studi kasus pada madrasah se-kecamatan karangawen, kabupate

Transcription

studi kasus pada madrasah se-kecamatan karangawen, kabupate
KONSEP JIHAD DAN IMPLEMENTASINYA
TERHADAP PEMBELAJARAN DI MADRASAH
(STUDI KASUS PADA MADRASAH SE-KECAMATAN
KARANGAWEN, KABUPATEN DEMAK 2014)
Oleh :
ALI IMRON
NIM. M1.12.002
Tesis diajukan sebagai pelengkap persyaratan
Untuk gelar Magister Pendidikan Islam
PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2014
1
2
PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
PROGRAM STUDI: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
LEMBAR PERSETUJUAN TESIS
Nama
: Ali Imron, S.Pd.I
NIM
: M1.12.002
Program Studi
: Pendidikan Agama Islam
Konsentrasi
: PAI
Tanggal Ujian
: 03 Oktober 2014
Judul Tesis
: KONSEP JIHAD DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP
PEMBELAJARAN DI MADRASAH
(Studi kasus pada
Madrasah se-Kecamatan Karangawen, kabupaten Demak 2014).
Panitia Munaqosah Tesis
1. Ketua Penguji
: Dr. H. Zakiyuddin, M.Ag.
_______________
2. Sekretaris
: Dr. Winarno, M.Pd.
_______________
3. Penguji I
: Prof. Dr. H. Muh. Zuhri, M.A. _______________
4. Penguji II
: Dr.H. M. Zulfa, M.Ag.
5. Penguji III : Dr. Asfa Widiyanto, M.A.
_______________
_______________
3
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
“Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis ini merupakan hasil karya saya
sendiri dan sepanjang pengetahuan dan keyakinan saya tidak mencantumkan tanpa
pengakuan bahan-bahan yang telah dipublikasikan sebelumnya atau ditulis oleh orang
lain, atau sebagian bahan yang pernah diajukan untuk gelar atau Ijasah pada Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri
( STAIN ) Salatiga atau perguruan tinggi lainnya.”
Salatiga, 09 Oktober 2014
Yang Membuat Pernyataan
Ali Imron, S.Pd.I
NIM.M1.12.002
4
ABSTRAK
Ali Imron. 2014. Konsep Jihad dan Implementasi terhadap pembelajaran di Madrasah
(Studi kasus pada Madrasah se-Kec. Karangawen, Kab. Demak.
Tahun 2014.
Dosen Pembimbing: Dr. H.M.Zulfa, M.Ag. dan Dr. Asfa Widiyanto, Ph.D.
Kata Kunci : Konsep Jihad, pembelajaran dan Madrasah
Penelitian ini mengenai konsep Jihad dan implementasinya terhadap
pembelajaran di Madrasah ( Studi kasus pada Madrasah se-kec.Karangawen,
Kab.Demak Tahun pelajaran 2014). Dengan rumusan penelitian ini meliputi: (1)
Bagaimana materi pembelajaran jihad di Madrasah?(2) Bagaimana pemahaman
guru tentang pembelajaran jihad di Madrasah ?(3) Bagaimana guru
mengimplementasikan konsep jihad di Madrasah-Madrasah se kecamatan
karangawen kabupaten Demak ?
Adapun Pendekatan Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif,
peneliti menggunakan metodologi penelitian berjenis kualitatif deskriptif, dengan
cara peneliti hadir dan mengamati langsung objek penelitian, serta mengadakan
wawancara langsung pada para guru dan siswa.
Hasil penelitian ini adalah: (1) Konsep Jihad dalam Islam pandangan dari
Guru-guru di Madrasah Nurul Hidayah dan Madrasah Al-Khoiriyah Karangawen
Demak mempunyai banyak makna yang mencakup sejak dari sejak berjuang
mengangkat senjata dalam peperangan sampai berjuang melawan hawa nafsu.
Namun semua Guru-guru di Madrasah Nurul Hidayah dan Madrasah AlKhoiriyah Karangawen Demak sepakat memahami Jihad sebagai berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk memerangi kebodohan atau suatu seruan kepada
agama yang hak dan benar-benar harus diamalkan. Jihad artinya bersungguhsungguh/perjuangan, dan perjuangan tersebut bisa dilakukan dengan tangan atau
lisan untuk mempertahankan agama Allah Swt termasuk di dalamnya sebagai
perjuangan untuk memerangi ketertinggalan dan kebodohan (dunia
pendidikan).(2).Guru-guru di Madrasah Nurul Hidayah dan Madrasah AlKhoiriyah Karangawen Demak menerapkan konsep jihad dalam pembelajaran
dengan cara guru harus bariman kepada Allah, guru harus menjalankan proses
pembelajaran dengan baik, menjalankan disiplin waktu dalam pendidikan
(mengajar), dan juga mempuyai sifat yang tidak mudah menyerah dalam
menghadapi atau mengajar pada peserta didik.
5
PEDOMAN
TRANSLITERASI ARAB – LATIN
Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor
0543 b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1988
A. Konsonan Tunggal.
Huruf
Arab
Nama
Huruf
Latin
Keterangan
Alif
-
Tidak
dilambangkan
Ba‟
B
-
Ta‟
T
-
Sa
S
S dengan titik
diatas
Jim
J
-
HA‟
H
H dengan titik
dibawah
Kha‟
Kh
-
Dal
D
-
Zal
Z
Z dengan titik
diatas
Ra‟
R
-
Za‟
Z
-
Sin
S
-
Syin
Sy
-
Sad
S
S dengan titik
dibawah
6
Dad
D
D dengan titik
dibawah
T
T
T dengan titik
dibawah
Za‟
Z
Z dengan titik
dibawah
‟ain
„
Koma terbalik
(apotrof tunggal)
Gain
G
-
Fa‟
F
-
Qaf
Q
-
Kaf
K
-
Lam
L
-
Mim
M
-
Nun
N
-
Waw
W
Ha‟
H
-
Hamzah
.
Koma lurus
miring (tidak
untuk awal kata)
Ya‟
Y
-
Ta‟
Marbutah
H
Dibaca ah ketika
mauquf
Ta‟
Marbutah
H/t
Dibaca ah / at
ketika mauquf
7
B. Vokal Pendek
ARAB
LATIN
KETERANGAN
-
A
Bunyi
pendek
fathah
-
I
Bunyi
pendek
kasrah
-
U
Bunyi dammah
pendek
CONTOH
C. Vokal Panjang
ARAB
LATIN
KETERANGAN
CONTOH
A
Bunyi
panjang
fathah
/
I
Bunyi
panjang
kasrah
-
U
Bunyi
dammah
panjang
ARAB
LATIN
D. Diftong
–
KETERANGAN
CONTOH
Aw
Bunyi
fathah
diikuti wau
Ai
Bunyi
diikuti ya
fathah
E. Pembauran kata sandang tertentu.
ARAB
LATIN
KETERANGAN
aL-Qa
Bunyi
Qomariyyah
CONTOH
al
8
–
Asy-sy
…
Bunyi
Syamsiyyah
dengan / (el)
Diganti
berikutnya
Wal /
Wasysy
al
huruf
Bunyi
al
Qomariyyah / al
Syamsiyyah
diawali
huruf
hidup, maka tidak
terbaca mandiri
9
PRAKATA
Alhamdulillahirobbil‟alamin. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Yang
menguasai seluruh alam jagat raya. Hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan,
dan atas limpahan rahmat, taufiq, beserta hidayah-Nya kita masih diberikan ketetapan
iman dan taqwa kepada-Nya.
Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan padi revormator dunia,
yakni yang telah merubah zaman kegelapan (jahiliah) menjadi zaman yang terang
benderang dengan manusia yang berakhlak melalui ajaran agama Islam yang
dibawanya, serta syafaatnya senantiasa kita harapkan di hari kiamat kemudian.
Atas pancaran ilmu-Nya yang dianugerahkan sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis yang berjudul “Konsep Jihad dan Implementasinya terhadap
pembelajaran di Madrasah” ( Studi kasus pada Madrasah se- Kecamatan Karangawen
Kab. Demak Tahun Pelajaran 2014), dengan baik, dan lancar serta dapat menempuh
perjalanan panjang yang penuh dengan perjuangan. Semua ini tidak lain adalah atas
pertolongan dari Allah SWT.
Selanjutnya pada kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada:
1.
Bapak Dr. Rahmad Haryadi, M.Pd selaku Ketua STAIN Salatiga.
2.
Bapak Dr. H. Zakiyuddin, M.Ag, selaku Direktur Program Pascasarjana
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.
3.
Bapak Dr. H. M. Zulfa, M.Ag. dan Bapak Dr. Asfa Widiyanto, M.A.
selaku pembimbing yang penuh dengan keihlasan, kesabaran dan kejelian
untuk
memberikan
penyusunan tesis ini.
bimbingan
dan
arahan
sampai
terselesainya
10
4.
Dr. Adang Kuswaya, M.Ag dan Dr. Budiono Saputro, M.Pd. selaku dosen
mata kuliah di Program Pascasarjana STAIN Salatiga yang pernah
berpesan kepada Mahasiswa dengan kalimat “ yang penting dijalani/teko
dilakoni, alon-alon wathon kelakon”, beserta seluruh dosen dan karyawan
Program Pascasarjana STAIN Salatiga yang telah memberikan bekal ilmu
pengetahuan dan pelayanan kepada penulis.
5.
Bpk. Masduki, S.Ag, M.Pd.I (Kepala Madrasah dan guru MTs Nurul
Hidayah Margohayu), Bapak Sholikin, S.Pd.I. (Kepala Madrasah dan guru
MTs Al-khoiriyah Wonosekar), beserta seluruh dewan guru, karyawan dan
peserta didiknya yang telah memberikan kesempatan dan bantuan demi
terselesainya penelitian kepada penulis.
6.
Seluruh pihak yang telah terlibat dalam penyusunan tesis ini.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri dan mohon
kekuatan, tidak lupa semoga amal baik mereka mendapat balasan yang lebih dariNya. Amin.
Tiada gading yang tak retak, penulis menyadari masih banyak kekurangan
bahkan kekeliruan dari Tesis ini, penulis meyadari bahwa semua itu adalah
kekurangan dari diri pribadi penulis, dengan ini mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari seluruh pembaca untuk menjadi yang lebih baik.
11
Penulis berharap semoga Tesis ini memberikan kemanfaatan dan
kemaslahatan khususnya pada diri pribadi penulis dan pembaca serta dalam ilmu
pendidikan secara umum. Amin ya robbal‟alamin.
Salatiga, 09 Oktober 2014
Penulis,
Ali Imron, S.Pd.I
NIM. M1. 12.002
12
MOTTO
              
           
“Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
Berusaha tanpa berdo‟a itu sombong
Berdo‟a tanpa berusaha itu bohong
Maka hiasilah hidupmu dengan Berusaha dan berdo‟a
13
PERSEMBAHAN
1. Kedua orang tuaku, yang telah membesarkan dan mendidikku hingga aku
dewasa;
2. Kedua mertuaku yang selalu mendo‟akan aku;
3. Istriku tercinta yang selalu menyayangi dan memotivasi aku;
4. Kampusku STKIP Muhammadiyah Manokwari Papua Barat yang tercinta
5. Dr. Ir. H.Mulyadi Djaya, M.Si, KH. Sugihrta, S.Ag, S.Sos, MM, Kel.
Bapak KH. Tejo Hartoko, SH, Kel. KH. Khusnu Panuju dan Kel abah
Syafi‟i yang selalu memberikan motivasi kepada saya.
6. Kakakku (Siti Maryam), beserta keluarga yang selalu mendukungkku;
7. Keluarga besar mertua, yang ikut mendo‟akan aku; dan
8. Tidak lupa kepada mas Sutrisno, pak Capten Bambang Sukowati dan
keluarga bapak KH.Jaka Rebawa yang senantiasa selalu mendukung
sepenuh hati.
9. Kepada teman-teman PPs STAIN salatiga angkatan 2012 yang saya cintai.
10. Seluruh pembaca yang budiman.
14
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................
ii
HALAMAN PERNYATAAN .. .................................................................................
iii
ABSTRAK....................................................................................................... ...........
iv
PANDUAN TRANSLITERASI .................................................................................
v
KATA PRAKATA .....................................................................................................
ix
MOTTO............................................................................................................ ...........
xii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................
xiv
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................
xix
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................................
xx
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................
1
A. Latar Balakang Masalah ...............................................................
1
B. Rumusan Masalah. .......................................................................
8
C. Tujuan dan manfaat penelitian ......................................................
9
D. Definisi Operasional ......................................................................
10
E. Metode Penelitian ..........................................................................
15
F. Sistematika Penulisan ...................................................................
20
BAB II KAJIAN TEORI ............................................................................................
22
A. Pengertian Jihad ............................................................................
22
B. Dasar-dasar Jihad. .........................................................................
28
C. Macam-macamJihad......................................................................
34
D. Keutamaan Jihad ...........................................................................
36
E. Teori-teori pembelajaran. ..............................................................
44
F. Pengertian Madrasah .....................................................................
46
G. Peran Madrasah .............................................................................
58
BAB III HASIL PENELITIAN PENELITIAN ...............................................
69
A. Gambaran Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah ........................
69
B. Gambaran Umum Objek Penelitian ..............................................
70
15
1.
Tinjauan historis .....................................................................
70
2.
Visi dan misi ..........................................................................
70
3.
Tinjauan Geografis .................................................................
72
4.
Data sarana dan Prasarana ......................................................
72
5.
Kegiatan Ekstrakulikuler ........................................................
77
6.
Kedaan guru dan karyawan ....................................................
78
7.
Keadaan siswa ........................................................................
79
C. Hasil wawancara dengan guru.......................................................
81
D. Hasil wawancara dengan siswa .....................................................
86
E. Gambaran Madrasah Tsanawiyah Al-Khoiriyah...........................
88
F. Gambaran Umum Objek Penelitian ..............................................
88
1.
Tinjauan historis .....................................................................
89
2.
Tinjauan Geografis .................................................................
89
3.
Visi dan misi ..........................................................................
91
4.
Data sarana dan Prasarana ......................................................
92
5.
Kegiatan Ekstrakulikuler ........................................................
91
6.
Kedaan guru dan karyawan ....................................................
94
7.
Keadaan siswa ........................................................................
95
G. Hasil wawancara dengan guru.......................................................
101
H. Hasil wawancara dengan siswa .....................................................
106
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ......................................
109
A. Materi Jihad di Madrasah. .............................................................
109
B. Pemahaman guru dalam menganalisis konsep Jihad.....................
117
C. Pemahaman siswa dalam menganalisis konsep Jihad. ..................
120
D. Implementasi konsep Jihad di Madrasah. .....................................
126
BAB V PENUTUP ..........................................................................................
134
1. Simpulan...............................................................................................
134
2. Saran.. ................................................................................................
135
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................
LAMPIRAN
BIOGRAFI PENULIS
16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Diskursus terorisme dan Jihad semakin aktual pasca peristiwa 11
september 2001 (september 11), pengeboman world Trade Center ( WTC).
George W. Bush mengklaim bahwa pelaku pengeboman adalah jaringan
islam radikal (Al-Qaeda) pimpinan Usamah bin ladin. Sebaliknya, kalangan
islam radikal menyakini bahwa perbuatan mereka merupakan aktualisasi
doktrin Jihad yang di perintahkan dalam islam.1
Jihad merupakan istilah dan ajaran yang tidak asing di dalam
kehidupan. Apalagi jika ia dikaitkan dengan konteks kehidupan luas,
mencakup banyak makna sejauh kesepakatan suatu kelompok yang
menyepakatinya, baik di kalangan media massa maupun media cetak dan
elektronik. Di Indonesia, sejak berlangsungnya kasus Bom Bali juga kasus
Azhari, istilah Jihad menjadi marak kembali sehingga sering dikutip berbagai
media, untuk memberi konteks pada munculnya gerakan-gerakan perlawanan
yang dilakukan oleh sebagian kelompok kegamaan terhadap lainnya secara
tidak adil.2 Media massa tidak jarang memberikan ulasan munculnya
berbagai aksi pengeboman di berbagai tempat di Indonesia, sebagai bentuk
perlawanan kelompok Islam terhadap kelompok lainnya. Dalam pada itu tak
1
Kasjim Salenda, Terorisme dan Jihad (Dalam Persepektif Hukum Islam), PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2009, 21.
2
Kacung Marijan, “Terorisme dan Pesantren; Suatu Pengantar”, dalam Muhammad
Asfar (Ed.), Islam Lunak, Islam Radikal; Pesantren, Terorisme dan Bom Bali, (Surabaya:
Pusdeham dan JP Press, 2003), 201.
17
jarang, ajaran Jihad dipahami secara sederhana sebagai bahan Penelitian ini
mengambil lokasi di Madrasah- Madrasah se kecamatan, karangawen
kabupatenupaten Demak . tetapi dalam hal ini penulis batasi penelitianya
yaiti di 2/3 dari 42 Madrasah di karangawen, yaitu di Madrasah yang ada di
kelurahan desa Margohayu dan Madrasah yang ada di kelurahan wonosekar
atau kelurahan Noreh. Lokasi ini dipilih dengan mempertimbangkan
beberapa alasan, yang antara lain:
1.
Madrasah ini berada di tengah-tengah kampung yang sangat jauh dari
kota dan yang menurut banyak orang dianggap sangat representatif untuk
di teliti, karena dengan keberadaannya di tengah kampung ternyata
memiliki keunggulan dan kemungkinan besar bisa diangkat untuk
dijadikan sebagai teori baru supaya bisa ditiru oleh lembaga lain.
2.
Madrasah ini memiliki berbagai keunggulann dengan bukti telah
beberapa kali meraih prestasi, baik prestasi akademik maupun non
akademik di tingkat local maupun tingkat kecamatan karangawen.
3.
Madrasah ini sering dikunjungi oleh berbagai pihak, termasuk para
pejabat, pemimpin lembaga pendidikan, rombongan para guru dan murid
dari lembagai lain.
4.
Madrasah ini telah memiliki tenaga guru yang kebanykan lulusan dari
akademik dan pesantren dan fasilitas sarana dan prasarana seperti gedung
sekolahyang cukup memadai dan sekaligus menerapkan kurikulum
agama yang seimbang.
5.
Peminat yang masuk ke lembaga ini mayoritas golongan ekonomi
18
kebawah sampai menengah
Istilah Jihad dalam umat Islam seringkali dipahami dengan dua
pengertian. Pertama, dalam pengertian etimologis bahasa Arab yang artinya
bersungguh-sungguh.3 Kedua, dalam pengertian terminologis, yakni Jihad
dalam konsep hukum Islam, baik didasarkan al-Qur‟an, al-sunnah, atau pun
ijma‟ para ulama. Namun, betapapun dua pengertian di atas dibedakan, tetap
saja pengertian Jihad tidak dipahami dalam posisi yang benar, karena konsep
Jihad yang dibangun tidak jarang didasarkan pada dua pengertian sekaligus,
baik bahasa maupun teologi.
Dari segi bahasa, terma Jihad dalam Al-Qur‟an dengan sejumlah kata
turunanya berasal dari kata jahd atau juhd. Kata jahd dalam Al-Qur‟an
terulang sebanyak lima kali,4 sedangkan kata juhd hanya 1 kali saja.5 Kata
jahd biasanya di terjemahkan dengan sungguh-sungguh atau kesungguhan,
letih atau sukar6 dan sekuat-kuat.7 Adapun kata juhd biasanya diterjemahkan
dengan kemampuan,8 kesanggupan daya upaya dan kekuatan.9
Konsep Jihad dalam pertumbuhannya mempunyai banyak makna dan
cakupan mulai dari berjuang melawan hawa nafsu sampai mengangkat
senjata ke medan peperangan. Namun, ada substansi Jihad yang bisa
dibenarkan oleh hampir semua ulama, yaitu memahami Jihad sebagai suatu
3
Imam Samudra, Aku melawan Teroris, Solo, Jazera, 2004, 108.
Lihat lagi Q.S. Al-Maidah/5:53, Q.S. Al-an‟am /6:109, Q.S.An-Nahl /16:38, Q.S. AnNukr /24:53, dan Q.S. Al-Fathir /35:42
5
Lihat lagi Q.S. At-Taubah /9:79
6
M.Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an : Tafsir Maudhu‟i atas Berbagai Persoalan
Umat, Bandung: Mizan, 1996, 501.
7
M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qu‟an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep
Kunci, Jakarta: Paramadina, 1996, 517.
8
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an, 411.
9
M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qu‟an, 329.
4
19
seruan kepada agama yang hak. Jika kata Jihad dikaitkan dengan fi sabilillah
(di jalan Allah), maka Jihad fi sabilillah berarti berjuang di jalan Allah. Jadi
Jihad dalam arti di atas adalah perjuangan, dan perjuangan tersebut bisa
dilakukan dengan tangan atau lisan untuk mempertahankan agama Allah.
Karena cakupan arti Jihad yang luas, maka Jihad juga kerap diartikan
sebagai perjuangan untuk memerangi ketertinggalan dan kebodohan. Guru
yang mengajar dengan benar-benar guna membawa murid berhasil mengatasi
ketertinggalan dan kebodohan, termasuk di dalam makna Jihad.
Dengan pengertian di atas, perjuangan guru dalam pembelajaran juga
dapat dikategorikan sebagai orang yang berJihad. Jihad itu kalau diibaratkan
pohon yang tegak, maka harus ada dasar tenaga yang menjamin tegak dan
kokohnya. Seperti kita jelaskan di atas dalam melaksanakan Jihad itu harus
ada tiga unsur tenaga, dengan intiny tenaga ruh, roh itulah yang
menghubungkan manusia dengan khaliknya. Tenaga roh ini mampu
“menggerakkan” manusia, dan hanya tenaga roh ini pula yang mampu
“menerima” petunjuk Ilahi.10
Jihad dalam pendidikan dan pengajaran yang dimaksud di sini adalah
proses perjuangan menegakkan kalimat Allah Swt dengan menggunakan
sarana pendidikan dan segala perlengkapannya. Pendidikan sendiri
(Madrasah-Madrasah se kecamatan karangawen kabupatenupaten Demak),
yang diartikan sebagai proses transformasi pengetahuan secara sempurna dan
menyeluruh, termasuk teladan moral sang pendidik. Jadi, pendidikan bukan
10
Sutan Mansur, Jihad, Jakarta: Panji Masyarakat,1982, 23.
20
hanya pemberian keilmuan saja, melainkan menyangkut segala aspek yang
diperlukan dalam rangka membentuk pribadi-pribadi muslim yang komit
pada ajaran Islam, berwawasan luas, dan memiliki ilmu yang bermanfaat
menurut spesialisasinya, baik secara formal di lembaga-lembaga pendidikan
dengan kurikulum yang tersusun secara terinci maupun secara informal di
majelis-majelis keilmuan yang diadakan untuk memenuhi keperluan kaum
muslimin.11
Meskipun demikian, sistem pendidikan Islam yang dapat dikategorikan telah menjalankan Jihad fi sabilillah adalah apabila seluruh sistemnya
berlandaskan ajaran Allah dan Rasul-Nya secara sempurna, yaitu sistem
pendidikan yang akan melahirkan pribadi-pribadi muslim yang akan
memperjuangkan tegaknya Islam dalam segala aspek kehidupan.12 Pada
konteks inilah seorang pendidik seperti guru PAI (Pendidikan Agama Islam)
memiliki peran strategis, yaitu sebagai sarana dalam proses transformasi
nilai- nilai ajaran Islam untuk diterapkan. Sebab proses transformasi itu
membutuhkan semangat Jihad, dan Jihad itu sendiri akan sia-sia bila tidak
menelorkan produk yang berupa transformasi sosial yang lebih baik.13
Jihad di bidang pendidikan yang bertujuan untuk mendidik generasi
muda yang berwawasan luas dan beriman kepada Allah SWT tidak kalah
pentingnya dari Jihad dengan rudal dan senapan, atau Jihad fisik.14
11
Himy Bakar al-Mascaty, Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam, (Jakarta:
Gema Insani Press, 2001), 185.
12
Himy Bakar al-Mascaty, Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam, 187.
13
Muhaimin, Wacana Penegembangan Pendidikan, 229.
14
Mahmud Samir al-Munir, Guru Teladan di Bawah Bimbingan Allah, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2004), hlm. 37.
21
Karenanya, tugas dari guru agama Islam adalah sebagai pendidik agama
Islam, baik itu di sekolah ataupun di luar sekolah yang hendaknya mendidik
ajaran dan nilai- nilai Islam kepada siswa dan masyarakat serta membimbing
dan mengarahkan agar mereka memiliki komitmen terhadap ajaran Islam
serta menjadikannya sebagai way of life.15
Bertolak dari pemikiran di atas, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian atau pengkajian mengenai ajaran Jihad, yang untuk itu diberi judul
“konsep Jihad dan Implementasinya Terhadap pembelajaran Pendidikan di
Madrasah-Madrasah”. Dengan penelitian di atas, selain akan dapat digali
konsep yang benar tentang Jihad juga akan dapat digali implikasinya bagi
peningkatan daya juang guru Pendidikan Agama Islam dalam melaksanakan
tugas-tugas di bidang pendidikan.
B. Penegasan Istilah
Untuk menghindari pemahaman yang tidak dikehendaki mengenai
beberapa kata yang ada di dalam judul tesis ini, maka dijelaskan beberapa
istilah kunci dalam penelitian sebagai berikut ini.
Istilah "Jihad" mempunyai makna dasar berikhtiar keras untuk
mencapai tujuan yang terpuji, atau bekerja keras memperbaiki moral
masyarakat islam. Kata Jihad diambil dari bahasa Arab, yang berarti
"Tenaga".16 Dalam tesis ini, kata Jihad lebih dipakai dalam arti tenaga atau
15 Muhaimin, Wacana Penegembangan Pendidikan (Yogjakarta: Pustaka pelajar, 2003),
228.
16. John.L.Esposito, Ensikopledi Oxford (Dunia Islam Modern jilid 3), Mizan, Bandung,
2002, 1533.
22
usaha atau kekuatan yang dikerahkan dengan sungguh-sungguh bagi
tercapainya sesuatu tujuan.
Istilah "Implikasi/Implication" adalah "Keterlibatan/melibatkan atau
keadaan terlibat", juga berarti "Apa yang termasuk atau tersimpul dari
sesuatu yang disugestikan tetapi tidak dinyatakan", Begitu juga dengan
menggunakan kata Implementasi/Implementation yakni sesuatu yang di
terapkan, pelaksana/penerapan
17
, sedangkan mengimplementasikan itu
bermakna menerapkan. Dalam penulisan tesis ini, penulis menggunakan kata
implementasi karena lebih cocok di gunakan untuk proses kemudahan dalam
memehami judul tesis yaitu penerapan/menerapakan konsep Jihad di
Madrasah se kecamatan karangawen kabupatenupaten demak, sehingga dapat
dipergunakan dalam menerapkan pembelajaran Jihad di Madrasah, utamanya
dalam menopang tugas guru pendidikan agama Islam di dalam melaksanakan
tugas-tugas kependidikan. Dalam hali ini siswa dapat kita arahkan menjadi
orang lebih baik, misalnya anak-anak di ajarkan untuk tidak membuang
sampah sembarangan, berbohong, mencuri dll, karena itu akibatnya tidak
baik, sehingga menurut penulis itu juga bisa di kategorikan sebagai Jihad
dalam diri sendiri karena anak-anak sudah memerangi yang negatif yaitu
membuang sampah sembarangan, mencuri dan berbohong. Jadi penulis
memaparkan bahwa Jihad yang penulis maksud bukan Jihad seperti teroris
yang selama ini hangat di beritakan dalam televisi tapi Jihad dalam bentuk
17.Merriam Webster, Webster‟s Third New International Dictionary and Seven Language
Dictionary ( Encyclopedia Britannica), America, Volume II H to R, 1961, 1135.
23
sikap perilaku peserta didik di madrasah.
"Madrasah" yakni terdapat dua model sekolah pada masa prakolonial,
yakni pertama, belajar dengan mendatangi guru-guru (kyai), dan kedua
bersekolah di Madrasah. Dalam tesis ini penulis menggunakan dalam arti
"Tempat orang untuk menuntut ilmu agama atau belajar mengenal Allah.
Madrasah adalah tempat pendidikan yang memberikan pendidikan
dan pengajaran yang berada di bawah naungan Departemen Agama.
Madrasah tidak lain adalah kata arab untuk sekolah artinya tempat belajar.
Jadi,
yang
dimaksud
dengan
judul
“konsep
Jihad
dan
Implementasinya terhadap pembelajaran Agama di Madrasah-Madrasah”
dalam hal ini adalah suatu usaha yang dikerahkan dengan sungguh-sungguh
dalam kehidupan baragama dan keterlibatannya dalam melaksanakan tugastugas sebagai guru Pendidikan Agama Islam kepada peserta didik.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka pokok permasalahan yang diangakat
menjadi fokus penelitian ini adalah:
1. Bagaimana materi pembelajaran Jihad di Madrasah?
2. Bagaimana pemahaman guru dan Siswa tentang pembelajaran Jihad di
Madrasah ?
3. Bagaimana guru mengimplementasikan konsep Jihad di MadrasahMadrasah se kecamatan karangawen kabupatenupaten Demak ?
D. Tujuan penelitian
24
Untuk mengetahui arti Agar penelitian dapat memperoleh hasil yang
baik, maka perlu dicanangkan rujukan yang hendak dicapai. Adapaun tujuan
data, penulisan proposal tesis ini adalah :
1. Untuk mengetahui tentang materi Jihad di Madrasah.
2. Untuk mengetahui pemahaman guru dan Siswa tentang teori terutama
konsep Jihad.
3. Untuk mengetahui implementasi materi Jihad terhadap pembelajaran
Pendidikan Agama di Madrasah-Madrasah se Kecamatan Karangawen
kabupaten.Demak
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini baik secara teoritis maupun secara praktis dapat
diambil hikmahnya sebagai berikut :
1.Manfaat Secara Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengembangkan
wawasan tentang konsep Jihad di Madrasah dan nantinya di harapakn para
guru dapat memahami tentang Jihad sehingga bisa menjalankan peranya
sebagai pendidik dengan sungguh-sungguh, maupun pada tingkatan mikro
dalam administrasi pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
2.Manfaat Praktis
memberikan masukan kepada kepala Madrasah, diharapkan dapat
menambah referensi dalam khazanah pengetahuan tentang penerapan
konsep Jihad. bagi penulis khususnya dan pembaca pada umunya. , yang
25
nantiny bisa setelah guru memahami tentang konsep Jihad baru di
implementasikana kepada peserta didik/siswa di dalam proses pembelajaran
di Madrasah se kecamatan Karangawen kabupatenupaten Demak
Dari tujuan penelitian di atas, maka diharapkan bahwa penelitian ini
memiliki manfaat sebagai berikut:
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah
pengetahuan
dan
dapat
memberikan
sumbangan
referensi
bagi
perkembangan ilmu pendidikan khususnya di madrasah.
b. Dapat dijadikan informasi oleh praktisi pendidikan Islam bahwa guru
PAI dalam melakukan tugas dan tanggung jawab keguruannya sehingga
siswa dapat memahami konsep Jihad, sehingga perlu dilakukan trobosan
atau strategi pembelajaran optimal.
F. Tinjauan Pustaka
Pembahasan mengenai masalah Jihad maupun tugas guru Pendidikan
Agama Islam telah banyak ditemukan baik dalam buku-buku maupun tulisantulisan tesis. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai posisi
penelitian ini di hadapan kajian-kajian yang telah dilakukan, sekaligus
membedakannya berikut penulis kemukakan beberapa pembahasan penelitian
yang di lakukan orang terdahulu yang terkait dengan penelitian penulis yaitu
sebagai berikut ini.
Dalam tesis dengan judul “ Persepsi Jihad” ( kalangan pondok
pesantren Al Mukmin Ngruki dan pondok pesantren Futuhiyah Mraggen)
26
yang di tulis oleh Fu‟ad Riyadi, Program Pascasarjana Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Walisongo semarang, menjelaskan bahwa hasil penelitianya
yaitu:
Jihad yang dipersepsikan dan diaplikasikan ponpes Al Mukmin adalah
Jihad taa‟limi dan „idad al quwwah( kesungguhan dalam belajar dan
mempersiapkan kekuatan). Hal ini relevan dengan firman Allah SWT surat
Al-Mujadilah ayat 11 dan surat Al-Anfal ayat 60.
a. Sedangkan penekanan persepsi Jihad Ponpes Futuhiyah Mranggen adalah
Jihad taa‟limi dan amar ma‟ruf nahi mungkar (kesungguhan dalam
belajar dan menyeru kapada kebaikan serta menjauhi kemungkaran). Hal
ini relevan dengan firman Allah surat Al-Mujadilah ayat 11 dan surat AlImron ayat 119. Namun, apabila situasi mendesak, mereka tidak akan
segan mengangkat senjata, seperti ketika mengusir penjajah dan melawan
PKI.
Sedangkan dalam skripsi yang berjudul “ implikasi konsep Jihad
dalam profesi keguruan” penulis Imam wahyudi, UIN maulana Malik
Ibrahim Malang, menjelaskan bahwa hasil penelitianya yaitu:
a. Konsep jhad dalam pandangan guru PAI di Madrasah Malang sepakat
memahami Jihad adalah perjuangan, dan perjuangan tersebut bisa
menggunakan tangan atau lisan untuk mempertahankan agama Allah,
termasuk di dalamnya sebagai perjuangan untuk memerangi ketertinggalan
dan kebodohan, yang dalam hal ini siswa di Madrasah.
b. Guru-guru PAI di Madrasah Malang menerapkan konsep Jihad dalam
27
profesi keguruan dengan cara guru harus beriman kepada Allah, guru
harus menjalankan profesinya dengan baik, menjalankan disiplin waktu
dalam pendidikan. Dan mempunyai sifat yang tidak mudah menyerah
dalam menghadapi dan mengajar pada paserta didik.
Sedangkan perbedaanya dengan penelitian yang penulis teliti adalah
terletak pada proses tentang pembelajaran Jihad di Madrasah di kecamatan,
Karangawen kabupaten.demak.sehingga di harapkan nantinya dapat di
ketahui sejauh mana proses pembelajaran meteri Jihad di Madrasah itu
sendiri.
Muhammad Chirzin dalam bukunya Jihad dalam al-Qur‟an, menjelaskan bahwa selama ini Jihad sering disalah artikan dengan suatu
penyempitan makna. Padahal Jihad sendiri merupakan bagian yang integral
dalam wacana Islam sejak masa-masa awal hingga kini. Demikian utamanya,
sehingga dalam sejarah, kalangan Khawarij memasukkan Jihad ke dalam
rukun Islam. Penerjamahan Jihad dengan “perang suci” selama ini yang
dikombinasikan dengan pandangan Barat tentang Islam sebagai “Agama
pedang” telah mereduksi makna batini dan spiritual dari “Jihad”, serta
mengubah konotasinya.
Secara morfologis, terma Jihad berasal dari kata kerja jahada
yujahidu, yang berarti mencurahkan daya upaya atau bekerja keras,
pengertian ini pada dasarnya menggambarkan perjuangan keras atau upaya
maksimal yang di lakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu dan
menghadapi sesuatu yang mengancam dirinya.
28
Menurut mazhab hanafi dalam” Fathul Qadir” oleh ibnul hammam , al
Jihad ialah mengundang orang kafir kepada agama Allah dan memerangi
mereka kalau mereka menolak undangan tersebut.
Menurut Al kasani dalam Al badi‟ 9/4299, al Jihad ialah berjuang
dengan segala daya dan upaya, berperang di jalan Allah Azza wajalla dengan
jiwa, harta, lisan dan lain-lain.
Menurut mazhab Maliki, al Jihad ialah memerangi orang kafir yang
tidak terikat dengan perjanjian demi meninggikan kalimatullah atau
menghadirkan-nya, atau menaklukan negerinya demi memenangkan agamaNya.
Adapun menurut mazhab Asy Syafi‟i, Al Bajuri berkata al Jihad
artinya berperang di jalan Allah . Ibnu hajar mengatakan bahwa menurut
syariat, al Jihad adalah berjuang dengan sekuat-kuatnya untuk memerangi
kaum kafir.
Menurut mazhab Hambali, al Jihad adalah memerangi kaum kafir atau
meegakan kalimat Allah.18
Jadi, buku di atas mencoba meluruskan pemaknaan Jihad yang sejauh
ini dimaknai sempit selama dengan berbagai cakupan. Namun, penggolongan
dalam pembahasan ini guru Pendidikan Agama Islam termasuk sebagai
bagian dari Jihad, tidak disinggung di dalam pembahasan buku ini.19
Dalam buku Menelusuri Makna Jihad, mengungkap pengkategorian
18
Dr.Abdullah Azzam, Perang Jihad di Jaman Modern, Gema Insani Pres, Jakarta, 1992,
11.
19
Muhammad Chirzin, Jihad dalam al-Qur‟an; Telaah Normatif, Historis, dan
Prospektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 43.
29
Jihad pada dua kelompok yaitu Jihad besar dan Jihad kecil. Sebagaimana
pemahaman mainstream saat ini, Jihad kecil, adalah Jihad fi sabilillah atau
perang mengalahkan dan menghancurkan musuh Allah pada medan
pertempuan. Kemudian Jihad besar, yaitu Jihad al-nafs, atau Jihad melawan
hawa nafsu dalam upaya membangun kepribadian demi mencapai keutamaan
akhlak yang agung.
Namun, pembahasan pada buku konsep Jihad dan mujahid damai
mengatakan bahwa makna dasarnya usaha yang tidak pernah berhenti. Jihad
bisa berupa perjuangan batin ( untuk melawan kejahatan dalam diri
seseorang).belum sampai pada cakupan Jihad secara menyeluruh, yang tidak
hanya dilakukan secara fisik seperti perang, ataupun Jihad ruhani dengan
melawan hawa nafsu yang sifatnya sangat privasi.20 Dari sudut pandang di
atas jelas, bahwa buku ini belum membahas Jihad yang mencakup
penggambaran Jihad secara menyeluruh, baik fisik, ruhani maupun pemikiran
(Jihad intelektual) termasuk Jihad bagi guru.
Namun,
yang menyangkut
persoalan keterkaitan tugas
guru
Pendidikan Agama Islam sebagai bagian dari Jihad tidak dibahas di dalam
buku ini.21
Khalid Abdul Azis dalam tesisnya berjudul “Konsep Jihad Menurut
Taqiyuddin al-Nabhani; Sebuah Kajian Hermeneutik,” mencoba memaparkan
pandangan Jihad seorang tokoh gerakan politik, yaitu Taqiyuddin al-
20
Husain Mazhahiri, Menelusuri Makna Jihad; Dari Sudut Pandang Akhlak Sampai
Kajian Sufistik, (Jakarta: Lentera, 2000), 21.
21
Abdullah Azzam, Fi al-Tarbiyah al-Jihadiyah wa al-Bina, (Peshwar Pakistan:
Maktabah Khidmat al-Mujahiddin, 1990), 61.
30
Nabhani. Uraiannya membahas pengertian Jihad dalam cakupan yang luas
termasuk di sini perang di sekitar pemikiran.
Walaupun di situ diungkap tentang pandangan Taqiyuddin al-Nabhani
tentang Jihad dalam arti yang sangat luas yang mencakup Jihad pemikiran
dengan istilah yang cukup populer saat ini yaitu ghazw al-fikr (perang
pemikiran), juga mengungkap Jihad sebagai upaya perlawanan terhadap
dominasi Barat atas dunia muslim,22 namun tesis ini tidak menyinggung apa
yang dibahas dalam penulisan tesis ini.
Dari penjelasan di atas, cukup jelas dimana letak perbedaaan tesis ini
di antara sekian banyak karya buku yang beredar dan karya tesis yang ada.
Berdasarkan penjelasan ilustrasitif di atas, maka penelitian ini akan
memfokuskan kajian terhadap “konsep Jihad dan Implementasinya terhadap
pembelajaran di Madrasah. ”, sebagai pembahasan yang selama ini belum
dibahas secara khusus oleh para penulis lain.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan( Field Research) yaitu
yang dilakukan pada medan terjadinya kejala-kejala23Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif.24 Karena dalam penelitian ini akan
mendeskripsikan fenomena konsep Jihad dan Implementasinya terhadap
22
Khalid Abdul Azis, “Konsep Jihad Menurut Taqiyuddin al-Nabhani; Sebuah Kajian
Hermeneutik”, (Semarang: Tesis Perpustakaan Pascasarjana IAIN Walisongo, 2003)
23
Hadi Sutrisno, Metodologi reseach, Jilid 1, Yogjakarta, Andi Offset UGM. 2000, 13.
24
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rosda Karya,
2003, 72-92.
31
pembelajaran di Madrasah. Dengan menggunakan metode pendekatan
deskriptif kualitatif25..
2. Sumber Data
Data-data yang akan penulis kumpulkan dalam penulisan tesis ini
adalah data yang bersifat library research yang berhubungan dengan
kegiatan kepustakaan dan data penelitian lapangan (Field Research) yaitu
research yang dilakukan dikancah atau medan terjadinya gejala-gejala.26
Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan data sebagai berikut:
a.
Data Primer
Data Primer dalam penelitian ini adalah kajian teori tentang
penerapan konsep Jihad. Data ini dikumpulkan dengan teknik telaah
pustaka yaitu dari hasil interview.
b.
Data Sekunder
Dalam penelitian ini adalah kondisi objektif Madrasah se
Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak(Desa Margohayu dan
Desa Wonosekar). Data ini berupa profil Madrasah se Kecamatan
Karangawen Kabupatenupaten Demak, karena di Demak sangat perlu
di adakan penelitian khususnya di pedesaan yang jauh dari kota besar
sesuai apa yang penulis paparkan di latar belakang masalah. dan
catatan implikasi tentang teori konsep Jihad dalam pembelajaran di
Madrasah se Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak karena di
Demak termasuk masyarakat yang religius.
25
Saifuddin Azwar, Metodologi Penelitian, Yogjakarta, Pustaka Pelajar, 2007, 6-7.
Sutrisno Hadi, Metodologi Research jilid 1, Yogyakarta : Andi Offset, 2000, 9.
26
32
H. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini
digunakan sebagai berikut :
1.
Metode Interview
Metode interview adalah suatu metode pengumpulan data yang
dilakukan dengan tanya jawab baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan sumber data27. Metode ini di tujukan pada beberapa
orang yang akan di wawancarai, antara lain, beberapa guru. Para siswa
yang akan di wawancarai adalah mereka siswa yang senior atau kelas
tinggi. Karena merekalah yang layak dan pantas untuk di wawancarai.
Sedangkan siswa-siswa yunior belum bisa menyerap pandangan
Madrasah secara maksimal.
2.
Metode Observasi
Metode observasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan
pangamatan, pencatatan yang sistematis terhadap fenomena-fenomena
yang diselidiki itu28. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan
data apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden29. Metode
ini penulis gunakan untuk melakukan pengamatan secara langsung yaitu
bagaimana para siswa menerima pembelajaran dari gurunya tentang
pengertian
27
konsep
Jihad
tersebut,
apakah
siswa
bener-bener
Sutrisno Hadi, Metodologi Research jilid 1, 137.
Sutrisno Hadi, Metodologi Research jilid 1, 137.
29
Sugiyono, Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung, Alfabeta, 2010,
28
137.
33
memahaminya apa tidak dan terhadap kondisi obyektif pelaksanaan teori
konsep Jihad di Madrasah se kecamatan karangawen kabupaten.demak.
Orang-orang yang akan diwawancarai di atas hanya sebagai
sampel untuk mewakili pemahaman atau persepsi pada kedua Madrasah
tersebut.
3.
Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data
dengan jalan melihat atau mencatat dokumen yang ada. Dokumentasi
dalam arti sempit adalah kumpulan verbal bentuk tulisan sedangkan
dalam arti luas adalah meliputi arsip, dokumen, monumen, foto dan
sebagainya. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang
struktur organisasi, keadaan guru, keadaan siswa dan keadaan karyawan
di Madrasah se Kecamatan Karangawen kabupaten.Demak tahun 2014.
Metode yang lain penulis dapatkan ini, ditempuh dengan cara
pengumpulan data dengan melakukan pembacaan terhadap kitab-kitab
tafsir, kitab-kitab hadis, serta buku-buku yang ada hubungannya dengan
Jihad, kemudian buku-buku atau tulisan-tulisan yang membahas tentang
posisi guru di madrasah, sebagai data primer. Selanjutnya, data-data
dimaksud diikuti dengan penelaahan terhadap buku-buku serta tulisantulisan lain yang terkait sebagai data sekunder. Data yang telah
terkumpul, kemudian dilakukan penilaian dan penelaahan cermat.
Dengan langkah ini, akan dapat diharapkan menghasilkan data atau
informasi yang dapat dipertanggung jawabkan.
34
I.
Metode Analisis Data
Analisis pendahuluan merupakan langkah awal yang dilakukan dalam
penelitian dengan cara memasukkan hasil pengolahan data angket responden
ke dalam data tabel yang sudah di tentukan.
Dalam tahap pendahuluan ini untuk memberikan penilaian angket
yang telah dijawab oleh responden dengan ketentuan yang sudah peneliti
siapkan
Setelah data terkumpul, maka tahap selanjutnya adalah menganalisa
data. Seluruh data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan
metode, yaitu: Qualitatife Content Analisis, yaitu metode analisis kualitatif
yang digunakan untuk menelusuri dan menggali tentang data serta dokumen
tentang teori konsep Jihad.30 Dan menggali hasil interview/wawancara
lagsung dengan pihak terkait dengan penelitian ini.
mula-mula dengan metode ini, penulis mendetesiskan konsep Jihad
dalam Islam dan tugas guru madrasah sehingga dapat dijelaskan posisi data
yang sebenarnya dan dapat dideteksi kebenaran atau kesalahan dari suatu
faktanya, kemudian dianalisa untuk memperhatikan sisi-sisi yang harus atau
memang memerlukan analisa lebih lanjut.31 Dalam proses analisis di atas,
kajian melakukan analisis secara filosofis terhadap data-data yang dijelaskan
30
Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta, PT Raja Grafindo persada,
2011, 231.
31
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1998), 18.
35
sebelumnya baik yang berkaitan dengan data dari Al-Quran ataupun al-hadis
maupun data di sekitar tugas pelaksanaan tugas guru di madrasah. Dengan
demikian, dapat ditarik suatu kesimpulan yang merupakan intisari yang
diperoleh dari kajian ini.
J.
Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman mengenai tata urut penulisan dari
penelitian ini secara keseluruhan, maka sistematika penulisan tesis ini akan
disusun dalam lima bab.
Bab I adalah pendahuluan. Pada bab ini penulis menjelaskan latar
belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan
kegunaannya, metode penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.
Kesemuanya berisi gambaran umum uraian Bab II sampai Bab V dari
penulisan tesis ini.
Bab II memaparkan pengertian Umum tentang Jihad dalam Islam.
Uraiannya membahas secara rinci mengenai pembelajaran Jihad di Madrasah,
dasar-dasar Jihad, dan macam-macam Jihad dan membahas tentang
Madrasah, guru-gurunya, kompetensi guru itu sendiri.
Bab III memaparkan detesis mengenai sejarah berdirinya Madrasah se
kecamatan Karangawen kabupatenupaten Demak ( Madrasah di Desa
Margohayu dan Desa Wonekar). Tujuan dan program kerja Madrasah,
sumber dana, organisasi Madrasah.
Bab IV menganalisis hasil penelitian di lapangan(Madrasah) Jihad dan
36
implementasinya dengan pembelajaran di Madrasah. Analisisnya membahas
Jihad dalam kaitan dengan transformasi sosial oleh siswa di Madrasah, serta
beberapa trobosan guru madrasah dalam melakukan transformasi sosial.
Bab V penutup. Pada bagian ini penulis menarik kesimpulan dari
keseluruhan pembahasan dalam sub bab kesimpulan, dilanjutkan dengan
pemberian saran-saran, dan diakhiri dengan uraian penutup.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. JIHAD
1. Pengertian Jihad
Jihad dalam islam mempunyai kedudukan yang sangat tinggi.
Bahkan sebagian ulama‟ memasukkanya ke dalam rukun Islam.
Dikarenakan keutamaan Jihad banyak sekali tertera dalam Al-Qur‟an dan
Al-sunnah. Rasullah SAW menganggapnya sebagai puncak amalan.
Kemulyaan hal itu juga bisa dilihat dari menyatunya sebagai macam
bentuk ibadah didalam Jihad. Memadukan ibadah lahiriyah maupun
ibadah batiniyah. Dari aspek ibadah lahiriyah bisa ditilik pada
pengorbanan tenaga, harta, pikiran dan jiwa. Sedangka dari aspek ibadah
batiniyah didalamnya mencakup zuhud di dunia, meninggalkan tanah air
dan tempat tinggalnya, dan meninggalkan kesenangan duniawi.
Maka dalam Islam, Jihad juga disebut dengan “Ruhbaniyyah”
(kependetaan), dalam hadits Abu Sa‟id hudhri disebutkan bahwa:
“kuwasiatkan kepadamu untk bertaqwa kepada Allah, karenanya pangkal
segala sesuatu, dan hendaknya kalian berJihad, karenanya kependetaan
dalam islam, dan hendaknya kalian dzikir pada Allah dan membaca AlQur‟an, karenanya asamu di langit dan dzikirmu di bumi”.
(HR.Ahmad)32.
Bukan seperti kependetaan orang-orang non muslim yang berharap
dekat dengan Tuhan dengan jalan menyepi di rumah-rumah ibadah, di
32
HR. Ahmad, kitab Baqi Musnad al Mukatsirin, no.11349.
37
38
gunung-gunung ataupun di tempat-tempat sunyi tanpa mau berinteraksi
dengan masyarakat. Namun kependetaan dalam islam diwujudkan dengan
perjuangan dan berinteraksi dengan masyarakat. Semakin tinggi tingkat
spiritual dan kedekatan dengan sang pencipta, semakin tinggi pula tingkat
sosialnya.
Jihad dalam tata bahasa (Arab) berasal dari pada tiga huruf yaitu: aljim, al- haa, ad-daal. Adapun huruf alif pada kalimat (Jihad) itu adalah
tambahan. Menurut etimologi bahasa arab “Jihad” itu adalah “isim
mashdar kedua” yang bersal dari jaahada, yujaahidu, mujahadatan dan
jihaadan. Jadi Jihad itu berarti bekerja sepenuh hati.33
Dalam hadits disebutkan:
“ tidak ada hijrah setelah futuh(penaklukan Mekah) akan tetapi
yang ada adalah Jihad dan niat”34.
Ibn
Mandhur
mengatakan:
(
-
-
)
adalah
memeranginya dan berJihad di jalan Allah35.
Jika ditelaah akar katanya dalam bahasa arab, kata Jihad berasal dari
asal kata jahada-yajhadu-jahdan/juhdan, yang diartikan sebagai aththaqah, al- mashaqqah, dan mubalaqah “kesungguhan”, “kekuatan”, dan
“kelapangan”. Adapun Jihad berkedudukan sebagai masdar “kata benda”
dari pada jahada, yaitu bab faa‟ala dari pada jahada diatas dan diartikan
sebagai: berusaha menghabiska segala daya kekutan, baik berupa kekuatan
33
Sutan Mansur, Jihad (Jakrata: Panji Masyarakat, 1982), 9.
Abdul Baqi Ramdhun, Al-Jihad Sabiluna, solo, Pustaka Al „alaq, Januari, 2000, 15.
35
Ali ibn Nafi‟ Al „Ulyani, Ahammiyah Al Jihad, Riyadh, Dar al Thayyibah, 1985, 115.
34
39
maupun perbuatan.36
Dari segi bahasa, secara garis besarnya, Jihad dapat pula diartikan
sebagai: penyuruan (ad-dakwah), menyuruh kepada yang ma‟ruf dan
mencegah kemungkaran (Amar Ma‟ruf Nahi Munkar), penyerangan
(Ghazwah), pembunuhan (Qital), peperangan (Harb), penaklukan
(Syiar),menahan hawa nafsu (Jihad An- Nafs), dan lain yang semakna
dengannya ataupun mendekati.37
Kata Jihad memiliki dua definisi atau dua pengertian: secara
etimologi dan terminologi, secara etimologi, Jihad artinya berjuang atau
perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh38. Atau dengan kata
lain, Jihad adalah pengerahan maupun perbuatan, dalam peperangan. Kata
Jahd atau Juhd artinya kekuatan, kekuasaan, atau kesanggupan. Ia juga
bisa berarti Masyaqah (kesukaran atau kesulitan). Kata Jahd sama dengan
kata Thaqah dan Wus (kekuatan dan kesanggupan). Kata Jahada--Yajhadu---Jahdan, dan kata Ijtahada, maknanya sama dengan kata Jada
(bersungguh-sungguh).39
Dan jika kata Jihad dikaitkan denga kata Fii Sabilillah, maka
masuklah definisi terminologi. Menurut definisi terminology, Jihad adalah
memerangi kaum kafirin yang memerangi islam dan umat islam dalam
36
Himy Bakar al-Mascaty, Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam (Jakarta:
Gema Insani Press, 2001), 23.
37
Himy Bakar al-Mascaty, Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam, 23.
38
Asep Burhanudin, Jihad Tanpa Kekerasan, Yogjakarta, PT LkiS Pelangi
Aksara, 2005, 135.
39
Abdul Baqi Ramadhun, Jihad Jalan Kami, Terj., Imam Fajarudin. (Solo: Era
Intrmedia, 2002), 11.
40
rangka menengakkan kalimat Allah.40
Istilah Jihad berasal kata Jahadah (kata benda abtrak, Juhud), yang
bermakna “berusaha”. Secara yuridis-teologis berarti berusaha sekuat
tenaga di jalan Allah,. Untuk menyebarkan keimanan dan firman-firman
Allah ke seluruh dunia. Ajaran yang bersifat individual ini merupakan
suatu upaya pencapaian keselamatan, sebab Jihad merupakan tuntunan
Allah yang dapat mengantarkan manusia langsung menuju surga.41
Ahmad Warson Munawwir dalam kamus Arab Indonesia AlMunawwir mengartikan lafal Jihad sebagai kegiatan mencurahakan segala
kemampuan. Jika dirangkai dengan lafal Fii Sabilillah, berarti berjuang,
berJihad, berperang di jalan Allah. Jadi kata Jihad artinya perjuangan.42
M. Quraish Shihab membahas Jihad sebagai salah satu dari berbagai
persoalan umat. Kesimpulanya, Jihad itu beraneka ragam. Memberantas
kebodohan, kemiskinan, dan penyakit adalah Jihad yang tidak kurang
pentingnya dari pada mengangkat senjata.Ilmuan berJihad dengan
memanfaatkan ilmunya, karyawan bekerja dengan baik, guru dengan
pendidikan yang sempurna, pemimpen dengan keadilannya, penguasa
sengan kejujuranya, dan seterusnya.43
Penyebaran tanda-tanda kebesaran Allah bersifat semesta. Seorang
40
Abdul Baqi Ramadhun, Jihad Jalan Kami., hlm. 12.
Majid Khaduri, Perang dan Damai dalam hukum Islam, terj.Kuswanto, Yogyakarta,
Tarawang Press, 2002, 47.
42
Muhammad Chirzin,Jihad dalam Al-Qur‟an telaah Normative, Histories,
Prospektif,Yogyakarta, Mitra Pustaka,1997, 12.
41
43
Muhammad Chirzin, kontroversi Jihad di Indonesia Modernis Vs Fundamentalis,
Yogyakarta, Nuansa Aksara, 2006, 11.
41
Nabi tidak peduli terhadap kritik orang kafir, ia meneruskan Jihadnya
yang terbesar bersenjataan wahyu Allah. Menurut Hamka ayat tersebut
merupakan himbauan kepada Nabi agar tidak tunduk pada orang-orang
kafir dan dorongan kepada Nabi untuk meneruskan Jihad dengan
bersenjataan Al-Qur,an44, dan dalam Al-Quran Surah Al-Furqan ayat: 52
dijelaskan sebagai berikut:
       
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berJihadlah
terhadap mereka dengan Al-Qur‟an dengan Jihad yang besar” (Q.S. Al –
Furqan/25: 52).45
Sehubungan dengan ini Ibnu Qoyyim menjelaskan: tidak diragukan
lagi bahwa peritanyah Jihad mutlak datang selepas hijrah, adapun Jihad
Hujjah (Jihad keterangan) diperintakan-Nya di mekah dengan firman-Nya
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berJihadlah
terhadap mereka dengan Al- Qur‟an dengan Jihad yang besar.” Inilah
surah makiyyah, dan Jihad di dalamnya adalah Jihad Tabligh dan Jihad
Hujjah.46
Jelaslah bahwa arti Jihad pada ayat ini adalah menyampaikan Hujjah
pada orang-orang yang ingkar ataupun berdiskusi dengannya dengan
menggunakan dalil-dalil pasti yang akan membuat mereka yakin terhadap
44
Muhammad Chirzin, Jihad dalam Al-Qur‟an telaah Normative, Histories, Prospektif,
45
Depag, Al-Qu‟an dan terjemahan, 567.
Hilmi Bakar Almascaty, Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam, 14.
48.
46
42
kebenaran islam, Jihad dengan pengertian ini semakna dakwa atau seruan
ke jalan Islam.
Dan disamping itu kata Jihad juga mengandung makna pengertian
bersungguh- sungguh melaksanakannya, dengan ketabahan dan kesabaran
untuk mendapatkan ridha Allah di jalannya, seperti pada surat al-Ankabut
ayat: 69
 
  
 
   
 
  
  
      
 
    
      
 
 
 
 
   
“Dan orang-orang yang berJihad untuk (mencari keridhaan)
kami benar-benar akan kami tunjukan kepada meraka jalamjalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama
orang-orang yang berbuat baik.”(Q.S. Al-Ankabut/29:69).47
Di samping itu, ada pula ulama‟ berpendapat, “jika kata Jihad
diiringi kalimat Fii Sabilillah sesudahnya, kata itu tidak mengandung
pengertian lain kecuali berperang menggunakan senjata. Akan tetapi, jika
tidak diiringi kalimat Fii Sabilillah setelahnya dapat dirtikan selain dari
berperang, baik sebagai dakwa maupun menahan hawa nafsu.48
Kata Jihad dalam ayat tersebut mengandung pengertian peperangan,
yaitu memerangi orang-orang yang ingkar dengan menggunakan senjata
agar mereka takluk di bawah kekuasaan islam. Arti Jihad seperti ayat
inilah yang selalu diartikan kebanyakan untuk kata Jihad.49
Dari beberapa ayat tersebut, jelaslah bahwa di dalam Al-Qur‟an,
47
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan, 638.
Hilmi Bakar Almascaty, Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam, 16.
49
Hilmi Bakar Almascaty, Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam, 16.
48
43
Jihad tidak hanya digunakan untuk satu pengertian satu saja, namun
digunakan untuk beberapa pengertian yang mengandung makna sebagai
Tablig, dakwa, pemeksaan, kesugguhan, ataupun peperangan.
2. Dasar-dasar Jihad
Jihad merupakan bagian integral wacana Islam sejak masa awalawal muslim hingga masa kontemporer. Pembicaraan tentang Jihad dan
konsep-konsep yang dikemukakan sedikit atau banyak mengalami
pergeseran dan perubahan sesuai dengan konteks dan lingkungan masingmasing pemikir. Demikian sentralnya Jihad dalam Islam hingga cukup
beralasan kalua Jihad ditafsirkan berbeda-beda menurut para ahli tafsir.
Ayat-ayat dasar Jihad yang berkaitan dengan kekerasan dapat dilihat
pada ayat-ayat dibawah ini:
Q.S.Surat Al-Baqoroh 216
            
             
 
Artinya: diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu
adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu,
Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.
Q.S. At-Taubah 41.
          
44
     
Artinya:. Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan
maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan
Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Ayat-ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan pendidikan dapat dilihat
di bawah ini.
             
            
“Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
Ayat-ayat al- Qur‟an yang menyebutkan pentingnya Jihad antara
lain dapat ditemukan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 218 yang
menyebutkan:
  

     
 
 
    
   
 
        


   
 
        
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang
yang berhijrah, dan barJihad di jalan Allah, mereka itu
mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang”. (Q.S. al-Baqarah/2: 218).50
Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman yang
50
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan, 53.
45
tetap pada pada keimanannya dan ikut hijrah berasama Rasulullah S.A.W.
atau melakukan Jihad bersama Rasulullah untuk membela agama Islam,
meninggikan kalimatullah, dan melawan orang-orang kafir dengan sekuat
tenaga, mereka itulah orang-orang pantas mengharapkan rahmat dan ridha
dari Allah51. Surat al-Baqarah (2) ayat 244 menyebutkan:
         
“Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan
ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui”(Q.S. al-Baqarah/2: 244).52
Berperang Fii Sabilillah, ialah beperang dengan niat meninggikan
Kalimatullah, mengamankan lancarnya dakwah dan tersiarnya agama
Islam. Tujuannya ialah agar para pemeluknya tidak diganggu dan tidak
ada yang mencegah tersiarnya agama atau perintah-perintah agama. Selain
itu, juga untuk mempertahankan negara dari serangan musuh yang hendak
menjajah,
mengeruk
kekayaannya,
dan
mengingjak-injak
kemerdekaannya53. Selain itu, surat al-Nisa‟(4) ayat 74 menyebutkan:
        
          
   
51
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al- Maraghi, Juz II, Semarang, Toha Putra, 1984,
52
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan, 60.
Ahmad Musthafa al-maraghi, Tafsir Al-Maraghi, 389.
257.
53
46
“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan
dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah.
Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau
memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan
kepadanya pahala yang besar”(Q.S. al-Nisa‟/4: 74).54
Ayat ini menunjukkan pada kemuliaan berperang di jalan Allah,
karena ia dilakukan dalam rangka menegakkan yang hak, keadilan dan
kebaikan, bukan dalam rangka menuruti hawa nafsu dan ketamakan. Ayat
ini juga menunjuk, bahwa hendaknya orang yang beperang itu menetapkan
dirinya pada salah satu dari dua perkara; apakah musuh akan
membunuhnya dan dia memuliakan dirinya dengan mati syahid, ataukah
dia akan dapat mengalahkan musuhnya sehingga dia menjayakan kalimat
yang hak dan agama Islam. Jangan ada di dalam hatinya bisikan-bisikan
untuk lari dari peperangan, karena jika dia melakukan hlm yang demikian,
maka dia akan segera masuk ke dalam perangkap yang telah dibuat oleh
dirinya sendiri.55 Surat al-Anfal (8) ayat 15 dan ayat 16 juga menyebutkan:
        
        
         
     
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan
54
55
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan, 130.
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz V, 150.
47
orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka
janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa
yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali
berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan
diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu
kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan
tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat
kembalinya”(Q.S. al-Anfal/8: 15-16).56
Ayat di atas secara global menjelaskan bahwa Allah S.W.T.
memberikan hukum umum dari peristiwa-peristiwa dan peperanganpeperangan yang bakal terjadi sepanjang zaman, meski keterangan-Nya ini
disampaikan dalam kaitannya dengan kisah tentang perang Badar. Sebab,
begitu pentingnya memperhatikan hukum tersebut di atas dan sebagai
anjuran kepada kaum muslimin agar tetap memeliharanya. Ayas tersebut
sekaligu memberi petunjuk bahwa lari dari peperangan merupakan dosa
besar.57 Surat al-Taubah (9) ayat
44 juga menyebutkan:
       
     
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berJihad
dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orangorang yang bertakwa”. (Q.S. al-Taubah/9: 44).58
Ayat ini menjelaskan bahwa bukan perbuatan orang beriman kepada
Allah yang telah mewajibkan berperang atas mereka, dan kepada hari
56
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan, 262.
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi , Juz IX, 345-346.
58
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan, 286.
57
48
kemudian yang pada hari itu setiap amal akan mendapatkan balasannya,
untuk meminta izin kepada Rasul dalam masalah Jihad di jalan Allah
dengan harta dan diri mereka, jika keadaan menutut mereka untuk itu.
Orang-orang beriman ialah mereka yang maju ke medan perang ketika
datang kewajiban untuk itu, tanpa meminta izin.59
Di samping ayat-ayat di atas, masih berpuluh-puluh ayat lain yang
secara khusus dijadikan sandaran mengenai pentingnya Jihad. Sedangkan
hadits-hadits yang dijadikan rujukan pentingnya Jihad dalam Islam,
misalnya dapat dilihat pada hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari
Abu Amr Asy-Syaibani:
“Dari Abu Amr Asy-Syaibani, dia berkata: Abdullah bin
Mas‟ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW,
„Wahai Rasulullah, apakah perbutan yang paling utama?‟
Beliau menjawab, „sholat pada awal waktunya‟. Aku bertanya
lagi, „Kemudian apa?‟ Beliau menjawab, „Berbakti kepada
kedua orang tua‟. Aku berkata, „Kemudian apa?‟ Beliau
menjawab, „Jihad di jalan Allah‟. Aku pun berhenti (untuk)
bertanya kepada Rasulullah SAW. Sekiranya aku menambah
pertanyaan niscaya beliau akan menambah jawabannya
kepadaku”.(H.R. al- Bukhari)”.60
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Said AlKhudri:
“Dari Abu Said Al-Khudri RA, bahwa ada Seorang laki-laki
datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah,
Manusia yang bagaimana yang lebih utama?” Rasulullah SAW
menjawab, “yaitu orang yang berjuang di jalan Allh dengan
59
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghit, Juz X, 214-215.
Tirmidzi, Hadits tentang Jihad, Lidwa Pusaka i-Software-Kitab 9 Imam Hadist, 154.
60
49
harta dan jiwanya”. lelaki itu bertanya lagi,“setelah itu
siapa?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang beriman (yang
bertempat tinggal) di lembah gunung. Ia beribadah kepada
Allah dan menghindari manusia dari kejahatannya”.(H.R.
muslim)”.
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu
Hurairah:
“Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW
bersabda, „Allah SWT akan menjamin orang yang keluar
(berjuang) di jalan-Nya, seraya berfirman, “sesunggunya orang
yang berangkat keluar untuk berJihad kepada-Ku, karena
keimanan kepada-Ku dan membenarkan (segala ajaran) pada
rasul-Ku, maka ketahuilah bahwasanya Aku-lah yang akan
menjamin untuk masuk ke dalam surga, atau akan
mengembalikannya ke tempat tinggal, di mana pertama kali ia
keluar, dengan membawa pahala dan ghonimah (harta
rampasan). (H.R.Muslim)”.61
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin
Malik:
“Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, „Rasulullah SAW bersabda,
„sesunggunya berangkat ke jalan Allah di waktu pagi dan siang hari lebih
baik dari pada dunia dan seisanya. (H.R. Muttafaqun “alaih)”62.
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas:
61
Muslim, Hadist tentang Jihad, Lidwa Pusaka i-Software-Kitab 9 Imam Hadist, 1052.
Abu Zakaria, Riadhus Shalihin terjemahan, Bandung, PT Al-Ma‟arif, 1976, 275.
62
50
“Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,
„tidak ada hijrah setelah pembebasan (makkah), akan tetapi
Jihad dan niat. Apabila kamu diperintahkan untuk berangkat
berperang maka berangkatlah‟.” (H.R. al-Bukhari)”63.
Dari beberapa kutipan ayat al-Qur‟an maupun hadits di atas dapat
diketahui tentang pentingnya Jihad dalam Islam. Nash di atas dapat
dijadikan
rujukan
Jihad,
baik
dalam
pengertian
aktivitas
yang
berhubungan dengan perang maupun pengertian sebagai usaha yang serius
di jalan Allah.
3. Macam-macam Jihad
Jihad bisa dibagi menjadi beberapa berdasarkan muatan yang
berbeda:
a. Berdasarkan alat yang dipakai terbagi menjadi tiga bagian:
1. Jihad dengan jiwa, yakni dengan memasuki kancah peperangan
antara ahlul haq versus ahlul batil dalam rangka memenuhi
panggilan Allah.
2. Jihad dengan harta, yakni mengorbankan hartanya di jalan Allah
dengan memberikan komsumsi untuk mujahidin beserta keluarga
yang dibawah tanggung jawabnya.
3. Jihad dengan lisan, yakni dengan memberikan suara yang bisa
mendatangakan maslahah bagi mujahidin atau menghindari bahaya
yang akan menimpa mereka, apapun bentuknya.64
63
64
2002, 20.
Bukhori, Hadist Jihad, Lidwa Pusaka i-Software-Kitab 9 Imam Hadist, 264.
Abdul Baqi Ramadhun, Jihad jalan kami, terj.Imam Fajaruddin, Solo, Era Intrmedia,
51
b. Berdasarkan sasaran
Pembagian target sasaran Jihad dibagi menjadi lima:
1. Jihad melawan hawa nafsu, yakni seseorang mendidik jiwanya untuk
taat beragama kepada Allah, meninggalkan syahwat dan fitnah
syubhat, serta melkasanakan kewajiban meskipun berat dan tidak
disukai jiwa.
2. Jihad melawan syetan, yakni meninggalkan fitnah syahwat dan
subhat yang dihembuskan setan kepada seorang hamba.
3. Jihad melawan orang kafir, yakni dengan memerangi mereka dan
mengorbankan segala yang dibutuhkan dalam peperangan, baik
berupa harta, pengalaman, dan lain sebagainya.
4. Jihad melawan orang-orang munafik, yakni hal ini dilakukan dengan
lisan, menegakkan hujjah atas mereka, melarang dan mencegah
mereka dari kekafiran yang tersembunyi, membongkar permainan
dan maker-makar meraka, serta mewaspadai segala tanduk-tanduk,
rencana mereka, dan upaya-upaya mereka yang lain.
5. Jihad melawan orang-orang fasik, yakni dilakukan dengan tangan,
jika tidak mampu, maka dengan lisan. Dan jika tidak mampu maka
dengan hati.65
c. Berdasarkan hukumnya, bagian ini mamiliki dua keadaan berbeda.
Pertama, hukum-hukum Jihad turun secara bertahap dalam
beberapa fase. Kedua, Jihad memiliki ketetapan hukum dan syariat
65
Abdul Baqi Ramadhun, Jihad jalan kami, 22-23.
52
Jihad dari segi hukum talah final, hal ini terjadi karena sebelum
memiliki hukum yang final, hukum Jihad telah melewati empat fase:
Fase pertama, fase ini meliputi seluruh fase makkah, pada fase itu,
orang-orang beriman dilarang memerangi orang-orang kafir, tetapi
diperbolehkan berJihad dengan Al-Qur‟an dan dakwah yang lurus.
Fase kedua, turunnya fase ini berarti menghapus fase sebelumnya
yang
memerintahkan
mereka
menahan
tangan
mereka,
tanpa
mewajibkan atau mefardhukan Jihad.
Fase ketiga, dalam fase ini, kaum muslimin diperintahkan hanya
memerangi siapa saja yang memerangi mereka dengan meninggalkan
orang-orang yang tidak memerangi.
Fase keempat, inilah fase diwajibkannya memerangi orang-orang
kafir, dimulai dari oang-orang kafir yang lebih dekat dengan kaum
muslimin, tindahkan ini telah dilakukan Nabi terhadap orang-orang
kafir arab.66
4. Keutamaan Jihad dan Hubunganya dengan manusia.
a. Keutamaan Jihad menurut Al-Qur‟an
Penunjukan ayat Al-Qur‟an agar melakukan Jihad di jalan Allah
SWT dalam beberapa ayatnya, mempunyai makna penting dan
mengindikasikan bahwa Jihad harus betul-betul diwujudkan dalam
aktivitas bermanfaat, baik untuk kepentingan dirinya sendiri, agama,
maupun masyarakat. Keutamaan-keutamaan Jihad harus dijadikan
66
Abdul Baqi Ramadhun, Jihad jalan kami, 24-25.
53
landasan moral dalam melaksanakan aktivitas tersebut.
Salah satu tawaran Allah SWT untuk dapat menyelematkan
dirimanusia dari adzab-Nya ialah dengan melakukan Jihad. Hal ini
dapat dilihat dalam Q.S.Shaf/61.ayat 10 dan 11.
         
        
         
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu
perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berJihad di
jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui”.
Dalam ayat ini dinyatakan bahwa,selain beriman kepada Allah
dan rasulNya, Jihad juga dapat menyelamatkan manusia dari ancaman
Allah Swt, dengan dikiaskan sebagai perniagaan (tijarah) yang
menguntungkan. Orang yang telah melakukan Jihad dengan harta dan
jiwa raganya dalam menjalani kehidupan dan membela agama akan
memperoleh balasan berupa pengampunan dosa dari Allag Swt akan
memasukanya kedalam surga.
Keutamaan lain dari Jihad adalah dapat mengantarkan sesorang
kepada tingkat kepribadian mukmin yang baik. Seseorang yang
54
sanggup dan gemar melakukanya, maka akan semakin tinggi tingkat
keimanan yang ia peroleh. Sebaliknya, seseorang yang jarang dan tidak
berani melakukan Jihad, maka semakin lemah imanya. Itulah sebabnya
dalam beberapa ayat tentang Jihad, penyebtan orang-orang yang
beriman dikaitkan dengan orang-orang yang berhijra, berJihad dan
bersifat sabar.
Orang yang mau berJihad berarti telah menghargai dirinya
sendiri, sadar akan kelemahanya dan menyadari potensi dirinya yang
terus menerus berkompetensi antara baik dan buruk. Sebagai makhluk
ia sadar bahwa agama yang ia anut harus diwujudkan dalam kehidupan
beragama dan ancaman-ancaman terhadap agama harus dimusnahkan.
Sebagai makhluk sosial, ia sadar bahwa masyarakat dan negara harus
bebas dari berbagai ancaman dab gangguan. Oleh karena itu, kekacauan
dan ketidakadilan harus dimusnahkan, kemungkaran tidak boleh terjadi,
dan masyarakat serta negara harus dilindungi. Semua ini tidak dapa
mungkin tidak dapat dilakukan tanpa didorong oleh semangat Jihad
yang tinggi67.
67
Rohimin, Jihad makna dan hikmah, Jakarta, Erlangga, 2006, 57.
55
b. Jihad dan Iman
Orang yang mau berJihad adalah orang yang memiliki iman yang
sebenarnya. Jihad yang mereka lakukan adalah bukti bahwa mereka
betul-betul beriman dengan sebenarnya. Dengan iman yang sebenarnya
ini, apapun ancaman yang mereka hadapi tidak membuat semangat
Jihad mereka pudar, bahkan mendorong mereka agar tetap tegar
berjuang menegakkan ajaran agama. Dalam Q.S.al-Ahzab/33:39
ditegaskan:
       
      
Artinya:
”
(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah,
mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut
kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah
sebagai Pembuat perhitungan”.
Ayat ini menunjukan, bahwa iman (keyakinan sejati) yang
dimiliki oleh seorang mujahid berperan sebagai pendorong yang sangat
besar dalam mengarahkan dirinya untuk melakukan perbuatan baik.
Dengan landasan iman seseorang termotivasi untuk membebaskan
dirinya dari rasa takut dan mencurahkan segenap kemampuanya untuk
meraih kemenangan.68
68
Rohimin, Jihad makna dan hikmah, Jakarta, Erlangga, 62.
56
c. Jihad dan Hijrah
Jihad dan hijrah merupakan dua bentuk ajaran agama yang
langsung diperintahkan al-Qur‟an. Kedua ajaran ini punya peran
penting dalam sejarah perjuangan agama. Banyaknya uraian Al-qur‟an
tentang kedua ajaran ini mengindikasikan bahwa setiap Muslim
seharusnya berupaya agar dapat melakukanya, baik untuk kepentingan
sendiri maupun untuk kepentingan umum. Orang yang beriman,
berhijrah dan berJihad adalah orang yang meharapkan rahmat Allah
Swt dan mencari ridho-Nya.
Disisi lain, hijrah juga merupakan respon terhadap keinginan
besar masyarakat arab madinah yang secara terbuka menerima ajaran
Nabi Saw untuk berpaling kepada ajaran tauhid. Sementara itu, mereka
juga berharap besar
dengan kedatangan
seorang nabi
untuk
mendamaikan pertikaian antar suku di Madinah. Dengan kedatangan
seorang nabi sebagai pemimpin, mereka berharap tidak lagi terjadi
persaingan antar suku dalam menentukan pemimpin. Oleh karena itu,
begitu mereka tau kemunculan seorang Nabi yang selalu disebut-sebut
orang yahudi langsung mereka terima dengan penuh gembira dan sikap
siap membantu serta melindungi.
d. Jihad dan Sabar
Seruan Al-Qur‟an agar bersikap sabar, terutama dalam konteks
Jihad merupakan seruan yang paling fundamental untuk menumbuhkan
kekuatan moral Mujahid. Esensi sabar merupakan aspek keyakinan
57
yang ditunjukan seseorang ketika ia dituntut untuk melkukan Jihad
dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Seandainya ia mampu
memposisikan dirinya sebagai orang yang sabar, maka Jihad yang ia
lakukan menjadi Jihad yang sebenarnya, Jihad yang betul-betul yang
dilakukan atas dasar keyakinan.
Seseorang mungkin bisa melakukan Jihad dalam berdakwah, tapi
belum tentu ia bisa sabar menerima penderitaan yang dialaminya.
Seseorang mungkin bisa berJihad menafkahkan harta kekayaannya
dijalan allah swt, akan tetapi belum tentu ia sabar menerima ujian yang
diberiakn kepadanya. Seseorang mungkin mampu berJihad memerangi
orang-orang kafiir dan munafik, tetapi belum tentu ia mampu menerima
kenyataan dalam peperangan tersebut.
5. Pandangan Al-Qur’an tentang Jihad
a. Tujuan Jihad
1. Untuk memperluas penyebaran Agama
Dakwah dan Jihad tidak dapat dipisahkan, salah satu tujuan
Jihad, terutama Jihad perang adalah untuk kepentingan dakwah itu
sendiri, hanya saja persoalannya, mana yang harus didahulukan
antara keduanya.
Tujuan Jihad adalah untuk menegakkan agama Allah Swt,
yang tidak mungkin bisa dilakukan tanpa perjuangan, dan
perjuangan tidak mungkin tanpa hambatan, gangguan, rintangan dan
ancaman. Oleh karena itu, menghubungkan dakwah sebagai sebagai
58
Jihad dijala Allah swt merupakan hal yang wajar. Karena, baik
dakwah maupun Jihad sama-sama berjuang dijalan Allah Swt. Orang
yang melakukannya dianggap sebagai orang mujahid, dan matidalam
kegiatan dakwah adalah mati syahid.
2. Untuk menguji kesabaran
Melakukan Jihad hendaklah diikuti dengan sikap sabar, dan
sabar itu sendiri sudah merupakan Jihad. Sulit memperoleh
kemenangan jika Jihad diiringi dengan sikap sabar. Elakukan Jihad,
baik Jihad dalam pengertian dakwah, perang, dalam pengertian lain
dan apapun bentuknya memang tidak mudah untuk melakukannya.
Maka dalam konteks ini, Jihad tidak semata-mata dipahami dengan
perang menghadapi musuh yang nyata.
Sabar menghadapi malapetaka, kesengsaraan, dan aneka
cobaanjuga termasuk berJihad. Dalam ayat lain dinyatakan untuk
dapat masuk surga haruslah diuji terlebih dahulu dengan ajaran Jihad
dan berbagai cobaan lain. Q.S.Ali Imron/3:142
         
   
Artinya:
“Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,
Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berJihad
diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”.
59
3. Untuk mencegah ancaman musuh
Jihad itu sendiri menurut Asfahani dapat di kategorikan
menjadi 3 yaitu:
a) Jihad terhadap musuh yang jelas
b) Jihad terhadap setan
c) Jihad terhadap hawa nafsu
4. Untuk mencegah kezaliman
5. Untuk menjaga perjanjian
b. Fungsi Jihad
1. Aspek Ibadah
Sebagai ibadah, Jihad yang dilakukan tidak semata-mata untuk
mempertahankan diri dan mengejar kepentingan politis yang bersifat
duniawi, seorang hamba tetapi lebih jauh untuk mendekatkan diri
kepada Allah Swt. Melalui Jihad, diharapkan dapat membuktikan
ketaatannya seorang hamba beribadah kepada Allah Swt, dengan
harapan menjadi syuhada, mendapat pahala, dan masuk surga.
Dalam
al-Qur‟an
banyak
ditemukan
tentang
Jihad
yang
menunjukkan fungsi Jihad sebagai usaha untuk mendekatkan diri
kepada Allah swt untuk mendapatkan rahmat, ampunan dan balasan
dariNya.
2. Aspek Dakwah
Fungsi terpenting dari aspek dakwah ini adalah menegakkan
“kalimat Tauhid” dan pengamalan syariat Islam. Oleh karena itu,
60
setiap orang berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain
yang belum mengtahuinya. Orang yang menerima islam sebagai
agamanya atau beriman, berarti telah memperoleh petunjuk dari
Allah Swt. Rasullah Saw dan para dai tidak punya otoritas untuk
memberi petunjuk kepada manusia agar masuk Islamdan taat kepada
agamanya.
3. Aspek Politik dan Militer
Dilihat dari aspek politik dan militer, Jihad mempunyai fungsi
yang amat penting. Dan adanya syariat Jihad yang berkaitan dengan
perang serta perintah agar mempersiapkan kekuatan militer, umat
islam dapat menggertikan agresi musuh yang akan dilancarkan
kepada mereka, dan selanjutnya umat Islam terhindar dari ancaman
dan penganiayaan. Sekalipun perang ini pada hakekatnya tidak
dikehendaki dan harus dihindari, disisi lain menjadi kekuatan umat
Islam.69
4. Aspek spiritual Keagamaan
c. Kriteria Jihad
Banyak sekali ayat-ayat al- Qur‟an yang menyebutkan kata
Jihad atau yang semakna dengan Jihad. Jihad di dalam al-Qur‟an
mengandung beberapa pengertian menurut urutan turunya ayat.
Jihad pada mulanya adalah mendakwahi manusia untuk menerima
agama Islam, mendekatkanya ke akal dan pikirn mereka, membuat
69
Rohimin, Jihad makna dan hikmah, Jakarta, Erlangga, 120.
61
hati dan dada cinta kepadanya, serta mengokohkan kedalam jiwa dan
sanubari. Jihad dalam hal ini menggunakan hujjah, penjelasan, tutur
kata yang bijak dan nasehat lembut serta berdebat dengan cara yang
baik.
       
         
       
“serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845]
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.70
Ayat ini turun di mekah sebelum turunya perintah untuk
berJihad
melawan
orang-orang
kafirdengan
pedang
dan
memeranginya mereka dengan senjata.
Ibn Jarir mengatakan: “ apa yang diturunkan kepada Nabi berupa AlQur‟an, Al-Sunah dan Mau‟idhoh Hasanah, di dalamnya mencakup
peringatan dan peristiwa yang terjadi pada masa lalu, agar ingat akan siksa
Allah yang padih”.71
Maka Jihad dalam fase ini adalah Jihad melawan hawa nafsu dalam
proses penyucian dan perbaikan diri. Dakwah dengan belajar, mengajar
dan menyebarkan islam pada manusia dengan bekal sabar dalam
70
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan,...
Ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al Adhim, Beirut Lebanon,Daal Ma‟rifah.1996,juz II, 613.
71
62
mengahadapi tantangan dan cobaan serta membalas dan memaafkan
perilaku buruk.
B. Teori-teori Pembelajaran
Tujuan pengajaran yang dilaksanakan didalam kelas menurut Mager
adalah menitik beratkan pada perilaku siswa atau perbuatan sebagai suatu
jenis Out Put yang terdapat pada siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan
belajar.72
Tugas pengajar tidaklah berakhir tatkala telah selesai menyampaikan
materi pelajaran didalam kelas dengan baik. Mendapatkan pengalaman diluar
kelas merupakan bagian strategi kognitif di mana seseorang dapat belajar dari
pengalaman dirinya dan pengalaman orang lain.
Ada 3 fungsi dari teori-teori pembelajaran:
1. Teori pembelajaran adalah pendekatan terhadap suatu bidang
pengetahuan, suatu cara menganalisis, membicarakan dan meneliti
pembelajaran.
2. Teori
pembelajaran
berupaya
meringkas
sekumpulan
besar
pengetahuan mengenai hukum-hukum pembelajaran kedalam ruang
yang cukup kecil.
3. Teori pembelajaran secara kreatif berupaya menjelaskan apa itu
pembelajaran dan mengapa pembelajaran berlangsung seperti
adanya.73
Beberapa teori pembelajaran seperti teori gestal, teori behavioaris,
72
73
Martinis yamin, Paradigma pendidikan konstruktivistik, Jakarta, GP Press, 2008, 1.
Winfred f. Hill, Teori-Teori Pembelajaran, Bandung, Nusa Media, 2009, 28.
63
teori belajar sosial, teori Humaistik dan teori Kontruktivis memiliki
beberapa perbedaan anatara satu dengan yang lain, bahkan pada
beberapa teori perbedaan tersebut bertolak belakang, sehingga jika
konsep yang dianut oleh perancang pembelajaran adalah teori tertentu
maka pasti akan mempengaruhi tentang bagaimana perencanaa
pembelajaran berikutnya dikembangkan74.
C. Tinjauan Tentang Madrasah
1. Perkembangan Madrasah di Indonesia
Perkembangan Madrasah di Indonesia sejak zaman penjajahan
belanda hingga kemerdekaan mengalami pasang naik dan pasang surut,
yang banyak hal seirama dengan bentuk kebijakan yang diambil
pemerintah maupun pergumulan intern umat Islam.
Pada masa penjajahan Belanda, kebijakan terhadap pendidikan
Islam
pada
dasarnya
bersifat
menekan
dan
membatasi
karena
kekhawatiran akan munculnya militansi kaum muslimin terpelajar. Bagi
pemerintah penjajah, pendidikan di Hindia bukan sekedar pedagogis
kultural, tapi juga psikologis-politis. Pandangan ini disatu pihak
memunculkan kesadaran bahwa pendidikan dianggap begitu vital dalam
upaya mempengaruhi budaya masyarakat. Dengan pendidikan ala belanda
dapat diciptakan kelas masyarakat terdidik yang berbudaya Barat sehingga
lebih akomodatif terhadap kepentingan penjajah. Namun dipihak lain
pandangan diatas juga mendorong pengawasan yang berlebihan terhadap
74
Farida Nurmaliyah, Perencanaan Pembelajaran, Malang, UIN-Maliki Press, 2010, 18.
64
perkembangan pendidikan Islam seperti Madrasah dengan segala
bentuknya
termasuk
didalamnya
Madrasah
Diniyah.
Kendatipun
pengorganisasian Madrasah menerima pengaruh dari sistem sekolah
belanda, namun muatan keagamaan di lembaga ini pada akhirnya
menambah semangat kritis umat Islam terhadap sistem kebudayaan yang
dibawa oleh kaum penjajah.75
Setelah indonesia merdeka perhatian terhadap Madrasah tampak
lebih baik, BPKNIP (badan Pekerja Nasional Indonesia Pusat) dalam
maklumatnya 22 Desember 1945, diantaranya menganjurkan :” dalam
memajukan pendidikan dan pengajaran sekurang-kurangnya diusahakan
agar pengajaran di langgar, surau, masjid dan Madrasah berjalan terus dan
ditingkatkan. Pada tanggal 27 Desember 1945, BPKNIP menyarankan
agar Madrasah dan pesantren mendapakan perhatian dan bantuan materiel
dari pemerintah, karena Madrasah dan pesantren pada hakekatnya adalah
salah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat yang sudah
berurat berakar dalam masyarakat indonesia.76
Perhatian pemerintah terhadap Madrasah dan pesanten semakin
terbukti dengan berdirinya kementrian agama pada 3 januari 1946.
Dikeluarkanlah perturan menteri agama no.1 tahun 1945 tentang
pemberian bantuan kepada madrasah. Kemudian disempurnakan dengan
peraturan menteri agama no.7 tahun 1952. Dalam ketentuan ini, Madrasah
75
Mastuki, dkk. Menelusuri Pertumbuhan Madrasah di Indonesia, Jakarta, Dirjen bagais
Depag RI, 2000, 12.
76
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada Jakarta,
43.
65
ialah tempat pendidikan yang telah diatur sebagai sekolah dan membuat
pendidikan dan ilmu pengetahuan agama islam menjadi pokok
pengajaranya.77
Uraian di atas membicarakan perkembangan Madrasah secara
umum yaitu meliputi Madrasah yang dalam kategori pendidikan sekolah
maupun Madrasah dalam kategori pendidikan luar sekolah. Seiring dengan
perkembangan Madrasah pada umumnya yang mengalami pasang naik dan
pasang surut, maka demikian pula dengan Madrasah Diniyah pun
mengalami pasang naik dan pasang surut sesuai dengan situasi dan kondisi
yang mempengaruhinya.
2. Tinjauan Guru di Madrasah
Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang
memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh
sembarang orang diluar bidang pendidikan, walaupun pada kenyataannya
masih terdapat hal-hal tersebut diluar bidang kependidikan78. Jabatan guru
merupakan jabatan profesional, dan sebagai jabatan profesional,
pemegangnya harus memenui kualifikasi tertentu. Kriteria jabatan
profesional antara lain bahwa jabatan itu melibatakan kegiatan intelektual,
mempuyai batang tubuh yang khusus, memerlukan waktu yang lama untuk
memangkunya dan harus mempuyai kode etik.
Guru adalah orang yang (mata pencahariannya, profesinya )
mengajar. Guru tidak hanya yang bekerja pada pendidikan formal saja,
77
78
Abdurahman Saleh, Penyelenggaraan Madrasah, Jakarta,Darma Bakti,1984, 8.
Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2007, 115.
66
lembaga non formal pun bisa dikatakan sebagai guru, misalnya pesantren
yang lazim disebut dengan ustadz. Pendidikan artinya proses pengubahan
sikap dan tata laku atau kelompok orang di usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan proses, cara, perbuatan mendidik.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkam
untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan, pendidikan bertujuan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, salah satu usaha untuk
meningkatakan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses
pembelajaran di Madrasah. Dan pendidikan juga dapat mempengarui
perkembangan fisik, mental, emosional, moral, serta keimanan dan
ketakwaan manusia.
Dari kata pendidikan itu kemudian muncul “Pendidik”, istilah lain
dari pada guru adalah pengajar yang muncul dari kata pengajaran, namun
demikian antara pendidik dan pengajar tidak dapat dibedakan, kalaupun
ada pembedaan ini didasarkan pada penekanannya yaitu pendidikan
tekanannya pada aspek nilai, sedangkan pengajaran pada aspek
inetelektual. Menurut Harun Nasution agama berasal dari kata, yaitu alDin, religi (relegere, religare) dan agama. al-Din (semit) berarti undangundang atau hukum.
Kemudian dari bahasa arab, kata itu mengandung arti menguasai,
menundukkan, patuh, utang, balasan, dan kebiasaan. Dan menurut bahasa
sansekerta, agama berarti tidak kacau. (A = tidak, Gama = pergi). Jadi
agama artinya tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun menurun.
67
Jadi salah satu sifat agama, yang diwarisi secara turun menurun dari
generasi satu ke generasi selanjutnya. Joe Park sebagaimana dikutip oleh
Ahmad Tafsir merumuskan pendidikan sebagai “The art or process of
imparting or acquiring knowledge and habit through instructional as
study”. Pendidikan adalah sebuah seni memberitahukan atau memperoleh
pengetahuan melalui pengajaran. Intinya definisi ini menekankan pada
aspek pengajaran (instruction).
Seseorang dikatakan sebagai guru tidak cukup “tahu” sesuatu
materi yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan
seseorang yang memiliki “kepribadian guru”, denagn segala cirri tingkat
kedewasaanya. Dengan kata lain untuk menjadi pendidik aau guru,
seseorang harus memiliki kepribadian.
Masalahnya yang penting adalah mengapa guru dikatakan sebagai
“pendidik”. Guru memang seorang “pendidik”, sebab dalam pekerjaanya
ia tidak hanya “mengajar” seseorang agar tahu beberapa hal, tetapi guru
juga melatih beberapa ketrampilan dan terutama sikap mental anak didik.
“mendidik” sikap mental seseorang tidak cukup “mengajarkan” sesuatu
pengetahuan, tetapi bagaiman pengetabuan itu harus dididikan, dengan
guru sebagai idolanya.
Mengenai pengertian pendidikan agama Islam adalah hal-hal yang
berkaitan dengan upaya sadar yang dirancang untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia melalui pandangan hidup, sikap hidup maupun
keterampilan yang berorientasi pada terbentuknya kepribadian muslim.
68
Karena itu pendidikan agama islam memperoleh pengetahuan atau
pengajaran yang melalui tuntunan hidup yang dapat membebaskan
manusia dari kekacauan dengan cara pengabdian dan penyerahan kepada
Tuhan penciptan-Nya.
D. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan
anak didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan ada pada diri
setiap anak didik. Tidak ada seorang guru pun yang mengharapkan anak
didiknya menjadi sampah masyarakat. Untuk itulah guru dengan penuh
dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina anak didik agar di
masa mendatang menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa dengan
mengamalkan ajaran Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup
sehari-hari. Selain itu guru adalah orang yang menerima amanat orang tua
untuk mendidik anak. Sebagai pemegang amanat, guru bertanggung jawab
atas amanat yang diserahkan kepadanya. Allah SWT. Berfirman:
          
            
    
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu)
apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu
69
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya
Allah adalah maha mendengar lagi maha melihat ". ( Q.S. AnNisa / 4: 58 ).79
Sebagai pemegang amanat orang tua dan sebagai salah satu pelaksana
pendidikan Islam guru tidak hanya bertugas memberikan pendidikan ilmiah.
Tugas guru hendaknya merupakan kelanjutan dan sinkron dengan tugas orang
tua, yang juga merupakan tugas pendidik muslim pada umumnya, yaitu
memberi pendidikan yang berwawasan manusia seutuhnya. Guru hendaknya
mencontoh peranan yang telah dilakukan para Nabi dan pengikutnya. Tugas
mereka pertama- tama ialah mengkaji dan mengajarkan ilmu Al-Kitab. Hal
ini sesuai dengan firman Allah SWT.
          
          
      
" Tidak wajar sebagai seseorang manusia yang Allah berikan
kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata
kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembahpenyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia
berkata), "hendaklah kamu menjadi orang-orang yang rabbani
karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan
kamu tetap mempelajarinya ". ( Q.S. Al-Imran /3 : 79 ).80
79
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan terjemahan, Jakarta, Danakarya ( mekar
Surabaya), 2004, ...
80
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan, 75.
70
Sebagai pemegang amanat orang tua untuk mendidik ia bertanggung
jawab untuk mewariskan nilai-nilai dan norma-norma kepada generasi
berikutnya sehingga terjadi proses konversasi nilai. Karena melalui poses
pendidikan diusahakan tercipta nilai-nilai baru.
Kehadiran guru dalam proses belajar mangajar atau pengajaran masih
memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses belajar mengajar
belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape-recorder, ataupun computer
yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi
seperti sikap, system niali, perasaan, motivvasi, kebiasaan, dan lain-lain yang
diharapkan merupakan hasil dalam proses pengajaran, tidak dapat dicapai
melalui alat-alat tersebut.
Proses belajar-mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara
keseluruan dengan guru sebagai pemegang peranan penting. Peristiwa
belajar-mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh
karena itu, perwujutan proses belajar-mengajar dapat terjadi dalam berbagai
model. Bruce Joyce dan Marshal Weil mengumukakan 22 model mengajar
yang dikelompokkan ke dalam 4 hal, yaitu (1) proses informasi, (2)
perkembangan pribadi, (3) interaksi sosial, dan (4) modifikasi tingkah laku.
Tanggung jawab dalam mengembangkan profesi pada dasarnya ialah
tuntutan dan panggilan untuk selalu mencintai, menghargai, menjaga dan
meningkatkan tugas dan tanggung jawab profesinya. Guru haus sadar bahwa
tugas dan tanggung jawabnya tidak bias dilakukan oleh orang lain, kecuali
oleh dirinya. Demikian pula guru harus sadar bahwa dalam melaksanakan
71
tugasnya selalu dituntut untuk bersungguh-sungguh dan bukan pekerjaan
sambilan. Guru harus sadar bahwa yang dianggap benar saat ini, belum tentu
benar di masa yang akan datang. Oleh karena itu guru dituntut agar selalu
meningkatakn
pengetahuan,
kemampuan
dalam
rangkan
pelaksanan
profesinya.
Berdasarkan peranan profesional guru modern maka sudah barang
tentu menimbulkan dan menambah tanggung jawab guru menjadi lebih besar.
Tanggung jawab guru itu sebagai berikut:
1.
Guru harus menuntut murid-murid belajar.
2.
Turut serta membina kurikulum Madrasah.
3.
Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak, dan
jasmani).
4.
Memberikan bimbingan pada murid.
5.
Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan
penilaian atas kemajuan belajar.
6.
Menyelenggarakan penelitian.
7.
Mengenal masyarakat dan iktu serta aktif.
8.
Menghayati, mengamalkan, dan mengamankan pancasila.
9.
Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan
perdamaian dunia.
10. Turut menyukseskan pembangunan.
72
11. Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional guru81.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai - nilai hidup.
Mengajar berarti meneruskan dan mengebangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan ketrampilam ketrampilan pada siswa.
Tugas guru adalah sesuatu yang wajib dikerjakan oleh guru yang
menjadi tanggung jawabnya yaitu menjadi seorang guru (pengajar dan
pendidik). Guru hendaknya mencontoh peranan yang telah dilakukan para
Nabi dan pengikutnya. Tugas mereka pertama- tama ialah mengkaji dan
mengajarkan ilmu Al-Kitab82. Jadi tugas guru PAI secara garis besar meliputi
empat hal yitu tugas profesi, tugas keagamaan, tugas kemanusiaan, dan tugas
kemasyarakatan. Ciri-ciri guru yang baik yaitu:
1. Guru yang baik memahami dan menghormati murid.
2. Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang
diberikannya.
3. Guru yang baik menyesuaikan metode mengajar dengan bahan
pelajaran.
4. Guru
yang
baik
menyesuaikan
bahan
pelajaran
dengan
kesanggupan individu.
5. Guru yang baik mengaktifkan murid dalam hal belajar.83
81
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), 127-132.
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: logos, 1999), 95.
83
Nasution, Didaktik Azas-Azas Mengajar I, Bandung, Jemmars, 11-12.
82
73
E. Tugas Guru Madrasah
Tugas guru PAI adalah mengajar, mendidik, melatih dan menilai atau
mengevaluasi proses dan hasil belajar mengajar.
1. Mengajar
Guru bertugas memberikan pengajaran di dalam Madrasah (kelas). Ia
menyampaikan agar murid memahami dengan baik semua pengetahuan
yang telah disampaikan itu. Selain dari itu ia juga berusaha agar terjadi
perubahan sikap, ketramoilan, kebiasaan hubungan sosial, apresiasi, dan
sebagainya melalui pengajaran yang diberikannya.
2. Mendidik
Mendidik adalah kegiatan guru dalam memberi contoh, tuntunan,
petunjuk dan keteladanan yang dapat diterapkan atau ditiru peserta didik
dalam sikap dan perilaku yang baik (akhlakul karimah) dalam kehidupan
sehari–hari. Adapun aspek yang dominan untuk dikembangkan dalam
proses pendidikan ini adalah aspek afektif (sikap dan nilai).
Di sinilah tugas utama guru Pendidikan Agama Islam, tidak hanya
mengajar dalam arti mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of
knowledge) tetapi mentransfer nilai–nilai kepada peserta didiknya
(transfer of value), yang akan diwujudkan dalam tingkah laku mereka
sehari–hari. Oleh karena itu, pribadi guru itu sendiri merupakan
perwujudan dan nilai–nilai yang akan ditransfer. Hal ini sesuai pendapat
Dr. Zafar Alam yang menyatakan bahwa:
74
" …. from the point of view education, the personality of teacher
Interaksi Sosial of crucial importance. If the teacher embodies
and reflects the value he Interaksi Sosial teaching than the
impression he leaves on his pupils Interaksi Sosial very deep
and indelible"84.
“…di dalam pendidikan kepribadian seseorang guru adalah
sangat penting. Jika guru mewujudkan dan menggambarkan nilai–nilai
dia mengajar yang kemudian jejaknya dicontoh oleh para peserta
didiknya sangat mendalam atau membekas dan tidakdapat dihilangkan ".
Di sini terjadi proses transfer nilai–nilai yang ada pada guru
(pribadi guru) kepada peserta didiknya yang kemudian pribadi guru akan
tercermin pada pribadi peserta didik. Dengan demikian, secara esensial
dalam proses pendidikan guru itu bukan hanya berperan sebagai "
pengajar " yang transfer of knowledge tetapi juga "pendidik" yang
transfer of values. "Ia bukan saja pembawa ilmu pengetahuan, akan tetapi
menjadi contoh seorang pribadi manusia yang baik"85.
3. Melatih
Melatih
adalah
kegiatan
yang
dilakukan
guru
dalam
membimbing, memberikan contoh dan petunjuk–petunjuk yang praktis
yang berkaitan dengan gerakan, ucapan perbuatan lainnya dalam rangka
mengembangkan aspek psikomotor (ketrampilan) peserta didik. Adapun
aspek yang perlu dikembangkan dalam Pendidikan Agama Islam antara
lain adalah: Ibadah (khususnya) shalat, berwudlu, membaca dan
84
Zafar Alam, Education Interaksi Early Islamic Periode (Delhi: Markazi Maktaba
Islami Publishers, 1997), 37.
85
Sardiman, Interaksi dan motivasi belajar mengajar, Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada, 2008, 136.
75
menyalin Al–Qur'an, menjadi khatib, imam dan sebagainya. Oleh karena
itu guru PAI dituntut untuk memiliki kualitas sebagai pelatih dari
berbagai kegiatan keagamaan. Perlu diketahui bahwa:
" ….. the success of the prophet as a teacher lies Interaksi the fact that
the practice whatever he taught to others, and as such was the model
for his companions, both Interaksi profession and practice".86
        
         
Artinya “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Artinya “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ( Q.S. As-Shaaf / 61: 2-3 )87.
4. Menilai dan mengevaluasi proses hasil belajar - mengajar
Penilaian proses belajar-mengajar menyangkut penilaian tehadap
kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa, dan
keterlaksanaan progam belajar-mengajar. Sedangkan penilaian hasil
belajar menyangkut hasil belajar jangka pendek dan hasil belajar
jangka panjang88. Dan Ralph tyler, mengatakan bahwa evaluasi
merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh
mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.
Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya 89. "Kegiatan
penilian atau evaluasi mencakup penilaian terhadap kemajuan belajar
86
Zafar Alam, .37.
Depag, Al-Qur‟an dan terjemahan,.928.
88
Nana Sudjana, Penilaian hasil proses belajar mengajar, bandung, PT Remaja
Rosdakarya, 1991, 1.
87
89
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar evaluasi pendidikan Ed. Revisi. Cet. IV, Jakarta,
Bumi Aksara, 2003, 3.
76
peserta didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap
sesudah mengikuti proses pembelajaran".
F. Peran Madrasah
Guru Madrasah dalam pendidikan Islam juga mengemban tugas keagamaan,
yaitu tugas dai yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran
(Amar Ma'ruf Nahi Munkar). Ia harus dapat mencurahkan segenap
kemampuan yang dimilikinya untuk mengajak dan membawa peserta
didiknya menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT. Tentu saja untuk
dapat melaksanakan tugas ini seorang guru harus bertakwa kepada Allah
SWT dan memiliki akhlakul karimah, karena ia ditiru dan dijadikan figur
teladan oleh para peserta didiknya.
1. Tugas Kemanusiaan
Tugas guru dalam bidang kemanusian di Madrasah harus dapat
menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik
simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang
diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanyan dalam
belajar. Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik,
maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih
pengajarannya itu kepada para siswanya. Para siswa akan enggan
menhadapi yang tidak menarik. Pelajaran tidak akan dapat diserap
sehingga setiap lapisan masyarakat (homoludens, homopuber, dan
homosapirns) dapat mengerti bila menghadapi guru.
2. Tugas Kemasyrakatan
77
Profil guru tidak hanya berlaku di kelas saja, hal itu juga dibawa dalam
masyarakat. Sebagai guru agama yang tinggal di dalam masyarakat tidak
dapat mengelakkan dirinya sebagai pemimpin agama, sehingga sewaktuwaktu ada kegiatan keagamaan, diminta atau tidak diminta oleh
masyarakat harus tampil ke depan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi sekarang ini sangat cepat berpengaruh kepada masyarakat. Oleh
sebab itu diperlukan filter yang kuat, agar masyarakat tidak mudah
terpengaruh dan goyah oleh derasnya perubahan dewasa ini. Untuk itu
sebagai seorang figur agama ia harus dapat menempatkan diri, yakni
ingngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yaitu
di depan memberi suri teladan, di tengah-tengah membangun dan di
belakang memberikan dorongan dan motivasi.
3. Tanggung jawab Guru Agama Islam di Madrasah
Tanggung jawab dan Peranan guru dalam proses belajar-mengajar meliputi
banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams dan Decey dalam
Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar,
pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekpeditor,
perencana, supervisor, motvator, dan konselor90.
Sehubungan dengan fungsi sebagai “pengajar”, “pendidik” dan
“pembimbing”, maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru.
Peranan ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang
duharapkan dalam berbagai interksinya, baik dengan siswa (yang utama),
90
Moh User Usman, Menjadi Guru Profesional, bandung, PT Remaja Rosdakarya
Offset, 2008, 4.
78
sesama guru, maupun dengan staf yang lain. Dari berbagai kegiatan
interaksi belajar-mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi
peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan
perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajarmengajar dan berinteraksi dengan siswanya91.
Peranan guru dalam proses kegiatan belajar - mengajar, secara singkat
dapat disebutkan sebagai berikut:
a.
Informator
Sebagai pelaksana cara mengajar informative, laboratorium, studi
lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
b.
Organisator
Komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar
mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat
mencapai efektivitas dan efesiensi dalam belajar pada diri siswa.
c.
Motivator
Peranan guru sebagai motivator ini sangat penting dalam interkasi
belajar mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan pendidik yang
membutuhkan kemahiran sosial, menyangkut performance dalam arti
personalisasi dan sosialisasi diri.
d.
Pengarah/director
Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan
91
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, 143.
79
kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Guru
harus juga “handayani”.
e.
Inisiator
Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar.
Sudah barang tentu ide-ide merupakan ide-ide kreatif yang dapat
dicontoh oleh anak didiknya. Jadi termasuk dalam semboyan “Ing
Ngarso Sang Tulodo”.
f.
Transmitter
Dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku penyebar
kebijksanaan pendidikan dan pengetahuan.
g.
Fasilitator
Berperan sebagai fasilitatir, guru dalam hal ini akan memberikan
fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar, hal ini
bergayut dengan semboyang “Tut Wuri Handayani”.
h.
Mediator
Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam
kegiatan belajar - mengajar siswa.
80
i.
Evaluator
Ada kecenderungan bahwa peran sebagai evaluator, guru mempuyai
otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam akademis maupun
tingkah laku sosialnya, sehimgga dapat menentukan bagaimana anak
didiknya berhasil atau tidak92.
Prinsip yang lebih penting dalam pelaksanaan pendidikan agama
islam adalah pendidikan keimanan. Usaha pendidikan keimanan memang
hanya sedikit sekali dapat dilakukan oleh Madrasah. Padahal penanaman
itu adalah inti pendidikan agama dan iman itu inti dari agama. Maka
jelaslah
bahwa
orang
tua
harus
menyelenggarakan
pendidikan
keimananam di rumah tangga. Dalam hal penanaman iman ini, sekalipun
guru ingin berperan banyak, ia tidak mungkin mampu memainkan peran
itu. Itupun menjadi dasar kuat perlunya kerja sama orang tua di rumah dan
guru di Madrasah. Dan tidak hanya guru dan orang tua saja yang
mempuyai peranan itu. Akan tetapi kepala Madrasah, guru-guru dan aparat
lainya berkewajiban mencapai tujuan pendidikan, yaitu pembentukan
siswa merupakan suatu kepribadian. Ini artinya pencapaian itu harus
dilakukan dalam suatu kerja sama, bukan sama - sama bekerja, bukan
sendiri - sendiri. Selain peranan guru juga harus mempuyai akhlak dan
etika dalam di kelas maupun diluar Madrasah yang patut dimiliki oleh
seorang guru, adapun etika itu adalah:
92
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, 144-146.
81
1) Akhlak dan etika guru yang patut dimiliki di dalam kelas
a) Niat ibadah kepada Allah SWT. Dengan mengajarkan ilmu.
b) Jangan mengandalkan kemampuan dan usaha belaka dalam
mengajar. Tetapi harus berdoa dan mintak pertolongan pada Allah.
c) Saat mengajar harus menjaga akhlak dan beretika yang baik.
d) Di dalam kelas, harus berwibawa, tenang, khusyu, tawadhu, dan
menunjukkan vitalitas serta keuletan agar para siswa tidak merasa
malas.
e) Harus menjadi teladan para siswa dalam segala perkataan,
perbuatan, dan perilaku.
f) Harus menjaga diri, jangan mengeluarkan tangan meminta bantuan
orang lain dalam urusan-urusan pribadi93.
2) Akhlak dan etika guru di luar Madrasah
a) Zuhud, tidak terpesona oleh keindahan dan kenikmatan dunia.
b) Mengatur waktu, berusaha agar tidak ada waktu yang terlewatkan
tanpa mendatangkan manfaat duniawi dan ukhrawi.
c) Mengabdi kepada masyarakat dan mambantu orang lain dengan
sikap lembut dan tawadhu.
d) Menjahukan diri dari rezeki yang rendah (hina) secara fitrah dan
yang makruh secara syara‟94.
93
Mahmud Samir Al Munir, Guru teladan dibawah Bimbingan Allah, Jakarta, Gema
Insani Press, 2003, 22-23.
94
Mahmud Samir Al Munir, Guru teladan dibawah Bimbingan Allah, 21.
82
4. Keahlian Guru Agama Islam
Keahlian guru (teacher skill) the ability of a teacher to
responsibility perform has or her duties appropriately. Kompetensi guru
merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajibankewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi guru
merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan
profesi keguruan95.
Guru sebagai tenaga profesional di bidang pendidikan, di samping
memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual, juga harus
mengetahui dan melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis. Hal-hal yang
bersifat teknis ini, terutama kegiatan mengelola dan melaksanakan
interaksi belajar-mengajar. Di dalam kegiatan mengelola interaksi belajarmengajar, guru paling tidak harus memiliki dua modal, yakni kemampuan
mendesain progam dan ketrampilan mengomunikasikan progam itu
kepada anak didik96.
Dalam melaksanakan tugas sebagai guru yang bertanggung jawab
dan layak, maka seorang guru harus melaksanakan kompetensi guru
dengan baik. George J. Mouly membagi kompetensi guru menjadi tiga
bidang yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, ke tiga
kompetensi itu adalah:
a. Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intekektual.
b. Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesedian guru terhadap
95
96
Moh User Usman, Menjadi Guru Profesional, 14.
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar , 163.
83
berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya.
c. Kompetensi bidang perilaku/performance, artinya kemampuan guru
dalam berbagai ketrampilan dan perilaku97.
97
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengaja, 18.
BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Diskripsi MTs Nurul Hidayah Margohayu dan MTs Al-Khoiriyah
Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak
1.
Diskripsi MTs Nurul Hidayah Margohayu Kecamatan Karangawen
Kabupaten Demak
a.
Sejarah berdirinya Madrasah MTs Nurul Hidayah Margohayu,
kecamatan karangawen, Kabupaten Demak.
Pendidikan
adalah
merupakan
upaya
meningkatkan
kemampuan dalam kehidupan berbangsa dan beragama, artinya
kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat pendidikannya.
Disamping itu dalam Undang Undang Dasar Republik Indonesia
tahun 1945 mengamanatkan pemerintah tentang pendidikan, bahwa
dalam pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan
pendidikan, relefansi dan efisiensi managemen pendidikan untuk
menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan,
sehinga perlu dilakukan perencanaan pendidikan secara terarah dan
berkesinambungan.98
Dari segi perencanaan pendidikan Undang Undang No. 20
tahun 2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional, dan Amandemen
Undang Undang Dasar 1945 yang menetapkan alokasi anggaran
98
Buku Pedoman MTs Nurul Hidayah Margohayu, karangawen, Demak 2014/2015.
84
85
pendidikan 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN),
ini adalah merupakan angin segar yang perlu direspon positif bagi
kalangan dunia pendidikan, artinya ini menunjukan perhatian
pemerintah pada dunia pendidikan secara besar.
Seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya laju
teknologi dan informasi memaksa dunia pendidikan harus adaptif
terhadap perkembangan tersebut, tuntutan untuk menciptakan akan
suatu pendidikan yang bermutu, berkwalitas inilah yang menjadi
ganjalan di setiap lembaga pendidikan Madrasah maupun madrasah
penyelenggara pendidikan, khususnya adalah Madrasah Tsanawiyah
Nurul Hidayah Margohayu Kec. Karangawen Kab. Demak.
Guna
mengimplentasikan
pendidikan
Madrasah
yang
bermutu dan berkwalitas kami mengusulkan program-program
perencaan pendidikan sebagai langkah untuk memajukan lembaga
pendidikan demi terciptanya cita-cita kami dan masyarakat, yang
memiliki suatu lembaga pendidikan yang bermutu sesuai standar
pendidikan yang bersifat nasional maupun internasional.99
b.
Visi, Misi dan tujuan Madrasah Nurul Hidayah
1) Visi Madrasah :
Terwujudnya anak sholeh – sholehah yang berprestasi,
disiplin dan tanggung jawab dengan landasan Iman dan taqwa
dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sehingga bersifat Kritis,
99
2013/2014
Kepala Madrasah, Dokumentasi Data Sejarah, Margohayu, MTs Nurul Hidayah,
86
Kreatif dan Inofatif.
2) Misi Madrasah :
a) Meningkatkan kegiatan keagamaan di Madrasah dengan
mengefektifkan sholat berjamaah dan kajian kitab kuning.
b) Mewujudkan madrasah sebagai pusat Transformasi IMTAQ
dan IPTEK.
c) Meningkatkan Proses belajar mengajara dan bimbingan
belajar secara maksimal sesuai dengan kompetensi siswa,
agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.
d) Mengoptimalkan kegiatan kegiatan ekstrakurikuler yang
ada, untuk menghasilkan lulusan yang trampil
3) Tujuan Madrasah
a) Mensukseskan Program Pemerintah Wajib Belajar sembilan
Tahun
b) Memenuhi
kebutuhan
Pelayanan
pendidikan
Masyarakat.
c) ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.100
100
Ibid
kepada
87
4) Identitas Madrasah
1. Nama Madrasah
2. No. Statistik Madrasah
(NSM)
3. Akreditasi Madrasah
4. Alamat Lengkap Madrasah
5. NPWP Madrasah
6. Nama Kepala Madrasah
7. No. Telp./ HP Kepala
Madrasah
8. Nama Yayasan
9. Alamat Yayasan
10. No. Telp. Yayasan
11. No. Akte PendirianYayasan
12. Kepemilikan Tanah
13. Status Bangunan
14. Luas Bangunan
15. E-mail
: MTs NURUL HIDAYAH
: 121233210025
: B ( Baik )
: Jl. Masjid Dukuh Curug
Desa / Kelurahan : Margohayu
Kecamatan
: Karangawen
Kab/ Kota
: Demak
Provinsi
: Jawa Tengah
No. Telp.
: 081325513431
: 00.464.186.6-504.000
: Masduki, S.Ag
: 081325513431
: NURUL HIDAYAH
: Jl. Masjid Dukuh Curug Margohayu
Karangawen
:: No. 3 tanggal 15 Desember 1994
: Milik Yayasan
a. Status Tanah
:Wakaf
b. Luas Tanah
: 1.372 m2
: Yayasan
: 974 m2
[email protected]
5) Progam Kerja Madrasah
a) Sarana prasarana dan ketenagaan
(1) Meningkatkan pendayagunaan buku paket dan LKS
bagi murid dan guru utamanya mata pelajaran ujian
negara.
(2) Berusaha meningkatkan pendayagunaan tenaga yang
ada secara efesien dan efektif, serta berusaha
88
meningkatkan kerja sama semua staf (karyawan/guru)
dengan cara sebaik-baiknya.
(3) Mengupayakan
peningkatan
pengetahuan
dan
kemampuan guru/pegawai dengan cara :
-
Mengikutkan penataran baik yang diadakan oleh
depag (MTsN/pengawas) lembaga Maarif atau
KKM.
-
Membentuk sanggar M G M P MTs.
-
Pembinaan rutin
-
Meningkatkan pelaksanaan monitoring
terhadap
guru / karyawan terhadap tugasnya.101
-
Meningkatkan usaha
untuk
pembekalan dan
pembinaan terhadap siswa. Utamanya pada kelas
terakhir (tiga) dalam rangka mempersiapkan siswa
mengikuti
Ujian
Nasional
(UN)
dengan
memberikan les atau kegiatan-kegiatan pelatihan
secara rutin dan terprogram.
-
Mengajukan permohonan pada pengurus Madrasah
Tsanawiya Nurul Hidayah untuk memperbaiki
ruang-ruang yang kurang baik dan menambah
ruangan baru.
b) Kurikulum dan Evaluasi:
101
Ibid
89
(1) Meningkatkan pembinaan kurikulum pada guru mata
pelajaran melalui KKM dan lembaga pendidikan Islam.
(2) Menertibkan penelitian dan evaluasi melalui kegiatan
Ektra, Intra dan Korikuler, baik melalui evaluasi
formatif atau sumatif.
(3) Mengupayakan
penuntasan
penguasaan
program
kurikuler dengan melalui les atau kegiatan-kegiatan
lain yang dapat menunjang penyelesaian.
c) Kesiswaan dan Porseni:
(1) Meningkatkan pengenalan siswa terhadap lingkungan
Madrasah melalui orientasi siswa.
(2) Meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah SWT. melalui
pengajian diniyah setelah shubuh dan setelah maghrib
(3) Meningkatkan pelatihan kepemimpinan siswa melalui
kegiatan Ekstra kurikuler yang berupa :
102
2014/2015
-
Latihan Kepemimpinan Osis ( LKO )
-
Peringatan hari-hari besar islam
-
Perlombaan-perlombaan ( Class Metting )
-
Kepramukaan
-
Kesenian102
Ur Kurikulum, Dokumentasi Data Kurikulum, Demak, MTs Nurul Hidayah,
90
d) Humas
(1) Mengadakan kerja sama dengan Kandepag, Dikbud dan
LP. Islam sehubungan dengan pelaksanaan orientasi
siswa baru.
(2) Meningkatkan hubungan dengan masyarakat sekitar
dengan memberi penjelasan tentang kebijakasanaan
Madrasah, situasi dan perkembangan Madrasah.
(3) Menampung saran-saran dan pendapat masyarakat
untuk memajukan Madrasah.
e)
Sumber dana
Sesuai dengan penjelasan Kepala Madrasah Tsanawiyah
Nurul Hidayah Margohayu, bahwa biaya pendirian
gedung tersebut adalah swadaya murni masyarakat
Margohayu, melalui musyawarah dengan beberapa tokoh
masyarakat sekaligus memberikan sumbangan yang relatif
besar. Sumber dana yang diperoleh digunakan untuk
memenuhi kebutuhan Madrasah, diantaranya:
(1) Dari SPP murid.
(2) Infaq dan Sadaqoh dari para dermawan.
(3) Sumbangan dari instansi pemerintah.
Pendistribusian
keuangan
Madrasah
untuk
menunjang kegiatan dapat dibagi beberapa kelompok
antara lain untuk :
91
(1) Honorarium
guru
/
pegawai
dan
pembina
ekstrakurikuler.
(2) Kegiatan operasional guru.
(3) Pengadaan fasilitas sarana dan prasarana yang sangat
penting.
(4) Pembinaan profesional guru dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan kesejahteraan guru.
f)
Bangunan gedung MTs Nurul Hidayah Margohayu,
Karangawen, Demak
Bangunan yang dimiliki MTs Nurul Hidayah itu ada
beberapa gedung.untuk lebih jelsnya lihat tabel dibawah ini.
Tabel 1
Bangunan di MTs Nurul Hidayah
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Ruang
Juml
ah
Ruang kelas
6
R. kepala sekolah
1
R. guru
1
R. tata usaha
1
R. laboratorium
1
R. BP
1
R. perpustakaan
1
R. UKS
1
R. koperasi
1
Masjid
1
R. gudang
1
Kamar mandi dan WC
3
3
Ukuran
2
(M
7x8)
2,5x2,5
7x8
4x5
2,5x2,5
2x6
7x8
3x7
3x7
3 x 2,5
3x3
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada denah MTs Nurul
Hidayah Margohayu Karangawen Demak dalam lampiran I.
92
c.
Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di MTs Nurul
Hidayah Margohayu merupakan aktif siswa yang tidak bisa
dipisahkan dari kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Organisasi
Siswa Intra Sekolah (OSIS). Kegiatan ekstrakurikuler tersebut
adalah :
1) Kegiatan yang bersifat keagamaan
(a) Musabaqoh Tilawalil Qur'an (MTQ)
(b) Peringatan hari besar Islam
(c) Pengumpulan zakat fitrah
(d) Penyembelihan hewan qurban
(e) Pembagian daging qurban
(f) Pengumpulan dana amal
(g) Kuliah Ramadhan
2) Kegiatan yang bersifat umum
(a) Kepramukaan
(b) Kesenian, meliputi: seni rupa, teater,Drum Band
3) Kegiatan yang bersifat Sosial
(a) Latihan Palang Merah Rcmaja (PMR)
(b) kemah bakti PMR
d.
Strukutur Organisasi
Struktur organisasi yang dipergunakan di MTs Nurul Hidayah
93
Margohayu kecamatan Karangawen kabupaten Demak adalah
sebagai berikut:
94
Gambar 1
Struktur Organisasi MTs Nurul Hidayah Margohayu kecamatan
Karangawen kabupaten Demak
Depdikbub
Departemen
Agama
Yayasan
Nurul Hidayah
Kepala Madrasah
Tsnawiyah
Masduki, S.Ag,
M.Pd.I
Wk. Kurikulum
Wk. Sarana
Prasarana
Wali Kelas
Lembaga Pendidikan
Islam
Tata Usaha
Muqorrobin,S.Pd.I
Wk Kesiswaan
Wali Kelas
Wk. Humas
Wali Kelas
Dewan
Guru
Siswa
e.
Kondisi Obyektif Guru dan Siswa
a.
Jumlah Guru
Untuk mengetahui keadaan guru dan latar belakang
pendidikannya, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:103
103
Ibid
95
Tabel 2
Daftar Guru MTs Nurul Hidayah Margohayu,
Kec.Karangawen. Kab.Demak
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Nama Guru
Masduki
Muh.Junaidi
Sonhaji
Sugiyanto
Dakwan
Istianah
Abu Tholib
Ahmad Zen Nasoka
Maryati
Nur hasanah
Slamet
Zaenal abiding
Asroful Anam
Muh.Abulrozak kosim
Muhson
Mukorobin
Muzaesaroh
Rasipah
Rokhayati
b.
Ijazah Terakhir
S-2/Tarbiyah/PAI/2010
S-1/Tarbiyah/PAI/2007
S-1/IKIP/PPKn
S-1/IKIP/Bahasa Inggris
S-1/Tarbiyah/PAI/2000
S-2/2002
S-1/UNNES/ekonomi
S-1/Tarbiyah/PAI/2000
S-1/Tarbiyah Bahasa Inggris/2001
S-1/Tarbiyah/PAI/1999
S-1/Tarbiyah/2001
S-1/komputer/2001
S-1/Ekonomi/2001
S-1/Sastra Inggris/2004
S-1/IKIP/IPS/2004
S-1/Walisembilan/2005
S-1/IAIN/2004
S-1/walisembilan/2010
S-1/walisembilan/2007
Jumlah Siswa
Sedangkan untuk mengetahui jumlah siswa tahun ajaran
2014-2015 di MTs Nurul Hidayah margohayu dapat dilihat pada
tabel berikut ini:104
Tabel 3
Daftar Siswa MTs Nurul Hidayah margohayu, Kec. Karangawen.
Kab. Demak Tahun Ajaran 2014-2015
NO
1
2
3
104
Kelas Jml Kelas
VII
VIII
IX
1
1
1
Banyaknya Siswa
L
P
25
34
26
30
23
30
Jumlah
59
56
53
Keluarga
Miskin
7
3
3
Ur Kesiswaan, Dokumen keadaan siswa, Demak, MTs Nurul Hidayah, 2014/2015
96
f.
wawancara dengan guru tentang konsep Jihad dan Implementasinya
terhadap pembelajaran di Madrasah
a.
Pemahaman tentang Jihad
1) Guru A bernama Masduki S.Sg, M.Pd.I
Jihad itu harus diartikan dalam bentuk paling mendasar
yakni kebersungguhan kita dalam rangka memperdayakan
kehidupan masyarakat, umat, dan bangsa yang menuju pada
peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan. “Jihad itu adalah
bersugguh-sungguh dalam segala hal yang bersifat kebaikan dan
105
menunjukkan pada orang kejalan yang baik..
2) Guru B bernama Asroful Anam, S.Pd.I
Jihad adalah tidak harus identik dengan mengangkat senjata
(perang) akan tetapi bisa diartikan seseorang yang melaksanakan
tugas dan tanggung jawabnya hanya niat karena Allah, tanpa
berfikir nanti ada balasanya atau tidak dari apa-apa yang sudah
dikerjakanya, baik itu dilakukan dengan harta atau diri mereka.
Dan dalam Al-qur‟an dijelaskan bahwa ada arti ayat yang
berkaitan dengan Jihad yaitu:
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut)
berJihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui
orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. al-Taubah: 44).
“…kalau di kaitkan dengan zaman sekarang, Jihad pada saat
yang seperti sekarang lebih utama melakukan ajaran Jihad dalam
dunia pendidikan karena dalam pendidikan seseorang akan bisa
melakuakn penyebaran agama islam, karena mengajar agama islam
pada peserta didik, dan juga bisa dilakukan dalam pendidikan
formal atau non formal”.
“…Seorang guru dapat dikatakan sudah berJihad, kalau
seorang guru sudah benar-benar melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya sebagai guru dan sudah melaksanakan tugas profesinya
dengan niat karena Allah, dan kalaupun ada niat yang lain, seperti
“mencari hidup dalam dunia pendidikan” itu tidak bisa dikatakan
berJihad. Jadi bisa dikatakan seorang guru harus kaya dahulu baru
berJihad dalam dunia pendidikan”..106
105
106
Wawancara dengan bapak Masduki, tanggal 14 juli 2014, Pukul 11.15 WIB
Wawancara dengan bapak Asroful Anam, Tanggal 15 Juli 2014, Pukul 09.30 WIB
97
3) Guru C bernama Muqorrobin, S.Pd.I
“Jihad artinya ialah orang yang bersungguh-sungguh untuk
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, baik itu tugas
apapun. Dan kalau dikaitkan pada guru juga bisa dikatakan ikut
berJihad, jika seorang guru menjalankan tugas profesinya dengan
rasa tanggung jawab dan niat karena Allah, dikatakan dalam AlQur‟an barang siapa yang mau meninggikan kalimat Allah maa
orang itu sudah ikut dalam berJihad” Istilah Jihad berarti,
kesungguhan berjuang dengan perang dalam membelah agama dan
menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Hal ini biasanya bisa
berupa penghujjahan agama Allah, pembelajaran ilmu yang berupa
ilmu tafsir, fiqih, hadits, dan ulumul Qur‟an. Amar ma‟ruf nahi
mungkar..107
b.
Kajian teori konsep Jihad di Madrasah
1) Guru A bernama Masduki, S.Ag, M.Pd.I
Pendidikan di Madrasah perlu mengintroduksi cara berpikir
kritis dan berkesenian. Jika dua hal ini dikembangkan di lembaga
Islam, maka ajaran Jihad tidak akan dipahami dalam satu
pengertian saja, yakni “berperang atau bertempur melawan
musuh”, tetapi lebih dari itu Jihad dapat dipahami dalam konteks
kemanusiaan yang lebih luas, misalnya belajar giat, berjuang
menegakkan keadilan, dan bergiat dalam meraih kemajuan.
Intinya, Jihad demi kemakmuran dan kemaslahatan seluruh umat
manusia. Inilah pengertian sesungguhnya, dari adagium “Islam
rahmatan lil‟alamin”.
Dalam istilah pendidikan Islam, Jihad di maknai sebagai
upaya untuk mendidik umat dalam membentuk dan membina
mental, melahirkan generasi, membina umat dan budaya serta
memberlakukan prinsip-prinsip kemuliaan dan peradaban. Semua
itu dimaksudkan untuk merubah manusia dari pemahaman yang
menyimpang tentang keyakinan dan keimanan, kebodohan,
kesesatan dan kekacauan menuju cahaya tauhid, ilmu, hidayah dan
kemantapan. Sehingga wujud dari pendidikan Islam adalah
pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa,
sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkahlangkah dan keputusan begitu pula pendekatan mereka terhadap
semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang
sangat dalam dirasakan.
2) Guru B bernama Asroful Anam, S.Pd.I
Kajian teori Jihad di Madrasah sangat memperlukan waktu
untuk dapat di kenalkan kepada siswa karena dengan teori inilah
107
Wawancara dengan bapak Muqorrobin, Tanggal 15Juli 2014, Pukul 10.15 WIB
98
nantinya secara tidak langsunga akan membentuk karakter yang
baik dari siswa itu sendiri.
Dengan pendidikan Islam itu mereka akan terlatih dan
secara mental sangat berdisiplin sehingga mereka ingin memiliki
pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu
intelektual atau hanya manfaat kebendaan yang bersifat duniawi,
tetapi juga untuk tumbuh sebagai makhluk yang rasional, berbudi
dan menghasilkan kesejahteraan spiritual, moral dan fisik,
kedamaian keluarga, masyarakat dan umat manusia.
3) Guru C bernama Muqorrobin, S.Pd.I
Kajian teori Jihad perlu adanya dorongan dari kalangan para
guru sampai pemerintah agar nantinya konsep Jihad dapat di
masukan dalam pembelajaran madrasah. Dan menurut saya dengan
inilah seorang guru mampu menjalankan amanah dengan baik dan
benar-bener bisa mengamalkan konsep Jihad itu sendiri.
Pembelajaran di Madrasah termasuk pembelajaran yang
formal dan pembentukan karakter yang berasal dari pembelajaran
Jihad sendiri merupakan praktek dari kurikulum 2013 yang
mengedepankan pendidikan karakter dan budi pekerti.
c.
Cara menjelaskan materi konsep Jihad terhadap siswa
1) Guru A bernama Masduki, S.Ag, M.Pd.I
Mula-mula guru menjelaskan konsep Jihad kepada siswa
dengan semudah mungkin untuk dipahami, sehingga Jihad itu
bermakna dalam rangka mewujudkan kesungguhan kita dalam
berislam, dalam mewujudkan hakikat Islam itu dalam konteks
perjuangan. Perjuangan itu ada dalam beberapa bentuk yakni
perjuangan akidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Jihad itu tak
mesti tindakan-tindakan frontal, perjuangan melalui hati pun sudah
bisa disebut Jihad, misalnya berjuang untuk tetap istiqamah, ini
adalah Jihad qalbi atau Jihad individual. Jihad kolektif bisa
dilakukan melalui organisasi. Adanya upaya yang sungguhsungguh dari berbagai organisasi Islam untuk memberantas
kemiskinan, itu juga Jihad. Mencerdaskan kehidupan bangsa
dengan mendirikan Madrasah-madrasah, melakukan berbagai
penelitian dan pengkajian, itu juga Jihad. Jadi Jihad itu punya
pengertian yang amat luas dan nilai-nilai yang mendukungnya juga
murni.
2) Guru B bernama Asroful Anam, S.Pd.I
Awalnya dengan kehadiran teori Jihad para guru bingung
bagaimana harus menjelaskan Jihad itu sendiri, tetapi
bagaimanapun juga guru di tuntut harus bisa mengajarkan teori
Jihad.
99
Pertama kali mengajarkan konsep Jihad saya berupaya tidak
langsung mendoktrin kepada siswa bahwa Jihad itu perang, akan
tetapi Jihad itu banyak seakli bentuknya. Dan lama-kelamaan
siswa mengetahui Jihad yang sebenarnya yaitu dengan
bersungguh-sungguh dalam belajar itu juga termasuk dalam kontek
Jihad, jadi Jihad tidak harus identik dengan kekerasan.
3) Guru C bernama Muqorrobin, S.Pd.I
Penjelasan pada teori Jihad kepada siswa tidak semudah apa
yang kita bayangkan, tetapi tidak sesulit apa yang kita pikirkan.
Jihad itu sendiri sebenarny mudah untuk siswa pahami tergantung
cara guru saja menjelaskannya.
Pertama kali guru mengenalkan teori Jihad itu dengan
menggunakan beberapa metode yang sekiranya cocok dengan teori
Jihad, mungkin dengan menggunakan metode bermain peran justru
malah anak paham langsung daripada hanya dengan menggunakan
metode ceramah.
d.
Cara menerapkan konsep Jihad terhadap siswa di Madrasah
1) Guru A bernama Masduki, S.Ag, M.Pd.I
Cara menerapkan konsep Jihad di Madrasah yang harus
dilakukanya oleh para guru yaitu ketika mengajar pelajaran tau
yang lain dan siswa langsung diajak terjun ke lapangan dengan
mempraktekan konsep Jihad dengan kehidupan siswa di Madrasah
seperti: membuang sampah pada tempatnya, saling tolongmenolong antar teman siswa, dan masih banyak lagi kegiatan yang
berkaitan dengan materi konsep Jihad, jadi untuk anak-anak lebih
baiknya langsung diparaktekan ke dalam Madrasah.
2) Guru B bernama Asroful Anam,S.Pd.I
Konsep Jihad di Madrasah yang harus diperhatikan adalah
bagaimana guru menerapakan konsep Jihad itu sendiri tanpa
adanya kekerasan, konsep Jihad itu sendiri dikalangan pelajar
sangat rawan kekerasan tanpa adanya pantauan dari guru, maka
muculah Jihad sebagai pelengkap pembentukan karakter, dengan
inilah siswa diajarkan bagimana siswa menghoramti orang yang
lebih tua baik dimanapun siswa berada dan siswa juga bisa
menerapkanya dala kehidupan di luar Madrasah.
3) Guru C bernama Muqorrobin, S.Pd.I
Penerapan konsep Jihad di Madrasah untuk para siswa itu
bentuknya banyk sekali dari mulai siswa ketika bertemu guru
dilatih untu berjabat tangan sambil dicium, siswa dilatih untuk
tidak saling berbohong antar sesama siswa.
100
Dengan adanya konsep Jihad saya sangat mendukung bila
Jihad masuk dalam kurikulum di Madrasah karena saya melihat
bila kurikulum 2013 di gabung dengan adanya teori Jihad saya
yakin pasti ada perubahan yang signifikan walau hasilnya tidak
secara langsung dirasakan sekarang.
e.
Cara guru mengimplementasi materi konsep Jihad di Madrasah.
1) Guru A bernama Masduki, S.Ag, M.Pd.I
Konsep materi tentang Jihad banyak kaitanya dengan tugas
seorang guru dan penerapanya di Madrasah itu adalah salah satu
bukti bahwa guru sudah menerapkan konsep Jihad diantara: guru
datang tepat waktu ketika mengajar, disiplin dalam mengajar, siap
menerima gaji yang tidak banyak(GTT) tapi dengan semangat
yang tinggi, para guru tetap mengajar dan lain-lain.
2) Guru B bernama Asroful Anam, S.Pd.I
Tugas seorang guru sangatlah berat karena kalau kita
kaitkan dengan teori Jihad maka tugas guru semua bisa disamakan
dengan Jihad kalau itu didasari dengan keikhlasan. Penerapan
Jihad menurut saya adalah salah satunya mengajar dengan
sungguh-sungguh walau gaji tidak sebanding dengan kenyataan
mengajar. Terutama guru honor maka kalau tidak didasari dengan
Jihad yang kuat maka tidak di namakan Jihad tetapi jahat.
Bayangkan Saya gaji hanya Rp.400.000/bulan, apa cukup untuk
mecukupi kebutuhan keluarga. Untuk itu saya tidak hanya
mengajar saja akan tetapi juga cari penghasilan diluar jam
mengajar demi memnuhi kebutuhan hidup.itu yang saya terapkan
di Madrasah.
3) Guru C bernama Muqorrobin, S.Pd.I
Menurut saya penerapan konsep Jihad di Madrasah adalah
dengan guru di siplin dalam beberapa hal contohnya disiplin dalam
mengajar, disiplin datang tepat waktu, disiplin dalam aspek apa
saja, jadi banyak sekali penerapan-penerapan dari konsep Jihad
yang kita tanamkan dalam kehidupan di Madrasah dan itu sangat
bermanfaat untuk kita semua. Apalagi kalau semua itu kita niati
dengan mencari ridho Allah Swt, maka semuanya akan berjalan
baik-baik saja dan penuh dalam keberkahan.
101
g.
Wawancara tentang konsep Jihad dengan siswa
a.
Persepsi tentang Jihad bagi siswa
1) Siswa A bernama Nafis
Pengertian Jihad menurut saya yaitu bersungguh-sungguh
dalam belajar, sehingga nantinya menjadi anak yang cerdas serta
bisa mengetahuti mana yang baik dan mana yang buruk, jadi Jihad
tidak harus sama dengan perang, Jihad bagi siswa itu adalah
memerangi kebodohan.108
2) Siswi B bernama Sari
Saya memahami Jihad itu adalah berjuang sekuat tenaga
untuk belajar dengan rajin supaya nanti saya menjadi anak yang
pintar dan bisa meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi. Jihad
yang pak guru ajarkan seperti itu, maka saya menafsirkan Jihad
seperti itu dan Jihad tidak harus berkelahi dengan teman gara-gara
masalah sepele.109
3) Siswa C bernama Fathur Rohman
Jihad menurut saya yaitu yakin dengan apa yang saya
lakukan, misalnya kalau saya yakin belajar pastinya nanti bisa
mendapat nilai yang baik dan orang tua bangga dengan saya apa
yang sudah saya lakukan selama ini. Itu makna Jihad menurut
110
saya.
b.
Penyampaian Jihad di Madrasah
1) Siswa A bernama Nafis
Sebelum mengajar para guru biasanya memasukan Jihad ke
dalam pendidikan yaitu suatu mata pelajaran yang ada kaitanya
dengan Jihad dan di sampaikan kepada siswa dengan penuh teliti
agar nanti apra siswa dengan mudah memahami apa maksud Jihad
yang sebenarnya dan berusaha agar siswa mampu menerapkan
konsep Jihad dalam kehidupan seahri-hari.
2) Siswi B bernama Sari
Menurut saya sebelum guru menyampaikan materi Jihad,
yang pertama kali guru sampaikan yaitu memberikan arahan dan
108
Wawancara dengan siswa bernama Nafis, Tanggal 14 Juli 2014
Wawancara dengan siswa bernama Sari, Tanggal 14 Juli 2014
110
Wawancara dengan siswa bernama Nafis, Tanggal 14 Juli 2014
109
102
maksud tujuan pembelajaran Jihad. Dan menurut saya dalam
penyampaian Jihad sangat menarik karena saya tau kalau Jihad iti
tidak kearah yang negatif.
3) Siswa C bernama Fathur Rohman
Penyampaian Jihad di Madrasah dalam hal konsep Jihad itu
sangat penting karena di butuhkan waktu untuk benar-benar Jihad
itu dapat di praktekan dilapangan. Hal ini tidak lepas dari peran
seorang guru yang bisa membawa suasana menjadi lebih menarik,
berbagai metode pasti bisa diterapkan akan hal ini karena untuk
menunjang karakter siswasebagai pelakunya.
c.
Cara siswa menerapkan konsep Jihad di Madrasah
1) Siswa A bernama Nafis
Konsep Jihad di madrasah sangat penting bagi para siswa,
ketika seorang guru menyampaikan materi Jihad maka harus di
praktekan dalam kelas atau di luar kelas dengan cara: belajar
dengan sungguh-sungguh, menghormati guru dan lain-lain.
Dalam era modern yang serba global ini sebenarnya kita
juga bisa berJihad. Tentu Jihadnya bukan dengan senjata atau bom.
Kita sebagai umat Islam sudah saat memiliki semangat baru dalam
mengggunakan kata Jihad, seperti Jihad al dakwah, Jihad al
tarbiyah, Jihad bi al lisan, Jihad bi al qolam, yakni Jihad dengan
perantara lisan dan pena, Jihad intelektual.
2) Siswa B bernama Sari
Cara siswa menerapkan ajaran Jihad di madrasah itu banyak
sekali bentuknya, dari hal dasar aja itu sudah termasuk kedalam
ajaran Jihad, mulai awal masuk siswa sebelum masuk ke kelas,
para siswa di suru berbaris dlu baru habis itu anak di suruh masuk
kelas satu persatu sambil bersalaman sambil cium tangany. Itu
sudah menurut saya yang salah satunya bisa dikatakan sebagai
Jihad.
Jadi menurut saya sebagai siswa, cara menerapakan ajaran
Jihad adi Madrasah itu dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat
untuk yang lainnya.
3) Siswa C bernama fathur Rohman
Kalau menurut saya, cara penerapan konsep Jihad di
Madrasah itu dengan saya belajar sungguh-sungguh sehingga
nantinya bisa mendapatkan nilai yang baik, dan berusaha menjadi
siswa yang baik serta bisa menjadi contoh buat teman-teman.
103
B. Diskripsi MTs Al-Khoiriyah Wonosekar, Kecamatan Karangawen
Kabupaten Demak
1.
Sejarah berdirinya MTs Al-Khoiriyah Wonosekar, Kabupaten
Demak.
Madrasah Al-Khoiriyah Wonosekar kecamatan Karangawen
Kabupaten Demak mempunyai sejarah pertumbuhan dan perkembangan
sendiri. Hal ini diawali dengan berdirinya Madrasah Tsanawiyah AlKhoiriyah Wonosekar, Madrasah ini dulunya adalah Madrasah Diniyah
yang didirikan untuk dipersiapkan menjadi tempat belajar anak-anak tiap
sore, lama kelamaan yayasan ini berencana untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di sekitar wonosekar akhirnya di dirikan Madrasah Ibtidaiyah
(MI), karena perkembangan zaman yang semakin modern maka yayasan
berupa bagaimana meningkatkan sumber daya manusia yang ada di
sekiatar desa tersebut,maka pada tahun 90 an berdirialah Madrasah
Tsanawiyah yang di dirikan oleh yayasan Islam yang beranggotakan para
pemuka agama dan masyarakat sekitar.111
Dari perjalanan MTs Al-Khoiriyah mengalami dinamika yang
berarti, yaitu selain tempatnya kurang mendukung dan sarana prasarana
juga kurang memadai sehingga betul-betul perjuangan yang sangat luar
biasa.
Dinamika ini membawa MTs A-Khoiriyah semakin dewasa
111
Wawancara dengan kepala Madrasah Bapak Sholikin, S.Pd.I, 2014, Pukul 10.15 WIB
104
dalam menapak perjalannya. Berbagai masalah yang muncul, dapat
terselesaikan dengan tuntas dengan baik
Dalam perkembangan kemudian MTs Al-Khoiriyah mempunyai
sebidang tanah sendiri seluas + 450 M dengan dibangun gedung dan
lokal untuk PBM dan pada tahun 1997, dimana setelah SK pada tanggal
17 Maret 1997 siswanya meledak bertambah besar yang semulanya 62
siswa, menjadi + 73 siswa. Sedangkan tahun ajaran 2014/2015
berkembang menjadi 77 .
Pada tahun 2004/2005 siswa-siswa MTs Al-Khoiriyah sudah bisa
menempati pada gedungnya sendiri yang megah dengan luas + 3000 M
dan berlantai 2 (dua), sehingga sekarang PBM dan kegiatan lainnya pun
bisa dijalankan dengan baik oleh Madrasah, ini semua berkat kegigihan
orang tua murid (Komite Madrasah), guru, pegawai dan instansi terkait,
dengan gedung yang megah di tanah yang luas hingga kini.
2.
Letak Geografis
MTs
Al-Khoiriyah
Wonosekar
adalah
terletak
di
Desa
wonosekar, sedangkan teluk terletak di Kecamatan Karangawen
Kabupaten Demak.Dan desa ini dilalui oleh sebuah jalan protokol yang
menghubungkan kecamatan Karangawen dengan kecamatan-kecamatan
lain disekitarnya, seperti kecamatan Mranggen dan Kecamatan
Tegowanu.
Adapun desa Wonosekar ini berbatasan dengan desa-desa
disekitarnya, yaitu sebelah utara dengan desa noreh Kecamatan
105
Karangawen, disebelah selatan berbatasan dengan desa Tlogogedong
Kecamatan Karangawen, disebelah timur berbatasan dengan desa
Tegowanu Kecamatan Tegowanu, dan sebelah barat berbatasan dengan
desa Sumberjo Kecamatan Mranggen. Desa Wonosekar terbagi menjadi
dua daerah desa yaitu Wonosekar kulon dan Wonosekar wetan.112
3.
Struktur organisasi
Agar terjadi mekanisme kerja yang lancar dan tertib, maka
disusunlah struktur organisasi sekolah, adapun struktur organisasi MTs
Al-Khoiriyah Wonosekar, tahun pelajaran 2014/2015 adalah sebagai
berikut :
112
Tata Usaha, Dokumentasi data letak geografis, MTs Al-Khoiriyah Wonosekar, 2014.
106
Ketua yayasan
KOMITE MADRASAH
Ur. KURIKULUM
Ur
KESISWAAN
Sie
Kesenian
DanMading
Sie
Olah Raga
Dan UKS
TATA USAHA
Ur
SARPRAS
Sie
Drum Band
Dan PKS
Sie
Pramuka Pi
Dan PMR
Ur
HUMAS
Sie
Keagamaan
Sie
Pramuka Pa
Wali Kelas
Dewan Guru
Peserta Didik MTs Al-Khoiriyah Wonosekar
Keterangan =
= Garis Intruksional
= Garis Koordinasi
Gambar 2
Bagan Organisasi MTs Al-Khoiriyah
Tahun Pelajaran 2014
4.
Visi, Misi, dan Tujuan
a.
Visi Madrasah Tsanawiyah Al-Khoiriyah Wonosekar
Madrasah
Al-Khoiriyah
Wonosekar
kecamatan
Karangawen
kabupaten Demak sebagai lembaga pendidikan dasar berciri khas
Islam perlu mempertimbangkan harapan murid, orang tua murid,
107
lembaga pengguna lulusan madrasah dan masyarakat dalam
merumuskan visinya. Madrasah Tsanawiyah Al-Khoiriyah, juga
diharapkan merespon perkembangan dan tantangan masa depan
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, era reformasi dan globalisasi
yang sangat cepat. Madrasah Al-Khoiriyah Wonosekar kecamatan
Karangawen kabupaten Demak ingin mewujudkan harapan dan
respon dalam Visi Madrasah Al-Khoiriyah Wonosekar kecamatan
Karangawen kabupaten Demak yaitu:
“Terbentuknya serta Terwujudnya generasi Islam yang
berakhlaq mulia, berprestasi, berkualitas, berwawasan luas dan
terampil di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
berlandaskan iman dan taqwa (IMTAQ)”.
Adapun Visi Madrasah Tsanawiyah Al-Khoiriyah:
1) Berprestasi (Disiplin dan Kreatif)
a) Naik kelas 100% secara normative
b) Mempertahankan Lulus UM 100% pada tahun pelajaran
2014/2015 dengan peningkatan nilai rata-rata peserta didik
dari 7,5 menjadi 7,7
c) Memepertahankan lulus UN 100% pada tahun pelajaran
2014/2015 dengan peningkatan nilai rata-rata peserta didik
dari 7,5 menjadi 7,7
d) Memperoleh juara dalam kompetisi / lomba mapel
e) Minimal 20% output diterima di sekolah/Madrasah favorit
108
f)
Masuk Madrasah tepat waktu
g) Pulang dari Madrasah tepat waktu
h) Memakai pakaian sesuai aturan Madrasah
i)
Melaksanakan tata tertib Madrasah
2) Terampil dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Kreatif)
a). Terampil, kreatif dan aktif mengikuti berbagai macam
lomba / olympiade mata pelajaran, seni dan bahasa.
b). Terampil dan kreatif dalam mengoperasikan peralatan
teknologi, Komunikasi dan Informasi (ICT).
c). Terampil, Kreatif dalam semua bidang
d). Terampil, kreatif dan memiliki life skill dalam bidang
kerajinan tangan (seni budaya).
3) Berakhlakul Karimah Berlandaskan Iman dan Taqwa (Religius
dan Jujur)
a). Terbiasa mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan
sesama warga Madrasah.
b). Terbiasa menghargai dan menghormati kepada sesama
warga Madrasah.
c). Hafal Asmaul Husna dan surat-surat pendek dalam Al
Qur‟an.
d). Mampu membaca Al Qur‟an dengan baik dan benar.
e). Terbiasa menjalankan sholat lima waktu dan sholat sunnah.
f). Terbiasa menjalankan sholat berjamaah.
109
g). Peserta didik gemar bershodaqoh.
h). Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang
i). Larangan membawa fasilitas komunikasi pada saat ulangan
atau ujian.
b.
Misi Madrasah
1) Menjadikan Madrasah Al-Khoiriyah Wonosekar kecamatan
Karangawen kabupaten Demaksebagai lembaga pendidikan
yang religius, jujur, disiplin, kreatif dan berperan dalam
masyarakat.
2) Menyelenggarakan pendidikan dengan pembelajaran profesional
dan bermakna yang menumbuhkan dan mengembangkan peserta
dengan nilai UN di atas rata-rata dengan landasan religius,
jujur, disiplin dan kreatif.
3) Menyelenggarakan program bimbingan secara efektif untuk
menggali dan menumbuh kembangkan minat, bakat peserta
didik yang berpotensi agar dapat berkembang secara optimal
yang religius, jujur, disiplin dan kreatif.
4) Mewujudkan pembelajaran dan pembiasaan dalam mempelajari
Al-Qur‟an dan Hadits serta menjadikannya sebagai pedoman
hidup dalam kehidupan sehari-hari berlandaskan religius, jujur,
disiplin dan kreatif.
5) Meningkatkan pengetahuan dan teknologi serta profesionalisme
tenaga kependidikan sesuai dengan perkembangan dunia
110
pendidikan yang berlandaskan religius, jujur, disiplin dan
kreatif.
6) Menumbuhkembangkan budaya akhlakul karimah pada seluruh
warga Madrasah dengan berlandaskan nilai religius, jujur,
disiplin dan kreatif.
7) Melaksanakan pembelajaran ekstra kurikuler secara efektif
sesuai bakat dan minat sehingga setiap peserta didik memiliki
keunggulan dalam berbagai lomba keagamaan, unggul dalam
berbagai lomba mapel, olahraga dan seni dengan landasan nilai
religius, jujur, disiplin dan kreatif.
c.
Tujuan Pendidikan Madrasah
Secara
Wonosekar
umum
kecamatan
pendidikan
Madrasah
Al-Khoiriyah
Karangawen
kabupaten
Demakadalah
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian akhlaq
mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut. Bertolak dari tujuan umum pendidikan dasar
tersebut,
Madrasah
Al-Khoiriyah
Wonosekar
kecamatan
Karangawen kabupaten Demak mempunyai tujuan sebagai berikut
1) Membiasakan prilaku Islami di lingkungan Madrasah dan
masyarakat berlandaskan nilai-nilai religius, jujur, disiplin dan
kreatif.
2) Mengoptimalkan proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan
111
Menyenangkan (PAIKEM) dan Contextual Teaching Learning
(CTL).
3) Meningkatkan prestasi akademik peserta didik .
4) Mengembangkan potensi akademik, minat dan bakat peserta
didik melalui layanan bimbingan dan konseling dan kegiatan
ekstra kurikuler.
5) Melestarikan budaya daerah melalui mulok bahasa Jawa dengan
indikator 90 % peserta didik mampu berbahasa jawa sesuai
dengan konteks.
6) Menjadikan peserta didik terampil, kreatif dan memiliki life
skill dalam bidang kerajinan tangan (seni budaya).
7) Menumbuhkan kecintaan terhadap Al Qur‟an, menjadikan
peserta didik sebagai generasi Islam yang Qur‟ani.
8) Mempersiapkan peserta didik dalam melanjutkan pendidikan
lebih lanjut.
9) Mempersiapkan peserta didik sebagai bagian dari anggota
masyarakat yang mandiri dan berguna.
10) Menjadikan peserta didik naik kelas 100% secara normative
11) Mempertahankan kelulusan UM 100% dengan peningkatan nilai
rata-rata peserta didik dari 7,5 menjadi 7,7
12) Mempertahankan kelulusan UN 100% dengan peningkatan nilai
rata-rata UN 7,5 menjadi 7,7
112
13) Mempersiapkan peserta didik agar dapat meraih juara pada
event / lomba mapel, olah raga, seni dan bahasa tingkat
kabupaten, karesidenan dan propinsi.
14) Peserta didik dapat melanjutkan pendidikan di sekolah favorit di
Karangawen dan sekitarnya
15) Pada akhir tahun pelajaran peserta didik hafal Asmaul Husna
dan surat-surat pendek dalam Al-Qur‟an
16) Peserta didik dapat membaca Al Qur‟an dengan baik dan benar
17) Seluruh peserta didik sadar untuk menjalankan sholat wajib lima
waktu
18) Peserta didik terbiasa untuk bershodaqoh
19) Tertanamnya jiwa dan sikap kedisiplinan peserta didik
20) Memiliki tim yang handal dalam bidang kepramukaan
21) Memperoleh
prestasi
dalam
lomba-lomba
di
bidang
kepramukaan di tingkat kecamatan atau ranting, kabupaten dan
propinsi
22) Peserta didik memiliki ketrampilan dalam menulis artikel untuk
mengisi majalah dinding.
23) Tertanamnya pembiasaan akhlakul karimah pada peserta didik
24) Peserta didik terbiasa menghargai dan menghormati kepada
sesama warga madrasah.
113
5.
Keadaan Guru dan Karyawan
Madrasah Al-Khoiriyah Wonosekar kecamatan Karangawen kabupaten
Demakmempunyai tenaga edukatif yang cukup baik bila ditinjau dari
jenjang pendidikan yang dimiliki. Dari masing-masing pendidik
mengampu bidang studi sesuai profesianya. Dewan guru yang ada di
MTs Al-Khoiriyah kurang lebih berjumlah 22 dewan guru, sebagaimana
dapat dilihat dalam tabel berikut :
6.
Data guru MTs Al-Khoiriyah
Tabel 4
Daftar Guru MTs Nurul Al-Khoiriyah Wonosekar,
Kec.Karangawen. Kab.Demak
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
Nama Guru
Solikin, S.Pd.I
K.Syamsuri, S.Pd.I
Muhlison, S.Pd.I
Zaenal Arifin, S.Pd.I
Nur shihah, S.Pd
Alwahidah, S.Pd.I
Istiqomah, S.Pd
Slamet, S.Ag.
Zaenuddin, S.Pd
Abdul Kharits, S.Pd
Ngudi Rahayu, S.Pd
Khabib, S.Sos
Nisaur Rohmah, S.Pd
Mulyadi, SE
Elvira wahyu, S.Pd.
Syarkowi, S.Pd.I
Muis Anwar, S.Pd.I
H. Kasmijan
Ijazah Terakhir
S-1/Tarbiyah/PAI/1999
S-1/Tarbiyah/PAI/2007
S-1/Tarbiyah/PAI/1994
S-1/Tarbiyah/PAI
S-1/Tarbiyah/IKIP
S-1/Tarbiyah/PAI
S-1/Tarbiyah
S-1/Tarbiyah
S-1/Tarbiyah
S-1/Tarbiyah
S-1/UNNES
S1/ Sosiologi
S-1/Ekonomi/2001
S-1/Ekonomi
S-1/IKIP/IPS/2004
S-1/Tarbiyah/PAI/
S-1/Tarbiyah/PAI/
S-1/Tarbiyah/PAI
114
7.
Data siswa MTs Al-Khoiriyah
Sedangkan untuk mengetahui jumlah siswa tahun ajaran 2014-2015 di
MTs Al-Khoiriyah wonosekar dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5
Daftar Siswa MTs Al-Khoiriyah Wonosekar, Kec.
Karangawen.Kab.Demak Tahun Ajaran 2013-2014
NO
1
2
3
8.
Kelas
VII
VIII
IX
Jml Kelas
1
1
1
Banyaknya Siswa
L
P
22
34
26
36
25
33
Jumlah
59
62
58
Keluarga
Miskin
5
3
3
Sarana dan Prasarana
Pada saat penelitian berlangsung, Madrasah Tsanawiyah AlKhoiriyah Wonosekar memiliki 1 buah gedung satap sehingga bisa di
gunakan untuk yang lain. kantor, ruang guru, laborat, UKS,
perpustakaan, koperasi, ruang TU, ruang tamu, ruang pelatihan komputer
dan gudang.
Dalam tiap-tiap kelas dilengkapi dengan peralatan yang
diperlukan dalam proses belajar mengajar, seperti kursi guru dan siswa,
meja guru dan siswa, almari, papan tulis dan fasilitas lain. Untuk lebis
jelas tentang fasilitas yang ada dapat dilihat dalam tabel berikut 113 :
113
Ur Sarana Dan Prasarana, Dokumen data MTs Al-Khoiriyah, Demak, 2014
115
Tabel 6
Sarana Dan Prasarana MTs Al-Khoiriyah Wonosekar
Tahun 2014/2015
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
29
20
21
22
23
24
Jenis
Barang/Ruang
Ruang Belajar
Ruang kepala
Ruang Guru
Ruang Tamu
Ruang Perpustakaan
Ruang Laborat
Ruang Koperasi
Ruang Tu
Ruang UKS
Papan Tulis
Almari Besar
Almari Kecil
Kursi, Meja Guru
Meja Siswa
Kursi Siswa
Komputer
Papan garis
Sound
Telpon
Alat Musik
TV Sharp 20 inc
Bola Voli
Bola Kaki
Raket
25
26
27
28
29
30
31
32
Net
Lapangan
LCD Proyektor
Lap Top
Bola Takro
Kamar Mandi
WC
Vidio Tape
Jumlah
Kondisi
Keterangan
6
1
1
1
1
1
1
1
1
6
3
2
10
63
126
3
4
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sebagian
rusak
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Rebana dan Drum Band
-
1
1
1
1
3
2
6
2
1
1
2
2
2
2
2
-
Dalam melakukan PBM dan dalam upaya memudahkan pemahaman
sekaligus penguasan materi oleh siswa, selain itu juga dalam rangka
116
pencapaian tujuan pembelajaran Madrasah, Madrasah Tsanawiyah AlKhoiriyah Wonosekarmemiliki media pendidikan untuk digunakan sebagai
berikut :
a. Lap Top
b. LCD Proyektor
c. Bagan Peta (lokal, regional, Nasional, dan Dunia)
d. Tape
e. TV
f. Mikropo
g. DVD
h. Kaset
i. Spiker Aktif
j. Komputer
k. CD
l. Buku
m. Perpustakaan
n. Gambar berbagai macam hewan
o. Gambar berbagai macam rumah adat dan pakaian adat.
9.
Hasil
wawancara
dengan
guru
tentang
konsep
Jihad
dan
Implementasinya terhadap pembelajaran di Madrasah
a. Pemahaman tentang Jihad
1) Guru A bernama bapak Solikin, S.Pd.I
Menurut saya, arti dan makna dari Jihad seperti sekarang ini tidak
sama dengan Jihad waktu di zaman Rasullah yaitu perang melawan kaum
kafir, akan tetapi yang saya maksud Jihad dalam hal kontek di madrasah
itu adalah bersugguh-sungguh dalam segala hal yang bersifat untuk
memerangi kebodohan( mengenalkan ajaran tauhid) dan mengajak
kebaikan serta menunjukkan pada orang kejalan yang lebih baik. dan
Jihad sendiri mempuyai banyak makna yan mulai dari memerangi hawa
nafsu sampai perang dengan senjata, dan dari sini kalau tidak bisa
memerangi diri sendiri dari nafsu yang jelek semua akan sia-sia atau tidk
akan perna sukses, wapaupun itu tugas mulia seperyi Jihad karena Jihad
itu membutuhkan pengorbanan dan kesabaran dan orang sabar itu akan di
sayang sama Allah. Itu di tegaskan dalam firman-Nya”. Allah bersama-
117
sama orang yang sabar”114.
2) Guru B bernama Ibu Alwahidah, S.Pd.I
bersungguh- sungguh melaksanakannya, dengan ketabahan dan
kesabaran untuk mendapatkan ridha Allah di jalannya.supaya apa yang
kita lakukan mendpatkan nilai positif untuk diri kita.itu dapat kita lihat
kita lihat dalam surat al-Ankabut ayat: 69
          
“dan orang-orang yang berJihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benarbenar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan
Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat
baik”115.
Di lihat dari ayat tersebut maka Jihad adalah tidak harus identik
dengan mengangkat senjata (perang) akan tetapi bisa di artikan seseorang
yang melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya hanya niat karena
Allah, tanpa berfikir nanti ada balasanya atau tidak dari apa-apa yang
sudah dikerjakanya, yang penting niat kita ihklas karena Allah dan baik
itu dilakukan dengan harta atau diri mereka“…kalau di kaitkan dengan
zaman sekarang, Jihad pada saat yang seperti sekarang lebih utama
melakukan ajaran Jihad dalam dunia pendidikan karena dalam
pendidikan seseorang akan bisa melakuakn penyebaran agama islam,
karena mengajar agama islam pada peserta didik, dan juga bisa dilakukan
dalam pendidikan formal atau non formal, karena anak didik zaman
sekarang sangat memprihatinkan karena ganasnya pergaulan yag tidak
baik.116
3) Guru C bernama Bapak Slamet, S.Ag
Jihad artinya ialah orang yang bersungguh-sungguh dan bekerja
keras untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, baik itu tugas
apapun. Dan kalau dikaitkan pada guru juga bisa dikatakan ikut berJihad,
jika seorang guru menjalankan tugas profesinya dengan rasa tanggung
jawab dan niat karena Allah, dikatakan dalam Al-Qur‟an barang siapa
yang mau meninggikan kalimat Allah maa orang itu sudah ikut dalam
berJihad” Istilah Jihad berarti, kesungguhan berjuang dengan perang
dalam membelah agama dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi117.
114
Wawancara dengan bapak Solikin, Tanggal 17 Juli 2014
Depag, Op.Cit
116
Wawancara dengan Ibu Alwahidah, Tanggal 17 Juli 2014
117
Wawancara dengan bapak Slamet, Tanggal 17 Juli 2014
115
118
b. Kajian teori konsep Jihad di Madrasah
1) Guru A bernama bapak Solikin, S.Pd.I
Pendidikan di Madrasah sangat vital keberadaanya, karena
disitulah tempat anak-anak mencari ilmu dan kajian tori Jihad hadis
dalam rangka untuk membentuk karakter anak didik yang nantinya untuk
bekal hidupnya.
Kajian Jihad di Madrasah secara global itu sangat berpengaruh
signifikan dan perlu adanya pengawasan yang tepat guna untuk
memberikan contoh kepada anak-anak.
2) Guru B bernama bapak Alwahidah, S.Pd.I
Kajian Jihad di Madrasah Dengan pendidikan Islam itu mereka
akan terlatih dan secara mental sangat berdisiplin sehingga mereka ingin
memiliki pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu
intelektual atau hanya manfaat kebendaan yang bersifat duniawi, guru
berperan aktif dalam pembentukan sifat seorang anak yang berjihad
untuk melawan hawa nafsunya sendiri. Tetapi juga untuk tumbuh
sebagai makhluk yang rasional, berbudi dan menghasilkan kesejahteraan
spiritual, moral dan fisik, kedamaian keluarga, masyarakat dan umat
manusia.
Madrasah sangat memperlukan waktu untuk dapat di kenalkan
kepada siswa dan harus sabar karena dengan teori inilah nantinya secara
tidak langsunga akan membentuk karakter yang baik dari siswa itu
sendiri dan guru sangat berpengaruh di dalamya proses belajar.
3) Guru C bernama bapak Slamet, S.Ag
Kajian teori Jihad perlu adanya dorongan dari kalangan para guru
dan keluarga untuk mengetahui perkembangan anak didiknya. Konsep
Jihad dapat di masukan dalam pembelajaran Madrasah. Dan menurut
saya dengan inilah seorang guru mampu menjalankan amanah dengan
baik dan benar-bener bisa mengamalkan konsep Jihad itu sendiri.
Tidak akan sis-sia bila konsep Jihad di Madrasah kita jalankan
penuh dengan tanggung jawab dan penuh harapan ridho dari Allah swt.
c. Cara menjelaskan materi konsep Jihad terhadap siswa
1) Guru A bernama bapak Solikin, S.Pd.I
Pertama-tama yang saya ajarkan tentang konsep Jihad di
Jihad yaitu dengan cara saya memperkenalkan ajaran Jihad dlu
yang sebenarnya supaya anak tau, terus kalau anak sudah paham
baru saya masukan konsep Jihad di kelas dengan berbagai aktivitas
yang positif sehingga anak tidak selalu memahami Jihad itu perang.
119
Setelah anak paham akan Jihad yang sebenarnya baru saya
ajak anak-anak untuk selalu mempunyai positif thinking agar anak
bisa membedakan mana jihad yang negatif dan Jihad yang postif.
2) Guru B bernama Ibu Alwahidah, S.Pd.I
Pertama kali mengajarkan konsep Jihad saya berupaya tidak
langsung mengatakan kepada siswa bahwa Jihad itu perang, akan tetapi
Jihad itu banyak seakli bentuknya. Dan lama-kelamaan siswa mengetahui
Jihad yang sebenarnya yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam belajar
itu juga termasuk dalam kontek Jihad, jadi Jihad tidak harus identik
dengan kekerasan.
Setelah paham anak-anak baru mengerti dan memahami yang
sebenarnya makna Jihad itu sendiri.
3) Guru C bernama bapak Slamet, S.Ag
Penjelasan pada teori Jihad kepada siswa membutuhkan waktu
yang tidak sebentar karena anak-anak harus perlahan-lahan diajarkan
konsep Jihad yang selama ini menjadi omok yang menakutkan atau
dikatakan sebagai teroris.
Pertama kali guru mengenalkan teori Jihad itu dengan
menggunakan beberapa metode yang sekiranya cocok dengan teori Jihad,
mungkin dengan menggunakan metode demontrasi. Dengan harapan
anak-anak paham maksud dari Jihad itu sendiri.
d. Cara menerapkan/mengimplementasikan konsep Jihad terhadap siswa
di Madrasah
1)
Guru A bernama bapak Solikin, S.Pd.I
Siswa akan mudah memahami jika para guru dengan mudah
memahamkan anak-anak tentang Jihad, dan banyak sekali manfaat yang
bisa kita ambil dari anak didik kita.
Cara menerapkan konsep Jihad di Madrasah yang harus
dilakukanya oleh para guru yaitu ketika mengajar pelajaran tau yang lain
dan siswa langsung diajak terjun ke lapangan dengan mempraktekan
konsep Jihad dengan kehidupan siswa di Madrasah seperti: membuang
sampah pada tempatnya, saling tolong-menolong antar teman siswa, dan
masih banyak lagi kegiatan yang berkaitan dengan materi konsep Jihad,
jadi untuk anak-anak lebih baiknya langsung diparaktekan ke dalam
Madrasah.
120
2) Guru B bernama Ibu Alwahidah, S.Pd.I
Pertma kali saya mengajarkan Jihad dan pembelajaran di
Madrasah yang harus diperhatikan adalah bagaimana guru menerapakan
konsep Jihad itu sendiri tanpa adanya rasa takut, konsep Jihad itu sendiri
dikalangan pelajar sangat rawan kekerasan tanpa adanya pantauan dari
guru, maka muculah Jihad sebagai pelengkap pembentukan karakter,
dengan inilah sosok seorang pendidik sangat dibutuhkan untuk kebutuhan
anak didik. Dan anak-anak diajarakan untuk selalu hirmat kepada guru
dan orang yang lebih tua dari kita.
3) Guru C bernama bapak Slamet, S.Ag
Penerapan konsep Jihad di Madrasah untuk para siswa itu
bentuknya banyk sekali dari mulai siswa ketika bertemu guru dilatih untu
berjabat tangan sambil dicium, siswa dilatih untuk tidak saling berbohong
antar sesama siswa.
Saya melihat kurikulum 2013 identik dengan pembelajaran Jihad,
karena didalamnya mengandung unsur-unsur yang bersifat positif dan
budi pekerti salah satu unsur dari pembelajaran konsep Jihad. Karena
Jihad juga mengajarkan kepada siswa agar selalu menanamkan rasa
peduli sesama siswa yang lain dan bisa dikembangkan kedalam
kehidupan diluar madrasah.
e. Cara guru mengimplementasi materi konsep Jihad di Madrasah.
1) Guru A bernama bapak Solikin, S.Pd.I
Konsep materi tentang Jihad tercermin dalam seluruh aktifitas
kehidupan. Mulai dari Jihad melawan hawa nafsu, seperti berJihad
menghadapi sifat malas, serakah akan jabatan, kikir dak korupsi waktu
jam mengajar itu juga harus kita hindari sebagai seorang pendidik.
Apabila semua itu dapat kita jalankan sesuai amanah yang kita emban,
insyallah semua akan mendapatkan pahala yang setimpal dengan usaha
kita.
2) Guru B bernama Ibu Alwahidah, S.Pd.I
Tugas seorang guru di Madrasah menurut saya sangat berat apalagi
kalau sudah menyangkut masalah honor bagi guru yang tidak PNS, kalau
niat kita mengajar hanya karena materi maka semuanya tidak akan cukup,
karena itula guru mendapat gelar guru berjuang tanpa jasa.
Jihad itu harus kita tampakkan dalam kehidupan sehari-hari baik di
rumah maupun di Madrasah, implementasi Jihad bisa berupa kita
memerangi sifat iri dan dengki kepada antar sesama guru di Madrasah
karena musuh yang paling berat yaitu kita melawan hawa nafsu diri kita
sendiri.
121
3) Guru C bernama bapak Slamet, S.Ag
Menurut saya penerapan konsep Jihad di Madrasah adalah dengan
mengorbankan harta benda. Dalam konteks ini, Jihad yang dapat
dilakukan antara lain dengan kita membayar zakat, infak, sarana
ekonomi, sedekah yang bertujuan untuk membangun kekuatan umat. Hal
ini sebagaimana tercermin dalam firman Allah pada Q.S Al-Anfal ayat
60.
        
        
          
     
Artinya. dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja
yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang
(yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan
musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu
nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup
kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
10. Wawancara tentang konsep Jihad dengan siswa
a. Persepsi tentang Jihad bagi siswa
1) Siswa A bernama Anam
Pengertian Jihad menurut saya yaitu bersungguh-sungguh dalam
melaksanakan perintah Allah, di sini saya juga dalam berJihad karena
bersungguh dalam belajar mendalami ajaran tauhid. Karena orang yang
hidupnya tidak mengenal Tuhan-Nya maka dia akan celaka dunia akhirat.
Jihad itu bisa bermmanfaat bila kita manfaatkan sebaik mungkin
baik di rumah maupun di madrasah. Orang di katakan berJihad bila
bersungguh-sungguh ingin merubah hidupnya dan tingkah lakunya
sendiri.
2) Siswi B bernama Rokhimin
Saya memahami Jihad itu sebagai bentuk pengabdian kepada
orang tua dengan saya belajar dan mencari ilmu di madrasah, karena
dengan kita berilmu maka hidup kita akan lebih tenang dan nyaman.
Berbagai bentuk cobaan dan rintangan pasti ada dalam diri saya
122
yaitu malas ketika mengerjakan PR, untuk itu, saya bersungguh-sungguh
untuk tidak menjadi anak yang malas dan akan rugi nantinya.
3) Siswa C bernama Aditya
Jihad menurut saya yaitu yakin dengan apa yang saya lakukan,
dan hasilnya nanti akan saya rasakan kemudian, misalnya kalau saya iri
ada teman yang pandai maka selamanya saya akan iri dan itu akan erusak
dirisendiri, untuk itu belajar pastinya nanti bisa mendapat nilai yang baik
dan orang tua bangga dengan saya apa yang sudah saya lakukan selama
ini. Itu makna Jihad menurut saya.
b. Penyampaian Jihad di Madrasah
1) Siswa A bernama Anam
Penyampaian Jihad menurut saya bagus akan tetapi bila tidak
dijelaskan secara detail maka akan dipahami Jihad sebagai perang.
Sebelum mengajar para guru biasanya memasukan Jihad ke dalam
pendidikan yaitu suatu mata pelajaran yang ada kaitanya dengan Jihad
dan perlahan-lahan pak guru mencoba memberikan pengertian makna
tentang Jihad dan di sampaikan kepada siswa dengan penuh teliti agar
nanti apra siswa dengan mudah memahami apa maksud Jihad yang
sebenarnya dan berusaha agar siswa mampu menerapkan konsep Jihad
dalam kehidupan seahri-hari.
2) Siswi B bernama Rokhimin
Dalam mengajar, guru menyampaiakn Jihad dengan penuh
bercanda untuk di samarkan dengan perbuatan di madrasah, Menurut
saya sebelum guru menyampaikan materi Jihad, yang pertama kali guru
sampaikan yaitu memberikan arahan dan maksud tujuan pembelajaran
Jihad. Dan menurut saya dalam penyampaian Jihad sangat menarik
karena saya tau kalau Jihad iti tidak kearah yang negatif dan bisa berubah
menjadi positif.
3) Siswa C bernama Aditya
Penyampaian Jihad di Madrasah dalam hal konsep Jihad itu sangat
penting karena di butuhkan waktu untuk benar-benar Jihad itu dapat di
praktekan dilapangan. Hal ini tidak lepas dari peran seorang guru yang
bisa membawa suasana menjadi lebih menarik, berbagai metode pasti
bisa diterapkan akan hal ini karena untuk menunjang karakter
siswasebagai pelakunya.
123
c. Cara siswa menerapkan konsep Jihad di Madrasah
1) Siswa A bernama Anam
Penerapan Konsep Jihad di madrasah sangat penting bagi para
siswa, ketika seorang guru menyampaikan materi Jihad maka harus di
praktekan dalam kelas atau di luar kelas dengan cara: beJihad melawan
rasa malas belajar dan berJihad melawan rasa iri kepada teman.
Dalam era sekarang yang serba global ini sebenarnya kita juga bisa
berJihad. Tentu Jihadnya bukan dengan senjata. Kita sebagai umat Islam
sudah saat memiliki semangat baru dalam mengggunakan kata Jihad,
Jihad yang saya pakai adalah Jihad melawan hawa nafsu yang tadi sudah
saya sampaiakan sebelumnya..
2) Siswa B bernama Rokhimin
Cara saya menerapkan ajaran Jihad di Madrasah itu banyak sekali
bentuknya, dari hal dasar aja itu sudah termasuk kedalam ajaran Jihad,
kalau di Madrasah kami itu basanya mulai awal masuk siswa sebelum
masuk ke kelas, para siswa di suru berbaris dlu baru habis itu anak di
suruh masuk kelas satu persatu sambil bersalaman sambil cium tangany.
Itu sudah menurut saya yang salah satunya bisa dikatakan sebagai Jihad.
Dilihat dari prakteknya Jadi menurut saya sebagai siswa, cara
menerapakan ajaran Jihad adi Madrasah itu dengan hal-hal yang positif
dan bermanfaat untuk yang lainnya dan itu metode yang tepat untu
menerapkan konsep Jihad di Madrasah
3) Siswa C bernama Aditya
Kalau menurut saya menerapkan konsep Jihad di Madrasah itu
beragam bentuknya dan dari yang sederhana sampai hal yang sifatnya
bersungguh-sungguh. Dalam hal ini saya menerapakan konsep Jihad di
Madrasah dengan bagaimana saya menghormati guru dan tidak
berbohong kepada guru saya dan saya berusaha menjadi anak yang
pandai. Itulah harapan saya yang bisa saya terapkan di Madrasah.
.
124
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Analisis konsep Jihad dan Implementasinya terhadap pembelajaran
didalam Madrasah
1. Materi Jihad di Madrasah
Materi Jihad yang diterapkan di Madrasah itu bisa di lihat dari
pelajaran agama Islam Sebelum memaparkan lebih lanjut penulis memberi
contoh mapel pelajaran agama di Madrasah. Definisi mata pelajaran AlQur‟an Hadis, berikut ini akan penulis kemukakan cakupan materi ajaran
agama Islam. Menurut penulis materi ajaran Agama Islam dapat dibedakan
menjadi empat jenis. Pertama, materi dasar, yaitu materi yang
penguasaannya menjadi kualifikasi lulusan dari pengajaran yang
bersangkutan dan diharapan dapat secara langsung membantu terwujudnya
sosok individu “berpendidikan” yang diidealkan. Di antara materi yang
masuk dalam kelompok ini adalah Tauhid atau Akidah (dimensi
kepercayaan), Fikih (dimensi perilaku ritual dan sosial), dan Akhlak
(dimensi komitmen). Kedua, materi sekuensial, yaitu materi yang
dimaksudkan untuk dijadikan dasar untuk mengembangkan lebih lanjut
materi dasar. Dengan kata lain, materi ini menjadi landasan yang akan
mengokohkan materi dasar. Materi yang masuk dalam kelompok ini
adalah Al-Qur‟an dan Hadis.
125
126
Ketiga, materi instrumental, yaitu materi yang secara tidak langsung
berguna untuk meningkatkan keberagamaan, tetapi penguasaannya sangat
membantu sebagai alat untuk mencapai penguasaan materi dasar
keberagamaan. Materi yang masuk dalam kelompok ini adalah Bahasa
Arab. Keempat, materi pengembang personal, yaitu materi yang secara
tidak langsung meningkatkan keberagamaan ataupun toleransi beragama,
tetapi mampu membentuk kepribadian yang sangat diperlukan dalam
“kehidupan beragama”. Materi yang masuk dalam kelompok ini adalah
sejarah kehidupan manusia, baik sejarah di masa lampau maupun di masa
kontemporer. Materi ini biasanya diimplementasikan dalam materi Sejarah
Kebudayaan Islam.
Dengan demikian, materi ajaran Agama Islam yang berkaitan dengan
Jihad terdiri atas Tauhid/Akidah, Fikih/Ibadah, Akhlak, Al-Qur‟an Hadis,
Bahasa Arab, dan Tarikh Islam/Sejarah Kebudayaan Islam. Sebenarnya,
materi ini dapat dikembangkan dan diperluas. Sehingga, materi ajaran
agama Islam tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu keislaman semata, tetapi
juga ilmu lain yang dapat membantu pencapaian keberagamaan Islam
secara komprehensif. Akan tetapi, untuk tingkat madrasah, penulis kira
enam materi ajaran agama Islam di atas sudah memadai.
Selanjutnya, secara definitif, mata pelajaran Al-Qur‟an Hadis adalah
mata pelajaran agama Islam yang titik tekannya bertumpu pada
kemampuan membaca Al-Qur‟an dan hadis, pemahaman surat-surat
127
pendek, serta mengaitkan konsep Jihad dengan kandungan Al-Qur‟an dan
hadis dengan kehidupan sehari-hari. Biasanya mata pelajaran ini diajarkan
kepada siswa di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah
(MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Program
Keagamaan (dulu bernama MAPK dan MAK), Sebagaimana dikemukakan
di depan, mata pelajaran Al-Qur‟an Hadis menjadi landasan yang akan
mengokohkan materi lainnya, yakni Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah
Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.
Berdasarkan kerangka pilar-pilar agama Islam (akidah, syariah,
akhlak) inilah penulis mencoba mengambil contoh dengan cara
menganalisis dan memetakan materi mata pelajaran Al-Qur‟an Hadis
untuk Madrasah Tsanawiyah (MTs), khususnya materi mata pelajaran AlQur‟an Hadis Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII semester 2 dan Kelas IX,
yang penulis gambarkan dalam bagan berikut ini.
No. Materi Pelajaran Al-Qur’an
1 Menimbun harta (serakah) →
cinta dunia dan melupakan
kebahagiaan hakiki
2 Hukum fenomena alam
3
Sebaran
Kelas VIII
Semester 2
Kelas IX
Semester 1
Menghargai waktu dan menuntut Kelas IX
ilmu
Semester 2
Pilar-pilar Islam
Muamalah (Syariah)
Akhlak
Akidah
Akhlak
Ibadah
Berdasarkan pemetaan di atas, penulis menyimpulkan bahwa materi
mata pelajaran Al-Qur‟an Hadis Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII
semester 2 dan Kelas IX masih kurang komprehensif, yakni kurang
128
mencakup pilar-pilar dan dasar-dasar ajaran Islam secara keseluruhan
terutama yang berkaitan dengan Jihad. Walaupun demikian, sebaran materi
pelajaran Al-Qur‟an Hadis Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII semester 2
dan Kelas IX sudah lumayan seimbang, dalam arti mencoba merangkul
pilar-pilar akidah, syariah, dan akhlak.
Bahwa sistem pendidikan Islam yang dapat dikategorikan telah
menjalankan Jihad fii Sabilillah adalah apabila seluruh sistemnya
berlandaskan ajaran Allah dan Rasul-Nya secara sempurna, yaitu sistem
pendidikan yang akan melahirkan pribadi-pribadi muslim yang akan
memperjuangkan tegaknya Islam dalam segala aspek kehidupan dengan
spesialisasi keilmuannya, kejayaan Islam dan umatnya senantiasa menjadi
tujuan utamnya. Juga sistem pendidikan yang melahirkan pribadi-pribadi
yang agung yang senantiasa mencintai ilmu pengetahuan, mempelajari dan
mengembangkannya demi kebaikan diri dan generasi sesudahnya. Bukannya
sistem pendidikan yang melahirkan para penentang Islam secara langsung
dan tidak langsung, atau pribadi-pribadi yang ragu dan bimbang dengan
keIslamannya. Walaupun sistem pendidikan tersebut menyebut dirinya
sebagai lembaga pendidikan Islam dan mencantumkan label Islam di antara
nama institusinya.
Peranan guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan
Madrasah Tsanawiyah Al-Khoiriyah karangawen tidak disangsikan lagi,
bahwa peranan beliau-beliau dalam pendidikan yang tersusun rapi dan
menyeluruh sangat penting untuk mengangkat harkat dan martabat suatu
129
kaum agar menjadi kaum yang maju dan berperadaban. Pada konteks inilah
guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah Tsanawiyah
Al-Khoiriyah karangawen kabupaten Demak, khususnya guru-guru yang
mengajar pendidikan Islam memiliki peran strategis, yaitu sebagai sarana
dalam proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam untuk diterapkan. Sebab
proses transformasi itu membutuhkan semangat Jihad, dan Jihad itu sendiri
akan sia-sia jika tidak ada niatan karena Allah dan tidak mengajarkan ilmu
agama yang baik kepada peserta didik, dan mencegah kemungkaran, dan
mengentaskan kebodohan dengan cara mengajarkan ilmu agama dengan
sunguh-sunguh.
Bila pembelajaran semacam ini berkembang dan membudaya di
kalangan guru di Madrasah, bisa jadi ajaran Jihad dalam Islam menjadi suatu
ide-ide yang menjadikan para guru-guru untuk semangat dalam mengajar dan
mendidik pada peserta didik. Dan kata Jihad pada bab terdahulu telah berasal
dari bahasa Arab yang berarti “Berusaha dengan sungguh-sungguh,
mencurahkan segala kemampuan, berjuang”. Kata Ijtihad dalam konteks
pemikiran, dan Mujahadah dalam konteks kesufian, juga ada kaitan dengan
makna asalnya, yaitu kesungguhan pelakunya atau mencurahkan segala
kemampuan dalam melakukan pemikiran (Ijtihad) dan atau penghayatan serta
pengalaman terhadap ajaran Islam (Mujahadah). Dari kata sungguh-sungguh
inilah guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah
Tsanawiyah Al-Khoiriyah karangawen melakukan tanggung jawab sebagai
guru pengajar dengan baik dan bersungguh-sungguh mencerdasakan anak
130
didik.
Guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah
Tsanawiyah Al-Khoiriyah karangawen tidak hanya bersunguh-sungguh saja,
akan tetapi guru harus bisa menahan diri dari hawah nafsu yang mengajak
pada kemungkaran dan juga harus bisa bersifat sabar dalam mengahdapi
peserta didik, tapi guru-guru juga harus bisa berkorban apa-apa yang
dimilikinya baik itu harta atau dirinya dalam menjalankan tanggung jawab
sebagai guru, sebagimana dalam al-Qur‟an surat at-Taubah ayat 44:
       
       
“orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, tidak
akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta
dan diri mereka. dan Allah mengetahui orang-orang yang
bertakwa.”
Al-Qur‟an juga menyatakan bahwa kata Jihad dikaitkan dengan
kesabaran, sebagaimana firman- Nya dalam Q.S. al-Nahl ayat 110, Q.S. AlImran ayat 142.
         
   
“
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal
belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan
belum nyata orang-orang yang sabar”.
Disini menunjukkan bahwa dalam berjihad seyogyanya Guru-guru
131
Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah Tsanawiyah AlKhoiriyah karangawen senantiasa disertai dengan sikap ketelitian dan
kecermatan serta kebanggaan terhadap pekerjaan yang bermutu. Dalam
berjihad juga tidak diperkenankan untuk takut pada celaan orang lain yang
suka mencela, atau takut kritik. Artinya, bahwa jihad harus disertai dengan
sikap terbuka, mau menerima kritik dari siapap pun demi kebaikan hasil
pekerjaannya (usahanya). Orang yang berjihad seyogyanya memiliki
wawasan jangka panjang atau masa dengan yang lebih baik dan yang diridhoi
oleh-Nya.
Jika diamati, kajian terhadap pandangan-pandangan ajaran jihad
menurut Guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah
Tsanawiyah Al-Khoiriyah karangawen dan ayat-ayat al-Qur‟an mengenai
makna jihad maka dapat dipahami bahwa istilah jihad mengandung makna:
“kemampuan bekerja keras (dengan mencurahkan segala kemampuannya,
baik fisik/materiil maupun totalitas dirinya) menuju jalan Allah, mempunyai
sikap ketelitian dan kecermatan, serta terbuka terhadap kritik dari luar,
mempunyai kebanggaan terhadap pekerjaan yang bermutu (bukan asal kerja),
dan mempunyai wawasan jangka panjang (harapan masa depan). Berdasarkan
keterangan di atas dapat dirumuskan bahwa tugas dan peran guru dapat
dikatakan berjihad, bila memenuhi kriteria tertentu, seperti:
1.
Ketika melakukan pengajaran agama Islam kepada peserta didik
diperlukan konsentrasi dengan jalan mencurahkan segala kemampuan
yang dimiliki sesuai dengan bekal yang diperoleh melalui pre-service
132
education atau program pendidikan tenaga kependidikan/keguruan yang
ditempuh oleh sebelum bertugas menjadi guru agama.
2.
Ketika menjalankan tugas profesinya guru agama harus mempuyai
karkteristik bersungu-sungguh dalam melakukan tugas, dan juga harus
bisa menahan dii dari nefsu yang jelek, dan niat karena Allah.
3.
Ketika menjalankan tugasnya disertai sikap ketelitian, kecermatan dan
terbuka terhadap kritik, serta peka terhadap informasi dan perkembangan
baru yang terkait dengan tugasnya.
4.
Memiliki kebanggaan terhadap tugasnya dan komitmen serta peduli
dengan kualitas kerja (proses dan hasilnya), dan mendahulukan masalah
pendidikan dari pada masalah pribadi.
5.
Selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri baik aspek personal
dan sosialnya maupun profesionalnya melalui otodidak ataupun inservice
education, yakni pendidikan yang ditempuh oleh seseorang yang sudah
memiliki jabatan guru dan/atau inservice training, yakni program
pelatihan yang diikuti oleh seseorang yang sudah memiliki jabatan guru
agama, baik melalui penataran, kursus, lokakarya ataupun lainnya guna
meningkatkan kemampuannya dalam melakukan tugas sehari-harinya
dengan lebih baik sebagai pendidik.
6.
Memiliki wawasan dan jangkauan masa depan. Sebab, dengan usahausaha semacam itu akan bisa melahirkan produktivitas prestasi, yakni
produknya punya daya tahan, daya saing karena kualitasnya dan daya
guna karena dibutuhkan bagi umat manusia.
133
B. Pemahaman guru didalam memandang konsep Jihad di Madrasah.
1. Analisis hasil wawancara guru dan siswa di MTs Nurul Hidayah
Margohayu
a) Pemahaman tentang Jihad
tentang Jihad di Madrasah yang dipahami oleh guru-guru itu
hasilnya berbeda-beda dan ada kesamaan makna yaitu:
1) Jihad yang disampaikan pak Masduki adalah bersungguh-sungguh
dalam segala hal yang bersifat kebaikan dan menunjukkan kepada
orang kejalan yang baik.
2) Jihad yang disampaikan pak Asroful Anam adalah tidak harus
dengan mengangkat senjata akan tetapi bisa diartikan seseorang
yang melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya hanya niat
karena Allah dan bersungguh- sungguh melaksanakannya.
3) Jihad yang disampaikan pak Muqorrobin adalah Jihad artinya ialah
orang yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras untuk
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, baik itu tugas
apapun.
Sehingga dari hasil wawancara dan analisisnya apabila
dihubungkan dengan konsep Jihad di Madrasah adalah para guru
bersunggu-sungguh dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang
pendidik serta mengajak orang-orang kejalan kebaikann didalam
134
melaksanakan kehidupan bermasyarakat.
b) Kajian Jihad di Madrasah
Dari analisis kajian tentang Jihad maka Jihad perlu dimaknai
sebagai upaya untuk mendidik umat dalam membentuk dan membina
mental. Jihad yang pernah dilakukan ternyata teori Jihad di Madrasah
memiliki arti dan peran yang sangat penting karena dari konsep Jihad
itulah dapat memebentuk sifat-sifat yang lebih baik dan menjadikan
lebih bermakna.
Dengan pendidikan Islam itu sendiri, maka dari kajian di
Madrasah membuat anak dapat terkatih secara mental dan disiplin
sehingga anak didik akan memiliki penegetahuan dari sisi
intelektualitas yang bersifat duniawiyah.sehingga anak didik terbiasa
dengan karakter ada di Madrasah
Konsep Jihad memiliki peran yang sangat penting yang nantinya
menjadi motivasi kepada anak dan juga keluarganya guna mendorong
perkembangan anak didik kearah pembentukan karakter dan disiplin
karena kurikulum 2013 itu salah satunya adalah budi pekerti.
c) Penjelasan Jihad terhadap siswa
Dasaranya yang diajarkan kepada siswa tentang pemahaman
Jihad di kelas itu semudah mungkin anak paham, bukan hanya
pemahaman bahwa jihad itu perang, akan tetapi anak-anak diajarkan
konsep Jihad yang sebenarnya adalah bersungguh-sungguh dalam
mewujudkan hakekat Islam dalam kontek perjuangan.
135
Konsep Jihad pada awalnya guru pada bingung, bagaimana anak
nanti bisa paham akan makna Jihad. Jihad bukan hanya semata-mata
untuk berperang akan tetapi banyak bentuknya yang ada kaitanya
dengan penjelasan Jihad kepada anak.
Penjelasan teori Jihad kepada siswa membutuhkan waktu yang
lama dan menggunakan harus bisa menggunakan banyak cara/metode
tertentu agar siswa dapat memahami arti Jihad yang sebenarnya dan
tergantung cara guru menjelaskannya.
d) Penerapan konsep Jihad di Madrasah
Penerapan konsep Jihad yang dilakukan guru di kelas yaitu
banyak sekali bentuknya bisa berupa anak untuk di latih disiplin
dalam belajar, mengerjakan PR dengan baik, mengucapkan salam bila
bertemu teman dan lain-lain. Dan anak praktek langsung ke lapangan
yang sesuai dengan kehidupan siswa di Madrasah. Dengan demikian
pemahaman siswa tentang Jihad yang sebenarnya akan terbentuk
melalui kebiasaan yang sesuai dengan norma dan kaidah agama di
Madrasah yang didalamny untuk mencapai kehidupan yang baik
ditengah-tengah masyarakat dan sekitarnya.
e) Implementasi konsep Jihad terhadap guru
Implementasi Jihad di Madrasah adalah dapat diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari oleh seorang guru agar selalu datang
tepat waktu ketika mengajar, siap menerima gaji di bawah standar,
136
disiplin dalam mengajar dan lain-lain.
Implementasi konsep Jihad yang lain, hampir sama dengan yang
sebelumnya yaitu Jihad dapat diwujudkan seorang guru bagaimana
dia memberikan contoh guru yang lain, sesama guru dan masyarakat
sekitar yaitu dengan saling tolong menolong didalam kebaikan, dan
semua itu harus di landasi dengan niat yang ikhlas dan mencari Ridho
dari Allah swt.
C. Hasil analisis wawncara dengan Siswa
1) Jihad menurut Siswa
Setelah saya amati dari hasil wawancara ternyata saya
mempunya analisis bahwa pendangan Jihad yang mempunyai arti
penting bagi mereka, karena jihad mempunyai arti bersungguh di
dalam belajar dan berjuang sekuat tenaga demi meraih masa
depan yang lebih cerah dan lebih baik.
Disamping bersunggug di dalam belajar, jihad juga
diartikan oleh para siswa yaitu beryakinan apa yang dilakukan
siswa nantinya akan membuahkan hasil yang maksimal, misalnya
kalau belajar dengan sungguh-sungguh maka akan mendapatkan
nilai yang memuaskan dan membuat bangga orang tua.
2) Penyampaian Jihad di Madrasah
Penyampian materi Jihad di Madarsah tidak serta merta
anak-anak langsung di jelaskan bahwa jihad itu perang akan tetapi
137
dengan pelan-pelan seorang guru memahamkan jihad kepada
siswa agar tau makna Jihad yang sebenarnya. Agar penyampaian
materi Jihad dapat menarik, penyampaian guru kepada siswa agar
di sesuaiakan dengan realita kehidupan siswa sehari-hari
Sehingga menurut saya bahwa penyampaian konsep Jihad
di Madrasah tidak langsung anak-anak di doktrin bahwa jihad itu
perang dan anak-anak bisa dilibatkan dalam aktifitas kehidupan di
Madrasah yang ada kaitanya dengan peran materi Jihad.
3) Penerapan konsep Jihad di Madrasah bagi Siswa
Banyak sekali penerapan konsep jihad pada siswa di
Madarsaah yang berkaitan dengan kajian teori, baik kehidupan di
Madarsah amaupun diluar Madrasah.
Salah satu penerapan konsep jihad secra langsung di
Madarsah ini yiatu dengan anak-anak belajar dengan sungguhsungguh, menghormati sesama teman kelas, saling tolong
menolong dan banyak lagi yang lainya. Di sini siswa mampu
diarahkan untuk mengimplemntasikanya kedalam kehidupan di
Madrasah.
2.
Analisis hasil wawancara guru dan siswa di MTs Al-Khoiriyah
Wonosekar
a) Pemahaman tentang Jihad
Pemahaman tentang Jihad di Madrasah yang dipahami oleh
138
guru-guru itu hasilnya berbeda-beda dan ada kesamaan makna yaitu:
1) Jihad yang disampaikan pak Zaenul adalah bersungguh-sungguh
didalam memerangi kebodohan dan mengajak kepada hal yang
menuju kebaikan serta tidak harus mengangkat senjata dimedan
perang.
2) Jihad yang disampaikan pak Mu‟anan adalah bersungguh- sungguh
melaksanakannya,
dengan
ketabahan
dan
kesabaran
untuk
mendapatkan ridha Allah di jalannya.supaya apa yang kita lakukan
mendpatkan nilai positif untuk diri kita.
3) Jihad yang disampaikan pak Husaini adalah Jihad artinya ialah
orang yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras untuk
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, baik itu tugas
apapun.
Sehingga dari hasil wawancara dan analisisnya apabila
dihubungkan dengan konsep Jihad menurut para ahli adalah para
guru bersunggu-sungguh dalam melaksanakan tugasnya sebagai
seorang pendidik yaitu memerangi kebodohan dan mengajak
kepada kebaikan didalam melaksanakan kehidupan ini.
b) Analisis kajian jihad di Madrasah
Dari berbagai narasumber yang pernah dilakukan ternyata teori
Jihad di Madrasah memiliki arti dan peran yang sangat penting
karena dari konsep Jihad itulah dapat memebentuk karakter anak
didik sebagai bekal hidup mereka kelak
139
Dari kajian di Madrasah membuat anak dapat terkatih secara
mental dan disiplin sehingga anak didik akan memiliki penegetahuan
dari sisi intelektualitas yang bersifat duniawiyah. Dengan konsep
Jihad inilah anak didik diajarkan untuk melawan hawa nafsunya.
Konsep Jihad memiliki motivasi kepada anak dan juga
keluarganya guna mendorong perkembangan anak didik kearah
pembentukan karakter dan disiplin.
c) Penjelasan Jihad terhadap siswa
Yang diajarkan kepada siswa tentang pemahaman Jihad di
kelas bukan hanya pemahaman bahwa jihad itu perang, akan tetapi
anak-anak
diajarkan
konsep
Jihad
yang
sebenarnyaadalah
mempunyai positif thinking didalam memehami dan menerapkan
suatu pengetahuan.
Jihad
bukan
penyebaran Islam
hanya
I,
semata-mata
sebagaimana
zaman
yang banyak diartikan/identik dengan
kekerasan. Akan tetapi Jihad yang sebenarnya adalah bersungguhsungguh didalam belajar sehingga pengetahuan dan karakternya
akan berubah kearah yang positif.
Penjelasan teori Jihad kepada siswa membutuhkan waktu yang
tidak sebentar dan menggunakan metode tertentu agar siswa dapat
memahami arti Jihad yang sebenarnya.
140
d) Penerapan konsep Jihad di Madrasah
Penerapan konsep Jihad yang dilakukan guru di kelas yaitu
praktek langsung ke lapangan yang sesuai dengan kehidupan siswa
di Madrasah. Dengan demikian pemahaman siswa tentang Jihad
yang sebenarnya akan terbentuk melalui kebiasaan dan karakter
yang sesuai
mencapai
dengan norma dan kaidah agama didalam rangka
kehidupan
yang baik
ditengah-tengah
masyarakat
nantinya.
e) Implementasi Jihad di Madrasah bagi guru-guru
Implementasi Jihad di Madrasah adalah dapat diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari oleh seorang guru agar tidak
terpengaruh dengan sifat yang semata-mata diukur dengan harta
duniawiyah karena jihad yang paling berat adalah kita dapat
mengalahkan hawa nafsu didalam diri kita sendiri.
Implementasi yang lain, Jihad dapat diwujudkan seorang guru
bagaimana dia memberikan contoh kepada siswa, sesama guru dan
masyarakat sekitar yaitu dengan saling tolong menolong didalam
kebaikan, memberikan infaq/shodaqoh dan zakat dan amalan-amalan
mu‟amalah lainya yang bertujuan untuk membangun ukhuwah dan
kekuatan umat di sekitar.
f)
Hasil analisis wawancara dengan siswa
1) Jihad menurut siswa
141
Menurut pendangan siwsa ternyata jihad juag mempunyai
arti yang penting bagi mereka, karena jihad mempunyai arti
bersungguh didalam melakasanakan perintah Allah baik di
Madarsah maupun di rumah, pengertian melakasankan perintah
Allah di sini di dalamya adalah bersungguh-sungguh didalam
belajar untuk merubah hidup dan tingkah laku ke arah yang
lebih baik.
Disamping bersunggug di dalam belajar Jihad juga
diartikan oleh para siswa menghilangkan berbagai nafsu yang
negatif yang ada didalam dirinya.
2) Penyampaian Jihad di Madrasah
Penyampiaa materi Jihad di Madarsah tidak dapat
dilepaskan dari peran seorang guru agar materi tersebut dikemas
secara menarik dengan berbagai metode yang dapat diterima
oleh siswa, agar penyampaian materi Jihad dapat menarik,
penyampaian guru kepada siswa agar di sesuaiakan dengan
realita kehidupan siswa sehari-hari
Sehingga stigma bahwa Jihad adalah identik dengan
kekerasan dapat disingkirkan dari alam pikiran siswa.
3) Penerapan Jihad pada siswa di Madrasah
penerapan konsep Jihad pada siswa di Madarsaah
memerlukan bimbingan seorang guru agar dapat dipraktekan
secara langsung didalam kehidupan siswa, baik kehidupan di
142
Madarsah maupun diluar Sekolah.
Penerapan konsep Jihad secara langsung di Madarsah ini
yiatu dengan berbagai cara yang positif yang pada dasaranya
adalah bagaimana siswa dapat berkompetisi dengan baik tidak
saling mengganggu tidak saling dengki dan yang terpenting
adalah bagaimana Jihad yang sebenarnya yaitu meleawan hawa
nafsu masing-masing.
D. Implementasi pembelajaran Jihad di Madrasah
Telah diutarakan pada bab sebelumnya bahwa salah satu cakupan
Jihad adalah Jihad dalam pendidikan dan pengajaran. Maksudnya,
proses perjuangan menegakkan Agama Allah dengan menggunakan
sarana pendidikan dan segala perlengkapannya yang sudah dilakukan
oleh Guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah
Tsanawiyah Al-Khoiriyah karangawen kabupaten Demak. Pendidikan
diartikan sebagai proses transformasi pengetahuan secara sempurna dan
menyeluruh, termasuk teladan moral sang pendidik. Itu bukan hanya
mencakup pemberian keilmuan saja, melainkan menyangkut segala
aspek yang diperlukan dalam rangka membentuk pribadi-pribadi
muslim yang komite pada ajaran Islam, berwawasan luas, dan memiliki
ilmu yang bermanfaat menurut spesialisasinya, baik secara formal di
lembaga-lembaga pendidikan dengan kurikulum yang tersusun secara
terinci maupun secara informal di majelis-majelis keilmuan yang
diadakan untuk memenuhi keperluan kaum muslimin.
143
Implementasi Jihad di Madrasah yang di terapkan oleh MTs
Nurul Hidayah dan MTs Al-Khoiriyah itu yang terpenting didalam
unsur-unsur Jihad adalah bagaimana membiasakan siswa untuk hormat
kepada guru, menanmkan rasa peduli kepada sesama siswa dan belajar
dengan sungguh-sungguh sebagai bekal kehidupan mereka dimasa
mendatang.
karena guru sebagai panutan peserta didik, guru-guru juga harus
bisa menunjukkan hal-hal yang baik pada peserta didik. GuruguruMadrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah Tsanawiyah
Al-Khoiriyah karangawen dalam menjalankan tugas sebagai pendidik
beliau-beliau melaksanakan dengan niat karena Allah, juga dengan
pelaksanaan yang disiplin waktu, dan beliau juga berusaha menjalankan
tugasnya dengan melupakan rasa capek dan lelah, disamping itu guruguru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah Tsanawiyah
Al-Khoiriyah karangawen melaksanakan dengan cara seperti ini:
1. Menyampaikan materi dengan baik.
2. Menunujukkan pada peserta didik kepada hal-hal yang baik.
3. Mampu mengarahkan siswa.
4. Mendidik peserta dengan baik.
5. Menilai peserta didik.
Kedudukan guru sebagai pengajar dan pembimbing tidak bisa
dilepaskan dari guru sebagai pribadi. Kepribadian guru sangat
mempengaruhi peranannya sebagai pendidik dan pembimbing. Dia
144
mendidik dan membimbing para siswa tidak hanya dengan bahan yang
ia sampaikan atau dengan metode-metode penyampaian yang
digunakannya, tetapi dengan seluruh kepribadiannya. Mendidik dan
membimbing tidak hanya terjadi dalam interaksi formal, tetapi juga
interaksi informal, tidak hanya diajarkan tetapi juga ditularkan. Pribadi
guru merupakan satu kesatuan antara sifat-sifat pribadinya, dan
peranannya sebagai pendidik, pengajar dan pembimbing. Oleh karena
itu Guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah
Tsanawiyah Al-Khoiriyah karangawen berusaha menjalankan tugasnya
dengan cara bersabar dan sadar sebagai panutan beliau-beiau berusaha
menahan diri dari hal-hal yang bersifat hawah nafsu yang jelek.
Pekerjaan seorang guru adalah luas, yaitu untuk membina seluruh
kemampuan- kemampuan dan sikap-sikap yang baik dari murid sesuai
dengan ajaran Islam. Hal ini berarti bahwa perkembangan sikap dan
kepribadian tidak terbatas pelaksanaannya melalui pembinaan di dalam
kelas saja. Dengan kata lain, tugas dan tanggung jawab guru dalam
membina murid tidak terbatas pada interaksi belajar-mengajar saja.
Guru-guru Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan Madrasah
Tsanawiyah Al-Khoiriyah karangawen sadar bahwa tanggung jawabnya
sangat luas maka beliau berusaha membina dan membimbing peserta
didik supaya tidak menjadi sampah masyrakat, karena itu beliau
mempuyai dedikasi dan loyalitas dalam membina peserta didik agar
menjadi orang yang beragama bagi Negara dan mampu menjalankan
145
kehidupan dengan ajaran Islam.
Setiap perubahan selalu ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu
adanya nilai atau ide, dan adanya pelaku-pelaku yang menyesuaikan
diri dengan nilai nilai itu. Setiap ada usaha transformasi sosial, perlu
dipahami dan disadari ada tidaknya dua syarat tersebut.
Menurut ajaran Islam, syarat yang pertama telah diambil alih
sendiri oleh Allah melalui petunjuk-petunjuk-Nya di dalam al-Qur‟an
serta penjelasan Rasulullah saw walaupun sifatnya masih umum dan
memerlukan perincian dari manusia. Sedangkan pelakunya (syarat
kedua) ialah Allah dan manusia-manusia yang hidup di suatu tempat
dan yang selalu terikat dengan hukumhukum masyarakat yang
ditetatapkan itu. Hal itu sebagaimana terumuskan dalam surat al-Ra‟ad:
11.
            
             
“… sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
(masyarakat) sampai mereka mengubah (terlebih dahulu) apa yang
ada pada diri mereka (sikap mental mereka)”. (Q.S. al-Ra‟ad: 11).
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa ada dua pelaku
perubahan.
Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah
146
sendiri, yang terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat,
sehingga tidak memilih atau membedakan antara satu masyarakat atau
kelompok dengan masyarakat/kelompok lainnya. Siapa saja yang
mengabaikan-Nya akan digilasnya, sebagaimana yang terjadi kini pada
masyarakat Islam yang mengingkari terhadap sebagian tugas-tugas
kekhalifahannya.
Kedua, perubahan keadaan diri manusia yang pelakunya adalah
manusia. Manusia adalah pelaku dan pembuat sejarah, dan gerak
sejarah adalah gerak menuju suatu tujuan di masa depan, dan tujuan itu
sendiri harus tergambar dalam benak manusia. Artinya, ada nilai-nilai
yang dihayati dan ada kehendak manusia untuk menggoalkan nilai-nilai
tersebut, sehingga merupakan kekuatan pendorong untuk melakukan
sesuatu.
Selanjutnya perubahan yang dilakukan oleh anggota masyarakat
itu harus diwujudkan dalam suatu landasan yang kokoh, sehingga
perubahan tersebut dapat menciptakan arus, gelombang atau setidaktidaknya riak yang menyentuh orang lain.
Jadi implementasinya dalam pembelajaran di Madrasah yaitu
tidak hanya sekedar ikut perang di medan pertempuran, sebagimana
yang di dengungkan banyak orang selma ini, makna Jihad lebih luas
mencakup banyak aspek kehidupan sehari-hari misalnya aspek sosial,
aspek pendidikan, aspek ekonomi dan lain lain sebagianya.
Aspek sosial misalnya berbicara jujur dengan siapapun, berbuat
147
baik trhadap sesama, suka menolong kepada orang ang terkena musibah
dan teman yang menghadapi masalah.
Aspek pendidikan misalnya patuh pada guru, di siplin berangkat
sekolah, tidak membolos di jam pelajaran, mendidik dengan baik, guru
siap menerima bisyaroh kecil tetapi tetap semangat mengajar,
membayar uang SPP dll.
Aspek ekonomi misalnya, suka menabung, membelanjakan uang
saku sesuai dengan kebutuhan dan lain-lain. Dibawah ini bagan tentang
analisis Jihad antara MTs Nurul Hidayah dan MTs Al-Khoiriyah.
no
MTs Nurul Hidayah
1  Pemahaman tentang Jihad
2
a. Sehingga dari hasil wawancara
dan
analisisnya
apabila
dihubungkan dengan konsep
Jihad di Madrasah adalah para
guru
bersunggu-sungguh
dalam melaksanakan tugasnya
sebagai seorang pendidik serta
mengajak orang-orang kejalan
kebaikann
didalam
melaksanakan
kehidupan
bermasyarakat.
 Kajian Jihad di Madrasah.
Dengan pendidikan Islam itu
sendiri, maka dari kajian di
Madrasah membuat anak dapat
terkatih secara mental dan
disiplin sehingga anak didik
akan memiliki penegetahuan
dari sisi intelektualitas yang
bersifat duniawiyah.sehingga
anak didik terbiasa dengan
karakter ada di Madrasah
MTs Al-Khoiriyah
 Pemahaman tentang Jihad
Sehingga dari hasil wawancara dan
analisisnya apabila dihubungkan
dengan konsep Jihad menurut para
ahli adalah para guru bersunggusungguh dalam melaksanakan
tugasnya sebagai seorang pendidik
yaitu memerangi kebodohan dan
mengajak kepada kebaikan didalam
melaksanakan kehidupan ini.
 Kajian Jihad di Madrasah
Konsep Jihad memiliki motivasi
kepada anak dan juga
keluarganya guna mendorong
perkembangan anak didik kearah
pembentukan karakter dan
disiplin.
148
3
 Penjelasan Jihad di
Madrasah.
Penjelasan teori Jihad kepada
siswa membutuhkan waktu
yang lama dan menggunakan
harus
bisa
menggunakan
banyak cara/metode tertentu
agar siswa dapat memahami
arti Jihad yang sebenarnya dan
tergantung
cara
guru
menjelaskannya
4
5
 Penerapan konsep Jihad di
Madrasah.
 Penjelasan Jihad di Madrasah.
Yang diajarkan kepada siswa
tentang pemahaman Jihad di
kelas bukan hanya pemahaman
bahwa jihad itu perang, akan
tetapi
anak-anak
diajarkan
konsep
Jihad
yang
sebenarnyaadalah mempunyai
positif
thinking
didalam
memehami dan menerapkan
suatu pengetahuan.
 Penerapan konsep Jihad di
Madrasah.
Penerapan konsep Jihad yang
Dengan demikian pemahaman
dilakukan guru di kelas yaitu
siswa tentang Jihad yang
banyak sekali bentuknya bisa
sebenarnya
akan
terbentuk
berupa anak untuk di latih
melalui kebiasaan dan karakter
disiplin
dalam
belajar,
yang sesuai dengan norma dan
mengerjakan PR dengan baik,
kaidah agama didalam rangka
mengucapkan
salam
bila
mencapai kehidupan yang baik
bertemu teman dan lain-lain.
ditengah-tengah
masyarakat
Dan anak praktek langsung ke
nantinya.
lapangan yang sesuai dengan
kehidupan siswa di Madrasah
 Implementasi konsep Jihad
 Implementasi konsep Jihad
pada guru.
pada guru.
Implementasi
Jihad
di
Madrasah
adalah
dapat
diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari oleh seorang guru
agar selalu datang tepat waktu
ketika
mengajar,
siap
menerima gaji di bawah
standar,
disiplin
dalam
mengajar dan lain-lain
Implementasi Jihad di Madrasah
adalah dapat diwujudkan dalam
kehidupan
sehari-hari
oleh
seorang
guru
agar
tidak
terpengaruh dengan sifat yang
semata-mata diukur dengan harta
duniawiyah karena jihad yang
paling berat adalah kita dapat
mengalahkan
hawa
nafsu
didalam diri kita sendiri
149
6
 Analisis Jihad terhadap
siswa.
Setelah saya amati dari
hasil wawancara ternyata saya
mempunya analisis bahwa
pendangan
Jihad
yang
mempunyai arti penting bagi
mereka,
karena
jihad
mempunyai arti bersungguh di
dalam belajar dan berjuang
sekuat tenaga demi meraih
masa depan yang lebih cerah
dan lebih baik.
Sehingga menurut saya
bahwa penyampaian konsep
Jihad di Madrasah tidak
langsung anak-anak di doktrin
bahwa jihad itu perang dan
anak-anak bisa dilibatkan
dalam aktifitas kehidupan di
Madrasah yang ada kaitanya
dengan peran materi Jihad.
Banyak
sekali
penerapan konsep jihad pada
siswa di Madarsaah yang
berkaitan dengan kajian teori,
baik kehidupan di Madarsah
amaupun diluar Madrasah.
 Analisis Jihad terhadap siswa.
Menurut
pendangan
siwsa ternyata jihad juag
mempunyai arti yang penting
bagi mereka, karena jihad
mempunyai arti bersungguh
didalam melakasanakan perintah
Allah baik di Madarsah maupun
di
rumah,
pengertian
melakasankan perintah Allah di
sini
di
dalamya
adalah
bersungguh-sungguh
didalam
belajar untuk merubah hidup dan
tingkah laku ke arah yang lebih
baik.
BAB VI
PENUTUP
A. Simpulan
Akhirnya, Setelah membahas secara menyeluruh dalam bab demi bab dengan
judul "Konsep Jihad dan Implementasinya terhadap pembelajaran di
Madrasah(Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Nurul Hidayah dan
Madrasah al-Khoiriyah Karangawen Demak)” dapatlah diambil kesimpulan
pembahasan sebagai berikut ini:
1.
Konsep Jihad dalam Islam pandangan dari Guru-guru di Madrasah Nurul
Hidayah dan Madrasah Al-Khoiriyah Karangawen Demak mempunyai
banyak makna yang mencakup sejak dari sejak berjuang mengangkat
senjata dalam peperangan sampai berjuang melawan hawa nafsu. Namun
semua Guru-guru di Madrasah Nurul Hidayah dan Madrasah AlKhoiriyah Karangawen Demak sepakat memahami Jihad sebagai
berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memerangi kebodohan atau
suatu seruan kepada agama yang hak dan benar-benar harus diamalkan.
Jihad artinya bersungguh-sungguh/perjuangan, dan perjuangan tersebut
bisa dilakukan dengan tangan atau lisan untuk mempertahankan agama
Allah Swt termasuk di dalamnya sebagai perjuangan untuk memerangi
ketertinggalan dan kebodohan (dunia pendidikan).
150
151
2.
Guru-guru di Madrasah Nurul Hidayah dan Madrasah Al-Khoiriyah
Karangawen Demak berusaha menerapkan konsep jihad didalam
kehiduapan di Madrasah banyak sekali bentuknya yang dapat di
implementasikan kedalam kehidupan sehari-hari.
3.
Diharapkan siswa-siswa di Madrasah Nurul Hidayah dan Al-Khoiriyah
dapat melaksanakan teori konsep jihad didalam kelas maupun diluar
kelas, sehingga nantinya anak-anak mampu menerapkan didalam
kehidupan di rumah dan lingkungan sekitar.
B. Saran-Saran
Setelah meneliti tentang “Konsep Jihad dan Implementasinya terhadap
pembelajaran di Madrasah (Studi kasus apa Madrasah Tsanawiyah Nurul
Hidayah dan Madrasah Tsanawiyah Al-Khoiriyah Karangawen Demak)”,
dapatlah penulis mengajukan beberapa saran berikut ini.
1.
Untuk Semua guru, agar pembelajaran Jihad di Madrasah dapat
diImplementasikan kedalam kehidupan sehari-hari secara baik sehingga
anak-anak menjadi anak yang berakhlakul karimah. Yang nantinya Agar
mereka selalu mengkaji secara kritis pemikiran-pemikiran yang
ditawarkan oleh para ahli pendidikan Islam, untuk kemudian dilakakukan
pengembangan-pengembangan agar menjadi teori yang relevan dengan
kebutuhan zaman dan semoga mampu untuk masuk didalam kurikulum
2013, yang salah satunya ada pembelajaran budi pekerti.
2.
Kepada para siswa agar senantiasa membiasakan perilaku yang bersifat
positif dan mampu menerapkan kajian konsep Jihad didalam kehidupan
152
sehari-hari di rumah maupun dilingkungan sekitar agar mampu membuat
perubahan didalam perilaku yang kurang baik menjadi perilaku budi
pekerti yang lebih baik. Amin.
153
DAFTAR PUSTAKA
Azzam Abdullah. Fi al-Tarbiyah al-Jihadiyah wa al-Bina. Peshwar Pakistan:
Maktabah Khidmat al-Mujahiddin, 1990.
Azzam Abdullah. Perang Jihad Di Jaman Modern. Gema Insani Pres, Jakarta,
1992.
Asqolani. Fathul Baari Syarh Shahih Al-Bukhari. Terj.Amiruddin, Jakarta,
Pustaka Azzam, 2006.
Aly Hery Noer. Ilmu Pendidikan Islam . Jakarta: logos, 1999.
Azis Khalid Abdul. “Konsep Jihad Menurut Taqiyuddin al-Nabhani; Sebuah
Kajian Hermeneutik”, (Semarang: Tesis Perpustakaan Pascasarjana IAIN
Walisongo, 2003).
Azwar Saifuddin. Metodologi Penelitian, Yogjakarta. Pustaka Pelajar, 2007.
Arikunto Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Ed. Revisi. Cet. IV,
Jakarta, Bumi Aksara, 2003.
Alam Zafar. Education Interaksi Early Islamic Periode. Delhi: Markazi Maktaba
Islami Publishers, 1997.
Baqi Ramadhun Abdul. Jihad Jalan Kami. Terj., Imam Fajarudin. Solo: Era
Intrmedia, 2002.
Burhanudin Asep. Jihad Tanpa Kekerasan. Yogjakarta, PT LkiS Pelangi Aksara,
2005.
Baidhawy Zakiyuddin. Konsep Jihad dan Mujahid Damai. Kementrian Agama
154
Republik Indonesia Diroktorat Jenderal Pendidikan Islam Diroktorat
Pendidikan Tinggi Islam, Jakarta Pusat, 2012.
Bungin Burhan, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta, PT Raja Grafindo
persada, 2011.
Bakar al-Mascaty Himy. Panduan Jihad untuk Aktivitas Gerakan Islam. Jakarta:
Gema Insani Press, 2001. Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan
terjemahan, Jakarta, Danakarya. Mekar Surabaya, 2004.
Chirzin Muhammad. Jihad dalam al-Qur‟an; Telaah Normatif, Historis, dan
Prospektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Esposito John.L. Ensikopledi Oxford Dunia Islam Modern jilid 3. Mizan,
Bandung, 2002.
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada
Jakarta, 2006.
Hill Winfred f. Teori-Teori Pembelajaran. Bandung, Nusa Media, 2009.
Hamalik Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008.
Hadi Sutrisno. Metodologi Research jilid 1. Yogyakarta : Andi Offset, 2000.
Hadi Sutrisno. Metodelogi Research Jlid 2. Andi Ofset, Yogyakarta, 2001.
Musthafa al-Maraghi Ahmad. Tafsir Al- Maraghi. Semarang, Toha Putra, 1984.
Mazhahiri Husain. Menelusuri Makna Jihad. Dari Sudut Pandang Akhlak Sampai
Kajian Sufistik. Jakarta: Lentera, 2000.
Marijan Kacung. “Terorisme
dan
Pesantren;
Suatu
Pengantar”,
dalam
Muhammad Asfar (Ed.), Islam Lunak, Islam Radikal; Pesantren, Terorisme
dan Bom Bali, Surabaya: Pusdeham dan JP Press, 2003.
155
Mastuki, dkk. Menelusuri Pertumbuhan Madrasah di Indonesia, Jakarta, Dirjen
Bagais Depag RI, 2000.
Mansur Sutan. Jihad. Panji Masyarakat, Jakarta,1982.
Nurmaliyah, Perencanaan Pembelajaran, Malang, UIN-Maliki Press, 2010.
Nasution, Didaktik Azas-Azas Mengajar I, Bandung, Jemmars, 1984.
Rahardjo M. Dawam. Ensiklopedi Al-Qu‟an, Tafsir Sosial Berdasarkan KonsepKonsep Kunci, Jakarta: Paramadina, 1996.
Rohimin, Jihad makna dan hikmah, Jakarta, Erlangga, 2006.
Saleh Abdurahman. Penyelenggaraan Madrasah. Jakarta,Darma Bakti,1984.
Samudra Imam. Aku melawan Teroris. Solo, Jazera, 2004.
Salenda Kasjim, Terorisme dan Jihad. Dalam Persepektif Hukum Islam. PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2009.
Samir Al-Munir Mahmud. Guru Teladan di Bawah Bimbingan Allah. Jakarta:
Gema Insani Press, 2004.
Shihab M.Quraish. Wawasan Al-Qur‟an : Tafsir Maudhu‟i atas Berbagai
Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1996.
Sukmadinata Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rosda
Karya, 2003.
Suryabrata Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1998.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung, Alfabeta,
2010.
Tim Penyusun Kamus Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
156
Balai Pustaka, 1994.
Uno Hamzah B. Profesi Kependidikan. Jakarta, PT Bumi Aksara, 2007.
Webster Merriam. Webster‟s Third New International Dictionary and Seven
Language Dictionary Encyclopedia Britannica. America, Volume II H to R,
1961.
Yamin Martinis. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta, GP Press, 2008.
Zakaria Abu. Riadhus Shalihin terjemahan. Bandung, PT Al-Ma‟arif, 1976.
157
LAMPIRAN-LAMPIRAN
158
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama
: ALI IMRON, S.Pd.I
NIM
: M1.12.002
Tempat/Tanggal Lahir: Demak, 22 Februari 1986
Alamat
: Jl. Mragohayu Mbalong, Kec. Karangawen, Kab. Demak.
Pendidikan
:
1. SD Margohayu 1
(2000)
2. MTs Taqwiyatul Wathon
(2003)
3. MA Taqwiyatul Wathon
(2006)
4. SI PAI STAIN SALATIGA
(2010)
5. S2 PPs STAIN SALATIGA.
Masuk (2012)
Salatiga, 10 Oktober 2014
Penulis,
Ali Imron
NIM.M1.12.002
159
PEDOMAN WAWANCARA BEBAS
KEPADA GURU TENTANG KONSEP JIHAD DAN
IMPLEMENTASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN DI MADRASAH
TAHUN 2014
I. Petunjuk Umum
Tujuan penelitian ini adalah semata-mata untuk meningkatkan kualitas
pendiidkan di Indonesia pada umumnya. Sedangkan titik beratnya di
khususkan padamateri konsep Jihad di Madrasah.
Dalam mengisi wawancara tes ini anda tidak perlu ragu-ragu, karena
hasilnya tidak mempengaruhi apapun pada diri anda. Jawablah dengan jujur
sesuai dengan hati nurani anda. Jawablah dengan perasaan bebas, jangan
menjawab apa yang sebaiknya namun jawablah sesuai apa adanya. Tidak
ada jawaban yang salah, jawaban anda semua benar apa adanya. Kami akan
menjamin kerahasiaannya.
A. IDENTITAS NARASUMBER
Nama
: …………………………………………
Tempat / Tanggal Lahir
: …………………………………………
Jenis Kelamin
: …………………………………………
Umur
: ..……………………………………….
Nama Instasi
: …………………………………………
Alamat Rumah
:....................................................................
No Telp/HP
:....................................................................
160
II. Jawablah pertanyaan dibawah ini sesuai dengan kenyataan dan keadaan
yang ada.
1. Apa yang anda ketahui tentang Jihad ?
2. Bagaimana cara anda menjelaskan materi konsep Jihad kepada siswa ?
3. Seberapa mendalam materi Jihad di Madrasah ?
4. Bagaimana cara anda menerapkan konsep Jihad di Madrasah pada para
siswa ?
5. Bagaimana cara anda mengimplementasikan konsep Jihad dalam
kehidupan sehari-hari ?
161
PEDOMAN WAWANCARA BEBAS
KEPADA SISWA TENTANG KONSEP JIHAD DAN
IMPLEMENTASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN DI MADRASAH
TAHUN 2014
I. Petunjuk Umum
Tujuan penelitian ini adalah semata-mata untuk meningkatkan kualitas
pendiidkan di Indonesia pada umumnya. Sedangkan titik beratnya di
khususkan tentang pemahaman para siswa terhadap konsep Jihad yang
benar dan sesuai dengan nilai-nilai pendidikan di Indonesia.
Dalam mengisi wawancara tes ini anda tidak perlu ragu-ragu, karena
hasilnya tidak mempengaruhi apapun pada diri anda. Jawablah dengan jujur
sesuai dengan hati nurani anda. Jawablah dengan perasaan bebas, jangan
menjawab apa yang sebaiknya namun jawablah sesuai apa adanya. Tidak
ada jawaban yang salah, jawaban anda semua benar apa adanya. Kami akan
menjamin kerahasiaannya. Jawablah semua pertanyaan yang tersedia pada
lembar jawaban yang sudah disiapkan.
B. IDENTITAS NARASUMBER
Nama
: …………………………………………
Tempat / Tanggal Lahir
: …………………………………………
Jenis Kelamin
: …………………………………………
Umur
: ..……………………………………….
Nama Madrasah
: …………………………………………
162
Alamat Rumah
:....................................................................
II. Jawablah pertanyaan dibawah ini sesuai dengan kenyataan dan keadaan
yang ada.
Hari/Tgl Wawancara :
Tempat wawancara
:
1. Pernahkah anda mendengar tentang Jihad ?
2. Apa yang anda ketahui tentang konsep Jihad ?
3. Pernahkah guru anda menyampaikan materi tentang Jihad di kelas ?
4. Bagaimana penyampaian guru anda tentang materi Jihad ?
5. Bagaimana cara anda mengimplementasikan konsep Jihad di Madrasah
maupun di rumah ?
163
Struktur Organisasi MTs Nurul Hidayah Margohayu kecamatan
Karangawen kabupaten Demak
Depdikbub
Departemen
Agama
Yayasan
Nurul Hidayah
Kepala Madrasah
Tsnawiyah
Masduki, S.Ag,
M.Pd.I
Wk. Kurikulum
Wk. Sarana
Prasarana
Wali Kelas
Lembaga Pendidikan
Islam
Tata Usaha
Muqorrobin,S.Pd.I
Wk Kesiswaan
Wali Kelas
Dewan
Guru
Siswa
Wk. Humas
Wali Kelas
164
Bagan Organisasi MTs Al-Khoiriyah Kecamatan Karangawen
Kabupaten Demak
Tahun Pelajaran 2014
Ketua yayasan
KOMITE MADRASAH
Ur. KURIKULUM
Sie
Olah Raga
Dan UKS
TATA USAHA
Ur
KESISWAAN
Sie
Kesenian
DanMading
Ur
SARPRAS
Sie
Drum Band
Dan PKS
Sie
Pramuka Pi
Dan PMR
Ur
HUMAS
Sie
Keagamaan
Wali Kelas
Dewan Guru
Peserta Didik MTs Al-Khoiriyah Wonosekar
Keterangan =
= Garis Intruksional
= Garis Koordinasi
Sie
Pramuka Pa
165
FOTO-FOTO WAWANCARA PADA MTs NURUL HIDAYAH DAN MTs
AL-KHOIRIYAH
2014
Wawancara dengan bapak Slamet,S.Ag
166
Wawancara dengan bapak Solikin, S.Pd.I
Wawancara dengan ibu Alwahidah, S.Pd.I
Wawancara dengan siswa
167
Wawancara dengan guru di MTs Nurul Hidayah
168
169
170
Ayat-ayat dasar Jihad
 
 
    
    
   
   
 
 
 
    
 
   
 
    
   
       
 
   
 
  
 
  
Q.S.Al-Maidah/5:53
  

 
 
  
  
   
     
         
     
   
   
   
 
 
 
    
 
   
        
Q.S.Al-An‟am/6:109

 
    
 
 
  
    
 
   
  
    
 
 
  
   
 
 
 
    
 
   
     
Q.S.An-Nahl/16:38
 
 
   
 
 
  
   
 
  
   
      
   
   
   
 
 
 
    
 
    
       
Q.S. An-Nukr/24:53

 
  
  
 
 
  
  
    
  
 
   
   
  
   
 
 
 
    
 
   
         
Q.S.Al-Fathir/35:42
QS.At-Taubah 9:79
        
    
 
 
 
    
   
   
 
 
    
  
 
   
 
 
 
 
 
  
 
  
