perbandingan hasil belajar kimia siswa antara yang menggunakan

Transcription

perbandingan hasil belajar kimia siswa antara yang menggunakan
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA ANTARA
YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE NHT DAN TPS
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
MUZALIFAH
106016200622
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
LEMBAR PENGESAHAN
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA ANTARA
YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE NHT DAN TPS
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
Muzalifah
NIM: 106016200622
Mengesahkan,
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd
Tonih Feronika, M.Pd
NIP. 19681228 200003 1 004
NIP. 19760107 200501 1 007
PROGRAN STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul: “Perbandingan Hasil Belajar Kimia Siswa antara yang
Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan TPS”. Oleh
Muzalifah, NIM 106016200622. Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah
dinyatakan LULUS dalam ujian Munaqosah pada tanggal 7 Juni 2011 di hadapan
Dewan Penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
(S.Pd) dalam bidang Pendidikan Kimia.
Jakarta, 7 Juni 2011
Panitia Ujian Munaqosah
Tanggal
Tanda Tangan
Ketua Jurusan Pendidikan IPA
Baiq Hana Susanti, M.Sc
NIP. 19700209 200003 2 001
Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA
Nengsih Juanengsih, M.Pd
NIP. 19760309 200501 2 002
Penguji I
Dedi Irwandi, M.Si
NIP. 19710528 200003 1 002
Penguji II
Burhanudin Milama, M.Pd
NIP. 19770201 200801 1 001
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA
NIP. 19571005 198703 1 003
SURAT KETERANGAN KARYA SENDIRI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama
: Muzalifah
Tempat/Tgl.Lahir
: Jakarta/23 Desember 1989
Jurusan / Prodi
: Pendidikan IPA / Pendidikan Kimia
Judul Skripsi
: Perbandingan Hasil Belajar Kimia Siswa antara yang
Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
NHT dan TPS
Dosen Pembimbing : 1. Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd
2. Tonih Feronika, M.Pd
dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya
sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Jakarta,
Juni 2011
Mahasiswa Ybs,
Muzalifah
NIM. 106016200622
ABSTRAK
Muzalifah, “Perbandingan Hasil Balajar Kimia Siswa Antara yang
Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan TPS” Skripsi,
Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar kimia siswa
antara yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
NHT dan TPS. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan
tahun ajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi
eksperimen dan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling.
Sampel penelitian berjumlah 34 siswa kelas XI IPA 6 sebagai kelas eksperimen
pertama dan 34 siswa kelas XI IPA 7 sebagai kelas eksperimen kedua. Instrumen
penelitian yang digunakan adalah instrumen hasil belajar dan hasilnya diuji
dengan menggunakan uji “t”. Dari hasil perhitungan uji t diperoleh nilai thitung
sebesar 5,72 sedangkan nilai ttabel pada taraf signifikansi α = 0,05 sebesar 1,99
atau thitung > ttabel. Ini berarti Ho ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa Ha yang
menyatakan terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang diberikan
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS diterima. Hal ini menunjukkan bahwa
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil
belajar kimia siswa dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS.
Kata kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT, Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe TPS, Hasil Belajar Kimia.
i
ABSTRACS
Muzalifah, Comparative the Result of Students Chemistry Between Using
Cooperative Learning Models Type NHT and TPS. Skripsi, Chemistry Eduvation
Program, Natural Science Department, Faculty of Tarbiyah Teaching Syarif
Hidayatullah Jakarta Islamic State University.
This research aims to know comparison the result of students chemistry
between using cooperative learning model type NHT and TPS. The research has
conducted in SMAN 3 Kota Tangerang Selatan, academic year 2010/2011. The
research method used is a quasi experimental and sampling using a purposive
sampling technique. Study sample amounted to 34 students a class XI IPA 6 as the
first experimental class and 34 students a class XI IPA 7 as second experimental
class. The instrument of research is instrument of learning achievement test, and
result tested using t-test. The research shows the result from the calculation of “t”
test (α = 0,05), obtained that score (5,74) > ttable (1,99). It’s means Ho refused.
Finally, It can be concluded that Ha have a difference between the results of
students chemistry is taught with cooperative learning type NHT and TPS
acceptable. This suggests that the use of cooperative learning model type NHT
can improve student learning outcomes in comparison with the chemical using a
model of cooperative learning type TPS.
Keyword: Cooperative Learning Model Type NHT, Cooperative Learning Model
Type TPS, The Result of Student Chemistry
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan karya ilmiah berupa skripsi
dengan judul “Perbandingan Hasil balajar Kimia Siswa Antara yang
Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan TPS”. Skripsi
ini ditujukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana Strata I (S1)
pada Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dengan segala daya dan upaya, penulis berusaha menyelesaikan penulisan
skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Namun, penulis tidak menutup diri untuk
menerima kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan penulisan
skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini mungkin tidak terlaksana
tanpa adanya bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada bapak/ibu:
1.
Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2.
Baiq Hana Susanti, M.Sc. selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.
Nengsih Juanengsih, M.Pd. selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4.
Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd, selaku pembimbing I yang telah memberikan
waktu, tenaga, dan pikirannya dalam mengarahkan dan membimbing penulis
dalam penyusunan skripsi ini.
5.
Tonih Feronika, M.Pd, selaku pembimbing II yang telah memberikan waktu,
tenaga, dan pikirannya dalam mengarahkan dan membimbing penulis dalam
penyusunan skripsi ini
6.
Drs. H. Sujana, M.Pd. selaku Kepala SMAN 3 Kota Tangerang Selatan.
7.
Dewi Marhelly, S.Pd, selaku guru kimia SMAN 3 Kota Tangerang Selatan.
iii
8.
Papa (Alm), Mama, kakak-kakakku Nur Hidayatullah dan Annisa Solehatun
Fajariah, Faturrahman dan Dara Apridani Syaraswati, dan seluruh keluarga,
yang telah melimpahkan kasih sayang, do’a dan dukungan kepada penulis.
9.
Abdul Haris, atas limpahan kasih sayang, do’a, dukungan dan kebersamaan
kita.
10. Eviana Ayu Nugroho, Siti Mutoharoh, Nur Cholifah, Noor Novianawati,
Dede Fitroh, Riska Haryati, Isyfiyyati, Elmaya Oktaviani, dan Siti Maimunah
atas do’a, motivasi, semangat dan dukungannya.
11. Teman-teman Program Studi Kimia angkatan 2006, atas segala kekompakan
dan semangatnya selama menjalani masa perkuliahan.
12. Siswa-siswi kelas XI IPA 6 dan XI IPA 7 SMAN 3 Kota Tangerang Selatan,
atas kerjasama dalam pelaksanaan penelitian.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang ikut terlibat
selama penulis skripsi ini.
Besar harapan penulis agar penulisan laporan ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca umumnya dan untuk penulis khususnya.
Pamulang, Juni 2011
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK .......................................................................................................
i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ........................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ..................................................................... 7
C. Pembatasan Masalah .................................................................... 7
D. Perumusan Masalah ..................................................................... 8
E. Tujuan Penelitian ......................................................................... 8
F. Manfaat Penelitian ....................................................................... 8
BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis ......................................................................... 10
1.
Pembelajaran Kooperatif ...................................................... 10
2.
Pengertian NHT (Numbered Head Together) ...................... 24
3.
Pengertian TPS (Think-Pair-Share) ..................................... 25
4.
Hasil Belajar ......................................................................... 28
B. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................... 33
C. Kerangka Berpikir ....................................................................... 36
D. Pengajuan Hipotesis ..................................................................... 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 40
B. Metode Penelitian ........................................................................ 40
v
C. Populasi dan Sampel .................................................................... 41
D. Variabel Penelitian ....................................................................... 42
E. Instrumen Penelitian .................................................................... 42
F. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 46
G. Teknis Analisis Data .................................................................... 47
1.
Uji Normalitas ...................................................................... 47
2.
Uji Homogenitas ................................................................... 48
3.
Uji Hipotesis ......................................................................... 49
H. Hipotesis Statistik ........................................................................ 50
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi dan Analisis Data ......................................................... 51
1.
Deskripsi Data ...................................................................... 51
2.
Analisis Data ......................................................................... 52
B. Pembahasan ................................................................................. 55
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .................................................................................. 60
B. Saran ............................................................................................ 60
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 63
LAMPIRAN
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatifdengan Kelompok
Belajar Tradisional ........................................................................... 11
Tabel 2.2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif ..................................... 19
Tabel 2.3. Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head
Together dan Think-Pair-Share ........................................................ 27
Tabel 2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar ..................................... 31
Tabel 3.1. Rancangan Penelitian ....................................................................... 40
Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen ........................................................................... 42
Tabel 4.1 Perhitungan Statistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen Pertama ...... 52
Tabel 4.2. Perhitungan Statistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen Kedua ........ 52
Tabel 4.3. Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen Pertama
dan Kelas Eksperimen Kedua............................................................ 53
Tabel 4.4. Hasil Uji Homogenitas Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen
Pertama dan Kelas Eksperimen Kedua ............................................. 54
Tabel 4.5. Hasil Uji Hipotesis Data hasil Belajar Kelas Eksperimen Pertama
dan Kelas Eksperimen Kedua ........................................................... 55
Tabel 4.6. Hasil Perhitungan Pengujian Hipotesis ............................................ 56
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Berpikir .......................................................... 34
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen Pertama
dan Eksperimen Kedua .............................................................. 66
Lampiran 2
Lembar Kerja Siswa Kelas Eksperimen Pertama dan
Eksperimen Kedua ..................................................................... 90
Lampiran 3
Kisi-kisi Instrumen .................................................................... 111
Lampiran 4
Hasil Uji Validitas, Uji Reliabilitas, Uji Tingkat Kesukaran,
Dan Uji Daya Pembeda ............................................................. 126
Lampiran 5
Nilai Ulangan ............................................................................ 130
Lampiran 6
Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen Pertama
Dan Eksperimen Kedua ............................................................. 131
Lampiran 7
Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen Pertama
dan Eksperimen Kedua .............................................................. 135
Lampiran 8
Perhitungan Uji Homogenitas ................................................... 137
Lampiran 9
Perhitungan Uji Hipotesis ......................................................... 138
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peranan penting dalam pengembangan sumber
daya manusia. Visi dan misi bangsa Indonesia tentang pendidikan ditetapkan
secara sungguh-sungguh dan terlihat jelas dalam alinea keempat Pembukaan
Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang antara lain menyebutkan
“untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia”.
Pernyataan tersebut selanjutnya dijabarkan oleh pemerintah dalam
Undang-Undang pasal 3 nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Sisdiknas) yang berbunyi:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berintikan interaksi antara
peserta didik dengan para pendidik serta berbagai sumber pendidikan.2
Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan Bangsa dan
Negara. Oleh karena itu, dunia pendidikan dituntut untuk terus berkembang
dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar tercipta
generasi bangsa yang kompetitif dalam menghadapi dan memecahkan suatu
masalah.
1
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, Pasal 3 tentang Dasar Fungsi
dan Tujuan, h. 3. www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf.
2
Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 2008), h. 24.
1
2
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesuksesan suatu
penyelengaraan pendidikan yaitu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.3 Kegiatan pembelajaran pada
dasarnya dilakukan adalah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus mampu mewujudkan
perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Telah banyak dilakukan upaya agar proses pembelajaran di sekolahsekolah
semakin
membaik.
Namun,
dalam
pelaksanaannya
proses
pembelajaran belum berjalan efektif, sehingga siswa belum mampu
mengoptimalkan potensi diri mereka sesuai dengan kemampuannya masingmasing. Idealnya siswa dituntut untuk ikut terlibat langsung dalam proses
pembelajaran dan mampu menemukan sendiri konsep dari suatu pelajaran.
Namun, dalam prosesnya siswa belum banyak dilibatkan oleh guru dalam
pelaksanaan
proses
pembelajaran,
sehingga
mereka
belum
mampu
mendapatkan hasil belajar yang memuaskan.
Jenjang pendidikan di Indonesia terdiri dari Sekolah Dasar (SD),
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada
jenjang pendidikan SMA terdapat mata pelajaran kimia.
Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan
berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa,
mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam, khususnya yang berkaitan
dengan struktur dan sifat, dinamika dan energetika zat yang melibatkan
keterampilan dan penalaran.4
Ilmu kimia termasuk pelajaran yang di anggap sulit, karena materimateri yang dipelajari bersifat abstrak dan terdapat perhitungan. Hal ini juga
dapat di lihat dari hasil belajar siswa yang rendah, contohnya pada materi laju
reaksi. Pada materi laju reaksi salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai
yaitu mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan
3
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 57.
Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia SMA dan MA, Departemen Pendidikan
Nasional, Jakarta, 2003, h. 7.
4
3
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Untuk mencapai
kompetensi dasar tersebut, siswa dituntut berpikir secara sistematis dan aktif
dalam proses pembelajaran khususnya dalam melakukan percobaan. Jika
dalam pembelajaran kimia hanya berpusat pada guru dan siswa hanya sekedar
mendengarkan, mencatat dan menghafal maka hasil belajar kimia siswa tidak
akan tercapai secara optimal.
Sejalan dengan adanya reformasi pendidikan, serta ditambah dengan
diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006,
maka model pembelajaran yang berpusat pada guru dan mengabaikan aktivitas
serta kretivitas siswa mulai dan harus ditinggalkan. Karena selain akan
menciptakan suasana kelas yang monoton juga akan mengurangi kualitas
lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif.
Oleh karena itu, siswa diharapkan tidak menerima informasi dan pengetahuan
dari guru secara pasif melainkan mengaktifkan kemampuan mereka atau
menginstruksi kemampuan kognitif baru yang relevan untuk mencapai
informasi tersebut. Selain itu, proses pembelajaran akan berlangsung dengan
baik, apabila seorang guru memiliki dua kompetensi utama, yaitu kompetensi
penguasaan materi pembelajaran dan kompetensi metodologi pembelajaran.5
Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru hanya bertugas
membantu siswa mencapai tujuan belajar. Artinya, guru lebih banyak
berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola
kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Pada masa sekarang siswa harus ikut dilibatkan dalam proses
pembelajaran agar mereka dapat mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki,
dapat menemukan sendiri konsep suatu pelajaran, dan mereka terbentuk
menjadi lulusan yang berkualitas yang aktif dan memiliki keunggulan
kompetitif serta komparatif. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu
dengan menerapkan kegiatan belajar kelompok. Namun, dalam prosesnya
kegiatan
5
belajar
kelompok
yang
dilakukan
hanya
sekedar
untuk
Zulfiani, dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta), h. 91
4
menyelesaikan tugas saja sedangkan aktivitas, kerja sama dan tanggung jawab
setiap anggotanya tidak secara optimal tercapai. Oleh karena itu, dibutuhkan
usaha untuk meningkatkan pemahaman konsep kimia siswa dengan
menambah variasi model pembelajaran berkelompok yang menarik atau
menyenangkan, melibatkan siswa, meningkatkan aktivitas, kerja sama dan
tanggung jawab siswa.
Metode pembelajaran di kelas yang dapat menciptakan kondisi
tersebut adalah dengan membuat kelompok-kelompok kecil yang diharapkan
berdiskusi, bertanya dan bekerja sama dengan siswa lainnya mengenai suatu
pelajaran serta dapat mempresentasikannya. Dengan bekerja kelompok dan
saling mendukung antar anggota kelompok akan membuat semangat siswa
bangkit serta membuat siswa lebih aktif dalam belajar.
Dari gambaran tersebut, model pembelajaran yang sesuai dalam proses
pembelajaran adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif
bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tetapi sebelum masa
belakangan ini, metode ini hanya digunakan oleh beberapa guru untuk tujuantujuan tertentu, seperti tugas-tugas atau laporan kelompok tertentu. Namun
demikian,
penelitian
selama
dua
puluh
tahun
terakhir
ini
telah
mengidentifikasi metode pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan
secara efektif pada setiap tingkatan kelas dan untuk mengajarkan berbagai
macam mata pelajaran.6 Pada pembelajaran kooperatif siswa percaya bahwa
keberhasilan mereka akan tercapai jika setiap anggota kelompoknya berhasil.
Ada berbagai jenis model pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah model
pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT (Numbered
Head Together).
Pada tahun 1985, Frank Lyman mengembangkan sebuah tipe dari
pembelajaran kooperatif yaitu Think Pair Share (TPS). TPS merupakan
sebuah tipe pembelajaran kooperatif yang dapat memberi siswa lebih banyak
waktu berpikir untuk merespon dan untuk saling membantu. Siswa dituntut
6
Robert A. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa
Media, 2010), h. 4
5
untuk memikirkan suatu permasalahan yang diberikan oleh guru secara
individu,
kemudian
masing-masing
saling
siswa
berpasangan
dan
mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh dari hasil pemikiran mereka
tersebut. Pasangan-pasangan tersebut kemudian berbagi hasil diskusi yang
diperoleh dari satu pasangan ke pasangan lainnya sehingga seluruh kelas
mengatahui hasilnya.
Melalui tipe pembelajaran TPS, guru dapat melibatkan siswa secara
aktif dalam proses belajar dan mampu meningkatkan interaksi antara siswa
dengan guru sehingga siswa mudah memahami pelajaran yang diterima dan
berada dalam kegiatan yang tidak membosankan karena langsung aktif
mengamati setiap proses yang terjadi.
Pada tahun 1993, Spencer Kagan mengembangkan tipe pembelajaran
kooperatif lainnya yaitu Numbered Head Together (NHT). NHT merupakan
tipe pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan performance siswa,
kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab siswa. Dalam tahapannya, dibentuk
kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang terdiri dari 4-5 siswa yang
heterogen, baik prestasi akademik, jenis kelamin, ras ataupun etnis. Tiap siswa
dalam kelompok diberi nomor, kemudian mereka diberi kesempatan untuk
mendiskusikan sebuah permasalahan. Masing-masing anggota kelompok harus
dipastikan mengetahui jawaban dari permasalahan tersebut, lalu guru
memanggil salah satu nomor anggota dan anggota tersebutlah yang akan
menjelaskan jawaban yang didapat ke seluruh kelas tanpa dibantu oleh
anggota kelompok lainnya.
Tipe pembelajaran NHT memberi dampak yang sangat kuat bagi
peningkatan prestasi belajar siswa, karena dalam proses pembelajaran yang
menggunakan NHT siswa menempati posisi sangat dominan dan terjadi
kerjasama antar siswa dalam kelompok. Selain itu, NHT dapat membantu
siswa untuk lebih kreatif dan bertanggungjawab terhadap diri mereka masingmasing.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan masalah,
6
menentukan strategi pemecahannya, dan menghubungkan masalah-masalah
lain yang telah dapat diselesaikan sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh Betty Marini Turnip pada tahun 2007, bahwa
terdapat peningkatan hasil belajar siswa sebesar 27,23% setelah perlakuan
model pembelajaran kooperatif tipe TPS.7 Sama halnya dengan penelitian
yang dilakukan oleh Djoko Dwi Kusumojanto pada tahun 2009, bahwa
terdapat peningkatan hasil belajar dari 70,72% menjadi 90,90% ketuntasan
belajar.8 Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS dapat meningkatkan hasil belajar
yang
lebih
baik
dibandingkan
dengan
yang menggunakan
metode
konvensional. Akan tetapi, belum ada penelitian yang membandingkan antara
kedua pembelajaran kooperatif tersebut.
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS memiliki
perbedaan. Pada pembelajaran kooperatif tipe TPS siswa terlebih dahulu
diberi kesempatan untuk berpikir secara individu, kemudian para siswa
berdiskusi saling berbagi pengetahuan dan pemahaman yang mereka dapatkan
saat berpikir secara individu ke seluruh kelas. Sedangkan, pada pembelajaran
kooperatif tipe NHT siswa terlebih dahulu diberi kesempatan untuk berdiskusi
dengan kelompok yang telah ditentukan oleh guru, kemudian diakhir diskusi
dilakukan presentasi. Pada bagian presentasi, masing-masing anggota
kelompok dituntut untuk membagikan pengetahuan dan pemahaman yang
mereka dapatkan selama berdiskusi akan tetapi anggota lainnya tidak boleh
membantu anggota yang ditunjuk. Dari perbedaan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS dan NHT itulah yang mendorong penulis untuk
membandingkan keduanya terhadap hasil belajar kimia siswa. Manakah
diantara keduanya yang dapat meningkatkan hasil belajar yang lebih baik.
7
Betty Marini Turnip, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatuf Think-Pair-Share
Pada Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP, (Jurnal Pendidikan Mat
& Sains, vol. 2(2), 2007), h. 92.
8
Djoko Dwi Kusumojanto, Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Pembelajaran
Numbered Head Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat
Manajemen Perkantoran Kelas X APK di SMK Ardjuna 01 Malang, (Jurnal Penelitian Pendidikan,
tahun 19, nomor 1, April 2009), h. 106.
7
Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif tipe NHT akan diterapkan
dalam pengajaran di kelas eksperimen pertama, sedangkan tipe TPS akan
diterapkan dalam pengajaran kelas kedua. Berdasarkan uraian yang telah
diungkapkan di atas, penulis mencoba melakukan pengkajian ilmiah yang
berdasarkan penelitian dengan judul: “Perbandingan Hasil Belajar Kimia
Siswa antara yang Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
dan TPS.”
B. Identifikasi Masalah
Dengan melihat masalah yang telah diuraikan di atas dapat
diidentifikasi masalah-masalah seabagi berikut:
1. Proses pembelajaran yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah belum
berjalan efektif.
2. Ilmu kimia termasuk mata pelajaran yang di anggap sulit, hal ini di lihat
dari hasil belajar kimia siswa yang rendah, contohnya pada pokok bahasan
laju reaksi.
3. Pembelajaran di dalam kelas masih berpusat pada guru.
4. Penggunaan kegiatan kerja kelompok dalam proses pembelajaran belum
optimal.
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian lebih terarah maka penulis membatasi masalah sebagai
berikut:
1. Penelitian dilakukan pada siswa kelas XI SMAN 3 Kota Tangerang
Selatan.
2. Materi pelajaran yang di teliti pada penelitian ini adalah pokok bahasan
laju reaksi.
3. Pengaruhnya dilihat dari perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang
diajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan
model pembelajaran kooperatif tipe TPS.
8
4. Adapun hasil belajar yang dimaksud adalah hasil belajar kimia siswa
setelah proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaraan
kooperatif tipe NHT pada kelas eksperimen pertama dan model
pembelajaran kooperatif tipe TPS pada kelas eksperimen kedua dilihat dari
aspek kognitifnya.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah diajukan, maka adapun
masalah yang akan diteliti pada penelitian ini adalah:
”Bagaimana perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan yang menggunakan tipe
TPS?”
E. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kimia pokok bahasan laju reaksi
antara siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT dan tipe TPS pada siswa kelas XI semester ganjil SMA Negeri 3
Tangerang Selatan.
2. Untuk mengetahui kedua model pembelajaran kooperatif tersebut yang
memberikan hasil belajar yang lebih baik untuk pokok bahasan laju reaksi.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan, antara lain:
1. Memberi informasi dan pertimbangan kepada guru mata pelajaran kimia
tentang alternatif model pembelajaran dalam upaya peningkatan hasil
belajar kimia siswa di SMA.
2. Menumbuhkan rasa semangat dan tanggungjawab kepada siswa dalam
proses pembelajaran.
9
3. Meningkatkan ketertarikan siswa terhadap mata pelajaran kimia dengan
menggunakan model pembelajaran yang lebih inovatif dan merangsang
siswa untuk lebih memahami konsep-konsep kimia.
BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis
1. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Kooperatif adalah sebuah kata yang memiliki arti bersifat kerja
sama, bersedia membantu. Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif
adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja
dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara
kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam
belajar.1
Anita Lie menyebutkan pembelajaran kooperatif dengan istilah
pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain
dalam
tugas-tugas
yang
terstruktur.
Lebih
jauh
dikatakan,
pembelajaran kooperatif hanya berjalan jika sudah terbentuk suatu
kelompok atau suatu tim yang didalamnya siswa bekerja secara terarah
untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota
kelompok pada yang umumnya terdiri dari 4-6 orang saja.2
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pengajaran yang
baik di dalam kelompok kecil dengan siswa yang memiliki tingkat
keahlian berbeda, menggunakan ragam aktivitas untuk meningkatkan
pemahaman mereka pada sebuah subyek (mata pelajaran).
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dimana siswa
1
Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Kelompok,
(Bandung: Alfabeta, 2007), h. 15.
2
Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Kelompok,
(Bandung: Alfabeta, 2007), h. 16.
.
10
11
belajar dalam kelompok kecil dengan kemampuan yang berbeda dan
berasal dari ras, suku, serta jenis kelamin yang berbeda pula. Di dalam
kelompok kecil tersebut siswa saling belajar dan bekerjasama untuk
sampai pada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman
individu maupun pengalaman kelompok. Di dalam kelompok tersebut
siswa dapat berdiskusi dan saling membantu untuk memahami suatu
bahan pembelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman,
serta kegiatan lainnya dengan tujuan mencapai prestasi belajar tinggi.
Aktivitas kerja dan belajar dalam kelompok kooperatif berbeda dengan
kelompok belajar konvensional. Kelompok belajar konvensional
adalah kelompok belajar yang sering diterapkan disekolah, seperti
kelompok diskusi. Perbedaan tersebut dapat di lihat pada table 2.1.
berikut:3
Tabel 2.1. Perbedaan kelompok Belajar Kooperatif dengan
Kelompok Belajar Konvensional
Kelompok Belajar Kooperatif
Kelompok Belajar Konvensional
Adanya saling ketergantungan positif, saling Guru sering membiarkan adanya
membantu, dan saling memberikan motivasi siswa yang mendominasi kelompok
sehingga ada interaksi promotif.
atau menggantungkan diri pada
kelompok.
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur Akuntabilitas
individual
sering
penguasaan materi pelajaran tiap anggota diabaikan sehingga tugas-tugas sering
kelompok, dan kelompok diberi umpan balik diborong oleh salah seorang anggota
tentang hasil belajar para anggotanya sehingga kelompok,
lainnya
hanya
dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan “mendompleng”
keberhasilan
bantuan dan siapa yang dapat memberikan “pemborong”.
bantuan.
Kelompok belajar heterogen, baik dalam Kelompok belajar biasanya homogen.
kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik,
dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui
siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang
memberikan bantuan.
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis Pemimpin kelompok ditentukan oleh
atau bergilir untuk memberikan pengalaman guru atau kelompok dibiarkan untuk
memimpin bagi para anggota kelompok.
memilih pemimpinnya dengan cara
masing-masing.
3
h. 58.
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010),
12
Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja
gotong
royong
seperti
kepemimpinan,
kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang
lain, dan mengelola konflik secara langsung
diajarkan.
Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung
guru terus melakukan pemantauan melalui
observasi dan melakukan intervensi jika terjadi
masalah dalam kerja sama antar-anggota
kelompok.
Guru memerhatikan secara proses kelompok yang
terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
Keterampilan sosial sering tidak
secara langsung diajarkan.
Pemantauan melalaui observasi dan
intervensi sering tidak dilakukan oleh
guru pada saat belajar kelompok
sedang berlangsung.
Guru sering tidak memerhatikan
proses kelompok yang terjadi dalam
kelompok-kelompok belajar.
Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas Penekanan sering hanya pada
terapi juga hubungan interpersonal (hubungan penyelesaian tugas.
antar pribadi yang saling menghargai)
Belajar secara kooperatif dalam kelompok kecil membantu
siswa dan anggota dalam tim untuk menyelesaikan tugas secara
bersama-sama. Secara umum pembelajaran kooperatif terdiri dari lima
karakteristik, yaitu:4
1) Siswa belajar bersama pada tugas-tugas umum atau aktivitas untuk
menyelesaikan tugas atau aktivitas pembelajaran.
2) Siswa saling bergantung secara positif. Aktivitas diatur sehingga
siswa membutuhkan siswa lain untuk mencapai hasil bersama.
3) Siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2
sampai 5 siswa.
4) Siswa menggunakan perilaku kooperatif, pro-sosial.
5) Setiap siswa secara mandiri bertanggungjawab untuk pekerjaan
pembelajaran mereka.
Pembelajaran kooperatif menekankan pada struktur-struktur
yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dan
memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan materi.
4
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), h. 131.
13
Ada unsur yang perlu dipenuhi dalam pembelajaran kooperatif
agar lebih menjamin siswa bekerja secara kooperatif. Unsur-unsur
tersebut adalah sebagai berikut:5
1) Siswa dalam kelompok harus beranggapan bahwa mereka “sehidup
sepenanggungan bersama”.
2) Siswa
bertanggung jawab
atas
segala
sesuatu
di
dalam
kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam
kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama
diantara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan
yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6) Siswa
berbagi
kepemimpinan
dan
mereka
membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
7) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa ciri, sebagai
berikut:6
1) Setiap anggota memiliki peran,
2) Terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa,
3) Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan
juga teman-teman sekelompoknya,
4) Guru
membantu
mengembangkan
keterampilan-keterampilan
interpersonal kelompok,
5) Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Pembelajaran kooperatif sebagai pembelajaran kelompok akan
membantu meningkatkan sikap positif terhadap materi laju reaksi.
Esensi pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab individu
5
Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: University Press, 2000), h.6.
Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Kelompok,
(Bandung: Alfabeta, 2007), h. 20.
6
14
sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa
terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja
kelompok berjalan optimal. Keadaan ini mendorong siswa dalam
kelompok belajar, bekerja dan bertanggung jawab dengan sungguhsungguh sampai selesainya tugas-tugas individu dan kelompok.7
Setiap model pembelajaran yang dikembangkan memiliki
tujuan pembelajaran untuk dicapai. Johnson & Johnson (1994)
menyatakan
bahwa
tujuan
pokok
belajar
kooperatif
adalah
memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatkan prestasi akademik
dan pemahaman baik secara individu maupun secara berkelompok.8
Kemudian, model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk
mencapai tiga tujuan pembelajaran yang penting, yaitu:9
1) Hasil belajar akademik
Dalam pembelajaran kooperatif selain banyak mencakup
beragam tujuan sosial, juga mampu memperbaiki prestasi siswa
atau tugas-tugas akademik lainnya.
2) Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan
lain
model
pembelajaran
kooperatif
adalah
penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan
ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.
3) Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting pembelajaran kooperatif lainnya adalah
mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan
berkolaborasi.
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran
yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar
mengajar yang berpusat pada siswa (student ariented), terutama untuk
7
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), h. 132.
8
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010)
h. 67.
9
Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: University Press, 2000), h. 7.
15
mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan
siswa yang tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, siswa yang
agresif dan tidak peduli pada yang lain. Model pembelajaran ini telah
terbukti dipergunakan dalam berbagai mata pelajaran dan usia.
Peningkatan belajar terjadi tidak bergantung pada usia siswa,
mata pelajaran atau aktivitas belajar. Tugas-tugas belajar yang
kompleks
seperti
pemecahan
masalah,
berpikir
kritis,
dan
pembelajaran konseptual meningkat secara nyata pada saat digunakan
strategi-strategi kooperatif. Siswa lebih memiliki kemungkinan
menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi selama dan setelah
diskusi dalam kelompok kooperatif. Beberapa ahli berpendapat bahwa
pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep yang sulit. Di samping itu pembelajaran kooperatif
dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun
kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas
akademik.
Pembelajaran kooperatif dikenal dengan Student Teams
Learning (STL) yang menekankan pada pencapaian ujian dan
kesuksesan kelompok dalam menyelesaikan tugas kelompok dan
dalam hal memahami suatu pelajaran. Dalam STL siswa tidak hanya
bekerja menyelesaikan sesuatu tetapi juga mempelajari sesuatu secara
kelompok.
Pembelajaran kooperatif yang dikembangkan dari STL
memiliki banyak bentuk, diantaranya: STAD (Student Teams
Achievement Division), TGT (Team Games Tournament), TAI (Team
Accelerated Instruction), CIRC (Cooperative Integrated Reading &
Composition), Jigsaw, TPS Think-Pair-Share), NHT (Numbered Head
Together).10
10
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009),
h. 134.
16
STAD (Student Teams Achievement Division) merupakan
metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam metode
ini, siswa di bagi dalam bentuk kelompok beranggotakan 4-5 orang
yang berbeda jenis kelamin, etnis dan kemampuan. Di dalam
kelompok siswa di beri kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan
elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi.
TGT
(Team
Games
Tournament)
merupakan
metode
pembelajaran dimana siswa dibagi ke dalam kelompok yang
beranggotakan 4-6 orang yang heterogen berdasarkan jenis kelamin,
agama, dan etnis, sehingga masing-masing anggota dapat di latih
kecakapan sosialnya. Kelompok tersebut kemudian melakukan suatu
turnamen yang dilaksanakan tiap pekan. Dalam turnamen tersebut
siswa berkompetisi dengan anggota kelompok lain agar dapat
menyumbangkan poin pada kelompok masing-masing.
TAI (Team Accelerated Instruction) merupakan metode
pembelajaran yang mengkombinasikan belajar kooperatif dengan
belajar individu. Tiap anggota kelompok akan di beri soal-soal
bertahap
yang
harus
mereka
kerjakan
sendiri-sendiri
dalam
kelompoknya. Setelah itu, hasil kerja mereka diperiksa oleh anggota
tim lain. Jika seorang siswa telah mampu mengerjakan soal dalam satu
tahap, maka ia diperbolehkan untuk mengerjakan soal selanjutnya
dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Namun jika ia belum
mampu menjawab suatu soal, maka ia harus mengerjakan kembali soal
yang tingkat kesulitannya sama sebelum ia melanjutkan ke soal yang
lebih sulit.
CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
merupakan metode pembelajaran yang sejenis dengan TAI, namun
hanya ditekankan pada pengajaran membaca, menulis dan tata bahasa.
Aktivitas CIRC terdiri dari siswa mengikuti urutan instruksi guru,
latihan tim, asesmen awal dan kuis.
17
Jigsaw adalah metode pembelajaran dimana siswa di bagi ke
dalam kelompok yang beranggotakan 4-6 orang dengan kondisi siswa
yang heterogen baik dari segi kemampuan maupun karakteristik
lainnya. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk
teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian
tertentu dari materi yang diberikan. Selanjutnya tiap anggota bergabung
dengan anggota masing-masing untuk mendiskusikan dan saling
mengajarkan satu sama lain.
TPS (Think-Pair-Share) atau berpikir berpasangan berbagi telah
dikembangkan oleh Frank Lyman di Universitas Maryland. TPS
merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola
diskusi kelas. Dalam TPS guru mengajukan suatu pertanyaan dan
meminta siswa untuk berpikir sendiri mencari jawaban. Selanjutnya
guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan jawaban.
Kemudian pasangan-pasangan tersebut saling berbagi keseluruh kelas.
NHT (Numbered Head Together) atau penomoran berpikir
bersama atau lebih dikenal dengan kepala bernomor yang telah
dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993). Dalam NHT siswa di bagi
ke dalam kelompok-kelompok kecil dan tiap anggota kelompok di beri
nomor. Siswa berdiskusi memecahkan sebuah masalah, kemudian guru
memanggil salah satu nomor dari tiap kelompok dan masing-masing
siswa dengan nomor tersebut menjawab tanpa bantuan dari anggota
kelompok lainnya.
Penghargaan kelompok (teams reward) diberikan kepada
kelompok yang telah mencapai kriteria yang telah ditentukan.
Penghargaan kelompok diharapkan sebagai penguatan yang dapat
memotivasi anggota kelompok untuk belajar dan bekerja sebaik
mungkin dalam memberikan konstribusi untuk kelompoknya agar
menjadi kelompok yang tebaik. Dengan demikian tiap kelompok
memiliki tujuan kelompok (group goal) yang merupakan sasaran yang
harus dicapai semua anggota.
18
Sebagai individu setiap siswa harus bertanggung jawab untuk
belajar, mengerjakan tugas dan memahami materi yang diberikan.
Tujuan dan kesuksesan kelompok ditentukan oleh kesungguhan semua
anggota kelompok dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai
individu dan saling meyakinkan bahwa setiap individu dalam kelompok
tersebut siap menghadapi tes perorangan.
Kesempatan
yang
sama
meraih
keberhasilan
(equal
opportunities for success). Dalam suatu kelompok belajar kooperatif
semua anggota mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih
keberhasilan dan mengkontribusikan nilai untuk pencapaian skor
kelompok.
b. Prinsip-prinsip Dasar Pembelajaran Kooperatif
Roger dan David Johnson (dalam Anita Lie, 2007) mengatakan
bahwa
tidak
semua
kerja
kelompok
bisa
dianggap
sebagai
pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal,
terdapat 5 prinsip-prinsip dasar pembelajaran kooperatif, yaitu:11
1) Saling Ketergantungan Positif
Anggota kelompok siswa harus mengatakan bahwa mereka
memerlukan kerja sama untuk mencapai tujuan kelompok.
2) Tanggung Jawab Perseorangan
Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab
untuk melakukan yang terbaik atas tugas-tugas yang diberikan.
3) Tatap Muka
Setiap kelompok diberikan kesempatan utnuk bertemu
muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para
pembelajaran
untuk
membentuk
sinergi
menguntungkansemua anggota.
4) Komunikasi Antaranggota
11
Anita Lie, Cooperative Learning, (Jakarta: Grasindo, 2007), h. 31.
yang
19
Masing-masing
kemampuan
anggota
mendengarkan
kelompok
dan
harus
mengutarakan
memiliki
pendapat,
menanggapi suatu masalah dan mengembangkan ide-idenya untuk
keberhasilan kelompok.
5) Evaluasi Proses Kelompok
Siswa harus mengevaluasi efektifitas kelompok mereka saat
bekerja
kelompok.
Kelompok
perlu
mempertahankan
keberhasilannya dan mampu memperbaiki kekurangannya, hal ini
akan menolong siswa untuk memecahkan masalah dan mengerti
pentingnya keterampilan kooperatif.
c. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Setiap model pembelajaran memiliki langkah-langkah utama
yang harus dipenuhi. Terdapat 6 langkah utama atau tahapan dalam
menggunakan pembelajaran kooperatif, yaitu:12
Tabel 2.1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah Laku Guru
Fase 1
Guru
menyampaikan
semua
tujuan
Menyampaikan tujuan dan pembelajaran yang ingin dicapai pada
memotivasi siswa
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
untuk belajar.
Fase 2
Menyajikan informasi
Fase 3
Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompokkelompok belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
12
Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: University Press, 2000), h. 10
20
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
Fase 6
Memberikan Penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai upaya
maupun hasil belajar individu dan
kelompok.
Dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif ada 10 hal yang
perlu diperhatikan agar dapat berjalan dengan sukses, yaitu:13
1) jangan pernah menggunakan tingkatan kelompok.
2) menginformasikan dan bekerja sama dengan orang tua, kepala
sekolah, dan anggota masyarakat sebelum mengubah struktur kelas
anda.
3) jangan memandang kemampuan sosial dari siswa, berhati-hati
dalam mengelompokkan mereka.
4) jangan biarkan interaksi yang melebihi metodologi pimpinan anda.
5) bentuk kelompok untuk bekerja sama (melalui pembentukan tim
dan pembentukan kelas) sebelum masuk ke dalam tugas akademik.
6) mulailah dengan sangat terstruktur dan tugas kooperatif singkat,
lakukan perlahan untuk proyek-proyek yang tidak terstruktur dan
panjang.
7) ketika anda siap untuk tugas akademis, mulailah dengan tugastugas yang berkapasitas baik walaupun tugas terendah.
8) jangan biarkan interaksi antar siswa tidak terstruktur hingga siswa
memperoleh keterampilan untuk bekerja sama.
9) jangan mencoba menemukan sesuatu dengan terbalik: dimulai
dengan terbukti, strategi interaksi sisw ayang terstruktur.
13
Kagan, Spencer. 1999. Cooperative Learning: Seventeen Pros and Seventeen Cons
plus
Ten
Tips
for
Success.
Kagan
Online
Magazine.
Diakses
dari
http://www.kaganonline.com/KaganClub/ FreeArticles.html
21
10) buatlah kegiatan mudah untuk diri Anda dan siswa. Belajar satu
strategi baru dengan baik sebelum mencoba strategi baru
berikutnya.
d. Manfaat
Pembelajaran
Kooperatif
Terhadap
Kemampuan
Akademik
Menurut hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar. Siswa lebih
memiliki kemungkinan menggunakan tingkat berpikir yang lebih
tinggi selama dan setelah diskusi dalam kelompok kooperatif.
Menurut hasil penelitian Linda Lundgreen menunjukkan bahwa
manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang
rendah adalah sebagai berikut:14
1) Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas.
2) Rasa harga diri menjadi lebih tinggi.
3) Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah.
4) Memperbaiki kehadiran.
5) Angka putus sekolah menjadi rendah.
6) Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar.
7) Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil.
8) Konflik antar pribadi berkurang.
9) Sikap apatis berkurang.
10) Pemahaman yang lebih mendalam.
11) Motivasi lebih besar.
12) Hasil belajar lebih tinggi.
13) Retensi lebih lama.
14) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.
Selain itu, pembelajaran kooperatif mendorong keaktifan dalam
percakapan dan kerjasama pemecahan masalah di dalam kelas dan
14
Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: University Press, 2000), h. 18
22
lingkungan akademis. Ini juga memberi kuasa dan kebebasan kepada
siswa untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri.15
e. Keunggulan Pembelajaran Koopertaif
Setiap model pembelajaran memiliki suatu keunggulan sari
model pembelajaran yang lainnya. Menurut Jarolimek & Parker (1993)
dalam Isjoni, mengatakan keunggulan
pembelajaran kooperatif adalah:
yang diperoleh dalam
16
1) Saling ketergantungan positif.
2) Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu.
3) Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas.
4) Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan.
5) Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa
dengan guru.
6) Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman
emosi yang menyenangkan.
Sedangkan menurut Roger dan David Johnson pembelajaran
kooperatif memiliki keunggulan, diantaranya:17
1) Pembelajaran kooperatif lebih kuat menghasilkan pencapaian
tujuan pembelajaran dibanding pola interaksi kompetitif dan
individual.
2) Siswa lebih positif tentang sekolah, bidang mata pelajaran dan
guru.
3) Siswa lebih positif tentang satu sama lain ketika belajar secara
kooperatif.
15
Ghazi Ghaith. 2003. Effects of the Learning Together Model of Cooperative Learning
on English as a Foreign Language Reading Achievement, Academic Self-Esteem, and Feelings of
School Alienation. American University of Beirut. In Bilingual Research Journal, 27:3 Fall 2003.
p. 452. http://www.informaworld.com/smpp/content.htm.
16
Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Kelompok,
(Bandung: Alfabeta, 2007), h. 24.
17
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), h. 136.
23
4) Siswa lebih efektif antarpribadi, lebih mampu menerima perspektif
orang lain, dan memiliki keahlian interaksi yang lebih baik.
Siswa yang sama-sama bekerja dalam kelompok akan
menimbulkan persahabatan yang lebih akrab yang terbentuk pada
kalangan siswa tersebut. Hal ini akan sangat berpengaruh pada tingkah
laku atau kegiatan masing-masing secara individual.
f.
Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
Selain memiliki kelebihan, pembelajaran kooperatif juga
mempunyai beberapa kelemahan. Ada hal yang harus diperhatikan
agar pembelajaran kooperatif dapat menjadi metode pembelajaran
yang efektif. Metode pembelajaran kooperatif memiliki berbagai
perbedaan dengan metode pembelajaran alternatif, tetapi dapat
dikategorisasikan menurut enam karakteristik prinsipil berikut ini,
diantaranya tujuan kelompok, tanggung jawab individual, kesempatan
sukses yang sama, kompetisi tim, spesialisasi tugas dan adaptasi
terhadap kebutuhan kelompok.18
Menurut Isjoni kelemahan pembelajaran kooperatif bersumber
pada dua faktor, yaitu factor dari dalam (intern) dan factor dari luar
(ekstern). Factor dari dalam, yaitu:19
1) Guru
harus
mempersiapkan
pembelajaran
secara
matang,
disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan
waktu.
2) Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan
dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
3) Selama
kegiatan
diskusi
kelompok
berlangsung,
ada
kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas
18
Robert A. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa
Media, 2010), h. 26
19
Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Kelompok,
(Bandung: Alfabeta, 2007), h. 25.
24
sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.
4) Saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini
mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
Kelemahan pembelajaraan kooperatif yang lainnya, yaitu:20
1) Dalam kelompok dengan keahlian bercampur, seringkali siswa
yang lebih kuat harus mengajar siswa yang lebih lemah dan
mengerjakan sebagian besar tugas kelompok.
2) Waktu pada pembelajaran ini hanya cukup untuk fokus tugas pada
tingkatan yang paling mendasar.
3) Strategi ini mungkin hanya mendukung pemikiran tingkat rendah
dan mengabaikan strategi pemikiran kritis dan tingkat tinggi.
2. Pengertian NHT (Numbered Head Together)
Numbered Head Together (NHT) pertama kali dikembangkan oleh
Spencer Kagan (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah
materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman
mereka terhadap isi pelajaran tersebut.21
Pembelajaran
kooperatif
tipe
NHT
adalah
suatu
pendekatan
pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan
bertanggung jawab penuh untuk memahami materi pelajaran baik secara
berkelompok maupun individual.
NHT berfungsi mendorong keberhasilan kelompok karena semua
anggota harus mengetahui jawaban dari kelompok mereka masing-masing dan
karena saat siswa membantu anggota kelompoknya maka mereka membantu
dirinya sendiri dan seluruh kelompok.22
20
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), h. 136.
21
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010),
h. 82.
22
Geoge Jacob and Stephen Hall. Implementing Cooperative Learning. Regional
Language Centre, Singapore. English Teaching Forum, October 1994. p. 2.
www.singaporeedu.gov.sg/id/htm/index.htm. Diakses tanggal 24 Juli 2010.
25
strategi NHT mementingkan keterlibatan tingkat tinggi, karena siswa
bekerja sama untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan dan mereka
memastikan bahwa setiap anggota kelompok mengetahui jawabannya. Semua
anggota menyadari bahwa mereka dapat dipilih untuk memberikan jawaban
dari kelompok masing-masing, oleh karena itu mereka termotivasi untuk
berpartisipasi dalam kelompok.23
Langkah-langkah yang digunakan dalam metode NHT (Numbered
Head Together) pada pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:24
a. Penomoran
Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggota 3-5 orang
dan kepada setiap anggota kelompok di beri nomor antara 1 sampai 5.
b. Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan
dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk
kalimat tanya.
c. Berpikir Bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadapan jawaban pertanyaan
itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
d. Menjawab
Guru memanggil salah satu nomor tertentu, kemudian siswa
yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk
menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
3. Pengertian TPS (Think Pair Share)
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share yang pertama
kali dikembangkan oleh Frank Lyman di Universitas Maryland, merupakan
jenis pembelajaran yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola
diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan
23
Hallie Kay Yopp, VocabularyInstruction for Academic Success, (USA: Shell
Education, 2009), p. 26
24
Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: University Press, 2000), h. 28
26
pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang
digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir
unruk merespon dan saling membantu.
TPS adalah latihan pembelajaran kooperatif sederhana. Instruktur
(guru) akan menanyakan pertanyaan atau menimbulkan masalah. Siswa
menghabiskan satu atau dua menit memikirkan jawaban atau solusi. Siswa
kemudian berpasangan untuk mendiskusikan (berbagi) jawaban mereka.
Instruktur mungkin akan meminta beberapa siswa untuk berbagi jawaban
dengan seluruh kelas.25 Langkah-langkah dalam pelaksanaan metode TPS,
yaitu:26
a. Berpikir (Thinking)
Guru mengajukan
suatu pertanyaan atau masalah yang
dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu
beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah.
b. Berpasangan (Pairing)
Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan
mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu
yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang
diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang
diidentifikasi.
c. Berbagi (Sharing)
Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk
berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini
efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan dan melanjutkan
sampai sekitar pasangan mendapat kesempatan untu melaporkan.
25
Elisa Carbone, Teaching Large Classes Tools and Strategies, (California: Sage
Publication, 1998), p. 52. http://www.uk.sagepub.com/booksProdDesc.nav. Diakses tanggal 26
september 2010.
26
Trianto, Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007), h. 61.
27
Dalam pelaksanaan langkah-langkah TPS ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu:27
a. Berpikir, selama tahap ini berlangsung ada dua hal penting yang harus
diperhatikan, yaitu: 1) siswa harus diberikan cukup waktu untuk
berpikir dan kemudian mencatat pikiran mereka ke dalam buku
catatan; 2) siswa harus benar-benar berpartisipasi dan tidak hanya
menunggu untuk masuk ketahap berpasangan. Siswa tidak diijinkan
untuk berpasangan pada tahap ini, oleh karena itu sewaktu-waktu gurur
perlu memeriksa hasil kerja masing-masing siswa.
b. Berpasangan, dalam tahap ini siswa dapat dipasangkan dengan
berbagai cara dan harus dipasangkan berbeda setiap kalinya, yaitu: 1)
siswa berpasangan setelah mereka menyelesaikan tugas masingmasing pada tahap sebelumnya; 2) berpasangan sesuai dengan daftar
absensi kelas (siswa pertama dengan siswa kedua, siswa ketiga dengan
ketiga, dan seterusnya); 3) siswa berpasangan dipilih secara acak.
c. Berbagi, selama siswa berbagi keseluruh kelas, semua siswa yang
ingin berbicara harus mendapatkan kesempatan dan tidak mengijinkan
satu individu untuk memonopoli pembicaraan.
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS memiliki beberapa
perbedaan, yang disajikan pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.3. Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered
Head Together dan Think-Pair-Share
Perbedaan
Proses
pembelajaran
Aktivitas
dalam
pembelajaran
Penilaian
27
Numbered Head Together
Kerja kelompok → Individu
Think-Pair-Share
Individu → Kerja kelompok
Mengandalkan
kemampuan Mengandalkan
individu atas kelompok
kelompok saja
kemampuan
Penilaian kelompok dan individu Hanya penilaian kelompok
Richard P. Wasowski, CliffsNotes on Nicholas Sparks’ The Notebook Teacher’s Guide,
(USA: Wiley Publishing Inc, 2009), p. 33.
28
4. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada
saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia
tidak belajar maka responnya menurun.28
Menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif yang
mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi,
menjadikan kapabilitas baru. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i)
stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang
dilakukan oleh pelajar.29
Hintzman berpendapat learning is a change in organism due to
experience which can affect the organism’s behavior. Artinya, belajar
adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan
hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah
laku organisme tersebut.30
Pupuh Fathurohman dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar
menyatakan bahwa belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang
terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu.31
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku individu, di mana
perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi
juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk,
yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan
bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi
28
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 9.
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h.10
30
Muhbbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2010), h. 88.
31
Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Refika Aditama, 2009), h.
6.
29
29
pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan
tercipta oleh siswa.32 Tujuan belajar terdiri dari tiga komponen, ialah:33
1) Tingkah laku terminal, adalah komponen tujuan belajar yang
menentukan tingkah laku siswa setelah belajar.
2) Kondisi-kondisi tes, menentukan situasi di mana siswa dituntut untuk
mempertunjukkan tingkah laku terminal. Kondisi-kondisi tersebut
perlu disiapkan oleh guru, karena sering terjadi ulangan/ujian yang
diberikan oleh guru tidak sesuai dengan materi pelajaran yang telah
disampaikan sebelumnya.
3) Ukuran-ukuran perilaku, merupakan suatu pernyataan tentang ukuran
yang digunakan untuk membuat pertimbangan mengenai perilaku
siswa. suatu ukuran menentukan tingkat minimal perilaku yang dapat
diterima sebagai bukti, bahwa siswa telah mencapai tujuan.
Berdasarkan uraian diatas dapat digambarkan bagaimana proses
belajar itu berlangsung. Pertanda seseorang telah belajar adalah dengan
adanya perubahan tingkah laku dalam diri seseorang tersebut. Perubahan
tingkah
laku
yang
dimaksud
terjadi
akibat
interaksi
dengan
lingkungannya bukan karena proses pertumbuhan fisik atau kedewasaan.
Perubahan tersebut bersifat tahan lama dan tidak berlangsung sesaat saja.
Keberhasilan pengajaran dapat dilihat dari segi hasil, proses
belajar yang baik memungkinkan hasil belajar yang baik pula. Hasil
belajar didapatkan dari proses evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa
dampak pengajaran dan dampak pengiringan.
Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku
pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan
pengetahuan sikap dan keterampilan.34 Bloom mengklasifikasikan hasil
belajar menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah
32
33
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 73
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 73-
74.
34
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2005), h. 155.
30
afektif (affective domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain).35
Keterangan lebih lanjut adalah sebagai berikut:
1) Ranah kognitif, yaitu ranah yang berkenaan dengan hasil belajar
intelektual yang terdiri dari enam aspek, antara lain: pengetahuan
mengenal, pemahaman, aplikasi, analisi, sintesis, dan evaluasi.
2) Ranah afektif, yaitu ranah yang berkenaan dengan sikap dan terdiri
dari dua aspek, yaitu: pandangan atau pendapat dan sikap atau nilai.
3) Ranah psikomotor, yaitu ranah yang berhubungan erat dengan kerja
otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya.
Dari ketiga ranah tersebut, ranah kognitiflah yang pada umumnya
dinilai oleh para pendidik di sekolah. Ranah kognitif berkaitan dengan
kemampuan siswa dalam memahami atau menguasai materi pelajaran,
dan proses penilaiannya pun relatif lebih mudah. Pada proses ranah
kognitif yang terjadi dihasilkan suatu hasil belajar. Hasil belajar tersebut
merupakan kapabilitas siswa. Kapabilitas siswa tersebut berupa:36
1) Informasi
verbal
adalah
kapabilitas
untuk
mengungkapkan
pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
2) Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk
berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan
konsep dan lambang.
3) Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri.
4) Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian
gerak
jasmani
dalam
urusan
koordinasi,
sehingga
terwujud
otomatosme gerak jasmani.
5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan
penilaian terhadap obyek tersebut.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
efek kumulatif dari proses belajar berupa perkembangan tingkah laku
35
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009),
36
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 11
h. 117.
31
yang terjadi pada ranah kognitif, afektif, dan ranah psikomotor. Jadi,
seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila di dalam diri orang
tersebut telah terjadi perubahan tingkah laku yang lebih baik dari sebelum
ia mengalami proses belajar. Namun, hal terpenting dalam belajar adalah
proses dari belajar tersebut bukan hasil yang akan diperoleh. Artinya,
belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri, adapun orang lain disekitar
hanya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar, agar
dalam belajar dapat berhasil dengan baik.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar siswa di
sekolah. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa
dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:37
1) Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi
jasmani dan rohani siswa.
2) Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di
sekitar siswa.
3) Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya
belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa
untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
Pada tabel 2.3. disajikan bagian-bagian dari ke tiga faktor yang
mempengaruhi belajar:38
Tabel 2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Ragam Faktor dan Unsur-unsurnya
Internal Siswa
Esternal Siswa
Pendekatan
1. Aspek Fisiologis
1. Lingkungan Sosial 1. Pendekatan Tinggi
- tonus jasmani
- Keluarga
- Speculative
- mata dan telinga
- Guru dan staf
- Achieving
- Masyarakat
- Teman
2. Aspek Psikologis
2. Lingkungan
2. Pendekatan
- Intelegensi
Nonsosial
Menengah
37
38
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 144.
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 156
32
-
Sikap
Minat
Bakat
Motivasi
-
Rumah
Sekolah
Peralatan
Alam
-
Analitical
Deep
3. Pendekatan Rendah
- Reproductive
- Sureface
Menurut Ngalim Purwanto berhasil atau tidaknya belajar dapat
kita bedakan menjadi dua golongan, yaitu:39
1) Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor
individual. Yang termaruk kedalam faktor individual antara lain faktor
kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor
pribadi.
2) Faktor yang ada di luar individu yang kita sebut faktor sosial. Yang
termasuk kedalam faktor sosial atara lain faktor keluarga/keadaan
rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan
alam mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi
sosial.
Sedangkan menurut Pupuh Fathurrohman, faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan belajar, sebagai berikut:40
1) Tujuan
Tujuan merupakan muara atau pangkal dari proses belajar mengajar.
Oleh karena itu, tujuan menjadi pedoman arah dan sekaligus sebagai
suasan yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
2) Guru
Performance guru dalam mengajar banyak dipengaruhi berbagai faktor
seperti tipe kepribadian, latar belakang pendidikan, pengalaman dan
yang tak kalah pentingnya berkaitan dengan pandangan filosofis guru
terhadap anak didik.
3) Peserta Didik
39
40
115.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), h. 102
Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Refika Aditama, 2009), h.
33
Peserta didik dengan segala perbedaannya seperti motivasi, minat,
bakat, perhatian, harapan, latar belakang sosio-kultural, tradisi
keluarga, menyatu dalam sebuah system belajar dikelas. Perbedaanperbedaan inilah yang wajib dikelola, diorganisir guru, untuk mencapai
proses pembelajaran yang optimal. Apabila guru tidak memiliki
kecermatan dan keterampilan dalam mengelola perbedaan-perbedaan
potensi peserta didik maka proses pembelajaran sulit mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditentukan.
4) Kegiatan pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru
dengan peserta didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang
menciptakan lingkungan belajar yang baik maka kepentingan belajar
anak didik terpenuhi.
5) Evaluasi
Evaluasi memiliki cakupan bukan saja pada bahan ajar, tetapi pada
keseluruhan proses belajar mengajar, bahkan pada alat dan bentuk
evaluasi itu sendiri. Artinya, evaluasi yang dilakuakn sudah benarbenar mengevaluasi tujuan yang telah ditetapkan, bahan yang diajarkan
dan proses yang dilakukan.
Guru membuat perencanaan evaluasi secara sistematik dengan
menggunakan alat evaluasi yang tepat. Alat evaluasi yang bisa
digunakan antara lain: benar-salah (true-false), pilihan ganda (multiple
choice), menjodohkan (matching), esai dan bentuk evaluasi bisa tertulis
maupun lisan. Evaluasi yang valid (sahih) bukan saja memberikan
informasi prestasi sisa dalam mencapai tujuan tetapi memberikan
umpan balik terhadap proses pembelajaran secara keseluruhan.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Dibawah ini akan disajikan beberapa hasil penelitian yang relevan
dengan penelitian ini. Hasil penelitian pendukung yang dimaksud yaitu hasil
penelitian yang berhubungan dengan pembelajaran kooperatif tipe Numbered
34
Head Together (NHT) dan tipe Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar
siswa, antara lain :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Kadir Tiya dan Mustamin Anggo dengan
judul “Meningkatkan Penguasaan Konsep Matematika Pokok Bahasan
Statistika Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pada Siswa
Kelas XI SMA Negeri 2 Kendari”, diketahui bahwa dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan penguasaan
konsep matematika siswa pada pokok bahasan statistika dan hasil belajar
yang dicapai oleh siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hasil
penenlitian
ini
menyarankan
agar
pihak
sekolah
dan
guru
mempertimbangkan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
dalam pelajaran matematika, khususnya statistika dan guru senantiasa
memperbaiki proses pembelajaran salah satunya menngunakan model
pembelajaran koopertif tipe NHT.41
2. Penelitian yang dilakukan oleh Karen M Daniel dengan judul
“Cooperative Learning Structures for English Foreign Language
Classrooms”, diketahui bahwa stuktur pembelajaran kooperatif yang
diperkenalkan oleh Spencer Kagan yaitu NHT mampu meningkatkan
keaktifan siswa dalam berbahasa inggris dari 22% sampai 47% dalam
setiap waktunya.42
3. Penelitian yang dilakukan oleh Larry Maheady et al dengan judul “The
Effects of Numbered Heads Together with and Without an Incentive
Package on the Science Test Performance of a Diverse Group of Sixth
Graders”, diketahui bahwa penggunaan dua bentuk pembelajaran NHT
pada kelas 6 dalam nilai kuis harian dan pretest-posttest kimia
memberikan pengaruh yang baik. Dari penelitian menunjukkan bahwa
41
Kadir Tiya dan Mustamin Anggo, Meningkatkan Penguasaan Konsep Matematika
Pokok Bahasan Statistika Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pada Siswa Kelas
XI SMA Negeri 2 Kendari.
42
Karen M Daniels. 2005. Cooperative Learning Structures for English Foreign
Language Classrooms. Faculty of Regional Development Studies Tokyo University. Japan:
Journal of Tourism Studies. http://rdarc.rds.toyo.ac.jp/webdav/frds/public/kiyou/rtvol4/rt-v4143.pdf.
35
penambahan paket intensif dapat meningkatkan kinerja siswa selama
melaksanakan pembelajaran NHT.43
4. Penelitian yang dilakukan oleh Ubaidillah dengan judul “Pengaruh
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) dengan Teknik Kepala
Bernomor (Numbered Heads Together) Terhadap Hasil Belajar Fisika
Siswa”, diketahui bahwa metode pembelajaran kooperatif dengan teknik
kepala bernomor (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa
dapat dilihat dari hasil yang signifikan atau lebih baik terhadap
peningkatan aspek pemahaman siswa.44
5. Penelitian yang dilakukan oleh Mardinawati dengan judul ”Pengaruh
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Terhadap
Pemahaman Konsep Hidrokarbon”, diketahui bahwa pemahaman konsep
hidrokarbon dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT
menunjukkan kelas eksperimen secara keseluruhan lebih tinggi dari kelas
kontrol. Hal ini dibuktikan oleh data persentase dimana hasil belajar dan
pemahaman konsep pada 10 indikator kelas eksperimen lebih tinggi dari
kelas kontrol.45
6. Penelitian yang dilakukan oleh Betty Marini Turnip dengan judul
“Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-Share pada
Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP”,
diketahui bahwa rata-rata pengetahuan awal kooperatif Think-Pair-Share
yaitu 38,88 dan setelah perlakuan menjadi 66,11. Hasil belajar siswa pun
mengalami peningkatan sebesar 27,23 %.46
43
Larry Maheady et al, The Effects of Numbered Heads Together with and Without an
Incentive Package on the Science Test Performance of a Diverse Group of Sixth Graders. in
Journal
of
Behavioral
Education,
Vol.
15,
No.
1,
March
2006.
http://www.springerlink.com/content/a27463112kl32683/.
44
Ubaidillah. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) dengan Teknik
Kepala Bernomor (NHT) Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa. Skripsi Program Studi Pendidikan
Fisika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
45
Mardinawati. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
Terhadap Pemahaman Konsep Hidrokarbon. Skripsi Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
46
Betty Marini Turnip. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-Share
pada Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP. Jurnal Mat & Sains,
Vol. 2(2), 2007.
36
7. Penelitian yang dilakukan oleh Suhar dkk dengan judul “Meningkatkan
Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas I-B SMPN 5 Kendari Melalui
Model Kooperatif Tipe Think-Pair-Share”, diketahui bahwa prestasi
belajar matematika siswa I-B SMPN 5 Kendari dapat ditingkatkan melalui
model kooperatif tipe Think-Pair-Share. Dari siklus I ke siklus II terjadi
peningkatan hasil belajar sebesar 8,8%. Dari siklus II ke siklus III terjadi
peningkatan sebesar 20,6%.47
8. Penelitian yang dilakukan oleh Vera Afnia dengan judul “Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa dengan Metode Pembelajaran
Kooperatif Teknik Think-Pair-Share dalam Konsep Hidrokarbon”,
diketahui bahwa penelitian ini mencapai criteria yang menjadi batasan
indikator keberhasilan penelitian yag ditunjukkan oleh peningkatan nilai
rata-rata hasil belajar kimia sebesar 9,03 angka dari 66,01 pada siklus I
menjadi 75,03 pada siklus II.48
9. Penelitian yang dilakukan oleh Muslimin dengan judul “Pengaruh
Pembelajaran Kooperatif Teknik Think-Pair-Share Terhadap Hasil
Belajar Biologi Siswa”, diketahui bahwa Ha yang menunjukkan ada
pengaruh antara pembelajaran kooperatif teknik TPS tehadap hasil belajar
biologi siswa diterima atau direstui. Hal ini menunjukkan bahwa
penggunaan pembelajaran kooperatif teknik TPS membawa pengaruh yang
signifikan terhadap hasil belajar biologi siswa.49
C. Kerangka Berpikir
Belajar merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap
penyelenggaraan pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan itu tergantung pada proses belajar yang dialami
47
Suhar dkk, Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas I-B SMPN 5
Kendari Melalui Model Kooperatif Tipe Think-Pair-Share, 2006.
48
Vera Afnia. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa dengan Metode
Pembelajaran Kooperatif Teknik Think-Pair-Share dalam Konsep Hidrokarbon. Skripsi Program
Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
49
Muslimin. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Teknik Think-Pair-Share Terhadap
Hasil Belajar Biologi Siswa. Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
37
siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau
keluarganya. Kegagalan proses belajar akan memberikan pengaruh yang besar
terhadap kegagalan keseluruhan sistem pendidikan.
Proses pembelajaran harus diarahkan kepada bagaimana siswa dapat
belajar seefektif dan seoptimal mungkin dalam rangka mewujudkan perubahan
tingkah laku sesuai dengan tujuan pendidikan. Menciptakan kondisi belajar
yang efektif bagi siswa sangat bergantung kepada metode pengajaran, karena
metode menunjukkan cara bagaimana mengelola kegiatan belajar mengajar
yang memungkinkan siswa dapat belajar sebaik mungkin sesuai dengan
kemampuannya. Pembelajaran yang efektif akan melatih siswa untuk
memahami konsep suatu pelajaran dengan kemampuannya sendiri dan dapat
menimbulkan semangat belajar, sehingga siswa mampu mendapatkan hasil
belajar yang baik. Hasil belajar didapatkan dari proses evaluasi guru.
Proses pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih aktif salah
satunya kerja kelompok. Namun, kerja kelompok yang dilakukan di sekolah
hanya sekedar bekerja sama untuk mendapatkan jawaban dari tugas yang
diberikan,
tanpa memikirkan apakah masing-masing anggota kelompok
memahami materi dari tugas yang diberikan tersebut. Model pembelajaran
yang menggunakan kerja kelompok dalam prosesnya dan membuat semua
anggota kelompok aktif berperan aktif serta dapat memahami materi yang
diberikan adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang berorientasikan
pada kerja kelompok. Dengan pembagian kelompok tersebut siswa harus
bekerja sama dan bertanggung jawab atas kewajibannya di dalam kelompok.
Model pembelajaran kooperatif diantaranya adalah tipe NHT
(Numbered Head Together) dan TPS (Think Pair Share). Metode
pembelajaran NHT dan TPS merupakan alternatif pengajaran yang akan
memberikan suasana baru dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar
mengajar yang di rancang dalam bentuk pembelajaran yang memungkinkan
siswa untuk saling bekerja sama, saling membantu dalam memahami materi
pelajaran dan memecahkan masalah, dan bertanggung jawab atas kewajiban di
38
dalam kelompok. Sehingga proses belajar yang berlangsung akan lebih efektif
dan hasil belajar pun akan lebih baik.
Pada penelitian yang akan dilakukan, pokok bahasan pada mata
pelajaran kimia yang akan diajarkan menggunakan metode NHT dan TPS
adalah laju reaksi.
1.
2.
3.
4.
Proses pembelajaran yang dilaksanakan belum berjalan efektif.
Ilmu kimia termasuk mata pelajaran yang di anggap sulit, hal ini di lihat
dari hasil belajar kimia siswa yang rendah, contohnya pada pokok bahasan
laju reaksi.
Pembelajaran di dalam kelas masih berpusat pada guru.
Penggunaan kerja kelompok dalam proses belajar mengajar belum optimal.
diatasi dengan menerapkan
Model Pembelajaran Kooperatif
diantaranya
Numbered Head Together (NHT)
Think-Pair-Share (TPS)
Langkah-langkah:
1. Penomoran
2. Mengajukan pertanyaan
3. Berpikir bersama
4. Menjawab
Langkah-langkah:
1. Berpikir
2. Berpasangan
3. Berbagi
diperoleh perbandingan
Hasil Belajar
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Berpikir
39
D. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir di atas dapat di tarik suatu kesimpulan
dan sekaligus diputuskan untuk dijadikan hipotesis penelitian yang
dirumuskan sebagai berikut:
Ho : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang
diberikan pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS.
Ha : Terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang diberikan
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 3 Kota Tangerang Selatan yang
berlokasi di Jl. Benda Timur XI Komp. Pamulang Permai 2. Adapun waktu
yang digunakan untuk pelaksanaan penenitian ini adalah pada tanggal 1 – 20
November 2010.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi
eksperimen (eksperimen semu). Dalam penelitian kuasi eksperimen, tidak
dilakukan randomisasi untuk memasukan subjek ke dalam kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol, melainkan menggunakan kelompok subjek
yang sudah ada sebelumnya.
Penelitian ini di bagi dalam dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang
diberikan perlakuan pembelajaran kooperatif tipe NHT, dan kelas kontrol
yaitu kelas yang diberikan perlakuan pembelajaran kooperatif tipe TPS.
Adapun rancangan penelitian yang penulis gunakan adalah only
posttest control group design1 yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3.1. Rancangan Penelitian
Kelas
Perlakuan
Tes akhir
(treatment)
(P) E1
X1
O1
(P) E2
X2
O2
Keterangan:
E1
= Kelas eksperimen pertama
1
Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi. (Jakarta:
Bumi Aksara, 2007), h. 66.
40
41
E2
= Kelas eksperimen kedua
Y1
= Perlakuan pada kelas eksperimen (NHT)
Y2
= Perlakuan pada kelas kontrol (TPS)
O1
= Tes akhir pada kelas eksperimben
O2
= Tes akhir pada kelas kontrol
P
= Pemilihan kelas secara purposive
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi
diartikan
jumlah
dari
keseluruhan
objek
yang
karakteristiknya hendak di duga. Populasi ini dibedakan antara populasi
secara umum dengan populasi target. Populasi target adalah populasi yang
menjadi sasaran keberlakuan kesimpulan penelitian kita.2
Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 3
Kota Tangerang Selatan. Sedangkan populasi umum pada penelitian ini
adalah siswa kelas XI SMAN 3 Kota Tangerang Selatan yang terdaftar
pada SMA tersebut pada semester ganjil (I) tahun ajaran 2010/2011.
2. Sampel
Sampel adalah kelompok kecil yang kita amati. Menurut Sugiyono,
sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tertentu.3 Teknik pengambilan sampel yang dipakai yaitu
purposive sampling atau sampel bertujuan. Sampel bertujuan dilakukan
dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random, atau
daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu.4
Dalam penelitian ini, sampel berasal dari kelas XI dan akan di
pilih sebanyak dua kelas yang akan menjadi kelas kontrol dan kelas
2
Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rasdakarya, 2008), h. 250.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta,
2008), h. 85.
4
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Rineka,
1993), h. 183.
3
42
eksperimen. Kelas XI-IPA 6 di pilih sebagai kelas eksperimen dan kelas
XI-IPA 7 sebagai kelas kontrol. Pemilihan kelas dilakukan berdasarkan
pengamatan terhadap kesetaraan kemampuan rata-rata nilai kimia dari
kedua kelas tersebut.
D. Variabel Penelitian
1. Variabel independen (bebas)
: Perbandingan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe NHT dan TPS
2. Variabel dependen (terikat)
: Hasil belajar kimia siswa
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes untuk
mengukur hasil belajar kimia khususnya materilaju reaksi. Tes hasil belajar
yaitu tes yang yang digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai
materi yang telah diberikan antara kelas eksperimen dan kontrol. Tes yang
digunakan adalah tes tertulis dalam bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 28
soal untuk tes pokok bahasan laju reaksi.
Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen
Indikator
Menjelaskan kemolaran
larutan
Menjelaskan pengertian
laju reaksi
Menentukan nilai laju
reaksi
Menjelaskan faktorfaktor yang
mempengaruhi laju
reaksi
Jenjang Kognitif
C2
C3
C1
1
6
C4
Jumlah
2, 3, 4
4
5, 7, 8
4
12
9, 11, 27
21, 22, 26,
28
14, 15, 16,
17, 18, 25
13
4
10, 19, 20,
23, 24,
Jumlah
Sebelum tes dilakukan, tes tersebut harus terlebih dahulu memenuhi
persyaratan seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono bahwa “instrumen yang
16
28
43
valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil
penelitian yang valid dan reliabel”.5
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau
sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang
valid berarti memiliki validitas rendah.
Dalam penelitian ini, validitas tes dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus:6
Keterangan:
γpbi
= koefisien korelasi point biserial
Mp
= skor rata-rata hitung yang dijawab benar oleh peserta tes
Mt
= skor rata-rata total yang dicapai oleh seluruh peserta tes
SDt
= standar deviasi
p
= proporsi siswa yang menjawab benar terhadap butir soal
q
= proporsi siswa yang menjawab salah terhadap butir soal
(q = 1- p)
2. Uji Reliabilitas
Realiabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes
dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut
5
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta,
2008), h. 122.
6
79.
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2009), h.
44
dapat memberikan hasil yang tetap, karena reliabilitas adalah ketetapan
atau keajegan alat untuk mengukur sejauh mana suatu alat dapat
memberikan
gambaran
yang
benar-benar
dapat
dipercaya
untuk
mengetahui kemampuan seseorang.
Untuk mengetahui besarnya koefisien reliabilitas tes bentuk pilihan
ganda maka digunakan rumus K-R 20 sebagai berikut:7
dengan
Keterangan:
rii
= reliabilitas tes secara keseluruhan
n
= banyaknya item
S
= standar deviasi
p
= proporsi subyek yang menjawab benar
q
= proporsi subyek yang menjawab salah
∑pq
= jumlah hasil perkalian antara p dan q
Adapun kriteria pengujiannya:
rii = 0,91 – 1,00
: Sangat tinggi
rii = 0,71 – 0,90
: Tinggi
rii = 0,41 – 0,70
: Cukup
rii = 0,21 – 0,40
: Rendah
rii = < 0,20
: Sangat rendah
7
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Rineka,
1993),h. 100.
45
3. Taraf Kesukaran
Bilangan yang menunjukan sukar atau tidaknya suatu soal disebut
indeks kesukaran. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah
atau tidak terlalu sukar. Rumus yang digunakan untuk menentukan
kesukaran adalah sebagai berikut:8
Keterangan:
P = Indeks Kesukaran
B = Jumlah siswa yang menjawab benar
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Klasifikasi tingkat kesukaran:
0,00 – 0,30
= Sukar
0,30 – 0,70
= Sedang
0,70 – 1,00
= Mudah
4. Daya Pembeda
Analisis daya pembeda digunakan untuk mengetahui kemampuan
butir soal dalam membedakan kelompok siswa antara kelompok siswa
yang pandai dengan kelompok siswa yang kurang pandai.9
Cara menghitung daya pembeda adalah dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:10
8
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2009), h.
208.
9
Ahmad Sofyan dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN
Jakarta Press, 2006), h. 104.
10
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2009),
h. 213.
46
Keterangan:
J
= jumlah peserta tes
JB = banyak peserta kelompok atas
JA = banyak peserta kelompok bawah
BA = banyak peserta kelompok atsa yang menjawab soal itu dengan benar
BB = banyak peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan
benar
PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
Klasifikasi harga daya pembeda:11
0,00 – 0,20
= Jelek
0,21 – 0,40
= Cukup
0,41 – 0,70
= Baik
0,71 – 1,00
= Baik sekali
Negatif
= Semuanya tidak baik (soal bernilai daya pembeda negatif
sebaiknya tidak digunakan)
F. Teknik Pengumpulan Data
Pada pelaksanaannya peneliti terlibat langsung dalam mengumpulkan
data, mengolah serta menarik kesimpulan dari data yang di peroleh. Pada
tahap awal dalam kelas eksperimen, peneliti melakukan sebuah percobaan
tentang laju reaksi yang akan menimbulkan pertanyaan dari siswa, kemudian
dilaksanakan pembelajaran kooperatif metode NHT (Numbered Head
Together). Pada kelas kontrol, peneliti melakukan percobaan yang sama,
kemudian dilaksanakan pembelajaran kooperatif metode TPS (Think Pair
Share).
Setelah materi diberikan, kemudian peneliti memberikan tes objektif
kepada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol berupa soal kimia pada
11
h. 218.
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2009),
47
pokok bahasan laju reaksi. Tes objektif yang diberikan ditinjau dari aspek
kognitifnya dan berada pada rentang C1 – C4.
G. Teknik Analisis Data
Untuk penganalisaan data dalam penelitian ini digunakan uji statistik
dengan menggunakan uji-t. Tetapi sebelumnya ddilakukan uji normalitas dan
uji homogenitas sebagai syarat dapat dilaksanakannya analisis data.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah sampel
yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Uji kenormalan yang
digunakan adalah uji Lilliefors. Langkah-langkah untuk mengadakan uji
Lilliefors adalah:12
a) Pengamatan x1, x2, .... xn dijadikan bilangan baku z1, z2, .... zn
dengan menggunakan rumus
(x dan s masing-
masing merupakan rata-rata dan simpangan baku sampel)
b) Untuk tiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi
normal baku, kemudian dihitung peluang F(zi) = P(z ≤ zi).
c) Selanjutnya dihitung proporsi z1, z2, .... zn yang lebih kecil atau
sama dengan zi. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S(zi), maka
d) Hitung selisih F(zi) – S(zi) kemudian tentukan harga
mutlaknya.
e) Ambil harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak
selisih tersebut.
Sebutlah harga terbesar ini Lo
Untuk menerima atau menolak hipotesis nol, kita bandingkan Lo
ini dengan nilai kritis L. Kriterianya adalah: tolak hipotesis nol
bahwa populasi berdistribusi normal jika Lo yang diperoleh dari
12
Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), h. 466.
48
data pengamatan melebihi L dari daftar. Dalam hal lainnya
hipotesis nol diterima.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data
homogen (sama) atau tidak. Populasi-populasi dengan varians yang sama
besar dinamakan populasi dengan varians homogeny. Dalam hal lainnya
populasi
varians
yang
heterogen.
Uji
homogenitas
dilakukan
menggunakan uji Fisher dengan rumus:13
Keterangan:
F
= uji Fisher
Tolak Ho hanya jika F ≥ F1/2α(v1,v2), dengan F1/2α(v1,v2) didapat
daftar distribusi F dengan peluang 1/2α, sedangkan derajat kebebasan v1
dan v2 masing-masing sesuai dk pembilang dan penyebut.
Melalui hipotesis statistik yang dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan :
= Varians kelompok satu, yaitu kelompok skor dari hasil belajar
kelompok eksperimen
= Varians kelompok dua, yaitu kelompok skor dari hasil belajar
kelompok kontrol
Ho
= Kedua varians homogen
H1
= Kedua varians tidak homogen
13
Sudjana, Metoda Statistika (Bandung: Tarsito), h. 250.
49
Adapun kriteria pengujiannya adalah:
1. Jika F hitung ≤ F tabel, maka kedua data memiliki varians yang homogen.
2. Tolak Ho, jika harga F hitung ≤ F tabel
3. Terima Ho, jika harga F hitung > F tabel
Untuk taraf signifikan α = 0,05 dan derajat kebebasan penyebut dk1 = n1 – 1,
dan derajat kebebasan pembilang dk2 = n2 – 1.
3. Uji Hipotesis
Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, maka untuk
menguji data yang diperoleh digunakan rumus t-test. Uji hipotesis ini
digunakan untuk mengetahui adanya perbandingan hasil belajar kimia
siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe
NHT dan siswa yang tidak diajarakan dengan menggunakan pembelajaran
kooperatif tipe TPS.
Rumus t-tes yang digunakan untuk pengujian, yaitu:14
Keterangan:
= Nilai rata-rata kelompok eksperimen
= Nilai rata-rata kelompok kontrol
n1
= Jumlah sampel pada kelompok eksperimen
n2
= Jumlah sampel pada kelompok kontrol
= Varian kelompok eksperimen
= Varian kelompok kontrol
Berikut ini pedoman penggunaannya:
14
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta,
2008), h. 196.
50
a) Bila jumlah anggota sampel n1 = n2, dan varians homogen (α12 = α22).
Untuk melihat harga t tabel digunakan (derajat kebebasan) dk = n1 +
n2 – 2.
b) Bila n1 ≠ n2, varians homogen (α12 = α22). Untuk dk = n1 + n2 – 2.
c) Bila n1 = n2, varians tidak homogen (α12 ≠ α22), dengan dk = n1 – 1
atau n2 – 1. Jadi dk bukan n1 + n2 – 2.
Dengan sebuah ketentuan:
Jika t hitung < t tabel, maka terima Ho,
Jika t hitung > t tabel, maka tolak Ho.
H. Hipotesis Statistik
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Ho : μ1 = μ2
Ha : μ1 ≠ μ2
Keterangan:
Ho : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang diberikan
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS.
Ha : Terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang diberikan
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS.
μ1 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa yang diajarkan menggunakan
model pembelajaran kooperatif NHT.
μ2 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa yang diajarkan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe TPS.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi dan Analisis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari hasil tes. Tes
yang diberikan merupakan aspek kognitif dengan menggunakan instrumen
berupa tes pilihan berganda sebanyak 28 soal yang diberikan setelah
pembelajaran (posttest). Data yang diperoleh meliputi data skor hasil belajar
dari 68 siswa yang terdiri dari 34 siswa kelas eksperimen dan 34 siswa kelas
kontrol. Posttest bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh model
pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar kimia siswa pada pokok
bahasan laju reaksi.
1. Deskripsi Data
Data yang didapat dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian.
Data pertama didapat dari hasil belajar kelas eksperimen pertama yaitu
kelas yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Head Together. Data yang kedua didapat dari hasil belajar
kelas eksperimen kedua yaitu kelas yang diberi perlakuan dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share.
a. Deskripsi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen Pertama
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka
dilakukan perhitungan statistik terhadap hasil belajar kimia siswa kelas
eksperimen pertama yang disajikan dalam lampiran 7. Data
perhitungan statistik hasil belajar kelas eksperimen pertama dapat
dilihat pada tabel berikut:
51
52
Tabel 4.1. Perhitungan Statistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen
Pertama
No.
1
2
3
4
5
Statistik
Rata-rata
Median
Modus
SD
S2
Nilai
76,26
75,82
75,5
5,74
32,91
b. Deskripsi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen Kedua
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka
dilakukan perhitungan statistik terhadap hasil belajar kimia siswa kelas
eksperimen kedua yang disajikan dalam lampiran 7. Data perhitungan
statistik hasil belajar kelas eksperimen pertama dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 4.2. Perhitungan Statistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen
Kedua
No.
1
2
3
4
5
Statistik
Rata-rata
Median
Modus
SD
S2
Nilai
69,12
68,67
67,38
4,46
19,93
2. Analisis Data
a. Pengujian Persyaratan Analisis Data
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan
uji t untuk melihat adanya perbedaan dari perlakuan yang diberikan,
maka perlu dilakukan uji persyaratan analisis terlebih dahulu terhadap
data hasil penelitian. Beberapa uji persyaratan yang harus dipenuhi
adalah:
53
1) Uji Normalitas
Setelah dilakukan pengolahan data hasil belajar kelas
eksperimen dan kelas kontrol, maka dilanjutkan dengan pengujian
normalitas. Pengujian normalitas ini digunakan untuk mengetahui
bahwa sebaran data yang masing-masing kelas tidak menyimpang
dari ciri-ciri data yang berdistribusi normal. Pengujian normalitas
dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors. Adapun kriteria
penerimaan bahwa suatu data berdistribusi normal atau tidak
dengan rumusan sebagai berikut:
-
Jika Lo (Lhitung) < Lt (Ltabel), maka data berdistribusi normal
-
Jika Lo (Lhitung) > Lt (Ltabel), maka data tidak berdistribusi
normal
Data diukur pada taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan
tertentu. Berikut ini adalah hasil dari perhitungan uji normalitas,
yaitu:
Tabel 4.3. Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen
Pertama dan Kelas Eksperimen Kedua
No.
Statistik
1
2
3
4
5
Jumlah Sampel (N)
Rata-rata (Mean)
Standar Deviasi (S)
Lhitung
Ltabel
Kelas eksperimen
pertama
34
76,26
5,74
0,1277
0,152
Lo (Lhitung) < Lt (Ltabel)
Kelas eksperimen
kedua
34
69,12
4,46
0,1508
0,152
Lo (Lhitung) < Lt (Ltabel)
Berdistribusi normal
Berdistribusi normal
Kesimpulan
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan (α) = 0,05.
Dari tabel diatas diketahui bahwa Ltabel untuk kedua kelas sebesar
0,152. Pada kelas eksperimen didapat hasil Lhitung sebesar 0,1277
menunjukkan bahwa data kelas eksperimen pertama berdistribusi
normal, karena memenuhi criteria Lhitung < Ltabel (0,1277 < 0,152).
54
Sedangkan hasil Lhitung untuk kelas kontrol sebesar 0,1508
menunjukkan bahwa data kelas eksperimen kedua berdistribusi
normal, karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel (0,1508 < 0,152).
Hasil perhitungan uji normalitas kelas eksperimen dan kelas
kontrol disajikan dalam lampiran 8.
2) Uji Homogenitas
Setelah kedua sampel penelitian dinyatakan berdistribusi
normal, selanjutnya dilakukan pengujian homogenitas dengan uji
perbedaan varians dengan menggunakan Uji Fisher. Pengujian
homogenitas dilakukan dengan maksud untuk mengetahui apakah
sebaran data masing-masing kelas tidak menyimpang dari ciri-ciri
data yang berdistribusi homogen. Kriteria pengujian yang
dilakukan pada tingkat kepercayaan tertentu. Sampel akan
dinyatakan homogen apabila fhitung < ftabel. Berikut ini adalah hasil
dari perhitungan uji homogenitas, yaitu:
Tabel 4.4. Hasil Uji Homogenitas Data Hasil Belajar Kelas
Eksperimen Pertama dan Kelas Eksperimen Kedua
No.
1
2
3
4
Statistik
2
S eksperimen
S2kontrol
Fhitung
Ftabel
Kesinpulan
Nilai
32,91
19,93
1,65
1,77
Varians kedua
kelompok homogen
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95 %. Dari
tabel diatas didapatkan hasil ftabel sebesar 1,77, sedangkan hasil
fhitung sebesar 1,65. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui
bahwa kedua kelas berasal dari populasi yang homogen, karena
fhitung< ftabel. Hasil perhitungan uji homogenitas kelas eksperimen
pertama dan kelas eksperimen kedua disajikan dalam lampiran 9.
55
Berdasarkan hasil pengujian persyaratan analisis terhadap
data dari kedua kelas diatas, maka pengujian hipotesis dapat
dilakukan.
Pengujian
hipotesis
akan
dilakukan
dengan
menggunakan uji-t.
b. Pengujian Hipotesis Penelitian
Setelah dilakukan uji persyaratan, maka selanjutnya dilakukan
pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t. Pengujian dilakukan
untuk mengetahui adanya perbedaan antara skor tes akhir (posttest)
kelas eksperimen pertama dengan skor tes akhir kelas eksperimen
kedua. Hipotesis yang diajukan adalah:
Ho : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang
diberikan pembelajaran koopertaif tipe NHT dan TPS.
Ha : Terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang diberikan
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS.
Pengujian hipotesis tersebut akan diuji dengan menggunakan
rumus uji-t dengan kriteria pengujian sebagai berikut: jika harga thitung <
ttabel pada tingkat kepercayaan 0,05 maka Ho diterima, sedangkan jika
thitung > ttabel pada tingkat kepercayaan 0,05 maka Ha diterima. Berikut ini
adalah data hasil uji hipotesis, yaitu:
Tabel 4.5. Hasil Uji Hipotesis Data Hasil Belajar Kelas
Eksperimen Pertama dan Kelas Eksperimen Kedua
No.
Statistik
1
2
3
4
5
Jumlah Sampel (N)
Rata-rata (Mean)
Varians (S2)
thitung
ttabel
Kelas Eksperimen Kelas Eksperimen
Pertama
Kedua
34
34
76,26
69,12
32,91
19,93
5,724
1,99
Dari data hasil perhitungan, didapatkan thitung sebesar 5,724 dan
ttabel sebesar 1,99. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa thitung
56
ternyata memenuhi kriteria pengujian, yaitu thitung > ttabel. Dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Hal tersebut
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata skor
hasil belajar kelas yang diberikan pembelajaran kooperatif tipe NHT dan
TPS. Hasil perhitungan uji hipotesis kelas eksperimen pertama dan kelas
eksperimen kedua disajikan dalam lampiran 10.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMAN 3 Kota
Tangerang Selatan, diperoleh perhitungan rata-rata hasil belajar kelas XI IPA
6 (kelas eksperimen pertama) dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT sebesar 76,26 dan rata-rata hasil belajar kelas XI IPA 7
(kelas eksperimen kedua) dengan penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe TPS sebesar 69,12.
Setelah dilakukan pengolahan data secara statistik yaitu dengan
melakukan uji prasyarat yang terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas.
Kemudian dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t dan diperoleh
hasil thitung sebesar 5,724, sedangkan nilai ttabel sebesar 1,99. Berdasarkan data
tersebut dapat dinyatakan bahwa hasil thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil
belajar kimia siswa yang signifikan antara yang diberikan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT dan TPS pada pokok bahasan laju reaksi. Data hasil
perhitungan pengujian hipotesis (uji-t), sebagai berikut:
Tabel 4.6. Hasil Perhitungan Pengujian Hipotesis
Kelas
Eksperimen
Pertama
Eksperimen
Kedua
N
Mean
34
76,26
34
69,12
thitung
ttabel
Keputusan
5,724
1,99
Ho ditolak
57
Berdasarkan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, dapat dikatakan
bahwa penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe
NHT yang diterapkan pada kelas eksperimen pertama pada konsep laju reaksi
dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan penerapan
pembelajaran dengan model kooperatif tipe TPS yang diterapkan pada kelas
eksperimen kedua, sehingga dapat dikatakan bahwa perbedaan hasil belajar
yang signifikan dari kedua kelas tersebut merupakan efek dari perlakuan yang
telah dilakukan.
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan hasil
yang lebih baik dibandingkan pembelajaran kooperatif tipe TPS. Hal ini
terjadi karena dalam model pembelajaran kooperatif tipe NHT melibatkan
lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu
pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.1
NHT mengajarkan siswa untuk bekerja sama, bertanggung jawab terhadap
kelompok dan terhadap diri sendiri, sehingga siswa lebih termotivasi untuk
belajar dan aktif dalam proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran kelas eksperimen pertama
dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa dikelompokkan
dalam beberapa kelompok kecil dengan diberikan penomoran pada masingmasing anggota kelompok, melakukan praktikum dan pemanfaatan LKS.
Dengan kata lain, proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT sangat mengoptimalkan partisipasi siswa, sehingga siswa
lebih memahami materi pelajaran dan hasil belajar yang diperoleh pun akan
meningkat.
Pada tahap awal guru memberikan LKS kepada siswa. LKS ini disusun
secara sistematik agar dapat membantu siswa memahami konsep secara
mandiri dan melatih kemampuan berpikir siswa serta menambah pemahaman
serta penguasaan siswa terhadap suatu materi. Dalam LKS tersebut tidak
hanya berisi latihan soal, melainkan terdapat beberapa tahapan praktikum
mengenai materi laju reaksi yang harus dilakukan oleh siswa. Siswa
1
Muslim Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: University Press, 2000), h.6.
58
melaksanakan praktikum sesuai dengan tahapan yang telah diberikan dan
mendiskusikan hasil dari praktikum tersebut serta menjawab pertanyaanpertanyaan yang terdapat didalam LKS bersama dengan anggota kelompok
masing-masing.
Tahap selanjutnya adalah guru mengajukan pertanyaan yang terdapat
didalam LKS. Pada tahap ini guru memanggil nomor anggota kelompok
sesuai dengan nomor yang telah ditentukan diawal pertemuan, kemudian
siswa tersebut menjawab secara individu dan tidak boleh dibantu oleh anggota
lainnya. Dalam hal ini siswa dituntut untuk mengingat kembali apa yang telah
mereka pelajari bersama dengan kelompok masing-masing.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran kelas eksperimen kedua
dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS yang meliputi
pengajaran oleh guru berupa demonstrasi dan siswa dituntut untuk berpikir
secara individu mengenai materi pembelajaran yang akan diberikan sebelum
mereka berbagi dengan siswa lainnya untuk mengerjakan LKS. Pada tahap
awal guru mendemonstrasikan materi mengenai laju reaksi, sedangkan
masing-masing siswa mencatat dan memahami hasil dari demonstrasi tersebut.
Pada tahap selanjutnya diberikan LKS dan siswa saling berpasangpasangan untuk berdiskusi dan mengerjakan LKS tersebut. Setelah berhasil
menjawab pertanyaan yang terdapat di LKS, siswa saling berbagi dengan
siswa yang lainnya dan mendiskusikan hasil dari jawaban mereka. Pada proses
ini siswa menyamakan pengetahuan yang mereka dapatkan dari hasil diskusi
berpasangan. Masing-masing siswa dapat saling berbagi dan mengoreksi
pemahaman mereka terhadap materi laju reaksi.
Dengan tahap-tahap yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS siswa dilatih
untuk aktif berpikir, berdiskusi dan aktif dalam mengungkapkan ide yang
mereka miliki. Sedangkan guru hanya membimbing dan mengontrol jalannya
proses belajar agar berjalan lancar. Selain itu, pada pembelajaran kooperatif
siswa dirangsang berperan aktif untuk menciptakan situasi belajar yang
kondusif agar siswa termotivasi untuk menemukan pengetahuan dan
59
memahami
dengan
baik
materi pelajaran
yang diberikan sehingga
mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
Pada proses pembelajaran kooperatif tipe NHT tahap berdiskusi,
hampir seluruh kelompok melakukan diskusi dengan baik. Hal ini terjadi
karena masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab yang penuh
terhadap diri sendiri. Pada proses pembelajaran kooperatif tipe TPS tahap
saling berpasangan dan berbagi, hanya beberapa siswa yang melakukan
diskusi, sedangkan siswa yang lain cenderung melakukan keributan dan
mengobrol. Hal ini terjadi karena masing-masing siswa merasa telah
memahami materi yang diajarkan sehingga mereka tidak termotivasi untuk
saling berbagi dengan siswa yang lainnya. dan kelompoknya.
Pada pembelajaran NHT guru mengajukan pertanyaan dari LKS
kepada siswa dan meminta siswa untuk menjawab dengan memanggil nomor
yang telah ditentukan. Pemanggilan nomor ini dilakukan secara acak dan pada
saat menjawab siswa tersebut cara
tidak dibantu oleh anggota kelompok
lainnya, sehingga masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab karena
sewaktu-waktu nomor mereka akan dipanggil. Adanya tahap pemanggilan
nomor secara acak ini membuat proses diskusi kelompok tidak membosankan,
karena siswa akan mendapat tantangan pada saat nomor-nomor yang akan
menjawab pertanyaan disebutkan secara bergantian oleh guru. Selain itu,
tahap ini juga memberikan dampak yang positif terhadap keaktifan dan
keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok, serta membuat siswa semakin
termotivasi untuk belajar. Sedangkan dalam pembelajaran TPS, pada saat
guru mengajukan pertanyaan, siswa hanya menjawab dari hasil jawaban LKS
yang mereka kerjakan dan siswa lainnya pun boleh membantu siswa tersebut.
Hal ini membuat siswa kurang memiliki rasa tanggung jawab karena mereka
beranggapan teman yang lain dapat membantunya saat mereka mengalami
kesulitan pada saat menjawab pertanyaan.
Proses pembelajaran NHT yang terlebih dahulu memberi kesempatan
kepada siswa untuk berdiskusi bersama kelompok kemudian diakhir diskusi
dilakukan presentasi oleh masing-masing anggota kelompok tanpa bantuan
60
dari anggota lainnya memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap
pemahaman dan hasil belajar siswa dibandingkan dengan proses pembelajaran
TPS yang terlebih dahulu memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir
secara individu baru kemudian mereka saling berbagi dan berdiskusi dengan
siswa lainnya. Hal ini terjadi karena pada proses pembelajaran NHT siswa
dituntut untuk memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kelompok
dan diri sendiri. Sehingga, hasil belajar kimia siswa kelas eksperimen pertama
yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi
dibandingkan dengan hasil belajar kelas eksperimen kedua yang menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe TPS.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
perbandingan
penerapan
model
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS yang dilakukan di kelas XI IPA 6
(eksperimen pertama) dan kelas XI IPA 7 (eksperimen kedua) SMA Negeri 3
Kota Tangerang Selatan, diperoleh data dari perhitungan statistik uji hipotesis
dengan menggunakan uji-t didapatkan hasil thitung sebesar 5,724, sedangkan
nilai ttabel sebesar 1,99. Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa
hasil thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak.
Dari data yang telah disajikan, hasil belajar kelas eksperimen pertama
yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi
dibandingkan kelas eksperimen kedua yang menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS. Hal ini menunjukkan bahwa kerja kelompok yang
dilaksanakan dalam tipe NHT lebih banyak memberikan kesempatan kepada
siswa untuk saling membagikan ide dan mempertimbangkan jawaban yang
tepat, sehingga siswa akan lebih memahami materi pelajaran yang diberikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan
pada hasil belajar kimia siswa antara yang diberikan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT dan TPS.
B. Saran
Pada kesempatan ini, penulis ingin memberikan sedikit saran demi
keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah, khususnya pada mata
pelajaran kimia:
1. Guru harus memperhatikan dan membimbing siswa dalam pelaksanaan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS agar hambatanhambatan yang sering muncul dalam proses pembelajaran dapat
terpantau.
61
62
2. Gunakan model belajar yang lebih inovatif agar siswa tertarik dan
termotivasi untuk belajar, sehingga hasil belajar yang diperoleh baik.
DAFTAR PUSTAKA
A Slavin, Robert. 2010. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik,
Bandung: Nusa Media.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.
Jakarta: Rineka.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan, Jakarta: Bumi
Aksara.
Carbone, Elisa. 1998. Teaching Large Classes Tools and Strategies. California:
Sage Publication. http://www.uk.sagepub.com/booksProdDesc.nav.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
Dwi Kusumojanto, Djoko. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model
Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat Manajemen Perkantoran Kelas X
APK di SMK Ardjuna 01 Malang, Jurnal Penelitian Pendidikan, tahun 19,
nomor 1, April 2009.
Fathurrohman, Pupuh. 2009, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Refika
Aditama,.
Ghaith, Ghazi. 2003. Effects of the Learning Together Model of Cooperative
Learning on English as a Foreign Language Reading Achievement,
Academic Self-Esteem, and Feelings of School Alienation. American
University of Beirut. http://www.informaworld.com/smpp/content.htm.
Bilingual Research Journal, 27:3 Fall 2003.
Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar. 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem, Jakarta: Bumi Aksara.
Ibrahim, Muslimin. 2001. Pembelajaran Kooperatif, Pusat Sains dan Matematika
Sekolah Program Pasca Sarjana UNESA, Surabaya: University Press.
Isjoni. 2007. Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar
Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Jacobs, Geoge and Stephen Hall. 1994. Implementing Cooperative Learning.
Regional Language Centre, Singapore. English Teaching Forum, October
1994. Diakses dari www.singaporeedu.gov.sg/id/htm/index.htm.
63
64
Lie, Anita. 2007. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas.
Jakarta: Grasindo.
Kagan, Spencer. 1999. Cooperative Learning: Seventeen Pros and Seventeen
Cons plus Ten Tips for Success. Kagan Online Magazine. Diakses dari
http://www.kaganonline.com/KaganClub/FreeArticles.html
Kay Yopp, Hallie. 2009. VocabularyInstruction for Academic Success. USA:
Shell Education.
M Daniels, Karen. 2005. Cooperative Learning Structures for English Foreign
Language Classrooms. Faculty of Regional Development Studies Tokyo
University. Japan: Journal of Tourism Studies.
Maheady, Larry et al. 2006. The Effects of Numbered Heads Together with and
Without an Incentive Package on the Science Test Performance of a
Diverse Group of Sixth Graders. Journal of Behavioral Education, Vol. 15,
No. 1, March 2006.
Marini Turnip, Betty. 2007. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatuf ThinkPair-Share Pada Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa SMP, Jurnal Pendidikan Mat & Sains, vol. 2(2).
P. Wasowski, Richard. 2009. CliffsNotes on Nicholas Sparks’ The Notebook
Teacher’s Guide, USA: Wiley Publishing Inc.
Purwanto, Ngalim, 2007, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya.
Sofyan, Ahmad dkk. 2006. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi,
Jakarta: UIN Jakarta Press.
Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia SMA dan MA. 2003. Departemen
Pendidikan Nasional.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika, Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Suhar dkk. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas I-B SMPN 5
Kendari Melalui Model Kooperatif Tipe Think-Pair-Share, 2006.
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin, 2010, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung:
Rosdakarya.
65
Syaodih, Nana. 2008. Metode Penenlitian Pendidikan, Bandung: Rosdakarya.
Tiya, Kadir dan Mustamin Anggo, Meningkatkan Penguasaan Konsep
Matematika Pokok Bahasan Statistika Dengan Model Pembelajaran.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Jakarta:
Kencana.
Trianto. 2007. Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan
Nasional.
Diakses
dari
www.inherentdikti.net/files/sisdiknas.pdf.
Zulfiani, dkk., 2009, Strategi Pembelajaran Sains, Jakarta: Lembaga Penelitian
UIN Jakarta.
Zuriah, Nurul, 2007, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi.
Jakarta: Bumi Aksara.
66
LAMPIRAN 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu
Pertemuan
: SMAN Negeri 3 Tangerang Selatan
: Kimia
: XI/1
: 2 jam pelajaran (2 x 45 menit)
:1
A. Standar Kompetensi
: 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
: 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
C. Indikator
:
1. Menentukan kemolaran larutan
2. Menjelaskan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
D. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menentukan kemolaran larutan.
2. Siswa dapat menjelaskan pengertian laju reaksi.
3. Siswa dapat menentukan nilai laju reaksi.
4. Siswa dapat menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju
reaksi.
E. Materi Pembelajaran
: Laju Reaksi
Laju Reaksi
Berdasarkan
Kemolaran
Konsentrasi
Faktor yang
mempengaruhi
Luas
Permukaan
Suhu
mempengaruhi
Tetapan Laju Reaksi
Katalis
67
F. Metode Pembelajaran :
1. Model
: Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together
2. Metode
: Diskusi, tanya jawab, praktikum
G. Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah
:
Kegiatan
Awal
-
Aktivitas Guru
Guru mengkondisikan kelas
Guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
-
Guru
memberikan
apersepsi kepada siswa tentang laju reaksi
dengan
memberikan
contoh
perbandingan
waktu
antara
terjadinya proses besi berkarat dengan proses ledakan bom.
-
Guru menjelaskan setting model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Head Together.
Inti
Penomoran
- Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggota 3-5 orang
dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1
sampai 5.
- Guru meminta setiap anggota mengingat nomor yang telah
diberikan.
Mengajukan Pertanyaan
- Guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing
kelompok NHT yang berisi
langkah-langkah untuk melakukan
praktikum tentang kemolaran dan
pengaruh
faktor
konsentrasi
terhadap laju reaksi.
- Guru
menginstruksikan
tiap
kelompok
NHT
untuk
mempersiapkan bahan dan alat
untuk praktikum.
- Guru menginstruksikan siswa
untuk
melakukan
praktikum
Aktivitas Siswa
Siswa mengkondisikan diri
Siswa memperhatikan tujuan
pembelajaran yang disampaikan
oleh guru .
Siswa
memperhatikan
penjelasan
guru
mengenai
proses besi berkarat dan proses
ledakan bom.
Siswa memberikan perbedaan
yang terjadi antara proses besi
berkarat dan proses ledakan
bom.
Siswa
memperhatikan
penjelasan guru tentang setting
model pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Head Together.
Waktu
15 menit
70 menit
Siswa
mendengarkan
pembagian kelompok oleh guru.
Siswa mengelompokkan diri
sesuai
dengan
pembagian
kelompok yang diberikan.
Setiap anggota kelompok harus
mengingat nomor yang telah
diberikan.
Siswa mempersiapkan alat dan
bahan untuk praktikum tentang
kemolaran dan faktor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi,
seperti:
 Na2S2O3
 HCl
 NaCl
 Aquades
 Gelas kimia 100 mL
 Gelas ukur
 Labu ukur 50 mL
68
-
tentang kemolaran dan pengaruh
faktor konsentrasi terhadap laju
reaksi.
Guru membantu siswa melakukan
praktikum.
-
-
-
 Spatula
 Kertas putih ukuran 15 x 15
cm
 Stopwatch
Siswa melakukan praktikum
tentang kemolaran
Siswa melakukan praktikum
tentang pengaruh konsentrasi
terhadap laju reaksi
Masing-masing kelompok NHT
mempelajari
pertanyaan
mengenai
kemolaran
dan
pengaruh faktor konsentrasi
terhadap laju reaksi.
Guru memberikan pertanyaan
berupa lembar kerja siswa yang
meliputi
materi
hasil
dari
praktikum
kemolaran
dan
pengaruh
faktor
konsentrasi
terhadap laju reaksi kepada
masing-masing kelompok NHT.
Berpikir Bersama
- Guru memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok
NHT untuk berdiskusi dan
berpikir bersama untuk menjawab
pertanyaan yang meliputi hasil
dari praktikum kemolaran dan
pengaruh
faktor
konsentrasi
terhadap laju reaksi yang terdapat
di dalam lembar kerja siswa.
- Guru
memberikan
instruksi
kepada kelompok NHT agar
memastikan setiap anggotanya
mengerti dengan materi yang
diberikan dan mampu menjawab
pertanyaan yang terdapat dalam
lembar kerja siswa.
Menjawab
Guru memanggil salah satu nomor dan mempersilahkan siswa
dengan nomor tersebut pada
masing-masing kelompok NHT
mempresentasikan
jawaban
lembar kerja siswa yang telah
diperoleh untuk seluruh kelas.
Siswa berdiskusi dan berpikir
bersama
untuk
menjawab
pertanyaan mengenai hasil
praktikum
kemolaran
dan
pengaruh faktor konsentrasi
terhadap laju reaksi yang
terdapat di dalam lembar kerja
siswa.
Anggota
kelompok
pada
masing-masing kelompok NHT
yang
nomornya
dipanggil
diminta
untuk
mempresentasikan
jawaban
lembar kerja siswa yang telah
diperoleh, sedangkan yang lain
memperhatikan dan mengoreksi
69
jawaban yang diberikan.
Akhir
-
-
Guru menginstruksikan kepada
anggota kelompok NHT yang lain
untuk tidak membantu anggota
yang nomornya dipanggil untuk
mempresentasikan jawaban.
Guru meminta siswa untuk memberikan kesimpulan dari
materi yang telah diberikan.
Guru menginstruksikan kelompok NHT untuk mempelajari pengaruh
faktor suhu dan katalis terhadap
laju reaksi untuk pertemuan
berikutnya.
H. Penilaian
1. Jenis tagihan
2. Bentuk instrument
Siswa memberikan kesimpulan
kepada seluruh kelas:
1. Molaritas
(kemolaran)
adalah satuan konsentrasi
larutan yang menyatakan
banyaknya mol zat terlarut
dalam 1 liter larutan.
2. Pengaruh faktor konsentrasi
terhadap laju reaksi adalah
semakin banyak konsentrasi
yang terlibat dalam sebuah
reaksi kimia maka semakin
cepat laju reaksinya.
Siswa memperhatikan instruksi
yang diberikan oleh guru.
: Latihan soal
: Tes tertulis berbentuk uraian
I. Sumber Belajar
1. Buku Kimia Kelas XI Semester I
2. LKS
J. Media Pembelajaran
: Papan Tulis, Spidol,
Alat dan bahan praktikum:
- Na2S2O3
- gelas kimia 100 mL
- HCl
- gelas ukur
- NaCl
- labu ukur 50 mL
- Aquades
- spatula
- Stopwatch
- Kertas putih ukuran 15 x 15 cm
5 menit
70
Pamulang,
November 2010
Guru Mata Pelajaran
Peneliti
Dewi Marhelly, S.Pd
Muzalifah
71
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu
Pertemuan
: SMAN Negeri 3 Tangerang Selatan
: Kimia
: XI/1
: 3 jam pelajaran (3 x 45 menit)
:2
A. Standar Kompetensi
: 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
: 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
C. Indikator
:
1. Menentukan kemolaran larutan
2. Menjelaskan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
D. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menentukan kemolaran larutan.
2. Siswa dapat menjelaskan pengertian laju reaksi.
3. Siswa dapat menentukan nilai laju reaksi.
4. Siswa dapat menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju
reaksi.
E. Materi Pembelajaran
: Laju Reaksi
Laju Reaksi
Berdasarkan
Kemolaran
Konsentrasi
Faktor yang
mempengaruhi
Luas
Permukaan
Suhu
mempengaruhi
Tetapan Laju Reaksi
Katalis
72
F. Motode Pembelajaran :
1. Model
: Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together
2. Metode
: Diskusi, tanya jawab, praktikum
G. Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah
:
Kegiatan
Awal
-
Aktivitas Guru
Guru mengkondisikan kelas
Guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
-
Guru menjelaskan setting model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Head Together.
Inti
Penomoran
- Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggota 3-5 orang
dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1
sampai 5.
- Guru meminta setiap anggota mengingat nomor yang telah
diberikan.
Mengajukan Pertanyaan
- Guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing
kelompok NHT yang berisi
langkah-langkah untuk melakukan
praktikum tentang pengaruh faktor
suhu dan katalis terhadap laju
reaksi.
- Guru
menginstruksikan
tiap
kelompok
NHT
untuk
mempersiapkan bahan dan alat
untuk praktikum.
- Guru menginstruksikan siswa
untuk
melakukan
praktikum
tentang pengaruh faktor suhu dan
katalis konsentrasi terhadap laju
reaksi.
-
Guru membantu siswa melakukan praktikum.
-
Aktivitas Siswa
Siswa mengkondisikan diri
Siswa memperhatikan tujuan
pembelajaran yang disampaikan
oleh guru .
Siswa
memperhatikan
penjelasan guru tentang setting
model pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Head Together.
Waktu
15 menit
115 menit
Siswa
mendengarkan
pembagian kelompok oleh guru.
Siswa mengelompokkan diri
sesuai
dengan
pembagian
kelompok yang diberikan.
Setiap anggota kelompok harus
mengingat nomor yang telah
diberikan.
Siswa mempersiapkan alat dan
bahan untuk praktikum tentang
kemolaran dan faktor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi,
seperti:
 Logam seng
 Es batu
 HCl
 Abu rokok
 Gula
 Gelas kimia 100 mL
 Thermometer
 Penangas air
 Alas logam
 Korek api
 Stopwatch
Siswa melakukan praktikum
tentang pengaruh faktor suhu
terhadap laju reaksi.
Siswa melakukan praktikum
tentang pengaruh faktor katalis
terhadap laju reaksi
73
-
-
Guru memberikan pertanyaan
berupa lembar kerja siswa yang
meliputi
materi
hasil
dari
praktikum pengaruh faktor suhu
dan katalis terhadap laju reaksi
kepada masing-masing kelompok
NHT.
Berpikir Bersama
- Guru memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok
NHT untuk berdiskusi dan
berpikir bersama untuk menjawab
pertanyaan yang meliputi hasil
dari praktikum pengaruh faktor
suhu dan katalis terhadap laju
reaksi yang terdapat di dalam
lembar kerja siswa.
- Guru
memberikan
instruksi
kepada kelompok NHT agar
memastikan setiap anggotanya
mengerti dengan materi yang
diberikan dan mampu menjawab
pertanyaan yang terdapat dalam
lembar kerja siswa.
Menjawab
Guru memanggil salah satu nomor dan mempersilahkan siswa
dengan nomor tersebut pada
masing-masing kelompok NHT
mempresentasikan
jawaban
lembar kerja siswa yang telah
diperoleh untuk seluruh kelas.
-
Akhir
-
Masing-masing kelompok NHT
mempelajari
pertanyaan
mengenai pengaruh faktor suhu
dan katalis terhadap laju reaksi.
Guru menginstruksikan kepada
anggota kelompok NHT yang lain
untuk tidak membantu anggota
yang nomornya dipanggil untuk
mempresentasikan jawaban.
Guru meminta siswa untuk memberikan kesimpulan dari
materi yang telah diberikan.
Siswa berdiskusi dan berpikir
bersama
untuk
menjawab
pertanyaan mengenai hasil
praktikum pengaruh faktor suhu
dan katalis terhadap laju reaksi
yang terdapat di dalam lembar
kerja siswa.
Anggota
kelompok
pada
masing-masing kelompok NHT
yang
nomornya
dipanggil
diminta
untuk
mempresentasikan
jawaban
lembar kerja siswa yang telah
diperoleh, sedangkan yang lain
memperhatikan dan mengoreksi
jawaban yang diberikan.
Siswa memberikan kesimpulan
kepada seluruh kelas:
1. Pengaruh
faktor
suhu
terhadap laju reaksi adalah
semakin tinggi suhu pada
5 menit
74
suatu reaksi kimia maka
semakin
cepat
laju
reaksinya.
2. Pengaruh faktor katalis
terhadap laju reaksi adalah
katalis
mampu
mempercepat laju reaksi
suatu reaksi kimia dan
dalam hasil reaksi katalis
terbentuk kembali.
-
Guru menginstruksikan kelompok
NHT untuk mempelajari pengaruh
faktor luas permukaan terhadap
laju reaksi untuk pertemuan
berikutnya.
H. Penilaian
1. Jenis tagihan
2. Bentuk instrument
: Latihan soal
: Tes tertulis berbentuk uraian
I. Sumber Belajar
1. Buku Kimia Kelas XI Semester I
2. LKS
J. Media Pembelajaran
: Papan Tulis, Spidol
Alat dan bahan praktikum:
- Logam seng
- Es batu
- HCl
- Abu rokok
- Gula
- Gelas kimia 100 mL
- Thermometer
- Penangas air
- Alas logam
- Korek api
- Stopwatch
75
Pamulang,
November 2010
Guru Mata Pelajaran
Peneliti
Dewi Marhelly, S.Pd
Muzalifah
76
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu
Pertemuan
: SMAN Negeri 3 Tangerang Selatan
: Kimia
: XI/1
: 2 jam pelajaran (2 x 45 menit)
:3
A. Standar Kompetensi
: 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
: 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
C. Indikator
:
1. Menentukan kemolaran larutan
2. Menjelaskan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
D. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menentukan kemolaran larutan.
2. Siswa dapat menjelaskan pengertian laju reaksi.
3. Siswa dapat menentukan nilai laju reaksi.
4. Siswa dapat menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju
reaksi.
E. Materi Pembelajaran
: Laju Reaksi
Laju Reaksi
Berdasarkan
Kemolaran
Konsentrasi
Faktor yang
mempengaruhi
Luas
Permukaan
Suhu
mempengaruhi
Tetapan Laju Reaksi
Katalis
77
F. Motode Pembelajaran :
1.
Model
: Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head
Together
2.
Metode : Diskusi, tanya jawab, praktikum
G. Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah
:
Kegiatan
Awal
-
Aktivitas Guru
Guru mengkondisikan kelas
Guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
-
Guru menjelaskan setting model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Head Together.
Inti
Penomoran
- Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggota 3-5 orang
dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1
sampai 5.
- Guru meminta setiap anggota mengingat nomor yang telah
diberikan.
Mengajukan Pertanyaan
- Guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing
kelompok NHT yang berisi
langkah-langkah untuk melakukan
praktikum tentang pengaruh faktor
luas permukaan terhadap laju
reaksi.
- Guru
menginstruksikan
tiap
kelompok
NHT
untuk
mempersiapkan bahan dan alat
untuk praktikum.
-
-
Guru menginstruksikan siswa
untuk
melakukan
praktikum
tentang pengaruh faktor luas permukaan terhadap laju reaksi.
Guru membantu siswa melakukan
praktikum.
-
Aktivitas Siswa
Siswa mengkondisikan diri
Siswa memperhatikan tujuan
pembelajaran yang disampaikan
oleh guru .
Siswa
memperhatikan
penjelasan guru tentang setting
model pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Head Together.
Waktu
15 menit
40 menit
Siswa
mendengarkan
pembagian kelompok oleh guru.
Siswa mengelompokkan diri
sesuai
dengan
pembagian
kelompok yang diberikan.
Setiap anggota kelompok harus
mengingat nomor yang telah
diberikan.
Siswa mempersiapkan alat dan
bahan untuk praktikum tentang
pengaruh faktor luas permukaan
laju reaksi, seperti:
 Garam balok
 Garam halus
 Garam Kristal
 Aquades
 Gelas kimia 100 mL
 spatula
 Stopwatch
Siswa melakukan praktikum
tentang pengaruh faktor suhu
terhadap laju reaksi.
Siswa melakukan praktikum
tentang pengaruh faktor katalis
terhadap laju reaksi
Masing-masing kelompok NHT
mempelajari
pertanyaan
mengenai pengaruh faktor suhu
dan katalis terhadap laju reaksi.
78
-
Guru memberikan pertanyaan
berupa lembar kerja siswa yang
meliputi
materi
hasil
dari
praktikum pengaruh faktor luas
permukaan terhadap laju reaksi
kepada masing-masing kelompok
NHT.
Berpikir Bersama
- Guru memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok
NHT untuk berdiskusi dan
berpikir bersama untuk menjawab
pertanyaan yang meliputi hasil
dari praktikum pengaruh faktor
luas permukaan terhadap laju
reaksi yang terdapat di dalam
lembar kerja siswa.
- Guru
memberikan
instruksi
kepada kelompok NHT agar
memastikan setiap anggotanya
mengerti dengan materi yang
diberikan dan mampu menjawab
pertanyaan yang terdapat dalam
lembar kerja siswa.
Menjawab
Guru memanggil salah satu nomor dan mempersilahkan siswa
dengan nomor tersebut pada
masing-masing kelompok NHT
mempresentasikan
jawaban
lembar kerja siswa yang telah
diperoleh untuk seluruh kelas.
-
Akhir
-
-
Guru menginstruksikan kepada
anggota kelompok NHT yang lain
untuk tidak membantu anggota
yang nomornya dipanggil untuk
mempresentasikan jawaban.
Guru meminta siswa untuk memberikan kesimpulan dari
materi yang telah diberikan
mengenai pengaruh faktor kuas
permukaan terhadap laju rekasi.
Guru
meminta
siswa
untuk -
Siswa berdiskusi dan berpikir
bersama
untuk
menjawab
pertanyaan mengenai hasil
praktikum pengaruh faktor luas
permukaan terhadap laju reaksi
yang terdapat di dalam lembar
kerja siswa.
Anggota
kelompok
pada
masing-masing kelompok NHT
yang
nomornya
dipanggil
diminta
untuk
mempresentasikan
jawaban
lembar kerja siswa yang telah
diperoleh, sedangkan yang lain
memperhatikan dan mengoreksi
jawaban yang diberikan.
Siswa memberikan kesimpulan
kepada seluruh kelas:
Pengaruh
faktor
luas
permukaan laju reaksi adalah
semakin luas permukaan zat
yang terlibat dalam suatu reaksi
kimia maka semakin cepat laju
reaksinya.
Siswa memberikan kesimpulan
35 menit
79
memberikan
kesimpulan
mengenai materi kemolaran, laju
reaksi dan faktor-faktor yang
mempengaruhi laju rekasi yang
telah diberikan sebelumnya.
kepada seluruh kelas:
1. Molaritas
(kemolaran)
adalah satuan konsentrasi
larutan yang menyatakan
banyaknya mol zat terlarut
dalam 1 liter larutan.
2. Laju reaksi menyatakan
laju perubahan konsentrasi
zat yang terlibat dalam
reaksi setiap satuan waktu.
3. Faktor-faktor
yang
mempengaruhi laju reaksi
adalah konsentrasi, suhu,
luas permukaan dan katalis.
H. Penilaian
1. Jenis tagihan
: Latihan soal
2. Bentuk instrument
: Tes tertulis berbentuk uraian
I. Sumber Belajar
1. Buku Kimia Kelas XI Semester I
2. Lembar LKS
J. Media Pembelajaran
: Papan Tulis, Spidol
Alat dan bahan praktikum:
- Garam balok
- gelas kimia 100 mL
- Garam halus
- saptula
- Garam Kristal
- Stopwatch
- Aquades
Pamulang,
November 2010
Guru Mata Pelajaran
Peneliti
Dewi Marhelly, S.Pd
Muzalifah
80
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu
Pertemuan
: SMAN Negeri 3 Tangerang Selatan
: Kimia
: XI/1
: 2 jam pelajaran (2 x 45 menit)
:1
A. Standar Kompetensi
: 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
: 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
C. Indikator
:
1. Menentukan kemolaran larutan
2. Menjelaskan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
D. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menentukan kemolaran larutan.
2. Siswa dapat menjelaskan pengertian laju reaksi.
3. Siswa dapat menentukan nilai laju reaksi.
4. Siswa dapat menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju
reaksi.
E. Materi Pembelajaran
: Laju Reaksi
Laju Reaksi
Berdasarkan
Kemolaran
Konsentrasi
Faktor yang
mempengaruhi
Luas
Permukaan
Suhu
mempengaruhi
Tetapan Laju Reaksi
Katalis
81
F. Metode Pembelajaran :
1. Model
: Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
2. Metode
: Diskusi, tanya jawab, demonstrasi
G. Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah
:
Kegiatan
Awal
-
Aktivitas Guru
Guru mengkondisikan kelas
Guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
-
Guru
memberikan
apersepsi kepada siswa tentang laju reaksi
dengan
memberikan
contoh
perbandingan
waktu
antara terjadinya proses besi berkarat dan
proses ledakan bom.
Guru menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe
Think Pair Share.
-
Inti
Berpikir
- Guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing siswa
yang
berisi
langkah-langkah
demonstrasi
dan
pertanyaan mengenai kemolaran dan pengaruh
faktor konsentrasi terhadap laju
reaksi.
- Guru
melakukan
demonstrasi
pembuatan
larutan
untuk
menentukan molaritas.
- Guru
melakukan
demonstrasi
pengaruh konsentrasi terhadap laju
reaksi.
- Guru meminta siswa mencatat hasil pengamatan dari demonstrasi yang
telah dilakukan dan menjawab
pertanyaan pada lembar kerja
siswa.
Aktivitas Siswa
Waktu
Siswa mengkondisikan diri
15 menit
Siswa memperhatikan tujuan
pembelajaran yang disampaikan
oleh guru .
Siswa memperhatikan penjelasan
guru mengenai proses besi
berkarat dan proses ledakan bom.
Siswa memberikan perbedaan
yang terjadi antara proses besi
berkarat dan proses ledakan bom.
Siswa memperhatikan penjelasan
guru tentang langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif
tipe Think Pair Share.
70 menit
Siswa
memperhatikan
demonstrasi pembuatan larutan
untuk menentukan molaritas.
Siswa
memperhatikan
demonstrasi pengaruh konsentrasi
terhadap laju reaksi.
Siswa mencatat hasil demonstrasi
yang dilakukan dan menjawab
pertanyaan yang terdapat pada
lembar kerja siswa secara
individu.
Berpasangan
-
Guru meminta siswa berpasang- - Siswa
berpasang-pasangan
pasangan dengan siswa lainnya,
dengan siswa lainnya (teman
kemudian
mereka
saling
sebangku)
dan
saling
berdiskusi tentang jawaban dari
mendiskusikan jawaban yang
pertanyaan
dari
soal-soal
telah mereka peroleh masing-
82
mengenai hasil pengamatan
demonstrasi
yang
terdapat
dalam lembar kerja siswa.
Berbagi
Guru meminta masing-masing pasangan untuk berbagi satu
sama lain tentang jawaban hasil
diskusi mereka mengenai materi
kemolaran dan pengaruh faktor
konsentrasi terhadap laju reaksi.
-
Akhir
-
Guru mengendalikan suasana
kelas
agar
diskusi
yang
dilakukan mencapai tujuan yang
diinginkan.
-
Guru meminta siswa untuk memberikan
kesimpulan
dari
materi yang telah diberikan.
-
Guru menginstruksikan siswa untuk mempelajari pengaruh faktor
suhu dan katalis terhadap laju
reaksi untuk pertemuan berikutnya.
H. Penilaian
1. Jenis tagihan
2. Bentuk instrument
masing.
Masing-masing
pasangan
saling berbagi tentang hasil
diskusi mereka mengenai
materi
kemolaran
dan
pengaruh faktor konsentrasi
terhadap laju reaksi ke seluruh
kelas.
Siswa memberikan kesimpulan 5 menit
kepada seluruh kelas:
1. Molaritas (kemolaran) adalah
satuan konsentrasi larutan
yang menyatakan banyaknya
mol zat terlarut dalam 1 liter
larutan.
2. Pengaruh faktor konsentrasi
terhadap laju reaksi adalah
semakin banyak konsentrasi
yang terlibat dalam sebuah
reaksi kimia maka semakin
cepat laju reaksinya.
Siswa memperhatikan instruksi
yang diberikan oleh guru.
: Latihan soal
: Tes tertulis berbentuk uraian
I. Sumber Belajar
1. Buku Kimia Kelas XI Semester I
2. Lembar LKS
J. Media Pembelajaran
: Papan Tulis, Spidol,
Alat dan bahan demonstrasi:
- Na2S2O3
- gelas kimia 100 mL
- HCl
- gelas ukur
83
-
-
NaCl
- labu ukur 50 mL
Aquades
- spatula
Stopwatch
Kertas putih ukuran 15 x 15 cm
Pamulang,
November 2010
Guru Mata Pelajaran
Peneliti
Dewi Marhelly, S.Pd
Muzalifah
84
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu
Pertemuan
: SMAN Negeri 3 Tangerang Selatan
: Kimia
: XI/1
: 3 jam pelajaran (3 x 45 menit)
:2
A. Standar Kompetensi
: 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
: 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
C. Indikator
:
1. Menentukan kemolaran larutan
2. Menjelaskan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
D. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menentukan kemolaran larutan.
2. Siswa dapat menjelaskan pengertian laju reaksi.
3. Siswa dapat menentukan nilai laju reaksi.
4. Siswa dapat menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju
reaksi.
E. Materi Pembelajaran
: Laju Reaksi
Laju Reaksi
Berdasarkan
Kemolaran
Konsentrasi
Faktor yang
mempengaruhi
Luas
Permukaan
Suhu
mempengaruhi
Tetapan Laju Reaksi
Katalis
85
F. Motode Pembelajaran :
1. Model
: Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
2. Metode
: Diskusi, tanya jawab, demonstrasi
G. Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah
:
Kegiatan
Awal
-
Aktivitas Guru
Guru mengkondisikan kelas
Guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
-
Guru menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe
Think Pair Share.
Inti
Berpikir
- Guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing siswa
yang
berisi
langkah-langkah
demonstrasi
dan
pertanyaan mengenai pengaruh faktor suhu dan
katalis terhadap laju reaksi.
- Guru
melakukan
demonstrasi
pengaruh faktor suhu terhadap laju
reaksi
- Guru
melakukan
demonstrasi
pengaruh faktor katalis terhadap
laju reaksi.
- Guru meminta siswa mencatat hasil pengamatan dari demonstrasi yang
telah dilakukan dan menjawab
pertanyaan pada lembar kerja
siswa.
Aktivitas Siswa
Waktu
Siswa mengkondisikan diri
15 menit
Siswa memperhatikan tujuan
pembelajaran yang disampaikan
oleh guru .
Siswa memperhatikan penjelasan
guru tentang langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif
tipe Think Pair Share.
115
Siswa
memperhatikan menit
demonstrasi pengaruh faktor suhu
terhadap laju reaksi.
Siswa
memperhatikan
demonstrasi pengaruh faktor
katalis terhadap laju reaksi.
Siswa mencatat hasil demonstrasi
yang dilakukan dan menjawab
pertanyaan yang terdapat pada
lembar kerja siswa secara
individu.
Berpasangan
-
Guru meminta siswa berpasang- - Siswa
berpasang-pasangan
pasangan dengan siswa lainnya,
dengan siswa lainnya (teman
kemudian
mereka
saling
sebangku)
dan
saling
berdiskusi tentang jawaban
mendiskusikan jawaban yang
pertanyaan
dari
soal-soal
telah mereka peroleh masingmengenai hasil pengamatan
masing.
demonstrasi
yang
terdapat
dalam lembar kerja siswa.
86
Berbagi
Guru meminta masing-masing pasangan untuk berbagi satu
sama lain tentang jawaban hasil
diskusi mereka mengenai materi
pengaruh faktor suhu dan katalis
terhadap laju reaksi.
-
Akhir
-
Guru mengendalikan suasana
kelas
agar
diskusi
yang
dilakukan mencapai tujuan yang
diinginkan.
-
Guru meminta siswa untuk memberikan
kesimpulan
dari
materi yang telah diberikan.
-
Guru menginstruksikan siswa untuk mempelajari pengaruh faktor
luas permukan terhadap laju reaksi
untuk pertemuan berikutnya.
Masing-masing
pasangan
saling berbagi tentang hasil
diskusi mereka mengenai
materi pengaruh faktor suhu
dan katalis terhadap laju reaksi
ke seluruh kelas.
Siswa memberikan kesimpulan 5 menit
kepada seluruh kelas:
1. Pengaruh
faktor
suhu
terhadap laju reaksi adalah
semakin tinggi suhu pada
suatu reaksi kimia maka
semakin cepat laju reaksinya.
2. Pengaruh
faktor
katalis
terhadap laju reaksi adalah
katalis mampu mempercepat
laju reaksi suatu reaksi kimia
dan dalam hasil reaksi katalis
terbentuk kembali.
Siswa memperhatikan instruksi
yang diberikan oleh guru.
H. Penilaian
1. Jenis tagihan : Latihan soal
2. Bentuk instrument : Tes tertulis berbentuk uraian
I. Sumber Belajar
1. Buku Kimia Kelas XII Semester I
2. Lembar LKS
J. Media Pembelajaran
: Papan Tulis, Spidol
Alat dan bahan demonstrasi:
-
Logam seng
Es batu
HCl
Abu rokok
Gula
Gelas kimia 100 mL
- termometer
- penangas air
- alas logam
- korek api
- Stopwatch
87
Pamulang,
Guru Mata Pelajaran
Dewi Marhelly, S.Pd
November 2010
Peneliti
Muzalifah
88
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu
Pertemuan
: SMAN Negeri 3 Tangerang Selatan
: Kimia
: XI/1
: 2 jam pelajaran (2 x 45 menit)
:3
A. Standar Kompetensi
: 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
: 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
C. Indikator
:
1. Menentukan kemolaran larutan
2. Menjelaskan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
D. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menentukan kemolaran larutan.
2. Siswa dapat menjelaskan pengertian laju reaksi.
3. Siswa dapat menentukan nilai laju reaksi.
4. Siswa dapat menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju
reaksi.
E. Materi Pembelajaran
: Laju Reaksi
Laju Reaksi
Berdasarkan
Kemolaran
Konsentrasi
Faktor yang
mempengaruhi
Luas
Permukaan
Suhu
mempengaruhi
Tetapan Laju Reaksi
Katalis
89
F. Motode Pembelajaran :
1. Model
: Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
2. Metode
: Diskusi, tanya jawab, demonstrasi
G. Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah
:
Kegiatan
Awal
-
Aktivitas Guru
Guru mengkondisikan kelas
Guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
-
Guru menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe
Think Pair Share.
Inti
Berpikir
- Guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing siswa
yang
berisi
langkah-langkah
demonstrasi
dan
pertanyaan
mengenai pengaruh faktor luas
permukaan terhadap laju reaksi.
- Guru
melakukan
demonstrasi
pengaruh faktor luas permukaan
terhadap laju reaksi.
- Guru meminta siswa mencatat hasil pengamatan dari demonstrasi yang
telah dilakukan dan menjawab
pertanyaan pada lembar kerja
siswa.
Aktivitas Siswa
Waktu
Siswa mengkondisikan diri
15 menit
Siswa memperhatikan tujuan
pembelajaran yang disampaikan
oleh guru .
Siswa memperhatikan penjelasan
guru tentang langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif
tipe Think Pair Share.
40 menit
Siswa
memperhatikan
demonstrasi pengaruh faktor luas
permukaan terhadap laju reaksi.
Siswa mencatat hasil demonstrasi
yang dilakukan dan menjawab
pertanyaan yang terdapat pada
lembar kerja siswa secara
individu.
Berpasangan
-
Guru meminta siswa berpasang- - Siswa
berpasang-pasangan
pasangan dengan siswa lainnya,
dengan siswa lainnya (teman
kemudian
mereka
saling
sebangku)
dan
saling
berdiskusi tentang jawaban
mendiskusikan jawaban yang
pertanyaan
dari
soal-soal
telah mereka peroleh masingmengenai hasil pengamatan
masing.
demonstrasi
yang
terdapat
dalam lembar kerja siswa.
Berbagi
- Guru meminta masing-masing pasangan untuk berbagi satu
sama lain tentang jawaban hasil
diskusi mereka mengenai materi
pengaruh faktor luas permukaan
Masing-masing
pasangan
saling berbagi tentang hasil
diskusi mereka mengenai
materi pengaruh faktor luas
permukaan
terhadap
laju
90
terhadap laju reaksi.
Akhir
-
Guru mengendalikan suasana
kelas
agar
diskusi
yang
dilakukan mencapai tujuan yang
diinginkan.
-
Guru meminta siswa untuk memberikan
kesimpulan
dari
materi yang telah diberikan.
-
Guru meminta siswa untuk memberikan kesimpulan mengenai
materi kemolaran, laju reaksi dan
faktor-faktor yang mempengaruhi
laju rekasi yang telah diberikan
sebelumnya.
H. Penilaian
1. Jenis tagihan
2. Bentuk instrument
reaksi ke seluruh kelas.
Siswa memberikan kesimpulan 35 menit
kepada seluruh kelas:
Pengaruh faktor luas permukaan
laju reaksi adalah semakin luas
permukaan zat yang terlibat
dalam suatu reaksi kimia maka
semakin cepat laju reaksinya.
Siswa memberikan kesimpulan
kepada seluruh kelas:
1. Molaritas (kemolaran) adalah
satuan konsentrasi larutan
yang menyatakan banyaknya
mol zat terlarut dalam 1 liter
larutan.
2. Laju reaksi menyatakan laju
perubahan konsentrasi zat
yang terlibat dalam reaksi
setiap satuan waktu.
3. Faktor-faktor
yang
mempengaruhi laju reaksi
adalah konsentrasi, suhu, luas
permukaan dan katalis.
: Latihan soal
: Tes tertulis berbentuk uraian
I. Sumber Belajar
1. Buku Kimia Kelas XI Semester I
2. Lembar LKS
J. Media Pembelajaran
: Papan Tulis, Spidol
Alat dan bahan demonstrasi:
- Garam balok
- gelas kimia 100 mL
- Garam halus
- saptula
- Garam Kristal
- Stopwatch
- Aquades
91
Pamulang,
November 2010
Guru Mata Pelajaran
Peneliti
Dewi Marhelly, S.Pd
Muzalifah
92
LAMPIRAN 2
LEMBAR KERJA SISWA
Kelompok
Nama
:
: 1.
2.
3.
4.
5.
Materi
: Laju Reaksi
Tujuan
:
1. Menentukan kemolaran dari suatu larutan
2. Mendefinisikan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menyelidiki pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
5. Menyelidiki pengaruh suhu terhadap laju reaksi
6. Menyelidiki pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi
7. Menyelidiki pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Dasar Teori
A. Molaritas
Molaritas (kemolaran) adalah satuan konsentrasi larutan yang menyatakan
banyaknya mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Molaritas (M) sama dengan jumlah mol
(n) zat terlarut dibagi volume (v) larutan. Namun, jika zat terlarut dinyatakan dalam
satuan gram, dan volume larutan dinyatakan dalam mL atau cm3, kemolaran dapat
dinyatakan sebagai berikut.
atau
Keterangan:
M = kemolaran (M)
m = massa zat terlarut (gram)
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
V = volume larutan (mL atau cm3)
Untuk memperoleh kemolaran yang lebih kecil perlu dilakukan pengenceran sehingga
volume larutan menjadi besar. Rumus pengenceran sebagai berikut.
Keterangan:
V1 = volume larutan sebelum diencerkan
M1 = kemolaran larutan sebelum diencerkan
V2 = volume larutan setelah diencerkan
M2 = kemolaran setelah diencerkan
Namun, jika akan mencampurkan larutan yang sama tetapi memiliki konsentrasi yang
berbeda agar di peroleh konsentrasi yang baru, perhitungannya sebagai berikut.
92
93
V1M 1  V2 M 2  ...  Vn M n
M campuran 
B. Pengertian Laju Reaksi
V1  V2  ...  Vn
Suatu reaksi kimia ada yang
berlangsung cepat, ada pula yang berlangsung
lambat. Ledakan bom berlangsung cepat, sedangkan proses besi berkarat berlangsung
lambat. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia dinyatakan sebagai laju reaksi. Apakah laju
reaksi itu?
Laju reaksi menyatakan laju perubahan konsentrasi zat yang terlibat dalam reaksi
setiap satuan waktu. Perhatikan grafik berikut.
Konsentrasi
Hasil reaksi (C + D)
Pereaksi (A + B)
Waktu
Grafik hubungan antara perubahan konsentrasi dan waktu
Pada grafik di atas menunjukkan bahwa konsentrasi pereaksi dalam suatu reaksi kimia
semakin lama semakin berkurang, sedangkan hasil reaksi semakin lama akan semakin
bertambah.
N2(g) + 3 H2(g)  2 NH3(g)
Pada reaksi diatas dapat dinyatakan:
- Laju penambahan konsentrasi NH3
- Laju pengurangan konsentrasi N2 dan H2
Dengan demikian, laju reaksi dapat dinyatakan sebagai pengurangan konsentrasi pereaksi
per satuan waktu, atau penambahan konsentrasi hasil reaksi per satuan waktu.
Laju reaksi memiliki satuan Ms-1 (M = molar dan s = sekon = detik)
93
94
Kegiatan I
A. Molaritas larutan
Untuk menentukan molaritas dari suatu larutan, lakukan percobaan berikut:
Alat dan Bahan
1. Gelas kimia 100 mL
2. Spatula
3. 5 gram NaCl (Ar: Na=23, Cl=35,5)
4. aquades
Langkah Kerja
1. Siapkan satu buah gelas kimia.
2. Masukkan 100 mL aquades ke dalam gelas kimia.
3. Masukkan 5 gram NaCl, aduk hingga larut.
4. Hitung molaritas dari larutan NaCl tersebut.
B. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
Jika natrium tiosulfat (Na2S2O3) dan asam klorida (HCl) direaksika, akan dihasilkan natrium
klorida (NaCl). Dalam percobaan ini Anda dapat menyelidiki pengaruh perubahan
konsentrasi Na2S2O3 terhadap laju reaksi antara Na2S2O3 dan HCl.
Alat dan Bahan
1. Gelas kimia 100 mL
2. Gelas ukur
3. Labu ukur 50 mL
4. Kertas putih ukuran 15 x 15 cm yang diberi tanda “X” hitam
5. Stopwatch
6. Larutan HCl 2 M
7. Larutan Na2S2O3 1 M
Langkah kerja
1. Encerkan larutan Na2S2O3 1 M menjadi Na2S2O3 0,50 M; 0,10 M; 0,05 M; masingmasing 50 mL.
2. Siapkan 5 buah gelas kimia yang telah diberi label no. 1, 2, 3, dan 4.
3. Masukkan 5 mL HCl 2 M ke dalam gelas kimia nomor 1.
4. Simpan gelas kimia di atas kertas putih bertanda “X”.
5. Tambahkan 25 mL larutan Na2S2O3 0,05 M ke dalam gelas kimia.
6. Catat waktu yang diperlukan sejak penambahan Na2S2O3 sampai tanda “X” tidak terlihat
lagi.
7. Ulangi langkah 1-5 dengan konsentrasi Na2S2O3: 0,10 M; 0,50 M; 1 M
94
95
Tabel Pengamatan
M Na2S2O3
V Na2S2O3
sebelum
yang dipipet
pengenceran
... mL
1M
... mL
1M
... mL
1M
Gelas
1
2
3
4
[HCl]
2M
2M
2M
2M
[Na2S2O3]
0,05 M
0,10 M
0,50 M
1M
V Na2S2O3
setelah
pengenceran
50 mL
50 mL
50 mL
Waktu (s)
....
....
....
....
M Na2S2O3
setelah
pengenceran
0,50 M
0,10 M
0,05 M
Laju Reaksi (s-1)
....
....
....
....
C. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi
Untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap laju reaksi, lakukan percobaan berikut:
Alat dan bahan
1. Gelas kimia 100 mL
2. Termometer
3. Penangas air
4. Es batu
5. Stopwatch
6. Logam seng
7. Larutan HCl 1 M
Langkah kerja
1. Siapkan gelas kimia sebanyak tiga buah yang telah di beri label 1, 2, dan 3.
2. Tuangkan sekitar 50 mL HCl 1 M ke dalam setiap gelas kimia.
3. Simpan gelas 1 di atas es batu selama 15 menit, ukurlah suhunya.
4. Simpan gelas 2 pada suhu kamar.
5. Panaskan gelas 3 pada penengas air. Ukur sampai suhu konstan.
6. Masukkan ke dalam gelas, logam seng dalam berat yang sama (misal 1 gram).
7. Catat hasil pengamatan hingga semua logam seng bereaksi.
Tabel Pengamatan
Gelas
Waktu (s)
1
....
2
....
3
....
Laju reaksi (s-1)
....
....
....
D. Pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi
Untuk mengetahui pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, lakukan percobaan berikut:
Alat dan Bahan
1. Gelas kimia
95
96
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Spatula
Stopwatch
garam balok
garam halus
garam kristal
aquades
Langkah kerja
1. Siapkan gelas kimia sebanyak tiga buah dan diberi label 1, 2 dan 3.
2. Tuangkan sekitar 100 mL air ke dalam setiap gelas kimia.
3. Masukkan sekitar 3 gram garam halus ke dalam gelas kimia 1.
4. Masukkan sekitar 3 gram garam kristal ke dalam gelas kimia 2.
5. Masukkan sekitar 3 gram garam balok ke dalam gelas kimia 3.
6. Catat hasil pengamatan hingga garam pada masing-masing gelas larut.
Tabel Pengamatan
Gelas
Bentuk Garam
1
Garam halus
2
Garam kristal
3
Garam balok
Waktu (s)
E. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Untuk mengetahui pengaruh katalis terhadap laju reaksi, lakukan percobaan berikut:
(Percobaan I)
(Percobaan II)
Alat dan Bahan
1. Alas logam
2. Korek api
3. abu rokok
4. gula
Langkah kerja
1. Siapkan alas yang terbuat dari logam.
2. Letakkan satu sendok gula diatas alas logam, lalu bakar.
3. Letakkan abu rokok di salah satu sisi gula, lalu bakar.
4. Catat hasil pengamatan, apa yang akan terjadi pada gula.
Tabel Pengamatan
Bahan yang digunakan
Percobaan I
Percobaan II
Pengamatan
96
97
Kegiatan II
A. Molaritas
Contoh Soal
1. Jika 2 gram NaOH (Mr = 40) dilarutkan dalam air hingga 250 mL, tentukan kemolaran
larutan tersebut.
Pembahasan:
Diket : m = 2 g
V = 250 mL
Dit
:M?
Jawab :
Cara I
Cara II
= 0,2 mol L-1 = 0,2 M
2. Untuk mengubah 10 mL larutan H2SO4 8 M menjadi larutan H2SO4 5 M, berapakah air
yang dibutuhkan?
Pembahasan:
Diket : M1 = 8 M
V1 = 10 mL
M2 = 5 M
Dit
: V2 ?
Jawab :
Volume air yang ditambahkan = V2 – V1 = 16 mL – 10 mL = 6 mL
3. Jika Anda mencampurkan 150 mL larutan NaCl 0,2 M dan 250 mL larutan NaCl 0,6 M,
berapakah kemolaran setelah dicampurkan?
Pembahasan:
Diket : M1 = 0,2 M
V1 = 150 mL
97
98
M2 = 0,6 M
V2 = 250 mL
Dit
: Mcampuran ?
Jawab :
Jadi, kemolaran larutan NaCl setelah dicampurkan adalah 0,45 M.
Soal
1. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, 15 gram garam (NaCl) dilarutkan dalam 100 mL
air. Berapakah kemolaran larutan garam?
Pembahasan:
Diket
: m = 15 gram
V = 100 mL
Dit
:M?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
2. Sebanyak 0,75 mol H2SO4 dilarutkan dalam air sampai dengan volume 3 L. Berapakah
kemolaran larutan H2SO4?
Pembahasan:
Diket
: n = 0,75 mol
V=3L
Dit
:M?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
3. Sebanyak 28 kg KOH (Mr = 56) dilarutkan dalam air sampai dengan volume 800 L.
Berapakah kemolaran larutan KOH?
Pembahasan:
Diket
: ..................
..................
Dit
: ..................
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
99
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
4. 100 mL larutan HNO3 6 M diencerkan hingga volume menjadi 400 mL, berapakah
kemolaran HNO3 setelah diencerkan?
Pembahasan:
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
5. Tentukan kemolaran campuran jika 50 mL larutan NaOH 0,6 M dicampurkan dengan 450
mL larutan NaOH 0,2 M.
Pembahasan:
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
B. Pengertian Laju Reaksi
Contoh Soal
Dalam suatu praktikum kimia, seorang siswa memasukkan 8 gram zat A (Ar A = 65) ke
dalam tabung reaksi yang berisi 200 mL larutan HCl 2 M. Setelah reaksi berlangsung selama
2 menit, zat A masih tersisa sebanyak 1,5 gram. Berapakah laju pengurangan zat A?
Pembahasan:
Diket
: Massa A mula-mula = 8 gram
Massa A akhir = 1,5 gram
t = 2 menit = 120 detik
V = 200 mL
Ar A = 65
Dit
: vA ?
Jawab
:
- Massa A yang bereaksi = Massa A akhir – Massa A mula-mula
= 1,5 g – 8 g
= -6,5 g (tanda (-) hanya menunjukkan pengurangan konsentrasi)
- Mol A :
-
-
Konsentrasi A yang bereaksi :
100
-
Laju reaksi :
Jadi, laju pengurangan zat A adalah 4,2 × 10-3 Ms-1
Soal
1. Pada suatu reaksi kimia C + D → E + F, sebanyak 15 gram zat C (Ar C = 50) dimasukkan
kedalam tabung yang berisi 400 mL larutan D 4 M. Setelah reaksi berlangsung selama 3
menit, zat C yang tersisa sebanyak 5 gram. Berapakah laju reaksi pengurangan zat C?
Pembahasan:
Diket
: Massa C mula-mula = 15 gram
Massa C akhir = 5 gram
t = 3 menit = 180 detik
V = 400 mL
Dit
: vC ?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
2. Pada suatu reaksi kimia A → B, konsentrasi A mula-mula adalah 12 M. Setelah reaksi
berlangsung selama 4 menit konsentrasi menjadi 8 M. Berapakah laju reaksi zat A?
Pembahasan:
Diket
: [A] mula-mula = 12 M
[A] akhir = 8 M
t = 4 menit
Dit
: vA ?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
101
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
1. Faktor Konsentrasi
Data Hasil Pengamatan
M Na2S2O3
V Na2S2O3
sebelum
yang dipipet
pengenceran
... mL
1M
... mL
1M
... mL
1M
Gelas
1
2
3
4
[HCl]
2M
2M
2M
2M
[Na2S2O3]
0,05 M
0,10 M
0,50 M
1M
V Na2S2O3
setelah
pengenceran
50 mL
50 mL
50 mL
M Na2S2O3
setelah
pengenceran
0,50 M
0,10 M
0,05 M
Waktu (s)
....
....
....
....
Laju Reaksi (s-1)
....
....
....
....
Pertanyaan:
1. Gelas manakah yang lebih cepat menghilangkan tanda “X”?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Berdasarkan data hasil pengamatan, bagaimana pengaruh konsentrasi terhadap laju
reaksi?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Faktor Suhu
Data Hasil Pengamatan
Gelas
Waktu (s)
1
....
2
....
3
....
Laju reaksi (s-1)
....
....
....
Pertanyaan:
1. Gelas manakah yang lebih cepat membuat logam seng bereaksi?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Berdasarkan data hasil pengamatan, bagaimana pengaruh suhu terhadap laju reaksi?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
102
3. Faktor Luas Permukaan
Data Hasil Pengamatan
Gelas
Bentuk Garam
1
2
3
Waktu (s)
Pertanyaan:
1. Manakah garam yang memiliki luas permukaan yang paling besar?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Berdasarkan data hasil pengamatan, bagaimana pengaruh luas permukaan terhadap
laju reaksi kimia?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
4. Faktor Katalis
Data Hasil Pengamatan
Bahan yang digunakan
Pengamatan
Percobaan I
Percobaan II
Pertanyaan:
1. Apa fungsi penambahan abu rokok pada gula?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Bagaimana pengaruh katalis terhadap laju reaksi kimia?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
Kesimpulan:
Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, jelaskan kembali apa yang dimaksud dengan
molaritas, laju reaksi serta faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi laju reaksi!
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
103
LEMBAR KERJA SISWA
Nama
Kelas
:
:
Materi
: Laju Reaksi
Tujuan
:
1. Menentukan kemolaran dari suatu larutan
2. Mendefinisikan pengertian laju reaksi
3. Menentukan nilai laju reaksi
4. Menyelidiki pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
5. Menyelidiki pengaruh suhu terhadap laju reaksi
6. Menyelidiki pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi
7. Menyelidiki pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Dasar Teori
A. Molaritas
Molaritas (kemolaran) adalah satuan konsentrasi larutan yang menyatakan
banyaknya mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Molaritas (M) sama dengan jumlah mol
(n) zat terlarut dibagi volume (v) larutan. Namun, jika zat terlarut dinyatakan dalam
satuan gram, dan volume larutan dinyatakan dalam mL atau cm3, kemolaran dapat
dinyatakan sebagai berikut.
atau
Keterangan:
M = kemolaran (M)
m = massa zat terlarut (gram)
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
V = volume larutan (mL atau cm3)
Untuk memperoleh kemolaran yang lebih kecil perlu dilakukan pengenceran sehingga
volume larutan menjadi besar. Rumus pengenceran sebagai berikut.
Keterangan:
V1 = volume larutan sebelum diencerkan
M1 = kemolaran larutan sebelum diencerkan
V2 = volume larutan setelah diencerkan
M2 = kemolaran setelah diencerkan
Namun, jika akan mencampurkan larutan yang sama tetapi memiliki konsentrasi yang
berbeda agar di peroleh konsentrasi yang baru, perhitungannya sebagai berikut.
M campuran 
B. Pengertian Laju Reaksi
V1M 1  V2 M 2  ...  Vn M n
V1  V2  ...  Vn
Suatu reaksi kimia ada yang berlangsung cepat, ada pula yang berlangsung
lambat. Ledakan bom berlangsung cepat, sedangkan proses besi berkarat berlangsung
104
lambat. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia dinyatakan sebagai laju reaksi. Apakah laju
reaksi itu?
Laju reaksi menyatakan laju perubahan konsentrasi zat yang terlibat dalam reaksi
setiap satuan waktu. Perhatikan grafik berikut.
Konsentrasi
Hasil reaksi (C + D)
Pereaksi (A + B)
Waktu
Grafik hubungan antara perubahan konsentrasi dan waktu
Pada grafik di atas menunjukkan bahwa konsentrasi pereaksi dalam suatu reaksi kimia
semakin lama semakin berkurang, sedangkan hasil reaksi semakin lama akan semakin
bertambah.
N2(g) + 3 H2(g)  2 NH3(g)
Pada reaksi diatas dapat dinyatakan:
- Laju penambahan konsentrasi NH3
- Laju pengurangan konsentrasi N2 dan H2
Dengan demikian, laju reaksi dapat dinyatakan sebagai pengurangan konsentrasi pereaksi
per satuan waktu, atau penambahan konsentrasi hasil reaksi per satuan waktu.
Laju reaksi memiliki satuan Ms-1 (M = molar dan s = sekon = detik)
105
Kegiatan I
A. Molaritas larutan
Untuk menentukan molaritas dari suatu larutan, perhatikan percobaan berikut:
Alat dan Bahan
- Gelas kimia 100 mL
- Spatula
- 5 gram NaCl (Ar: Na=23, Cl=35,5)
- aquades
Langkah Kerja
1. Siapkan satu buah gelas kimia.
2. Masukkan 100 mL aquades ke dalam gelas kimia.
3. Masukkan 5 gram NaCl, aduk hingga larut.
4. Hitung molaritas dari larutan NaCl tersebut.
B. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
Jika natrium tiosulfat (Na2S2O3) dan asam klorida (HCl) direaksika, akan dihasilkan natrium
klorida (NaCl). Dalam percobaan ini Anda dapat menyelidiki pengaruh perubahan
konsentrasi Na2S2O3 terhadap laju reaksi antara Na2S2O3 dan HCl.
Alat dan Bahan
1. Gelas kimia 100 mL
2. Gelas ukur
3. Labu ukur 50 mL
4. Kertas putih ukuran 15 x 15 cm yang diberi tanda “X” hitam
5. Stopwatch
6. Larutan HCl 2 M
7. Larutan Na2S2O3 1 M
Langkah kerja
1. Encerkan larutan Na2S2O3 1 M menjadi Na2S2O3 0,50 M; 0,10 M; 0,05 M; masingmasing 50 mL.
2. Siapkan 5 buah gelas kimia yang telah diberi label no. 1, 2, 3, dan 4.
3. Masukkan 5 mL HCl 2 M ke dalam gelas kimia nomor 1.
4. Simpan gelas kimia di atas kertas putih bertanda “X”.
5. Tambahkan 25 mL larutan Na2S2O3 0,05 M ke dalam gelas kimia.
6. Catat waktu yang diperlukan sejak penambahan Na2S2O3 sampai tanda “X” tidak terlihat
lagi.
7. Ulangi langkah 1-5 dengan konsentrasi Na2S2O3: 0,10 M; 0,50 M; 1 M
106
Tabel Pengamatan
M Na2S2O3
V Na2S2O3
sebelum
yang dipipet
pengenceran
... mL
1M
... mL
1M
... mL
1M
Gelas
1
2
3
4
[HCl]
2M
2M
2M
2M
[Na2S2O3]
0,05 M
0,10 M
0,50 M
1M
V Na2S2O3
setelah
pengenceran
50 mL
50 mL
50 mL
Waktu (s)
....
....
....
....
M Na2S2O3
setelah
pengenceran
0,50 M
0,10 M
0,05 M
Laju Reaksi (s-1)
....
....
....
....
C. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi
Untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap laju reaksi, perhatikan percobaan berikut:
Alat dan bahan
1. Gelas kimia 100 mL
2. Termometer
3. Penangas air
4. Es batu
5. Stopwatch
6. Logam seng
7. Larutan HCl 1 M
Langkah kerja
1. Siapkan gelas kimia sebanyak tiga buah yang telah di beri label 1, 2, dan 3.
2. Tuangkan sekitar 50 mL HCl 1 M ke dalam setiap gelas kimia.
3. Simpan gelas 1 di atas es batu selama 15 menit, ukurlah suhunya.
4. Simpan gelas 2 pada suhu kamar.
5. Panaskan gelas 3 pada penengas air. Ukur sampai suhu konstan.
6. Masukkan ke dalam gelas, logam seng dalam berat yang sama (misal 1 gram).
7. Catat hasil pengamatan hingga semua logam seng bereaksi.
Tabel Pengamatan
Gelas
Waktu (s)
1
....
2
....
3
....
Laju reaksi (s-1)
....
....
....
D. Pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi
Untuk mengetahui pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, perhatikan percobaan
berikut:
Alat dan Bahan
1. Gelas kimia
2. Spatula
107
3.
4.
5.
6.
7.
Stopwatch
garam balok
garam halus
garam kristal
aquades
Langkah kerja
1. Siapkan gelas kimia sebanyak tiga buah dan diberi label 1, 2 dan 3.
2. Tuangkan sekitar 100 mL air ke dalam setiap gelas kimia.
3. Masukkan sekitar 3 gram garam halus ke dalam gelas kimia 1.
4. Masukkan sekitar 3 gram garam kristal ke dalam gelas kimia 2.
5. Masukkan sekitar 3 gram garam balok ke dalam gelas kimia 3.
6. Catat hasil pengamatan hingga garam pada masing-masing gelas larut.
Tabel Pengamatan
Gelas
Bentuk Garam
1
Garam halus
2
Garam kristal
3
Garam balok
Waktu (s)
E. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Untuk mengetahui pengaruh katalis terhadap laju reaksi, perhatikan percobaan berikut:
(Percobaan I)
(Percobaan II)
Alat dan Bahan
1. Alas logam
2. Korek api
3. abu rokok
4. gula
Langkah kerja
1. Siapkan alas yang terbuat dari logam.
2. Letakkan satu sendok gula diatas alas logam, lalu bakar.
3. Letakkan abu rokok di salah satu sisi gula, lalu bakar.
4. Catat hasil pengamatan, apa yang akan terjadi pada gula.
Tabel Pengamatan
Bahan yang digunakan
Percobaan I
Percobaan II
Pengamatan
108
Kegiatan II
A. Molaritas
Contoh Soal
1. Jika 2 gram NaOH (Mr = 40) dilarutkan dalam air hingga 250 mL, tentukan kemolaran
larutan tersebut.
Pembahasan:
Diket : m = 2 g
V = 250 mL
Dit
:M?
Jawab :
Cara I
Cara II
= 0,2 mol L-1 = 0,2 M
2. Untuk mengubah 10 mL larutan H2SO4 8 M menjadi larutan H2SO4 5 M, berapakah air
yang dibutuhkan?
Pembahasan:
Diket : M1 = 8 M
V1 = 10 mL
M2 = 5 M
Dit
: V2 ?
Jawab :
Volume air yang ditambahkan = V2 – V1 = 16 mL – 10 mL = 6 mL
3. Jika Anda mencampurkan 150 mL larutan NaCl 0,2 M dan 250 mL larutan NaCl 0,6 M,
berapakah kemolaran setelah dicampurkan?
Pembahasan:
Diket : M1 = 0,2 M
V1 = 150 mL
M2 = 0,6 M
109
V2 = 250 mL
Dit
: Mcampuran ?
Jawab :
Jadi, kemolaran larutan NaCl setelah dicampurkan adalah 0,45 M.
Soal
1. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, 15 gram garam (NaCl) dilarutkan dalam 100 mL
air. Berapakah kemolaran larutan garam?
Pembahasan:
Diket
: m = 15 gram
V = 100 mL
Dit
:M?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
2. Sebanyak 0,75 mol H2SO4 dilarutkan dalam air sampai dengan volume 3 L. Berapakah
kemolaran larutan H2SO4?
Pembahasan:
Diket
: n = 0,75 mol
V=3L
Dit
:M?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
3. Sebanyak 28 kg KOH (Mr = 56) dilarutkan dalam air sampai dengan volume 800 L.
Berapakah kemolaran larutan KOH?
Pembahasan:
Diket
: ..................
..................
Dit
: ..................
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
110
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
4. 100 mL larutan HNO3 6 M diencerkan hingga volume menjadi 400 mL, berapakah
kemolaran HNO3 setelah diencerkan?
Pembahasan:
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
5. Tentukan kemolaran campuran jika 50 mL larutan NaOH 0,6 M dicampurkan dengan 450
mL larutan NaOH 0,2 M.
Pembahasan:
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
B. Pengertian Laju Reaksi
Contoh Soal
Dalam suatu praktikum kimia, seorang siswa memasukkan 8 gram zat A (Ar A = 65) ke
dalam tabung reaksi yang berisi 200 mL larutan HCl 2 M. Setelah reaksi berlangsung selama
2 menit, zat A masih tersisa sebanyak 1,5 gram. Berapakah laju pengurangan zat A?
Pembahasan:
Diket
: Massa A mula-mula = 8 gram
Massa A akhir = 1,5 gram
t = 2 menit = 120 detik
V = 200 mL
Ar A = 65
Dit
: vA ?
Jawab
:
- Massa A yang bereaksi = Massa A akhir – Massa A mula-mula
= 1,5 g – 8 g
= -6,5 g (tanda (-) hanya menunjukkan pengurangan konsentrasi)
- Mol A :
-
-
Konsentrasi A yang bereaksi :
111
-
Laju reaksi :
Jadi, laju pengurangan zat A adalah 4,2 × 10-3 Ms-1
Soal
1. Pada suatu reaksi kimia C + D → E + F, sebanyak 15 gram zat C (Ar C = 50) dimasukkan
kedalam tabung yang berisi 400 mL larutan D 4 M. Setelah reaksi berlangsung selama 3
menit, zat C yang tersisa sebanyak 5 gram. Berapakah laju reaksi pengurangan zat C?
Pembahasan:
Diket
: Massa C mula-mula = 15 gram
Massa C akhir = 5 gram
t = 3 menit = 180 detik
V = 400 mL
Dit
: vC ?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
2. Pada suatu reaksi kimia A → B, konsentrasi A mula-mula adalah 12 M. Setelah reaksi
berlangsung selama 4 menit konsentrasi menjadi 8 M. Berapakah laju reaksi zat A?
Pembahasan:
Diket
: [A] mula-mula = 12 M
[A] akhir = 8 M
t = 4 menit
Dit
: vA ?
Jawab :
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
112
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
1. Faktor Konsentrasi
Data Hasil Pengamatan
M Na2S2O3
V Na2S2O3
sebelum
yang dipipet
pengenceran
... mL
1M
... mL
1M
... mL
1M
Gelas
1
2
3
4
[HCl]
2M
2M
2M
2M
[Na2S2O3]
0,05 M
0,10 M
0,50 M
1M
V Na2S2O3
setelah
pengenceran
50 mL
50 mL
50 mL
M Na2S2O3
setelah
pengenceran
0,50 M
0,10 M
0,05 M
Waktu (s)
....
....
....
....
Laju Reaksi (s-1)
....
....
....
....
Pertanyaan:
1. Gelas manakah yang lebih cepat menghilangkan tanda “X”?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Berdasarkan data hasil pengamatan, bagaimana pengaruh konsentrasi terhadap laju
reaksi?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Faktor Suhu
Data Hasil Pengamatan
Gelas
Waktu (s)
1
....
2
....
3
....
Laju reaksi (s-1)
....
....
....
Pertanyaan:
1. Gelas manakah yang lebih cepat membuat logam seng bereaksi?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Berdasarkan data hasil pengamatan, bagaimana pengaruh suhu terhadap laju reaksi?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
113
3. Faktor Luas Permukaan
Data Hasil Pengamatan
Gelas
Bentuk Garam
1
2
3
Waktu (s)
Pertanyaan:
1. Manakah garam yang memiliki luas permukaan yang paling besar?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Berdasarkan data hasil pengamatan, bagaimana pengaruh luas permukaan terhadap
laju reaksi kimia?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
4. Faktor Katalis
Data Hasil Pengamatan
Bahan yang digunakan
Pengamatan
Percobaan I
Percobaan II
Pertanyaan:
1. Apa fungsi penambahan abu rokok pada gula?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Bagaimana pengaruh katalis terhadap laju reaksi kimia?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
Kesimpulan:
Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, jelaskan kembali apa yang dimaksud dengan
molaritas, laju reaksi serta faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi laju reaksi!
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
114
LAMPIRAN 3
KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN
Jenis Sekolah
Mata Pelajaran
Jumlah Soal
Bentuk Soal
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
No.
: SMA
: Kimia
: 60 soal (terbagi menjadi 2 bagian)
: Pilihan Ganda
: Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerannya dalam
kehidupan sehari-hari dan industri.
: 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
laju reaksi.
Indikator
Indikator Soal
Menentukan
konsentrasi
suatu larutan
Siswa dapat
mendefinisikan
pengertian molaritas
1.
Siswa dapat menentukan
rumus umum molaritas
2.
Soal
Definisi dari molaritas adalah...
A. Jumlah mol zat yang terlarut dalam 1 L larutan
B. Jumlah mol zat pelarut dalam 1 L larutan
C. Campuran homogen antara dua komponen zat atau lebih
D. Besarnya perubahan jumlah pereaksi dan hasil reaksi per
satuan waktu
E. Perubahan jarak awal dan jarak akhir per satuan waktu
Rumus untuk mencari molaritas adalah...
A. molaritas = massa/massa molekul relatif
B. molaritas = mol/liter larutan
C. molaritas = mol/massa larutan
D. molaritas = massa molekul relatif/mol
E. molaritas = mol/22,4
Aspek
Kognitif
Jawaban
C1
A
C1
B*
115
3.
4.
5.
6.
7.
Siswa dapat menghitung Konsentrasi larutan yang mengandung 3 gram pupuk urea (CO(NH2)2),
konsentrasi larutan
dalam 200 mL larutan adalah ....
(Ar : C = 12, O = 16, H = 1, N = 14)
A. 0,125 M
D. 0,5 M
B. 0,25 M
E. 1 M
C. 0,375 M
Siswa dapat menghitung Ke dalam aluminium sulfat, Al2(SO4)3, sebanyak 3,42 gram ditambahkan
konsentrasi larutan
air sehingga volume larutan berjumlah 2 L. Jika diketahui Ar : Al = 27; S =
32; O = 16, kemolaran larutan yang terbentuk adalah ....
A. 0,5 M
D. 0,01 M
B. 0,1 M
E. 0,005 M
C. 0,05 M
Siswa
dapat Manakah diantara larutan berikut yang mempunyai kemolaran terbesar?
mengidentifikasi larutan
A. 1 gram NaOH dalam 1 liter larutan
yang
mempunyai
B. 0,01 mol CO(NH2)2 (urea) dalam 100 ml larutan
konsentrasi paling besar
C. 10 mL larutan HCl 0,1M dicampur dengan 100 mL air
D. 100 mL larutan NaOH 0,1M dicampur dengan 100 NaOH 0,01M
E. 100 mL larutan NaCl 0,01M diuapkan hingga menjadi 40 mL
Siswa dapat menghitung Sebanyak 16,4 gram Ca(NO3)2 dilarutkan dalam air hingga volumenya
konsentrasi larutan
menjadi 250 mL. Jika diketahui Ar: Ca = 40, N = 14, dan O = 16,
konsentrasi larutan tersebut adalah ....
A. 0,04 M
D. 0,4 M
B. 0,1 M
E. 4 M
C. 0,3 M
Siswa dapat menghitung Kemolaran larutan yang dibuat dengan melarutkan 16 gram NaOH dalam
konsentrasi larutan
air hingga diperoleh 500 mL larutan adalah…..
A. 0,04 M
D. 0,8 M
B. 0,1 M
E. 0,5 M
C. 0,3 M
C2
B
C2
E
C2
B
C2
D*
C2
D*
116
8.
Siswa dapat menghitung 100 mL larutan HNO3 6 M diencerkan hingga volume menjadi 400 mL,
konsentrasi
larutan kemolaran larutan HNO3 setelah diencerkan adalah .....
seletah pengenceran
A. 1,0 M
D. 3,0 M
B. 1,2 M
E. 2,0 M
C. 1,5 M
Siswa dapat menghitung Ke dalam labu ukur yang berisi larutan 200 mL H2SO4 0,2 M diencerkan
konsentrasi
larutan dengan airhingga volume menjadi 800 mL. Kemolaran larutan setelah
seletah pengenceran
penambahan air adalah ....
A. 0,01 M
D. 0,04 M
B. 0,02 M
E. 0,05 M
C. 0,03 M
C2
C
C2
E
10.
Siswa dapat menghitung Untuk mengubah 8 mL larutan H2SO4 10 M menjadi larutan H2SO4 8 M,
volume yang dibutuhkan diperlukan air sebanyak ....
untuk pengenceran jika
A. 1 mL
D. 4 mL
konsentrasinya diketahui
B. 2 mL
E. 5 mL
C. 3 mL
C3
B*
11.
Siswa dapat menghitung Massa asam oksalat (C2H2O2.2H2O) yang diperlukan untuk membuat 100
massa
zat
yang mL larutan asam oksalat 0,1 M adalah ....
dibutuhkan
untuk
(Ar : C = 12, H = 1, O = 16)
membuat larutan jika
A. 1,26 gram
D. 12,60 gram
konsentrasinya diketahui
B. 3,15 gram
E. 31,50 gram
C. 6,30 gram
C2
A
12.
siswa dapat menghitung Larutan 750 mL NaOH 0,2 M mengandung NaOH (Mr = 40) sebanyak ....
massa
zat
yang
A. 2 gram
D. 8 gram
terkandung
didalam
B. 3 gram
E. 12 gram
suatu larutan.
C. 6 gram
C2
C
C1
C
9.
13.
Menjelaskan
Siswa dapat menjelaskan Laju reaksi adalah….
pengertian laju pengertian laju reaksi
A. cepatnya suatu reaksi berlangsung
reaksi
B. perubahan jenis zat yang bereaksi per satuan waktu
C. besarnya perubahan konsentrasi zat-zat pereaksi/produk per
satuan waktu
D. macam-macam kecepatan laju
E. suatu reaksi kimia
117
dapat Laju reaksi 2A + 2B → 3C + D pada setiap saat dapat dinyatakan sebagai
ungkapan ....
A. Penambahan konsentrasi A tiap satuan waktu
B. Penmabahan konsentrasi B tiap satuan waktu
C. Penambahan konsentrasi C tiap satuan waktu
D. Penambahan konsentrasi Adan B tiap satuan waktu
E. Penambahan konsentrasi B dan C tiap satuan waktu
Siswa
dapat Laju reaksi 4NH3(g) + 5O2(g) → 4NO(g) + 6H2O(g) dapat dinyatakan sebagai
menyebutkan ungkapan ....
laju reaksi
A. Laju bertambahnya konsentrasi NH3 dalam satu satuan waktu
B. Laju berkurangnya konsentrasi H2O dalam satu satuan waktu
C. Laju bertambahnya konsentrasi O2 dalam satu satuan waktu
D. Laju berkurangnya tekanan sistem dalam satu satuan waktu
E. Laju bertambahnya konsentrasi NO dalam satu satuan waktu
Siswa
dapat Kalsium karbonat larut dalam asam klorida membentuk gas karbon
menyebutkan ungkapan dioksida menurut persamaan
laju reaksi
CaCO3(s) + 2HCl(aq) → CaCl2(aq) + H2O(l) + CO2(g)
Cara praktis menentukan laju reaksi ini adalah ....
A. Laju berkurangnya kristal CaCO3
B. Laju berkurangnya konsentrasi HCl
C. Laju terbentuknya CaCl2
D. Laju pembentukan CO2
E. Laju pembentukan air
Siswa dapat menentukan . Pernyataan yang benar tentang laju reaksi adalah...
pernyataan yang benar
A. Berubahnya jumlah zat pereaksi
tentang laju reaksi.
B. Berubahnya jumlah zat hasil reaksi
Siswa
menyebutkan
laju reaksi
14.
15.
16.
17.
C. Bertambahnya zat reaktan tiap satuan waktu
D. Berkurangnya zat hasil tiap satuan waktu
E. Berkurangnya zat reaktan atau bertambahnya zat hasil tiap
satuan waktu
C2
C
C2
E*
C2
D
C1
E*
118
Menentukan
nilai laju reaksi
18.
19.
20.
Siswa dapat menghitung Pada reaksi A menjadi B diketahui bahwa konsentrasi A mula-mula 10 M
besarnya nilai laju reaksi. setelah 2 detik menjadi 2 M. Tentukan laju reaksinya...
A. 2 M/s
D. 4 M/s
B. 3 M/s
E. 5 M/s
C. 4 M/s
Siswa dapat menghitung Pada reaksi A menjadi B diketahui bahwa konsentrasi A mula-mula
besarnya nilai laju reaksi. 8 M setelah 2 detik menjadi 4 M. Tentukan laju reaksinya...
A. 2 M/s
D. 4 M/s
B. 3 M/s
E. 5 M/s
C. 4 M/s
Siswa dapat menghitung Pada percobaan serbuk besi yang dibubuhkan pada larutan HCl
besarnya nilai laju reaksi terjadi reaksi sebagai berikut...
berdasarkan
data Fe + 2 HCl
FeCl2 + H2
percobaan
Perubahan diamati selama 10 menit ditinjau dari pengukuran
banyaknya sisa Fe dan hasil gas H2 yang diperoleh, diperoleh
sebagai berikut...
Zat
Permulaan Selang
Akhir
waktu
Reaktan Fe 10 g
10 menit
4,4 g
Telah
bereaksi
sebanyak
5,6 g
Produk H2 0
10 menit
2,24 L
Terbentuk
2,24 L H2
Berapakah laju reaksi penguraian dari Fe...
A. 0,000165
D. 0,00168
B. 0,000166
E. 0,00169
C. 0,000167
C3
D*
C3
A
C4
C
119
21.
22.
23.
24.
Menganalisis
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
laju reaksi
Siswa dapat menentukan Tindakan berikut akan memperbesar laju reaksi, kecuali ....
tindakan yang tidak akan
A. Pada suhu tetap ditambah suatu katalis
memperbesar laju reaksi.
B. Suhu dinaikkan
C. Pada suhu tetap tekanan diperbesar
D. Pada suhu tetap volume diperbesar
E. Pada volume tetap ditambahkan zat pereaksi lebih banyak
Siswa
dapat Kenaikan suhu akan mempercepat laju reaksi, karena kenaikan suhu akan
menyimpulkan pengaruh ....
suhu terhadap laju reaksi
A. Menaikkan energi pengaktifan zat yang bereaksi
B. Memperbesar konsentrasi zat yang bereaksi
C. Memperbesar energi kinetik molekul pereaksi
D. Memperbesar tekanan
E. Memperbesar luas permukaan
Siswa
dapat Data hasil percobaan untuk reaksi A + B → hasil
menyimpulkan pengaruh
Percobaan Massa/bentuk
Konsentrasi
Waktu Suhu
faktor luas permukaan
zat A
B
(s)
(oC)
-1
terhadap laju reaksi
(mol L )
1
5 gram serbuk
0,1
2
25
2
5 gram larutan
0,1
3
25
3
5 gram padat
0,1
5
25
4
5 gram larutan
0,2
1,5
25
5
5 gram larutan
0,1
1,5
35
Pada percobaan 1 dan 3, laju reaksi dipengaruhi oleh faktor ....
A. Konsentrasi
D. suhu
B. Luas permukaan
E. Katalis
C. Sifat-sifat
Siswa
dapat Ranting pohon lebih banyak digunakan dalam pembuatan api unggun,
menyimpulkan pengaruh dibandingkan dengan menggunakan kayu gelondongan. Hal ini
faktor luas permukaan menunjukkan bahwa…
terhadap laju reaksi
A. makin kecil ukuran partikel, makin besar jumlah luas permukaan
sentuhan, makin cepat reaksi berlangsung.
B. makin kecil ukuran partikel, makin kecil jumlah luas permukaan
sentuhan, makin cepat reaksi berlangsung.
C. makin kecil ukuran partikel, makin lambat reaksi berlangsung.
C1
E
C1
C*
C3
B*
C4
A*
120
25.
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
katalis terhadap laju
reaksi
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
katalis terhadap laju
reaksi
26.
Siswa
dapat
mengidentifikasi faktorfaktor laju reaksi dalam
data percobaan
27.
D. makin kecil ukuran partikel, makin kecil jumlah luas permukaan
sentuhan, makin lambat reaksi berlangsung.
E. Luas permukaan sentuhan berbanding terbalik.
Manakah yang termasuk fungsi dari katalis....
A. menaikkan energi kinetik molekul pereaksi
B. menurunkan energi aktivasi dari seluruh reaksi
C. meningkatkan frekuensi tumbukan antarpartikel yang bereaksi
D. mengubah jalanya reaksi sehingga energi aktivasinya turun
E. menaikkan energi aktivasi dan energi kinetik molekul yang
bereaksi.
Berbagai pernyataan mengenai peran katalis dalam proses reaksi adalah
sebagai berikut:
1) mengubah mekanisme dan hasil reaksi
2) tidak ikut bereaksi dalam proses reaksi
3) ikut bereaksi tetapi dapat diperoleh kembali pada akhir reaksi
4) ikut bereaksi dan tidak dapat diperoleh kembali pada akhir reaksi
5) menurunkan energi pengaktifan
Pernyataan yang benar adalah….
A. 1, 3, dan 4
D. 2 dan 5
B. 1, 3, dan 5
E. 3 dan 5
C. 1, 4, dan 5
Di antara pasangan pereaksi berikut, yang diharapkan bereaksi paling
cepat adalah…
A. 20 mL HCl 0,2 M + 20 mL Na2S2O3 0,1 M pada 30oC
B. 20 mL HCl 0,1 M + 20 mL Na2S2O3 0,1 M pada 30oC + 10 mL air
pada 30oC
C. 20 mL HCl 0,1 M + 20 mL Na2S2O3 0,1 M pada 40oC
D. 20 mL HCl 0,2 M + 20 mL Na2S2O3 0,1 M pada 40oC
E. 20 mL HCl 0,2 M + 20 mL Na2S2O3 0,1 M pada 30oC+ 10 mL air
pada 40oC
C1
D*
C4
E
C4
D
121
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
katalis terhadap laju
reaksi
28.
Siswa
dapat Natrium akan beraksi hebat dengan air pada suhu kamar sedangkan besi
menyimpulkan pengaruh tidak. Hal ini memperlihatkan bahwa laju reaksi bergantung pada...
suhu terhadap laju reaksi
A. Suhu
D. Luas permukaan sentuh
B. Katalisator
E. Keadaan pereaksi
C. Jenis pereaksi
Siswa
dapat Logam mangnesium dalam bentuk serbuk lebih cepat bereaksi dengan
menyimpulkan pengaruh HCl, dibandingkan dalam bentuk padatan. Faktor yang menyebabkan
luas permukaan terhadap perbedaan tersebut adalah...
laju reaksi
A. Konsentrasi
D. Katalis
B. Suhu
E. Entalpi
C. Luas permukaan
29.
30.
No.
Indikator
Menentukan
konsentrasi
suatu larutan
31.
32.
Proses penguraian KClO3 murni pada suhu 25oC sangat sukar terjadi
meskipun dilakukan dengan cara pemanasan, bahkan sampai mencair dan
mendidih. Tetapi bila dicampur dengan sedikit serbuk MnO2 penguraian
berlangsung lebih cepat. Hal ini menunjukkan bahwa laju reaksi
dipengaruhi….
A. Suhu
D. Katalis
B. Konsentrasi
E. Jumlah partikel zat
C. Luas permukaan
Indikator Soal
Soal
Siswa dapat menghitung Natrium hidroksida (NaOH) merupakan satu diantara beberapa zat kimia
konsentrasi larutan.
yang digunakan untuk membuat sabun, detergen, dan kertas. Jika 2 gram
NaOH (Mr=40) dilarutkan dalam air hingga 250 mL. Maka kemolaran
larutan tersebut…..
A. 0,2 M
D. 0,5 M
B. 0,3 M
E. 1 M
C. 0,4 M
Siswa
dapat Manakah diantara larutan berikut yang mempunyai kemolaran terbesar?
A. 1 gram NaOH dalam 1 liter larutan
mengidentifikasi
B. 0,01 mol urea dalam 100 ml larutan
larutan
yang
C4
D
C2
A
C4
C
Aspek
Kognitif
Jawaban
C2
C2
A
B
122
mempunyai konsentrasi
paling besar
Siswa dapat menghitung
konsentrasi
larutan
setelah pengenceran
33.
Siswa
dapat
menghitung massa zat
yang dibutuhkan jika
konsentrasinya
diketahui
34.
35.
36.
37.
38.
39.
Menjelaskan
pengertian laju
reaksi
C. 10 mL larutan HCl 0,1M dicampur dengan 100 mL air
D. 100 mL larutan NaOH 0,1M dicampur dengan 100 NaOH 0,01M
E. 100 mL larutan NaCl 0,01M diuapkan hingga menjadi 40 mL
Jika 100 mL larutan HNO3 0,5 M diencerkan hingga volume 250 mL,
maka kemolaran larutan yang baru adalah….
A. 0,5 M
D. 0,3M
B. 0,4 M
E. 0,1 M
C. 0,2 M
Untuk membuat 500mL larutan KOH 0,2M diperlukan kristal KOH murni
sebanyak…(Mr KOH = 56)
A. 56 g
D. 7 g
B. 28 g
E. 5,6 g
C. 14 g
Siswa dapat menghitung Kemolaran asam nitrat pekat 63% dengan masa jenis 1,3 kg L-1 adalah…
konsentrasi larutan.
A. 6,3 mol L-1
D. 13 mol L-1
-1
B. 6,5 mol L
E. 63 mol L-1
-1
C. 10 mol L
Siswa dapat menghitung Sebanyak 150 mL larutan NaCl 0,2M dan 250mL larutan NaCl 0,6 M,
konsentrasi
larutan berapakah kemolaran NaCl setelah dicampurkan?
setelah dicampurkan.
A. 0,35 M
C. 0,25 M
E. 0,55 M
B. 0,45 M
D. 0,15 M
Siswa dapat menghitung Jika 100 mL larutan CH3COOH 0,5 M diencerkan hingga volume 500 mL,
konsentrasi
larutan maka kemolaran larutan yang baru adalah….
setelah pengenceran
A. 0,5 M
C. 0,3M
E. 0,1 M
B. 0,4 M
D. 0,2 M
Siswa dapat menghitung Untuk mengubah 100 mL larutan H2SO4 0,5M menjadi 0,2 M diperlukan
volume yang dibutuhkan air sebanyak….
untuk
mengencerkan
A.
100 mL
C. 200 mL
E. 500 mL
larutan.
B.
150 mL
D. 250 mL
Siswa dapat menyebutkan Laju reaksi 2P + 3Q2 → 2PQ3 dapat dinyatakan sebagai...
ungkapan laju reaksi
A. Penambahan konsentrasi P tiap satuan waktu
B. Penambahan konsentrasi Q tiap satuan waktu
C. Penambahan konsentrasi PQ3 tiap satuan waktu
D. Penambahan konsentrasi P dan Q2 tiap satuan waktu
C2
C
C2
E
C3
D
C2
B
C2
E
C2
B
C2
C*
123
E. Penambahan konsentrasi P, Q2, dan PQ3 tiap satuan waktu
40.
Menentukan
nilai laju reaksi
41.
42.
43.
44.
Menganalisis
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
laju reaksi
Siswa dapat menyebutkan Laju reaksi mA + nB →pC + qD dapat dinyatakan sebagai…
ungkapan laju reaksi
A. Laju pengurangan B= m/n x laju berkurangnya A
B. Laju pertambahan D= q/m x laju berkurangnya B
C. Laju pertambahan C= p/m x laju berkurangnya A
D. Laju pengurangan A= n/m x laju berkurangnya A
E. Laju pertambahan C= laju pengurangan A
Siswa dapat menghitung Pada suatu reaksi kimia C + D → E + F, sebanyak 15 gram zat C (Ar C =
besarnya nilai laju reaksi. 50) dimasukkan kedalam tabung yang berisi 400 mL larutan D 4 M.
Setelah reaksi berlangsung selama 3 menit, zat C yang tersisa sebanyak 5
gram. Berapakah laju reaksi pengurangan zat C?
A. 0,0016 M/s
D. 0,0044 M/s
B. 0,0028 M/s
E. 0,0056 M/s
C. 0,0032 m/s
Siswa dapat menghitung Pada suatu reaksi kimia A → B, konsentrasi A mula-mula adalah 12 M.
besarnya nilai laju reaksi. Setelah reaksi berlangsung selama 4 menit konsentrasi menjadi 8 M.
Berapakah laju reaksi zat A?
A. 0,167 M/s
D. 0,467 M/s
B. 0,267 M/s
D. 0,567 M/s
C. 0,367 M/s
Siswa
dapat Diantara pernyataan berikut yang tidak benar adalah…
mengidentifikasi
A. katalis mempercepat laju reaksi
pernyataan yang tidak
B. semakin besar energi pengaktifan, semakin cepat reaksi
benar tentang faktorberlangsung
faktor
yang
C. semakin besar konsentrasi pereaksi, semakin besar frekunsi
mempengaruhi
laju
tumbukan.
reaksi.
D. Kenaikan suhu akan memperbesar energi kinetik molekul pereaksi
E. Laju reaksi ditentukan oleh tahap reaksi yang berlangsung paling
lambat.
Siswa dapat menyebutkan Faktor berikut akan memperbesar laju reaksi, kecuali...
faktor
yang
dapat
A. pada suhu tetap ditambahkan suatu katalisator
mempercepat laju reaksi
B. suhu dinaikkan
C. pada suhu tetap tekanan diperbesar
D. pada suhu tetap volume diperbesar
C2
C
C3
B
C3
A*
C2
E
E*
C1
124
E. pada volume tetap ditambakan zat pereaksi lebih banyak
45.
46.
47.
48.
Siswa
dapat Faktor-faktor berikut yang tidak dapat mempercepat laju reaksi adalah...
mengidentifikasi
A. Konsentrasi awal zat pereaksi
pernyataan yang tidak
B. Suhu
benar
C. Luas permukaan sentuhan
D. Katalisator
E. Jumlah zat pereaksi
Siswa
dapat 5 kali percobaan, hasil reaksi antara seng (Zn) dengan larutan asam
mengidentifikasi faktor- klorida adalah sebagai berikut:
faktor laju reaksi dalam Percobaan Massa dan bentuk HCl
percobaan
seng
1
5 gram, kepingan
2M
2
5 gram, butiran
2M
3
5 gram, serbuk
3M
4
5 gram, serbuk
4M
5
5gram, kepingan
4M
Reaksi yang berlangsung paling cepat adalah pada nomor….
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E.5
Siswa
dapat Memperbesar luas permukaan zat dapat dilakukan dengan cara
menyimpulkan pengaruh memperluas zat tersebut. Hal ini disebabkan....
luas permukaan terhadap
A. Makin luas permukaan, makin besar laju reaksinya dan makin
laju reaksi
kecil kemungkinan untuk bertumbukan.
B. Makin luas permukaan, makin kecil laju reaksinya dan makin kecil
kemungkinan untuk bertumbukan.
C. Makin luas permukaan, makin besar laju reaksinya dan makin
besar kemungkinan untuk bertumbukan.
D. Tumbukan tidak berpengaruh terhadap luas permukaan.
E. Luas permukaan tidak mempengaruhi laju reaksi
Siswa
dapat Diketahui kondisi zat yang bereaksi sebagai berikut:
mengidentifikasi faktori) Serbuk seng + HCl 0,1 M
faktor laju reaksi dalam
ii) Lempeng seng + HCl 0,1 M
percobaan
iii) Serbuk seng + HCl 0,5 M
iv) Butiran seng + HCl 0,5 M
v) Lempeng seng + HCl 0,5 M
C1
E*
C2
D*
C2
C*
C2
C*
125
Dari kondisi tersebut, reaksi yang paling cepat adalah....
A. 1
B. 2
C. 3
D.4
E. 5
Siswa
dapat Diketahui grafik dari data reaksi:
menyimpulkan
grafik
Na2S2O3(aq) + HCl (aq)  NaCl (aq) + H2O(aq) + SO2 (g) + S (s)
hasil percobaan terhadap
Sebagai berikut:
laju reaksi
49.
50.
51.
T (suhu)
Grafik di atas menunjukkan bahwa….
A. suhu tidak mempengaruhi laju reaksi
B. semakin tinggi suhu, reaksi berlangsnug lambat
C. semakin rendah suhu, reaksi berlangsung cepat
D. semakin tinggi suhu pada saat reaksi maka laju reaksi semakin
lambat
E. semakin tinggi suhu pada saat reaksi maka laju reaksi semakin
cepat
Siswa
dapat Data dari hasil percobaan, untuk reaksi A + B hasil
mengidentifikasi faktor- Perco- Massa zat A
Konsentrasi Waktu Suhu
faktor laju reaksi dalam baan
(mol. L-1)
(detik) (oC)
percobaan
1
5 gram serbuk
0,1
2
25
2
5 gram larutan
0,1
3
25
3
5gram padatan
0,1
5
25
4
5 gram padatan
0,2
5
30
5
5 gram serbuk
0,2
3
30
Percobaan yang berlangsung paling cepat adalah pada nomor….
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E.5
Siswa
dapat Data hasil percobaan untuk reaksi 5 gram CaCO3 dengan larutan HCl
menyimpulkan pengaruh adalah sebgai berikut:
luas permukaan terhadap
CaCO3(s) + 2HCl (aq)  CO2 (g) + CaCl2 (aq) + H2O (aq)
laju reaksi berdasarkan No
Bentuk zat
HCl
Waktu
Suhu (oC)
data percobaan
(detik)
C2
E*
C2
E*
C2
B
126
1.
2.
3.
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
konsentrasi terhadap laju
reaksi
52.
Siswa
dapat
mengidentifikasi faktorfaktor laju reaksi dalam
percobaan
53.
54.
Siswa
dapat
menyimpulkan
grafik
hasil percobaan terhadap
laju reaksi
Serbuk
Serbuk
bongkahan
0,1
0,1
0,1
2
4
8
40
30
30
Dari tabel berikut, laju reaksi dipengaruhi oleh….
A. konsentrasi
D. katalis
B. suhu
E. jumlah partikel
C. luas permukaan
Suatu reaksi pada umumnya akan menjadi lebih cepat berlangsung apabila
konsentrasi pereaksinya semakin besar. Penjelasan yang paling tepat dari
fakta tersebut adalah….
A. semakin besar konsentrasi pereaksi, semakin besar pula energi
aktivasinya
B. tumbukan antar partikel akan menghansilkan energi yang paling
besar bila konsentrasi pereaksi meningkat
C. bertambahnya konsentrasi pereaksi akan menyebabkan orde
reaksi bertambah
D. semakin besar konsentrasi, peluang terjadinya tumbukan yang
menghasilkan reaksi juga besar
E. semakin besar konsentrasi akan menyebabkan suhu reaksi juga
semakin tinggi
Data percobaan reaksi besi dan larutan asam klorida.
No.
Fe (0,2 gram)
[HCl] M
1
Serbuk
4
2
Serbuk
2
3
Serbuk
3
4
Keping
2
5
Keping
1
Dari data diatas, reaksi yang berlangsung paling cepat adalah
percobaan nomor...
A. 1 B. 2 C. 3 D. 4 E. 5
Dari hasil percobaan diperoleh reaksi tahap lambat gas X dengan gas Y
yaitu:
X (g) + 2Y (g)  XY2 (g)
Grafik hubungan laju reaksi dengan konsentrasi X adalah…
C4
D*
C2
A
C2
B*
127
A.
D.
.
v
v
[X]
B.
[X]
E.
v
v
[X]
[X]
C.
v
55.
56.
[X]
Logam Zn bereaksi dengan larutan HCl membebaskan gas hidrogen.
Percobaan dilakukan 5 kali digunakan seng yang sama ukuran serta
jumlah/ beratnya. Jika HCl yang dilakukan selalu sama volumenya tetapi
berbeda kemolarannya, ternyata kecepatan reaksi yang paling besar
diketemukan pada percobaan dengan kemolaran HCl...
A. 0,1 M
D. 1,5 M
B. 0,2 M
E. 2,0 M
C. 1,0 M
Siswa
dapat Kandungan O2 di udara terbuka hanya 20%. Jika serabut besi dibakar di
menyimpulkan pengaruh udara terbuka, akan dihasilkan nyala merah sedikit demi sedikit. Ketika
konsentrasi terhadap laju serabut besi yang memerah dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer berisi
reaksi
oksigen murni, serabut besi akan terbakar dengan hebat. Hal ini
menunjukkan bahwa....
A. Konsentrasi O2 di udara terbuka lebih pekat sehingga serabut besi
tidak mudah terbakar
B. Konsentrasi O2 di dalam erlenmeyer lebih pekat sehingga serabut
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
konsentrasi terhadap laju
reaksi
C4
E
C4
B*
128
57.
58.
59.
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
katalis terhadap laju
reaksi
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
katalis
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
katalis
Siswa
dapat
menyimpulkan pengaruh
katalis
60.
besi lebih cepat terbakar
C. Konsentrasi O2 di udara terbuka lebih sedikit sehingga serabut besi
lebih cepat terbakar
D. Suhu di udara terbuka lebih tinggi dibandingkan suhu di dalam
erlenmeyer sehingga serabut besi tidak mudah terbakar
E. Suhu di udara terbuka lebih rendah dibandingkan suhu di dalam
erlenmeyer sehingga serabut besi tidak mudah terbakar
Katalis yang memperlambat laju reaksi disebut...
A. katalis positif
D. inhibitor
B. katalis homogen
E. Enzim
C. katalis heterogen
Katalis yang tidak ikut bereaksi, hanya sebagai media reaksi saja disebut...
A. katalis positif
B. katalis homogen
C. katalis heterogen
D. katalis pasif
E. katalis aktif
Pernyataan tidak benar mengenai sifat-sifat katalis adalah….
A. pada suhu tinggi katalis dapat rusak
B. katalis tidak mengalami perubahan kimia secara tepat
C. wujud katalis harus sama dengan wujud pereaksi
D. katalis menurunkan energi aktivasi
E. katalis diperoleh kembali pada akhir reaksi
Pada proses pembuatan roti, ragi ditambahkan pada proses pengembangan
roti. Ragi menghasilkan enzim zimase yang akan membantu glukosa pada
adonan roti mengurai menjadi etil alkohol dan karbon dioksida. Karbon
dioksida lah yang berfungsi mengembangkan adonan roti. Dari proses di
atas yang berfungsi sebagai katalis adalah....
A. Enzim zimase
B. Glukosa
C. Etil alkohol
D. Karbon dioksida
E. etanol
C1
D
C1
D*
C2
C
C4
A*
129
LAMPIRAN 6
DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN PERTAMA (POSTTEST)
A. Banyak Data
67
73
77
83
67
73
77
83
67
73
77
87
70
73
80
90
B. Nilai terbesar
: 90
Nilai terkecil
: 67
Rentang kelas (R)
: 23
70
77
80
70
77
80
73
77
80
73
77
80
73
77
80
C. Banyak kelas (K)
K = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log (34)
= 6,054
D. Panjang kelas
E. Tabel distribusi frekuensi
No.
1
2
3
4
5
6
Interval
67 – 70
71 – 74
75 – 78
79 – 82
83 – 86
87 – 90
Jumlah
fi
6
8
9
6
3
2
34
xi
68,5
72,5
76,5
80,5
84,5
88,5
Xi2
4692,25
5256,25
5852,25
6480,25
7140.25
7832,25
Fi.xi
411
580
688,5
483
253,5
177
2593
Fi.xi2
28153,5
42050
52670,25
38881,5
21420,75
15664,5
198840,5
73
77
83
130
131
DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN KEDUA (POSTTEST)
A. Banyak data
60
67
70
77
60
67
70
77
60
67
73
77
63
67
73
77
B. Nilai terbesar
: 77
Nilai terkecil
: 60
Rentang kelas (R)
: 17
63
67
73
63
67
73
63
70
73
67
70
73
67
70
73
C. Banyak kelas (K)
K = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log (34)
= 6,054
D. Panjang kelas
E. Tabel Distribusi Frekuensi
No.
1
2
3
4
5
6
Interval
60 – 62
63 – 65
66 – 68
69 – 71
72 – 74
75 - 77
Jumlah
fi
3
4
9
6
8
4
34
xi
61
64
67
70
73
76
Xi2
3721
4096
4489
4900
5329
5776
Fi.xi
183
256
603
420
584
304
2350
Fi.xi2
11163
16384
40401
29400
42632
23104
163084
67
70
73
132
133
LAMPIRAN 7
PERHITUNGAN UJI NORMALITAS POSTTEST KELAS EKSPERIMEN
PERTAMA
No. Xi
1
67
2
70
3
73
4
77
5
80
6
83
7
87
8
90
Jumlah
f
3
3
8
9
6
3
1
1
34
Zn
3
6
14
23
29
32
33
34
Zi
-1,61
-1,09
-0,57
0,13
0,65
1,17
1,87
2,39
Zt
0,4463
0,3621
0,2157
0,0596
0,2422
0,3790
0,4693
0,4936
Fz
0,0537
0,1379
0,2843
0,5596
0,7422
0,879
0,9693
0,9936
Sz
0,088
0,176
0,412
0,676
0,853
0,941
0,971
1
|Fz – Sz|
0,0343
0,0381
0,1277
0,1164
0,1108
0,062
0,0017
0,0064
(untuk n > 30)
Dari uji normalitas dengan uji Lielifors menunjukkan bahwa Lhit < Ltab (0,1277 < 0,152),
makadapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Perhitungan Zi didapatkan dari rumus
, salah satu contoh perhitungannnya
yaitu:
Nilai Fz di dapat dari : 0,5 + Zt (untuk nilai Zi positif)
: 0,5 – Zt (untuk nilai Zi negatif)
134
PERHITUNGAN UJI NORMALITAS POSTTEST KELAS EKSPERIMEN
KEDUA
No.
xi
1
60
2
63
3
67
4
70
5
73
6
77
Jumlah
f
3
4
9
6
8
4
34
Zn
3
7
16
22
30
34
Zi
-2,04
-1,37
-0,47
0,19
0,87
1,77
Zt
0,4793
0,4147
0,1808
0,0754
0,3078
0,4616
Fz
0,0207
0,0853
0,3192
0,5754
0,8078
0,9616
Sz
0,088
0,206
0,470
0,647
0,882
1
|Fz – Sz|
0,0673
0,1207
0,1508
0,0716
0,0742
0,0384
(untuk n > 30)
Dari uji normalitas dengan uji Lielifors menunjukkan bahwa Lhit < Ltab (0,1508 < 0,152),
makadapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Perhitungan Zi didapatkan dari rumus
, salah satu contoh perhitungannnya
yaitu:
Nilai Fz di dapat dari : 0,5 + Zt (untuk nilai Zi positif)
: 0,5 – Zt (untuk nilai Zi negatif)
135
LAMPIRAN 8
PERHITUNGAN UJI HOMOGENITAS
1. Varians kelas XI IPA 6 (eksperimen pertama)
2. Varians kelas XI IPA 7 (eksperimen kedua)
Dilakukan interpolarisasi untuk mendapatkan ftab
df pembilang : 34 – 1 = 33
df penyebut
: 34 – 1 = 33
F(30,34) = 1,80
F(32,40) = 1,76
Berdasarkan rumus diatas didapatkan hasil F
hitung
≤ F tabel dengan taraf signifikansi α
= 0,05 yaitu 1,65 ≤ 1,77 maka dapat disimpulkan bahwa data homogen.
136
LAMPIRAN 9
PERHITUNGAN UJI HIPOTESIS UJI-t
Uji-t dapat di hitung dengan cara :
Ho = µ
Ha ≠ µ
df = n1 + n2 - 2
= 34 + 34 – 2
= 66
Dilakukan interpolarisasi untuk mendapatkan ttab :
t(60,95%) = 2,00
t(120,95%) = 1,980
Selisih antara ttab(60) dengan df adalah 6, jadi t untuk df 66 adalah:
137
Berdasarkan uji-t posttest menunjukkan bahwa thit > ttab (5,724 > 1,99) dengan df = 66
(melalui interpolasi), pada derajat signifikansi 95%. Maka dapat disimpulkan bahwa kedua
kelas berbeda nyata (Ho ditolak dan Ha diterima).
138
Lampiran 5
NILAI ULANGAN LAJU REAKSI
KELAS XI IPA 6 (EKSPERIMEN)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
Nama
AMALIA WIDIASTUTI
DIMAS HADI KUSUMA
DINA FAUZIA
DITA ASRTRI R.
ELYA DAMAYANTI
FALDHY HAZRIAN
FENNY DELIYANTI
HANA FATASIA
HIKARI AZIZAH H.P.
ILFI WULANDARI
IMAM ZULFIR R.
INDAH WIDYASARI
INDIPHA YALAMAYOSA
KARTIKA THEODORA
LARASSUCI WULANDARI
LOLITA MAYANGSARI
LUTHFI SURYA RAMADAN
M. REZA RUSMAN
MADA RAHARJO
MARGARETHA AMANDA
MEILIA PUSPITA SARI
META BUDIALIS
MIRANTI APRI HILDA
MIRINDHA ZHEICILYA
MUHAMAD ADNAN K.
MUHAMMAD ICHSAN
NADIA ULFAH
NOVITA DEWI A.
NOVITADAYANTI
RANDY EKA PRANA
REGINA BASARIAH P.
RYAN NANDA WHENDY
S. ATHIRAH ZAHRA
SERVIE RIZKY UTAMI
KELAS XI IPA 7 (KONTROL)
Nilai
No.
67
73
77
67
70
87
73
77
70
80
83
80
73
83
67
77
77
77
90
77
77
73
80
77
83
73
80
80
70
73
77
73
80
73
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
Nama
AJI PANUNGGAL
FASYA FEBRIANI
MELISA ANDRIANI
MOH. FAISAL
MUHAMMAD BANI PRATAMA
MUHAMMAD LUTHFI AZIZ
NOVAL HUDIYA
NURMALA DAMAYANTI
NYOMAN R.S AJENG
PUTRI AMELIA
PUTRI MAHARANNI
PUTU LEONALDY PRANATA
RAHDIANOV FIKRI
RENO WILANDA
RIFQY MAULANA
RINA FEBRIANI
RISKA ARDIANA
RIZKA DIANA IRFIN
RIZKY HARRY SETIAWAN
RIZQI KOESOEMA ATMAJA
SARAH FEBRIYANTI
SINDI MULYA KUNTAMANIK
SITI RIZKA AMALIA
SRI DEWI FATIMAH
THERRY BILALESA FOHAN
TIERA ALTA MEILANI
TIFFANY DEANIDIA
TRI SURYA MAHARANI
TRISNA TARMIZI
ULFIYANI HILMYYATUNNISA
WINDA SINTAWATI
YOHANES
YUDHA BAKTI PERMANA
YURINO SUBIYANTO
Nilai
67
73
77
60
70
67
70
77
73
67
67
70
70
67
70
60
60
73
77
77
67
73
67
63
73
63
63
70
63
67
73
73
73
67