Pelaut - ITF Seafarers

Comments

Transcription

Pelaut - ITF Seafarers
Buletin Pelaut
no. 24/2010
HAK-HAK
BARU
Apamanfaat
KonvensiPekerja
Maritimuntukanda
PEROMPAKAN
Tidakselalu
berakhirdengan
bahagia
Ind
on
es
ia
Federasi Buruh Transport Internasional
Patrice Terraz
Bantuanuntukparapelaut
KampanyeITFmelawanBenderaKemudahan
Aktivitas ITF dalam industri maritime dipelopori dengan kampanye
yang dilaksanakan oleh Serikat-Serikat Buruh Pelaut dan Buruh B/M
diseluruh dunia melawan pengalihan kapal-kapal kedalam Bendera
Kemudahan (FOC) yang oleh pemilik kapal dilakukan untuk
menghindari peraturan-peraturan nasional, ketentuan
ketenagakerjaan dan pengawasan serikat-serikat buruh.
Kampanye tersebut mempunyai dua sisi kepentingan, yaitu : secara
politis, ITF berjuang bersama pemerintah berbagai Negara dan
lembaga-lembaga internasional untuk memastikan adanya “hubungan
langsung”antara pemilik kapal dan bendera/kebangsaan suatu kapal;
dari sisi industrial, serikat-serikat buruh afiliasi ITF berupaya untuk
diterapkannya ketentuan upah minimum dan standar sosial yang layak
disemua kapal-kapal FOC.
Hal itu berarti bahwa serikat-serikat buruh yang ada dinegara-negara
dimana pemilik kapal yang sesungguhnya berada harus membuat
persetujuan menyangkut kondisi pengerjaan yang minimal sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan oleh Komite Kebijakan ITF –
suatu lembaga kerjasama antara pelaut dan buruh B/M yang
mensupervisi kampanye-kampanye industrial. Dalam beberapa tahun
www.itfseafarers.org
ini, ITF telah mengupayakan negosiasi suatu perjanjian kolektif
internasional dengan para pemilik kapal, baik dalam kelompok diskusi
terbatas maupun besar yang dilaksanakan dalam Forum Perundingan
Internasional (International Bargaining Forum/IBF), guna membuat
suatu standar yang tidak hanya berimbang tetapi juga fleksibel.
Para pelaut yang bekerja dikapal-kapal FOC selalu ditekan dan
diinstruksikan untuk tidak berhubungan dengan ITF. Demikian juga
halnya mereka menandatangani kontrak yang tidak dipahami isinya.
Bahkan ada juga beberapa pengusaha kapal yang sebelumnya telah
menandatangani perjanjian ITF kemudian melakukan penipuan dan
membayar awak kapalnya dengan upah yang lebih rendah – praktek ini
dikenal dengan nama pembukuan ganda (double book-keeping).
Para pelaut dikapal-kapal FOC yang menghadapi masalah
pengupahan, kondisi kerja atau berbagai keluhan lainnya menyangkut
perlakuan-perlakuan yang mereka alami dapat langsung menghubungi
ITF (lihat alamat dan nomor telepon kami di halaman 21) atau anda
dapat menghubungi salah satu inspektur kami dipelabuhan manapun
diseluruh dunia (lihat peta dihalaman tengah dan rincian alamatnya
dibaliknya).
Buletin Pelaut ITF
Fax:
+44(0) 20 7357 7871
Email:
[email protected]
Website:
www.itfglobal.org
Buletin Pelaut ini
dipublikasikan dalam bahasa
Inggris, Arab, Cina, Jerman,
Indonesia, Jepang, Polandia,
Rusia, Spanyol, Tagalog dan
Turki. Anda bisa
memperolehnya dengan
menghubungi kantor ITF
sesuai alamat diatas.
Foto Sampul:
Paul Box/reportdigital.co.uk
Q
Q
Q
Q
Q
Q
Reuters/Susana Vera
Telepon:
+44 (0) 20 7403 2733
4-5 Data statistik Armada dunia dan kegiatan analisa ITF
6-12 Kampanye Bendera Kemudahan, Berita kesuksesan
ITF dalam beberapa tahun
13-16 Perompakan Tidak selalu berakhir bahagia dalam
menyelesaikan masalah ini
17-18 Buruh B/M Kampanye anti penanganan muatan oleh pelaut
19-26 Informasi dan saran dari ITF, 8 halaman panduan untuk
pelaut dan data kontak Inspektur ITF diseluruh dunia
27-32 Konvensi Pekerja Maritim, Sebuah ketentuan hak-hak
asasi bagi pelaut diseluruh dunia
33-35 Yayasan Kesejahteraan Pelaut ITF Apakah anda
menginginkan wisma pelaut tetap dibuka? Jika ya, pastikan bahwa
anda tetap memanfaatkannya
36-37 Website kami ITF Seafarers menjadi lebih besar dan lebih bagus
38-42 Krisis ekonomi Kajian para pakar menyangkut dampak
negatifnya terhadap industri pelayaran dan pelaut
Organisasi Buruh Internasional/M Crozet
Dipublikasi dibulan Januari
2010 oleh ITF, 49/60 Borough
Road, London SE1 1DR,
United Kingdom
no. 24/2010
DataStatistik
RINCIAN LIMA NEGARA PEMILIK KAPAL TERATAS
DALAM TIGA TAHUN TERAKHIR
Armada dunia :
Armada kapal-kapal niaga dunia
diatas 100 GT pada 1 Januari 2009
berjumlah 99.741 unit dengan total
830,7 juta GT. Sekitar 40% dari
kapal-kapal tersebut adalah kapalkapal FOC, dimana para pemilik
kapal atau pengusaha pelayarannya
menggunakan bendera diluar
kebangsaan mereka.
48% kapal-kapal FOC dilindungi
dengan Perjanjian Kerja ITF.
Tren menurunnya armada dunia
terus berlanjut terutama di lima
Negara pemilik kapal terbesar
sebagaimana table disamping.
Pemilik kapal Jepang menguasai
90% dari armada kapal-kapal yang
beroperasi diluar Jepang.
Panama merupakan Negara
registrasi kapal yang terbesar,
empat kali lebih banyak dari Liberia
diurutan kedua.
2007
Urutan Negara
07/08/09
Kepemilikan
berdasarkan
tonnase (m)
2008
Bendera kapal
bersadarkan
tonnase (m)
Kepemilikan
berdasarkan
tonnase (m)
2009
Bendera kapal
bersadarkan
tonnase (m)
Kepemilikan
berdasarkan
tonnase (m)
Bendera kapal
bersadarkan
tonnase (m)
Jepang 2/1/1
99.8
12.8
110.0
12.8
120.5
13.5
Yunani 1/2/2
100.6
32.0
103.3
35.7
100.9
36.8
Jerman 3/3/3
62.1
11.4
69.2
12.9
76.4
15.3
Cina 4/4/4
44.9
23.5
54.3
24.9
59.4
26.8
Amerika Serikat 5/5/5
39.1
11.1
35.4
11.3
37.3
11.3
PERSENTASE ARMADA YANG MENGGUNAKAN BENDERA ASING (LIMA NEGARA PEMILIK KAPAL TERATAS)
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Yunani
Jepang
Jerman
2007
20 ARMADA TERATAS
Urutan berdasarkan
tonnase
1 Januari 2009
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Panama*
Liberia*
Bahamas*
Marshall Islands*
Singapura
Hong Kong (Cina)
Yunani
Malta*
Cina
Cyprus*
Jerman
Inggris
Norwegia (NIS second register)
Korea Selatan
Italia
Jepang
Amerika Serikat
Denmark (DIS second register)
Bermuda* (United Kingdom)
Antigua and Barbuda*
Jumlah
kapal
(diatas1o0gt)
8,065
2,306
1,446
1,265
2,451
1,371
1,498
1,532
3,916
1,016
961
1,676
601
3,001
1,588
6,316
6,524
470
153
1,195
Gross tonase
(jutaan)
183.5
82.4
46.5
42.6
39.9
39.1
36.8
31.6
26.8
20.1
15.3
15.3
15.0
14.1
13.6
13.6
11.3
10.1
9.6
9.5
Sumber: Lloyd’s Register of Shipping. *Bendera Kemudahan.
4
2008
Cina
Amerika Serikat
2009
20 NEGARA PEMILIK KAPAL TERATAS
GT(m)
1Januari
2008
Usia
rata-rata
kapal
168.2
76.6
43.7
36.0
36.3
35.8
35.7
27.8
24.9
19.0
12.9
13.4
14.7
13.1
13.0
12.8
11.3
9.0
9.2
8.6
18
12
15
9
9
11
22
15
23
13
21
20
16
25
23
16
27
16
13
10
Urutan berdasarkan
tonnase
1 Januari 2009
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Jepang
Yunani
Jerman
Cina
Amerika Serikat
Norwegia
Korea Selatan
Inggris
Denmark
Hong Kong (Cina)
Taiwan
Singapura
Italia
Russia
Kanada
India
Turki
Malaysia
Iran
Saudi Arabia
Jumlah
kapal
(diatas1,000gt)
3,720
3,064
3,522
3,499
1,783
2,027
1,235
1,018
917
680
631
876
820
2,073
413
564
1,163
435
211
172
Gross
Tonase
(jutaan)
120.6
101.0
76.5
59.4
37.3
35.1
29.2
26.5
24.2
21.2
19.5
17.8
15.6
13.8
11.7
10.3
10.0
9.1
8.3
8.2
Usia
rata-rata
(kapal)
9
16
9
20
18
14
16
14
11
12
14
14
15
24
21
16
18
15
15
14
Sumber: Lloyd’s Register of Shipping.
www.itfseafarers.org
Selain mengupayakan pembayaran gaji Pelaut, kegiatan kampanye ITF juga bertujuan untuk membantu para Pelaut yang terdampar atau diterlantarkan.
Gambar disini menunjukkan, para awak kapal Swift Spindrift mengucapkan terima kasih kepada ITF yang telah mengatur pemulangan mereka dari Libia
dibulan Oktober 2009. Penjelasan dihalaman 12.
KampanyeantiBendera
KemudahanolehITF
JUMLAH PELAUT YANG DILINDUNGI PERJANJIAN KERJA ITF
300,000
263,000
250,000
200,000
193,325
Para inspektur ITF telah mengunjungi
➨
total 9.562 kapal dalam tahun 2009.
Pengupahan dan kondisi kerja sesuai
➨
perjanjian ITF telah ditandatangani di 30
negara selama tahun 2009.
Kampanye FOC ITF telah menghasilkan
➨
total lebih dari 30,9 juta US Dollar sebagai
pembayaran kekurangan gaji dan
kompensasi untuk awak kapal di tahun
2009.
ITF mempunyai 129 Inspektur
➨
dipelabuhan-pelabuhan yang ada di 45
232,946
209,950
150,000
negara diseluruh dunia.
100,000
2006
2007
2008
2009
KEKURANGAN GAJI YANG DIBAYARKAN (DLM JUTAAN US DOLLAR)
35
Dalam tahun 2009, pelaut-pelaut
➨
anggota serikat buruh afiliasi ITF dan awak
kapal dikapal-kapal FOC melakukan aksi
protes untuk mendukung kampanye ITF di
22 negara di empat benua.
83% inspeksi dilakukan oleh ITF
➨
dikapal-kapal FOC (lihat daftar FOC
30
25
dihalaman 26) dengan perhatian khusus
terhadap berbagai kekurangan dikapalkapal tersebut.
20
Jumlah pelaut yang dilindungi dengan
➨
perjanjian kolektif ITF ditahun 2009
15
10
5
sejumlah 263.000.
0
2006
www.itfseafarers.org
2007
2008
2009
Buletin Pelaut ITF 2010
5
Federasi Buruh Transport Internasional
Federasi Buruh
Internasional (ITF) adalah
suatu federasi
internasional dari serikatserikat buruh transport,
yang mewakili 4,5 juta
buruh sektor transportasi
yang ada di 148 negara
didunia. ITF didirikan tahun
1896 dan mengorganisir
para buruh dari delapan
seksi industri transportasi,
yaitu : pelaut, kereta api,
angkutan jalan raya,
penerbangan sipil, buruh
pelabuhan, pelayaran
pedalaman, perikanan dan
pariwisata.
ITF juga mewakili buruh
transport ditingkat dunia
dan mempromosikan
kepentingan-kepentingan
mereka melalui kampanye
global dan aksi solidaritas.
ITF juga adalah salah satu
dari 10 Federasi Buruh
Global yang tergabung
dalam Konfederasi Serikat
Buruh Internasional (ITUC)
dan yag merupakan bagian
dari kelompok serikat
buruh global.
Q
Minggu aksi ITF
Sukses di Asia
Tenggara
Minggu Aksi ITF Asia Tenggara, yang
dilaksanakan pada pekan terakhir
November 2009 telah meningkatkan
kesadaran di kawasan ini untuk menangkal
pemilik kapal yang jahat dan eksploitasi
terhadap para pelaut. Secara keseluruhan
ada 73 kapal yang diinspeksi, seminarseminar dan konferensi pers dilakukan di
Thailand, liputan media nasional di
Malaysia dan Indonesia, aksi solidaritas
diadakan di Filipina dan Singapura. “Upayaupaya kampanye FOC kita yang
terkoordinasi menjadi lebih kuat dan lebih
strategis tahun ini karena kita mempunyai
target-target jelas dan objektif”, kata Junko
Homma, staf kantor ITF Tokyo yang
mengkoordinir minggu aksi ITF ini.
Contoh nyata kerja keras dan koordinasi
yang sangat baik adalah keberhasilan
membuat Korean Marine Transport
Company (KMTC) bersedia
menandatangani PKB sesuai standar ITF
dengan Serikat Pelaut Korea (FKSU) yang
disetujui ITF untuk tiga kapal-kapal FOC
perusahaan tersebut. Kapal KMTC
Shanghai yang dimiiili KMTC diinspeksi 2
www.itfseafarers.org
Kampanye anti bendera kemudahan
Pelaut Mesir
memimpin aksi mogok
terkait perselisihan
tunggakan upah
Oleh Aung Thu Ya, Kesatuan Pelaut Burma
kali dalam pekan tersebut, yang sekali di
Singapura dan sekali lagi di Indonesia.
Tim Inspeksi ITF di Indonesia dibantu oleh
serikat pekerja setempat berhasil menekan
perusahaan untuk bersedia diajak bicara.
“Ini adalah satu langkah maju yang besar
karena sepengatahuan kita ini adalah kali
pertama KMTC melakukan perjanjian ITF
dengan KSU”, kata John Wood Penasehat
Kampanye FOC ITF, yang memimpin
perundingan yang berhasil dengan
perusahaan tersebut. Pada saat itu, ada
juga pembicaraan lain yang sedang
berlangsung yang diawali pada minggu
tersebut yang diharapkan akan diakhiri
dengan penandatanganan perjanjian PKB
ITF. Sebuah tim dari inspektur ITF Jepang
bersama dengan Serikat Pelaut National
Peninsula, Malaysia, yang berafiliasi ke ITF
membuka perundingan dengan manajemen
kapal Whilemsen dalam rangka
penandatanganan PKB nasional untuk tiga
kapal berbendera Malaysia. Dan Serikat
Pelaut Jepang (AJSU) merundingkan
perjanjian ITF terkait kapal-kapal FOC yang
dimiliki oleh pemilik kapal Jepang.
Hanafi Rustandi, Presiden KPI dan Ketua
ITF Wilayah Asia/Pasifik berkomentar:
“pada saat minggu aksi di Asia Tenggara ini,
pesan ITF adalah “Tidak Ada Tempat untuk
Sembunyi”bagi kapal-kapal FOC yang
berganti baju. Kita tidak akan mentoleransi
eksploitasi apapun terhadap para pelaut
www.itfseafarers.org
Diatas : Pengibaran bendera ITF oleh temanteman dalam aksi di Asia Tenggara.
dan yang membuat kampanye kita berhasil
adalah upaya kita yang bersifat lintas
kawasan serta lintas bagian. Para pelaut di
kawasan ini merasa yakin bahwa
kesepakatan dan kondisi kerja merupakan
kepentingan besar ITF dan mereka dapat
menghubungi ITF untuk mendapatkan
bantuan yang dapat dipercaya kapan saja.”
Sukses dari aksi minggu tersebut
terbantu dengan kerjasama dari semua
serikat pekerja afiliasi ITF dan inspekturinspektur ITF di kawasan Asia Tenggara
serta Asia Timur.
“
Kita tidak akan
mentoleransi eksploitasi
apapun terhadap para
pelaut dan yang
membuat kampanye kita
berhasil adalah upaya
kita yang lintas kawasan
serta lintas bagian.
”
Saat kapal niaga Michail Arhangelos tiba di
Pelabuhan Laem Chabang di Thailand tanggal
24 Juni tahun lalu, para awaknya belum dibayar
selama empat bulan. Operator kapal tersebut,
Sea Wind Maritime, menyalahkan kondisi
usaha yang buruk. Tidak dapat menerima
situasi tersebut, awak kapal akhirnya
melakukan mogok dan meminta bantuan ITF.
Dalam satu bulan, penyelesaian disepakati dan
awak kapal menerima US$59.200 untuk
pembayaran gaji tertunggak.
Pusat pelayanan pelaut Pelabuhant Sriracha
di Propinsi Chonburi, Thailand, memanggil
perwakilan ITF Bangkok, Aung Thu Ya. Dia
diberitahu bahwa Jaringan Bantuan Pelaut
Internasional (ISAN) telah meminta seseorang
untuk mengunjungi Michail Arhangelos untuk
memeriksa kondisinya.
Aung Thu Ya berbicara dengan Masinis-3 dan
mengetahui adanya masalah terkait gaji,
makanan, air dan keselamatan kerja dikapal. Di
atas kapal ada kru dari berbagai bangsa,
termasuk dua orang Rusia, satu India, satu
Peru, enam Bangladesh, delapan Mesir, dua
Yunani dan tiga Burma.
Perwakilan ITF menelpon kantor ITF di Tokyo
dan operator kapal yang berbasis di Piraeus,
Yunani. Operator tersebut menyalahkan
karyawan, khususnya para pelaut Mesir. Ia
mengatakan bahwa gaji kru belum dibayar
karena bisnisnya kurang bagus, tetapi Ia
mengakui sudah mulai tidak membayar para
kru bahkan ketika masalah tersebut belum
terjadi.
Saat itu situasi di kapal menjadi begitu buruk
sehingga mogok terjadi, dipimpin oleh para kru
Mesir. Perselisihan dipicu oleh kurangnya
penutup palka saat pemuatan.
Setelah berkoordinasi dengan ITF Maritime
Operations Department, Inspektur ITF
Australia, Matt Purcell dan kantor ITF Tokyo,
pendirian keras operator tersebut menjadi
melunak dan mulai mau menangani masalah
yang ada. Dia menawarkan untuk
menyelesaikan gaji ketujuh Pelaut Mesir dan
meminta mereka sign-off di Thailand. Ia juga
memajukan tanggal pembayaran akhir bagi
para pelaut sisanya di Malaysia, pelabuhan
singgah selanjutnya.
Saat itu, Aung Thu Ya memandu para awak
kapal untuk berdiskusi tentang bagaimanamenindaklanjuti hal-hal yang ada, di saat yang
sama tetap menjaga keselamatan dan
keamanan semua orang – menjadi sebuah
pemikiran, karena operator telah melancarkan
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
7
Minggu aksi ITF
Kasus kapal di
Baltik menunjukkan
betapa pentingnya
bantuan buruh B/M
Oleh Dieter Benze, divisi maritim, Ver.di,
Jerman.
Tahun lalu ITF melangkah lebih jauh dari
biasanya saat aksi seminggu yang rutin
dilaksanakan setiap tahun di Baltik.
Biasanya dalam bulan September, Serikat
Pelaut di 10 negara yang ada diwilayah
Baltik terlibat dalam berbagai kegiatan dari
mulai dari utara sampai selatan pantai
dalam wilayah Baltik. Tetapi kali ini, ketika
menemukan sebuah kapal, Deneb, yang
perjanjian dengan ITF nya sudah
dihentikan, serikat pekerja mengejar kapal
tersebut hingga ke Hamburg. Disana,
dengan dukungan para buruh B/M yang
menolak untuk memuati kapal tersebut,
perwakilan ITF melakukan pendekatan
persuasif dengan pemilik Deneb untuk
menandatangani perjanjian baru. ITF juga
mengingatkan para pemiliknya bahwa
Deneb berlayar dengan bendera Antigua,
sedangkan kapal-kapal dengan bendera
kemudahan (FOC) hanya boleh beroperasi
di Baltik jika mereka telah memiliki
perjanjian ITF.
Ini adalah bagaimana kisah selanjutnya.
Pada hari kedua aksi, rekan-rekan ITF yang
“
Hanya ketika kegiatan
pemuatan ditunda, pemilik
kemudian berubah pikiran
dan menandatangani
perpanjangan perjanjian
yang berlaku surut mulai
Juni 2009. Mereka juga
setuju menyepakati
perjanjian ITF untuk ke dua
kapal lainnya.
”
bertugas di Kiel-Holtenau di Jerman melihat
Deneb. Menjadi jelas bahwasannya kapal
dengan pemilik Jerman tersebut telah
melanggar perjanjian kolektif ITF terkait
gaji di kapal tersebut. Pagi harinya unit aksi
ITF yang pemberani, berbasis di Lubeck,
pergi ke Hamburg untuk menyelidiki kondisi
8
Buletin Pelaut ITF 2009 10
Ver.di, afiliasi ITF,
dalam Minggu aksi di
Baltik.
di atas kapal.
Mereka kemudian sampai ke Deneb, yang
baru saja hendak bergerak. Buruh B/M
Hamburg telah diberitahu tentang
kunjungan ITF. Disamping solidaritas
dengan para pelaut dan untuk kepentingan
mereka sendiri, mereka menolak adanya
damping sosial – menggunakan pekerja
dari sebuah negara yang memiliki standar
tenaga kerja yang lemah dan kurang
ditegakkan serta tidak memenuhi standar
Eropa. Setelah adanya permintaan dari
serikat pekerja mereka, para buruh B/M
menunda pemuatan kekapal di terminal
meskipun hanya tinggal delapan krat yang
belum dinaikkan ke atas kapal.
Para pemiliknya, masih tidak mau
menyerah begitu saja dan mencoba
melanjutkan yang sebelumnya tanpa
memperbaruhi perjanjian ITF. Mereka
mengatakan kepada unit ITF bahwa krat
akan tetap disana, dan Deneb akan
bergerak menuju Dermaga Burchard Quay.
Hanya ketika kegiatan pemuatan ditunda,
pemilik kemudian berubah pikiran dan
menandatangani perpanjangan perjanjian
yang berlaku surut
mulai Juni 2009. Mereka juga setuju
menyepakati perjanjian ITF untuk ke dua
kapal lainnya.
Tujuan dari minggu aksi adalah untuk
serikat pekerja medapatkan sebuah
gambaran luas dan rinci dari kondisi hidup
dan kerja para Pelaut diatas kapal dan
buruh dipelabuhan serta untuk melanjutkan
kegiatan kampanye FOC. Inspekturinspektur ITF di 10 negara Baltik memantau
kapal-kapal yang berlayar dengan bendera
FOC sepanjang tahun. Meskipun demikian,
mereka hanya dapat memilih sejumlah
kapal. Keuntungan dari minggu aksi
tersebut adalah bahwa ITF dapat
mengunjungi hampir semua kapal yang ada
di pelabuhan Baltik, jika sedang ada disana.
Penting dan berguna bagi kampanye ITF
untuk melaksanakan minggu aksi tersebut
setiap tahun. Slogan tahun ini adalah
“Bersatu Kita Teguh”, sedangkan sukses
dengan Deneb adalah hanya satu bukti
kemampuan ITF untuk mewujudkan
persatuan dalam sebuah aksi.
www.itfseafarers.org
➡
ancaman-ancaman terhadap para awak kapal.
Perwakilan ITF mendesak para awak kapal
untuk “bersatu, disiplin dan damai dalam setiap
aksi yang mereka lakukan”.
Kontrak kerja pelaut menyebutkan tidak
dibolehkan adanya keterlibatan serikat pekerja
atau aksi mogok apapun oleh para pekerja. Tapi
pada tingkat dimana para pekerja dieksploitasi
berarti bahwa mereka sudah memutuskan
untuk mengambil resiko dari aksi mogok
tersebut. Dengan kondisi kerja yang buruk,
pembayaran gaji tidak teratur dan makanan dan
air yang tidak cukup, mereka tidak takut akan
kehilangan apa-apa.
Aung Thu Ya mencoba untuk meyakinkan
para awak kapal bahwa operator akan menepati
janjinya. Tetapi hampir keseluruhan dari
mereka telah kehilangan kepercayaan. Pada
akhirnya tercapai juga satu kesepakatan. Awak
kapal setuju untuk menghentikan mogok
mereka segera setelah operator setuju
membayar gaji yang tertunda secara penuh dan
menjamin penerbangan pulang ke tempat asal
mereka. Setelah perundingan lebih lanjut
operator mengirimkan seorang perwakilan ke
kapal yang naik ke kapal pada tanggal 20 Juli
2009. Aung Thu Ya berbicara lagi dengan awak
kapal dan memberikan pendapat kolektif
mereka pada perwakilan tersebut. Ia
mengatakan akan membayar gaji penuh serta
tiket pulang hanya untuk tujuh orang Mesir.
Aung Thu Ya memprotes karena perlakuan
tersebut tidak adil bagi anggota awak kapal
lainnya. Setelah negosiasi beberapa saat,
perwakilan operator setuju untuk
menandatangani sebuah perjanjian dengan
awak kapal Bangladesh, dengan mengatakan
bahwa dia akan membayar gaji mereka dan
mereka dapat turun di Malaysia.
Dengan rasa puas, para pelaut Mesir
“
Kemenangan ini
menawarkan beberapa
harapan bagi para pelaut
Cina yang sering harus
bekerja tanpa
perlindungan dan dalam
kondisi yang buruk.
”
www.itfseafarers.org
Kampanye anti bendera kemudahan
mendapatkan semua gaji mereka yang
berjumlah US$36.500 dan tiket elektronik
untuk perjalanan pulang mereka. Mereka
kemudian berangkat hari berikutnya. Pelaut
Bangladesh dan Burma juga menerima
kesepakatan dan gaji tertunggak sebesar
US$22.700 dan setuju untuk turun di Malaysia.
Chief Officer Burma bicara kepada Aung Thu Ya
bahwa ketika kapal tersebut tiba di pelabuhan
dan kargo dibongkar, semua kesepakatan ini
dilaksanakan, semua kru tersebut kemudian
turun sebelum kapal berlayar menuju Somalia.
Salah satu dari Kru Michail Arhangelos
menulis kepada Aung Thu Ya, berterima kasih
pada ITF untuk kerjanya. Aung Thu Ya berkata:
“saya senang bahwa cerita mereka berakhir
dengan damai dan saya tidak membantu apaapa dan mengagumi upaya kolektif mereka
untuk memperjuangkan hak-hak mereka.
Tetapi, untuk dapat merubah situasi seperti ini
di masa depan, saya berharap mereka akan
bergabung dengan serikat pekerja.”
Pelaut Bangladesh
memenangkan kasus
yang menjadi tonggak
sejarah dipelabuhan
Cina.
Oleh Dongli Hur, ITF Maritime Operation
Departmen, London
Ting Kam-Yuen, kepala kantor FOC ITF di Hong
Kong, telah menyelesaikan sebuah perselisihan
yang rumit antara kru kapal Saikat Wind dan
pemiliknya dari Banglades. Dia juga telah
berhasil memperjuangkan gaji para kru
sejumlah US$164.893. Kapal tersebut, berlayar
dengan bendera Togo, yang diawaki oleh 13
pelaut Banglades. Sebelum ITF terlibat, kru
tidak mendapatkan bayaran selama beberapa
bulan. Beberapa dari mereka sudah tidak
dibayar selama 14 bulan.
Saikat Wind berlabuh di luar pelabuhan
BeiHai, suatu pelabuhan kecil di Cina. Saat kru
mengajukan gugatannya ke pengadilan
setempat terkait kondisi mereka, pengadilan
menolak untuk berhubungan dengan kasus
tersebut atau menahan kapal tanpa ada down
payment (uang muka).
Port State Control setempat hanya
mengatakan bahwa ini adalah perselisihan
perburuhan dan tidak ada hubungannya
dengan mereka. Karena pemilik terus
menyediakan kebutuhan-kebutuhan
dasar/pokok, tidak ada alas an bagi kru untuk
mengirimkan SOS. Hal tersebut diperparah
dengan adanya gugatan pengadilan dari
pemilik Banglades terhadap para kru dengan
tuduhan tidak mematuhi perintah. Jumlah
gugatan yang diajukan oleh pemilik persis sama
dengan jumlah gaji kru yang tertunggak.
Kam-Yuen memperlihatkan skill negosiasi
hebat serta pengalamannya yang luas dalam
berhubungan dengan perselisihan
ketenagakerjaan pelaut. Tidak hanya dia
mampu mendapatkan pengacara Cina setempat
yang bekerja untuk para kru terkait hal-hal yang
tidak terduga, tetapi dia juga berhasil melobi
pengadilan BeiHai agar menghilangkan
persyaratan down-payment, untuk penahanan
kapal.
Kemenangan ini menawarkan beberapa
harapan bagi para pelaut Cina yang sering harus
bekerja tanpa perlindungan dan dalam kondisi
yang buruk. Ini juga mewakili sebuah sukses
besar dan terobosan penting bagi para pelaut di
seluruh dunia.
ITF memberikan
pelayanan ketika kru
menghadapi kelaparan
di Korea
Oleh Hye Kyung Kim, Koordinator ITF, Korea
Bulan April 2009, ITF menerima sebuah laporan
tentang sebuah kapal di Pyungtaek Port di
Korea Selatan. Satu dari sembilan anggota kru
mengatakan sudah tidak terdapat bahan
makanan atau air segar. Kru belum dibayar dan
tidak bias berkomunikasi dengan pemilik,
Oriental Development Company di Dalian, Cina.
Kapal tersebut telah ditahan oleh pihak
ketiga pada bulan Maret setelah kargonya
rusak. ITF mencoba untuk menghubungi pemilik
tetapi tidak berhasil. Kedutaan Cina di Seoul
menolak untuk membantu, mengatakan bahwa
Korea perlu berhubungan dengan masalah
terkait dengan gaji yang belum dibayar,
ketersediaan makanan dan air bersih sebab
mereka telah menahan kapal tersebut.
Inpektur mengunjungi awak kapal tersebut
untuk memulai proses legal bagi gaji yang
belum dibayarkan dan repatriasi (pemulangan).
Sementara itu, Koordinator ITF Hye Kyung Kim
berbicara dengan ITF Maritime Operations dan
kedutaan Cina untuk mencoba menyelesaikan
situasi tersebut.
Ketika pemilik akhirnya setuju untuk bertemu
dengan ITF, mereka masih menolak untuk
menyelesaikan kasus tersebut. Perhatian
utama mereka adalah kapal, bukan krunya.
Mereka menolak untuk menyuplai makanan
atau air segar, atau bahkan untuk bertemu
dengan awak kapal.
Awak kapal mengatakan pada ITF bahwa
mereka kelaparan, sehingga makanan,
kebutuhan pokok dan air segar yang nilainya
US$250 disediakan oleh serikat pekerja.
Pemilik kapal berkunjung ke Korea beberapa
kali, tetapi tidak ada tindakan dan tidak
menawarkan bantuan apapun. Sehingga
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
9
➡
Kampanye Anti Bendera Kemudahan
inspektorat memutuskan untuk memulangkan
para pelaut¸ dan tidak menunggu proses
hukumnya selesai. Oleh sebab itu, dalam
diskusi dengan kru dan Dong Sik Bang,
Presiden Federasi Serikat Pelaut Korea (FKSU),
ITF memutuskan untuk menanggung biaya
pemulangan dari sembilan kru tersebut. Tujuh
dari sembilan kru tersebut memutuskan untuk
pulang, sementara Nakhoda dan wiper tetap
tinggal di kapal.
Tidak akan mudah untuk mendapatkan gaji
kru yang belum dibayar. ITF sekarang sedang
mengupayakan tindakan hukum.
ITF memenangkan gaji
para pelaut yang
terdampar di Inggris.
Empat belas awak kapal container berbendera
Malta, Believer, telah memenangkan
penyelesaian perselisihan sebesar .65.000
(US$97.740). Inspektur ITF di Inggris, Tommy
Molloy, menegosiasikan kesepakatan tersebut
setelah pemiliknya, Skips Christine, dinyatakan
bangkrut ketika banknya menghentikan
kreditnya. Empat kru telah meninggalkan kapal
tanpa bayaran tetapi 10 lainnya – sembilan
orang Polandia dan satu Rusia – masih tinggal
di kapal sebagai upaya untuk mendapatkan gaji
mereka yang belum dibayarkan.
Setelah beberapa pembicaraan intensif,
Molloy yang berbasis di Liverpool, mencapai
kesepakatan bahwa semua kru harus dibayar
selama bulan September. Ia juga
mengamankan dua bulan gaji pokok sebagai
kompensasi atas phk dini terhadap kontrak
kerja kru. Ini sesuai dengan perjanjian ITF TCC
yang melindungi kapal tersebut.
Molloy juga merundingkkan sebuah
perjanjian jangka pendek dengan nilai yang
disepakati bagi para pelaut yang melayarkan
Believer ke Gdansk di bawah operator Vestland
Marine, sebuah perusahaan yang berbasis di
Polandia.
Para pelaut menerima uang dan terlepas dari
taktik untuk menunda pembayaran. Pada satu
tahapan Molloy tiba di atas kapal dan
menemukan adanya tongkang batu bara di sisi
kapal. Kapal tersebut sedang membongkar batu
bara yang sebelumnya ditempatkan di atas
kapal oleh pencarter. Nakhoda mengatakan
“
Kru, tetap tidak
mengerti mengapa
pencarter dan pengelola
pelabuhan dapat dibayar
sebelum keberangkatan,
sedangkan mereka
harus menunggu hingga
kapal tiba di Norwegia.
”
bahwa dia menerima “instruksi”dari perantara
bank untuk membongkar batu bara tersebut
demi menghindari penahanan kapal.
Molloy meminta pertemuan dengan kru, yang
memutuskan bahwa mereka tidak akan
mengikuti “instruksi”pihak lain yang bukan
majikan mereka. Mereka tidak akan
membongkar muatan sebelum mereka tahu
siapa yang akan membayar gaji mereka.
Kemudian kapal tongkang diminta pergi. Ketika
seorang pengacara yang bertindak atas nama
pencarter menelpon Molloy dan menanyakan
mengapa kru melakukan mogok, ia menyatakan
bahwa kru tidak dapat dibilang mogok jika tidak
ada yang harus dikerjakan.
Pada kesempatan lain perantara tersebut
lelah untuk meyakinkan kru agar bersedia
berlayar ke Norwegia dimana mereka akan
dibayar saat tiba disana. Kru, tetap tidak
mengerti mengapa pencarter dan pengelola
pelabuhan dapat dibayar sebelum
keberangkatan, sedangkan mereka harus
menunggu hingga kapal tiba di Norwegia.
Mereka menuruti saran ITF dan menolak
tawaran perantara tersebut.
Untungnya seorang pembeli baru kapal
tersebut ditemukan cukup cepat dan kru tidak
harus melakukan penahanan secara hukum
untuk menutupi gaji-gaji mereka yang
tertunggak. Juga, mereka tidak harus
Kru Believer, yang
memenangkan
penyelesaian upah
dengan bantuan
ITF.
membayar biaya-biaya legal. Adalah penting
bahwa jika kru berada pada situasi seperti ini
harus melibatkan ITF dari tahap awal untuk
melindungi kepentingan mereka.
Serikat-serikat pekerja afiliasi ITF di
Norwegia dan Polandia juga berperan guna
memastikan segala sesuatunya berakhir
dengan memuaskan bagi seluruh pelaut yang
ada.
Kapal ditahan 20 hari di
Jerman karena tidak
membayar gaji
ITF berhasil memperjuangkan lebih dari .39.000
(US$56.000) untuk kru yang tidak dibayar
gajinya selama hampir empat bulan. ITF juga
menangani kondisi kerja yang mencengangkan.
Para pelaut Ukraina meminta tolong ITF ketika
kapal mereka, Kramatorsk, berada di Flushing
Port di Netherland. ITF naik ke kapal dengan dua
inspektur dari PSC. Disamping gaji yang tidak
dibayar, mereka menemukan perlengkapan
yang tidak bekerja dengan baik serta
pelampung-pelampung yang kondisinya buruk.
Perusahaan mengatakan bahwa mereka
belum mampu memberikan pembayaran tunai
dalam jangka pendek. Awak kapal setuju untuk
melayarkan kapal ke pelabuhan pemberhentian
berikutnya, Bremen, dimana uang sisa
tunggakan gaji akan dibayarkan kepada awak
kapal yang selesai bekerja.
Bremen diawasi oleh Koordinator ITF untuk
Netherland dan Jerman, Debbie Klein. Ketika
Kramatorsk yang berbendera Ukraina tiba di
pelabuhan, PSC diberitahu dan kemudian
melakukan inspeksi lebih lanjut. Koordinator
ITF berbicara kepada inspektur PSC tentang gaji
yang tertunggak dan mereka setuju hal ini
dimasukkan ke dalam daftar kekurangan kapal.
Semuanya, ada 22 hal yang menyebabkan
kapal tersebut ditahan selama 20 hari.
Disamping gaji yang tidak dibayar, awak
kapal juga memiliki masalah dengan sikap dan
tingkah laku Nakhoda kapal. Sebagai contoh,
ada masalah serius dengan keselamatan terkait
rakit penolong, yang tidak dapat diturunkan
dengan sempurna. Nakhoda hanya
memberikan sedikit perhatian terkait hal ini dan
ketika ditanyakan hal tersebut, ia mengatakan
bahwa menurutnya tidak ada masalah. Secara
umum ia tidak kooperatif, Ia memberikan
alasan bahwasannya awak kapal sudah
menandatangani kontrak yang menyatakan
bahwa mereka tidak akan menerima gaji untuk
dua bulan pertama kerja dan oleh sebab itu
tidak punya hak untuk komplain.
Akhirnya, semua kekurangan diperbaiki dan
kapal meninggalkan pelabuhan. Namun
sebelumnya telah membayar sisa kekurangan
gaji yang totalnya berjumlah US$ 56.000
kepada para kru.
www.itfseafarers.org
Pelaut Turki
mendapatkan gaji
mereka yang
tertunggak di Panama
Tujuh belas pelaut Turki yang dipulangkan pada
bulan April tahun lalu telah memenangkan
klaim atas gaji mereka yang belum dibayarkan
setelah bergelut dengan hukum selama
beberapa bulan.
Para pelaut di kapal Mevlut Dov, sebuah
kapal berbendera Panama, ditelantarkan di
pelabuhan Cristobal di Panama setahun yang
lalu setelah mengalami kerusakan mesin dalam
perjalanan dari Rio de Janeiro di Brasil ke
Pelabuhan Callao Peru. Kapal tersebut mulai
berlabuh di bulan November 2009.
Para pelaut Turki, yang gajinya belum dibayar
sejak November 2008, ditinggalkan di kapal
selama beberapa bulan dalam kabin-kabin yang
berventilasi buruk, bertahan hidup dengan
makanan yang disediakan oleh Inspektorat ITF
di Panama dan serikat pekerja Panama yang
berafiliasi ke ITF; mereka juga membantu
menutupi biaya pemulangan para pelaut
tersebut pada bulan April.
Masalah tersebut dibawa ke pengadilan
maritim tingkat kedua Panama, setelah
intervensi yang dilakukan oleh Inspektur ITF,
Luis Fruto, dan pengacara Olmedo Arrocha,
dimana disepakati bahwa kapal tersebut akan
dijual dan gaji para pelaut akan dibayar dari
hasi penjualan tersebut.
Sebelumnya di bulan November, sekitar
US$160.000 jumlah gaji tertunggak dikirim ke
Turki.
Luis Fruto mengatakan,“Pemerintah Panama
yang baru, Presiden Ricardo Martinelli dan
otoritas maritim Panama saat ini ingin bekerja
sama untuk memastikan kapal-kapal
berbendera Panama menghormati hak-hak
pelaut. Disamping itu, otoritas tersebut,
dengan arahan dari pelabuhan dan pelaut,
meminta agar komite kesejahteraan pelaut dan
inspektorat ITF diperbolehkan dengan bebas
memasuki pelabuhan-pelabuhan di Panama.”
Para Pelaut Rusia
berjuang untuk
memenangkan uang
mereka yang ditahan
oleh pemilik kapal
Lima awak kapal berkebangsaan Rusia
dibayarkan gaji mereka yang tertunggak
sebesar .35.000 (US$50.390), terima kasih atas
upaya Inspektur ITF Netherland, Ruud Touwen.
Para pelaut tersebut ditelantarkan di kapal
mereka, Mike, di pelabuhan Duisburg di Jerman
www.itfseafarers.org
Para kru kapal Mevlut Dov dipelabuhan Cristobal, Panama. Inspektur ITF setempat mengupayakan
pengiriman makanan dan air.
oleh pemilik kapal. Saat itu mereka belum
dibayar sejumlah .19.000 (US$27.350).
Touwen mengajukan usulan pada para pelaut
tersebut atas nama serikat pekerja: pemilik
bersedia membayar 40 persen dari klaim
sebagai pembayaran tunai dimuka plus tiket ke
tempat tujuan pulang. Awak kapal tersebut
disarankan untuk melayarkan kapal ke
Netherland dimana serikat pekerja dapat
membantu mereka menahan kapal tersebut dan
dikirim ke pelelangan umum di Rotterdam.
Kru diberitahu bahwa hal ini dapat dilakukan
minggu berikutnya. Tetapi para pelaut tersebut
khawatir akan adanya penundaan pembayaran
lebih lanjut dan memutuskan bahwa mereka
menerima semua uang mereka di muka. Mereka
menggunakan pengacara mereka sendiri, tetapi
gagal untuk mencapai kesepakatan
pembayaran segera.
ITF terlibat lagi. Touwen mulai merundingkan
kembali dengan para pemilik dan manajer
kapal. Pada tahap ini klaimnya sudah
meningkat menjadi .42.000 (US$60.430),
termasuk biaya pengacara.
Diskusi panjang terjadi dan akhirnya
tercapailah kesepakatan. Tetapi diluar .35.000
yang diterima, kru tersebut harus membayar
sendiri tiket untuk pulang, disamping juga biaya
pengacara. Saat itu, kru Rusia tersebut
menerima kesepakatan dan semuanya pulang
ke kampung halamannya.
ITF membantu
memulangkan kru
kapal yang terdampar
di India
Setelah intervensi oleh ITF, 26 pelaut
diselamatkan dari sebuah kapal kargo yang
tenggelam dekat Orissa, India, yang
dipulangkan setelah mereka terdampar dua
bulan sementara kecelakaan tersebut
diinvestigasi.
Kru dari kapal Black Rose, dengan pemilik
Mongolia adalah 17 Banglades, 3 Rusia dan 6
Ukraina – ditelantarkan di Paradip, Orissa,
setelah kapal mereka karam tanggal 9
September. Chief engineer, orang Ukraina,
meninggal dalam kecelakaan tersebut. ITF
melakukan intervensi dengan membantu para
kru setelah mereka terdampar menunggu
penyelidikan resmi dari kementerian pelayaran.
Serikat Pekerja Maritim India membantu kru
untuk mendapatkan gaji mereka yang
tertunggak.
Kapten Sergei Kamarov mengatakan: “Kami
senang bisa pulang. Terima kasih pada ITF dan
departemen imigrasi atas bantuan mereka.”
Para kru dipulangkan pada tanggal 10
November 2009.
ITF memenangkan
kasus pelaut di Ukraina
yang bekerja tanpa
kontrak
Bulan Maret 2009, perwakilan ITF mencapai
kesepakatan dengan pemilik/manajer Lotus
dari Turki. Kesepakatan tersebut memastikan
pembayaran atas gaji-gaji yang tertunggak
serta tiket untuk pulang bagi salah satu dari
para pelaut tersebut, meskipun tidak satupun
dari para pelaut yang ada di atas kapal tersebut
memiliki kontrak kerja dalam bentuk apapun.
Para pelaut harus selalu meminta perjanjian
kerja bersama yang disetujui ITF. Tetapi
sedihnya, untuk Eropa Timur, Syiria dan
beberapa pelaut Asia, adalah biasa untuk tidak
memiliki kontrak kerja. Karena tidak ada
perjanjian tertulis, ITF ada dalam posisi yang
lemah ketika memulai perundingan. Akan
tetapi, kru masih tetap bertahan selama proses
perundingan.
Inspektur ITF di Ukrana, Nataliya Yefrimenko,
yang pertama menerima telepon dari Kru Lotus,
sebuah kapal yang dicharter di Ukraina pada 22
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
11
Kampanye Anti Bendera Kemudahan
➡
Maret. Karena Lotus belum akan meninggalkan
pelabuhan hingga hari berikutnya, masih ada
waktu untuk melihat kondisinya dan memulai
negosiasi dengan perusahaan.
Kapal tersebut telah ditahan karena adanya
kekurangan-kekurangan yang ada di kapal.
Enam dari 11 kru mengatakan bahwa mereka
menolak untuk bekerja jika perusahaan tetap
tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya
terhadap mereka. Tingkat gaji yang telah
disetujui secara lisan oleh pemilik sebelum
mereka bekerja dikapal jauh lebih rendah dari
standar minimum yang direkomendasikan ILO.
Diluar hal ini, respon pertama yang diberikan
oleh pemilik/manajer Turki justru menawarkan
pembayaran gaji yang bahkan lebih kecil. Enam
pelaut menolak untuk bekerja jika perusahaan
tetap melanggar perjanjian kerja mereka, yakni
tidak membayar gaji mereka antara bulan
Desember 2008 hingga Februari 2009.
Pencharter Ukraina menjadi terlibat dalam
diskusi tersebut dan ini terbukti produktif.
Hanya lima hari setelah kru menelpon untuk
pertama kalinya, sebuah kesepakatan antara
perusahaan dan kru tercapai. Kesepakatan
tersebut terkait pembayaran akhir dan
pemulangan satu pelaut dari Ukraina. Mereka
juga setuju untuk membayar, dalam tunai, gajigaji tertunggak dari lima pelaut lainnya untuk
“
Jadi para pelaut tersebut
menerima lebih banyak
dari yang mereka
harapkan, para pemilik
mendapatkan pelajaran
bahwa jika ada yang
kurang dalam kontrak
yang ditandangani dua
pihak tidak selalu
menguntungkan
mereka.
”
12
Buletin Pelaut ITF 2010
masa kerja antara Desember 2008 hingga Maret
2009. Ini didasarkan pada skala gaji yang
direkomendasikan ILO. Kelima pelaut tersebut
setuju untuk tetap tinggal di kapal dan
menjalankan kapal ke Istambul dimana mereka
akan digantikan oleh kru Turki.
Biaya pemulangan dari keenam pelaut yang
mengajukan komplain tersebut dimasukkan
dalam jumlah yang disetujui dan dibayarkan di
Ukraina. Untuk menghindari upaya-upaya oleh
perusahaan agar tidak mengambil kembali
uang tersebut, hampir semua dari dana ini
langsung dikirim ke keluarga mereka di
kampung halaman sebelum kapal tersebut
berangkat ke Turki.
Nataliya Yefrimenko berkata: “Jadi para
pelaut tersebut menerima lebih banyak dari
yang mereka harapkan, para pemilik
mendapatkan pelajaran bahwa jika ada yang
kurang dalam kontrak yang ditandangani dua
pihak tidak selalu menguntungkan mereka dan
saya harap para pelaut juga mendapatkan
pelajaran penting dari situasi tersebut.”
Tetapi kunci keberhasilan upaya ITF tersebut
adalah ketika mengirimkan perwakilan ke
Tripoli untuk berbicara dengan otoritas maritim
dan serikat pekerja setempat. ELA, serikat
pekerja Spanyol yang berafiliasi dengan ITF,
setuju untuk mengijinkan Inspektur ITF yang
berbasis di Bilbao Mohamed Arrechedi untuk
melakukan perjalanan ke Libya. Disamping itu,
Bilal Malkawi, dari Kantor Regional ITF di
Amman, Jordania, menghubungi para pemimpin
Federasi Pekerja Angkutan dan Komunikasi
Arab yang menyediakan dukungan yang
penting.
Arrachedi menghabiskan 22 hari di Tripoli,
berunding dengan dan antara pengacara, agen
kapal dan otoritas maritim Libya untuk
memungkinkan pemulangan kru. Ia bahkan
mendapatkan ijin bagi kapal untuk berlabuh
pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
Sementara itu, sekretariat ITF London
menjadi perantara kesepakatan-kesepakatan
dengan pengacara di New York dan London
mewakili pemilik Swift Spindrift untuk
membayar biaya pemulangan.
Dipulangkan setelah 13 Kru yang mogok
bulan terdampar di
menerima bantuan dari
Tripoli
afiliasi Afrika
13 bulan cobaan untuk kru kapal Swift Spindrift
berakhir pada bulan Oktober 2009 saat ITF
berhasil mengorganisir pemulangan mereka ke
kampung halaman di Burma. Mereka telah
terdampar di pelabuhan Tipoli, Libya, lebih dari
setahun.
Keberhasilan dalam mempersuasi para
pemilik untuk mendanai pemulangan tercapai
melalui aksi global melibatkan serikat-serikat
pekerja dan perwakilan-perwakilan ITF di enam
Negara.
Selama setahun penuh, kru mempercayai
janji-janji Nakhoda mereka. Tetapi akhirnya
mereka memutuskan untuk menghubungi ITF
guna meminta bantuan.
Saat itu mereka merasa putus asa, terutama
setelah gaji mereka dihentikan selama enam
bulan. Air dan bahan-bahan pokok mulai
menurun persediaannya dan seringkali kapal
tidak diperbolehkan untuk merapat,
memberikan kru hubungan yang sangat
terbatas dengan dunia luar. Kesulitan mereka
adalah akibat dari sebuah perselisihan antar
pihak-pihak pencharter.
Sebagai kapal berbendera kemudahan (FOC)
, para pemilik dan manajer Swift Spindrift sulit
untuk dilacak, meskipun mereka kelihatannya
punya hubungan dengan Grace Lines yang
beroperasi antara New York dan Delhi.
Dikoordinir oleh Staf di kantor pusat ITF,
London, anggota tim ITF di seluruh dunia
bergerak melakukan tindakan, dengan
Koordinator ITF yang berbasis di AS, Rick Esopa
untuk melakukan pendekatan pada Grace Lines
di New York dan Mahendra Sharma, dari ITF
kantor Delhi, menghubungi perwakilan
perusahaan di India.
Kegigihan para pelaut Turki yang ada di kapal
Bereket untuk meminta keadilan berbuah manis
pada bulan Oktober 2009 ketika mereka
menerima US$46.540 atas gaji mereka yang
belum dibayarkan dan mereka dipulangkan.
Keberhasilan mereka juga dimungkinkan oleh
kerjasama antara Inspektur ITF Turki dan
Serikat Pelaut Tanzania (TSU) yang berafiliasi
ke ITF.
Berlabuh di Zanzibar, ke 14 pelaut tersebut
memutuskan untuk mogok setelah pemilik
kapal, Uzaklar Denizailik Sanayi Ve Ticaret,
menolak untuk membayar tiga bulan gaji yang
tertunggak setelah adanya upaya dari Inspektur
Turki Muzaffer Civelek untuk membuka
negosiasi dalam hal tersebut.
Perusahaan sebelumnya telah mengancam
akan memecat awak kapal jika mereka
menghubungi kantor ITF Kawasan Afrika di
Kenya.
Awak kapal juga menghubungi Abdulrahman
Chande dari TSU. Ia kemudian segera
menginformasikan kepada otoritas PSC
setempat. Inspeksi dilakukan dan kapal ditahan
dengan alasan “kurangnya awak kapal
disebabkan oleh ketidaksediaan awak
melanjutkan pekerjaan karena perselisihan
gaji.”
Inspektur menambahkan bahwa kapal tidak
diperbolehkan berlayar hingga perselisihan
tersebut diselesaikan dan kru menerima gaji
mereka.
Karena Bereket tidak dapat kemana-mana,
pemilik kapal akhirnya setuju untuk bicara
dengan Civelek dan menyepakati pembayaran
tunggakan gaji serta pemulangan.
www.itfseafarers.org
Reuters/Abdiqani Hassan
Perompakan
Para perompak Somalia yang
ditangkap oleh pasukan
Prancis di Teluk Aden sedang
berjalan beriringan di utara
pelabuhan kota Bosasso
bulan November 2009.
Angkatan laut Prancis
menyerahkan 12 perompak
yang ditangkap di Samudera
Hindia kepada otoritas di
Puntland, wilayah semi
otonomi utara Somalia.
Pelaut yang
menanggung
akibatnya
Siapakah yang mengurus pelaut yang menjadi korban perompakan?
BRENDA KIRSCH menyelidiki masalah ini.
www.itfseafarers.org
Buletin Pelaut ITF 2010
13
Reuters/Susana Vera
P
erompakan bukan hal baru, dan para pelaut
dalam posisi rentan terhadap seranganserangan tersebut dalam lintasan sejarah
pelayaran. Tetapi ada perkembanganperkembangan yang berbahaya dalam beberapa
tahun belakangan, terutama di perairan Teluk
Aden, diwilayah tanduk Afrika dan bahkan keluar
hingga memasuki Samudera Hindia.
Ketidakstabilan Somalia sebagai sebuah rejim
hukum, membuat perompakan tumbuh menjamur
sebagai sebuah industri utama di Puntland, wilayah
semi otonomi. Masyarakat yang hidup dalam
kemiskinan yang parah menemukan kenyataan
bahwa industri perikanan tradisional yang selama
ini digarap mereka menurun karena terlalu banyak
dieksploitasi, yang tidak sesuai dengan sistim
hukum atau peradilan terhadap kejahatan, dan
dengan mudahnya akses terhadap suplai senjata
telah melahirkan suatu sistim perdagangan yang
menggiurkan dalam aktivitas perompakan.
“Perompakan di lepas pantai Somalia adalah
persoalan yang berbeda dari yang kita pernah lihat
di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan,”dijelaskan
John Bainbridge, asisten sekretariat ITF Seafarers
Section.
“Disini bisnisnya adalah – seseorang dapat
menghasilkan uang dari hasil penyanderaan, dan
memenangkan taruhan.”
Meningkatnya aksi perompakan
Awak kapal ikan tuna Spanyol Alakrana dipeluk oleh keluarganya saat tiba di Victoria dipulau Mahe,
Seychelles pada bulan November 2009. Para perompak Somalia membebaskan Alakrana, yang dibajak
pada bulan Oktober, dan meminta tebusan sebesar US$ 3,5 juta untuk membebaskan kapal dan kru-nya.
14
Buletin Pelaut ITF 2010
Masalah perompakan mengalami eskalasi di tahun
2008, ketika hampir 100 kapal dengan 500 sandera
disekap oleh perompak Somalia. Terlepas
keprihatinan internasional, dan kehadiran pasukan
angkatan laut multinasional yang bertugas
melakukan patroli di Teluk Aden, jumlah serangan
di wilayah tersebut terus meningkat pada tahun
2009. Juga ada bukti yang meningkat bahwa para
perompak telah bersiap untuk mengambil resiko
lebih jauh, termasuk di Laut Merah dan keluar
menuju Seychelles dan ke bawah hingga pantai
timur Afrika.
Hingga September 2009, Pusat Pelaporan
Perompakan (PRC) dari Biro Maritim Internasional
(IMB) – badan yang memantau perompakan di
seluruh dunia – melaporkan bahwa kejadian
perompakan rata-rata per tahun sejauh ini
memperlihatkan bahwa serangan perompakan
mencapai puncaknya dalam tahun 2008. Perompak
Somalia telah beraksi 148 kali – 97 kejadian di Teluk
Aden, 47dilepas pantai Somalia dan 4 disekitar
Oman. Meskipun banyak serangan telah
dihentikan dengan tindakan secara tidak langsung
atau intervensi oleh pasukan gugus tugas koalisi,
perompak Somalia masih dapat membajak 32
kapal dan menculik 532 sandera. Yang paling
menghawatirkan, empat pelaut terbunuh akibat
insiden-insiden tersebut.
Perompak Somalia bersiap mengambil resiko
karena imbalannya begitu tinggi. Menurut Alex
Kemp dari Group 4 Security anak perusahaan NYA
Internasional, melaporkan di data Lloyd’s List,
tebusan yang diminta meningkat hingga US$ 5-15
juta di tahun 2009, dengan rata-rata diselesaikan
dengan perkiraan US$1,5 hingga $1,7 juta.
Lamanya masa penyanderaan beragam dari 50-80
hari atau lebih di 2009.
Serangan perompak juga terus berlanjut di
perairan lain di dunia – dengan indikasi bahwa
www.itfseafarers.org
Perompakan
resesi global mungkin telah memicu peningkatan
dalam kejahatan oportunis ini. Serangan-serangan
terus berlanjut di perairan Laut Cina Selatan dan
Malaysia. Dua tahun terakhir juga telah menjadi
saksi atas serangan terhadap kapal dan personil di
Delta Niger untuk alasan politik, dengan para
pemberontak mencari lebih banyak manfaat dari
industri minyak, yang krusial Nigeria.
Setelah gelombang serangan dan penculikan,
sekarang nampaknya masalah-masalah di Delta
Niger mulai surut, semenjak pemerintah
membebaskan pemimpin Gerakan Emansipasi
Delta Niger (MEND) pada bulan Juli 2009.
Melindungi pelaut
Sorotan media telah fokus pada para perompak.
Perhatian terhadap kesulitan para pelaut kurang
diberikan padahal mereka adalah sepenuhnya
adalah korban perompak dan serangan-serangan
kriminal.
“Pelaut bukanlah sumber daya yang tidak
penting,”kata John Bainbridge. Jika harus
mengambil uang tebusan untuk memastikan
kebebasan mereka, maka hal tersebutlah yang
terpenting. “Tujuan paling penting adalah
keselamatan pelaut.”
Jika memungkinkan, ITF dan serikat pekerja yang
terlibat mengandalkan pada negosiator
professional untuk berunding dengan para
penahan, saat yang sama mereka menangani
keluarga kru yang disandera.
Tetapi keberhasilan membebaskan mereka bisa
saja hanya awal dari berlanjutnya masalah bagi
pelaut yang telah menjadi korban perompakan.
Gangguan stress pasca trauma (PTSD) dapat
menjadi masalah yang terus menghalangi,
mempengaruhi kesehatan, kerja dan interaksi
sosial.
Posisi ITF
terkait
perompakan
John Bainbridge mengatakan: “karena status
kerja yang tidak permanen dari pekerjaan di kapal,
akan menjadi sangat sulit ketika mereka
dibebaskan, karena mereka tidak mendapatkan
tunjangan atau dukungan kesejahteraan. Kita tidak
mendapatkan informasi dari negara bendera kapal
tentang insiden-insiden, dan kita tidak dapat
melacak mereka atau memberikan bantuan. Ini
adalah masalah besar, karena tugas perawatan
tidak sepenuhnya diberikan.”
Kelihatannya perompakan akan menjadi
masalah yang terus berlanjut, tetapi situasi khusus
di Somalia dapat diatasi dalam jangka panjang
melalui langkah-langkah internasional untuk
membawa stabilitas ke Negara tersebut.
Menyelesaikan masalah
Dalam jangka pendek, paling tidak, para pelaut
perlu dikawal ketika berlayar melalui perairan lepas
Somalia yang berbahaya. A da beberapa yang
meminta personil bersenjata agar berada di atas
kapal yang berlayar di perairan-perairan tersebut.
Ini adalah langkah yang sepenuhnya ditolak oleh
ITF. “Ini akan mengeskalasi situasi dan
menempatkan resiko lebih besar pada para pelaut,”
kata John Bainbridge.
ITF sadar bahwa kapal-kapal tersebut rentan
perompakan – karena kecepatannya lamban,
geladak yang rendah dan awak yang sedikit –
biasanya terdaftar dengan bendera kemudahan.
“Ini mengapa kita berusaha agar mereka
bergabung dengan perjanjian ITF atau serikat
pekerja,”kata John Bainbridge. Jika tidak, maka
tidak ada seorangpun disini yang mendukung
pelaut.”
”
● Brenda Kirs adalah wartawan freelance yang
berbasis di London.
Situasi pengecualian terkait
dengan:
●mendapatkan
perlindungan menyeluruh
dari angkatan laut atau dalam
sebuah konvoi dengan
ITF Seafarer’s Section,
pengawalan angkatan laut
mengamati tumbuhnya
masalah perompakan di Teluk yang cukup; atau
● kapal dapat dikategorikan
Aden, lepas pantai Somalia
sebagai beresiko rendah dan
dan sekarang di samudera
telah terbukti memiliki
Hindia, ITF juga telah
standar perlindungan sendiri.
menentukan bahwa untuk
amannya maka sebaiknya ada
ITF juga mempertimbangpengecualian bagi kapal
kan agar kepada para pelaut
untuk tidak transit di wilayah
tersebut. Resiko penyerangan diberikan kebebasan untuk
menolak membawa kapal ke
sekarang begitu besar dan
wilayah-wilayah beresiko
menempatkan pelaut dalam
tinggi. Para pelaut memiliki
jalur berbahaya yang
hak untuk menolak
puncaknya adalah
menempatkan diri mereka
pelanggaran terhadap
dalam jalur yang berbahaya
perlindungan keselamatan
dan berhak mendapatkan
awak kapal yang menjadi
bantuan sebelum kapal
tugas pemilik kapal.
www.itfseafarers.org
“
“Personil bersenjata
yang ditempatkan
dikapal akan semakin
meningkatkan eskalasi
situasi dan
menempatkan Pelaut
dalam resiko lebih yang
besar”.
memasuki wilayah beresiko
tinggi. ITF meminta negaranegara bendera untuk
menegakkan hak-hak pelaut
terkait hal ini.
ITF menegaskan kembali
posisinya bahwa pelaut tidak
seharusnya dipersenjatai.
Pelaut meminta kalangan
industri pelayaran untuk
mendukung posisi ini dan
mengambil semua langkah
yang dapat memastikan
perlindungan pada para
pelaut dengan cara
menjauhkan mereka dari
jalur-jalur berbahaya.
Sumber: pernyataan di atas
dikeluarkan oleh ITF
Seafarers Section di London
pada tahun 2009
Buletin Pelaut ITF 2010
15
Derita dari kesunyian: Sandera Danica White
Gambar di atas: kru kapal ikan
Spanyol Alakrana melambaikan
tangan setelah perompak Somalia
membebaskan mereka dibulan
November 2009.
“
35-40 menit
pertama saat
sebuah serangan
berlangsung
adalah saat-saat
kritis, itulah
masa untuk
mengabarkan
pada dunia luar,
mencari
perlindungan dan
menelpon gugus
tugas angkatan
laut.
”
16
Saat ketiga pelaut Denmark
ditangkap perompak Somalia
bulan Juni 2007 mereka sempat
berpikir tidak akan dapat pulang
ke rumah lagi. Bagi para pelaut
tersebut, yakni lima kru Danica
White dengan pemilik dari
Denmark, ditawan oleh perompak
yang tidak bersahabat, sangat
bikin stres, tetapi mereka masih
ditambah lagi dengan stress
memikirkan dalam kesunyian
mereka tentang kesulitan yang
akan mereka hadapi ketika
kembali ke negaranya.
Akhirnya mereka dibebaskan
setelah 89 hari, dua dari pelaut
tersebut harus menanggung
beban kehidupan sejak dari
penyanderaan mereka – mereka
tidak akan pernah bekerja lagi di
laut, itu adalah dampak stress
yang mereka derita.
Henrik Berlau, Sekretaris Seksi
Maritim Serikat Pekerja Denmark
3F, menjelaskan bahwa serikat
pekerja masih berusaha keras
mendapatkan kompensasi bagi
para tawanan tersebut. Disamping
mereka telah menerima
kompensasi kecelakaan kerja
ringan dari dana asuransi umum,
serikat pekerja juga telah
mengejar perusahaan untuk
bertanggung jawab atas
persoalan tersebut dan
keteledoran Nakhoda hingga
terjadi perompakan. Serikat
pekerja saat ini sedang
mengajukan banding terkait
masalah ini.
“ Nakhoda tidak mengambil
langkah awal penyelamatan, tidak
ada upaya yang dibuat untuk
antisipasi, dan ia tidak mengikuti
rekomendasi IMO untuk
menghindari serangan
perompak,” kata Henrik.
Danica White adalah kapal yang
berkecepatan rendah, hanya 200
Buletin Pelaut ITF 2010
mil lepas pantai Somalia, Ia
menjelaskan, “kami rasa nakhoda
yang kurang tertarik untuk
melindungi kapal dan awak kapal,
benar-benar keteledoran yang
memuakkan, ini membuat mereka
menjadi target mudah dari para
perompak.”
Ia secara khusus marah dengan
pemiliki kapal: “perusahaan
memiliki reputasi yang demikian
buruk sehingga otoritas maritim
Denmark menarik dokumen
kelaikannya sebulan sebelum
terjadinya insiden tersebut. “ Ia
mengatakan bahwa pemilik kapal:
“adalah perusahaan yang punya
reputasi buruk dan catatan yang
buruk dalam menghormati
pelaut.”
Henrik juga menunjuk pada
kegagalan industri asuransi
maritim. Yakni bahwa asuransi
kapal tidak mencakup kru – hanya
kapal dan kargonya yang
dilindungi asuransi – tetapi
industri tersebut juga lebih suka
untuk mengikuti undang-undang
maritim yang memberikan waktu
enam bulan sebelum sebuah
kapal dianggap sepenuhnya
hilang, “Ini memberikan waktu
pada mereka untuk merundingkan
kesepakatan yang lebih murah
dengan para perompak sebelum
mereka harus membayar
asuransi.”
Ia juga menyalahkan
pemerintah Denmark yang
bangga dengan pendiriannya
untuk tidak berunding dengan
“para teroris atau perompak”–
“ itu adalah situasi yang tidak
dapat ditolerir bagi pelaut”–
begitu juga polisi yang kurang
memberikan informasi kepada
keluarga.
“ Kru merasa bahwa mereka
telah dilupakan, dan tidak dapat
mengerti mengapa kesulitan
mereka tidak diliput di media,”
katanya. “ Kementrian luar negeri
meminta kami untuk tetap low
profile, tetapi ketika nakhoda
membocorkan detail tebusan
yang diminta, maka kami akan
dipublikasikan.”
3F menawarkan untuk
membayar semua biaya
pembebasan kru, tetapi harus
menunggu adanya kesepakatan
jumlah tebusan, dan kru baru
dibebaskan setelah tiga bulan.
Henrik Berlau merasa bahwa
perlakukan industri pelayaran dan
asuransi maritim harus berubah
sehingga pelaut tidak akan
dijadikan sandera selama enam
bulan¸ dan mereka tidak
mendapatkan kompensasi atas
cobaan yang mereka alami
tersebut.
Untuk mencegah terjadinya
serangan, Ia menekankan
perlunya pelaut mematuhi saran
IMO dan IMB, dan juga para
pemilik harus menginvestasikan
dana untuk pemasangan alat
penangkal yang cukup, semisal
pagar listrik.
“35 -40 menit pertama saat
sebuah serangan berlangsung
adalah saat-saat kritis, itulah
masa untuk mengabarkan pada
dunia luar, mencari perlindungan
dan menelpon gugus tugas
angkatan laut”.
Ia juga mencatat bahwa
meskipun anggotanya mengalami
pengalaman yang buruk, saat
pulang mereka diterbangkan
dengan sebuah jet pribadi dan
diberikan layanan konselor. “Itu
yang terjadi di Denmark –
bagaimana dengan orang-orang
Filipina yang telah menjadi korban
perompakan? Mereka ada dalam
kondisi yang jauh lebih buruk.
www.itfseafarers.org
Reuters/Susana Vera
Buruh B/M
ITF secara teratur
mengingatkan para
pelaut untuk tidak
menangani kargo.
Kami bertanya kepada
dua orang buruh B/M
mengapa hal tersebut
jadi begitu masalah.
Gambar diatas: Steve Biggs (kiri): pelabuhan
adalah tempat berbahaya dan setiap hal
menggunakan metode penanganan kargo yang
berbeda
www.itfseafarers.org
Utarakanlah
Steve Biggs, buruh B/M, DP World
Southhampton, Unite, (Inggris).
“
Saya telah menjalani pekerjaan ini
selama lebih dari 15 tahun sampai
sekarang, mengikuti jejak ayah dan kakek saya
dimana keduanya juga buruh B/M.
Sebagaimana pelabuhan di tempat lain,
Southampton memiliki tradisi kekeluargaan
yang bagus dimana anak laki-laki, para ayah,
dan para saudara laki-laki bekerja
berdampingan satu sama lain.
Ketika saya memulai bekerja waktu itu
diawali dengan magang dan saya dilatih dalam
semua pekerjaan bongkar-muat, berupa
menumpuk/mengisi barang, menurunkan
barang, mengemudi forklift, mengemudikan
Tug, mengemudikan straddle carrier dan
mengoperasikan crane. Setelah tiga tahun
pelatihan, saya menjadi bagian dari buruh inti
dengan memenuhi pola kerja shift yang mapan
serta syarat-syarat dan ketentuannya.
Di Southampton, buruh B/M memiliki
jadwal, yang menentukan apa pekerjaan yang
harus dilakukan untuk setiap shift. Semua
buruh inti memiliki multi-keahlian. Kami juga
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
17
Buruh B/M
➡
menerima pelatihan K3 dari awal masuk kerja
dan tidak diperbolehkan melakukan suatu
tugas hingga kami telah menyelesaikan kursus
pelatihannya dan dinyatakan lulus oleh tim
instruktur.
John Florio, wharfie, Patrick, MUA,
Cabang Melbourne.
“
“
”
Adalah sangat penting bahwa pelaut tidak
melakukan pekerjaan B/M, karena akan
menyebabkan hilangnya pekerjaan, PHK dan
meningkatnya kecelakaan.
18
Buletin Pelaut ITF 2010
Saya telah bekerja diterminal
kontainer secara permanen paruh
waktu (PGE) selama lima tahun. Saya
memegang tiket crane, tiket foreman dan tiket
straddle. Saya juga merupakan satu dari dua
perwakilan tim keselamatan kerja PGE. Untuk
menjadi perwakilan, kami harus mengikuti
lima hari kursus yang dilaksanakan oleh
pemerintah tentang keselamatan kerja.
Itu menunjukkan betapa pentingnya buruh
B/M dalam pekerjaan B/M. Ini adalah
pekerjaan kami. Kami terlatih melakukan hal
tersebut.
Suatu kali kami melihat ada kapal yang
berlayar tanpa melakukan pengikatan – MSC
Krittika. Ini berbahaya bagi buruh B/M, pelaut,
publik yang menggunakan pelabuhan dan
lingkungan kita. Kami punya petugas pengikat
di atas kapal yang siap untuk mengikat muatan
selagi kapal masih didermaga namun mereka
diinstruksikan untuk meninggalkan kapal, lalu
kapal kemudian berlayar.
Hari itu ditutup dengan mempertontonkan
nyawa sebagai taruhannya. Jika kapal tersebut
mendapatkan hentakan kuat dari Tug Boat,
maka boks-boks bisa berjatuhan. Boks-boks
tersebut bisa saja jatuh ke dalam air, di
geladak kapal atau menimpa kapal-kapal
rekreasi di pelabuhan tersebut.
Ada banyak resiko. Anda mungkin akan
mendapatkan sebuah bencana lingkungan,
seperti ketika kontainer ammonia nitrat keluar
dari Pacific Venturer pada bulan Maret 2009 di
laut bebas, membuat lubang di lambung kapal
dan menumpahkan 30 ton minyak berat 20
kilometer sepanjang garis pantai.
Cukup buruk melakukan pengikatan di atas
dok, apalagi di laut lepas. Ketidakstabilan akan
begitu besar, menaikkan tiga besi tinggi saat
kapal bergerak. Pelaut sudah melakukan
pekerjaan yang berat; mari kita tidak
membuatnya lebih berat. Buruh B/M ingin
bekerja dan kita ingin pekerjaan dilakukan
dengan selamat.
www.itfseafarers.org
8 halaman untuk panduan bagi anda
Photos: Patrice Terraz
Informasi
kontak
dan saran
International Labour Organisation/M Crozet
Hati-hati sebelum tandatangan kontrak :
saran dari ITF apabila akan bekerja dilaut.
Q
Jaminan terbaik bagi kejelasan kondisi kerja dilaut semata-mata hanya dengan menandatangani kontrak sesuai
perjanjian kolektif ITF. Apabila tidak bisa, maka berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan.
A
A
Jangan bekerja disuatu kapal tanpa kontrak
tertulis.
Jangan pernah menandatangani blanko
kontrak kosong atau suatu kontrak yang
nantinya akan mengikat anda dengan ketentuanketentuan dan persyaratan-persyaratan yang tidak
lazim atau tidak dimengerti oleh anda.
Periksalah apakah kontrak yang anda
tandatangani telah sesuai dengan PKB. Jika
ya, pastikan bahwa anda mengetahui dengan jelas
ketentuan-ketentuan dari PKB, dan simpanlah
sebuah salinannya bersama dengan kontrak anda.
A
A
A
Pastikan bahwa masa kontrak anda telah
tercantum dengan jelas.
Jangan menandatangani suatu kontrak yang
dapat memberikan kewenangan kepada
pemilik kapal untuk merubahnya secara sepihak
selagi anda masih terikat dengan kontrak yang
lama. Apapun yang telah disetujui dalam kontrak
hanya dapat dirubah dengan persetujuan bersama.
Harus selalu memastikan bahwa kontrak
tersebut dengan jelas menyatakan upah
pokok yang menjadi hak anda dan pastikan pula
bahwa dasar jam kerja anda ditulis dengan jelas
(misalnya 40, 44 atau 48 jam per minggu). ILO
menyatakan bahwa jam kerja dasar harus maksimum 48 jam per minggu (208 jam per bulan).
A
Pastikan bahwa kontrak yang ditandatangani dengan jelas mengatur tentang
waktu lembur yang dibayarkan dan berapa nilainya.
A
Bisa saja jumlah pembayaran lembur yang dihitung
per-jamnya secara keseluruhan lebih besar dari
upah pokok anda. Atau mungkin ada pembayaran
lembur tetap sebagai suatu jaminan lembur
bulanan, dalam hal ini maka besarnya untuk jam
kerja yang dilaksanakan melampaui waktu lembur
yang telah dijamin, harus dengan jelas dinyatakan.
ILO menetapkan bahwa semua jam kerja lembur
harus dibayar minimum 1,25x pembayaran normal
per-jamnya.
Pastikan bahwa kontrak anda dengan jelas
menyatakan berapa jumlah hari cuti yang
dibayarkan yang harus anda terima setiap bulan.
ILO menetukan pembayaran hari cuti tidak boleh
kurang dari 30 hari per-tahun (2,5 hari per-bulan
kalender).
A
tunjangan tambahan. Karena itu anda harus
mencoba untuk mendapatkan
konfirmasi/kepastian (lebih baik dalam perjanjian
tertulis atau hak kontrak) tentang besarnya
kompensasi yang dibayarkan kepada anda apabila:
●Sakit atau kecelakaan selama masa kontrak
●Meninggal dunia (jumlah yang harus dibayarkan
kepada ahli waris)
●Tenggelamnya kapal
●Kehilangan barang pribadi akibat tenggelamnya
kapal.
●PHK sebelum selesai kontrak.
Jangan menandatangani kontrak yang
isinya membatasi hak anda untuk bekerja,
melakukan hubungan, berkonsultasi atau diwakili
oleh serikat pekerja yang menjadi pilihan anda.
A
A
Pastikan bahwa pembayaran upah pokok,
lembur dan cuti tertera dengan jelas dan
terperinci dalam kontrak.
A
Jalan pernah menandatangani kontrak yang
menyatakan bahwa anda bertanggung
jawab atas sebagian/seluruh biaya penempatan
atau pemulangan anda.
A
A
Jangan menandatangani kontrak yang
memungkinkan pemilik kapal menahan atau
menerima sebagian dari upah anda selama masa
kontrak. Anda berhak sepenuhnya atas
pembayaran upah yang diperoleh pada setiap akhir
bulan kalender.
A
A
Sadarilah bahwa setiap kontrak pekerjaan
tidak selalu mencantumkan rincian
Pastikan bahwa anda diberi dan menerima
sebuah salinan kontrak yang anda
tandatangani.
Perikasa kontrak yang akan anda
tandatangani terutama menyangkut biayabiaya pemulangan anda.
Periksa ketentuan-ketentuan yang terkait
dengan pengakhiran kontrak anda termasuk
berapa kali pemberitahuan yang harus dibuat oleh
pemilik kapal kepada anda untuk mengakhiri
kontrak anda.
A
Ingat …apapun ketentuan dan
persyaratannya sebuah kontrak/perjanjian
yang secara suka rela anda setujui, secara hukum
akan dianggap sah dan mengikat.
A
Inspektur ITF
KANTOR PUSAT
49/60 Borough Road, London
SE1 1DR, United Kingdom
Tel: +44(0)20 7403 2733
Fax: +44(0)20 7357 7871
Telex: 051 8811397 ITF LDN G
Email: [email protected]
Website: www.itfglobal.org
KANTOR REGIONAL AFRIKA
PO Box 66540, Nairobi, Kenya
Tel: +254(0)20 444 80 19
Fax: +254(0)20 444 80 20
Email: [email protected]
KANTOR AFRIKA BARAT
1036 Avenue Dimbdolobsom,
3rd floor ex immeuble CEAO,
11 BP 832, Ouagadougou,
Burkina Faso
Tel: +226(0)50 30 19 79
Fax: +226(o)50 33 31 01
Email: [email protected]
KANTOR WILAYAH ARAB
PO Box 925875, Amman 11190,
Jordan
Tel/Fax: +962(0)6 569 94 48
Email: [email protected]
KANTOR REGIONAL
ASIA/PASIFIK
Tamachi Kotsu Building 3-2-22,
Shibaura, Minato-ku, Tokyo
108-0023, Japan
Tel: +81(0)3 3798 2770
Fax: +81(0)3 3769 4471
Email: [email protected]
KANTOR SUB-REGIONAL ASIA
12D College Lane, New Delhi
110001, India
Tel: +91(0)11 2335 4408/7423
Fax: +91(0)11 2335 4407
Email: [email protected]
KANTOR REGIONAL EROPA
European Transport Workers’
Federation (ETF), Galerie Agora,
Rue du Marché aux Herbes 105,
Boî te 11, B-1000 Brussels,
Belgium
Tel: +32(0)2 285 4660
Fax: +32(0)2 280 0817
Email: [email protected]
KANTOR SUB-REGIONAL EROPA
21/1 Sadovaya Spasskaya, Office
729, 107217 Moscow, Russia
Tel: +7 495 782 0468
Fax: +7 095 782 0573
Email: [email protected]
Website: www.itf.ru
KANTOR REGIONAL AMERIKA
TENGAH
Avenida Rio Branco 26-11 Andar,
CEP 20090-001 Centro, Rio de
Janeiro, Brazil
Tel: +55(0)21 2223 0410/2233
2812
Fax: +55(0)21 2283 0314
Email: [email protected]
Website: www.itf-americas.org
Segera hubungi salah satu inspektur kami jika anda
memerlukan bantuan dan jika anda bekerja dikapal berbendera
kemudahan atau kapal asing lainnya yang tidak dilindungi
dengan perjanjian kerja dengan serikat buruh anda. Jika
ditempat tersebut tidak ada Inspektur ITF, segera hubungi
Action Unit dikantor pusat ITF atau hubungi kantor-kantor
perwakilan ITF terdekat (lihat disebelah kiri).
ARGENTINA
Buenos Aires
●Rodolfo Vidal
Tel/Fax: +54(0)341 425 6695
Mobile: +54(0)911 4414 5911
Email: [email protected]
Rosario
●Roberto Jorge Alarcón*
Tel/Fax: +54(0)11 4331 4043
Mobile: +54(0)911 4414 5687
Email: [email protected]
AUSTRALIA
Fremantle
●Keith McCorriston
Tel: +61(0)8 9335 0500
Fax: +61(0)8 9335 0510
Mobile: +61(0)422 014 861
Email: [email protected]
Melbourne
●Matt Purcell
Tel: +61(0)3 9329 5477
Fax: +61(0)3 9328 1682
Mobile: +61(0)418 387 966
Email: [email protected]
Sydney
●Dean Summers*
Tel: +61(0)2 9267 9134
Fax: +61(0)2 9267 4426
Mobile: +61(0)419 934 648
Email: [email protected]
Townsville
●Graham Bragg
Tel: +61(0)7 4771 4311
Fax: +61(0)7 4721 2459
Mobile: +61(0)419 652 718
Email: [email protected]
BELGIUM
Antwerp
●Joris De Hert*
Tel: +32(0)3 224 3413
Fax: +32(0)3 224 3449
Mobile: +32(0)474 842 547
Email: [email protected]
●Marc Van Noten
Tel: +32(0)3 224 3419
Fax: +32(0)3 224 3449
Mobile: +32(0)475 775 700
Email: [email protected]
Zeebrugge
●Christian Roos
Tel: +32(0)2 549 1103
Fax: +32(0)2 549 1104
Mobile: +32(0)486 123 890
Email: [email protected]
BRAZIL
Paranaguá
●Ali Zini
Tel/Fax: +55(0)41 3422 0703
Mobile: +55(0)41 9998 0008
Email: [email protected]
Rio de Janeiro
●Luiz de Lima*
Tel: +55(0)21 2516 4301
Fax: +55(0)21 2233 9280
Mobile: +55(0)22 9423 5315
Email: [email protected]
Santos
●Renialdo de Freitas
Tel/Fax: +55(0)13 3232 2373
Mobile: +55(0)13 9761 0611
Email: [email protected]
CANADA
Halifax
●Gerard Bradbury
Tel: +1(0)902 455 9327
Fax: +1(0)902 454 9473
Mobile: +1(0)902 441 2195
Email: [email protected]
Hamilton
●Mike Given
Tel: +1(0)905 227 5212
Fax: +1(0)905 227 0130
Mobile: +1(0)905 933 0544
Email: [email protected]
Montreal
●Patrice Caron
Tel: +1(0)514 931 7859
Fax: +1(0)514 931 0399
Mobile: +1(0)514 234 9962
Email: [email protected]
Vancouver
●Peter Lahay*
Tel: +1(0)604 251 7174
Fax: +1(0)604 251 7241
Mobile: +1(0)604 418 0345
Email: [email protected]
CHILE
Valparaiso
●Juan Villalón Jones
Tel: +56(0)32 221 7727
Fax: +56(0)32 275 5703
Mobile: +56(0) 9250 9565
Email: [email protected]
COLOMBIA
Cartagena
●Miguel Sánchez
Tel: +57(0)5 666 4802
Fax: +57(0)5 658 3496
Mobile: +57(0)3 10 657 3399
Email: [email protected]
EGYPT
Port Said
●Talaat Elseify
Tel/Fax: +20(0)66 322 3131
Mobile: +20(0)10 163 8402
Email: [email protected]
ESTONIA
Tallinn
●Jaanus Kulv
Tel/Fax: +372(0)61 16 390
Mobile: +372(0)52 37 907
Email: [email protected]
ICELAND
Reykjavik
●Jónas Gardarsson
Tel: +354(0)551 1915
Fax: +354(0)552 5215
Mobile: +354(0)892 7922
Email: [email protected]
INDIA
Calcutta
●Chinmoy Roy
Tel: +91(0)332 459 7598
Fax: +91(0)332 459 6184
Mobile: +91(0)98300 43094
Email: [email protected]
Chennai
●K Sree Kumar
Tel: +91(0)44 2522 3539
Fax: +91(0)44 2526 3343
Mobile: +91(0)44 93 8100 1311
Email: [email protected]
Haldia
●Narain Adhikary
Tel: +91(0)332 425 2203
Fax: +91(0)332 425 3577
Mobile: +91(0)94345 17316
Email: [email protected]
Kochi
●Thomas Sebastian
Tel: +91(0)484 233 8249 / 8476
Fax: +91(0)484 266 9468
Mobile: +91(0)98950 48607
Email: [email protected]
Mumbai
●Kersi Parekh
Tel: +91(0)22 2261 6951 / 6952
Fax: +91(0)22 2265 9087
Mobile: +91(0)98205 04971
Email: [email protected]
●Hashim Sulaiman
Tel: +91(0)22 2261 8368 / 8369
Fax: +91(0)22 2261 5929
Mobile: +91(0)9819 969905
Email: [email protected]
Tuticorin
●DM Stephen Fernando
Tel: +91(0)461 2326 519 / 2339 195
Fax: +91(0)461 2311 668
Mobile: +91(0)94431 59137
Email: [email protected]
Visakhapatnam
●BV Ratnam
Tel: +91(0)891 2502 695 / 2552 592
Fax: +91(0)891 2502 695
Mobile: +91(0)98481 98025
Email: [email protected]
Q
CROATIA
Dubrovnik
●Vladimir Glavocic
Tel: +385(0)20 418 992
Fax: +385(0)20 418 993
Mobile: +385(0)98 244 872
Email: [email protected]
Rijeka
●Predrag Brazzoduro*
Tel: +385(0)51 325 343
Fax: +385(0)51 213 673
Mobile: +385(0)98 211 960
Email: [email protected]
Sibenik
●Milko Kronja
Tel: +385(0)22 200 320
Fax: +385(0)22 200 321
Mobile: +385(0)98 336 590
Email: [email protected]
DENMARK
Copenhagen
●Morten Bach
Tel: +45(0)33 36 13 97
Fax: +45(0)33 91 13 97
Mobile: +45(0)21 64 95 62
Email: [email protected]
FINLAND
Helsinki
●Simo Nurmi*
Tel: +358(0)9 615 202 55
Fax: +358(0)9 615 202 27
Mobile: +358(0)40 580 3246
Email: [email protected]
●Kenneth Bengts
Tel: +358(0)9 615 202 58
Fax: +358(0)9 615 202 27
Mobile: +358(0)40 455 1229
Email: [email protected]
●Ilpo Minkkinen
Tel: +358 (0)9 615 202 53
Fax: +358 (0)9 615 202 27
Mobile: +358 (0)40 728 6932
Email: [email protected]
Turku
●Jan Ö rn
Tel: +358(0)9 613 110
Fax: +358(0)9 739 287
Mobile: +358(0)40 523 3386
Email: [email protected]
●Costas Halas
Tel: +30(0)210 411 6610 / 6604
Fax: +30(0)210 413 2823
Mobile: +30(0)69 44 29 7565
Email: [email protected]
FRANCE
Dunkirk
●Pascal Pouille
Tel: +33(0)3 28 66 45 24
Fax: +33(0)3 28 21 45 71
Mobile: +33(0)6 80 23 95 86
Email: [email protected]
Le Havre
●François Caillou*
Tel: +33(0)2 35 26 63 73
Fax: +33(0)2 35 24 14 36
Mobile: +33(0)6 08 94 87 94
Email: [email protected]
Marseille
●Yves Reynaud
Tel: +33(0)4 91 54 99 37
Fax: +33(0)4 91 33 22 75
Mobile: +33(0)6 07 68 16 34
Email: [email protected]
St Nazaire
●Geoffroy Lamade
Tel: +33(0)2 40 22 54 62
Fax: +33(0)2 40 22 70 36
Mobile: +33(0)6 60 30 12 70
Email: [email protected]
Sète
●Stéphanie Danjou
Tel/Fax: +33(0)4 67 43 75 18
Mobile: +33(0)6 27 51 35 78
Email: [email protected]
GERMANY
Bremen
●Susan Linderkamp
Tel: +49(0)421 330 3333
Fax: +49(0)421 330 3366
Mobile: +49(0)151 1266 6006
Email: [email protected]
Hamburg
●Ulf Christiansen
Tel: +49(0)40 2800 6811
Fax: +49(0)40 2800 6822
Mobile: +49(0)171 641 2694
Email: [email protected]
Rostock
●Hartmut Kruse
Tel: +49(0)381 670 0046
Fax: +49(0)381 670 0047
Mobile: +49(0)171 641 2691
Email: [email protected]
GREECE
Piraeus
●Stamatis Kourakos*
Tel: +30(0)210 411 6610 / 6604
Fax: +30(0)210 413 2823
Mobile: +30(0)69 77 99 3709
Email: [email protected]
IRELAND
Dublin
●Ken Fleming
Tel: +353(0)1 874 3735
Fax: +353(0)1 874 3740
Mobile: +353(0)87 647 8636
Email: [email protected]
ISRAEL
Haifa
●Michael Shwartzman
Tel: +972(0)4 852 4289
Fax: +972(0)4 852 4288
Mobile: +972(0)544 699 282
Email: [email protected]
ITALY
Genoa
●Francesco Di Fiore
Tel: +39(0)10 25 18 675
Fax: +39(0)10 25 18 683
Mobile: +39(0)331 670 8367
Email: [email protected]
●Piero Luigi Re
Tel: +39(0)10 25 18 675
Fax: +39(0)10 25 18 683
Mobile: +39(0)335 707 0988
Email: [email protected]
➡
bersambung
Menolong Pelaut
diseluruh Dunia
Federasi Buruh Tra
is
Reykjavik
+354(0)551 1915 U
KANTOR SUB-REG
R
cdn
gb
KANTOR PUSAT ITF
Vancouver +1(0)604 251 7174
U
Hamilton +1(0)905 227 5212 UMontreal +1(0)514 931 7859
Seattle U
U Halifax +1(0)902 455 9327
U
+1(0)206 533 0995
R
Rb
KANTOR REGIONAL EROPA
usa
Portland U
+1(0)503 286 1223
U New York +1(0)718 499 6600 (ext 240)
tr
U Baltimore +1(0)410 882 3977
Los Angeles U
+1(0)562 493 8714
New Orleans
U Morehead City +1(0)252 726 9796
+1(0)504 581 3196
Houston U
U
+1(0)713
TampaU
659 5152
+1(0)321 UMiami
784 0686 +1(0)321 783 8876
mex
Haifa
+972(0)4 852 4289
U
il
Port Said U RKANTOR WI
+20(0)66 322 3131 hkj
e
Las Palmas
+34(0)928 467 630 U
et
Manzanillo
+52(0)314 332 8834 U
U
Veracruz
+52(0)229 932 1367
U San Juan +1787(0)783 1755
pr
bf R
U Cartagena +57(0)5 666 4802
kantor afrika barat
ngr
co
Lagos U
+234(0)1 793 6150
eak
kantor regional afrika
R
KANTOR PUSAT ITF
london
+44 (0)20 7403 2733
br
KANTOR REGIONAL AMERIKA TENGAH
Santos R
+55(0)13 3232 2373U U Rio de Janeiro +55(0)21 2516 4301
U
Paranaguá +55(0)41 3422 0703
KANTOR REGIONAL AMERIKA TENGAH
rio de janeiro
+55 (0)21 2223 0410
KANTOR REGIONAL EROPA
brussels
+32 (0)2 285 4660
ra
Valparaiso U
+56(0)32 221 7727
rch
Rosario +54(0)11 4331 4043
U
U Buenos Aires
++54(0)341 425 6695
za
Cape TownU
+27(0)21 461 9410
U Durban
+27(0)31 706 1433
KANTOR SUB-REGIONAL EROPA
moscow
+7 495 782 0468
Klik www.itfglobal.org/seafarers/msg-contacts.cfm untuk memperoleh data lengkap para inspektur ITF.
Inspektur ITF
Q
Q
Q
s
fin
n
U St Petersburg
Gä vleTurku
U Oslo
U U
U
U Stockholm U Helsinki
Tallinn
Porsgrunn
U
U Gothenburg
est
U
rus
U
Aberdeen U Stavanger
lv URiga
Helsingborg
dk U
Kaliningrad
South Shields Copenhagen
U
Urus
Liverpool U
Hamburg URostock U Gdynia
irl U U
U
Delfzijl U U
Dublin gb
Szczecin
Bremen
nl U
pl
BristolU Tilbury U Rotterdam
U UZeebrugge
U U
b Antwerp
ua
Dunkirk
d
Le HavreU
Odessa
Novorossiysk
U
USt Nazaire
U
Bergen
ransport International
f
Vigo U
Lisbon
U
Bilbao U
Trieste
ro
hr
RavennaUURijeka
U
Genoa
Sibenik
U
U
Marseille
U Dubrovnik
U i
Sète U U Livorno
p
U
Barcelona
e
Naples U
U Constanta
U Istanbul
tr
U Taranto
gr
PalermoU
rus
GIONAL EROPA
Vladivostock
+7(0)423 251 2485
U
kantor regional asia/pasifik RUChiba +81(0)50 1291 7326
Tokyo +81(0)35 410 8330
j UU
Seoul+82(0)2 716 2764
Yokohama +81(0)45 451 5585
UU
UOsaka +81(0)66 612 1004
Inchon rok
U
email: [email protected] Pusan
+82(0)51 469 0401/0294
ILAYAH ARAB
kantor sub-regional asia
R
Keelung
+886(0)2251 50302 U
rc
Calcutta +91(0)332 459 7598
U
Taichung
U
+886(0)2658 4514
U Haldia +91(0)332 425 2203
U ind
Mumbai
+91(0)22 2261 6951
UVisakhapatnam
+91(0)891 2502 695
Chennai +91(0)44 2522 3539
U
Tuticorin
Kochi U U +91(0)461 2326 519
+9(0)484 233 8249
U Colombo
+94(0)11 243 8326
U Manila +63(0)2 536 82 87
U Cebu City +63(0)32 256 16 72
rp
U Piraeus
Aberdeen
+44(0)1224 582 688
Marseille
+33(0)4 91 54 99 37
Antwerp +32(0)3 224 3413
Novorossiysk
+7(0)861 761 2556
Barcelona
+34(0)93 481 2766
Naples +39(0)81 26 50 21
Bergen +47(0)55 230 059
Odessa +380(0)482 429 901
Bilbao +34(0)94 493 5659
Oslo +47(0)22 825 835
Bremen +49(0)421 330 3333
Palermo +39(0)91 32 17 45
Bristol +44(0)151 427 3668
Piraeus +30(0)210 411 6610
Constanta
+40(0)241 618 587
Porsgrunn
+47(0)35 548 240
Copenhagen
+45(0)33 36 13 97
Ravenna
+39(0)54 44 23 842
Delfzijl +31(0)10 215 1166
Riga +371(0)7 073 436
Dublin +353(0)1 874 3735
Rijeka +385(0)51 325 343
Dubrovnik
+385(0)20 418 992
Rostock
+49(0)381 670 0046
Dunkirk
+33(0)3 28 66 45 24
Rotterdam
+31(0)10 215 1166
Gä vle +46(0)10 480 30 00
St Nazaire
+33(0)2 40 22 54 62
Gdynia
+48(0)58 661 60 96
Genoa +39(0)10 25 18 675
KANTOR WILAYAH ARAB
amman
+962 (0)6 569 94 48
KANTOR REGIONAL AFRIKA
nairobi
+254 (0)20 444 80 19
KANTOR AFRIKA BARAT
ouagadougou
+226 (0)50 30 19 79
KANTOR REGIONAL ASIA/PASIFIK
tokyo
+81 (0)3 3798 2770
KANTOR SUB-REGIONAL ASIA
new delhi
+91 (0)11 2335 4408/7423
aus
U Townsville
+61(0)7 4771 4311
Fremantle
+61(0)8 9335 0500 U
U Sydney +61(0)2 9267 9134
Melbourne
+61(0)3 9329 5477 U
Wellington
+64(0)4 801 7613 U
Sète +33(0)4 67 43 75 18
Gothenburg
+46(0)10 480 31 14
Sibenik +385(0)22 200 320
Hamburg
+49(0)40 2800 6811
South Shields
+44(0)191 455 1308
Helsingborg
+46(0)31 42 95 31
Stavanger +47(0)51 840 549
Helsinki
+358(0)9 615 202 55
Istanbul +90(0)216 347 3771
nz
St Petersburg
+7(0)812 718 6380
Stockholm
+46(0)8 791 4100
Szczecin +48(0)91 423 97 07
Tallinn +372(0)61 16 390
Kaliningrad
+7(0)401 265 6840
Taranto +39(0)99 47 07 555
Le Havre
+33(0)2 35 26 63 73
Tilbury +44(0)20 8989 6677
Lisbon +351 (0)21 391 8150
Trieste +39(0)40 37 21 832
Turku +358(0)9 613 110
Liverpool
+44(0)151 639 8454
Vigo +34(0)986 221 177
Livorno +39(0)58 60 72 379
Zeebrugge +32(0)2 549 1103
➡
Leghorn/Livorno
●Bruno Nazzarri
Tel: +39(0)58 60 72 379
Fax: +39(0)58 68 96 178
Mobile: +39(0)335 612 9643
Email: [email protected]
Naples
●Paolo Serretiello
Tel: +39(0)81 26 50 21
Fax: +39(0)81 56 30 907
Mobile: +39(0)335 482 706
Email: [email protected]
Palermo
●Francesco Saitta
Tel/Fax: +39(0)91 32 17 45
Mobile: +39(0)338 698 4978
Email: [email protected]
Ravenna
●Giovanni Olivieri*
Tel: +39(0)54 44 23 842
Fax: +39(0)54 45 91 852
Mobile: +39(0)335 526 8464
Email: [email protected]
Taranto
●Gianbattista Leoncini
Tel/Fax: +39(0)99 47 07 555
Mobile: +39(0)335 482 703
Email: [email protected]
Trieste
●Paolo Siligato
Tel/Fax:+39(0)40 37 21 832
Mobile: +39(0)348 445 4343
Email: [email protected]
Inspektur ITF
MEXICO
Manzanillo
●Honorio Aguilar
Tel/Fax: +52(0)314 332 8834
Mobile: +52(0)1 314 122 9212
Email: [email protected]
Veracruz
●Enrique Lozano
Tel/Fax: +52(0)229 932 1367 / 3023
Mobile: +52(0)1 229 161 0700
Email: [email protected]
NETHERLANDS
Delfzijl
●Ruud Touwen*
Tel: +31(0)10 215 1166
Fax: +31(0)10 423 3933
Mobile: +31(0)65 331 5072
Email: [email protected]
Rotterdam
●Debbie Klein
Tel: +31(0)10 215 1166
Fax: +31(0)10 423 3933
Mobile: +31(0)65 318 2734
Email: [email protected]
●Aswin Noordermeer
Tel: +31(0)10 215 1166
Fax: +31(0)10 423 3933
Mobile: +31(0)65 333 7522
Email: [email protected]
Szczecin
●Adam Mazurkiewicz
Tel: +48(0)91 423 97 07
Fax: +48(0)91 423 93 30
Mobile: +48(0)501 539 329
Email: [email protected]
PORTUGAL
Lisbon
●João Pires
Tel: +351 (0)21 391 8150
Fax: +351 (0)21 391 8159
Mobile: +351 (0)91 936 4885
Email: [email protected]
PUERTO RICO
San Juan
●Felipe García-Cortijo
Tel: +1787(0)783 1755
Fax: +1787(0)273 7989
Mobile: +1787(0)410 1344
Email: [email protected]
ROMANIA
Constanta
●Adrian Mihalcioiu
Tel: +40(0)241 618 587
Fax: +40(0)241 616 915
Mobile: +40(0)722 248 828
Email: [email protected]
Q
JAPAN
Chiba
●Shigeru Fujiki
Tel: +81(0)50 1291 7326
Fax: +81(0)3 3733 2627
Mobile: +81(0)90 9826 9411
Email: [email protected]
Osaka
●Mash Taguchi
Tel: +81(0)66 612 1004 / 4300
Fax: +81(0)66 612 7400
Mobile: +81(0)90 7198 6721
Email: [email protected]
Tokyo
●Shoji Yamashita*
Tel: +81(0)35 410 8330
Fax: +81(0)35 410 8336
Mobile: +81(0)90 3406 3035
Email: [email protected]
Yokohama
●Fusao Ohori
Tel: +81(0)45 451 5585
Fax: +81(0)45 451 5584
Mobile: +81(0)90 6949 5469
Email: [email protected]
KOREA
Inchon
●Jang Kyoung-Woo
Email: [email protected]
Pusan
●Sang Gi Gim
Tel: +82(0)51 469 0401 / 0294
Fax: +82(0)51 464 2762
Mobile: +82(0)10 3585 2401
Email: [email protected]
●Bae Jung Ho
Tel: +82(0)51 463 4828
Fax: +82(0)51 464 8423
Mobile: +82(0)10 3832 4628
Email: [email protected]
Seoul
●Hye Kyung Kim*
Tel: +82(0)2 716 2764
Fax: +82(0)2 702 2271
Mobile: +82(0)10 5441 1232
Email: [email protected]
LATVIA
Riga
●Norbert Petrovskis
Tel: +371(0)7 073 436
Fax: +371(0)7 383 577
Mobile: +371(0)29 215 136
Email: [email protected]
NEW ZEALAND
Wellington
●Grahame McLaren
Tel: +64(0)4 801 7613
Fax: +64(0)4 384 8766
Mobile: +64(0)21 292 1782
Email: [email protected]
NIGERIA
Lagos
●Henry Akinrolabu
Tel/Fax: +234(0) 1 793 6150
Mobile: +234(0)803 835 9368
Email: [email protected]
NORWAY
Bergen
●Tore Steine
Tel: +47(0)55 230 059
Fax: +47(0)55 900 152
Mobile: +47(0)90 768 115
Email: [email protected]
Oslo
●Nils Pedersen*
Tel: +47(0)22 825 835 / 425 872
Fax: +47(0)22 423 056
Mobile: +47(0)90 148 487
Email: [email protected]
●Angelica Gjestrum
Tel: +47(0)22 825 824
Fax: +47(0)22 423 056
Mobile: +47(0)97 729 357
Email: [email protected]
Porsgrunn
●Truls M Hellenes
Tel: +47(0)35 548 240
Fax: +47(0)35 548 023
Mobile: +47(0)90 980 487
Email: [email protected]
Stavanger
●Aage Baerheim
Tel: +47(0)51 840 549
Fax: +47(0)51 840 501 / 502
Mobile: +47(0)90 755 776
Email: [email protected]
PHILIPPINES
Cebu City
●Joselito O Pedaria
Tel: +63(0)32 256 16 72
Fax: +63(0)32 253 25 31
Mobile: +63(0)920 970 0168
Email: [email protected]
Manila
●Rodrigo Aguinaldo
Tel: +63(0)2 536 82 87
Fax: +63(0)2 536 82 86
Mobile: +63(0)917 811 1763
Email: [email protected]
POLAND
Gdynia
●Andrzej Koscik
Tel: +48(0)58 661 60 96
Fax: +48(0)58 661 60 53
Mobile: +48(0)602 233 619
Email: [email protected]
RUSSIA
Kaliningrad
●Vadim Mamontov
Tel: +7(0)401 265 6840 / 6475
Fax: +7(0)401 265 6372
Mobile: +7(0)906 238 6858
Email: [email protected]
Novorossiysk
●Olga Ananina
Tel/Fax: +7(0)861 761 2556
Mobile: +7(0)988 762 1232
Email: [email protected]
St Petersburg
●Sergey Fishov*
Tel/Fax: +7(0)812 718 6380
Mobile: +7(0)911 096 9383
Email: [email protected]
●Kirill Pavlov
Tel/Fax: +7(0)812 718 6380
Mobile: +7(0)911 929 0426
Email: [email protected]
Vladivostock
●Petr Osichansky
Tel/Fax: +7(0)423 251 2485
Mobile: +7(0)423 270 6485
Email: [email protected]
SOUTH AFRICA
Cape Town
●Cassiem Augustus
Tel: +27(0)21 461 9410
Fax: +27(0)21 462 1299
Mobile: +27(0)82 773 6366
Email: [email protected]
Durban
●Sprite Zungu*
Tel/Fax: +27(0)31 706 1433
Mobile: +27(0)82 773 6367
Email: [email protected]
SPAIN
Barcelona
●Joan Mas García
Tel: +34(0)93 481 2766
Fax: +34(0)93 298 2179
Mobile: +34(0)629 302 503
Email: [email protected]
Bilbao
●Mohamed Arrachedi
Tel: +34(0)94 493 5659
Fax: +34(0)94 493 6296
Mobile: +34(0)629 419 007
Email: [email protected]
Las Palmas
●Victor Conde
Tel: +34(0)928 467 630
Fax: +34(0)928 465 547
Mobile: +34(0)676 057 807
Email: [email protected]
Vigo
●Luz Baz
Tel/Fax: +34(0)986 221 177
Mobile: +34(0)660 682 164
Email: [email protected]
SRI LANKA
Colombo
●Ranjan Perera
Tel: +94(0)11 243 8326 / 248 3295
Fax: +94(0)11 278 5091
Mobile: +94(0)77 314 7005
Email: [email protected]
SWEDEN
Gä vle
●Peter Lövkvist
Tel: +46(0)10 480 30 00
Fax: +46(0)87 23 18 03
Mobile: +46(0)70 626 77 89
Email: [email protected]
Gothenburg
●Göran Larsson
Tel: +46(0)10 480 31 14
Fax: +46(0)31 13 56 77
Mobile: +46(0)70 626 77 88
Email: [email protected]
●Göran Nilsson
Tel: +46(0)10 480 31 21
Fax: +46(0)31 13 56 77
Mobile: +46(0)76 100 65 12
Email: [email protected]
Helsingborg
●Sven Save
Tel: +46(0)31 42 95 31
Fax: +46(0)31 42 95 01
Mobile: +46(0)70 57 49 713
Email: [email protected]
Stockholm
●Carl Tauson*
Tel: +46(0)8 791 4100
Fax: +46(0)8 212 595
Mobile: +46(0)70 59 26 896
Email: [email protected]
●Annica Barning
Tel: +46(0)8 454 8405
Fax: +46(0)8 411 6940
Mobile: +46(0)70 57 49 714
Email: [email protected]
TAIWAN
Keelung
●Huang Yu-Sheng*
Tel: +886(0)2251 50302
Fax: +886(0)2250 61046 / 78211
Mobile: +886(0)933 906 398
Email: [email protected]
Taichung
●Sanders Chang
Tel: +886(0)2658 4514
Fax: +886(0)2658 4517
Mobile: +886(0)955 415 705
Email: [email protected]
TURKEY
Istanbul
●Muzaffer Civelek
Tel: +90(0)216 347 3771
Fax: +90(0)216 347 4991
Mobile: +90(0)535 663 3124
Email: [email protected]
UKRAINE
Odessa
●Nataliya Yefrimenko
Tel: +380(0)482 429 901 / 902
Fax: +380(0)482 429 906
Mobile: +380(0)503 366 792
Email: [email protected]
UNITED KINGDOM
Aberdeen
●Norrie McVicar*
Tel: +44(0)1224 582 688
Fax: +44(0)1224 584 165
Mobile: +44(0)7768 652 257
Email: [email protected]
Bristol
●Bill Anderson
Tel/Fax: +44(0)151 427 3668
Mobile: +44(0)7876 794 914
Email: [email protected]
Liverpool
●Tommy Molloy
Tel: +44(0)151 639 8454
Fax: +44(0)151 346 8801
Mobile: +44(0)7764 182 768
Email: [email protected]
South Shields
●Neil Keith
Tel: +44(0)191 455 1308 / 1224 582 688
Fax: +44(0)191 456 1309
Mobile: +44(0)7748 841 939
Email: [email protected]
Tilbury
●Chris Jones
Tel: +44(0)20 8989 6677
Fax: +44(0)20 8530 1015
Mobile: +44(0)7921 022 600
Email: [email protected]
UNITED STATES
Baltimore
●Arthur Petitpas
Tel: +1(0)410 882 3977
Fax: +1(0)410 882 1976
Mobile: +1(0)443 562 3110
Email: [email protected]
Houston
●Shwe Tun Aung
Tel: +1(0)713 659 5152
Fax: +1(0)713 650 8629
Mobile: +1(0)713 447 0438
Email: [email protected]
Los Angeles
●Stefan Mueller-Dombois
Tel: +1(0)562 493 8714
Fax: +1(0)562 493 7190
Mobile: +1(0)562 673 9786
Email: [email protected]
Miami
●Hans Saurenmann
Tel: +1(0)321 783 8876
Fax: +1(0)321 783 2821
Mobile: +1(0)305 360 3279
Email: [email protected]
Morehead City
●Tony Sacco
Tel/Fax: +1(0)252 726 9796
Mobile: +1(0)252 646 2093
Email: [email protected]
New Orleans
●Dwayne Boudreaux*
Tel: +1(0)504 581 3196 (ext 7)
Fax: +1(0)504 568 9996
Mobile: +1(0)504 442 1556
Email: [email protected]
New York
●Enrico Esopa*
Tel: +1(0)718 499 6600 (ext 240)
Fax: +1(0)718 832 8870
Mobile: +1(0)201 417 2805
Email: [email protected]
Portland
●Martin Larson
Fax: +1(0)503 286 1223
Mobile: +1(0)503 347 7775
Email: [email protected]
Puerto Rico
See separate listing for Puerto Rico
Seattle
●Lila Smith
Tel: +1(0)206 533 0995
Fax: +1(0)206 533 0996
Mobile: +1(0)206 818 1195
Email: [email protected]
●Jeff Engels*
Tel: +1(0)206 633 1614
Fax: +1(0)206 675 1614
Mobile: +1(0)206 331 2134
Email: [email protected]
Tampa
●Tony Sasso
Tel: +1(0)321 784 0686
Fax: +1(0)321 784 0522
Mobile: +1(0)321 258 8217
Email: [email protected]
*sebagai koordinator ITF
Federasi Buruh Transport Internasional
Anda butuh bantuan?
Jika ya, hubungi kami dan berikan
informasi
Berikut adalah informasi yang perlu anda sampaikan kepada
kami saat anda membutuhkan pertolongan ITF. Anda dapat
menghubungi ITF Actions Team, Maritime Operations
Department, email: [email protected] atau fax:+44 20 7940 9285
atau +44 20 7357 7871. Ini adalah data informasi yang harus anda
siapkan:
➨ Nama anda
Data-data anda
(akan dirahasiakan)
➨Nomor telepon anda
➨Jabatan anda dikapal
(contohnya AB)
➨Kewarganegaraan anda
➨SNama kapal
➨Type kapal
➨Bendera
➨Nomor IMO
➨Posisi terkini kapal
➨Pelabuhan berikutnya + ETA
➨Jumlah dan kewarganegaraan
Data-data kapal
Patrice Terraz
awak kapal
➨Jenis dan jumlah muatan
➨Nama pemilik/operator kapal
➨Uraikan masalah anda
Apa masalahnya?
dengan jelas.
➨Berapa lama masalah ini
sudah anda alami?
➨Adakah masalah lain yang
serupa dikapal?
➨Sudah berapa lama anda
dikapal?
➨Bantuan apa yang anda
inginkan? (contohnya : gaji
yang belum terbayar,
pemulangan dll).
●Mau melakukan
aksi protes?
●Baca dulu ini!
ITF berkomitmen untuk membantu
para pelaut yang bekerja dikapalkapal FOC guna memperoleh upah
yang layak dan dilindungi oleh
perjanjian kolektif.
Kadangkala para pelaut disuatu
tempat harus melakukan suatu
tuntutan hokum dipengadilan
setempat. Dilain waktu dapat juga
melakukan boikot terhadap suatu
kapal. Setiap aksi yang dilakukan
harus sesuai dengan kondisi daerah
tersebut. Tindakan yang dibenarkan
disuatu Negara, dapat saja
dipersalahkan dinegara lain.
Hal pertama yang harus anda
lakukan adalah menghubungi
perwakilan ITF setempat. Anda dapat
menghubunginya melalui alamat
email dan nomor telepon yang ada
pada halaman tengah bulletin ini.
Anda membutuhkan saran dan
petunjuk mengenai aturan-aturan
hukum setempat sebelum
melakukan tindakan apapun.
Hukum dibeberapa Negara tidak
memperbolehkan anda maupun
teman-teman anda melakukan
mogok dan untuk kasus demikian
maka perwakilan ITF setempat akan
menjelaskan kepada anda.
Dibanyak Negara, kunci untuk
memenangkan perselisihan adalah
dengan pemogokan. Namun sekali
lagi, anda harus memperhatikan
petunjuk dari perwakilan ITF
setempat. Anda berhak melakukan
pemogokan dimanapun selama
kapal anda berada dipelabuhan dan
bukannya dilaut.
Dalam aksi pemogokan maka yang
paling pokok adalah semua orang
harus tetap disiplin, teratur dan
kompak. Dan ingat, hak untuk
mogok adalah hak asasi setiap orang
yang dijamin dibanyak Negara, baik
oleh hukum maupun konstitusi
Negara tersebut.
Apapun yang anda pilih untuk
dilakukan, jangan lupa berbicara
terlebih dahulu dengan wakil ITF
setempat sebelum anda
melakukannya. Dengan bekerja
sama kita dapat memenangkan
perjuangan demi keadilan dan hakhak kita.
ANTIGUA AND BARBUDA
BAHAMAS
BARBADOS
BELIZE
BERMUDA
BOLIVIA
BURMA/MYANMAR
CAMBODIA
CAYMAN ISLANDS
COMOROS
CYPRUS
EQUATORIAL GUINEA
FRANCE (second register)
GEORGIA
GERMANY (second register)
LEBANON
LIBERIA
GIBRALTAR
HONDURAS
MALTA
MARSHALL ISLANDS
JAMAICA
Bendera Kemudahan
MAURITIUS
MONGOLIA
NETHERLANDS ANTILLES
NORTH KOREA
PANAMA
SÃO TOMÉ & PRÍ NCIPE
SRI LANKA
ST. VINCENT & THE GRENADINES
TONGA
VANUATU
Ini adalah bendera-bendera kebangsaan kapal yang oleh
Federasi Buruh Internasional disebut BENDERA KEMUDAHAN
Sebagai tambahan, ada negara-negara tertentu tempat pendaftaran kapal yang melaksanakan pendaftaran dari kapal ke kapal yang beroperasi dibawah bendera kemudahan.
KANTOR ITF, 49-60 BOROUGH ROAD, LONDON SE1 1DR TEL: +44 (0)20 7403 2733 FAX: +44 (0)20 7357 7871 EMAIL: [email protected] INTERNET: WWW.ITFGLOBAL.ORG
International Labour Organisation/M Crozet
Pelaut memperoleh
sebuah ketentuan baru
tentang hak-hak asasi
Konvensi Buruh Maritim 2006
berhasil membuat dan menetapkan
ketentuan-ketentuan baru untuk para
pelaut. 6 halaman ini adalah sebagai
panduan singkat untuk mengetahui
arti dari konvensi tersebut bagi anda.
www.itfseafarers.org
P
elaut segera akan melihat manfaat nyata
dari kondisi kerja mereka, sebagai hasil
dari Konvensi Buruh Maritim ILO, 2006,
dengan nama lain dikenal dengan Seafarers’ Bill
of Rights (aturan hak asasi pelaut).
Konvensi ini memberikan hak dan perlindungan yang komprehensif di tempat kerja bagi pelaut
diseluruh dunia.
Yang paling penting, ada sistim penegakan
yang komprehensif untuk semua kapal,
meskipun negara benderanya belum
menandatangani konvensi.
ITF dan afiliasinya memainkan sebuah peran
utama dalam membuat konvensi tersebut di ILO.
“Ini adalah kendaraan nyata untuk perubahan
dan sebagai alat untuk peningkatan kualitas
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
27
➡
Konvensi Buruh Maritim
dalam industri maritim,”kata John Whitlow,
sekretaris ITF seafarer’s section. “ kita
memperjuangkan hak pelaut di konvensi,
kalimat demi kalimat, isu demi isu. Sekarang kita
ingin pelaut menggunakannya, dan berani
menyatakan komplain jika mereka tidak
menerima hak mereka.”
MLC 2006, akan diberlakukan 12 bulan setelah
ratifikasi oleh sekitar 30 negara anggota ILO
dengan total porsi sekitar 33 persen dari berat
kotor tonase kapal dunia. Saat ini, lima negara
telah meratifikasi konvensi tersebut, yakni
Bahama, Liberia, Kepulauan Marshall, Nigeria
dan Panama.
Menurut ILO, standar tinggi ratifikasi tersebut
didesain untuk mencapai perubahan yang nyata
bagi sektor ini, tidak hanya tanda tangan
simbolis. Negara-negara yang bertanggung
jawab untuk meregulasi kondisi-kondisi pada
mayoritas armada niaga dunia perlu
mengimplementasikan standar-standar di
tingkat nasional.
Konvensi Buruh Maritim adalah aturan/
ketentuan hak pelaut, yang diperjuangkan oleh
ITF dan afiliasinya.
Ini memberikan hak dasar dan perlindungan di
tempat kerja. MLC menyatakan bahwa pelaut
berhak atas:
➨Tempat kerja yang selamat dan aman
➨Syarat dan kondisi kerja yang saling
menguntungkan
➨Kondisi tinggal dan kerja yang layak
➨Perlindungan social seperti akses ke
perawatan medis, perlindungan kesehatan dan
kesejahteraan.
MLC juga memiliki sistim penegakan yang
komprehensif, tetapi pelaut perlu melaporkan
masalah-masalah mereka agar sistimnya dapat
bekerja dengan baik.problems for the system to
work.
medis, perlindungan kesehatan dan
kesejahteraan.
ATURAN DASAR
Pelaut didefinisikan sebagai seseorang yang
dipekerjakan, berhubungan atau bekerja dalam
kapasitas apapun di atas kapal yang dicakup
konvensi. Ini termasuk riding gangs dan staf
katering pada kapal-kapal pesiar, begitu juga
dengan personil lainnya.
Konvensi ini mencakup/berlaku pada semua
kapal, kecuali dinyatakan lain. Kapal-kapal yang
tidak dimasukkan adalah yang hanya berlayar di
pedalaman, kapal ikan, kapal perang and
peralatan militer lainnya, serta kapal-kapal yang
dibuat secara tradisional seperti dhow dan junks.
Pelaut harus berusia lebih dari 16 tahun, dan
anda harus memiliki surat keterangan medis
yang menyatakan fit untuk tugas anda.
Konvensi ini membahas kondisi kerja,
akomodasi, fasilitas rekreasi, makanan dan
katering, perlindungan kesehatan, perawatan
medis, kesejahteraan dan perlindungan jaminan
sosial;
MLC mengingatkan semua orang bahwa hak
dasar yang berhubungan dengan pekerjaan
harus dipertahankan. Ini termasuk;
● Hak kebebasan berserikat – hak anda untuk
bergabung dengan serikat pekerja pilihan anda
● Pengakuan efektif untuk hak berunding secara
kolektif – hak dari serikat pekerja anda untuk
berunding PKB (Perjanjian Kerja Bersama) atas
nama anda.
Secara singkat, anda memiliki hak untuk
memilih tempat kerja yang selamat dan aman,
dimana standar-standar harus dipatuhi, dimana
anda memiliki syarat-syarat kerja yang adil,
kondisi tinggal dan kerja yang layak serta
perlindungan sosial seperti akses ke perawatan
28
Fokus MLC
Buletin Pelaut ITF 2010
HAK-HAK ANDA
Gaji
Anda memiliki hak untuk dibayar secara teratur
dan penuh, paling tidak secara bulanan, dan
sesuai dengan kesepakatan atau PKB. Majikan
anda harus memberikan kepada anda slip gaji
bulanan. Catatan lembur harus disimpan oleh
Nakhoda dan anda wajib memberikan
persetujuan atas kebenarannya setiap bulannya.
Majikan anda harus memastikan bahwa anda
dapat mengirimkan semua atau sebagian dari
penghasilan anda ke kampung halaman. Anda
juga punya hak untuk menolak adanya biayabiaya yang tidak masuk akal untuk pelayanan
seperti itu.
Hak-hak anda termasuk:
● Anda harus mendapatkan secara penuh
semua yang menjadi hak yang harus dibayarkan
saat berakhirnya pengerjaan.
● Tidak ada pengurangan yang dapat dilakukan
terhadap gaji anda, termasuk biaya untuk
mendapatkan pekerjaan, kecuali dinyatakan
sebagai diijinkan oleh hukum nasional atau
kesepakatan dalam PKB.
JAM KERJA DAN JAM ISTIRAHAT
Jam kerja normal didasarkan atas delapan jam
sehari dengan satu hari istirahat dalam
seminggu.
Negara bendera kapal dapat memutuskan
apakah akan mendasarkan pada batasan jam
kerja maksimum atau jam istirahat minimum.
Jam kerja maksimum :
●Anda tidak boleh bekerja lebih dari 14 jam
dalam satu periode 24 jam.
● Anda tidak boleh bekerja lebih dari 72 jam
dalam satu periode tujuh .
Jam istirahat minimum
● Anda harus mendapatkan paling sedikit 10 jam
istirahat dalam satu periode 24 jam.
● Anda harus mendapatkan paling sedikit 77 jam
istirahat dalam satu periode tujuh hari.
Jam istirahat dapat dibagi menjadi tidak lebih
dari dua periode, satu periodenya harus tidak
boleh kurang dari 6 jam. Anda tidak boleh
bekerja lebih dari 14 jam tanpa istirahat. Tetapi
dalam situasi darurat saat keselamatan kapal
dan kru dalam bahaya, atau untuk memberikan
bantuan pada kapal atau orang lain yang berada
dalam masalah di laut, Nakhoda dapat menunda
jadwal kerja hingga masalah tersebut teratasi.
Pengaturan Jam Kerja
Semua kapal harus menampilkan pengaturan
jam kerja di atas kapal dalam bahasa yang
berlaku di kapal dan bahasa Inggris. Hal tersebut
harus termasuk:
● Jadwal tugas jaga dilaut dan dipelabuhan
● Jam kerja maksimum atau waktu istirahat
minimum yang diminta oleh undang-undang
atau PKB yang berlaku.
Catatan jam kerja dan jam istirahat harus
dicatat sehingga dapat diperiksa kembali untuk
memastikan kepatuhan terhadap
regulasi/aturan. Anda harus menerima salinan
jam kerja/istirahat anda yang telah disahkan.
Hak untuk Cuti
Anda berhak untuk mendapatkan cuti dengan
bayaran dan cuti darat serta hak cuti tahunan
minimum yang dihitung berdasarkan 2,5 hari
untuk setiap satu bulan kalender kerja.
Pemulangan
Anda punya hak untuk dipulangkan dengan
tanpa membayar biaya apapun. Periode
maksimum yang bisa diharapkan dari anda untuk
bekerja di atas kapal sebelum mendapatkan hak
pemulangan dengan biaya pemilik kapal adalah
12 bulan.
Akomodasi dan fasilitas rekreasi
Negara bendera kapal harus menggolkan
undang-undang dan regulasi yang mewajibkan
kapal mengibarkan bendera mereka untuk
memenuhi standar kelaikan akomodasi yang
harus diinspeksi untuk pemenuhan kepatuhan.
Makanan dan katering
Kapal harus membawa bahan makanan dan air
minum yang berkualitas dan menyediakannya
dengan gratis selama periode kerja anda.
Perbedaan agama dan budaya juga harus
dipertimbangkan.
Koki kapal harus terlatih dan berkualifikasi
➡
www.itfseafarers.org
“
Hak-hak tidak
diberikan kepada
kita oleh
pemerintahpemerintah
negara, kita
harus berjuang
untuk
mendapatkannya. Tidak
mudah untuk
mendapatkannya. Serikat
pekerja harus
bekerja bersama
untuk mencapai
tingkat
ketentuan hak
yang seperti ini.
”
Oleh Jon Whitlow
ITF terlibat aktif dalam semua perundingan MCL.
TIni adalah rangkaian kerja yang sangat inovatif :
dalam hal konvensi-konvensi ILO, ini jauh lebih detail
dari biasanya. Kita menghabiskan banyak waktu terkait
masalah kepatuhan serta penegakan aturan, dan kami
merasa ini sudah paling baik dari kemungkinan yang
ada, mengingat perlunya meyakinkan perjanjian
tripartit.
Setiap kapal yang berbobot lebih dari 500 GT, yang
beroperasi di perairan internasional atau antar
pelabuhan di negara yang berbeda, harus memiliki
sertifikat buruh maritim. Ini berarti mayoritas kapalkapal dunia perlu sertifikat ini.
Untuk pertama kalinya, akan ada inspeksi regular
tentang hak sosial dan buruh global. Dan bahkan kapal
yang tanpa sertifikat dapat diinspeksi.
Tetapi pelaut sekarang harus memainkan peran
mereka. Kami meminta pelaut untuk berdiri tegak dan
berjuang, serta menggunakan hak mereka, dengan
mengajukan komplain jika hak mereka tidak diberikan.
Jika pelaut melaporkan adanya klausul anti serikat
pekerja, gaji tidak dibayar atau dobel pencatatan, untuk
pertama kalinya ini akan ada di bawah wewenang PSC.
Pelayaran FOC telah menutup mata terhadap hak-hak
sosial dan perburuhan. Meskipun ada kewajiban
menurut hukum internasional, sekarang hal ini akan
dapat ditegakkan.
Hak-hak tidak diberikan kepada kita oleh
pemerintah-pemerintah negara, kita harus berjuang
untuk mendapatkannya. Tidak mudah untuk
mendapatkannya. Serikat pekerja harus bekerja
bersama untuk mencapai tingkat ketentuan hak yang
seperti ini. Dan serikat pekerja berjuang untuk
meningkatkan hak-hak sosial dan kerja minimum. Ini
tidak dapat digunakan sebagai alat untuk menurunkan
hak-hak yang sudah ada.
Jika digunakan dengan baik, konvensi ini akan
menjadi senjata yang utama.
ITF terus bekerja terkait MLC. Kita sekarang sedang
terlibat untuk melobi ratifikasinya, dengan serikatserikat pekerja nasional. Dari tanda yang terlihat,
nampaknya akan banyak yang meratifikasi.
Kita sedang melatih inspektur-inspektur ITF, dan
membuat panduan dan kertas fakta yang
disederhanakan. Pelaut harus menghubungi para
inspektur karena mereka memiliki peran kunci dalam
memastikan pemberian hak-hak pelaut.
Puncaknya, kita akan mengukur keberhasilannya
dengan apa yang dapat diraih konvensi tersebut di
dunia nyata dan bagaimana pengaruhnya terhadap
orang-orang di darat.”
TIMO telah memutuskan bahwa tema ditahun ini dalam World Maritime
Day (Hari Maritim sedunia) 2010 – yang akan diperingati selama seminggu
mulai 20 sampai 24 September – yaitu "Tahun Pelaut". Tujuan dari pada
IMO adalah "memberikan penghargaan kepada pelaut diseluruh dunia
atas kontribusi unik dari mereka kepada masyarakat dan berbagai resiko
yang mereka pikul dalam menjalankan tugasnya disuatu lingkungan yang
sering tidak bersahabat".
www.itfseafarers.org
Sumber foto: International Labour Organisation/M Crozet
ITF dan Konvensi Pekerja
Maritim (MLC)
APA MAKNANYA BAGI SAYA
Inspektur ITF
Ilpo Minkkinen, Inspektur
ITF, Serikat Pelaut
Finlandia (FSU)
“ Saya telah berpartisipasi
dalam pertemuanpertemuan dengan
pemerintah dan pengusaha
tentang legislasi nasional
kita. Kita harus mengubah
legislasi kita untuk dapat
mengimplementasi dan
meratifikasi MLC 2006.
Saya ingin mengingatkan
para pemilik kapal dan
perwakilan pemerintahan
bahwa MLC 2006 hanyalah
standar minimum dan kita
selalu dapat mengubahnya
menjadi lebih bak; misalnya
terkait akomodasi, fasilitas
rekreasi, makanan dan
katering. Saya telah
berkunjung kapal-kapal
berbendera Finlandia dan
berdiskusi dengan para
pelaut, wakil komite
keselamatan dikapal dan
pengurus serikat pekerja
serta meminta pendapat
mereka tentang masalahmasalah ini. Tetapi
keprihatinan saya adalah
bahwa para pemilik kapal
berpikir MLC 2006 adalah
standar maksimum dan
bukan minimum. Jika sebuah
kapal tidak dilindungi oleh
perjanjian kerja bersama
yang diterima oleh ITF, maka
perjanjian kerja serta gaji
akan merujuk pada upah
minimum yang
direkomendasikan ILO. Di
negara kami, kami tidak
menerima gaji standar ILO di
kapal FOC ataupun yang
berbendera nasional, tetapi
pejabat PSC cukup
memperhatikannya. Jadi
saya yakin petugas PSC akan
menerapkan aturan-aturan
yang memberikan
perlindungan kepada kita.
Puncaknya saya rasa
pekerjaan saya sebagai
seorang inspektur ITF akan
sama saja seandainya MLC
2006 diberlakukan. Kami
memiliki serikat pekerja yang
kuat di Finlandia dan akan
30
berhasil dalam kampanye
FOC kami untuk
mengamankan upah layak
serta kondisi kerja yang baik.
Bagi para pelaut dengan
bendera nasional kami, ada
perubahan kecil. Tetapi bagi
para pelaut yang ada di atas
kapal FOC akan ada peluang
untuk meminta bantuan dari
lembaga PSC dinegara kami
terkait MLC 2006. Saya yakin
mereka akan menghubungi
kami untuk meminta
bantuan, khususnya ketika
menyangkut persoalan gaji.
Mereka dapat mengandalkan
pada kami untuk melakukan
upaya yang terbaik.
Apapun yang terjadi, saya
yakin para pelaut akan selalu
memerlukan serikat pekerja
yang kuat juga dukungan
yang kuat dari ITF untuk
membela hak-hak dasar
mereka..”
Petugas
pelayanan
Pelaut
Roger Harris, Komite
Kesejahteraan
Internasional(ICSW)
“ MLC 2006 memberikan
peluang penting untuk
meningkatkan profil
kesejahteraan pelaut dan
memasukkannya dalam
agenda maritim. Ini akan
berarti lebih banyak kerja
bagi ICSW untuk
memastikan bahwa aturanaturan kesejahteraan dalam
MLC dipahami secara
menyeluruh dan
dilaksanakan. Ini berarti
membangun kemitraan yang
konstruktif dengan para
pemilik kapal dan manajer,
pelabuhan, pemerintah, dan
organisasi-organisasi
kesejahteraan untuk
memastikan regulasiregulasi wajib dipatuhi dan
mengadopsi panduanpanduan yang dibuat
sendiri. Ini berarti akan lebih
Buletin Pelaut ITF 2010
banyak kerja untuk saya,
karena saya harus
memastikan bahwa ICSW
memainkan peran utama
dalam implementasi
regulasi-regulasi dan
panduan-panduan
kesejahteraan yang ada
dalam MLC.
MLC memperjuangkan hak
pekerja terkait
perlindungan, perawatan
kesehatan, langkah-langkah
kesejahteraan dan bentuk
perlindungan sosial lainnya.
MLC adalah sebuah langkah
maju, tidak seperti konvensikonvensi lainnya, konvensi
ini berlaku di semua negara,
meskipun negara yang
bersangkutan tidak
meratifikasinya. Ini juga
seharusnya berarti akses
lebih baik untuk layanan
kesejahteraan serta fasilitas
bagi pelaut.
Konvensi tersebut adalah
sangat penting karena
mengakui bahwa pelaut
adalah manusia dengan hak
atas kesejahteraan yang
harus dihargai dan
ditegakkan. Konvensi
tersebut juga mengakui
pentingnya pemberian
layanan kesejahteraan serta
fasilitas-fasilitas, baik di
kapal maupun di darat serta
membangun strukturstruktur yang dapat
mewujudkannya.”
“
MLC adalah sebuah
langkah maju, tidak
seperti konvensikonvensi lainnya,
konvensi ini berlaku
di semua negara,
meskipun negara
yang bersangkutan
tidak
meratifikasinya.
”
International Labour Organisation/J Maillard
Konvensi Buruh Maritim
➡
yang layak, kecuali untuk kapal yang jumlah
krunya kurang dari 10 orang atau untuk kapal
yang lama pelayarannya tidak lebih dari sebulan.
Perlindungan kesehatan dan
keselamatan serta pencegahan
kecelakaan
Anda berhak untuk tinggal dan bekerja dalam
sebuah lingkungan yang aman dan sehat dimana
budaya keselamatan dan kesehatan selalu aktif
dipromosikan.
Jika anda berada di kapal dengan lima atau
lebih pelaut, anda harus memilih atau menunjuk
seorang wakil untuk terlibat dalam komite
keselamatan kapal.
Perawatan medis di atas kapal dan di
darat
Ketika anda berada di kapal anda harus dapat
melindungi kesehatan anda dan dapat secara
cepat mengakses perawatan medis, termasuk
perawatan gigi, jika anda memerlukannya.
Kondisi anda seharusnya tidak lebih buruk dari
orang-orang yang bekerja di darat. Ini berarti
anda harus dapat secara cepat mengakses obat
yang diperlukan, perlengkapan medis dan
fasilitas untuk diagnosis, penanganan dan juga
informasi atau petunjuk penanganan medis.
Untuk kapal yang membawa 100 atau lebih
penumpang, pada perjalanan internasional atau
lebih dari tiga hari, harus ada seorang dokter
bersertifikat di kapal.
Tanggungan Pemilik Kapal
Pemilik kapal bertanggung jawab terhadap biaya
apa saja akibat dari kondisi sakit, luka atau
kematian yang terhubung dengan kerja anda,
dari tanggal anda mulai kerja hingga anda
dipulangkan, atau dapat mengklaim biaybiaya
medis dalam kerangka skema
asuransi/kompensasi.
Jika anda memerlukan obat, perawatan medis,
atau harus pergi jauh dari rumah padahal kondisi
anda sedang dalam perawatan, pemilik kapal
harus membayar biayanya hingga anda sembuh
atau sampai anda telah berhenti bekerja karena
cacat permanen.Tanggung jawab pemilik kapal
untuk membayar biaya-biaya tersebut terbatas
www.itfseafarers.org
International Labour Organisation/M Crozet
“
Jika anda berada di kapal
dengan lima atau lebih
pelaut, anda harus
memilih atau menunjuk
seorang wakil untuk
terlibat dalam komite
keselamatan kapal.
”
sekitar pelabuhan untuk melindungi kesehatan
dan kebugaran mereka. Hal-hal tersebut harus
dapat anda akses dengan mudah terlepas
apapun kebangsaan, ras, warna, jenis kelamin,
agama, pilihan politik, kelas sosial dan bendera
kapal anda.
Pemilik kapal harus, jika memungkinkan,
memberikan cuti darat- ini bukan kewajiban yang
melekat dalam tugas PSC.
Jaminan sosial
Anda dan keluarga anda memiliki hak
mendapatkan akses untuk perlindungan jaminan
sosial. Negara harus menyediakan paling tidak
tiga bidang jaminan sosial dan bidang yang
direkomendasikan, yakni perawatan medis,
biaya perawatan jika sakit dan akibat kecelakan
kerja.
PEREKRUTAN, PENEMPATAN DAN
PERJANJIAN KERJA
Agen pengawakan yang menawarkan layanan
perekrutan tidak boleh meminta biaya atas
pekerjaan yang mereka carikan untuk anda.
Biaya yang dapat ditagihkan ke anda hanyalah
surat keterangan dokter/medis, buku pelaut
nasional, paspor atau dokumen perjalanan
serupa lainnya. Biaya visa harus dibayar oleh
pemilik kapal.
Perjanjian Kerja Pelaut
Akses ke fasilitas kesejahteraan yang di
darat.
Anda berhak atas perjanjian atau kontrak kerja
yang menjelaskan tentang kondisi akomodasi
dan kerja yang layak di atas kapal.
Perjanjian/kontrak tersebut harus
ditandatangani oleh anda dan pengusaha anda,
mudah dimengerti dan dapat dilaksanakan
secara sah. Atas nama pengusaha,
perjanjian/kontrak dapat ditandatangani oleh
pemilik kapal, perwakilan pemilik kapal atau
pihak lain yang mengambil alih tugas dan
tanggung jawab operasi kapal.
Semua informasi tentang persyaratan dan
kondisi kerja, termasuk PKB, harus dapat
secara bebas diakses oleh setiap orang yang
ada di kapal dan tersedia untuk inspeksi di
pelabuhan.
Semua pelaut yang bekerja di atas kapal harus
memiliki akses atas layanan yang berada di
Apa saja yang ada dalam perjanjian kerja anda?
hingga 16 minggu dari hari didapatnya
luka/penyakit, jika dinyatakan dalam undangundang/regulasi nasional.
Jika anda tidak mampu bekerja sebagai akibat
dari luka/penyakit anda harus mendapatkan gaji
penuh sepanjang anda masih di kapal. Ketika
anda pulang, maka undang-undang nasional
atau PKB akan menentukan apakah anda tetap
mendapatkan gaji penuh, sebagian atau
pembayaran tunai. Pembayaran-pembayaran
tersebut mungkin terbatas hingga 16 minggu dari
didapatkannya luka/penyakit.
www.itfseafarers.org
● Nama lengkap anda, tanggal dan tempat lahir
● Nama dan alamat pemilik kapal
● Tempat dan tanggal ditandatanganinya
perjanjian
● Posisi di kapal misalnya Masinis-III, A/B,
Cook
● Jumlah gaji anda dan bagaimana
penghitungannya
● Jumlah cuti tahunan yang dibayar
● Kondisi pengakhiran kontrak kerja, termasuk
waktu pemberitahuan untuk perjanjian kerja
yang tidak tertentu
● Tanggal kadaluwarsa – jika kontrak kerja
adalah waktu tertentu anda berhak tahu kapan
akan berhenti kerja
● Pelabuhan tujuan – jika kontrak kerja adalah
untuk tujuan perjalanan tertentu anda harus
tahu berapa lama dari sejak anda tiba hingga
anda selesai kerja
● Jaminan kesehatan dan sosial disediakan
oleh pemilik kapal
● Rincian hak pemulangan anda
● Acuan ke PKB, bila berlaku demikian
● Rincian lain sebagaimana diminta oleh
hukum nasional.
APA YANG TERJADI JIKA PELAUT TIDAK
MENERIMA HAK-HAK TERSEBUT?
Sebagai seorang pelaut anda dapat melakukan
komplain di kapal kepada Perwira senior,
Nakhoda, pemilik kapal atau pejabat negara
bendera kapal. Anda juga dapat mengajukan
komplain ke petugas PSC /inspektur
ketenagakerjaan. Anda tidak harus
melakukannya sendiri, orang lain, misalnya
inspektur ITF atau petugas pelayanan dapat
melakukannya untuk anda.
Negara-negara bendera kapal, negara
pelabuhan dan negara pemasok tenaga kerja,
semuanya memiliki tanggung jawab untuk
memastikan kepatuhan dan penegakan
terhadap hal-hal yang diminta oleh MLC.
Prosedur mengajukan komplain di
kapal
➡
Harus ada prosedur yang tersedia di kapal anda
yang membuat anda dapat mengajukan
Buletin Pelaut ITF 2010
31
Konvensi Buruh Maritim
APA MAKNANYA BAGI SAYA
Petugas PSC
Luigi Giardino, petugas PSC
Italia
“Adanya konvensi MLC, akan
menjadi medan pertarungan
yang setara bagi mitra tripartit,
memberikan manfaat pada
pemerintah (negara bendera
kapal), pemilik kapal dan para
pelaut. Sudah saatnya
masyarakat pelaut dan mitra
sosial bekerja lebih dekat untuk
memastikan semua pelaut
mempunyai kondisi kerja yang
layak.
Sebelumnya, banyak
konvensi maritim yang
membuat kesulitan bagi
pemerintah-pemerintah negara
untuk memenuhi dan
menerapkan semua
standarnya. Banyak dari
standar yang ada sudah
ketinggalan jaman, dan tidak
merefleksikan kondisi kerja dan
realita hidup saat ini di atas
kapal. Ada kebutuhan untuk
mengembangkan sistim
penerapan dan kepatuhan yang
lebih efektif yang akan
membantu menghapuskan
kapal-kapal di bawah standar.
Juga perlu adanya kerjasama
dengan sistim internasional
yang sudah mapan dalam
penegakan standar-standar
internasional bagi keselamatan
dan keamanan kapal serta
perlindungan lingkungan yang
telah diadopsi oleh
International Maritime
Organization.
Kapal harus disertifikasi
➡
untuk memastikan bahwa
mereka sejalan dengan prinsipprinsip internasional MLC.
Diharapkan bahwa ini akan
membuat lebih mudah dalam
mengidentifikasi kapal-kapal
yang perlu diinspeksi.
Sebuah kapal yang
disertifikasi menurut otoritas
bendera dimana kapal itu
berhak membawanya akan
lebih sedikit diinspeksi di luar
negeri. Pengawas pelabuhan
perlu lebih fokus terutama pada
kapal yang, kondisinya terlihat
dibawah standar. Ini termasuk
kapal-kapal yang tidak
disertifikasi jika negara
bendera mereka belum
meratifikasi konvensi.”
Pengurus
serikat pelaut
nasional
Juan Luis Villalon, inspektur
ITF, Chili
“ Di Chili, kita telah
memainkan bagian yang besar
dalam pengembangan MLC di
tingkat nasional. Kami baru
saja menciptakan Badan
Pekerja Niaga Maritim, yang
menyatukan serikat pekerja
maritim, federasi, lembaga
kursus, perwira dan bawahan.
Kami, sebagai pekerja,
sekarang memiliki peran yang
unik dalam melakukan
pendekatan pada otoritas
komplain tentang pelanggaran terhadap
Konvensi dan hak anda, termasuk hak untuk
tinggal dan bekerja dalam kondisi yang layak.
Anda harus mencoba menyelesaikan
persoalan anda di level terendah mungkin,
meskipun anda punya hak untuk langsung ke
Nakhoda, atau otoritas eksternal seperti
perwakilan negara bendera kapal. Anda punya
hak untuk didampingi seorang perwakilan atau
sesama pelaut dan dalam situasi apapun anda
tidak dapat dikorbankan hanya karena anda
mengajukan komplain/keluhan. Jika komplain
tidak dapat diselesaikan di kapal, anda harus
32
Buletin Pelaut ITF 2010
berwenang jika kita punya
permintaan dan masalah, dan
selalu berkonsultasi dalam
setiap pembuatan rancangan
peraturan yang baru.
Secara politis, ILO selalu
ingin Chili meratifikasi atau
paling tidak mengadopsi
beberapa konvensi.
Pemerintah kami
memutuskan untuk memulai
sebuah konsultasi tripartit
terkait MLC. ILO melihat sebuah
kesempatan yang sangat bagus
dalam mempromosikan hal ini
di Amerika Latin dan
mengadakan seminar di kantor
sub-Regional mereka.
Semua pihak melihat
persoalan-persoalan yang
mereka pikir harus
dimasukkan. Beberapa isu
relevan adalah adanya
perbedaan antara pengawakan
yang memenuhi standar dan
pengawakan komersial,
pentingnya departemen
“
Kami, sebagai pekerja,
sekarang memiliki peran
yang unik dalam
melakukan pendekatan
pada otoritas berwenang
jika kita punya
permintaan dan masalah,
dan selalu
dikonsultasikan
bersama.
”
merujuk hal tersebut ke darat, bisa ke pemilik
kapal atau otoritas negara bendera kapal,
negara pelabuhan atau institusi yang ada di
negara anda. Ketika anda naik ke kapal, anda
harus mendapatkan salinan prosedur
pengajuan komplain/keluhan di kapal.
PEMENUHAN
Setiap negara bendera kapal punya hak untuk
menentukan sendiri bagaimana memenuhi MLC
sehingga kondisinya akan berbeda dari satu
negara bendera ke negara bendera kapal yang
lain. Ini diperbolehkan sepanjang hal-hal yang
katering di kapal, jam kerja,
akomodasi dan sertifikasi.
Meskipun kapal-kapal yang
terdaftar secara nasional
muncul dalam beberapa bagian
dari konferensi ini.
Sebuah draf sudah dibuat
sebagai sebuah laporan untuk
memulai konsultasi. Banyak
otoritas menghadiri konferensi
termasuk kementrian tenaga
kerja, Direktorat
ketenagakerjaan (Bagian
pengawasan), sub-sekretariat
maritim, sekretariat kesehatan,
otoritas maritim, asosiasi
pemilik kapal dan pekerja.
Kami melobi para otoritas
maritim dan pemilik kapal
untuk melibatkan sebanyak
mungkin orang dalam isu-isu
tersebut. Ini adalah langkah
awal untuk sebuah putaran
perundingan formal dan resmi
dengan pemerintah dan pemilik
kapal.
Sepanjang tahun tersebut,
semua isu terkait implementasi
MLC dibahas, khususnya, isuisu yang melibatkan modifikasi
regulasi-regulasi internal kami,
seperti Kode Etik Perburuhan,
STCW Nasional, regulasi kerja
di kapal, hukum pelayaran, dst.
ketika draf akhir selesai dan
mendapatkan persetujuan dari
semua pihak, sebuah laporan
kemudian dikirim ke ILO dan
sekarang ini, kami harus
melaporkan dalam Konferensi
Hemisfir terkait MLC
(Hemispheric Conference on
MLN) di Barbados, dimana saya
akan membantu sebagai
perwakilan pekerja.”
diminta oleh Konvensi terpenuhi dan kapal
tersebut mematuhi standar negara benderanya,
yang harus dijelaskan dalam Declaration of
Maritime Labour Compliance( DMLC).
Di samping terhadap DMLC, setiap kapal
berbobot lebih dari 500 GT, yang beroperasi di
perairan internasional antar pelabuhan di
negara yang berbeda, harus memiliki sertifikat
buruh maritim. Sertifikat tersebut untuk
mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut telah
memenuhi ketentuan Konvensi.
● Untuk informasi lebih lanjut kunjungi :
www.itfseafarers.org
www.itfseafarers.org
Rob Bremner/reportdigital.co.uk
Seorang pelaut dan keluarganya mendatangi Mersey Mission to Seafarers di Liverpool.
Pusat pelayanan pelaut
Manfaatkan mereka atau mereka akan hilang
Pusat pelayanan kesejahteraan
mungkin akan ditutup jika tidak
mendapatkan pengunjung yang
cukup, dan pelaut akan
kehilangan pusat-pusat
pelayanan tersebut.
www.itfseafarers.org
P
elaut telah menghadapi waktu yang sulit
pada tahun 2009. Banyak kapal tidak lagi
beroperasi dan masa kontrak kerja
menjadi lebih lama. Ketika jumlah kargo di
kapal lebih sedikit, kapal butuh waktu lebih
singkat untuk memuat, dan kru menghabiskan
waktu yang lebih sedikit untuk turun ke darat.
Ini berarti bahwa pusat-pusat pelayanan
pelaut juga mati suri. Hal itu disebabkan
kurangnya pengunjung, atau kalaupun mereka
berkunjung mereka tidak punya uang untuk
berbelanja. Penghasilan rutin seperti menjual
bir dan makanan kecil/minuman telah menurun
karena pembatasan yang lebih ketat terkait
konsumsi alkohol. Penjualan kartu telepon dan
penghasilan dari layanan telepon telah
menurun sejak tarif pulsa telepon semakin lebih
murah.
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
33
“
Kebutuhan pelaut
telah berubah
misalnya ada
kebutuhan akan
pusat pelayanan
yang lengkap dengan
akomodasi dan pusat
pelayanan tidak
harus besar-besar
tetapi haruslah
sebisanya lebih
dekat ke pelabuhan.
”
Pusat pelayanan Pelaut
Diperkirakan ada 650 pusat pelayanan pelaut dipelabuhan diseluruh dunia. Banyak yang
dioperasikan oleh anggota Asosiasi Maritim Kristen Internasional (ICMA). ITF Seafarers’ Trust
dengan ICMA, mendanai workshop di Hong Kong untuk mengumpulkan semua manajer pusat
pelayanan dan Chaplain dari seluruh dunia. Para manajer tersebut memfokuskan perhatiannya
pada faktor yang krusial dan pengalaman terbaik yang telah dipraktikkan untuk membuat pusat
pelayanan pelaut sukses.
➨Pusat pelayanan harus lebih fokus pada kebutuhan pelaut
➨Infrastruktur (lokasi, aksesibilitas, arsitektur) pusat pelayanan.
➨Integritas orang dan layanan yang berhubungan dengan pusat pelayanan
➨Prilaku dan profesionalisme staf dan sukarelawan
➨Hubungan pusat pelayanan dengan otoritas setempat, perusahaan-perusahaan
pelayaran dan masyarakat setempat
➨Transportasi yang dapat diandalkan harus disediakan
➨Penggalangan dana adalah bagian yang penting untuk mempertahankan layananlayanan yang berharga ini buat pelaut
Kelompok diskusi tersebut mengidentifikasi sejumlah isu, antara lain:
Pusat pelayanan harus dapat menawarkan suatu pelayanan yang istimewa, dan dengan
berkumpulnya mereka maka para manajer pusat pelayanan itu bisa lebih diyakinkan agar
mereka sungguh-sungguh memenuhi kebutuhan dari Pelaut.
➡
Perwakilan dari beberapa pusat pelayanan
pelaut seluruh dunia berkumpul di Hong Kong
pada bulan Oktober 2009 untuk melihat
bagaimana pusat-pusat pelayanan ini dapat
terus buka dan tetap memberikan dukungan
bagi pelaut.
Pelaut Filipina, Nonoy Baldon, datang ke
kelompok yang bertemu tersebut untuk berbagi
pengalamannya tentang pusat pelayanan pelaut
yang disambanginya akhir-akhir ini. Nonoy
mengatakan bahwa awak kapal sangat gembira
dapat bertemu dengan para pengunjung yang
dating kekapal mereka dipelabuhan, khususnya
jika para pelaut dapat dibantu untuk
berkomunikasi dengan keluarga mereka. Ia
berbicara tentang sedemikian mudahnya pelaut
dieksploitasi oleh para pedagang di pelabuhan
dan pernah sekali Ia harus membayar US$100
sebagai biaya sewa taksi selama 25 menit
menuju kota. Di bar setempat mereka sering
dilihat dan “diberikan” banyak snak dan
makanan serta minuman yang ujung-ujungnya
mereka disodori tagihan US$500 pada malam
itu.
Di pelabuhan lain Chaplain berkunjung
kekapal dan membawa mereka jalan-jalan
termasuk ke pusat pelayanan pelaut. Nonoy
berkomentar saat itu sangat menyenangkan
melihat rumput dan gunung dan setelah jalanjalan para awak kapal sangat gembira dan
mereka telah berbicara tentang pengalaman
mereka bahkan ketika sudah selesai kerja di
34
Buletin Pelaut ITF 2010
akhir kontrak kerjanya.
Hennie La Grange, Sekertaris Jenderal ICMA,
berkata, “workshop secara jelas
memperlihatkan gairah dan profesionalisme
para delegasi, dan kualitas perhatian yang
diberikan kepada pelaut oleh pusat-pusat
pelayanan ini. ICMA bangga dapat memberikan
dedikasi yang demikian untuk melayani pelaut.
Kami berharap bahwa hasil workshop tersebut
akan menjadi acuan kerja bagi semua pusat
pelayanan pelaut”
Roy Paul dari ITF Seafarers Trust juga
membantu memimpin workshop tersebut. Ia
mengatakan, “Sangat jelas bahwa pusat-pusat
pelayanan tersebut masih merupakan bagian
yang sangat penting dalam menyediakan
kesejahteraan bagi para pelaut. MLC 2006
menekankan kebutuhan untuk fasilitas
kesejahteraan yang berbasis di pelabuhan
dimana pusat-pusat pelayanan ini sudah ada di
banyak pelabuhan”.
“Kebutuhan pelaut telah berubah misalnya
ada kebutuhan akan pusat pelayanan yang
lengkap dengan akomodasi dan pusat
pelayanan tidak harus besar-besar tetapi
haruslah sebisanya lebih dekat ke pelabuhan.
Di atas semua itu meskipun pusat-pusat
pelayanan itu masih digunakan oleh Pelaut,
saya harap para pelaut akan tetap dapat
mengunjungi pusat-pusat pelayanan kapanpun
mereka bisa terutama untuk mendukung
operasional pusat-pusat pelayanan tersebut!”.
www.itfseafarers.org
ITF Seafarers’ Trust
Meningkatnya penggunaan
kontainer telah mempengaruhi
kesejahteraan pelaut. Bongkar
muat kapal dapat dilaksanakan
hanya dalam hitungan jam dan
tidak lagi hari sehingga
kesempatan untuk turun ke darat
yang tersedia bagi pelaut sangat
terbatas. Dibeberapa tempat,
kesempatan untuk mengunjungi
pusat pelayanan pelaut dikota
atau diluar pelabuhan telah
terkena dampaknya.
Cepat atau lambat kita melihat
bahwa kontainer dapat digunakan
dalam rangka memenuhi
kesejahteraan pelaut. Di
pelabuhan-pelabuhan diseluruh
dunia, banyak kontainer yang
dirubah menjadi pusat pelayanan
pelaut.
Pelaut mendapatkan sejumlah
manfaat dengan fasilitas
pelayanan kontainer baru ini.
Yang paling penting, kontainer ini
dapat dipindahkan lebih dekat ke
dermaga, yang memudahkan
untuk kunjungan. Ini mengapa ITF
Seafarers’ Trust mendanai dan
mendorong pelaut untuk
menggunakannya.
Wisma kontainer
Pada tahun 2009 ITF Seafarers
Trust mendanai pembukaan pusat
pelayanan pelaut kontainer di
pelabuhan General Santos,
Filipina. Proyek tersebut
dikoordinasikan dengan bantuan
otoritas pelabuhan dan Chaplain
Sr. Susan O. Bolanio. Bolanio
bersama dengan Uskup Gutierrez
melakukan pendekatan pada
MARINA (Maritime Industry and
National Administration), Bea
Cukai, Penjaga Pantai dan Otoritas
Pelabuhan Filipina (PPA).
TPPA berkomitmen untuk
menyediakan ruangan bagi
Apostleship of the Sea Services.
Perusahaan pengapalan buahbuahan multinasional, Dole
Philippines, mendonasikan
container berukuran 40ft melalui
general managernya Kevin Davis.
Perusahaan membangun
bangunannya, menambah pintupintunya serta jendela, lantai dan
membuat lapisan-lapisan selama
kurang dari sebulan, dan
mengubahnya menjadi pusat
pelayanan pelaut.
Drop-in center pelaut Stella
Maris lokasinya sangat strategis
bagi awak kapal yang turun
kedarat karena dapat ditempuh
www.itfseafarers.org
Sebuah solusi baru?
Laporan ROY PAUL
tentang inovasi
yang
dikembangkan
untuk memenuhi
kebutuhan Pelaut.
dengan jalan kaki dari kapal.
Pusat pelayanan ini memiliki
warnet dan telepon, termasuk
menyediakan makanan ringan dan
taman kecil dimana pelaut dapat
duduk di malam hari dan rileks.
ITF Seafarers’ Trust telah
mendanai sejumlah proyek
serupa. Di pelabuhan Cebu,
Filipina, dua buah container
berukuran 40 ft telah dirubah
menjadi pusat pelayanan pelaut.
Dan di pelabuhan Marseille
Perancis, bangunan dengan
bagian temporer yang
menyediakan tempat alternatif
yang mirip sebuah kontainer¸
dipergunakan sebagai drop-in
center.
Pelaut yang tiba di Pelabuhan
Apapa Nigeria, di Lagos, juga
dapat menemukan pusat
pelayanan kesejahteraan yang
sangat dekat dengan pelabuhan.
Otoritas pelabuhan menawarkan
sebuah tempat di sisi menara
pengawas pelabuhan, dan senter
baru yang didanai ITF dengan
empat komputer yang terhubung
dengan internet. Pelaut bisa
mendapatkan minuman ringan
dan cindera mata dari daerah
setempat.
Amos Kuje, sekretaris pengurus
Kesejahteraan Pelaut Nasional,
berkata, “Dengan bantuan otoritas
pelabuhan, kami telah mampu
membangun pusat pelayanan di
sini. Program-program yang
direncanakan untuk para pelaut di
senter ini termasuk menjadi tuan
rumah bagi pelaut dari kapalkapal kargo, container, curah dan
ro-ro yang tiba di terminal Apapa.
“Ruang dalam pusat pelayanan
digunakan untuk relaksasi, tenis
meja dan bulu tangkis. Layanan
bis gratis tersedia untuk
digunakan mengunjungi tempattempat yang¬ menarik,
berbelanja, ke gereja dan ke
masjid. Para sukarelawan telah
mengikuti Kursus Pengunjung
Kesejahteraan Kapal yang
disponsori oleh ICSW. Mereka
mengunjungi kapal-kapal secara
teratur dan tetap bertugas dipusat
pelayanan untuk memberikan
pelayanan bagi pelaut setiap hari
dari jam 9 pagi-9 malam”.
Kontainer adalah cara paling
baik untuk melayani pelaut
dengan fasilitas-fasilitas yang
bermanfaat, yang dekat dengan
pelabuhan. Jika kebutuhan
pelabuhan berubah maka
kontainer tinggal dipindahkan ke
tempat lain saja.
Barnabas Epu adalah seorang
sukarelawan di pusat pelayanan
Apapa dan Ia mengatakan, “Kami
telah memiliki banyak pengunjung
yang ke pusat pelayanan sejak
dibukanya. Kami beruntung ada di
lokasi ini di dalam pelabuhan
terkait adanya ISPS Code, para
pelaut dapat dengan mudah
dating kesini. Kami juga berada
ditempat yang aman, yang
memungkinkan pelaut untuk
berkunjung. Pelaut heran melihat
pusat pelayanan ini di dalam
pelabuhan dan mereka bahagia
karena dapat menghubungi
keluarga mereka”.
Tom Holmer dari ITF Seafarers’
Trust berkata, “kita akan terus
mendanai pusat-pusat pelayanan
model begini untuk membantu
pelaut mengakses layanan yang
mereka butuhkan. Kami senang
bahwa ditempat dimana pusatpusat pelayanan ini dibangun,
perusahaan pelayaran lokal dan
otoritas pelabuhan merespon
dengan positif dalam penyediaan
kontainer dan lokasi untuk
menempatkan kontainer.
Ditempat-tempat yang sama
otoritas pelabuhan merespon
kebutuhan-kebutuhan
kesejahteraan pelaut, dimana
pelabuhan-pelabuhan mereka
telah menyediakan listrik dan
layanan air, ini merupakan
bantuan yang luar biasa”.
Buletin Pelaut ITF 2010
35
IITF Seafarers dibuat dalam bahasa
Cina, Rusia dan Spanyol
Koordinator bidang Maritim ITF, Stephen
Cotton, menerangkan kepada kita tentang
website ITF Seafarers yang telah beroperasi
selama 18 bulan.
APA TUJUAN ITF MEMBUAT SUATU WEBSITE KHUSUS
UNTUK PELAUT?
SC: Sebagian besar pelaut mengetahui tentang ITF dan apa
yang dapat kita lakukan untuk mereka. Tetapi kita
kekurangan suatu media dimana hanya dengan sekali
pencet pelaut bisa menemukan informasi yang relevan
tentang ITF. Adalah juga penting bagi kita untuk
memberikan yang lebih kepada Pelaut dengan memberikan
lebih banyak pilihan interaktif dalam situs tersebut. Kami
berharap agar hal ini dapat membantu kita dalam
berkomunikasi dengan pelaut.
HAL-HAL BARU APA YANG ANDA SEDIAKAN KEPADA
PELAUT MELALUI SITUS INI?
SC: Pelaut saat ini bisa mencari informasi tentang kapal
mereka dan menjadi informasi-informasi penting lainnya,
seperti apakah kapalnya dilindungi dengan perjanjian ITF
atau apakah kapalnya telah diperiksa oleh ITF. Terdapat
juga satu forum diskusi interaktif, yaitu Crew Talk, dimana
pelaut bisa saling berbagi pengalaman tentang sesuatu
yang mereka alami. Konten baru yang lain adalah Inspektur
Blog, yang terbukti sangat populer. Tampaknya banyak yang
berminat mengetahui tentang apa yang dikatakan oleh para
inspektur, berbagi pengalaman diantara mereka dan nasihat
yang mereka tawarkan. Terdapat juga berita mingguan, yang
disusun sedemikian rupa sehingga pelaut bisa tetap
mengetahui perkembangan-perkembangan yang
mempengaruhi mereka.
SEJAUH INI, SEBERAPA SUKSESKAH WEBSITE
TERSEBUT?
SC: Kami mendapatkan tanggapan balik yang cukup
fantastik dari para pelaut yang telah mengunjungi situs ini,
dan komunikasi timbale balik semakin berkembang dan
sangat memberikan harapan. Sekarang semakin banyak
pelaut yang menghubungi kami melalui situs ini. Dan tahun
ini, dengan diluncurkannya situs ini dalam beberapa versi
bahasa, yang dalam hal ini masih terus dikembangkan, maka
kami harapkan kiranya situs ini akan semakin bermanfaat.
ANDA TADI MENGATAKAN SITUS DALAM BEBERAPA
BAHASA?
SC: Ya, tahun ini kami meluncurkan situs ini dalam bahasa
Cina, Rusia dan Spanyol. Kami benar-benar berupaya untuk
mewujudkan ini dan berharap bahwa situs ini akan
menampilkan pembicara-pembicara non-English lebih
mudah diakses terutama berbagai informasi serta saransaran menyangkut ketenagakerjaan dan hak serikat buruh.
APA SELANJUTNYA TENTANG SITUS INI?
SC: Tahun ini kami ingin agar sebanyak mungkin pelaut
dapat mengetahui berbagai hal dengan mengunjungi
website ini melalui beberapa versi bahasa. Kami juga secara
terus-menerus berupaya untuk mengembangkan isinya.
Kedepan kami akan menampilkan informasi kepada para
pelaut tentang Hak-hak asasi Pelaut (Maritime Labour
Convention 2006).
HOMEPAGE:
www.itfseafarers.org
dirancang untuk semua
tingkat pengguna web.
Anda bisa memilih bahasa
anda menggunakan
selector disebelah kanan
atas homepage untuk
mencari menu. ITF
Seafarers meliputi berita
mingguan maritim,
informasi tentang hak anda,
dan satu blog reguler dari
inspektur ITF.
APA YANG DIKATAKAN OLEH
BEBERAPA PENGGUNA :
Tetaplah bekerja
dengan baik ITF.
habfan
Selamat – Kerja
yang hebat.
Dean
Saya berterima
kasih karena dapat
menemukan situs
ini.
kabiyakngmarino
CREW TALK:
Jika anda berlayar selama
berbulan-bulan pada suatu
saat rasa keterasingan
akan menjadi suatu
masalah. Anda dapat
menghubungi pelaut lain
dan bercakap-cakap
tentang berbagai
pengalaman anda melalui
Crew Talk, yang adalah
merupakan forum diskusi
secara online. Sangat
mudah untuk mendaftar
dan nantinya akan tersedia
dalam bahasa
Cina/Rusia/Spanyol.
Bacon
Ini adalah situs
yang hebat teruskan!
seachaplain
Saya sangat
bergembira karena
ITF dapat
membantu mereka
INSIDE THE ISSUES:
Berbagai isu kami
kelompokkan bersamasama menjadi satu bagian
yang memuat berbagai isu
pilihan isu yang langsung
terkait dengan
kepentingan pelaut, dan
selanjutnya dapat
terhubung keberbagai
informasi maupun saran
praktis dengan hanya
tinggal mengklik saja.
www.itfseafarers.org
Situs yang hebat.
denz
Terima kasih.
Anda benarbenar hebat.
jacksplin
Thanks ITF! This
is a great move.
joey
Terima kasih ITF!
Ini benar-benar
sesuatu yang
hebat.
chaplainds
Selamat
bergabung di
situs yang bagus
ini.
Robert Dickson
37
Reuters/Bobby Yip
ITF telah
mengumpulkan para
ahli dari kalangan
serikat buruh dan
industry pelayaran
untuk memberikan
gambaran
pengaruhnya
terhadap pelaut,
terkait krisis ini: Anda
perlu baca hal ini.
Disusun oleh Nichola
Smith dari unit
kebijakan maritime di
kantor pusat ITF.
Diatas : kontainer-kontainer yang tak terpakai
terlihat ditimbun didepo kontainer dekat
suatu wilayah hunian di Hong Kong barat laut
pada tahun 2009.
38
Buletin Pelaut ITF 2010
Mencermati
P
angsa pelayaran mungkin adalah industri
paling mengglobal di dunia. Dalam krisis
saat ini, globalisasi ekonomi berarti
bahwa banyak industri dunia terkena dampak
dari terpuruknya ekonomi negara-negara
dalam mata rantai global. Kehilangan
pekerjaan merambah semua sektor pasar
maritim, meningkatnya penelantaran pelaut
dan tertunda serta tidak dibayarnya gaji para
pelaut.
ITF dan afiliasinya di seluruh dunia sedang
mencoba untuk melakukan tindakan dalam
rangka menangkal hal ini dan mencegah situasi
terburuk yang akan dialami oleh para pelaut,
tetapi para pemilik kapal juga sedang dalam
kesulitan, khususnya mereka yang tidak bermain
aman ketika mereka dalam masa-masa
menguntungkan.
Kami telah mengumpulkan tujuh ahli di
bidangnya dengan tujuan meminta mereka
memberikan pendapat mereka terkait krisis ini,
saran seperti apa yang ditawarkan serta
menjelaskan apa yang telah terjadi sejak
merebaknya situasi ini.
Mereka adalah:
Igor Pavlov – Presiden Seafarers’ Union of Russia
(SUR);
Jacqueline Smith – Presiden dari Norsk
Sjømannsforbund di Norwegia;
Abdulgani Y Serang – Sekertaris Jenderal
merangkap bendahara dari National Union of
Seafarers’ of India;
Nick Bramley – dari UNIA di Switzerland dan Ketua
seksi pelayaran sungai, danau dan
penyebarangan;
Paddy Crumlin – National Secretary dari Maritime
Union of Australia;
Brian Martis – Sekertaris Jenderal dari
International Maritime Employers’ Committee;
Giles Heimann –Direktur Group Business Services
Director of V-ships.
Bagaimana pengaruh
krisis ekonomi terhadap
pekerjaan anda?
Igor Pavlov Kondisi ekonomi secara
alamiah akan mempengaruhi serikat pekerja;
ada lebih banyak klaim terhadap perlindungan
terhadap hak dan tidak dilaksanakannya pasalpasal perjanjian kerja bersama (PKB); tetapi
kebanyakan klaim adalah terkait tertundanya
gaji. Jumlah kasus penelantaran telah meningkat secara drastis; kasus-kasus ini – dimana
para pemilik kapal meninggalkan kapal tanpa
bahan pokok yang cukup, makanan, gaji serta
pemulangan – adalah hal tersulit, semua kasus
penelantaran yang sekarang kita sedang tangani
adalah kapal-kapal yang tidak memiliki PKB.
Jacqueline Smith
Sebagai sebuah
serikat pekerja kami telah melihat semakin
www.itfseafarers.org
Krisis Ekonomi
banyaknya kapal-kapal yang dilabuhkan, dan hal
tersebut berakibat di PHK-nya awak kapal.
Seorang shop steward anggota kami telah
meminta bantuan dari serikat pekerja
menyangkut masalah tersebut dan terkait hakhak hukum serta perjanjian kerja awak kapal.
Para pemilik kapal mengganti bendera kapalkapal mereka dari Norwegian Ordinary Register
(NOR) menjadi FOC dan mengganti para pelaut
Norwegia dengan pelaut dari Negara-negara lain
yang gaji dan kondisi kerjanya jauh lebih rendah.
Karena banyak dari kapal-kapal ini beroperasi di
wilayah perairan Norwegia dan diwilayahwilayah dalam yurisdiksi Norwegia maka
tindakan ini dapat dikategorikan sebagai social
dumping.
kategori tertentu dampak negatifnya lebih dari
yang lain. Khusus untuk jalur trayek angkutan
sungai adalah pengangkutan muatan curah
(minyak, logam, biji besi, biji2an, bahan
bangunan dsb) serta kontainer. Pada krisis saat
ini, tutupnya beberapa pabrik berimbas pada
angkutan logam dan biji besi serta pasar
kontainer. Kita juga harus dapat bertahan dalam
musim panas yang kering serta surutnya air. Ada
banyak ketidakpastian tentang masa depan
karena banyak dari para pemberi kerja adalah
operator pemilik yang kekurangan modal serta
tidak memiliki persiapan yang cukup ketika harus
menghadapi krisis.
Abdulgani Y Serang India sebagai
(GFC) telah berdampak pada pekerjaan di MUA
terkait dua hal. Pertama, kebutuhan yang sangat
besar terkait sumber daya tambahan bagi anggota,
khususnya stevedoring (usaha B/M) dimana
konsekwensi ekonomi GFC yang memberikan
dampak utamanya. Beberapa pelabuhan muatan
curah mengalami penurunan hingga 60 persen dari
tonase muatan keseluruhan dalam kondisi normal,
pelabuhan-pelabuhan secara umum mengalami
pengurangan 30 persen dalam hal muatan secara
keseluruhan, semuanya terjadi hanya dalam
beberapa bulan. Secara alamiah, hilangnya
pekerjaan serta pengurangan jam yang parah baru
terjadi pertama kali ini dalam lebih dari satu
dekade. Kedua, ini membuat kita dan mitra aliansi
serikat pekerja berpikir dan bertindak secara
sebuah Negara yang ekonomi sedang
berkembang, cukup stabil dan tidak terkena
dampak pada tingkat yang sama sebagaimana
Negara-negara ekonomi maju. Untuk kami, krisis
ekonomi ini lebih merupakan persepsi pikiran
daripada fisik. Dengan pengalaman dari Negaranegara ekonomi maju, kita dapat menarik
pelajaran dan berada dalam posisi yang lebih
baik ketika harus menghadapi krisis.
Nick Bramley Dipelayaran lokal,
dampaknya sangat dramatis dengan total
penurunan hingga 25 persen tetapi untuk
www.itfseafarers.org
Paddy Crumlin Krisis Finansial Global
strategis di tingkat kebijakan nasional dan
internasional. Itu adalah tantangan bagi gerakan
serikat pekerja – apakah kita memiliki kapasitas
baik secara organisasi maupun secara intelektual
untuk meningkatkan diri sehingga mampu
menghadapi tantangan dan mencoba
mempengaruhi respon kebijakan?
Brian Martis Krisis telah
mempengaruhi industri pelayaran dengan begitu
signifikan. Ada sejumlah kapal tambat dan pasar
belum pulih pada tingkat yang tidak
menyebabkan kebangkrutan, Konsekwensinya,
banyak pemilik kapal berada dalam kesulitan
keuangan. Implikasinya bagi para pelaut adalah
bahwa beberapa pemilik kapal tidak dapat
memenuhi kewajiban mereka, tergantung pada
manajer kapal yang baik untuk menyadari tandatanda peringatan tersebut dan kemampuan
mereka untuk memastikan kapan pelaut
dihentikan kerjanya dan dipulangkan sebelum
situasinya tidak dapat dikendalikan lagi.
Giles Heimann
Krisis telah sangat
mempengaruhi pekerjaan kami, keuntungan
menguap. Saat ini ada 12 persen kapal
kontainer sedang tambat, beberapa laporan
bahkan mengatakan ini masih dapat meningkat
hingga 30%. Para pemilik kapal mencoba untuk
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
39
Reuters/Thierry Roge
➡
Para pelaut Eropa melakukan protes untuk menuntut upah serta kondisi kerja yang lebih baik didekat kantor pusat Komisi Eropa di Brussels.
memangkas biaya-biaya dan menghemat uang,
hal tersebut terlihat dalam perundingan Forum
Perundingan International (IBF) yang hingga
saat ini belum mencapai kesepakatan. Para
pemilik kapal di IMEC adalah para pemilik yang
bertanggung jawab tetapi mereka telah keluar
dari bisnis dan pelaut keluar dari pekerjaan,
para pemilik kapal menghargai adanya
pengertian dari keluarga besar ITF bahwa ini
adalah masa sulit bagi semua pihak.
Bagaimana respon anda
untuk membantu
anggota?
Serikat pekerja menawarkan saran serta
bantuan hukum kepada awak kapal ketika
berunding dengan Perusahaan tentang siapa
yang harus diphk atau dirumahkan didasarkan
terutama atas senioritas, kriteria-kriteria lain
juga dapat dipertimbangkan. Kami sedang
melobi Pemerintah Norwegia untuk membuat
regulasi bagi pengoperasian kapal di wilayah
yurisdiksi guna mengamankan pendapatan
dan lapangan pekerjaan sesuai standard
Norwegia, terlepas apa kebangsaan para
pelaut.
JS
Dalam semua kasus yang dilaporkan oleh
pelaut kepada serikat pelaut Rusia
tentang berbagai masalah (tertundanya gaji,
masalah dengan repatriasi, dsb.) serikat
pekerja ini berupaya melakukan berbagai hal
untuk membantu mereka melalui perundinganperundingan dengan pengusaha, permintaanpermintaan dukungan dari ITF atau dari serikat
pekerja lainnya, melalui klaim-klaim legal,
surat ke pemerintah dan kadang ke Presiden
(sebagaimana yang kita lakukan untuk awak
kapal Arctic Sea).
IP
40
Buletin Pelaut ITF 2010
Fokus
Pelaut dapat dengan mudah mengambil
langkah-langkah untuk dapat berada pada
posisi sebaik mungkin, apapun yang terjadi
dalam ekonomi.
➨Ketahui hak-hak anda
➨Bergabung ke serikat pekerja
➨Tingkatkan keahlian anda
Untuk informasi lebih lanjut dan bantuan
terkait semua hal di atas, kunjungi
www.itfseafarers.org dimana anda dapat
bergabung dalam debat di forum-forum
kita.
Meskipun krisis ekonomi telah
berdampak pada lalu lintas muatan
secara nasional maupun internasional, tetapi
belum ada hilangnya pekerjaan secara
substansial pada para pelaut India. Secara
persentatif, pelaut India tidak mengalami
penurunan secara drastis, dan mereka tetap
mempertahankan porsi pekerjaan di pelayaran
dunia.
AS
Kita harus memastikan bahwa langkahlangkah yang diambil tidak untuk
merespon krisis, yang nantinya juga akan
kembali “normal”. Jadi di lintas pelayaran lokal
kita telah secara aktif terlibat dalam lobi politik
untuk menentang meningkatnya penggunaan
buruh murah yang bersumber dari luar Eropa.
Bagi pelaut, wilayah utama kita selama ini
adalah bekerja keras untuk membuat Konvensi
Buruh Kelautan (MLC) segera diratifikasi oleh
Swiss. Hal tersebut kita harapkan dapat
tercapai dalam tahun 2010 (lihat halaman xx
untuk informasi lebih lanjut tentang MLC).
NB
Pada tingkat paling awal, kita
memberikan peluang kepada para
anggota untuk menemukan solusi terbaik yakni
PC
phk atau pengurangan jam kerja. Mereka
memberikan respon yang kreatif dengan
mengidentifikasi sebuah solusi yang
mengaitkan keduanya yakni dengan tetap
memproteksi pekerjaan tetapi mengurangi
biaya untuk pengusaha, sehingga dapat
meminimalkan hilangnya pekerjaan. Jika ada
phk yang diterima, hampir semuanya terjadi
dengan suka rela, perjanjian kerja bersama
menawarkan paket phk yang menarik. Serikat
pekerja juga berhasil melobi untuk
mendapatkan bantuan pemerintah secara
khusus dalam memberikan transisi bagi buruh
B/M yang terkena phk dengan diberikan
pelatihan pelaut, dengan prospek untuk
mendapatkan posisi sebagai Integrated
Ratings. Kita juga bekerja di tingkat nasional,
dengan mendesak pemerintah untuk
mengadopsi paket stimulus ekonomi yang
difokuskan untuk penciptaan lapangan kerja
secepatnya dan di tingkat internasional dengan
ITF serta ITUC untuk mempengaruhi debatdebat di forum seperti G20.
Bagaimana perbandingan
keterpurukan ekonomi
saat ini dengan kejatuhan
ekonomi global
sebelumnya?
Keterpurukan saat ini adalah
pengecualian. Situasi ini terjadi sebagai
akibat dari kegagalan ekonomi di Amerika.
Globalisasi telah membuat apa yang terjadi di AS
secara ekonomi maupun politik akan
berpengaruh pada belahan lain di dunia.
Supremasi dollar sebagai mata uang devisa
dalam ancaman. Beberapa negara secara
substansial telah mengurangi cadangan dollar
serta aset mereka yang berbasis dollar. Juga,
untuk pertama kalinya, minyak diperdagangkan
dengan Euro. Yang berkepentingan dalam
BM
www.itfseafarers.org
Krisis Ekonomi
“
Ini adalah keterpurukan
paling parah yang
pernah diingat, yang
mempengaruhi semua
sektor ekonomi dan
untuk industri kita,
pelayaran dan
pelabuhan, pelemahan
kepercayaan kosumen
memiliki dampak masif
terhadap permintaan
domestik dan juga pada
impor-impor kita
khususnya.
”
pelayaran memperhatikan dengan sungguhsungguh terbukanya perkembanganperkembangan. Keterpurukan ini lebih dari
sekedar siklus alami. Ini akan berlangsung
selama dua atau tiga tahun terlepas apapun yang
dikatakan oleh para politisi.
Krisis dalam industry pelayaran yang
terjadi di awal krisis minyak 1970 adalah
hasil dari perubahan yang tidak diduga dan
ekstrim terutama dalam permintaan untuk
angkutan laut dengan menggunakan kapal
tanker.
JS
Dalam penilaian saya, ini adalah
keterpurukan paling parah yang pernah
diingat, yang mempengaruhi semua sektor
ekonomi dan untuk industri kita, pelayaran dan
pelabuhan, pelemahan kepercayaan kosumen
memiliki dampak masif terhadap permintaan
domestik dan juga pada impor-impor kita
khususnya. Australia bagaimanapun juga
masih terlindungi karena komoditas suplai
kargo lepas kami seperti batu bara dan biji besi
ke tempat-tempat pembangkit listrik di Asia,
yang meskipun terkena dampaknya tetapi
berlangsung relatif singkat. Tidak ada keraguan
bahwa lobi gerakan buruh terhadap
pemerintah untuk stimulus ekonomi dini dan
dalam jumlah besar serta pembaharuan fokus
terkait pengembangan skill juga membantu
meringankan penderitaan pekerja.
PC
Menurut pada ahli IMF, krisis global ini
adalah yang terburuk sejak 1960. Menurut
analisa berdasarkan 15 krisis yang terjadi sejak
1960, untuk 21 ekonomi maju, jika resesi
berlangsung selama setahun akan
membutuhkan lebih dari lima tahun untuk
pemulihannya. Kelihatannya krisis sekarang ini
akan berlangsung lama dan sulit pulih.
IP
Ini adalah yang terburuk yang bisa
diingat. Tidak ada yang mengira
kedatangannya. Terjadi begitu cepat dari kondisi
yang begitu bagus menjadi begitu buruk, banyak
yang berpikir bahwa kondisi bagus akan terus
berlanjut begitu juga dengan permintaan kapalkapal tetapi ternyata kita hidup dalam dunia
gelembung. Krisis masih akan berlangsung
selama beberapa tahun mendatang.
GH
Dalam krisis sebelumnya banyak sekali
yang kehilangan pekerjaan. Para
Perwira dan bawahan India harus menunggu
berbulan-bulan hingga mereka dapat bekerja
kembali. Tapi untuk krisis saat ini,
kehilangannya belum sampai pada tingkat itu.
Gaji bawahan agak berkurang, gaji perwira
belum turun, dan permintaan masih sangat
banyak.
AS
Yang kita sadari sekali adalah
terjadinya periode depresi di sini di
Swiss, tidak diikuti oleh inflasi masif
sebagaimana di krisis-krisis sebelumnya. Kita
takut bahwa daya beli akan dipengaruhi oleh
hal ini, yang justru akan memperpanjang krisis.
NB
www.itfseafarers.org
Keragu-raguan pemerintah terkait stimulasi
ekonomi masih sama. Ketika harus
menyelamatkan bank-bank besar, uang sangat
mudah digelontorkan. Kita perlu lebih banyak
investasi publik dan dukungan bagi para
penganggur muda dan penganggur jangka
panjang.
Dimana wilayah yang
tumbuh dalam industri
ini?
Di Eropa, LNG (Gas Alam) akan
memainkan peran penting dalam
membantu upaya memperluas sumber-sumber
suplai tradisional, khususnya yang berasal dari
Rusia. Pertumbuhan ekonomi di Cina dan India
(pertumbuhan di kedua negara tersebut tidak
begitu terpengaruh dibandingkan dengan
belahan dunia lain). Kedua negara tersebut
lapar akan sumber daya dan ini akan
memastikan peluang besar bagi pelayaran.
BM
Saya rasa Cina tidak akan menjadi
penyelamat pemilik kapal sebagaimana
yang diprediksikan semua orang, karena
mereka adalah negara ekspor besar,
sedangkan impor diluar wilayah non-pabrikan
tidak begitu besar. Untuk saat ini, belum
terlihat di wilayah mana akan terjadi
pertumbuhan. Pangsa kapal kontainer telah
terlihat tetapi pemulihannya akan berlangsung
lambat. Mungkin para pemilik kapal Asia,
khususnya Jepang, akan lebih dahulu pulih.
GH
Apa saran yang akan anda
berikan pada pelaut yang
menderita akibat krisis
ini?
Saran utama saya adalah agar mereka
mengetahui haknya. Kita melihat banyak
perusahaan yang mengambil jalan pintas ketika
mem-phk awak kapalnya. Seorang pelaut tidak
dapat mencegah pemilik kapal yang
menambatkan kapal atau mengganti
benderaatau menggantikan pelaut tersebut
dengan tenaga kerja murah, tetapi mereka harus
mengikuti aturan hukum dan perjanjian kerja
bersama ketika melakukan hal tersebut.
JS
Ijinkan saya mengutip dua pribahasa Rusia
tua: “Seekor ikan akan mencari tempat yang
lebih dalam, dan seorang lelaki akan mencari
tempat yang lebih baik” dan “Ketika sudah baik
jangan mencari yang lebih baik”. Saya ingin
menyarankan agar para pelaut berpegang pada
IP
➡
Buletin Pelaut ITF 2010
41
Krisis Ekonomi
➡
yang kedua. Jika anda bekerja untuk sebuah
perusahaan selama beberapa tahun jangan
pernah pergi untuk mencari tawaran yang lebih
baik. Jika anda sekarang mencari sebuah
pekerjaan, harap ditanyakan ke serikat pekerja
apakah ada perjanjian kerja bersama yang
diterima ITF di kapal tersebut sebelum anda
menandatangani kontrak kerja. Jika tidak ada PKB
di kapal tersebut, saya sarankan agar jangan
mengambil pekerjaan ini. Sempatkan waktu
untuk mampir ke kantor SUR terdekat dimana
anda akan mendapatkan informasi lebih banyak
tentang perusahaan yang akan mempekerjakan
anda. Jika anda bukan anggota serikat pekerja,
anda dapat mendaftar menjadi anggota. Serikat
pekerja bukan organisasi amal dan memiliki
kewajiban dan tanggung jawab terhadap
anggotanya.
Kami menyarankan agar pelaut kita
memiliki pendangan yang positif dan
mencoba untuk tetap pada pekerjaan mereka.
Adalah lebih baik tetap bekerja dan
meningkatkannya, daripada tidak mempunyai
pekerjaan sama sekali. Pelaut India selalu gigih
berjuang demi harapan industri pelayaran dunia.
AS
Kita semua berharap bahwa ini akan
menjadi krisis singkat dan kita tahu akan
ada kekurangan pelaut dan boatmen
terampil/ahli dalam jangka panjang. Rekanrekan akan disarankan agar tidak kehilangan
harapan dan tetap berhubungan dengan serikat
pekerja yang ada di daerahnya untuk
mendapatkan bantuan dan dukungan. Dan
serikat pekerja harus mencari kemungkinankemungkinan untuk dapat membantu atau
melobi untuk bantuan pelatihan, re-training, dan
meningkatkan kualifikasi bagi mereka yang
terkena dampak krisis ini sampai mereka
mendapatkan pekerjaan lagi.
NB
Saran yang ingin saya tawarkan ke buruh
B/M, pelaut dan serikat pekerja mereka
adalah bahwa kita harus mengambil peluang yang
ada saat ini. Kapitalisme hanya dapat berfungsi
efisien dan stabil dengan berfungsinya pangsa
tenaga kerja. Dan ini adalah sesuatu yang pekerja
dan serikat pekerja dapat memberikan pengaruh
yang besar. Meskipun demikian, kita harus
bertindak secara bersama untuk mempengaruhi
dampak potensial tersebut.
PC
Kapan menurut Anda
kondisi akan mulai
membaik secara
finansial?
Kemungkinan dua atau tiga tahun dari
sekarang.
BM
42
Buletin Pelaut ITF 2010
Saat ini saya menemukan laporan dari
pers, baik terkait industri maupun
lainnya, sangat memusingkan. Setiap hari
mereka melaporkan pemulihan “green shoots”,
laporan-laporan semacam ini tidak membantu,
ada kebutuhan untuk pengakuan dari industri
dimana kita ada di dalamnya dalam masa-masa
finansial yang sulit, bisa saja berlangsung lima
tahun sebelum kita dapat kembali mendekati
situasi di saat kondisi bagus. Pengusaha
kelautan di IMEC memiliki niat yang murni untuk
menjalani semua ini tanpa harus mengorbankan
pekerjaan, kita selalu menekankan pada mereka
tentang pentingnya pelatihan staf, khususnya
selama waktu-waktu sulit.
GH
Apa yang dapat dilakukan
pelaut selama periode
waktu tidak sibuk ini
untuk memastikan bahwa
mereka tetap dalam posisi
terbaik ketika kondisi
membaik?
Bagi pelaut Norwegia, sebisa mungkin
harus tetap bekerja dan juga menekuni
spesialisasi disektor offshore. Tanpa bola
Kristal, adalah tidak mungkin melihat apa yang
akan terjadi. Sayangnya saya tidak yakin kita
telah melihat “bagian bawah”nya dan saya
khawatir anggota kita akan bekerja jika kita
tidak dapat memastikan gaji dan kondisi kerja
sesuai standard Norwegia di yurisdiksi
Norwegian lainnya.
JS
Ketika pelaut tidak berada di kapal
mereka harus berusaha untuk
meningkatkan keahliannya. Mereka terutama
AS
sekali harus mencoba untuk mendapatkan
keahlian-keahlian teknis yang akan membantu
mereka dalam jangka panjang dan juga ketika
situasi kembali positif dalam lapangan kerja.
Orang India secara alami suka menabung dan
pelautnya juga disarankan untuk melakukan
perencanaan finansial dan mengamankan masa
depan mereka. NUSI menyediakan semua
dukungan yang diperlukan dalam hal konseling
dan menyalurkan energy mereka secara positif.
Pesan saya ke rekan-rekan di negaranegara penyuplai tenaga kerja – diri
anda harus mengetahui informasi terkait kondisi
berbagai perusahaan dan Negara yang
mempekerjakan serta di atas segalanya adalah
jangan biarkan diri anda “dijual terlalu murah”.
Ini untuk memperkuat serikat pekerja di negara
asal sehingga mereka dapat memberikan
tekanan yang lebih pada pemerintah serta agen
pengawakan untuk memastikan kondisi yang
dapat diterima. Jika kita biarkan krisis ini
memperlemah kepentingan kita, untuk
mendapatkan kembali yang hilang akan butuh
waktu bertahun-tahun.
NB
Untuk buruh B/M dan pelaut yang belum
kehilangan pekerjaan, ada tanggung
jawab baru untuk belajar dari pengalaman krisis
agar menjadi lebih terorganisir dan lebih siap
menghadapi masa depan. Bagi para buruh B/M
yang mungkin telah kehilangan pekerjaan
mereka, saya percaya bahwa menjaga
hubungan dengan serikat pekerja adalah
penting, mencari akses untuk pelatihan atau
kesempatan training kembali (re-training) dan
untuk mencari kesempatan agar dapat
memasuki kembali industri yang dimaksudkan
untuk tidak pernah mengijinkan krisis
merendahkan hak pekerja di masa depan. Jika
tidak ada pelajaran lain yang kita petik dari apa
yang telah terjadi, serikat pekerja sepenuhnya
memainkan peran penting dalam jalinan
masyarakat untuk melindungi kepentingan
pekerja.
PC
“
Jangan biarkan diri anda “dijual terlalu murah”. Ini
untuk memperkuat serikat pekerja di negara asal
sehingga mereka dapat memberikan tekanan yang
lebih pada pemerintah serta agen pengawakan untuk
memastikan kondisi yang dapat diterima. Jika kita
biarkan krisis ini memperlemah kepentingan kita,
untuk mendapatkan kembali yang hilang akan butuh
waktu bertahun-tahun”.
”
www.itfseafarers.org
KECELAKAAN
s
KAPAL
u
r
a
h
t
u
a
l
e
p
a
r
a
P
uinya!
h
a
t
e
g
n
me
Jika kapal anda mengalami kecelakaan, anda
harus tahu bahwa ada aturan internasional yang
mengatur tentang bagaimana anda harus
diperlakukan secara wajar dalam suatu
penyidikan dan/atau ditahan oleh penyidik akibat
kecelakaan tersebut.
Aturan tersebut merupakan petunjuk bersama
IMO/ILO tentang Penanganan yang layak
terhadap pelaut dalam peristiwa kecelakaan
kapal.
Aturan tersebut mengatur bahwa pelaut harus
diperlakukan secara layak oleh pemerintah
setempat dimana kecelakaan terjadi, negara
bendera kapal, negara asal pelaut dan pemilik
kapal.
Sangat penting bagi anda untuk memahami hakhak anda yang diatur dalam petunjuk ini sehingga
jika anda disidik atau ditahan akibat suatu
kecelakaan kapal, anda sudah paham apa yang
harus anda perbuat dan apa keinginan anda.
Jika anda disidik tentang suatu kecelakaan yang menimpa
kapal anda :
Apabila anda menganggap perlu, mintalah didampingi
pengacara sebelum anda menjawab setiap pertanyaan
atau membuat pernyataan apapun kepada para penyidik
baik itu dari pemerintah dimana kecelakaan itu terjadi
atau dari negara bendera kapal, sehingga anda tidak
membuat suatu kesalahan yang nantinya akan dipakai
melawan anda dengan tuduhan criminal atau dalam
proses hukum lainnya.
Hubungi perusahaan anda dan/atau serikat buruh anda
untuk mendapatkan saran-saran atau bantuan.
Pastikan bahwa anda memahami betul semua yang anda
katakan.
Informasi lengkap tentang Fair Treatment Guidelines
dapat diakses di : www.itfglobal.org/fairtreatment atau
www.marisec.org/fairtreatment
Jika anda merasa tidak mengerti sesuatu apapun :
• mintalah kepada penyidik untuk menghentikan
pertanyaannya.
• mintalah bantuan penerjemah apabila anda
membutuhkan.
Sangat penting bagi anda untuk pertama-tama melindungi diri anda.
Selanjutnya ikutilah saran-saran yang diberikan oleh perusahaan,
serikat buruh atau pengacara anda, dan yang paling penting,
keterangan yang anda berikan kepada para penyidik harus
berdasarkan sukarela.
Lindungi kepentingan anda dalam suatu kejadian kecelakaan kapal
Bacalah panduan tentang perlakuan yang layak bagi anda
Pahami hak-hak anda
Jika tidak mungkin, mintalah bantuan!
a
d
n
a
e
in
l
n
o
n
a
Persinggah
Website untuk pelaut dari sumber terpercaya
Penjelasan tentang
hak-hak anda
Dapatkan informasi
terkait kapal anda
Pelajari dimana
mendapatkan bantuan
pada saat ada masalah
Temukan apa yang dapat
dilakukan oleh serikat
pekerja/buruh untuk anda
Online dengan rekan
pelaut
Menghubungi ITF