ukur, UiTM Perak)
Wacana Dan
Menara Masjid
Azizul Azli Ahmad (Jabatan Seni Bina
Dalaman, Fakulti Seni bina,
Perancangan dan Ukur, UiTM Perak) &
Dr. Aizan Ali @ Mat Zin (API
University of Malaya, Kuala Lumpur)
Kajian Komperatif terhadap Reka
Bentuk dan Ruang Dalaman Masjid
Indonesia dan Malaysia pada Abad
Ke-18
Dr. H. Fisher Zulkarnain, MA
(Pembanding)
Dr. Munir, MA
4
Teori
Rekabentuk
Topik:
Tradisi Intelektual Islam Melayu
Amin Maulana, Ahmad Dahlan, Dr. Mohd Roslan Haji Mohd Nor,
Profesor. Dato' Dr Zulkifli Haji Mohd Yusoff
ISLAM DI NUSANTARA: KAJIAN KE ATAS PULAU BATAM BANDAR MADANI
DI ALAM MELAYU
Pulau Batam merupakan antara salah satu pulau yang berada di Alam
Melayu, ianya berhampiran dengan Singapora dan Johor Malaysia. Pulau Batam
juga merupakan antara salah satu pulau yang berada di antara perairan Selat Malaka
dan Selat Singapura. Tak ada literatur yang dapat menjadi rujukan dari mana nama
Batam itu diambil, yang pasti ialah Pulau Batam merupakan sebuah pulau besar dari
329 pulau yang ada di wilayah Kota Batam. Antara sumber yang dengan jelas
menyebutkan nama Batam dan masih dapat dijumpai adalah Traktat London (1824).
Penduduk asli Kota Batam diperkirakan adalah orang-orang Melayu yang dikenal
dengan sebutan Orang Selat atau Orang Laut. Penduduk ini paling tidak telah
menempati wilayah itu sejak zaman kerajaan Tumasik (sekarang Singapura)
dipenghujung tahun 1300 atau awal abad ke-14. Pulau Batam juga merupakan antara
pulau yang berada dalam kedudukan sangat hampir dengan Kerajaan Singapura dan
Negeri Johor Darul Takzim, Malaysia. Penduduk Pulau Batam ianya dari berbagai
suku di Indonesia dan majoriti beragama Islam dengan memiliki lebih dari 500 buah
masjid tersebar di seluruh Pulau Batam dan sekitar.
‫د يجاْد يصطفٗ بٓجج‬.‫ أ‬:‫ى‬ٚ‫حقد‬
‫ بٍ صانح‬ٙ‫د٘ سان‬ٛ‫يأس‬
‫الشيخ واى إسواعيل بي واى عبد القادر‬
)‫م‬5691( ‫وجهىده في هجال علن العقيدة اإلسالهيت‬
‫ت‬ٛ‫دة اإلسالي‬ٛ‫ َشس عهى انعق‬ٙ‫ٍ برنٕا جٕٓدْى ف‬ٚ‫ انر‬َٙ‫م بٍ ٔاٌ عبد انقادز أحد عهًاء فطا‬ٛ‫خ ٔاٌ إسًاع‬ٛ‫إٌ انش‬
ّ‫ٕخ‬ٛ‫م ٔش‬ٛ‫خ ٔاٌ إسًاع‬ٛ‫اة انش‬ٛ‫ ٔحٓدف اندزاست إنٗ يعسفت ح‬،‫ٕ عايت‬ٚ‫م انًال‬ٛ‫ أزخب‬ٙ‫ خاصت ٔف‬َٙ‫ فطا‬ٙ‫سِ ف‬ٕٚ‫ٔحط‬
.‫ت‬ٛ‫دة اإلسالي‬ٛ‫ يجال عهى انعق‬ٙ‫ كًا حٓدف ْرِ انٕزقت إنٗ يعسفت جٕٓدِ ف‬،ّ‫ٔحاليرحّ ٔآثازِ ٔيؤنفاح‬
ً‫فا‬ُٛ‫ قد برل جٓدِ حص‬،ٍٚ‫م بٍ ٔاٌ عبد انقادز يٍ انعهًاء انبازش‬ٛ‫خ ٔاٌ إسًاع‬ٛ‫ٔيٍ خالل اندزاست َجد أٌ انش‬
‫" يكاَت‬َٙ‫ إلشازة عٕاو أْم انفطا‬َٙ‫ "باكٕزة األيا‬: ّ‫ ٔإٌ نسسانخ‬،ٕٚ‫م انًال‬ٛ‫ أزخب‬ٙ‫سِ ف‬ٕٚ‫دة ٔحط‬ٛ‫ًاً نُشس عهى انعق‬ٛ‫ٔحعه‬
،)‫ت (َظاو فُدٔق‬ٚ‫د‬ٛ‫ت انخقه‬ًٛٛ‫ انًؤسساث انخعه‬ٙ‫دزسٌٕ ف‬ٚ ٍٚ‫ًا انطهبت انر‬ٛ‫ ٔال س‬،ِ‫ ٔيا جأز‬َٙ‫ت ندٖ انًجخًع انفطا‬ٛ‫عان‬
ٌ‫ إ‬:‫ ٔال َبانغ إذا قهُا‬،ٕ٘ٚ‫ انعانى انًال‬ٙ‫ٍ ف‬ًٛ‫ ٔيا شانج يقسزاً ٔيسجعا ً يًٓاً عُد انًسه‬،‫دة‬ٛ‫ انعق‬ٙ‫ يٍ أْى يؤنفاحّ ف‬ْٙٔ
،‫ٕ عايت‬ٚ‫ خاصت ٔبالد انًال‬َٙ‫ فطا‬ٙ‫ت ف‬ُٛٚ‫ َشس انعهٕو اند‬ٙ‫ساً ف‬ٛ‫م زحًّ هللا يًٍ أسٓى إسٓايا ً كب‬ٛ‫خ ٔاٌ إسًاع‬ٛ‫انش‬
‫ساً يُٓى قد أقايٕا ٔفخحٕا ٔأسسٕا يؤسساث‬ٛ‫ ٔذنك ألٌ كث‬،‫ساً يٍ طالب انعهى‬ٛ‫ت بًكت انًكسيت كث‬ًٛ‫ٔخسّجج حهقخّ انعه‬
‫خ‬ٛ‫ٍ بأٌ انش‬ٕٛٚٚ‫س يٍ انعهًاء انًال‬ٛ‫ كًا اعخسف كث‬،ٌ‫ ٔيا جأزْا يٍ انبهدا‬،‫ داز انسالو‬َٙ‫ فطا‬ٙ‫ت ف‬ًٛ‫ت ٔيساكص عه‬ُٛٚ‫د‬
.‫ع‬ًٛ‫ٍ ندٖ انج‬ٚ‫س‬ٛ‫ٕعا كب‬ٚ‫ ٔبٓرا انعهى َال اسًّ شٓسة ٔذ‬،ٍٚ‫ عهى أصٕل اند‬ٙ‫ساً ف‬ٛ‫زحًّ هللا كاٌ عانًا ً كب‬
:‫ٍ ًْا‬ٚ‫ يحٕز‬ٙ‫كٌٕ انبحث ف‬ٛ‫ٔس‬
‫م‬ٛ‫خ ٔاٌ إسًاع‬ٛ‫اة انش‬ٛ‫ دزاست نح‬:‫األٔل‬
‫دة‬ٛ‫ عهى انعق‬ٙ‫ دزاست نجٕٓدِ ف‬:‫خس‬ٜ‫ا‬
4
Prof. Madya Dr. Rahimin Affandi Abd. Rahim, Prof. Dato‘ Dr. Othman Md. Yatim,
Prof. Dato‘ Zainal Abidin Borhan,
Badriah Nordin
ISLAM SEBAGAI PENYUMBANG KEARIFAN TEMPATAN DI ALAM MELAYU
Sebelum kedatangan Islam, masyrakat Melayu menganut fahaman
animisme. Keadaan ini berubah selepas kedatangan Islam yang membawa konsep
tauhid dengan menafikan kewujudan Tuhan yang banyak. Bermula dengan konsep
keesaan Tuhan dan ibadat yang luas Islam telah berjaya menarik minat masyarakat
tempatan. Sejak kedatangan Islam, kehidupan harian masyarakat Melayu dan adat
istiadat tertentu yang didapati bertentangan dengan akidah ditinggalkan secara
beransur-ansur. Kertas kerja ini akan membincangkan mengenai Islam dan kearifan
tempatan di Alam. Atas dasar ini, kertas kerja ini akan memfokuskan beberapa
perkara utama iaitu Pertama, pengenalan; Kedua, Konsep asas kearifan tempatan;
Ketiga, Islam dan pengukuhan kearifan tempatan Melayu; Keempat, kesimpulan
terhadap keseluruhan perbincangan.
Azizul Azli Ahmad, Dr. Aizan Ali@Mat Zin,
WACANA DAN TEORI REKABENTUK MENARA MASJID DI NUSANTARA
Menara menjadi eleman penting dalam perkembangan senibina Islam hari
ini.Terdapat tiga bentuk asas menara yang menjadi rujukan para arkitek dalam
pembangunan menara masjid. Menara masjid juga sering kali dikaitkan dengan
pengaruh Byzantine yang dikatakan lebih awal memiliki menara.Sebelum lahirnya
kerajaan Byzantine masyarakat Mesopotamia lebih awal memiliki menara, Apakah
kebudayaan menara dipinjam dari kerajaan Byzantine atau kerajaan sebelumnya?.
Penulisan ini jugak merungkai peranan menara dan simbol menara pada senibina
Islam.Menara dilihat masih signifikan pada masjid di Alam Nusantara kerana faktor
geografi lokasi masjid, gunung-gunung, pohon-pohon yang rimbun dan kondisi
iklim menjadi halangan kepada suar amuazin untuk sampai pada tempat yang
jauh.Menara masih menjadi simbol penting kepada cirri senibina Islam di Nusantara
padahari ini.
Azizul Azli Ahmad, Syaimak Ismail
KAJIAN KOMPERATIF TERHADAP REKA BENTUK DAN RUANG DALAMAN
MASJID INDONESIA DAN MALAYSIA
PADA ABAD KE-18
Masjid Nusantara memiliki klasifikasi tersendiri dalam pembentukan seni
bina masjid dalam dunia Islam.Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di
Alam Nusantara serta menjadi rujukan kepada pembangunan masjid pada Abad ke18 dan selepasnya. Hubungan persaudaraan yang wujud diantara masyarakat
Indonesia dan Malaysia menjadikan teknologi pembinaan masjid dan rekabentuk
5
masjid memiliki persamaan.Penulisan ini bertujuan melakukan kajian komperatif
terhadap perancangan ruang serta rekabentuk masjid antara masjid di Indonesia dan
masjid di Malaysia.Kajian perbandingan ini melihat perbezaan dan persamaan yang
terdapat pada Masjid Agung Demak dan Masjid Kampung Hulu Melaka. Walaupun
berada pada ruang lingkup yang sama tetapi terdapat jurang perbezaan antara masjid
yang dibangunkan di Indonesia dan di Malaysia. Perbezaan ini menjadi semakin luas
apabila Negara Indonesia dan Malaysia mencapai kemerdekaan . Seni bina Islam
Masjid Nusantara berjaya keluar dari kebudayaan Arab dan melahirkan seni dan
gaya seni binanya tersendiri. Hal ini memperkayakan gaya seni bina Islam serta
memperlihatkan akan toleransi dalam Islam yang begitu jelas lewat bahasa seni
binanya.
6
Paralel I (08.00 – 10.00)
Ruang III (08.00 – 10.00)
Topik:
Islam dalam Keragaman Budaya
Nama Pembentang
Prof. Madya Hj. Ponirin Bin Amin,
Rahmin Bin Amin, & Ishak bin Ramli
(Jabatan Seni Halus Fak. Seni Lukis
UiTM, Kuala Lumpur)
Judul Makalah
Pendekatan Teori Takmilah Dalam
Seni Visual Di Malaysia : Suatu
Pengenalan
Dr. Sabzali Musa Khan & En. Mohd.
Effendi Shamsuddin (Pusat Kebudayaan
Universiti Malaya Kuala Lumpur)
Ragam Hias Motif Organik Dan
Geometri Dalam Hiasan Ukiran
Rumah Tradisional Melayu Di
Terengganu
Dr. Gazali Daimin & Muhammad Fauzan
Bin Abu Bakar (Universiti Teknologi
MARA, Shah Alam, Selangor)
Penjenamaan Islam Dalam Konteks
Komunikasi Visual Pengaruh Dari
Seni Islam Di Malaysia
Dr. H. Fadlil Yani, MA (UIN Sunan
Gunung Djati, Bandung)
Internalisasi Nilai-nilai Sufistik
Melalui Musikalisasi Kasidah
Burdah
Prof. Dr. Dzul Haimi Mohd. Zain
(Universiti Teknologi MARA, Shah
Alam, Selangor) & Alina Abdullah
(Universiti Pendidikan Sultan Idris,
Tanjung Malim)
SIMETRI DINAMIK: Mencari
Keindahan Seni Rupa Moden Islam
di Malaysia dalam gabungan
Matematik dan Estetik
Prof. Dr. H. Afif Muhammad, MA
(Pembanding)
Ali Nurdin, Ph.D
7
Topik:
Islam dalam Keragaman Budaya
Ishak Bin Ramli, Professor Madya Hj. Ponirin Bin Amin,
Rahmin Bin Amin
PENDEKATAN TEORI TAKMILAH DALAM SENI VISUAL
DI MALAYSIA: SUATU PENGENALAN
Lembaran kertas kerja ini adalah memperkenalkan ‗Teori Takmilah‘ yang
digunapakai dalam kesusasteraan Islam di Malaysia.Ia merupakan suatu cadangan
pendekatan dalam seni visual tempatan. Objektif utama perbincangan adalah
berkisar tentang kaitan di antara kesusasteraan dan seni visual serta relevannya ‗teori
takmilah‘ diaplikasikan dalam seni visual tempatan.Perbincangan ini masih
diperingkat pengenalan dalam meneliti kesesuaian untuk kaedah penghasilan dan
penilaian karya seni visual di Malaysia. Kertas kerja ini diharap dapat membuka
lembaran baru dalam proses pembangunan seni visual di Malaysia.
Dr. Sabzali Musa Kahn , En.Mohd. Effendi Shamsuddin
RAGAM HIAS MOTIF ORGANIK DAN GEOMETRI DALAM HIASAN UKIRAN
RUMAH TRADISIONAL MELAYU DI TERENGGANU
Dunia Melayu mempunyai kesenian dan budaya tersendiri.Walaupun
tamadun dirantau ini telahpun wujud sekian lama namun kesenian dan budaya
Melayu tetap mempunyai identiti tersendiri.Seni ukir merupakan salah satu daripada
hasil kraftangan tradisi Melayu yang hebat dari nilai keseniannya.Pada umumnya,
seni ukir berkaitan secara langsung perkembangan seni warisan Malaysia dan
sejarah seni bina seperti masjid, istana, rumah, wakaf, perabot dan lain-lain dengan
menggunakan bahan kayu sebagai bahan asas utamanya.Ukiran lebih bersifat
sebagai hiasan dan bertujuan untuk melengkapkan bentuk sesuatu binaan dan hiasan.
Kedatangaan Islam dirantau ini terutama adanya pengaruh pegangan dan ajaran
Islam. Maka ianya diterapkan dalam seni ukir masyarakat tempatan di Terengganu.
Maka kita dapat melihat tranformasi ini wujud dengan ketara dalam ukiran Melayu
terutama rumah-rumah Melayu di Terengganu.Kajian ini tertumpu pada aspek corak
hiasan pada ukiran kayu di rumah-rumah tradisional Melayu terutama beberapa
daerah di Terengganu. Pemilihan motif yang sesuai dan teknik penyusunan yang
kreatif oleh pengukir dan tukang-tukang rumah telah menghasilkan pola atau ragam
hias yang menarik pada ukiran kayu dan pengaruh islam didalamnya. Kajian ini juga
menjurus kepada penyusunan motif khususnya motif geometri dan organik yang
mempunyai unsur matematik di dalamnya dan telah melahirkan seni hiasan yang
unik dan menarik. Ragam hias ukiran geometri dan organik yang dikaji juga
mempunyai pertalian dengan transformasi dalam kiraan matematik bersesuaian
dengan asas rekaan dalam islam yang mana mempunyai pertalian yang rapat dengan
matematik. Hasil daripada kajian ini, mendapati pentingnya penggunaan unsur
7
matematik dalam penghasilan ragam hiasan dan motif geometri serta organik bagi
menghasilkan ukiran pada rumah tradisional Melayu di Terengganu hubungan
dengan falsafah Islam di dalamnya.
Muhammad Fauzan Bin Abu Bakar, Dr. Ghazali Daimin
PENJENAMAAN ISLAM DALAM KONTEKS
KOMUNIKASI VISUAL PENGARUH DARI SENI ISLAM DI MALAYSIA
Kertas kerja ini merupakan satu kajian mengenai penerapan ciri-ciri Islam
secara visual yang diterapkan di dalam sistem penjenamaan Islam. Kajian ini
merupakan satu langkah baru bagi memperkenalkan nilai-nilai islam dalam konteks
visual dan menjadi teras kepada setiap rekaan penjenamaan di seluruh Masyarakat
Islam. Tujuan utama perbincangan adalah untuk mengenalpasti hubungan seni islam
dan juga sistem penjenamaan di Alam Melayu di mana ciri-ciri islam dapat
diadaptasikan ke dalam jenama produk tempatan dan mampu bersaing ke peringkat
antarabangsa dengan membawa pengaruh dan pendekatan Islam. Di dalam konteks
komunikasi visual, setiap elemen dan prinsip seni dan rekaan mempunyai maksud
dan falsafah mereka tersendiri dan dengan kajian ini, sistem penjenamaan dapat
direka melalui satu tatacara yang khusus melalui falsafah Islam.
Fadlil Yani Ainusyamsi
STUDI TENTANG INTERNALISASI NILAI-NILAI SUFISTIK
MELALUI MUSIKALISASI QASHIDAH BURDAH
This research is using case study method with qualitative approach that
describing and analyzing design, implementation, and support and also barrier factor
in educating sufistic values through Qashidah Burdah (QB) to Moslem Student in
Darussalam Islamic Boarding School Ciamis, West Java. The result of this research
discovering something interesting points of views, as followed: (1) Description of
sufistic values in QB about syauq, machabbah, tarku al-syahwat, muchâsabah alnafs, zuhud and Sufistic Personality of Prophet Muhammad saw, (2) Integrated
aesthetic and integrated expression as the media what formed unity of element in QB
musicality through the pop music kind 8 beat (melancholies), (3) Teacher explains
the values sufistic and presents QB musicality so as the student could in a proactive
manner personify these values, and (4) Influence the spirit‘s unrest of the students
(the respondent) and help them so as they could feel ‗effication‘ scrutinized with the
heart, concentration and respect as the solution to the alternative answer into their
spirit‘s unrest.
8
Dzul Haimi Mohd Zain, Alina Abdullah
SIMETRI DINAMIK: MENCARI KEINDAHAN SENI RUPA MODEN ISLAM DI
MALAYSIA DALAM GABUNGAN MATEMATIK DAN ESTETIK
Memang sudah diketahui umum bahawa simetri adalah prinsip harmoni
yang paling penting dalam alam tabie, dan tiadalah keterlaluan jika dikatakan
bahawa simetri, khususnya simetri dinamik, adalah prinsip asas yang telah sekian
lama mendasari rencana bentuk karya seni terbaik yang pernah dihasilkan dalam
sejarah seni. Makalah ini akan menumpukan pada unsur Simetri Dinamik yang telah
dirumuskan secara sistematik oleh Jay Hambidge pada tahun 1920-an. Prinsip
Simetri Dinamik yang digunakan ialah Puncakuasa Lima Segiempat Tepat. Unsurunsur Simetri Dinamik ini kemudiannya akan ditentuluarkan pada beberapa karya
seni rupa moden Islam Malaysia sebagai usaha untuk menjelaskan tentang rencana
bentuk asas yang mendasari komposisi karya-karya ini. Rencana bentuk komposisi
karya-karya ini seharusnya berkait erat dengan substansi yang ingin ditampilkan
oleh para seniman. Karya-karya yang dipilih adalah karya lukisan separa-abstrak,
yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Seni Islam.
9
Paralel I (08.00 – 10.00)
Ruang IV (08.00 – 10.00)
Topik:
Lembaga Sosial-Intelektual dan
Jaringan Islam di Dunia Melayu
Nama Pembentang
Prof. Dr. Ab Aziz Mohd Zin, Nur
Shahidah Pa'ad, Nurul Husna Mansor, &
Selamat Amir (API University of Malaya)
Judul Makalah
Pusat Motivasi sebagai Pusat
Keemerlangan Umat Islam: Satu
Kajian Pusat-Pusat Motivasi di
Lembah Klang, Malaysia
Dr. Zahri Hamad (ISDEV, Universiti
Sains Malaysia, Pulau Pinang)
Dana Zakat Dan Asnaf Pelbagai
Etnik Non-Muslim Di Malaysia
Prof. Madya Mohammad Khalil Amran &
Nurul Shima Bt Taharudin (Fakulti Seni
Lukis dan Seni Reka, Universiti
Teknologi, MARA, Shah Alam, Selangor)
Adat Perpatih Dan Hukum Islam Di
Negeri Sembilan, Malaysia : Suatu
Tinjauan Sejarah
Dr. Mukhlisin Muzari, M.Ag (IAIN Syekh
Nur Djati, Cirebon)
Wakaf Sebagai Sumber Ekonomi
Syari'ah : Praktek Wakaf di Pondok
Moderen Darussalam Gontor
Indonesia
Mohammad Taqiuddin Mohamad, Prof.
Dr. Joni Tamkin Borhan, Dr. Ahmad
Azzam Sulaiman@Mohamad, Dr. Asmak
Ab Rahman, Azizi Che Seman, & Dr.
Patmawati Hj. Ibrahim (Jabatan Syari'ah &
Ekonomi, API University of Malaya,
Kuala Lumpur)
Perkembangan Sistem Perbankan
Malaysia sebagai Model
Transformasi Perbankan Islam Dunia
Prof. Dr. H. Mudlor Effendi, M.Si
(Pembanding)
Dr. Abdul Syukur, MA
10
Topik:
Lembaga Sosial-Intelektual dan Jaringan Islam di Dunia Melayu
Prof. Dr. Ab Aziz Mohd Zin, Nur Shahidah Pa'ad,
Nurul Husna Mansor, & Selamat Amir
PUSAT MOTIVASI SEBAGAI PUSAT KECEMERLANGAN UMAT ISLAM: SATU
KAJIAN PUSAT-PUSAT MOTIVASI DI LEMBAH KLANG, MALAYSIA
Kecemerlangan individu muslim secara holistik merupakan suatu aspek
yang sangat penting dalam merialisasikan matlamat Malaysia sebagai ‗baldatun
toyyibatun wa rabbun ghafur‘. Namun usaha pembentukan generasi muslim
cemerlang itu haruslah mempunyai suatu strategi mampan yang berintegratif secara
berperingkat-peringkat dan berterusan. Pusat motivasi hari ini dilihat berpotensi
untuk menjadi salah satu institusi yang berstrategi untuk mencapai matlamat
tersebut.Ia semakin berkembang biak bagaikan cendawan yang tumbuh selepas
hujan. Perkembangan pusat-pusat motivasi tersebut adalah seiring dengan kadar
peningkatan terhadap permintaan perkhidmatan melalui program-programnya. Kini
ia telah dilaksanakan secara meluas untuk golongan remaja, ibu bapa, kakitangan
pekerja dan lain-lain entiti dalam masyarakat. Perkhidmatan yang disediakan
melalui program pusat-pusat motivasi tersebut dikatakan dapat melahirkan individu
muslim cemerlang melalui perlaksanaan modul-modulnya. Kertas kerja ini akan
membincangkan tentang peranan yang dimainkan oleh pusat-pusat motivasi sebagai
suatu institusi kecemerlangan individu muslim cemerlang.
Zahri Hamat
DANA ZAKAT DAN ASNAF PELBAGAI ETNIK NON-MUSLIM DI MALAYSIA
Kertas kerja ini cuba membuat analisis secara deskriptif pengagihan dana
zakat oleh institusi zakat kepada asnaf pelbagai etnik non-Muslim di Malaysia. Ia
dimulai dengan meneroka amalan Rasulullah s.a.w dan khulafa‘ al-Rasyidin dalam
pengagihan dana zakat kepada non-Muslim. Kemudian menganalisis terhadap
prosedur dan amalan pengagihan dana zakat kepada non-Muslim diamalkan oleh
institusi zakat di Malaysia. Dapatan analisis mempamerkan bahawa Rasulullah s.a.w
mengagihkan dana zakat kepada kepada non-Muslim, namun amalan ini telah tidak
lagi diteruskan oleh khulafa‘ al-Rasyidun khususnya khalifah Umar al-Khattab. Di
Malaysia secara amnya prosedur membolehkan dana zakat diagihkan kepada golongan
pelbagai etnik non-Muslim. Walau bagaimanapun, fatwa yang dikeluarkan hanya
membenarkan dana zakat diagihkan kepada pelbagai etnik non-Muslim untuk tujuan
dakwah sahaja. Namun akan dihujahkan bahawa berdasarkan kepada kepentingan
semasa dan keadaan setempat, pengagihan dana zakat kepada pelbagai etnik nonMuslim di Malaysia sepatutnya dibenarkan.
10
Nurul Shima Bt Taharuddin ,
Prof Madya Mohamad Khalil Amran
ADAT PERPATIH DAN HUKUM ISLAM DI NEGERI SEMBILAN, MALAYSIA:
SUATU TINJAUAN SEJARAH
Suatu kajian mengenai amalan budaya oleh penduduk di Negeri Sembilan
yang mengamalkan Adat Perpatih, dimana setiap amalan yang dilakukan oleh
masyarakat bersangkut paut dengan kehidupan dan amalan seharian. Antara
penekanan utama kajian adalah membuat banding beza diantara adat dan agama
islam dan menjawab soalan tentang sebab-sebab yang tertentu mengapa adat
ditekankan kepada masyarakat. Sementara itu hukum atau undang-undang yang
mempunyai kesan balasan dan denda sama seperti dalam islam yang menitik
beratkan soal dosa dan pahala, dari segi adat yang menekankan perundangan yang
ditadbir dan dilaksanakn oleh pemegang jawatan tertentu seperti ketua adat, bapak,
lembaga, penghulu dan yang di Pertuan Besar. Lantaran perbezaan antara Islam dan
sistem adat memang ada, namun apabila dilihat dalam konsep sosio-budaya Melayu
telah berlakunya rationalisasi dimana hukum Islam iaitu hukum sya‘rak telah
diberikan keutamaan dan keseimbangan dengan amalan adat selagi adat yang
diamalkan tidak dilarang oleh hukum sya‘rak maka ia boleh dilakukan.
Dr. Mukhlisin Muzari, M.Ag
WAKAF SEBAGAI SUMBER EKONOMI SYARI’AH
Implementasi Hukum Perwakafan Dan Kontribusinya Bagi Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Modern Darussalam
Gontor). Wakaf adalah suatu lembaga sosial Islam yang memiliki peranan
penting dalam perkembangan masyarakat baik dalam bidang pendidikan dan
dakwah maupun ekonomi dan sosial. Lembaga ini jika dibandingkan dengan
zakat, infak dan sedekah memiliki kekuatan ekonomi yang kokoh karena dana
yang ditransfer untuk mendukung berbagai proyek keagamaan dan sosial
adalah keuntungan atau manfaatnya, sementara zakat, infak dan sedekah
adalah assetnya sehingga bersifat konsumtif. Perwakafan di Indonesia faktanya
lain, sebagian besar merupakan wakaf langsung (konsumtif) dan biaya
operasionalnya diperoleh dari luar sehingga terkesan membebani masyarakat.
Ada wakaf yang diperoleh dari masyarakat dan diberdayakan melalui unit-unit
usaha produktif sehingga berkembang pesat dan memberikan kontribusi
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu wakaf Pondok Modern
Darussalam (PMD) Gontor.
Tujuan penelitian untuk mengungkap sumber-sumber wakaf PMD
Gontor dan pemberdayaannya serta kontribusinya terhadap kesejahteraan
masyarakat. Wakaf sebagai asset yang disumbangkan untuk kemanusiaan
dalam jangka waktu yang relatif lama memiliki fungsi ritual dan sosial. Fungsi
ritualnya sebagai implementasi iman seseorang dalam bentuk kesadaran
beramal saleh yang dapat diharapkan menjadi investasi akhirat yang mengalir
11
terus-menerus, sedangkan fungsi sosialnya sebagai bentuk solidaritas yang
dapat menjadi instrumen yang kontributif terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat yang abadi (dana abadi).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-kualitatif,
yaitu suatu metode yang digunakan untuk meneliti status kelompok manusia,
suatu obyek, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan
wawancara. Data yang telah dikumpulkan mula-mula disusun kemudian
dijelaskan dan dianalisis dengan menggunakan logika induktif, artinya
silogisme dibangun berdasarkan data lapangan yang bersifat khusus dan
bermuara pada kesimpulan-kesimpulan yang bersifat umum.
Sebagai landasan teori dalam mengkaji permasalahan pemberdayaan
wakaf menggunakan teori perubahan hukum Ibnu Qayim, teori stishlah,
istihsan, dan ‘urf dengan mengutif ayat Al-Qur’an tentang perubahan yang
dinamis dan inovatif, sedangkan pengkajian tentang kesejahteraan masyarakat
menggunakan teori nilai Edward Sprenger dan teori Weber tentang etika
protestan.
Dari hasil penelitian diperoleh gambaran yang jelas mengenai
pemberdayaan wakaf Pondok Modern Darussalam (PMD) Gontor melalui unitunit usaha produktif yang akhirnya dapat merekomendasikan para pengelola
wakaf agar belajar dari Gontor dan pihak Badan Wakaf atau Yayasan
Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM) agar
pemberdayaan wakaf dapat dikembangkan melalui lembaga-lembaga keuangan
syari’ah sehingga berpotensi untuk mengembangkan ekonomi masyarakat.
Mohammad Taqiuddin Mohamad, Prof. Dr. Joni Tamkin Borhan, Dr. Ahmad Azam
Sulaiman@Mohamad, Dr. Asmak Ab Rahman, Azizi Che Seman,
Dr. Patmawati Hj Ibrahim
PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN ISLAM MALAYSIA SEBAGAI
MODELTRANSFORMASI PERBANKAN ISLAM DUNIA
Sistem perbankan Islam di Malaysia telah melalui beberapa proses evolusi
dan perkembangan sama ada dari sudut institusi, kawal selia, peraturan, pasaran dan
hala tujunya. Hakikat ini telah membuatkan tokoh-tokoh perbankan Islam dunia
mengakui bahawa perbankan Islam di Malaysia berkembang jauh lebih baik dan
teratur berbanding negara-negara lain khususnya di kalangan negara Islam.
Implikasinya, kebanyakan mereka menjadikan Malaysia sebagai model terbaik
dalam membangunkan sistem perbankan Islam disebabkan oleh kedinamikan yang
wujud.Justeru, kertas kerja ini disediakan untuk menilai usaha transformasi yang
telah dilakukan serta pencapaiannya dalam usaha mentransformasikan sistem
perbankan Islam dunia selaku alternatif terbaik kepada sistem konvensional.
12
Paralel II (10.15 -12.15)
Ruang I (10.15 -12.15)
Topik:
Islam, Multikulturalisme, dan Pluralisme di
Dunia Melayu
Nama Pembentang
Judul Makalah
Dr. Fakhrul Adabi Abdul Kadir, Nurul Husna
Mansor, Nor Shahidah Paad, dan Selamat Amir
(API University of Malaya, Kuala Lumpur)
Cabaran Pluralisme Dan
Pembangunan Jati Diri
Masyarakat Melayu-Islam Di
Malaysia
Dr. Mohd. Fauzi Hamat, Wan Adli Wan Ramli,
& Azmil Zainal Abidin (API University of
Malaya, Kuala Lumpur)
Masyarakat Melayu Nusantara
: Antara Kesederhanaan
Pegangan Akidah dan Cabaran
Pluralisme Agama
Dr Widyawati, M.Ag (UIN Sunan Gunung Djati,
Bandung)
Interreligious Marriage in the
Kompilasi Hukum Islam: A
Human Right Perspective
Prof. Dr. H. Muhibbin Syah, M.Ed
(Pembanding)
Dr. Asep Nursobah
13
Topik:
Islam, Multikulturalisme, dan Pluralisme di Dunia Melayu
Nurul Husna Mansor, Dr. Fakhrul Adabi Abdul Kadir,
Nor Shahidah Paad, Selamat Amir
CABARAN PLURALISME DAN PEMBANGUNAN JATI DIRI MASYARAKAT
MELAYU ISLAM DI MALAYSIA
Kewujudan masyarakat yang berbilang kaum, agama serta budaya di
Malaysia telah menjadikan ia sebagai sebuah negara yang begitu unik dan istimewa.
Sejarah telah membuktikan antara faktor penyumbang kepada lahirnya kemajmukan
masyarakat adalah disebabkan berlakunya penghijrahan warga asing ke Tanah
Melayu ketika negara berada di tangan penjajah suatu ketika dahulu. Meskipun
Malaysia kini dihuni oleh masyarakat yang berbilang kaum, namun kemampuan
rakyatnya dalam mengekalkan keharmonian, persefahaman dan hubungan yang baik
di samping berkongsi kemakmuran negara secara aman dan toleransi setelah sekian
lama sewajarnya dipuji. Penyatuan dan persamaan inilah sebenarnya yang cuba
diperkenalkan oleh penjajah yang diistilahkan sebagai ‗pluralisme‘ sehingga
mewujudkan sebuah masyarakat yang digelar ‗masyarakat pluralistik‘. Namun, di
sebalik semua ini, terdapat cabaran-cabaran yang perlu difikirkan lantaran
‗pluralisme‘ dikhuatiri akan memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat, di
tambah lagi dengan arus modenisasi dan ledakan globalisasi kini yang seolah-olah
telah menghakis nilai-nilai serta jati diri mereka dalam menghayati cara hidup
beragama. Justeru, kertas kerja ini akan mengupas secara sepintas lalu berhubung
situasi masyarakat di Malaysia khususnya masyarakat Melayu-Islam dalam merentas
gelombang pluralisme dan kepelbagaian budaya yang telah wujud, di samping
menjelaskan usaha-usaha pelbagai pihak bagi memastikan pengekalan jati diri
masyarakat Melayu agar terus berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam namun pada
masa yang sama masih meraikan kepelbagaian masyarakat lain dalam konteks
negara Malaysia.
Dr. Mohd. Fauzi Hamat , Wan Adli Wan Ramli
Azmil Zainal Abidin
MAYARAKAT MELAYU NUSANTARA: ANTARA KESEDERHANAAN
PEGANGAN IKTIKAD DAN CABARAN PLURALISME AGAMA
Kebelakangan ini, masyarakat Melayu-Muslim di Nusantara kelihatannya
semakin menyedari kepelbagaian pemikiran sesama sendiri. Antara wajah terbaru
yang timbul termasuk suatu golongan yang berpendirian liberal. Idea baru ini antara
lain menganjurkan pengiktirafan kepelbagaian hatta dalam soal agama berikutan
perihal kepelbagaian agama yang wujud di Alam Melayu. Walau bagaimanapun,
faham pluralisme agama ini nampaknya tidak bersesuaian dengan tradisi tafsiran
Islam yang dipegang oleh hampir keseluruhan ulama dan umat Melayu-Islam rantau
ini.
13
Makalah ini meneliti secara mendalam konsepsi Islam, khususnya dalam
mentafsirkan ayat al-Qur'an 3:19 dan 3:85, di kalangan penulis-penulis Muslim yang
cenderung menerima idea pluralisme agama. Secara khusus, penulis-penulis ini
mengambil makna literal kalimah islām, iaitu penyerahan diri, lalu dibentuk suatu
konsep islam yang baru berdasarkan pemahaman semula perihal penyerahan diri
yang abstrak dan umum. Dengan itu, pengertian Islam dibebaskan daripada takrif
tepatnya yang diterima oleh semua Muslim sejak sekian lama. Daripada faham islam
yang terbuka dan inklusif ini, dianjurkan bahawa semua golongan beragama adalah
muslim yang masing-masing menyerah diri kepada tuhan, tanpa dibahaskan perihal
penyerahan diri dan tuhan yang dimaksudkan.
Berdasarkan kaedah tafsir yang sistematik dan diterima umum, makalah ini
menilai pemahaman semula makna Islam dalam bentuk pluralis ini. Didapati tafsiran
moden ini tidak mengambil kira asas bahasa Arab yang membentuk kalimah Islam
atau al-islām dalam kedua-dua ayat al-Qur'an tersebut. Asas yang dimaksudkan
adalah bentuk perkataan ini yang datang sebagai kata nama khas atau ma'rifah dan
bukan dalam bentuk kata nama umum atau nakirah. Ini menunjukkan Islam yang
dimaksudkan dalam kedua-dua ayat tersebut adalah suatu konsep yang definitif.
Makalah ini selanjutnya menjelaskan pengertian Islam yang sempurna ini. Dalam
keghairahan menyeru ke arah keharmonian hidup bersama di tengah-tengah
kepelbagaian agama, makalah ini menganalisis kesesuaian masyarakat MelayuMuslim Nusantara terus berpegang dengan akidah Islam aliran pertengahan yang
sentiasa menjadi kepercayaan umat Islam rantau ini.
Kesimpulannya, makalah ini mendapati bahawa idea pluralisme agama
melangkaui batas kesederhanaan akidah Islam. Berikutan itu, faham moden ini tidak
dapat diterima sebagai sah berdasarkan tradisi Islam yang diwarisi.
Dr. Widyawati
INTERRELIGIOUS MARRIAGE IN THE KOMPILASI HUKUM ISLAM: A HUMAN
RIGHT PERSPECTIVE
One of the important rights human beings have is a freedom to marriage.
However, this issue has become a heated debate among Muslims due to the fact that
Islamic law forbids interreligious marriage, especially a Muslim female with a nonMuslim male. This is apparent in the Compilation of Islamic Law in Indonesia
which serves as an explanation of Marriage Law of 1974. This article discusses the
problem of interreligious marriage according to the compilation with human right
perspective. From this perspective this article argues that this prohibition is
contradictory to the universal human rights that maintain that every human being has
a right to build a family regardless of religious consideration.
14
Paralel II
Ruang II (10.15 -12.15)
Topik:
Wajah Baru Dunia Islam Melayu
Nama Pembentang
Judul Makalah
Prof. Muhammad Syukri Salleh (ISDEV,
University of Science)
Pemikiran Ekonomi Islam Melayu
Selamat Bin Amir, Nurul Husna Binti
Mansor, Nurul Shahidah Binti Paad, Prof.
Dato‘ Dr. Zulkifli Bin Mohd Yusoff (API
University of Malaya)
Prospek Islam Di Negeri Sabah:
Realiti dan Cabaran
Prof. Madya. Dr. Ahmad Nidzamuddin
Sulaiman (Institute Kajian Etnik
Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala
Lumpur) & Dr. Nur Azzah Binti Razali
(Fakulti sain, Teknologi, & Pembangunan
Insan, Universiti Tun Hussein Onn
Malaysia, Kuala Lumpur)
Melayu Dan Islam : Satu Analisis
Dari Perspektif Jati Diri
Dr. Mohamad Mustari (STMIK
PERMATA INDONESIA, Bekasi, Jawa
Barat)
Pesantren dan Pembangunan
Masyarakat Desa : Studi Kasus di
Kabupaten Tasikmalaya
Prof. Madya Dr. Ishak Hj. Sulaiman, Prof.
Madya Dr. Ruzman Bin Md Noor, Prof.
Dato‘ Dr. Zulkifli Bin Mohd Yusoff, Prof.
Madya Dr. Mustaffa Bin Abdullah, & Dr.
Mohd Roslan Bin Mohd Nor (API
University of Malaya, Kuala Lumpur)
Membina Golongan Pakar Pengajian
Islam dan Isu-Isu Kontemporari
dalam Konteks Tajdid Ilmiah: Satu
Pengalaman Akademi Pengajian
Islam, University Malaya
Prof. Dr. Ikyan Sibawaih, MA
(Pembanding)
Dr. Andewi Suhartini, M.Ag
15
Topik:
Wajah Baru Dunia Islam Melayu
Muhammad Syukri Salleh
PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM MELAYU
Makalah ini mempunyai dua tujuan utama.Pertama, meneliti pemikiran
ekonomi Islam kontemporari para intelektual Melayu; dan kedua, menganalisis
pemikiran tersebut dalam konteks konstruk teoretikal ekonomi Islam.Intelektual
Melayu di sini terhad kepada mereka di Malaysia dan Indonesia manakala ekonomi
Islam terhad kepada ekonomi Islam kontemporari. Kedua-dua tujuan ini akan
dicapai melalui kajian ke atas penulisan-penulisan ekonomi Islam yang dihasilkan
oleh para intelektual terpilih di Malaysia dan Indonesia. Ia kemudian disusun
melalui tiga bahagian. Bahagian pertama membincangkan tentang konstruk
teoretikal ekonomi Islam kontemporari.Bahagian kedua pula membincangkan
tentang corak pemikiran ekonomi Islam para intelektual Melayu Malaysia dan
Indonesia.Akhir sekali, bahagian ketiga merumuskan perbincangan tersebut dengan
menonjolkan kekuatan dan kelemahan pemikiran mereka ini serta mengemukakan
cadangan-cadangan untuk menjitukannya.
Selamat Bin Amir, Nurul Husna Binti Mansor, Nurul Shahidah Binti Paad, Prof.
Dato‘ Dr. Zulkifli Bin Yusoff
PROSPEK ISLAM DI NEGERI SABAH: REALITI DAN CABARAN
Kedatangan Islam di Kepulauan Melayu telah mula bertapak sejak pada
abad ke 11 Masihi lagi. .Anotasi ini wajar diutarakan apabila melihat penemuan batu
nisan di Champa, Gresik Jawa dan di Kedah serta penemuan batu bersurat di
Terengganu pada 1303 Masihi. Situasi ini memperlihatkan fenomena perkembangan
Islam mula menyerap masuk di Tanah Semenanjung Malaysia lebih awal
berbanding di Kepulauan Borneo yang mula menerima kehadiran Islam pada kurun
ke-15 Masihi melalui al-Makhdum.Justeru argumentasi ini sedikit sebanyak
mempengaruhi historis dan situasi perkembangan Islam di Borneo khasnya di
Negeri Sabah dikalangan penduduk pribumi. Tidak hairanlah jika dikatakan
emperikal perjuangan mendaulatkan agama Islam di Semenanjung Malaysia telah
memberikan suntikan semangat kepada fundamentalis tempatan dalam
menyemarakkan spiritual dakwah Islam di Sabah sehingga membawa kepada Islam
sebagai agama rasmi Negeri Sabah. Justeru melalui telahan dan rincian analitis yang
dilakukan, makalah ini akan menyoroti dan menyingkapi sejarah dan prospek
perkembangan Islam khasnya di Negeri Sabah dengan melihat aspek perkembangan
semasa, faktor-faktor perkembangan, institusi dan juga tokoh yang berperanan
dalam usaha memperjuangkan Islam di Sabah serta realiti dan cabaran, yang mana
pada hemah penulis wajar diketengahkan memandangkan nuansa Islam di Utara
Kepulauan Borneo ini bersifat multi-dimensi dan mampu memberikan manfaat yang
utilitarian terhadap pengamalan kesyumulan Islam di rantau Nusantara amnya.
15
Nur Azah binti Razali, Prof. Madya Dr. Ahmad Nidzammuddin Sulaiman
MELAYU DAN ISLAM: SATU ANALISIS DARI PERSPEKTIF
JATI DIRI
Konsep Melayu seringkali didefinisi sebagai kelompok penduduk pribumi
alam Nusantara. Walaupun memiliki pelbagai perbezaan rinci etnik ia tetap
dianggap serumpun tanpa mengira agama, bahasa dan adat budaya. Bagaimanapun
di Malaysia Perlembagaan Persekutuan Fasal 160 secara jelas mendefinisikan
Melayu sebagai penduduk pribumi yang beragama Islam, bertutur dalam bahasa
Melayu dan mengamalkan adat tradisi Melayu. Pengklasifikasian Melayu menurut
perlembagaan ini adalah menurut pandangan pemerintah (authority defined
menjadikannya amat mudah dicabar. Sudah banyak perbincangan akan konsep ini
terutamanya apabila ia diikuti dengan pelbagai peruntukan keisimewaan
pemerintahan berbanding kaum lain. Perdebatan konsep Melayu ini lebih banyak
tertumpu kepada isu bahasa Melayu dan adat budaya Melayu yang semakin tidak
digunakan.Apakah dengan ini mereka masih di anggap Melayu meskipun darah
keturunannya Melayu.Perubahan masyarakat yang semakin dinamik kini telah
menyaksikan transformasi berlaku di kalangan masyarakat Melayu kepada nilai
yang semakin kurang nilai asli atau tradisinya sekaligus mencabar jati diri Melayu.
Dalam banyak hal mereka sudah jauh menyimpang dari definisi menurut
perlembagaan 1950-an dulu.
Persoalan utama dengan itu akan cuba membincangkan kedudukan Islam
sebagai agama rasmi persekutuan di Malaysia dan bagaimana ia diguna sebagai asas
penting mendefinisi dan mengkonstruksi jati diri Melayu Melayu untuk terus
bertahan di dalam dunia facebook dan twitter kini.
Ishak Bin Hj. Suliaman, Ruzman Bin Md Noor, Mohd Yakub @ Zulkifli Bin Mohd
Yusoff, Mustaffa Bin Abdullah dan Mohd Roslan Bin Mohd Nor
MEMBINA GOLONGAN PAKAR PENGAJIAN ISLAM DAN ISU-ISU
KONTEMPORARI DALAM KONTEKS TAJDID ILMIAH : SATU PENGALAMAN
AKADEMI PENGAJIAN ISLAM, UNIVERSITI MALAYA (1993-2011)
Di dalam tradisi Pengajian Islam di peringkat universiti, graduan Ijazah
Doktor Falsafah boleh diiktiraf mempunyai kepakaran atau pengkhususan ilmu
Pengajian Islam dan isu-isu kontemporari yang menjadi topik kajian utama tesis.
Tradisi ini sebenarnya merupakan tradisi ulama silam yang berjaya membina pelapis
generasi ulama sebagai pewaris ilmu. Justeru tajdid ilmiah di dalam membina
golongan pakar Pengajian Islam merupakan satu tradisi ulama tersohor di dalam
Islam. Sebagai satu kajian kes, pengalaman Akademi Pengajian Islam, Universiti
Malaya di dalam membina golongan pakar Pengajian Islam yang berkaitan dengan
isu-isu kontemporari di peringkat Ijazah Doktor Falsafah merupakan pengalaman
tajdid ilmiah yang telah dimulakan pada tahun 1981 sehingga kini. Sehubungan
dengan itu, kertas kerja ini mempunyai objektif untuk menilai aspek pembinaan
golongan pakar Pengajian Islam dan isu-isu kontemporari di peringkat Ijazah Doktor
16
Falsafah berdasarkan pengalaman di Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya di
dalam konteks tajdid ilmiah. Metodologi kualitatif di dalam bentuk bibliometrik
melalui data-data graduasi Ijazah Doktor Falsafah di Akademi Pengajian Islam,
Universiti Malaya telah diaplikasi di dalam kertas kerja ini. Rumusan utama
daripada topik ini menunjukkan bahawa Akademi Pengajian Islam, Universiti
Malaya selama 30 tahun penubuhannya yang bermula dari tahun 1981 sehingga
2011 telah membina-lahir 243 orang golongan pakar Pengajian Islam dan isu-isu
kontemporari di peringkat Ijazah Doktor Falsafah yang telah melalui proses tajdid
ilmiah bagi manfaat ummah dan agama Islam. Daripada jumlah (243 orang)
tersebut, 215 (88.5%) terdiri daripada lelaki dan hanya 28 (11.5%) daripada
perempuan. Dari aspek warganegara, graduan dari Malaysia berjumlah 127 orang
(52%) dan negara-negara lain ialah 116 orang (48%).
Mohamad Mustari
PERANAN PESANTREN DALAM PEMBANGUNAN DESA
(Kajian Kes di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia)
Pesantren adalah institusi pendidikan Islam tradisional dan non-formal yang
tertua di Indonesia. Institusi ini adalah fenomin yang unik Indonesia, tidak
ditemukan di belahan dunia yang lain. Kebelakangan ini terdapat penilaian yang
salah yang berkembang bahawa pesantren itu dikatakan sebagai lembaga yang
melatih kelompok-kelompok teroris, mempromosikan fanatisme Islam, dan
mendakwahkan budaya konservatif. Sehingga, sebagian pesantren pun kemudian
mengubah paradigma mereka, iaitu, dari konservatisme ke progresivisme modern,
sementara yang lain lebih memilih tetap tradisional. Tujuan kajian ini adalah untuk
membuat analisis sistematis yang mendalam terhadap peran dan kontribusi pesantren
dalam pembangunan wilayah pedesaan Jawa, terutama di Kabupaten Tasikmalaya
yang jumlahnya sendiri mencapai 761 pesantren. Kajian ini menggunakan kaedah
kajian kes berganda. Kes-kesnya terdiri dari tiga pesantren besar dan tiga pesantren
kecil, semuanya berlokasi di Kabupaten Tasikmalaya. Pesantren-pesantren itu terdiri
dari tiga kategori: tradisional, moden, dan kombinasi. Temubual, pengamatan, dan
analisis dokumen digunakan untuk mengumpulkan data. Temubual tatap muka
berdasarkan pada senarai standard yang dikembangkan untuk kajian ini. Dapatan
kajian menunjukkan bahawa semua pesantren merangka sendiri dan melaksanakan
rancangan pembangunan, sama ada untuk di dalam pesantren itu sendiri mahupun
untuk pembangunan desa, yang menjadi persekitaran sosialnya, kerana kebanyakan
pesantren sememangnya berada di perdesaan.
17
Paralel II
Ruang III (10.15 -12.15)
Topik:
Demokrasi dan Masyarakat Muslim
Nama Pembentang
Judul Makalah
Dr. Siti Zubaidah Ismail & Mohd Zaidi
Daud (API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Sistem Keadilan Islam Di Nusantara:
Pengalaman Nanggore Aceh
Darussalam
Prof. Madya Dr. Sukeri Mohamad & Dr.
Mohd. Alwee Yusoff (API University of
Malaya, Kuala Lumpur)
Konsep Negara Islam Malaysia: Satu
Studi Perbandingan Antara Parti
Melayu (Umno) Dan Parti Islam
(Pas)
Prof. Madya Dr. Sukeri Muhamad &
Mohamad Azrien Mohamed Adnan
(API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Pendekatan Siasah Syar`Iyyah
Dalam Pentadiran Negara Dan
Kesannya Kepada Kesejahteraan
Masyarakat: Satu Study Kepimpinan
Menteri Besar Kelantan,
Malaysia(1990-2011)
Sadri Chaniago, M.Soc.Sc & Nidzam
Sulaiman, Ph.D (Univeriti Kebangsaan
Malaysia, Kuala Lumpur)
Penertaan Politik Tuanku Tarekat
Saktariyah Dalam Parti Nasionalis
pasca Order Reformasi di Padang
Pariyaman Sumatera Barat
Dr. Fauzan Ali Rasyid, M.Si (UIN SGD
Bandung)
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, MA
(Pembanding)
Dr. Deni Kamaluddin, M.Ag
Demokrasi Indonesia : Pengalaman
sebagai Negara Muslim Terbesar
18
Topik:
Demokrasi dan Masyarakat Muslim
Dr. Siti Zubaidah Ismail, Mohd Zaidi Daud
SISTEM KEADILAN ISLAM DI NUSANTARA:
PENGALAMAN NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Salah satu cabaran dalam proses pensyariatan undang-undang Islam di
rantau Nusantara Melayu ini ialah kedudukan sesebuah negara bangsa yang
mengandungi komposisi masyarakat pluralis. Seperti Malaysia, Indonesia juga
berhadapan dengan cabaran heterogeneous dan ini amat ketara dalam sistem
perundangan. Bila menyentuh tentang pelaksanaan Islam sebagai suatu sistem
perundangan dalam kerangka local, Aceh adalah contoh terbaik kerana ia merupakan
sebuah daerah di Indonesia yang memperolehi kuasa otonomi dalam melaksanakan
undang-undang Islam. Penyerahan otonomi khusus kepada Aceh dan penggantian
nama Provinsi Daerah Istimewa Aceh menjadi Provinsi NAD berdasarkan kepada
Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001. Adalah sesuatu yang menarik dalam
melihat pelaksanaan perundangan Islam di Aceh memandangkan ianya telah
diberikan kuasa mutlak dalam mengadakan dan melaksanakan syariat Islam secara
keseluruhannya.Dalam konteks perlaksanaan syariat Islam secara kaffah, sistem
pengadilan menerusi Peradilan Agama diwujudkan. Walaupun Aceh telah diberikan
kuasa otonomi khusus namun Peradilan Agama masih merupakan sub-sistem
peradilan di Indonesia dan terletak di bawah kerangka induk Mahkamah Agung
Indonesia. Dalam konteks pelaksanaan syariat Islam atau lebih khususnya undangundang jenayah Islam, beberapa qanun tentang perlanggaran syariat digubal untuk
maksud tersebut.Antaranya ialah Qanun No.7 Tahun 2002 (Aturan tentang
perlaksanaan akidah, ibadah dan syiar), Qanun No. 11 Tahun 2003 (Khamr), Qanun
No. 12 Tahun 2003 (Maisir) dan Qanun No. 14 Tahun 2003 (Khalwat). Pindaan
terkini tentang pelaksanaan hukuman rejam juga telah menimbulkan kontroversi
bukan sahaja di peringkat lokal, malah di peringkat antarabangsa. Terkait dengan
operasi mahkamah syariah juga ialah dua lagi institusi kembarnya iaitu pihak
penguatkuasa yang dikenali sebagai Wilayatul Hisbah dan pendakwaan (Kejaksaan).
Kertas kerja ini akan mengupas sistem keadilan di Aceh dan menilai sejauhmanakah
pelaksanaannya pada masa kini.
Dr Mohd Alwee Yusoff, Prof Madya Dr Shukeri Mohamad
KONSEP NEGARA ISLAM MALAYSIA: SATU STUDI PERBANDINGAN
ANTARA PARTI MELAYU (UMNO) DAN PARTI ISLAM (PAS)
Persoalan Negara Islam Malaysia telah menjadi polimik yang berpanjangan
antara dua parti Melayu yang bersaing merebut kuasa pemerintahan Negara
Malaysia. Bagi Parti Islam SeMalaysia (PAS), dasar Islam merupakan perkara yang
wajib dilaksanakan oleh pemerintah. Sebab itu ia menjadi agenda perjuangan
mereka. Namun begitu bagi Pertubuhan Melayu (UMNO) yang telah menerajui
18
kerajaan Malaysia selama lebih 50 tahun merasakan pendekatan keislaman secara
longgar dan bebas (tidak melibatkan aspek perundangan secara menyeluruh) adalah
lebih baik kerana dikira dapat mencapai hasrat kerajaan dalam bidang keislaman.
Ketika pertembungan kedua parti politik itu berada di kemuncak, maka isu
kedudukan Malaysia sebagai Negara Islam telah menjadi tajuk perdebatan yang
sangat panas terutamanya setiap kali menjelangnya pilihanraya umum (PEMILU).
Bagi mengukuhkan kedudukan masing-masing, maka kedua-dua belah pihak telah
mengemukakan hujah masing-masing sehingga beberapa kali program debat
terbuka antara UMNO dan PAS tentang Negara Islam dicadangkan. Namun begitu
debat sebegitu tidak pernah menjadi kenyataan kerana pihak UMNO memilih
pendekatan lain yang lebih selamat. Pertembungan politik seperti ini sepatutnya
mendapat perhatian dari para ilmuan dan dikendalikan secara saksama melalui
pentas ilmu yang betul. Oleh itu kertas ini akan menganalisis berbagai aspek yang
membawa kepada perbezaan pandangan kedua-dua parti itu dalam menanggapi
kedudukan Negara Malaysia sebagai Negara Islam. Perbincangan ini akan dapat
menjelaskan asas penting yang mencetuskan polimik dan pertembungan tersebut,
seterusnya menambahkan koleksi politik Islam semasa dalam masyarakat,
terutamanya di Alam Melayu.
Mohamad Azrien Mohamed Adnan, Prof Madya Dr Shukeri Mohamad
PENDEKATAN SIASAH SYAR‘IYYAH DALAM PENTADIRAN NEGARA DAN
KESANNYA KEPADA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT: SATU KAJIAN
KEPIMPINAN MENTERI BESAR KELANTAN, MALAYSIA (1990-2011)
Rata-rata penganalisis Siasah Syar`iyyah menegaskan bahawa penggunaan
Siasah Syar`iyyah dalam pentadbiran negara dapat menjamin kepentingan
masyarakat dan mengukuhkan kedudukan Islam itu sendiri.Ini kerana pendekatan
Siasah Syar`iyyah menggunakan kaedah syarak dalam menguruskan kepimpinan
Negara dan semua polisi kerajaan. Dengan itu ia mampu melahirkan berbagai
produk pentadbiran yang berjenama Islam dan mengutamakan kesejahteraan umat.
Pendekatan seperti ini amat berbeza dengan cara pentadbiran sekular yang banyak
menguntungkan golongan penguasa dan selalunya mudah menimbulkan konflik
kepentingan antara pemimpin dengan rakyat sehingga berlakunya perpecahan,
kebencian, penindasan, kezaliman, gejala rasuah, kemungkaran dan sebagainya.
Bertolak dari peranan dan kepentingan Siasah Syar`iyyah di atas, kertas ini akan
membicarakan bagaimana pendekatan Siasah Syar`iyyah telah dijalankan oleh
Kerajaan Kelantan di bawah kepimpinan Menteri Besarnya Datuk Nik Aziz dan
sejauhmana kesannya kepada masyarakat.
Diharapkan kertas ini dapat menambahkan koleksi pengurusan politik dan
pentadbiran Islam, terutamanya di Alam Melayu.
19
Sadri Chaniago, Nidzam Sulaiman
PENERTAAN POLITIK TUANKU TAREKAT SYATTARIYAH
DALAM PARTAI NASIONALIS
DI PADANG PARIAMAN, SUMATERA BARAT
The concept of political spectrum (politik aliran) as a clarification to
partisanship in Indonesia, believes, there are strong relations among individual with
a religious orientation to choose their political party. Moslem of santri tends to
accompany Islamic party. Meanwhile, Moslem of abangan has a tendency to
nationalist party (secular). Political participation of tuanku of Shatariyyah tarekat in
political party at Padang Pariaman, West Sumatra, Indonesia, showing they are more
inclined to choose nationalist party rather than Islamic party as political participation
bases. This study classifies political participation form and identifies their
tendencies to join the nationalist party. Thus, this study uses methodology of
qualitative with field form of research. Primary data obtained through in-depth
interview and observation. Research informant was tuanku of Shatariyyah tarekat,
who became the official member of nationalist party at Padang Pariaman,
triangulated with other informant. Informant selected through snow ball sampling.
Secondary data obtained through research library. Nevertheless, this study finds the
reason why tuanku of Shatariyyah tarekat more in favor of nationalist party as
political participation bases, because a difference of ism among Islam modernist and
Islam traditionalist, more safe and feel to be esteemed in nationalist party, pragmatic
and opportunist in activities of politics. Their political participation had several
function, pursuing need of economics, gratifying adjustment of social, pursuing
special values, and fulfill need of subconscious and also certain psychology.
Difference of ism among Islam tradisionalis with Islam modenis has influenced
tuanku of Shatariyyah tarekat in determining political participation party bases.
Their political participation shows a fading political spectrum in elite level of tarekat
Shatariyyah in Padang Pariaman. They are more comprehending politics in rational
perspective in pursuit of their social and economic, so that has come to rational
pragmatic in political participation. This matter represent indication goes into effect
of political desacralization amongst them, thus which become religion pragmatic
human being in their political behavior.
20
Dr. Fauzan Ali Rasyid, M.Si
DEMOKRASI INDONESIA: PENGALAMAN NEGARA SEBAGAI NEGERI
MUSLIM TERBESAR
Proses Demokratisasi Indonesia tidak bisa lepas dari peran Umat Islam. Islam
dianut mayoritas penduduk Indonesia.Umat Islam Indonesia lebih mudah menerima
Demokrasi, sebab semenjak awal Islam masuk ke Indonesia, lebih mengedepankan
aspek Fiqh dan Tasawuf ketimbang politik, sehingga organisasi Islam berdiri
senantiasa dilatarbelakangi dengan pemurnian agama (puritanisme). Demokrasi
tidak dianggap sebagai pertentangan ideologis dan tidak bertentangan secara fiqh
dan tasawuf.
Mudahnya Umat Islam Indonesia menerima Demokrasi berbeda dengan
negara-negara Islam di Timur Tengah, yang sulit menerima Demokrasi, mungkin
disebabkan beberapa faktor antara lain: pertama, Demokrasi adalah faham Barat,
dimana negara-negara Barat dianggap sebagai biang keladi kehancuran Khilafah
Islamiyah. Kedua, ada gesekan peradaban antara Timur dan Barat. Ketiga, belum
selesainya masalah Palestina dan Israel. Gerakan Palestina melahirkan solidaritas
negara-negara Islam Timur Tengah, sedangkan Israel melahirkan solidaritas negaranegara Barat.
Tiga bukti Sejarah Islam Politik Indonesia menolak Otoritarianisme dan
Totaliarismen: Pertama, pada masa awal kemerdekaan (Orla), Gerakan Islam
politik menolak monopartai konsep Soekarno dan pemilu pertama tahun 1955 pada
masa PM Burhanuddin Harahap dari Masyumi. Kedua, berakhirnya rezim Soekarno
dan awal Orde Baru. Terutama penolakan pada model Demokrasi Terpimpin. Dan
ketiga, pada masa akhir rezim Soeharto dan awal reformasi. Jatuhnya Rejom
Soeharto antara lain diprakarsai Amin Rais (Ketua PP Muhammdiyah) dan Gus Dur
(Ketua PBNU) yang terkenal dengan pertemuan Ciganjur.
Berdasar ketiga bukti sejarah tersebut membuktikan bahwa kelompok Islam
atau gerakan politik Islam senantiasa menolak terciptanya sistem otoriter atau
totaliter dan menghendaki terwujudnya demokratisasi di Indonesia. Walaupun
demokrasi yang dibangun senantiasa juga tidak menjadikan partai-partai Islam
diminati atau dikagumi oleh masyarakat bahkan partai Islam sampai sekarang
semakin surut peminat dan tersisih dengan partai-partai nasionalis. Dengan demikian
yang dibangun oleh Islam politik bukan tertuju pada kekuasaan mayoritas muslim
tetapi lebih tertuju kepada terbentuknya sistem yang lebih demokratis.
Problem demokrasi Indonesia, yang sekaligus menjadi PR bagi Islam Politik
Indonesia, antara lain: (1) Problem Kepemimpinan Nasional. (2) Kegagalan Partai
Politik dalam Rekruitmen Politik. (3) Demokrasi Belum Seiring Dengan
Kesejahteraan Bangsa
Beberapa agenda khusus bagi Partai-partai Politik Islam; pertama,
mengembangkan paradigma politik dari isu politik yang senantiasa menjual ideologi
Islam berbentuk memperjuangkan Piagam Jakarta/Syariat Islam, dikembangkan
kepada aspek-aspek yang menyangkut kehidupan real masyarakat berupa program
reformasi ekonomi dan supremasi hukum yang ditawarkan kepada masyarakat.
Kedua, membangun demokrasi di internal partai. Kelemahan partai-partai Islam
21
senantiasa lebih mengedepankan sistem patrimonial, otoritas tradisional dan
kepatuhan. Ketiga, beberapa agenda bangsa yang tetap perlu diperhatikan dan
diprioritaskan dalam membangun Demokrasi Indonesia ke depan antara lain
mengurangi jumlah rakyat miskin dan pengangguran, menciptakan iklim investasi
yang kondusif, mengembangkan mikro ekonomi, membuka lapangan kerja yang
seluas-luasnya, dan melakukan reformasi birokrasi yang komprehensif serta
penguatan atas rule of law/supremasi hukum.
22
Paralel II
Ruang IV (10.15 -12.15)
Topik:
Teks Islam di Dunia Melayu
Nama Pembentang
Judul Makalah
Prof. Madya Dr. Abdul Karim Ali &
Ahmad Sharifuddin Bin Mustapha
(API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Perbahasan Sifat Dua Puluh Dalam
Muqaddimah Manuskrip Hidayah AlMuta’allim Wa ‘Umdah Al-Mu’allim
Karya Shaykh Daud Bin ‗Abdullah AlFatani
Prof. Madya Dr. Mustaffa Bin
Abdullah, Prof. Dato‘ Dr. Zulkifli
Haji Mohd Yusoff, Dr. Faisal
Ahmad Shah, Dr. Munirah Abd
Razzak, Dr. Jilani Ben Touhami
Meftah, Sedek Arifin (API
University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Pengajian Al-Quran Di Malaysia:
Perkembangan, Cabaran Dan Masa Depan
Faisal Ahmad Syah, Fauzi Deraman,
Ishak Sulaeman, Thuraya Ahmad,
Khadher Ahmad, & Mohd Murshidi
Mohd Noor (API University of
Malaya, Kuala Lumpur)
Pengajian Hadith Di Malaysia: Cabaran
Dan Masa Depan
Mohd Shukri Hanapi (API
University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Tasawur Melayu: Warisan Pra-Islam Dan
Islam
Prof. Dr. H. T. Fuad Wahab
(Pembanding)
Tolib Rohmatillah, MA
23
Topik:
Teks Islam di Dunia Melayu
Ahmad Sharifuddin bin Mustapha,
Profesor Madya Dr Abdul Karim Ali
PERBAHASAN SIFAT DUA PULUH DALAM
MUQADDIMAH MANUSKRIP
HIDAYAH AL-MUTA’ALLIM WA ‘UMDAH AL-MU’ALLIM
KARYA SHAYKH DAUD BIN ‘ABDULLAH AL-FATANI
Selepas wafatnya Rasululllah sallAllahu ‘alayhi wa sallam, tugas
menyampaikan ajaran Islam diteruskan oleh para sahabat baginda. Seterusnya
ia berpindah pula kepada para tabi’in dan kemudiannya tabi’al- tabi’in.
Setelah berabad-abad masa berlalu, agama Islam telah tersebar luas di muka
bumi dan lahir pula ulama-ulama di tempat ia disebarkan. Alam Melayu turut
melahirkan ulama-ulama yang alim lagi faqih dalam bidang agama Islam
termasuk fiqh, tauhid, akhlak, tasawuf dan sebagainya. Ulama-ulama tersebut
melahirkan penulisan-penulisan yang bermutu sebagai warisan yang berharga
kepada umat Islam.
Terdapat banyak manuskrip-manuskrip yang mengandungi tulisantulisan mereka masih tersimpan, dimana ia merupakan salah satu medium
penyebaran Islam di Alam Melayu. Shaykh Dawud bin ‗Abdullah al-Fatani
merupakan antara pengarang yang terkenal dan prolifik di Alam Melayu
selain daripada Shaykh Nur al-Din al-Raniri, Shaykh Arshad al-Banjari dan
lain-lain. Kertas kerja ini akan membincangkan tentang perbahasan sifat dua
puluh dalam muqaddimah kitab beliau yang terkenal iaitu Hidayah alMuta’allim Wa ‘Umdah al-Mu’allimi.
Mohd Yakub@Zulkifli Hj Mohd Yusoff, Mustaffa Abdullah
Faisal Ahmad Shah, Monika @ Munirah Abd Razzak, Ahmad K. Kasar,
Jilani Ben Touhami Meftah, Sedek Arifin
PENGAJIAN AL-QURAN DI MALAYSIA: PERKEMBANGAN, CABARAN DAN
MASA DEPAN
Artikel ini membincangkan mengenai perkembangan pengajian al-Quran di
Malaysia yang memfokuskan kepada aspek pengajaran, penulisan dan penyelidikan.
Pengajian al-Quran di Malaysia telah melalui proses dan peringkat kematangan
sehingga mencapai kedudukannya pada hari ini. Penubuhan Pusat Penyelidikan alQuran di Universiti Malaya membuktikan pengiktirafan bidang al-Quran di
Malaysia. Objektif kajian ini adalah untuk menelusuri perkembangan pengajian alQuran di Malaysia dengan memfokuskan kepada aspek pengajaran, penulisan dan
penyelidikan. Kajian juga turut membincangkan cabaran-cabaran yang dihadapi
dalam memantapkan pengajian al-Quran di Malaysia seterusnya strategi yang
23
dirangka bagi mencapai hala tuju yang ditetapkan. Kajian ini menggunakan metode
dokumentasi dengan rujukan kepada koleksi buku, disertasi dan tesis yang pernah
dihasilkan mengenai pengajian al-Quran di Malaysia. Kajian juga melibatkan
metode historis yang diaplikasikan ketika membincangkan mengenai periodeperiode perkembangan pengajian al-Quran di Malaysia. Hasil Kajian berjaya
membuktikan kepesatan pengajian al-Quran di Malaysia melalui peningkatan
penghasilan jenis-jenis karya dalam bidang al-Quran, kepelbagaian program dan
aktiviti yang dijalankan bagi menarik minat masyarakat kepada bidang al-Quran.
Penglibatan institusi formal dan tidak formal dalam merangka program dan aktiviti
berkaitan al-Quran merupakan salah satu faktor yang meningkatkan kesedaran dan
minat masyarakat Islam di Malaysia terhadap pengajian al-Quran.
Faisal Ahmad Shah, Fauzi Deraman, Ishak Suliaman, Thuraya Ahmad, Khadher
Ahmad, Mohd Murshidi Mohd Noor
PENGAJIAN HADITH DI MALAYSIA: CABARAN DAN MASA DEPAN
Artikel ini akan membincangkan mengenai pengajian hadith di Malaysia
bermula daripada kurun ke 20 sehinggalah pada hari ini yang menyaksikan minat
dan kesedaran yang tinggi dalam kalangan masyarakat terhadap pengajian hadith.
Umum mengetahui pengajian hadith di nusantara tidak berkembang sebagaimana
bidang fiqh, akidah dan tasawuf. Karya-karya yang dihasilkan dalam bidang hadith
juga tidak banyak sekaligus tidak menggambarkan kedudukannya sebagai sumber
kedua selepas al-Quran. Namun pada masa kini, kecenderungan masyarakat kepada
pengajian hadith semakin meningkat dan membanggakan. Objektif kajian ini adalah
untuk menelusuri perkembangan pengajian hadith di Malaysia melalui jenis dan
bentuk karya hadith yang pernah dihasilkan seterusnya peranan institusi pengajian
tinggi awam di Malaysia dalam memantapkan pengajian hadith. Kajian juga turut
membincangkan permasalahan dan cabaran masa kini yang dihadapi oleh pengajian
hadith terutamanya melalui pelbagai aliran pemikiran yang meresapi dalam
pemikiran masyarakat. Kajian ini menggunakan metode dokumentasi dan historis
dengan rujukan kepada buku, disertasi dan tesis yang pernah dihasilkan mengenai
pengajian hadith di Malaysia. Dapatan kajian mendapati pengajian hadith di masjid,
surau dan institusi awam di Malaysia bertambah baik melalui kepelbagaian karya
hadith yang diajar dan dipelajari. Kajian-kajian di peringkat sarjana dan PhD dalam
bidang hadith juga banyak memfokuskan kepada tajuk-tajuk kontemporari dan
tematik yang menyentuh dan berkaitan dengan isu-isu masyarakat.
Mohd Shukri Hanapi
TASAWUR MELAYU: WARISAN PRA-ISLAM DAN ISLAM
Kertas kerja ini bertujuan mengkaji tasawur yang mencorakkan kehidupan
masyarakat Melayu sebelum dan selepas kedatangan Islam. Berbezanya kehidupan
masyarakat Melayu sebelum dan selepas kedatangan Islam ini kerana berbezanya
24
tasawur yang mencorakkan kehidupan mereka pada ketika itu. Persoalannya, apakah
evolusi tasawur masyarakat Melayu itu? Kertas kerja ini akan menjawab persoalan
ini dengan memfokuskan perbincangan kepada dua perkara utama. Pertama ialah
mengenal pasti tasawur Melayu sebelum dan selepas kedatangan Islam. Kedua ialah
merumuskan tasawur masyarakat Melayu kontemporari yang merupakan warisan
dari zaman pra-Islam dan Islam. Kajian ini merupakan kajian perpustakaan. Semua
maklumat berkaitan akan dianalisis menggunakan kaedah analisis kandungan.
Akhirnya kertas kerja ini merumuskan bahawa tasawur Melayu telah melalui
beberapa peringkat evolusi. Secara umumnya Islam sememangnya telah berakar
umbi dalam pemikiran serta pembentukan tasawur masyarakat Melayu. Namun,
unsur-unsur tradisi seperti kepercayaan animisme belum berjaya dikikis sepenuhnya
dalam kehidupan mereka.
25
Paralel III (13.00 – 15.00)
Ruang I (13.00 – 15.00)
Topik:
Filantropi Islam di Dunia Islam Melayu
Nama Pembentang
Dr. Zakaria Bin Bahari (ISDEV, University of Sains
Malaysia, Pulau Pinang)
Judul Makalah
Urus Tadbir Zakat Di
Negara Melayu:
Perbandingan Amalan Di
Malaysia Dan Brunei
Darusalam
Mr. Suhaili bin Sarif, Dr. Nor`Azzah Kamri, Dr.
Azian Madun (API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
The Impact Of Islamic
Reassertion On Malaysian
Zakat Administration
Dr. Deden Effendi, M.Ag (UIN Sunan Gunung Djati,
Bandung)
Implementasi Undangundang Wakaf di
Indonesia
Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, M.Si (Pembanding)
Rudy Heryana, Ph.D
27
Topik:
Filantropi Islam di Dunia Islam Melayu
Zakaria bin Bahari
URUS TADBIR ZAKAT DI NEGARA MELAYU: PERBANDINGAN AMALAN DI
MALAYSIA DAN BRUNEI DARUSALAM
Kertas kerja ini mengandungi dua tujuan utama. Pertama, ia berhasrat
mengenal pasti bentuk urus tadbir zakat yang diamalkan di dua buah Melayu, iaitu
Malaysia dan Brunei Darussalam. Kedua, ia berhasrat membandingkan amalan urus
tadbir zakat di antara kedua-dua negara Melayu tersebut. Ketiga, ia berhasrat
merumuskan suatu bentuk urustadbir zakat yang berkesan bagi kedua-dua buah
negara Melayu ini. Malaysia dan Brunei Darussalam dianggap sebagai negara
Melayu kerana majoriti penduduknya berketurunan Melayu, mengamalkan budaya
Melayu, mengiktiraf Bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi negara, dan
mengamalkan sistem beraja dan adat istiadat Melayu. Walau bagaimanapun, urus
tadbir zakat di kedua-dua negara ini tidak semestinya sama. Ia mungkin mempunyai
kekuatan dan permasalahan urus tadbir yang tersendiri. Kertas kerja ini akan
mengenalpasti, menganalisis dan merumuskan persoalan-persoalan ini secara
perbandingan berdasarkan kajian perpustakaan dan temubual bersemuka dengan
responden yang terdiri daripada pegawai-pegawai zakat di kedua-dua negara ini
yang dipilih melalui persampelan bertujuan. Ia akan menonjolkan tiga persamaan
dan tiga perbezaan. Persamaan tersebut ialah kekuasaan Raja ke atas urus tadbir
zakat, kumpulan sasaran sama ada pembayar atau penerima zakat adalah berbangsa
Melayu, kecuali mualaf dan organisasi tadbir zakat terletak di bawah kekuasaan
pemerintah. Perbezaannya pula terdapat dalam bidang kuasa dan peranan Raja
dalam urus tadbir zakat, struktur organisasi urus tadbir zakat dan bilangan kumpulan
berkepentingan (stakeholders).
Mr. Suhaili bin Sarif, Dr. Nor`Azzah Kamri, Dr. Azian Madun
THE IMPACT OF ISLAMIC REASSERTION
ON MALAYSIAN ZAKAT ADMINISTRATION
The development and advancement of zakat institution in Malaysia has been
through time influenced by the changing social, political and economic situation of
the country. One of the important phenomenon which shaped the institution is the
process of Islamic revivalism from the early 1970s which resulted the zakat has been
one of the institutions which government keened to enhance. Another factor merits
to be considered is the introduction of New Economic Policy as a mechanism to
empower Malay Muslims enabling them to compete economically with other
wealthier races, especially Chinese and Indian. Within the spirit of the policy
together with the direct influenced by the emerging factors resulted from the
revivalism phenomenon, government introduced modernization of zakat institution
through what has been popularly known as corporatization. In the light of broader
26
perspective of the aforementioned interrelated factors and the shifts of religious
phenomenon, this article discusses the brief development of zakat in Malaysia which
reflects the gradual change of the institution against the backdrop of Islamic
reawakening and other socio political change in the nation. As we shall see
throughout the discussion, the zakat institution, apart from its fundamental role as
religious duty, has been through time transformed to be one of the national
economic tools.
Deden Effendi
IMPLEMENTASI HUKUM WAKAF DI INDONESIA
Wakaf (waqf) merupakan salah satu institusi sosial dalam komunitas
Muslim. Secara kelembagaan, ia berupa norma-norma yang berfungsi mengontrol
perilaku individu sebagai anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan
komunitas Muslim secara keseluruhan, baik dalam urusan keagamaan, sosial,
ekonomi, atau politik.
Ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan wakaf merupakan bagian
integral dari ketentuan-ketentuan. Ketentuan-ketentuan tentang wakaf merupakan
bagian integral dari syarī’ah. Al-Qur’an tidak memberikan rujukan khusus tentang
wakaf, dan sunnah hanya menempatkannya dalam katagori anjuran, sehingga
parameter hukum implementasinya dikembangkan selama berabad-abad oleh para
ahli hukum Muslim (fuqahā`).
Fleksibilitas norma wakaf telah menjadikannya yang sangat responsif dalam
mengatasi persoalan keagamaan, ekonomi, sosial, dan politik yang dihadapi
komunitas Muslim. Fakta sejarah membuktikan bahwa wakaf telah melahirkan
―masyarakat madani‖ (civil society); sektor ketiga yang relatif otonom dan tidak
bergantung pada sektor publik atau sektor swasta, tetapi bekerjasama secara sinergis
dalam memajukan peradaban Islam.
Wakaf menunjukkan dinamika. Selama satu abad, dari abad ke-19 hingga
abad ke-20, institusi wakaf mengalami kemunduran. Kondisi ini tidak hanya
disebabkan oleh kolonialisasi, tetapi juga nasionalisasi. Sebagian besar negara
Muslim, termasuk Indonesia, memperoleh kemerdekaan (politik) setelah Perang
Dunia II. Sekalipun berpenduduk mayoritas Islam, namun tidak menjadikan Islam
sebagai agama resmi. Sebagai negara-bangsa, pelaksanaan negara didasarkan pada
faham negara-hukum (the rule of law) dan negara-kesejahteraan (welfare state).
Hingga pertengahan abad ke-20, karena berbagai faktor, janji supremasi hukum dan
kesejahteraan belum dapat diimplementasikan secara penuh. Pada paruh terakhir
abad ke-20, sejalan dengan akhir Perang Dingin, faham Islamisme semakin kuat.
Jika paruh pertama abad ke-20 difahami sebagai era ―nasionalisasi Islam‖, maka
paruh akhir dianggap sebagai ―islamisasi bangsa‖. Dalam konteks sosial politik ini,
legislasi atas institusi wakaf dilakukan.
Dengan latar belakang itu, maka masalah disertasi ini adalah masalah
legislasi dan implementasi hukum perwakafan di Indonesia.
Masalah tersebut tidak dapat difahami hanya dengan perspektif legal
27
positivism atau kajian sosiologis dan historis semata, tetapi membutuhkan perspektif
yang menjelaskan ragam hubungan normative order dalam komunitas Muslim,
termasuk antar dan inter legal order dan social order. Dalam perspektif sociolegal
theory, dikenal konsep living law, lawyer’s law, dan state law. Sejarah menunjukkan
bahwa perkembangan wakaf terjadi dalam ranah ―hukum yang hidup‖, bukan pada
ranah ―hukum-negara‖. Dengan cara ini, wakaf telah melahirkan masyarakat-sipil.
Dengan demikian, legislasi wakaf dalam bentuk perundang-undangan dapat
dipandang sebagai legislasi yang ―terburu-buru‖. Keberadaannya lebih banyak
didorong oleh tuntutan politik daripada dukungan kesadaran sosial akan makna
wakaf bagi kemajuan bangsa.
Kategori-hukum dalam teori fiqh menempatkan hukum perwakafan pada
kategori sunnah, sehingga terletak pada entitas moral, bukan legal, sehingga tidak
membutuhkan ―unsur paksaan‖ yang menjadi otoritas negara. Oleh sebab itu,
penanganan sengketa wakaf menjadi kasus yang sangat langka. Kalaupun legislasi
harus dilakukan, maka legislasi bukan pada primer rule (substanstive law),
melainkan pada secondary rule (procedural law). Dalam arti ini, maka legislasi
lebih ditujukan pada pengelolaan wakaf, bukan substansi wakaf.
Kalaupun Undang-undang Nomor 41 Tahun 2006 tentang Wakaf di-―tafsir‖kan sebagai undang-undang pengelolaan wakaf, maka implementasinya harus
memenuhi beberapa faktor kritis dalam penegakan hukum. Selain mengelaborasi
beberapa persoalan fiqh, juga produk hukumnya harus memenuhi syarat: sistematika
perangkat hukum, kewibawaan penegak hukum, kesadaran hukum masyarakat, serta
struktur birokrasi penegakan undang-undang pengelolaan wakaf. Tanpa prakondisiprakondisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa legislasi hukum perwakafan
yang lebih menekankan pola top-down, tanpa pertumbuhan kesadaran masyarakat
yang lebih bottom up, sulit dijadikan sebagai sarana untuk melakukan akselerasi
pembanguan ekonomi umat. Konsekuensi logisnya adalah kesulitan implementasi
hukum perwakafan tadi.
28
Paralel III
Ruang II (13.00 – 15.00)
Topik:
Islam, Gender, dan Traficking
Nama Pembentang
Judul Makalah
Prof. Dato' Dr. Zulkifli Mohd. Yusoff
& Prof. Madya Dr. Shukeri Mohamad
(API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Dasar Wanita Dari Perspektif Islam:
Satu Studi Pelaksanaan & Kesannya Di
Negeri Kelantan, Malaysia
Prof. Madya Dr. Raihanah Azahari &
Cik Bahiah Ahmad (University of
Malaya, Kuala Lumpur)
Penentuan Kadar Kifayah Dan Makruf
Nafkah Anak dan Isteri: Rujukan
Khusus Kepada Keputusan
Penghakiman Di Mahkamah-Mahkamah
Syariah di Malaysia
Erni Heryanti, Ph.D (UIN Sunan
Gunung Djati, Bandung)
New Era of Muslim Woman in Malay
World : The Contested Women‘s
Advancement in Decission Making
Bodies
Prof. Madya Dr. Raihanah Abdullah &
Mohd Nor Husairi Mat Hussin (API
University of Malaya, Kuala Lumpur)
Perkembangan Semasa dalam
Pembahagian Harta Sepencarian:
Analisis Penghakiman di Mahkamah
Syariah Malaysia
Prof. Dr. H. Asep Saeful Muhtadi, MA
(Pembanding)
Dr. Aan Hasanah, MA
29
Topik:
Islam, Gender, dan Traficking
Prof Madya Dr Shukeri Mohamad
Prof Dato‘ Dr Mohd Yakub @ Zulkifli Mohd Yusoff
DASAR WANITA DARI PERSPEKTIF ISLAM: SATU STUDI PELAKSANAAN &
KESANNYA DI NEGERI KELANTAN, MALAYSIA
Kedudukan dan peranan wanita telah diakui dengan jelas oleh Islam melalui
keterangan al-Quran dan al-Sunnah, di mana Islam menolak sebarang bentuk
penindasan atau ekploitasi ke atas wanita.Bertolak dari situ, kedudukan dan peranan
wanita telah dijadikan agenda pokok dalam pentadbiran Kerajaan Kelantan,
Malaysia sejak tahun 1990 di bawah kepimimpinan Ulama.Melalui dasar/polisi
wanita, pihak kerajaan telah melaksanakan berbagai pembaharuan dan pendekatan
keislaman bagi menjaga kepentingan wanita dan melindungi kesucian mereka. Pada
masa yang sama kerajaan juga telah meningkatkan peranan wanita mengikut
keperluan semasa berpandukan skima Islam. Ternyata bahawa pendekatan
keislaman dalam pelaksanaan dasar wanita ini merupakan satu dimensi baru dalam
pentadbiran moden yang tidak dilakukan oleh Kerajaan Malaysia sendiri. Ia menjadi
satu perkembangan politik dan pentadbiran yang menarik apabila kedudukan wanita
dan penjagaannya dijadikan agenda kerajaan. Persoalannya bagaimana pendekatan
yang diambil oleh kerajaan Kelantan untuk menjayakan agenda besar dan berat itu
serta sejauhmana kesannya terhadap masyarakat, terutama golongan wanita sendiri?
Inilah persoalan pokok yang akan dibicarakan dalam kajian ini. Ia sudah tentu dapat
menambahkan koleksi pengajian politik dan kemasyarakatan bagi faedah
pembangunan Umat Islam, terutamanya di Alam Melayu.
Raihanah Azahari (PhD), Cik Bahiyah Ahmad
PENENTUAN KADAR KIFAYAH DAN MAKRUF NAFKAH ANAK DAN ISTERI:
RUJUKAN KHUSUS KEPADA KEPUTUSAN PENGHAKIMAN DI MAHKAMAHMAHKAMAH SYARIAH DI MALAYSIA
Ketika Hindun isteri Abu Sufyan mengadu kepada Nabi (s.a.w) tentang
suaminya yang bakhil sehingga tidak memberikan kepadanya dan anaknya nafkah,
Nabi (s.a.w) bersabda, yang bermaksud: “Ambillah apa-apa yang mencukupi
(kifayah) buatmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik (makruf).Berdasarkan
hadith ini, Jumhur ulama berpendapat bahawa jika suami gagal atau enggan untuk
memberikan nafkah, isteri berhak mengambil apa yang cukup untuk dirinya dan juga
anak-anaknya secara kifayah (cukup) dan ma’ruf (baik) walau pun tanpa
pengetahuan suami. Walau bagaimana pun apa yang cukup dan ma’ruf tidak
dibincangkan dan diputuskan oleh para fuqaha‘ dengan jelas. Tidak dinyatakan
berapakah kadar atau ukuran kifayah dan ma'ruf tersebut. Ini kerana kecukupan dan
kema‘rufan kadar nafkah isteri dan anak sangat bergantung kepada amalan
masyarakat zaman tersebut. Peruntukan undang-undang keluarga Islam di Malaysia
29
mengenai penaksiran nafkah isteri dan anak pula menjelaskan, bahawa mahkamah
perlu mengasaskan penaksirannya terutama sekali atas kemampuan (suami) dan
keperluan pihak-pihak itu (isteri dan anak-anak). Peruntukan ini juga terlalu umum
dan tidak menjelaskan apakah yang dimaksudkan dengan kemampuan suami dan
keperluan pihak-pihak iaitu isteri dan anak. Hakim dalam membuat keputusan atas
tuntutan nafkah isteri dan anak, menimbang pelbagai faktor mengikut budi bicaranya
sendiri untuk menetapkan kadar nafkah isteri dan anak. Ini seringkali membezakan
antara satu kes dengan kes yang lain seiring bertambahnya pengalaman dalam
pengamatan hakim tersebut. Kertas ini bertujuan meneliti kes-kes penghakiman
berkaitan nafkah oleh hakim-hakim di Mahkamah-mahkamah Syariah di Malaysia.
Ia secara jelasnya cuba mengenalpasti apakah aspek yang menjadi pertimbangan
hakim untuk menentukan kadar nafkah isteri dan anak supaya menepati maksud
kifayah dan makruf.
Erni Haryanti
NEW ERA OF MUSLIM WOMEN IN MALAY WORLD: THE CONTESTED
WOMEN'S ADVANCEMENT IN DECISION MAKING BODIES
Malay world has been experiencing the conflicting and converging
international influences of rapid islamization and globalization in many significant
aspects of the countries. One of the issues is that advancement of women‘s life to
achieve gender equality and the growing visible Islamic movement which in turn
should unavoidably create different phenomena of Muslim women ideas, attitudes
and practices compared to other Muslim world. This paper explores myriad aspects
of women‘s empowerment transforming specifically into politics in the nuances of
an affirmative action a world agenda triggered by series of international conference
on women. Since the Malay world consisting Muslim majority countries the
exploration begins from the existence of state machinery and its agenda of women‘s
advancement, the tendency of Muslim women practice their Islamic beliefs and its
variances, and the last is that the way Muslim women perceive the so-called
women‘s quota and the impacts of its advancement for women. Through finding
similarities and differences between at least two Muslim majority countries (i.e.
Indonesia and Malaysia), the support toward Muslim women‘s empowerment in
decision making bodies is similarly strong, in its implementation is simply a little
difference, but in term of discourses Indonesia has much flourished ideas and closer
to the ideas of international agenda. However, in the overall Malay world would
significantly show its openness, tolerance and positive adaptation toward
international influences of carrying both Islamic and non-Islamic ideas in the
framework of its own Islamic cultural perspectives.
30
Raihanah Abdullah dan Mohd NorHusairi Mat Hussin
PERKEMBANGAN SEMASA DALAM PEMBAHAGIAN HARTA SEPENCARIAN:
ANALISIS PENGHAKIMAN DI MAHKAMAH SYARIAH MALAYSIA
Harta Sepencarian merupakan warisan adat Melayu Nusantara yang dinamik
bagi memelihara hak-hak wanita. Keunikan amalan pembahagian harta sepencarian
ini telah diberikan pengiktirafan undang-undang dalam menjamin hak pihak-pihak
yang bertikai khususnya dalam soal pembahagian harta perkahwinan. Undangundang dan amalan pembahagian harta sepencarian telah mengalami transformasi
yang cukup baik di Malaysia. Bermula daripada ketiadaan peruntukan undangundang, sehinggalah kepada kepelbagaian bentuk penyelesaian dan penghakiman
terhadap kes tuntutan harta sepencarian seperti tuntutan semasa permohonan
poligami oleh suami, penyelesaian melalui kaedah sulh dan sebagainya. Selain
daripada itu, perkembangan kehartaan di Malaysia yang dipengaruhi oleh perubahan
sosial masyarakat telah memberikan dimensi yang berbeza kepada Mahka-mah
dalam penghakiman dan perintah pembahagian harta sepencarian di Mahkamah
Syariah. Harta-harta yang menjadi pertikaian kini bukan sahaja meliputi harta dalam
pengertian tradisional seperti rumah, perkakas rumah dan hartanah sahaja, tetapi
ianya meliputi harta dalam bentuk kontemporari seperti saham syarikat, KWSP,
SOCSO, insurans, tanah rancangan seperti FELDA dan FELCRA, dan sebagainya
yang menimbulkan isu-isu kehartaan yang lebih kompleks. Perkembangan jenis
kehartaan ini tentunya memberi kesan dan cabaran terhadap penghakiman para
hakim di Mahkamah Syariah dalam memerintahkan pembahagian terhadap hartaharta ini seterusnya meletakkan satu tanda aras terhadap perkembangan
pembahagian harta sepencarian di Malaysia. Justeru kertas kerja ini akan meneliti
perkembangan semasa dalam pembahagian harta sepencarian dengan menganalisis
penghakiman terhadap kes-kes harta-harta sepencarian di Mahkamah Syariah
Malaysia.
31
Paralel III
Ruang III (13.00 – 15.00)
Topik:
Kajian Keislaman di Dunia Melayu
Nama Pembentang
Dr. Saadan Bin Man (Jabatan Fiqh &
Usul API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Judul Makalah
Transformasi Hukum Islam
Kotemporari Melalui Gagasan Fiqh
Malaysia
Dr. Mahmud Ahmad, Prof. Madya Dr.
Khadijah Mohd Hambali @ Khambali,
Prof. Madya Dr. Mohd Fauzi Hamat,
Prof. Madya Dr. Che Zarrina Sa‘ari,
Prof. Madya Dr. Wan Suhaimi Wan
Abdullah, Dr. Faizuri Abdul Latip, Dr.
Wan Adli & Dr. Azmil Zainal Abidin
(API, University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Analisis Penolakan Doktrin NonTriniti Dalam Ajaran Kristian; Analisis
Kajian Di Malaysia
Prof. Dr. Ahmad Hidayat Buang &
Mohd. Hafiz Jamaludin (Jabatan Syariah
& Undang-Undang, API University of
Malaya, Kuala Lumpur)
Syariah Courts In Malaysia And The
Development Of Islamic
Jurisprudence: The Study Of Istihsan
Misno (Universitas Islam Negeri Sunan
Gung Djati Bandung)
Penanggalan Islam Kejawen : Dialog
Islam dan Budaya Jawa
Dr. Nurrohman, MA (Pembanding)
Dr. H. Dindin Jamaluddin, M.Ag
32
Topik:
Kajian Keislaman di Dunia Melayu
Dr. Saadan Man
TRANSFORMASI HUKUM ISLAM KOTEMPORARI MELALUI
GAGASAN FIQH MALAYSIA
Syariat Islam adalah bersumberkan wahyu Allah yang muqaddas dan
bersifat dinamis. Bagaimanapun ia tidak bersifat rigid dan jumud, malah ia boleh
menerima perubahan berdasarkan kepada faktor keadaan dan keperluan semasa
dengan tidak mengubah prinsip-prinsip asasnya. Hukum fiqh semestinya sentiasa
berubah kerana ia merupakan tafsiran dan interaksi manusia terhadap wahyu Allah
dan ianya sentiasa berbeza mengikut darjah kefahaman dan intelektualisme
seseorang mujtahid di samping pengaruh faktor persekitaran yang juga berbeza. Ini
terbukti di sepanjang sejarah pembinaan hukum Islam itu sendiri yang menyaksikan
perbezaan aliran pemikiran hukum dalam kalangan para Sahabat, Tabi`in, zaman
pembinaan mazhab sehinggalah ke zaman mutakhir ini. Konsep fiqh Islam zaman
silam yang disesuaikan dengan keadaan tempatan yang berbeza yang dikenali
dengan pelbagai nama seperti fiqh Hijaz, fiqh Iraq, Mesir, Kufah, Hind dan
seumpamanya membuktikan teori ini. Dalam konteks Malaysia pada hari ini yang
mempunyai realiti sosio-budaya, politik, ekonomi dan persekitaran yang tersendiri
ini, gagasan fiqh Malaysia telah diperkenalkan. Fiqh Malaysia adalah sebuah idea
dan visi untuk membentuk kompendium hukum Islam berasaskan penyesuaian
syariat Islam dengan realiti dan lokaliti masyarakat Malaysia. Berasaskan kepada
latarbelakang ini, kertas kerja ini bakal menganalisis isu ini dengan memokuskan
perkembangan transformasi hukum Islam semasa di Malaysia dalam kerangka
gagasan fiqh Malaysia.Ia akan membicarakan secara detail tentang konsep
transformasi hukum Islam, bagaimana ia diadaptasi dalam konteks gagasan fiqh
Malaysia dan cabaran-cabaran dalam memanifestasikannya dalam konteks semasa
Malaysia.
Khadijah Mohd Hambali @ Khambali, Mahmud bin Ahmad
ANALISIS PENOLAKAN DOKTRIN NON-TRINITI DALAM AJARAN KRISTIAN;
ANALISIS KAJIAN DI MALAYSIA
Kertas kerja ini membincangkan doktrin ketuhanan agama Kristian yang
tidak menurut arus perdana kepercayaan umum masyarakat Kristian.Kewujudan
golongan dan gereja-gereja yang tidak percaya kepada doktrin Triniti telah
memberikan tamparan kepada golongan Kristian yang berdoktrinkan Triniti untuk
mengakui bahawa terdapatnya kepincangan dalam doktrin Triniti yang selama ini
menjadi asas kepercayaan agama Kristian.Kajian ini mendapati penentangan
terhadap doktrin Triniti telah pun bermula sejak dari Nabi Isa AS memulakan
dakwahnya kepada bangsa Bani Israel.Penolakan yang tidak berkesudahan terhadap
doktrin Triniti oleh penganut Kristian dapat dilihat dengan wujudnya terlalu banyak
32
aliran dan gereja-gereja Kristian yang berdoktrinkan non-Triniti sehingga hari ini.
Kepercayaaan yang mengatakan bahawa doktrin Triniti adalah tranformasi rekaan
yang dilakukan oleh Paul dan bukan diambil daripada ajaran Nabi Isa AS telah
mendorong kepada kesinambungan ‗hidupnya‘ gereja-gereja Kristian kontemporari
yang menentang doktrin Triniti khususnya, di Malaysia. Kertas kerja ini akan
mengemukakan beberapa perbincangan penting terutamanya yang dikemukakan
oleh kumpulan Kristian yang menolak doktrin Triniti yang dikenali sebagai
Jehovah’s Witnesses. Pertikaian isu ketuhanan agama Kristian yang dikemukakan
oleh golongan ini dan gereja non-Triniti menjadi asas utama di dalam agama
Kristian samada berlakunya penerimaan atau penolakan autoriti Al-Kitab
(Bible).Pelbagai tanggapan terhadap kepercayaan sebenar ‗ketuhanan‘ agama
Kristian timbul apabila Al-Kitab (Bible) dikaji secara tuntas oleh golongan dan
gereja non-Triniti. Disusuli dengan hujah-hujah penolakan doktrin Triniti oleh setiap
aliran dan gereja, kertas ini akan juga mengupas beberapa kenyataan-kenyataan
utama doktrin ‗ketuhanan‘ Al-Kitab (Bible) samada daripada Perjanjian Lama atau
Perjanjian Baru. Secara keseluruhannya, penolakan doktrin Triniti adalah berasaskan
kepada dua elemen utama; iaitu asas penolakan yang dinyatakan secara jelas oleh
Al-Kitab (Bible) dan kepercayaan yang sukar difahami apatah diterima akal.
Mohd. Hafiz Jamaludin, Prof. Dr. Ahmad Hidayat Buang
SYARIAH COURTS IN MALAYSIA AND THE DEVELOPMENT OF ISLAMIC
JURISPRUDENCE: THE STUDY OF ISTIHSAN
Malaysia is among the countries which have very close relations with Shafi'i
madhhab in term of Islamic Law. This can be seen from the provisions of Syariah
Law in Malaysia where the opinion of the Shafi'i madhhab is preferred than other
madhhabs. However, the current situations and issues cause that the other opinions
from the other madhhabs are also used and practiced in order to provide the best
solutions. This is also true in respect on the use of sources of Islamic law, such as
Istihsan, Istislah and Qawl Sahabi which are rejected by the Shafi'i madhhab.
Therefore, this study attempts to analyze the development of Islamic law,
particularly in the application of the concept of Istihsan in the Syariah Courts in
Malaysia. This study has examined a number of cases reported in the Jurnal Hukum
issued by the Syariah Judiciary Department of Malaysia (JKSM). The result of this
study found that in several cases, the judges have applied indirectly the concept of
Istihsan in their judgment. It is also found that it is actually the provisions of the law
that allows the Shariah judges to indirectly apply this concept.
33
Misno
PENANGGALAN ISLAM KEJAWEN : DIALOG ISLAM
DAN BUDAYA JAWA
Agama Islam telah memasuki wilayah Indonesia sejak abad ke VII M. Hal ini
seperti disebutkan pada catatan perjalanan Al-Mas‘udi, yang menyatakan bahwa
pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke
Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur
Sumatera. Selain itu T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of
The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab
ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah atau pada Abad Ke-VII M. Pendapat ke dua
menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia adalah pada abad Ke- XI M. Hal ini
didasarkan pada penemuan makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu
makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat
prasasti huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun 475 H (1082 M). Sementara
pendapat terakhir menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad KeXIII M. Pendapat ini didasarkan pada klaim beberapa sarjana Barat seperti R.A
Kern, C. Snouck Hurgronje dan Schrieke, mereka berpendapat bahwa Islam masuk
ke Indonesia pada abad ke-13. Pendapat terakhir inilah yang banyak dijadikan acuan
dan referensi resmi.
Terlepas dari banyaknya pendapat mengenai kapan masuknya Islam ke
Indonesia, semua sejarawan sepakat bahwa ketika Islam masuk ke Indonesia,
masyarakat Indonesia telah memiliki budaya dan adat-istiadat sendiri. Kebudayaan
ini telah mereka anut sejak zaman dahulu kala, sehingga ia telah berurat-akar dalam
setiap sendi kehidupan sehari-hari. Bahkan kebudayaan Indonesia telah ada sebelum
datangnya agama Hindu dan Budha di persada ini. Adanya keyakinan dan
kepercayaan Animisme, Dinamisme dan Totemisme adalah salah satu bukti bahwa
masyarakat Indonesia telah memiliki kebudayaan yang telah diwariskan dari
generasi ke generasi.
Berbagai keyakinan dan kepercayaan yang menjadi pedoman bagi masyarakat
Indonesia faktanya sangat beraneka ragam (plural) pada setiap wilayah. Hal ini
dikarenakan Indonesia.
34
Paralel III
Ruang IV (13.00 – 15.00)
Topik:
Transmisi Islam di Dunia Melayu
Nama Pembentang
Prof. Madya Datin Dr. Noor Naemah
Binti Abdul Rahman, Mohd Akram Bin
Dato' Dahaman, @ Dahlan (API
University of Malaya, Kuala Lumpur)
Judul Makalah
Faktor yang Mempengaruhi
Perbezaan Penetapan Fatwa di
Malaysia dan Singapura: Penelitian
Terhadap Beberapa Fatwa Terpilih
MJFK dan MUIS
Ibnor Azli Ibrahim, Mohd Jumat Abdul
Razak, & Susiknan Azhari (University
Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur)
Balai Cerap Al-Biruni Negeri Sabah
dan Unit Falak Syar'ie, Pejabat Mufti
Negeri Sabah : Peranan dan
Sumbangannya dalam Bidang Falak
Muhammad Harya Ramdhoni
(Universiti Kebangsaan Malaysia &
Universitas Lampung), dan Nidzam
Sulaiman (Universiti Kebangsaan
Malaysia, Kuala Lumpur)
Islam dan Komunisme dalam Alam
Melayu : Kajian Mengenai Pejuang
Kiri dan Nasionalis di Indonesia dan
Malaysia sebelum Merdeka
M. Taufik Rahman Ph.D (UIN Sunan
Gunung Djati, Bandung)
Tokoh Dibalik Gerakan Dakwah
Persis: dari A. Hassan hingga Sidik
Amin
Prof. Dr. H. Tajul Arifin, MA
(Pembanding)
Dr. H. A. Hasan Ridwan, M.Ag
35
Topik:
Transmisi Islam di Dunia Melayu
Prof. Madya Datin Dr. Noor Naemah bt Abdul Rahman
Mohd Akram bin Dato‘ Dahaman@Dahlan
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERBEZAAN PENETAPAN FATWA DI
MALAYSIA DAN SINGAPURA: PENELITIAN TERHADAP BEBERAPA FATWA
TERPILIH MJFK MUIS
Fatwa adalah pandangan hukum syarak berasaskan realiti kehidupan
malaysia yang berbeza. Hasilnya kedapatan fatwa-fatwa yang berbeza bagi
permasalahan yang sama kewujudan fatwa yang berbeza adalah didorong
oleh faktor-faktor perbezaan yang wujud melingkungi kehidupan masyarakat.
Terdapat beberapa fatwa yang ditetapkan oleh MJFK dan MUIS berbeza dari
sudut keputusannya walaupun bersangkutan dengan permasalahan yang
sama. Perkara ini berlaku disebabkan oleh realiti kehidupan masyarakat Islam
dikedua negara adalah berbeza melibatkan beberapa aspek iaitu ekonomi,
politik, demografi dan perundangan. Malaysia adalah sebuah negara
membangun manakala Singapura ialah negara maju.Malaysia didominasi
oleh pemimpin Islam manakala Singapura pula didonminasi oleh pemimpin
non-Muslim.Malaysia ialah negara minoriti dan Islam sebagai agama bagi
Malaysia berbeza dengan Singapura yang tidak mempunyai sebarang agama
rasmi negara.Melalui penelitian terhadap beberapa fatwa tersebut, didapati
bahawa perbezaan ini telah menjadi faktor yang jelas diambilkira seterusnya
menyebabkan perbezaan pada penetapan fatwa di antara Malaysia dan
Singapura.
Ibnor Azli Ibrahim, Mohd. Jumat Abdul Razak, Susiknan Azhari
BALAI CERAP AL-BIRUNI DAN UNIT FALAK SYAR’IE, PEJABAT MUFTI
NEGERI SABAH: PERANAN DAN SUMBANGANNYA DALAM BIDANG FALAK
Kertas ini bertajuk: Balai Cerao Al-Biruni Negeri Sabah dan Unit Falak
Syar‘ie, Pejabat Mufti Negeri Sabah: Peranan Dan Sumbangannya. Perkembangan
ilmu falak di dunia khasnya di Malaysia mengundang kepada keperluas asas
kelancaran aktiviti falak tersebut iaitu balai cerap termasuk tenaga mahir yang
mampu mentadbir urus balai cerap tersebut. Negeri Sabah tidak terkecuali dalam
perkembangan ini sehingga tertubuhnya Unit Falak Syar‘ie. Pejabat Mufti Negeri
Sabah seterusnya penubuhan sebuah balai cerap dikenali sebagai Balai Cerap AlBiruni Negeri Sabah. Kajian ini bertujuan untuk memperjelaskan peranan dan
sumbangan Unit Falak Syar‘ie, Pejabat Mufti Negeri Sabah dan Balai Cerap AlBiruni Negeri Sabah serta memperjelas hubungankat peranan dan sumbangan
tersebut dengan keperluan umat Islam khususnya dalam ibadah. Metod yang
digunakan untuk menjayakan kajian ini ialah metod kepustakaan. Ia disokong
35
dengan pengumpulan data dari Jabatan Mufti Negeri Sabah dan lawatan ke Balai
Cerap Al-Biruni sendiri. Hasil kajian mendapati bahawa ilmu falak berkembang di
Negeri Sabah dengan adanya pihak yang dipertanggungjawabkan, iaitu Unit Falak
Syar‘ie. Pejabat Mufti Negeri Sabah dan Balai Cerap Al-Biruni Negeri Sabah.
Kebanyakan aktiviti falak dilaksanakan di balai cerap dan dengan itu ia telah
memberi sumbangan yang bermanfaat demi kemaslahatan umat Islam
keseluruhannya.
Muhammad Harya Ramdhoni, Nidzam Sulaiman
ISLAM DAN KOMUNISME DALAM ALAM MELAYU:
KAJIAN MENGENAI PEJUANG KIRI DAN NASIONALIS
DI INDONESIA DAN MALAYSIA SEBELUM MERDEKA
Persoalan kedudukan pejuang kemerdekaan yang beraliran nasionalis atau
komunis bergema di Malaysia akhir-akhir ini meskipun perdebatan ini sudah lama
berlangsung di Indonesia. Pertanyaan kembali muncul apakah pejuang kiri yang
radikal di alam Melayu ini sebenarnya nasionalis atau komunis terutamanya pejuang
dalam Parti Komunis Indonesia (PKI) dan Parti Komunis Malaya (PKM). Bagi
kaum komunis bagaimana kedudukan Islam dalam pegangan mereka
memandangkan banyak aliran komunisme tidak cenderung kepada agama. Apakah
mereka berpegang kukuh kepada ideologi perjuangan dan sanggup menolak agama
atau apakah masih wujud pegangan Islamnya di samping memperjuangkan aliran
kiri mereka. Tuduhan bahawa mereka ini atheis atau tidak beragama begitu banyak
dilontar kepada mereka tanpa melihat secara mendalam akan sebenarnya pegangan
kumpulan ini. Kertas ini akan membincangkan kedudukan ini dengan melihat
kembali dasar perjuangan kaum komunis dan kiri nasionalis Indonesia dan Malaysia;
ucapan atau kata-kata pemimpin kedua-dua kumpulan di kedua-dua bangsa tersebut,
amalan, tulisan serta analisis terhadap kehidupan mereka.
M. Taufik Rahman
TOKOH-TOKOH DI BALIK GERAKAN DA'WAH PERSIS:
DARI A. HASSAN HINGGA SHIDDIEQ AMIEN
Tulisan ini memfokuskan pada pandangan sosiologi atas tokoh-tokoh
sekaligus ulama Persis (Persatuan Islam) di Indonesia. Metode yang dipergunakan
dalam tulisan ini ialah bersifat biografis dan sosiologis. Apa yang didiskusikan
terutama adalah peran-peran ulama sebagai elit keagamaan dan kebudayaan dalam
usaha mereka untuk membimbing umat Islam dalam konteks masa dan tempat
mereka hidup. Tulisan ini diakhiri dengan penguraian beberapa figur ulama Persis
yang menonjol, yaitu A. Hassan, M. Natsir, KHM. Isa Anshary, KHE.
Abdurrahman, KHA. Latief Muchtar, dan KH. Shiddieq Amien.
36
Plenary II (15.30 – 17.30)
Ruang Utama
Topik:
Orientalisme, Oksidentalisme &
Globalisasi
Nama Pembentang
Judul Makalah
Prof. Madya Dr. Rahimin Affandi Abd.
Rahim
Prof. Madya Dr. Ruzman Md Noor
Prof. Madya Mohammad Kamil Ab
Majid
Nor Hayati Bt Md Dahlal (API
University of Malaya, Kuala Lumpur)
Orientalism Dan Occidentalism Dalam
Kajian Islam: Pendekatan Akademi
Pengajian Islam,
Universiti Malaya, Kuala Lumpur,
Malaysia
Dr. Melanie V. Netz (Albert-LudwigUniversity, Germany)
Images of the West in Urban
Indonesia: Muslims Negotiating the
Western Path to Modernity
Dr. Suraiya IT
Mutual Respect and Dialogue is a
Challenge for The Future of Diversity
in The Globalization
Gustiana Isya Marjani, Ph.D (UIN
Sunan Gunung Djati Bandung,
Indonesia)
37
Topik:
Orientalisme, Oksidentalisme & Globalisasi
Prof. Madya Dr. Rahimin Affandi Abd. Rahim
Prof. Madya Dr. Ruzman Md Noor
Prof. Madya Mohammad Kamil Ab Majid
Nor Hayati Bt Md Dahlal
ORIENTALISM DAN OCCIDENTALISM DALAM KAJIAN ISLAM: PENDEKATAN
AKADEMI PENGAJIAN ISLAM,
UNIVERSITI MALAYA, KUALA LUMPUR, MALAYSIA
Paper ini membahas bahawa penubuhan pusat kajian Occidentalisme Islam
merupakan suatu keperluan mendesak pada masa sekarang. Hal ini ditegaskan
berdasarkan realiti terlalu banyak manafaatnya yang bakal diperolehi oleh ummah
Islam semasa. Memandangkan disiplin ini telah menjadi medium utama untuk
mengkaji dan menjawab segala kekeliruan yang ditimbulkan oleh genre orientalism
barat, momentum popularitinya telah mula disedari kalangan academia sedunia,
khususnya oleh intelektual Islam..Ianya dapat dijadikan sebagai platform untuk
mempelajari kekuatan dan kelemahan kognitif yang dimiliki oleh masyarakat
barat.Berhadapan dengan persoalan ini, APIUM memang mempunyai pendekatan
yang tersendiri terhadap genre orientalism dan Occidentalism. Setakat yang telah
diperincikan dalam kajian ini, ternyata sekali pendekatan APIUM ini bersifat
responsive, selektif dan proaktif. Ketiga-tiga sifat ini seperti mana dinyatakan oleh
pemikir Islam semasa, merupakan sifat intelektual yang sangat diperlukan bagi
mengisi keperluan pengisian keilmuan ummah Islam. Hanya dengan ilmu sahaja
semua permasalahan ummah Islam dapat diselesaikan serta bakal meraih keberkatan
dan keredaan Allah.
Melanie V. Nertz, MA
IMAGES OF THE WEST IN URBAN INDONESIA:
MUSLIMS NEGOTIATING THE WESTERN PATH TO MODERNITY
Since the 9/11 terrorist attacks in the USA, media coverage constantly
reproduces the longstanding dichotomy between Islam and the West and leaves no
doubt about Muslim hatred of the West. In this context, Indonesia has attracted
international attention due to the Bali bombings in 2002, making the country part of
the so-called ‗axis of evil‘ overnight. Yet, even though a social development in the
direction of conservative interpretations of Islam can be observed, the picture that
has emerged is incomplete and equating Indonesia exclusively with Islamic
terrorism is unjustified.
To look beyond this public perception, this paper explores the multiple ways
in which Muslim Indonesians in Makassar, South Sulawesi and Yogyakarta, Central
37
Java perceive, interpret and evaluate the West at present and what significance
current imaginations of and attitudes towards the West have for their daily life.
An intensified process of globalisation that Muslim Indonesians in the
mentioned cities associate in the first place with inflows from the West has brought
‗Self‘ and ‗Other‘ in closer and more frequent contact and is accompanied by
negotiations on the West as a frame of reference for modernity. It is argued that,
notwithstanding considerable variations, Muslim Indonesians uphold ambivalent
images of the West such as good education, highly developed technologies, strong
economy, moral decadence and loss of religious belief. They differentiate between
positive and negative aspects of Western societies in comparison with and
opposition to their own that is either criticized or considered superior – giving a hint
to the intersections of ideas of ´Self´ and ´Other´ or ´Own´ and ´Foreign´.
With ambiguous perceptions of the ´Other´, the West (rather different
´Wests´) is examined as one of many frames of reference by which modernity is
negotiated and put into practice.
DR. Suraiya IT
MUTUAL RESPECT AND DIALOGUE IS A CHALLENGE FOR THE FUTURE OF
DIVERSITY IN THE GLOBALIZATION
Southeast Asia is a geographically expansive and populous region
characterized by fascinating social, cultural variation, and religious diversity. The
majority of the countries in the region, particularly Indonesia and Malaysia are
home to dozens of different ethnic groups, many with millions of adherents to
Christianity, Buddhism, Hinduism, and Confucianism. There are as well as hundreds
of ethnicities and cultures. Indonesia and Malaysia has remained a bastion of
pluralism both by law and in practice
Today the world is directed towards globalization of the overall human life,
which is enabled by the fast communication among people, and by the devices for
that purpose. However, it is difficultly realized and established because the obstacles
on its way are not yet to be removed. In any case, people be forced to surmount the
human egoism, the greed and the need of unreasonable utilization of the goods given
by the nature
This article tries to analyze what should we expect in the century we are
living. In view of the fact that also issues of terrorism, liberalism and modernism
have come to dominate popular discourse on Islam, the recognition of religious
diversity and need for interfaith dialogue have become important topics today. The
present world situation has led to the sharp rise in religious violence, it is therefore
imperative that Indonesia and Malaysia as multi-religious and multi ethnic nations
play a leading role advances the goal of modernity. Mutual Respect and Dialogue is
a challenge in the globalization.
38
PENUTUP
Islam tidak pernah tunggal, ia selalu muncul dalam banyak wajah. Sama
seperti halnya tidak ada satu Amerika, Eropa ataupun Barat, begitupula tidak ada
satu pun penjelasan pas yang melukiskan berbagai kelompok maupun orang dengan
nilai dan arti yang sama. Juga tidak ada lokasi tunggal ataupun budaya seragam yang
identik dengan Islam. Dengan demikian, tidak ada Islam yang monolitik.
Kultur budaya menjadi salah satu penyebab munculnya keragaman wajah
Islam ini, tak terkecuali ketika Islam terhubung dengan kultur Melayu.. Sayangnya
selama ini Islam selalu diwacanakan memiliki identitas tunggal, apalagi setelah
peristiwa WTC, identitas Islam sebagai agama kekerasan semakin mengental. Bruce
Lawrence pada Shattering The myth: Islam beyond Violence (2000) mengemukakan
bahwa muasal wacana itu berasal dari persepsi public (Barat) terhadap Islam.
Menurut persepsi ini, Islam berasal dari Timur tengah ―Arab‖ dan mengabaikan
Islam lain. Serentak dengan pengidentikan Islam dengan Arab ini muncullah
penonjolan wajah puritanisme dan militansi ortodoks. Sejak tahun 1990-an,
kemudian pada saat berakhirnya Perang Dingin, kemudian diperkuat pasca
meledaknya WTC, Islam dianggap sebagai lawan yang militant, yang tak mau
mengalah dan keras.
Taufik Abdullah pernah menggambarkan ragam wajah Islam di dunia
Melayu dalam ungkapan, ―Ada tiga Islam: Islam Populer yang diteliti para
antropolog, terutama sebagai penonyon dengan rasa ingin tahu; Islam public seperti
dikenal oleh para ahli ilmu politik, wartawan, serta para pembuat kebijakan,
utamanya sebagai oposan: serta Islam akademis yang disukai para orientalis, baik
sebagai sejarahwan seni, ahli bahasa, ataupun para ilmuwan agama, yang
mempelajari artefak-artefak yang dihargai sebagai serikat profesi mereka. Di
Indonesia kami berusaha menawarkan ketiga-tiganya kepada para pendatang luar.‖
Pada buku kumpulan abstrak Konferensi Internasional ini gambaran
mengenai keragaman Islam ini sebagian telah tergambarkan. Secara umum dapat
dikemukakan bahwa Islam di Dunia Melayu bukan ―sekadar‖ agama, Islam juga
lebih dari ―sekedar‖ politik keagamaan. Islam bisa juga merupakan semacam sumber
simbolis atau pandangan-dunia yang menawarkan akomodasi terhadap pandangandunia lainnya, dan bukannya konfrontasi. Islam sebagai agama, Islam sebagai
politik, Islam sebagai pandangan-dunia adalah wajah Islam yang menyediakan
berkah-beragam.
Keragaman wajah Islam itu secara seluruh dimiliki Dunia Melayu dengan
gaya yang khas. Misalnya dapat dikemukakan bahwa Islam di Dunia Melayu
berkembang lebih sebagai ―kebenaran‖ daripada sebagai ―identitas‖. Orientasi yang
menjadikan Islam sebagai suatu ―kebenaran‖ ini terlihat dari sejumlah kajian –
sebagaimana tergambar pada sejumlah abstrak—yang mencoba menemukan
―kebenaran‖ dari keislaman yang telah melebur dalam budaya keseharian Dunia
Melayu. Dari studi atas ―kebenaran-keislaman‖ Dunia Melayu itu, sejumlah kajian
menyajikan kekhasan wajah Islam di Dunia Melayu dalam identitas yang agak
tersamar, tidak verbal seperti wajah Islam di dunia Timur Tengah, misalnya. Islam
sebagai ―identitas‖ seperti dalam bentuk peradaban, bentuk negara, pakaian, dan
39
sejenisnya, tentu saja dimiliki oleh Islam di Dunia Melayu. Namun keseluruhannya
muncul atau dimunculkan melalui ―perkawinannya‖ dengan kekhasan cara-pandang
Dunia Melayu.
Konferensi Islam Dunia Melayu, berdasarkan kumpulan abstrak, pada
beberapa hal berhasil memunculkan kekhasan Islam di Dunia Melayu itu. Namun,
tentu saja, tiak seluruhnya, karena ada banyak aspek yang belum terungkap secara
baik dan mendalam. Untuk itu, kehadiran buku ini dapat dianggap sebagai langkah
awal dari penciptaan jaringan ulama dan Sarjana Muslim baru. Jaringan
cendekiawan yang mulai menjadikan fenomena keislaman di daeahnya sebagai
fenomena berharga bagi kajian Islam mainstream. Jaringan ini kemudian dapat
diharapkan menjadi titik awal bagi Renaissance Islam dari Dunia Melayu.
Buku ini memang hanya menyajikan abstrak dari sejumlah paper ilmiah
yang disajikan pada Konferensi Internasional ICON-IMAD. Sementara paper ilmiah
yang telah disajikan setelah didiskusikan melalui konferensi ini akan diperbaiki oleh
masing-masing penyaji untuk kemudian disajikan dalam bentuk jurnal. Jurnal
tersebut akan segera diterbitkan sebagai bagian dari kerjasama antara PPs UIN
Sunan Gunung Djati Bandung dan API University of Malaya. Di samping itu juga
akan diterbitkan proseeding dari kegiatan konferensi Internasional ini mudahmudahan akan juga diterbitkan.
Seluruh kekurangan dari buku kumpulan abstrak ini mudah-mudahan dapat
menjadi peta sederhana bagi kesuksesan seluruh kegiatan ICON-IMAD.
40
DAFTAR PENULIS
Prof. Dr. Ab Aziz Mohd Zin, API University of Malaya
Prof. Dr. Ahmad Hidayat Buang, Jabatan Syariah dan Undang-Undang, Akademi
Pengajian Islam, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.
Prof. Dr. Dzul Haimi Mohd. Zain, Universiti Teknologi Mara, Shah Alam
Selangor
Prof. Dr. Joni Tamkin Borhan, Jabatan Syariah dan Ekonomi, Akademi
Pengajian Islam, UM
Prof. Dr. Mujahid M. Bahjat, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Prof. Dato’ Dr. Othman Md. Yatim, Akademi Pengajian Melayu, Universiti
Malaya
Prof. Dato’ Dr. Zulkifli Bin Mohd Yusoff, Akademi Pengajian Islam, Universiti
Malaya Kuala Lumpur
Prof. Dato’ Zainal Abidin Borhan, Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya
Prof. Dato' Dr. Mohd. Yakub, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Kuala
Lumpur
Prof. Madya Datin Dr. Noor Naemah Binti Abdul Rahman, API University of
Malaya, Kuala Lumpur
Prof. Madya Dr. Abdul Karim Ali, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Prof. Madya Dr. Ahmad Nidzamuddin Sulaiman, Institut Kajian Etnik Universiti
Kebangsaan Malaysia
Prof. Madya Dr. Khadijah Mohd Hambali @ Khambali, University of Malaya,
Kuala Lumpur
Prof. Madya Dr. Mohd Fauzi Hamat, JAPI-APIUM
Prof. Madya Dr. Mustaffa Bin Abdullah, Akademi Pengajian Islam, Universiti
Malaya
Prof. Madya Dr. Rahimin Affandi Abd. Rahim, Akademi Pengajian Islam,
Universiti Malaya
Prof. Madya Dr. Ruzman Bin Md Noor, API University of Malaya, Kuala
Lumpur)
Prof. Madya Dr. Shukeri Muhamad, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya
Nilam Puri
Prof. Madya Dr. Wan Suhaimi Wan Abdullah, API University of Malaya, Kuala
Lumpur
Prof. Madya Hj. Ponirin Bin Amin, Jabatan Seni Halus, Fakulti Seni Lukis & Seni
Reka Universiti Teknologi MARA (UiTM)
Prof. Madya Mohammad Khalil Amran, Fakulti Seni Lukis dan Seni Reka,
Universiti Teknologi, MARA, Shah Alam, Selangor
Prof. Ahmed Ibrahim Abushouk, Professor of History and Civilization,
International Islamic University Malaysia
Prof. Muhammad Syukri Salleh, Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam
(ISDEV) Universiti Sains Malaysia
Erni Heryanti, Ph.D, UIN SGD Bandung - Indonesia
M. Taufik Rahman Ph.D, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung
41
Mohamed Feisal bin Mohamed Hasan, Ph.D, Pusat Kajian Tasawuf Asia
Tenggara, Singapura
Nidzam Sulaiman, Ph.D, Univeriti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur
Dr. H. Fadlil Yani, MA, Universitas Islam Negeri Bandung
Dr. Azmil Zainal Abidin, JAPI-APIUM
Dr. Ahmad Azzam Sulamian@Mohamad, Jabatan Syariah dan Ekonomi,
Akademi Pengajian Islam, UM
Dr. Ahmad Kassar, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya
Dr. Aizan Ali @ Mat Zin, Jabatan Sejarah dan Tamadun Islam, API University of
Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Azian Madun, Department of Shariah and Management Academy of Islamic
Studies University of Malaya
Dr. Bharuddin Bin Che Pa, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Deden Effendi, M.Ag, Universitas Islam Negeri Bandung
Dr. Fakhrul Adabi Abdul Kadir, API University of Malaya
Dr. Fauzan Ali Rasyid, M.Si, Universitas Islam Negeri Bandung
Dr. Faizuri Abdul Latip, API, University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Gazali Daimin, Fakulti Senilukis dan SenirekaUniversiti Teknologi MARA
Dr. Ibnor Azli Ibrahim, University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur
Dr. Jilani Ben Touhami Meftah, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Mahmud Ahmad, University of Malaya, Kuala Lumpur
Melanie V. Nertz, MA, Dept. of Cultural and Social Anthropology Albert Ludwig
University, Freiburg, Germany.
Dr. Mohamad Mustari, STMIK Permata Indonesia, Bekasi, Jawa Barat
Dr. Mohd. Alwee Yusoff, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Mohd. Haji Mohd. Nor, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Mohd. Roslan Bin Mohd Nor, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Muhammad Azhar Bin Zailaini, Fakulti Pendidikan, Universiti Malaya.
Dr. Mukhlisin Muzari, M.Ag, IAIN Syekh Nur Djati, Cirebon
Dr. Munirah Abd Razzak, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Nor`Azzah Kamri, Department of Shariah and Management Academy of
Islamic Studies University of Malaya
Dr. Nur Azzah Binti Razali, Fakulti sain, Teknologi, & Pembangunan Insan,
Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, Kuala Lumpur
Dr. Patmawati Hj Ibrahim, Jabatan Syariah dan Ekonomi, Akademi Pengajian
Islam, UM
Dr. Raihanah Azahari, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Sa'adan Bin Man, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Lembah Pantai
Dr. Sabzali Musa Khan, Universiti Malaya, Kuala Lumpur
Dr. Siti Zubaidah Ismail, Pensyarah Kanan merangkap Ketua Jabatan Syariah dan
Undang-Undang, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya
Dr. Suraiya IT, Executive Director for Islamic Studies and Interfaith Dialogue (IISIDAceh)
Dr. Wan Adli Wan Ramli, JAPI-APIUM
42
Dr. Wan Suhana Bt. Wan Sulong, Department of History and Civilization,
Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences, International
Islamic University Malaysia.
Dr. Widyawati, M.Ag, Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati State
Islamic University
Dr. Zakaria Bin Bahari, Pensyarah Kanan di Pusat Kajian Pengurusan
Pembangunan Islam (ISDEV) dan di Bahagian Ekonomi, Pusat Pengajian Sains
Kemasyarakatan, Universiti Sains Malaysia.
Dr. Zahri Hamat, Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV) Pusat
Pengajian Sains Kemasyarakatan, Universiti Sains Malaysia
Abdurrahman Misno BP, MEI, Universitas Islam Negeri Sunan Gung Djati
Bandung
Sadri Chaniago, M.Soc.Sc, Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur
Abdul Halim Ibrahim, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Ahmad Dahlan, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Ahmad Sharifuddin Bin Mustapha, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Ahmad Qadri Bin Muhammad Sidek, Fakulti Pendidikan, Universiti Malaya.
Alina Abdullah, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Tanjung Malim
Amin Maulana, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Asmak Ab Rahman, University of Malaya, Kuala Lumpur
Asyraf Isyraqi bin Jamil, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Aziz Che Seman, Jabatan Syariah dan Ekonomi, Akademi Pengajian Islam, UM
Azizul Azli Ahmad, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Badriah Nordin, CITU, Machang, Kelantan.
Cik Bahiah Ahmad, Jabatan Fiqh Dan Usul, Akademi Pengajian Islam, Universiti
Malaya
En. Mohd. Effendi Shamsuddin, Universiti Malaya, Kuala Lumpur
Faisal Ahmad Syah, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Fatin Majdina, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Fauzi Deraman, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Farhana Mohamad Suhaimi, University of Malaya, Kuala Lumpur
Ishak bin Ramli, Jabatan Seni Halus, Fakulti Seni Lukis & Seni RekaUniversiti
Teknologi MARA (UiTM)
Ishak Sulaeman, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Khadher Ahmad, API University of Malaya, Kuala Lumpur
M. Sayidi Sali bin Shalih, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Mr. Suhaili bin Sarif, Department of Shariah and Management Academy of
Islamic Studies University of Malaya
Madiha, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Mahmud bin Ahmad, University of Malaya, Kuala Lumpur
Mohd. Hafiz Jamaludin, Jabatan Syariah dan Undang-Undang, Akademi Pengajian
Islam,Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.
Mohd Zaidi Daud, Felo SLAB/calon PhD, Jabatan Syariah dan Undang-Undang,
Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya.
Mohd Jumat Abdul Razak, University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur
43
Mohd Anuar bin Mamat, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Mohd Nor Husairi Mat Hussin, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Mohd Shukri Hanapi, Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV)
Pusat Pengajian Sains Kemasyarakatan Universiti Sains Malaysia
Mohd Akram Bin Dato' Dahaman, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Mohd Murshidi Mohd Noor, API University of Malaya, Kuala
Lumpur
Mohamad Azrien Mohamed Adnan, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Mohammad Taqiuddin Mohamad, Jabatan Syariah dan Ekonomi, Akademi
Pengajian Islam, UM
Muhammad Fauzan Bin Abu Bakar, Fakulti Senilukis dan Senirek, Universiti
Teknologi MARA
Muhammad Harya Ramdhoni, Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universitas
Lampung
Muhammad Lukman bin Ibrahim, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Nasharuddin Muhamad, API Univerity of Malaya, Kuala Lumpur
Nidzam Sulaiman, Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur
Nor Zahiyan Hanafi, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya
Nur Shahidah Binti Pa'ad, API University of Malaya
Nurul Husna Mansor, API University of Malaya
Nurul Shima Bt Taharudin, Fakulti Seni Lukis dan Seni Reka, Universiti
Teknologi, MARA, Shah Alam, Selangor
Rahmin Bin Amin, Jabatan Seni Halus Fakulti Seni Lukis & Seni Reka Universiti
Teknologi MARA (UiTM)
Raihanah Abdullah, University of Malaya, Kuala Lumpur
Saiful Akhyar Lubis, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Sedek Arifin, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Syaimak Ismail, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Selamat Amir, API University of Malaya
Shamsiah binti Mohamad, API University of Malaya, Kuala Lumpur
Susiknan Azhari, University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur
Thuraya Ahmad, API University of Malaya, Kuala Lumpur
44
LAMPIRAN-LAMPIRAN
45
46
47
48
49
50