Th. XII / 121 - St.Stefanus Cilandak

Transcription

Th. XII / 121 - St.Stefanus Cilandak
www.st-stefanus.or.id
Th.
XII / 121
Edisi September 2014
Domba-DombaKU Mendengarkan SuaraKU
Profil:
Stanisla Esti Enggarsari
Membaca Kitab Suci
Merubah Kehidupanku
Sabda Telah menjadi Daging
Perhentian Terakhir
Dokter Gadungan
3. KERLING
Edisi 121 Th. XII Edisi September 2014
Mari Menimba Air Kehidupan
Membaca Kitab Suci bukan merupakan suatu keharusan bagi kita, sebagai umat Katolik.
Kita tidak diselamatkan Tuhan hanya karena kita tidak membaca Kitab Suci. Bila tidak
demikian, alangkah malangnya umat kita yang sederhana; yang tidak bisa membaca dan
bahkan mendengarkan pun mengalami kesulitan. Membaca (dan mendengarkan) Kitab
Suci bukanlah jaminan masuk surga! Namun semoga kita diingatkan bahwa ada beberapa
santo dan santa yang terlahir, karena mengenal dan membaca Kitab Suci; karena tersentuh
oleh Sabda Tuhan, yang begitu manis dan legit digambarkan oleh kitab Mazmur, dengan
undangannya untuk “Mencecap betapa sedapnya Tuhan.” Lihatlah bagaimana St.
Agustinus bersimpuh pada kaki salib Yesus, setelah tersentuh dan tersentak oleh Sabda
Tuhan. Lihatlah pula St. Ignasius, panglima perang yang garang dengan pedangnya itu.
Ia bertekuk lutut pada Sabda Yesus, menanggalkan pedang dan menggantikannya dengan
Kitab Suci sebagai senjatanya.
Kembali kepada undangan bagi kita untuk mencintai Kitab Suci dengan membaca
dan membacanya, kita tidak hendak mengatakan bahwa inilah satu-satunya jalan untuk
menghayati kekristenan kita. Namun identitas kita sebagai orang Katolik dengan segala
janji dan komitmen kita di dalam sakramen-sakramen, terutama dalam sakramen
pembaptisan, patutlah dipertanyakan seandainya kita tidak pernah mempunyai kerinduan
untuk membaca Kitab Suci. Kitab Suci semestinya bagi kita menjadi petunjuk dan
pedoman untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Meskipun demikian, lebih tepatlah
kita menganggap Kitab Suci bukan sebagai petunjuk atau pedoman kaku yang seolaholah menjadi hukum yang tak terbantahkan. Kitab Suci lebih tepat menjadi ‘sumur
kehidupan’ bagi kita. Ia tidak mau mengatur kita harus begini dan begitu, namun ia
akan terus menerus ‘menginspirasi’ kita untuk terus menemukan Dia di dalam segala.
Bagaikan sumur yang tidak pernah kering, ia selalu menyediakan air yang berlimpah
yang akan memberikan kelegaan dari segala macam kehausan dalam kehidupan ini.
Membaca Kitab Suci itu bagaikan usaha kita untuk menimba air di dalam sumur. Kita
menimba sabda kebijaksanaan dari Tuhan dan umat beriman yang tidak pernah kering. Di
dalam Kitab Suci, terkandung air kehidupan yang berlimpah, yang siap untuk melegakan
kita dari segala hiruk-pikuk dan suntuknya kehidupan ini. Untuk itu, mari kita menimba
air kehidupan itu, dengan tiga jalan. Pertama, membaca Kitab Suci. Kedua, membacalah
Kitab Suci. Ketiga, tidak boleh lupa, bacalah Kitab Suci. Para pembaca yang terkasih,
selamat membaca dan mencecap betapa sedapnya Tuhan, sebagai usaha bagi kita untuk
menjadi domba yang baik. Bukankah Tuhan Yesus menyatakan kepada kita, “DombadombaKu mendengarkan SuaraKu.” Kata ‘mendengarkan’ merupakan satu tarikan nafas
dengan kata ‘membaca.’ Maka, mau menjadi domba-domba yang baik? Kalau mau, ayo
dong…. jangan malas membaca Kitab Suci!
3 : Kerling Redaksi
4: Orbitan Utama
• Sabda telah Menjadi Daging
6: Pesona Sabda
• Domba-DombaKU Mendengarkan SuaraKU
8: Profil
• Membaca Kitab Suci Merubah Kehidupanku
10: Opini
11: Seputar Paroki 1
• Ekaristi, Warisan yang Hidup
12: Seputar Paroki 2
• Ekaristi - Komunitas - Pelayanan
14: Seputar Paroki 3
• Masa Tua Bahagia
15: Seputar Paroki 4
• Aksi Donor Darah
16: Seputar Paroki 5
• Misa Bernuansa Adat Batak
18: Cerpen
• Perhentian Terakhir
19: Pojok Komsos
• Lomba, Pamera, Workshop dan Seminar Fotografi
24: Orbitan Lepas 1
• Bulan Maria dan Bulan Rosario, Sama atau Beda ?
25: Orbitan Lepas 2
• Dokter Gadungan
26: Orbitan Lepas 3
• Remaja Ber-Adorasi? Wow..!!
27: Santo Santa
28: Ongkos Cetak & Bursa Tenaga Kerja
29: Data Donasi Paroki
30: Mewarnai
31: TTS
Ketua Dewan Paroki: Pastor Antonius Sumardi, SCJ
Ketua Seksi KOMSOS: Agustinus Sonny Prakoso | Sekretaris: Alberta S. Listiantrianti | Bendahara: Dian Wiardi
Koordinator Unit Kerja: A. Setyo Listiantyo (0813 28130513),
Meliputi: 1. Redaktur: A. Setyo Listiantyo, 2. Layout & Design: Efrem Agung Wijanarko & Benny Arvian, 3. Iklan: Dian Wiardi (0818 183419),
4. Wartawan & Fotografer: Paulus Sihombing, Adiya Wirawasta, Ign. Daniel Rajdali, Constantine J. Neno, Y Triasputro, Christoverson.
Koordinator Unit Media: Dian Wiardi
Meliputi: 1. Web Page: Benny Arvian, 2. Warta Paroki: Patricia Utaminingtyas & Dian Wiardi , 3. Majalah MediaPASS: A. Setyo Listiantyo,
4. Radio/Video/TV: Constantine J. Neno, 5. Mading/Facebook/Twiter: Y Triasputro, Christoverson.
Koordinator Unit Teknologi Informasi (IT): Sukiahwati Hartanto
Meliputi: 1. Programmer: Patricia Utaminingtyas,Minggo, 2. Maentenance & Jaringan: Sukiahwati Hartanto , 3. Database: Sekretariat Paroki,
Email: [email protected] | Facebook: [email protected]
Web Paroki St. Stefanus: www.st-stefanus.or.id
No rekening Komsos: BCA dengan no 731 0278879 an Mirjam Anindya Wiardi atau R. Prakoso
4. ORBITAN UTAMA
Sabda Telah Menjadi Daging
Léi Ào
Tema edisi majalah MediaPass kali ini mengambil dari tema Bulan Kitab Suci Nasional,
yang mengunggah kutipan Kitab Suci, “Domba - dombaKu, mendengarkan SuaraKu.”
(Yoh 10:27).
justru dari pihak sang Gembala. Pada
hakekatnya, Yesus adalah Allah yang
menjelma menjadi manusia. Allah
yang berkehendak untuk menjadi
Emmanuel; dekat dan menyatu dengan
segala kemanusiaan kita, kecuali dalam
hal dosa. Maka sudah sewajarnya
jika domba-dombaNya mengenal dan
mendengarkanNya, karena Ia menjadi
bagian dari kehidupan domba atau
manusia. Allah Putera telah ‘blusukan’
dalam kubangan dosa manusia dan
menjadi teman bagi manusia. SuaraNya
semestinya menjadi familiar bagi
kita, manusia. Sebaliknya, Allah akan
ditakuti dan bahkan tetap tidak dikenal,
jika Allah tetap hadir dengan segala keAllahan-Nya.
K
utipan tersebut merupakan
pernyataan Yesus yang hendak
membahasakan suatu relasi
antara domba dan Gembala. Membaca
pelan-pelan Sabda Yesus tersebut,
saya memperoleh kesan yang sangat
dalam bahwa ada suatu relasi yang
erat dan masif antara domba dengan
Gembalanya. Sangatlah tidak mungkin
domba-domba mau mendengarkan dan
dapat mengenal suara Gembalanya, jika
mereka tidak mempunyai relasi yang
erat antara kedua belah pihak! Lantas,
mau berbicara apa Sabda ini kepada kita
semua?
Ada tiga insight yang ingin saya
tawarkan kepada pembaca. Pertama,
Sabda ini mengantar kita kepada
pemahaman tentang Yesus, sang
Gembala yang baik. Kedua, Sabda ini
mengajak kita untuk sampai kepada
identitas Yesus sebagai sang Emmanuel.
Ketiga, Sabda ini menantang kita untuk
menjadi domba-domba yang baik. Mari
kita renungkan satu per satu.
Yesus adalah Gembala yang baik.
Kebaikan Yesus tampak dalam
seluruh aspek kehidupannya, terutama
kesetiaanNya untuk menerima dombadomba dengan segala macam situasinya
yang berbeda-beda. Yang sakit
disembuhkan. Yang hilang dicari. Yang
bertobat diampuni. Yang buta dibukakan
matanya. Yang miskin dikuatkan. Yang
tersingkir dirangkul. Yang mati bahkan
dihidupkan. Gembala yang baik tidak
pernah akan membiarkan dombadombaNya terlantar.
Yesus adalah sang Emmanuel.
Kedekatan relasi antara domba dan
Gembala bukan terjadi pertama-tama
karena ketergantungan dan usaha-usaha
para domba. Kedekatan itu diawali
Berikutnya, kita ditantang untuk
menjadi domba-domba yang baik.
Sabda Yesus, “Domba-DombaKu,
Mendengarkan SuaraKu,” sekaligus
menantang kita untuk menjadi dombadomba yang baik. Bagaimana kita
mewujudkannya? Allah yang telah
berinisiatif untuk dekat kepada kita,
semestinya kita sambut atau tanggapi
dengan niat yang sama. Gayung
bersambut, itulah iman yang hidup.
Allah telah begitu mencintai kita dengan
segala rahmat yang diberikan kepada
kita, maka kita perlu menyambut
cintanya dengan terus menerus
mengusahakan kedekatan yang semakin
erat, yakni dengan bertekun dalam doa,
membaca-mendengarkan Kitab Suci
dan mewujudkan iman dan Sabda Tuhan
dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan
domba-domba hanya akan terjadi ketika
segala gerak-gerik atau tingkah laku
kita merupakan pencaran dari nilai-nilai
Kitab Suci. Dengan kata lain, “Sabda
telah menjadi daging!” Yang artinya,
Sabda Yesus harus kita dagingkan atau
daratkan dalam kehidupan sehari-hari.
5
Oleh karenanya, cerita berikut ini
akan mengajak kita untuk berefleksi
lebih dalam bagaimana kita perlu
mendagingkan Sabda Tuhan dalam
kehidupan sehari-hari. Suatu hari, ada
tiga orang muda yang sedang berdiskusi
tentang pengalamannya mendalami
Kitab Suci. Orang pertama mengatakan
bahwa ia menyukai Kitab Suci yang
diterjemahkan sedekat mungkin dengan
bahasa aslinya. Dengan demikian, ia
merasa dibantu untuk masuk ke dunia
Kitab Suci apa adanya, tanpa rekayasa.
Orang kedua mensharingkan bahwa ia
justru lebih menyukai Kitab Suci yang
diterjemahkan secara modern dalam
bahasa sehari-hari. Dengan demikian,
ia terbantu untuk memaknai pesan
Kitab Suci ke dalam persoalan hidup
sehari-hari. Orang ketiga, dengan agak
ragu-ragu, takut diperolok oleh kedua
temannya, mengatakan bahwa ia lebih
tersentuh dengan Kitab Suci yang
“diterjemahkan” oleh ibunya dalam
kenyataan hidup sehari-hari. Baginya,
keteladanan hidup ibunya telah menjadi
“Kitab Suci berjalan” yang telah
menuntun hidupnya kepada jalan yang
dirahmati oleh Allah.
Cerita tersebut bisa jadi menohok
kita; mengejutkan kita! Ternyata,
menjadi pewarta Sabda Tuhan itu tidak
perlulah kita berkotbah di atas mimbar.
Tidak perlu juga bagi kita untuk belajar
menguasai dan menghafal kutipan demi
kutipan Kitab Suci dengan fasihnya.
Usaha kita untuk semakin menjadi
pribadi yang baik dan setia, adalah
pewartaan Sabda Tuhan yang hidup.
Tetapi insight diatas tidak
lantas memberikan pembenaranpembenaran bagi kita untuk malas
membaca dan mempelajari Kitab
Suci. Santo Anselmus mengajak kita
untuk menyadari bahwa iman itu
perlu dimengerti (Fides Quaerens
Intellectum). Ia berpegang pada
motto yang juga dipegang oleh Santo
Agustinus,
“Saya percaya agar dapat mengerti.”
Dalam konteks yang lebih luas,
saya membahasakan undangan Santo
Anselmus dan Agustinus sebagai ajakan
bagi kita untuk terus-menerus mengenal
Yesus. Caranya dengan apa? Bacalah
Kitab Suci! Terus dipelajari, untuk
terus mengenal dan mengerti Yesus dan
familiar dengan suaraNya. “DombaDombaKu, Mendengarkan SuaraKu,”
hanya terjadi bila seluruh aspek
kehidupan kita, termasuk akal budi kita,
terbuka untuk menggali Sabda Tuhan
yang bagaikan sumber mata air yang
tidak pernah akan kering.
Selamat menghidupi Kitab Suci
dalam akal budi, hati dan tingkah laku
kita dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan
memberkati kita. ***
6. PESONA SABDA
Domba-DombaKu
Mendengarkan SuaraKu
Pastor Martin van Ooij, SCJ
B
elum pernah saya melihat di
Indonesia, seorang gembala
menggiring banyak domba.
Sebaliknya di India, di Andra Pradesh,
di desa dimana ada Novisiat SCJ, setiap
pagi saya melihat dengan kagumnya
dua macam pasukan hewan yang mengisi penuh jalanan, hingga jalanan itu
macet; satu grup adalah kawanan kerbau
dengan 2 atau 3 gembala/pendamping
dan satu grup lainnya adalah kawanan
domba atau kambing yang mengisi
seluruh jalan. Pemandangan yang sama
terulang lagi sekitar jam 5 sore, yakni
ketika gembala-gembala untuk menggiring domba-domba dan kerbau-kerbaunya pulang ke kandang.
Suasana ‘prosesi’ hewan-hewan
tersebut amat damai dan kadang-kadang
terdengar suara dari gembala untuk
mengarahkan dan bila perlu menghardik
kawanannya Belum pernah saya melihat
di Indonesia, seorang gembala menggiring banyak domba. Sebaliknya di India,
di Andra Pradesh, di desa dimana ada
Novisiat SCJ, setiap pagi saya melihat
dengan kagumnya dua macam pasukan
hewan yang mengisi penuh jalanan,
hingga jalanan itu macet; satu grup
adalah kawanan kerbau dengan 2 atau
3 gembala/pendamping dan satu grup
lainnya adalah kawanan domba atau
kambing yang mengisi seluruh jalan.
Pemandangan yang sama terulang lagi
sekitar jam 5 sore, yakni ketika gembala-gembala untuk menggiring dombadomba dan kerbau-kerbaunya pulang ke
kandang.
Dalam buku nabi-nabi Jeremia,
Yehezkiel, bahkan Amsal dan Mazmur
digambarkan juga tentang kehidupan
gembala dan domba. Dinamika relasi
antara gembala dan domba hendak
menjelaskan tentang perhatian dan
keprihatinan Allah kepada umatNya.
Allah dihadirkan sebagai gembala yang
selalu mengarahkan umatNya kepada
jalan keselamatan. Bila perlu, Allah
juga menghardik umatNya, agar umat
yang tersesat atau yang menyesesatkan
dirinya, bisa kembali ke jalan yang
dikehendaki Allah.
Suasana ‘prosesi’ hewan-hewan
tersebut amat damai dan kadang-kadang
terdengar suara dari gembala untuk
mengarahkan dan bila perlu menghardik
kawanannya agar menuju ke tempat
yang dikehendaki oleh para gembala.
Temponya pelan-pelan, tetapi tidak
berhenti. Sungguh menarik! Pelan tetapi
pasti! Lambat tetapi tetap bergerak!
Maju dan tidak pernah mundur!
Dalam Perjanjian Baru, dalam
khotbah-khotbah Yesus yang berciri
perumpamaan-perumpamaan, dinamika
relasi gembala dan domba kembali
dimunculkan. Yesus memperhatikan
umatNya dengan penuh kasih sayang,
“Akulah pintu, barang siapa masuk
melalui Aku, ia akan selamat dan ia
akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” (Yoh 10: 9) dan
7
“Akulah Gembala yang baik. Gembala
yang baik memberikan nyawanya bagi
domba-dombanya.” (Yoh 10: 11)
Kebaikan Yesus sebagai seorang
Gembala ini ditampakkan dari keprihatinan dan kepedulianNya terhadap situasi hidup domba-domba. Ia menjaga,
membela dan bahkan menggendong
yang sakit. Dan yang paling penting, kebaikan Yesus sangat dirasakan oleh para
dombaNya karena para domba-domba
merasa dikenal dengan namanya dan
disapa secara pribadi dan mendalam.
Usaha Yesus untuk mencintai penuh
kasih sayang dan menjaga kebersamaan
dan kesatuan domba-domba, bukanlah
sebagai taktik dan untuk pencitraan.
Namun pada hakekatnya, Yesus datang
ke dunia, hanyalah untuk menghadirkan
diriNya sebagai ‘sarang,’ yang berfungsi sebagai tempat untuk berteduh dan
berlindung. Di dalam Yesus, manusia
diundang dalam kebersamaan dan
pribadi untuk menemukan dan mengalami Kerajaan Allah; yakni pengalaman
damai, keadilan, saling menghargai dan
saling menerima apa adanya dan saling
mengampuni.
Gembala yang baik sudah semestinya
menjadi syarat utama bagi orang-orang
yang terpanggil untuk menjalani hidup
sebagai imam. Dalam rangka menjadi
semakin menjadi gembala yang baik,
para imam sewajarnya mau dengan
rendah hati, belajar dari kehidupan keseharian dan juga belajar dari umatnya
sendiri. Zaman telah berubah dan terus
akan berubah, menantang para imam
untuk terus menerus belajar menjadi
imam yang tahu kebutuhan umat dan
hadir dalam setiap problema umat.
Dalam hal ini, Yesus memberikan
contoh, yakni dengan menghadirkan
diriNya di tengah situasi orang yang
bergembira maupun yang kesusahan.
Ia bergembira dan berpesta bersama
dalam perkawinan di Kana; namun
Ia ada pula bersama Maria dan Martha, ketika Lazarus meninggal dunia.
Sikap dan mentalitas Yesus seperti
ini, hendaklah diwujudkan oleh para
imam. Hendaknya, para imam mampu
menghadirkan dirinya sebagai imam
yang melayani dan mendampingi umat.
Kesederhanaan dalam melayani dan
sikap ‘blusukan’ hendaknya dihidupi
oleh para imam. ****
8. PROFIL
Membaca Kitab Suci
Merubah Kehidupanku
~Enggar~
S
aya Stanisla Esti Enggarsari
atau teman-teman biasa
memanggil saya Enggar. Saya
lahir di Jakarta, 4 April 1988. Saya
merupakan putri ke 2 dari 3 bersaudara,
pasangan Bapak FX. Slamet Hertanto
dan Ibu Anastasya Widiastuti. Sejak
kecil saya dibesarkan dari keluarga
Katolik. Namun keluarga saya bukan
yang mewajibkan setiap Minggu dan
perayaan Katolik untuk pergi ke Gereja.
Terkadang saya iri melihat beberapa
keluarga yang ke Gereja bersama-sama,
tetapi apa daya, keluarga dan orang
tua saya tidak seperti keluarga Katolik
lainnya. Orang tua memberikan saya
kebebasan untuk memilih agama yang
dianut sampai saya dewasa. Maka dari
itu, saya berinisiatif untuk dibaptis
secara Katolik pada saat saya berumur
18 tahun.
Saya memulai awal pendidikan
sekolah saya pada umur 5 tahun dan
masuk ke Taman Kanak-Kanak (TK),
di mana TK inilah yang mengajarkan
saya cara berdoa dan belajar agama
Islam. Setelah selesai dari TK saya
masuk ke Sekolah Dasar swasta
Katolik. Dari sejak itulah, saya mulai
mengenal siapa Tuhan Yesus dan
belajar agama Katolik secara umum.
Kemudian saya melanjutkan kembali
ke tingkat SMP dan SMU di sekolah
negeri agar dapat kemudahan untuk
melanjutkan kuliah di Universitas
Negeri. Dalam perjalanan setelah
mengikuti pendidikan menengah, saya
mulai belajar katekumen agar dapat
menjadi warga gereja yang sah. Dari
belajar katekumen itu akhirnya saya
di baptis secara Katolik pada umur 18
tahun. Saat ini saya masih melakukan
aktifitas kuliah dan sambil bekerja
untuk menambah pemasukan dan tidak
lewat saya mengikuti kegiatan di Gereja
hingga sekarang.
Awal mula saya ikut dalam kegiatan
di gereja ini adalah pada saat saya
belajar untuk Sakramen Krisma. Dalam
belajar itulah saya mengenal temanteman saya dan mengajaknya untuk
ikut KEP. Pertama-tama saya malas
ikut KEP, tetapi setelah saya masuk
dan diberikan tanggung jawab menjadi
Ketua kelompok dan Ketua kelas, saya
jadi termotivasi untuk selalu hadir.
Sejak itulah saya mengenal
tentang Firman Tuhan dan saya
mulai mendalaminya dan mulai
menyesuaikan dengan kehidupan
saya. Selama 3 bulan saya mengikuti
KEP dan mengikuti kegiatan retret,
saya belajar dan mengetahui tentang
pencurahan Roh Kudus itu. Dengan
adanya kegiatan yang saya lakukan
itu, saya menjadi yakin dan kuat, saya
ingin memulai untuk melayani dan
berkarya di gereja. Tak lama kemudian
saya mendaftar dan masuk dalam
Paguyuban Lektor. Saya mengikuti
Paguyuban ini tanpa paksaan atau
hal-hal yang memaksa saya untuk
melakukan ini. Saya hanya ingin
melayani dan berkecimpung di kegiatan
gereja, walaupun hanya sedikit. Selama
saya mengikuti kegiatan-kegiatan di
gereja, keluarga saya tidak berkomentar
9
apapun tentang saya. Melarang saya
untuk tidak dan mendukungpun tidak
ada komentar. Yang saya ketahui
bahwa mereka hanya tahu, kalau saya
melaksanakan tugas gereja dan tidak
melakukan hal-hal jahat selama saya di
gereja dan perjalanan hidup saya.
Selama saya menjadi Lektor, saya
mulai mengerti bagaimana cara
membaca Kitab Suci dengan benar,
menghayati setiap ayat dan perikop
yang saya bacakan. Sebenarnya saya
bukan orang yang sering membaca
Kitab Suci. Tetapi setelah saya mulai
menjadi Lektor, saya merubah pola pikir
dan tindakan saya. Membaca Kitab Suci
itu sangatlah penting, karena biasanya
jikalau kita membaca Kitab Suci setiap
hari, ada renungan yang mengena dalam
kehidupan kita.
Suatu hari dalam pengalaman saya
ketika saya ada masalah, saya mencoba
merenung, berdoa dan membuka Kitab
Suci. Pada saat itulah saya menemukan
ayat mengena dengan permasalahan
saya, dan ayat-ayat itu memberikan
jawaban kepada saya. Sejak saat itu dan
hingga sekarang, saya sangat yakin bila
masalah yang ada pada diri saya dan
ketika saya membaca Kitab
Suci, seolah-olah Tuhan berbicara
dan hadir di setiap kehidupan
kita.
Karena Tuhan tahu dan akan
memberikan pencurahan yang berbeda
pada setiap manusia dalam perikop
yang sama.****
JAM PELAYANAN
SEKRETARIAT PAROKI
Kantor Sekretariat Paroki St. Stefanus buka setiap hari:
1. Senin pk 08.00 - 16.00 WIB
2. Selasa s/d Minggu pk 08.00 - 18.00 WIB
Tutup pada hari Libur Nasional dan hari Besar Agama Katolik
10. OPINI
Apa kata mereka tentang
Domba-DombaKU Mendengarkan SuaraKu
• Apakah anda pernah membaca KS? Ayat atau Kitab manakah yang pernah anda baca?
• Dapatkah anda menjelaskan singkat, maksud ayat yang anda baca.
• Dari penjelasan tentang ayat tersebut, sudahkah anda renungkan dan jalani dalam kehidupan anda sehari-hari?
Dewi Jantie Octavianus / wil. III St. Ambrosius
Sekretaris lingk. dan anggota lektor
Ayat yang berkesan bagi saya adalah
dari Matius 28:18-20. Yesus mendekati
mereka dan berkata: “Kepada-Ku
telah diberikan segala kuasa di sorga
dan di bumi. Karena itu pergilah,
jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa
dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu
yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Menurut saya artinya kita sebagai
murid Kristus diminta, ditugaskan dan
diutus untuk memberitakan kabar
gembira Tuhan Yesus Kristus kepada
siapapun, kapanpun dan dimanapun.
Saya berusaha untuk membagikan
kabar gembira tentang Tuhan Yesus
setiap hari misalnya dengan mengirimkan
renungan harian, membantu orang lain
yang membutuhkan, bergabung dalam
komunitas dan berusaha melayani dengan
kasih dan terutama berusaha untuk hidup
baik sesuai ajaran Yesus sehingga dapat
menjadi contoh baik untuk orang lain,
walau saat ini saya merasa masih sangatsangat jauh dari sempurna dalam menjadi
murid Kristus.****
Imelda S. Jodihardja
Keluarga Kudus/wil IX
Koor Swarathera
, Bendahara
Lansia
, Pendiri/Wakil ketua
Yayasan Bahtera Nusa Bakti.
Ya, saya pernah membaca
Kitab Suci dan diusahakan setiap
hari. Banyak sekali ayat-ayat
yang saya baca dan simak, salah
satunya yang saya ingat dan
berkesan adalah 1 Petrus 4: 6-11.
Saya coba mensharingkan
maksud dari ayat tersebut yaitu
dimana Bapa menghendaki
kita merendahkan diri kita
di bawah tangan Tuhan yang
kuat. Bapa akan meninggikan
kita pada waktunya. Agar kita
menyerahkan segala kekuatiran
kepada Bapa sebab Bapa lah
yang memelihara kita. Dengan
iblis di sekeliling kita semua,
seperti singa yang mengaumngaum, maka kita dikehendaki
untuk melawannya dengan iman
yang teguh. Allah sumber segala
kasih karunia akan mengokohkan
dan telah memanggil kita dalam
Kristus kepada kemuliaanNya
yang kekal sebab Dialah yang
empunya kuasa sampai selamalamanya.
Dari penjelasan tentang ayat tersebut,
saya sudah renungkan dan jalani dalam
kehidupan saya sehari-hari. Ayat tersebut
sangat baik utk direnungkan dan dijadikan
pegangan hidup, misal dalam pelayanan
sehari-hari dimana sikap rendah hati
dalam berbagi kasih dengan tulus
sangat diperlukan. Selain itu, pada saat
kekuatiran melanda maka berpegang
dan berserah padaNya sungguh
mendamaikan hati. Dia pasti memberi
yang terbaik untuk kita. Pada akhirnya,
dengan Iman, Harapan dan Kasih dalam
Dia, kita pasti menang.****
11. SEPUTAR PAROKI 1
SEMINAR EKARISTI :
“EKARISTI, WARISAN YANG HIDUP”
~Dewi Janti~
S
esuai anjuran dari Dewan
Paroki St. Stefanus, agar setiap
Wilayah di Paroki mengadakan
seminar Ekaristi maka pada hari
Sabtu, 30 Agustus 2014 pukul 08.30
pagi telah banyak warga wilayah
III – St. Ambrosius yang terdiri dari
5 Lingkungan, berkumpul di rumah
Bapak Hersanto Angwidjaja di jalan
Metro Alam I. Mereka langsung
melakukan registrasi nama, alamat dan
lingkungan masing-masing. Sambil
menunggu acara dimulai, sesama warga
saling menyapa dan mengobrol satu
sama lain.
Pada pukul 09.05 seminar dibuka
oleh MC dan dilanjutkan dengan kata
sambutan dari ketua Wilayah III - St.
Ambrosius, ibu Regina Setiobudhi.
Kemudian ibu Regina mempersilahkan
Pastor Robby Wowor, OFM selaku
pembicara dalam Seminar Ekaristi
untuk menyampaikan materi mengenai
Ekaristi.
Saat makan siang warga saling
berbaur dan ngobrol sampai akhirnya
setelah puas dengan santapan rohani dan
jasmani juga telah membina keakraban
satu sama lain maka semua kembali ke
rumah masing masing.
Seminar yang bagus ini dihadiri 89
orang yang terdiri dari 82 orang warga
Wilayah III, 2 orang anggota Dewan
Paroki Harian, 2 orang tamu dan pemain
music. Semua peserta seminar dengan
antusias mendengarkan Pastor Robby
yang menjelaskan tentang Ekaristi
secara menarik. Semua penjelasan
diberikan dengan berdasarkan kutipankutipan dari Kitab Suci.
Kami semua meyakini bahwa seminar
ini membawa banyak sekali manfaat
untuk kami sehingga kami lebih
memahami bahwa Ekaristi itu adalah
ucapan syukur atas karya penebusan
dan kenangan akan sengsara, wafat
dan kebangkitan Kristus. Bahwa dalam
Ekaristi Tuhan Yesus memberikan tubuh
dan darahNya sendiri dalam rupa roti
dan anggur. Bahwa menerima tubuh
Kristus pada saat komuni berarti kita
bersatu dengan Kristus dan kita dapat
menikmati kehadiranNya dalam diri
kita.
Bahwa saat seperti inilah yang
membuat kita butuh waktu hening
sesudah menerima tubuh Kristus agar
kita dapat menikmati kebersamaan
dengan Kristus, dapat dengan berkatakata denganNya maupun hanya
hening untuk merasakan indahnya
kehadiranNya.
Jadi sebaiknya janganlah kita
diganggu dengan suara atau nyanyian
yang terlalu meriah atau gangguan
dengan kantong kolekte.
Syukur kepada Tuhan.***
12. SEPUTAR PAROKI 2
EKARISTI – KOMUNITAS – PELAYANAN
Fransisca Sri Tjahjani – Lingkungan Sta. Maria Goretti
P
ada hari Sabtu, 13 September
2014, Wilayah X – Sta. Katarina
Siena menyelenggarakan
Seminar Ekaristi dengan tema
“Ekaristi-Komunitas dan Pelayanan”
yang dibawakan oleh Rm. Albertus
Purnomo, OFM dan moderator Bp.
Sabar Prasodjo.
Seminar ini dapat terlaksana berkat
kerjasama antara 4 lingkungan yang
ada di Wilayah X (Lingkungan Sta.
Maria Bunda Setia, Lingkungan St.
Kristoforus, Lingkungan St. Yohanes
Don Bosco dan Lingkungan Sta.
Maria Goretti) dan Seksi Katekese
Paroki St. Stefanus, Cilandak. Acara
tersebut diadakan sebagai salah satu
bentuk usaha untuk meningkatkan keiman-an akan Yesus Kristus. Dengan
diadakannya seminar ini diharapkan
agar umat semakin memahami dan
mendalami makna Ekaristi yang
diikutinya setiap minggu di gereja.
Seminar diawali dengan uraian
mengenai problematika yang terjadi
saat ini seputar Perayaan Ekaristi
di beberapa negara maju, termasuk
usaha-usaha pembaharuan liturgi
yang senantiasa dilakukan. Adapun
problematika-problematika yang
diuraikan adalah murni pengalaman
nara sumber yang sempat mengenyam
pendidikan di negara-negara tersebut.
Pembahasan berikutnya adalah
Ekaristi yang dikaitkan dengan Injil
Perjanjian Baru, yaitu dengan Surat
Rasul Paulus, Injil Sinoptik (Matius,
Markus dan Lukas) serta Injil Yohanes.
Jika melihat sejarahnya, dalam tradisi
Yahudi, perjamuan dilakukan dengan
tujuan untuk berkumpul (menghadirkan
kesatuan) dan membaca Kitab Suci
(karena Sabda Allah diyakini sebagai
tanda kehadiran Allah). Demikian juga
dalam Umat Kristen perdana, yang
disebarkan oleh para Rasul Yesus
Kristus terutama oleh Rasul Paulus.
Kenyataan pada waktu itu, bahwa
orang-orang kaya yang diundang ke
perjamuan akan datang lebih dulu
karena mereka tidak harus bekerja
sehingga bisa makan sampai kenyang
dan minum sampai puas, bahkan
terkadang mabuk.
Tapi di sisi lain, orang-orang miskin
yang juga diundang dalam perjamuan,
karena situasi yang mengharuskan
mereka bekerja dari pagi hingga sore,
memaksa mereka datang terlambat ke
perjamuan. Hal ini mengakibatkan,
mereka hanya mendapatkan makanan
sisa dan minuman seadanya.
Situasi ini dilihat oleh Rasul Paulus
dalam jemaat di Korintus sebagai
persoalan yang mendatangkan
keburukan karena menimbulkan
perpecahan dan itu disebut sebagai
sesuatu yang tidak terpuji (1 Kor. 11:
17-22).
Keadaan serupa juga terlihat dalam
perjamuan ala Romawi pada jamannya,
dimana perjamuan dirayakan dalam
ruangan yang sangat kecil untuk suatu
kelompok. Adapun penentuan kelompok
dilakukan sesuai kebiasaan bangsa
Roma yang menggolongkan para tamu
13
berdasarkan tingkat sosialnya sehingga
hampir mengabaikan orang-orang yang
dianggap rendah/miskin.
Persoalannya adalah baik orang
kaya maupun miskin itu adalah samasama anggota jemaat Kristen dan
jika tetap ada kelompok kaya-miskin
dalam perjamuan maka bukanlah suatu
komunitas Ekaristi.
Selanjutnya berikutnya mengenai
dasar teologi Ekaristi Paulus sebagai
Perjamuan Tuhan, dimana perjamuan
diawali dengan permohonan berkat
Allah atas roti yang akan dipecah dan
dibagikan kepada semua yang hadir.
Hal ini yang pada akhirnya membentuk
Gereja sebagai Tubuh Kristus (1 Kor.
11: 23-26).
Dalam pembahasan ditekanakan pula
pentingnya komunitas karena tanpa
komunitas keabsahan Ekaristi akan
hilang. Adapun kesatuan komunitas
adalah sesuatu yang pokok dan
diharapkan bahwa setiap individu yang
masuk dalam komunitas akan menjadi
ciptaan baru (2 Kor. 5: 17) karena
mengalami perubahan yang positif.
Sedangkan penjabaran Ekaristi dalam
Injil Sinoptik lebih kepada makna
dari apa yang tertuang dalam Injil
karena pengandaian yang diuraikan
di Injil lebih penting daripada apa
yang sesungguhnya tertulis. Dalam
Perjamuan Terakhir, makna roti yang
dibagikan melambangkan keseluruhan
hidup seseorang (dalam hal ini Yesus
sendiri).
Maka sudah selayaknya bahwa
KITA SEBAGAI MURID KRISTUS
RELA MEMBERIKAN DIRI DALAM
BENTUK PELAYANAN KEPADA
SESAMA.***
14. SEPUTAR PAROKI 3
“MASA TUA BAHAGIA”
Oleh Fransiskus Leu
M
endengarkan dan
menikmati alunan musik
itu memberikan manfaat
panjang umur, kata salah seorang
wanita tertua di dunia yang berasal
dari Jepang bernama Kamato Hongo
ini usianya 116 tahun. Dia adalah
penikmat musik sejati, mendengarkan
musik merupakan cita-rasa dalam
hidupnya. Hal ini juga diakui oleh
para pakar dan dokter pada umumnya,
menurut ilmuwan Amerika bahwa
musik itu merupakan gelombanggelombang resonansi yang dapat
mempengaruhi perasaan seseorang,
dapat menenangkan tubuh dan jiwa
manusia. Karena musik mengandung
berbagai macam irama yang dapat
menggerakkan tubuh dengan
mengikuti irama musik tersebut,
sehingga mampu mengatur bioritmebioritme manusia, bahkan para ahli
kesehatan mengobati pasien-pasiennya
antara lain dengan musik. Menurut
Aristoteles: “Musik mempunyai
kemampuan mendamaikan hati yang
gundah/stres, mempunyai daya terapi
rekreatif serta bisa menumbuhkan
semangat dan jiwa patriotisme”.Begitu
pentingnya keberadaan musik dalam
kehidupan kita maka tidak salah bila
banyak orang mengikuti kegiatankegiatan yang berhubungan dengan
musik di gereja maupun di masyarakat,
misalnya ikut kelompok paduan suara/
koor, kelompok musik kolintang,
gamelan, keroncong, macapat dlsb, kini
mulai banyak terbentuk di kalangan
gereja dan masyarakat.
Lomba Paduan Suara dalam
rangka Hari Lanjut Usia Sedunia
Di masa-masa tua orang dapat merasa
bahagia karena mampu menjaga cara
hidupnya, memelihara kesehatan dan
mengatur pola makan, mengendalikan
pikiran dan emosi, senantiasa berpikir
positip dan selalu optimis. Dan satu hal
yang penting adalah mau berinteraksi
dengan orang lain, beraktivitas sosial
dan menggemari musik. Hal ini telah
dibuktikan oleh para Lansia yang
tergabung dalam Paguyuban Lansia
pada tgl 29 Agustus 2014 di Gd Leo
Dehon St Stefanus dalam Lomba
Paduan Suara Lansia tingkat Dekanat
Jakarta Selatan dengan semangat dan
antusias, peserta terdiri dari enam
paroki saling unjuk kebolehannya
menyanyikan lagu wajib dan lagu
pilihan ciptaan L Putut Pudyantoro.
Meskipun usia mereka rata-rata diatas
60 tahun, namun suaranya tak kalah
dengan orang muda. Setelah dinilai
oleh dewan juri hasilnya adalah sbb:
Juara I diraih oleh Paroki Asisi-Tebet,
Juara II paroki Stefanus-Cilandak dan
Juara III oleh paroki Kel Kudus-Pasar
Minggu. Tujuan dari penyelenggaraan
tersebut selain memberikan semangat
dan kebersamaan dalam komunitas
Lansia juga untuk memberikan motifasi
dan contoh bagi generasi muda dalam
rangka menyambut Tahun Pelayanan
Gereja, sesuai dengan moto dan
semangat Lansia ‘tak lekang oleh usia’
berkarya dan melayani sampai menutup
mata. Proficiat! ****
15. SEPUTAR PAROKI 4
AKSI DONOR DARAH
14 September 2014 St. Stefanus 2014
16. SEPUTAR PAROKI 5
Misa Bernuansa Adat Batak
Minggu 31 Agustus 2014 Pkl 09:45 WIB
Oleh: Jaston Sinaga – Lingkungan Sta. Maria Goretti
P
ada Perayaan Ekaristi Minggu, 31
Agustus 2014 pukul 09:45 WIB
yang lalu, Paroki St. Stefanus,
Cilandak menyelenggarakan misa
dengan nuansa adat Batak. Ada 3 Sub
Etnis suku Batak dari 5 Sub Etnis yang
ada yang tampil memberikan warna
nuansa adat Batak dalam misa tersebut.
Ketiga Sub Etnis Batak tersebut
adalah suku Batak Karo, suku Batak
Simalungun dan suku Batak Toba. Dua
Sub Etnis Batak lainnya, yaitu suku
Batak Mandailing dan suku Batak
Pakpak (Dairi) tidak tampil karena
tidak ada satupun keluarga dari umat St.
Stefanus dari sub etnis ini. Juga Suku
Batak Mandailing dan Suku Batak
Pakpak pada umumnya penganut agama
Islam.
Nuansa Adat Batak dari tiga sub etnis
Batak ini paling tidak tampak dalam
pakaian dan asesoris yang dikenakan
oleh umat. Dalam prosesi perarakan,
Keluarga Bapak Harry Tjan Silalahi,
Keluarga Bapak Pintor Marpaung dan
Keluarga Bapak Manullang tampil
dengan pakaian dan asesoris nuansa
adat Batak Toba. Keluarga Bapak
Apentius Saragih tampil dengan pakaian
dan asesoris nuansa Batak Simalungun
sedangkan keluarga Bapak Tarigan
tampil dengan pakaian dan asesoris adat
Batak Karo.
Umat Batak lainnya yang hadir dalam
misa duduk di kursi pada bagian yang
menghadap altar, tentunya dengan
pakaian dan asesoris nuansa adat Batak.
Tampak hadir dan duduk di barisan
depan adalah Keluarga Bapak Bonggas
Pasaribu dan Ibu Betsy Sihombing,
yang merupakan sesepuh masyarakat
Batak yang ada di paroki St. Stefanus.
Lagu pembukaan dengan judul Na
Denggan Tapareak (Yang baik kita
tebarkan), dilantunkan dengan mantap
oleh Paduan Suara Lux Mundi dengan
didukung oleh pemusik khas musik
Batak, gondang dan suling (seruling),
mengiringi para peserta prosesi
perarakan memasuki gereja. Barisan
perarakan terdiri dari para misdinar,
peserta perarakan dari suku Batak,
prodiakon, lektor/lektris dan pastor.
Misa bernuansa Batak kali ini dipimpin
Romo Paulus Setiadi, SCJ.
Romo Setiadi membuka perayaan
Ekaristi dengan salam pembuka khas
bahasa Batak: Horas – Menjuahjuah,
yang artinya kira-kira sama dengan
salam damai untuk kita semua. Pada doa
pembuka Romo Setiadi mengucapkan
doa pembuka dalam bahasa batak
Toba, meski dalam lafal bahasa Batak
yang sedikit tertatih-tatih, namun tidak
mengurangi makna dari doa tersebut.
Dalam prosesi pembacaan Injil
Kristus, Pak Pintor Marpaung dan istri
yang mendapat tugas memberikan
Kitab Suci kepada Romo Setiadi,
SCJ. Pemberian Kitab Suci diiringi
dengan dengan musik gondang Batak
dan juga diiringi tarian Tortor dari Ibu
Panggabean dan Ibu Sitanggang.
Pada saat sesi persembahan, ada
12 orang petugas persembahan yang
sudah disiapkan oleh panitia yaitu 4
orang ditugaskan untuk membawa
hosti dan anggur: Oci Pasaribu,
Bunga Pasaribu, Tulus Tumanggor
dan Christian Munte. Dan 8 orang
bertugas membawa persembahan berupa
masakan khas batak, buah, lappet dan
tandok: Patricia dan Angeline Saragih
membawa persembahan masakan khas
Batak saksang dan arsik ikan mas, Vina
dan Suami membawa persembahan
lappet dan buah, Tina Zonneveld
dan Ibu Panggabean membawa
persembahan tandok yang berisi beras,
Keluarga Sihaloho dan istri membawa
persembahan pisang.
Setelah usai perayaan Ekaristi,
diadakan ramah tamah di Aula Leo
Dehon lantai 4. Acara dihadiri oleh
Komunitas umat Batak, anggota
koor Lux Mundi, beberapa anggota
Dewan Paroki Harian, Romo Antonius
Sumardi, SCJ dan Romo Paulus Setiadi,
SCJ.
Dalam acara ramah tamah ini, atas
usulan dari tetua komunitas Batak
yang ada di Paroki St. Stefanus, yaitu
Bapak Bonggas Pasaribu, mengusulkan
agar dibentuk perkumpulan (punguan)
komunitas umat Batak yang ada di
Paroki St. Stefanus. Secara bulat
umat Batak yang hadir dalam ramah
tersebut setuju. Juga Romo Sumardi,
pastor kepala Paroki St. Stefanus
Cilandak menyatakan persetujuannya.
Adapun tujuan dari komunitas umat
ini adalah untuk mengumpulkan umat
Batak yang ada di paroki Stefanus,
menggalang solidaritas dan mempererat
persaudaraan umat. Secara aklamasi
dibentuk pengurus (koordinator)
punguan/Komunitas Halak Batak Paroki
St. Stefanus Cilandak sebagai berikut:
Ketua - Bapak Pintor Marpaung, Wakil
Ketua – Bapak Benediktus Jaston
Sinaga, Sekretaris – Ibu Tina Zonneveld
dan Bendahara - Ibu Vera Yanthy
Pasaribu.
Misa bernuansa Batak ini boleh
dikatakan dipersiapkan hanya dalam
waktu 2 minggu saja. Panitia menerima
tugas pelaksanaan misa bernuansa Batak
ini dari Ketua Seksi Liturgi Bapak
Agus Maryana 3 minggu sebelumnya.
Namun karena semangat kerjasama dari
umat dan bantuan teknologi informasi
komunikasi yang semakin maju, kami
panitia dapat mempersiapkan misa
bernuansa adat Batak ini dengan baik.
Terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu terlaksananya misa
bernuansa adat Batak ini. Semoga
semua yang kita lakukan dapat
membawa kebaikan kepada umat,
khususnya komunitas Batak yang ada di
paroki ini dan demi kemuliaan Tuhan,
Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG).
18. CERPEN
PERHENTIAN TERAKHIR
-randi-misrun-moran-andro-
“
Kalau tidak mengerti, apa yang
saya jelaskan! Saudara bisa keluar
dan cari dosen lainnya” tegas
Marpaung Dosen Perancangan Sistem.
“Saya tak mengira generasi kita ini
kerjanya cuma copy paste saja! Kalian
saya tak mengerti, apa yang kalian
kerjakan untuk tugas ini” tambahnya.
Seandainya 35 tahun lalu Marpaung
teruskan karirnya sebagai karyawan
perusahaan logistik, mungkin tidak
sebegitu kritisnya terhadap apa yang
ia dapatkan. Karena beasiswa yang
ia dapatkan untuk ilmu manajemen
informatika di negeri Singa
menuntunnya menjadi peretas dan
terjerat pada hukum. Marpaung pun
dipulangkan hanya karena melakukan
pencurian data serta atau informasi
sama layaknya idealisme sebagai
hacker.
“Sebegitu mudah, kalian buat
perancangan sistem yang tak
berkembang ini dengan sebuah
simulasi perusahaan properti nasional”
tambahnya dalam penjelasan yang
cukup panjang di papan tulis itu.
Hening kuliah umum yang diberikan
dosen Marpaung, menjelaskan sebetapa
besar pengaruhnya dalm kelas tersebut.
“Sudah di ingatkan kepada saudara
sekalian, studi kasus dalam perancangan
sistem ini merupakan salah satu
komposisi antara gradasi desain yang
kalian buat pada aplikasi photoshop
atau mau mainkan manipulasi level saja.
Emangnya kalian operator foto!” kata
Marpaung dan kemudian menuliskan
sebuah tugas baru di papan tulis.
BUAT SISTEM TENTANG
PERANCANGAN PRODUK
RETAIL!!!!
Setelah kelas ditinggalkannya, hela
napas mahasiswa serasa kompak
dilepaskan. Andro pun beranjak
meninggalkan ruang kelas itu dan
segera ke toilet, ditinggalkan tas dan
laptopnya di kelas. “huffftttt hari ini
juga Marpaung lagi-lagi kasih tugas
terus marah-marah!” keluh Bonar
di kantin, “Eh Bonar bukankah kau
termasuk yang copy paste itu kan?”
tanya Sally. Kemudian melintas Andro
selepas mengambil tasnya. “Eh Thiago
Silva! Kemarilah kau” pangil Bonar,
“whats man, apa perlu kugambar muka
arab mu itu dengan layer grayscale
biar lapisan RGB nya bisa glossy” kata
Andro dan duduk di samping Sally
serentak mereka tertawa. “Jangan
bilang kalian lagi membahas isu kudeta
untuk Bapak Marpaung dengan tidak
membuat tugasnya” kata Andro, dengan
sedikit tertawa kecil Bonar menjelaskan,
“ Ahhhh… Bukan kudeta lagi bos
namanya, bisa kah kau boikot saja tugas
itu pake atas nama ku”. Andro pun
tersedak terhenti meredakan dahaganya
meminum segelas teh manis buatan
Mbok Sur, penjual kantin dan beberapa
mahasiswa lainnya menengok ke arah
mereka.
“Kau kuliah untuk lulus saja ya…
tak adakah di otakmu itu macam
moral! Mahasiswa seperti ini kok ide
kreatif pakai atas nama” Andro pun
meninggalkan mereka.
19. POJOK KOMSOS
LOMBA,
PAMERAN,
WORKSHOP
DAN SEMINAR
FOTOGRAFI
Stefanus dalam bingkai
16 Agustus – 6 September 2014
G
ereja St. Stefanus memiliki
bentuk artistik yang
historis, keberagaman serta
kekeluargaan yang tanpa batas,
DINAMIS, serta keutuhan atas
Keimanan Yesus Kristus yaitu “Gereja
yang terbaik adalah gereja yang
merupakan persembahan seluruh
umat kepada Tuhan”. Sie. KOMSOS
akan mencoba memfasilitasi semua
pandangan umat akan Gereja St.
Stefanus melalui sebuah acara
sederhana “Lomba dan Seminar
Fotografi”, dimana terekam dalam
sebuah media foto.
Segala kebebasan dalam
menggambarkan setiap sudut-sudut
gereja, kepekaan akan setiap karyakarya gereja dan aktifitasnya, ruang
apresiasi yang sebesar-besarnya
antar umat. Alat komunikasi yang
menjelaskan keunikan, keindahan akan
keberagaman serta dinamikanya.
“Pameran foto perlu dilakukan
berguna untuk memberikan rasa keingin
tahuan terhadap acara. Workshop
sederhana dan berkala sebelum acara
lomba penting dilakukan membangun
komunitas dan kepercayaan diri para
peserta untuk menyerahkan fotofoto”****
20. POJOK KOMSOS
POJOK KOMSOS
Sebuah ruang diskusi yang disediakan Komunikasi Sosial, sebagai bagian dari apresiasi
seni, budaya, teknologi, informasi, sosial. Berguna untuk mendengarkan, memberikan
kesempatan terbaik bagi komunitas-komunitas di Gereja St. Stefanus dan umum.
Membangun kepeduliaan, Kritis dan kreatif.
21
P
eserta Workshop secara antusias
menerapkan teknik-teknik
sederhana dalam fotografi.
Workshop fotografi sendiri diadakan
2 hari di setiap sabtu, tanggal 23 dan
30 Agustus 2014. Tidak hanya peserta
dari Gereja St. Stefanus tetapi juga dari
umum bersedia untuk hadir meramaikan
acara tersebut.
Dari beberapa foto yang diperlombakan,
memberikan hasil yang positif dan
membangun niat peserta untuk terus
mengembangkan bakat serta niat mereka.
Terbukti foto berjudul Lonceng Gereja
Dalam Bingkai karya Rosa, salah satu
peserta workshop ini menjadi juara.
Foto ini sendiri diambil kurang lebih
sekitar Pk.10:00 Wib dengan media
cermin yang diletakkan pada tangga
menghadap ke arah serong dari lonceng
dan sorot kamera bidik ke cermin
tersebut dengan sudut kemiringan
dan teknik yang sederhana mampu
memberikan kesan inovasi.
Tidak kalah menariknya adalah pada
penjurian smartphone/pocket, beberapa
foto peserta yang masuk sangat beragam
dengan cara yang sangat unik.
Pengambilan foto melalui smartphone/
pocket ini membutuhkan kepekaan serta
spontanitas yang tinggi dimana pada
beberapa sudut akan memberikan pesan
maksimal.
Atas nama Panitia Pameran, Workshop,
Lomba & Seminar Fotografi kami
mengucapkan terima kasih kepada para
peserta yang telah berpartisipasi, Dewan
Paroki Gereja St. Stefanus, serta para
pengajar terbaik yaitu; Anton Ismael,
Hugo Bima, David Hasudungan.
(put)
22. OPINI PESERTA
“
Kegiatan ini sangat positif, karena
praktis dan aplikatif. Untuk saya
sendiri, ada hal yang bertahun-tahun
tidak saya mengerti, tapi dijelaskan
dan dicontohkan denga simple oleh
Mas Anton. Sayang sekali pesertanya
sedikit yah yang ikutan sampai akhir,
padahal pembicaranya sekelas Anton
Ismael dan gratis (-red- kenapa kalau
kursus yang mahal malah banyak yg
ikutan ya?). Mungkin lain waktu perlu
promosi lebih gencar.
Kalau dikasih sedikit biaya malah
menarik minat orang mungkin?
Uangnya-kan bisa untuk gereja/
komsos.
Kedepannya akan sangat baik kala
ada kelanjutannya, apakah workshop/
assignment, atau yg lain. Kalau mau
diadakan workshop lagi, temanya
bisa ditentukan lebih spesifik yang
terkait dengan fotografi tapi sekaligus
‘nyerempet’ dengan setting pewartaan.
Intinya, bagaimana foto itu bisa jadi
bagian dari pewartaan. Kalau dengan
lisan atau kotbah orang mungkin
sudah tahu atau bosan, sementara
gambar mungkin lebih ‘bicara’ dan
‘menyentuh’. Bisa juga dibuat semacam
assignment, hun-ting untuk orangorang yang suka foto umat dengan
fokus sosial-people-gereja interest yang
nantinya bisa ditampilkan, entah sebagai
ilustrasi di media, mading atau malah
bahan kotbah para Pastor.
semangat muda-mudi katolik St.
Stefanus pada khususnya dan mudamudi paroki lain pada umumnya
terus dibuat. Sukses terus untuk
Mediapass. Semoga terus menjadi
ujung tombak suksesnya paroki st.
Stefanus. Pesan saya untuk seluruh
umat, dewan, dan karyawan, mari kita
bersemangat mendukung programprogram Mediapass pada khususnya dan
program-program yang diadakan Gereja
St. Stefanus apapun bentuknya terutama
yang mengarah kepada semangat dan
membangun rohani.”
Agung Pradata I. K. (pemenang kedua
lomba foto kategori DSLR) St. Thomas,
Kelapa Dua****
“
Menjadi pemenang pertama lomba
foto kategori smartphone membuat
saya menjadi lebih semangat dalam
pelayanan. Acara semacam ini sangat
bagus diadakan untuk memotivasi
muda-mudi katolik menjadi garam
dan terang dunia melalui karya-karya
yang menjurus kepad kebangkitan
spiritual dan menjadi bermanfaat bagi
masyarakat.
Harapan saya adalah agar acara-acara
spektakuler yang membakar
Albert (pemenang pertama lomba foto
kategori smartphone)/
Barnabas/Anastasia 1***
23
“Dengan diadakannya seminar
dan lomba ini sangat bagus. Bisa
menciptakan kebersamaan tukar pikiran
dengan teman-teman sehobby foto.
Apalagi bagi pemula sangat membantu
sekali bahkan mempermudah proses
pembelajarannya; agar kita kita
mengenal tehnik-tehnik fotografi,
langsung dibimbing dan dpraktekan.
Saya mengucapkan banyak terimakasih
sekali kepada teman-teman yang sudah
memberikan support kepada saya agar
berani mencoba mengikuti kegiatan ini.
Harapan saya, kegiatan ini tidak
hanya sampai disini, bahkan bisa lebih
semakin berkembang lagi. Sehingga kita
bisa bersama-sama saling berbagi ilmu,
bertukar pikiran dan sharing kembali
bersama. Mengembangkan kembali
proses belajar dan mengenal fotografi
ini menjadi semakin baik.”
DSLR
Juara 1; Total Nilai 6.793 - ROSA
Juara 2; Total Nilai 6.253 - AGUNG
Juara 3; Total Nilai 6.222 - FELICIA
Sebagus apapun kamera itu, yang
terpenting siapa dibalik kamera itu.
Putri Larosa (pemenang pertama lomba
foto kategori DSLR)
St. Stefanus/6/Aloysius****
POCKET/SMARTPHONE
Juara 1; Total Nilai 6.459 - ALBERT
Juara 2; Total Nilai 5.818 - SALLY
Juara 3; Total Nilai 5.468 - GABRIEL
Bagi para peserta yang belum mengambil sertifikat dan hadiah untuk para
pemenang bisa segera menghubungi
PAUL, Hp: 085814111861
24. ORBITAN LEPAS 1
BULAN MARIA DAN BULAN ROSARIO
SAMA ATAU BEDA?
B
eberapa tahun yang lalu, ibu
saya pulang dari doa rosario
lingkungan dengan membawa
sebuah “PR”. Malam itu, sebelum
doa rosario lingkungan dimulai,
ketua lingkungan kami menjelaskan
bahwa bulan Mei adalah bulan Maria,
sedangkan bulan Oktober adalah
bulan Rosario. Nah, kemudian ketua
lingkungan kami menugaskan setiap
umatnya untuk mencari penjelasan
mengapa bulan Mei disebut sebagai
bulan Maria, sedangkan bulan Oktober
disebut bulan Rosario. Ibu saya
menugaskan saya untuk menjawab
PR tersebut, dan reaksi pertama saya
adalah : “Lho, memangnya beda ya?
Bukannya bulan Mei dan bulan Oktober
sama-sama disebut sebagai bulan
Rosario? Sepertinya waktu sekolah
dulu diajarkannya seperti itu deh,,,”
Rasa penasaran membawa kami kepada
pencarian di dunia maya, dan disana
akhirnya kami mendapatkan jawaban
dari PR itu.
Bulan Mei dan Bulan Oktober
memang dikhususkan untuk
menghormati Bunda Maria, namun
bulan Mei disebut sebagai bulan Maria,
sedangkan bulan Oktober disebut bulan
Rosario. Apa sebabnya? Ternyata ada
sejarahnya lho.. Pada negara-negara
empat musim, terutama yang terletak
di bagian utara bumi, bulan Mei adalah
awal musim semi, yang dianggap
sebagai permulaan kehidupan. Bulan
ini dikaitkan dengan Bunda Maria yang
adalah Ibu dari kehidupan. Sejak abad
ke-13, bulan Mei sudah diperkenalkan
sebagai bulan Maria, namun mulai
menyebar ke seluruh dunia, sejak
devosi ini populer di kalangan para
Yesuit sejak abad ke-18. Ada pula
sumber yang mengatakan bahwa pada
awalnya di Italia dan Jerman, bulan
Mei dikhususkan untuk penghormatan
dewa-dewa. Namun sejak mereka
percaya kepada Kristus, kebiasaan ini
tetap dilanjutkan, namun bukan lagi
kepada dewa-dewa, melainkan untuk
menghormati Bunda Maria.
Pada tahun 1809, Paus Pius VII
dipenjarakan oleh pasukan Napoleon.
Di dalam penjara, Paus memohon
dukungan doa dari Bunda Maria agar
dapat dibebaskan oleh penjara. Paus
juga berjanji, apabila ia dibebaskan,
ia akan mendedikasikan perayaan
untuk menghormati Bunda Maria.
Pada tanggal 24 Mei 1814, Paus Pius
VII dibebaskan dari penjara. Dan pada
tahun berikutnya, ia mengumumkan
hari perayaan kepada Bunda Maria
sebagai penolong umat Kristen. Pada
30 April 1965, Paus Paulus VI, melalui
ensiklik Mense Maio (In the Month of
May; dalam bulan Mei), menyatakan
bahwa Bulan Mei dipersembahkan
sebagai bulan peringatan Bunda Allah,
juga menegaskan bahwa penghormatan
kepada Bunda Maria pada bulan Mei
merupakan kebiasaan yang amat
bernilai.
Nah, lantas mengapa bulan Oktober
disebut sebagai bulan Rosario? Ini
tidak lepas dari sejarah Perang Salib.
Pada tahun 1571, pasukan Turki
Ottoman melakukan ekspansi di benua
Eropa. Muncul kabar angin yang
berhembus, bahwa jika pasukan Turki
menguasai Eropa akan mengakibatkan
musnahnya agama Kristen di Benua
Eropa. Pada saat itu, tentara Kristen
kalah baik dalam hal jumlah, maupun
dalam persenjataan. Don Juan, salah
seorang pemimpin pasukan Kristen
di Austria berdoa Rosario dalam
menghadapi ancaman ini. Paus Pius V
yang memimpin Gereja pada waktu itu
juga meminta seluruh Gereja berdoa
rosario kepada Bunda Maria untuk
membantu tentara Kristen. Dan pada
tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V
bersama-sama dengan umat beriman
berdoa rosario di basilika Santa
Maria Maggiore sepanjang hari untuk
mendoakan pertempuran di Lepanto
(Teluk Korintus). Dalam pertempuran
ini, pada awalnya tentara Kristen
sempat kalah, tetapi kemudian mereka
berhasil membalik keadaan, hingga
akhirnya berhasil menang. Kemenangan
ini memiliki arti penting karena
sejak kekalahan Turki di Lepanto,
pasukan Turki tidak melanjutkan usaha
menguasai Eropa.
Pada tahun 1573, Paus Gregorius XIII
menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai
Pesta Santa Perawan Maria Ratu
Rosario sebagai ucapan syukur atas
bantuan Bunda Maria bagi kemenangan
di Lepanto. Pesta ini awalnya hanya
dilakukan oleh gereja-gereja yang
altarnya didekasikan bagi Bunda Maria.
Namun pada tahun 1716, Paus Klemens
XI menyebarluaskan perayaan ini
hingga ke seluruh dunia.
Paus Leo XIII menetapkan bulan
Oktober sebagai bulan Rosario pada
tanggal 1 September 1883. Bapa suci
meminta agar seluruh umat mendoakan
rosario dan Litani Santa Perawan Maria
dari Loreto pada setiap hari di bulan
Oktober agar Gereja mendapat bantuan
Bunda Maria dalam menghadapi
aneka bahaya yang mengancam. Pada
22 September 1891, Paus Leo XIII
menerbitkan ensiklik October Mense
(the month of October; bulan Oktober),
yang menyatakan bahwa bulan Oktober
dikhususkan kepada Santa Perawan
Maria, Ratu Rosario.
Demikianlah latar belakang mengapa
bulan Mei disebut sebagai bulan Maria
dan bulan Oktober sebagai bulan
Rosario. Mari kita mencintai Bunda
Maria yang senantiasa mendoakan
dan menyertai Gereja sampai akhir
zaman.***
25. ORBITAN LEPAS 2
DOKTER
GADUNGAN
Pastor Martin van Ooij, SCJ
K
ira-kira pada tahun 1966,
ketika saya bermisi di daerah
Lampung, saya diberi mobil
Landrover putih yang baru oleh
keuskupan. Di seluruh wilayah dimana
saya bertugas, belum kelihatan banyak
kendaraan selain dari pimpinan
pemerintah. Maka kemanapun saya
mengunjungi suatu tempat dengan
mobil tersebut, seringkali diberhentikan
oleh orang banyak, khususnya yang
sedang membutuhkan pertolongan.
Maklum saja, mobil saya dipandang
mirip sebagai ambulance oleh
masyarakat sekitar. Maka tidak heran
pula bila banyak yang menyangka
bahwa saya ini adalah seorang dokter.
Kebetulan, ketika masih muda di
negeri Belanda, saya sempat belajar
selama dua tahun, tentang bagaimana
memberikan “Pertolongan Pertama.”
Oleh karenanya, kemanapun pergi,
saya selalu membawa bermacammacam obat. Dan ternyata, hal itu
sangat berguna bagi orang banyak,
yang memang sangat jauh dan sulit
untuk mendapatkan pelayanan di
rumah sakit. Selain pergi ke stasi-stasi
untuk merayakan perayaan Ekaristi,
mengobati dan/atau membawa orang
sakit telah menjadi kesibukanku di
daerah misi. Puji Tuhan, dengan
kemampuan yang ala kadarnya, tetapi
dengan hati yang berkobar, saya bisa
membantu banyak orang dengan aneka
macam penyakit, seperti malaria, sakit
gigi, sakit tulang dan bahkan lukaluka berat. Jarang saya pulang dari
kunjungan ke stasi-stasi tanpa membawa
pasien berat dalam mobil untuk diantar
ke rumah sakit. Pernah suatu hari saya
membawa seorang ibu yang lumpuh
setelah melahirkan! Landrover dijadikan
ambulance! Si ibu masuk rumah sakit
dan segera mendapat pelayanan.
Pelayanan untuk orang pedalaman
biasanya sangat lambat. Hanya karena
saya sebagai pastor dan saya harus
memperjuangkannya, bila perlu marahmarah dengan pihak rumah sakit, ibu
itu bisa segera dilayani. Dalam banyak
kasus, entah karena berkelahi, entah
karena kecelakaan di ladang, saya selalu
terpanggil dan beraksi seperti layaknya
seorang “dokter gadungan.” Itulah
yang menjadi salah satu pengalaman
berkesan selama menjadi imam di
daerah yang terpencil. Memang luar
biasa pengalaman dan tantangan di
daerah transmigrasi baru di Lampung
zaman itu!
Dalam setiap kasus yang saya
hadapi, tidak pernah saya bertanyatanya soal agama. Semua saya layani
dengan sepenuh hati dan cinta.
Bukankah seorang gembala itu harus
memperdulikan siapa saja, seperti Yesus
yang sudah memberikan contoh kepada
kita! Gembala yang baik itu bukan
hanya untuk domba di kandangnya saja;
bila perlu, membantu domba-domba di
kandang lain!
Kepedulian saya dalam merangkul
siapa saja sebagai perwujudan untuk
menjadi gembala yang baik, saya
tampakkan dalam kepedulian dan
kehadiran di setiap peristiwa yang
khusus dari orang-orang yang saya lihat.
Kalau saya dalam perjalanan, entah
mengendarai motor atau mobil dan
menghadapi rumah orang yang sedang
berduka, saya pasti berhenti, mampir,
berdoa dan menyumbang sesuai dengan
kebiasaan setempat. Juga kalau ada
pesta pernikahan, saya sempatkan untuk
mampir dan memberi selamat kepada
kedua mempelai dan keluarganya.
Usaha-usaha yang kecil dan tanpa
pamrih, namun membahagiakan banyak
orang.
Semuanya itu hanyalah sekedar
usaha untuk meneladani hidup Yesus.
Yesus telah memberikan contoh
dengan ‘blusukan,’ sudah sewajarnya
bila kita, umat kristiani, para imam
maupun awam, tergugah hati untuk
membuka ‘pintu’ dan ‘jendela’ kita.
Kita harus keluar dari tembok gereja!
Jangan terlalu asyik dan sibuk dengan
kegiatan liturgi dan intern gereja! Kita
semua, berkat baptisan yang telah kita
terima, diutus dan dipanggil semuanya
untuk menjadi gembala. Gembala yang
bagaimana? Tentunya menjadi gembala
yang baik, meskipun harus memerankan
diri sebagai ‘dokter gadungan’ karena
situasi yang kepepet. Di kalangan
umat, tentu banyak contoh keteladanan,
dimana kepedulian para umat tidak
boleh diragukan lagi. Namun kita
tidak boleh puas diri. Kita harus terus
menerus menjadi semakin baik. Bukan
apa-apa! Masalahnya satu, Allah kita
itu Allah yang setia. Ia setia membantu
kita. Maka kita pun perlu ‘membantu’
Allah dengan kesetiaan kita yang terus
menerus.***
26. ORBITAN LEPAS 3
Remaja Ber-Adorasi ?
WOW...!!
Pastor, apa
sebenarnya yang
kita lakukan dalam
ADORASI Sakramen
Maha Kudus? Kenapa
kita perlu
melakukannya?
Pernahkah kamu
punya sahabat karib?
Teman terbaik adalah
seseorang yangkau
bisa ajak untuk
menghabiskan waktu
bersama tanpa harus berkata apa-apa.
Berdua, hanya dengan menikmati saatsaat yang indah dan kebersamaan itu
sendiri, bisa saling memahami lebih dari
ungkapan kata-kata. Komunikasi dalam
keheningan itulah yang terjadi antara
kau dan Tuhan Yesus ketika mengikuti
Adorasi Sakramen Mahakudus.
Pernahkah kamu punya sahabat karib?
Teman terbaik adalah seseorang
yangkau bisa ajak untuk menghabiskan
waktu bersama tanpa harus berkata
apa-apa. Berdua, hanya dengan
menikmati saat-saat yang indah dan
kebersamaan itu sendiri, bisa saling
memahami lebih dari ungkapan katakata. Komunikasi dalam keheningan
itulah yang terjadi antara kau dan
Tuhan Yesus ketika mengikuti Adorasi
Sakramen Mahakudus.
Bukankah salah satu ciri utama kita
sebagai umat Katolik adalah percaya
bahwa Sakramen Mahakudus adalah
Kehadiran Nyata Kristus? Oleh
karenanya, Adorasi memberi kita
kesempatan untuk ‘bertatap muka
langsung’ dengan Penyelamat kita.
Melalui Adorasi, kita diajak untuk
menghabiskan waktu hanya dengan
Tuhan dalam ujud fisik-Nya dan
menghadirkan Yesus dalam segala
persoalan, kekuatiran, doa, harapan dan
pikiran kita. Jadi, dalam Adorasi kita
menyisihkan waktu istimewa, diantara
kebisingan dan kesibukan kita, untuk
menciptakan ruang pribadi dimana kita
berjumpa dengan Allah kita.
Lalu … bagaimana
supaya aku bisa
‘connect’ dengan Tuhan,
dengan hanya duduk
diam? Supaya aku tidak
jadi mengantuk, apa
yang harus aku lakukan,
Pastor?
Satu jam yang Yesus rindukan dari kita
untuk menghabiskan waktu dengan-Nya
dapat diisi dengan cara apapun yang
kita inginkan. Kita dapat memakai buku
doa,
membaca Kitab Suci, berdoa rosario,
atau hanya duduk relaks dan menikmati
manisnya
damai yang hanya berasal dari berada
di Hadirat Tuhan. Kita mungkin merasa
tidak bisa berdoa dengan baik, tapi
jangan kuatir hal ini menghalangi kita.
Kenyataan bahwa kita meluangkan
waktu untuk menghabiskan satu
jam dengan Yesus dalam Sakramen
Mahakudus sangat enyenangkan hatiNya dan itu sendiri adalah bentuk
doa dari iman yang besar. Banyak
kisah orang-orang kudus yang kerap
menemukan berbagai berkat, rahmat,
dan kekuatan dalam adorasi.
Karenanya, kalau kita mau menimba
semuanya itu dan khususnya
pengalaman kasih dari Allah, seringlah
datang pada Adorasi Sakramen Maha
Kudus. Paus Yohanes Paulus II pernah
berkata,
“Sangat menyenangkan untuk
menghabiskan waktu bersama-Nya,
untuk bersandar pada dada-Nya, seperti
murid tercinta dan untuk merasakan
kasih tak terbatas dari hati-Nya.” (Yoh
13:25) Jadi teman-teman… Marilah kita
merasa senang bersama Tuhan!
27. SANTO SANTA
St Yanuarius
(19 Sepember 2014)
Yanuarius hidup pada abad keempat.
Kemungkinan ia dilahirkan di Benevento
atau Naples, Italia
Y
anuarius adalah Uskup Benevento pada masa
dimulainya penganiayaan oleh Diocletian.
Masyarakat Naples mempunyai kasih yang
istimewa terhadap Uskup Yanuarius. Ia biasa disebut “San
Gennaro.” San Gennaro mengetahui bahwa beberapa
diakon Kristiani dijebloskan ke dalam penjara karena
iman mereka. Uskup yang lemah lembut dan penuh kasih
ini, menaruh perhatian besar pada umatnya, maka ia
pergi ke penjara mengunjungi mereka. Petugas penjara
melaporkannya kepada gubernur yang kemudian mengirim
para prajurit untuk menangkap San Gennaro. Uskup
ditangkap bersama seorang diakon dan seorang lektor.
Mereka dijebloskan ke dalam penjara bersama para tahanan
lainnya.
Akhirnya, San Gennaro bersama enam orang lainnya
tewas sebagai martir iman. Mereka dibunuh dekat Naples
pada tahun 305. Masyarakat Naples menganggap “San
Gennaro” sebagai santo pelindung mereka dan berdevosi
kepadanya.
Ada sesuatu yang sangat istimewa mengenai San
Gennaro: darahnya yang tercurah sebagai martir disimpan
dalam sebuah bejana sejak berabad-abad yang lalu. Darah
itu menjadi hitam dan mengering. Namun demikian, pada
waktu-waktu tertentu setiap tahunnya, darah itu mencair:
menjadi merah, terkadang merah menyala. Kadang kala,
darah itu bahkan mengeluarkan gelembung-gelembung.
Wadah relikwi di mana bejana berisi darah itu disimpan,
dipertontonkan dan dihormati secara umum pada hari
Sabtu pertama bulan Mei, pada tanggal 19 September
(pesta San Gennaro), dalam oktaf (atau hari kedelapan
setelah pesta), dan terkadang pada tanggal 16 Desember.
Darah San Gennaro yang mencair telah dipertontonkan
dan dihormati sejak abad ketiga belas.
“Dari para kudus kita mendapatkan teladan hidup
mereka, persabahatan dalam persekutuan dengan mereka,
dan pertolongan melalui perantaraan mereka.” ~ Lumen
Gentium***
28. Ongkos Cetak & Bursa Te-Ker
PENGGANTI ONGKOS
CETAK MAJALAH
sumber: Pengurus lingkungan Bonifasius
MAJALAH MEDIAPASS SEPTEMBER 2014
1. Lingk. Sta. Ursula (Jan s/d Juli 2014)
1.400.000
2. Lingk. St. Hubertus (Jan s/d Juli 2014)
1.820.000
3. Lingk. St. Paulinus (kekurangan utk Jan s/d Juli 2014)
855.000
4. Lingk. Sta. Maria Magdalena (kekurangan utk Jan s/d Juli 2014) 440.000
5. Lingk. Sta. Maria Ratu Damai (Jan s/d Des 2014)
1.660.000
6. Lingk. St. Timotius
300.000
7. Lingk. St. Don Bosco
500.000
8. Lingk. Sta. Maria Fatima
100.000
9. Lingk. St. Quirinus (kekurangan utk Juli s/d Sept 2014
600.000
10. Lingk. St Thomas Aquino (kekurangan utk Jan s/d Juli 2014
685.000
Total
9.400.000
Terima kasih atas donasi yang telah diberikan.
Kami menunggu kontribusi Anda di edisi-edisi berikutnya.
- Informasi tentang donasi dapat menghubungi: Dian Wiardi (0818 183419)
- Donasi dapat ditransfer ke rekening KOMSOS : BCA dengan no. rek: 7310278879
a.n. Mirjam Anindya Wiardi atau R. Prakoso.
- Harap memberitahukan apabila donasi dikirim melalui transfer.
- Untuk setiap penerimaan donasi, akan diberikan bukti penerimaan resmi.
Bursa Tenaga Kerja
• Fransisca Sari Permata, Female,
Catholic, Single, 23 years, Bachelor
of Computer Information System,
Experience 2012-2014 PT Kris
Setiabudi Utama As a Finance,
Phone 0821-1063-6969
• Charolus Kopong Olla, Male,
Catholic, Single, 24 years,
Technical Vocational School Saint
Joseph Jakarta, Experience as
Administration Staff PT Luminary
Auto Prima 2011-2014, Phone 0856907-2051
• Vere, Female, Catholic, Single,
26 years, Bachelor of Economic,
Experience as private tutor for
all subject and english (except
computer and other foreign
language) 2007-2014, Phone 08129169-4942
• Anisa, Female, Catholic, Single,
23 years, Senior High School,
Experience as sales promotion girl
(SPG) regular-event 2011-2013,
Phone 0878-8270-6288
• Paulus, Male, Catholic, Single, 24
years, Bachelor of Communication,
Experience as Sales Marketing
Credit card in UOB Bank, Phone
0812-9169-5437
• Agung Rachmadi, Male,
Single, 20 years, Diploma III
Hospitality,Experience 2012-2013
Thistle Hotel Johor Bahru Malaysia
(As a waiter in MICE and Restaurant)
Feb – July 2014 Manhattan Hotel
Jakarta (As a waiter in Restaurant),
Phone 0812-9105-1639
• Florentina Dian, Female, Catholic,
Single, 23 years, vocational high
school, Experience 2012-2014 PT
I Like Gym Indonesia as Finance,
Phone 0856-4711-1715
• Andika Pratama, Male, Moslem,
Single, 28 years, Bachelor of
communication (on process),
Experience as waiter – captain in PT
Nav Bina Pratama (family karaoke)
2009-2014, Phone 0898-8368-321
• Paulus Sihombing, Male, Catholic,
Maried, 34 years, Diploma of
Cinematography, Experience
(freelance), Phone 0899-913-3910
• Ana Astuti, Female, Moslem,
Maried, 24 years, vocational high
school, Experience as a waiter in
Restaurant Pizza e-birra Jakarta
2011-2012, Phone 0856-796-6004
29. DATA DANA PAROKI
Dana Paroki St. Stefanus
AGUSTUS - 2014
No
Wil
Lingkungan
1
1
St.Hubertus
2
1
3
1
4
1
Kode
Perhit. 4-Agt'14
Amplop
Perhit. 11-Agt'14
RP
Amplop
Perhit. 18-Agt'14
RP
Amplop
HBS
3
120,000
3
240,000
3
St.Yoh.Pemandi
YPE
9
145,000
3
150,000
St.Gregorius
GRR
1
20,000
1
50,000
St.Yudas Tadeus
YTA
Total Wil I
Perhit. 25-Agt'14
RP
Amplop
Perhit. 31Agt-01Sep'14
RP
Amplop
30,000
1
RP
110,000
3
100,000
4
30,000
2
65,000
-
-
7
160,000
4
130,000
5
110,000
5
425,000
9
346,000
4
165,000
7
330,000
3
320,000
18
710,000
16
786,000
18
465,000
16
555,000
9
530,000
5
2
Sta. Theresia
THE
9
630,000
16
394,000
2
10,000
27
135,000
2
11,000
6
2
Sta.M.Immaculata
MIM
8
425,000
5
240,000
2
20,000
8
230,000
4
170,000
7
2
Sta.Maria Fatima
MFA
1
100,000
5
137,000
9
35,000
17
100,000
3
20,000
8
2
Sta.M. Bernadette
BDE
17
635,000
8
430,000
9
160,000
1
30,000
9
130,000
35
1,790,000
34
1,201,000
22
225,000
53
495,000
18
331,000
9
3
St.Markus
MKI
3
150,000
13
380,000
2
40,000
1
100,000
3
200,000
10
3
St.Nicodemus
NDS
1
50,000
-
-
4
300,000
3
200,000
3
250,000
11
3
St.Oktavianus
OTS
1
30,000
1
100,000
4
85,000
3
110,000
5
390,000
12
3
St.Paulinus
PLN
4
175,000
5
410,000
1
15,000
-
-
1
50,000
13
3
St.Quirinus
QRS
4
330,000
-
-
1
50,000
1
30,000
-
13
735,000
19
890,000
12
490,000
8
440,000
12
890,000
Total Wil II
Total Wil III
-
14
4
St.Antonius
ATS
2
75,000
9
240,000
6
200,000
2
40,000
3
150,000
15
4
St.Clementus
CLS
-
-
11
600,000
1
100,000
-
-
1
50,000
16
4
Sta. Faustina
FSA
-
-
55
2,875,000
3
80,000
-
-
-
-
2
75,000
75
3,715,000
10
380,000
2
40,000
4
200,000
17
5
Sta.Angela
AGE
2
200,000
5
1,900,000
3
150,000
1
200,000
3
250,000
18
5
St.Bartholomeus
BTS
-
-
5
220,000
4
320,000
7
650,000
1
100,000
19
5
Emmanuel
EML
5
730,000
4
260,000
5
1,400,000
2
150,000
3
400,000
20
5
Sta.Ursula
URS
2
600,000
4
500,000
2
300,000
1
200,000
4
250,000
9
1,530,000
18
2,880,000
14
2,170,000
11
1,200,000
11
1,000,000
Total Wil IV
Total Wil V
21
6
St.M.Magdalena
MMA
6
370,000
7
230,000
-
-
2
45,000
2
150,000
22
6
St.Aloysius
ALS
1
10,000
2
400,000
-
-
10
1,190,000
10
290,000
23
6
St.Thomas Aquino
TAQ
4
210,000
3
90,000
9
310,000
5
300,000
3
170,000
11
590,000
12
720,000
9
310,000
17
1,535,000
15
610,000
HLN
1
10,000
8
60,000
-
-
2
10,000
-
15,000
Total Wil VI
24
7
Sta.Helena
25
7
Romo Sanjoyo
RSO
2
35,000
2
20,000
-
-
3
20,000
1
26
7
St.Simeon
SMN
1
2,000
2
20,000
3
29,000
2
10,000
-
-
27
7
Sugiyopranoto
SGO
7
54,000
11
95,000
5
34,000
2
15,000
4
30,000
28
7
St.Theodorus
THO
4
60,000
10
69,000
5
40,000
10
57,000
3
50,000
15
161,000
33
264,000
13
103,000
19
112,000
8
95,000
-
2
60,000
24
955,000
16
300,000
4
85,000
290,000
Total Wil VII
29
8
St.Paulus
PLS
30
8
St.Timotius
TTS
56
585,000
16
889,000
1
50,000
3
100,000
9
31
8
Sta.Veronica
VRA
10
400,000
10
225,000
-
-
7
215,000
2
35,000
66
985,000
28
1,174,000
25
1,005,000
26
615,000
15
410,000
140,000
Total Wil VIII
-
32
9
St.Bonaventura
BVA
5
100,000
8
340,000
5
150,000
4
170,000
4
33
9
St.Bonifacius
BFS
4
120,000
1
38,000
5
125,000
2
100,000
2
105,000
34
9
Keluarga Kudus
KKS
4
182,000
2
35,000
1
20,000
4
120,000
6
310,000
13
402,000
11
413,000
11
295,000
10
390,000
12
555,000
Total Wil IX
35
10 St.Yoh Don Bosco
DBD
8
70,000
13
134,000
-
-
-
-
3
60,000
36
10 St.Kristoforus
CRS
4
175,000
4
155,000
4
145,000
3
100,000
2
40,000
37
10 Sta. Maria Goretti
MGI
6
400,000
10
290,000
3
110,000
1
10,000
3
30,000
38
10 Sta.Maria B.Setia
MBS
3
210,000
5
300,000
-
-
4
210,000
2
100,000
21
855,000
32
879,000
7
255,000
8
320,000
10
230,000
39
11 Sta.Felicitas
FSE
1
100,000
3
200,000
2
80,000
2
250,000
1
20,000
40
11 Sta.Anastasia
ANS
1
100,000
10
735,000
4
100,000
1
20,000
-
-
41
11 Maria Ratu Damai
MRD
4
140,000
4
200,000
-
-
2
40,000
-
-
6
340,000
17
1,135,000
6
180,000
5
310,000
1
20,000
Total Wil X
Total Wil XI
42
12 St.Bernadus
BDS
-
-
-
-
2
100,000
7
270,000
-
-
43
12 St.Dionisius
DNS
1
50,000
8
670,000
3
130,000
5
240,000
1
50,000
44
12 St.Elias
ELS
3
100,000
-
-
-
-
8
300,000
2
200,000
Total Wil XII
TOTAL MINGGUAN
4
213
150,000
8,323,000
8
303
670,000
14,727,000
5
152
230,000
20
810,000
6,108,000
195
6,822,000
3
118
250,000
5,121,000
30. AYO MEWARNAI
BIODATA
Nama :
Ling/Wil :
Kirimkan hasil karya mewarnaimu
ke kotak MediaPASS yang ada di
pastoran agar dapat dimuat di
Majalah MediaPASS
Boleh mewarnai menggunakan
pensil warna, crayon,atau spidol.
HP/ No Telp. :
Ada hadiah menarik bagi yang karyanya
ditampilkan
31. TTS
Across
4.
6.
9.
11.
12.
13.
Nabi yang di kenal sebagai nabi yang berduka cita.
Kitab pertama dalam perjanjian lama.
Siapakah seorang wanita ibrani (yahudi) yang menjadi sebuah kitab di perjanjian lama?
Bina Iman Remaja
Lambang pertobatan.
Ekaristi pembuka pekan prapaskah
Down
1.
2.
3.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Hari KAsih Sayang.
PAroki cilandak.
Nama ibu Samuel.
Bagian dalam gereja katolik untuk mempersiapkan misa kudus.
Komunikasi Sosial.
putra purti altar
Umat pilihan ALLAH.
Ayah Nabi Samuel
Jumblah sakramen seutuhnya.