Karya : Shidney Sheldon Scan djvu : Manise

Comments

Transcription

Karya : Shidney Sheldon Scan djvu : Manise
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karya : Shidney Sheldon
Scan djvu : Manise-dimhader
Convert & Edit : Sumahan & Dewikz
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewi.0fees.net/
1
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
RAGE OF ANGELS
by Sidney Sheldon
Copyright © 1980 by Sidney Sheldon
All Rights reserved including the rights of reproduction in
whole or in part in any form
MALAIKAT KEADILAN
Alihbahasa: Ny. Suwarni A.S
GM 85.106
Hak cipta terjemahan Indonesia PT Gramedia, Jakarta
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Sampul digambar kembali oleh Floren
Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia,
Jakarta. Juli 1985 Anggota IKAPI
Dilarang mengutip, menerjemahkan, memfotokopi atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin
tertulis dari Penerbit
Dicetak oleh
Percetakan PT Gramedia Jakarta
Buku ini dipersembahkan untuk Mary tercinta
Keajaiban Dunia yang Kedelapan
2
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
1
New York: 4 September 1969
Para pemburu telah mengepung, siap untuk membunuh.
Dua ribu tahun yang lalu di Roma, kontes itu tentu
diselenggarakan di Circus Neronis atau Colosseum di mana
singa-singa yang rakus mendekati korbannya di sebuah arena
darah dan pasir, dengan penuh napsu untuk merobekrobeknya. Tetapi kini adalah abad kedua puluh, dan
pertunjukan itu diadakan di Gedung Pengadilan Kriminal di
pusat kota Manhattan, ruang sidang nomor enam belas.
Petugasnya bukan Suetonius, melainkan seorang juru tulis
steno pengadilan, yang mencatat peristiwa itu untuk
simpanan, dan ada pula beberapa belas orang wartawan serta
pengunjung-pengunjung yang tertarik oleh berita-berita pokok
dalam surat-surat kabar mengenai sidang pembunuhan itu.
Sejak pukul tujuh pagi mereka semua sudah antri di luar
gedung pengadilan untuk mendapatkan tempat duduk.
Yang menjadi mangsa, Michael Moretti, duduk di kursi
terdakwa. Dia seorang laki-laki yang tenang dan tampan, yang
berumur tiga puluhan. Dia tinggi dan langsing, wajahnya
lancip dan tampak kasar serta jantan. Rambutnya berwarna
hitam dan bergaya baru, dagunya menarik serta berlesung
pipit, sedang matanya dalam dan berwarna hitam seperti buah
zaitun. Dia mengenakan setelan berwarna abu-abu yang
berpotongan bagus, kemeja biru muda dengan dasi biru tua,
dan sepatunya yang dibuat khusus, bersemir mengkilat.
Michael Moretti duduk diam, hanya matanya saja yang selalu
memandang ke sekeliling ruang sidang.
Yang menjadi singa penyerangnya adalah Robert Di Silva,
jaksa negeri yang kejam untuk wilayah New York, yang
mewakili rakyat. Bila Michael Moretti memancarkan
ketenangan, maka Robert Di Silva memancarkan gerak penuh
3
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dinamika; dia menjalani hidupnya seolah-olah dia telah
terlambat lima menit untuk suatu janji. Dia bergerak terusmenerus, seolah-olah sedang bertinju dengan lawan-lawan
yang tak tampak. Jaksa itu bertubuh pendek dan gemuk,
sedang rambutnya yang mulai beruban dipotong pendek tanpa
mengikuti zaman. Pada waktu mudanya, Di Silva adalah
seorang petinju, pada hidung dan wajahnya tampak bekasbekas lukanya. Seseorang pernah terbunuh olehnya di arena
tinju, namun dia tak pernah merasa menyesal. Dalam tahuntahun berikutnya pun dia masih harus belajar merasa kasihan
pada orang.
Robert Di Silva adalah seorang laki-laki yang sangat
berambisi, dia telah berjuang untuk menaikkan dirinya ke
kedudukannya yang sekarang tanpa bantuan uang atau
koneksi. Dalam masa peningkatan dirinya, dia telah berhasil
berbuat seolah-olah dia adalah abdi masyarakat; padahal pada
dasarnya dia adalah seorang pejuang comberan, seseorang
yang tak bisa memaafkan, apalagi melupakan.
Dalam keadaan biasa, Jaksa Di Silva tidak akan berada
dalam ruang sidang hari ini. Dia punya banyak staf, dan salah
seorang di antara para asistennya yang senior tentu sanggup
menjadi penuntut dalam perkara itu. Tetapi sejak semula Di
Silva sudah tahu bahwa dia sendirilah yang harus menangani
perkara Moretti itu.
Michael Moretti merupakan bahan berita di halaman depan
surat-surat kabar. Dia adalah menantu Antonio Granelli, capo
di capi, pemimpin dari salah satu keluarga-keluarga mafia
yang terbesar di kawasan sebelah timur. Antonio Granelli
sudah tua dan orang-orang di jalanan sudah membisikkan
bahwa Michael Moretti sedang dipupuk untuk menggantikan
mertuanya. Michael telah terlibat dalam belasan kejahatan,
mulai dari melukai sampai membunuh orang, tetapi tak
seorang jaksa pun pernah bisa membuktikan sesuatu. Terlalu
banyak lapisan pelindung yang cermat antara Michael dan
4
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
para pelaksana perintahnya. Di Silva sendiri telah
menghabiskan tiga tahun yang melelahkan dalam mencoba
mendapatkan bukti kejahatan Michael. Kemudian Di Silva tibatiba beruntung.
Camillo Stela, salah seorang soldati (anak buah) Michael,
tertangkap basah dalam suatu pembunuhan sehubungan
dengan suatu perampokan. Dengan jaminan tidak akan
dihukum mati, Stela mau membuka mulut. Pengakuannya itu
bagaikan musik yang mahaindah yang pernah didengar Di
Silva, nyanyian yang akan membuat keluarga mafia yang
terkuat di kawasan timur itu bertekuk lutut, yang akan
menyeret Michael Moretti ke kursi listrik, serta mengangkat
Robert Di Silva ke kedudukan gubernur di Albany. Para
gubernur New York lainnya telah berhasil mencapai
kedudukan di Gedung Putih, seperti: Martin Van Buren, Grover
Cleveland, Teddy Roosevelt, dan Franklin Roosevelt. Di Silva
ingin menyusul.
Saatnya tepat benar. Pemilihan calon gubernur akan
dilaksanakan tahun depan.
Di Silva telah didatangi seorang bos politik yang paling
berkuasa dalam negeri. "Dengan semua berita yang akan
disiarkan tentang dirimu dalam hubungan perkara ini, akan
besarlah harapanmu untuk dicalonkan dan kemudian dipilih
menjadi gubernur, Bobby. Kalahkan Moretti dalam sidang itu
dan kau akan menjadi calon kami."
Robert Di Silva tak mau untung-untungan. Dia menyiapkan
perkara itu secermat-cermatnya. Para pembantunya
dikerahkan untuk mencari bukti-bukti, mengumpulkan semua
yang tercecer, menutup semua jalan ke luar yang mungkin
ditelusuri oleh pembela Michael. Setiap lubang untuk jalan ke
luar telah ditutup satu demi satu.
Memilih anggota-anggota juri pun telah memakan waktu
dua minggu, dan jaksa itu telah bersikeras untuk memilih
enam 'ban cadangan' ?anggota-anggota juri pengganti? untuk
5
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjaga-jaga kalau-kalau ada pembatalan perkara. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa dalam perkara yang melibatkan
tokoh-tokoh penting mafia, sering terjadi ada anggota juri
yang menghilang atau mengalami kecelakaan yang
mematikan, yang tak terbukti. Di Silva sudah berusaha supaya
para anggota juri diamankan sejak semula, setiap malam
dikunci di suatu tempat yang tak bisa dimasuki siapa pun juga.
Camillo Stela adalah kunci dalam perkara melawan Michael
Moretti itu, dan saksi utama Di Silva itu mendapat
perlindungan ketat. Jaksa itu ingat benar akan suatu contoh
yaitu Abe 'Kid Twist' Reles, saksi di pihak pemerintah, yang
'jatuh' dari jendela lantai keenam di Half Moon Hotel di Coney
Island, sementara dia dikawal oleh setengah lusin polisi. Di
Silva telah memilih sendiri para pengawal bagi Camillo Stela,
dan sebelum sidang Camillo dipindah-pindahkan setiap malam
secara rahasia ke tempat-tempat rahasia. Kini sementara
sidang sedang berlangsung, Stela ditempatkan dalam sebuah
sel yang terpencil, dikawal oleh empat orang petugas
bersenjata. Tak seorang pun diizinkan mendekatinya karena
kesediaan Stela untuk memberikan kesaksian hanyalah karena
kepercayaannya, bahwa Jaksa Di Silva sanggup melindunginya
dari pembalasan dendam Michael Moretti.
Pagi itu adalah hari kelima dari sidang tersebut.
Pagi itu adalah hari sidang yang pertama bagi Jennifer
Parker. Dia duduk di meja penuntut umum bersama lima
orang muda lainnya yang menjadi asisten jaksa, yang telah
disumpah bersama-sama dia tadi pagi.
Jennifer Parker adalah seorang gadis langsing berambut
hitam yang berumur dua puluh empat tahun. Kulitnya putih,
wajahnya hidup dan tampak cerdas, sedang matanya hijau
dan awas. Wajahnya cukup menarik meskipun tak bisa
dikatakan cantik, wajah yang mencerminkan rasa harga diri,
keberanian dan kehalusan perasaan, dan wajah itu tak mudah
dilupakan. Dia duduk tegak lurus, seolah berjaga-jaga untuk
6
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membela dirinya terhadap hantu-hantu masa lampau yang tak
tampak.
***
Hari itu berawal sial bagi Jennifer Parker. Upacara
penyumpahan di kantor Kejaksaan Negeri sudah ditetapkan
pukul delapan pagi. Jennifer telah menyiapkan pakaiannya
malam sebelumnya dan dia telah mengunci alarm jamnya
pada pukul enam supaya dia sempat mencuci rambutnya.
Alarm jam tak berbunyi. Pukul setengah delapan Jennifer
baru terbangun dan dia panik. Kaus kakinya robek waktu tumit
sepatunya patah, dan dia terpaksa ganti pakaian lagi. Waktu
pintu apartemennya yang kecil itu dibanting, barulah dia ingat
bahwa kuncinya tertinggal di dalam. Dia sudah merencanakan
untuk pergi ke Gedung Pengadilan Kriminal naik bus, tetapi
sekarang tak bisa lagi, dan dia lalu berlari mencari taksi yang
sebenarnya tak terjangkau kemampuannya, dan mendapatkan
taksi yang sopirnya sepanjang perjalanan menerangkan
mengapa dunia akan kiamat.
Ketika akhirnya Jennifer tiba dengan terengah-engah di
Gedung Pengadilan Kriminal di Leonard Street 155, dia
terlambat lima belas menit.
Dua puluh lima orang ahli hukum telah berkumpul di kantor
Kejaksaan Negeri, kebanyakan di antaranya baru saja tamat
fakultas hukum, masih muda dan bersemangat serta
berdebar-debar karena baru pertama kalinya akan bekerja
untuk jaksa negeri dari wilayah New York.
Kantor itu anggun, berdinding lapis, dan dihias dengan
selera tinggi dan tenang. Ada sebuah meja kerja besar yang di
depannya ada tiga buah kursi, dan di belakangnya terdapat
sebuah kursi kulit yang nyaman, sebuah meja rapat dengan
dua belas buah kursi di sekelilingnya, serta lemari-lemari
dinding yang dipenuhi buku undang-undang.
7
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di dinding tergantung foto-foto J. Edgar Hoover, John
Lindsay, Richard Nixon, dan Jack Dempsey, yang semuanya
berbingkai dan dibubuhi tanda tangan masing-masing.
Waktu Jennifer bergegas memasuki kantor itu sambil
meminta maaf berulang kali, Di Silva sedang mengucapkan
pidatonya. Dia menghentikan pidatonya itu, mengalihkan
perhatiannya pada Jennifer dan berkata, "Kausangka
pertemuan apa ini... pesta minum-minum teh barangkali?"
"Maaf sebesar-besarnya, saya...”
"Saya tak peduli maafmu itu. Jangan pernah terlambat
lagi!"
Orang-orang yang lain memandang Jennifer dengan
menyembunyikan rasa kasihan mereka.
Di Silva berpaling pada kumpulan ahli-ahli hukum tadi lagi
dan membentak, "Saya tahu mengapa Anda sekalian berada di
sini. Anda sekalian akan tetap di sini sampai kalian berhasil
menjiplak otak saya dan mempelajari beberapa rahasia ruang
sidang, lalu bila kalian merasa sudah siap, kalian akan pergi
dan menjadi pengacara kriminal yang hebat. Tetapi mungkin
ada salah seorang di antara kalian ?barangkali? yang akan
cukup pandai untuk menggantikan saya kelak." Di Silva
mengangguk memberi isyarat pada asistennya. "Ambil sumpah
mereka."
Mereka mengucapkan sumpah dengan suara tertekan.
Setelah selesai, Di Silva berkata, "Baiklah. Kalian sudah
menjadi petugas-petugas pengadilan yang telah disumpah,
semoga Tuhan memberkati kita. Kantor ini tempat semua
kegiatan dilaksanakan, tapi jangan terlalu banyak berharap.
Kalian akan harus membenamkan diri kalian dalam riset yang
sah, dan naskah-naskah dokumen.... surat-surat panggilan ke
pengadilan, surat-surat perintah penggeledahan.... semua
yang hebat-hebat yang telah kalian pelajari di fakultas hukum
8
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dulu. Selama satu-dua tahun ini kalian tidak akan menangani
perkara."
Di Silva berhenti untuk menyalakan sebatang cerutu
pendek yang sudah bekas diisap. "Sebentar lagi saya akan
menjadi penuntut umum dalam suatu perkara. Mungkin ada di
antara kalian yang sudah membaca tentang hal itu." Suaranya
bernada ejekan. "Saya bisa memakai enam orang di antara
kalian untuk saya suruh-suruh."
Jennifer yang pertama-tama mengangkat tangannya. Di
Silva ragu sebentar, lalu menunjuknya bersama lima orang
yang lain.
"Pergilah ke Ruang Sidang Enam Belas."
Waktu mereka meninggalkan kamar itu, mereka diberi
kartu tanda pengenal. Jennifer tidak berkecil hati karena sikap
jaksa tadi. Dia memang harus keras, pikirnya. Pekerjaannya
pun keras. Dia sedang bekerja untuk jaksa itu sekarang. Dia
adalah anggota staf jaksa negeri dari wilayah New York!
Kebosanan di fakultas hukum selama bertahun-tahun yang tak
berkesudahan, sudah berakhir. Para profesornya sering
membuat seolah-olah hukum itu abstrak dan kuno, tetapi
Jennifer selalu berhasil melihat titik terang tanah yang
dijanjikan di balik itu: hukum yang nyata, yang berhubungan
dengan manusia dan segala kebodohannya. Waktu tamat,
Jennifer berhasil lulus sebagai nomor dua, dan namanya
tercantum dalam majalah Law Review. Dia lulus ujian akhir
tanpa perlu mengulang, sedang sepertiga dari peserta yang
bersamaan dengan dia telah gagal. Dia merasa bisa
memahami Di Silva, dan dia yakin bisa menangani tugas apa
pun yang diberikan Di Silva padanya.
Jennifer telah mempelajari pekerjaan itu di rumah. Dia tahu
bahwa Kejaksaan Negeri membawahi empat biro ?pengadilan,
perkara banding, pemerasan, dan penipuan? dan dia ingin
tahu akan ditugaskan di biro mana. Ada lebih dari dua ratus
orang asisten jaksa negeri di New York City dan lima orang
9
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jaksa negeri, seorang di setiap wilayah. Tetapi wilayah yang
terpenting tentulah Manhattan: wilayah Robert Di Silva.
Kini Jennifer duduk di ruang sidang, di meja penuntut
umum, memperhatikan Robert Di Silva bekerja, seorang
penuntut yang hebat dan tak kenal belas kasihan.
Jennifer menoleh ke tempat terdakwa duduk, Michael
Moretti. Berdasarkan segala sesuatu yang telah dibacanya
tentang diri laki-laki itu sekalipun, Jennifer tetap tak dapat
meyakinkan dirinya bahwa Michael Moretti adalah seorang
pembunuh. Dia kelihatan seperti seorang bintang film muda
yang memerankan adegan dalam ruang sidang, pikir Jennifer.
Dia duduk tanpa bergerak, hanya mata hitamnya yang dalam
itu saja yang memancarkan kekacauan batin yang sedang
dirasakannya. Mata itu berputar tanpa berhenti, meneliti
setiap sudut ruangan itu, seolah-olah mencoba
memperhitungkan jalan untuk melarikan diri. Namun jalan itu
tak ada. Di Silva sudah mengatur semuanya.
Camillo Stela duduk di mimbar saksi. Jika diumpamakan
binatang maka Camillo Stela itu adalah seekor cerpelai.
Wajahnya sempit dan lancip, bibirnya tipis, dan giginya yang
kuning menonjol ke depan. Matanya bergerak terus dan
memandang dengan mencuri-curi, dan sebelum dia membuka
mulutnya, kita sudah tak percaya padanya. Robert Di Silva
menyadari kekurangan-kekurangan saksinya itu, tetapi itu tak
dipedulikannya. Yang penting baginya adalah apa yang akan
dikatakan Stela. Yang akan diceritakannya itu adalah hal-hal
yang mengerikan, yang tak pernah diceritakan orang
sebelumnya, dan cerita-ceritanya itu mengandung kebenaran.
Jaksa berjalan ke arah tempat saksi di mana Camillo Stela
baru saja diambil sumpahnya.
"Tuan Stela, saya ingin agar para juri menyadari bahwa
Anda adalah seorang saksi yang enggan datang dan bahwa
untuk membujuk agar Anda mau memberikan kesaksian,
negara telah bersedia mengizinkan Anda untuk memohon agar
10
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikenakan tuduhan yang lebih ringan, yaitu membunuh tanpa
direncanakan, dan bukan pembunuhan sebagaimana yang
dituduhkan atas diri Anda. Benarkah itu?'"
"Benar, Pak." Tangan kanannya tampak menegang.
"Tuan Stela, kenalkah Anda pada terdakwa, Michael
Moretti?"
"Kenal, Pak." Dia tak mau memandang ke meja terdakwa,
di mana Michael Moretti duduk.
"Bagaimana sifat hubungan kalian?"
"Saya bekerja untuk Mike."
"Sudah berapa lama Anda bekerja untuk Michael Moretti?"
"Kira-kira sepuluh tahun."' Suaranya hampir tak terdengar.
"Harap berbicara lebih nyaring."
"Kira-kira sepuluh tahun." Kini lehernya yang kelihatan
tegang.
"Dapatkah dikatakan bahwa hubungan Anda dekat dengan
Terdakwa?"
"Keberatan!" Thomas Colfax bangkit melompat. Pembela
Michael Moretti itu adalah seorang pria jangkung, berambut
putih keperakan, berumur lima puluhan. Dia adalah pembela
tetap dari sindikat, dan salah seorang pengacara kriminal yang
paling pandai di negeri itu. "Jaksa mencoba menyesatkan
Saksi."
Hakim Lawrence Waldman berkata, "Keberatan di terima."
"Akan saya ubah pertanyaan saya. Dalam bentuk apa Anda
bekerja untuk Tuan Moretti?"
"Saya ini boleh disebut semacam tukang mengurus
kekacauan."
“Harap lebih ditegaskan."
11
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'Yah. Bila timbul suatu masalah .... seseorang menyeleweng
umpamanya .... Mike menyuruh saya memberesi orang itu."
“Bagaimana Anda melakukannya?"
“Anda tentu tahu .... dengan otot."
“Dapatkah Anda memberikan contoh pada para anggota
juri?"
Thomas Colfax bangkit. "Keberatan, Yang Mulia. Itu cara
bertanya yang tak masuk akal."
"Ditolak, Saksi boleh menjawab."
“Begini, Mike seorang lintah darat, bukan? Nah, beberapa
tahun yang lalu, Jimmy Serrano terlambat membayat, maka
Mike mengirim saya untuk memberi pelajaran pada Jimmy."
“Bagaimana bentuk pelajaran itu?"
“Kakinya saya patahkan. Soalnya...." Stela menjelasakan
dengan bersungguh-sungguh, "bila kita biarkan satu orang
berbuat begitu, maka yang lain juga akan mencoba."
Dari sudut matanya, Robert Di Silva dapat melihat reaksi
terkejut pada wajah para anggota juri.
"Kecuali menjadi lintah darat, apakah Michael Moretti juga
terlibat dalam usaha-usaha lain?"
"Ya. Apa saja."
"Saya minta Anda yang menyebutkannya, Tuan Stela."
"Baik. Umpamanya, di pelabuhan, Mike punya pengaruh
besar dalam serikat buruhnya. Demikian pula dalam industri
pakaian jadi. Mike juga aktif dalam perjudian, musik gramofon
dengan bayaran, pengumpulan sampah, penyediaan bahan
pakaian, dan sebagainya."
12
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tuan Stela, Michael Moretti diadili karena pembunuhan
atas diri Eddie dan Albert Ramos. Kenalkah Anda pada
mereka?"
"Tentu."
"Apakah Anda berada di tempat pembunuhan itu?"
"Ada." Seluruh tubuhnya tampak tegang.
"Siapa yang melakukan pembunuhannya sebenarnya?"
"Mike." Matanya sesaat tertuju ke mata Michael Moretti,
tetapi dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"Michael Moretti?"
"Benar."
"Menurut kata Terdakwa pada Anda, mengapa dia ingin
membunuh dua bersaudara Ramos itu?"
"Eddie dan Albert menangani buku untuk...."
"Apakah itu kegiatan taruhan? Taruhan yang tak sah?"
“Ya. Mike mendapati mereka mengambil untung sendiri. Dia
harus memberi pelajaran pada mereka karena mereka adalah
anak buahnya. Pikirnya...”
"Keberatan!"
"Diterima. Harap Saksi tetap pada jalur fakta saja."
"Kenyataannya, Mike menyuruh saya mengundang kedua
saudara itu....”
"Eddie dan Albert Ramos?"
"Ya. Ke sebuah pesta kecil di The Pelican. Itu sebuah
rumah minum pribadi di pantai." Lengannya mulai tegang lagi,
dan Stela yang tiba-tiba menyadari hal itu, menekan lengan
itu dengan tangannya yang sebelah lagi.
13
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer Parker menoleh pada Michael Moretti. Laki-laki itu
sedang merenung dengan pasif, wajah dan tubuhnya tak
bergerak.
"Apa yang terjadi kemudian, Tuan Stela?"
"Saya menjemput Eddie dan Albert dan mengantarnya
dengan mobil sampai ke tempat parkir. Mike menunggu di
situ. Begitu kedua saudara itu keluar dari mobil, saya
menyingkir dan Mike mulai menembak."
"Adakah Anda melihat Ramos bersaudara itu jatuh?"
"Ada, Pak."
"Dan mereka tewas?"
"Mereka menguburkan kedua saudara itu, jadi mungkin
mereka sudah meninggal."
Terdengar desah gelisah di ruang sidang itu. Di Silva
menunggu sampai mereka diam.
"Tuan Stela, sadarkah Anda bahwa kesaksian yang Anda
berikan dalam ruang sidang ini menuding diri Anda sendiri?"
"Ya, Pak."
"Dan bahwa Anda berkata-kata di bawah sumpah, dan
bahwa hidup seseorang menjadi taruhannya?"
"Ya, Pak."
"Anda telah menyaksikan Terdakwa Michael Moretti,
dengan darah dingin menembak sampai mati dua orang
karena mereka tidak memberinya uang?"
"Keberatan! Dia menyesatkan Saksi."
"Diterima."
Jaksa Di Silva melihat ke wajah para anggota juri dan apa
yang dilihatnya memberinya keyakinan bahwa dia telah
memenangkan perkara itu. Dia berpaling pada Camillo Stela.
14
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tuan Stela. Saya maklum bahwa Anda harus
mengumpulkan seluruh keberanian Anda untuk datang ke
ruang sidang ini dan memberikan kesaksian. Atas nama rakyat
negara ini, saya ingin menyampaikan terima kasih pada Anda."
Di Silva berpaling pada Thomas Colfax. "Saya serahkan
saksi untuk Anda tanyai."
Thomas Colfax bangkit dengan anggun. "Terima kasih,
Tuan Di Silva."
Dia menengok sebentar ke jam pada dinding, lalu berpaling
ke meja hakim. "Yang Mulia. Sekarang sudah hampir tengah
hari. Bila diperkenankan, saya ingin agar tanya-jawab saya
nanti tak terganggu. Bolehkah saya mohon agar sidang
beristirahat untuk makan siang sekarang dan saya bisa
melakukan tanya-jawab saya nanti petang?"
"Baiklah." Hakim Lawrence Waldman memukulkan palunya
di meja. "Sidang ini ditunda sampai jam dua siang."
Semua orang dalam ruang sidang itu bangkit waktu hakim
berdiri dan berjalan melalui pintu samping ke kamarnya. Para
anggota juri mulai berjalan beriringan ke luar ruangan. Empat
orang petugas bersenjata mengelilingi Camillo Stela dan
menggiringnya melalui sebuah pintu di dekat pintu depan
ruang sidang, yang menuju ke ruang saksi.
Di Silva langsung dikelilingi oleh para wartawan.
"Maukah Anda memberi pernyataan pada kami?"
"Sampai sebegitu jauh, bagaimana jalan perkaranya
menurut Anda, Pak Jaksa?"
"Bagaimana Anda akan melindungi Stela setelah
persidangan ini usai?"
Biasanya Robert Di Silva tak mau membiarkan gangguan
semacam itu dalam ruang sidang, tetapi sekarang hal itu
memang diperlukannya, sehubungan dengan ambisinya di
15
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bidang politik. Supaya pers tetap berada di pihaknya, maka dia
pun bersopan-sopan pada mereka.
Jennifer Parker duduk saja, memperhatikan jaksa melayani
para wartawan.
"Apakah Anda akan bisa mendapatkan keputusan hakim?"
"Saya bukan peramal." Jennifer mendengar Di Silva
menyahut dengan rendah hati. "Untuk itulah adanya para
anggota juri, Saudara-saudara. Para anggota juri-lah yang
harus memutuskan apakah Tuan Moretti bersalah atau tidak."
Jennifer memperhatikan Michael Moretti bangkit. Dia
kelihatan tenang-tenang dan santai. Kekanak-kanakan, kata
itulah yang hinggap di pikiran Jennifer. Sulit baginya untuk
mempercayai bahwa laki-laki itu bersalah telah melakukan
semua hal yang mengerikan, yang dituduhkan padanya. Bila
aku yang harus memilih orang yang bersalah, pikir Jennifer,
aku akan memilih Stela si Tegang itu.
Para wartawan sudah menjauh dan Di Silva sedang
berunding dengan stafnya. Besar sekali keinginan Jennifer
untuk mendengarkan apa yang sedang mereka
perbincangkan.
Jennifer memperhatikan seseorang mengatakan sesuatu
pada Di Silva, memisahkan diri dari kelompok yang
mengelilingi jaksa itu, lalu berjalan bergegas ke arah Jennifer.
Dia membawa sebuah amplop besar dari kertas manila. "Nona
Parker?"
Jennifer mengangkat mukanya keheranan. "Ya."
"Bapak Kepala minta agar Anda menyampaikan ini pada
Stela. Katakan padanya untuk mengingat-ingat kembali
tentang tanggal ini. Colfax akan mencoba mengacaukan
kesaksiannya petang ini dan Bapak Kepala ingin meyakinkan
diri agar Stela jangan sampai terlanjur kata."
16
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Amplop itu diserahkannya pada Jennifer dan Jennifer
memandang ke arah Di Silva. Dia ingat namaku, pikir Jennifer.
Suatu pertanda yang baik.
"Sebaiknya segera pergi. Pak Jaksa merasa bahwa Stela tak
bisa cepat mempelajarinya."
"Baik, Pak." Jennifer cepat-cepat berdiri.
Dia berjalan menuju pintu yang dilihatnya dilalui oleh Stela.
Seorang petugas bersenjata menghalang-halanginya.
"Bisa saya membantu Nona?"
"Saya dari kantor Kejaksaan Negeri," kata Jennifer dengan
tegas. Dikeluarkan tanda pengenalnya lalu diperlihatkannya.
"Saya harus menyerahkan sebuah amplop untuk Tuan Stela
dari Tuan Di Silva."
Pengawal itu memeriksa kartu tanda pengenal dengan
teliti, lalu membuka pintu, dan Jennifer masuk ke kamar saksi.
Kamar itu kecil dan tak nyaman; di sana terdapat sebuah
bangku yang buruk, sebuah sofa tua, dan kursi-kursi kayu.
Stela duduk di salah sebuah kursi itu, tangannya menegang
dengan hebatnya. Ada empat orang petugas bersenjata dalam
kamar itu.
Waktu Jennifer memasuki kamar itu, salah seorang
pengawal itu berkata, "Hei! Tak seorang pun boleh masuk
kemari."
Pengawal yang di luar berseru, "Tak apa-apa, Al. Dia dari
kantor Kejaksaan Negeri."
Jennifer menyerahkan amplop tadi pada Stela. "Tuan Di
Silva minta agar Anda mengingat-ingat kembali tentang
kejadian pada tanggal-tanggal ini."
Stela berkedip memandang Jennifer, lalu tegang lagi.
17
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
2
Sedang Jennifer berjalan ke luar dari Gedung Pengadilan
Kriminal untuk makan siang, dia melewati pintu ruang sidang
yang kini kosong. Dia tak dapat menahan keinginannya untuk
masuk ke ruang itu sebentar.
Di kedua belah sisi di bagian belakang ruang masingmasing terdapat lima belas barisan bangku tempat penonton.
Menghadap meja hakim terdapat dua buah meja panjang,
yang di sebelah kiri bertanda terdakwa dan yang di sebelah
kanan bertanda pembela.
Ruang anggota juri berisi dua barisan yang masing-masing
terdiri dari delapan buah kursi. Ini adalah sebuah ruang sidang
biasa, pikir Jennifer, sederhana .... bahkan buruk .... tapi inilah
jantung kebebasan. Ruangan ini seperti juga semua ruang
sidang lainnya menunjukkan perbedaan antara dunia
berbudaya dan kebiadaban. Hak untuk diadili oleh suatu
badan, juri demi kedudukan seseorang merupakan inti dari
setiap bangsa yang bebas. Jennifer terpikir akan semua
negara di dunia, yang tidak mempunyai ruangan kecil seperti
ini, negeri-negeri di mana warga negaranya diambil begitu
saja di tengah malam ketika mereka sedang tidur, untuk
kemudian disiksa dan dibunuh oleh musuh-musuh yang tak
dikenal dengan alasan yang tak diketahui pula, seperti Iran,
Uganda, Argentina, Peru, Brasilia, Rumania, Rusia,
Cekoslowakia... daftarnya panjang sekali.
Bila pengadilan-pengadilan Amerika tidak lagi diberi
kekuasaan, pikir Jennifer, bila para warga negara tidak lagi
diberi hak untuk diadili oleh badan juri, maka Amerika akan
tidak lagi merupakan bangsa yang merdeka. Kini dia sendiri
merupakan bagian dari sistem peradilan itu, dan sedang
berdiri di situ, Jennifer merasa dirinya dipenuhi oleh rasa
bangga. Dia akan melakukan apa saja demi menghormatinya,
untuk membantu melestarikannya. Lama dia berdiri di situ,
sebelum dia berbalik dan pergi.
18
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dari ujung ruangan terdengar dengung suara dari kejauhan
yang makin lama makin nyaring, dan akhirnya menjadi hirukpikuk. Lonceng-lonceng alarm mulai berbunyi. Jennifer
mendengar langkah-langkah kaki orang berlarian di lorong dan
melihat polisi-polisi dengan pistol siap tembak, berlarian ke
arah pintu masuk depan gedung pengadilan. Sesaat Jennifer
menyangka bahwa Michael Moretti mungkin telah melarikan
diri, bahwa laki-laki itu telah berhasil menerobos barisan
pengawalnya. Dia bergegas ke luar, ke lorong. Di situ keadaan
kacau-balau. Orang-orang berlarian tak menentu, memekikkan
perintah-perintah mengatasi bunyi lonceng yang
berdentangan. Di pintu-pintu ke luar telah ditempatkan
pengawal-pengawal yang memegang pistol antihuru-hara.
Para wartawan yang sedang menelepon menyampaikan
laporan mereka, bergegas ke luar, ke lorong untuk mencari
tahu apa yang sedang terjadi. Di ujung lorong tampak oleh
Jennifer Jaksa Di Silva sedang mengeluarkan perintah-perintah
dengan kacau pada enam orang polisi, wajahnya pucat-pasi.
Aduh, bisa-bisa dia mengalami serangan jantung, pikir
Jennifer.
Jennifer menyelinap di antara orang-orang banyak, berjalan
ke arah jaksa itu, sambil berpikir kalau-kalau dia akan bisa
memberikan bantuan. Waktu dia sudah dekat, salah seorang
petugas yang tadi mengawal Camillo Stela, mengangkat
mukanya dan melihat Jennifer. Diangkatnya tangannya lalu
menunjuk Jennifer, dan lima detik kemudian Jennifer Parker
ditangkap dengan kasar dan tangannya diborgol.
Ada empat orang dalam kamar kerja Hakim Laurence
Waldman: Hakim Lawrence Waldman, Jaksa Robert Di Silva.
Thomas Colfax, dan Jennifer sendiri.
“Anda berhak untuk meminta kehadiran seorang pembela
sebelum Anda mengeluarkan suatu pernyataan," Hakim
Lawrence Waldman memberi tahu Jennifer, "dan Anda punya
hak untuk menutup mulut. Bila Anda...."
19
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya tidak membutuhkan seorang pembela, Yang Mulia!
Saya bisa menjelaskan apa yang telah terjadi."
Robert Di Silva mendekatinya demikian dekat hingga
Jennifer dapat melihat uratnya berdenyut dii pelipisnya. "Siapa
yang membayarmu untuk menyampaikan bungkusan itu pada
Camillo Stela?"
"Membayar saya? Tak seorang pun membayar saya!" Suara
Jennifer bergetar karena marahnya.
Di Silva mengambil sebuah amplop besar dari kertas manila
yang sudah dikenal Jennifer, dari meja Hakim Waldman. "Tak
seorang pun membayarmu? Jadi kamu berjalan begitu saja ke
tempat saksi saya dan menyampaikan ini?"
Diguncangnya amplop itu dan bangkai seekor burung
kenari kuning jatuh ke meja. Lehernya telah dipatahkan.
Jennifer terbelalak memandanginya, dia merasa ngeri.
"Saya .... salah seorang anak buah Bapak.... memberikannya
pada saya...."
"Anak buah saya yang mana?"
"Saya.... saya tak tahu."
"Tapi kau tahu bahwa dia adalah salah seorang anak buah
saya?" Suaranya mengandung nada tak percaya.
"Ya. Saya melihatnya bercakap-cakap dengan Anda, lalu dia
berjalan ke arah saya dan menyerahkan amplop itu dengan
mengatakan bahwa Andalah yang menyuruh saya memberikan
amplop itu pada Tuan Stela. Dia.... dia bahkan tahu nama
saya."
"Tentu dia tahu. Berapa mereka membayarmu?"
Ini semua mimpi buruk, pikir Jennifer. Setiap saat aku akan
terbangun dan hari sudah pukul enam pagi, dan aku akan
berpakaian lalu pergi untuk disumpah oleh staf jaksa.
20
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Berapa?" Demikian hebatnya kemarahan jaksa itu hingga
Jennifer merasa perlu berdiri.
"Apakah Anda menuduh saya....?"
"Menuduhmu!" Robert Di Silva menggenggamkan tinjunya
erat-erat. "Dengar, saya belum lagi mulai dengan kau. Bila kau
keluar dari penjara kelak, kau akan sudah terlalu tua untuk
membelanjakan uang itu."
"Tidak ada urusan uang." Jennifer menantangnya dengan
tatapan tajam.
Thomas Colfax duduk saja bersandar, diam-diam
mendengarkan percakapan itu. Kini dia menyela dan berkata,
"Maafkan saya, Yang Mulia, tapi saya rasa dengan begini kita
tidak akan berkesudahan."
"Saya sependapat," sahut Hakim Waldman. Dia berpaling
pada Jaksa. "Bagaimana ini, Bobby? Masih maukah Stela
ditanyai?"
"Ditanyai? Dia sudah tak berguna lagi sekarang! Dia
ketakutan setengah mati. Dia tak mau lagi dihadapkan di
sidang."
Dengan halus Thomas Colfax berkata, "Bila saya tak bisa
menanyai saksi utama dari penuntut umum, Yang Mulia, maka
saya akan mohon pembatalan perkara."
Semua yang ada di kamar itu tahu apa artinya itu: Michael
Moretti akan keluar dari ruang sidang sebagai orang bebas.
Hakim Waldman memandang ke arah jaksa. “Sudahkah
kaukatakan pada saksi itu bahwa dia bisa dihukum karena
melawan pengadilan?"
"Sudah. Tapi Stela lebih takut pada mereka daripada pada
kita."
Dia berpaling untuk melemparkan pandangan bengis pada
Jennifer.
21
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Menurut dia, kita tak akan bisa lagi melindunginya."
"Kalau begitu pengadilan ini tak punya pilihan lain, dan
harus memenuhi permintaan pembela dan menyatakan
pembatalan pengadilan," kata Hakim Waldman lambat-lambat.
Robert Di Silva berdiri saja, mendengarkan perkaranya
dihapuskan. Tanpa Stela, tak ada yang dapat dituntutnya.
Michael Moretti kini tak terjangkau lagi olehnya, tetapi tidak
demikian dengan Jennifer Parker. Dia akan membuat gadis itu
dihukum atas apa yang telah dilakukannya terhadapi dirinya.
Hakim Waldman berkata, "Saya akan memerintahkan untuk
membebaskan Terdakwa dan membubarkan badan juri."
Thomas Colfax berkata, "Terima kasih, Yang Mulia." Tak
ada tanda-tanda rasa kemenangan terbayang di wajahnya.
"Bila tak ada apa-apa lagi..." Hakim Waldman mulai berkata
lagi.
"Masih ada sesuatu!" Robert Di Silva berpaling pada
Jennifer Parker. "Saya minta supaya wanita itu ditahan atas
tuduhan menghancurkan keadilan, atas tuduhan menyuap
saksi dalam suatu perkara besari atas tuduhan berkomplot,
atas tuduhan..." Dia jadi kacau karena amarahnya.
Dalam kemarahannya, Jennifer masih bisa bersuara. "Anda
tak bisa membuktikan satu pun dari tuduhan-tuduhan itu
karena tuduhan itu memang tak benar. Sa... saya mungkin
bersalah karena saya bodoh, tapi hanya itulah kesalahan saya.
Tak seorang pun menyuap saya untuk berbuat sesuatu. Saya
sangka saya harus menyampaikan bungkusan itu untuk Anda
sendiri."
Hakim Waldman melihat pada Jennifer dan berkata, "Apa
pun alasan perbuatan Anda, akibatnya luar biasa buruknya.
Saya akan minta agar Bagian Banding mengadakan
penyelidikan dan bila badan itu berpendapat bahwa
22
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keadaannya menghendaki, kami akan mulai menjalankan
perkara terhadap Anda."
Jennifer tiba-tiba merasa pusing. "Yang Mulia, saya...."
"Cukup sekian dulu, Nona Parker."
Jennifer masih berdiri saja sejenak, menatap wajah-wajah
mereka yang penuh kebencian. Tak ada lagi yang bisa
dikatakannya.
Burung kenari kuning di atas meja itu telah mengatakan
segala-galanya.
3
Jennifer Parker menjadi bahan berita utama di surat-surat
kabar sore. Kisah tentang dirinya yang menyampaikan seekor
burung kenari yang sudah mati pada saksi utama dari jaksa,
tersiar ke mana-mana. Semua saluran tv menyiarkan gambar
Jennifer yang sedang meninggalkan kamar kerja Hakim
Waldman, dengan menerobos kepungan para wartawan dan
orang banyak.
Jennifer merasa tak bisa percaya betapa luas tersebarnya
berita mengerikan tentang dirinya. Mereka menghantamnya
terus dari segala pihak: reporter tv, reporter radio, dan para
wartawan. Ingin benar rasanya dia melarikan diri dari mereka,
namun rasa harga dirinya mencegah.
"Siapa yang memberikan burung kenari kuning itu pada
Anda, Nona Parker?"
"Pernahkah Anda bertemu dengan Michael Moretti
sebelumnya?"
"Tahukah Anda bahwa Di Silva telah merencanakan akan
memanfaatkan perkara itu untuk mendapatkan jabatan
gubernur?"
23
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kata jaksa itu, dia akan meminta agar hak Anda sebagai
pengacara dicabut. Apakah Anda akan melawan hal itu?"
Semua pertanyaan itu dijawab Jennifer dengan kata-kata
'No comment' yang diucapkannya dengan rahang terkatup.
Pada siaran berita tv CBS malam itu, dia dicap 'Parker yang
Salah Langkah', gadis yang telah sesat. Penyiar tv ABC
menamakannya 'si Burung Kenari Kuning'. Pada siaran tv NBC,
seorang penyiar olahraga menyamakannya dengan Roy
Riegels, si pemain bola yang telah menggiring bola ke garis
gol kesebelasannya sendiri.
Di Tony's Place, restoran milik Michael Moretti, orang
sedang mengadakan perayaan. Dua belas orang sedang
makan-minum dan beriang-ria.
Michael Moretti duduk seorang diri di bar bersepi-sepi
sambil menonton Jennifer di tv. Diangkat gelasnya ke arah
Jennifer, lalu minum.
Para ahli hukum di mana-mana membahas perkara Jennifer
itu. Sebagian berpendapat bahwa dia telah disuap oleh mafia,
dan sebagian lain mengatakan bahwa dia telah menjadi
korban yang tak bersalah. Tetapi di pihak mana pun mereka
berada, mereka berpendapat mengenai satu hal: karir Jennifer
Parker yang singkat sebagai ahli hukum, berakhirlah sudah.
Karirnya itu hanya bertahan empat jam, tak kurang tak
lebih.
Jennifer lahir di Kelso, Washington, sebuah kota penghasil
kayu yang didirikan dalam tahun seribu delapan ratus empat
puluh tujuh, oleh seorang perintis dari Skotlandia yang rindu
akan kampung halamannya dan yang lalu menamakan kota itu
sama dengan kota tempat asalnya.
Ayah Jennifer adalah seorang ahli hukum, mula-mula
khusus untuk suatu perusahaan kayu terbesar di kota itu,
kemudian untuk para buruh di pabrik-pabrik penggergajian.
24
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kenangan Jennifer tentang masa pertumbuhannya sejak kecil,
penuh dengan kesenangan. Negara Washington merupakan
tempat seperti dalam buku-buku cerita bagi anak kecil, karena
penuh dengan gunung-gunung yang puncaknya tertutup salju
serta taman-taman nasional. Di sana terdapat hiburan-hiburan
berupa ski air dan mendayung, dan setelah dia besar, mendaki
gunung sampai ke puncak yang bersalju serta bedarmawisata
ke tempat-tempat yang namanya indah-indah: Okanapecosh
dan Nisqually, ada danau yang bernama Lake Cle Elum dan Air
Terjun Chenuis, ada Horse Heaven serta Lembah Yakima.
Jennifer belajar mendaki Gunung Rainier dan main ski di
Timberline dengan ayahnya. Ayahnya selalu menyediakan
waktu baginya.
Sedang ibunya yang cantik tetapi selalu resah, selalu sibuk
entah dengan apa dan jarang berada di rumah. Jennifer
memuja ayahnya. Abner Parker berdarah campuran Inggris,
Irlandia, dan Skotlandia. Tinggi badannya lumayan, berambut
hitam, dan matanya hijau kebiruan. Dia seorang yang penuh
rasa belas kasihan dengan rasa keadilan yang berakar berurat.
Dia tidak menaruh perhatian pada uang, dia lebih tertarik
pada sesama manusia. Dia mau duduk berjam-jam dengan
Jennifer, menceritakan tentang perkara-perkara yang sedang
ditanganinya dan masalah-masalah orang-orang yang datang
ke kantornya yang kecil dan sederhana. Bertahun-tahun
kemudian barulah Jennifer menyadari bahwa ayahnya
berbicara dengan dia, karena tak ada kawan bicaranya,
tempatnya mencurahkan isi hatinya.
Sepulang dari sekolah, Jennifer selalu bergegas pergi ke
gedung pengadilan untuk melihat ayahnya bekerja. Bila tak
ada sidang, Jennifer berdiri saja di kantor ayahnya,
mendengarkan perkara-perkara ayahnya dan para kliennya.
Mereka tak pernah membicarakan tentang rencana dia akan
kuliah di fakultas hukum; hal itu dianggap dengan sendirinya.
25
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu Jennifer berumur lima belas tahun, dia mulai bekerja
membantu ayahnya dalam musim-musim panas. Pada saat
gadis-gadis lain seusianya asyik kencan dengan anak laki-laki
atau pacaran, Jennifer sudah asyik dengan bermacam-macam
pengaduan dan surat-surat wasiat.
Anak laki-laki bukannya tak tertarik padanya, tetapi dia
jarang mau keluar. Bila ayahnya bertanya mengapa begitu, dia
menjawab, "Mereka terlalu muda, Papa." Dia yakin bahwa
pada suatu hari kelak dia akan menikah dengan seorang ahli
hukum seperti ayahnya.
Pada hari ulang tahun Jennifer yang keenam belas, ibunya
meninggalkan kota mereka dengan putra tetangga mereka
yang berumur delapan belas tahun, dan hidup ayah Jennifer
padam perlahan-lahan. Tujuh tahun kemudian jantungnya
baru berhenti berdetak, tetapi dia boleh dikatakan sudah
meninggal pada saat dia mendengar tentang perbuatan
istrinya. Seluruh kota tahu hal itu dan merasa kasihan, dan hal
itu tentu memperburuk keadaan, karena Abner Parker adalah
pria yang mempunyai harga diri. Waktu itulah dia mulai
minum-minum. Jennifer melakukan segalanya untuk
menghibur ayahnya, namun sia-sia, dan keadaan pun tidak
seperti semula lagi.
Tahun berikutnya, waktu tiba saatnya Jennifer harus
melanjutkan pelajarannya ke perguruan tinggi, dia bahkan
ingin tinggal di rumah saja, tetapi ayahnya tak mau
membiarkannya.
"Kita akan menjadi patner dalam suatu perusahaan
pengacara, Jennie," kata ayahnya. "Cepat-cepatlah kau
mendapatkan gelar sarjana hukummu itu."
Setelah dia tamat, dia mendaftarkan diri di Universitas
Washington di Seattle pada fakultas hukum. Pada tingkat
pertama di fakultas, sementara teman-teman sekelasnya
bersusah payah mempelajari soal-soal yang berhubungan
dengan kontrak-kontrak, pengaduan-pengaduan, hak milik,
26
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
prosedur-prosedur umum, dan hukum kriminal, yang seolaholah merupakan rawa-rawa yang tak tertembusi oleh mereka,
Jennifer malah merasa seolah-olah berkecimpung dalam
bidangnya sendiri. Dia pindah ke asrama universitas dan
mendapatkan pekerjaan di perpustakaan hukum.
Jennifer amat menyukai Seattle. Pada hari-hari Minggu, dia
dan seorang mahasiswi Indian bernama Ammini Williams dan
seorang gadis besar dari Irlandia yang bernama Josephine
Collins, pergi berdayung ke Green Lake di jantung kota, atau
menghadiri perlombaan Gold Cup di Danau Washington, dan
melihat hydroplanes yang beraneka warna lewat.
Ada perkumpujan-perkumpulan jazz yang besar di Seattle,
dan yang paling disukai Jennifer adalah Peter's Poop Deck, di
mana tak ada meja-meja biasa melainkan peti-peti bekas
minuman yang beralaskan potongan-potongan kayu.
Petang hari, Jennifer, Ammini, dan Josephine pergi ke
restoran Hasty Tasty, tempat mereka berkumpul, di mana
mereka bisa makan kentang goreng yang bukan main
enaknya.
Ada dua orang pemuda yang mengejar-ngejar Jennifer:
seorang mahasiswa kedokteran yang muda dan menarik,
bernama Noah Larkin dan seorang mahasiswa hukum
bernama Ben Munro. Kadang-kadang Jennifer kencan juga
dengan mereka, tetapi! dia terlalu sibuk dan tak sempat
memikirkan percintaan secara serius.
Musim kadang-kadang kering, lalu basah dan berangin, dan
hari-hari agaknya hujan selalu. Jennifer mengenakan jaket
kasar yang berkotak-kotak berwarna hijau kebiruan yang bisa
menyerap air hujan dan matanya jadi berkilat dan tampak
seperti zamrud. Dia berjalan dalam hujan, tenggelam dalam
pikirannya sendiri, tanpa menyadari bahwa segala sesuatu
yang dilewatinya sebenarnya bisa menghapuskan
kenangannya.
27
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam musim semi, gadis-gadis itu tampak bermekaran
dalam pakaian mereka yang warnanya cerah. Ada enam buah
asrama pria berjajar di universitas itu, dan para mahasiswa
penghuninya biasanya berkumpul di halaman berumput dan
memperhatikan gadis-gadis yang lewat, tetapi pada diri
Jennifer ada sesuatu yang membuat diri mereka malu. Ada
sesuatu yang khusus pada diri gadis itu yang sulit mereka
pastikan, suatu perasaan bahwa Jennifer sudah mencapai
sesuatu yang masih harus mereka cari.
Setiap musim panas, Jennifer pulang mengunjungi
ayahnya. Orang tua itu telah banyak berubah. Dia tak pernah
mabuk lagi, tetapi tak pernah pula dia benar-benar sadar. Dia
telah menarik dirinya dalam sebuah benteng emosi, di mana
tak satu pun bisa menyentuhnya.
Ayahnya meninggal waktu Jennifer duduk di semester
terakhir di fakultas hukumnya. Orang-orang di kota itu ingat
akan orang tua itu, dan ada kira-kira seratus orang yang
menghadiri pemakamannya, yaitu orang-orang yang pernah
dibantunya dan diberinya nasihat, dan setelah bertahun-lahun
berlalu menjadi sahabat-sahabatnya. Jennifer berdukacita
seorang diri. Dia tidak saja kehilangan seorang ayah. Dia telah
kehilangan seorang guru dan penasehat.
Setelah pemakaman, Jennifer kembali ke Seattle untuk
menyelesaikan kuliahnya. Peninggalan ayahnya tak sampai
seribu dolar dan dia harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Dia yakin kalau dia tak bisa kembali ke Kelso dan membuka
praktek pengacara di sana, karena di sana dia akan selalu
dipandang sebagai gadis kecil yang ibunya telah pergi dengan
seorang pemuda berumur belasan, tahun.
Karena angka rata-ratanya tinggi. Jennifer diberi
kesempatan untuk diwawancarai oleh beberapa perusahaan
pengacara yang terkemuka di negaranya dan dia menerima
beberapa tawaran kerja.
28
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Warren Oakes, profesor yang mengajarnya hukum kriminal
berkata, "Itu benar-benar suatu kehormatan, Nona. Sulit sekali
seorang wanita, diterima bekerja di sebuah perusahaan
pengacara yang baik-baik."
Kesulitan Jennifer adalah bahwa dia tak lagi punya rumah
tempatnya berakar. Dia tak tahu pasti di mana dia akan
tinggal.
Tak lama sebelum tamat, masalah Jennifer terpecahkan.
Profesor Oakes menyuruh Jennifer menemuinya setelah
pelajaran usai.
"Saya menerima surat dari kantor Kejaksaan Negeri di
Manhattan, yang meminta saya untuk menunjuk mahasiswa
didikan saya yang paling cerdas untuk dipekerjakan sebagai
stafnya. Bagaimana, tertarik?"
New York. "Ya, Pak.” Jennifer begitu terpana hingga
jawaban itu tercetus begitu saja.
Dia terbang ke New York untuk menjalani ujian masuk, dan
kembali ke Kelso untuk menutup kantor pengacara ayahnya.
Kegiatan itu merupakan suatu pengalaman yang manis-manis
getir, dipenuhi kenangan masa lalu dan Jennifer merasa
seolah-olah dia telah tumbuh di kantor itu.
Dia mendapatkan pekerjaan sebagai asisten dalan
perpustakaan hukum universitas, untuk mengisi waktunya
sampai dia mendengar apakah dia lulus atau tidak dalam ujian
masuknya di New York.
"Kantor itu adalah yang paling keras di negeri ini," kata
Profesor Oakes mengingatkannya. Tetapi Jennifer sudah tahu.
Dia menerima pemberitahuan bahwa dia lulus, dan pada
hari itu juga dia menerima tawaran kerja dari kantor
Kejaksaan Negeri.
Seminggu kemudian. Jennifer sudah berada dalam
perjalanannya ke timur.
29
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
***
Dia menemukan sebuah apartemen kecil melalui sebuah
iklan di surat kabar, di bilangan Third Avenue. Kamarnya
terletak di lantai empat yang bertangga curam, dan di
dalamnya terdapat sebuah perapian tiruan. Latihan turun-naik
ini akan baik bagiku, pikii Jennifer sendiri. Tak ada gunung
yang dapat didakinya di Manhattan itu, tak ada air terjun
tempatnya meluncur. Apartemen itu terdiri dari sebuah kamar
tamu kecil, di mana ada sebuah sofa yang bisa diubah menjadi
tempat tidur yang berbenjol-benjol dan sebuah kamar mandi
dengan sebuah jendela yang kacanya sudah dicat hitam oleh
seseorang, hingga seolah-olah tertutup. Perabotnya
kelihatannya seperti hasil pemberian dari balai keselamatan.
Ah, biarlah, aku tidak akan lama tinggal di tempat ini, pikir
Jennifer. Ini hanya untuk sementara, sampai aku bisa
membuktikan diri sebagai seorang ahli hukum.
Inilah impiannya. Kenyataannya, baru berada di New York
kurang dari tujuh puluh dua jam, dia telah dilempar dari staf
Kejaksaan Negeri dan sedang menghadapi kemungkinan
dibatalkan haknya sebagai pengacara.
Jennifer tak mau lagi membaca surat kabar dan majalah,
dan dia berhenti nonton tv, karena ke mana pun dia berpaling,
dia selalu melihat dirinya sendiri. Dia merasa bahwa orangorang menatapnya dijalan, didalam bus, dan di pasar. Dia
mulai bersembunyi dalam apartemennya yang sempit, dia tak
maui menjawab telepon dan tak mau membukakan pintu bila
ada orang yang menekan bel. Terlintas niatnya untuk
mengepak kopor-kopornya dan kembali ke Washington. Ingin
dia mendapatkan pekerjaan di bidang lain. Dia bahkan punya
niat untuk membunuh diri. Berjam-jam lamanya dia
mengarang surat untuk Jaksa Robert Di Silva. Setengah dari
surat itu menuduh dengan tajam bahwa laki-laki itu tak
berperasaan dan kurang pengertian. Sedang setengahnya lagi
30
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merupakan permintaan maaf dengan rendah hati, diiringi
permohonan agar Di Silva mau memberinya kesempatan lagi.
Tak satu pun surat itu dikirimkannya.
Baru kali inilah selama hidupnya, Jennifer dilanda rasa
putus asa. Dia tak punya teman di New York, tak seorang pun
yang bisa diajaknya berbicara. Sepanjang hari dia mengunci
dirinya dalam apartemennya, dan malam hari barulah dia
menyelinap ke luar untuk berjalan-jalan di kota yang sunyi
sepi. Para pengganggu keamanan yang biasanya menguasai
malam hari, tak pernah mengganggunya. Mungkin mereka
melihat rasa kesepian dan keputusasaan mereka sendiri
terbayang di mata gadis itu.
Sementara berjalan, Jennifer berulang kali membayangkan
peristiwa di dalam ruang sidang, dengan akhir yang selalu
berubah.
Seorang laki-laki memisahkan dirinya dari kumpulan orang
banyak di sekeliling Di Silva dan bergegas ke arahnya. Dia
membawa sebuah amplop dari kertas manila.
Nona Parker?
Ya.
Bapak Kepala meminta agar Anda menyampaikan ini pada
Stela.
Jennifer memandangnya dengan dingin. Tolong kartu landa
pengenal Anda.
Laki-laki itu menjadi panik lalu lari.
Seorang laki-laki memisahkan dirinya dari kumpulan mang
banyak di sekeliling Di Silva, lalu bergegas ke arahnya. laki-laki
itu membawa sebuah amplop dari kertas manila.
Nona Parker?
Ya.
31
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bapak Kepala minta agar memberikan ini pada Stela.
Menyerahkannya amplop itu ke dalam tangannya.
Jennifer membuka amplop itu dan melihat bangkai burung
kenari di dalamnya. Anda saya tahan.
Seorang laki-laki memisahkan dirinya dari kerumunan orang
banyak di sekeliling Di Silva, dan bergegas ke arahnya. Ia
membawa sebuah amplop dari kertas manila. Laki-laki itu
berjalan melewatinya ke arah seorang asisten jaksa yang lain
dan menyampaikan amplop itu padanya. Bapak Kepala minta
agar Anda menyampaikan ini pada Stela.
Dia bisa mengulangi menulis adegan itu sesering mungkin,
namun tak satu pun yang berubah. Satu kesalahan bodoh
telah menghancurkannya. Tetapi siapa yang mengatakan
bahwa hidupnya sudah hancur? Pers? Di Silva? Dia tak
mendengar berita barang sepatah pun mengenai pencabutan
haknya sebagai ahli hukum, dan selama berita itu belum
diterimanya, dia masih tetap seorang pengacara. Ada
beberapa perusahaan pengacara yang telah menawari aku
pekerjaan, pikir Jennifer.
Dengan harapan yang mulai timbul, Jennifer mengeluarkan
daftar perusahaan-perusahaan yang pernah berbicara
dengannya, lalu mulai menelepon beberapa di antaranya. Di
antara orang-orang yan dimintainya untuk berbicara, tak
seorang pun ada di tempat, dan tak satu pun kantor yang
diteleponnya memberikan jawaban. Empat hari dia baru
menyadari bahwa dia sudah dikucilkan dari jabatan itu.
Perhatian besar pada perkara itu sudah memudar tetapi
semua orang masih ingat.
Jennifer terus-menerus menelepon mencari tempat bekerja,
dengan rasa putus asa yang berubah menjadi kemarahan,
yang menjadi frustrasi dan kembali lagi menjadi putus asa. Dia
berpikir bagaimana dia harus menjalani sisa hidupnya, dan
setiap kali pikirannya kembali pada satu hal; hanya ada satu
hal yang benar-benar diingininya, yaitu membuka usaha
32
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengacara. Dia seorang ahli hukum, dan demi Tuhan, selama
tidak dilarang, dia akan menemukan jalan untuk
mempraktekkan profesinya itu.
Dia mulai berkeliling ke kantor-kantor pengacara di
Manhattan. Dimasukinya kantor-kantor itu tanpa memberi
tahu sebelumnya, disebutkannya namanya pada petugas
penerima tamu dan minta bertemu dengan kepala bagian
kepegawaian. Kadang-kadan dia mendapatkan kesempatan
untuk diwawancarai tetapi setiap kali Jennifer merasa bahwa
mereka melakukannya sekedar dorongan rasa ingin tahu. Di
adalah manusia yang sudah bercacat dan orang itu ingin
melihat bagaimana rupanya sebenarnya. Sering kali dia hanya
diberi tahu bahwa di situ tak ada lowongan.
Setelah enam minggu berlalu, uang Jennifer sudah menipis.
Dia seharusnya pindah ke apartemen yang lebih murah, tetapi
tempat yang lebih murah itu tak ada. Dia mulai tak sarapan,
dan makan siang serta makan malam di sebuah warung
makan di sudut jalan, di mana makanannya tak enak tetapi
harganya murah. Dia menemukan warung-warung makan, di
mana dengan uang sedikit dia bisa makan kenyang, bisa
makan slada sekenyang-kenyangnya dan minum bir sepuaspuasnya. Jennifer tak suka bir, tetapi minuman itu
mengenyangkan.
Setelah Jennifer mendatangi perusahaan pengacara yang
besar-besar dengan sia-sia, dia mengeluarkan daftar
perusahaan-perusahaan pengacara yang lebih kecil dan mulai
lagi menelepon, namun berita tentang namanya yang sudah
buruk telah mendahuluinya sampai pada mereka. Dia
menerima lamaran dari beberapa orang pria yang merasa
tertarik padanya, namun tawaran pekerjaan tak satu pun. Dia
mulai merasa putus asa. Baiklah, pikirnya menantang, bila tak
seorang pun mau menerima diriku bekerja, aku akan
membuka kantor pengacara sendiri. Kesulitannya adalah
bahwa untuk itu diperlukan uang sekurang-kurangnya sepuluh
33
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ribu dolar. Dia akan membutuhkan uang untuk menyewa
tempat, telepon, seorang sekretaris, buku undang-undang,
sebuah meja tulis dengan kursi-kursinya, alat-alat tulis...
padahal untuk membeli perangko pun dia tak mampu.
Jennifer menghitung-hitung gajinya dari Kejaksaan Negeri,
tetapi itu tentulah sudah hilang. Dia tak terlalu mengharapkan
uang pesangon. Dia bukannya dipecat; dia seakan-akan telah
dipenggal. Tidak, tak ada jalan baginya untuk membuka
kantornya sendiri, betapapun kecilnya. Jalan keluarnya adalah,
mencari seseorang yang mau bersama-sama menggunakan
sebuah kantor.
Jennifer membeli koran New York Times dan mulai mencari
iklan berjudul 'yang memerlukan'.
Di kaki halaman dia baru menemukan sebuah iklan yang
berbunyi: Dicari seorang profesional yang mau menggunakan
suatu tempat bersama dua orang profesional lain, atas dasar
sewa.
Iklan itu dirobeknya, lalu dengan naik kereta api bawah
tanah dia pergi ke alamat yang tercantum pada iklan itu.
Didapatinya sebuah gedung tua yang tak terpelihara di
suatu bagian dari Broadway. Kantor itu terdapat di lantai
sepuluh dan di pintunya terpasangi papan nama kecil
bertulisan:
KENNETH BAILEY
Detektif ulung
(huruf i dan huruf u pada tulisan itu sudah tak terbaca)
Di bawahnya tertulis:
Agen Koleksi Rockefeller
(di sini, huruf o dan huruf e yang sudah terhapus)
34
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer menarik napas panjang, membuka pintunya, lalu
masuk. Dia berdiri di tengah-tengah sebuah kantor kecil yang
tak berjendela. Dalam kamar sempit itu terdapat tiga buah
meja yang tak beralas dan tiga buah kursi, dua di antara meja
dan kursi itu sudah ditempati orang.
Pada salah satu meja itu duduk seorang laki-laki setengah
baya yang botak dan berpakaian kumal. Dia sedang meneliti
beberapa lembar kertas. Pada dinding di seberangnya, di meja
yang sebuah lagi duduk seorang pria yang berumur tiga
puluhan. Rambutnya berwarna merah bata dan matanya biru
cerah. Kulitnya pucat dan berbintik-bintik hitam. Dia
mengenakan celana jeans yang ketat, berbaju kaus dan
bersepatu kanvas tanpa kaus kaki. Dia sedang berbicara di
telepon.
"Jangan kuatir, Nyonya Desser, dua orang petugas saya
yang paling hebat sedang menangani masalah anda. Dalam
waktu singkat ini kita akan mendapatkan berita tentang suami
Nyonya. Sayangnya, saya harus minta uang tambahan untuk
ongkos.... Jangan-jangan kirimkan melalui pos. Pos sekarang
tak beres. Petang ini saya akan berada di daerah tempat Anda
tinggal. Saya akan mampir untuk mengambilnya."
Gagang telepon diletakkannya, diangkatnya mukanya dan
dia melihat Jennifer.
Dia bangkit dengan tersenyum, lalu mengulurkan tangan
yang kuat dan kekar. "Saya Kenneth Bailey. Apa yang dapat
saya lakukan untuk Anda pagi ini?"
Jennifer sekali melihat ke sekeliling ruang itu dan berkata
ragu-ragu, "Saya.... saya datang sehubungan dengan iklan
Anda."
'Oh." Mata biru laki-laki itu tampak keheranan.
Laki-laki yang botak menatap Jennifer.
35
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kenneth Bailey berkata, "Ini Otto Wenzel. Dialah Agen
Koleksi Rockefeller itu."
Jennifer mengangguk. "Halo." lalu mengembalikan
perhatiannya pada Kenneth Bailey. "Sedang Anda adalah
detektif ulung itu?"
“Benar. Apa urusan Anda?"
“Urusan....?" Setelah sadar dia melanjutkan, “Saya seorang
ahli hukum."
Kenneth Bailey melihat padanya dengan pandang
menyelidik dan kurang percaya. "Dan Anda ingin berkantor di
sini?"
Sekali lagi Jennifer memandang seputar kantor yang suram
itu dan membayangkan dirinya duduk di meja kosong di
antara kedua laki-laki itu.
"Barangkali sebaiknya saya cari yang lain saja," katanya.
"Saya belum tahu...."
"Sewanya hanya sembilan puluh dolar sebulan."
"Dengan harga sembilan puluh dolar saya bisa membeli
gedung ini," sahut Jennifer. Dia berbalik dan akan pergi.
"Hei, tunggu dulu."
Jennifer berhenti.
Kenneth Bailey menggosok-gosok dagunya yang pucat.
"Untuk Anda akan saya turunkan menjadi enam puluh. Bila
usaha Anda maju kita bisa berbicara tentang kenaikan."
Itu murah sekali. Jennifer tahu bahwa dia tidak akan
pernah mendapatkan tempat seperti itu di mana pun juga
dengan harga sekian. Sebaliknya dia tidak akan bisa menarik
klien di tempat yang seburuk itu. Ada satu hal lagi yang harus
dipertimbangkannya! Dia tak punya uang enam puluh dolar.
"Baiklah, saya setuju," kata Jennifer.
36
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Anda tidak akan menyesal," Kenneth Bailey berjanji.
"Kapan Anda akan membawa pindah barang-barang Anda
kemari?"
"Sudah ada di sini semuanya."
Kenneth Bailey sendiri yang menuliskan papan nama di
pintu:
JENNIFER PARKER
Penasihat Hukum
Jennifer membaca papan nama itu dengan perasaan
campur aduk. Dalam keadaan tertekan bagaimanapun juga,
tak pernah dia membayangkan namanya tertulis di bawah
nama seorang detektif swasta dan seorang pengumpul mata
uang. Namun melihat papan nama yang agak miring itu, mau
tak mau timbul juga rasa bangganya. Dia adalah seorang
penasihat hukum. Papan nama di pintu itu buktinya.
Setelah kini mendapatkan ruang kantor, Jennifer tinggal
menunggu datangnya para klien.
Jennifer kini bahkan sudah tak mampu lagi makan di
warung yang termurah itu. Untuk sarapan dia hanya
memanaskan roti dan kopi di atas piring yang dipanaskannya
di atas radiator dalam kamar mandinya yang kecil. Dia tak
makan siang dan dia makan malam di warung yang menjual
sosis besar-besar, roti dan slada, serta kentang.
Setiap pagi pukul sembilan tepat dia sudah berada di meja
kantornya, tetapi tak ada yang harus dikerjakannya kecuali
mendengarkan Ken Bailey dan Otto Wenzel berbicara di
telepon.
Agaknya pekerjaan Ken Bailey yang utama adalah
menemukan kembali para suami atau anak-anak yang lari, dan
mula-mula Jennifer yakin bahwa dia adalah seorang penipu
yang mengobral janji dan memungut bayaran banyak. Tetapi
37
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam waktu singkat, Jennifer menyadari bahwa Ken Bailey
bekerja keras dan sering kali berhasil. Dia cerdas dan pandai.
Otto Wenzel merupakan teka-teki. Teleponnya sering
berdering. Telepon itu diangkatnya, dia menggumamkan
beberapa patah kata di telepon itu, menuliskan sesuatu pada
secarik kertas, lalu menghilang beberapa jam.
"Si Oscar itu mengusahakan pengembalian," Ken Bailey
menjelaskan pada Jennifer pada suatu hari.
"Pengembalian bagaimana?"
"Yah, perusahaan-perusahaan koleksi memintanya untuk
menemukan kembali mobil-mobil, pesawat-pesawat tv, mesin
cuci.... apa saja."
Dia memandang Jennifer dengan rasa ingin tahu. "Apakah
Anda sudah ada klien?"
"Ada beberapa hal yang harus saya urus," kata Jennifer
mengelak.
Ken mengangguk. "Jangan sampai putus asa. Semua orang
pernah berbuat salah."
Jennifer merasa wajahnya panas. Jelas Ken tahu tentang
dirinya.
Ken Bailey sedang membuka bungkusan besar yang
ternyata berisi roti berisi daging panggang. "Maukah Anda
makan sedikit?"
Roti itu kelihatan enak sekali. "Tidak, terima kasih," kata
Jennifer dengan tegas. "Saya tak pernah makan siang."
"Baiklah."
Jennifer memandangi Ken menggigit roti yang kelihatan
berlemak itu. Ken melihat air mukanya dan berkata,
"Sungguh-sungguhkah Anda....?"
"Tidak, terima kasih. Sa.... saya ada janji."
38
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ken Bailey memperhatikan Jennifer berjalan ke luar kantor
dan wajahnya jadi serius. Dia biasa membanggakan dirinya
atas kemampuannya membaca wajah orang, tetapi Jennifer
Parker benar-benar teka-teki baginya. Berdasarkan beritaberita tv dan surat-surat kabar, dia selama ini yakin bahwa
seseorang telah membayar gadis itu untuk menggagalkan
perkara melawan Michael Moretti. Setelah bertemu dengan
Jennifer sendiri, Ken jadi kurang yakin. Dia pernah menikah
dan telah mengalami kegagalan dan dia lalu menilai rendah
pada kaum wanita. Tetapi ada sesuatu yang meyakinkan
dirinya bahwa yang seorang ini, istimewa. Dia cantik, cerdas,
dan punya harga diri. Ya Tuhan! pikirnya sendiri. Jangan tolol!
Dibebani satu pembunuhan saja sudah cukup.
Emma Lazarus adalah seorang penyair goblok yang
sentimental, pikir Jennifer. "Berilah tubuhmu yang letih, yang
malang, dan yang terhimpit itu kesempatan untuk menghirup
udara segar.... Kirimkanlah mereka yang tunawisma, yang
terlempar oleh badai, kepadaku" Memang setiap orang yang
membual keset kaki di New York akan bisa bangkrut setiap
saat. Di New York tak ada yang peduli apakah kita hidup atau
mati. Jangan mengasihani dirimu sendiri, pikir Jennifer sendiri.
Tetapi hal itu sulit sekali. Simpanannya sudah tinggal
delapan belas dolar, sewa apartemennya sudah kedaluwarsa,
sedang sewa tempat di kantornya dua hari lagi harus
dibayarnya. Uangnya tak cukup lagi untuk tinggal di New York
lebih lama, dan uang itu tak cukup pula untuk berangkat.
Jennifer mencari di halaman kuning buku telepon, Dia
menelepon kantor-kantor pengacara menurut abjad, untuk
melamar pekerjaan. Dia menelepon di tempat-tempat telepon
umum, karena dia malu kalau-kalau pembicaraannya
terdengar oleh Ken Bailey dan Otto Wenzel. Hasilnya selalu
sama. Tak seorang pun berminat untuk menerimanya bekerja.
Dia harus kembali ke Kelso, dan bekerja sebagai seorang
pembantu atau sekretaris salah seorang Sahabat ayahnya.
39
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Betapa akan benci ayahnya pada gagasan itu! Itu akan
merupakan pukulan yang getir, tapi dia tak ada pilihan lain.
Dia akan kembali membawa kegagalan. Masalah yang
langsung harus dihadapinya kini adalah biaya perjalanan. Dia
mencari-cari dalam surat kabar petang New York Post dan
menemukan sebuah iklan yang mencari seseorang yang mau
patungan membayar ongkos perjalanan ke Seattle. Di situ
dicantumkan pula nomor teleponnya dan Jennifer memutar
nomor itu. Tak ada jawaban. Dia memutuskan untuk mencoba
lagi esok paginya.
Esok harinya Jennifer pergi ke kantornya untuk terakhir
kali. Otto Wenzel sedang keluar, tetapi Ken Bailey ada,
sebagaimana biasa sedang menelepon. Dia mengenakan blue
jeans dan sweater dari bahan kashmir yang lehernya
berbentuk V.
Dia sedang berkata, "Aku sudah menemukan istrimu.
Masalahnya, Sahabat, dia tak mau pulang.... Aku tahu wanita
memang tak bisa diperhitungkan.... Oke.... akan kukatakan di
mana dia berada dan kau boleh mencoba membujuknya untuk
kembali." Lalu disebutkannya alamat sebuah hotel di tengahtengah kota. "Terima kasih kembali." Diletakkannya kembali
gagang telepon, lalu berputar dan menghadapi Jennifer. "Anda
kesiangan hari ini."
"Tuan Bailey, saya.... saya terpaksa pergi. Uang sewa
tempat ini akan saya bayar segera setelah saya mampu."
Ken Bailey bersandar di kursinya dan memperhatikannya.
Jennifer merasa tak enak diawasi begitu.
"Bisakah begitu?" tanya Jennifer.
"Akan kembali ke Washington kah Anda?"
Jennifer mengangguk.
Ken Bailey berkata, "Sebelum Anda berangkat,! bisakah
Anda membantu saya? Saya punya teman seorang pengacara
40
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berulang kali mendesak saya untuk membantunya
menyampaikan beberapa surat panggilan pengadilan, padahal
saya tak punya waktu. Dia membayar dua belas setengah
dolar untuk setiap surat panggilan ditambah uang perjalanan
yang diperhitungkan setiap mil. Bisakah Anda membantu?"
Sejam kemudian, Jennifer sudah berada di kantor
pengacara Peabody and Peabody, yang lantainya beralas
bahan sejenis beledu. Dalam kantor seperti inilah dia
mengangan-angankan dirinya bekerja pada suatu hari kelak,
dengan patner kerja lengkap dan sebuah sofa yang bagus di
sudut. Dia diantar ke sebuah kamar kecil di bagian belakang,
di mana seorang sekretaris yang tampak lesu, memberikan
setumpuk surat-surat panggilan padanya.
"Nih. Jangan lupa mencatat berapa mil perjalanan Anda.
Anda punya mobil, kan?"
"Tidak. Saya tak punya."
"Yah, kalau naik kereta api bawah tanah, catat
bayarannya."
"Baik."
Sepanjang hari itu, Jennifer menyampaikan surat-surat
panggilan di daerah-daerah Bronx, Brooklyn, dan Queens
dalam hujan lebat. Pukul delapan malam itu dia telah berhasil
mengumpulkan lima puluh dolar. Dia kembali ke
apartemennya yang kecil, dalam keadaan letih dan
kedinginan. Tapi dia akhirnya berhasil mendapatkan uang,
upahnya sang pertama sejak dia datang ke New York. Dan
Sekretaris itu telah mengatakan padanya bahwa masih banyak
surat panggilan yang harus disampaikannya. Pekerjaannya
memang berat, menjalani seluruh bagian kota, dan juga
makan hati. Ada yang membanting pintu di depan hidungnya,
dia disumpah serapah orang, diancam, dan malah dua kali
dilamar. Mengingat harus menghadapi hari kerja seperti itu
lagi rasanya lemah semangatnya, namun, selama dia masih
41
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bisa tinggal di New York, masih ada harapan, betapa pun
samarnya.
Jennifer membuka keran air panas lalu masuk ke dalamnya,
sambil perlahan-lahan membenamkan dirinya di dalam bak
mandi, dan merasakan nikmatnya air yang memukul-mukul
tubuhnya. Tak disadarinya betapa letihnya dia tadi. Setiap
ototnya terasa sakit. Dia memutuskan bahwa makan malam
yang enak akan bisa menghidupkan semangatnya kembali. Dia
akan bersenang-senang. Aku akan memanjakan diriku makan
di restoran yang sebenarnya, yang mejanya beralas dan ada
serbetnya, pikir jennifer. Mungkin mereka akan
memperdengarkan musik lembut dan aku akan minum anggur
putih dan....
Angan-angan Jennifer terputus oleh dering lonceng pintu.
Aneh rasanya bunyi itu. Sejak dia pindah ke tempat itu dua
bulan yang lalu, tak seorang pun pernah mengunjunginya. Itu
tentu ibu penyewa kamar yang kesal karena sewa kamarnya
yang belum dibayar. Jennifer berbaring saja diam-diam dalam
bak mandinya sambil berharap ibu itu akan pergi. Dia merasa
terlalu letih untuk bergerak.
Lonceng pintu berbunyi lagi. Dengan enggan Jennifer
mengangkat dirinya dari bak yang berair hangat itu. Dia
mengenakan kimono dari bahan terry dan berjalan ke arah
pintu.
"Siapa?"
Pada sisi lain pjntu terdengar suara laki-laki berkata, "Nona
Jennifer Parker?"
"Ya."
"Saya Adam Warner. Saya seorang ahli hukum."
Dengan perasaan heran, Jennifer memasang rantai pada
pintu lalu membuka pintu itu sebesar celah saja. Pria yang
berdiri di lorong rumah itu berumur tiga puluh lebih sedikit....
42
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia jangkung, rambutnya pirang, dan berdada bidang, sedang
matanya yang terlindung oleh kaca mata yang berbingkai
tanduk, berwarna abu-abu kebiruan. Dia mengenakan setelan
yang dibuat khusus, yang harganya pasti mahal.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Seorang penjahat tentu tidak mengenakan setelan yang
dibuat khusus, sepatu merek Gucci, dan dasi sutra. Dia juga
tentu tidak mempunyai tangan yang berjari panjang-panjang
dan halus yang kukunya terpelihara.
"Sebentar."
Jennifer melepas rantainya lalu membuka pintu. Waktu
Adam Warner masuk, Jennifer memandang ke segenap bagian
apartemennya yang berkamar satu itu, seolah Adam Warner
lah yang sedang memandanginya, dan dia bergidik. Pria itu
kelihatannya orang berada.
"Apa yang dapat saya bantu, Tuan Warner?"
Sedang berbicara itu, Jennifer tiba-tiba sudah menduga
mengapa orang itu datang, dan dia merasa berdebar. Ini tentu
mengenai salah satu pekerjaan yang pernah dilamarnya! Dia
menyesal mengapa dia tadi tidak mengenakan kimono bagus
berwarna biru tua yang dibuat khusus, mengapa lambutnya
tadi tidak disisir rapi, mengapa....
Adam Warner berkata, "Saya seorang anggota dari panitia
pemelihara disiplin dari Persatuan Ahli Hukum New York, Nona
Parker. Jaksa Negeri Kobert Di Silva dan Hakim Lawrence
Waldman telah meminta Bagian Banding untuk memulai
proses pembatalan hak sebagai pengacara terhadap Anda."
4
43
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kantor-kantor pengacara milik Needham, Finch, dan
Warner terletak di Wall Street 30, menempati seluruh lantai
teratas dari bangunan itu. Dalam perusahaan itu ada seratus
dua puluh lima orang ahli hukum. Kantor-kantor itu bergaya
kuno dan dijalankan dengan tenang, sesuai dengan organisasi
yang mewakili beberapa nama terbesar dalam industri itu.
Adam Warner dan Stewart Needham sedang minum teh
pagi hari, yang merupakan kebiasaan mereka. Stewart
Needham adalah seorang pria yang gagah dan apik, yang
berumur hampir tujuh puluh tahun. Dia berjanggut gaya
Vandyke, dan mengenakan setelan dari bahan triko serta
memakai vest. Kelihatannya dia tergolong orang-orang dari
zaman tua, tetapi beratus-ratus lawannya dengan menyesal
harus mengatakan, berdasarkan pengalaman bertahun-tahun,
bahwa pikiran Stewart Needham benar-benar tergolong
generasi abad kedua puluh. Dia seorang terkemuka, namun
namanya hanya dikenal dalam lingkungan yang sesuai dengan
kedudukannya. Dia lebih suka berada di garis belakang dan
menggunakan pengaruhnya yang besar untuk mempengaruhi
hasil badan legislatif, tugas-tugas badan pemerintahan tinggi,
dan politik nasional. Dia berasal dari daerah New England,
dilahirkan serta dididik dengan cara tak banyak cakap.
Adam Warner menikah dengan keponakan Needham, Mary
Beth, dan Needham menjadi pelindungnya. Ayah Adam adalah
seorang senator yang dihormati. Adam sendiri adalah seorang
ahli hukum yang cerdas. Ketika dia tamat dari Fakultas Hukum
Universitas Harvard dengan predikat magna cum laude, dia
telah menerima tawaran bekerja dari perusahaan-perusahaan
pengacara yang punya nama di seluruh negeri. Dia memilih
Needham, Finch, dan Pierce, dan tujuh tahun kemudian
menjadi partner mereka. Adam adalah seorang yang menarik,
dan kecerdasannya agaknya menambah tinggi penilaian orang
tentang dirinya. Dia percaya akan dirinya dan itu merupakan
tantangan bagi kaum wanita. Sejak lama Adam sudah punva
cara untuk mencegah agar para klien wanita jangan sampai
44
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlalu tergila-gila padanya. Sudah empat belas tahun dia
menikah dengan Mary Beth dan dia tak mau ada main di luar
perkawinannya.
"Mau teh lagi, Adam?" tanya Stewart Needham.
"Tidak, terima kasih." Adam Warner sebenarnya tak suka
teh. Namun setiap pagi selama delapan tahun, dia minum teh
karena dia tak mau menyakiti hati partnernya itu. Cara
menyedu teh itu adalah hasil pemikiran Needham sendiri dan
hasilnya sama sekali tak enak.
Ada dua hal vang akan disampaikan Needham, dan seperti
biasanya, dia mulai dengan berita yang menyenangkan.
"Kemarin malam aku menghadiri pertemuan dengan beberapa
orang teman," kata Needham. Yang dimaksud dengan
beberapa orang teman adalah orang-orang top yang
memegang peranan dalam menentukan siapa-siapa yang akan
menjadi penguasa di negara itu. "Mereka sedang
mempertimbangkan untuk meminta kau agar mencalonkan diri
sebagai Senator Amerika Serikat, Adam."
Adam merasa bangga. Mengetahui sifat Stewart Needham
yang cermat, Adam yakin bahwa percakapan dengan temantemannya itu bukanlah sekedar iseng saja, karena kalau
demikian halnya dia tentu tidak akan mengutarakannya
sekarang.
"Pertanyaan yang penting sekarang tentulah, apakah kau
merasa tertarik atau tidak. Hal itu akan berarti membawa
banyak perubahan dalam hidupmu."
Adam Warner menyadari hal itu. Bila dia memenangkan
pemilihan itu, akan berarti bahwa dia harus pindah ke
Washington DC, menghentikan prakteknya sebagai pengacara,
dan memulai hidup yang benar-benar baru. Dia yakin bahwa
Mary Beth akan menyukai hal itu; Adam tak yakin akan dirinya
sendiri. Namun dia telah dididik untuk mau mengemban
45
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanggung jawab. Dia juga harus mengakui sendiri bahwa
memiliki kekuasaan itu adalah menyenangkan.
"Aku merasa tertarik, Stewart."
Stewart Needham mengangguk dengan rasa puas. "Bagus.
Mereka tentu akan senang." Dia menuangkan lagi secangkir
teh yang tak enak itu dan sambil lalu mengemukakan soal
yang satu lagi yang sedang dipikirkannya. "Panitia pendisiplin
persatuan ahli hukum meminta kau untuk menyelesaikan
suatu persoalan kecil, Adam. Paling-paling dalam satu atau
dua jam sudah bisa diselesaikan."
"Apa itu?"
"Sehubungan dengan perkara Michael Moretti itu. Agaknya
ada seseorang yang telah berhasil mendatangi salah seorang
asisten Bobby Di Silva, dan menyuapnya."
"Ada kubaca tentang hal itu. Tentang burung kenari itu."
"Benar. Hakim Waldman dan Bobby ingin nama wanita itu
dihapuskan dari daftar nama jabatan kita yang terhormat ini.
Demikian pula aku. Itu menodai kita."
"Mereka menyuruh aku melakukan apa?"
"Lakukanlah penelitian secara cepat saja, buktikan bahwa
gadis Parker itu telah bertindak melanggar hukum atau
melanggar etika, kemudian usulkan pembatalan haknya
sebagai pengacara. Dia cukup diberi tahu saja, dan mereka
berdua akan menangani selanjutnya. Itu hanya pekerjaan
rutin, bukan?"
Adam merasa heran. "Mengapa harus aku, Stewart? Kita
punya beberapa belas ahli hukum muda dalam perusahaan
kita ini. Mereka itu tentu bisa menangani hal itu."
"Pak Jaksa kita yang terhormat secara khusus meminta
kau. Dia ingin agar jangan sampai terjadi kesalahan. Kita pun
tahu," sambungnya dengan datar, "Bobby itu orang yang tak
46
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mudah memaafkan. Besar benar keinginannya untuk
menangkap wanita yang bernama Parker itu."
Adam Warner duduk terdiam, membayangkan tumpukan
tugas yang harus diselesaikannya.
"Siapa tahu kita kelak membutuhkan bantuan kejaksaan,
Adam. Yah, mau diapakan lagi. Hal itu sudah menjadi
keputusan."
"Baiklah, Stewart," kata Adam lalu bangkit.
"Benar-benarkah kau tak ingin teh lagi?"
"Tidak, terima kasih. Tehnya enak, seperti biasa."
Sekembalinya ke kantor, Adam Warner memanggil salah
seorang asistennya, seorang gadis Negro yang masih muda,
bernama Lucinda.
"Cindy, tolong carikan aku semua informasi tentang
seorang ahli hukum yang bernama Jennifer Parker."
Gadis itu tertawa kecil lalu berkata, "Si Burung Kenari
Kuning."
Semua orang tahu tentang dia.
Senja hari itu Adam Warner mempelajari salinan dari
jalannya sidang dalam perkara Rakyat New York melawan
Michael Moretti. Robert Di Silva telan menyampaikannya
melalui seorang suruhan khusus. Sudah lewat tengah malam
Adam baru selesai. Mary Beth telah dimintanya untuk
menghadiri suatu pesta seorang diri, dan menyuruh orang
membelikan roti untuk makan malamnya. Setelah dia selesai
membaca salinan itu, tak ada lagi keraguan dalam pikirannya
bahwa Michael Moretti pasti akan diputuskan bersalah oleh
dewan juri, seandainya tidak dihalangi oleh nasib buruk dalam
bentuk Jennifer Parker. Di Silva telah menuntut perkara itu
tanpa salah sama sekali.
47
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam beralih pada salinan keterangan saksi yang telah
berlangsung di kamar kerja Hakim Waldman setelah peristiwa
itu.
Di Silva: Anda tamat perguruan tinggi?
Parker: Ya, Pak.
Di Silva: Dan tamat fakultas hukum?
Parker: Ya, Pak.
Di Silva: Seseorang yang tak Anda kenal menyerahkan
sebuah bungkusan pada Anda, menyuruh Anda
menyampaikannya pada saksi utama dalam sebuah sidang
tentang pembunuhan, dan Anda mau saja melakukannya.
Bukankah itu sudah melewati batas kebodohan namanya?
Parker: Bukan begitu kejadiannya.
Di Silva: Tadi Anda berkata begitu.
Parker: Maksud saya, saya sangka dia bukan orang yang
tak dikenal. Saya sangka dia salah seorang staf Anda.
Di Silva: Mengapa Anda beranggapan begitu?
Parker: Sudah saya katakan. Saya melihat dia bercakapcakap dengan Anda, lalu dia mendatangi saya dengan
membawa amplop itu, dan dia menyebut nama saya, apalagi
dia berkata bahwa Anda yang menyuruh saya
menyampaikannya pada saksi. Semua itu terjadi begitu cepat,
hingga....
Di Silva: Saya rasa tidak terlalu cepat terjadinya. Saya rasa
orang masih sempat merencanakannya. Orang masih sempat
mengatur seseorang untuk membayar Anda supaya Anda mau
menyerahkannya.
Parker: Itu tak benar. Saya....
48
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di Silva: Apa yang tak benar? Bahwa Anda tak tahu Anda
menyerahkan amplop itu?
Parker: Saya tak tahu apa isinya.
Di Silva: Jadi benarlah bahwa seseorang telah membayar
Anda.
Parker: Saya tidak akan membiarkan Anda
memutarbalikkan kata-kata saya. Tak ada seorang pun
membayar saya.
Di Silva: Jadi Anda hanya menolong secara sukarela?
Parker: Saya sangka saya menjalankan perintah Anda.
Di Silva: Kata Anda orang itu menyebut nama Anda.
Parker: Ya.
Di Silva: Bagaimana dia tahu nama Anda?
Parker: Saya tak tahu.
DiSilva: Ah, ayolah. Anda tentu tahu. Mungkin dia menerka
saja dan ternyata benar. Mungkin dia hanya melihat ke
sekeliling ruang sidang itu dan berkata, 'Itu ada orang yang
kelihatannya bernama Jennifer Parker.' Begitukah menurut
Anda?
Parker: Sudah saya katakan, saya tak tahu.
Di Silva: Sudah berapa lama Anda pacaran dengan Michael
Moretti?
Parker: Tuan Di Silva, kita telah membicarakan soal itu tadi.
Sudah lima jam Anda menanyai saya. Saya letih. Tak ada lagi
yang bisa saya tambahkan. Bolehkah saya pergi?
Di Silva: Kalau Anda beranjak dari kursi itu. Anda akan saya
suruh kurung. Anda sedang dalam kesulitan besar, Nona
Parker. Hanya ada satu jalan ke luarnya. Jangan berbohong
lagi dan mulailah berkata benar.
49
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Parker: Saya sudah mengatakan yang benar. Sudah saya
ceritakan semua yang saya tahu.
Di Silva: Kecuali nama orang yang telah menyampaikan
amplop itu pada Anda. Saya ingin tahu namanya dan saya
ingin tahu berapa dia membayar Anda.
Masih ada tiga puluh halaman salinan lagi. Segalanya telah
dilakukan oleh Robert Di Silva, hanya memukul saja yang tidak
dilakukannya. Namun Jennifer tetap bertahan pada ceritanya.
Adam menutup salinan itu dan menggosok-gosok matanya
dengan lesu. Hari sudah pukul dua subuh.
Esoknya dia akan menyerahkan kembali perkara Jennifer
Parker itu.
Adam Warner merasa heran karena ternyata perkara
Jennifer Parker itu tak bisa diserahkannya kembali dengan
mudah. Karena Adam biasa bekerja dengan metode, maka dia
menyelidiki latar belakang kehidupan Jennifer Parker lebih
dahulu. Sejauh itu, kesimpulan yang dapat ditariknya adalah
bahwa gadis itu tak pernah tersangkut dalam kejahatan, dan
tak pernah ada hubungan dengan Michael Moretti.
Ada sesuatu dalam perkara itu yang mengusik hati Adam.
Pembelaan diri Jennifer Parker terlalu rapuh. Bila dia memang
bekerja untuk Moretti, maka laki-laki itu tentu akan melindungi
Jennifer dengan segala alasan yang masuk akal. Sedang
kenyataannya, kesaksian Jennifer jelas sekali polosnya hingga
terdengar ada kebenarannya.
Tengah hari, Adam menerima telepon dari jaksa, "Apa
kabar, Adam?"
"Baik, Robert.”
"Kudengar kau yang menjadi algojo dalam perkara Jennifer
Parker itu."
50
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam Warner merinding mendengar ungkapan itu. "Aku
bersedia mengadakan penyelidikan, itu memang benar."
"Aku akan berusaha menyingkirkannya untuk jangka waktu
panjang."
Adam terkejut mendengar nada kebencian dalam suara
jaksa itu. "Tenang, Robert. Haknya belum lagi dicabut."
Di Silva tertawa kecil. "Itu kuserahkan padamu, Sahabat."
Dia mengubah nada bicaranya. "Aku mendengar berita
burung, bahwa kau akan pindah ke Washington dalam waktu
singkat. Aku ingin kau tahu bahwa kau bisa mengharapkan
dukungan sepenuhnya dariku."
Memang sudah sepantasnya, pikir Adam Warner, jaksa itu
sudah berpengalaman banyak. Dia tahu betul tempat-tempat
mencari informasi, dan dia tahu mencari keuntungan yang
sebanyak-banyaknya dari informasi-informasi itu.
"Terima kasih, Robert. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Adam. Aku menunggu berita lagi darimu."
Maksudnya tentu berita tentang Jennifer Parker. Usaha
balas jasa yang dimaksud oleh Stewart Needham, dengan
gadis itu sebagai barang taruhannya. Adam Warner mengingat
kembali kata-kata Robert Di Silva: Aku akan berusaha
menyingkirkannya untuk jangka waktu yang panjang. Sejak
membaca dokumen tanya-jawabnya, Adam sudah
beranggapan bahwa tak ada bukti nyata untuk menuntut
Jennifer Parker. Di Silva tidak akan bisa menangkap gadis itu,
kecuali kalau gadis itu sendiri yang mengaku, atau ada
seseorang yang tampil dengan informasi yang membuktikan
bahwa dia berkomplot dengan kejahatan. Di Silva
mengharapkan Adam membantunya untuk membalaskan
dendamnya.
Kata-kata yang dingin dan keras yang tercantum dalam
dokumen itu sudah jelas sekali, namun Adam ingin sekali
51
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengar nada suara Jennifer Parker waktu dia membantah
tuduhan atas dirinya.
Banyak soal-soal mendesak yang menuntut perhatian
Adam, perkara-perkara penting vang melibatkan klien-klien
besar. Sebenarnya mudah saja untuk mengambil jalan pendek
dan melaksanakan keinginan Stewart Needham, Hakim
Lawrence Waldman, dan Robert Di Silva, tetapi naluri Adam
Warner membuatnya bimbang. Diambilnya lagi surat-surat
mengenai Jennifer Parker itu. Dituliskannya beberapa catatan
pendek, lalu dia menelepon interlokal.
Adam telah dibebani tanggung jawab, dan dia, berniat
melaksanakannya dengan sebaik-baiknya sebatas
kemampuannya. Dia tahu benar betapa lama dan sulitnya
orang harus belajar dan kerja keras yang dituntut dari
seseorang untuk menjadi ahli hukum supaya lulus ujian
keahlian. Itu merupakan hadiah yang makan waktu bertahuntahun untuk memperolehnya, dan dia tak ingin merampasnya
begitu saja dari orang, bila dia tak yakin bahwa itu memang
berdasarkan hukum.
Esok paginya Adam Warner sudah berada dalam pesawat,
pergi ke Seattle, Washington. Dia mengadakan pertemuan
dengan para profesor hukum yang mengajar Jennifer Parker,
dengan pemimpin perusahaan pengacara di mana Jennifer
magang selama dua musim panas, dan dengan beberapa
bekas teman sekelas Jennifer.
Stewart Needham menelepon Adam di Seattle. "Apa yang
kaulakukan di situ, Adam? Di sini bertumpuk perkara
menunggumu. Perkara Parker itu sebenarnya bisa diselesaikan
sekejap mata saja."
"Beberapa pertanyaan telah timbul," kata Adam berhatihati. "Satu atau dua hari lagilah aku kembali, Stewart."
Mereka diam sebentar. "Baiklah. Tapi tak usahlah kita
membuang lebih banyak waktu daripada seperlunya."
52
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu Adam Warner meninggalkan Seattle, dia merasa
hahwa dia telah mengenal Jennifer Parker hampir sebaik gadis
itu mengenal dirinya sendiri. Dalam pikirannya telah terbentuk
suatu gambaran tentang gadis itu, suatu potret diri mentalnya,
dengan bagian-bagian yang diisi oleh para profesor yang telah
mengajarnya hukum, ibu kos-nya, anggota-anggota
perusahaan pengacara tempatnya magang, serta temanteman sekelasnya. Gambaran yang diperoleh Adam sama
sekali tak ada persamaannya dengan gambaran yang
diberikan oleh Robert Di Silva. Hanya bila Jennifer Parker itu
seorang aktris yang paling sempurna di dunia inilah, dia baru
mungkin terlibat dalam komplotan yang membebaskan
seseorang seperti Michael Moretti.
Kini, dua minggu setelah dia bercakap-cakap dengan
Stewart Needham pagi hari itu, Adam Warner berhadapan
dengan gadis yang masa lalunya telah di jelajahinya. Adam
telah melihat foto-foto Jennifer di surat-surat kabar, tetapi dia
dicengangkan oleh pesona diri gadis itu. Meski hanya
mengenakan kimono tua tanpa make-up. dan rambutnya yang
berwarna coklat tua itu basah karena baru habis mandi, gadis
itu tetap mempesona.
"Saya ditugaskan untuk meneliti peran Anda dalam perkara
Michael Moretti dulu itu. Nona Parker," kata Adam.
"Itu lagi!" Jennifer merasa amarahnya timbul dalam dirinya.
Perasaan itu mulai bagai percikan api yang lalu menjadi nyala
yang meluap dalam dirinya. Rupanya mereka masih terus
mengejarnya! Mereka rupanya ingin menyuruhnya
menanggung akibatnya sepanjang sisa hidupnya. Tetapi dia
sudah muak!
Jennifer berkata dengan suara gemetar, "Tak ada yang
dapat saya katakan pada Anda! Pulanglah dan laporkanlah
pada mereka apa saja yang Anda mau. Saya memang telah
berbuat bodoh, tapi sepanjang pengetahuan saya, tak ada
undang-undang yang mempermasalahkan kebodohan. Jaksa
53
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu menuduh seseorang telah membayar saya." Diangkat
tangannya dengan sikap mencemooh. "Bila saya punya uang,
menurut Anda. akan maukah saya tinggal di tempat seperti
ini?" Lehernya rasa tersekat. "Sa... saya tak peduli apa yang
Anda lakukan. Saya hanya ingin tak diganggu lagi. Nah,
silakan pergi!"
Jennifer berbalik, lalu lari ke kamar mandi, sambil
membanting pintunya.
Dia berdiri bersandar pada meja tempat mencuci muka,
sambil menarik napas panjang dan menyeka air matanya. Dia
tahu bahwa tindakannya tadi bodoh. Itu kebodohan yang
kedua kalinya, pikirnya lesu. Seharusnya dia menghadapi
Adam Warner tadi dengan cara yang lain. Dia seharusnya
mencoba memberikan penjelasan tadi, bukan menyerangnya.
Mungkin dengan demikian dia tidak akan jadi ditindak. Tetapi
dia tahu bahwa itu hanya prasangka saja. Tindakan mengirim
seseorang untuk menanyainya adalah suatu teka-teki. Pada
langkah berikutnya, akan datang seseorang yang akan
menunjukkan bukti, dan tindakan hukumnya pun dilakukanlah.
Maka akan diadakan sidang yang terdiri dari tiga orang ahli
hukum, yang akan membacakan tuduhannya pada suatu
Badan Pendisiplin, yang kemudian akan melapor pula pada
Badan Staf Gubernur. Keputusan yang akan diusulkan sudah
ditentukan lebih dulu: pembatalan hak sebagai pengacara. Dia
akan dilarang menjalankan praktek sebagai pengacara di
negara bagian New York. Ada satu hal yang menyenangkan
dalam hal ini, pikir Jennifer getir. Namaku akan dicantumkan
dalam Buku Guinness Book of Records, sebagai orang yang
punya karir di bidang hukum yang terpendek dalam sejarah.
Dia masuk ke dalam bak mandi lagi lalu duduk bersandar,
membiarkan air yang masih hangat meresapi tubuhnya, sambil
melemaskan syaraf syarafnya yang tegang. Pada saat itu dia
merasa terlalu letih untuk mengacuhkan apa yang terjadi atas
dirinya. Ditutup matanya dan dibiarkannya pikirannya
54
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melayang. Dia setengah tertidur dan baru terbangun oleh air
yang sudah terasa dingin. Dia tak tahu berapa lama dia
terbaring dalam bak itu. Dengan enggan dia melangkah ke
luar sambil mengeringkan tubuhnya. Dia tak merasa lapar lagi.
Peristiwa dengan Adam Warner tadi telah mematahkan
seleranya.
Jennifer menyisir rambutnya dan membubuhkan krim di
wajahnya, lalu memutuskan untuk pergi tidur tanpa makan.
Esok paginya dia akan menelepon sehubungan dengan
perjalanan dengan bayaran patungan ke Seattle itu.
Dibukanya pintu kamar mandinya dan masuk ke ruang tamu.
Adam Warner masih duduk di sebuah kursi, sambil
membalik-balik sebuah majalah. Dia mengangkat mukanya
waktu Jennifer memasuki ruang itu, dengan hanya berkain
handuk.
"Maaf," kata Adam. "Saya....”
Jennifer berteriak kecil kengerian membayangkan dirinya,
lalu berlari ke kamar mandi, di mana dia mengenakan
kimononya lagi. Waktu dia keluar untuk menemui Adam lagi,
dia marah sekali.
"Tanya-jawabnya sudah selesai. Anda tadi sudah saya
minta untuk pergi."
Adam meletakkan majalah dan duduk dengan tenang.
"Nona Parker, apakah menurut Anda hal ini tak bisa kita bahas
dengan tenang sebentar?"
"Tidak!" Semua kemarahan yang terpendam meluap lagi
dalam diri Jennifer. "Tak ada lagi yang dapat saya katakan
pada Anda maupun pada panitia pendisiplin terkutuk itu. Saya
bosan diperlakukan seperti... seolah-olah saya ini penjahat!'"
"Adakah saya mengatakan bahwa Anda seorang penjahat?"
tanya Adam tenang-tenang.
"Anda.... bukankah untuk itu Anda berada di sini?"
55
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sudah saya katakan untuk apa saya kemari. Saya
ditugaskan untuk menyelidiki dan memberikan usul untuk
membenarkan atau menggagalkan rencana pembatalan hak
Anda. Saya ingin mendengar kejadiannya dari pihak Anda."
''Oh begitu. Lalu harus saya bayar berapa Anda, supaya
tanpa mendapat keterangan dari saya Anda mau pergi?"
Wajah Adam menjadi tegang. "Maaf, Nona Parker." Adam
bangkit lalu berjalan ke arah pintu.
"Tunggu sebentar!"
Adam berbalik.
"Maafkan saya." kata Jennifer. "Saya... semua orang
rasanya seperti memusuhi saya. Maafkan saya."
“Permintaan maaf Anda saya terima."
Jennifer tiba-tiba menyadari betapa tipisnya kimononya.
"Bila Anda ingin menanyai saya, izinkan sayva mengganti
pakaian saya dulu, baru kita bisa bercakap-cakap."
"Baiklah. Anda sudah makan malam?"
Jennifer ragu sebentar. "Saya....”
"Saya tahu ada sebuah restoran Prancis kecil yang rasanya
tepat sekali untuk dijadikan tempat mengajukan pertanyaanpertanyaan.''
Restoran itu kecil, tenang, dan menarik, terletak di 66th
Street di daerah East Side.
"Tidak terlalu banyak orang tahu tentang tempat ini," kata
Adam Warner setelah mereka duduk. "Ini milik suatu
pasangan muda Prancis yang dulu bekerja di Les Pyrenees.
Makanannya istimewa."
Jennifer harus membenarkan kata-kata Adam itu. Tetapi
dia tak bisa menikmati apa-apa. Seharian itu dia tak makan,
tetapi dia demikian gugupnya hingga dia tak sanggup
56
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memaksakan makanan barang sedikit pun ke dalam
tenggorokannya. Dia mencoba untuk santai, tetapi tak
berhasil. Bagaimanapun usahanya untuk berpura-pura, pria
tampan yang duduk di hadapannya itu adalah musuhnya.
Jennifer harus mengakui bahwa laki-laki itu benar-benar
tampan. Dia menyenangkan dan menarik, dan dalam keadaan
lain, Jennifer pasti akan sangat senang malam itu: tetapi
sekarang ini bukan keadaan lain. Seluruh masa depannya ada
dalam tangan orang asing ini. Satu atau dua jam lagi akan
ditentukan arah mana sisa hidupnya akan tertuju.
Dalam usahanya untuk membuat gadis itu santai Adam
telah meninggalkan kegiatannya sendiri. Dia baru saja kembali
dari perjalanan ke Jepang, dimana dia telah bertemu dengan
pejabat-pejabat tinggi pemerintahan. Orang telah menyiapkan
suatu pesta malam khusus untuk menghormatinya.
"Pernahkah Anda makan semut yang di tutul coklat?" tanya
Adam.
"Belum."
Adam tertawa kecil. "Makanan itu lebih enak daripada
jengkerik yang ditutupi coklat."
Adam bercerita tentang perjalanan perburuan ke Alaska
yang dilakukannya setahun yang lalu, dimana dia diserang
beruang. Dia berbicara tentang macam-macam, kecuali
tentang maksud pertemuan mereka di situ.
Jennifer telah menguatkan hatinya untuk menghadapi saat
Adam akan mulai menanyainya, nanun ketika akhirnya Adam
mulai bahan pembicaraan itu, seluruh tubuhnya jadi kaku.
Adam telah menghabiskan makanan penutupnya dan
berkata dengan tenang. "Saya akan mengajukan beberapa
pertanyaan, dan saya tak mau Anda sampai merasa risau.
Oke?"
57
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer tiba-tiba merasa kerongkongannya tersumbat. Dia
tak yakin apakah dia masih bisa berbicara. Dia hanya
mengangguk.
"Saya ingin Anda menceritakan apa adanya tentang apa
yang terjadi di ruang sidang hari itu. Semua yang Anda ingat,
segalanya yang Anda rasakan. Tenang-tenang saja."
Jennifer menarik napas dalam-dalam dengan gemetar dan
berkata, "Baiklah."
Dengan terbata-bata, Jennifer mulai menceritakan peristiwa
dalam ruang sidang waktu itu. Makin lama bicaranya makin
cepat dan makin dihayatinya lagi semuanya. Adam duduk saja
tenang-tenang sambil mendengarkan, memperhatikan Jennifer
tanpa berkata apa-apa.
Setelah Jennifer selesai, Adam berkata, "Laki-laki yang
memberikan amplop itu pada Anda— apakah dia ada di kantor
Jaksa pagi harinya waktu Anda disumpah?"
“Hal itu sudah juga saya coba mengingat-ingatnya. Tapi
saya benar-benar tak ingat. Banyak sekali orang di kantor itu
hari itu dan tak seorang pun diantara mereka saya kenal."
“Pernahkah Anda melihat laki-laki itu sebelumnya di tempat
lain?"
Jennifer menggeleng tak berdaya. "Saya tak ingat. Saya
rasa tak pernah."
“Kala Anda, Anda melihatnya bercakap-cakap sebentar
dengan Jaksa, tak lama sebelum dia mendatangi Anda untuk
memberikan amplop itu, adakah Anda melihat Jaksa
memberikan amplop itu kepadanya?”.
"Saya... tidak."
58
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'"Apakah Anda benar-benar melihat laki-laki itu bercakapcakap dengan Jaksa, atau apakah dia hanya berada dalam
kelompok orang banyak sekelilingnya saja?"
Jennifer menutup matanya sebentar, mencoba mengingatingat kembali saat itu. "Maaf. Semuanya begitu
membingungkan. Saya... saya tak tahu."
"Tahukah Anda bagaimana dia sampai bisa tahu nama
Anda?"
"Tidak."
"Atau mengapa dia memilih Anda?"
"Itu mudah saja. Mungkin dia langsung bisa melihat orang
yang bodoh." Jennifer menggeleng. "Tidak. Maaf. Tuan
Warner, saya tak tahu."
"Orang menganggap soal itu penting sekali." kata Adam.
"Jaksa Di Silva sudah lama mengejar-ngejar Michael Moretti.
Sebelum Anda terlibat, dia punya harapan besar untuk
memenangkan perkara ini. Jaksa tak senang terhadap Anda”.
"Saya pun merasa tak senang terhadap diri saya sendiri."
Jennifer tak dapat mempersalahkan Adam Warner
mengenai apa yang harus dilakukannya. Dia hanya sekedar
menjalankan tugasnya. Mereka berusaha keras untuk
menekannya dan mereka berhasil. Itu bukan tanggung jawab
Adam Warner; dia hanya merupakan alat mereka.
Jennifer tiba-tiba ingin sekali menyendiri. Dia tak ingin
siapa pun melihat kesedihannya.
"Maafkan saya," katanya. "Sa... saya kurang sehat. Saya
ingin pulang."
Adam memandanginya sebentar. "Apakah Anda akan
merasa lebih baik bila saya katakan bahwa saya akan
mengusulkan agar rencana pembatalan atas hak Anda
dihapuskan?"
59
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa detik lamanya barulah Jennifer bisa meresapi
kata-kata Adam itu. Jennifer menatapnya tanpa bisa berkata
apa-apa, dia hanya memperhatikan wajah Adam, menatap
mata yang ahu-abu kebiruan di balik kaca mata berbingkai
tanduk itu. "Apakah Anda bersungguh-sungguh?"
"Menjadi pengacara itu penting sekali bagi Anda, bukan?"
tanya Adam.
Jennifer terkenang akan ayahnya dengan kantornya yang
kecil dan nyaman, akan percakapan yang biasa mereka
lakukan, dan masa kuliahnya di fakultas hukum yang
bertahun-tahun lamanya. juga harapan-harapan dan impianimpian mereka.
Kita akan menjadi partner. Cepat-cepat kaudapatkan gelar
sarjana hukummu.
"Ya," bisik Jennifer.
"Bila Anda bisa mengatasi awal yang sulit ini, saya rasa
Anda akan menjadi pengacara yang baik."
Jennifer tersemum dengan rasa terima kasih. "Terima
kasih. Akan saya coba."
Kata-kata yang terakhir itu diulanginya lagi dalam
angannya. Aku akan memcoba Biarlah dia harus berbagi
tempat di sebuah kantor kecil dan pengap, dengan seorang
detektif swasta yang tak berarti dan seorang yang
menemukan kembali mobil-mobil yang hilang. Bagaimanapun
juga, itu adalah sebuah kantor pengacara. Dia adalah anggota
suatu profesi yang sah, dan dia akan diizinkan untuk
membuka praktek pengacara. Hatinya penuh dengan rasa
gembira. Dia memandang Adam yang duduk di seberangnya
dan dia merasa bahwa dia akan merasa berterima kasih pada
laki-laki ini untuk selama-lamanya.
Pelayan telah mulai membereskan piring-piring dari meja.
Jennifer mencoba berbicara, tetapi yang keluar hanya suara
60
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang merupakan campuran antara tawa dan isak, "Tuan
Warner....”
"Setelah kita menjalani bersama begitu banyak, saya rasa
sepantasnya kalau saya dipanggil Adam saja."
"Adam....”
"Ya?"
"Saya harap ini tidak akan merusak hubungan kita, tapi....”
kata Jennifer, "saya lapar sekali!"
5
Beberapa minggu berikutnya berlalu dengan cepat. Jennifer
sibuk sekali, dari pagi-pagi sekali sampai larut malam,
menyampaikan panggilan-panggilan —yaitu perintah
pengadilan supaya seseorang hadir dalam suatu sidang untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan— dan panggilan-panggilan
pengadilan untuk hadir sebagai saksi. Jennifer tahu bahwa
kemungkinannya untuk mempunyai sebuah perusahaan
pengacara yang besar, tak ada, karena setelah keributan yang
besar itu di mana dia terlibat, tak seorang pun bermimpi untuk
meminta pembelaannya. Dia harus mencari jalan untuk
mencari nama, dia harus mulai dari awal.
Sementara itu, di meja kerjanya bertumpuk-tumpuk surat
panggilan dari Peabody and Peabody yang harus
disampaikannya. Meskipun tidak praktek sebagai pengacara,
dia berpenghasilan dua belas setengah dolar ditambah dengan
ongkos-ongkos lain.
Sekali-sekali bila Jennifer harus bekerja sampai malam, Ken
Bailey mengajaknya makan malam bersama. Dari luar, laki-laki
itu kelihatan seperti sinis, tetapi Jennifer merasa bahwa itu
hanyalah kedok. Dia merasa bahwa laki-laki itu kesepian. Ken
61
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bailey tamat dari Brown University. Dia cerdas dan banyak
membaca buku-buku yang baik. Jennifer tak mengerti
mengapa dia merasa puas menghabiskan hidupnya bekerja
dalam kantor yang pengap itu, dan hanya mencoba
mencarikan suami-suami atau istri-istri orang yang hilang.
Keadaannya seolah-olah dia telah menyerah pada
kegagalannya dan tak berani mencoba untuk mencapai
sukses.
Pada suatu kali waktu Jennifer menyinggung soal
perkawinan Ken Bailey, dia dibentak. "Itu bukan urusanmu,"
dan Jennifer tak pernah menyebut-nyebutnya lagi.
Otto Wenzel lain sekali. Pria kecil yang pendek dan gendut
itu, hidup perkawinannya bahagia sekali. Dia menganggap
Jennifer sebagai anaknya, dan dia sering membawakan
Jennifer sup serta kue-kue buatan istrinya. Sayangnya, istrinya
sama sekali tak pandai memasak, tetapi Jennifer memaksa
dirinya untuk memakan apa saja yang dibawakan Otto
Wenzel, karena dia tak mau menyakiti hati pria itu. Pada suatu
malam Sabtu, Jennifer diundang makan ke rumah Wenzel.
Nyonya Wenzel telah memasak kol isi, yang merupakan
keistimewaannya. Ternyata kolnya terlalu matang, daging di
dalamnya keras dan nasinya setengah masak. Lauk itu
terendam dalam cairan lemak ayam. Jennifer menyendoknya
dengan gagah, menyuapnya sedikit-sedikit, dan mengais-ngais
makanan dalam piringnya supaya kelihatan seolah-olah dia
sedang makan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Nyonya Wenzel berseri-seri
"Ini... ini merupakan salah satu makanan kegemaran saya."
Sejak saat itu, Jennifer diundang makan ke rumah keluarga
Wenzel setiap malam sabtu, dan Nyonya Wenzel selalu
memasak makanan kegemaran Jennifer itu.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, Jennifer menerima
telepon dari sekretaris pribadi Tuan Peabody Jr.
62
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tuan Peabody ingin bertemu dengan Anda jam sebelas
pagi ini. Harap datang tepat pada waktunya.''
"Baik, Nyonya."
Pada waktu-waktu yang lalu, Jennifer hanya berurusan
dengan sekretaris-sekretaris dan petugas-petugas lain saja
dari kantor Peabody. Perusahaan itu besar dan punya nama
baik, perusahaan yang menjadi impian para ahli hukum muda,
supaya diajak ikut serta menjadi anggotanya. Dalam
perjalanan untuk memenuhi janji itu, Jennifer mulai beranganangan. Bila Tuan Peabody sendiri yang ingin bertemu
dengannya, tentu itu berarti mengenai sesuatu yang penting.
Mungkin dia telah melihat harapan baik dan ingin
menawarinya pekerjaan sebagai seorang pengacara dalam
perusahaannya, akan memberinya kesempatan untuk
memperlihatkan kemampuannya. Dia akan membuat kejutan
pada mereka semua. Pada suatu hari kelak, nama itu bahkan
mungkin berubah menjadi Peabody, Peabody and Parker.
Jennifer menghabiskan waktu yang tiga puluh menit di
lorong gedung di luar kantor itu, dan pukul sebelas tepat dia
masuk ke ruang penerimaan tamu. Dia tak mau kelihatan
terlalu bersemangat. Dia disuruh menunggu dua jam lagi
sebelumnya, akhirnya dipersilakan masuk ke kamar kerja Tuan
Peabody Jr. Pria itu jangkung dan kurus, mengenakan setelan
dengan vest dan sepatu yang dibuat khusus baginya di
London.
Dia tidak mempersilakan Jennifer duduk. "Nona Potter...”
katanya, suaranya melengking, tak enak didengar.
"Parker."
Tuan Peabody mengambil sehelai kertas dari meja
kerjanya. "Ini ada panggilan untuk menjadi saksi. Harap Anda
menyampaikannya."
Pada saat itu tahulah Jennifer bahwa dia tidak akan
menjadi anggota perusahaan itu.
63
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tuan Peabody Jr. memberikan surat panggilan itu pada
Jennifer dan berkata, "Anda akan dibayar lima ratus dolar."
Jennifer yakin bahwa dia salah dengar. "Apakah kata Anda
lima ratus dolar?"
"Benar. Tapi itu tentulah bila Anda berhasil.'"
"Ada kesulitan rupanya?" terka Jennifer.
"Yah, begitulah," Tuan Peabody Jr. mengakui. Sudah lebih
dari setahun kami mencoba memanggil orang ini. Namanya
William Carlisle. Dia tinggal di tanah miliknya di Long Island
dan dia tak pernah meninggalkan rumahnya. Terus terang
saja, sudah dua belas orang mencoba untuk memanggilnya.
Dia mempunyai seorang petugas penjaga pintu yang
merangkap menjadi pengawal yang selalu mengusiri siapa
saja yang datang."
"Jadi bagaimana mungkin saya...” kata Jennifer.
Tuan Peabody Jr. menyandarkan tubuhnya ke depan.
"Besar sekali jumlah uang yang dipertaruhkan dalam perkara
ini. Tetapi saya tak bisa membawa Carlisle ke pengadilan,
kalau saya tak bisa menyampaikan surat panggilan ini. Nona
Potter." Jennifer tak lagi berusaha untuk memperbaikinya.
"Apakah Anda rasa Anda bisa menanganinya?"
Jennifer memikirkan tentang apa yang bisa diperbuatnya
dengan uang lima ratus dolar. "'Saya akan mencari jalan."
Pukul dua siang itu, Jennifer berdiri di luar tanah milik
William Carlisle yang megah. Rumahnya sendiri bergaya
Georgia, terletak di tengah-tengah tanah yang luasnya
sepuluh are, yang terpelihara dengan cermat dan tampak
indah. Suatu jalan masuk untuk mobil yang membelok,
menuju ke depan rumah. Bagian rumah itu dilingkari dengan
penuh gaya oleh pohon-pohon cemara. Jennifer memikirkan
kesulitannya dalam-dalam. Karena tak mungkin memasuki
64
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rumah itu, maka satu-satunya jalan ke luar adalah mencari
akal untuk memancing Tuan William Carlisle ke luar.
Setengah blok dari jalan tampak sebuah truk pengusaha
kebun. Jennifer memperhatikan truk itu sebentar, lalu berjalan
mendatanginya, dan mencari tukang-tukang kebunnya. Ada
tiga orang dil antaranya sedang bekerja; mereka adalah
orang-orang Jepang.
Jennifer berjalan mendatangi orang-orang itu. "Siapa yang
bertanggung jawab di sini?" tanyanya.
Salah seorang di antaranya tegak. "Saya."
"Saya ada tugas kecil untuk Anda” Jennifer mulai berkata.
"Maaf, Nona. Kami terlalu sibuk."
"Hanya akan makan waktu lima menit."
"Tidak. Tak mungkin....”
"Anda akan saya bayar seratus dolar."
Ketiga orang itu berhenti bekerja dan melihat padanya.
Kepala tukang kebun berkata, "Anda mau membayar kami
seratus dolar hanya untuk bekerja selama lima menit?"
"Benar."
"Apa yang harus kami kerjakan...?"
Lima menit kemudian, truk perusahaan kebun itu memasuki
jalan masuk ke tanah milik William Clarlisle dan Jennifer keluar
dari mobil diikuti oleh ketiga orang tukang kebun. Jennifer
melihat ke sekelilingnya, memilih sebatang pohon yang bagus
di sisi pintu depan, lalu berkata pada tukang-tukang kebun itu,
"Gali pohon itu."
Mereka mengambil sekop dari truk dan mulai menggali.
Belum semenit mereka menggali, pintu depan terkuak lebar,
dan seorang laki-laki yang besar sekali, yang mengenakan
seragam petugas rumah tangga, keluar dengan terburu-buru.
65
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan?"
"Kami dari Dinas Pemeliharaan Tanaman Long Island," kata
Jennifer dengan tegas. "Kami akan mencabut semua pohonpohon ini."
Petugas itu memandang Jennifer dengan terbelalak. "Apa
yang akan kalian lakukan?"
Jennifer mengacungkan sehelai kertas. "Saya punya surat
perintah untuk menggali semua pohon-pohon ini."
"Tak mungkin! Tuan Carlisle bisa mendapat serangan
jantung!" Dia berbalik pada tukang-tukang kebun. "Hentikan
itu!"
"Dengar, Saudara," kata Jennifer. "saya hanya menjalankan
tugas saya." Jennifer menoleh ke tukang-tukang kebun.
"Teruskan menggali, Saudara-saudara."
"Jangan!" teriak petugas rumah tangga. "Pasti ada
kekeliruan! Tuan Carlisle tak pernah memerintahkan untuk
menggali pohon mana pun juga."
Jennifer mengangkat pundaknya. "Bos saya berkata bahwa
ini perintah beliau."
"Di mana saya bisa berhubungan dengan bos Anda itu?"
Jennifer melihat ke arlojinya. "Beliau sedang menjalankan
tugas luar ke Brooklyn sekarang. Kira-kira jam enam beliau
baru akan kembali ke kantor."'
Petugas itu membelalak pada Jennifer dengan marah
sekali. "Tunggu sebentar! Jangan lakukan apa-apa sampai
saya kembali."
"Gali terus," perintah Jennifer pada tukang-tukang kebun.
Petugas itu berbalik lalu bergegas masuk ke rumah, sambil
menutup pintu dengan membantingnya. Beberapa saat
66
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian pintu terbuka lagi dan petugas ilu kembali, diikuti
oleh seorang pria setengah bava yang kecil.
"Coba ceritakan apa vang sedang terjadi di sini?”
"Apa urusan Anda?" tanya Jennifer
“Dengarkan apa urusanmu dengan saya," bentak laki-laki
kecil itu. "Sayalah William Carlisle dan ini adalah tanah milik
saya."
"Kalau begitu, Tuan Carlisle," kata Jennifer, "ini ada sesuatu
untuk Anda." Dimasukkan tangannya ke dalam saku, lalu
diletakkannya surat panggilan itu ke dalam tangan Tuan
Carlisle. Dia berbalik pada tukang-tukang kebun. "Sekarang
boleh berhenti menggali."
Esok harinya, pagi-pagi benar Adam Warner menelepon.
Jennifer segera mengenali suaranya.
“Saya rasa Anda akan suka mendengar”, kata Adam,
"bahwa rencana pembatalan hak Anda sebagai pengacara
telah dihapuskan dengan resmi. Tak ada lagi yang perlu Anda
kuatirkan sekarang."
Jennifer menutup matanya lalu mengucap syukur dalam
hati. "Sa... saya tak bisa mengucapkan betapa besar rasa
terima kasih saya atas jasa Anda”.
“Keadilan tak selalu buta."
Adam tidak menyebutkan peristiwa yang dialaminya dalam
menghadapi Stewart Needham dan Robert Di Silva. Needham
kecewa, tetapi bisa mengerti.
Jaksa Di Silva marah-marah bagai banteng mengamuk.
"Kaubiarkan perempuan jahanam itu bebas? Tuhanku, dia itu
mafia, Adam! Tak bisakah kau mengerti? Kau telah
dijebaknya!"
Demikianlah dia mengomel terus, sampai Adam merasa
bosan.
67
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Semua bukti yang memberatkannya hanya kebetulan saja,
Robert. Dia berada di tempat yang salah pada waktu yang
salah dan dia terjebak. Bagiku hal itu tidak berarti mafia."
Akhirnya Robert Di Silva berkata. "Baiklah, jadi dia tetap
seorang pengacara. Aku berdoa saja semoga dia membuka
praktek di New York, karena begitu dia menginjakkan kakinya
di salah satu ruang sidang, aku akan melalapnya."
Kini, sedang dia berbicara dengan Jennifer, Adam tidak
menceritakan tentang hal itu. Jennifer telah menjadikan
dirinya sendiri seorang musuh bebuyutan, tetapi tak satu pun
yang bisa diperbuat. Robert Silva adalah seorang pendendam,
sedang Jennifer adalah sasaran yang empuk. Gadis itu cerdas
dan penuh semangat, dan masih sangat muda serta cantik
pula.
Adam menyadari bahwa sebaiknya dia tidak menemui gadis
itu lagi.
Ada saatnya Jennifer merasa ingin berhenti saja. Papan
nama di pintu kantornya masih bertuliskan Jennifer Parker,
Penasihat Hukum, namun tak seorang pun bisa dibohongi,
terutama Jennifer sendiri. Di tak pernah menangani hukum.
Hari-harinya dihabiskan dengan pergi kian kemari dalam
segala cuaca dalam hujan biasa maupun hujan salju, untuk
menyampaikan surat-surat panggilan ke pengadilan pada
orang-orang yang membencinya karena menyampaikan suratsurat itu. Kadang-kadang dia menerima perkara yang remeh,
seperti membantu orang-orang tua untuk mendapatkan kupon
makanan, menyelesaikan beberapa masalah dari orang-orang
Negro, orang-orang dari Puerto Rico, dan para penduduk lain
yang tak beruntung. Jennifer merasa terperangkap.
Malam hari lebih buruk lagi keadaannya daripada siang.
Malam bagai tak kunjung berakhir karena Jennifer tak bisa
tidur, dan bila dia tertidur, dia bermimpi tentang hantu. Hal itu
bermula sejak malam hari ketika ibunya lari dari Jennifer dan
68
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayahnya, dan dia tak pernah bisa menemukan apa yang
menyebabkan mimpi-mimpi buruknya itu.
Dia dilanda kesepian. Sekali-sekali dia keluar juga, kencan
dengan pengacara-pengacara muda. Tetapi mau tak mau dia
lalu membandingkan mereka dengan Adam Warner, dan
mereka semua banyak kekurangannya. Mereka makan malam
lalu nonton film atau sandiwara, yang disusul dengan usaha
anak-anak muda itu untuk ikut masuk ke apartemennya.
Jennifer tak tahu pasti, apakah keinginan mereka itu
disebabkan karena mereka telah merasa menjamunya makan
malam, ataukah karena mereka letih, berhubung untuk
mengantar Jennifer sampai ke pintu kamarnya mereka harus
naik ke lantai empat. Ada kalanya Jennifer terdorong untuk
membolehkan mereka, hanya sekedar supaya ada yang
menemaninya malam itu. Tetapi dia tidak hanya
membutuhkan seorang teman bicara; dia perlu seseorang
yang menyayanginya, dan seseorang yang bisa pula
disayanginya.
Semua laki-laki yang menarik yang mengajak Jennifer,
sudah menikah, dan dia tegas-tegas menolak untuk keluar
dengan mereka. Dia ingat satu kalimat dari film berjudul The
Apartment, yang disutradarai oleh Billy Wilder, yang berbunyi:
“Sebaiknya kita menjauhkan diri dari pria yang sudah
menikah."
Ibu Jennifer telah menghancurkan suatu perkawinan dan
telah menyebabkan kematian ayahnya. Dia tak pernah bisa
melupakan peristiwa itu.
Natal tiba dan disusul oleh malam Tahun Baru. Jennifer
menghabiskan waktunya seorang diri. Menjelang malam, salju
turun dengan lebat dan kota kelihatan seperti sehelai kartu
Natal yang besar sekali. Jennifer berjalan saja di sepanjang
jalan memperhatikan para pejalan kaki yang bergerak untuk
pulang mencari kehangatan di rumah dan keluarga mereka,
dan Jennifer merasa tersiksa oleh rasa kekosongan. Dia
69
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa sangat kehilang ayahnya. Dia senang setelah hari-hari
libur berlalu, Tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh keadaan
akan lebih baik, pikir Jennifer menghibur dirinya.
Bila Jennifer kelihatan murung, Ken Bailey akan
menghiburnya. Diajaknya Jennifer ke Madison Square Garden
untuk nonton permainan Rangers, klub disko, dan sekali-sekali
nonton film atau sandiwara. Jennifer tahu bahwa Ken tertarik
pada dirinya, tetapi pria itu tetap memelihara jarak.
Dalam bulan Maret, Otto Wenzel memutuskan untuk pindah
ke Florida dengan istrinya.
"Tulang-belulangku tak kuat lagi menahan udara musim
salju di New York ini," katanya pada Jennifer.
"Saya akan merasa kehilangan Anda," kata Jennifer dengan
setulusnya. Dia benar-benar telah merasa dekat dengan pria
tua itu.
"Jagalah Ken baik-baik."
Jennifer melihat padanya dengan pandangan bertanya.
"Dia tak pernah menceritakannya padamu bukan?"
"Menceritakan apa?"
Otto tampak ragu sebentar, lalu berkata, "Istrinya telah
bunuh diri. Ken mempersalahkan dirinya.”
Jennifer terperanjat. "Mengerikan sekali! Mengapa.... dia
berbuat senekat itu?"
"Dia menangkap basah Ken di tempat tidur bersama
seorang laki-laki muda berambut pirang”.
"Aduh, Tuhanku!"
'Ditembaknya dulu Ken, lalu mengacungkan pistol itu ke
arah dirinya sendiri. Ken selamat, tetapi istrinya tewas."
“Mengerikan sekali! Saya tak tahu bahwa... bahwa....”
70
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya maklum. Dia memang tersenyum terus, tapi hatinya
menanggung beban berat."
"Terima kasih. Anda telah menceritakannya pada saya”.
Waktu Jennifer kembali ke kantor, Ken berkata, “Jadi Pak
Tua Otto akan meninggalkan kita."
"Ya."
Ken Bailey tertawa kecil. "Jadi sekarang tinggal kita berdua
menghadapi tantangan dunia."
"Kurasa begitulah."
Memang ada benarnya juga, pikir Jennifer.
Kini Jennifer memandang Ken dengan mata yang lain.
Mereka makan siang dan makan malam bersama, tetapi
Jennifer tetap tak bisa melihat tanda-tanda homoseks pada
diri laki-laki itu. Namun dia yakin bahwa apa yang diceritakan
Otto Wenzel padanya adalah benar: Ken Bailey hidup dengan
siksaan batin.
Beberapa klien dari golongan rendah mulai berdatangan.
Mereka biasanya berpakaian lusuh, kebingungan, dan dalam
beberapa hal perkara-perkaranya sama sekali tak ada artinya.
Pelacur-pelacur datang untuk meminta Jennifer mengurus
uang tebusannya, dan Jennifer sering merasa keheranan
melihat betapa muda dan cantiknya beberapa orang di antara
mereka itu. Mereka menjadi sumber uang masuk yang tetap,
meskipun kecil. Jennifer tak tahu siapa yang menyuruh
mereka datang padanya. Waktu hal itu dinyatakannya pada
Ken Bailey, laki-laki itu hanya mengangkat bahunya
menyatakan ketidak-tahunya dan langsung pergi.
Setiap kali seorang klien datang untuk menemui Jennifer,
Ken Bailey tahu diri dan pergi. Dia tak ubahnya seorang ayah
yang bangga, yang mendorong Jennifer supaya berhasil.
71
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa orang minta diselesaikan perkara perceraian
mereka, tetapi Jennifer menolaknya. Dia tak bisa melupakan
apa yang pernah diajarkan oleh salah seorang profesor ilmu
hukum: Dalam praktek penasihat hukum, perceraian itu sama
dengan penanganan penyakit dubur dalam praktek
kedokteran, yaitu hal sama-sama tak disukai. Kebanyakan ahli
hukum yang menangani perkara perceraian, punya nama yang
kurang baik. Ada pemeo yang berbunyi, bila penglihatan
suatu pasangan suami-istri merah maka para penasihat
hukum melihatnya hijau. Seorang pengacara dengan bayaran
tinggi, terkenal dengan sebutan bomber, karena dia biasa
memakai cara-cara keras untuk memenangkan perkara bagi
kliennya, dan dalam prosesnya sering menghancurkan sang
suami, istri, dan anak-anak mereka.
Beberapa di antara klien-klien yang datang kantor Jennifer,
lain dari yang lain hingga menimbulkan rasa heran Jennifer.
Mereka berpakaian bagus dan berpembawaan anggun sedang
perkara yang mereka hadapkan pada Jennifer bukan perkara
picisan yang biasa ditanganinya. Ia harus membereskan soal
tanah milik yang bernilai tinggi. Juga pengaduan-pengaduan
yang sebenarnya perusahaan-perusahaan pengacara besar
pun akan suka menanganinya.
"'Dari mana Anda mendengar tentang saya” tanya Jennifer.
Jawab yang diterimanya selalu bersifat mengelak. “Dari
seorang sahabat...." atau "Saya membaca tentang Anda,"
atau... "Nama Anda disebut oleh seseorang dalam suatu
pesta”.
Ketika seorang Kliennya, menjelaskan tentang masalahnya,
dan menyebutkan nama Adam Warner, barulah Jennifer tibatiba mengerti.
"Tuan Warner yang menasihatkan supaya Anda datang
pada saya, bukan?"
Klien itu jadi kemalu-maluan. "Yah, sebenarnya beliau
mengatakan sebaiknya tidak menyebutkan nama beliau."
72
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer memutuskan untuk menelepon Adam. Sudah jelas
dia berhutang budi pada laki-laki itu. Jennifer menetapkan hati
untuk bersikap sopan, namun tetap berjarak dalam
pembicaraannya. Dia tentu tidak akan memberikan kesan
pada Adam, bahwa dia menelepon dengan alasan yang lain
daripada untuk mengucapkan terima kasih. Percakapan yang
akan diucapkannya itu diulang-ulangnya beberapa kali. Ketika
akhirnya Jennifer sudah merasa cukup berani untuk
menelepon, seorang sekretaris memberitahukan padanya
bahwa Adam Warner sedang berada di Eropa dan beberapa
minggu lagi baru akan kembali. Keadaan yang berlawanan itu
menimbulkan tekanan batin pada Jennifer.
Jennifer memergoki dirinya makin lama makin sering
memikirkan Adam Warner. Dia ingat terus dan malam hari
ketika Adam datang ke apartemennya dan betapa buruknya
dia memperlakukan pria iin. Adam baik sekali karena dia telah
menerima saja kelakuannya yang kekanak-kanakan itu. yaitu
waktu Jennifer melampiaskan kemarahannya padanya.
Tambahan lagi. sekarang dia bahkan mengirimkan klien-klien
padanya.
Jennifer menunggu tiga minggu lagi sebelum menelepon
Adam. Kali ini dia berada di Amerika Selatan.
"Apakah ada pesan?" tanya sekretarisnya.
Jennifer ragu sebentar. "Tidak, tak ada pesan”.
Dia mencoba menghilangkan Adam dari pikiran nya, tetapi
itu tak mungkin. Dia ingin tahu apakah laki-laki itu sudah
menikah atau bertunangan. Ingin dia tahu bagaimana rasanya
menjadi Nyonya Adam Warner. Dia jadi penasaran dan kuatir
kalau kalau dia lelah gila.
Kadang-kadang Jennifer melihat nama Michael Moretti
tercantum dalam surat kabar atau majalah. Dalam majalah
New Yorker, terdapat cerita yang mendalam mengenai
Antonio Granelli dan keluarga mafia di sebelah timur Amerika.
73
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dilaporkan, bahwa keadaan kesehatan Antonio Granelli sudah
sangat menurun dan Michael Moretti, menantunya, sedang
bersiap-siap untuk mengambil alih kekuasaannya. Majalah Life
menurunkan cerita tentang gaya hidup Michael Moretti, dan
pada akhir cerita itu disinggung tentang sidang perkara
Moretti yang lalu. Kini Camillo Stela sedang menjalani
hukuman penjara Leavenworth, sedang Michael Moretti bebas.
Majalah itu juga mengingatkan bagaimana Jennifer Parker
telah menghancurkan perkara yang sebenarnva bisa membuat
Morelli masuk penjara atau hahkan dihukum di kursi listrik.
Jennifer merasa mual waktu membaca cerita itu. Kursi listrik?
Dia akan dengan senang hati menekan tombol listrik untuk
menghukum Michael Moretti itu.
***
Kebanyakan klien Jennifer tak berarti, tetapi pelajaran yang
didapatkannya tak ternilai. Jennifer jadi tahu ruangan-ruangan
dalam Gedung Pengadilan Kriminal di Centre Street 100. juga
orang-orang yang ada di dalamnya.
Bila ada kliennya yang ditangkap gara-gara mencuri di
toko, memukul orang, pelacuran, atau minuman keras.
Jennifer akan pergi ke pusat kota itu untuk mengatur uang
tebusan, dan tawar-menawar di pengadilan sudah menjadi
kebiasaan hidupnya.
"Uang tebusan diputuskan lima ratus dolar”.
"Yang Mulia, Terdakwa tidak mempunyai uang sebanyak
itu. Bila Pengadilan bersedia menurunkan uang tebusan
menjadi dua ratus dolar, dia akan bisa bekerja kembali dan
membiayai keluarganya terus."
"Baik. Dua ratus dolar."
"Terima kasih. Yang Mulia."
74
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer jadi kenal pada pengawas dari bagian pengaduan,
di mana dokumen laporan penangkapan dikirimkan.
"Anda lagi. Parker! Demi Tuhan, tak pernahkah Anda
beristirahat?"
"Halo, Letnan. Seorang klien saya telah ditangkap atas
tuduhan menjadi gelandangan. Bolehkah saya melihat laporan
penangkapannya? Namanya Connery. Clarence Connery."
"Coba katakan, Anak manis. Untuk apa Anda mau datang
kemari jam tiga subuh untuk membela seorang gelandangan?"
Jennifer tertawa kecil. "Supaya saya jadi aman di jalan."
Dia jadi terbiasa akan pengadilan malam, yang diadakan di
kamar nomor dua ratus delapan belas di Gedung Pengadilan
Centre Street. Tempat itu merupakan dunia yang penuh sesak
dan berbau busuk, dengan bahasa prokemnya tersendiri.
Jennifer mula-mula terpana melihat keadaan itu.
"Parker, klien Anda ditangkap atas tuduhan aneka ragam."
"Atas tuduhan aneka ragam? Apa maksudnya?"
"Mencuri dengan mendongkel, menggagahi si pemilik
rumah, mempunyai senjata, dan berencana untuk membunuh.
Mengerti?"
"Mengerti."
"Saya datang untuk mewakili Nona Luna Tarner."
"Ya, Tuhan!"
"Dapatkah Anda katakan atas tuduhan apa?"
"Tunggu. Saya carikan kartu Luna Tarner. Dialah orang
hebat... nah, ini dia. Dia penipu besar ditangkap oleh Sahko.
di daerah hitam."
"Apa artinya itu semua?"
75
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Anda orang baru di daerah ini. ya? Sahko itu singkatan
dari Satuan Anti huru-hara Kota. Daerah hitam di sini adalah
42nd Street. Jelas?"
"Jelas."
Pengadilan malam membuat Jennifer murung Tempat itu
dipenuhi pasang-surut manusia yang datang dan pergi tanpa
berhenti, terdampar di pantai pengadilan.
Setiap malam, lebih dari seratus lima puluh perkara vang
didengar. Ada pelacur, ada pencopet, pemabuk yang berbau
dan babak-belur, dan orang yang ketagihan obat bius. Ada
orang Puerto Rico dan orang Meksiko, ada orang Yahudi dan
orang Irlandia, ada pula orang Yunani dan orang Itali, dan
mereka ditangkap atas tuduhan perkosaan, pencurian,
memiliki senjata gelap, pemakaian obat bius, menyerang
orang, atau pelacuran. Dan ada satu persamaan pada mereka
itu: mereka miskin. Mereka miskin, mereka sesat, dan mereka
ditolak oleh masyarakat. Mereka orang-orang yang hina-dina,
yang tak pada tempatnya berada di tengah-tengah
masyarakat dan tak pula mendapat perhatian masyarakat
ramai. Sebagian besar dari mereka berasal dari Harlem Pusat,
dan karena dalam penjara sudah tak ada tempat lagi, hanya
tertuduh yang bersalah berat saja yang ditahan, yang lain
dibebaskan atau didenda saja. Mereka itu lalu kembali ke St.
Nicholas Avenue atau Morningside dan Manhattan Avenues, di
mana daerah yang luasnya tiga setengah mil persegi itu
didiami oleh dua ratus tiga puluh tiga ribu orang berkulit
hitam, delapan ribu orang Puerto Rico, dan kira-kira satu
jutaan ekor tikus.
Sebagian besar dari klien yang datang ke kantor Jennifer
adalah orang-orang yang telah digilas oleh kemiskinan, oleh
susunan masyarakat, dan oleh dirinya sendiri. Ada orangorang yang sudah lama menyerah. Jennifer merasa bahwa
rasa takut mereka inilah yang menimbulkan kepercayaan pada
dirinya sendiri. Dia tidak merasa dirinya lebih tinggi daripada
76
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka. Dia sama sekali tak bisa menjadikan dirinya contoh
keberhasilan yang gemilang, namun dia pun tahu adanya satu
perbedaan besar antara dirinya dan para kliennya: dia tak
pernah mau menyerah.
Ken Bailev memperkenalkan Jennifer pada Pastor Louis
Joseph Ryan. Pastor Ryan berumur hampir enam puluh tahun,
seorang pria penuh semangat yang selalu berseri-seri,
berambut berwarna hitam yang sudah bercampur uban,
namun selalu rapi dan mengikal di sekitar telinganya.
Rambutnya itu kelihatan seolah-olah selalu perlu dipangkas.
Jennifer langsung merasa suka padanya.
Kadang-kadang, bila ada anggota jemaatnya yang
menghilang, Pastor Ryan mendatangi Ken untuk meminta
bantuannya. Biasanya Ken bisa menemukan kembali suami,
istri, anak-anak, baik laki-laki atau perempuan, yang hilang
itu. Ken tak pernah menagih bayaran.
"Bayarannya nanti saja di surga,*' kata Ken selalu bila Pater
Ryan menanyakan berapa bayarannya.
Pada suatu petang waktu Jennifer sedang seorang diri,
Pater Ryan mampir ke kantor mereka.
"Ken sedang keluar, Pater Ryan. Dan dia tidak akan
kembali hari ini."
"Kamulah yang ingin saya jumpai, Jennifer," kata Pater
Rvan. Dia duduk di kursi kayu yang tak nyaman di depan meja
tulis Jennifer. "Ada seorang teman saya yang sedang
menghadapi suatu masalah."
Begitulah selalu cara dia mulai berbicara dengan Ken.
"Ya, Pater?"
"Dia adalah seorang jemaat wanita yang sudah berumur,
dan wanita malang itu telah mengalami kesulitan dalam
mendapatkan bayaran jaminan sosialnya. Dia pindah ke
77
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
daerah saya beberapa bulan yang lalu, dan suatu komputer
terkutuk tidak mencatat tentang dirinya lagi."
"Saya mengerti."
“Saya rasa kamu mau menolongnya," kata Pater Ryan,
sambil bangkit. "Tapi terus terang, tidak akan ada
bayarannya."
Jennifer tersenyum. "Tak usah kuatir. Saya akan berusaha
menyelesaikannya."
Pada sangkanya, pekerjaan itu akan sederhana, tetapi
ternyata makan waktu tiga hari dia baru berhasil membuat
komputer itu mencatat lagi.
Pada suatu pagi, sebulan kemudian, Pater Ryan masuk ke
kantor Jennifer dan bekata, "Sebenarnya aku tak suka
mengganggumu, Anak manis, tapi ada seorang temanku yang
mengalami kesulitan. Tapi dia tak punya...." Pater itu terdiam
ragu.
"Uang," terka Jennifer.
"Yah! Begitulah. Tepat sekali. Tapi orang malang itu sangat
membutuhkan bantuan."
"Baiklah. Ceritakanlah tentang dia."
"Namanya Abraham. Abraham Wilson. Dia putra dari salah
seorang jemaatku. Abraham sedang menjalani hukuman
seumur hidup di penjara Sing Sing karena telah membunuh
seorang pemilik toko minuman keras dalam suatu
perampokan."
"Bila dia telah terbukti bersalah dan sedang menjalani
hukumannya, maka saya tak melihat jalan untuk
membantunya, Pater."
Pater Ryan memandangi Jennifer, lalu mendesah, bukan itu
masalahnya."
78
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukan?"
"Bukan. Beberapa minggu yang lalu, Abraham membunuh
seseorang lagi — sesama narapidana yang bernama Raymond
Thorpe. Dia akan diadili karena pembunuhan, dan akan
dijatuhi hukuman mati."
Jennifer telah membaca berita tentang perkara itu. "Kalau
saya tak salah ingat, dia telah menghantam orang itu sampai
mati."
"Begitulah kata mereka"
Jennifer mengambil sebuah buku catatan dan sebuah pena.
"Apakah ada saksi-saksi?"
"Ada."
"Berapa orang?"
"Yah. Kira-kira seratus orang. Karena hal itu terjadi di
halaman penjara."
"Luar biasa. Lalu apa yang harus saya lakukan?”
Pater Ryan hanya berkata, "Bantulah Abraham."
Jennifer meletakkan penanya. "Pater, saya rasa hanya
Tuhanlah yang bisa membantunya."
Dia. duduk bersandar di kursinya. "Dia menghadapi tigaj
pukulan. Dia berkulit hitam, dia sudah diadili karena
pembunuhan, dan dia membunuh seseorang lagi di hadapan
seratus orang saksi. Kalau dia memang melakukannya, maka
sama sekali tak ada dasar pembelaan terhadap dirinya. Bila
seorang narapidana lain mengancamnya, bukankah ada para
pengawal yang bisa dimintainya bantuan. Dia malah main
hakim sendiri. Tak akan ada seorang pun juri di dunia ini yang
tidak akan mendakwanya."
"Bagaimanapun juga, dia adalah sesama manusia. Maukah
kau sekedar berbicara saja dengannya?"
79
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer mendesah. "Yah, kalau Pater memang ingin saya
berbicara dengan dia, tapi saya tidak akan memberikan
pembelaan apa-apa."
Pater Ryan mengangguk. "Aku mengerti. Hal itu mungkin
akan tersiar luas."
Keduanya rupanya sama pikirannya. Abraham Wilson
bukanlah satu-satunya orang yang telah mendapatkan
pukulan-pukulan.
Penjara Sing Sing terletak di kota Ossining, tiga puluh mil di
sebelah utara Manhattan, di tebing sebelah timur Sungai
Hudson. Dari sana orang dapat melihat ke Tappan Zee dan
Teluk Haverstraw.
Jennifer pergi ke sana naik bus. Dia telah terlebih dahulu
menelepon wakil kepala penjara, dan pria itu telah mengatur
pertemuan antara Jennifer dan Abraham Wilson yang sedang
dikurung di tempat yang terpisah.
Selama dalam perjalanan, Jennifer dilanda suatu perasaan
yang telah lama tak dirasakannya. Dia sedang dalam
perjalanan ke Sing Sing untuk menemui seseorang yang
mungkin akan menjadi kliennya, klien yang telah didakwa
melakukan pembunuhan. Perkara semacam inilah yang telah
dipelajarinya, untuk perkara macam inilah dia telah
mempersiapkan dirinya. Setelah setahun baru sekaranglah dia
merasa sebagai seorang pengacara sesungguhnya, namun dia
pun insaf bahwa dia tak realistis. Dia bukan sedang dalam
perjalanan untuk menjumpai seorang calon klien. Dia sedang
dalam perjalanan untuk mengatakan pada seseorang bahwa ia
tak dapat membelanya. Dia tak bisa melibatkan diri dalam
suatu perkara yang sudah tersebar begitu luas dan yang tidak
akan mungkin dimenangkannya.
Abraham Wilson harus mencari orang lain untuk membela
dirinya.
80
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebuah taksi yang buruk membawa Jennifer dari
perhentian bus ke lembaga pemasyarakatan, yang terletak di
tanah seluas tujuh puluh are di dekat sungai. Jennifer
membunyikan bel dijalan masuk, di samping, dan seorang
pengawal membukakannya pintu. Pengawal itu mencocokkan
nama Jennifer dengan daftarnya, lalu mengantarnya ke kantor
wakil kepala penjara.
Wakil kepala penjara itu adalah seorang laki-laki yang
bertubuh besar dan tak berbentuk, mukanya berjerawat dan
rambutnya dipotong pendek seperti anggota tentara.
Namanya Howard Patterson.
"Saya akan berterima kasih sekali, bila Anda bisa
menceritakan sesuatu tentang Abraham Wilson”, Jennifer
mulai berbicara.
"Bila Anda mencari kesenangan, Anda tidak akan
menemuinya di sini." Patterson melayangkan! pandangannya
ke dokumen di meja tulis di hadapannya. "Wilson itu
sepanjang hidupnya keluar-masuk penjara. Waktu berumur
sebelas tahun dia sudah tertangkap karena mencuri mobil,
pada umur tiga belas ditangkap lagi dengan tuduhan
menyakiti orang, ditangkap karena memperkosa pada umur
lima belas tahun, menyerang orang waktu berumur delapan
belas, dipenjarakan karena menyebabkan salah seorang
gadisnya masuk rumah sakit”. Pria itu membalik-balik
dokumen itu terus. "Segala macam kejahatan sudah
dilakukannya —menikam, merampok dengan senjata, dan
akhirnya kejahatan terbesar— membunuh."
Mendengarkan dia membacanya, lemah semangat Jennifer.
Jennifer bertanya, "Adakah kemungkinannya bahwa
Abraham Wilson tidak membunuh Raymond Thorpe?"
"Lupakan saja kemungkinan itu. Wilson sendiri orang yang
pertama-tama akan mengakuinya, tapi biar dia
81
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membantahnya sekalipun, soalnya tidak akan berubah. Ada
seratus dua puluh orang saksinya."
"Bolehkah saya bertemu dengan Saudara Wilson?"
Howard Patterson bangkit. "Tentu, tapi Anda membuangbuang waktu saja."
Abraham Wilson adalah seorang manusia yang paling jelek
yang pernah dilihat Jennifer. Kulitnya hitam legam, hidungnya
patah-patah di beberapa tempat, gigi depannya sudah tak
ada, matanya liar, dan di wajahnya ada bekas luka pisau.
Tingginya kira-kira satu meter sembilan puluh sentimeter dan
tubuhnya besar. Kakinya besar sekali dan bertapak datar
hingga waktu dia berjalan, hantaman kakinya hebat sekali.
Bila Jennifer ingin menggunakan satu perkataan untuk
melukiskan Abraham Wilson, maka perkataan itu adalah
mengerikan. Bisa dibayangkannya pengaruh manusia ini pada
para anggota juri.
Abraham Wilson dan Jennifer duduk dalam sebuah kamar
berkunjung yang pengamanannya sempurna, di antara
keduanya terdapat sekat dari kawat tebal, dan seorang
pengawal berdiri di pintu. Wilson baru saja dikeluarkan dari
kurungannya yang terpisah, dan matanya yang menonjol
berkedip-kedip terus karena silau. Bila Jennifer datang ke
pertemuan ini dengan perasaan bahwa dia mungkin tidak akan
mau menangani perkara orang ini, maka setelah melihat
Abraham Wilson sendiri, dia menjadi yakin. Baru duduk saja di
hadapan laki-laki itu, dia sudah bisa merasakan kebencian
yang terpancar dari manusia itu.
Jennifer membuka percakapan itu dengan berkata, “Nama
saya Jennifer Parker. Saya seorang pengacara. Pater Ryan
telah meminta saya untuk menemui anda."
Abraham meludah melalui sekat, hingga Jennifer terperciki
air ludahnya. "Laki-laki sial brengsek itu”.
82
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sungguh suatu awal yang hebat, pikir Jennifer. Dia
menahan dirinya supaya tidak menyeka air ludah itu dari
mukanya. "Adakah sesuatu yang Anda butuhkan di sini,
Saudara Wilson?"
Laki-laki itu tersenyum hingga gusinya yang tak bergigi itu
kelihatan. "Aku butuh perempuan, Anak manis. Mengerti?"
Jennifer tidak mempedulikan kata-kata itu. "Maukah Anda
menceritakan apa yang telah terjadi?"
"Hei, kalau mau mengorek riwayat hidupku, kau harus
membayarnya. Aku akan menjual riwayat hidupku itu pada
perusahaan film. Mungkin aku sendiri yang akan menjadi
bintang utamanya."
Kemarahan yang diperlihatkannya, menakutkan. Jennifer
hanya ingin keluar saja dari tempat itu. Wakil kepala penjara
tadi memang benar. Dia membuang-buang waktunya saja.
"Kurasa benar-benar tak ada yang bisa kulakukan untuk
membantumu, jika Anda tak mau membantuku, Saudara
Wilson. Aku sudah berjanji pada Pater Ryan untuk sekurangkurangnya datang dan berbicara denganmu."
Abraham Wilson tertawa dan memperlihatkan giginya yang
ompong lagi. "Kau benar-benar baik, Sayang. Yakin benarkah
kau tidak akan mengubah pikiranmu tentang perempuan yang
kuminta itu?"
Jennifer bangkit. Dia merasa dia sudah cukup sabar.
"Apakah kau benci pada semua orang?"
"Dengar, Gadis cantik, mari sini supaya kau kudekap, lalu
baru kita bahas tentang kebencian."
Jennifer berdiri terpana, menatap wajah yang jelek itu.
sambil mencernakan apa yang dikatakan laki-laki itu,
kemudian dia duduk perlahan-lahan. "Maukah kau
menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Abraham?"
83
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki itu menatap mata Jennifer, tanpa berkata apa-apa.
Jennifer menunggu sambil memperhatikannya, sambil berpikir
pula, bagaimana gerangan rasanya berkulit hitam yang
berbekas luka-luka itu. Jennifer ingin pula tahu berapa banyak
bekas luka yang tersembunyi dalam hatinya.
Keduanya duduk saja berdiam diri. Akhirnya, Abraham
Wilson berkata, "Aku telah membunuh jahanam itu."
"Mengapa kau membunuhnya?”
Abraham mengangkat pundaknya. "Setan itu mendatangi
aku dengan sebuah pisau jagal yang besar, lalu..."
"Jangan membohongi aku. Para narapidana tidak boleh
berkeliaran dengan membawa pisau jagal."
Wajah Wilson menegang lalu berkata, "Keluar dari sini. Aku
tidak memintamu datang." Dia bangkit. "Dan jangan datangdatang lagi mengganggu aku, dengar? Aku sibuk."
Dia berbalik lalu berjalan ke arah pengawal. Sesaat
kemudian, kedua laki-laki itu telah pergi. Apa boleh buat.
Paling tidak, Jennifer bisa mengatakan pada Pater Ryan bahwa
dia sudah berbicara dengan laki-laki itu. Selanjutnya tak ada
lagi yang bisa dilakukannya.
Seorang pengawal mengantar Jennifer keluar dari
bangunan itu. Dia menyeberangi halaman penjara, berjalan ke
arah pintu masuk utama sambil memikirkan tentang Abraham
Wilson dan perasaannya sendiri terhadap laki-laki itu. Dia tak
suka pada laki-laki itu dan oleh karenanya, dia telah
melakukan apa yang sebenarnya tak boleh dilakukannya. Dia
sudah berprasangka terhadap laki-laki itu. Dia telah mencap
laki-laki itu bersalah, padahal dia belum lagi diadili. Mungkin
memang ada seseorang yang menyerangnya, bukan dengan
pisau tentu, melainkan dengan batu besar atau batu bata.
Jennifer berhenti lalu berdiri tanpa mengambil keputusan apaapa. Nalurinya menyuruh kembali saja ke Manhattan dan
melupakan Abraham Wilson.
84
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer membelok lalu berjalan ke arah kantor wakil kepala
penjara.
"Perkara Abraham Wilson itu memang berat”, kata Howard
Patterson. "Bila mungkin, kami mencoba memberikan
rehabilitasi dan bukan hukuman, tapi perbuatan Abraham
sudah terlalu jauh. Satu-satunya jalan untuk menenangkannya
adalah mengirimnya ke kursi listrik."
Mengerikan benar logika itu, pikir Jennifer. "Dia berkata
pada saya bahwa laki-laki yang dibunuhnya itu telah
menyerangnya dengan pisau jagal."
"Saya rasa itu mungkin saja." Jawaban itu mengejutkan
Jennifer. "Apa maksud Anda bahwa itu mungkin? Apakah Anda
ingin berkata bahwa seorang narapidana dalam penjara ini
bisa memiliki pisau? Pisau jagal?"
Howard Patterson mengangkat bahunya. "Nona Parker, di
sini ada seribu dua ratus empat puluh orang narapidana, dan
beberapa di antaranya benar-benar cerdik. Mari saya
tunjukkan sesuatu pada Anda."
Patterson mengantarkan Jennifer berjalan melalui sebuah
lorong panjang, ke sebuah kamar yang terkunci. Dipilihnya
sebuah kunci dari suatu kumpulan, dibukanya pintu kamar itu,
lalu dinyalakannya lampu. Jennifer mengikutinya memasuki
sebuah kamar tanpa perabot. Pada dinding kamar itu terdapat
rak-rak.
"Di sinilah kami menyimpan kotak tetek-bengek kotak
bengek narapidana." Dia berjalan ke sebuah kotak besar, lalu
mengangkat tutupnya.
Jennifer terbelalak memandangi isi kotak itu dengan rasa
tak percaya.
Dia mengangkat mukanya melihat Howard Pettterson dan
berkata, "Saya ingin bertemu lagi dengan klien saya."
85
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
6
Jennifer menyiapkan diri untuk sidang perkara Abraham
Wilson dengan sebaik-baiknya, tak pernah dia menyiapkan diri
untuk apa pun juga sebaik itu selama hidupnya. Berjam-jam
dia menghabiskan waktunya dalam perpustakaan hukum,
memeriksa prosedur-prosedur dan pembelaan-pembelaan
Berjam-jam pula dia berbicara dengan kliennya, untuk
memeras setiap informasi yang sekecil apa pun, yang bisa
didapatkannya. Sungguh tak mudah tugasnya itu. Wilson sejak
awal selalu galak dan penuh cemooh.
“Kau ingin tahu tentang diriku, Manis? Waktu berumur
sepuluh tahun, aku sudah ditangkap untuk pertama kalinya.
Umur berapa kau waktu itu?"
Jennifer memaksakan dirinya untuk tidak memperdulikan
sikap benci dan penghinaannya itu, karena dia tahu bahwa
sikap-sikap itu menutupi rasa takut yang mendalam. Maka
Jennifer pun terus bertahan, mencari tahu bagaimana
kehidupan Wilson waktu masih kecil, bagaimana orang tuanya,
apa yang telah memberinya bentuk hingga menjadi laki-laki
yang demikian. Setelah berminggu-minggu, keengganan
Abraham Wilson berubah menjadi minat, dan akhirnya minat
itu berubah pula menjadi rasa terpesona. Sebelum itu tak
pernah terpikir olehnya, manusia macam apa dia itu, atau
mengapa dia sampai jadi begitu.
Pertanyaan-pertanyaan Jennifer yang mendesak, mulai
menimbulkan kenangan masa lalunya, ada yang tak
menyenangkan, ada pula yang benar-benar menyakitkan.
Beberapa kali sedang Jennifer menanyai Abraham Wilson
mengenai ayahnya, yang sering memukulinya dengan kejam.
Wilson menyuruh Jennifer pergi meninggalkannya. Jennifer
pergi dengan patuh, tetapi dia selalu kembali.
86
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kalau sebelum itu Jennifer masih ada waktu untuk hidup
pribadinya, maka kini dia sama sekali tak punya waktu lagi.
Bila dia tidak berada bersama Abraham Wilson, dia berada di
kantornya, tujuh hari dalam seminggu, mulai pagi-pagi sekali
sampai lewat tengah malam, membaca apa saja yang
ditemukannya yang berhubungan dengan pembunuhan, baik
dengan sengaja maupun tidak. Dipelajarinya beratus-ratus
keputusan pengadilan banding, ikhtisar-ikhtisar acara
persidangan, surat-surat sumpah, barang-barang bukti, mosimosi, dokumen-dokumen. Dipelajarinya secara mendalam
dokumen-dokumen tentang maksud dan perencanaan,
tentang pembelaan diri, bahaya ganda, serta kehilangan akal
untuk sementara.
Dipelajarinya cara-cara untuk memohon agar suatu
tuduhan dikurangi menjadi tuduhan pembunuhan biasa.
Abraham tidak berencana untuk membunuh orang itu.
Tetapi apakah dewan juri akan percaya hal itu? Apalagi dewan
juri setempat. Orang-orang kota benci adanya narapidana di
tengah-tengah mereka. Jennifer meminta perubahan daerah
persidangan, lalu permintaan itu dikabulkan. Sidangnya akan
diadakan di Manhattan.
Jennifer harus mengambil keputusan penting: Apakah akan
dihadapkannya Abraham untuk memberikan kesaksiannya?
Penampilannya begitu mengerikan, tetapi bila anggotaanggota juri bisa mendengar kisah dari mulutnya sendiri,
mungkin mereka lalu menaruh simpati padanya. Masalahnya,
bila Abraham Wilson ditampilkan ke mimbar, maka penuntut
umum akan bisa membukakan masa lalu Wilson, juga
kesalahan-kesalahannya di masa lalunya, termasuk
pembunuhan yang telah dilakukannya.
Jennifer ingin tahu, asisten jaksa mana yang akan
ditugaskan oleh Di Silva untuk melawannya. Ada enam orang
yang pandai-pandai yang sudah biasa mengadili sidang-sidang
87
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pembunuhan, dan Jennifer telah membiasakan dirinya dengan
teknik-teknik mereka.
Dia menghabiskan waktunya di Sing Sing sebanyak
mungkin. Meninjau kembali peristiwa pembunuhan di halaman
rekreasi penjara itu, bercakap-cakap dengan para pengawal
dan dengan Abraham sendiri, dan dia mewawancarai belasan
narapidana yang telah menyaksikan pembunuhan itu.
"Raymond Thorpe telah menyerang Abraham Wilson
dengan sebuah pisau," kata Jennifer. "Sebuah pisau jagal
yang besar. Anda tentu melihatnya."
"Saya? Saya tidak melihat pisau."
"Pasti Anda melihatnya. Anda ada di sana."
"Nyonya, saya tidak melihat apa-apa."
Tak seorang pun mau terlibat.
Kadang-kadang Jennifer perlu untuk pergi makan seperti
biasa, tetapi biasanya dia hanya sempat makan roti dengan
terburu-buru di kedai kopi, di lantai utama gedung pengadilan.
Berat badannya mulai menurun dan dia sering mendapat
serangan pusing kepala.
Ken Bailey kuatir melihat keadaannya. Diajaknya Jennifer
ke Restoran Forlini di seberang gedung pengadilan, dan
dipesannya makanan banyak-banyak untuknya.
"Apakah kau sedang mencoba membunuh dirimu sendiri?"
tanya Ken.
"Tentu saja tidak."
"Adakah kau berkaca akhir-akhir ini?"
"Tidak."
Ken memandanginya lalu berkata, "Kalau kau mau
memakai otakmu, kaulepas saja perkara ini."
88
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mengapa?"
"Kau menjadikan dirimu bulan-bulanan. Jennifer, aku
mendengar berita-berita burung. Pers sudah mulai
mengincermu lagi, mereka ingin sekali menghancurkan kau
lagi."
"Aku seorang pengacara," kata Jennifer keras kepala.
"Abraham Wilson berhak diadili dengan wajar. Aku sedang
mencoba supaya dia mendapatkan keadilan dalam sidang
nanti."
Jennifer melihat kekuatiran di wajah Ken Bailey. "Jangan
kuatir. Perkara ini tidak akan tersebar seluas yang kausangka."
"Oh, tidak ya? Tahukah kau siapa yang akan menjadi
penuntut umum?"
"Tidak."
"Robert Di Silva."
Jennifer tiba di Gedung Pengadilan Kriminal melalui jalan
masuknya yang di Leonard Street. Dia harus mendesak-desak
di antara orang-orang yang memenuhi lobby, melewati polisipolisi yang berseragam, para detektif yang berpakaian seperti
kaum hippi, para ahli hukum yang dapat dibedakan dari
orang-orang lain karena tas kantor yang mereka jinjing.
Jennifer berjalan ke arah meja informasi yang bulat, di mana
tak pernah ditempatkan seorang petugas, lalu dia pergi ke
lantai enam naik lift. Dia akan menemui Pak Jaksa. Hampir
setahun yang lalu terakhir Jennifer bertemu dengan Robert Di
Silva, dan Jennifer tak ingin bertemu sekarang ini. Dia akan
memberitahukan pada jaksa bahwa dia akan menarik diri dari
pembelaan Abraham Wilson.
Tiga malam Jennifer tak bisa tidur untuk mengambil
keputusan itu. Akhirnya dia memutuskan bahwa yang menjadi
pertimbangannya yang utama itu adalah kepentingan klien.
Perkara Wilson itu sebenarnya tak cukup penting bagi Di Silva
89
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menanganinya sendiri. Jadi, satu-satunya alasan
mengapa jaksa memberikan perhatian pribadinya, adalah
karena Jennifer yang terlibat dalam perkara itu. Di Silva ingin
membalas dendam. Dia akan menghajar Jennifer. Maka
akhirnya Jennifer memutuskan bahwa dia tak punya pilihan
lain, selain menarik diri dari pembelaan Wilson dalam perkara
itu. Dia-tak mau laki-laki itu sampai dihukum mati gara-gara
kesalahan yang pernah dibuat Jennifer! Bila dia menarik
dirinya dari perkara itu, mungkin Robert Di Silva akan
memperlakukan Wilson dengan lebih lunak. Jennifer sedang
dalam perjalanan untuk menyelamatkan nyawa Wilson.
Dia mengalami suatu perasaan aneh seolah-olah dia
menghayati lagi masa lalunya, waktu dia keluar dari lantai
enam dan berjalan ke arah pintu yang dikenalnya sejak dulu
dengan tulisan Jaksa Negeri Wilayah New York yang
dicantumkan pada pintunya. Di dalamnya, sekretaris yang
dulu juga yang duduk di meja yang sama.
"Saya Jennifer Parker. Saya ada janji dengan...”
"Masuk saja segera," kata sekretaris itu. "Pak Jaksa sudah
menunggu Anda."
Robert Di Silva sedang berdiri di balik meja tulisnya,
mengunyah cerutu yang basah, sambil memberikan perintahperintah pada dua orang asisten. Dia berhenti waktu Jennifer
masuk.
"Saya sangka Anda tidak akan muncul."
"Ini, saya sudah di sini."
"Saya sangka Anda sudah lari terbirit-birit ke luar kota
sekarang ini. Mau apa Anda?"
Di seberang meja Robert Di Silva ada dua bua meja, tetapi
laki-laki itu tidak mempersilakan Jennifer duduk.
"Saya datang untuk membicarakan klien saya Abraham
Wilson."
90
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Robert Di Silva duduk, dia bersandar di kursinya dan purapura berpikir. "Abraham Wilson... Oh Pembunuh Negro yang
memukul orang sampai mati dalam penjara itu. Sebenarnya
Anda tak perlu bersusah payah membela dia." Dia menoleh
pada kedua asistennya dan mereka meninggalkan kamar itu.
“Nah, bagaimana Saudara Pembela?"
"Saya ingin membicarakan tentang pertimbangan bagi
Terdakwa."
Robert Di Silva memandanginya dengan terheran-heran.
"Maksud Anda, Anda kemari akan meminta pertimbangan?
Anda benar-benar membuat saya tercengang. Saya sangka
orang yang begitu berbakat. Pasti Anda akan bisa
membebaskannya dengan mudah."
"Tuan Di Silva, saya tahu bahwa perkara ini kelihatannya
sudah jelas," Jennifer mulai, "tapi ada hal-hal yang
meringankan Abraham Wilson...”
Jaksa Di Silva memotong. "Baik saya katakan dengan
bahasa yang jelas supaya Anda mengerti, Saudara Pembela,
Ambillah hal-hal yang meringankan itu dan perbuatlah sesuka
hati Anda dengan itu!"
Dia bangkit dan ketika dia berbicara lagi suaranya gemetar
menahan marahnya. "Memberikan pertimbangan pada Anda?
Anda telah menggagalkan hidupku! Sudah jelas ada mayatnya
dan orangmu itu akan dihukum mati karena perbuatannya itu.
Anda dengar itu? Saya sudah menjadikannya urusan pribadi
saya dan bertekad supaya dia dikirim ke kursi listrik”
"Saya datang untuk menarik diri dari perkara ini. Anda bisa
mengurangi tuduhan menjadi percobaan pembunuhan biasa.
Bagaimanapun juga, Wilson memang sudah dipenjarakan
seumur hidup. Anda bisa....”
"Tidak bisa! Dia bersalah karena membunuh habis
perkara!"
91
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer berusaha menahan amarahnya. "Saya pikir dewan
juri yang seharusnya memutuskan itu
Robert Di Silva tersenyum mengejek pada Jennifer. "Anda
tak bisa membayangkan betapa menyenangkannya, seorang
ahli seperti Anda masuk ke dalam kantor saya dan
menjelaskan tentang hukum pada saya."
"Tak bisakah kita melupakan masalah pribadi kita? Saya...."
"Selama hidupku, tidak akan! Sampaikan salamku pada
temanmu Michael Moretti."
Setengah jam kemudian Jennifer minum kopi dengan Ken
Bailey.
"Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat”, Jennifer
mengaku. "Kusangka bahwa bila aku melepaskan perkara itu,
Abraham Wilson akan mendapatkan kesempatan yang lebih
baik. Tapi Silva tak mau mempertimbangkannya. Bukan Wilson
yang akan dihukumnya, melainkan aku”.
Ken Bailey memandanginya dengan merenung "Mungkin
dia mencoba menggertak kau. Dia ingin membuat kau
ketakutan."
"Aku memang ketakutan.” Jennifer menghirup kopinya
seteguk. Pahit rasanya. "Rumit betul perkara ini. Maunya kau
melihat si Abraham Wilson itu. Dengan hanya melihatnya saja
pun, para anggota juri sudah akan menyatakan dia bersalah."
"Kapan sidangnya?"
"Sebulan lagi."
"Adakah yang bisa kubantu?"
"Ada. Membuat perjanjian dengan Di Silva."
"Apakah dengan begitu kau merasa akan ada kemungkinan
kau akan bisa membebaskan Abraham Wilson?" ''
92
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau ditinjau secara pesimis, aku sedang sedang
mencoba menangani perkaraku yang pertama melawan jaksa
penuntut yang paling hebat, yang punya rasa dendam
terhadapku — sedang klienku nilalah seorang narapidana
Negro yang membunuh untuk kedua kalinya di hadapan
seratus dua puluh orang saksi mata."
"Hebat. Bagaimana segi optimisnya?"
"Aku akan ditabrak truk nanti sore.'"
Kini tinggal tiga minggu lagi sidang itu akan
diselenggarakan. Jennifer mengusahakan supaya Abraham
Wilson dipindahkan ke penjara di Riker's Island. Dia
ditempatkan di rumah tahanan untuk laki-laki, yaitu penjara
yang terbesar dan tertua di pulau itu. Sembilan puluh lima
persen dari orang-orang tahanan di situ sedang menunggu
saat akan disidangkan karena kejahatan-kejahatan besar telah
mereka lakukan: pembunuhan, pembakaran, perkosaan,
perampokan bersenjata, dan perkosaan dengan kekejaman.
Mobil-mobil pribadi tak diizinkan dibawa ke pulau itu. jadi
Jennifer diantar naik bus hijau yang kecil, ke gedung
pemeriksaan dari batu bata yang berwarna abu-abu. Dia
memperlihatkan tanda pengenalnya. Di sebelah kiri bangunan
itu, dalam sebuah rumah monyet berwarna hijau, ada dua
orang pengawal yang bersenjata, dan lebih jauh lagi ada
sebuah pintu gerbang di mana semua tamu yang tak bersurat
izin ditahan. Dari gedung pemeriksaan, Jennifer dibawa
dengan mobil yang sama melalui Hazen Street, jalan kecil
yang memotong lahan penjara itu, ke arah Gedung Pusat
Anna M. Kross. Abraham Wilson dibawa ke situ untuk
menemuinya di dalam sebuah ruang bicara yang terdiri dari
delapan buah kamar-kamar kecil bersekat-sekat, yang khusus
disediakan untuk pertemuan antara pembela dengan kliennya.
Sambil berjalan di lorong yang panjang untuk pergi
menemui Abraham Wilson, Jennifer berpikir tempat ini tak
ubahnya seperti ruang tunggu untuk ke neraka. Di sana
93
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terdengar suara-suara aneh sekali. Penjara itu terbuat dari
batu bata, besi baja, batu, dan genting. Pintu-pintu yang dari
besi baja itu terus-menerus terbuka dan tertutup terhantam
lagi. Ada lebih dari seratus orang dalam setiap sel yang
berblok-blok. Mereka berbicara dengan berteriak-teriak,
sedang dua buah pesawat tv distel pada saluran-saluran yang
berlainan, lalu ada pula pesawat tape yang
mengumandangkan lagu-lagu Country Rock. Tiga ratus
pengawal ditugaskan dalam bangunan itu, dan suara bentakan
mereka berbaur dengan aneka bunyi lainnya dalam penjara
itu.
Seorang pengawal pernah mengatakan pada Jennifer,
"Masyarakat dalam penjara adalah masyarakat yang paling
sopan di dunia. Bila seorang narapidana bersenggolan dengan
yang lain, segera berkata, 'Maaf.' Para narapidana pun paling
banyak beban pikiran, tetapi paling sedikit barang...."
Jennifer duduk berhadapan dengan Abraham Wilson dan
dia berpikir: Hidup-mati laki-laki ini ada dalam tanganku. Bila
dia sampai mati, maka itu adalah karena aku gagal
membelanya. Jennifer memandang mata laki-laki itu dan
melihat keputus-asaannya.
“Aku akan berbuat sebisa-bisanya," Jennifer berjanji.
Tiga hari sebelum sidang perkara Abraham Wilson dimulai,
Jennifer mendengar bahwa yang akan menjadi hakim ketua
adalah Yang Mulia Laurence Waldman, yang dulu mengetuai
sidang perkara Michael Moretti, yang telah mencoba untuk
mencabut izin praktek Jennifer.
7
Pukul empat subuh hari Senin, di akhir bulan Desember
seribu sembilan ratus tujuh puluh, pada hari akan dimulainya
sidang Abraham Wilson.
94
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer terbangun dengan perasaan letih dan mata berat.
Tidurnya tak nyenyak karena pikirannya dipenuhi mimpi-mimpi
tentang sidang itu. Salah satu mimpinya adalah, Robert Di
Silva menyuruhnya ke mimbar saksi dan menanyainya tentang
Michael Moretti. Setiap kali mencoba menjawab pertanyaanpertanyaannya, para anggota juri menyela dengan serentak :
Pembohong! Pembohong! Pembohong!
Semua mimpinya berlainan, tetapi semua ada
kesamaannya. Dalam mimpinya yang terakhir tampak
Abraham Wilson yang terikat di kursi listrik. Waktu Jennifer
mendekatinya untuk menghiburnya, laki-laki itu meludahi
mukanya. Jennifer terbangun gemetar, dan dia tak bisa tidur
lagi. Dia duduk saja di kursi dan memperhatikan matahari
terbit. Dia tak bisa makan karena gugupnya. Dia ingin bisa
tidur malam sebelumnya. Dia ingin tidak begitu tegang Dia
ingin hari itu berlalu.
Sedang dia mandi dan berpakaian, dia merasakan firasat
kegagalan. Dia ingin mengenakan baju hitam, tetapi dia
memilih baju tiruan dari Chanel yang berwarna hijau, yang
dibelinya pada waktu Toko Lochmann mengadakan penjualan
obral.
Pukul setengah sembilan, Jennifer Parker tiba di Gedung
Pengadilan Kriminal untuk memulai pembelaan dalam perkara
rakyat dari negara bagian New York melawan Abraham
Wilson. Di depan jalani masuk, tampak sekumpulan orang dan
mula-mula Jennifer menyangka ada kecelakaan. Dia melihat
sederetan kamera tv dan alat pengeras suara, dan sebelum
Jennifer menyadari apa yang terjadi, dia sudah dikerumuni
para wartawan.
Seorang wartawan berkata, "Nona Parker, inilah sidang
Anda yang pertama kali sejak Anda menggagalkan perkara
Michael Moretti terhadapi Jaksa, bukan?"
Peringatan Ken Bailey ternyata benar. Dialah daya tarik
yang terbesar, bukan kliennya. Para wartawan itu
95
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdatangan, bukan sebagai peninjau yang obyektif; mereka
adalah burung elang pencari mangsa dan Jennifer-lah
bangkainya.
Seorang wanita muda yang mengenakan celana jeans
menyodorkan sebuah mikrofon ke muka Jennifer. "Benarkah
Jaksa Di Silva bertekad untuk menjatuhkan Anda?"
"No comment." Jennifer menyikut-nyikut mencari jalan
masuk ke gedung.
"Pak Jaksa mengeluarkan pernyataan kemarin malam,
bahwa dia berpendapat Anda tak pantas diizinkan membuka
praktek pengacara di daerah pengadilan New York. Apakah
Anda ingin mengatakan sesuatu sehubungan dengan
pernyataan itu?"
"No comment." Jennifer sudah hampir tiba dijalan masuk.
"Tahun yang lalu Hakim Waldman berusaha untuk
mencabut hak Anda sebagai pengacara. Apakah Anda akan
memintanya untuk membatalkan...?"
Jennifer sudah berada dalam gedung pengadilan.
Direncanakan sidang akan diadakan di Ruang Tiga Puluh
Tujuh. Lorong di luar dipenuhi orang-orang banyak yang
mencoba masuk, tetapi ruang sidang sudah penuh. Bunyi
suara terdengar mendengung dan terasa adanya suasana
keramaian. Ada sederetan bangku-bangku khusus yang
disediakan untuk para wartawan. Di Silva yang mengatur
semuanya, pikir Jennifer.
Abraham Wilson duduk di meja terdakwa, dia menjulang
lebih tinggi daripada semua orang di sekelilingnya, serupa
benar dengan gunung yang mengerikan. Dia mengenakan
setelan biru tua yang kekecilan, dan kemeja putih serta dasi
biru yang dibelikan Jennifer untuknya. Pakaian itu tidak
mengubah keadaannya. Abraham Wilson tetap kelihatan
seperti seorang pembunuh jelek yang mengenakan setelan
96
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
biru tua. Akan sama saja halnya bila dia mengenakan pakaian
penjaranya, pikir Jennifer dengan semangat lemah.
Wilson memandang ke segala pelosok ruang sidang dengan
menantang, dia membelalak pada siapa saja yang bertemu
pandang dengannya. Jennifer kini sudah cukup mengenal
kliennya dan mengerti bahwa sikap permusuhannya itu adalah
untuk menutupi rasa takutnya; tetapi yang didapatkan oleh
setiap orang — termasuk hakim dan juri — adalah kesan
permusuhan dan kebencian. Laki-laki besar itu merupakan
ancaman. Mereka akan menganggapnya sebagai seseorang
yang harus ditakuti dan dimusnahkan.
Tak ada sedikit pun dalam kepribadian Wilson yang bisa
menimbulkan rasa suka. Tak sedikit punl pada penampilannya
yang bisa menimbulkan simpati. Yang tampak adalah wajah
cacat yang jelek-itu, dengan hidung yang patah dan gigi
ompong, serta tubuh besar yang menimbulkan ketakutan
orang.
Jennifer berjalan ke arah meja tertuduh di mana Abraham
Wilson duduk, lalu duduk di samping laki-laki itu. "Selamat
pagi, Abraham."
Abraham menoleh padanya lalu berkata, "Tak kusangka
kau akan datang."
Jennifer teringat akan mimpinya. Dia memandang ke mata
Abraham yang kecil dan sipit. "Kau tahu betul aku pasti
datang."
Abraham mengangkat bahunya tanpa acuh. "Tidak akan
ada pengaruhnya. Mereka pasti akan menghukumku. Mereka
pasti akan menuduhku telah membunuh dan kalau perlu
mereka akan mensahkan sebuah undang-undang baru yang
memungkinkan mereka merebusku dalam minyak. Ini tidak
akan merupakan sidang. Ini hanya suatu show saja. Adakah
kau membawa jagung goreng?"
97
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di meja penuntut umum terdengar keributan kecil, dan
waktu Jennifer mengangkat mukanya tampak Jaksa Di Silva
mengambil tempat di meja, di sebelah sederetan asistennya.
Pria itu melihat ke arah Jennifer, lalu tersenyum. Jennifer
makin merasa panik.
Seorang petugas pengadilan berseru, "Hadirin harap
berdiri," dan Hakim Lawrence Waldman masuk dari kamar
pakaian hakim.
"Perhatian. Perhatian. Semua orang yang berurusan
dengan Bagian Tiga Puluh Tujuh dari pengadilan ini,
mendekatlah, berikan perhatian Anda dan Anda pun akan
mendapat perhatian. Ketua sidang Yang Mulia Hakim
Lawrence Waldman."
Satu-satunya orang yang tak mau berdiri adalah Abraham
Wilson.
"Berdiri!" bisik Jennifer dari sudut mulutnya.
"Jangan pedulikan mereka itu. Mereka harus datang dan
mencoba menarikku untuk berdiri."
Jennifer mengangkat tangannya yang sebesar tangan
raksasa itu. "Berdiri, Abraham. Akan kita kalahkan mereka."
Lama Abraham memandanginya, lalu perlahan-lahan dia
bangkit, menjulang tinggi di atas Jennifer.
Hakim Waldman mengambil tempat di meja hakim. Para
penonton duduk kembali. Petugas pengadilan menyerahkan
sehelai kalender pengadilan kepada hakim.
"Rakyat Negara Bagian New York melawan Abraham
Wilson, dituduh membunuh Raymond Thorpe."
Dalam keadaan biasa Jennifer sebenarnya akan menunjuk
orang-orang Negro sebagai anggota-anggota juri, tetapi
karena Abraham Wilson, dia jadi tak yakin. Wilson tidak
dianggap sebagai salah seorang dari mereka. Dia seorang
98
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penjahat, seorang pembunuh, 'seorang yang mencorengkan
arang ke dahi sukunya'. Mereka akan lebih bersemangat
menjatuhkan hukuman atas dirinya daripada orang-orang
yang berkulit putih. Yang bisa diusahakan Jennifer hanyalah
mencoba menjauhkan penantang-penantang keras dari
keanggotaan juri. Tetapi para penantang keras itu tidak
berkeliaran mempertontonkan diri mereka. Mereka akan diamdiam menyembunyikan pendirian mereka, menunggu
kesempatan untuk bertindak membalas dendam.
Pada hari kedua menjelang petang, Jennifer sudah
kehabisan sepuluh tantangannya yang tak terlawan. Dia
merasakan sendiri bahwa kata-katanya yang ditujukan pada
juri, kaku dan tak lancar, sedang pidato Di Silva lancar serta
penuh keyakinan. Pria itu tahu teknik untuk menenangkan hati
para juri, menarik hati mereka supaya memihak padanya,
mengajak mereka bersahabat.
Mengapa aku sampai lupa betapa pandainya Di Silva
berperan sebagai aktor? tanya Jennifer pada dirinya sendiri.
Di Silva belum menggunakan tantangan-tantangannya yang
tak terkalahkan sampai Jennifer kehabisan tantangannya, dan
Jennifer tak mengerti mengapa demikian. Sesudah terlambat
dia baru tahu alasannya. Di Silva lebih cerdik daripadanya. Di
antara para juri yang akan ditanyai terakhir adalah seorang
detektif swasta, seorang manajer bank, dan ibu dari seorang
dokter —semuanya orang kuat— dan kini tak ada lagi yang
dapat diperbuat Jennifer untuk mencegah keanggotaan
mereka dalam dewan juri. Jaksa telah mengalahkannya.
Robert Di Silva bangkit lalu memulai pidato pembukaannya.
"Sidang yang terhormat," —Dia lalu berpaling pada juri—
"dan Anda sekalian Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya anggota
juri, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih
karena Anda telah mengorbankan waktu Anda yang begitu
berharga untuk menghadiri pengadilan perkara ini."
99
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia tersenyum menarik. "Saya maklum bahwa duduk
sebagai anggota juri ini bisa sangat membuang waktu. Anda
punya pekerjaan utama serta keluarga yang memerlukan
perhatian Anda."
Seolah-olah dia sendiri juga salah seorang anggota, pikir
Jennifer, anggota juri yang ketiga belas.
"Saya berjanji akan menyita waktu Anda sesedikit mungkin.
Ini sebenarnya suatu perkara yang sangat sederhana. Itulah
tertuduhnya, yang duduk di sana itu.... Abraham Wilson.
Tertuduh telah dipersalahkan oleh Negara Bagian New York,
membunuh Raymond Thorpe, sesama narapidana di Penjara
Sing Sing. Tak ada keraguan lagi bahwa dia telah
melakukannya. Dia telah mengakuinya sendiri. Pembela
Saudara Wilson akan menekankan bahwa pembunuhan itu
dilakukannya karena membela diri."
Jaksa berbalik untuk melihat ke tubuh besar Abraham
Wilson, dan secara otomatis mata para juri pun mengikutinya
pula. Jennifer dapat melihat reaksi pada wajah-wajah mereka.
Dia memaksa dirinya untuk memusatkan perhatiannya pada
kata-kata Jaksa Di Silva.
"Beberapa tahun yang lalu, dua belas orang warga negara
yang saya yakin sama benar dengan Anda sekalian, telah
memberikan suara mereka untuk memasukkannya ke penjara.
Karena peraturan-peraturan yang berlaku, saya tidak
diperbolehkan untuk membicarakan dengan Anda kesalahan
yang telah dibuat Abraham Wilson waktu itu. Namun saya bisa
mengatakan, juri pada waktu itu yakin benar bahwa dengan
mengurung Abraham Wilson, dia tidak akan bisa lagi
melakukan tindak-tindak kriminal lainnya. Sayangnya, mereka
itu keliru. Karena dalam keadaan terkurung pun, Abraham
Wilson masih bisa bertindak, membunuh, untuk memuaskan
napsu berdarahnya. Kini akhirnya kita tahu bahwa hanya ada
satu jalan yang akan mencegah Wilson dari perbuatan
pembunuhan lagi. Dan jalan itu adalah menjatuhinya hukuman
100
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mati. Tindakan itu memang tidak akan mengembalikan nyawa
Raymond Thorpe, tapi bisa menyelamatkan hidup orang-orang
lain yang akan terhindar menjadi korban berikutnya dari
tertuduh."
Di Silva berjalan di sepanjang meja para juri, sambil
menatap mata para juri itu satu demi satu. "Sudah saya
katakan bahwa perkara ini tidak akan mengambil banyak
waktu Anda. Akan saya katakan mengapa saya berkata begitu.
Tertuduh yang duduk di situ itu — Abraham Wilson — telah
membunuh seseorang dengan darah dingin. Dia telah
mengakui perbuatannya itu. Tapi meski dia tak mengakuinya
sekalipun, ada saksi-saksi mata yang melihat Abraham Wilson
melakukan pembunuhan itu. Bahkan lebih dari seratus orang
banyaknya saksi mata. Mari kita teliti istilah 'dengan darah
dingin' itu. Pembunuhan dengan alasan apa pun juga, adalah
jahat, baik bagi saya maupun, saya yakin, bagi Anda juga.
Tapi kadang-kadang suatu pembunuhan dilakukan dengan
alasan yang sekurang-kurangnya bisa dipahami. Umpama saja
bila seseorang yang, bersenjata mengancam seseorang yang
Anda cintai.... anak, suami, atau istri. Nah, bila Anda
mempunyai sebuah pistol, mungkin Anda akanj menarik
pelatuknya untuk menyelamatkan nyawa orang yang Anda
cintai itu. Baik Anda maupun saya, mungkin tidak akan mau
memaafkan hal semacam itu, tapi saya yakin kita sekurangkurangnya bisa memahaminya. Atau mari kita ambil contoh
lain. Bila Anda tiba-tiba terbangun tengah malam oleh seorang
penyerang yang mengancam nyawa Anda, dan Anda punya
kesempatan untuk membunuhnya demi menyelamatkan
nyawa Anda sendiri, lalu Anda membunuhnya.... yah, saya
pikir kita semua bisa mengerti mengapa hal itu sampai terjadi.
Dan hal itu tidak akan menjadikan kita penjahat yang berputus
asa atau orang jahat, bukan? Hal itu adalah sesuatu yang kita
lakukan dalam keadaan mendesak." Suara Di Silva menjadi
keras. "Tetapi pembunuhan dengan darah dingin itu lain lagi.
Mencabut nyawa seseorang manusia lain, tanpa ada alasan
101
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdasarkan perasaan, dan melakukannya karena uang dan
obat-obat terlarang, atau karena memang hanya suka
membunuh...."
Dia jelas-jelas menanamkan dugaan pada para juri, tetapi
tidak melewati batas, hingga tak mungkin bisa mengatakan
bahwa pernyataannya salah, untuk membatalkan sidang atau
untuk pengembalian hak terdakwa.
Jennifer memperhatikan wajah para juri; tak meragukan
lagi, mereka semua sudah berada dalam tangan Robert Di
Silva. Mereka sependapat dengan setiap perkataan yang
diucapkan jaksa itu. Mereka menggeleng dan mengangguk
serta mengernyitkan dahi mereka. Semuanya mereka lakukan,
hanya bertepuk tangan saja yang tidak. Di Silva tak ubahnya
pemimpin suatu orkes, sedang para juri itu adalah pemainpemain orkes tersebut. Tak pernah Jennifer melihat hal serupa
itu. Setiap kali jaksa menyebut nama Abraham Wilson, para
anggota juri otomatis menoleh pada tertuduh, padahal Di Silva
menyebutkan nama itu hampir dalam setiap kalimat. Jennifer
telah mengingatkan Wilson agar tidak melihat pada para juri.
Ditekankannya berulang kali supaya dia melihat ke mana saja
dia mau dalam ruang sidang itu, asal tidak ke tempat duduk
para juri, karena air mukanya yang menantang itu akan
menimbulkan rasa geram hati orang. Kini dengan rasa ngeri
Jennifer melihat bahwa mata Wilson melekat ke meja para
juri, berpandangan lekat dengan para juri. Sikap menyerang
bagai tertumpah dari dirinya.
"Abraham...." bisik Jennifer.
Laki-laki itu tak bergeming.
Jaksa sedang mengakhiri pidato pembukaannya. "Dalam
Injil ada disebutkan, 'Kejahatan dibalas dengan kejahatan.' Itu
dendam namanya. Negara tidak ingin membalas dendam.
Yang dikehendakinya adalah keadilan. Keadilan bagi laki-laki
malang yang telah dibunuh oleh Abraham Wilson dengan
darah dingin.... dengan darah dingin. Terima kasih."
102
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jaksa kembali ke tempat duduknya.
Waktu Jennifer bangkit untuk berbicara pada para juri, dia
melanjutkan rasa benci dan tak sabar pada orang-orang itu.
Dia telah membaca buku-buku yang menuliskan bagaimana
pengacara mampu membaca pikiran para juri, dan waktu
membaca itu dia tak percaya. Tetapi sekarang dia percaya.
Apa yang terkandung dalam hati para juri itu jelas benar
tampak olehnya. Mereka sudah mengambil keputusan:
kliennya bersalah, dan mereka tak sabar karena Jennifer
membuang-buang waktu mereka saja, menahan mereka
dalam gedung pengadilan ini.
Padahal mereka bisa keluar mengerjakan hal-hal yang lebih
penting, sebagaimana yang telah dikatakan oleh sahabat
mereka, jaksa tadi. Jennifer dan Abraham Wilson adalah
musuh-musuh mereka.
Jennifer menarik napas panjang. "Yang Mulia Bapak Ketua."
Lalu dia berbalik ke para juri, "Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya.
Mengapa kita mempunyai gedung-gedung pengadilan? Untuk
apa kita semua berada di sini? Tiada lain karena hukum yang
bijaksana itu tahu bahwa dalam setiap perkara ada dua
seginya. Tetapi bila kita mendengar serangan Bapak Jaksa
atas diri klien saya, mendengarkan dia mengatakan klien saya
itu bersalah tanpa menunggu keputusan juri — keputusan
Anda — kita tidak lagi percaya bahwa dalam setiap kejadian
itu ada dua seginya."
Jennifer memandangi wajah-wajah mereka, mencuri rasa
simpatik atau dukungan. Namun tak ditemukannya.
Dipaksakan dirinya untuk berbicara urus. "Berulang kali Jaksa
Di Silva mengucapkan kata-kata, 'Abraham Wilson bersalah!'
Itu tak benar. Hakim Waldman akan mengatakan pada Anda,
bahwa tak seorang tertuduh pun bersalah sebelum dia
dinyatakan bersalah oleh Bapak Hakim atau oleh juri. Itulah
gunanya kita berada di sini, yaitu untuk mendapatkan
jawabnya. Abraham Wilson didakwa telah membunuh
103
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seseorang, sesama narapidana di Sing Sing. Tapi Abraham
Wilson tidak membunuh demi uang atau demi obat terlarang.
Dia membunuh untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Anda
tentu ingat contoh yang bagus yang diberikan oleh Bapak
Jaksa waktu dia menerangkan perbedaan antara membunuh
dengan darah dingin dan membunuh dengan hati panas.
Membunuh dengan hati panas ialah bila kita membunuh demi
melindungi seseorang yang kita cintai, atau bila kita membela
diri kita sendiri. Abraham telah membunuh karena membelai
dirinya sendiri, dan saya berani memastikan, bahwa dalam
keadaan yang sama, siapa pun di antara kita dalam ruang
sidang ini akan melakukan yang sama benar.
Bapak Jaksa dan saya sependirian dalam satu hal bahwa
setiap orang punya hak untuk melindungi dirinya sendiri. Bila
Abraham Wilson tidak bertindak sebagaimana yang telah
dilakukannya, dia pasti sudah mati." Suara Jennifer lantang
mengandung ketulusan hati. Lupa dia akan kegugupannya
karena semangatnya yang berapi-api dalam pembelaannya
"Saya minta agar Anda masing-masing mengingat satu hal: di
bawah undang-undang negara ini tuduhan harus terbukti
bebas dari segala keraguan bahwa pembunuhan itu benarbenar tidak dilakukan karena membela diri. Dan sebelum
sidang ini usai kami akan mengemukakan bukti yang kuat,
yang akan menunjukkan pada Anda semua bahwa
Raymond Thorpe telah dibunuh untuk mencegah agar dia
tidak membunuh klien saya. Terima kasih”
Saksi-saksi untuk Negara Bagian secara bergantian mulai
diajukan. Robert Di Silva tidak melewatkan setiap kesempatan.
Saksi-saksinya untuk orang yang menjadi korban, Raymond
Thorpe, adalah antara lain seorang pendeta, para pengawal
penjara, dan sesama narapidana. Seorang demi seorang
berdiri di mimbar dan memberikan kesaksian tentang
sempurnanya watak korban, dan betapa cinta damainya dia.
104
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setiap kali jaksa selesai menanyai seorang saksi, dia
menoleh pada Jennifer dan berkata, "Silakan menanyai Saksi."
Dan setiap kali Jennifer menyahut, "Tidak ada tanyajawab."
Jennifer menyadari bahwa tak ada gunanya dia mencoba
membatalkan kesaksian-kesaksian mengenai korban. Sebab
bila sudah selesai nanti orang akan berpikir bahwa dia telah
menghalang-halangi orang menyanjung Raymond Thorpe
sebagai orang suci. Para pengawal yang telah dilatih oleh
Robert Di Silva dengan berhati-hati, memberikan kesaksian
bahwa Thorpe adalah seorang narapidana teladan yang
berkeliling di Sing Sing untuk berbuat baik, hanya dengan niat
untuk berbuat baik sesama manusia. Kenyataan bahwa
Raymond Thorpe dipenjara karena perampokan bank dan
pemerkosaan, hanya merupakan kelemahan kecil dalam watak
yang sempurna.
Yang benar-benar menghancurkan pertahanan Jennifer
yang memang sudah lemah adalah gambaran bentuk tubuh
Raymond Thorpe. Dia seseorang vang bertubuh kecil,
tingginya hanya satu meter tujuh puluh dua sentimeter.
Robert Di Silva mengingatkan hal itu terus, dan para juri
dibuatnya supaya tidak melupakan hal itu. Dilukiskannya
dengan sebuah gambar bagaimana Abraham Wilson
menyerang dengan bengisnya orang yang lebih kecil
daripadanya, dan menghantamkan kepala Thorpe pada
dinding tembok bangunan itu di halaman olahraga, dan
dengan demikian membunuhnya seketika. Sedang Di Silva
berbicara, mata para juri menatap lekat pada bobot raksasa
dari si tertuduh yang menjadikan semua orang lain yang
berada dekatnya tampak seperti orang-orang kerdil saja.
Jaksa sedang berkata, "Kita mungkin tidak akan pernah
tahu apa yang menyebabkan Abraham Wilson menyerang lakilaki kecil yang tak berdaya dan tak pernah mengganggu orang
itu....."
105
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hati Jennifer tiba-tiba rasa terloncat. Ada satu perkataan
dalam ucapan Di Silva itu yang memberikan peluang yang
dibutuhkannya.
"..... Mungkin kita tidak akan pernah tahu alasan mengapa
tertuduh menyerang dengan bengisnya, tapi satu hal kita
tahu, Tuan dan Nyonya-nyonya.... hal itu dilakukannya
bukanlah karena orang yang dibunuhnya itu merupakan
ancaman bagi Abraham Wilson”.
“Pembelaan diri?" Dia menoleh pada Hakim Waldman.
"Yang Mulia, sudikah Anda memerintah kan tertuduh untuk
berdiri?"
Hakim Waldman melihat pada Jennifer. "Apakah Saudara
Pembela berkeberatan?"
Jennifer sudah maklum apa yang akan terjadi tetapi dia
tahu pula bahwa bila dia menyatakan keberatannya,
keadaannya akan makin hancur "Tidak keberatan, Yang
Mulia."
"Tertuduh harap berdiri," kata Hakim Waldman.
Abraham Wilson tetap saja duduk, wajahnya menantang;
kemudian dia baru bangkit dari tampaklah tingginya yang satu
meter sembilan puluh sentimeter itu.
Di Silva lalu berkata, "Di sini ada seorang pegawai
pengadilan, Saudara Galin, yang tingginya satu meter tujuh
puluh dua sentimeter, sama benar dengan tinggi orang yang
terbunuh, Raymon Thorpe. Saudara Galin, harap berdiri di
samping tertuduh."
Pegawai pengadilan itu berjalan ke arah Abraham Wilson,
lalu berdiri di sampingnya. Jauh benar perbedaan tinggi antara
kedua laki-laki itu. Jennifer sadar bahwa dia telah
mendapatkan serangan baru lagi, dan tak dapat melakukan
pembalasan apa-apa. Suatu kesan penglihatan tak pernah bisa
dihapuskan. Jaksa berdiri memperhatikan kedua laki-laki itu
106
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebentar, lalu berkata pada juri dengan suara hampir berbisik,
"Pembelaan diri?"
Sidang itu telah berjalan lebih buruk lagi daripada yang
pernah diimpikan Jennifer dalam mimpinya yang terburuk
sekalipun. Dirasakannya betapa para juri itu ingin agar sidang
cepat berakhir supaya mereka bisa menyampaikan keputusan
bersalah.
Ken Bailey duduk di antara para penonton, dan dalam
waktu jeda, Jennifer sempat bercakap-cakap sebentar dengan
dia.
"Perkaranya memang tak mudah," kata Ken penuh
pengertian. "Sebenarnya aku berharap bukan si King Kong itu
yang menjadi klienmu. Demi Tuhan, baru melihatnya saja,
semua orang sudah akan ketakutan."
"Itu kan bukan maunya!"
"Sebenarnya dia jangan membuat ulah. Bagaimana kau
dengan Pak Jaksa yang terhormat itu?"
Jennifer tersenyum kecut. "Tuan Di Silva tadi pagi sudah
memberikan pesannya. Dia berniat untuk melemparkan aku
dari usaha pengacara ini."
Setelah deretan saksi penuntut umum selesai ditanyai, dan
Di Silva menghentikan kegiatannya sebentar, Jennifer bangkit
dan berkata, "Saya minta Saudara Howard Patterson
mengambil tempat di mimbar."
Wakil Kepala Penjara Sirig Sing bangkit dengan enggan,
lalu berjalan ke arah mimbar saksi, semua mata terarah
padanya. Robert Di Silva menatap dengan penuh perhatian
waktu Patterson mengucapkan sumpahnya. Di Silva memutar
otaknya, dia membayangkan semua kemungkinan. Dia tahu
bahwa dia telah memenangkan perkara itu. Dia telah
menyiapkan baik-baik pidato kemenangannya.
107
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer sedang berbicara pada saksi. "Tolong ceritakan
masa lalu Anda pada juri, Saudara Patterson."
Jaksa Di Silva bangkit. "Negara tidak memerlukan masa lalu
itu untuk menghemat waktu. Yang penting kita ketahui adalah
bahwa Saudara Patterson adalah Wakil Kepala Penjara Sing
Sing."
"Terima kasih," kata Jennifer. "Saya rasa, para juri perlu
diberi tahu bahwa Saudara Patterson perlu diberi surat
perintah pengadilan untuk datang kemari hari ini. Dia berada
di sini sebagai saksi yang enggan." Jennifer berpaling pada
Patterson. "Waktu saya meminta Anda untuk datang kemari
secara sukarela dan memberikan kesaksian Anda untuk
meringankan klien saya, Anda menolak. Benarkah itu?"
"Ya."
"Tolong katakan pada juri mengapa Anda harus diberi surat
perintah pengadilan untuk datang kemari."
"Dengan senang hati. Sepanjang hidup saya, saya sudah
berurusan dengan orang-orang seperti Abraham Wilson.
Mereka itu benar-benar pengacau."
Robert Di Silva duduk di kursinya dengan membungkukkan
dirinya, sambil tertawa kecil, matanya memandang lekat pada
para anggota juri.
“Lihat pembela itu menggantung dirinya sendiri”. bisiknya
pada salah seorang asistennya.
Jennifer berkala. "Saudara Patterson. Abraham Wilson
sedang diadili di sini hari ini, bukan sebagai seorang
pengacau. Dia diadili demi hidupnya. Tak maukah Anda
menolong sesama manusia yang telah dituduh secara tak adil
telah melakukan tindak kriminal utama?"
"Bila dia memang dituduh secara tak adil, saya bersedia."
Tekanan pada kata-kata tak adil menyebabkan air muka para
anggota juri berubah.
108
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sebelum kejadian ini, memang sudah sering terjadi
pembunuhan dalam penjara, bukan?"
"Bila beratus-ratus orang-orang kasar dikurung hersamasama dalam satu lingkungan tiruan, maka akan terkumpullah
sejumlah besar rasa benci, lagi pula...."
"Jawab saja ya atau tidak, Saudara Patterson."
"Ya."
"Mengenai pembunuhan-pembunuhan yang telah terjadi
selama pengalaman Anda, dapatkah Anda mengatakan bahwa
alasan-alasannya berbeda?"
"Ya. saya rasa begitulah. Kadang-kadang....”
"Ya atau tidak."
"Ya."
"Pernahkah pembelaan diri merupakan salah satu alasan
dari pembunuhan-pembunuhan itu?"
"Yah, kadang-kadang...." Dia melihat air muka Jennifer, lalu
menjawab, "Ya."
"Jadi berdasarkan pengalaman Anda yang luas itu,
sangatlah mungkin bahwa Abraham Wilson sebenarnya
sedang membela dirinya sendiri waktu dia membunuh
Raymond Thorpe, bukan?"
"Saya rasa tidak....."
"Saya tanya apakah itu mungkin? Ya atau tidak."
"Sangat tak mungkin," sahut Patterson dengan keras
kepala.
Jennifer berpaling pada Hakim Waldman. "Yang Mulia,
dapatkah Anda memerintahkan Saksi supaya menjawab
pertanyaan itu?"
109
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hakim Waldman memandang Howard Patterson. "Harap
Saksi menjawab pertanyaan itu."
"Ya."
Tetapi juri sudah melihat dari sikapnya bahwa sebenarnya
ia ingin mengatakan tidak.
Jennifer berkata lagi, "Dengan izin pengadilan, saya telah
memerintahkan pada Saksi untuk membawa beberapa barang
untuk diperlihatkan sebagai bukti."
Jaksa Di Silva bangkit. "Barang-barang apa?".
"Barang-barang bukti yang membuktikan benar atau
tidaknya alasan pembelaan diri itu."
"Keberatan, Yang Mulia."
"Terhadap apa Anda berkeberatan?" tanya Jennifer. "Anda
belum lagi melihatnya."
Hakim Waldman berkata, "Pengadilan tidak akan
mengambil keputusan apa-apa sebelum barang bukti itu
diperlihatkan. Hidup seseorang sedang dipertaruhkan di sini.
Tertuduh berhak mendapatkan pertimbangan."
"Terima kasih, Yang Mulia." Jennifer berpaling pada
Howard Patterson lagi. "Adakah Anda bawa barang-barang
itu?" tanyanya.
Laki-laki itu mengangguk dengan bibir terkatup rapat. "Ya,
tapi saya lakukan ini dengan protes."
"Saya rasa Anda sudah cukup menjelaskan hal itu, Saudara
Patterson. Boleh kami melihatnya?"
Howard Patterson menoleh ke tempat para penonton ke
tempat duduk seorang laki-laki yang mengenakan seragam
pengawal penjara. Patterson mengangguk padanya. Pengawal
itu bangkit lalu berjalan ke depan, sambil membawa sebuah
kotak kayu yang bertutup.
110
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer mengambilnya dari orang itu. "Pihak pembela ingin
menempatkan barang-barang ini sebagai barang bukti
Kelompok A, Yang Mulia."
"Apa itu?" Jaksa Di Silva ingin tahu.
"Barang ini disebut kotak tetek-bengek."
Terdengar desah dari para hadirin.
Hakim Waldman memandang Jennifer lalu berkata
perlahan-lahan, "Kotak tetek bengek kata Anda? Apa isi kotak
itu, Nona Parker?"
"Senjata-senjata. Senjata-senjata yang dibuat di Penjara
Sing Sing oleh para narapidana dengan tujuan...."
"Keberatan!" Jaksa penuntut melompat berdiri, suaranya
menggelegar. Dia berjalan cepat-cepat ke meja majelis hakim.
"Saya bersedia bertenggang rasa terhadap rekan saya yang
tak berpengalaman ini, Yang Mulia, tapi kalau dia berniat
membuka praktek yang berhubungan dengan hukum kriminal,
maka saya anjurkan agar dia mempelajari lagi peraturanperaturan dasar dari pembuktian. Tak ada pembuktian yang
menghubungkan antara apa yang disebut kotak tetek-bengek
ini dengan perkara yang sedang diadili di pengadilan ini."
"Kotak ini membuktikan...."
"Kotak ini tidak membuktikan apa-apa." Suara Jaksa
melemah. Dia berpaling pada Hakim Waldman. "Negara
keberatan diajukannya barang-barang bukti ini karena niskala
dan tak ada hubungannya!”.
"Keberatan diterima."
Dan berdirilah Jennifer di tempat itu, dengan menyadari
bahwa perkaranya hancur. Segala-galanya menentangnya:
hakim, juri, Di Silva, pembuktian. Kliennya akan dikirim ke
kursi listrik, kecuali kalau....
111
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer menarik napas dalam. "Yang Mulia, barang bukti
ini benar-benar penting dalam pembelaan kami. Saya
merasa...."
"Nona Parker," Hakim Waldman menyela, "pengadilan ini
tak punya waktu atau niat untuk memberi Anda kuliah
mengenai hukum, tapi Jaksa memang benar. Sebelum
memasuki ruang sidang ini, Anda sebenarnya sudah harus
tahu benar akan peraturan-peraturan dasar dari pembuktian.
Peraturan pertama adalah bahwa Anda tak dapat mengajukan
bukti-bukti yang belum dipersiapkan. Sama sekali belum ada
pernyataan apa-apa apakah korban bersenjata atau tidak.
Oleh karenanya, soal senjata-senjata ini tak ada hubungannya
dengan perkara ini. Anda ditolak."
Jennifer berdiri dengan muka merah. "Maaf," katanya
berkeras, "tapi barang-barang ini bukannya tak ada
hubungannya...."
"Cukup! Anda boleh mengajukan bantahan tertulis."
"Saya tak mau mengajukan bantahan tertulis, Yang Mulia.
Apakah Anda tak mau mengakui hak klien saya?"
"Nona Parker, bila Anda teruskan, Anda akan saya tahan
karena menghina pengadilan."
"Saya tak peduli apa yang akan Anda perbuat atas diri
saya," kata Jennifer. "Dasarnya sudah dipersiapkan untuk
mengajukan pembuktian ini. Jaksa sendiri yang
menyiapkannya."
"Apa? Tak mungkin...." kata Di Silva.
Jennifer berpaling pada pencatat steno pengadilan. Harap
Anda bacakan pernyataan Tuan Di Silva yang dimulai dengan,
“Mungkin kita tidak akan pernah tahu apa yang menyebabkan
Abraham Wilson menyerang...."
Jaksa melihat pada Hakim Waldman, "Apakah akan Anda
izinkan, Yang Mulia?"
112
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hakim Waldman mengangkat tangannya. Dia berpaling
pada Jennifer. "Pengadilan ini tak perlu menerangkan undangundang pada Anda mengenai hal itu, Nona Parker. Bila sidang
ini sudah selesai, anda akan ditahan karena telah menghina
pengadilan. Karena ini adalah perkara besar, saya sendiri yang
akan menanyai Anda." Dia berpaling pada pencatat steno
pengadilan. "Silakan."
Pencatat steno pengadilan membalik-balik beberapa
halaman lalu mulai membaca. "Mungkin kita tak akan pernah
tahu, apa yang menyebabkan Abraham Wilson menyerang
laki-laki kecil yang tak berdaya dan tak pernah mengganggu
orang itu....”
"Cukup," potong Jennifer. "Terima kasih." Dia menoleh
pada Robert Di Silva dan berkata lambat-lambat, "Itu adalah
kata-kata Anda sendiri, Tuan Di Silva. Mungkin kita tidak akan
pernah tahu apa yang menyebabkan Abraham Wilson
menyerang laki-laki kecil yang tak berdaya dan tak pernah
mengganggu orang itu..."
Dia berpaling pada Hakim Waldman. “Perkataan yang
merupakan kunci di sini, Yang Mulia, adalah tak berdaya.
Karena Jaksa sendiri yang menyatakan bahwa korban tak
berdaya, beliau membukakan peluang bagi kami untuk
mengejar kenyataan bahwa korban bukannya tak berdaya,
bahwa dia sebenarnya mungkin mempunyai senjata. Apa pun
yang diajukan sebagai petunjuk, dapat diajukan dalam tanyajawab."
Lama orang diam.
Hakim Waldman berpaling pada Robert Di Silva. "Nona
Parker telah menunjukkan titik yang sah. Anda memang telah
membukakan peluang."
Robert Di Silva melihat padanya dengan pandangan tak
percaya, "Tapi saya hanya....”
113
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pengadilan memperbolehkan pembuktian diajukan sebagai
Barang Bukti A."
Jennifer menarik napas lega dengan rasa syukur. "Terima
kasih, Yang Mulia." Diambilnya kotak bertutup itu, diangkatnya
lalu dibawanya menghadap juri. "Tuan-tuan dan Nyonyanyonya, dalam pernyataannya yang terakhir, Jaksa
mengatakan pada Anda bahwa apa yang akan Anda lihat
dalami kotak ini bukan pembuktian langsung. Beliau memang
benar. Beliau mengatakan bahwa tak ada satu pun hubungan
antara senjata-senjata ini dengam korban. Itu pun benar.
Saya mengajukan barang bukti ini dengan alasan lain. Telah
berhari-hari Anda mendengar bahwa tertuduh yang pengacau
dan tak kenal belas kasihan dan tingginya seratus sembilan
puluh sentimeter ini, dengan seenaknya menyerang Raymond
Thorpe, yang tingginya hanya seratus tujuh puluh dua
sentimeter. Gambaran yang dilukiskan bagi Anda dengan
begitu cermat tetapi salah oleh penuntut umum adalah
tentang seorang jagoan pembunuh yang sadis, yang telah
membunuhi sesama narapidana tanpa alasan. Tapi coba Anda
tanyai diri Anda sendiri: Tidakkah selalu ada saja suatu
alasan? keserakahan, kebencian, napsu, pokoknya ada
sesuatu? Saya percaya — dan saya mempertaruhkan nyawa
klien saya demi keyakinannya itu — bahwa pembunuhan itu
memang ada alasannya. Jaksa sendiri telah mengatakan pada
anda bahwa satu-satunya alasan yang mensahkan
pembunuhan atas diri seseorang adalah: pembelaan diri.
Seseorang yang berkelahi untuk melindungi dirinya sendiri.
Anda telah mendengar Howard Patterson memberikan
kesaksiannya bahwa berdasarkan pengalamannya,
pembunuhan memang biasa terjadi dalam penjara, bahwa
para narapidana memang biasa membuat senjata-senjata
yang mematikan. Itu berarti bahwa Raymond Thorpe mungkin
saja bersenjatakan senjata seperti itu, dan bahwa sebenarnya
dialah yang telah menyerang tertuduh, dan bahwa tertuduh
yang mencoba menyelamatkan dirinya, terpaksa
114
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membunuhnya — untuk membela diri. Bila Anda memastikan
bahwa Abraham Wilson telah membunuh Raymond Thorpe
tanpa belas kasihan — dan tanpa alasan sama sekali — maka
sepatutnyalah anda menyatakan dia bersalah sebagaimana
yang dituduhkan. Tetapi, bila setelah melihat barang-barang
bukti ini, Anda lalu menjadi ragu-ragu, maka kewajiban
Andalah untuk memberikan keputusan tak bersalah." Jennifer
merasakan bertambah beratnya kotak itu dalam tangannya.
"Waktu saya mula-mula melihat ke dalam kotak ini, saya
merasa tak percaya akan penglihatan saya. Anda pun mungkin
akan merasa sulit untuk percaya — tapi
saya minta supaya Anda tak lupa bahwa barang-barang ini
dibawa kemari dengan protes Wakil Kepala Penjara Sing Sing.
Ini, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, adalah kumpulan senjatasenjata yang dibuat secara sembunyi-sembunyi oleh para
narapidana di Sing Sing, dan yang telah disita.”
Waktu Jennifer berjalan ke arah meja tempat para juri, dia
seolah-olah tersandung dan kehilangan keseimbangannya.
Kotak itu terlepas dari tangannya tutupnya terbuka, dan isinya
tumpah di lantai ruang sidang. Terdengar desah orang
banyak. Para juri berdiri satu demi satu supaya bisa melihat
lebih baik. Mereka menatap memandangi kumpulan senjata
yang mengerikan, yang tertumpah dari kotak itu. Hampir
seratus buah banyaknya, dengan berbagai ukuran, bentuk,
dan rupa. Kapak-kapak kecil dan pisau jagal, keris-keris kecil
dan gunting yang tampak mengerikan dengan ujung yang
diasah runcing pistol-pistol berpeluru kait, parang yang
mengerikan yang semuanya hasil buatan sendiri. Ada pula
kawat-kawat halus yang bergagang kayu, yang dipakai untuk
mencekik, alat pemukul dari kuli penjepit es yang ditajamkan,
parang lebar.
Kini para penonton dan wartawan ikut berdiri mengulurkan
leher mereka supaya bisa melihat lebih baik ke alat pembunuh
115
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang bertaburan di lantai Hakim Waldman menghantamkan
palunya dengan marah untuk mengembalikan ketertiban.
Hakim Waldman melihat pada Jennifer dengan pandangan
yang tak dapat ditafsirkan. Seorang juru sita cepat-cepat maju
untuk memungut isi kotak yang tumpah. Jennifer
menyuruhnya pergi dengan isyarat.
"Terima kasih," katanya, "biar saya saja yang
memungutnya."
Dengan diperhatikan oleh para juri dan penonton Jennifer
berlutut dan mulai memunguti senjata-senjata itu lalu
mengembalikannya ke dalam kotak.
Dia bekerja lambat-lambat, dengan memegang senjatasenjata itu lama-lama, sambil memandanginya tanpa
perubahan air muka, sebelum memasukkannya. Para juri telah
duduk kembali, tetapi mereka tetap memperhatikan setiap
gerak Jennifer. Lima menit lamanya Jennifer baru selesai
mengembalikan senjata-senjata itu ke dalam kotak, sedang
Jaksa Di Silva duduk, dengan darah mendidih.
Setelah Jennifer selesai mengembalikan alat-alat pembunuh
itu ke dalam kotaknya, dia bangkit, melihat pada Patterson,
kemudian berbalik dan berkata pada Di Silva, "Silakan
menanyai."
Kini sudah terlambat untuk memperbaiki kesalahan yang
telah dibuatnya. "Tak ada pertanyaan," kata jaksa.
"Kalau begitu, saya ingin memanggil Abraham Wilson ke
mimbar."
8
"Nama Anda?"
"Abraham Wilson."
116
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Harap berbicara nyaring."
"Abraham Wilson."
"Saudara Wilson, apakah Anda membunuh Kaymond
Thorpe?"
"Ya."
"Tolong katakan pada sidang, apa sebabnya."
"Dia akan membunuh saya."
"Raymond Thorpe jauh lebih kecil daripada Anda. Apakah
Anda percaya bahwa dia akan bisa membunuh Anda?"
"Dia menyerang saya dengan pisau besar terhunus hingga
dia kelihatan tinggi sekali."
Jennifer telah meninggalkan dua buah benda luar kotak
tetek-bengek tadi. Yang sebuah adalah pisau jagal yang
ujungnya diasah tajam, dan sebuah lagi tang logam yang
besar. Jennifer mengangkat tangannya sambil mengangkat
pisau itu. "Apakah dengan pisau ini Raymond Thorpe
menganca Anda?"
"Keberatan! Tertuduh tak mungkin tahu...."
"Pertanyaan akan saya ubah. Apakah pisau ini serupa
dengan pisau yang dipakai Raymond Thorpe untuk
mengancam Anda?"
"Ya."
"Dan tang ini?"
"Ya."
"Apakah Anda pernah bertengkar dengan Thorpe?"
"Pernah."
"Dan waktu dia mendatangi Anda denga bersenjatakan
kedua benda itu, Anda terpaksa membunuhnya untuk
menyelamatkan jiwa Anda?'
117
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya."
"Terima kasih."
Jennifer berpaling pada Di Silva. "Silakan."
Robert Di Silva bangkit lalu berjalan perlahan lahan ke meja
saksi.
"Saudara Wilson, Anda sudah pernah membunuh
sebelumnya, bukan? Maksud saya pembunuhan dalam penjara
itu bukan yang pertama kalinya Anda lakukan?"
“Saya membuat kesalahan dan saya sedang menjalani
hukumannya. Saya....”
“Tak usah berkhotbah pada kami. Jawab saja ya atau
tidak."
"Ya."
“Jadi nyawa manusia tidak terlalu berharga di mata Anda."
"Itu tidak benar. Saya....”
"Apakah melakukan dua kali pembunuhan itu Anda sebut
menghargai nyawa manusia? berapa orang akan Anda bunuh
bila nyawa manusia tidak Anda hargai? Lima? Sepuluh? Dua
puluh.'"
Dia sedang mengumpan Abraham Wilson dan Wilson
terpancing. Rahangnya terkatup rapat dan wajahnya penuh
kemarahan.
Hati-hati.
"Saya hanya membunuh dua orang."
"Hanya! Anda hanya membunuh dua orang!” Jaksa
menggeleng berpura-pura murung. Dia berjalan mendekati
meja saksi dan menengadah memandang tertuduh. "Saya
yakin Anda merasa diri Anda hebat karena Anda begitu besar.
118
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Anda merasa diri Anda seperti Tuhan. Kapan saja Anda mau
Anda bisa membunuh di mana pun juga....”
Abraham Wilson melompat berdiri tegak. “Keparat!"
"Jangan!" Jennifer berdoa. Jangan!
"Duduk!" bentak Di Silva. "Dalam keadaan naik darah
seperti itukah Anda waktu Anda membunuh Raymond
Thorpe?"
"Thorpe telah mencoba membunuh saya”.
"Dengan ini?" Di Silva mengangkat pisau jagal dan tang.
"Saya yakin Anda bisa saja merampas pisau itu dari dia." Dia
mengangkat tangannya sambil memutar-mutarkan kedua
benda itu. "Dan Anda takut akan benda-benda ini?" Dia
berpaling lagi pada juri dan mengangkat tang itu untuk
memperlihatkannya. "Barang ini kelihatannya bukan benda
pembawa maut. Kalaupun korban mampu memukul kepala
Anda dengan ini, paling-paling hanya akan menyebabkan
benjol kecil. Apalah arti tang ini, Tuan Wilson?"
"Itu dipakai untuk menghantam kemaluan," kata Abraham
Wilson dengan suara halus.
Juri meninggalkan ruangan selama delapan jam.
Robert Di Silva dan para asistennya meninggalkan ruangan
untuk beristirahat, tetapi Jennifer tetap duduk di kursinya,
seolah-olah tak bisa melepaskan dirinya.
Setelah juri meninggalkan ruangan beriring-iringan, Ken
Bailey mendatangi Jennifer. "Mau minum kopi?"
"Aku tak bisa menelan apa-apa."
Jennifer tetap duduk di ruang sidang, dia takut bergerak,
dan hanya samar-samar saja dia menyadari orang-orang di
sekelilingnya. Semuanya berlalu sudah. Dia telah cukup
berusaha. Ditutupnya matanya dan mencoba berdoa, tetapi
rasa takutnya terlalu kuat. Dia merasa seolah-olah dia sendiri
119
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pun akan ikut dijatuhi hukuman mati bersama Abraham
Wilson.
Para juri beriring-iringan masuk kembali ke ruangan, wajah
mereka serius dan tak dapat dibaca. Hati Jennifer mulai
berdebar kencang. Dari wajah mereka, Jennifer dapat melihat
bahwa mereka akan menjatuhkan hukuman. Akan pingsan
rasanya dia. Gara-gara dia, seseorang akan dihukum mati.
Sebenarnya sejak semula dia harus menolak membela
perkara itu. Apa haknya untuk mempertaruhkan nyawa orang
dalam tangannya? Sungguh gila dia dulu menyangka bahwa
dia akan bisa menang melawan seseorang seperti Robert Di
Silva yang telah begitu berpengalaman. Ingin dia rasanya
berlari mendapatkan para juri, sebelum mereka sempat
mengatakan keputusan mereka dan berkata. ‘Tunggu! Sidang
perkara Abraham Wilson ini tak adil. Tolong carikan seorang
pengacara lain untuk membelanya. Seseorang yang lebih
pandai daripada saya’.
Tetapi itu sudah terlambat. Jennifer mencuri pandang ke
wajah Abraham Wilson. Dia duduk saja tanpa bergerak, sama
benar dengan patung. Kini dia tidak lagi merasakan kebencian
dari laki-laki itu, hanya putus asa. Ingin Jennifer mengatakan
sesuatu untuk menghiburnya, tetapi dia tak punya kata-kata.
"Apakah Dewan Juri sudah mengambil keputusan?" tanya
Hakim Waldman.
"Sudah, Yang Mulia."
Hakim mengangguk dan petugasnya berjalan ke arah ketua
dewan juri, menerima secarik kertas dari orang itu, lalu
menyampaikannya kepada hakim. Jennifer merasa seolah-olah
jantungnya akan melompat ke luar dari rongga dadanya. Dia
tidak bisa bernapas. Dia ingin menahan saat ini,
membekukannya untuk selamanya, sebelum keputusan itu
dibaca.
120
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hakim Waldman mempelajari kertas yang ada dalam
tangannya itu, lalu lambat-lambat dia melihat ke sekeliling
ruang sidang itu. Matanya tertuju pada para anggota juri,
pada Robert Di Silva, pada Jennifer, dan akhirnya pada
Abraham Wilson.
"Harap Tertuduh berdiri."
Abraham Wilson bangkit, geraknya lamban dan tampak
letih, seolah-olah semua tenaganya sudah diserap dari dirinya.
Hakim Waldman membaca kertas tadi. "Juri memutuskan
bahwa tertuduh Abraham Wilson tidak bersalah sebagaimana
yang dituduhkan."
Keadaan sunyi sepi sejenak, kemudian kata-kata
selanjutnya dari Hakim Waldman tenggelam dalam suara
gemuruh para hadirin. Jennifer berdiri, terpana, tak mampu
mempercayai apa yang didengarnya. Dia menoleh pada
Abraham Wilson tanpa bisa berkata apa-apa. Laki-laki itu
menatapnya sebentar dengan matanya yang kecil dan keji itu.
Kemudian terkembang senyum di wajah itu, senyum yang
paling lebar yang pernah dilihat Jennifer. Dia membungkuk
lalu merangkul Jennifer, dan Jennifer mencoba menahan air
matanya.
Para wartawan pun mengerumuni Jennifer, memintanya
memberikan pernyataan, memberondongnya dengan
pertanyaan.
"Bagaimana perasaan Anda setelah mengalahkan Pak
Jaksa?"
"Apakah Anda sudah punya perasaan bahwa Anda akan
menang?"
"Apa yang akan Anda lakukan bila mereka mengirim Wilson
ke kursi listrik?"
Jennifer menjawab setiap pertanyaan itu dengan
menggelengkan kepalanya. Dia tak dapat memaksakan dirinya
121
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk berbicara dengan mereka. Mereka telah datang kemari
untuk menonton suatu pertunjukan, melihat seseorang yang
dikejar-kejar ke arah kematiannya. Seandainya keputusan tadi
berbunyi sebaliknya... tak tahan dia membayangkan hal itu.
Jennifer mulai membenahi surat-suratnya lalu
memasukkannya ke dalam tas kantornya.
Seorang petugas pengadilan mendekatinya. "Hakim
Waldman ingin bertemu Anda di kamar kerja beliau, Nona
Parker."
Jennifer lupa bahwa ada tanya-jawab mengenai
penghinaan pengadilan, yang masih menunggu, tapi hal itu
tak penting. Satu-satunya hal yang berarti sekarang adalah
bahwa dia telah berhasil menyelamatkan nyawa Abraham
Wilson.
Jennifer memandang ke arah meja jaksa penuntut. Jaksa Di
Silva sedang menjejal-jejalkan kertas-kertas ke dalam sebuah
tas kantornya dengan geram, sambil memarahi salah seorang
asistennya. Dia menangkap pandangan Jennifer. Mata kedua
orang itu berpautan dan dia tidak memerlukan kata-kata.
Hakim Waldman sedang duduk di meja kerjanya waktu
Jennifer masuk. "Silakan duduk, Nona Parker," katanya
singkat.
Jennifer mengambil tempat. "Saya tidak akan membiarkan
Anda atau siapa pun juga, menjadikan ruang sidang saya
menjadi tempat tontonan."
Merah muka Jennifer. "Saya terselip lidah. Saya tak
sengaja....”
Hakim Waldman mengangkat tangannya. "Jangan
menyela."
Jennifer mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
122
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hakim Waldman duduk dengan membungkukkan tubuhnya.
"Ada satu hal lagi yang saya tak mau terjadi dalam ruang
sidang saya, yaitu kekurang ajaran."
Jennifer memperhatikannya dengan waspada tanpa berkata
apa-apa. "Anda telah melewati batas petang ini. Saya
menyadari bahwa semangat Anda yang berlebihan itu adalah
demi hidup seseorang. Oleh karenanya saya telah
memutuskan untuk tidak menuntut Anda karena penghinaan."
"Terima kasih, Yang Mulia." Jennifer harus memaksakan diri
untuk mengucapkan kata-kata itu.
Wajah hakim itu tak dapat ditafsirkan waktu dia
melanjutkan, "Hampir selamanya, bila sidang suatu perkara
usai, saya bisa menilai apakah keadilan sudah dilaksanakan
atau tidak. Pada saat ini, terus terang, saya tak yakin."
Jennifer menunggu kalau-kalau hakim itu akan
melanjutkan.
"Itu saja, Nona Parker."
Malam itu, baik dalam surat-surat kabar, maupun dalam
berita tv malam, kembali Jennifer Parker menjadi berita pokok,
tetapi kali ini dialah pahlawannya. Dialah yang disamakan
dengan tokoh David yang berhasil mengalahkan Goliath. Fotofoto dia, Abraham Wilson dan Jaksa Di Silva terpampang di
semua halaman depan. Jennifer dengan bernapsu melahap
setiap perkataan dari cerita-cerita itu dan menikmatinya.
Benar-benar merupakan kemenangan manis, setelah semua
pukulan yang telah dideritanya sebelum itu.
Ken Bailey mengajaknya makan malam di Restoran
Luchow, merayakan hal itu dan Jennifer dikenali oleh kepala
pelayan dan beberapa pengunjung yang lain. Orang-orang
yang tak dikenalnya memanggil namanya dan mengucapkan
selamat padanya. Sungguh suatu pengalaman yang
memabukkan.
123
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang diagungagungkan?" Ken menggoda dengan tertawa kecil.
"Aku merasa lumpuh."
Seseorang mengirim sebotol anggur ke meja mereka.
"Aku merasa tak perlu minum apa-apa," kala Jennifer. "Aku
sudah merasa mabuk."
Tetapi dia haus dan dia minum tiga gelas anggur sambil
bercakap-cakap tentang sidang itu kembali dengan Ken.
"Aku ketakutan sekali saat itu. Tahukah kau bagaimana
rasanya menggenggam nyawa manusia dalam tangan kita?
Rasanya seolah-olah kita berperan seperti Tuhan. Dapatkah
kaubayangkan sesuatu yang lebih menakutkan daripada itu?
Maksudku, aku ini hanya berasal dari Kelso... bisakah kita
memesan sebotol anggur lagi, Ken?"
"Apa saja yang kauingini."
Ken memesan makanan lengkap untuk mereka berdua,
tetapi perasaan Jennifer terlalu kacau untuk makan.
"Tahukah kau apa kata Abraham Wilson padaku waktu aku
menemuinya pertama kali? Katanya, ‘Mari sini kupeluk kau,
baru kita mendendangkan tentang kebencian bersama-sama.'
Ken, aku benar-benar merasa menyatu dengan dia saat itu,
dan tahukah kau? Aku merasa seolah-olah juri akan
menjatuhkan hukuman atas diriku. Aku merasa seolah-olah
akulah yang akan dihukum mati. Aku suka pada Abraham
Wilson. Bisakah aku minta anggur lagi?"
"Kau tak makan sedikit pun."
"Aku haus."
Sedang Jennifer mengisi dan mengosongkan gelasnya
terus, Ken memperhatikannya dengan kuatir. "Hati-hati
Jennifer."
124
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer melambaikan tangannya untuk menenangkan Ken.
"Ini kan anggur California. Rasanya seperti minum air biasa
saja." Dia meneguk lagi.
"Kau sahabatku yang terbaik. Tahukah kau siapa temanku
yang paling tak baik? Robert Di Silva yang Agung. Ya, Di
Silva."
"Di Silva."
"Dia pun begitu pula. Dia benci setengah mati padaku. Kau
— lihatkan wajahnya tadi itu? Aduh, betapa marahnya dia
padaku! Katanya dia ingin melemparkan aku ke luar dari ruang
sidang. Tapi dia tak berhasil, kan?"
"Tidak. Dia....”
"Tahukah kau apa yang sedang kupikirkan. Tahukah kau
apa sebenarnya yang kupikirkan?"
"Aku....”
"Di Silva menyamakan diriku dengan Ahab si pemburu ikan
paus putih, yang kemudian berhasil membuat pemburunya
pincang."
"Kurasa kau memang masih punya beberapa kekurangan."
"Terima kasih, Ken. Aku memang selalu bisa mengandalkan
kau. Minta sebotol anggur lagi, Ken."
"Tidakkah kau merasa sudah cukup banyak minum?"
"Bukankah ikan paus selalu haus?" kata Jennifer sambil
cekikikan. "Itulah aku. Si ikan paus putih yang besar.
Sudahkah kukatakan padamu bahwa aku suka pada Abraham
Wilson? Dialah laki-laki paling tampan yang pernah kutemui.
Aku melihat matanya, Ken, Sahabatku, dan dia benar-benar
cantik. Pernahkah kau melihat mata Di Silva? Aduuuh! Dingin
sekali! Dia itu gunung es. Tapi dia bukan orang jahat.
Sudahkah kukatakan perbandingan seperti Ahab dan ikan paus
putih?"
125
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sudah."
"Aku suka pada Ahab. Aku suka pada semua orang!
Tahukah kau mengapa Ken? Karena malam mi Abraham
Wilson masih hidup. Ya, dia masih hidup. Mari kita buka
sebotol anggur lagi untuk merayakannya...."
Pukul dua subuh baru Ken mengantar Jennifer pulang.
Dibantunya Jennifer menaiki tangga sampai ke tingkat empat
ke apartemennya yang kecil. Dia terengah karena harus naik
setinggi itu.
"Aku sudah mulai merasakan akibat buruk dari anggur
sebanyak itu," kata Ken.
Jennifer memandangnya dengan rasa iba. "Kalau tak biasa
jangan minum."
Lalu dia pingsan.
Dia terbangun oleh bunyi dering telepon yang nyaring.
Dengan berhati-hati dia menjangkau gagang telepon, dan
dengan gerakan yang seringan itu saja pun, setiap urat
ototnya serasa akan putus. “Halo...."
"Jennifer? Di sini Ken."
"Halo, Ken."
"Kedengarannya kau seperti tak beres. Kau tak apa-apa?"
Jennifer berpikir sebentar. "Aku memang merasa tidak
sehat. Jam berapa sekarang ya?"
"Sudah hampir tengah hari. Sebaiknya kau kemari. Kacau
sekali di sini."
"Ken.... aku rasanya mau mati."
"Dengarkan. Bangun dari tempat tidurmu — perlahan-lahan
— minum dua butir aspirin dan siramlah badanmu dengan air
dingin, kemudian minumlah secangkir kopi pahit, maka kau
barangkali masih bisa hidup lagi."
126
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu Jennifer tiba di kantornya sejam kemudian, dia
merasa lebih baik. Tidak baik benar, pikir Jennifer, tapi lebih
baik. Kedua buah telepon sedang berdering waktu dia
memasuki kantor.
"Telepon itu semua untukmu," kata Ken sambil tertawa
kecil. "Tak henti-hentinya sejak tadi pagi! Barangkali kau
memerlukan papan penghubung sendiri."
Telepon-telepon itu dari surat-surat kabar dan majalahmajalah nasional, dari stasiun-stasiun tv dan radio yang
semuanya menginginkan cerita tentang Jennifer secara
terperinci. Dalam waktu semalam saja, dia telah menjadi
berita besar. Adapula telepon-telepon lain, telepon yang telah
menjadi impiannya selama ini. Perusahaan-perusahaan
pengacara yang dulu menolaknya, kini meneleponnya
bertanya kapan Jennifer punya waktu untuk menemui mereka.
Di kantornya, di pusat kota, Robert Di Silva berteriak pada
asisten satunya. "Kau harus mengumpulkan semua beritaberita rahasia mengenai Jennifer Parker. Aku mau tahu semua
klien yang ditanganinya. Mengerti?"
"Mengerti, Pak."
"Jalankan!"
9
“Aku berani sumpah dia bukan orang penting lagi. Seumur
hidupnya dia selalu main senjata."
"Si tolol itu mendatangi aku, minta bantuanku untuk
membicarakan tentang dia pada Mike. Kataku, 'Hei, Kawan,
aku ini hanya serdadunya tahu?' Kalau Mike memang
memerlukan seorang penembak baru, dia tak perlu mencari ke
lorong-lorong gelap."
"Dia mau mempermainkan kau, Sal."
127
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, tapi kusikut saja dia. Dia tak punya hubungan apa-apa
dalam urusan ini, kalau tak punya hubungan apa-apa, tidak
akan ada artinya."
Mereka sedang bercakap-cakap dalam dapur sebuah rumah
pertanian bergaya Belanda yang sudah berumur tiga ratus
tahun, di Negara Bagian New Jersey.
Mereka bertiga dalam ruangan itu: Nick Vito, Joseph
Colella, dan Salvatore Fiore si 'Bunga Mungil'.
Nick Vito adalah seorang laki-laki berwajah seperti mayat,
yang berbibir tipis hingga hampir tak kelihatan, dan bermata
cekung, berwarna hijau, dan tak bercahaya. Dia mengenakan
sepatu yang berharga dua ratus dolar dan kaus kaki putih.
Josept Colella 'si Joe Besar' seorang laki-laki yang tinggi
besar, seperti tiang besar dari batu granit, dan bila dia
berjalan, tak ubahnya seperti sebuah bangunan yang
bergerak. Seseorang pernah menamakannya kebun sayuran.
'Colella punya hidung seperti kentang, telinga seperti bunga
kol, dan otak seperti kacang polong.'
Suara Colella tinggi melengking dan pembawaannya halus
menyesatkan. Dia mempunyai seekor kuda balap dan dia
punya perasaan tajam yang tak diragukan untuk
menentukan pemenang dalam balap kuda. Dia mempunyai
keluarga yang terdiri dari seorang istri dan enam orang anak.
Dialah dalam menangani pistol, menyiksa orang, dan
menggunakan rantai. Istri Joe, Carmelina, adalah seorang
Katolik yang taat, dan pada hari-hai minggu bila Colella tidak
sedang bekerja, dia selalu membawa keluarganya ke gereja.
Orang yang ketiga, Salvatore Fiore, hampir hampir seperti
orang katai. Tingginya hanya satu meter lima puluh tujuh
sentimeter, dan berat badannya enam puluh dua setengah
kilogram. Wajahnya polos bagai seorang putra altar, namun
cekatan pula dengan pistol maupun pisau. Kaum wanita
merasa tertarik pada laki-laki kecil itu, dan dia
128
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membanggakan bahwa kecuali mempunyai seorang istri, dia
mempunyai setengah lusin pacar dan seorang kekasih gelap
yang cantik. Fiore pernah menjadi joki, yang pernah mengikuti
balap kuda dari Pimlico sampai ke Tijuana. Waktu komisaris
balap di Hollywood Park menyingkirkan Fiore dengan
tuduhan telah memberikan obat perangsang pada kudanya,
tubuh komisaris itu didapati terapung di Danau Tahoe
seminggu kemudian.
Ketiga laki-laki itu adalah laskar dalam keluarga Antonio
Granelli, tetapi Michael Moretti-lah yang telah menerima
mereka bekerja dan mereka menjadl milik Michael Moretti lahir
batin.
Suatu pertemuan keluarga sedang berlangsung di ruang
makan. Di ujung meja duduk Antonio Granelli, pemimpin dari
keluarga mafia yang paling kuat di pantai sebelah timur.
Meskipun sudah berumur tujuh puluh dua tahun, dia masih
kelihatan kuat, berbahu lebar, dan dada bidang seperti
seorang buruh dan rambutnya tebal beruban. Antonio Granelli
yang lahir di Palermo, Sisilia, datang di Amerika waktu dia
berumur lima belas tahun dan bekerja di pelabuhan di
sebelah barat daerah Manhattan. Menjelang umur dua puluh
satu, dia menjadi tangan kanan kepala dok. Kedua orang itu
bertengkar, dan waktu bos-nya hilang secara misterius,
Antonio Granelli menggantikannya. Siapapun yang ingin
bekerja di dok harus membayarnya. Uangnya dipakainya
untuk memanjat mencapai kekuasaan, dan dia telah
memperluas kekuasaannya dengan cepat, meluas ke bidang
membungakan uang dan tipu daya lainnya, pelacuran dan
perjudian, juga obat-obat terlarang, sampai pada
pembunuhan. Selama tahun-tahun kegiatannya, tiga puluh
dua kali dia tertangkap, tetapi hanya satu kali dia dijatuhi
hukuman, itu pun atas tuduhan serangan kecil. Granelli adalah
orang yang tak kenal belas kasihan, cerdik dalam permainan
kotor yang rendah, dan benar-benar tak kenal moral.
129
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di sebelah kiri Granelli duduk Thomas Colfax, pengacara
keluarga besar itu. Dua puluh lima tahun lalu lalu, Colfax
adalah seorang pengacara perusahaan yang punya masa
depan yang gemilang. Tapi pada suatu hari dia membela
perkara sebuah perusahaan kecil minyak zaitun yang
kemudian ternyata dikendalikan oleh mafia, dan dengan
demikian, selangkah demi selangkah, dia pun terjebak untuk
menangani perkara-perkara lain untuk mafia, sampai akhirnya
dalam beberapa tahun keluarga besar Granelli menjadi klien
tunggalnya. Mereka itu merupakan klien yang sangat
menguntungkan dan Thomas Colfax lalu menjadi orang kaya,
yang menanamkan sahamnya dalam perusahaan-perusahaan
real estate, dan punya simpanan di bank-bank di seluruh
dunia.
Di sebelah kanan Granelli, duduklah Michafl Moretti,
menantunya. Michael sangat ambisius, suatu sifat yang
membuat Granelli kuatir. Michael tak cocok dalam pola
keluarga. Ayahnya, Giovanni seorang sepupu jauh Granelli,
tidak lahir di Sisilia melainkan di Florence. Itu saja sudah
membuat keluarga Moretti itu patut dicurigai — Sudah
menjadi rahasia umum bahwa orang-orang Florence tak bisa
dipercaya.
Giovanni Moretti datang ke Amerika dan membuka sebuah
toko sepatu yang dijalankan dengan jujur. Di toko itu bahkan
tak ada kamar belakang untuk perjudian, peminjaman uang
dengan bunga, atau pelacuran. Dia jadi dianggap bodoh.
Anak Giovanni, Michael, lain sekali. Dia bisa menamatkan
sekolahnya di Yale dan Sekolah Ekonomi Wharton School.
Setelah Michael menamatkan sekolahnya, dia mendatangi
ayahnya dengan satu permintaan: dia ingin menemui keluarga
jauhnya, Antonio Granelli. Tukang sepatu tua itu pergi
menemui sepupunya, dan diaturlah suatu pertemuan. Granelli
yakin bahwa Michael akan meminta pinjaman uang supaya dia
bisa membuat suatu perusahaan, mungkin sebuah toko seperti
130
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti ayahnya yang bodoh itu. Tapi pertemuan ini benarbenar merupakan suatu kejutan.
"Saya tahu jalan untuk membuat Anda kaya” begitulah
Michael Moretti membuka pembicaraannya.
Antonio Granelli memandang anak muda yang lancang itu
dengan terkejut, dan tersenyum dengan pengertian. "Aku
sudah kaya."
"Tidak. Anda hanya menyangka bahwa Anda kaya."
Senyum orang tua itu terhapus. "Bicara tentang apa. kau
ini, Anak kecil?"
Maka diceritakanlah oleh Michael Moretti.
Mula-mula Antonio Granelli melangkah dengan berhati-hati,
diuji cobanya dulu setiap petunjuk dari Michael. Ternyata
semuanya berhasil dengan gemilang. Kalau semula keluarga
Granelli terlibat dalam kegiatan-kegiatan tak sah yang
menguntungkan maka kini, di bawah pengawasan Michael
Moretti usahanya makin meluas. Dalam waktu lima tahun
keluarga besar itu sudah bergerak dalam belasan perusahaan
yang sah, termasuk pengemasan daging, pengadaan bahanbahan alat tidur, restoran-restoran, perusahaan-perusahaan
pengangkutan dan obat-obatan. Michael mencari perusahaanperusahaan yang sedang kembang-kempis yang memerlukan
bantuan keuangan. Maka masuklah keluarga besar itu sebagai
partner kecil dan sedikit demi sedikit mengambil alih
perusahaan itu, dengan menguras habis semua kekayaan
yang ada. Perusahaan-perusahaan tua yang tak bercacat, tibatiba jatuh bangkrut. Perusahaan-perusahaan yang
memperlihatkan keuntungan yang memuaskan tetap
dipertahankan oleh Michael, dan keuntungannya
diperbesarnya, karena para karyawan dalam perusahaanperusahaan itu dibawahi oleh satuan-satuannya. Yang
menangani asuransi perusahaan-perusahaan tersebut adalah
perusahaan asuransi milik keluarga, dan mereka harus
131
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membeli mobil mereka pada penjual-penjual mobil milik
keluarga. Michael menciptakan suatu kaitan kerja sama
raksasa, suatu rangkaian perusahaan yang terus-menerus
memeras nasabah — sedang susunya mengalir untuk
keluarga.
Dengan semua keberhasilannya itu, Michael Moretti tetap
menyadari bahwa dia punya masalah. Bila dia sudah
menunjukkan pada Antonio Granelli, jalan untuk mencapai
suatu perusahaan yang sah dan aman dan sangat
menguntungkan, maka Granelli akan melemparnya ke luar.
Penghasilannya besar, karena sejak semula dia sudah minta
pada Granelli untuk memberinya suatu persentase dari semua
penghasilan perusahaan, yang pada sangka orang, kecil
jumlahnya. Tetapi setelah gagasan-gagasan Michael mulai
memberikan hasil dan keuntungan-keuntungan mulai
mengalir, Granelli mulai berpikir lagi. Secara kebetulan,
Michael mendengar bahwa Granelli telah mengadakan rapat
untuk membahas apa yang harus dilakukan keluarga besar
terhadap dirinya.
"Aku tak suka semua uang itu mengalir pada anak itu,"
kata Granelli pada rapat itu. "Kita singkirkan saja dia."
Michael lalu membatalkan rencana itu dengan mengawini
salah seorang anggota keluarga itu. Rosa, putri tunggal
Antonio Granelli berumur sembilan belas tahun. Ibunya telah
meninggal waktu melahirkan dia. Rosa dibesarkan dalam
biara, dan hanya dalam masa libur dia diizinkan pulang.
Ayahnya memujanya, dan ayahnya itu berusaha supaya dia
selalu dilindungi. Pada suatu libur sekolah waktu Paskah, Rosa
bertemu dengan Michael Moretti. Dan dia kembali ke biara
dalam keadaan tergila-gila pada Michael. Bila dia sedang
seorang diri, dia selalu terbayang akan ketampanan laki-laki
yang berambut dan bermata hitam itu.
Antonio Granelli tetap menyangka bahwa putrinya itu
berpikir dia hanya seorang pengusaha biasa yang berhasil.
132
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi setelah bertahun-tahun, teman-teman sekelas Rosa
menunjukkan tulisan dalam surat-surat kabar dan majalahmajalah mengenai ayahnya dan usahanya yang sebenarnya.
Dan setiap kali pemerintah mencoba untuk menangkap dan
menghukum salah seorang anggota keluarga Granelli, Rosa
selalu tahu. Dia tak pernah membahasnya dengan ayahnya,
dan oleh karenanya orang tua itu selalu senang karena
menyangka bahwa putrinya tak tahu apa-apa, dan bahwa dia
tidak akan tahu yang sebenarnya.
Bila saja orang tua itu mengetahui yang sebenarnya, dia
pasti akan amat terkejut, karena Rosa menganggap
perusahaan-perusahaan ayahnya itu amat menarik dan
mendebarkan. Gadis itu membenci disiplin yang diterapkan
para biarawati dalam biara, dan kebencian itu membuatnya
jadi membenci semua yang berkuasa. Dia melamunkan
ayahnya sebagai seorang Robin Hood, yang melawan
kekuasaan dan menantang pemerintah. Dan karena Michael
Moretti adalah seseorang yang penting dalam organisasi
ayahnya, maka orang muda itu jadi bertambah menarik.
Sejak semula, Michael sangat berhati-hati dalam
menghadapi Rosa. Bila dia berhasil berduaan saja dengan
gadis itu, mereka berciuman dan bermesraan dengan hangat,
tetapi Michael tak pernah mau berbuat lebih jauh dari itu.
Rosa masih hijau, dan dia mau — bahkan ingin sekali —
menyerahkan dirinya pada laki-laki yang dicintainya itu. Tetapi
Michael mencegahnya.
"Aku terlalu menaruh hormat padamu, Rosa, jadi aku tak
mau menidurimu sebelum kita menikah."
Sebenarnya Antonio Granelli-lah yang terlalu dihormatinya.
Salah-salah bisa dipenggalnya kepalaku, pikir Michael.
Maka pada saat Antonio Granelli sedang membahas cara
yang terbaik untuk menyingkirkan Michael Moretti, Michael
dan Rosa datang padanya dan memberitahukan bahwa
mereka saling mencintai dan ingin menikah. Laki-laki tua itu
133
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berteriak dan mengamuk serta memberikan seribu satu alasan
bahwa hal itu tak mungkin dilakukan. Namun akhirnya, cinta
sejati jugalah yang menang dan Michael dan Rosa dinikahkan
dengan upacara besar-besaran.
Setelah pesta perkawinan, orang tua itu memanggil
Michael. "Rosa adalah milikku satu-satunya, Mike. Jagalah dia
baik-baik."
"Akan kujaga dia, Tony."
"Kau akan kuawasi benar-benar. Sebaiknya kaubahagiakan
dia. Kau tahu apa maksudku bukan, Mike?"
"Aku tahu apa maksudmu."
"Jangan main pelacur atau punya kekasih gelap. Mengerti?
Rosa suka memasak. Jadi usahakan supaya kau pulang makan
setiap malam. Kau harus menjadi menantu yang dapat
dibanggakan."
"Aku akan berusaha keras sekali, Tony."
"Oh, omong-omong, Mike," kata Granelli lagi, "karena kau
sekarang sudah menjadi seorang anggota keluarga, perjanjian
komisi yang selama ini kuberikan tentu harus kita ubah."
Michael menepuk lengan orang tua itu. "Terima kasih,
Papa, tapi itu sudah cukup untuk kami. Aku akan bisa
membelikan Rosa apa saja yang diingininya."
Michael pergi, dan orang tua itu menatapnya dari belakang.
Itu terjadi tujuh tahun yang lalu, dan tahun-tahun
berikutnya amat menyenangkan Michael. Rosa adalah teman
hidup yang menyenangkan dan tak rewel, dan wanita itu
memujanya — namun Michael tahu bahwa bila istrinya itu
meninggal atau pergi meninggalkannya, dia akan bisa hidup
terus tanpa wanita itu. Dengan mudah dia akan menemukan
orang lain untuk melakukan apa-apa yang dilakukan Rosa
untuknya. Cintanya pada Rosa tidak mendalam. Michael juga
134
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa bahwa dia tidak akan bisa mencintai manusia lain.
Rasanya ada sesuatu yang kurang pada dirinya.
Dia tak punya perasaan terhadap manusia, yang ada hanya
terhadap binatang. Pada ulang tahunnya yang kesepuluh,
Michael diberi seekor anak anjing. Mereka berdua jadi tak
terpisahkan. Enam minggu setelah itu, anjing itu mati dalam
suatu kecelakaan tabrak lari, dan waktu ayahnya menawarkan
untuk membelikannya seekor anjing lagi, anak itu menolak.
Sejak itu dia tak pernah memiliki anjing lagi.
Michael tumbuh dan memperhatikan ayahnya yang bekerja
mati-matian untuk mendapatkan uang sedikit, dan Michael lalu
memutuskan bahwa hal itu tidak akan terjadi atas dirinya.
Sejak pertama kali dia mendengar orang berkata tentang
Antonio Granelli, saudara sepupu jauh ayahnya yang terkenal
itu, dia sudah tahu apa yang diingininya. Di Amerika Serikat
ada dua puluh enam keluarga mafia, lima diantaranya di New
York City, dan keluarga yang dipimpin oleh Antonio
saudaranya itu, adalah yang terkuat. Sejak masa kecilnya,
Michael suka sekali mengikuti kisah-kisah tentang mafia.
Ayahnya menceritakan padanya tentang kejadian pada suatu
malam mengenai kaum Vesper di Sisilia, yaitu pada tanggal
sepuluh September seribu sembilan ratus tiga puluh satu.
Malam itu kekuasaan beralih tangan. Dalam satu malam itu
saja, suatu kelompok dalam mafia yang menamakan dirinya
the Young Turks telah melakukan perebutan kekuasaan yang
berdarah, di mana lebih dari empat puluh orang dari kelompok
Mustache Petes tersapu habis. Mereka itu adalah pengawal
tua yang datang dari Italia dan Sisilia.
Michael adalah dari generasi baru. Dia telah menghapuskan
pikiran-pikiran tua dan telah membawakan gagasan-gagasan
baru. Suatu badan yang terdiri dari sembilan orang
mengendalikan keluarga itu sekarang, dan Michael yakin
bahwa pada suatu hari dialah yang akan memimpin badan itu.
135
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini Michael memperhatikan kedua laki-laki yang duduk
bersamanya, di meja makan di rumah pertanian New Jersey
itu. Antonio Granelli tinggal beberapa tahun lagi umurnya,
untung-untung tidak terlalu lama lagi.
Thomas Colfax-lah yang merupakan musuhnya sekarang.
Sejak semula pengacara itu sudah tidak suka padanya.
Dengan bertambahnya pengaruh Michael atas diri orang tua
itu, pengaruh Colfax makin berkurang.
Michael makin banyak memasukkan anak buahnya sendiri
ke dalam organisasi. Orang-orang seperti Nick Vito, Salvatore
Fiore, dan Joseph Colella yang setia mati-matian padanya.
Thomas Colfax tidak menyukai hal itu.
Waktu Michael tertangkap karena pembunuhan atas diri
Ramos bersaudara, dan Camilo Stella bersedia menjadi saksi
yang memberatkannya dalam sidang pengadilan, pengacara
itu berharap supaya akhirnya dia akan bisa menyingkirkan
Michael, karena jaksa telah mempersiapkan perlawanan yang
hebat sekali.
Michael mencari jalan ke luar tengah malam. Pukul empat
subuh dia keluar ke tempat telepon umum dan menelepon
Joseph Colella.
"Minggu depan ada beberapa pengacara baru yang akan
disumpah menjadi staf Jaksa. Bisakah kau mencarikan namanama mereka?"
"Tentu, Mike. Gampang."
"Satu hal lagi. Teleponlah ke Detroit, suruh orang-orang
kita di sana menerbangkan salah seorang anak buahnya —
salah seorang yang tak pernah tertangkap." Kemudian Michael
menggantungkan gagang telepon.
Dua minggu kemudian, Michael Moretti duduk di ruang
sidang, memperhatikan para asisten jaksa yang baru.
Diperhatikannya mereka itu dengan cermat, matanya beralih
136
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari satu wajah ke wajah yang lain, mencari dan menilai. Apa
yang direncanakannya memang berbahaya, tetapi amat berani
dan bisa membawa hasil. Dia berurusan dengan pemulapemula muda yang masih akan terlalu gugup hingga tidak
akan bertanya banyak. Mereka tentu ingin sekali membantu
dan ingin sekali menonjolkan diri. Yah, pokoknya seorang di
antaranya akan menonjol.
Michael akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Jennifer
Parker. Dia memilihnya karena melihat bahwa gadis itu belum
berpengalaman serta tegang, tetapi berusaha untuk
menyembunyikannya. Michael memilihnya karena dia adalah
wanita, dan wanita lebih mudah merasa tertekan daripada
pria. Setelah Michael merasa yakin akan pilihannya, dia
menoleh pada seorang laki-laki yang bersetelan abu-abu yang
duduk di antara para penonton, lalu mengangguk ke arah
Jennifer. Hanya itu saja.
Michael memperhatikan waktu jaksa selesai menanyai si
keparat Camilo Stella. Jaksa itu berpaling pada Thomas Colfax
dan berkata, Silakan menanyai saksi. Thomas Colfax bangkit.
Jika berkenan, Yang Mulia, sekarang sudah hampir tengah
hari. Saya lebih suka kalau tanya-jawab saya tidak terganggu.
Bolehkah saya mohon agar sidang diistirahatkan untuk makan
siang sekarang dan saya akan mengadakan tanya-jawab saya
nanti petang.
Dan Hakim menyatakan penundaan sidang. Kinilah saatnya!
Michael melihat anak buahnya berjalan dengan santai
menggabungkan diri dengan orang-orang yang sedang
mengelilingi jaksa. Laki-laki tadi menyatu dengan kumpulan
orang-orang itu. Beberapa saat kemudian dia berjalan ke arah
Jennifer dan memberikan sebuah amplop besar. Michael tetap
duduk saja sambil menahan napasnya, memperhatikan apakah
Jennifer mau menerima amplop itu. Ternyata menerimanya
dan berjalan ke arah tempat saksi. Setelah gadis itu kembali
tanpa amplop itu, barulah Michael Moretti lega.
137
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Itu terjadi setahun yang lalu. Sejak itu surat-surat kabar
telah menyalib gadis itu, tetapi itu adalah masalah gadis itu
sendiri. Michael tidak lagi menaruh perhatian pada Jennifer
Parker, sampai baru-baru ini surat-surat kabar mulai lagi
memberitakan tentang sidang Abraham Wilson. Surat-surat
kabar itu telah mengungkit-ungkit kembali sidang perkara
Michael Moretti dulu itu, dan peran Jennifer Parker dalam
perkara itu. Mereka memuat foto gadis itu. Gadis itu menarik,
namun ada sesuatu yang lebih penting — tampak suatu
kesadaran kebebasan pada dirinya dan hal itu menggelitik hati
Michael. Lama dia mengamat-amati foto itu.
Michael mulai mengikuti sidang Abraham Wilson dengan
perhatian yang makin besar. Waktu anak buahnya merayakan
pesta kemenangan setelah sidang perkara Michael dinyatakan
batal, Salvatore Fiore mengangkat gelasnya dan berkata,
"Dunia telah menyingkirkan seorang pengacara lagi."
Tetapi ternyata dunia tidak lagi menyingkirkan gadis ini,
pikir Michael. Jennifer telah bangkit kembali dan masih tetap
ada serta berjuang. Michael suka akan hal itu.
Dilihatnya gadis itu di layar tv semalam, membahas
kemenangannya atas Robert Di Silva, dan anehnya, Michael
merasa ikut senang.
Waktu menonton itu, Antonio Granelli bertanya, "Bukankah
dia yang kauperalat dulu itu, Mike?"
"Ya. Dia cerdas, bukan? Mungkin kita bisa memakainya
kelak."
10
Sehari setelah keputusan terhadap Abraham Wilson, Adam
Warner menelepon. "Aku menelepon hanya akan
mengucapkan selamat."
138
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer langsung mengenali suaranya; dia tak menyangka
bahwa hatinya akan bisa begitu tergetar.
"Di sini....”
"Aku sudah tahu." Ya Tuhan, pikir Jennifer, Mengapa
kukatakan? Adam tak perlu tahu betapa seringnya dia
memikirkannya beberapa bulan terakhir ini.
"Aku ingin menyatakan pendapatku bahwa kau telah
menangani perkara Abraham Wilson itu dengan hebat sekali.
Kau memang pantas menang."
"Terima kasih." Dia akan segera mengakhiri
pembicaraannya, pikir Jennifer. Aku tidak akan pernah
bertemu dengan dia lagi. Dia mungkin terlalu sibuk dengan
kumpulan gadis-gadisnya.
Padahal Adam Warner berkata lagi, "Apakah kau kira-kira
mau makan malam denganku kapan-kapan?"
"Bagaimana kalau malam ini?" Ah, laki-laki tak suka gadisgadis yang terlalu berhasrat begitu, tegurnya pada dirinya
sendiri.
Jennifer mendengar nada senyum dalam suara Adam waktu
dia berkata, "Sayang sekali, tapi Jumat malam nanti aku baru
akan bebas. Apakah kau akan sibuk?"
"Tidak." Hampir saja dia berkata, Tentu saja tidak.
"Apakah akan kujemput kau?"
Jennifer ingat akan apartemennya yang kecil dan suram,
dengan sofa yang pernya berbenjol-benjol dan meja seterika
di sudut kamar. "Akan lebih mudah bila kita bertemu di suatu
tempat."
"Apakah kau suka makanan di Lutece?"
"Bolehkah aku menilainya setelah kita makan di sana?"
Adam tertawa. "Bagaimana kalau jam delapan?"
139
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, jam delapan."
Alangkah senangnya. Jennifer meletakkan kembali gagang
telepon dan duduk dengan perasaan seolah-olah berada
dalam bara kesenangan. Aneh sekali, pikirnya. Mungkin dia
sudah menikah dan punya anak dua lusin. Yang dilihat
Jennifer pertama-tama kali tentang Adam waktu mereka
makan malam bersama dulu itu, adalah bahwa dia tidak
memakai cincin kawin. Kenyataan yang belum bisa
memberikan kesimpulan, pikir Jennifer kesal. Seharusnya ada
undang-undang yang mengharuskan para suami memakai
cincin kawin.
Ken Bailey memasuki kantor. "Bagaimana pembela top
kita?" Dia melihat ke Jennifer dengan lebih teliti lagi. "Kau
kelihatan seolah-olah baru saja menelan seorang klien."
Jennifer ragu sebentar, lalu berkata, "Ken, maukah kau
menolongku menyelidiki seseorang?"
Ken berjalan ke meja tulis Jennifer, mengambil sebuah
buku notes dan pensil. "Katakan siapa dia?"
Jennifer sudah akan menyebutkan nama Adam, lalu
berhenti, dan merasa dirinya goblok. Apa urusannya mau
mengorek-ngorek kehidupan pribadi Adam Warner? Demi
Tuhan, pikirnya, dia hanya mengajakmu makan malam saja,
bukan akan mengajakmu kawin. "Sudahlah."
Ken meletakkan pensil kembali. "Terserah."
"Ken...."
"Ya?"
"Adam Warner. Namanya Adam Warner."
Ken memandanginya dengan terkejut. "Aduh, kau tak perlu
menyuruhku menyelidiki dia. Baca saja surat-surat kabar."
"Apa yang kauketahui tentang dia?"
140
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ken Bailey menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi di
seberang Jennifer dan mempertautkan jari-jarinya. "Coba ya.
Dia adalah patner dalam perusahaan pengacara Needham,
Finch, dan Warner; tamatan fakultas hukum di Harvard;
berasal dari keluarga kaya dan banyak dikenal masyarakat;
berumur pertengahan tiga puluhan —"
Jennifer memandangnya dengan keheranan. "Bagaimana
kau bisa tahu sebanyak itu tentang dia?"
Ken mengedipkan matanya. "Aku punya banyak teman di
kalangan tinggi. Ada desas-desus orang akan menyuruhnya
mencalonkan diri untuk keanggotaan Senat Amerika Serikat.
Katanya bahkan ada kemungkinan untuk kedudukan presiden.
Dia punya apa yang disebut kharisma."
Jelas punya, pikir Jennifer. Dia mencoba berkata dengan
nada ringan. "Bagaimana dengan kehidupan pribadinya?"
Ken Bailey memandanginya dengan pandangan aneh. "Dia
menikah dengan putri seorang bekas sekretaris Angkatan
Laut. Wanita itu adalah keponakan Needham, patner Warner
dalam perusahaannya."
Hati Jennifer serasa membeku. Jadi begitulah.
Ken masih memperhatikannya, keheranan. "Mengapa kau
tiba-tiba menaruh perhatian pada Adam Warner?"
"Hanya mau tahu saja."
Lama setelah Ken Bailey pergi, Jennifer masih saja duduk,
memikirkan Adam Warner. Dia mengajakku makan malam
sekedar basa-basi dalam satu profesi. Dia hanya ingin
memberi selamat padaku. Tapi dia sudah mengucapkan
selamatnya melalui telepon tadi. Masa bodoh. Pokoknya aku
akan bertemu lagi dengan dia. Apakah dia akan ingat
mengatakan bahwa dia punya istri. Tentu saja tidak. Yah, aku
akan makan malam bersama Adam malam Sabtu nanti, dan
itu akan merupakan akhir dari segala-galanya.
141
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Senja hari itu Jennifer menerima telepon dari Peabody and
Peabody. Tuan Peabody Senior sendiri yang berbicara.
"Sudah beberapa lama saya ingin membicarakan hal ini,"
katanya. "Saya ingin makan siang bersama Anda, sekali
waktu."
Jennifer tahu bahwa orang tua itu punya maksud tertentu,
meskipun bicaranya santai. Jennifer yakin pula bahwa
keinginannya untuk makan siang bersamanya itu baru timbul
setelah dia membaca tentang hasil perkara Abraham Wilson.
Orang tua itu ingin bertemu dengannya, pasti bukan untuk
membicarakan tentang tugas menyampaikan surat-surat
panggilan ke pengadilan lagi.
"Bagaimana kalau besok?" usul pria itu. "Di klub saya."
Besok harinya mereka bertemu untuk makan siang. Pak
Tua Peabody adalah seorang laki-laki kurus yang pucat,
serupa benar dengan putranya. Vest-nya tak berhasil
menyembunyikan perutnya yang agak gendut. Jennifer tak
suka pada laki-laki itu, seperti juga dia tidak menyukai
putranya.
"Di kantor kami ada lowongan untuk seorang pengacara
muda yang cerdas, Nona Parker. Kami bisa menawarkan lima
belas ribu dolar setahun sebagai permulaan."
Jennifer mendengarkan orang tua itu, sambil berpikir
betapa besarnya arti tawaran itu baginya setahun yang lalu,
waktu dia mati-matian membutuhkan mata pencaharian,
memerlukan seseorang yang mempercayainya.
"Saya yakin bahwa beberapa tahun lagi Anda bahkan akan
bisa menjadi partner dalam perusahaan kami."
Lima belas ribu dolar dan kemungkinan untuk menjadi
patner. Jennifer membayangkan kantor kecil yang
ditempatinya bersama Ken, dan apartemennya yang kecil,
142
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang usang, yang terlalu tinggi di tingkat empat, dengan alat
pemanas tiruan.
Karena Jennifer diam, Tuan Peabody menyangka bahwa itu
adalah pertanda dia setuju. "Bagus. Kami ingin Anda mulai
secepat mungkin. Saya rasa Anda bisa mulai hari Senin.
Saya....”
"Tidak."
"Yah, kalau belum bisa hari Senin....”
"Maksud saya, tidak, saya tidak bisa menerima tawaran
Anda, Tuan Peabody," kata Jennifer, dan dia merasa heran
sendiri.
"Saya mengerti." Orang tua itu berhenti sebentar. "Mungkin
kami bisa mulai dengan memberi Anda dua puluh ribu dolar
setahun." Dia melihat air muka Jennifer. "Atau dua puluh lima
ribu. Sebaiknya Anda pikirkan dulu."
"Saya sudah memikirkannya. Saya akan tetap berusaha
sendiri."
Klien-klien mulai berdatangan. Tidak banyak benar dan
tidak lancar sekali, namun ada klien. Kantor itu sudah mulai
terasa terlalu kecil untuk Jennifer.
Pada suatu pagi, setelah Jennifer terpaksa membiarkan dua
orang klien menunggu di luar dalam gang, karena dia sedang
berbicara dengan seorang klien lain, Ken berkata, "Tak bisa
terus-menerus begini. Kau harus keluar dari sini dan mencari
kantor sendiri di tengah kota."
Jennifer mengangguk. "Aku tahu. Aku pun sudah
memikirkannya juga."
Ken menyibukkan dirinya dengan beberapa surat-surat
supaya dia tak perlu bertemu pandang dengan Jennifer. "Aku
akan kehilangan kau."
"Bicara tentang apa kau itu? Kau tentu harus ikut aku."
143
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa saat lamanya kata-kata itu baru terserap olehnya.
Ken mengangkat mukanya dan wajahnya yang berbintik-bintik
itu berkerut karena dia tertawa lebar.
"Ikut kau?" Lalu dia memandang ke seluruh pelosok kamar
sempit yang tak berjendela itu. "Meninggalkan ini semua?"
Minggu berikutnya, Jennifer dan Ken Bailey pindah ke
sebuah kantor yang lebih besar di blok lima ratus, Fifth
Avenue. Tempat itu berperabot sederhana, dan terdiri dari tiga
kamar kecil: sebuah untuk Jennifer, sebuah untuk Ken, dan
sebuah lagi untuk seorang sekretaris.
Sekretaris yang mereka terima adalah seorang gadis
remaja, bernama Cynthia Ellman, baru saja tamat dari New
York University.
Untuk sementara, tidak akan banyak pekerjaan untukmu,"
kata Jennifer meminta pengertiannya, "tapi kita akan maju
perlahan-lahan."
"Oh, saya yakin, Nona Parker." Suaranya mengandung
nada pemujaan terhadap seorang pahlawan.
Dia ingin seperti aku, pikir Jennifer. Dijauhkan Tuhan
hendaknya hal itu!
Ken Bailey masuk dan berkata, "Hei, aku jadi kesepian
dalam kamar kerja sebesar itu seorang diri. Mari kita makan
malam dan nonton nanti malam."
"Aku rasanya...." Jennifer merasa letih dan dia masih harus
membaca beberapa catatan, tetapi Ken adalah sahabatnya
yang terbaik dan dia tak dapat menolaknya.
"Senang sekali."
Mereka nonton film yang berjudul Applaus, dan Jennifer
amat menyukainya. Lauren Bacall benar-benar memikat.
Setelah nonton, Jennifer makan di Restoran Sardi.
144
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah mereka memesan makanan, Ken berkata, "Aku
punya dua karcis untuk pertunjukan balet malam Sabtu nanti."
Kupikir sebaiknya kita...."
"Maaf, Ken. Aku sibuk malam Sabtu," kata Jennifer.
"Oh." Suaranya terdengar hambar sekali.
Sekali-sekali Jennifer mendapatkan Ken menatapinya bila
dia menyangka tak seorang pun melihatnya, dan Jennifer
merasa sulit untuk menafsirkan air muka Ken. Dia tahu bahwa
Ken kesepian, meskipun Ken tidak pernah berbicara tentang
teman-temannya dan tak pernah berkata-kata tentang hidup
pribadinya. Jennifer tak bisa lupa akan apa yang pernah
diceritakan Otto padanya, dan dia ingin tahu apakah Ken
sendiri tahu apa yang diharapkannya dari hidup ini. Dia ingin
sekali mendapatkan jalan untuk membantu Ken.
Jennifer merasa seolah-olah hari Jumat tak kunjung tiba.
Dengan makin mendekatnya janji makan malamnya bersama
Adam Warner, Jennifer merasa bertambah sulit untuk
memusatkan perhatiannya pada segala urusannya. Dia terusmenerus memikirkan Adam. Dia tahu dia bodoh. Baru sekali
dalam hidupnya dia bertemu dengan laki-laki itu, namun dia
tak dapat menghilangkannya dari pikirannya. Jennifer
mencoba berpikiran sehat dengan mengatakan pada dirinya
sendiri bahwa itu semua adalah karena laki-laki itu telah
menyelamatkannya waktu dia sedang menghadapi
kemungkinan-kemungkinan haknya dicabut, kemudian
mendatangkan klien-klien baginya. Itu memang benar, tetapi
Jennifer tahu bahwa soalnya lebih dari itu. Itu adalah sesuatu
yang tak dapat dijelaskannya, bahkan tidak pada dirinya
sendiri. Perasaan itu tak pernah dialaminya, rasa tertarik yang
tak pernah dialaminya terhadap laki-laki mana pun juga. Dia
ingin tahu bagaimana istri Adam. Dia pasti salah seorang
wanita terpilih, yang setiap hari Rabu memasuki pintu merah
di Toko Elizabeth Arden untuk mempercantik dirinya, dari
ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Kulitnya pasti mulus
145
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan penampilannya jauh dari sederhana, dengan keanggunan
seorang wanita terkenal yang kaya.
Pada pagi hari Jumat yang dirasanya hari ajaib itu, pukul
sepuluh, Jennifer membuat janji dengan sebuah toko penata
rambut baru dari Italia, yang menurut kata Cynthia selalu
didatangi oleh para foto model. Pukul setengah sebelas
Jennifer membatalkannya. Pukul sebelas dia membaharui janji
itu.
Ken Bailey mengajak Jennifer makan siang, tetapi dia
terlalu gugup hingga tak bisa makan apa-apa. Dia lalu pergi
berbelanja di Toko Bendel, di mana dia membeli baju sifon
pendek berwarna hijau tua, sewarna dengan matanya,
sepasang sepatu coklat, dan dompet yang warnanya senada.
Dia tahu bahwa dia telah berbelanja terlalu banyak, jauh
melebihi kemampuannya, tetapi dia rasanya tak dapat
mengekang dirinya.
Dia melewati bagian yang menjual parfum waktu dia akan
keluar, dan dengan keinginan yang gila-gilaan, yang tiba-tiba
datangnya, dibelinya sebotol parfum Joy. Benar-benar gila,
karena laki-laki itu sudah menikah.
Pukul lima Jennifer pulang untuk berganti pakaian. Dia
menghabiskan waktu dua jam untuk mandi dan berdandan
untuk Adam, dan setelah selesai diperhatikannya dirinya baikbaik di cermin. Kemudian dia merusak rambutnya yang sudah
ditata begitu rapi, lalu diikatnya saja ke belakang dengan pita
hijau. Begini lebih baik, pikirnya. Aku seorang ahli hukum yang
akan pergi makan malam bersama seorang ahli hukum lain.
Tetapi waktu pintu rumahnya ditutupnya, dalam ruangan itu
masih tertinggal bau harum mawar dan melati.
Restoran Lutece jauh dari yang diharapkan Jennifer.
Bendera kebangsaan Prancis berkibar di atas jalan masuk
rumah kecil itu. Di dalamnya, sebuah gang sempit menuju ke
sebuah bar kecil dan lebih jauh lagi terdapat sebuah ruangan
terbuka yang cerah dan ceria, dengan kursi rotan untuk teras
146
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan alas meja berkotak-kotak. Jennifer disambut di pintu oleh
pemiliknya, Andre Soltner.
"Dapatkah saya membantu Anda?"
"Saya ada janji untuk bertemu dengan Tuan Adam Warner.
Saya rasa saya telah datang terlalu awal."
Laki-laki itu menunjuk ke bar kecil. "Barangkali Anda ingin
minum sementara menunggu, Nona Parker?"
"Menyenangkan sekali," kata Jennifer. "Terima kasih."
"Akan saya suruh orang melayani Anda."
Jennifer mengambil tempat duduk, dan dengan senang
memperhatikan para wanita yang penuh dengan perhiasan
dan memakai mantel bulu binatang, yang berdatangan
bersama pengiring mereka. Jennifer sudah pernah mendengar
dan membaca tentang Lutece. Tempat itu dikenal sebagai
restoran yang paling disukai oleh Jacqueline Kennedy dan
makanannya enak sekali.
Seorang laki-laki beruban dan kelihatannya sebagai orang
terkemuka, mendatangi Jennifer dan berkata, "Tidak
keberatan kan kalau saya menyertai Anda sebentar?"
Jennifer menjadi tegang. "Saya sedang menunggu
seseorang," katanya. "Sebentar lagi dia...."
Laki-laki itu tersenyum lalu duduk. "Saya bukan akan
menyerobot, Nona Parker."
Jennifer memandangnya dengan heran, dia tak berhasil
mengingat-ingat siapa orang itu.
"Saya Lee Browning, dari kantor Holland and Browning."
Kantor itu adalah salah satu perusahaan pengacara yang
punya nama baik di New York. "Saya hanya akan
mengucapkan selamat pada Anda atas keberhasilan Anda
pada sidang Wilson."
147
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih, Tuan Browning."
"Anda benar-benar berani mengadu untung. Perkara itu
sebenarnya tak punya harapan menang." Laki-laki itu
memperhatikan Jennifer sebentar. "Biasanya, bila kita berada
di pihak yang bersalah dalam suatu perkara yang tak bisa
dibela lagi, kita harus berusaha supaya tidak disebarluaskan.
Rahasia pers adalah: menyanjung yang menang, sedang yang
kalah ditendang. Anda telah mengecoh kami semua. Sudahkah
Anda memesan minuman?"
"Belum."
"Bolehkah saya...." Dia memanggil seorang pelayan.
"Victor, tolong bawakan kami sebotol sampanye, merek Dom
Perignon."
"Baik, Tuan Browning."
Jennifer tersenyum. "Apakah Anda sedang mencoba
mempengaruhi saya?"
Laki-laki itu tertawa terbahak. "Saya akan berusaha untuk
menawari Anda pekerjaan. Saya rasa Anda sudah banyak
mendapat tawaran, ya?"
"Ada beberapa."
"Perusahaan kami terutama menangani perkara-perkara
yang berhubungan dengan perusahaan, Nona Parker, tetapi
beberapa di antara klien kami yang terkemuka, kadangkadang tergelincir juga dan memerlukan seorang pembela
kriminal. Saya rasa kami bisa menawarkan gaji permulaan
yang menarik. Maukah Anda mampir ke kantor saya untuk
membicarakannya?"
"Terima kasih, Tuan Browning. Saya merasa mendapat
kehormatan, tapi saya baru saja pindah ke kantor saya yang
baru. Saya berharap kantor saya itu akan maju."
Lama laki-laki itu memandanginya. "Pasti akan maju".
148
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia mengangkat matanya waktu seseorang mendekat, lalu
bangkit dan mengulurkan tangannya. "Adam, apa kabar?"
Jennifer mendongak melihat Adam Warner, yang sedang
bersalaman dengan Lee Browning. Jantung Jennifer mulai
berdebar keras dan dia merasa wajahnya memanas. ‘Gila, aku
jadi seperti gadis ingusan'.
Adam Warner melihat pada Jennifer dan Browning lalu
berkata, "Sudah saling mengenal rupanya kalian berdua?"
"Kami baru saja akan saling lebih mengenali," kata Lee
Browning seenaknya. "Kau tiba agak terlalu cepat."
"Atau tepat pada waktunya." Adam menggandeng tangan
Jennifer. "Mudah-mudahan lain kali kau lebih beruntung, Lee."
Kepala pelayan mendatangi mereka. "Apakah Anda akan
menempati meja Anda sekarang, Tuan Warner, atau apakah
Anda ingin minum di bar dulu?"
"Kami akan langsung ke meja kami, Henri."
Setelah mereka duduk, Jennifer melihat ke sekeliling
ruangan itu dan mengenali beberapa orang yang terkenal.
"Tempat ini rasanya seperti ruang Apa dan Siapa dalam
sebuah majalah saja," katanya.
"Sekarang memang begitu," kata Adam sambil
memandanginya.
Jennifer merasa wajahnya memanas lagi. Hentikan, Goblok.
Dia membayangkan berapa banyak gadis yang telah diajak
Adam Warner kemari, sedang istrinya duduk menunggunya di
rumah. Dia berpikir apakah mereka itu tahu bahwa laki-laki itu
sudah menikah, atau apakah laki-laki itu selalu berhasil
merahasiakannya dari mereka. Yah, Jennifer merasa dirinya
lebih beruntung. Kau akan terkejut, Tuan Warner, pikir
Jennifer.
149
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka memesan makanan dan minuman, dan asyik
membicarakan soal tetek-bengek. Jennifer lebih sering
membiarkan Adam yang berbicara. Laki-laki itu pandai
bercanda dan menarik, tetapi Jennifer merasa tertarik bukan
karena itu. Hal itu tak mudah. Dia tersenyum mendengar
lelucon-leluconnya, dan menertawakan kisah-kisahnya.
Itu semuanya tak ada gunanya baginya, pikir Jennifer
sendiri. Dia tak ingin menggoda. Ingatan akan ibunya tetap
menghantuinya. Dia menyimpan suatu perasaan mendalam
yang tak berani dicarinya sendiri, takut pula untuk
melepaskannya.
Mereka sedang makan makanan penutup dan Adam belum
juga mengucapkan sepatah kata pun yang bisa disalah
tafsirkan. Jennifer telah membangun pertahanannya sia-sia,
membendung serangan yang tak pernah menjadi kenyataan,
dan dia merasa dirinya bodoh. Dia ingin tahu apa gerangan
yang akan dikatakan Adam bila dia tahu apa yang dipikirkan
Jennifer sepanjang malam. Jennifer tersenyum memikirkan
kegenitannya sendiri.
"Aku belum saja mendapatkan kesempatan untuk
mengucapkan terima kasih untuk klien-klien yang kaukirimkan
padaku," kata Jennifer. "Aku meneleponmu beberapa kali,
tapi...."
"Aku tahu." Adam ragu-ragu, lalu menambahkan dengan
kaku, "Aku tak mau membalas teleponmu."
Jennifer memandangnya dengan terkejut.
"Aku takut," katanya terus terang.
Nah, kata-kata itu sudah diucapkan. Adam telah
membuatnya terkejut, dia telah menjebak laki-laki itu dalam
keadaan lengah, namun maksud kata-kata itu sudah jelas.
Jennifer tahu apa yang akan dikatakannya selanjutnya. Dan
Jennifer tak ingin Adam mengucapkannya. Jennifer tak ingin
Adam seperti laki-laki yang lain, laki-laki yang sudah beristri
150
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berpura-pura mengaku masih bujangan. Jennifer sangat
benci pada laki-laki yang begitu, dan dia tak mau membenci
laki-laki ini.
"Jennifer," kata Adam dengan tenang, "aku ingin kau tahu
aku sudah beristri."
Jennifer diam saja, menatapnya dengan mulut setengah
terbuka.
"Maafkan aku. Dari dulu aku seharusnya
memberitahukannya padamu." Adam tersenyum pahit. "Yah,
sebenarnya tak ada batas waktu untuk itu, bukan?"
Jennifer merasa bingung. "Meng.... mengapa kau
mengajakku makan malam, Adam?"
"Karena aku ingin bertemu lagi denganmu."
Semuanya mulai kelihatan tak wajar bagi Jennifer. Dia
merasa seolah-olah ditarik ke bawah oleh suatu gelombang
pasang raksasa. Dia mendengarkan saja apa-apa yang
dikatakan Adam tentang perasaannya, dan dia tahu bahwa
setiap perkataan itu adalah benar. Dia tahu itu, karena
perasaannya pun demikian pula. Ingin dia menyuruh Adam
berhenti sebelum dia berkata terlalu banyak. Namun dia ingin
pula agar Adam berbicara terus.
"Kuharap aku tidak menyakiti hatimu," kata Adam.
Adam tiba-tiba kelihatan malu dan hati Jennifer jadi
tergetar "Adam, a.... aku...."
Adam melihat padanya, dan meskipun mereka tidak
bersentuhan, Jennifer merasa seolah-olah berada dalam
pelukannya.
"Tolong ceritakan tentang istrimu," kata Jennifer dengan
suara bergetar.
"Aku menikah dengan Mary Beth lima belas tahun yang
lalu. Kami tak punya anak."
151
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Oh."
"Dia.... kami sendiri yang memutuskan untuk tidak
mendapatkan anak. Kami berdua masih muda sekali waktu
kami menikah. Aku sudah lama sekali kenal padanya. Orang
tua kami bertetangga di suatu tempat peristirahatan musim
panas yang kami miliki di Maine. Waktu dia berumur delapan
belas tahun, orang tuanya tewas dalam suatu kecelakaan
pesawat terbang. Mary Beth hampir gila karena sedih. Dia
tinggal sebatang kara. Aku.... kami lalu menikah."
Adam mengawininya karena belas kasihan, tapi dia terlalu
ksatria untuk mengakuinya, pikir Jennifer.
"Dia wanita yang baik sekali. Hubungan kami selalu sangat
baik."
Adam menceritakan lebih banyak daripada yang ingin
diketahui Jennifer, lebih banyak daripada yang dapat
dicernakannya. Nalurinya mengingatkannya supaya melarikan
diri. Dahulu, dengan mudah dia bisa menangani laki-laki yang
sudah beristri, yang ingin main-main dengan dia, tetapi
nalurinya pula mengatakan bahwa yang seorang ini lain dari
yang lain. Bila dia membiarkan dirinya jatuh cinta pada lakilaki ini, tidak akan ada jalan ke luar lagi. Gila sekali dia kalau
dia mau mulai macam-macam dengan laki-laki ini.
"Adam," kata Jennifer dengan berhati-hati, "aku suka sekali
padamu. Tapi aku tak mau berhubungan dengan laki-laki yang
sudah beristri."
Adam tersenyum, dan mata di balik kaca matanya
mengandung kejujuran dan kehangatan. "Aku tidak mau
mencari hubungan jalan belakang. Aku senang bersamamu.
Aku ikut bangga sekali padamu. Aku ingin kita sekali-sekali
bertemu lagi."
Jennifer ingin mengatakan, Apa gunanya berbuat begitu?
tetapi kata-kata yang terucapkan adalah, "Baik sekali."
152
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jadi kita akan makan siang bersama satu kali sebulan, pikir
Jennifer. Itu tidak akan merugikan siapa-siapa.
Salah seorang yang pertama-tama mengunjungi Jennifer di
kantornya yang baru adalah Pater Ryan. Dia berjalan melihatlihat ketiga kamar yang kecil-kecil dan berkata, "Bagus sekali.
Kita akan maju di dunia ini, Jennifer."
Jennifer tertawa. "Ini belum berarti maju di dunia, Pater.
Masih jauh jalan yang harus saya tempuh."
Pastor itu memperhatikannya dengan tajam. "Kau akan
berhasil. Omong-omong, aku mengunjungi Abraham Wilson
minggu yang lalu."
"Bagaimana keadaannya?"
"Baik. Dia ditempatkan bekerja di toko mesin dalam
penjara. Dia minta sampaikan salamnya padamu."
"Saya ingin mengunjunginya sendiri dalam beberapa hari
ini."
Pater Ryan duduk di kursi sambil menatap Jennifer terus,
hingga Jennifer bertanya, "Adakah sesuatu yang bisa saya
perbuat untuk Anda, Pater?"
Wajah Pastor itu menjadi cerah. "Yah, aku tahu kau tentu
sibuk, karena kau sekarang sudah maju. Tapi seorang
temanku menghadapi kesulitan. Dia mengalami kecelakaan.
Kurasa kaulah orang yang bisa menolongnya."
Otomatis Jennifer menjawab, "Suruh dia kemari berbicara
dengan saya, Pater."
"Kurasa kaulah yang harus mendatanginya. Kaki tangannya
buntung."
Connie Garret tinggal dalam sebuah apartemen kecil yang
rapi di Houston Street. Yang membukakan pintu untuk
Jennifer adalah seorang wanita yang sudah berumur dan
beruban, yang mengenakan celemek.
153
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya Martha Steele, bibi si Connie. Saya tinggal dengan
Connie di sini. Silakan masuk. Dia menunggu Anda."
Jennifer masuk ke sebuah ruang duduk yang perabotnya
hanya sedikit. Connie Garret duduk di sebuah kursi besar,
dikelilingi bantal. Jennifer terkejut betapa masih mudanya
wanita itu. Entah mengapa, Jennifer menyangka akan
menemukan seorang wanita yang lebih tua. Connie Garret
berumur kira-kira dua puluh empat tahun, seumur dengan
Jennifer. Wajahnya bercahaya, dan Jennifer merasa dirinya
cabul, melihat hanya batang tubuh saja tanpa ada lengan dan
kaki. Ditahannya dirinya supaya tak tampak gemetar.
Connie Garret tersenyum hangat dan berkata, "Silakan
duduk, Jennifer. Bolehkah aku memanggilmu Jennifer saja?
Pater Ryan sudah bercerita banyak tentang dirimu. Dan aku
juga sudah melihatmu di layar tv. Aku senang sekali kau bisa
datang."
Jennifer ingin menjawab, 'Aku senang bisa datang,' tetapi
dia menyadari betapa akan hampa kedengarannya jawaban
itu. Dia lalu duduk saja di sebuah kursi yang lembut di
seberang wanita muda itu.
"Pater. Ryan bercerita bahwa kau mengalami kecelakaan
beberapa tahun yang lalu. Bisakah kau menceritakan apa yang
telah terjadi?"
"Kurasa itu salahku. Aku sedang menyeberang di
persimpangan waktu aku melangkah dari trotoar, aku
tergelincir lalu jatuh di depan sebuah truk."
"Berapa tahun yang lalukah itu?"
"Bulan Desember yang lalu, tiga tahun. Aku sedang dalam
perjalanan ke Toko Bloomingdale, akan berbelanja untuk
keperluan Natal."
"Apa yang terjadi setelah truk itu menabrakmu?"
154
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak ingat apa-apa. Aku terbangun di rumah sakit.
Kata mereka, sebuah ambulans membawaku ke sana.
Pinggulku cedera. Kemudian dokter menemukan kerusakan
pada tulangku, kerusakan itu meluas terus sampai —" Dia
berhenti dan mencoba mengangkat bahunya. Gerakan itu
menimbulkan belas kasihan. "Para dokter mencoba memasang
kaki dan tangan palsu, tapi rupanya tak cocok bagiku."
"Apakah kau pernah mengajukan tuntutan?" Connie
memandang keheranan pada Jennifer.
"Tidakkah Pater Ryan menceritakannya padamu?"
"Menceritakan apa?"
"Pengacaraku mengajukan tuntutan terhadap perusahaan
umum yang memiliki truk yang menabrakku itu, tapi kami
kalah dalam sidang. Kami naik banding, dan kalah lagi."
"Pater Ryan seharusnya menceritakan itu padaku. Bila
pengadilan banding sudah menolakmu, aku kuatir, aku tak
bisa berbuat apa-apa lagi."
Connie Garret mengangguk. "Aku pun merasa begitu juga.
Aku hanya berpikir — yah, kata Pater Ryan kau bisa
menciptakan suatu keajaiban."
"Itu bidang dia sendiri. Aku hanya seorang ahli hukum."
Jennifer merasa marah pada Pater Ryan, karena telah
memberikan harapan kosong pada Connie Garret. Dengan
kesal Jennifer memutuskan bahwa dia harus berbicara dengan
Pater itu.
Wanita tua tadi tak mau jauh, meskipun hanya di belakang.
"Bisakah saya menyuguhkan sesuatu, Nona Parker? Teh
dengan kue barangkali?"
Jennifer tiba-tiba sadar bahwa dia lapar, karena dia tadi tak
punya waktu untuk makan siang. Tetapi membayangkan
155
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dirinya duduk berhadapan dengan Connie Garret dan makan
dengan tangannya, dan dia merasa tak tahan.
"Tidak terima kasih. Saya baru saja makan," kata Jennifer,
berbohong.
Jennifer hanya ingin keluar dari tempat itu secepat
mungkin. Dia mencpba memikirkan kata-kata gembira yang
bisa diucapkannya sebagai peninggalan di rumah itu, tetapi
dia tak bisa menemukannya. Sialan Pater Ryan.
"Maaf— sebesar-besarnya. Aku ingin aku — " Connie Garret
tersenyum dan berkata, "Tak usah pikirkan lagi."
Senyum itulah yang membuat Jennifer bertahan. Jennifer
yakin bahwa bila dia berada di tempat Connie Garret, dia tidak
akan bisa tersenyum lagi.
"Siapa pengacaramu?" tanya Jennifer lagi.
"Melvin Hutcherson. Kenalkah kau padanya?"
"Tidak, tapi aku akan mencarinya," katanya lagi, tanpa
berniat berbuat demikian, "aku akan berbicara dengannya."
"Kau baik sekali." Suara Connie Garret mengandung rasa
terima kasih yang tulus.
Jennifer membayangkan bagaimana kehidupan gadis itu,
duduk saja di situ tanpa daya sama sekali, berhari-hari,
berbulan-bulan, bertahun-tahun, tanpa bisa berbuat apa-apa
sendiri.
"Tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa."
"Tentu saja tidak. Tapi tahukah kau, Jennifer? Aku sudah
merasa lebih baik hanya karena kau datang."
Jennifer bangkit. Itu sebenarnya saat untuk bersalaman,
tetapi tak ada tangan yang akan disalami.
"Aku senang bertemu denganmu, Connie. Aku akan
memberi kabar pada kalian," katanya kaku.
156
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam perjalanannya kembali ke kantornya, Jennifer
berpikir-pikir tentang Pater Ryan, dan dia memutuskan tidak
akan pernah mau menyerah pada bujukannya lagi. Tak
seorang pun bisa berbuat apa-apa untuk gadis cacat itu, dan
tak sepantasnya pula orang memberinya harapan apa-apa.
Tetapi dia akan memenuhi janjinya. Dia akan berbicara
dengan Melvin Hutcherson.
Waktu Jennifer kembali ke kantornya, suatu daftar panjang
nama-nama orang yang meninggalkan pesan untuknya, sudah
menanti. Jennifer melihatnya sebentar, mencari kalau-kalau
ada pesan dari Adam Warner. Namun tak ada.
12
Melvin hutcherson adalah seorang laki-laki yang pendek.
Kepalanya sudah mulai membotak, hidungnya kecil seperti
kancing, dan matanya berwarna biru pucat. Dia mempunyai
kantor yang buruk di daerah West Side yang berbau
kemiskinan. Meja penerima tamunya kosong.
"Dia baru saja pergi makan siang," Melvin Hutcherson
menjelaskan.
Jennifer berpikir-pikir apakah dia punya sekretaris atau
tidak. Melvin Hutcherson mempersilakan ke kamar kerja
pribadinya, yang tidak lebih besar daripada ruang penerima
tamu.
"Anda mengatakan melalui telepon tadi bahwa Anda ingin
membicarakan soal Connie Garret."
"Ya, betul."
Laki-laki itu mengangkat bahunya. "Tak banyak yang bisa
dibicarakan. Kami menuntut dan kami kalah. Percayalah, saya
telah berusaha mati-matian untuknya."
157
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah Anda juga yang menangani perkara bandingnya?"
"Ya, dan kami kalah juga. Saya rasa usaha Anda akan siasia." Diamat-amatinya Jennifer sejenak. "Mengapa Anda mau
membuang-buang waktu Anda untuk urusan seperti ini?
Bukankah Anda sudah hebat? Anda bisa bekerja untuk perkara
yang menghasilkan banyak uang."
"Saya membantu seorang sahabat. Apakah saya boleh
melihat dokumennya?"
"Silakan mencarinya." Hutcherson mengangkat bahunya.
"Itu adalah milik umum."
Malam itu Jennifer mempelajari salinan-salinan tuntutan
perkara Connie Garret. Jennifer heran, karena ternyata bahwa
Melvin Hutcherson telah mengatakan yang sebenarnya:
pekerjaannya memang bagus. Baik pemerintah kota, maupun
perusahaan Nationwide Motors Corporation telah dinyatakan
sebagai tertuduh, dan dia telah meminta suatu sidang lengkap
dengan juri. Juri telah menyatakan kedua tertuduh itu bebas
dari tuduhan.
Dinas Kebersihan telah berusaha keras mengatasi akibat
badai salju yang melanda kota dalam bulan Desember itu;
semua peralatan pembersihnya telah digunakan. Pihak Kota
membantah dengan mengatakan bahwa badai adalah
kehendak Tuhan, dan kalaupun ada kelalaian, maka itu ada
pada pihak Connie Garret.
Jennifer mengalihkan perhatiannya pada tuntutan terhadap
perusahaan truk. Tiga orang saksi mata telah memberikan
kesaksiannya, bahwa pengemudinya telah mencoba
menghentikan truknya untuk mengelak supaya jangan sampai
menabrak korban, bahwa dia tak sempat menekan rem pada
waktunya, dan tanpa bisa dicegah, truk itu lalu berputar dan
menabraknya. Keputusan yang membenarkan terdakwa telah
dilakukan oleh Bagian Banding, dan perkara itu pun lalu
dinyatakan ditutup.
158
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pukul tiga subuh, Jennifer baru selesai membaca salinansalinan itu. Lampu dipadamkannya, namun dia masih belum
bisa tidur. Di atas kertas, hukum memang telah diberlakukan.
Namun pikirannya tetap dibayangi oleh keadaan Connie
Garret. Seorang gadis yang berumur dua puluhan, tanpa kaki
dan tangan. Dibayangkannya truk yang telah menabrak gadis
muda itu, rasa sakit yang telah dideritanya, rangkaian
pembedahan yang telah dijalaninya, setiap kali memotong
sebagian dari anggota tubuhnya. Jennifer menyalakan lampu
lagi, lalu duduk di tempat tidur. Diputarnya nomor telepon
Melvin Hutcherson.
"Dalam salinan-salinan itu tak disebut-sebut tentang para
dokternya," kata Jennifer melalui telepon. "Tidakkah Anda
melihat kemungkinan adanya pekerjaan pengobatan yang
salah?"
"Siapa ini?" tanya suatu suara yang masih mengantuk.
"Jennifer Parker. Apakah Anda...."
"Ya Tuhan! Tak tahukah Anda bahwa sekarang ini.... pukul
empat subuh? Apakah Anda tak punya jam?"
"Ini penting sekali. Nama rumah sakitnya pun tidak disebutsebut dalam salinan tuntutan itu. Bagaimana dengan
pembedahan-pembedahan yang telah dilakukan atas diri
Connie Garret? Sudahkah Anda periksa?"
Keadaan sepi sebentar sementara Melvin Hutcherson
mengumpulkan ingatannya. "Saya telah berbicara dengan
para kepala bagian neorologi dan orthopedi di rumah sakit
yang menanganinya. Pembedahan-pembedahan itu memang
harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Lagi pula
pembedahan-pembedahan itu dilakukan oleh para ahli
kenamaan di sana dengan sempurna. Sebab itulah rumah
sakit itu tidak disebut-sebut dalam tuntutan."
159
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer merasakan suatu frustrasi yang mendalam. "Sudah
saya katakan pada Anda, Anda membuang-buang waktu saja
dalam perkara ini. Sebaiknya kita tidur saja sekarang."
Dan terdengar bunyi gagang telepon diletakkan. Jennifer
memadamkan lampu lagi dan membaringkan badannya.
Tetapi dia makin tak bisa tidur. Beberapa waktu kemudian,
Jennifer menghentikan percobaannya untuk tidur, dia bangun
lalu membuat kopi. Dia duduk di sofa meminumnya, sambil
melihat matahari yang baru terbit, mewarnai langit Manhattan,
warna dadu pucat yang perlahan-lahan berubah menjadi
warna merah cerah yang cemerlang.
Jennifer merasa kesal. Terhadap setiap ketidakadilan,
seharusnya selalu ada penangkalnya dalam hukum. Apakah
orang telah melaksanakan hukum dalam perkara Connie
Garret itu? Dia melihat ke jam di dinding. Pukul setengah
tujuh. Jennifer mengangkat telepon lagi, dan memutar nomor
telepon Melvin Hutcherson.
"Adakah Anda selidiki pengalaman kerja pengemudi truk
itu?" tanya Jennifer.
"Ya, Tuhan!" seru suara yang masih juga terdengar
mengantuk. "Sudah gilakah Anda? Kapan Anda tidur?"
"Mengenai pengemudi truk perusahaan umum itu.
Sudahkah Anda selidiki pengalaman kerjanya?"
"Nona, Anda menghina saya."
"Maafkan saya," Jennifer bertahan, "tapi saya ingin tahu."
"Jawabnya adalah, sudah. Pengalamannya tidak bercacat.
Kecelakaan itu adalah pengalamannya yang pertama."
Jadi jalan itu tertutup. "Saya mengerti." Jennifer berpikir
keras.
160
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nona Parker," kata Hutcherson, "tolong benarlah saya. Bila
Anda masih ada pertanyaan-pertanyaan lagi, teleponlah saya
pada jam-jam kantor."
"Maaf sekali," kata Jennifer linglung. "Silakan tidur lagi."
"Terima kasih banyak."
Jennifer meletakkan kembali gagang telepon. Sudah
waktunya untuk berpakaian dan pergi bekerja.
13
Tiga minggu telah berlalu sejak Jennifer makan malam
bersama Adam di Lutece. Dia mencoba melupakannya, tetapi
segala-galanya mengingatkannya kembali pada Adam;
kalimat-kalimat tertentu, bagian belakang dari kepala orang
yang tak dikenalnya, dasi yang sama dengan yang pernah
dipakai Adam. Banyak pria yang mengajaknya kencan. Dia
pernah dilamar oleh beberapa di antara kliennya, oleh
pengacara-pengacara yang pernah menjadi lawannya di
pengadilan, dan oleh seorang hakim pengadilan malam, tetapi
Jennifer tak menginginkan seorang pun di antara mereka.
Ahli-ahli hukum mengundangnya untuk apa yang mereka
sebut 'makan siang sambil bersenang-senang', namun dia
tidak pernah tertarik. Dia memberikan kesan kebebasan yang
membuat laki-laki merasa ditantang.
Ken Bailey selalu ada di dekatnya, tetapi kenyataan itu pun
tidak pula mampu untuk mengusir rasa sunyi yang dialami
Jennifer. Hanya satu orang yang dapat mengusirnya, sialan
benar!
Adam meneleponnya pada pagi hari Senin. "Kupikir, aku
ingin coba-coba saja, kalau-kalau kau kebetulan bebas hari ini
dan bisa makan siang bersamaku."
Jennifer sebenarnya tak bebas. Tapi dia berkata, "Tentu
aku bebas."
161
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa bila
Adam meneleponnya lagi, dia akan bersikap ramah, tapi
berjarak, sopan, sama sekali tak gampangan.
Pada saat dia mendengar suara Adam, dia lupa semua yang
telah ditekadkannya itu. Tentu aku bebas.
Kata-kata yang sebenarnya tak mau diucapkannya.
Mereka makan siang di sebuah restoran kecil di China
town, dan selama dua jam mereka bercakap-cakap terus dan
merasakan waktu yang selama itu baru dua menit. Mereka
bercakap-cakap tentang hukum, tentang politik, dan tentang
pementasan, dan seolah-olah akan memecahkan semua
masalah yang rumit di dunia. Adam memang cerdas, berotak
tajam dan mempesona. Dia sungguh-sungguh menaruh
perhatian pada apa yang dilakukan Jennifer dan ikut senang
serta bangga atas keberhasilannya. Dia memang punya hak
untuk itu, pikir Jennifer. Kalau bukan karena dia, aku pasti
sudah kembali ke Kelso, Washington.
Waktu Jennifer kembali ke kantor, Ken Bailey sudah
menantinya. "Enak makan siangnya?"
"Enak, terima kasih."
"Apakah Adam Warner akan menjadi seorang klien?" Nada
suaranya terdengar terlalu santai. "Tidak, Ken. Kami hanya
bersahabat."
Itu memang kenyataannya.
Minggu berikutnya, Adam mengundang Jennifer makan
siang di rumah makan pribadi perusahaannya. Jennifer merasa
terkesan melihat betapa besar dan modernnya kompleks
perkantoran itu. Adam memperkenalkannya pada beberapa
anggota perusahaan, dan Jennifer merasa seperti orang yang
agak terkenal, karena mereka rupanya banyak tahu tentang
dirinya. Dia bertemu dengan Stewart Needham, partner senior
dalam perusahaan itu. Laki-laki itu sopan tetapi menjaga jarak
162
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terhadap Jennifer, dan Jennifer ingat bahwa Adam beristrikan
kemenakannya.
Adam dan Jennifer makan di ruang makan yang dindingnya
berlapis kayu. Makanan di situ ditangani oleh seorang juru
masak dan seorang pelayan.
"Di ruang inilah anggota-anggota perusahaan
mengemukakan masalah mereka."
Jennifer ingin tahu apakah Adam menyindirnya. Dia merasa
sulit untuk memusatkan perhatiannya pada makanannya.
Sepanjang petang itu Jennifer teringat terus pada Adam.
Dia tahu bahwa dia harus melupakannya, harus berhenti
menemuinya. Adam adalah milik wanita lain.
Malam itu Jennifer pergi dengan Ken Bailey, nonton Two by
Two, karya Richard Rodgers yang terbaru.
Waktu mereka memasuki ruang tunggu, terdengar
dengung suara orang banyak, dan Jennifer menoleh untuk
melihat apa yang terjadi. Sebuah sedan mewah panjang yang
berwarna hitam, berhenti di tepi, lalu seorang pria dan
seorang wanita keluar dari mobil itu.
"Benar dia!" seru seorang wanita, dan orang-orang mulai
berkumpul mengelilingi mobil. Pengemudinya yang tegap,
melangkah menyisih dan Jennifer melihat Michael Moretti
dengan istrinya.
Orang-orang memusatkan pandangan mereka pada
Michael. Dia seakan-akan seorang pahlawan rakyat, yang
cukup tampan untuk menjadi seorang bintang film, dan cukup
berani hingga memukau angan setiap orang.
Jennifer berdiri memperhatikan Michael Moretti dan istrinya
menerobos melalui orang banyak. Michael melewati Jennifer
dalam jarak satu meter, dan mata mereka bertemu sebentar.
Jennifer melihat betapa hitamnya mata itu hingga orang-
163
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orangan matanya tak kelihatan. Sesaat kemudian mereka
menghilang ke dalam gedung.
Jennifer tak dapat menikmati pertunjukan itu. Melihat
Michael dia teringat akan kenangan yang benar-benar telah
menekan harga dirinya. Jennifer meminta Ken membawanya
pulang setelah pertunjukan yang pertama.
Esok harinya Adam menelepon Jennifer dan dia
menguatkan hatinya untuk menolak bila Adam mengajaknya
pergi. Dia akan berkata, Terima kasih Adam, tapi aku sibuk
sekali.
Tetapi Adam hanya berkata, "Aku harus pergi ke luar negeri
untuk beberapa lamanya."
Jennifer merasa seolah-olah perutnya ditinju. "Ber... berapa
lama kau akan pergi?"
"Hanya beberapa minggu. Aku akan meleponmu begitu aku
kembali."
"Baiklah," kata Jennifer ceria. "Selamat jalan."
Dia merasa seolah-olah kematian seseorang.
Dibayangkannya Adam di pantai Rio, dikelilingi gadis-gadis
setengah telanjang, atau dalam sebuah gubuk kecil di Mexico
City, sambil minum-minum margaritas dengan seorang gadis
cantik bermata hitam, atau dalam sebuah pondok
peristirahatan di Swiss, bermesraan dengan — hentikan!
perintah Jennifer pada dirinya sendiri. Dia tadi seharusnya
bertanya ke mana Adam akan pergi. Mungkin saja dia
bepergian untuk keperluan bisnis ke suatu tempat yang
gersang, di mana dia tak punya waktu untuk wanita, mungkin
di tengah-tengah padang pasir di mana dia harus bekerja dua
puluh empat jam lamanya.
Dia tentu harus menyinggung soal itu secara santai saja.
Apakah kau akan bepergian jauh? Bisakah kau berbahasa
asing? Bila kau ke Paris, tolong bawakan teh Vervaine
164
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untukku. Kurasa suntikan-suntikannya sakit, ya? Apakah kau
pergi bersama istrimu? Sudah gilakah aku ini?
Ken masuk ke kamar kerjanya dan menatapnya. "Kau
berbicara sendiri, Jennifer. Tak apa-apakah kau?"
Tidak. Ingin rasanya Jennifer berteriak. Aku memerlukan
dokter. Aku harus mandi, bersiram air dingin. Aku
membutuhkan Adam Warner.
Dia berkata, "Aku baik-baik saja. Hanya agak letih."
"Sebaiknya kau pergi tidur lebih awal." Dia ingin tahu
apakah Adam pergi tidur lebih awal.
Pater Ryan menelepon. "Aku pergi menjenguk Connie
Garret. Katanya kau mampir beberapa kali."
"Ya." Dia mengunjungi gadis itu untuk mengimbangi rasa
bersalahnya karena dia tak sanggup membantunya. Dia
merasa frustrasi.
Jennifer membenamkan dirinya dalam pekerjaan, namun
waktu masih juga terus berjalan lamban. Hampir setiap hari
dia berada di ruang sidang dan hampir setiap malam dia
mempelajari ikhtisar-ikhtisar perkara.
"Kurangilah sedikit kegiatanmu. Kau akan membunuh
dirimu sendiri." Begitu Ken menasihatinya.
Tetapi Jennifer perlu meletihkan jasmani dan pikirannya.
Dia tak mau punya waktu untuk berpikir. Tolol aku ini,
pikirnya. Seorang yang benar-benar goblok.
Empat minggu kemudian, Adam baru menelepon. "Aku
baru saja kembali," katanya. Suaranya membuat hati Jennifer
berdebar. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama, di
suatu tempat?"
"Baiklah, aku akan senang sekali, Adam." Menurut Jennifer,
dia sudah membawakan kata-kata itu dengan baik. Dia hanya
berkata, Baiklah, aku akan senang sekali, Adam.
165
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Di Oak Room, di Hotel Plaza?"
"Baiklah."
Tempat itu sangat kaku dan tak romantis, pengunjungnya
kebanyakan pengusaha-pengusaha kendaraan, pedagangpedagang, penjual-penjual surat-surat saham, dan orangorang bank yang semuanya sudah setengah baya. Lama
tempat itu merupakan benteng bagi kaum pria melulu, dan
baru-baru ini saja pintunya terbuka bagi wanita.
Jennifer tiba awal dan diberi tempat duduk. Beberapa menit
kemudian Adam tiba. Jennifer memperhatikan tubuhnya
yang jangkung dan langsing itu berjalan menuju ke
tempatnya duduk dan mulutnya tiba-tiba kering. Kulit Adam
kelihatan coklat bekas sengatan matahari, dan Jennifer
berpikir apakah angan-angannya mengenai Adam yang
berada di pantai yang penuh dengan gadis-gadis itu, memang
benar. Adam tersenyum pada Jennifer, lalu menggenggam
tangannya, dan Jennifer menyadari bahwa pada saat itu
semua pikirannya mengenai Adam Warner dan laki-laki yang
sudah beristri, tidak berlaku lagi. Dia tak dapat menguasai
dirinya lagi. Dia merasa seolah-olah ada orang lain yang
menuntunnya, yang mengatakan padanya apa-apa yang harus
dilakukannya. Tak dapat dia menjelaskan apa yang sedang
terjadi atas dirinya, karena dia tak pernah mengalami hal
seperti itu. Mungkin ini bisa disebut ilmu kimia, pikirnya. Atau
sebutlah karma, mungkin pula surga. Yang disadari Jennifer
hanyalah bahwa dia ingin berada dalam pelukan Adam, tak
ada yang lain yang pernah diingininya lebih daripada itu,
selama hidupnya. Sambil memandanginya, Jennifer
membayangkan Adam bercintaan dengannya, mendekapnya,
menumpahkan cintanya pada dirinya, dan Jennifer merasa
wajahnya menjadi merah.
"Maafkan aku membuat janji begitu singkat sebelumnya,"
kata Adam meminta maaf. "Seorang klien membatalkan janji
makan siang."
166
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diam-diam Jennifer berterima kasih pada klien itu. "Aku
membawakan sesuatu untukmu," kata Adam. Oleh-oleh itu
berupa sehelai tutup kepala dari sutra cantik yang berwarna
hijau bercampur keemasan. "Ini dari Milan."
Jadi ke sana dia rupanya. Gadis Itali. "Cantik sekali, Adam,
terima kasih."
"Pernahkah kau ke Milan?"
"Tidak. Aku pernah melihat gambar katedral di sana. Indah
sekali."
"Aku kurang suka melihat-lihat kota. Teoriku, gereja di
suatu tempat sama saja dengan yang di tempat lain."
Setelah itu, bila Jennifer mencoba mengingat-ingat tentang
peristiwa makan siang itu, apa-apa yang mereka bicarakan,
apa yang mereka makan, siapa-siapa yang mampir ke meja
mereka untuk menyapa Adam, dia tak bisa ingat apa-apa.
Yang diingatnya hanyalah, betapa dekatnya Adam padanya,
sentuhannya, wajahnya. Keadaan itu seolah-olah membuat
Jennifer tersihir, dia seolah-olah dihipnotisir, dan dia tak
mampu melepaskan dirinya.
Suatu saat Jennifer berpikir, Aku tahu apa yang harus
kulakukan. Aku akan bermain cinta dengan dia. Satu kali saja.
Tentu tidak akan senikmat yang kubayangkan. Dengan begitu
aku akan bisa bebas dari dia.
Waktu tangan mereka bersentuhan secara tak sengaja,
keduanya merasakan seolah-olah dialiri arus listrik. Mereka
duduk bercakap-cakap saja, ke utara, ke selatan, tanpa ada
artinya. Mereka duduk, namun mereka seolah-olah
berdekapan dalam suatu pelukan yang tak tampak, sambil
saling membelai dengan penuh napsu. Keduanya tak sadar
apa yang mereka makan atau apa yang mereka katakan.
Napsu yang ada dalam diri mereka adalah napsu yang lain,
yang lebih kuat, dan makin lama makin kuat, hingga keduanya
tak dapat lagi menahannya.
167
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di tengah-tengah waktu makan itu, Adam meletakkan
tangannya di atas tangan Jennifer dan berkata dengan serak,
"Jennifer...."
"Ya. Marilah kita keluar dari sini," bisik Jennifer.
Jennifer menunggu di ruang tunggu yang ramai di mana
orang lalu-lalang, sementara Adam mendaftar di meja
pendaftaran. Mereka diberi sebuah kamar di bagian yang lama
dari Hotel Plaza itu, dari mana mereka bisa melihat 58th
Street. Mereka menggunakan lift yang di bagian belakang, dan
Jennifer merasa perjalanan menuju ke tingkat atas itu, seolaholah tak ada akhirnya.
Kalau mengenai makan siang itu Jennifer tak bisa
mengingat apa pun juga, maka mengenai kamar yang mereka
tempati itu, segalanya bisa diingatnya. Sampai bertahun-tahun
kemudian pun dia bisa mengingat pemandangan dari situ,
warna tirai jendelanya, alas lantainya, juga setiap gambar
serta perabotnya. Dia ingat suara-suara dari kota, jauh di
bawah mereka, yang dibawa angin masuk ke kamar. Citra
tentang petang itu melekat pada dirinya selama sisa hidupnya.
Bayangan itu bagaikan ledakan ajaib dalam gerak lambat yang
beraneka warna. Segala keindahan dan kenikmatan dalam
kebersamaannya dengan Adam: dimulai sejak Adam
membukakan pakaiannya, merasakan tubuh Adam di tempat
tidur, kelembutannya yang diselingi dengan kekasaran.
Beberapa jam kemudian, sedang mereka berbaring
menenangkan diri, Adam berkata, "Rasanya baru kali inilah
aku benar-benar hidup."
Jennifer membelai dada Adam dengan lembut, lalu tertawa
nyaring.
Adam melihat padanya dengan pandangan bertanya. "Apa
yang lucu?"
"Tahukah kau apa yang telah kukatakan pada diriku
sendiri? Bahwa bila aku sudah merasakan kebersamaan
168
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
denganmu satu kali saja, aku akan bisa melepaskan diri
darimu."
Adam menggeliat menghadapi Jennifer dan
memandanginya. "Lalu.....?"
"Aku keliru. Aku merasa seolah-olah kau merupakan
sebagian dari diriku. Atau sekurang-kurangnya," — Dia raguragu sebentar — "sebagian dari dirimu merupakan sebagian
dari diriku."
Adam mengerti apa yang dipikirkan Jennifer.
"Kita akan mencari jalan ke luar," kata Adam. "Hari Senin,
Mary Beth akan berangkat ke Eropa dengan bibinya selama
sebulan."
14
Hampir setiap malam Jennifer bersama Adam.
Malam yang pertama, Adam menginap di apartemen
Jennifer yang kecil dan tak nyaman itu, dan pagi harinya dia
berkata, "Kita tak usah bekerja hari ini untuk mencari tempat
tinggal yang lebih pantas bagimu."
Mereka berdua pergi mencari apartemen, dan senja harinya
Jennifer sudah menandatangani surat perjanjian sewamenyewa di sebuah bangunan baru di luar Sutton Place, yang
bernama The Belmont Towers. Di depan gedung itu terpasang
papan pemberitahuan Penuh.
"Untuk apa kita masuk?" tanya Jennifer.
"Lihat saja."
Apartemen yang mereka lihat adalah apartemen bertingkat
dua yang bagus, yang berkamar lima buah dan diperaboti
dengan bagus pula. Itulah apartemen yang termewah yang
pernah dilihat Jennifer. Di lantai atas ada sebuah kamar tidur
169
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar, lengkap dengan kamar mandi sedang di lantai bawah
ada kamar tidur tamu dengan kamar mandi tersendiri, dan
sebuah ruang tamu, dari mana orang bisa melihat
pemandangan indah dari East River dan dari kota. Ada pula
teras yang luas, dapur dan kamar makan.
"Bagaimana? Suka?" tanya Adam.
"Bukan sekedar suka, aku tergila-gila," seru Jennifer, "tapi
ada dua masalahnya, Sayang. Pertama-tama, aku tidak akan
mampu membayarnya. Dan kedua, kalaupun aku mampu, ini
sudah kepunyaan orang lain."
"Ini milik perusahaan kami. Kami menyewakannya pada
tamu-tamu VIP kami yang berkunjung. Mereka akan kusuruh
cari tempat yang lain."
"Lalu bagaimana dengan sewanya?"
"Aku yang akan mengurusnya. Aku...."
"Tidak."
"Mengapa tidak, Sayang. Aku mampu membayarnya,
dan...."
Jennifer menggeleng. "Kau tak mengerti, Adam. Aku tak
bisa memberimu apa-apa kecuali diriku sendiri. Dan itu ingin
kuberikan dengan cuma-cuma."
Adam merangkulnya, dan Jennifer merapatkan dirinya pada
Adam sambil berkata, "Aku tahu.... aku harus bekerja siang
dan malam."
Pada hari Sabtu mereka pergi berbelanja. Adam
membelikan Jennifer sehelai baju tidur yang cantik, lengkap
dengan kimononya di Toko Bonwit Teller, dan Jennifer
membelikan Adam sehelai kemeja merek Turnbull and Asser.
Mereka membeli perangkat permainan catur di Toko Gimbel
dan sebuah lukisan wanita di Toko Junior dekat Abraham and
Straus. Mereka membeli puding plum di Toko Altman, serta
170
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
buku-buku di Doubleday. Mereka mendatangi Toko Gammon
dan Caswell-Massey, di mana Adam membelikan Jennifer
beraneka-ragam keperluan, cukup untuk sepuluh tahun.
Mereka makan malam di tikungan, di dekat apartemen itu.
Setiap malam setelah pulang kantor, mereka bertemu di
apartemen itu dan membicarakan kejadian-kejadian sehari itu.
Jennifer menyiapkan makan malam dan Adam menyiapkan
mejanya. Setelah makan, mereka membaca atau nonton tv,
atau main remi atau main catur. Jennifer sering memasak
makanan kegemaran Adam.
"Aku ini tak tahu malu," kata Jennifer pada Adam. "Aku
mau melakukan apa pun juga untukmu."
Adam mendekapnya erat. "Jangan merasa malu."
Jennifer merasa aneh. Sebelum mereka mengadakan
hubungan terlarang, mereka bertemu secara terang-terangan.
Tetapi setelah mereka kini mengadakan hubungan suami-istri,
mereka tak berani muncul bersama di hadapan umum, maka
mereka pergi ke tempat-tempat di mana mereka tidak akan
bertemu dengan teman-teman mereka: di restoran-restoran
keluarga yang kecil di pusat kota, atau nonton konser musik
ruangan di sekolah musik di Third Street. Mereka pergi nonton
sandiwara baru di Omni Theatre Club di 18th Street, dan
mereka makan begitu banyak hingga mereka memantangkan
makanan Italia selama sebulan. Sayangnya waktu kita tak
sampai sebulan lagi, pikir Jennifer. Empat belas hari lagi Mary
Beth sudah akan kembali.
Mereka pergi ke Gedung The Half Note untuk
mendengarkan jazz malam hari di daerah Village, dan
mengintip ke etalase toko-toko seni.
Adam suka olahraga. Jennifer diajaknya nonton regu Knicks
main, dan Jennifer jadi demikian terbawa oleh permainan itu,
hingga dia menyoraki pemain sampai serak.
171
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada hari Minggu mereka bermalas-malasan, mereka
makan pagi dengan masih mengenakan kimono, membaca
berita perdagangan dari surat kabar Times, mendengarkan
lonceng gereja berdentangan di seberang Manhattan, setiap
dentangnya bagaikan memanjatkan doa.
Jennifer melihat pada Adam yang sedang asyik mengisi
teka-teki silang, dan berpikir: Panjatkanlah doa bagiku. Dia
tahu bahwa apa yang sedang dilakukannya itu salah. Dia tahu
bahwa itu tidak akan bertahan terus. Namun, dia tak pernah
mengecap kebahagiaan dan kenikmatan hidup demikian
besarnya. Orang-orang yang sedang bercinta hidup dalam
dunia tersendiri, di mana setiap rasa diagungkan, dan
kesenangan yang sedang dirasakan Jennifer dengan Adam
sekarang ini, sama nilainya dengan apa pun juga yang harus
dibayarnya kemudian hari. Dan Jennifer menyadari bahwa dia
harus membayar.
Waktu menunjukkan segi kehidupan yang lain. Selama ini,
hidup Jennifer diukur dengan jam dan pertemuan-pertemuan
dengan para klien. Kini dihitung waktunya menit demi menit
yang.dapat dihabiskannya bersama Adam. Dia memikirkan
Adam bila dia sedang bersamanya, dan dia juga memikirkan
laki-laki itu walaupun jauh darinya.
Jennifer pernah membaca tentang laki-laki yang mendapat
serangan jantung dalam pelukan kekasih simpanannya, dan
oleh karenanya disimpannya nomor telepon dokter pribadi
Adam dalam buku telepon pribadinya di samping tempat
tidurnya, supaya bila terjadi sesuatu, hal itu bisa diatasi segera
secara diam-diam tanpa mempermalukan Adam.
Jiwa Jennifer dipenuhi emosi yang tak pernah dikenalnya
sebelumnya. Dia tak pernah menganggap dirinya pandai
dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, namun dia ingin
berbuat apa saja bagi Adam. Dia ingin memasak untuknya,
membersihkan segala-galanya untuknya, menyiapkan
pakaiannya pagi hari. Merawatnya.
172
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam menyimpan beberapa setel pakaian di apartemen itu,
dan malam hari dia lebih banyak menghabiskan waktunya
bersama Jennifer. Jennifer berbaring di sampingnya,
memperhatikan Adam sampai laki-laki itu tertidur, dan dia
sendiri menahan kantuknya selama mungkin, karena dia takut
akan kehilangan satu saat saja dari kebersamaan mereka.
Akhirnya, bila Jennifer tak dapat lagi menahan matanya, dia
akan menyandarkan dirinya ke lengan Adam dan tidur dengan
perasaan puas dan aman. Penyakit tak bisa tidur yang begitu
lama diidap Jennifer, kini sudah hilang. Setan malam apa pun
yang menyiksanya dulu, kini telah lenyap. Bila dia
menggolekkan dirinya dalam pelukan Adam, dia langsung
merasa aman.
Kalau sedang berada dalam apartemen mereka, dia senang
sekali memakai kemeja Adam, dan malam hari dia memakai
piyama Adam. Bila dia masih berada di tempat tidur pagi hari,
sedang Adam sudah pergi, Jennifer akan berguling ke sisi
tempat Adam tidur. Dia suka mencium bekas bau tubuh Adam
yang hangat.
Rasanya semua lagu-lagu cinta populer yang didengarnya,
ditulis khusus untuk Adam dan dirinya, dan Jennifer berpikir,
Seniman Noel Coward memang benar. Sungguh
mengherankan betapa besarnya pengaruh musik murahan.
Mula-mula Jennifer menyangka bahwa perasaan badani
yang meletup-letup yang dihayatinya, lama-lama akan lenyap.
Tetapi ternyata sebaliknya, perasaan itu makin lama makin
kuat.
Diceritakannya pada Adam tentang dirinya, segala-galanya
yang tak pernah diceritakannya pada siapa pun juga. Dengan
Adam dia tak berkedok. Dia adalah Jennifer Parker,
sepolosnya, apa adanya, dan Adam tetap mencintainya.
Sungguh suatu keajaiban. Lalu ada lagi satu keajaiban yang
mereka nikmati bersama: mereka bisa tertawa.
173
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer makin lama makin cinta pada Adam, suatu hal
yang rasanya tak mungkin terjadi. Dia ingin agar apa yang
mereka miliki bersama, tidak akan berakhir. Tetapi dia tahu
bahwa itu akan berakhir juga. Baru kali inilah selama hidupnya
dia percaya akan takhyul. Adam suka minum semacam kopi
Kenya dengan rasa tertentu. Beberapa hari sekali Jennifer
membeli sedikit.
Tapi setiap kali dia hanya membeli sedikit.
Salah satu hal yang ditakuti Jennifer adalah kalau-kalau
sesuatu akan terjadi atas diri Adam, kalau dia sedang
bepergian, dan bahwa dia baru akan tahu setelah membaca
tentang kejadian itu, atau mendengarnya dari acara
pembacaan berita. Dia tak pernah menceritakan ketakutannya
itu pada Adam.
Bila Adam akan datang kemalaman, dia akan meninggalkan
surat-surat pendek di mana-mana dalam apartemen itu, yang
akan ditemukan Jennifer tanpa disangkanya. Mungkin dia
menemukannya dalam kotak tempat roti, atau di lemari es,
atau dalam sepatunya. Surat-surat itu amat menyenangkan
Jennifer dan dia menyimpannya semua.
Sisa-sisa hari yang masih memungkinkan mereka bersama
berlalu cepat dengan segala kegiatan mereka yang penuh
dengan kegembiraan. Akhirnya tibalah malam hari menjelang
pulangnya Mary Beth. Jennifer dan Adam makan malam di
apartemennya, mendengarkan musik dan bermain cinta.
Sepanjang malam itu Jennifer terbaring saja tanpa bisa tidur
sambil memeluk Adam terus. Dia terus mengingat-ingat
kebahagiaan yang mereka nikmati bersama.
Rasa sakitnya baru akan datang kemudian.
Waktu mereka sedang sarapan, Adam berkata, "Apa pun
yang terjadi, aku ingin kau tahu satu hal ..... kaulah satusatunya wanita yang kucintai dengan setulusnya."
Waktu itulah rasa sakit itu datang.
174
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
15
Obat penghilang rasa sakit itu adalah kerja, dan Jennifer
membenamkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan, hingga dia
tak punya waktu untuk berpikir.
Dia menjadi sasaran empuk pers, dan keberhasilannya
dalam ruang sidang selalu disebarluaskan. Klien-klien
berdatangan padanya, demikian banyaknya hingga tak
tertangani, dan walaupun perhatian khusus Jennifer adalah
pada bidang hukum kriminal, atas anjuran Ken dia juga mulai
menerima perkara-perkara lain.
Ken Bailey jadi lebih penting bagi Jennifer daripada semula.
Dia menangani bagian penyelidikan dalam perkaraperkaranya, dan dia pandai sekali. Dia bisa pula membahas
masalah-masalah lain dengan Ken, dan Jennifer menghargai
pendapat-pendapat Ken.
Jennifer dan Ken pindah lagi, kali ini ke sebuah gedung
perkantoran yang luas di Park Avenue. Jennifer
mempekerjakan dua orang ahli hukum muda yang cerdascerdas, Dan Martin dan Ted Harris, keduanya bekas staf
Robert Di Silva, dan dua orang sekretaris lagi.
Dan Martin adalah bekas pemain bola di Universitas
Northwestern, dia berpenampilan olahragawan, dan berotak
seorang sarjana.
Ted Harris adalah seorang anak muda yang kurus kecil dan
pemalu. Dia memakai kaca mata yang kacanya setebal botol
dan sangat pintar.
Martin dan Harris mengurus semua pekerjaan tulis-menulis,
dan Jennifer menangani pemunculan dalam sidang-sidang.
Papan nama pada pintu bertuliskan: JENNIFER PARKER &
ASSOCIATES.
175
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perkara-perkara yang datang di kantor mereka, mulai dari
pembelaan terhadap perusahaan-perusahaan industri
sehubungan dengan tuntutan polusi, sampai pada pembelaan
terhadap orang mabuk yang mengalami pencambukan waktu
diseret di kedai minum. Orang mabuk itu tentulah kiriman dari
Pater Ryan.
"Dia punya masalah kecil," kata Pater Ryan pada Jennifer.
"Dia sebenarnya seorang suami dan ayah yang baik, tapi lakilaki malang itu mendapat tekanan begitu hebat, hingga dia
kadang-kadang minum terlalu banyak."
Jennifer hanya bisa tersenyum. Kalau menurut Pater Ryan,
tak seorang pun dari warga parokinya yang bersalah, dan
satu-satunya keinginannya adalah membebaskan mereka dari
kesulitan yang mereka timbulkan sendiri, gara-gara
kecerobohan mereka. Jennifer bisa memahami imam itu,
karena pada dasarnya dia pun berperasaan demikian pula.
Mereka berhubungan dengan orang-orang dalam kesusahan
yang tak punya siapa-siapa untuk menolongnya, yang tak
punya uang maupun kemampuan untuk melawan pihak
penguasa, dan akhirnya mereka tergilas.
Kata keadilan sering kali hanya dihormati dalam
pelanggarannya. Dalam ruang sidang, baik jaksa penuntut
maupun pembela, tidak mencari keadilan: pokok pikiran
permainannya adalah untuk menang.
Sekali-sekali Jennifer dan Pater Ryan bercakap-cakap
tentang Connie Garret, tetapi pembicaraan tentang gadis itu
selalu membuat Jennifer merasa masygul. Sudah jelas terjadi
ketidakadilan dalam perkara itu, dan hal itu menyakitkan hati
Jennifer.
Dalam kantornya, di ruang belakang Restoran Lony,
Michael Moretti sedang mengamat-amati Nick Vito yang
sedang menyapu kantor dengan berhati-hati, dengan sebuah
alat elektronik, untuk mencari kalau-kalau ada alat penyadap
yang tersembunyi. Menurut seorang penghubungnya dipihak
176
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepolisian, tak satu alat penyelidik elektronik pun yang
diizinkan oleh pihak penguasa, tetapi sekali-sekali seorang alat
negara atau seorang detektif muda yang terlalu bersemangat,
memasang alat penyadap secara tak sah, dengan harapan
untuk mendapatkan informasi. Michael adalah orang yang
waspada. Kantor dan rumahnya setiap pagi dan malam selalu
disapu dengan cara begitu. Dia menyadari bahwa dia adalah
sasaran utama bagi beberapa badan hukum, namun dia tidak
merasa kuatir. Dia tahu apa yang mereka lakukan, tetapi
mereka tak tahu apa yang dia lakukan, dan kalaupun mereka
tahu, mereka tak dapat membuktikannya.
Kadang-kadang, larut malam Michael mengintai melalui
lubang di pintu belakang restoran, memperhatikan bagaimana
petugas-petugas FBI, yaitu Badan Intelejensi Pemerintah,
memungut sampahnya untuk diselidiki, dan diganti dengan
sampah lain.
Pada suatu malam Nick Vito berkata, "Ya Tuhan, Bos,
bagaimana kalau keparat-keparat itu sampai berhasil menggali
sesuatu?"
Michael tertawa. "Mudah-mudahan saja. Sebelum mereka
sampai kemari sudah kita tukarkan sampah kita dengan
sampah restoran di sebelah."
Tidak, petugas-petugas federal itu tidak akan bisa
menyentuhnya. Kegiatan-kegiatan keluarga telah meluas, dan
Michael punya rencana yang belum dikemukakannya. Satusatunya penghalang adalah Thomas Colfax. Michael menyadari
bahwa dia harus menyingkirkan ahli hukum tua itu. Dia
membutuhkan otak orang muda yang segar. Dan lagi-lagi
pikirannya tertuju pada Jennifer Parker.
Sekali seminggu Adam dan Jennifer bertemu untuk makan
siang, dan hal itu merupakan siksaan bagi mereka berdua,
karena mereka tak bisa tetap berduaan saja, tak bisa
mendapatkan ketenangan berduaan saja. Mereka berbicara
177
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melalui telepon dengan menggunakan nama-nama kode.
Adam adalah Tuan Adam, sedang Jennifer adalah Nona Jay.
"Aku benci sembunyi-sembunyi begini," kata Adam.
"Aku juga benci." Tetapi pikiran akan kehilangan Adam
membuat Jennifer takut.
Ruang sidanglah tempat pelarian Jennifer untuk
menghilangkan siksaan pribadinya. Ruang sidang itu adalah
panggung, tempat di mana dia mengadu kekuatan melawan
orang yang terbaik yang bisa ditawarkan oleh pihak lawan.
Ruang sidang merupakan sekolahnya dan dia belajar dengan
baik. Suatu sidang adalah suatu permainan yang dimainkan
dalam batas-batas peraturan yang kaku, di mana pemain yang
lebih baiklah yang menang, dan Jennifer bertekad untuk
menjadi pemain yang terbaik itu.
Tanya-jawab bagi Jennifer menjadi suatu peristiwa
panggung, dengan kecepatan, irama serta penentuan saat
yang terlatih. Dia belajar untuk mengenali pemimpinpemimpin juri dan memusatkan perhatiannya pada orang itu,
karena dia tahu bahwa orang itu akan bisa menyeret anggotaanggota yang lain.
Sepatu seseorang memberikan petunjuk tentang wataknya.
Jennifer mencari anggota juri yang mengenakan sepatu yang
enak dipakai, karena orang itu lebih cenderung mempunyai
sifat yang mudah diajak bermusyawarah.
Jennifer mempelajari tentang siasat, rencana keseluruhan
dari suatu sidang, dan mengenai taktik, gerak-gerik
pertempuran dari hari ke hari. Dia jadi ahli dalam mengambil
hati hakim.
Jennifer menghabiskan waktu berjam-jam untuk
menyiapkan setiap perkara, berhati-hati benar dalam
pemilihan kata-katanya, dia tahu bahwa, kebanyakan perkara
dimenangkan atau dikalahkan sebelum sidang dimulai. Dia jadi
pandai sekali dalam mencari hal-hal yang bisa membantu
178
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ingatannya, hingga dia bisa mengingat nama-nama para juri,
umpamanya: Smith — seorang laki-laki berotot yang sanggup
menangani kapak besar; Helm — laki-laki yang mengemudikan
kapal; Newman — seorang bayi yang baru lahir.
Sidang biasanya diistirahatkan pukul empat sore, dan bila
Jennifer sedang bertanya-jawab dengan seorang saksi
sebelum waktu istirahat itu, dia akan memperlambat jalannya
tanya-jawab sampai beberapa menit sebelum pukul empat,
untuk kemudian menghantam saksi itu dengan pukulan katakatanya, hingga bisa meninggalkan kesan kuat dan tangguh
atas diri juri.
Dia jadi pandai membaca bagian tubuh seseorang, bila
seorang saksi di mimbar sedang berbohong, akan tampaklah
beberapa gerak tubuh tertentu: menggosok-gosok dagu,
mengatupkan bibir erat-erat, menutupi mulut dengan tangan,
menarik-narik daun telinga, atau melicinkan rambut. Jennifer
jadi ahli dalam membaca gerak-gerik itu, dan dia pun lalu
mengambil langkah yang mematikan.
Jennifer tahu bahwa bagi seorang wanita adalah tidak
menguntungkan menjadi seorang pembela dalam perkara
kriminal. Dia bekerja dalam wilayah khusus untuk laki-laki.
Baru sedikit sekali pembela wanita dalam bidang kriminal, dan
beberapa orang pembela laki-laki membenci Jennifer. Pada
suatu hari Jennifer menemukan secarik kertas tertempel pada
tas kerjanya, bertulisan: Ahli-ahli hukum wanita merupakan
obat pencahar yang terbaik. Sebagai balasannya, Cynthia
memasang kertas di meja tulisnya dengan tulisan: Tempat
bagi seorang wanita adalah di rumah... dan dalam senat.
Kebanyakan juri mulai dengan bersikap penuh prasangka
terhadap Jennifer, karena kebanyakan perkara yang
ditanganinya adalah soal-soal yang kotor, dan kelihatan
adanya kecenderungan akan in jadi hubungan baik antara
dirinya dengan kliennya. Sesuai dengan pekerjaannya itu,
menurut orang banyak, sepantasnya dia berpakaian kelaki-
179
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lakian, tetapi dia tak mau. Namun dia juga menjaga agar
caranya berpakaian tidak sampai menimbulkan rasa iri pada
anggota juri yang wanita, meskipun dia tetap menampilkan
kewanitaannya, untuk tidak memberikan kesan pada kaum
laki-laki bahwa dia seorang lesbian. Suatu saat, Jennifer
mungkin akan menertawakan pertimbangan semacam itu.
Tetapi dalam ruang sidang hal itu merupakan kenyataan
paling keras. Karena dia sudah memasuki dunia laki-laki, maka
dia harus bekerja dua kali lebih berat dan dua kali lebih baik
daripada saingan-saingannya. Jennifer jadi tahu bahwa dia
tidak hanya harus mempersiapkan perkaranya sendiri dengan
sebaik-baiknya, tetapi dia juga harus mempelajari perkara
lawannnya dengan baik. Dia berbaring di tempat tidurnya
malam hari, atau duduk di meja tulisnya di kantor dan
membayangkan siasat lawannya. Apa yang akan dilakukannya
seandainya dia berada di pihak lawan? Kejutan apa yang akan
dibuatnya? Dia adalah seorang jenderal, yang merencanakan
pertempuran yang mematikan di kedua belah pihak.
Cynthia berbicara melalui intercom. "Ada seorang laki-laki
di saluran tiga yang ingin berbicara dengan Anda. Tapi dia tak
mau memberitahukan namanya atau mengatakan pada saya
mengenai hal apa."
Enam bulan yang lalu, Cynthia pasti sudah menolak laki-laki
itu. Tetapi Jennifer mengajarnya supaya tak pernah menolak
siapa pun juga.
"Hubungkan dia," kata Jennifer.
Sesaat kemudian didengarnya suara seorang laki-laki yang
bertanya dengan berhati-hati, "Apakah ini Jennifer Parker?"
"Benar."
Suara itu ragu-ragu. "Apakah saluran ini aman?"
“Ya, aman. Apa yang bisa saya perbuat untuk Anda?"
180
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukan untuk saya. Melainkan untuk... untuk seorang
teman saya."
"Oh, apa kesulitan teman Anda itu?"
"Harap Anda ingat benar, ini sesuatu yang harus
dirahasiakan."
"Saya mengerti."
Cynthia masuk lalu memberikan surat-surat pada Jennifer.
"Tunggu," kata Jennifer di alat penerima telepon.
"Keluarga teman saya itu mengurungnya di rumah sakit
jiwa. Padahal dia waras. Itu merupakan komplotan. Para
penguasa pun ikut campur tangan."
Jennifer hanya setengah mendengarkan. Disangkutkannya
gagang telepon itu ke bahunya sambil dia melihat-lihat suratsurat yang datang pagi itu.
Laki-laki itu berkata lagi, "Wanita itu kaya dan keluarganya
mengejar uangnya."
"Teruskan," kata Jennifer sambil terus memeriksa suratsurat.
"Mereka mungkin akan mengurung saya juga, bila mereka
tahu bahwa saya membantu teman saya itu. Itu bisa
membahayakan saya, Nona Parker."
Perkara yang tak masuk akal, jennifer menyimpulkan.
"Saya rasa saya tak bisa berbuat apa-apa, tapi bisa saya
sarankan supaya Anda mencari seorang dokter ahli penyakit
jiwa untuk membantu teman Anda itu”
"Anda tak mengerti. Semua orang sudah campur tangan
dalam hal itu."
"Saya mengerti," kata Jennifer membujuk. "Saya....”
"Maukah Anda menolongnya?"
181
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tak ada yang dapat saya — atau begini saja. Coba beri
saya nama dan alamat teman Anda itu dan bila ada
kesempatan, akan saya lihat."
Lama keadaan sepi. Akhirnya laki-laki itu berkata, “tapi
ingat ini harus dirahasiakan."
Jennifer ingin laki-laki itu berhenti berbicara. Kliennya yang
pertama sudah menunggu di ruang tunggu. "Akan saya ingat."
"Cooper. Helen Cooper. Dia mempunyai sebidang tanah
milik di Long Island, tapi mereka telah merampasnya."
Jennifer mencatatnya dengan patuh di dalam buku
catatannya. "Baik. Di sanatorium apa kata Anda dia
ditempatkan?"
Terdengar bunyi gagang telepon diletakkan dan hubungan
pun terputus. Jennifer melemparkan catatan tadi ke keranjang
sampah.
Dia berpandangan dengan Cynthia. "Keras benar dunia di
luar sana," kata Cynthia. "Nona Marshall menunggu, dia ingin
berbicara dengan Anda."
Seminggu sebelumnya Jennifer telah berbicara dengan
Lorretta Marshall melalui telepon. Nona Marshall telah
meminta Jennifer untuk membelanya dalam menuntut Curtis
Randall III sebagai ayah dari bayinya. Curtis Randall III adalah
seorang laki-laki kaya yang punya pergaulan luas dalam
masyarakat.
Jennifer sudah pula berbicara dengan Ken Bailey tentang
hal itu. "Kita memerlukan informasi tentang Curtis Randall III.
Dia tinggal di New York, tapi kudengar dia sering berada di
Palm Beach. Aku ingin tahu latar belakangnya, dan apakah dia
pernah meniduri seorang gadis bernama Lorretta Marshall."
Sudah diberikannya pada Ken nama hotel-hotel di Palm
Beach yang diberikan wanita itu padanya. Dua hari kemudian
Ken Bailey melapor kembali.
182
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Semuanya cocok. Selama dua minggu mereka
menghabiskan waktu bersama di hotel-hotel di Palm Beach,
Miami, Atlantic City. Lorretta Marshall telah melahirkan
seorang anak perempuan delapan bulan yang lalu."
Jennifer duduk bersandar dan melihat pada Ken sambil
merenung. "Kedengarannya kita bisa menuntutnya."
"Kurasa tidak."
"Apa masalahnya?"
"Masalahnya klien kita itu. Dia suka tidur dengan siapa saja
tanpa pilih bulu."
"Maksudnya, ayah bayi itu bisa siapa saja di antara jumlah
yang banyak itu?"
"Maksudku bisa saja salah seorang dari sepat uli dunia ini."
"Apakah ada di antara yang lain-lain itu yang cukup kaya
untuk mampu menanggung biaya seorang bayi?"
"Yah, banyak di antaranya cukup kaya, tapi yang terkaya
memang Curtis Randall III."
Ken memberinya sehelai daftar nama-nama yang panjang.
Lorretta Marshall melangkah memasuki kamar. Jennifer tak
dapat membayangkan wanita bagaimana yang akan
dilihatnya. Besar kemungkinannya seorang pelacur cantik yang
berkepala kosong. Tetapi Lorretta Marshall betul-betul
merupakan suatu kejutan. Dia bukan saja tak cantik, dia
bahkan boleh dikatakan biasa-biasa saja. Potongan tubuhnya
biasa. Mengingat banyaknya pengalaman romantis Nona
Marshall, Jennifer telah mengharapkan tak kurang dari
seseorang yang cantik mempesona. Sedang Lorretta Marshall
dapat disamakan dengan seorang guru SD biasa. Dia
mengenakan rok dari wol bercorak kotak-kotak, blus berleher
kemeja yang dikancing sampai ke atas, sehelai vest berwarna
biru tua, dan sepatu yang nyaman dipakai. Mula-mula Jennifer
183
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yakin bahwa Lorretta Marshall berencana untuk memperalat
dirinya guna memaksa Curtis Randall supaya membayar biayabiaya membesarkan bayi yang sebenarnya bukan anaknya.
Setelah bercakap-cakap selama sejam, Jennifer tahu bahwa
pendapatnya tadi berubah. Lorretta Marshall polos dan jujur.
"Tentu saja saya tak punya bukti bahwa Curtis adalah ayah
Melanie," katanya sambil tersenyum malu. "Curtis bukan satusatunya laki-laki yang meniduri saya."
"Lalu apa yang membuat Anda berpikir bahwa dialah ayah
anak Anda itu, Nona Marshall?"
"Saya bukan sekedar berpikir. Saya yakin akan hal itu.
Memang sulit menjelaskannya, tetapi saya bahkan tahu saat
Melanie menjadi janin. Seorang wanita kadang-kadang bisa
merasakannya."
Jennifer mengamat-amatinya, mencoba menemukan suatu
tanda kepalsuan atau kebohongan. Namun tak ditemukannya.
Gadis itu sama sekali tak berpura-pura. Mungkin, sifatnya
yang itulah yang merupakan daya tarik khusus bagi laki-laki.
"Apakah Anda mencintai Curtis Randall?"
"Oh ya. Dan Curtis mengatakan bahwa dia juga mencintai
saya. Sekarang saya tentu tak yakin lagi, apakah dia masih
mencintai saya, setelah semua kejadian ini."
Bila kau mencintainya, pikir Jennifer keheranan, bagaimana
kau bisa tidur dengan semua laki-laki yang lain itu? Jawabnya
mungkin terletak pada wajah murung yang biasa-biasa saja
itu, serta potongan badan yang tak istimewa.
"Bisakah Anda membantu saya, Nona Parker?" "Perkara
menuntut orang sebagai ayah selalu sulit," kata Jennifer
dengan berhati-hati. "Pada saya ada daftar panjang nama lakilaki yang jumlahnya belasan orang, yang pernah menjadi
teman tidur Anda dalam tahun lalu. Mungkin masih ada yang
lain lagi. Kalau saya saja mempunyai daftar seperti itu, pasti
pembela Curtis Randall pun punya juga."
184
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lorretta Marshall mengerutkan alisnya. "Bagaimana dengan
tes golongan darah, atau semacamnya ...?"
"Tes darah itu hanya boleh diajukan sebagai barang bukti,
untuk membuktikan bahwa si terdakwa bukan ayahnya. Tes
semacam itu tidak bisa menjadi dasar yang sah."
"Sebenarnya bukan diri saya sendiri yang saya pikirkan.
Saya ingin Melanie terlindung. Bukankah layak kalau Curtis
mengurus anaknya?"
Jennifer ragu-ragu mempertimbangkan keputusannya. Dia
telah mengatakan yang sebenarnya pada Lorretta Marshall.
Perkara tuntutan sebagai ayah memang sulit. Bahkan kadangkadang kacau dan menjengkelkan. Pembela terdakwa pasti
akan berusaha untuk menghancurkannya bila perempuan ini
disuruh mengambil tempat di mimbar. Mereka akan
mengajukan sederetan laki-laki yang pernah menidurinya, dan
sebelum mereka selesai, mereka akan memberikan kesan
bahwa gadis ini tak lebih dari seorang pelacur. Perkara seperti
itu bukanlah perkara di mana Jennifer suka melibatkan dirinya.
Sebaliknya, dia merasa percaya pada Lorretta Marshall. Dia
bukan bangsanya wanita pencari keuntungan yang ingin
memeras bekas pacarnya, Gadis itu yakin benar bahwa Curtis
Randall adalah ayah anaknya. Jennifer lalu mengambil
keputusan.
"Baiklah," katanya, "kami akan bekerja keras untuk
menyelesaikannya."
Jennifer mengatur suatu pertemuan dengan Roger Davis,
ahli hukum yang membela Curtis Randall. Davis adalah
seorang partner dalam suatu perusahaan pengacara besar di
Wall Street, dan betapa penting kedudukannya dalam
perusahaan itu dilihat dari luas dan bagusnya ruangan yang
ditempatinya. Dia sombong dan angkuh, dan Jennifer
membencinya pada pandangan pertama itu.
"Apa yang dapat saya bantu?" tanya Roger Davis.
185
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sebagaimana yang sudah saya jelaskan melalui telepon,
saya datang untuk kepentingan Lorretta Marshall."
Laki-laki itu melihat padanya dengan pandangan tak sabar,
"Jadi?"
"Dia telah meminta bantuan saya untuk mengajukan
tuntutan terhadap Tuan Curtis Randall III, sebagai ayah. Saya
lebih suka untuk tidak melakukannya."
"Anda tolol sekali kalau mau."
Jennifer menahan rasa marahnya. "Kami tak ingin
menyeret nama klien Anda ke pengadilan. Karena saya yakin
Anda pun tahu bahwa perkara semacam ini bisa menodai
nama. Oleh karenanya, kami bersedia mengadakan sesuatu
perjanjian yang adil di luar pengadilan."
Roger Davis tersenyum mengejek pada Jennifer. "Saya
tahu Anda tentu mau mengusulkannya. Karena Anda tak
punya dasar hukumnya. Sama sekali tidak."
"Saya rasa ada."
"Nona Parker, saya tak punya waktu untuk banyak bicara.
Klien Anda adalah seorang pelacur. Dia mau tidur dengan
semua makhluk yang bergerak. Saya punya daftar nama lakilaki yang menidurinya. Daftar itu sepanjang lengan saya ini.
Apakah Anda pikir bahwa klien saya yang akan menjadi
korban? Klien Andalah yang akan hancur. Kalau tak salah dia
seorang guru. Kelak, bila saya sudah selesai menanganinya,
dia tidak akan bisa mengajar lagi di mana pun juga seumur
hidupnya. Dan akan saya katakan satu hal lagi. Randall juga
percaya bahwa dialah ayah bayi itu. Tapi Anda tidak akan
pernah bisa membuktikannya sampai kapan pun."
Jennifer duduk bersandar mendengarkan, wajahnya tidak
mengungkapkan apa-apa.
186
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kami berpendapat bahwa klien Anda bisa saja dihamili
oleh siapa pun juga, termasuk oleh orang yang serendahrendahnya sekalipun. Anda ingin membuat perjanjian? Baiklah.
Tapi baik saya katakan apa yang akan kami lakukan. Kami
akan membelikan Anda pil antihamil, supaya hal itu tidak
terjadi lagi."
Jennifer bangkit, pipinya panas rasa terbakar. "Tuan Davis,"
katanya, "pidato singkat Anda itu akan membuat klien Anda
harus membayar setengah juta dolar."
Dan Jennifer lalu keluar.
Ken Bailey yang dibantu oleh tiga orang asisten pun tak
mampu menggali apa-apa untuk menjatuhkan Curtis Randall
III. Dia seorang duda, seorang tokoh yang berdiri tegak
bagaikan tonggak bersih dalam masyarakat, dan dia jarang
sekali terlibat dalam peristiwa seks.
"Si Keparat itu sesuci orang yang dilahirkan kembali," keluh
Ken Bailey.
Mereka duduk di ruang pertemuan tengah malam, yailu
malam menjelang sidang yang akan menentukan supaya
seorang ayah membiayai anaknya. "Aku telah berbicara
dengan salah seorang pengacara di kantor Davis, Jennifer.
Mereka bertekad akan menghancurkan klien kita. Mereka
tidak main-main”.
“Mengapa kau mau begitu bersusah payah untuk kasus
itu?" tanya Dan Martin.
"Aku tidak akan menilai kehidupan seks-nya, Dan. Dia yakin
bahwa Curtis Randall adalah ayah bayinya. Maksudku, dia
betul-betul yakin. Yang diingininya adalah uang untuk bayinya
— tak satu sen pun untuk dirinya sendiri. Kurasa dia pantas
dibela di pengadilan."
"Kami bukannya memikirkan dia," sahut Ken. "Kami
memikirkan kau. Kau sudah terkenal. Semua orang
187
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperhatikan kau. Kurasa perkara ini tak mungkin
dimenangkan. Maka itu akan menodai namamu."
"Baiknya kita semua tidur," kata Jennifer. "Sampai bertemu
di pengadilan."
Jalannya sidang bahkan lebih buruk daripada yang
diramalkan Ken Bailey. Jennifer telah menyuruh Lorretta
Marshall membawa bayinya ke ruang sidang, tapi kini Jennifer
bertanya sendiri apakah dia tidak membuat kesalahan taktik.
Jennifer duduk saja tanpa bisa berbuat apa-apa, sementara
Roger Davis mengajukan saksi-saksi secara bergantian ke
mimbar, dan memaksa mereka satu demi satu untuk
mengakui bahwa mereka sudah pernah tidur dengan Lorretta
Marshall. Jennifer tak berani menanyai mereka. Mereka
adalah korban, dan mereka memberikan kesaksian di muka
umum hanya karena dipaksa. Jennifer tak dapat berbuat apaapa, kecuali duduk saja, sementara nama kliennya dikotori
habis-habisan. Diperhatikannya wajah para juri dan dilihatnya
bahwa rasa kebencian mereka makin lama makin bertambah.
Roger Davis pandai sekali, dia tak mau menuding Lorretta
Marshall sebagai pelacur. Dia tak perlu berbuat demikian.
Orang-orang yang di mimbar itu yang melakukan untuknya.
Jennifer telah membawa pula saksi-saksi tokohnya sendiri,
untuk memberikan kesaksian tentang jasa-jasa baik yang telah
diberikan Lorretta Marshall sebagai seorang guru, bahwa dia
pergi ke gereja secara teratur, dan bahwa dia adalah seorang
ibu yang baik; namun semuanya itu tidak memberikan
pengaruh dibanding dengan banyaknya jumlah pacar Lorretta
Marshall. Jennifer berharap agar bisa mendapatkan simpati
dari juri dan membesar-besarkan nasib buruk seorang wanita
muda yang telah dikhianati oleh seorang hidung belang yang
kaya dan kemudian ditinggalkan setelah hamil. Namun sidang
tidak demikian jalannya.
Curtis Randall III duduk di meja tertuduh. Dia seolah-olah
merupakan orang pilihan dari seorang sutradara. Dia seorang
188
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
laki-laki yang masih kelihatan bergaya dalam umurnya yang
sudah mendekati enam puluh tahun, dengan rambut yang
sudah banyak beruban, raut muka yang teratur, dan kulitnya
berwarna coklat karena sengatan matahari. Dia keturunan
keluarga yang berlatar belakang orang-orang terkenal dalam
masyarakat, menjadi anggota perkumpulan-perkumpulan yang
baik, kaya dan berhasil. Jennifer bisa merasakan seolah-olah
anggota-anggota juri yang wanita membuka pakaian laki laki
itu dalam hati mereka.
Pasti, pikir Jennifer. Mereka berpikir bahwa merekalah yang
pantas tidur bersama pangeran menarik itu, dan bukan wanita
jelek yang duduk dalam ruang sidang dengan memangku bayi
berumur sepuluh bulan itu.
Malangnya lagi bagi Lorretta Marshall, anak itu samasekali
tidak ada kesamaan dengan ayahnya. Bahkan sebenarnya
tidak pula dengan ibunya. Bisa saja dia bayi orang lain.
Seolah-olah membaca pikiran Jennifer itu, Roger Davis
berkata pada juri, "Itu mereka duduk, Tuan-tuan dan Nyonyanyonya, ibu dan anak. Ya. Tapi anak siapa? Anda telah melihat
Tertuduh. Saya mau menantang siapa saja dalam ruang
sidang inil yang bisa menunjukkan satu saja kesamaan antara
Tertuduh dengan bayi ini. Bila klien saya adalah ayah anak ini,
pasti ada suatu tanda sekecil apa pun sesuatu di mata
mereka, atau di hidung, atau dagu. Mana persamaan itu? Tak
ada bukan? Dan alasannya sederhana sekali. Tertuduh bukan
ayah anak ini. Tidak, saya kuatir sekali bahwa yang sedang
kita hadapi sekarang adalah suatu contoh klasik dari seorang
perempuan liar yang ceroboh, yang menjadi hamil, lalu
melihat-lihat pacarnya yang mana yang kira-kira bisa
membiayai hidupnya."
Suaranya menjadi halus. "Yah, tak seorang pun di antara
kita di sini boleh menudingnya. Apa yang ingin dilakukan
Loretta Marshall dalam kehidupan pribadinya adalah
urusannya sendiri. Kenyataan bahwa dia adalah seorang guru,
189
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan dengan demikian bisa mempengaruhi pikiran anak-anak
kecil, yah, itu pun bukan hak saya untuk memutuskannya.
Saya berdiri di sini bukan hendak berceramah tentang moral;
saya di sini sekedar melindungi kepentingan-kepentingan
seorang pria yang tak bersalah”.
Jennifer memperhatikan para anggota juri, dan hatinya
luruh melihat bahwa semuanya berada di pihak Curtis Randall.
Jennifer tetap percaya pada Lorretta Marshall. Kalau saja bayi
itu serupa dengan ayahnya! Roger Davis memang benar.
Sama sekali tak ada persamaannya. Dan Davis telah berusaha
agar juri menyadari hal itu.
Jennifer memanggil Curtis Randall ke mimbar. Dia tahu
inilah satu-satunya kesempatan untuk memperbaiki kerusakan
yang telah terjadi, kesempatannya yang terakhir untuk
memutar balikkan persoalan. Diperhatikannya sebentar lakilaki di kursi saksi itu.
"Pernahkah Anda menikah, Tuan Randall?"
"Pernah. Istri saya meninggal dalam suatu kebakaran."
Kata-kata itu dengan sendirinya menimbulkan reaksi berupa
simpati di kalangan juri.
Sialan! Jennifer cepat-cepat melanjutkan. "Apakah Anda tak
pernah menikah lagi?"
"Tidak. Saya terlalu mencintai istri saya, dan saya....”
"Apakah Anda dan istri Anda mempunyai anak?"
"Tidak. Malangnya dia tak bisa mendapatkannya."
Jennifer menunjuk pada bayi itu. "Kalau begitu apakah
Melanie satu-satunya....”
"Keberatan!"
"Keberatan dibenarkan. Pembela dari Penggugat
seharusnya tahu itu."
190
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maaf, Yang Mulia. Pertanyaan itu terluncur ke luar."
Jennifer berbalik lagi pada Curtis Randall. "Apakah Anda suka
pada anak-anak?"
"Ya, suka sekali."
"Anda adalah ketua dewan direksi dalam perusahaan
Anda sendiri bukan, Tuan Randall?"
"Benar."
"Tak pernahkah Anda berharap untuk mempunyai seorang
anak laki-laki yang akan melanjutkan nama Anda?"
"Saya rasa semua laki-laki menginginkannya."
"Jadi, seandainya Melanie dilahirkan sebagai anak laki-laki
dan bukan....”
"Keberatan!"
"Keberatan dibenarkan." Hakim menoleh pada Jennifer.
"Nona Parker, saya harap Anda tidak berbuat begitu lagi."
"Maaf, Yang Mulia." Jennifer berbalik kembali pada Curtis
Randall. "Tuan Randall, apakah Anda biasa mengambil wanitawanita yang tidak Anda kenal, lalu membawanya ke hotel?"
Dengan gugup Curtis Randall menjilatkan lidahnya ke bibir
bawahnya. "Tidak."
"Tidakkah Anda mula-mula bertemu dengan Lorretta
Marshall di sebuah bar, lalu membawanya ke sebuah kamar di
hotel?"
Lidah laki-laki itu menjilat bibirnya lagi. "Benar.... tapi itu
hanya.... kebutuhan seks saja."
Jennifer membelalak padanya. "Anda mengatakan itu
hanya 'kebutuhan seks saja', seolah-olah Anda merasa bahwa
seks itu sesuatu yang kotor."
"Tidak." Lidahnya terulur lagi.
191
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer memperhatikan gerak itu, dia terpesona melihat
lidah itu bergerak-gerak menjilati bibirnya Tiba-tiba pikirannya
dipenuhi oleh suatu harapan yang masih samar. Kini dia tahu
apa yang harus dilakukannya. Dia harus menanyai orang itu
terus-menerus. Namun dia harus berhati-hati supaya juri tidak
sampai bersikap memusuhinya.
"Berapa banyak wanita yang pernah Anda ajak pergi dari
bar?"
Roger Davis melompat bangkit. "Tak ada hubungannya,
Yang Mulia. Dan saya berkeberatan dengan pertanyaanpertanyaan semacam itu. Hanya Lorretta Marshall-lah satusatunya wanita yang terlibat dalam perkara ini. Kita sudah
tahu bahwa Tertuduh memang sudah mengadakan hubungan
suami-istri dengan wanita itu. Kecuali itu, kehidupan
pribadinya tak ada hubungannya dalam ruang sidang ini."
"Saya tidak sependapat, Yang Mulia. Bila Tertuduh adalah
semacam laki-laki yang....”
"Keberatan dibenarkan. Harap hentikan cara bertanya yang
begitu, Nona Parker."
Jennifer mengangkat bahunya. "Baik, Yang Mulia." Dia
berpaling lagi pada Curtis Randall. “Mari kita ingat kembali
malam hari Anda mengajak Lorretta Marshall pergi dari bar.
Bagaimana bar itu?"
"Saya.... saya tak ingat. Saya belum pernah ke sana
sebelum itu."
"Bar itu adalah bar yang biasanya didatangi oleh orangorang seorang diri, bukan?"
"Saya tak tahu."
"Nah, supaya Anda tahu, Bar The Play Pen itu sejak dulu
adalah bar untuk orang-orang seorang diri. Tempat itu
terkenal menjadi tempat jemputan wanita-wanita, suatu
tempat pertemuan antara laki-laki dan wanita untuk kemudian
192
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pergi tidur bersama. Bukankah untuk itu Anda pergi ke sana,
Tuan Randall?"
Curtis Randall mulai menjilat bibirnya lagi. “Mung....
mungkin begitu. Saya tak ingat."
“Anda tak ingat?" Suara Jennifer bernada mengejek.
"Ingatkah Anda tanggal pertemuan Anda yang pertama
dengan Lorretta Marshall di bar itu?"
“Tidak, saya tak ingat. Tak pasti."
“Kalau begitu biar saya ingatkan Anda."
Jennifer berjalan ke meja penggugat dan mulai melihatlihat beberapa surat-surat. Dituliskannya sehelai surat pendek
seolah-olah dia sedang menyalin suatu tanggal, lalu
diberikannya pada Ken Bailey. Laki-laki itu membacanya
dengan teliti, wajahnya menunjukkan keheranan.
Jennifer berjalan kembali ke meja saksi. "Waktu itu tanggal
sepuluh Januari, Tuan Randall."
Dari sudut matanya, Jennifer melihat Ken Bailey
meninggalkan ruang sidang.
"Saya rasa, mungkin. Seperti saya katakan, saya tidak
ingat."
Selama lima belas menit berikutnya, Jennifer terus
menanyai Curtis Randall. Tanya-jawab itu berjalan lancar,
namun tak gencar, dan Roger Davis tidak menyela karena dia
melihat bahwa Jennifer tidak mendapatkan perhatian para juri,
yang mulai tampak bosan.
Jennifer bercakap terus sambil mengawasi Ken Bailey dari
sudut matanya. Di tengah-tengah suatu pertanyaan, Jennifer
melihat Ken bergegas masuk ke ruang sidang dengan
membawa sebuah bungkusan kecil.
Jennifer mengalihkan pandangannya pada hakim. "Yang
Mulia, bolehkah saya minta istirahat lima belas menit?"
193
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hakim melihat pada jam di dinding. "Karena sekarang
sudah hampir waktu makan siang, sidang ditunda sampai jam
setengah dua."
Pukul setengah dua sidang mulai berjalan lagi Jenntfer
menyuruh Lorretta Marshall pindah duduk ke tempat yang
lebih dekat dengan tempat juri dengan bayi di pangkuannya.
Hakim berkata, "Tuan Randall, Anda masih dalam keadaan
di bawah sumpah. Anda tidak akan disumpah lagi. Silakan
mengambil tempat di mimbar."
Jennifer memperhatikan Curtis Randall yang duduk di
mimbar saksi. Dia berjalan mendekatinya dan bertanya,
"Berapa orang anak Anda yang tak sah?"
Roger Davis bangkit. "Keberatan! Ini keterlaluan, Yang
Mulia. Saya tak mau klien sava dijadikan bahan penghinaan."
Hakim berkata, "Keberatan dibenarkan" Dia menoleh pada
Jennifer. "Nona Parker, Anda sudah saya peringati....”
"Maaf, Yang Mulia," kata Jennifer dengan kesal. Ia
memandang pada Curtis Randall, dan melihat bahwa dia telah
berhasil mendapatkan apa yang diingininya. Dia sedang
menjilat-jilat bibirnya dengan gugup. Jennifer menoleh ke
Lorretta Marshall dan bayinya. Bayi itu sedang menjilati
bibirnya pula. Jennifer berjalan perlahan-lahan ke arah bayi
itu, lalu berdiri lama-lama di depannya untuk memusatkan
perhatian juri ke arah itu.
"Lihatlah anak itu," kata Jennifer dengan suara halus.
Mereka semua menatap ke Melanie kecil, yang sedang
menjilat-jilatkan lidahnya yang dadu ke bibirnya.
Jennifer berbalik lalu berjalan kembali ke mimbar saksi.
"Dan lihat pula laki-laki ini."
Dua belas pasang mata terpusat pada Curtis Randall. Lakilaki itu duduk sambil menjilati bibir bawahnya, dan tiba-tiba
194
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tak ada lagi yang dapat menyangkal persamaan antara
keduanya. Terlupakanlah kenyataan bahwa Lorretta Marshall
telah ditiduri oleh belasan laki-laki lain. Orang lupa akan
kenyataan bahwa Curtis Randall itu bagaikan tonggak lambang
kesempurnaan dalam masyarakat.
"Inilah laki-laki," kata Jennifer dengan suara murung, "yang
mempunyai kedudukan dan harta. Seorang laki-laki yang
terpandang. Hanya satu pertanyaan yang akan saya tanyakan:
laki-laki macam apakah yang tak mau mengakui anaknya
sendiri?"
Kurang dari satu jam juri keluar untuk bermusyawarah.
Mereka kembali dengan keputusan yang menguntungkan
pihak penggugat. Lorretta Marshall akan menerima dua ratus
ribu dolar tunai, dan dua ribu dolar sebulan untuk
pemeliharaan anaknya.
Setelah keputusan itu dijatuhkan, Roger Davis berjalan
dengan gontai mendapatkan Jennifer mukanya merah
karena marah. "Apa yang telah Anda perbuat dengan bayi
itu?"
"Apa maksud Anda?"
Roger Davis ragu-ragu, dia jadi tak yakin akan dirinya.
"Soal bibir itu. Itulah yang membuat juri memihak Anda, cara
bayi itu menjilat-jilat bibirnya itu. Bisakah Anda
menjelaskannya?"
"Sebenarnya," kata Jennifer dengan anggun, "bisa saja.
Itulah yang disebut sifat keturunan." Dan dia pergi.
Jennifer dan Ken Bailey membuang botol bekas sirup dalam
perjalanan mereka pulang ke kantor
Boleh dikatakan sejak semula Adam Warner sudah tahu
bahwa perkawinannya dengan Mary Beth merupakan suatu
kekeliruan. Dia telah bertindak tanpa pertimbangan dan
bercita-cita terlalu muluk mencoba melindungi seorang gadis
195
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang kelihatannya sangat menderita dan sangat peka
terhadap segala kejahatan di dunia.
Adam mau mengorbankan apa saja asalkan tidak menyakiti
Mary Beth, tetapi cintanya pada Jennifer sangat mendalam.
Dia membutuhkan seseorang yang dapat diajak berbicara, dan
pilihannya jatuh pada Stewart Needham. Stewart selalu
bersikap penuh perhatian padanya. Dia akan mengerti
kedudukan Adam.
Ternyata bahwa pertemuan dengan Stewart sangat lain
sifatnya daripada yang direncanakan Adam. Waktu Adam
memasuki kantor Stewart Needham, pria itu berkata, "Tepat
sekali saatnya. Aku baru saja selesai berbicara melalui telepon
dengan panitia pemilihan. Mereka akan meminta dengan resmi
padamu supaya bersedia berkampanye untuk keanggotaan
Senat Amerika Serikat. Kau akan mendapat dukungan penuh
dari partai."
"Aku.... bagus sekali," kata Adam.
"Banyak yang harus kita kerjakan, Sahabat. Kita harus
mulai mengatur beberapa hal. Aku akan membentuk suatu
panitia pengumpulan dana. Kurasa kita harus mulai dari
situ...."
Selama dua jam mereka membahas rencana-rencana untuk
kampanyenya.
Setelah mereka selesai, Adam berkata, "Stewart, ada
sesuatu yang bersifat pribadi yang ingin kubicarakan
denganmu."
"Sayang, aku sudah terlambat untuk menemui seorang
klien, Adam."
Dan Adam tiba-tiba punya perasaan bahwa Stewart
Needham sudah tahu sejak semula apa yang ada dalam
pikiran Adam.
*
196
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam berjanji untuk bertemu dan makan siang bersama
Jennifer di sebuah restoran perusahaan susu di West Side.
Jennifer sedang menunggunya di kamar kecil di belakang.
Adam masuk dengan penuh semangat, dan melihat air
mukanya, Jennifer tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
"Ada berita untukmu," kata Adam. "Aku diminta
berkampanye untuk menjadi anggota Senat Amerika Serikat."
"Waduh, Adam!" Jennifer tiba-tiba merasa sangat berdebar.
"Hebat sekali! Kau akan menjadi senator yang jempolan."
"Persaingannya akan berat sekali. New York ini, negara
bagian yang keras."
"Tidak apa-apa. Tak seorang pun bisa mengalahkan kau."
Dan Jennifer yakin bahwa itu benar. Adam cerdas dan penuh
keberanian, dia mau memperjuangkan pendiriannya. Jennifer
merasa bahwa dia pun pernah berjuang keras.
Jennifer menggenggam tangan Adam, dan berkata! dengan
hangat, "Aku bangga sekali padamu, Sayang."
"Tenang, aku belum lagi terpilih. Kau tentu pernah
mendengar tentang permainan kotor yang biasa dipakai orang
dalam usaha itu."
"Itu tak ada hubungannya dengan rasa banggaku
terhadapmu. Aku cinta sekali padamu, Adam."
"Aku juga cinta padamu."
Adam ingin menceritakan pada Jennifer tentang
rencananya yang hampir terlaksana untuk membicarakan soal
mereka dengan Stewart Needham, tetapi dia mengurungkan
niatnya itu. Biarlah nanti saja sampai dia selesai
membereskannya.
"Kapan kau akan mulai berkampanye?"
197
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mereka minta agar aku segera mengumumkan bahwa aku
akan mencalonkan diri. Aku harus mendapatkan dukungan
penuh dari partai."
"Bagus sekali."
Ada sesuatu yang tidak bagus yang mengganggu pikiran
Jennifer. Sesuatu yang tak mau dia mengucapkannya, tapi dia
tahu bahwa cepat atau lambat dia akan harus
menghadapinya. Dia ingin agar Adam menang, tetapi
kampanye untuk keanggotaan senat itu akan merupakan
pedang yang beracun, yang mengancam dirinya. Bila Adam
menang, dia akan kehilangan kekasihnya itu. Dia harus
berkampanye dengan nama yang bersih, dan tidak akan ada
lagi peluang dalam hidupnya untuk berbuat sesuatu yang bisa
mengancam nama baiknya. Dia seorang pria yang beristri, dan
kalau sampai diketahui umum bahwa dia mempunyai kekasih
gelap, itu akan merupakan bunuh diri dalam politik.
Malam itu pertama kalinya sejak dia jatuh cinta pada Adam,
Jennifer tak bisa tidur. Dia tak tidur sampai subuh, berjuang
melawan hantu-hantu malam.
Cynthia berkata, "Ada telepon menunggu Anda. Dari
makhluk penghuni Mars dulu itu lagi."
Jennifer menatapnya tanpa mengerti.
"Maksud saya, orang yang bercerita tentang rumah sakit
gila itu."
Jennifer sudah lupa sama sekali pada laki-laki itu. Agaknya
dia benar-benar memerlukan bantuan seorang dokter ahli
penyakit jiwa.
"Katakan supaya dia...." Dia mendesah. "Sudah, biarlah.
Biar aku sendiri yang mengatakannya."
Diangkatnya gagang telepon. "Jennifer Parker."
198
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suara yang sudah dikenalnya, berkata, "Adakah Anda
selidiki tentang informasi yang saya berikan dulu?"
"Saya belum sempat." Dia ingat bahwa catatan yang telah
dibuatnya dulu sudah dibuangnya. "Saya ingin membantu
Anda. Dapatkah Anda menyebutkan nama Anda?"
"Tak bisa," bisik laki-laki itu. "Orang-orang itu akan
mengejar saya juga. Tolong selidiki saja. Helen Cooper. Long
Island."
"Saya bisa memberi tahu Anda seorang dokter yang....”
Hubungan terputus.
Jennifer masih tetap duduk sebentar, berpikir, lalu meminta
Ken Bailey datang ke kamar kerjanya.
"Ada apa, Bos?"
"Kurasa... tak apa-apa. Aku beberapa kali menerima
telepon aneh dari seseorang yang tak mau menyebutkan
namanya. Maukah kau menolong mencari tahu tentang
seorang wanita yang bernamai Helen Cooper? Katanya dia
memiliki sebidang tanah yang luas di Long Island."
"Di mana dia sekarang?"
"Kalau tidak di suatu rumah sakit jiwa, ya di Planet Mars."
Dua jam kemudian, Ken Bailey masuk kembali dan
mengejutkan Jennifer karena mengatakan, "Penghuni Planet
Mars-mu itu sudah mendarat. Memang ada seseorang yang
bernama Helen Cooper yang dikurung di Rumah Sakit Jiwa
The Heathers di Westchester."
"Yakinkah kau?" tanya Jennifer.
Ken Bailey tampak tersinggung.
"Bukan itu maksudku," kata Jennifer cepat-cepat.
199
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ken adalah seorang detektif paling ulung yang pernah
dikenalnya. Dia tak pernah mengatakan sesuatu bila dia belum
meyakininya, dan dia tidak pernah salah dalam menyatakan
pendapatnya.
"Apa urusan kita dengan wanita itu?" tanya Ken.
"Ada orang yang berpikir bahwa dia dipaksa masuk ke
rumah sakit jiwa itu. Kuminta kau mau meneliti latar
belakangnya. Aku ingin tahu tentang keluarganya."
Informasi itu sudah ada di meja Jennifer esok paginya.
Helen Cooper adalah janda seorang bangsawan yang telah
diwarisi kekayaan besar senilai empat juta dolar oleh
almarhum suaminya. Putrinya menikah dengan pengawas
bangunan tempat mereka tinggal, dan enam bulan setelah
pernikahan itu, kedua mempelai itu pergi ke pengadilan untuk
meminta agar ibu itu dinyatakan tak waras, dan supaya tanah
miliknya dinyatakan berada di bawah pengawasan mereka.
Mereka telah mendapatkan tiga orang dokter ahli penyakit
jiwa yang membuktikan ketidakwarasan Helen Cooper, dan
pengadilan lalu memerintahkan agar dia dimasukkan ke rumah
sakit jiwa.
Setelah Jennifer selesai membaca laporan itu dia
mengangkat kepalanya memandang Keh Bailey. "Seluruhnya
kedengaran kurang beres, ya?"
"Bukan hanya tak beres! Itu semua bohong belaka. Apa
yang akan kaulakukan?"
Itu suatu pertanyaan yang sulit. Jennifer tak tahu siapa
yang akan menjadi kliennya. Bila keluarga Nyonya Cooper
sudah mengusahakan supaya dia dikurung, mereka pasti tidak
akan menyambut baik campur tangan Jennifer, dan karena
wanita itu sendiri telah dinyatakan tak waras, dia tentu tak
berhak meminta bantuan hukum dari Jennifer. Sungguh
menarik persoalan itu. Satu hal yang sudah diketahui Jennifer
dengan pasti: ada atau tak ada klien, dia tidak akan tinggal
200
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diam dan melihat seseorang dimasukkan ke rumah sakit jiwa
dengan paksa.
"Aku akan mengunjungi Nyonya Cooper." Jennifer
memutuskan.
Rumah Sakit Jiwa Heather terletak di Westchester di suatu
daerah kehutanan yang luas. Seluruh tanah yang
mengelilinginya dipagari, dan satu-satunya jalan masuk adalah
melalui pintu gerbang yang dikawal. Jennifer belum siap untuk
memberitahukan pada keluarga itu apa yang dilakukannya,
maka dia menelepon ke sana kemari mencari seorang kenalan
yang ada hubungannya dengan rumah sakit itu. Kenalannya
itulah yang mengatur kunjungannya pada Nyonya Cooper.
Pemimpin rumah sakit itu, Nyonya Franklin, adalah seorang
wanita yang berhati keras dan berwajah keras pula, yang
mengingatkan Jennifer akan Nyonya Danvers, tokoh dalam
cerita Rebecca.
"Kalau menurut aturan sebenarnya," dengus Nyonya
Franklin, "saya tak boleh mengizinkan Anda berbicara dengan
Nyonya Cooper. Tapi kita anggap saja ini suatu kunjungan tak
resmi. Ini tidak akan dilaporkan."
"Terima kasih."
"Akan saya perintahkan orang mengantarnya kemari."
Helen Cooper adalah seorang wanita yang berparas
menarik, yang berumur hampir tujuh puluh tahun. Matanya
yang biru dan hidup memancarkan kecerdasan, dan dia
anggun sekali, seolah-olah dia sedang menerima Jennifer di
rumahnya sendiri.
"Anda baik sekali mau mengunjungi saya," kata Nyonya
Cooper, "tapi saya tak tahu maksud kedatangan Anda."
"Saya seorang pengacara, Nyonya Cooper. Dua kali saya
menerima telepon dari orang yang tak mau menyebutkan
201
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
namanya, yang mengatakan bahwa Anda berada di sini, dan
bahwa sebenarnya Anda tak pantas berada di sini."
Nyonya Cooper tersenyum lembut. "Itu tentu si Albert."
"Albert?"
"Dia adalah pelayan kepala di rumah kami selama dua
puluh lima tahun. Waktu anak saya, Dorothy, menikah, dia
dipecat." Wanita itu mendesah. "Kasihan Albert. Dia benarbenar seseorang dari masa lalu, di dunia yang lain. Saya rasa,
saya pun demikian pula. Anda masih sangat muda, Nona
manis, Anda mungkin tidak melihat betapa besarnya
perubahan yang telah terjadi. Tahukah Anda apa yang tak ada
lagi sekarang ini? Keanggunan. Saya kuatir hal itu kini sudah
digantikan oleh keserakahan."
"Putri Andakah yang Anda maksud?" tanya Jennifer dengan
halus.
Mata Nyonya Cooper menjadi sedih. "Saya tidak
menyalahkan Dorothy, melainkan suaminya. Laki-laki itu orang
yang tidak menarik, maksud saya moralnya. Anak saya
lahiriahnya yang tidak menarik. Herbert menikahi Dorothy
untuk mendapatkan uangnya, tapi kemudian diketahuinya
bahwa seluruh tanah milik ada dalam tangan saya. Dia tak
suka itu."
"Apakah hal itu dinyatakannya pada Anda?"
"Oh ya, menantu saya itu berterus terang dalam hal itu.
Menurut dia, seharusnya saya memberikan tanah milik itu
pada anak saya pada waktu itu juga, dan jangan
menyuruhnya menunggu sampai saya mati. Sebenarnya saya
mau, tapi saya tak percaya pada menantu saya itu. Saya tahu
apa yang akan terjadi bila dia berhasil menguasai semua uang
itu."
"Pernahkah Anda mengalami sakit jiwa, Nyonya Cooper?"
202
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Helen Cooper memandangi Jennifer sejenak dan berkata
dengan murung, "Menurut dokter-dokter itu, saya menderita
schizophrenia dan paranoia."
Jennifer merasa bahwa dia tak pernah berbicara dengan
orang yang lebih waras daripada wanita itu, selama hidupnya.
"Tahukah Anda bahwa tiga orang dokter yang telah
membuktikan bahwa Anda tak waras?"
"Tanah milik Cooper itu bernilai empat juta dolar, Nona
Parker. Orang bisa saja mempengaruhi banyak dokter dengan
uang sebanyak itu. Tapi saya kuatir Anda hanya membuangbuang waktu saja. Menantu saya yang mengawasi tanahtanah milik itu sekarang. Dia tidak akan pernah membiarkan
saya keluar dari sini."
"Saya ingin bertemu dengan menantu Anda itu."
Plaza Towers terletak di East 72nd Street, di salah satu
daerah pemukiman yang terbagus di New York. Helen Cooper
memiliki rumah tinggal sendiri di bagian atas bangunan itu.
Kini papan nama pada pintu rumah itu bertulisan Mr and Mrs
Herbert Hawthorne.
Jennifer telah menelepon lebih dahulu pada putri Nyonya
Cooper, Dorothy. Dan waktu Jennifer tiba di apartemen itu,
Dorothy bersama suaminya sudah menunggu. Helen Cooper
tak salah mengenai putrinya. Dia tidak menarik. Dia kurus dan
raut mukanya seperti tikus, tak berdagu dan mata kanannya
agak juling. Suaminya, Herbert, rupanya seperti salah seorang
badut dari Archie Bunker. Umurnya sekurang-kurangnya dua
puluh tahun lebih tua daripada Dorothy.
"Mari masuk," geram laki-laki itu.
Dari lorong tempat penerimaan tamu itu, Jennifer diajak
masuk ke dalam sebuah ruang tamu yang besar sekali.
Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan karya pelukis-pelukis
besar dari Prancis dan Belanda.
203
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan kasar Hawthorne berkata pada Jennifer, "Nah,
coba katakan ada apa?"
Jennifer berpaling pada istrinya. "Ini mengenai ibu Anda."
"Ada apa dengan dia?"
"Kapan beliau itu pertama kali memperlihatkan tanda-tanda
ketidakwarasan?"
"Dia....”
Herbert Hawthorne cepat-cepat menyela, "Segera setelah
Dorothy dan saya menikah. Orang tua itu tak suka pada saya."
Itu justru bukti kewarasannya, pikir Jennifer.
"Saya sudah membaca laporan dokter," kata Jennifer.
"Laporan-laporan itu kelihatannya tak benar."
"Apa maksud Anda, tak benar?" Nada bicaranya galak.
"Maksud saya, laporan-laporan itu menyatakan bahwa
mereka itu bekerja dalam keadaan yang meragukan. Dalam
laporan itu tidak terdapat penjelasan-penjelasan nyata untuk
memastikan apa yang disebut waras dalam masyarakat.
Sebagian dari keputusan mereka didasarkan atas apa yang
Anda dan istri Anda katakan mengenai tingkah laku Nyonya
Cooper."
"Apa yang ingin Anda katakan sebenarnya?"
"Saya ingin mengatakan bahwa pembuktian itu tidak murni.
Tiga orang dokter lain mungkin akan memberikan keputusan
yang sangat lain."
"Hei, dengar," kata Herbert Hawthorne. "Saya tak tahu apa
mau Anda sebenarnya. Tapi orang tua itu gila. Para dokter
berkata begitu dan pengadilan pun sudah memutuskan
begitu."
204
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya sudah membaca dokumen pengadilan," sahut
Jennifer. "Pengadilan juga menganjurkan supaya keadaannya
ditinjau kembali secara berkala."
Wajah Herbert Hawthorne tampak kacau. "Maksud Anda
mereka mungkin mengeluarkannya dari tempat itu?"
"Mereka pasti akan mengeluarkannya," Jennifer berjanji.
"Saya akan berusaha supaya hal itu terjadi."
"Tunggu sebentar! Apa-apaan semuanya ini?"
"Apanya itulah yang ingin saya selidiki." Jennifer berpaling
pada istrinya. "Telah saya selidiki sejarah penyakit ibu Anda
sebelum ini. Tidak pernah ada yang tak beres dengan beliau,
baik pikirannya maupun perilakunya. Beliau....”
Herbert Hawthorne menyela, "Itu tak ada artinya sedikit
pun! Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi sewaktu-waktu.
Dia....”
"Tambahan lagi," Jennifer melanjutkan berbicara dengan
Dorothy, "saya juga menyelidiki kegiatan-kegiatan sosial ibu
Anda, sebelum Anda menyingkirkannya. Hidupnya benarbenar normal."
"Saya tak peduli apa kata Anda atau siapa pun juga.
Pokoknya dia gila!" teriak Herbert Hawthorne.
Jennifer berbalik padanya dan memperhatikannya sebentar.
"Apakah Anda meminta pada Nyonya Cooper untuk
memberikan tanah miliknya pada Anda?"
"Itu bukan urusan Anda!"
"Itu akan saya jadikan urusan saya. Saya rasa untuk
sementara cukup sekian saja." Jennifer berjalan ke arah pintu.
Herbert Hawthorne melangkah ke depan Jennifer,
nienghalang-halanginya. "Tunggu. Anda mencampuri soal
orang tanpa diingini. Anda ingin mendapatkan uang, bukan?
Baiklah, saya mengerti. Bagaimana kalau saya beri Anda cek
205
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebesar seribu dollar sekarang juga atas jasa-jasa yang Anda
berikan, lalu lepaskan semuanya ini?"
"Maaf," sahut Jennifer. "Saya tak bersedia."
"Apakah Anda sangka Anda akan menerima lebih banyak
dari orang tua itu?"
"Tidak," kata Jennifer. Ditatapnya mata laki-laki itu. "Hanya
salah seorang di antara kita yang menginginkan uang dalam
urusan ini."
Enam minggu lamanya diadakan pemeriksaan-pemeriksaan
dan konsultasi dengan ahli-ahli penyakit jiwa, serta
pertemuan-pertemuan dengan empat badan pemerintahan.
Jennifer membawa ahli-ahli penyakit jiwa sendiri, dan setelah
mereka selesai mengadakan pemeriksaan, serta Jennifer
sudah pula menyampaikan semua hasil penyelidikannya,
hakim membatalkan keputusannya yang terdahulu dan Helen
Cooper dibebaskan sedang pengawasan atas tanah miliknya
dikembalikan padanya.
Pagi hari, waktu Nyonya Cooper dibebaskan, dia menelepon
Jennifer.
"Saya ingin mengajak Anda makan siang di Restoran
Twenty One."
Jennifer melihat jadwal kerjanya. Acaranya untuk pagi itu
padat sekali, dia ada pula janji lain untuk makan siang, dan
petangnya akan sibuk di pengadilan, tetapi dia maklum betapa
besarnya arti undangan itu bagi wanita tua itu. "Saya akan
datang," kata Jennifer.
"Kita akan mengadakan perayaan kecil-kecilan." Suara
Helen Cooper terdengar girang.
Makan siang itu berjalan dengan baik sekali. Nyonya
Cooper adalah nyonya rumah yang penuh perhatian, dan jelas
kelihatan bahwa dia dikenal baik di restoran itu.
206
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jerry Berns mengantar mereka ke sebuah meja lantai atas,
di mana mereka dikelilingi oleh barang-barang antik yang
cantik dan alat-alat makannya dari perak pada masa Georgia.
Baik makanannya maupun pelayanannya, sempurna.
Helen Cooper menunggu sampai mereka minum kopi
sebagai penutup. Lalu dia berkata pada Jennifer, "Saya amat
berterima kasih padamu, Anakku. Saya tak tahu akan
kaukenakan bayaran berapa pada saya, tapi saya ingin
memberikan lebih dari itu."
"Bayaran yang saya terima cukup tinggi."
Nyonya Cooper menggeleng. "Tak mengapa." Dia
menyandarkan tubuhnya ke depan, digenggamnya tangan
Jennifer dan berkata dengan berbisik, "Akan kuberikan
tanahku yang di Wyoming padamu."
17
Halaman depan dari surat kabar New York Times memuat
dua buah berita menarik, berdampingan. Yang satu adalah
berita bahwa Jennifer Parker telah berhasil membebaskan
seorang wanita yang telah dituduh membunuh suaminya.
Yang sebuah lagi adalah berita tentang Adam Warner yang
mencalonkan dirinya untuk keanggotaan Senat Amerika
serikat.
Jennifer membaca berita tentang Adam berulang kali.
Berita itu mengemukakan tentang latar belakangnya, tentang
jasanya sebagai seorang penerbang dalam perang Vietnam,
dan memberitakan pula bahwa dia telah menerima bintang
Distinguised Flying Cross atas keberaniannya. Berita Ini penuh
dengan pujian-pujian, dan beberapa orang terkemuka yang
dimintai keterangannya mengatakan bahwa Adam Warner
akan mengharumkan nama Amerika Serikat dan bangsanya.
Pada akhir berita itu diisyaratkan bahwa bila Adam berhasil
dalam kampanyenya, maka hal itu akan merupakan batu
207
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
loncatan yang mudah baginya untuk mencalonkan diri sebagai
presiden Amerika Serikat.
Di New Jersey, di rumah pertanian Antonio Granelli, Michael
Moretti dan Antonio Granelli baru saja selesai sarapan. Michael
sedang membaca berita tentang Jennifer Parker.
Dia mengangkat mukanya dan melihat pada ayah
mertuanya lalu berkata, "Dia telah berhasil lagi, Tony."
Antonio Granelli sedang menyendok telur dadar, "Siapa
yang telah berhasil melakukan apa?"
"Ahli hukum itu. Jennifer Parker. Dia luar biasa.”
Antonio Granelli menggeram. "Aku tetap tak suka seorang
ahli hukum wanita bekerja untuk kita Perempuan lemah. Kita
tak pernah bisa tahu apa yang akan mereka lakukan."
"Kau benar, kebanyakan mereka memang begitu Tony."
Tidak akan ada untungnya melawan mertuanya Selama
Antonio Granelli masih hidup, dia berbahaya. Tetapi dengan
memperhatikannya sekarang Michael yakin bahwa dia tak
perlu menunggu terlalu lama. Orang tua itu sudah mengalami
serangan jantung beberapa kali dan tangannya gemetar.
Berbicara pun sudah sulit dan dia berjalan dengai bertopang
pada tongkat. Kulitnya sudah seperti kertas kulit yang kering
dan kuning. Cairan tubuhnya sudah habis. Laki-laki yang
namanya tercantum pada kepala daftar kejahatan dalam
negara itu, kini tak lebih dari harimau yang tak bergigi.
Namanya telah menimbulkan rasa ketakutan besar dalam hati
para musuh mafia yang tak terhitung banyaknya dan
kebencian dalam hati para janda mereka. Kini, sedikit sekali
orang yang bisa melihat Antonio Granelli. Dia bersembunyi di
balik punggung Michael Moretti, Thomas Colfax, dan beberapa
orang lain yang dipercayainya. Michael belum diangkat —
dijadikan kepala keluarga — itu hanya tinggal soal waktu saja
lagi. Brown 'si Jari Tiga' Lucchese, pernah menjadi pemimpin
mafia yang terkuat di wilayah bagian timur, kemudian
208
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyusul Antonio Granelli, dan sebentar lagi... Michael akan
sabar menanti. Dia telah menempuh jalan yang teramat
panjang, sejak sebagai seorang pemuda yang berwajah segar
dan sok pemberani, dia berdiri di hadapan para pemimpin
organisasi kriminal di New York, dan sambil memegang sehelai
kertas yang menyala dia bersumpah, "Akan terbakar seperti
inilah saya bila saya membocorkan rahasia-rahasia Cosa
Nostra."
Kini dia duduk semeja dengan orang tua itu. Michael
berkata, "Barangkali kita bisa memakai perempuan Parker itu
untuk perkara-perkara kecil. Sekedar untuk melihat dulu
bagaimana dia."
Granelli mengangkat bahunya. "Hati-hati sajalah, Mike. Aku
tak suka ada orang asing dalam soal-soal rahasia keluarga."
“Biar aku yang menanganinya." Michael menelepon petang
itu juga. Waktu Cynthia memberitahukan bahwa Muliael
Morreti menelepon, Jennifer merasa bagaikan dilanda air
bah penuh kenangan yang semuanya tidak menyenangkan.
Jennifer tak dapat menduga-duga untuk apa Michael Moretti
meneleponnya.
Karena ingin tahu, diangkatnya juga gagang! telepon. "Mau
apa, Saudara?
Michael Moretti terkejut mendengar tajamnya nada bicara
Jennifer. "Saya ingin bertemu dengan Anda. Saya rasa ada
sesuatu yang sebaiknya kita bicarakan berdua."
"Tentang apa, Tuan Moretti?"
"Itu tak dapat dikatakan melalui telepon. Satu hal bisa saya
katakan, Nona Parker.... ini adalah sesuat yang akan sangat
berarti bagi Anda."
"Saya hanya bisa mengatakan ini, Tuan Moretti," kata
Jennifer datar. "Bahwa tak satu pun yang akari Anda katakan
209
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atau lakukan akan ada artinya sedikit pun bagi saya." Lalu
gagang telepon dibantingnya!
Michael Moretti terduduk di meja kerjanya sambill menatap
gagang telepon yang sudah terputus hubungannya, di
tangannya. Dia merasa hatinya tergelitik, tetapi rasa itu
bukanlah rasa marah. Dia tak tahu benar apa itu, dan dia tak
yakin apakah dia menyukainya atau tidak. Sepanjang
hidupnya dia sudah biasa memakai perempuan, dan
penampilannya yang tampan dengan rambut dan mata yang
berwarna hitam, serta kebengisannya yang tak dapal
disangkal, telah memudahkannya untuk mendapatkan teman
tidur hingga dia tak ingat lagi sudah berapa banyaknya.
Pada dasarnya, Michael Moretti amat membenci wanita.
Mereka terlalu lembut. Mereka tak punya semangat. Rosa
umpamanya. Dia sama saja dengan seekor anjing kesayangan
yang melakukan apa saja yang diperintahkan padanya, pikir
Michael. Dia mengurus rumahku, memasak untukku,
memarahiku bila aku ingin dimarahi, menutup mulutnya bila
kusuruh diam.
Michael tak pernah mengenal perempuan yang punya
semangat, yang berani melawannya. Tapi Jennifer telah berani
memutuskan pembicaraannya dengan telepon. Apa katanya
tadi? Tak satu pun yang akan Anda katakan atau lakukan,
akan ada artinya sedikit pun bagi saya. Michael Moretti
mengingat kata-kata itu lalu tersenyum sendiri. Jennifer keliru.
Dia, Michael, akan menunjukkan bahwa dia keliru.
Dia duduk bersandar, mengingat-ingat bagaimana Jennifer
di pengadilan, membayangkan wajahnya, membayangkan
tubuhnya. Tiba-tiba dia membayangkan bagaimana Jennifer di
tempat tidur. Mungkin dia bagaikan seekor kucing yang
garang. Dibayangkannya tubuh Jennifer tanpa pakaian,
memberontak melawannya. Diangkatnya gagang telepon lalu
memutar suatu nomor.
210
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu terdengar suara seorang gadis, Michael berkata,
"Buka pakaianmu. Sebentar lagi aku ke sana."
Dalam perjalanannya kembali ke kantornya, Setelah makan
siang, waktu Jennifer sedang menyeberang Third Avenue, dia
hampir digilas truk. Pengemudinya menginjak remnya kuat,
dan bagian belakang dari truk itu melesat ke samping, nyaris
menggilasnya.
"Ya Tuhan, Nona!" teriak sopir itu. "Mengapa tak melihatlihat waktu berjalan?"
Jennifer tidak mendengarkannya. Dia menatap nama yang
tertulis di bagian belakang truk itu. Di situ tertulis Nationwide
Motors Corporation. Dia masih saja berdiri di tempat itu
memperhatikannya, lama setelah truk itu menghilang dari
pandangan.
Kemudian dia berbalik lalu bergegas kembali ke kantornya.
"Ken ada?" tanyanya pada Cynthia.
"Ada di kamar kerjanya."
Jennifer masuk menemuinya. "Ken, bisakah kau menyelidiki
Nationwide Motors Corporation? Kita memerlukan suatu daftar
dari semua kecelakaan yang telah melibatkan truk-truk
mereka selama lima tahun terakhir ini."
"Itu akan makan waktu."
"Pakailah LEXIS." Maksudnya komputer nasional yang
sudah diakui”.
"Ada apa sebenarnya ini?"
"Aku belum tahu, Ken. Ini baru naluriku saja. Kalau sudah
ada sesuatu nanti, baru akan kukatakan padamu."
Jennifer telah melupakan sesuatu waktu meneliti perkara
Connie Garret, gadis cantik yang tak berkaki tangan yang
harus menghabiskan sisa hidupnya sebagai makhluk aneh itu.
211
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pengemudinya mungkin tak pernah membuat kesalahan, tapi
bagaimana dengan truknya sendiri? Mungkin memang ada
seseorang yang harus bertanggung jawab.
Esok paginya, Ken Bailey menyerahkan laporannya pada
Jennifer. "Apa pun rencanamu, kelihatannya kau seperti
menang judi. Nationwide Motor Corporation telah menjadi
penyebab lima belas kecelakaan dalam lima tahun terakhir ini,
dan beberapa dari truk mereka telah ditarik dari peredaran."
Jennifer merasa debar jantungnya makin lama makin kuat.
"Di mana letak salahnya?"
"Kesalahan pada cara kerja remnya yang menyebabkan
bagian belakang dari truk terbelok bila remnya ditekan kuatkuat."
Yang menggilas Connie Garret adalah bagian belakang dari
sebuah truk.
Jennifer mengadakan rapat staf dengan Dan Martin, Ted
Harris, dan Ken Bailey. "Kita akan maju ke pengadilan
membawa perkara Connie Garret," Jennifer memberitahukan.
Ted Harris menatapnya melalui kaca matanya yang setebal
botol susu. "Tunggu sebentar, Jennifer, aku sudah menyelidiki
hal itu. Dia sudah kalah dalam perkara banding. Kita akan
dikenakan res judicata."
"Apa itu res judicata?" tanya Ken Bailey.
Jennifer menjelaskan, "Dalam perkara sipil, hal itu sama
artinya dengan bahaya ganda dalam perkara kriminal. Suatu
gugatan ada batas akhirnya."
Ted Harris menambahkan, "Bila suatu keputusan mengenai
suatu perkara sudah diambil, maka perkara itu baru akan
dibuka lagi dalam keadaan yang sangat istimewa. Kita tak
punya dasar untuk membukanya kembali."
212
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ada dasarnya. Kita akan menuntutnya atas dasar
penemuan."
Asas penemuan berbunyi: Fakta-fakta yang relevan yang
dikumpulkan oleh kedua belah pihak dan diketahui oleh kedua
belah pihak pula, diperlukan untuk mengakhiri suatu perkara
gugatan.
"Tergugat yang sudah lama dilupakan adalah Nationwide
Motors. Mereka telah merahasiakan informasi dari pengacara
Connie Garret. Ada kesalahan pada cara kerja rem truk-truk
perusahaan iiu, tapi mereka merahasiakannya."
Jennifer melihat pada kedua ahli hukum pembantunya.
"Kurasa inilah yang harus kita lakukan...."
Dua jam kemudian, Jennifer duduk di ruang tamu Connie
Garret.
"Aku ingin maju ke pengadilan lagi. Kurasa ada gugatan
yang bisa kita ajukan."
"Tidak. Aku tak bisa menjalani suatu sidang lagi."
"Connie...."
"Pandangilah aku ini, Jennifer. Aku ini makhluk aneh. Setiap
kali aku melihat ke cermin, aku ingin membunuh diriku.
Tahukah kau mengapa aku tidak melakukannya?" Suaranya
merendah menjadi suatu bisikan. "Karena aku tak sanggup.
Aku tak bisal"
Jennifer duduk diam, dia terharu. Mengapa dia bisa begitu
kurang menenggang rasa?
"Bagaimana kalau kucoba suatu penyelesaian di luar
pengadilan? Kurasa, bila mereka mendengar adanya
pembuktian, mereka akan mau menyelesaikannya tanpa
sidang."
Perkantoran Maguire and Guthrie, perusahaan pengacara
yang membela Nationwide Motors Corporation, terletak di
213
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
daerah Fifth Avenue di sebuah bangunan modern dari kaca
dan chrome, lengkap dengan air mancur yang gemercik di
depannya. Jennifer melapor di meja penerimaan tamu.
Petugas penerima tamunya mempersilakannya duduk, dan
lima belas menit kemudian Jennifer diantar masuk ke dalam
kantor Patrick Maguire. Dia adalah partner senior dalam
perusahaan itu, seorang asal Irlandia yang keras dan tertempa
hidup, dan bermata tajam yang bisa melihat segala-galanya.
Dia mengisyaratkan supaya Jennifer duduk. "Senang
bertemu dengan Anda, Nona Parker. Anda sudah sangat
terkenal di kota ini."
"Saya harap bukan karena keburukan."
"Kata orang Anda keras. Tapi kelihatannya tidak."
"Saya harap tidak."
"Mau minum kopi? Atau wiski Irlandia yang baik?"
"Kopi saja."
Patrick Maguire menekan bel dan seorang sekretaris
membawakan dua cangkir kopi di nampan dari perak murni.
"Nah, apa yang bisa saya bantu?" kata Maguire.
"Mengenai perkara Connie Garret."
"Oh ya, seingat saya dia kalah dalam perkara itu, lalu kalah
juga dalam perkara bandingnya."
Seingat saya. Jennifer mau mempertaruhkan jiwanya
bahwa Patrick Maguire sebenarnya bisa mengucapkan di luar
kepala semua statistik dalam perkara itu.
"Saya akan minta diadakan sidang baru."
"Begitukah? Atas dasar apa?" tanya Maguire dengan sopan.
214
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan
dokumen yang sudah disiapkannya. Kemudian diserahkannya
pada Maguire.
"Saya akan minta sidang dibuka kembali atas dasar, tak
adanya dasar penutupan sidang dahulu."
Maguire membalik-balik surat-surat itu tanpa bergeming.
"Oh, ya," katanya. "Soal rem itu."
"Sudah tahukah Anda?"
"Tentu." Kumpulan surat-surat itu diketuknya dengan
jarinya yang gemuk pendek. "Nona Parker, surat-surat ini
sama sekali tidak akan membantu Anda. Anda harus
membuktikan bahwa truk yang terlibat dalam kecelakaan itu,
juga cacat dalam cara kerja remnya. Padahal rem itu mungkin
sudah belasan kali diteliti dan diperbaiki sejak kecelakaan itu,
maka tidak akan bisa dibuktikan bagaimana keadaannya
waktu itu."
Dokumen itu didorongnya ke arah Jennifer. "Tak ada
perkara yang bisa Anda gugat."
Jennifer menghirup kopinya seteguk. "Saya hanya harus
membuktikan betapa buruknya alat pengaman truk-truk itu.
Kalau saja klien Anda itu rajin, dia akan tahu bahwa rem itu
tak beres."
"Apa usul Anda?" tanya Maguire santai.
"Klien saya adalah seorang gadis yang berumur dua
puluhan yang harus tetap duduk dalam kamarnya selama
hidupnya karena dia tak punya kaki dan tangan. Saya ingin
penyelesaian yang akan bisa mengimbangi sedikit siksaan
batin yang sedang dialaminya."
Patrick Maguire menghirup kopinya seteguk. "Penyelesaian
dalam bentuk bagaimana yang Anda kehendaki?"
"Dua juta dolar."
215
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki itu tersenyum. "Banyak sekali jumlah uang itu
untuk seseorang yang tak punya dasar perkara."
"Bila saya maju ke pengadilan, Tuan Maguire, saya pastikan
bahwa saya akan punya dasar perkara. Dan saya akan
memenangkan jauh lebih banyak daripada itu. Bila Anda
memaksa kami untuk menuntut, maka kami akan menuntut
lima juta dolar."
Maguire tersenyum lagi. "Anda membuat saya benar-benar
takut. Mau kopi lagi?"
"Tidak, terima kasih." Jennifer bangkit.
"Tunggu dulu! Silakan duduk dulu. Saya belum mengatakan
tidak."
"Anda tidak mengatakan ya."
"Minumlah kopi lagi. Kami membuatnya sendiri."
Jennifer teringat akan Adam dan kopi Kenya
"Dua juta dolar itu bukan jumlah uang yang sedikit, Nona
Parker."
Jennifer tidak berkata apa-apa.
"Yah, kalau kita menyebutkan jumlah yang agak kurang,
saya mungkin bisa...." Dia tidak meneruskan kalimatnya itu,
melainkan mengangkat tangannya sebagai isyarat memberi
tekanan.
Jennifer tetap diam.
Akhirnya Patrick Maguire berkata, "Anda benar-benar
menghendaki dua juta dolar, ya?"
"Saya sebenarnya menginginkan lima juta, tuan Maguire."
"Baiklah. Saya rasa kami mungkin bisa mengatur sesuatu."
Mudah sekali!
216
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya harus berangkat ke London besok pagi, saya akan
kembali minggu depan."
"Saya ingin soal ini segera selesai. Saya akan berterima
kasih sekali bila Anda berbicara dengan klien Anda secepat
mungkin. Saya ingin memberikan cek pada klien saya minggu
depan."
Patrick Maguire mengangguk. "Itu mungkin bisa diatur."
Sepanjang perjalanan kembali ke kantornya, Jennifer
merasa risau. Urusan tadi itu terlalu mudah penyelesaiannya.
Malam itu dalam perjalanannya pulang, Jennifer berhenti di
sebuah toko penjual obat. Waktu dia keluar dan akan
menyeberangi jalan, dilihatnya Ken Bailey sedang berjalan
dengan seorang anak muda tampan yang berambut pirang.
Jennifer ragu-ragu, lalu membelok ke sebuah lorong supaya
dia tidak kelihatan. Kehidupan pribadi Ken adalah urusannya
sendiri.
Pada hari yang sudah dijanjikan pada Jennifer untuk
bertemu dengan Patrick Maguire, dia menerima telepon dari
sekretaris laki-laki itu.
"Tuan Maguire minta supaya dimaafkan, Nona Parker. Dia
akan terikat terus sepanjang hari ini. Dia akan senang
bertemu dengan Anda besok kalau Anda bersedia."
"Baik," kata Jennifer. "Terima kasih."
Telepon itu telah menggugah tanda bahaya dalam pikiran
Jennifer. Nalurinya memang benar. Patrick Maguire memang
punya rencana!
"Tahan semua telepon untukku," katanya pada Cynthia.
Jennifer mengunci dirinya dalam kamar kerjanya, berjalan
hilir-mudik sambil mencoba memikirkan setiap segi
kemungkinan. Patrick Maguire mula-mula mengatakan bahwa
dia tak punya dasar untuk mengajukan perkara. Kemudian,
217
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hampir tanpa memerlukan bujukan, dia bersedia membayar
Connie Garret dua juta dolar. Jennifer ingat bahwa sejak itu
pun dia sudah merasa risau. Dan sejak itu pun, Patrick
Maguire tak pernah bisa ditemui. Mula-mula dia pergi ke
London — kalau itu memang benar — kemudian rapat-rapat
yang tidak memungkinkannya menerima telepon Jennifer
sepanjang minggu itu. Dan kini lagi-lagi penundaan.
Lalu mengapa? Satu-satunya alasannya mungkin bila —
Jennifer berhenti berjalan lalu mengangkat telepon antar
kantor dan memanggil Dan Martin.
"Tolong periksa tanggal kejadian kecelakaan Connie Garret,
Dan. Aku ingin tahu kapan batas waktu hukumnya habis."
Dua puluh menit kemudian, Dan Martin masuk ke kantor
Jennifer, mukanya pucat.
"Habislah kita," katanya. "Rasa was-wasmu memang benar.
Batas waktu hukumnya habis hari ini."
Jennifer tiba-tiba merasa mual. "Tak mungkin salah?"
"Tidak ada. Maaf, Jennifer. Seharusnya salah seorang di
antara kami memeriksa sebelumnya. Aku — aku sama sekali
tidak menyangka."
"Aku pun tidak." Jennifer lalu mengangkat gagang telepon
lalu memutar suatu nomor. "Tolong Patrick Maguire. Jennifer
Parker di sini."
Rasanya seumur hidup Jennifer harus menunggu, lalu
kemudian dia berkata dengan ceria. "Halo, Tuan Maguire.
Bagaimana keadaan London?" Dia diam mendengarkan.
"Tidak, saya tak pernah ke sana.... Oh ya, nantilah.... Saya
menelepon ini," katanya dengan ringan, "untuk mengatakan
bahwa saya baru saja berbicara dengan Connie Garret.
Sebagaimana saya katakan waktu itu, dia sebenarnya tak mau
ke pengadilan kalau tak terpaksa. Jadi kalau bisa kita
selesaikan hari ini....."
218
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar melalui telepon suara gelak tertawa Patrick
Maguire. "Suatu percobaan yang baik, Nona Parker. Tapi batas
waktu hukumnya habis hari ini. Tak seorang pun bisa
menuntut siapa-siapa lagi. Kalau Anda mau mengatur waktu
untuk makan siang bersama suatu waktu, bisa kita bicarakan
soal nasib."
Jennifer berusaha menekan suaranya supaya tidak
terdengar marah. "Kotor sekali permainan Anda, Kawan."
"Dunia memang kotor, Sahabat," kata Patrick Maguire
tergelak.
"Soalnya bukan bagaimana cara orang memainkan
permainannya, melainkan apakah kita akan menang atau
kalah, bukan?"
"Anda memang pandai, Nona manis, tapi saya sudah jauh
lebih lama makan garam dalam soal beginian daripada Anda.
Katakan pada klien Anda, ucapan saya semoga dia lebih
berhasil dalam percobaannya lain kali."
Dan Maguire lalu memutuskan hubungan.
Jennifer terduduk saja sambil terus memegang gagang
telepon. Dia teringat akan Connie Garret yang duduk di
rumahnya, menunggu berita. Kepala Jennifer mulai berdenyut
dan peluh mulai berbintik-bintik di dahinya. Dia mengambil
aspirin dari dalam laci meja kerjanya lalu melihat jam di
dinding. Pukul empat. Mereka masih punya waktu sampai
pukul lima untuk memasukkan surat tuntutannya pada
petugas Pengadilan Tinggi.
"Berapa lama kaubutuhkan untuk menyiapkan surat
tuntutan?" tanya Jennifer pada Dan Martin yang berdiri saja di
sana, ikut merasakan risau.
Anak muda itu melihat jam juga. "Sekurang-kurangnya tiga
jam. Bahkan mungkin empat jam. Tak ada lagi jalan lain."
219
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Harus ada jalan, pikir Jennifer. "Bukankah Nationwide
punya cabang yang tersebar di seluruh Amerika Serikat
ini?"
"Ada."
"Di San Francisco sekarang baru jam satu. Kita akan
menuntut mereka di sana dan kemudian baru minta
perubahan tempat."
Dan Martin menggeleng. "Jennifer, semua surat-suratnya
ada di sini. Bila kita punya cabang perusahaan di San
Francisco, dan memberitahukan pada mereka apa yang kita
perlukan dan mereka mengurus surat-surat baru, mereka
masih tetap tak sempat mengejar batas waktu jam lima itu."
Ada sesuatu dalam diri Jennifer yang tak mau menyerah.
"Jam berapa sekarang di Hawai?"
"Jam sebelas siang."
Pusing kepala Jennifer lenyap seakan-akan oleh suatu
keajaiban, dia melompat dari kursinya dengan bersemangat.
"Itu dia! Selidiki apakah Nationwide ada kegiatan di sana.
Mereka tentu punya, entah pabrik, entah kantor penyalur,
bengkel, apa saja — Kalau ada, kita menuntut di sana."
Dan Martin menatapnya sebentar, kemudian wajahnya
berseri. "Baik!" Dia segera bergegas ke balik pintu.
Masih terngiang-ngiang di telinga Jennifer, nada puas
dalam suara Patrick Maguire di telepon. Katakan pada klien
Anda, ucapan saya, semoga bernasib lebih baik lain kali. Tidak
akan pernah ada lain kali bagi Connie Garret. Sekaranglah
saatnya.
Tiga puluh menit kemudian interkom Jennifer berbunyi dan
Dan Martin berkata dengan berapi-api. "Nationwide Motors
membuat gagang kemudi di Pulau Oahu."
220
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Itu dia! Hubungi sebuah perusahaan pengacara di sana
dan minta supaya mereka segera mengajukan surat-surat di
sana."
"Apakah kau tahu perusahaan tertentu?"
"Tidak. coba cari seseorang dari Martindale — Hubbell.
Langsung minta supaya mereka menyerahkan surat-surat itu
pada kejaksaan setempat untuk Nationwide. Minta supaya
mereka menelepon kita kembali segera setelah surat-surat itu
diserahkannya. Aku akan menunggu di kantor sini."
"Ada lagi yang harus kulakukan?"
"Berdoalah."
Telepon dari Hawai datang pukul sepuluh malam itu.
Jennifer cepat-cepat menangkap gagang teleponnya dan suatu
suara berkata dengan halus, "Tolong, Nona Parker."
"Saya sendiri."
"Di sini Nona Sung dari perusahaan pengacara Gregg and
Hoy di Oahu. Kami ingin memberi tahu Anda bahwa lima
menit yang lalu kami sudah menyerahkan surat-surat yang
Anda minta kepada kejaksaan terhadap Nationwide Motors
Corporation."
Jennifer menghela napas dalam-dalam. "Terima kasih.
Terima kasih banyak."
Cynthia mempersilakan Joey La Guardia masuk.
Jennifer belum pernah melihat laki-laki itu. Dia telah
menelepon lebih dahulu, meminta Jennifer untuk membelanya
dalam perkara kekerasan. Laki-laki itu bertubuh pendek,
gempal, dan mengenakan setelai mahal yang kelihatannya
dijahit dengan cermat untuk orang lain. Dia memakai cincin
berlian yang besar sekali di kelingkingnya.
La Guardia tersenyum menampakkan gigi-gigi kuning dan
berkata, "Saya datang pada Anda karena saya butuh bantuan.
221
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setiap orang pernah berbuat salah bukan, Nona Parker? Polisi
menangkap saya karena saya telah menyakiti beberapa orang,
tapi saya pikir mereka itu memang mau mencelakakan saya —
yah, daerah di sana itu memang rawan. Saya menyerang
mereka sebelum mereka bisa mencelakakan saya."
Ada sesuatu dalam sikap laki-laki itu yang dinilai Jennifer
palsu dan menjijikkan. Dia berusaha terlalu keras untuk
dibenarkan.
Dia mengeluarkan uang seikat besar. "Nih, seribu dolar
tunai, dan seribu lagi nanti kalau kita ke pengadilan. Bisa
kan?"
"Jadwal kerja saya sudah penuh untuk beberapa bulan
berikut ini. Dengan senang hati akan saya berikan nama
beberapa orang pengacara lain."
Laki-laki itu lalu bersikap bersikeras. "Tidak. Saya tidak mau
yang lain. Andalah yang terbaik."
“Untuk sekedar tuduhan kekerasan biasa, Anda tidak
memerlukan yang terbaik."
'Hei, dengarkan," kata laki-laki itu, "akan saya berikan uang
lebih banyak lagi." Suaranya mengandung nada putus asa.
"Dua ribu tunai dan....”
Jennifer menekan tombol pemanggil di bawah meja
kerjanya dan Cynthia masuk. "Antar Tuan La Guardia ke luar,
Cynthia."
Lama Joey La Guardia membelalak pada Jennifer,
diambilnya kembali uangnya, lalu dimasukkan dengan kasar ke
dalam sakunya. Dia keluar dan kantor itu tanpa berkata apaapa. Jennifer menekan tombol interkom.
“Ken, bisakah kau datang sebentar?"
Tak sampai tiga puluh menit kemudian Ken sudah berhasil
mendapatkan laporan lengkap mengenai Joey La Guardia.
222
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Daftar kejahatannya satu mil panjangnya," kata Ken pada
Jennifer. "Sejak berumur enam belas tahun dia sudah keluarmasuk penjara."
Ken melihat lagi ke catatannya di kertas. "Dia sekarang
dibebaskan dengan jaminan. Dia ditangkap minggu yang lalu
karena kekerasan dan penganiayaan. Dia memukul dua orang
laki-laki tua yang berutang pada organisasinya."
Tiba-tiba semuanya kelihatan seperti sudah diatur. "Apakah
Joey La Guardia bekerja untuk organisasi itu?"
"Dia adalah salah seorang tukang pukul Michael Moretti."
Jennifer jadi marah sekali. "Bisakah kau memberiku nomor
telepon Michael Moretti?"
Lima menit kemudian, Jennifer berbicara dengan Moretti.
"Wah, ini suatu kesenangan yang tak disangka-sangka,
Nona Parker. Saya....”
"Tuan Moretti, saya tak suka diperalat."
"Apa yang Anda bicarakan ini?"
"Dengarkan. Dengarkan baik-baik. Saya bukan barang
jualan. Tidak sekarang dan tidak untuk selamanya. Saya tak
mau membela perkara Anda atau siapa pun yang bekerja
untuk Anda. Yang saya ingini adalah supaya Anda tidak
mengganggu saya lagi. Jelas?"
"Boleh saya bertanya?"
"Silakan."
"Maukah Anda makan siang dengan saya?"
Jennifer memutuskan hubungan.
Terdengar suara Cynthia melalui interkom. "Seorang
bernama Patrick Maguire ada di sini ingin bertemu dengan
Anda, Nona Parker. Dia tak ada janji, tapi katanya....”
223
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer tersenyum sendiri. "Suruh Tuan Maguire
menunggu."
Jennifer ingat percakapan mereka melalui telepon. Bukan
soal bagaimana cara kita memainkan permainan itu,
melainkan apakah kita akan menang atau tidak, bukan? Anda
memang pandai, Nona manis, tapi saya sudah jauh lebih lama
makan garam dalam soal beginian daripada Anda. Katakan
pada klien Anda, ucapan saya, semoga berhasil lebih baik lain
kali.
Empat puluh lima menit lamanya Jennifer membiarkan
Patrick Maguire menunggu, barulah dia memanggil Cynthia.
"Persilakan Tuan Maguire masuk."
Sikap ramah Patrick Maguire sudah tak tampak lagi. Dia
sudah kalah siasat, dan dia marah, dan tidak pula dia
menyembunyikan rasa marahnya itu.
Dia langsung berjalan ke arah meja kerja Jennifer dan
membentak, "Anda benar-benar menyulitkan saya, Kawan."
"Begitukah, Kawan?"
Laki-laki itu duduk tanpa dipersilakan lagi. "Tak usahlah kita
berpura-pura lagi. Saya telah menerima telepon dari kantor
pusat Nationwide Motors. Saya kurang perhitungan terhadap
Anda. Klien saya bersedia mengadakan penyelesaian." Dia
memasukkan tangannya ke dalam saku, mengeluarkan sebuah
amplop, lalu menyampaikannya pada Jennifer.
Jennifer membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat
sehelai cek yang sudah ditandatangani, yang dibayarkan
kepada Connie Garret. Besarnya seratus ribu dolar.
Jennifer memasukkan cek itu kembali ke dalam amplop,
lalu mengembalikannya pada Patrick Maguire.
"Itu tidak cukup. Kami menuntut lima juta dolar."
224
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maguire tertawa kecil. "Tidak akan bisa. Karena klien Anda
tidak akan pergi ke pengadilan. Saya baru saja
mengunjunginya. Tak ada jalan bagi Anda untuk bisa
membawa gadis itu ke pengadilan. Dia! amat ketakutan, dan
tanpa dia, Anda tak punya kesempatan apa-apa."
"Anda tak punya hak berbicara dengan Connie Garret tanpa
kehadiran saya," kata Jennifer marah.
"Saya hanya berusaha untuk berbuat baik pada semua
orang. Terima uang itu dan bersenang-senanglah, Kawan."
Jennifer bangkit. "Keluar. Anda membuat saya mual."
Patrick Maguire berdiri, "Saya tak tahu bahwa. Anda bisa
merasa mual."
Dan dia keluar dengan membawa cek itu.
Sambil memperhatikan laki-laki itu pergi, Jennifer berpikir
apakah dia tadi tidak membuat kesalahan besar. Dia
memikirkan apa arti seratus ribu dolar itu bagi Connie Garret.
Tetapi itu tak cukup. Tak cukup kalau dibanding dengan apa
yang harus diderita oleh gadis itu setiap hari selama sisa
hidupnya.
Namun Jennifer menyadari bahwa Maguire benar dalam
satu hal. Tanpa kehadiran Connie Garret diruang pengadilan,
tidak akan ada pula kemungkinannya juri akan memutuskan
pembayaran sebanyak lima juta dolar itu. Jennifer
memerlukan pengaruh dari kehadiran Connie Garret dalam
ruang sidang. Setelah juri melihat keadaannya; tapi Jennifer
tak bisa lagi membujuk gadis itu untuk pergi ke ruang sidang.
Dia harus mencari jalan ke luar lain.
Adam menelepon.
"Maaf aku selama ini tak meneleponmu," katanya meminta
maaf. "Aku harus menghadiri banyak rapat sehubungan
dengan kampanye keanggotaan senat, dan....”
225
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tak apa-apalah, Sayang. Aku mengerti." Aku memang
harus mengerti, pikirnya.
"Aku rindu sekali padamu."
"Aku juga rindu padamu, Adam." Kau tidak akan pernah
tahu betapa rindunya aku.
"Aku ingin bertemu denganmu."
Jennifer ingin mengatakan, Kapan? tapi dia menunggu.
Adam melanjutkan. "Aku harus pergi ke Albany petang ini.
Aku akan meneleponmu setelah aku kembali."
"Baiklah." Tak ada lagi yang dapat dikatakannya, tak ada
pula yang dapat dilakukannya.
Pukul empat subuh Jennifer terbangun dari mimpi yang
mengerikan, dan dia tiba-tiba tahu dengan cara bagaimana dia
akan memenangkan lima juta dolar milik Connie Garret.
18
"Kami telah mengatur serangkaian perjamuan makan
malam untuk mengumpulkan dana di seluruh negara. Kita
hanya akan mendatangi kota-kota besar. Kota-kota yang
kurang penting akan kita capai melalui beberapa pertunjukan
tv nasional, seperti acara Inilah Bangsamu, acara Hari ini dan
acara Pertemuan dengan Pers. Menurut perhitungan kami,
kami akan mengumpulkan.... Adam, kau mendengarkan atau
tidak?"
Adam berpaling pada Stewart Needham dan ketiga laki-laki
lain dalam ruang pertemuan itu — mereka itu adalah ahli-ahli
media massa, kata Needham meyakinkan — dan Adam
berkata, "Ya, tentu, Stewart."
Padahal dia sedang memikirkan sesuatu yang sama sekali
lain. Jennifer. Adam menginginkan Jennifer berada di sini, di
226
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sisinya, ikut merasakan saat yang mendebarkan dari
kampanye ini, ikut serta pada saat ini, berbagi hidup
dengannya.
Sudah beberapa kali Adam mencoba membahas soal itu
dengan Stewart Needham, tetapi setiap kali patnernya itu
berhasil mengalihkan pokok pembicaraan.
Adam memang duduk di situ, tapi dia memikirkan Jennifer
dan Mary Beth. Dia tahu dia tak adil membanding-bandingkan
mereka berdua, tapi dia tak bisa mengelak.
Jennifer adalah pendamping yang menggairahkan. Dia
menaruh perhatian pada segala-galanya dan dia membuatku
merasa hidup. Mary Beth hidup dalam dunia kecil pribadinya
sendiri.
Aku dan Jennifer punya seribu satu persamaan. Aku dan
Mary Beth tak punya persamaan apa-apa, kecuali ikatan
perkawinan kami....
Aku suka pada rasa humor Jennifer. Dia pandai
menertawakan dirinya sendiri. Mary Beth menghadapi segala
sesuatu dengan serius....
Jennifer membuatku merasa muda. Mary Beth seakan-akan
lebih tua daripada umurnya yang sebenarnya....
Jennifer bisa mandiri. Mary Beth bergantung padaku dan
harus kuberi tahu apa yang harus dilakukannya.
Lima perbedaan-perbedaan penting antara wanita yang
kucintai dan istriku.
Lima alasan mengapa aku tak mungkin bisa meninggalkan
Mary Beth.
19
227
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada suatu pagi, hari Rabu, di awal bulan Agustus,
dimulailah sidang Connie Garret melawan Nationwide Motors
Corporation. Biasanya sidang seperti itu hanya akan
diberitakan sebanyak satu atau dua paragraf saja dalam suratsurat kabar, tetapi karena Jennifer Parker yang akan membela
si penggugat, maka media massa mengerahkan seluruh
tenaganya.
Patrick Maguire duduk di meja pembela terdakwa, dikelilingi
oleh sederetan asisten yang mengenakan setelan konservatif
berwarna abu-abu.
Maka mulailah proses pemilihan suatu dewan juri. Maguire
kelihatan santai, hampir-hampir tak acuh, karena dia tahu
bahwa Connie Garret tidak akan muncul dalam ruang sidang.
Melihat seorang gadis cantik tak berkaki tangan akan
merupakan suatu penggugah emosi yang hebat sekali bagi juri
untuk menarik suatu jumlah uang yang sangat banyak —
tetapi kini tidak akan ada gadis dan tidak akan ada
penggugah.
Kali ini, pikir Maguire, Jennifer Parker telah menipu dirinya
sendiri.
Juri sudah terbentuk dan sidang pun mulai berjalan. Patrick
Maguire mengucapkan pidato pembukaannya, dan Jennifer
harus mengakui sendiri bahwa laki-laki itu memang pandai
sekali. Dengan panjang-lebar dia membahas soal Connie
Garret yang masih muda dan malang, mengucapkan semua,
hal-hal yang diutarakan Jennifer, mencuri gebrakan emosi
yang sudah direncanakan Jennifer. Dia berbicara tentang
kecelakaan itu dengan menekankan bahwa Connie Garret
telah tergelincir di es dan bahwa pengemudi truk itu tidak
bersalah.
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, penggugat meminta agar
kami membayar lima juta dolar." Maguire menggeleng-geleng
seolah-olah tak percaya. "Lima juta dolar! Pernahkah Anda
melihat uang sebanyak itu? Saya tak pernah. Perusahaan saya
228
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menangani klien-klien yang punya uang, tetapi ingin saya
ceritakan bahwa selama bertahun-tahun saya membuka
praktek pengacara, tak pernah saya melihat uang satu juta
dolar — atau bahkan setengah juta dolar."
Maguire melihat pada air muka para juri bahwa mereka pun
tak pernah.
"Kami akan mengemukakan saksi-saksi mata yang akan
menceritakan pada Anda bagaimana kecelakaan itu terjadi.
Dan kejadian itu memang benar-benar suatu kecelakaan.
Sebelum kami selesai, kami sudah akan bisa memperlihatkan
pada Anda bahwa Nationwide Motors tidak bersalah dalam hal
ini. Anda tentu melihat bahwa orang yang mengajukan
tuntutan, Connie Garret, tidak hadir dalam ruang sidang hari
ini. Pembelanya telah memberi tahu Hakim Silverman bahwa
gadis itu sama sekali tidak akan muncul. Connie Garret tak
ada dalam ruang sidang hari ini di mana dia seharusnya
berada, tapi saya bisa menceritakan pada Anda di mana dia
sedang berada. Pada saat ini, sementara saya berdiri di sini
berbicara dengan Anda, Connie Garret sedang duduk di
rumahnya menghitung-hitung uang yang pada sangkanya
akan Anda berikan padanya. Dia sedang menunggu
teleponnya berdering dan menunggu pembelanya mengatakan
padanya, berapa juta dolar dapat diperasnya dari Anda.
Kita sama-sama tahu bahwa setiap kali terjadi suatu
kecelakaan yang melibatkan suatu perusahaan besar — meski
secara tak langsung sekalipun — ada orang yang akan
langsung berkata, "Ah, perusahaan itu kaya. Mereka tentu
banyak uang. Mari kita ambil kesempatan sebisanya."
Patrick Maguire berhenti sebentar.
"Connie Garret tak hadir di ruang sidang hari ini karena dia
tak tahan menghadapi Anda. Dia tahu bahwa apa yang
dilakukannya itu tak bermoral. Nah, kita akan menyuruhnya
pergi dengan tangan hampa, sebagai pelajaran bagi orangorang lain yang akan tergoda pula untuk berbuat yang sama
229
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di masa yang akan datang. Orang-orang harus
bertanggungjawab alas perbuatannya sendiri. Bila Anda
tergelincir di atas es dijalan, Anda tak bisa menyalahkan kakak
Anda. Dan Anda tak pantas mengeruk lima juta dolar dari dia.
Terima kasih."
Dia berpaling dan mengangguk pada Jennifer. lalu berjalan
ke meja terdakwa dan duduk.
Jennifer bangkit lalu berjalan mendekati juri.
Dipandanginya wajah-wajah mereka, sambil mencoba menilai
yang telah diberikan oleh Maguire.
"Rekan saya yang terhormat telah mengatakan pada Anda
bahwa Connie Garret tidak akan berada di ruang sidang ini
selama sidang ini berlangsung. Itu memang benar!"
Jennifer menunjuk ke tempat yang kosong di meja
penggugat. "Di situlah Connie Garret akan duduk bila dia
hadir. Bukan di kursi. Melainkan di kursi roda khusus. Kursi
roda tempatnya duduk. Connie Garret tidak akan hadir dalam
ruang sidang ini, tapi sebelum sidang ini selesai Anda akan
mendapatkan kesempatan bertemu dengan dia dan
mengenalnya sebagaimana saya sudah mengenalnya."
Tampak Patrick Maguire mengerutkan alisnya. Dia
membungkukkan badannya lalu berbisik dengan salah seorang
asistennya.
Jennifer meneruskan. "Saya mendengarkan waktu Tuan
Maguire berbicara demikian fasihnya, dan saya ingin
mengatakan bahwa saya terharu. Hati saya serasa diiris-iris
karena perusahaan senilai sekian milyar dolar itu diserang
tanpa belas kasihan oleh seorang gadis berumur dua puluh
empat tahan yang tak berkaki dan tak bertangan itu. Wanita
muda yang pada saat ini sedang menunggu di rumah, yang
dengan serakahnya menunggu dering telepon yang akan
mengatakan padanya bahwa dia akan menjadi kaya." Suara
Jennifer jadi merendah.
230
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kaya, yah, tapi untuk apa? Untuk membeli berlian, untuk
tangan yang tak ada lagi? Membeli sepatu dansa untuk kaki
yang akan membawanya ke pesta-pesta ke mana dia tidak
akan diundang? Coba Anda pikirkan semua kesenangan yang
akan dinikmatinya dengan uang itu."
Jennifer berbicara dengan tulus dan tenang, sambil
matanya bergerak lambat-lambat ke wajah para juri. "Tuan
Maguire tak pernah melihat uang sebanyak lima juta dolar
sekaligus. Saya pun tak pernah. Tapi saya akan mengatakan
ini. Bila saya menawarkan pada salah seorang di antara Anda
uang tunai sebanyak lima juta dolar sekarang juga, dan
sebagai penukarnya saya hanya minta agar kedua belah kaki
dan kedua belah tangan Anda dipotong, maka saya rasa uang
lima juta dolar tidak lagi kelihatan banyak.... Dalam hal ini
hukum jelas sekali," Jennifer menerangkan. "Dalam sidang
yang terdahulu di mana Penggugat kalah, para tergugat
menyadari kekurangan pada cara kerja rem truk-truk buatan
mereka, dan mereka merahasiakan hal itu dari Penggugat dan
dari persidangan. Dengan berbuat demikian mereka telah
melanggar hukum. Itulah dasar dari sidang baru ini.
Berdasarkan survei pemerintah baru-baru ini, penyebab
terbesar dari kecelakaan-kecelakaan yang diakibatkan oleh
truk-truk melibatkan roda dan bannya, dan cara kerja rem
serta kemudinya. Silakan Anda pelajari angka-angka ini
sebentar...."
Patrick Maguire memperhatikan serta menilai para juri, dan
dia ahli dalam hal itu. Sedang Jennifer terus-menerus
berbicara tentang statistik, Maguire melihat bahwa para juri
merasa bosan dalam sidang itu. Itu semua terlalu bersifat
teknis. Sidang bukan lagi mengenai gadis yang buntung,
melainkan tentang truk dan jarak mengerem serta bagian alat
rem yang tak beres. Hilang perhatian para juri.
Maguire memandang Jennifer dan berpikir, Dia tidak
sepintar sebagaimana yang disebarluaskan. Maguire tahu
231
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa seandainya dia yang berada di pihak lain dan membela
Connie Garret, dia akan mengabaikan statistik dan masalah
permesinan itu, dia akan mempermainkan emosi para juri.
Jennifer Parker telah melakukan yang terbalik.
Kini Patrick Maguire bersandar dan merasa santai.
Jennifer mendekati meja hakim. "Yang Mulia dengan izin
pengadilan, saya ingin memperlihatkan suatu barang bukti."
"Barang bukti apa?" tanya Hakim Silverman.
"Pada awal sidang ini, saya sudah berjanji pada para
anggota juri, akan memperkenalkan Connie Garret. Karena dia
sendiri tak bisa berada di sini saya ingin minta izin untuk
memperlihatkan beberapa gambarnya."
"Saya tidak melihat keberatan dalam hal itu," kata Hakim
Silverman. Dia berpaling pada Patrick Maguire. "Apakah
Pembela Terdakwa berkeberatan?"
Patrick Maguire bangkit perlahan-lahan, tetapi berpikir
cepat. "Gambar-gambar apa?"
"Beberapa gambar mengenai Connie Garret di rumah," kata
Jennifer.
Patrick Maguire sebenarnya lebih suka gambar-gambar itu
tidak diperlihatkan, tetapi sebaliknya foto-foto seorang gadis
buntung di kursi roda, jelas tidak memberikan kesan sehebat
pemunculan gadis itu sendiri. Lalu ada pula faktor
pertimbangan lain bila dia berkeberatan, dia akan kelihatan
tak simpatik di mata juri.
Maka dikatakannya dengan sikap murah hati, "Silakan
perlihatkan gambar-gambar itu."
"Terima kasih."
Jennifer berpaling pada Dan Martin dan mengangguk. Dua
orang laki-laki di deretan belakang maju ke depan dengan
232
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebuah layar yang bisa dibawa dan sebuah proyektor film, lalu
mereka mulai memasangnya.
Patrick Maguire bangkit, terkejut. "Tunggu! Apa-apaan ini?"
Jennifer menyahut dengan polos, "Inilah gambar-gambar
yang telah Anda izinkan saya untuk mempertunjukkannya."
Patrick Maguire tetap saja berdiri dengan hati yang
mendidih. Jennifer tidak mengatakan apa-apa tentang gambar
hidup. Tetapi sudah terlambat untuk menyatakan
keberatannya. Dia mengangguk singkat lalu duduk lagi.
Jennifer minta supaya layar itu ditempatkan sedemikian
hingga juri dan Hakim Silverman dapat melihatnya dengan
jelas.
"Bisakah saya minta supaya ruangan digelapkan, Yang
Mulia?"
Hakim memberi aba-aba pada seorang petugas, yang lalu
menurunkan kerai. Jennifer berjalan ke proyektor, yang
berukuran enam belas milimeter, lalu menghidupkannya, dan
layar pun hidup.
Selama tiga puluh menit berikutnya tak terdengar bunyi di
dalam ruang sidang itu. Sebelum itu, Jennifer telah menyewa
seorang kameraman profesional dan seorang direktur
periklanan yang masih muda untuk membuat film itu. Mereka
membuat film mengenai kehidupan Connie Garret dalam
sehari, dan itu merupakan sebuah kisah yang polos, nyata,
dani mengerikan. Tak ada lagi yang ketinggalan untuk
diangankan. Film itu menunjukkan gadis muda yand buntung,
diangkat waktu bangun pagi, dibawa kalau ingin ke wc,
dibersihkan seperti seorang bayi yang tak! berdaya...
dimandikan... disuapi, dan diganti pakaiannya.... Jennifer telah
berulang kali melihat film itu, namun kini, ketika dia
melihatnya lagi, tenggorokannya terasa tersumbat lagi, dan
matanya digenangi air. Dia tahu bahwa film itu memberikan
233
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesan yang sama pula atas diri hakim dan juri sertai penonton
sidang di ruangan itu.
Setelah film berakhir, Jennifer berpaling padai Hakim
Silverman. "Sekarang Penggugat beristirahat."
Lebih dari sepuluh jam juri keluar, dan dengan berlalunya
setiap jam, semangat Jennifer pun makin lemah. Semula dia
yakin akan mendapatkan keputusan segera. Bila mereka
terkesan oleh film itu sebagaimana dia sendiri, pengambilan
keputusan itu seharusnya hanya memerlukan tak lebih dari
satu atau dua jam. Waktu juri keluar beriring-iringan, Patrick
Maguire bingung sekali karena dia merasa yakin bahwa dia
pasti kalah, bahwa dia sekali lagi telah menilai Jennifer terlalu
rendah. Tetapi setelah berjam-jam berlalu dan para juri masih
belum juga kembali, harapan Maguire mulai timbul. Para juri
tidak akan memerlukan waktu begitu lama untuk mengambil
keputusan yang berdasarkan emosi. "Kita akan menang. Makin
lama mereka di dalam bertengkar, makin banyak emosi
mereka yangi berkurang."
Beberapa menit sebelum tengah malam, ketua juri
memberikan surat pendek kepada Hakim Silverman untuk
dibacakan. Hakim mempelajari permintaan ilu, lalu
mengangkat mukanya. "Harap kedua pembela mendekat ke
meja Dewan Hakim."
Setelah Jennifer dan Patrick Maguire berdiri di hadapannya,
Hakim Silverman berkata, "Saya akan memberitahukan pada
Anda mengenai surat pendek yang baru saja saya terima dari
Ketua Juri. Dewan Juri bertanya apakah mereka bisa
mendapatkan izin yang sah untuk memberikan kepada Connie
Garret lebih dari lima juta dolar, seperti yang dituntut oleh
pembelanya”.
Jennifer tiba-tiba merasa pusing. Hatinya terasa terangkat.
Dia berpaling untuk melihat Patrick Maguire. Wajah laki-laki itu
pucat-pasi.
234
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya beri tahukan pada mereka," kata Hakim Silverman,
"bahwa adalah hak mereka untuk menentukan jumlah berapa
pun juga yang menurut mereka adil."
Tiga puluh menit kemudian, juri beriring-iringan masuk ke
ruang sidang kembali. Ketua juri mengumumkan bahwa
mereka telah memihak pada penggugat. Jumlah ganti rugi
yang berhak diterimanya adalah enam juta dolar.
Jumlah itu merupakan ganti rugi cedera perorangan yang
terbesar dalam sejarah Negara Bagian New York.
20
Waktu Jennifer berjalan memasuki kantornya esok paginya,
didapatinya beberapa helai surat kabar terletak berjajaran di
atas meja kerjanya. Fotonya erpampang di halaman depan
dari semua surat kabar itu. Dalam jambangan terdapat empat
puluh delapan tangkai bunga mawar merah yang cantikcantik. Jennifer tersenyum. Rupanya Adam masih, sempat
mengiriminya bunga.
Dibuka kartunya lalu membaca: Selamat. Michael Moretti.
Interkom berbunyi dan Cynthia berkata, "Tuan Adam
menelepon."
Jennifer cepat-cepat mengangkat teleponnya. Dia berusaha
menjaga agar suaranya terdengar tenang. "Halo, Sayang."
"Kau telah berhasil lagi."
"Aku beruntung."
"Klienmu yang beruntung. Beruntung karena kau
pembelanya. Kau tentu merasa senang sekali."
Memenangkan perkara memang membuatnya senang.
Tetapi bila bersama Adam dia merasa senang sekali. "Ya."
sahutnya.
235
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ada sesuatu yang penting yang akan kuceritakan
padamu," kata Adam. "Bisakah kau menjumpai aku untuk
minum teh petang ini?"
Lemah semangat Jennifer. Hanya ada satu hal yang
mungkin akan diceritakan Adam: Adam tidak akan pernah bisa
bertemu dengannya lagi.
"Ya, baiklah, tentu...."
"Di Mario? Jam enam?"
"Baik."
Mawar-mawar itu diberikannya pada Cynthia.
Adam sudah menunggu di restoran itu, duduk di meja
bagian belakang. Supaya dia tidak akan mendapat malu bila
aku sampai histeris, pikir Jennifer. Tapi dia sudah bertekad
untuk tidak akan menangis. Tidak akan, di hadapan Adam.
Dari wajah yang kurus dan letih, Jennifer tahu apa yang
dialami Adam, dan dia berniat untuk meringankannya sedapat
mungkin. Jennifer duduk dan Adam lalu menggenggam
tangannya.
"Mary Beth akan minta cerai dari aku," kata Adam, dan
Jennifer hanya bisa menatapnya tanpa bisa berbicara.
Mary Beth yang membuka pembicaraan. Mereka baru saja
kembali dari perjamuan makan malam untuk pengumpulan
dana di mana Adam merupakan pembicara utamanya.
Pertemuan malam itu sangat berhasil. Selama perjalanan
pulang, Mary Beth diam saja, dia kelihatan tegang.
"Kurasa pertemuan tadi telah berjalan cukup baik, bukan?"
kata Adam.
"Ya, Adam."
Tak ada lagi yang mereka katakan sampai mereka di
rumah.
236
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maukah kau minum sebelum tidur?" tanya Adam.
"Tidak terima kasih. Aku ingin kita berbicara."
"Oh? Mengenai apa?"
Mary Beth memandanginya dan berkata, "Mengenai kau
dan Jennifer Parker."
Adam merasakannya sebagai suatu pukulan di badannya.
Adam bimbang sebentar, dia tak yakin apakah akan
menyangkalnya, ataukah....
"Sudah beberapa lama aku tahu. Aku tidak mengatakan
apa-apa karena aku akan mengambil keputusan apa yang
akan kulakukan."
"Mary Beth, aku....”
"Biarkan aku bicara dulu. Aku tahu bahwa hubungan kita
tidak — yah — tidak sebagaimana yang kita harapkan. Dalam
beberapa hal aku mungkin bukan istri sebagaimana harusnya."
"Apa pun yang terjadi, bukanlah salahmu. Aku....”
"Tunggu, Adam. Ini sulit sekali bagiku. Kini aku telah
mengambil keputusan. Aku tidak akan menghalanghalangimu."
Adam menatapnya dengan rasa tak percaya. "Aku tidak....”
"Aku terlalu cinta padamu untuk menyakitimu. Kau punya
masa depan politik yang gemilang di hadapanmu. Aku tidak
ingin ada sesuatu yang akan merusaknya. Jelas, bahwa aku
tidak membahagiakanmu sepenuhnya. Bila Jennifer Parker
bisa membahagiakanmu, aku ingin kau mengambil dia."
Adam merasa seolah-olah percakapan itu berlangsung di
dalam air. "Lalu bagaimana dengan kau sendiri?"
Mary Beth tersenyum. "Aku tidak akan apa-apa, Adam. Tak
usah kaurisaukan aku. Aku punya rencana sendiri."
237
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"A... aku tak tahu apa yang harus kukatakan."
"Tak perlu kau mengatakan apa-apa. Aku yang
mengatakannya untuk kita berdua. Bila aku terus bertahan
dengan kau dan membuatmu risau saja, pengaruhnya akan
buruk bagi kita berdua juga, bukan? Aku yakin si Jennifer itu
cantik, karena kalau tidak, perasaanmu terhadapnya tentu
tidak akan seperti yang sedang kaualami sekarang." Mary Beth
berjalan ke arah Adam, lalu merangkulnya. "Jangan
memandang seperti ketakutan begitu, Adam. Apa yang akan
kulakukan ini adalah yang terbaik untuk semua pihak."
"Kau hebat sekali."
"Terima kasih." Dengan lembut ditelusurinya wajah Adam
dengan ujung-ujung jarinya lalu tersenyum. "Adam sayangku,
aku akan selalu menjadi sahabatmu yang terbaik. Selalu."
Kemudian dia lebih mendekat dan merebahkan kepalanya di
pundak Adam.
Adam hampir-hampir tak dapat mendengar suaranya waktu
dia berkata, "Sudah lama sekali kau tidak memelukku, Adam.
Kau tak perlu mengatakan bahwa kau cinta padaku, tapi
maukah kau — maukah kau — memelukku lagi sekali lagi dan
bercintaan denganku? Untuk terakhir kali bersamaku?"
Kini Adam teringat akan peristiwa itu lagi, waktu itu berkata
pada Jennifer, "Mary Beth yang punya gagasan untuk
bercerai."
Adam berbicara terus, tetapi Jennifer sudah tidak
mendengarkan lagi; dia hanya mendengar suara musik. Dia
merasa dirinya bagai mengambang, melambung. Dia tadi telah
menguatkan hatinya untuk mendengar Adam mengatakan
bahwa mereka tidak akan bisa bertemu lagi — dan sekarang
ternyata begini! Semuanya ini terlalu banyak untuk diresapi.
238
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia tahu betapa pedihnya peristiwa dengan Mary Beth itu
bagi Adam, dan Jennifer makin bertambah cinta pada Adam.
Dia merasa seolah-olah ada beban yang selama ini menindih,
terangkat dari rongga dadanya, seolah-olah dia bisa bernafas
lagi.
"Mary Beth baik sekali dalam hal ini," kata Adam. "Dia
wanita yang luar biasa. Dia ikut berbahagia setulusnya dengan
kita."
"Rasanya sulit untuk dipercaya."
"Kau tak mengerti. Sudah berapa lama ini kami hidup
sebagai... adik-kakak saja. Aku tak pernah membicarakan
denganmu, tapi...." Adam ragu, lalu berkata dengan berhatihati, "Mary Beth tidak punya... gairah yang kuat."
"Oh."
"Dia ingin bertemu denganmu." Hal itu membuat Jennifer
bingung. "Kurasa tak bisa, Adam. Aku akan merasa.... tak
enak."
"Percayalah padaku."
"Kalau.... kalau itu maumu, Adam, baiklah."
"Bagus, Sayang. Kita akan bertemu untuk minum teh. Aku
akan mengantarmu."
Jennifer berpikir sebentar. "Apakah.... apakah tidak akan
lebih baik kalau aku pergi sendiri?"
Esok paginya, Jennifer keluar dari Saw Mill River Parkway
menuju ke arah kota. Pagi itu udara kering dan cerah, hari
yang bagus untuk bepergian. Jennifer menghidupkan radio
dalam mobil dan mencoba menghilangkan rasa gugupnya
dalam menghadapi pertemuan mendatang.
Rumah keluarga Warner adalah sebuah rumah yang besar
dan kokoh, bergaya rumah Belanda asli yang menghadap ke
sungai di daerah Croton-on Hudson, dibangun di atas tanah
239
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghijau yang beberapa are luasnya. Jennifer mengarahkan
mobilnya memasuki sebuah lorong mobil ke jalan masuk yang
megah. Dia membunyikan bel dan sesaat kemudian pintu
dibuka oleh seorang wanita menarik yang berumur di
pertengahan tiga puluhan. Jennifer sama sekali tak
menyangka akan bertemu dengan wanita pemalu dari daerah
selatan ini. Wanita itu menyalaminya dan sambil tersenyum
hangat dia berkata, "Aku Mary Beth. Adam tak adil
membiarkan kau datang seorang diri. Mari masuk."
Istri Adam itu mengenakan rok dari wol yang berwarna
coklat muda, yang agak lebar ke bawah, dan blus sutra yang
terbuka cukup rendah hingga kelihatan buah dada yang cukup
matang tetapi masih indah. Rambutnya yang berwarna pirang
agak kecoklatan, dibiarkan terurai panjang dan agak mengikal
di sekeliling wajahnya, menambah bagus matanya yang biru.
Mutiara yang melingkar di lehernya tidak akan mungkin
disangka tiruan. Mary Beth Warner berpembawaan anggun
sekali.
Bagian dalam rumah itu, indah, kamar-kamarnya luas dan
lapang, penuh dengan barang-barang antik serta lukisanlukisan indah.
Seorang pelayan laki-laki menyuguhkan teh di ruang tamu
utama; perangkat minumnya dari perak model Georgia.
Selelah pelayan meninggalkan ruangan itu, Mary Beth
berkata, "Aku yakin kau cinta sekali pada Adam."
Jennifer menjawab dengan kaku, "Saya ingin Anda tahu,
Nyonya Warner, tak seorang pun diantara kami yang punya
rencana....”
Mary Beth Warner meletakkan tangannya di lengan
Jennifer. "Tak perlu kauceritakan hal itu padaku. Aku tak tahu
apakah Adam sudah menceritakannya padamu, tapi
perkawinan kami sudah menjadi suatu perkawinan yang hanya
berisi sopan santun. Kami berkenalan sudah sejak kanak-
240
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kanak. Kurasa sudah sejak pertama kali bertemu dengan
Adam, aku sudah jatuh cinta padanya. Kami selalu pergi ke
pesta bersama-sama, berteman dengan orang-orang yang
sama, dan kurasa memang sudak tak terelakkan lagi bahwa
kami lalu menikah. Jangan salah paham, aku masih tetap
memuja Adam, dan aku yakin dia pun memujaku. Tapi
manusia berubah, bukan?"
"Ya."
Jennifer memandangi Mary Beth, dan hatinya dipenuhi rasa
syukur. Apa yang sebenarnya mungkin merupakan peristiwa
buruk dan mengerikan, ternyata merupakan sesuatu yang
penuh keramahan dan keindahan. Adam memang benar. Mary
Beth memang seorang wanita yang luar biasa.
"Saya berterima kasih sekali pada Anda," kata Jennifer.
"Dan aku pun berterima kasih padamu," Mary Beth berkata
terus terang. Dia tersenyum malu dan berkata lagi,
"Ketahuilah, aku pun sedang benar-benar jatuh cinta. Semula
aku ingin segera bercerai, tapi kupikir, demi Adam sebaiknya
kami menunggu sampai selesai pemilihan."
"Agaknya semua orang yakin bahwa Adam akan menjadi
senator kita," Mary Beth melanjutkan, "dan bila kami bercerai
sekarang, akan sangat mengganggu kesempatannya. Hanya
enam bulan saja lagi, jadi kuputuskan akan lebih baik baginya
bila kutunda." Dia melihat pada Jennifer. "Tapi maaf....
apakah kau setuju begitu?
"Tentu," kata Jennifer.
Jennifer harus mengatur kembali caranya berpikir. Kini
masa depannya akan terikat pada Adam. Bila Adam menjadi
senator, dia akan tinggal bersamanya di Washington DC. Itu
akan berarti bahwa dia harus menghentikan praktek
pengacaranya di sini, tapi itu lak apa-apa. Semuanya tak ada
artinya, asal mereka bisa bersama.
241
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Adam akan menjadi seorang senator yang hebat," kata
Jennifer.
Mary Beth mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Bukan
hanya itu, pada suatu hari kelak Adam akan menjadi seorang
presiden yang hebat."
Waktu Jennifer tiba kembali di apartemennya, telepon
berdering. Adam yang menelepon. "Bagaimana pertemuan
dengan Mary Beth?"
"Adam, dia baik sekali."
"Dia berkata begitu pula tentang kau."
"Kita pernah membaca tentang daya tarik dari daerah
selatan masa lalu, tapi kita tidak sering melihatnya. Mary Beth
punya daya tarik itu. Dia benar-benar seorang wanita yang
hebat."
"Kau juga hebat, Sayang. Di mana kau ingin menikah?"
"Di mana pun jadi, kalau perlu di lapangan Times Square"
kata Jennifer. "Tapi kurasa kita harus menunggu, Adam."
'Menunggu apa?"
“Sampai selesai masa pemilihan. Karirmu penting. Sekarang
ini suatu perceraian akan merupakan pukulan bagimu."
“Hidup Prbadiku....”
".... akan merupakan hidup bagi masyarakat ramai. Kita tak
boleh berbuat sesuatu yang akan merusak kesempatanmu.
Kita bisa menunggu enam bulan lagi."
"Aku tak sabar menunggu."
"Aku pun tidak, Sayang." Jennifer tersenyum. "Sebenarnya
kita tidak menunggu, bukan?"
21
242
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hampir setiap hari Jennifer dan Adam makan siang
bersama, dan satu atau dua kali seminggu Adam bermalam di
apartemen mereka. Mereka harus lebih berhati-hati daripada
biasanya karena kampanye Adam sudah dimulai dengan aktif,
dan dia sudah menjadi tokoh nasional yang terkemuka. Dia
berpidato pada rapat-rapat umum politik dan, perjamuanperjamuan makan malam untuk pengumpulan dana, dan
pendapat-pendapatnya mengenai peristiwa-peristiwa nasional
makin banyak dimuat dalam pers.
Adam dan Stewart Needham sedang minum teh kebiasaan
mereka pagi hari.
"Aku melihatmu pada pertunjukan tv dalam acara Hari ini,
tadi pagi," kata Needham. "Bagus, Adam. Semuanya sudah
ada dalam genggaman kita. Kudengar orang mengundangmu
lagi."
"Stewart, aku benci melakukan pertunjukan-pertunjukan
itu. Aku merasa seperti seorang pemain sandiwara yang
sedang mengadakan pertunjukan”.
Stewart mengangguk dengan tenang. "Itulah politikus,
Adam.... mereka itu juga pemain sandiwara. Memainkan peran
dan menjadi apa yang diingini masyarakat ramai. Bila politisi
berbuat di muka umum sebagaimana mereka adanya, waduh
— maka negara ini akan menjadi suatu kerajaan."
"Aku tak suka perjuangan untuk mendapatkan kedudukan
dalam masyarakat ini lalu menjadi kontes pribadi."
Stewart Needham tersenyum. "Bersyukurlah bahwa kau
mempunyai pembawaan untuk itu, Bung. Angka-angkamu
dalam pengumpulan suara meningkat terus, setiap minggu."
Dia berhenti sebentar untuk menuang teh lagi. "Percayalah, ini
baru merupakan permulaannya. Mula-mula senat dulu,
kemudian sasaran nomor satu. Tak ada satu pun lagi halangan
bagimu." Dia berhenti untuk menghirup tehnya. "Tapi itu pun
kalau kau tidak berbuat yang tak senonoh."
243
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam memandangnya. "Apa maksudmu?"
"Lawanmu adalah seorang yang tak segan berjuang dengan
cara rendah. Aku berani bertaruh bahwa saat ini dia sedang
meneliti hidupmu dengan mikroskop. Dia tidak akan
menemukan cacat, bukan?"
“Tidak," Adam mengucapkan perkataan itu secara otomatis.
“Bagus," kata Stewart Needham. "Bagaimana Mary Beth?"
Jennifer dan Adam sedang bermalas-malasan pada akhir
pekan itu di sebuah rumah pedesaan di Vermont yang telah
disewa Adam dari seorang sahabatnya. Udara kering dan
segar, membelikan tanda-tanda musim salju yang mendatang.
Akhir pekan itu sempurna rasanya, menyenangkan dan santai.
Siang hari mereka berjalan jauh dan malam hari memainkan
permainan-permainan dalam rumah sambil ngobrol di
depan perapian yang menyala.
Dengan teliti mereka mengikuti berita di semua surat kabar
hari Minggu. Adam melaju terus dalam semua pengumpulan
suara. Hampir semua media massa memihak pada Adam.
Mereka menyukai gayanya, kejujurannya, kecerdasannya, dan
keterbukaannya. Mereka terus-menerus menyamakannya
dengan John Kennedy.
Adam berbaring santai di depan perapian sambil
memperhatikan bayang-bayang nyala api yang seperti menarinari di wajah Jennifer. "Maukah kau menjadi istri presiden?"
"Maaf. Aku sudah mencintai seorang senator."
"Apakah kau akan kecewa kalau aku tak menang,
Jennifer?"
"Tidak. Aku ingin kau memenangkannya, tak lain karena
kau menginginkannya, Sayang."
244
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bila aku menang itu akan berarti harus tinggal di
Washington."
"Asal kita bersama, aku tak peduli apa-apa."
"Bagaimana dengan praktek pengacaramu?"
Jennifer tersenyum. "Berita yang terakhir kudengar, di
Washington juga ada ahli-ahli hukum."
"Bagaimana kalau kuminta kau menghentikannya?"
"Aku akan berhenti."
"Aku tak ingin kau berhenti. Kau terlalu pandai dalam hal
itu."
"Yang penting bagiku hanyalah supaya bisa bersamamu.
Aku begitu mencintaimu, Adam."
Adam membelai rambut Jennifer yang lembut, yang
berwarna coklat tua, lalu berkata, "Aku juga cinta padamu.
Cinta sekali."
Mereka pergi tidur, dan lama kemudian tidur.
Malam Senin mereka kembali ke New York. Mereka
mengambil mobil Jennifer di bengkel di mana Jennifer
menitipkannya, lalu Adam kembali ke rumahnya. Jennifer
kembali ke apartemen mereka di New York.
Setiap hari Jennifer selalu penuh kesibukan. Kalau
sebelumnya dia sudah merasa sibuk, sekarang dia seperti
terperangkap. Dia membela perusahaan-perusahaan
internasional yang telah melanggar undang-undang dan
tertangkap, senator-senator yang tertangkap basah dalam
perbuatan salah, bintang-bintang film dalam kesulitan. Dia
membela pemimpin-pemimpin bank, tetapi juga perampokperampok bank, politisi, dan juga ketua-ketua serikat-serikat
kerja.
245
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Uang mengalir terus, tapi itu tak penting bagi Jennifer. Dia
memberikan uang ekstra banyak pada stafnya dan
menghambur-hamburkan hadiah-hadiah.
Perusahaan-perusahaan yang harus melawan Jennifer
dalam sidang tak lagi mengirim pengacara-pengacara mereka
yang kelas dua, jadi Jennifer harus berhadapan dengan
pembela-pembela terkemuka yang berbakat di dunia.
Dia diterima menjadi anggota persekutuan pengacara yang
bernama American College of Trial Lawyers, dan Ken Bailey
pun sangat terkesan.
"Tuhanku," katanya, "tahukah kau, hanya satu persen dari
para pengacara di negeri ini yang bisa masuk?"
"Rupanya aku telah menjadi wanita pilihan mereka," kata
Jennifer sambil tertawa.
Bila Jennifer membela seorang terdakwa Manhattan, dia
selalu yakin bahwa Robert Silva-lah yang akan menjadi
penuntut umumny atau yang menjadi dalangnya. Makin
banyak kemenangan yang dicapai Jennifer, makin bertambah
kebencian laki-laki itu padanya.
Pada suatu sidang di mana Jennifer dihadapkan pada jaksa,
Di Silva menempatkan belasan ahli kenamaan di mimbar saksi
untuk mendukung tuntutannya.
Jennifer tidak memanggil ahli-ahli. Dia hanya berkata pada
para juri: "Bila kita ingin membuat pesawat antariksa atau
ingin mengukur jarak bintang, kita minta bantuan para ahli.
Tapi bila kita ingin sesuatu yang sangat penting dijalankan
dengan sebaik-baiknya, kita kumpulkan saja dua belas orangorang biasa untuk melakukannya. Sepanjang ingatan saya,
pendiri agama Kristen pun berbuat demikian pula."
Dan Jennifer memenangkan perkara itu.
Salah satu teknik yang menurut Jennifer sangat efektif bagi
juri adalah dengan mengatakan, "Saya tahu bahwa kata-kata
246
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'undang-undang' dan 'ruang sidang' kedengarannya agak
menakutkan dan jauh dari kehidupan Anda, tapi bila hal itu
tidak Anda pikirkan, maka yang kita lakukan di sini hanyalah
menangani kebenaran-kebenaran dan kesalahan- kesalahan
yang telah diperbuat terhadap sesama manusia seperti kita
sendiri. Mari kita lupakan bahwa kita berada dalam ruang
sidang, Saudara-saudara. Mari kita bayangkan bahwa kita
sedang duduk-duduk dalam ruang tamu saya, dan
membicarakan apa yang telah terjadi atas diri terdakwa yang
malang ini, sesama manusia ini."
Maka, dalam bayangan mereka, para juri itu memang
sedang duduk-duduk di ruang tamu Jennifer, terbawa oleh
pesonanya. Cara ini berhasil dengan baik bagi Jennifer, sampai
pada suatu hari waktu dia sedang membela seorang klien
melawan Robert Di Silva. Jaksa itu berdiri lalu mengucapkan
pidato pembukaannya yang ditujukan pada juri.
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," kata Di Silva. "Saya ingin
Anda melupakan bahwa Anda sedang berada dalam suatu
sidang pengadilan hukum. Saya minta Anda membayangkan
bahwa Anda sedang duduk di ruang tamu saya dan dudukduduk secara tak resmi, mengobrol tentang perbuatanperbuatan yang mengerikan, yang telah dilakukan oleh
Terdakwa ini."
Ken Bailey membungkuk dan berbisik pada jennifer,
"Kaudengarkah apa yang dilakukan keparat itu? Dia mencuri
siasatmu!"
"Jangan kuatir." sahut Jennifer dingin.
Waktu Jennifer bangkit untuk berbicara pada juri, dia
berkata, "Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, saya tak pernah
mendengar sesuatu yang lebih melampaui batas daripada
kata-kata jaksa tadi itu." Suaranva lantang mengandung
kemarahan. "Sejenak, saya rasanya tak percaya akan
pendengaran saya. Berani benar dia menyuruh Anda
melupakan bahwa Anda sedang berada dalam suatu sidang
247
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengadilan hukum. Ruang sidang ini adalah salah satu milik
yang paling berharga yang ada pada bangsa kita! Tempat ini
merupakan dasar dari kemerdekaan kita. Kemerdekaan Anda,
kemerdekaan saya, dan kemerdekaan terdakwa. Dan seorang
jaksa meminta Anda untuk melupakan di mana Anda berada,
untuk melupakan tugas Anda atas dasar sumpah. Saya rasa
itu sangat mengejutkan dan rendah sekali. Saya minta supaya
Anda ingat, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, di mana Anda
sedang berada, ingat bahwa kita semua berada di sini untuk
mengusahakan agar keadilan ditegakkan dan agar terdakwa
diadili dengan benar."
Para juri mengangguk membenarkan.
Jennifer melihat ke meja tempat Robert Di Silva duduk.
Laki-laki itu menatap lurus ke depan matanya tampak
berkaca-kaca.
Klien Jennifer lalu dibebaskan.
Setiap kali setelah memenangkan suatu perkara selalu ada
empat lusin bunga mawar merah di meja kerja Jennifer,
dengan kartu dari Michael Moretti! Setiap kali kartu itu disobek
Jennifer dan ia memerintahkan Cynthia untuk membawa pergi
bunga mawar itu. Bagaimanapun juga Jennifer merasa bahwa
bunga itu kotor karena berasal dari laki-laki itu. Akhirnya
Jennifer menulis surat pendek pada Michael Moretti, meminta
untuk berhenti mengiriminya bunga.
Waktu Jennifer kembali dari ruang sidang setelah
memenangkan perkara berikutnya, ditemukannya lima lusin
bunga mawar merah.
22
Perkara Perampok Berjas Hujan telah membuat nama
Jennifer tercantum pada tajuk rencana surat-surat kabar lagi.
Terdakwa mendapatkan perhatian Jennifer melalui Pater Ryan.
248
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Seorang sahabatku sedang dalam kesulitan...." dia mulai,
dan mereka berdua pun lalu tertawa terbahak.
Sahabat itu ternyata adalah Paul Richards, seorang
pengelana yang dituduh telah merampok bank. melarikan
seratus lima puluh ribu dolar. Si orang perampok memasuki
bank itu dengan mengenakan jas hujan hitam yang panjang,
yang di dalamnya disembunyikan sebuah senapan berlaras
pendek. Leher baju hujan itu dinaikkan supaya mukanya
tersembunyi sebagian. Begitu dia berada di dalam, dia
menodongkan senapan itu dan memaksa seorang kasir untuk
menyerahkan semua uang tunai yang ada. Kemudian
perampok itu melarikan diri dengan mobil yang memang
sedang menunggu. Beberapa orang saksi telah melihat mobil
yang melarikan diri itu, sebuah sedan hijau, tetapi nomor
kendaraannya ditutupi dengan lumpur.
Karena perampokan bank merupakan kejahatan federal,
FBI (Badan Inteligen Federal) ikut turun tangan dalam perkara
itu. Semua petunjuk-petunjuk tentang penjahat itu mereka
masukkan ke dalam komputer dan yang keluar adalah nama
Paul Richards.
Jennifer pergi mengunjunginya di Riker's Island, penjara
tempatnya ditahan.
"Saya berani bersumpah, demi Tuhan, saya tidak
melakukan perampokan itu," kata Paul Richards. Laki-laki itu
berumur lima puluhan, dia berwajah merah dengan mata biru
yang kekanak-kanakan, dia terlalu tua untuk berkeliaran dan
melakukan perampokan bank.
"Saya tak peduli apakah Anda bersalah atau tidak," Jennifer
menjelaskan, "tapi ada satu syarat saya. Saya tak mau
membela klien yang berbohong pada saya."
"Saya bersumpah demi ibu saya bahwa saya tidak
melakukannya."
249
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer sudah lama tak percaya lagi pada sumpah. Klienklien telah bersumpah padanya demi ibu, istri, kekasih, atau
anak-anak mereka. Bila Tuhan mau meladeni sumpah-sumpah
itu, pasti jumlah penghuni dunia sudah mengalami penurunan.
"Anda pikir mengapa FBI menangkap Anda?"
Tanpa ragu Paul Richards menjawab, "Karena kira-kira
sepuluh tahun yang lalu saya pernah merampok bank dan
terlalu goblok hingga tertangkap."
"Apakah Anda juga memakai senapan berlaras pendek yang
disembunyikan di balik jas hujan?"
"Ya. Saya menunggu sampai hari hujan, lalu menyerang
bank."
"Tapi yang terakhir ini, apakah bukan Anda yang
melakukannya?"
"Bukan. Ada seorang keparat yang cerdik dan menirukan
cara saya."
Tanya-jawab pendahuluan diadakan di hadapan Hakim Fred
Stevens, seseorang yang berdisiplin ketat. Menurut desasdesus dia paling suka membuang semua penjahat ke sebuah
pulau yang tak bisa dicapai orang, di mana mereka akan
tinggal selama sisa hidup mereka. Hakim Stevens berpendapat
bahwa setiap orang yang kedapatan mencuri untuk pertama
kalinya harus dipotong tangan kanannya dan bila tertangkap
lagi, harus dipotong tangan kirinya, menurut tradisi Islam
kuno. Dia adalah hakim yang terjahat yang pernah dijumpai
Jennifer. Ia memanggil Ken Bailey.
"Ken, tolong gali segala-galanya tentang diri Hakim
Stevens."
"Hakim Stevens? Dia itu orang jujur, sejujur nabi. Dia...."
"Aku tahu. Tolonglah lakukan."
250
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jaksa penuntut federal adalah seorang ahli yang bernama
Carter Gifford.
"Bagaimana Anda akan membela dia?" tanya Gifford.
Jennifer memandangnya dengan polos dan terkejut
"Dengan mengatakan bahwa dia tak bersalah tentu."
Jaksa itu tertawa getir. "Hakim Stevens akan mengalahkan
Anda dengan mudah sekali. Saya rasa ada baiknya Anda minta
sidang dengan juri."
“Tidak."
Gifford memperhatikan Jennifer dengan curiga. “Apakah
Anda akan menyerahkan klien Anda itu ke dalam tangan
hakim penggantung itu?"
“Benar."
Gifford tertawa kecil. "Saya yakin Anda akan menderita
kekalahan juga suatu hari, Jennifer. Saya tak sabar menunggu
saat itu."
"Negara Amerika Serikat melawan Paul Richards Apakah
Terdakwa hadir?"
"Hadir, Yang Mulia," kata petugas pengadilan.
"Para pengacara harap maju ke meja Dewan Hakim dan
memperkenalkan dirinya."
Jennifer dan Carter Gifford berjalan ke arah Hakim Stevens.
"Jennifer membela Terdakwa."
"Carter Gifford membela Amerika Serikat."
Hakim Stevens berpaling pada Jennifer dan berkata dengan
singkat, "Saya sudah banyak mendengar tentang Anda, Nona
Parker. Jadi akan saya katakan sekarang juga bahwa saya tak
mau membuang-buang waktu pengadilan ini. Saya tidak akan
mengizinkan penundaan dalam perkara ini. Saya akan
251
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melanjutkan tanya-jawab pendahuluan ini dan ingin
menyelesaikan gugatan. Saya bermaksud untuk menetapkan
tanggal sidang secepat mungkin Saya rasa Anda menghendaki
sidang dengan dewan juri dan....”
"Tidak, Yang Mulia."
Hakim Stevens melihat padanya dengan terkejut. "Anda
tidak akan minta diadakan sidang dengan juri?"
"Tidak. Karena saya pikir tidak akan ada gugatan."
"Apa?" Carter Gifford menatapnya dengan tajam.
"Menurut pendapat saya, Anda tak punya cukup bukti
untuk menghadapkan klien saya ke sidang.”
Carter Gifford membentak. "Anda harus mengubah
pendapat itu!" Dia berpaling pada Hakim Stevens. "Yang
Mulia, pemerintah punya dasar yang kuat untuk mengajukan
suatu perkara. Terdakwa pernah ditangkap karena melakukan
kejahatan yang sama benar dengan cara yang sama pula.
Komputer kita telah menunjuk dia di antara lebih dari dua ribu
iurang yang dicurigai. Orang yang bersalah ada di antara kita
dalam ruang sidang ini, dan Penuntut tak punya niat untuk
membatalkan perkara melawan dia."
Hakim Stevens berpaling pada Jennifer. "Pengadilan
melihat terdapatnya cukup bukti prima facie untuk
mengadakan gugatan dan sidang. Adakah yang akan Anda
katakan lagi?"
"Ada, Yang Mulia. Tak ada seorang saksi pun yang secara
positif bisa mengenali Paul Richards. UU pun tak bisa
menemukan uang yang telah dicuri. Sebenarnya, satu-satunya
yang menghubungkan terdakwa dengan kejahatan ini adalah
angan-angan Jaksa saja."
Hakim menatap Jennifer dan berkata dengan suara yang
halus sekali, "Bagaimana dengan komputer yang telah
menunjuk dia?"
252
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer mendesah. "Itu membawa masalah bagi kita, Yang
Mulia."
"Saya rasa memang begitu," kata Hakim Stevens dengan
tegas. "Lebih mudah untuk tidak mempercayai saksi hidup,
tapi sulit untuk tidak mempercayai komputer."
Carter Gifford mengangguk dengan rasa puas. “Tepat,
Yang Mulia."
Jennifer berpaling dan menghadapi Gifford. "FBI
menggunakan pesawat IBM 370/168, bukan?"
"Itu merupakan peralatan yang paling modern di dunia."
Hakim Stevens bertanya pada Jennifer, "Apakah Pembela
ingin menantang efisiensi komputer itu?"
"Sebaliknya, Yang Mulia. Ke dalam pengadilan ini saya telah
membawa seorang ahli komputer yang bekerja untuk
perusahaan yang telah membuat alat yang berkode 370/168
itu. Dialah yang menyusun informasi yang kemudian
memunculkan nama klien saya."
"Mana dia?"
Jennifer berbalik dan melambai memanggil seorang laki-laki
kurus tinggi yang duduk di bangku. Dia maju dengan gugup.
Jennifer berkata, "Ini Tuan Edward Monroe."
"Bila Anda menyuap saksi saya," kata Jaksa dengan amarah
yang meledak, "saya akan....”
"Saya hanya akan bertanya pada Tuan Monroe untuk
bertanya pada komputernya, apakah mungkin ada orang lain
yang dicurigai. Saya pilih sepuluh orang yang mempunyai
sifat-sifat khas umum yang sama dengan klien saya. Tuan
Monroe menyusun statistik mengenai umur, tinggi badan,
berat badan warna mata, tempat lahir — pokoknya data-data
yang sama yang menghasilkan nama klien saya”.
253
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah maksudnya semua ini, Nona Parker?" hanya Hakim
Stevens tak sabaran.
"Maksud saya, komputer telah mengenali seorang di antara
sepuluh orang yang merupakan orang yang paling dicurigai
dalam perampokan bank itu."
Hakim Stevens berpaling pada Edward Monroe "Betulkah
begitu?"
"Benar, Yang Mulia." Edward Monroe membuka tas
kantornya lalu mengeluarkan catatan hasi komputer.
Juru sita mengambilnya dari Monroe lalu menyerahkannya
pada hakim. Hakim Stevens melihat catatan itu, lalu wajahnya
menjadi merah.
Dia melihat pada Edward Monroe. "Olok-olok apaan ini?"
"Bukan olok-olok, Pak."
"Komputer telah mencatat nama saya sebagai seorang
yang mungkin dicurigai?" tanya Hakim Stevens.
"Benar, Pak."
Jennifer menjelaskan, "Komputer tidak punya daya
pertimbangan, Yang Mulia. Alat itu hanya bisa memberikan
jawab atas informasi yang diberikan padanya. Anda dan klien
saya kebetulan sama tinggi, sama berat, dan seumur pula.
Anda berdua sama-sama pula mengendarai sedan berwarna
hijau, dan Anda berdua berasal dari negara bagian yang sama.
Benar-benar hanya itulah bukti yang ada pada Jaksa penuntut.
Satu-satunya faktor lain adalah cara kejahatan itu dilakukan.
Waktu Paul Richards melakukan perampokan bank itu sepuluh
tahun yang lalu, berjuta-juta orang membacanya. Siapa pun
diantaranya bisa saja menirukan cara kerjanya itu. Dan
ternyata memang ada seseorang yang melakukannya."
Jennifer menunjuk ke kertas di tangan hakim iiu. "Itu
menunjukkan pada Anda betapa lemahnya dasar perkara
pengaduan negara bagian sebenarnya."
254
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang Mulia....” kata Carter Gifford tergagap, lalu terdiam
lagi. Dia tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Hakim Stevens melihat lagi ke hasil kerja komputer
ditangannya, lalu memandang Jennifer.
“Apa yang Anda lakukan," tanyanya, "seandainya hakimnya
seseorang yang lebih muda, lebih kurus dari saya, dan yang
mengendarai mobil biru?"
"Maka komputer itu menunjukkan pada saya, sepuluh
orang lain yang dicurigai," kata Jennifer "Dan pilihan saya
yang berikutnya adalah jaksa negeri dari Negara Bagian New
York yaitu Robert Di Silva."
Jennifer sedang duduk di kamar kerjanya, membaca tajuktajuk rencana waktu Cynthia memberitahukan, "Ada Tuan Paul
Richards."
"Persilakan dia masuk, Cynthia."
Laki-laki itu masuk ke dalam kamar dengan mengenakan
jas hujan hitam dan membawa sebuah kotak permen yang
diikat dengan pita merah, "Saya hanya mau mengucapkan
terima kasih.”
"Anda lihat, kan? Kadang-kadang keadilan bisa berjaya."
"Saya akan ke luar kota. Saya rasa saya perlu berlibur." Dia
memberikan kotak permen itu. "Suatu tanda kecil dari rasa
terima kasih saya."
"Terima kasih, Paul."
Laki-laki itu memandang Jennifer dengan kagum. "Anda
memang hebat." Dia lalu pergi.
Jennifer melihat ke kotak gula-gula di atas meja kerjanya,
lalu tersenyum. Dalam menangani perkara dari teman-teman
Pater Ryan, biasanya kurang dari sekotak permen yang
255
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diterima Jennifer sebagai imbalan. Bila dia menjadi gemuk
gara-gara makan, permen itu, itu adalah kesalahan Pater
Ryan.
Jennifer membuka ikatan pita lalu membuka kotaknya. Di
dalamnya terdapat sepuluh ribu dolar, yang terdiri dari mata
uang yang tak baru lagi.
Pada suatu petang, waktu Jennifer sedang meninggalkan
gedung pengadilan, dilihatnya sebuah mobil sedan mewah
Cadillac berwarna hitam yang dikemudikan oleh seorang sopir,
di tepi jalan. Waktu Jennifer akan melewati mobil itu, Michael
Moretti keluar. "Saya menunggu Anda."
Dipandang dari dekat, ada gairah hidup bagaikan arus
listrik yang hampir melumpuhkan pada laki-laki itu.
"Jangan halangi saya," kata Jennifer. Wajahnya memerah
dan marah, dan bahkan jadi lebih cantik daripada yang diingat
Michael Moretti.
"Waduh," kata Michael sambil tertawa, "tenanglah. Saya
hanya mau berbicara dengan Anda. Saya hanya meminta
Anda untuk mendengarkan. Saya akan membayar waktu yang
Anda pakai untuk itu."
"Tidak akan cukup uang Anda untuk itu."
Dia beranjak akan melewati Michael. Laki-laki itu
memegang lengannya dengan sikap membujuk. Baru
menyentuhnya begitu saja, Michael sudah makin berdebar.
Michael memanfaatkan seluruh daya tariknya. "Pakailah
akal sehat Anda. Anda tidak akan tahu apa yang Anda tolak
kalau Anda tidak mendengarkan dulu apa yang akan saya
katakan. Sepuluh menit saja. Hanya itu saja yang saya minta.
Anda akan saya antar ke kantor Anda. Kita bisa berbicara
dalam perjalanan."
256
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer memperhatikannya sejenak, lalu berkata, "Saya
mau ikut Anda dengan satu syarat. Saya minta jawaban atas
satu pertanyaan."
Michael mengangguk. "Tentu. Tanyakanlah."
"Siapa yang punya gagasan untuk menyalah gunakan saya
dengan bangkai burung kenari dulu itu?"
"Gagasan saya," sahut Michael tanpa ragu.
Jadi, sekarang Jennifer tahu. Mau dia rasanyal membunuh
laki-laki itu. Dengan wajah bersunguth-sungut dia melangkah
masuk ke mobil itu dan Michael Moretti duduk di sampingnya.
Jennifer mendengarnya memberikan alamat kantornya pada
sopirnya tanpa bertanya lebih dahulu.
Waktu mobil bergerak, Michael Moretti berkata, "Saya
senang melihat semua yang hebat-hebat yang Anda alami."
Jennifer tidak merasa perlu menjawab.
"Saya benar-benar merasa senang."
"Anda belum mengatakan apa mau Anda."
"Saya ingin menjadikan Anda kaya."
"Terima kasih. Saya sudah cukup kaya," suaranya
mengandung kebencian yang mendalam yang dirasakannya
terhadap laki-laki itu.
Wajah Michael Moretti memerah. "Saya mencoba berbuat
baik pada Anda, tapi Anda melawan saya terus."
Jennifer berpaling melihat padanya. "Saya tak perlu jasajasa baik Anda."
Dengan nada membujuk Michael berkata, "Baiklah.
Mungkin saya mencoba untuk mengimbangi sedikit apa yang
telah saya lakukan terhadap Anda. Yah, saya bisa mengirim
banyak klien pada Anda. Klien-klien yang penting. Dengan
bayaran mahal. Anda tak dapat membayangkan....”
257
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tuan Moretti," Jennifer menyela, "demi kebaikan kita
berdua, saya harap Anda berhenti berbicara."
"Tapi saya bisa....”
"Saya tak mau menjadi kuasa Anda atau siapa pun teman
Anda."
"Kenapa tidak?"
"Karena kalau saya menjadi kuasa salah seorang dari
kalian, maka mulai saat itu Anda akan memiliki saya."
"Anda salah tanggap," protes Michael. "Sahabat-sahabat
saya bergerak dalam usaha-usaha yang sah. Maksud saya,
bank-bank, perusahaan-perusahaan asuransi....”
"Sudahlah. Jasa saya tak bisa dipakai oleh mafia."
"Siapa mengatakan mafia?"
"Sebutlah apa saja sesuka Anda. Saya bukan milik siapasiapa, saya milik diri saya sendiri. Saya ingin tetap begitu."
Mobil berhenti karena lampu merah.
"Di sini sudah cukup dekat," kata Jennifer, "Terima kasih.
Anda telah memberi saya tumpangan."
Dibukanya pintu mobil lalu keluar.
"Kapan saya bisa bertemu dengan Anda lagi?"
"Tidak akan pernah, Tuan Moretti."
Michael memperhatikannya ketika dia berjalan menjauh.
Tuhanku, pikirnya, itu baru perempuan. Dia merasa
birahinya timbul, dan dia tersenyum karena dia yakin bahwa
bagaimana pun juga, dia akan berhasil mendapatkannya.
Waktu itu akhir bulan Oktober, dua minggu menjelang
pemilihan, dan perjuangan pengumpulan suara sedang giatgiatnya. Adam bertarung melawan Senator John Trowbridge
yang sudah sering terpilih, seorang politikus kawakan, dan
258
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
para ahli berpendapat bahwa itu akan merupakan pertarungan
yang seru.
Pada suatu malam, Jennifer duduk menonton Adam
mengadakan perdebatan dengan lawannya di tv. Mary Beth
memang benar, suatu perceraian pada saat ini akan dengan
mudah menghancurkan kemungkinan-kemungkinan Adam
yang makin besar untuk mencapai kemenangannya.
Waktu Jennifer memasuki kantornya setelah keluar lama
untuk makan siang sambil menyelesaikan suatu urusan,
didapatinya suatu pesan yang mendesak untuk menelepon
seseorang yang bernama Rick Arlen.
"Tiga kali dia menelepon selama setengah jam ini," kata
Cynthia.
Rick Arlen adalah seorang bintang penyanyi rock yang
boleh dikatakan dalam satu malam saja telah menjadi seorang
penyanyi yang paling top di dunia Jennifer pernah mendengar
tentang besarnya penghasilan bintang-bintang penyanyi rock,
tetapi sebelum dia terlibat dalam persoalan Rick Arlen, dia tak
punya bayangan tentang artinya. Dari rekaman-rekaman,
pemunculan-pemunculan di pentas, penjualan, dan sekarang
film-film, penghasilan Rick Arlen lebih dari lima belas juta dolar
setahun. Rick berumur dua puluh lima tahun, seorang pemuda
petani dari Alabama yang lahir dengan tenggorokan yang
merupakan tambang emas baginya.
"Hubungkan lagi dia," kata Jennifer.
Lima menit kemudian Rick berbicara di telepon, "Hai,
Kawan, sudah berjam-jam saya berusaha menghubungi
Anda."
"Maaf, Rick, saya ada rapat tadi."
"Ada masalah nih. Saya harus berjumpa dengan Anda."
"Bisakah Anda datang ke kantor saya petang ini?"
259
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya rasa tak bisa. Saya di Monte Carlo, membantu Putri
Grace dan Pangeran. Kapan paling tepat Anda bisa kemari?"
"Saya tak mungkin bisa," protes Jennifer. "Meja tulis saya
penuh...."
"Saya membutuhkan Anda, Manis. Anda harus naik
pesawat terbang petang ini."
Dan dia memutuskan hubungan. Jennifer berpikir tentang
pembicaraan telepon itu. Rick Arlen tak mau membicarakan
masalahnya melalui telepon. Mungkin mengenai obatobat terlarang, gadis-gadis, atau bahkan dengan pemuda lain.
Dia mempertimbangkan untuk mengutus Ted Harris atau Dan
Martin saja untuk menyelesaikan persoalan itu, tapi dia suka
pada Rick Arlen. Akhirnya Jennifer memutuskan untuk pergi
sendiri. Dia mencoba menghubungi Adam sebelum
berangkat, tapi dia sedang keluar kantor.
"Tolong pesankan tempat di pesawat Air France ke Nice"
katanya pada Cynthia. "Katakan sekalian bahwa aku akan
membutuhkan sebuah mobil untuk menjemputku dan
mengantarku ke Monte Carlo."
Dua puluh menit kemudian dia sudah mendapat tempat di
pesawat terbang jam tujuh malam itu. Ada pelayanan
helikopter dari Nice langsung ke Monte Carlo," kata Cynthia.
"Saya sudah mendaftarkan Anda untuk itu."
"Bagus. Terima kasih."
Waktu Ken Bailey mendengar untuk apa Jennifer
berangkat, dia bertanya, "Pikirnya siapa dia itu?"
"Dia yang tahu siapa dia, Ken. Dia adalah seorang klien kita
yang terbesar."
"Kapan kau akan kembali?"
"Tak akan lebih dari tiga atau empat hari."
260
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Semuanya tak akan sama di sini bila kau tak ada. Aku
akan kehilangan kau."
Jennifer jadi ingin tahu apakah Ken masih berhubungan
dengan pemuda berambut pirang itu.
"Tolong pertahankan benteng kita sampai aku kembali."
Biasanya Jennifer suka bepergian dengan pesawat terbang.
Selama berada di udara, dia menganggap dirinya bebas dari
segala tekanan, suatu pelarian sementara dari semua masalah
yang menyesakkan selama dia berada di bumi, suatu oasis
yang sepi di angkasa, jauh dari klien-kliennya yang tak sudahsudahnya menuntut. Namun, penerbangan menyeberangi
Atlantik ini tidak menyenangkan. Rasanya terempas-empas
luar biasa, dan perut Jennifer terasa mual dan terbalik.
Waktu pesawat terbang akan mendarat di Nice esok
paginya, barulah dia merasa agak baik. Sebuah helikopter
sudah siap menunggu untuk menerbangkannya ke Monte
Carlo. Jennifer belum pernah menumpang helikopter dan dia
ingin merasakannya. Tetapi kenaikan pesawat yang mendadak
dan geraknya yang menukik membuatnya mabuk lagi. Dia tak
dapat menikmati pemandangan Pegunungan Alpen yang
sangat indah di bawah, juga Grand Corniche dengan mobilmobil yang tampak seperti mainan, yang sedang mendaki sisi
gunung yang curam dengan jalan yang melingkar.
Bangunan-bangunan Monte Carlo mulai kelihatan, dan
beberapa menit kemudian helikopter itu mendarat di depan
kasino musim panas yang modern dan berwarna putih, di
pantai.
Cynthia telah menelepon sebelumnya, dan Rick Arlen sudah
ada di tempat itu untuk menjemputnya.
Laki-laki itu merangkul Jennifer. "Bagaimana
perjalananmu?"
"Agak kurang mulus."
261
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rick Arlen memperhatikan Jennifer lebih teliti, lalu berkata,
"Kau kelihatannya tidak begitu sehat. Mari ke tempat
istirahatku supaya kau bisa beristirahat sebelum peristiwa
besar nanti malam."
"Peristiwa besar apa?"
"Pesta perjamuan besar. Untuk itulah kau kusuruh kemari."
"Apa?"
"Ya. Putri Grace memintaku untuk mengundang siapa saja
yang kusukai. Aku suka padamu."
"Aduh, Rick!"
Ingin sekali rasanya Jennifer mencekik laki-laki itu. Rick tak
sadar betapa hebatnya kehancuran yang telah disebabkannya
dalam hidupnya. Dia berada tiga ribu mil terpisah dari Adam,
klien-kliennya itu membutuhkannya, belum lagi perkara
pengadilan yang harus disidangkan — dan dia telah
membiarkan dirinya tergoda untuk datang ke Monte Carlo
hanya untuk menghadiri suatu pesta!
“Rick, bagaimana kau sampai....”
Terlihat olehnya wajah Rick yang berseri-seri, dan dia lalu
tertawa.
Ah sudahlah, dia sudah berada di sini. Apalagi pesta itu
mungkin ternyata menyenangkan.
Pesta itu hebat dan gemerlapan. Pesta itu merupakan pesta
musik untuk mengumpulkan dana untuk anak-anak yatimpiatu, yang disponsori oleh Yang Mulia Putri Grace dan
Pangeran Rainier Grimaldi. Pesta itu diadakan di alam terbuka
di kasino musim panas. Sungguh malam yang indah. Udara
malam itu segar dan harum, dan angin sepol yang bertiup dari
Laut Tengah, meniup pohon-pohon palma yang tinggi.
Jennifer membayangkan betapa dia akan senang bila Adam
ada di sini ikut menikmatinya bersama. Disediakan seribu lima
262
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ratus tempat duduk yang ditempati oleh para penonton yang
bersorak-sorai.
Ada enam orang bintang internasional yang mengadakan
pertunjukan, tetapi Rick Arlen-lah yang menjadi bintang
utamanya. Dia diiringi oleh sebuah band yang ribut dan
diterangi lampu-lampu gemerlapan yang seakan-akan
menodai langit sekelam beludru itu. Setelah dia selesai, dia
memperoleh tepuk tangan yang riuh.
Setelah pesta musik itu, menyusul pesta khusus di restoran
ikan di bawah Hotel de Paris. Aneka makanan dan minuman
disuguhkan dengan bebas di sekeliling kolam besar, di mana
belasan lilin yang menyala, terapung-apung di atas kepingankepingan berbentuk bunga lili.
Menurut perkiraan Jennifer ada tiga ratus orang sana.
Jennifer tidak membawa pakaian pesta, dia melihat para
wanita yang berpakaian bagus-bagus sekali, Jennifer jadi
merasa dirinya sebagai gadis kecil penjaja rokok. Rick
memperkenalkannya pada para bangsawan sampai pada putriputri kerajaan. Kelihatannya separuh dari bangsawanbangsawan dari seluruh Eropa hadir di situ. Dia bertemu
dengan para ketua organisasi perusahaan-perusahaan dan
penyanyi-penyanyi opera yang terkenal. Ada pula perancangperancang busana dan ahli-ahli waris kaya, serta pemain bola
terkenal, Pele. Sedang Jennifer asyik bercakap-cakap dengan
seorang pemilik bank dari Swiss, dia tiba-tiba merasa pusing
sekali.
"Maafkan saya," kata Jennifer. Dia pergi mencari Rick Arlen.
"Rick, aku....”
Haru melihat sebentar saja, Rick langsung berkata, “Kau
pucat sekali, Manis. Mari kita menyingkir."
Tiga puluh menit kemudian, Jennifer sudah terbaring di
tempat tidur, di vila yang disewa Rick Arlen.
"Aku sudah memanggil dokter," kata Rick.
263
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak butuh dokter. Aku hanya terserang virus atau
semacamnya."
"Benar, 'yang semacamnya' itulah yang akan diperiksanya."
*
Dr Andre Monteaux adalah seorang laki-laki tua yang kecil
kurus, yang berumur delapan puluhan. Dia berjanggut yang
digunting rapi dan membawa tas alatalat kedokteran berwarna
hitam.
Dokter itu berpaling pada Rick Arlen. "Harap tinggalkan
kami."
"Baik, saya akan menunggu di luar."
Dokter itu mendekati tempat tidur. "Alors mengapa Anda?"
"Kalau saya tahu ada apa dengan saya," kata Jennifer
lemah, "Sayalah yang diminta datang kemari dan Anda yang
terbaring di sini."
Laki-laki itu duduk di tepi tempat tidur. "Bagaimana
perasaan Anda?"
"Rasanya seperti terserang sampar."
"Coba keluarkan lidah Anda."
Jennifer mengulurkan lidahnya dan mengeluarkan suara
seperti tercekik. Dr. Monteaux memeriksa nadinya dan
mengukur suhu badannya.
Setelah selesai, Jennifer bertanya, "Ada apa saya, menurut
Anda, Dokter?"
"Bisa salah satu dari beberapa kemungkinan. Bila besok
Anda cukup kuat, saya minta Anda pergi ke tempat praktek
saya, di mana saya bisa memeriksa dengan lebih
menyeluruh."
264
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer merasa terlalu lemah untuk membantah "Baiklah,"
katanya. "Saya akan ke sana."
Esok paginya, Rick Arlen mengantar Jennifer ke Monte
Carlo, di mana Dr. Monteaux memeriksanya secara
menyeluruh.
"Mungkin saya terserang semacam kuman, ya?” tanya
Jennifer.
"Kalau Anda menginginkan suatu ramalan, sahut dokter tua
itu, "akan saya datangkan seorang peramal. Kalau Anda ingin
tahu penyakit Anda, kini harus bersabar sampai kita menerima
kembali laporan laboratorium."
"Kapan?"
"Biasanya dua atau tiga hari lagi."
Jennifer tahu bahwa dia tak mungkin tinggal dua atau tiga
hari lagi. Mungkin Adam membutuhkan dia. Dia sendiri pun
membutuhkan Adam.
"Sementara itu, saya minta Anda tinggal di tempat tidur
dan beristirahat."
Jennifer diberinya sebotol pil.
"Pil-pil ini untuk menenangkan Anda."
"Terima kasih." Jennifer menuliskan sesuatu pada secarik
kertas. "Anda bisa menghubungi saya di sini."
Setelah Jennifer pergi barulah Dr. Monteux melihat ke
kertas itu. Di situ tertulis sebuah nomor telepon di New York.
Di lapangan terbang Charles de Gaulle di Paris, di mana
Jennifer berganti pesawat, diminumnya dua buah pil yang
diberikan Dr. Monteux padanya, dan sebuah pil tidur. Dia tidur
nyenyak selama perjalanan ke New York, tetapi waktu dia
turun dari pesawat dia tidak merasa lebih baik. Dia tidak minta
dijemput, jadi dia naik taksi ke apartemennya.
265
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Senja hari telepon berdering. Adam yang menelepon.
"Jennifer! Di mana kau....”
Jennifer menguatkan dirinya supaya suaranya terdengar
sehat. "Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa pergi ke Monte
Carlo untuk menemui seorang klien, aku tidak berhasil
menghubungi kau sebelumnya."
“Aku kuatir setengah mati. Kau tak apa-apa?"
“Aku baik-baik saja. Aku.... aku sibuk sekali di sana”.
“Tuhanku! Aku sudah membayangkan yang ngeri-ngeri."
“Tak ada yang perlu dikuatirkan," Jennifer meyakinkannya.
"Bagaimana jalannya kampanye?"
“Baik. Kapan aku bisa menemui kau? Aku harus pergi ke
Washington, tapi itu bisa ditunda....”
"Jangan tunda, pergi sajalah," kata Jennifer. Dia tak mau
Adam melihatnya dalam keadaan begini "Aku akan sibuk lagi.
Akhir pekan sajalah kita bertemu."
"Baiklah." Nadanya terdengar enggan. "Bila kau tak ada
kegiatan jam sebelas, aku akan muncul dalam berita tv stasiun
CBS."
"Aku akan nonton kau, Sayang."
Lima menit setelah gagang telepon diletakkan. Jennifer
sudah tidur lagi.
Pagi harinya, Jennifer menelepon Cynthia mengatakan
bahwa dia tidak akan datang ke kantor. Jennifer tidur gelisah,
dan waktu bangun, dia merasa belum baik. Dia mencoba
sarapan, tapi semua dimuntahkannya kembali. Dia merasa
lemah, dan kemudian baru menyadari bahwa hampir tiga hari
dia tak makan apa-apa.
Pikirannya dengan sendirinya melayang pada bermacammacam penyakit yang mengerikan yang mungkin
266
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghinggapinya. Yang pertama-tama kanker, tentu. Dirabarabanya kalau ada benjolan-benjolan di payudaranya, tapi dia
tak merasakan apa-apa yang tak beres. Kanker tentu saja bisa
menyerang di mana-mana. Mungkin juga semacam virus, tapi
kalau memang itu, dokter tentu sudah menemukannya
langsung. Sulitnya, apa saja pun mungkin. Jennifer merasa
putus asa dan tak berdaya. Dia bukan orang yang suka
membayangkan dirinya sakit, dia selalu sehat-sehat, dan
sekarang dia merasa telah dikhianati tubuhnya sendiri. Dia tak
ingin sesuatu terjadi atas dirinya. Justru karena kini segalagalanya sedang membuatnya bahagia.
Dia pasti akan baik. Pasti.
Sekali lagi dia merasa mual.
Jam sebelas pagi itu. Dr. Andre Monteux menelepon dari
Monte Carlo. Terdengar suara petugas, "Sebentar, saya
hubungkan dengan dokter itu."
Yang 'sebentar' itu terasa seperti seratus tahun, dan
Jennifer menggenggam gagang telepon kuat-kuat, dia tak
tahan menunggu.
Akhirnya terdengar suara Dr. Monteux berkata, "Bagaimana
perasaan Anda?"
"Masih sama saja," jawab Jennifer gugup. "Sudahkah Anda
menerima hasil pemeriksaannya?"
"Berita baik," kata Dr. Monteux. "Yang jelas bukan
sampar."
Jennifer tak sabar lagi. "Lalu apa? Ada apa dengan saya?"
"Anda hamil, Nyonya Parker."
Jennifer terduduk, dia tak bisa bergerak dan hanya
menatap telepon. Waktu dia bisa berbicara lagi, dia tanya,
"Ya.... Yakinkah Anda?"
267
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yakin. Ini pasti bayi Anda yang pertama, ya?"
"Ya."
"Saya anjurkan supaya Anda menghubungi seorang ahli
kandungan secepat mungkin. Melihat betapa beratnya tandatanda awal pada diri Anda, Anda mungkin akan mengalami
kesulitan."
"Baiklah," sahut Jennifer. "Terima kasih Anda sudah
menelepon, Dr. Monteux."
Jennifer meletakkan kembali gagang telepon dan duduk
dengan pikiran kacau-balau. Dia tak yakin kapan pembuahan
itu terjadi, atau bagaimana persaannya. Dia tak bisa berpikir
sehat.
Ia akan mendapatkan anak dari Adam. Dan tiba-tiba dia
tahu bagaimana perasaannya. Dia merasa bahagia sekali; dia
merasa seolah-olah dia telah diberi hadiah yang tak terhingga
nilainya.
Saatnya tepat sekali, seolah-olah dewa-dewa berada di
pihak mereka. Pemilihan akan selesai secepatnya dan dia bisa
segera menikah dengan Adam. Pasti anak laki-laki. Dia tak
sabar menceritakannya pada Adam.
Diteleponnya Adam di kantornya. "Tuan Warner tak ada di
kantor," sekretarisnya memberi tahu. "Bisa Anda coba di
rumahnya."
Jennifer enggan menelepon Adam di rumahnya, tapi
dadanya serasa akan meledak oleh berita itu. Diputarnya
nomor telepon rumahnya. Mary Beth yang menerima.
"Maaf, aku mengganggumu," kata Jennifer. "Ada sesuatu
yang ingin saya bicarakan dengan Adam. Ini Jennifer Parker."
"Aku senang kau menelepon," kata Mary Beth Kehangatan
suaranya meyakinkan. "Adam sedang menghadiri pertemuan-
268
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pertemuan, tapi dia akan kembali nanti malam. Datang saja ke
rumah. Kita makan malam bersama. Jam tujuh bisa?"
Jennifer ragu sebentar. "Baiklah."
Adalah ajaib bahwa Jennifer tidak mengalami kecelakaan
waktu dia mengemudikan mobilnya ke Croton-on-Hudson.
Pikirannya melayang jauh mengangankan masa depan. Dia
sering membicarakan tentang anak-anak dengan Adam. Dia
ingat kata-kata Adam. Aku ingin sepasang anak yang rupanya
seperti kau.
Waktu berjalan di jalan raya, dia mengangankan suatu
gerakan halus dalam rahimnya, tapi dikatakannya sendiri
bahwa itu omong kosong. Masih terlalu awal. Tapi tidak akan
lama lagi. Bayi Adam ada dalam rahimnya. Bayi itu hidup dan
sebentar lagi akan menendang-nendang. Rasanya hebat,
rasanya membingungkan. Dia....
Jennifer mendengar seseorang membunyikan klakson
mobilnya, dia menoleh dan dilihatnya bahwa dia hampir
membuat sebuah truk terdesak ke tepi jalan. Jennifer
melemparkan senyum yang mengandung permintaan maaf,
lalu meneruskan perjalanannya. Tak satu pun yang bisa
merusak suasana hari ini.
Hari sudah senja waktu Jennifer berhenti di depan rumah
keluarga Warner. Salju halus sudah mulai Utuh, seolah-olah
membedaki pepohonan tipis-tipis. Mary Beth yang
mengenakan baju brokat panjang berwarna biru,
membukakan pintu depan untuk menyambut Jennifer.
Digandengnya Jennifer dengan hangat dan diantarnya masuk
ke rumah, dan Jennifer jadi ingat akan waktu mereka bertemu
untuk pertama kali.
Mary Beth tampak bahagia dan berseri. Dia banyak
berbicara tentang tetek-bengek, membuat tamunya merasa
tenang. Mereka masuk ke kamar perpustakaan di mana api
sedang menyala dalam perapian.
269
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku belum mendapat kabar dari Adam," kata Mary Beth.
"Mungkin dia tertahan. Sementara itu kita berdua bisa
mengobrol panjang. Kudengar kau bersemangat waktu di
telepon tadi."
Mary Beth membungkuk seolah-olah mengajak
berkomplot. “Apakah ada berita besar yang akan kau
sampaikan?"
Jennifer melihat pada wanita ramah di hadapannya dan
tercetuslah kata-kata itu, "Aku sedang mengandung bayi
Adam."
Mary Beth bersandar kembali di kursinya dan tersenyum.
"Wah! Luar biasa! Aku juga sedang mengandung."
Jennifer terbelalak memandangnya. "A.... aku tak
mengerti."
Mary Beth tertawa. "Sebenarnya sederhana sekali.
Bukankah aku istri Adam yang sah?"
"Tapi.... tapi bukankah kau dan Adam akan bercerai?" kata
Jennifer lambat-lambat.
"Anak manis, mengapa aku harus minta cerai dari Adam?
Aku memujanya."
Jennifer merasa kepalanya mulai berputar-putar.
Percakapan jadi tak menentu. "Kau.... kau mencintai orang
lain. Katamu kau...."
"Aku berkata bahwa aku mencintai seseorang. Itu memang
benar. Aku mencintai Adam. Sudah kukatakan padamu, bahwa
aku mencintai Adam sejak pertama kali aku bertemu dengan
dia."
Dia pasti tidak bersungguh-sungguh. Dia sedang mengusik
Jennifer, mempermainkannya.
270
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hentikanlah!" kata Jennifer. "Kalian berdua seperti kakakadik saja. Adam tak bermain cinta lagi dengan...."
Suara Mary Beth mengandung tawa. "Kasihan sekali kau,
Sayang! Aku heran bahwa orang sepintar kau bisa...." Dia
membungkuk lagi dan kini berkata bersungguh-sungguh. "Kau
percaya padanya! Kasihan. Tapi aku mengandung. Sungguh."
Jennifer berjuang untuk menenangkan dirinya. "Adam
mencintai aku. Kami akan menikah."
Mary Beth menggeleng. Matanya yang biru menatap mata
Jennifer dan di situ tampak jelas kebencian, membuat jantung
Jennifer terasa berhenti sejenak.
"Kalau begitu Adam akan menjadi orang yang beristri dua.
Aku tidak akan minta cerai dari dia. Dan bila kubiarkan Adam
menceraikan aku untuk kawin dengan kau, dia akan kalah
dalam pemilihan. Padahal sekarang, dia akan
memenangkannya. Kemudian kami akan ke Gedung Putih,
Adam dan aku. Tidak ada tempat dalam hidupnya bagi
seseorang seperti kau. Selama ini pun tidak. Dia hanya
mengira bahwa dia cinta padamu. Tapi itu akan berlalu bila
didengarnya bahwa aku sedang mengandung bayinya. Adam
memang sudah lama menginginkan anak."
Jennifer memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba
menghentikan sakit kepalanya yang hebat.
"Maukah kau sesuatu?" tanya Mary Beth cemas.
Jennifer membuka matanya. "Sudah kaukatakan pada
Adam bahwa kau hamil?"
"Belum," kata Mary Beth tersenyum. "Kurasa nanti malam
saja akan kukatakan padanya setelah dia pulang dan setelah
kami pergi tidur."
Jennifer merasa benci sekali. "Kau seperti binatang
bengis...."
271
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukankah semuanya sudah jelas? Aku istrinya. Kau pelacur
simpanannya."
Jennifer bangkit dengan kepala pusing. Sakit kepalanya
makin hebat, dia merasa tak tahan karena seperti dipalu.
Telinganya berdengung keras dan dia takut kalau-kalau dia
pingsan. Dia berjalan ke arah pintu masuk dengan terhuyunghuyung.
Jennifer berhenti di pintu, dan menekankan dirinya pada
pintu itu. Dia mencoba berpikir. Adam berkata bahwa dia
mencintainya, tapi dia meniduri wanita ini, dia menghamilinya
pula.
Jennifer berbalik lalu berjalan ke luar menempuh udara
malam yang dingin.
24
Adam sedang dalam putaran terakhir dari kampanye
berkeliling negara. Beberapa kali dia menelepon Jennifer, tapi
dia selalu dikelilingi rencana perjalanannya dan dia tak punya
kesempatan untuk berbicara banyak, sedang Jennifer tak pula
berkesempatan untuk menyampaikan beritanya.
Jennifer tahu mengapa Mary Beth sampai hamil: dia telah
merayu Adam supaya mau tidur dengannya. Tapi Jennifer
ingin mendengarnya dari Adam sendiri.
"Beberapa hari lagi aku akan kembali dan kita akan
bercakap-cakap," kata Adam.
Kini lima hari lagi menjelang pemilihan. Adam memang
pantas menang karena dia lebih baik. Jennifer merasa Mary
Beth memang benar waktu dia mengatakan bahwa itu
mungkin merupakan batu loncatan untuk kedudukan
kepresidenan di Amerika Serikat. Jennifer akan memaksa
dirinya untuk menunggu dan melihat bagaimana jadinya.
272
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bila Adam terpilih menjadi senator, Jennifer akan
kehilangan dia. Adam akan pergi ke Washington dengan Mary
Beth. Tidak akan ada lagi jalan untuk bercerai. Skandal
tentang seorang anggota senat baru yang menceraikan
istrinya yang sedang hamil untuk mengawini kekasih
peliharaannya yang sedang hamil pula, akan sangat
mengancam kehidupannya. Tapi bila Adam kalah dalam
perebutan suara itu, maka dia akan bebas. Bebas untuk
kembali menjalankan praktek pengacaranya, bebas untuk
mengawini Jennifer, dan tak perlu kuatir atau peduli apa yang
dipikirkan orang. Mereka akan bisa hidup bersama selama sisa
hidup mereka. Menimang anak-anak mereka.
Hari pemilihan tiba, ditandai dengan hujan sejak subuh.
Karena besarnya perhatian pada perebutan suara untuk
keanggotaan senat, bisa diharapkan akan banyak sekali
pemilih yang akan datang ke tempat-tempat pemungutan
suara, meskipun cuaca buruk.
Pagi hari, Ken Bailey bertanya, "Apakah kau akan pergi
memberikan suaramu hari ini?"
"Ya."
"Kelihatannya tidak akan banyak selisih suara nanti ini, ya?"
"Kecil sekali."
Sudah agak siang Jennifer baru pergi ke tempat
pemungutan suara, dan sambil memasuki bilik pemilihan dia
berpikir dengan murung, satu suara bagi Adam Warner berarti
satu suara melawan Jennifer Parker. Dia memberikan suara
untuk Adam, lalu keluar dari bilik itu. Dia merasa tak sanggup
kembali ke kantornya. Dia berjalan saja di sepanjang jalan
sepanjang petang itu, mencoba untuk tidak berpikir, mencoba
untuk tidak merasa; berpikir dan merasa, menyadari bahwa
dalam beberapa jam lagi sisa hidupnya akan ditentukan.
273
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
25
"Inilah pemilihan dengan perbedaan suara yang terkecil,
yang pernah kita alami selama bertahun-tahun," kata penyiar
tv.
Jennifer seorang diri di rumah melihat penghitungan suara
pada siaran tv stasiun NBC. Dia baru saja menyiapkan
makanan ringan berupa telur dadar dan roti panggang, tapi
kemudian terlalu gugup untuk bisa makan sesuatu. Dia duduk
dengan mengenakan kimono, meringkuk di sofa,
mendengarkan nasibnya disiarkan pada berjuta-juta orang.
Setiap penonton punya alasan masing-masing untuk nonton,
untuk menginginkan salah seorang calon menang atau kalah,
tapi Jennifer yakin bahwa tak seorang pun di antara mereka
yang terlibat dalam pemilihan itu sedalam dia. Bila Adam
menang, itu akan merupakan akhir dari hubungan mereka,
dan... akhir dari bayi dalam rahimnya.
Tampak sekilas gambar Adam di layar, dan di sisinya, Mary
Beth. Jennifer bisa berbangga diri karena kepandaiannya
menafsirkan orang, tapi dia telah benar-benar terkicuh oleh
sikap dan mulut manis perempuan keparat itu. Dia berusaha
terus untuk menekan bayangan Adam yang meniduri
perempuan itu dan membuatnya hamil.
Edwin Newman berkata, "Inilah suara-suara masuk yang
terakhir dalam perebutan kursi senat antara anggota lama,
John Trowbridge dan penantangnya Adam Warner. Di
Manhattan, John Trowbridge mengumpulkan dua ratus dua
puluh satu ribu tiga ratus tujuh puluh lima suara, sedang
Adam Warner dua ratus empat belas ribu delapan ratus
sembilan puluh lima.
Di Daerah Pemilihan Empat Puluh Lima dari daerah
perwakilan di Queens, John Trowbridge unggul dua setengah
persen”
Hidup Jennifer sedang diukur dengan angka-angka persen.
274
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dari daerah-daerah Bronx, Brooklyn, Queens,. Richmond,
dan daerah-daerah Nassau, Rockland, Suffolk, dan
Westchester, terkumpul jumlah dua juta tiga ratus ribu suara
bagi John Trowbridge, dan dua juta seratus dua puluh ribu
bagi Adam Warner, sedang hasil pemungutan dari negara
bagian New York baru saja masuk. Adam Warner telah
membuat kejutan dengan merupakan saingan berat melawan
John Trowbridge, yang sudah terpilih untuk ketiga kalinya.
Sejak semula, jumlah suara boleh dikatakan terbagi sama kuat
dalam perebutan kursi ini. Menurut hasil pemungutan yang
terakhir, dengan enam puluh dua persen dari suara yang
dihitung, Senator Trowbridge mulai mengumpulkan suara lebih
banyak. Waktu kami membaca hasil pemungutan yang
terakhir sejam yang lalu, Senator Trowbridge mengumpulkan
dua persen lebih banyak. Hasil pemungutan sekarang
menunjukkan bahwa dia maju dengan kelebihan dua setengah
persen. Bila kecenderungan ini berjalan terus, maka komputer
NBC akan meramalkan Senator Trowbridge yang akan menjadi
pemenang dalam perebutan kursi senat untuk Amerika Serikat
ini. Sambil bergerak terus dalam perebutan suara antara..."
Jennifer menatap terus ke pesawat tv-nya dengan hati
berdebar-debar. Rasanya berjuta-juta orang memberikan
suaranya untuk menentukan Adam untuk Jennifer atau Adam
untuk Mary Beth. Jennifer merasa kepalanya ringan dan
pusing. Dia tak boleh lupa makan sesuatu nanti. Tapi sekarang
tidak. Sekarang tak satu pun yang berarti, kecuali apa yang
sedang terjadi di layar di hadapannya. Ketegangan makin
meningkat, dari menit ke menit, dari jam ke jam.
Tengah malam, Senator Trowbridge unggul tiga persen.
Jam dua subuh, setelah tujuh puluh satu persen dari suara
yang terkumpul dihitung, Senator Trowbridge unggul tiga
setengah persen. Komputer mengatakan bahwa Senator John
Trowbridge akan memenangkan pemilihan itu.
275
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer masih saja menatap pesawat tv tanpa emosi,
tanpa perasaan apa-apa. Adam kalah. Jennifer menang. Dia
telah memenangkan Adam dan putra mereka berdua. Kini dia
bebas untuk menceritakan pada Adam, menceritakan padanya
tentang bayi mereka, merencanakan masa depan mereka
bersama.
Jennifer merasa kasihan pada Adam, karena dia tahu
betapa besarnya arti pemilihan itu bagi Adam. Tapi lama-lama
tentu Adam akan lupa juga. Dia akan mencoba lagi kelak, dan
Jennifer akan bisa membantunya. Adam masih muda. Dunia
terbentang di hadapan mereka berdua. Di hadapan mereka
bertiga.
Jennifer tertidur di sofa, bermimpi tentang Adam, tentang
pemilihan dan Gedung Putih. Dia, Adam, dan putra mereka,
berada di ruang Oval. Adam sedang mengucapkan pidato
pelantikannya. Mary Beth masuk dan mengganggu. Adam
membentaknya dan suaranya makin lama makin nyaring.
Jennifer terbangun. Suara yang didengarnya adalah suara
Edwin Newman. Siaran tv masih berjalan terus. Hari sudah
subuh.
Edwin Newman yang tampak keletihan sedang
membacakan suara masuk terakhir hasil pemilihan. Jennifer
mendengarkan, pikirannya masih setengah tidur.
Waktu akan bangkit dari sofa didengarnya Edwin berkata,
"Dan inilah hasil terakhir dari pemilihan senator untuk Negara
Bagian New York. Adam Warner telah mengalahkan pemegang
kedudukan yang lama, Senator John Trowbridge, dengan
kemenangan tipis kurang dari setengah persen."
Berlalulah sudah. Jennifer sudah kalah.
26
276
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu Jennifer masuk ke kantornya kesiangan pagi itu,
Cynthia berkata, "Tuan Adam menelepon, Nona Parker.
Sepanjang pagi ini dia menelepon terus."
Jennifer ragu, lalu berkata, "Baiklah, Cynthia, akan
kuterima." Dia masuk ke kamar kerjanya dan mengangkat
gagang telepon. "Halo, Adam, selamat ya."
"Terima kasih. Kita harus berbicara. Bisakah kau
membebaskan diri untuk makan siang?"
"Bisa," kata Jennifer ragu.
Bagaimanapun juga harus dihadapi.
Itulah pertama kali Jennifer bertemu dengan Adam selama
tiga minggu. Diperhatikannya wajah Adam. Dia kelihatan letih
dan pucat. Dia seharusnya berwajah merah karena
kemenangannya, tapi sebaliknya dia kelihatan gugup sekali
dan salah tingkah. Mereka memesan makanan, namun tak
seorang pun di antara mereka menyentuhnya, dan mereka
berbicara tentang pemilihan. Kata-kata mereka hanya
merupakan kedok untuk menyembunyikan pikiran masingmasing.
Akhirnya, kepura-puraan itu tak dapat dipertahankan, dan
Adam berkata, "Jennifer..." Dia menarik napas panjang lalu
mengucapkannya cepat-cepat, "Mary Beth mengandung "
Bagaimanapun juga, tak tahan rasanya Jennifer mendengar
kenyataan itu diucapkan oleh Adam sendiri. "Aku menyesal,
Sayang. Hal itu.... terjadi begitu saja. Sulit rasanya
menjelaskannya."
"Tak perlu kaujelaskan." Jennifer bisa melihat peristiwa itu
dengan jelas. Mary Beth yang mengenakan baju tidur yang
menantang.... atau tanpa busana.... dan Adam....
"Aku merasa diriku goblok sekali," kata Adam. Mereka
berdiaman dengan rasa tak enak, lalu Adam berkata lagi,
"Tadi pagi aku menerima telepon dari ketua Komite Nasional.
277
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ada suara mengenai rencana akan menyiapkan diriku untuk
pencalonan presiden yang akan datang." Dia ragu lagi.
"Masalahnya, dengan kehamilan Mary Beth, waktunya jadi tak
tepat untuk mendapatkan perceraian. Aku jadi tak tahu apa
yang harus kulakukan. Sudah tiga malam ini aku tak tidur."
Dia memandang Jennifer dan berkata, "Aku sebenarnya tak
mau meminta ini darimu, tapi.... bisakah kita menunggu dulu
sebentar sampai semuanya "beres?"
Jennifer melihat pada Adam di seberang meja dan hatinya
terasa pedih sekali, dia merasa kehilangan yang tak terkirakan
hingga dia merasa tak tahan.
"Sementara itu kita tetap berhubungan sesering mungkin,"
kata Adam lagi. "Kita...."
Jennifer memaksakan dirinya untuk berbicara. "Tidak,
Adam. Sebaiknya kita putuskan saja."
Adam menatapnya. "Kau tentu tidak bersungguh-sungguh.
Aku cinta padamu, Sayang. Kita akan mencari jalan untuk...."
"Jalan itu tak ada. Istri dan anakmu tidak akan bisa hilang
begitu saja. Hubungan kita yang harus kita putuskan. Aku
tetap mencintaimu. Setiap detik dari kebersamaan
denganmu."
Jennifer bangkit dari tempat duduknya, karena dia tahu
bahwa bila dia tidak keluar dari restoran itu, dia akan
menjerit-jerit. "Kita tak boleh bertemu lagi."
Jennifer tak tahan melihat mata Adam yang
membayangkan kepedihan.
"Demi Tuhan, Jennifer! Jangan lakukan ini. Jangan lakukan!
Kita...."
Jennifer tidak mendengar kata-kata selanjutnya. Dia
berjalan cepat-cepat ke pintu, lari dari kehidupan Adam.
278
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
27
Telepon-telepon dari Adam tak lagi diterima atau
dibalasnya. Surat-suratnya dikembalikan tanpa dibuka. Pada
surat yang terakhir diterimanya, ditulisnya meninggal di
amplopnya, lalu dimasukkannya kembali ke kotak pos. Itu
memang kenyataannya, pikir Jennifer, aku memang sudah
mati.
Dia tak tahu bahwa ada rasa sakit yang sehebat itu. Dia
ingin menyendiri, namun dia tak sendiri. Ada seorang manusia
lain dalam tubuhnya dan merupakan bagian dari dirinya dan
bagian dari Adam. Dan dia akan membinasakannya.
Dipaksanya dirinya untuk memikirkan di mana dia akan
menggugurkan kandungannya. Beberapa tahun yang lalu,
suatu pengguguran akan berarti seorang dokter gadungan
dalam sebuah kamar yang kotor dan jorok yang tersembunyi
di sebuah lorong— tapi itu tak perlu lagi sekarang. Sekarang
dia bisa saja pergi ke sebuah rumah sakit dan meminta supaya
pengguguran itu dilakukan oleh seorang ahli terkenal. Harus di
suatu tempat di luar New York City. Foto-foto Jennifer sudah
terlalu sering masuk surat-surat kabar, sudah terlalu sering
muncul di tv. Dia perlu tempat di mana dia tak dikenal, suatu
tempat di mana orang tidak akan bertanya-tanya. Tak boleh
diketahui adanya kaitan antara dia dan Adam Warner. Senator
Amerika Serikat Adam Warner. Bayi mereka harus mati tanpa
diketahui orang.
Jennifer membayangkan, bagaimana kira-kira bayi itu, dan
dia mulai menangis demikian hebatnya hingga napasnya
sesak.
Hari mulai hujan. Jennifer menengadah ke langit dan
berpikir apakah Tuhan ikut menangisinya.
Ken Bailey adalah satu-satunya orang yang dapat
dipercayai Jennifer untuk membantunya.
279
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku akan menggugurkan kandunganku," kata Jennifer
tanpa pendahuluan. "Apakah kau kenal seorang dokter yang
baik?"
Ken mencoba menutupi rasa terkejutnya, tapi Jennifer bisa
melihat bermacam-macam perasaan yang berbaur yang
terbayang di air mukanya.
"Di suatu tempat di luar kota, Ken. Di suatu tempat di
mana orang tak kenal padaku."
"Bagaimana kalau di Kepulauan Fiji?" Suaranya
mengandung kemarahan.
"Aku serius."
"Maaf. Aku.... kau membuatku terkejut sekali." Berita itu
benar-benar telah membuatnya terperanjat. Dia memuja
Jennifer. Ada kalanya dia merasa mencintainya, tapi tak yakin,
dan hal itu merupakan siksaan. Terhadap Jennifer dia tidak
akan bisa berbuat sebagaimana dia telah memperlakukan
istrinya. Tuhanku, pikir Ken, mengapa Kau tak mau
memastikan mengenai diriku?
Dia menyusupkan jari-jarinya ke rambutnya yang merah
dan berkata, "Kalau kau tak mau melakukannya di New York,
kuanjurkan di North Carolina saja. Tempat itu tidak terlalu
jauh."
"Bisakah kau menolong melihat kemungkinannya?"
"Bisa. Baiklah. Aku...."
"Ya?"
Ken memalingkan mukanya. "Tak apa-apa."
Selama tiga hari berikutnya Ken Bailey menghilang. Waktu
dia masuk ke kamar kerja Jennifer pada hari yang ketiga,
kelihatannya dia tak bercukur dan matanya merah serta
cekung.
280
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer memandangnya, lalu bertanya. "Kau tak apa-apa?"
"Tak apa-apa."
"Adakah sesuatu yang bisa kubantu?"
"Tidak." Bila Tuhan tak bisa menolongku, apalagi kau,
Kekasihku.
Diserahkannya pada Jennifer secarik kertas yang bertulisan,
Dokter Eric Linden, Memorial Hospital, Charlotte, North
Carolina.
"Terima kasih."
"Kembali. Kapan kau akan pergi untuk itu?"
"Akhir pekan ini."
"Tak inginkah kau aku ikut denganmu?" tanyanya salah
tingkah.
"Tak usah, terima kasih. Aku tak apa-apa."
"Bagaimana dengan perjalanan pulang?"
"Aku tidak akan apa-apa."
Ken masih saja berdiri, dia ragu. "Sebenarnya bukan
urusanku, tapi apakah kau yakin akan niatmu itu?"
"Aku yakin."
Jennifer merasa tak punya pilihan lain. Tak ada yang lebih
diingininya di dunia ini daripada memelihara bayi Adam ini,
tapi dia tahu bahwa sangat tak masuk akal untuk
membesarkan bayi itu seorang diri.
Dia melihat pada Ken dan berkata lagi, "Aku yakin."
Rumah sakit itu adalah sebuah bangunan bertingkat dua,
dan terbuat dari batu bata, terletak di pinggiran kota
Charlotte. Tempat itu menyenangkan.
281
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wanita yang bertugas di meja pendaftaran rambutnya
beruban dan umurnya hampir tujuh puluh. "Bisa saya
membantu Anda?"
"Ya," kata Jennifer. "Saya Nyonya Parker. Saya ada janji
dengan Dokter Linden untuk.... untuk...." Jennifer tak sampai
hati untuk mengucapkannya.
Wanita itu mengangguk penuh pengertian. "Dokter sudah
menunggu Anda, Nyonya Parker. Akan saya suruh seseorang
menunjukkan jalan pada Anda."
Seorang jururawat muda yang cekatan mengantar Jennifer
ke sebuah kamar periksa di ujung lorong rumah sakit itu, lalu
berkata "Akan saya katakan pada Dokter Linden bahwa Anda
sudah di sini. Silakan berganti pakaian. Di gantungan ada
pakaian rumah sakit."
Perlahan-lahan, dengan dipenuhi perasaan tak nyata,
Jennifer membuka pakaiannya sendiri dan mengenakan
pakaian rumah sakit yang putih. Dia merasa seolah-olah
sedang mengenakan celemek tukang jagal. Sebentar lagi dia
akan membunuh suatu kehidupan di dalam dirinya. Dalam
bayangannya, celemek itu berbercak-bercak darah, darah dari
bayinya. Jennifer lalu gemetar.
Didengarnya suara berkata, "Nah, tenang saja."
Jennifer mengangkat mukanya dan melihat seorang lakilaki yang gemuk pendek, berkepala botak, dan memakai kaca
mata berbingkai tanduk yang membuatnya jadi kelihatan
seperti burung hantu.
"Saya Dokter Linden." Dia melihat kartu yang ada dalam
tangannya.
"Anda Nyonya Parker?" Jennifer mengangguk.
Dokter itu memegang lengan Jennifer lalu berkata dengan
nada membujuk, "Duduklah." Dia pergi ke wastafel lalu
mengisi sebuah gelas dari kertas dengan air. "Minum ini."
282
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer menurut. Dokter itu duduk di sebuah kursi dan
memperhatikannya sampai gemetarnya berkurang.
"Jadi Anda ingin kandungan Anda digugurkan?"
"Ya."
"Sudahkah hal ini dibicarakan dengan suami Anda, Nyonya
Parker?"
"Sudah. Kami.... kami berdua menginginkannya."
Dokter itu mengamat-amatinya. "Anda kelihatan sehatsehat saja."
"Saya merasa.... merasa sehat."
"Apakah kesulitan dalam hal keuangan?"
"Tidak," jawab Jennifer dengan tajam. Mengapa orang ini
banyak sekali bertanya? "Kami.... kami tak bisa punya bayi ini,
itu saja."
Dokter Linden mengeluarkan pipa. "Mengganggukah saya
dengan ini?"
"Tidak."
Dokter Linden menyalakan pipa itu dan berkata, "Ini
kebiasaan buruk." Dia bersandar lalu menghembuskan
segumpal asap.
"Bisakah kita selesaikan hal ini?" tanya Jennifer.
Sarafnya demikian tegang hingga rasanya akan putus. Dia
merasa sewaktu-waktu dia bisa berteriak.
Dokter Linden sekali lagi mengisap pipanya lama-lama dan
perlahan-lahan. "Saya rasa kita harus berbicara dulu
sebentar."
Dengan usaha yang besar sekali, Jennifer berhasil
menguasai niatnya untuk melawan. "Baiklah."
283
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Soalnya mengenai pengguguran ini," kata Dokter Linden,
"sifatnya final. Anda masih bisa mengubah pikiran Anda
sekarang, tapi Anda tidak bisa lagi mengubahnya setelah
bayinya dibuang."
"Saya tidak akan mengubah pikiran saya."
Dokter mengangguk lalu mengisap pipanya perlahan-lahan
lagi. "Baiklah kalau begitu."
Bau tembakau yang manis membuat Jennifer merasa mual
lagi. Dia ingin dokter itu menyingkirkan pipanya. "Dokter
Linden....."
Dokter Linden bangkit dengan enggan dan berkata,
"Baiklah, Nyonya muda, mari saya periksa Anda."
Jennifer berbaring di meja pemeriksaan. Kakinya
dimasukkan ke dalam sebuah kekang dari logam yang terasa
dingin. Dirasakannya jari-jemari dokter itu meraba-raba di
dalam tubuhnya. Jari-jari itu terasa lembut dan penuh
keahlian, dan Jennifer tidak menghayati rasa malu, hanya
suatu rasa kehilangan yang tak terkatakan, rasa sedih yang
mendalam. Tanpa diingininya timbul gambaran-gambaran
putra mereka dalam pikirannya, karena dia yakin bahwa anak
itu pasti anak laki-laki. Anak itu berlari-lari, bermain-main, dan
tertawa-tawa. Tumbuh menyerupai ayahnya.
Dokter Linden sudah selesai dengan pemeriksaannya.
"Anda bisa berpakaian sekarang, Nyonya, Parker. Anda boleh
menginap di sini satu malam, kalau Anda mau, dan
pembedahannya akan kita lakukan besok pagi."
"Tidak!" Suara Jennifer terdengar lebih tajam daripada
yang dimaksudnya. "Saya ingin itu dilakukan sekarang saja."
Dokter Linden memperhatikannya lagi dengan air muka
bertanya.
"Ada dua orang pasien yang sudah datang lebih dulu dari
Anda. Akan saya suruh seorang jururawat kemari untuk
284
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengadakan pemeriksaan laboratorium, lalu menyiapkan Anda
di kamar Anda. Pembedahan akan dilakukan empat jam lagi.
Mau begitu?"
"Baiklah," bisik Jennifer.
Jennifer berbaring di tempat tidur yang sempit dengan
memejamkan matanya, menunggu Dokter Linden kembali. Di
dinding ada sebuah jam kuno, dan bunyi tik-tak jam itu
seolah-olah memenuhi kamar itu. Bunyi tik-tak itu kemudian
seakan-akan berubah menjadi: Adam kecil. Adam kecil, Adam
kecil, putra kami, putra kami, putra kami.
Jennifer tak berhasil menghapuskan gambaran bayi itu dari
pikirannya. Pada saat itu, bayi itu ada dalam tubuh ibunya,
nyaman, hangat, dan hidup, terlindung dari dunia luar dalam
rahim yang amniotic. Jennifer bertanya sendiri, apakah janin
bayi itu sudah punya perasaan pendahuluan mengenai apa
yang akan terjadi atas dirinya. Dia ingin tahu apakah bayi itu
akan merasa sakit bila pisau membunuhnya. Jennifer menutup
telinga dengan tangannya supaya tidak mendengar bunyi detik
jam. Dirasakannya napasnya mulai menyesak, dan tubuhnya
bersimbah peluh. Dia mendengar bunyi, lalu membuka
matanya.
Dokter Linden berdiri di sampingnya, wajahnya
menunjukkan rasa kuatir. "Apakah Anda baik-baik saja,
Nyonya Parker?"
"Ya," bisik Jennifer. "Saya hanya ingin ini berlalu."
Dokter Linden mengangguk. "Itulah yang akan kita lakukan
sekarang." Dia mengambil sebuah alat suntik dari meja di
samping tempat tidur, lalu mendekati Jennifer.
"Apa isinya itu?"
"Demerol dan phenergan, untuk menenangkan Anda.
Beberapa menit lagi kita akan pergi ke kamar bedah." Dia
285
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyuntik Jennifer. "Rupanya ini untuk pertama kali Anda
menggugurkan, ya?"
"Ya."
"Kalau begitu, baik saya jelaskan jalannya. Pembedahan itu
tidak akan terasa sakit dan boleh dikatakan sederhana. Di
kamar bedah Anda akan diberi suntikan nitrous oxide untuk
pembiusan keseluruhan, dan oksigen melalui kedok. Bila Anda
sudah tak sadar kami akan memasukkan semacam cermin
kecil ke dalam vagina Anda, supaya kami bisa melihat apa
yang kami lakukan. Lalu kami akan membesarkan leher rahim
dengan alat-alat dari logam, mula-mula dengan yang
berukuran kecil, makin lama makin besar, dan bagian dalam
dari rahim Anda akan dikeruk dengan alat kuret. Ada
pertanyaan sebegitu jauh?"
"Tidak."
Jennifer mulai merasa hangat dan mengantuk. Dia bisa
merasakan ketegangannya hilang lenyap bagaikan oleh suatu
keajaiban, dan dinding-dinding kamar mulai mengabur. Dia
ingin menanyakan sesuatu pada dokter, tapi dia tak ingat apa
itu... sesuatu mengenai bayi itu... sekarang sudah tak penting
lagi. Yang penting sekarang adalah bahwa dia sedang
menjalani apa yang harus dilakukannya. Beberapa menit lagi
semuanya itu akan berlalu, dan dia akan bisa memulai
hidupnya lagi.
Dia merasa dirinya mengambang dalam keadaan indah
bagai dalam mimpi... dia sadar ada orang-orang yang masuk
ke ruang itu. mereka mengangkatnya ke sebuah meja logam
beroda... dia bisa merasakan rasa dingin di punggungnya
menembusi baju rumah sakitnya yang tipis. Dia didorong
melalui lorong rumah sakit itu dan dia lalu menghitung lampulampu yang bergantungan. Rasanya penting untuk
mendapatkan jumlah yang benar, tapi dia tak tahu mengapa.
Dia didorong memasuki sebuah kamar bedah putih yang
bebas hama dan Jennifer berpikir, Di sinilah bayiku akan mati.
286
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jangan kuatir, Adam kecil. Aku tidak akan membiarkan mereka
menyakitimu. Dan di luar kehendaknya, dia pun menangis.
Dokter Linden menepuk-nepuk lengannya. "Tak apa-apa.
Tidak akan sakit."
Kematian tanpa rasa sakit, pikir Jennifer. Bagus sekali. Dia
sayang pada bayinya. Dia tak mau bayi itu disakiti.
Seseorang memasang kedok di mukanya dan suatu suara
berkata, "Isap napas dalam-dalam."
Jennifer merasa tangan orang yang mengangkat baju
rumah sakitnya dan mengangkangkan kakinya.
Sekarang akan terjadi. Hal itu akan terjadi sekarang. Adam
kecil. Adam kecil. Adam kecil.
"Saya minta Anda tenang," kata Dokter Linden.
Jennifer mengangguk. Selamat jalan bayiku. Dirasakannya
suatu alat baja yang dingin mulai bergerak di antara kedua
pahanya dan perlahan-lahan dimasukkan. Alat pembunuh
asing itulah yang akan membunuh bayi Adam.
Tiba-tiba didengarnya suara yang terasa asing berteriak,
"Hentikan! Hentikan! Hentikan!"
Lalu Jennifer melihat ke wajah-wajah yang keheranan,
yang memandanginya dengan terbelalak, dan dia pun
menyadari bahwa teriakan tadi itu berasal dari dirinya. Kedok
tertekan makin kuat ke wajahnya. Dia terserap oleh suatu
pusaran yang berputar makin lama makin cepat, lalu
menenggelamkannya. Yang terakhir diingatnya adalah lampu
putih besar di langit-langit di atasnya, berputar-putar, dan
masuk ke dalam tengkorak kepalanya.
Waktu Jennifer sadar, dia terbaring di tempat tidur dalam
kamarnya di rumah sakit. Melalui jendela dia bisa melihat
bahwa di luar hari sudah gelap. Tubuhnya terasa sakit seolah-
287
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
olah bekas dipukuli, dan dia ingin tahu berapa lama dia tak
sadar. Dia masih hidup, tapi bayinya....
Dijangkaunya bel yang terpasang di tempat tidurnya, lalu
ditekannya. Bel itu ditekannya terus, serasa tak bisa berhenti.
Dia kebingungan.
Seseorang jururawat muncul di pintu lalu cepat-cepat pergi
lagi. Beberapa saat kemudian Dokter Linden masuk bergegas.
Dia mendekat ke sisi tempat tidur, lalu dengan halus
melepaskan jari-jari Jennifer dari bel itu.
Jennifer mencengkam lengan dokter itu kuat-kuat dan
berkata dengan suara serak, "Bayi saya.... dia mati!"
"Tidak, Nyonya Parker," kata Dokter Linden. "Dia masih
hidup. Saya harap dia laki-laki. Anda terus-menerus
menyebutnya Adam."
28
Hari Natal berlalu, dan tahun baru pun tiba, tahun seribu
sembilan ratus tujuh puluh tiga. Salju yang turun dalam bulan
Februari digantikan oleh angin keras dalam bulan Maret, dan
Jennifer tahu bahwa sudah tiba waktunya dia berhenti
bekerja.
Dia mengadakan rapat staf di kantornya.
"Aku akan mengambil cuti besar," Jennifer mengumumkan.
"Aku akan pergi selama lima bulan."
Terdengar gumam mereka terkejut.
"Tapi bukankah kami masih akan bisa menghubungimu?"
tanya Dan Martin.
"Tidak, Dan. Aku tidak akan bisa dihubungi."
Ted Harris menatapnya dari balik kaca matanya yang tebal.
"Jennifer, kau tak bisa begitu saja....”
288
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akhir minggu ini aku akan berangkat."
Bicaranya mengandung nada keputusan yang tidak
menghendaki pertanyaan selanjutnya. Rapat itu selanjutnya
membahas tentang perkara-perkara yang masih harus
ditangani.
Setelah semuanya pergi, Ken Bailey bertanya, "Apakah
semuanya ini sudah kaupikirkan matang-matang?"
"Aku tak punya pilihan lain, Ken."
Ken memandanginya. "Aku tak tahu siapa laki-laki keparat
itu, tapi aku benci padanya."
Jennifer meletakkan tangannya di lengan Ken. "Terima
kasih atas perhatianmu. Tapi aku baik-baik saja."
"Ketahuilah, kau akan menghadapi kesulitan. Anak-anak
akan menjadi besar. Mereka suka bertanya. Anak itu ingin
tahu siapa ayahnya."
"Akan kuhadapi itu."
"Baiklah kalau begitu." Dengan nada yang berubah lembut
dia menambahkan, "Bila ada sesuatu yang bisa kulakukan —
apa saja — kau tahu bahwa aku selalu siap."
Jennifer melingkarkan lengannya ke leher Ken. "Terima
kasih, Ken. Terima kasih banyak."
Jennifer tinggal lama di kantornya setelah semua orang
pergi, duduk seorang diri dalam gelap, dan dia berpikir. Dia
akan selalu mencintai Adam. Tak satu pun bisa mengubah hal
itu, dan dia yakin bahwa Adam pun masih mencintainya.
Sebenarnya akan lebih mudah bila Adam tidak mencintaiku,
pikir Jennifer. Sungguh suatu ironi yang tak tertanggungkan:
mereka saling mencintai tapi tak bisa berkumpul, bahwa hidup
mereka akan terpisah makin lama makin jauh. Adam kini
berada di Washington bersama Mary Beth dan anak mereka.
Suatu hari kelak Adam mungkin akan berada di Gedung Putih.
289
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer membayangkan anaknya sendiri, yang akan tumbuh,
yang ingin tahu siapa ayahnya. Dia tidak akan bisa
memberitahukannya, Adam pun tidak akan pernah boleh tahu
bahwa dia mengandung anaknya, karena hal itu akan
menghancurkan Adam.
Dan bila ada orang lain yang tahu, maka Adam akan binasa
dengan cara yang lain pula.
*
Jennifer telah memutuskan untuk membeli sebuah rumah
di pinggiran kota, di suatu tempat di luar Manhattan, di mana
dia akan bisa hidup bersama anaknya dalam dunia kecil
mereka sendiri.
Dia menemukan rumah itu benar-benar secara kebetulan.
Pada suatu hari dia sedang dalam perjalanan untuk menemui
seorang klien di Long Island. Dia membelok dijalan Ekspres
Long Island pada pembelokan tiga puluh enam, tetapi dia
salah belok dan mendapatkan dirinya berada di Sands Point.
Jalan-jalan di situ sunyi dan diteduhi pohon-pohon yang tinggi,
anggun. Rumah-rumah dibangun jauh dari jalan, masingmasing rumah terpisah di tanah milik tersendiri. Di depan
sebuah rumah model kolonial di Jalan Sands Point, tergantung
pengumuman Dijual. Pekarangannya dikelilingi pagar, dan ada
sebuah pintu gerbang indah dari besi tempa yang menuju ke
jalan yang licin tempat mobil masuk, diterangi oleh lampulampu bertiang di kiri-kanannya. Halaman depannya luas dan
ditumbuhi sederetan pohon-pohon untuk melindungi rumah.
Dari luar, rumah itu tampak menggiurkan. Jennifer mencatat
nama makelarnya, kemudian membuat janji untuk melihatlihat rumah itu esok petangnya.
Agen real estate-nya adalah seorang laki-laki yang
bersungguh-sungguh, yang pandai membujuk, sebangsa
petugas penjualan yang dibenci Jennifer. Tapi Jennifer bukan
290
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan membeli pribadi laki-laki itu, dia akan membeli sebuah
rumah.
"Rumah itu cantik sekali," kata laki-laki itu. "Ya, benarbenar cantik. Umurnya sudah kira-kira seratus tahun. Masih
dalam keadaan sempurna. Benar-benar sempurna."
Benar-benar berlebihan kalau dikatakannya sempurna.
Kamar-kamarnya besar dan lapang, tapi perlu perbaikan.
Alangkah akan senangnya, pikir Jennifer, memperbaiki rumah
ini lalu menatanya.
Di lantai atas, di seberang kamar tidur utama, ada sebuah
kamar yang bisa diubah menjadi sebuah kamar bayi. Dia akan
mewarnainya biru dan....
"Apakah Anda ingin melihat-lihat sekelilingnya?"
Rumah di pohonlah yang membuat Jennifer memutuskan
untuk membelinya. Rumah itu dibangun di atas sebuah
langkan yang tinggi di sebuah pohon oak yang kokoh. Rumah
pohon untuk anaknya. Tanahnya tiga are luasnya, halaman
belakangnya melandai perlahan-lahan menuju ke sebuah selat
kecil, di mana ada sebuah dok. Rumah itu akan merupakan
tempat yang bagus sekali untuk tempat anaknya tumbuh,
karena luasnya tempat untuknya berlari-lari. Kelak anak itu
akan memiliki sebuah kapal kecil. Mereka benar-benar akan
bisa memencilkan diri di sini, hal mana memang diperlukan.
Jennifer sudah memastikan bahwa ini akan merupakan dunia
yang akan menjadi miliknya dan anaknya saja.
Keesokan harinya rumah itu dibelinya.
Jennifer tak pernah menyangka betapa akan sakitnya
meninggalkan apartemen yang ditempatinya bersama Adam.
Kimono dan piama Adam masih ada di situ, demikian pula
sandal dan alat-alat cukurnya. Setiap kamar punya beratusratus kenangan tentang Adam, kenangan tentang masa lalu
yang indah, namun sudah mati. Jennifer mengumpulkan
barang-barangnya secepatnya lalu keluar dari situ.
291
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di rumahnya yang baru, Jennifer menyibukkan dirinya dari
pagi-pagi benar sampai larut malam, supaya tak ada waktu
untuk berpikir tentang Adam. Dia pergi ke toko-toko di Sands
Point dan Port Washington untuk memesan perabot rumah
tangga dan kain-kain gorden. Dia membeli alat-alat tidur dari
Porthault, sendok-garpu, piring-piring, mangkuk, dan cangkir.
Dia memanggil buruh setempat untuk membetulkan saluransaluran yang macet, atap yang bocor, dan alat-alat listrik yang
usang. Dari pagi-pagi benar sampai senja, rumah itu penuh
dengan tukang-tukang cat, ahli-ahli listrik, dan pekerja-pekerja
pemasang kertas lapis dinding.
Jennifer ke sana-kemari, mengawasi segala-galanya. Siang
hari dia membuat dirinya letih, dengan harapan dia bisa tidur
malam harinya, tapi hantu-hantu yang dulu kembali lagi,
menyiksanya dengan mimpi-mimpi buruk yang mengerikan.
Dia berkeliling ke toko-toko antik untuk membeli lampulampu dan meja, serta barang-barang seni. Dia membeli air
mancur dan patung untuk kebun, juga barang-barang hiasan
buatan Lipschitz, Nogu-chi, dan Miro.
Di bagian dalam rumah semuanya kelihatan cantik.
Bob Clement adalah seorang klien Jennifer di California dan
bermacam-macam permadani yang dirancangnya untuk ruang
tamu dan kamar bayi, membuat kamar-kamar itu semarak
dengan warna-warni lembut.
Perut Jennifer makin membesar, dan dia pergi ke desa
untuk membeli pakaian hamil. Dia menyuruh memasang
telepon yang nomornya tidak didaftarkan. Telepon itu
dipasangnya hanya untuk keadaan darurat, tak seorang pun
diberinya nomor telepon itu, dan dia pun tidak mengharapkan
telepon dari siapa-siapa. Satu-satunya orang di kantor yang
tahu di mana dia tinggal adalah Ken Bailey, dan sahabatnya
itu disuruhnya bersumpah untuk merahasiakannya.
292
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada suatu petang Ken pergi mengunjungi Jennifer.
Jennifer membawanya berkeliling rumah dan pekarangan, dan
dia betul-betul senang.
"Sungguh cantik, Jennifer. Cantik sekali. Hebat benar hasil
karyamu." Ken melihat ke perut Jennifer. "Berapa lama lagi?"
"Dua bulan lagi." Jennifer meletakkan tangan Ken di
perutnya, lalu berkata, "Coba rasakan."
Ken merasakan suatu tendangan.
"Makin hari makin kuat saja dia," kata Jennifer dengan
bangga.
Jennifer memasakkan makan malam buat Ken. Ken
menunggu sampai mereka selesai makan makanan penutup,
barulah dia mengemukakan yang akan dikatakannya.
"Aku bukan mau mengorek-ngorek," katanya, "tapi
tidakkah orang yang sebenarnya ayahnya perlu ikut berbuat
sesuatu?"
"Bahan pembicaraan ditutup."
"Baiklah. Maafkan aku. Kantor sangat kehilangan kau. Ada
klien baru yang....”
Jennifer mengangkat tangannya. "Aku tak mau mendengar
tentang itu."
Mereka bercakap-cakap sampai tiba waktunya Ken harus
pulang, dan Jennifer tak senang melihatnya pergi. Dia seorang
laki-laki dan seorang sahabat yang baik.
Jennifer menutup dirinya dari dunia dengan segala cara.
Dia berhenti membaca surat-surat kabar, dan tak mau lagi
nonton tv atau mendengarkan radio. Dunianya adalah di sini,
di antara empat dinding ini. Inilah sarangnya, rahimnya,
tempat dia akan melahirkan putranya ke dunia ini.
293
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dibacanya semua buku yang bisa didapatkannya mengenai
membesarkan anak-anak, mulai dari karangan Dokter Spock
sampai pada Ames dan Gesell.
Setelah Jennifer selesai menata kamar bayi, kamar itu
diisinya dengan bermacam-macam mainan. Didatanginya toko
olahraga, dan melihat bola kaki, alat pemukul baseball, dan
sarung tangan penangkap bola. Dan dia menertawakan
dirinya. Gila-gilaan aku ini. Dia lahir pun belum. Namun alat
pemukul baseball dan sarung tangan penangkap bola itu
dibelinya juga. Dia tergoda ingin membeli bola kaki, tapi
pikirnya, Itu nanti saja.
Bulan Mei datang dan disusul oleh Juni.
Para pekerja sudah selesai dan rumah itu menjadi sepi dan
lengang. Dua kali seminggu Jennifer pergi ke desa untuk
berbelanja di supermarket, dan dua minggu sekali dia
mengunjungi Dokter Harvey, dokter ahli kandungan yang
menanganinya. Dengan patuh Jennifer minum susu lebih
banyak daripada yang disukainya, vitamin-vitamin
diminumnya, dan semua makanan yang sehat dan bergizi
dimakannya. Sekarang dia menjadi besar dan merasa kaku,
dan dia mulai merasa sulit bergerak.
Dia selalu aktif, dan pikirnya dia akan benci sekali kalau dia
sampai menjadi berat dan kaku, dan harus bergerak lambat.
Tapi entah mengapa, kini dia tak peduli. Tak ada lagi alasan
untuk bergegas. Hari-hari terasa lamban dan dipenuhi mimpi
serta kedamaian. Suatu jam harian dalam dirinya telah
memperlambat jalannya sendiri. Jennifer seolah-olah sedang
mengumpulkan tenaga, dan menumpahkannya pada tubuh
lain yang hidup di dalam tubuhnya.
Pada suatu pagi Dokter Harvey memeriksa Jennifer, lalu
berkata, "Dua minggu lagi, Nyonya Parker."
Sudah dekat sekali sekarang. Mula-mula dia menyangka
bahwa dia mungkin akan takut. Dia sudah mendengar ocehan
294
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ibu-ibu tua tentang rasa sakit itu, kecelakaan-kecelakaannya,
bayi-bayi yang cacat tubuh, namun Jennifer tidak merasa
takut. Dia hanya ingin melihat bayinya, tak sabar dia rasanya
agar persalinannya cepat berlalu supaya dia bisa memeluk
anaknya.
Kini Ken Bailey hampir setiap hari datang ke rumah itu,
membawakannya bermacam-macam buku untuk anak-anak,
dan selusin buku-buku Dokter Seuss.
"Anak laki-lakimu itu akan menyukai buku-buku ini," kata
Ken.
Jennifer tersenyum karena Ken mengatakan anak laki-laki.
Suatu pertanda baik.
Mereka berjalan-jalan dengan santai di pekarangan dan
makan siang di tepi sungai, duduk di bawah sinar matahari.
Jennifer risau memikirkan penampilannya. Mengapa Ken mau
membuang-buang waktunya bersama dengan seorang wanita
gemuk yang jelek seperti dalam sirkus ini, pikirnya.
Sedang Ken memandangi Jennifer dengan berpikir: Dialah
wanita tercantik yang pernah kulihat.
Rasa sakit yang pertama datang pukul tiga subuh. Rasa
sakit itu demikian hebatnya hingga Jennifer merasa tak bisa
bernapas. Beberapa saat kemudian rasa sakit itu berulang lagi,
dan dengan gembira Jennifer berpikir, Sudah hampir
waktunya.
Dia mulai menghitung waktu di antara rasa sakit itu, dan
waktu rasa sakit itu masing-masing berjarak sepuluh menit,
dia menelepon dokter ahli kandungannya. Jennifer pergi ke
rumah sakit dengan mengemudikan mobilnya sendiri, dia
berhenti sebentar di pinggir jalan setiap kali sakitnya terasa
lagi. Seorang petugas sudah siap menantinya di luar waktu dia
tiba. Dan beberapa menit kemudian, Dokter Harvey
memeriksanya.
295
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah selesai, dokter itu berkata dengan meyakinkan,
"Nah, ini pasti akan merupakan persalinan yang mudah,
Nyonya Parker. Santai saja dan kita biarkan alam menjalankan
tugasnya."
Ternyata persalinan itu tak mudah, tapi tidak pula terlalu
sulit. Jennifer sanggup menanggung rasa sakit itu, karena dari
rasa sakit itu akan terjadi sesuatu yang indah. Hampir delapan
jam lamanya dia menderita, dan pada akhirnya, setelah
tubuhnya serasa hancur dan bengkok karena kejangankejangan, dia berpikir bahwa derita itu tidak akan berakhir.
Tiba-tiba dia merasa sakitnya hilang dan disusul oleh rasa
kosong, lalu tiba-tiba rasa damai.
Dia mendengar tangis melengking, dan Dokter Harvey
mengangkat bayinya sambil berkata, "Inginkah Anda melihat
putra Anda, Nyonya Parker?"
Senyum Jennifer seakan-akan menyinari kamar itu.
29
Bayi itu diberinya nama Joshua Adam Parker, beratnya
empat kilogram enam ons. Dia bertubuh sempurna. Jennifer
tahu bahwa bayi selalu jelek waktu dilahirkan, kulitnya kisut
dan merah, mirip monyet kecil. Tapi Joshua Adam tidak. Dia
cantik. Para jururawat di rumah sakit itu berulang kali
mengatakan betapa tampannya Joshua, dan Jennifer tak
bosan-bosannya mendengar pujian itu. Persamaannya dengan
Adam nyata sekali. Joshua Adam bermata abu-abu kebirubiruan seperti ayahnya dan bentuk kepalanya sempurna. Bila
Jennifer memandangnya dia serasa melihat Adam.
Perasaannya aneh, suatu pembauran yang tajam antara
kebahagiaan dan kesedihan. Betapa akan senangnya Adam
melihat putranya ini!
296
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu Joshua berumur dua hari dia melihat pada Jennifer
sambil tersenyum, dan Jennifer buru-buru menekan bel
memanggil jururawat.
"Lihat! Dia tersenyum!"
"Dia bersendawa, Nyonya Parker."
"Bayi-bayi lain mungkin bersendawa," kata Jennifer
berkeras. "Anak saya ini tersenyum."
Dulu Jennifer ingin tahu bagaimana perasaannya kelak
terhadap bayinya, dia tak yakin apakah dia akan menjadi ibu
yang baik. Bayi-bayi biasanya membosankan. Mereka
mengotori popok mereka, selalu menuntut diberi makan,
menangis, dan tidur. Tak ada komunikasi dengan mereka.
Aku pasti tidak akan punya perasaan apa-apa terhadapnya
sampai dia berumur empat atau lima tahun, pikir Jennifer
dulu. Betapa kelirunya. Sejak Joshua dilahirkan, Jennifer
sudah mencintainya dengan rasa cinta yang tak disadarinya
ada dalam dirinya. Rasa cinta itu adalah cinta yang sangat
melindungi. Joshua masih begitu kecil, sedang dunia begitu
luas.
Waktu Jennifer membawa Joshua pulang dari rumah sakit,
dia dibekali suatu daftar panjang instruksi-instruksi, tapi itu
semuanya hanya membuatnya panik saja. Selama dua minggu
yang pertama, seorang jururawat yang berpraktek bebas,
tinggal di rumahnya. Setelah itu Jennifer berdiri sendiri, dan
dia sangat ketakutan kalau-kalau dia berbuat salah dan
mungkin mengakibatkan kematian bayinya. Dia takut anak itu
tiba-tiba berhenti bernapas setiap saat.
Waktu Jennifer pertama kali membuatkan susu Joshua, dia
menyadari bahwa dia lupa membebas-hamakan dotnya.
Dibuangnya susu itu di wastafel lalu membuat susu baru lagi.
Setelah dia selesai, dia baru ingat bahwa sekarang botolnyalah
yang lupa dibebashamakannya. Jennifer mulai lagi. Baru saja
minuman Joshua itu siap, bayi itu sudah menjerit marah.
297
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ada kalanya Jennifer merasa dirinya tak mampu menangani
bayinya. Pada saat-saat yang tak disangka-sangka dia dilanda
perasaan tertekan. Dikatakannya pada dirinya sendiri bahwa
itu adalah perasaan masygul yang normal sesudah
melahirkan, tetapi penjelasan itu tidak membuatnya senang.
Dia selalu merasa letih sekali. Rasanya dia tak tidur-tidur
sepanjang malam karena harus memberi Joshua minum, tapi
akhirnya dia bisa juga tertidur. Dia terbangun oleh tangis
Joshua dan dia terhuyung-huyung kembali ke kamar bayi.
Dia terus-menerus menelepon dokter, tanpa peduli pukul
berapa, siang atau malam.
"Napas Joshua terlalu cepat.... Dia bernapas terlalu
lambat.... Joshua batuk.... Dia tidak mau makan malam ini....
Joshua muntah."
Untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dokter akhirnya
datang ke rumah Jennifer dan memberinya ceramah.
"Nyonya Parker, saya tak pernah melihat bayi yang lebih
sehat dari putra Anda. Mungkin dia kelihatan rapuh, tapi
tubuhnya sekuat sapi. Jangan kuatir terus mengenai dia, tapi
nikmatilah dia. Ingat saja satu hal — kita berdua akan lebih
dulu mati daripada dia!"
Maka Jennifer mulai merasa tenang. Kamar tidur Joshua
ditatanya dengan gorden-gorden dari bahan halus dan alas
tempat tidurnya dari bahan yang berlatar belakang biru dihiasi
bunga-bunga putih dan kupu-kupu kuning. Ada tempat tidur
kecil, sebuah boks untuk tempat bermain, sebuah rak kecil
yang berlaci-laci yang sewarna, sebuah meja kecil dan kursi
kecil, seekor kuda-kudaan, dan lacinya penuh mainan.
Jennifer senang sekali menggendong Joshua,
memandikannya, menggantikan popoknya, membawanya
makan angin dalam kereta dorong baru yang masih berkilat.
Jennifer bercakap-cakap terus dengan bayi itu, dan waktu
Joshua berumur empat minggu, Jennifer mendapat hadiah
298
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
senyuman dari anaknya itu. Bukan sendawa, pikir Jennifer
dengan rasa bahagia. Suatu senyuman!
Waktu Ken Bailey untuk pertama kalinya melihat bayi itu,
lama dia menatapnya. Jennifer tiba-tiba merasa panik, dan
berpikir, Dia akan mengenalinya. Dia akan tahu bahwa itu
adalah bayi Adam.
Tapi Ken hanya berkata, "Dia cantik sekali. Dia seperti
ibunya."
Jennifer menyuruh Ken menggendong Joshua dan dia
menertawakan betapa kakunya Ken. Tanpa disadarinya dia
berpikir, Joshua tidak akan pernah punya ayah yang akan
menggendongnya.
Enam minggu sudah berlalu dan sudah tiba pula waktunya
untuk bekerja kembali. Jennifer tidak suka memikirkan dia
harus berpisah dari anaknya, biarpun hanya untuk beberapa
jam sehari. Tapi pikiran untuk kembali ke kantornya
membuatnya merasa berdebar. Sudah begitu lama dia benarbenar memisahkan dirinya dari segala-galanya. Sudah tiba
waktunya untuk memasuki kembali dunianya yang lain.
Dia melihat ke dalam cermin dan memutuskan bahwa yang
pertama-tama harus dilakukannya adalah mengembalikan
tubuhnya ke bentuk semula. Dia sudah menjalani diet dan
melakukan senam segera setelah kelahiran Joshua, tapi kini
dia menjalankannya dengan lebih giat lagi, dan dia segera
kelihatan seperti semula lagi.
Jennifer mulai mencari pembantu rumah tangga. Ditelitinya
mereka itu seolah-olah mereka adalah anggota juri, mencari
kelemahan-kelemahan mereka, ketakjujuran mereka, dan
ketakmampuan mereka. Setelah lebih dari dua puluh orang
calon yang punya kemampuan diwawancarainya, barulah
ditemukannya seorang yang berkenan di hatinya dan yang
dipercayainya. Dia adalah seorang wanita Skotlandia,
setengah baya, bernama Nyonya Mackey, yang sudah pernah
299
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bekerja untuk suatu keluarga selama lima belas tahun, dan
baru berhenti setelah anak-anak dalam keluarga itu besar dan
bersekolah.
Jennifer meminta bantuan Ken untuk menyelidiki wanita
itu, dan setelah Ken meyakinkan bahwa Nyonya Mackey tak
bercacat, Jennifer menerimanya bekerja.
Seminggu kemudian Jennifer bekerja kembali.
30
Menghilangnya Jennifer Parker secara tiba-tiba telah
menimbulkan banyak desas-desus di antara kantor-kantor
pengacara di Manhattan.
Setelah dalam kalangan itu tersiar kabar bahwa Jennifer
sudah kembali, perhatian orang bukan main besarnya. Tamutamu yang diterima Jennifer makin lama makin banyak. Para
ahli hukum dari kantor-kantor pengacara lain mampir untuk
menjenguk.
Cynthia, Dan, dan Ted telah memasang hiasan-hiasan
kertas di seluruh ruangan, disertai kata-kata Selamat Datang
Kembali. Mereka menyuguhkan sampanye dan kue-kue.
"Pagi-pagi begini?" protes Jennifer.
Tapi anak buahnya bersikeras.
"Keadaan di sini kacau sekali tanpa kau," kata Dan Martin.
"Kau tidak berencana untuk berbuat begitu lagi, kan?"
Jennifer melihat padanya lalu berkata, "Tidak, aku tidak
punya rencana untuk melakukannya lagi."
Tamu-tamu yang tak disangka-sangka berdatangan,
mereka ingin meyakinkan diri bahwa Jennifer baik-baik saja
dan mendoakan keselamatannya.
300
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan ke mana dia
selama itu, dielakkannya dengan senyum. "Kami tak boleh
memberikan jawaban."
Sepanjang hari dia mengadakan rapat dengan anggotaanggota stafnya. Beratus-ratus pesan melalui telepon telah
menumpuk.
Waktu Ken Bailey berada di kamar kerja Jennifer berduaan
saja, dia berkata, "Tahukah kau siapa yang membuat kami gila
karena usahanya untuk menghubungimu?"
Rasa tersentak hati Jennifer. "Siapa?"
"Michael Moretti."
"Oh."
"Aneh sekali dia itu. Waktu kami menolak mengatakan
padanya di mana kau berada, kami disuruhnya bersumpah
bahwa kau baik-baik saja."
"Lupakan saja Michael Moretti itu."
Jennifer mempelajari perkara-perkara lain yang ditangani
oleh kantor mereka. Bisnis sedang hebat. Mereka telah
mendapatkan beberapa orang klien baru yang penting.
Beberapa di antara klien yang lama, tak mau berurusan
dengan siapa pun juga kecuali Jennifer, dan mereka
menunggu sampai Jennifer kembali.
"Akan kutelepon mereka secepatnya," Jennifer berjanji.
Dipelajarinya pesan-pesan lain melalui telepon. Ada belasan
pesan telepon dari Tuan Adam. Barangkali dia seharusnya
memberi tahu Adam bahwa dia baik-baik saja, bahwa tak ada
apa-apa terjadi atas dirinya. Tapi dia tahu bahwa dia tidak
akan tahan mendengar suara Adam, mengetahui bahwa dia
dekat padanya, tapi tak dapat bertemu dengannya, tak dapat
menyentuhnya, tak dapat memeluknya. Tak dapat
menceritakan padanya tentang Joshua.
301
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cynthia telah mengumpulkan cerita-cerita dalam suratsurat kabar, yang pikirnya akan menarik bagi Jennifer. Di
antaranya terdapat suatu seri yang menceritakan tentang
Michael Moretti dengan sindikatnya, di mana disebutkan
bahwa dia adalah pemimpin mafia yang paling penting di
negeri itu. Fotonya terpasang dan di bawahnya terdapat
keterangan gambar yang berbunyi, Saya hanya seorang
salesman asuransi.
Tiga bulan lamanya Jennifer baru dapat mengejar
ketertinggalannya dalam perkara-perkara. Sebenarnya dia bisa
menanganinya dalam waktu yang lebih singkat, tapi dia
bersikeras untuk pulang pukul empat setiap hari, tanpa peduli
dalam persoalan apa pun dia terlibat. Soalnya Joshua
menunggunya.
Setiap pagi hari sebelum Jennifer berangkat ke kantor, dia
menyiapkan sendiri sarapan untuk Joshua, dan dia
menghabiskan waktunya sebanyak mungkin untuk bermainmain dengan Joshua sebelum berangkat ke kantor.
Setelah Jennifer pulang petang hari, seluruh waktunya
dihabiskannya bagi Joshua. Dipaksanya dirinya untuk
meninggalkan masalah-masalah kerjanya di kantor, dan
menolak semua perkara yang akan memisahkannya dari
putranya. Dia tak lagi bekerja pada akhir pekan. Tak satu apa
pun dibiarkannya mengganggu dunia pribadinya.
Dia senang membacakan nyaring untuk Joshua.
Nyonya Mackey menegurnya. "Dia masih bayi, Nyonya
Parker. Dia tak mengerti sepatah pun yang Anda katakan."
Dengan penuh keyakinan Jennifer menjawab, "Joshua
mengerti."
Dan dia pun terus membaca.
Joshua merupakan serangkaian keajaiban yang tak habishabisnya. Waktu dia berumur tiga bulan mengoceh, dan
302
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mulailah Jennifer bercakap-cakap dengan dia. Joshua
bersenang-senang dalam boks, bermain-main dengan sebuah
bola yang berbunyi dan seekor kelinci mainan yang dibawakan
Ken. Waktu berumur enam bulan dia sudah mulai mencoba
memanjat keluar dari boks, dia gelisah, dan ingin menyelidiki
dunia. Jennifer memeluknya dan Joshua menangkap jari-jari
ibunya dengan tangannya yang mungil dan mereka lalu
mengadakan percakapan yang panjang dan serius.
Hari-hari Jennifer di kantor selalu penuh. Pada suatu pagi
dia menerima telepon dari Philip Redding, presiden suatu
perusahaan minyak yang besar.
"Apakah kita kira-kira bisa bertemu?" katanya. "Saya ada
masalah."
Jennifer tak perlu menanyakan apa masalahnya. Presiden
itu telah dituduh membayar suap untuk mengadakan usaha di
Timur Tengah. Dia bersedia memberikan bayaran tinggi untuk
menangani perkara itu, tapi Jennifer benar-benar-tak ada
waktu.
"Maaf," katanya, "saya tak bisa membantu, tapi saya bisa
menunjukkan seseorang yang pandai sekali."
"Ada yang memberi tahu saya, supaya saya tak mau
menerima penolakan dari Anda," sahut Philip Redding.
"Siapa orang itu?"
"Seorang teman saya. Hakim Lawrence Waldman."
Jennifer merasa sulit percaya mendengar nama itu. "Hakim
Waldman menyarankan Anda untuk menghubungi saya?"
"Kata beliau Andalah yang terbaik. Tapi saya pun sudah
tahu."
Jennifer memegang telepon itu sambil berpikir tentang
pengalamannya dulu dengan Hakim Waldman, dia yakin benar
303
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa laki-laki itu membencinya dan berniat untuk
menghancurkannya.
"Baiklah. Kita sarapan bersama besok pagi," kata Jennifer.
Setelah gagang digantungnya, dia memutar nomor untuk
menelepon Hakim Waldman.
Terdengar suara yang sudah dikenalnya melalui telepon.
"Sudah lama sekali saya tak berbicara dengan Anda, Nona
manis."
"Saya ingin mengucapkan terima kasih, karena Anda telah
menganjurkan Philip Redding supaya dia menelepon saya."
"Saya ingin yakin bahwa dia dibela oleh orang yang
pandai."
"Sekali lagi, terima kasih, Yang Mulia."
"Maukah kau makan malam dengan seorang tua sekali
waktu?"
Jennifer terkejut sekali. "Saya akan suka sekali makan
malam dengan Anda."
"Bagus. Kau akan kubawa ke klubku. Itu tempat berkumpul
orang-orang kolot dan mereka tidak terbiasa dengan wanita
muda. Kedatanganmu di sana akan menggemparkan mereka."
Hakim Waldman adalah anggota klub yang bernama
Century Association di West 43rd Street, dan waktu dia dan
Jennifer bertemu di sana untuk makan malam, Jennifer
melihat bahwa hakim itu telah memperolok-olokkannya waktu
mengatakan tentang orang-orang kolot di tempat itu. Ruang
makannya penuh dengan penulis-penulis, seniman-seniman,
ahli-ahli hukum, dan para bintang film.
"Telah menjadi kebiasaaan untuk tidak memperkenalkan
siapa pun juga di sini," Hakim Waldman menjelaskan pada
Jennifer. "Orang menganggap bahwa setiap orang yang
datang kemari tentu bisa dikenali."
304
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer mengenali antara lain Louis Auchincloss, George
Plimpton, dan John Lindsay, yang duduk di meja terpisahpisah.
Agaknya pergaulan sosial Lawrence Waldman sama sekali
berbeda dari apa yang disangka Jennifer. Sambil minum
cocktail laki-laki itu berkata pada Jennifer, "Dulu aku ingin
agar izin usaha pengacaramu dicabut karena kupikir kau
memberi malu profesi kita."
Jennifer merasa senang. Dia telah bertemu dengan hakimhakim yang mudah disuap, bodoh, atau tak mampu. Dia
menaruh hormat pada Lawrence Waldman. Orang ini adalah
seorang ahli hukum yang sangat pandai dan juga laki-laki
yang tulus.
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Di luar ruang sidang, tidakkah lebih baik kalau kita saling
menyebut Lawrence dan Jennie?"
Hanya ayahnyalah satu-satunya orang yang pernah
menyebutnya Jennie.
"Suka sekali, Lawrence."
Makanannya enak sekali, dan makan malam itu menjadi
awal dari kebiasaan yang mereka lakukan setiap bulan.
Keduanya amat menyukai pertemuan makan bersama yang
merupakan kebiasaan itu.
31
Waktu itu adalah musim panas dalam tahun seribu
sembilan ratus tujuh puluh empat. Tanpa disadari, satu tahun
telah berlalu sejak Joshua Adam Parker dilahirkan. Dia mulai
melangkah setapak-setapak dan dia sudah mengerti kata-kata
hidung, mulut, dan kepala.
305
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Luar biasa pintarnya anak ini," kata Jennifer tanpa malu
pada Nyonya Mackey.
Jennifer merencanakan pesta ulang tahun Joshua, seolaholah itu akan diadakan di Gedung Putih. Pada hari Sabtu dia
berbelanja hadiah-hadiah. Joshua dibelikannya baju, bukubuku, dan mainan, serta sebuah sepeda roda tiga yang dua
tahun lagi baru bisa dikendarai anak itu. Dia membeli hadiahhadiah untuk anak-anak tetangga yang telah diundang ke
pesta itu, dan sepanjang petang itu dihabiskannya untuk
memasang kertas hias aneka warna dan balon-balon. Kue
ulang tahun dibuatnya sendiri lalu ditinggalkannya di meja
dapur. Entah bagaimana, Joshua berhasil menjangkau kue itu,
dicengkamnya segenggam lalu dimasukkannya ke dalam
mulutnya hingga rusaklah kue itu sebelum tamu datang.
Jennifer telah mengundang dua belas orang anak dari
daerah itu bersama ibu mereka. Satu-satunya tamu laki-laki
dewasa adalah Ken Bailey. Dia menghadiahi Joshua sebuah
sepeda roda tiga yang sama benar dengan yang dibeli
Jennifer.
Jennifer tertawa dan berkata, "Tak masuk akal, Ken.
Joshua belum cukup besar untuk itu."
Pesta itu hanya berlangsung dua jam, tapi meriah sekali.
Anak-anak makan terlalu banyak sampai ada yang muntah di
permadani, mereka berebutan mainan, dan menangis kalau
balonnya pecah. Tapi secara menyeluruh Jennifer
menganggap pesta itu telah berhasil dengan gemilang. Joshua
adalah tuan rumah yang sempurna dalam pesta itu, kecuali
beberapa peristiwa kecil dia telah bersikap anggun dan penuh
percaya diri.
Malam itu setelah semua tamu pulang, dan Joshua sudah
ditidurkan, Jennifer duduk di sisi tempat tidurnya mengawasi
anaknya yang tidur itu, sambil mengagumi makhluk istimewa
yang telah keluar dari dalam tubuhnya, hasil cintanya dengan
Adam Warner itu. Adam pasti akan bangga melihat bagaimana
306
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baiknya tingkah laku Joshua. Kegembiraannya rasa tersapu
karena hanya dimilikinya sendiri.
Jennifer membayangkan tentang pesta-pesta ulang tahun
yang akan datang. Joshua akan berumur dua tahun, lalu lima
tahun, kemudian sepuluh, dan dua puluh tahun. Lalu dia akan
menjadi pria dewasa dan meninggalkannya. Anaknya itu akan
menjalani hidupnya sendiri.
Berhent!l Jennifer memarahi dirinya sendiri. Kau merasa
kasihan pada dirimu sendiri. Malam itu dia berbaring di tempat
tidurnya, tanpa tidur, menghayati kembali setiap kejadian
terperinci dari pesta tadi, dan mengenang segala-galanya.
Mungkin pada suatu hari kelak, dia akan bisa
menceritakannya pada Adam.
32
Dalam bulan-bulan berikutnya, Senator Adam Warner
menjadi buah bibir orang ramai. Latar belakangnya,
kemampuannya, dan kharismanya, telah membuatnya
diterima baik di senat sejak semula. Dia berhasil menduduki
beberapa tempat dalam beberapa panitia penting dan dia
mensponsori suatu peraturan perburuhan yang penting yang
berjalan dengan lancar dan mulus. Adam Warner punya
sahabat-sahabat yang berkuasa dalam kongres. Banyak orang
yang mengenal dan menghormati ayahnya. Sudah menjadi
pengertian umum bahwa Adam akan memperebutkan
kedudukan kepresidenan kelak. Jennifer merasakan
kebanggaan yang manis-manis getir.
Jennifer sering kali menerima undangan dari klien-klien,
rekan-rekan seprofesi, dan sahabat-sahabat, untuk makan
malam, menonton sandiwara, atau ke berbagai pertemuan
amal, tapi hampir semua ditolaknya. Hanya sekali-sekali dia
keluar makan malam dengan Ken Bailey. Dia senang sekali
kalau sedang bersama Ken. Laki-laki itu lucu dan suka
307
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menertawakan dirinya sendiri, tapi di balik kedok kegembiraan
itu, Jennifer tahu bahwa dia adalah laki-laki yang perasa dan
tersiksa. Kadang-kadang dia datang ke rumah Jennifer pada
akhir minggu untuk makan siang atau makan malam, dan dia
bermain-main dengan Joshua berjam-jam lamanya. Mereka
berdua saling menyayangi.
Pada suatu kali setelah Joshua ditidurkan, dan Jennifer
sedang makan malam bersama Ken di dapur, Ken menatap
Jennifer terus hingga Jennifer bertanya, "Adakah sesuatu yang
tak beres, Ken?"
"Ya, Tuhan, ada," erang Ken. "Maafkan aku, alangkah
kerasnya dunia ini."
Dia lalu tak berkata apa-apa lagi. Kini sudah hampir
sembilan bulan Adam tidak mencoba menghubungi Jennifer
lagi, tapi Jennifer tetap rajin membaca tulisan-tulisan tentang
Adam dalam surat-surat kabar atau majalah, dan
menontonnya setiap kali dia muncul di tv. Jennifer
mengingatnya terus. Betapa tidak? Anaknya merupakan
manusia hidup yang selalu mengingatkan akan adanya Adam.
Joshua sekarang sudah berumur dua tahun dan serupa benar
dengan ayahnya. Matanya yang biru sama seriusnya dengan
mata ayahnya, dan gerak-geriknya pun sama benar. Joshua
adalah jiplakan kecil dari Adam. Dia hangat, penuh rasa
sayang, dan suka bertanya.
Jennifer merasa heran waktu mendengar bahwa perkataan
yang pertama-tama bisa diucapkan Joshua adalah car-car,
waktu Jennifer pada suatu hari membawanya berjalan-jalan
dengan mobil.
Kini dia sudah bisa berbicara dengan kalimat-kalimat, dan
dia tak pernah lupa mengucapkan tolong dan terima kasih.
Pada suatu kali, waktu Jennifer mencoba menyuapinya di kursi
tingginya, Joshua berkata dengan tak sabar, "Mama, pergilah
main dengan mainan Mama sana."
308
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ken telah membelikan Joshua seperangkat alat-alat
menggambar, dan dengan rajin Joshua mulai menggambari
dinding-dinding ruang tamu.
Waktu Nyonya Mackey akan menghukumnya, Jennifer
berkata, "Jangan. Bukankah itu bisa hilang dicuci? Joshua
sedang menyatakan keinginannya."
"Hanya itu pulalah yang akan saya lakukan," dengus
Nyonya Mackey. "Akan menyatakan keinginan diri saya. Anda
akan membuat anak itu manja dan rusak."
Tetapi Joshua tidak manja. Dia banyak akal dan tuntutan,
tapi itu normal untuk anak berumur dua tahun. Dia takut pada
alat penghisap debu, binatang-binatang buas, kereta api, dan
dia takut kegelapan.
Joshua suka akan segala macam olahraga. Suatu peristiwa,
waktu mereka sedang memperhatikan dia berlarian bersama
beberapa orang temannya, Jennifer berpaling pada Nyonya
Mackey dan berkata, "Meskipun aku ibu Joshua sendiri, aku
bisa melihatnya secara objektif, Nyonya Mackey. Kurasa dia
akan menjadi seorang olahragawan ulung."
Jennifer telah mengatur kebijaksanaan untuk menghindari
setiap perkara yang mungkin membuatnya meninggalkan kota
dan pergi dari Joshua. Tetapi pada suatu pagi dia menerima
telepon yang mendesak dari Peter Fenton, seorang klien yang
memiliki sebuah perusahaan pembuatan barang-barang.
"Aku ingin membeli sebuah pabrik di Las Vegas. Bisakah
kau terbang ke sana untuk menemui pengacara-pengacara
mereka?"
"Aku akan mengutus Dan Martin," usul Jennifer. "Kau kan
tahu aku tak suka pergi ke luar kota, Peter?"
"Jennifer, kau akan bisa menyelesaikan segala-galanya
dalam dua puluh empat jam. Kau akan diantar dengan
309
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pesawat terbang perusahaan dan esok harinya kau sudah
akan kembali."
Setelah bimbang sebentar, Jennifer berkata, "Baiklah."
Dia sudah pernah pergi ke Las Vegas dan dia merasa tak
acuh. Dia tak bisa menyukai Las Vegas, tetapi juga tidak
membencinya. Orang harus melihatnya sebagai sesuatu yang
luar biasa, suatu kebudayaan tersendiri dengan gaya
bahasanya sendiri, undang-undang serta moral tersendiri pula.
Tak ada kota di dunia ini yang sama dengan kota itu. Lampulampu neon yang besar-besar menyala sepanjang malam,
akan memamerkan keanggunan istana-istananya yang hebat,
yang khusus dibangun untuk menguras dompet para turis
yang datang berbondong-bondong bagaikan tikus-tikus
ladang, dan berbaris-baris menunggu orang mengambil alih
tabungan mereka yang telah mereka penuhi dengan seksama.
Jennifer memberikan suatu daftar instruksi yang panjang
dan terperinci tentang perawatan Joshua.
"Berapa lama Anda akan pergi, Nyonya Parker?"
"Besok aku kembali."
"Aduhai!"
Esok harinya, pagi-pagi benar pesawat jet Lear milik Peter
Fenton sudah menjemput Jennifer dan menerbangkannya ke
Las Vegas. Sepanjang petang dan malam harinya dihabiskan
Jennifer untuk membicarakan kontrak itu secara terperinci.
Setelah selesai, Peter Fenton mengajak Jennifer makan malam
bersama.
"Terima kasih, Peter, tapi kurasa aku akan tinggal dalam
kamarku saja dan cepat-cepat pergi tidur. Aku akan kembali
ke New York besok pagi."
Hari itu telah tiga kali Jennifer berbicara dengan Nyonya
Mackey, dan setiap kali Nyonya Mackey meyakinkannya bahwa
310
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Joshua baik-baik saja. Dia mau makan, dia tak demam, dan
dia kelihatan senang.
"Apakah dia kehilangan aku?" tanya Jennifer.
"Dia tidak mengatakannya," desah Nyonya Mackey.
Jennifer tahu bahwa Nyonya Mackey menganggapnya
bodoh, tapi dia tak peduli. "Katakan padanya aku akan
kembali besok."
"Akan saya sampaikan pesan itu, Nyonya Parker."
Jennifer berniat untuk makan malam seorang diri di
kamarnya, tapi entah mengapa, kamar itu tiba-tiba terasa
menekan, rasanya dinding-dindingnya menjepitnya. Dia tak
bisa berhenti memikirkan Adam.
Bagaimana dia sampai bisa bercinta dengan Mary Beth dan
membuatnya hamil, padahal...
Kepura-puraan yang sering dimainkan Jennifer, bahwa
Adam-nya sedang mengadakan perjalanan bisnis dan segera
akan kembali padanya, kali ini tak berhasil. Pikiran Jennifer
selalu pada gambar Mary Beth yang memakai baju tidurnya
dari bahan renda dan Adam...
Dia harus keluar ke suatu tempat di mana banyak orang
berkumpul. Barangkali sebaiknya aku nonton suatu
pertunjukan. Dia mandi cepat-cepat, berpakaian, lalu pergi.
Di ruang pertunjukan utama, Marty Allen akan mengadakan
pertunjukan. Di depan pintu masuk untuk pertunjukan akhir,
terlihat antrian yang panjang sekali. Jennifer menyesal
mengapa dia tidak meminta pada Peter Fenton untuk
memesankan tempat di situ.
Dia mendatangi petugas di dekat pintu dan bertanya,
"Berapa lama saya harus menunggu untuk mendapatkan
sebuah meja?"
"Berapa orang dalam rombongan Anda?"
311
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya seorang diri."
"Maaf, Nona. Menyesal....”
"Tempat khususku saja, Abe," terdengar suatu suara di
sebelahnya.
Wajah petugas itu berseri-seri dan berkata, "Tentu,
Tuan Moretti. Mari silakan."
Jennifer menoleh dan terlihat olehnya mala Michael
Moretti yang hitam dan dalam itu..
"Tidak, terima kasih," kata Jennifer. "Saya....”
"Anda harus makan." Michael Moretti memegang lengan
Jennifer, dan Jennifer terpaksa berjalan di sebelah laki-laki itu,
mengikuti petugas tadi ke meja istimewa di tengah-tengah
suatu ruangan yang luas. Jennifer merasa jijik membayangkan
dia harus makan bersama Michael Moretti, tapi dia tak tahu
bagaimana dia bisa keluar dari situ sekarang tanpa
menimbulkan kekacauan. Kini menyesal benar dia tak mau
makan bersama Peter Fenton.
Mereka duduk di meja menghadap pentas, lalu petugas
berkata, "Selamat makan, Tuan Moretti, Nona."
Jennifer merasakan mata Michael Moretti lekat pada dirinya
dan dia merasa tak enak. Laki-laki itu duduk saja diam-diam,
tanpa berkata apa-apa. Michael Moretti memang seorang lakilaki yang banyak berdiam diri, laki-laki yang tak percaya pada
kata-kata, seolah-olah kata-kata hanya merupakan jebakan,
bukan suatu alat komunikasi. Kediamannya itu mencekam.
Michael Moretti menggunakan kediamannya sebagaimana
orang lain memanfaatkan kata-kata.
Waktu akhirnya dia berbicara, Jennifer terkejut karena tak
menyangka.
"Saya tak suka anjing," kata Michael Moretti. "Karena
anjing bisa mati."
312
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan kata-katanya itu seolah-olah membukakan suatu
bagian dari dirinya yang pribadi sifatnya, yang berasal dari
suatu sumber yang dalam sekali. Jennifer tak tahu bagaimana
dia harus menjawabnya.
Orang datang menyuguhkan minuman mereka, dan mereka
minum dengan berdiaman saja. Jennifer seolah-olah
mendengarkan percakapan yang tidak mereka ucapkan.
Dia memikirkan tentang kata-kata yang diucapkan laki-laki
itu tadi: Saya tak suka anjing. Karena anjing bisa mati. Dia
ingin tahu bagaimana agaknya masa kanak-kanak Michael
Moretti. Tanpa disadarinya Jennifer lalu memperhatikan lakilaki itu. Dia menarik; daya tariknya bisa membahayakan dan
mengacaukan. Dia memancarkan kekerasan, yang sewaktuwaktu bisa meledak.
Jennifer tak dapat mengatakan mengapa, tapi berada di
dekat laki-laki ini, dia jadi merasa sebagai seorang wanita
sesungguhnya. Mungkin itu disebabkan oleh cara matanya
yang hitam kelam itu memandanginya, yang kemudian
diarahkan ke tempat lain, seolah-olah takut membukakan isi
hatinya terlalu banyak. Jennifer menyadari bahwa sudah lama
dia tidak lagi memikirkan dirinya sebagai seorang wanita.
Sejak hari dia kehilangan Adam. Hanya laki-lakilah yang bisa
membuat orang merasa dirinya sebagai wanita, pikir Jennifer,
membuat dirinya merasa cantik, membuatnya merasa
digandrungi.
Jennifer merasa bersyukur Michael Moretti tak dapat
membaca pikirannya.
Beberapa orang mendatangi tempat mereka untuk
menyampaikan rasa hormat mereka pada Michael Moretti:
pengusaha-pengusaha besar, bintang-bintang film, seorang
hakim, seorang senator Amerika Serikat. Orang-orang
berkuasa yang menyatakan hormat pada orang yang
berkuasa, dan Jennifer mulai merasa betapa besarnya
pengaruh laki-laki itu.
313
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya akan memesan makanan khusus untuk kita," kata
Michael Moretti. "Sebab di sini makanannya mereka siapkan
untuk delapan ratus orang tamu. Rasanya seperti makan di
pesawat terbang saja."
Dia mengangkat tangannya dan petugas tadi segera berada
di sisinya. "Ya, Tuan Moretti. Apa yang Anda inginkan malam
ini?"
"Kami ingin Chateaubriand, merah muda dan
dihanguskan."
"Baik, Tuan Moretti."
"Pommes soufjles dan slada bayam."
"Baik, Tuan Moretti."
"Makanan penutupnya kami pesan nanti saja."
Sebotol sampanye dibawa ke meja itu, kiriman dari pemilik
tempat itu.
Jennifer mulai merasa santai, merasa senang, meskipun
tanpa dikehendakinya. Sudah lama dia tidak keluar dengan
laki-laki yang menarik. Tetapi dengan berpikiran begitu, timbul
pula pikiran lain. Mengapa aku sampai bisa menilai Michael
Moretti itu menarik? Dia seorang pembunuh, binatang tak
bermoral, tanpa perasaan.
Jennifer biasa mengenal dan membela belasan laki-laki
yang telah melakukan kejahatan yang mengerikan, tapi
menurut perasaannya tak seorang pun di antara mereka itu
yang sama berbahayanya dengan laki-laki ini. Dia telah
menanjak mencapai puncak sindikat, dan untuk mencapai hal
itu tidaklah cukup hanya dengan mengawini putri Antonio
Granelli saja.
"Selama Anda tak di tempat, saya menelepon satu, dua
kali," kata Michael. Menurut Ken Bailey, hampir setiap hari dia
314
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menelepon. "Ke mana Anda waktu itu?" Pertanyaan itu
diucapkan dengan nada santai.
"Pergi."
Lama mereka diam. "Ingatkah Anda akan tawaran yang
pernah saya ajukan pada Anda?"
Jennifer menghirup sampanye seteguk. "Jangan mulai
dengan itu lagi."
"Anda bisa mendapatkan.....”
"Sudah saya katakan saya tidak tertarik. Tak ada tawaran
yang tak bisa ditolak. Itu hanya ada dalam buku-buku, Tuan
Moretti. Saya menolak."
Michael Moretti teringat akan peristiwa yang terjadi di
rumah ayah mertuanya beberapa minggu yang lalu. Waktu itu
ada rapat keluarga, dan rapat itu tak lancar jalannya. Thomas
Colfax membantah semua yang diusulkan Michael.
Setelah Colfax pergi, Michael berkata pada ayah
mertuanya, "Colfax sudah menjadi nenek-nenek ceriwis,
kurasa sudah tiba waktunya untuk menyingkirkannya, Papa."
"Si Tommy itu orang baik. Selama bertahun-tahun ini dia
telah menyelamatkan kita dari banyak kesulitan."
"Itu sejarahnya. Sekarang tak ada lagi itu padanya."
"Lalu siapa yang akan kita ambil untuk menggantikannya?"
"Jennifer Parker."
Antonio Granelli menggeleng. "Sudah kukatakan padamu,
Michael. Tak baik membawa orang perempuan memasuki
usaha kita."
"Yang ini bukan perempuan biasa. Dia adalah seorang ahli
hukum yang terbaik di sini."
"Nantilah kita lihat," kata Antonio Granelli. "Kita lihat dulu."
315
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Michael Moretti adalah laki-laki yang terbiasa mendapatkan
apa-apa yang diingininya, dan makin kuat Jennifer
menolaknya, makin kuat pula keyakinannya untuk
mendapatkan wanita itu. Kini sedang dia duduk di sisi
Jennifer, Michael memandangi Jennifer dan berpikir, Suatu
hari kelak kau akan menjadi milikku, Manis — milikku
seutuhnya.
"Apa yang sedang Anda pikirkan?"
Michael Moretti tersenyum ringan dan lamban pada
Jennifer, dan Jennifer menyesal bertanya begitu. Sudah tiba
waktunya untuk pulang.
"Terima kasih atas makan malamnya yang enak sekali,
Tuan Moretti. Saya harus bangun pagi-pagi, jadi...."
Lampu-lampu mulai meredup dan musik memainkan lagu
pembukaan.
"Anda tak bisa pulang sekarang. Pertunjukannya akan
dimulai. Anda akan menyukai Marty Allen."
Pertunjukan itu merupakan semacam hiburan yang hanya
Las Vegas bisa menyelenggarakannya, Jennifer benar-benar
menyukainya. Segera setelah pertunjukan selesai, dia akan
pulang, pikirnya. Tetapi setelah pertunjukan usai dan Michael
Moretti mengajaknya dansa, dia menganggap tak pantas
untuk menolak. Apalagi, harus diakuinya sendiri, bahwa dia
merasa senang. Michael Moretti mahir sekali dansa, dan
Jennifer merasa santai dalam rangkulannya. Suatu kali waktu
suatu pasangan lain menabrak mereka, Michael terhimpit pada
Jennifer, dan sesaat Jennifer merasakan kejantanan laki-laki
itu. Tetapi Michael segera menjauh, dan dengan berhati-hati
menjaga jarak yang pantas.
Sesudah itu, mereka masuk ke kasino. Tempat itu luas,
dengan lampu-lampu yang terang-benderang, dan ribut.
Tempat itu dipenuhi oleh penjudi-penjudi yang asyik
memainkan bermacam-macam jenis judi. Mereka main seolah-
316
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
olah hidup mereka tergantung pada kemenangan mereka di
situ. Michael membawa Jennifer ke salah sebuah meja dadu
dan memberinya dua belas kepingan untuk pasangan.
"Mudah-mudahan Anda bernasib baik," katanya. Baik boss
maupun petugas-petugasnya memperlakukan Michael dengan
hormat. Mereka menyebutnya Mr M. dan mereka memberinya
bertumpuk-tumpuk kepingan untuk pasangan masing-masing
seharga seratus dolar, dan mereka menerima bayarannya
tidak dalam bentuk uang tunai, melainkan hanya dalam
bentuk catatan saja. Michael main dengan taruhan besar dan
dia kalah banyak, tapi dia kelihatan tenang-tenang saja.
Dengan memakai kepingan pasangan Michael, Jennifer
menang tiga ratus dolar, yang dengan paksaan diberikannya
pada Michael. Dia tak mau berhutang dalam bentuk apa pun
padanya.
Sepanjang malam itu, sekali-sekali, beberapa orang wanita
datang untuk berbasa-basi dengan Michael. Jennifer melihat
bahwa mereka semua muda dan menarik. Michael bersikap
sopan pada mereka, tapi jelas bahwa dia hanya menaruh
perhatian pada Jennifer. Tanpa dikehendakinya, Jennifer
merasa bangga dan senang.
Pada awal malam itu, Jennifer merasa letih dan masygul,
tapi Michael Moretti telah memancarkan semangat hidup yang
demikian besarnya, hingga seolah-olah tertumpah memenuhi
udara dan menyelubungi Jennifer.
Michael membawanya ke sebuah bar kecil, di mana suatu
perkumpulan musik jazz sedang main, dan setelah itu mereka
pergi lagi ke ruang duduk sebuah hotel lain untuk
mendengarkan sebuah grup penyanyi yang baru. Ke mana
pun Michael pergi, dia selalu diperlakukan seperti raja. Semua
orang mencoba untuk mendapatkan perhatiannya, untuk
menyapanya, untuk menyentuhnya, untuk menunjukkan
padanya bahwa mereka pun ada di situ.
317
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selama mereka berduaan, tak sekali pun Michael
mengucapkan perkataan yang mungkin menyakitkan hati
Jennifer. Namun, Jennifer merasa bahwa laki-laki itu
memancarkan napsu seksnya hingga Jennifer merasakannya
sebagai serangkaian gelombang yang memukulnya. Jennifer
merasa seolah-olah tubuhnya lecet-lecet dipukuli. Tak pernah
dia mengalami hal seperti itu. Perasaan itu sangat
mengganggu, namun sekaligus menyenangkan. Laki-laki itu
mempunyai gairah hewani yang buas, yang tak pernah
ditemui Jennifer sebelumnya.
Pukul empat subuh barulah Michael mengantar Jennifer
kembali ke kamar hotelnya. Waktu mereka tiba di pintu kamar
Jennifer, Michael menyalami Jennifer dan berkata, "Selamat
tidur. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa inilah malam yang
paling bahagia bagi saya selama hidup saya."
Kata-katanya itu membuat Jennifer takut.
33
Di Washington, popularitas Adam Warner makin meningkat.
Dia makin sering menjadi bahan berita dalam surat-surat
kabar dan majalah-majalah. Adam mulai mengadakan
penyelidikan mengenai sekolah anak-anak Yahudi, dan
mengetuai suatu panitia senat yang pergi ke Moskow untuk
menjumpai orang-orang yang berbeda pendapat dengan
mereka. Di surat kabar ada foto-foto tentang kedatangannya
di lapangan Terbang Sheremetyevo, sedang disalami perwiraperwira Rusia yang tak tersenyum. Waktu Adam kembali
sepuluh hari kemudian, surat-surat kabar memberikan pujianpujian hangat mengenai hasil perjalanannya.
Pemberitaan tentang dia makin meluas. Rakyat ingin
membaca tentang Adam Warner dan media massa memenuhi
selera mereka. Adam menjadi ujung tombak dalam
perombakan senat. Dia mengetuai suatu panitia yang
318
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyelidiki keadaan dalam wisma negara untuk anak-anak
terlantar, dan dia mengunjungi penjara-penjara di seluruh
negara. Dia berbicara dengan orang-orang tahanan, dengan
para pengawal maupun kepala penjara, dan setelah dia
menyerahkan laporan hasil penyelidikan panitianya, dimulailah
perombakan besar-besaran.
Bukan hanya majalah-majalah politik, majalah-majalah
wanita pun memuat berita tentang dia. Dalam majalah
Cosmopolitan, Jennifer melihat foto Adam, Mary Beth, dan
putri mereka, Samantha. Jennifer duduk di dekat perapian di
kamar tidurnya dan memperhatikan foto itu lama-lama. Mary
Beth tersenyum memandang kamera, dengan daya tarik
daerah selatan yang hangat dan manis. Putri mereka bagai
pinang dibelah dua dengan ibunya. Jennifer mengalihkan
pandangannya ke foto Adam. Dia tampak letih. Tampak garisgaris halus di sekeliling matanya, yang semula tak ada, sedang
cambangnya mulai diselingi uban. Sesaat Jennifer
membayangkan seolah-olah dia sedang melihat wajah Joshua
yang sudah dewasa. Persamaannya tak dapat dibantah,
fotografernya telah menyuruh Adam memandang kamera, dan
Jennifer merasa seolah-olah Adam sedang menatapnya.
Jennifer mencoba membaca pancaran matanya, dan dia jadi
ingin tahu apakah Adam pernah ingat padanya.
Jennifer balik lagi memandang foto Mary Beth dan putrinya.
Kemudian majalah itu dilemparkannya ke dalam perapian dan
diperhatikannya majalah itu hangus terbakar.
Adam Warner duduk di kepala meja makannya, menjamu
Stewart Needham dan enam orang tamu lainnya. Mary Beth
duduk di ujung, di seberang meja, mengobrol dengan seorang
senator lain dari Oklahoma yang istrinya bertaburan
perhiasan. Washington rupanya telah menghidupkan gairah
Mary Beth. Di sini dia penuh semangat. Dengan meningkatnya
kedudukan Adam, Mary Beth telah menjadi salah seorang
319
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nyonya rumah yang top di Washington dan dia senang sekali
dengan kedudukannya itu. Kedudukan sosial di Washington
membosankan Adam, dan dia senang bisa menyerahkan hal
itu pada Mary Beth. Istrinya pandai menjalankan tugas itu
dan Adam bersyukur.
"Di Washington ini," kata Stewart Needham, "perundinganperundingan lebih banyak terjadi di meja makan seperti ini
daripada di ruangan-ruangan resmi di kongres."
Adam memandang berkeliling meja itu, dan dia ingin
malam ini cepat berlalu. Dari luar, segala sesuatu tampak
sempurna. Di dalam segala-galanya salah. Dia menikah
dengan seorang wanita tapi dia mencintai wanita lain. Dia
terperangkap dalam suatu perkawinan dari mana dia tak bisa
membebaskan dirinya. Bila Mary Beth dulu tidak hamil, Adam
yakin dia akan melangsungkan perceraiannya. Kini sudah
terlambat, nasibnya sudah ditentukan. Mary Beth telah
memberikan seorang gadis cilik yang cantik, dan Adam
mencintai anak itu. Tapi Adam tetap tak bisa menghapuskan
Jennifer dari ingatannya.
Istri gubernur sedang berbicara dengan dia, "Kau
beruntung sekali, Adam. Kau memiliki segala-galanya dalam
dunia ini, yang kauingini, bukan?"
Adam tak sanggup menjawabnya.
34
Musim-musim datang dan pergi, dan semuanya itu berkisar
di seputar Joshua. Dialah yang merupakan pusat dari dunia
Jennifer. Dia memperhatikan anaknya itu tumbuh dan
berkembang, dari hari ke hari, dan rasanya tak terhingga
ajaibnya waktu anak itu mulai berjalan, berbicara, dan
mengeluarkan pendapatnya. Suasana hati anak itu terusmenerus berubah, kadang-kadang dia liar dan agresif dan ada
kalanya dia malu dan penuh kasih sayang. Dia menjadi risau
320
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bila Jennifer harus meninggalkannya malam hari, dan dia
masih takut akan kegelapan, karenanya Jennifer selalu
membiarkan lampu kecil menyala di kamar tidurnya malam
hari.
Waktu Joshua berumur dua tahun, dia amat menyulitkan,
benar-benar suatu penampilan 'puber Dua Tahun'. Dia
perusak, keras kepala, dan suka mengamuk. Dia suka sekali
'mengujak-utik' barang-barang. Dia merusakkan mesin jahit
Nyonya Mackey, menghancurkan kedua buah pesawat tv di
rumah dan membongkar arloji Jennifer. Dia mencampurkan
garam dengan gula dan membelai-belai dirinya bila
disangkanya dia sedang seorang diri. Ken Bailey memberi
Jennifer seekor anak anjing gembala keturunan Jerman, yang
diberi nama Max. Joshua menggigit anjing itu.
Bila Ken datang mengunjungi mereka, Joshua menyapanya
dengan berkata, "Halo! Apakah Anda punya 'begituan'?
Bolehkah saya melihatnya?"
Dalam tahun itu, mau rasanya Jennifer memberikan Joshua
dengan segala senang hati pada orang asing mana pun juga
yang sedang lewat.
Waktu berumur tiga tahun, Joshua tiba-tiba menjadi
bidadari, yang lembut dan penuh kasih sayang. Potongan
tubuhnya seperti ayahnya, dan dia suka bekerja dengan
tangan. Dia tidak lagi merusak barang-barang. Dia senang
sekali bermain di luar, memanjat dan berlari, dan mengendarai
sepeda roda tiganya.
Jennifer membawanya ke kebun binatang Bronx dan
menonton sandiwara boneka. Mereka berjalan-jalan di pantai
dan melihat festival film Marx Brothers di Manhattan, dan
setelah itu minum es krim soda di Toko Old Fashioned Mr
Jennings di lantai sembilan gedung Bonwit Teller.
Joshua menjadi seorang teman. Sebagai hadiah hari Ibu,
Joshua mempelajari lagu kesayangan ayah Jennifer — Shine
321
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
On, Harvest Moon — dan menyanyikannya untuk Jennifer.
Saat itu merupakan saat yang paling mengharukan dalam
hidup Jennifer.
Benar kata orang, pikir Jennifer, bahwa kita tidak mewarisi
dunia dari orang tua kita, kita meminjamnya dari anak-anak
kita.
Joshua sudah masuk taman kanak-kanak dan dia senang.
Malam hari setelah Jennifer pulang, mereka duduk-duduk di
depan perapian dan membaca bersama-sama. Jennifer
membaca majalah Trial Magazine dan The Barrister, sedang
Joshua membaca buku-buku bergambarnya. Jennifer
memperhatikan Joshua waktu dia bergolek di lantai, dahinya
berkerut karena sedang penuh perhatian, dan dia tiba-tiba
teringat akan Adam. Rasanya masih seperti luka yang
menganga. Ingin dia tahu, di mana Adam dan sedang apa dia.
Apa yang sedang dilakukan Adam dan Mary Beth serta
Samantha?
Jennifer berusaha untuk tetap memisahkan kehidupan
pribadinya dari kehidupan profesionalnya, dan satu-satunya
mata rantai antara kedua dunia itu adalah Ken Bailey.
Dia membawakan Joshua mainan dan buku-buku dan
memainkan berbagai permainan dengan dia. Dia seolah-olah
seorang ayah pengganti.
Pada suatu hari Minggu petang, Jennifer dan Ken berdiri di
dekat pondok di pohon, memperhatikan Joshua memanjatnya.
"Tahukah kau apa yang dibutuhkan anak itu?" tanya Ken.
"Apa?"
“Seorang ayah." Dia menoleh pada Jennifer. Ayah
kandungnya pasti brengsek sekali."
"Jangan begitu, Ken."
322
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maaf. Itu memang bukan urusanku. Itu masa lalu. Masa
depan yang menjadi pikiranku. Tak wajar dirimu hidup
seorang diri seperti....”
"Aku tidak seorang diri. Aku punya Joshua."
"Bukan itu yang kubicarakan." Didekapnya jennifer lalu
diciumnya dengan lembut. "Oh, Tuhan. Jennifer, maafkan
aku...."
Michael Moretti berbelas kali menelepon Jennifer. Jennifer
tak pernah mau menerima telepon-telepon itu. Suatu kali
Jennifer berpikir rasanya dia melihat laki-laki itu sekilas, duduk
di bagian belakang suatu ruang sidang di mana dia sedang
membela suatu perkara, tapi waktu dia melihat lagi, Michael
sudah tak ada lagi.
35
Pada suatu siang, sudah agak malam, waktu Jennifer
sedang bersiap-siap untuk meninggalkan kantor, Cynthia
berkata, "Ada seorang yang bernama Clark Holman di
telepon."
Mula-mula Jennifer ragu, tapi kemudian berkata, "Baiklah
kuterima."
Clark Holman adalah seorang pengacara, anggota
persekutuan pembela yang sah.
"Maaf, aku mengganggumu, Jennifer," katanya, "tapi kami
ada perkara, yang tak seorang pun mau menanganinya, dan
aku akan berterima kasih sekali kalau kau bisa membantu
kami. Aku tahu betapa sibuknya kau, tapi....”
"Siapa terdakwanya?"
"Jack Scanlon."
323
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer langsung mengenali nama itu karena sudah
tercantum di halaman-halaman depan surat surat kabar
selama dua hari berturu-turut. Jack Scanlon ditangkap karena
telah menculik seorang anak perempuan berumur empat
tahun da menahan anak itu sebagai sandera. Dia dikenali dari
kumpulan-kumpulan lukisan yang didapatkan polisi dari saksisaksi mata penculikan itu.
"Mengapa harus aku, Clark?"
"Scanlon yang meminta kau."
Jennifer melihat ke jam pada dinding. Dia akan terlambat
pulang. "Di mana dia sekarang?"
"Di Pusat Tahanan Metropolitan."
Jennifer mengambil keputusan cepat. "Aku akan pergi dan
berbicara dengan dia. Atur saja, ya?"
"Baik. Terima kasih banyak. Aku berhutang budi padamu."
Jennifer menelepon Nyonya Mackey. "Aku akan pulang
agak terlambat. Beri saja Joshua makan, dan suruh dia
menunggu aku."
Sepuluh menit kemudian, Jennifer sudah berada dalam
perjalanan ke kota.
Bagi Jennifer, penculikan adalah suatu kejahatan sang
paling kejam, terutama penculikan anak kecil, yang tak
berdaya. Tetapi setiap orang yang dituduh, berhak untuk
disidang betapapun mengerikannya kejahatan itu. Itulah dasar
hukum: keadilan bagi yang paling rendah sampai yang paling
tinggi.
Jennifer memperkenalkan dirinya pada pengawal di tempat
penerimaan tamu, lalu dia diantar ke kamar tamu bagi ahli
hukum.
"Akan saya ambilkan Scanlon," kata pengawal itu.
324
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa menit kemudian, dia membawa masuk seorang
laki-laki kurus, perlente, yang berumur hampir empat puluh
tahun, berjenggot pirang dan rambut berwarna pirang
keputihan. Rupanya hampir seperti Jesus.
"Terima kasih atas kedatangan Anda, Nyonya Parker,"
katanya. Suaranya halus dan lembut. "Terima kasih atas
perhatian Anda."
"Silakan duduk."
Dia duduk di kursi di hadapan Jennifer.
"Anda minta bertemu dengan saya?"
"Ya. Meskipun saya rasa hanya Tuhanlah yang bisa
menolong saya. Saya telah melakukan suatu kesalahan yang
bodoh."
Jennifer melihat pada laki-laki itu dengan jijik. "Menculik
seorang gadis kecil yang tak berdaya untuk mendapatkan
uang tebusan itu, Anda namakan 'kesalahan yang bodoh'?"
"Saya menculik Tammy bukan untuk uang tebusan."
"Oh? Lalu untuk apa Anda menculiknya?"
Jack Scanlon lama berdiam diri sebelum dia berbicara. "Istri
saya, Evelyn, meninggal waktu melahirkan anak kami. Saya
mencintainya lebih dari apa pun juga di dunia ini. Bila di muka
bumi ini ada orang suci, wanita itulah orangnya. Evelyn orang
yang tak kuat. Dokter kami menasihatkan supaya dia jangan
sampai punya anak, tapi dia tak mau mendengarkan." Dia
menekuni lantai karena malu. "Mung... mungkin sulit bagi
Anda untuk memahaminya, tapi dia berkata bagaimanapun
juga dia ingin anak, sebab dengan demikian dia akan
mempunyai sesuatu yang merupakan sebagian dari diri saya."
Jennifer sangat memahami hal itu.
Jack Scanlon berhenti berbicara, pikirannya agaknya
melayang jauh.
325
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jadi dia melahirkan?"
Jack Scanlon mengangguk. "Keduanya meninggal."
Agaknya sulit dia melanjutkan. "Beberapa lamanya, saya....
saya pikir saya akan... saya tak mau hidup tanpa dia. Saya
terus merasa penasaran bagaimana gerangan rupa anak kami
itu. Saya memimpikan terus bagaimana jadinya sekiranya
mereka berdua tetap hidup. Saya terus-menerus mencoba
memutar-balik jam ke saat sebelum Evelyn...."
Dia berhenti, suaranya tersekat oleh kepedihan hatinya.
"Saya berpaling pada Injil, dan kitab itu menyelamatkan
pikiran saya. 'Perhatikan, telah kutempatkan di hadapanmu
sebuah pintu terbuka yang tak bisa ditutup oleh siapa pun
juga’. Kemudian, beberapa hari yang lalu saya lihat seorang
anak perempuan kecil bermain-main dijalan, dan rasanya
seolah-olah Evelyn telah dilahirkan kembali. Warna mata dan
rambutnya sama dengan Evelyn. Anak itu mengangkat
mukanya, melihat saya lalu tersenyum, dan saya.... saya tahu
kedengarannya tak masuk akal.... tapi rasanya Evelyn yang
tersenyum pada saya. Saya pasti sedang kehilangan akal saya.
Saya pikir, Inilah anak perempuan yang sebenarnya dilahirkan
Evelyn. Inilah anak kami."
Jennifer dapat melihat laki-laki itu membenamkan kukunya
ke daging.
"Saya tahu itu salah, tapi saya ambil juga dia." Dia
mengangkat mukanya lalu menatap mata Jennifer. "Saya
sama sekali tak mau menyakiti anak itu."
Jennifer memperhatikannya dengan cermat, mendengarkan
baik-baik, mencari nada-nada palsu. Tapi kepalsuan itu tak
ada. Dia adalah laki-laki tersiksa.
"Bagaimana dengan surat tuntutan uang tebusan itu?"
tanya Jennifer.
326
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya tidak mengirim surat tuntutan uang tebusan.
Uanglah barang terakhir yang saya ingini di dunia ini. Yang
saya inginkan hanyalah si Kecil Tammy."
"Seseorang telah mengirim surat tuntutan uang tebusan
pada keluarga itu. Polisi terus mengatakan bahwa sayalah
yang mengirimnya, padahal bukan saya."
Jennifer mencocokkan bagian-bagian cerita itu. "Cerita
tentang penculikan itu muncul di surat-surat kabar sebelum
atau sesudah Anda ditangkap polisi?"
"Sebelumnya. Saya ingat keinginan saya agar mereka
berhenti menulis tentang hal itu. Saya ingin pergi dengan
Tammy dan saya takut orang akan menghalangi kami."
"Jadi ada orang yang membaca tentang penculikan itu dan
mencoba menerima uang tebusan itu?"
Jack Scanlon menjalin-jalinkan jarinya dengan lemah. "Saya
tak tahu. Saya hanya tahu bahwa saya ingin mati saja."
Kepedihan hatinya nyata sekali, hingga Jennifer merasa
amat terkesan olehnya. Bila dia tidak berbohong — dan hal
itu jelas terbaca di wajahnya— maka dia tak pantas mati
untuk apa yang telah dilakukannya. Dia memang harus
dihukum, tapi tidak dihukum mati.
Jennifer pun lalu mengambil keputusan. "Saya akan
mencoba menolong Anda."
"Terima kasih," kata laki-laki itu dengan tenang, "Saya
sebenarnya tak peduli lagi apa yang akan terjadi atas diri
saya."
"Saya peduli."
"Saya kuatir," kata Jack Scanlon lagi, "sa.... saya tak punya
uang untuk membayar Anda."
"Tak usah kuatirkan itu. Tolong ceritakan saja tentang diri
Anda sendiri."
327
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa yang ingin Anda ketahui?"
"Mulai dari awal. Di mana Anda dilahirkan?”
"Di North Dakota, tiga puluh lima tahun yang lalu. Saya
dilahirkan di suatu tanah pertanian. Yah, sebut sajalah begitu,
meskipun tempat itu hanya merupakan sebidang tanah kecil di
mana tak banyak tanaman mau tumbuh. Kami orang miskin.
Waktu saya berumur lima belas tahun, saya meninggalkan
rumah. Saya mencintai ibu saya, tapi saya benci pada ayah.
Saya tahu, Injil mengatakan bahwa kita berdosa kalau kita
menjelek-jelekkan orang tua kita. lapi dia orang jahat. Dia
senang melecut saya."
Jennifer bisa melihat tubuhnya menegang waktu dia
melanjutkan.
"Maksud saya, dia benar-benar suka melakukannya. Bila
saya melakukan yang sekecil-kecilnya yang dianggapnya
salah, dia lalu melecut saya dengan sebuah ikat pinggang kulit
yang memakai gesper tembaga yang besar. Kemudian saya
disuruhnya berlutut, dan mohon ampun pada Tuhan. Lama
juga saya membenci Tuhan, sehebat saya membenci ayah
saya." Dia berhenti, tak bisa berbicara, agaknya karena terlalu
dipenuhi kenangan itu.
"Jadi Anda lari dari rumah?"
"Ya. Saya pergi ke Chicago dengan menumpang-numpang.
Saya tak banyak mengenyam sekolah, tapi di rumah saya suka
membaca. Bila kedapatan Ayah, itu akan merupakan satu
alasan lagi untuk melecut saya. Di Chicago saya mendapatkan
pekerjaan di sebuah pabrik. Di situlah saya bertemu dengan
Evelyn. Tangan saya cedera kena mesin giling dan saya
dibawa orang ke rumah pengobatan, dan di sana ada Evelyn.
Dia seorang perawat." Dia tersenyum kepada Jennifer. "Dia
wanita tercantik yang pernah saya lihat. Dua minggu tangan
saya baru sembuh, dan setiap hari saya pergi menemuinya
untuk diobati. Setelah itu kami mulai bergaul. Kami
328
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyinggung soal perkawinan, tapi perusahaan kehilangan
pesanan besar dan saya bersama semua orang di bagian saya
diberhentikan. Hal itu tidak mempengaruhi Evelyn. Kami
menikah dan dia mengurus saya. Itulah yang merupakan satusatunya bahan pertengkaran kami. Saya dibesarkan dengan
citra bahwa laki-lakilah yang harus mengurus wanita. Saya
mendapat pekerjaan sebagai sopir truk dan hasilnya bagus.
Satu-satunya hal yang tak kami sukai adalah bahwa kami
terpisah, kadang-kadang sampai seminggu lamanya. Di luar
itu, kami benar-benar bahagia. Kemudian Evelyn hamil."
Tubuhnya tampak bergetar. Tangannya mulai gemetar.
"Evelyn dan putri kami meninggal." Air matanya mengalir di
pipinya. "Saya tak mengerti mengapa Tuhan berbuat begitu.
Dia tentu punya alasan, tapi saya tak tahu apa alasan itu."
Tubuhnya terayun-ayun ke depan dan ke belakang di
kursinya. Tanpa menyadari apa yang dilakukannya, lengannya
bersilang di dadanya, seolah-olah menahan kesedihannya.
''Aku akan menuntunmu dan mengajarimu bagaimana cara
menjalani hidup; aku akan menasihatimu.
Kursi listrik tidak akan mendapatkan orang ini, pikir
Jennifer.
"Saya akan kembali untuk menemui Anda besok” Jennifer
berjanji padanya.
Uang tebusan tahanan diputuskan dua ratus ribu dolar.
Jack Scanlon tak punya uang, jadi Jenniffer yang membayar
untuknya. Scanlon dilepas dari rumah tahanan pusat, dan
Jennifer menemukan sebuah penginapan kecil di West Side ke
mana dia bisa pindah. Jennifer memberinya pula seratus dolar
untuk biaya permulaan hidupnya.
"Saya tak tahu bagaimana caranya," kata Jack Scanlon,
"tapi setiap sen akan saya kembalikan pada Anda. Saya akan
mulai mencari pekerjaan. Saya tak peduli apa itu. Saya mau
mengerjakan apa saja."
329
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu Jennifer meninggalkannya, laki-laki itu asyik mencari
pekerjaan di antara iklan-iklan yang membutuhkan tenaga.
Penuntut umum federal, Earl Osborne, adalah seorang lakilaki yang besar dan tegap, dengan muka bulat yang halus dan
tingkah laku ramah-tamah yang bisa menyesatkan. Jennifer
terkejut melihat Robert Di Silva ada di kantor Osborne.
"Kudengar kau yang akan menangani perkara ini," kata Di
Silva. "Rupanya tak ada yang terlalu kotor bagimu, ya?"
Jennifer menoleh pada Earl Osborne. "Apa perlunya dia di
sini? Bukankah ini perkara federal?"
"Jack Scanlon mengambil anak itu dari mobil orang
tuanya," sahut Osborne.
"Pencurian mobil, perampokan besar," kata Di Silva.
Jennifer berpikir, apakah Di Silva akan berada di situ,
sekiranya dia tak terlibat. Dia berpaling kembali pada Earl
Osborne.
"Saya ingin berunding," kata Jennifer. "Klien saya...."
Earl Osborne mengangkat tangannya. "Tidak ada
kesempatan. Yang satu ini akan kami adili sampai tuntas."
"Ada beberapa keadaan....”
"Anda bisa menceritakan itu semua dalam sidang
pendahuluan."
Di Silva tertawa mengejek padanya.
"Baiklah," kata Jennifer. "Sampai bertemu di pengadilan."
Jack Scanlon mendapatkan pekerjaan di sebuah bengkel
servis kendaraan di West Side, dekat penginapannya, dan
Jennifer mampir di situ menjenguknya.
"Sidang pendahuluannya akan diadakan lusa," Jennifer
memberi tahu. "Aku akan berusaha supaya pemerintah setuju
330
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memberikan pertimbangan agar kau dituduh bersalah dengan
tuduhan yang lebih ringan. Kau tetap masih harus menjalani
hukuman, Jack, tapi aku akan berusaha supaya hukumannya
menjadi seringan mungkin."
Bayangan rasa terima kasih di wajah laki-laki itu rasanya
sudah cukup merupakan imbalan.
Atas anjuran Jennifer, Jack Scanlon telah membeli setelan
yang pantas untuk dipakai pada sidang pendahuluan.
Rambutnya sudah dipangkas dan jenggotnya dipendekkan,
Jennifer puas dengan penampilannya.
Mereka melalui tata cara pengadilan. Jaksa Negeri Di Silva
hadir. Setelah Earl Osborne mengajukan kesaksiannya dan
mengajukan tuntutan, Hakim Barnard berpaling pada Jennifer.
"Adakah yang akan Anda katakan, Nona Parker?"
“Ada, Yang Mulia. Saya ingin membebaskan pemerintah
dari biaya sidang. Dalam perkara ini ada keadaan-keadaan
yang meringankan yang belum dikemukakan. Saya
mengajukan permohonan agar klien saya didakwa atas
kesalahan yang lebih ringan."
"Tidak bisa," kata Earl Osborne. "Pemerintah tidak akan
menyetujuinya."
Jennifer menoleh pada Hakim Barnard. "Bisakah hal ini kita
bahas di ruang kerja Yang Mulia?"
"Boleh. Tanggal sidang akan saya tentukan setelah saya
mendengar apa yang akan dikatakan pembela."
Jennifer berpaling pada Jack Scanlon yang berdiri di situ,
kebingungan.
"Kau bisa kembali ke pekerjaanmu," kata Jennifer padanya.
"Nanti aku mampir untuk menyampaikan hasil pembicaraan
kami."
331
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki itu mengangguk lalu berkata dengan tenang,
"Terima kasih, Nona Parker."
Jennifer memperhatikannya, lalu berbalik dan
meninggalkan ruang sidang.
Jennifer, Earl Osborne, Robert Di Silva, dan Hakim Barnard
duduk di ruang kerja hakim.
Osborne berkata pada Jennifer, "Aku tak mengerti
bagaimana kau sampai minta pertimbangan dari aku. Menculik
karena meminta uang tebusan adalah suatu kesalahan besar.
Klienmu bersalah dan dia harus membayar apa yang telah
dilakukannya."
"Jangan percaya begitu saja semua yang kau baca di surat
kabar, Earl. Jack Scanlon tak ada hubungan apa-apa dengan
surat tuntutan uang tebusan itu."
“Kau sedang mencoba membohongi siapa? Kalau tidak
untuk uang tebusan untuk apa?"
"Akan kuceritakan," kata Jennifer.
Lalu diceritakan Jennifer pada mereka. Diceritakannya
tentang tanah pertanian keluarga Jack, tentang pukulanpukulan, tentang Jack Scanlon yang jatuh cinta pada Evelyn
dan mengawininya, dan bagaimana dia kehilangan istri dan
anaknya waktu istrinya itu melahirkan.
Mereka mendengarkan tanpa berkata apa-apa, dan setelah
Jennifer selesai, Robert Di Silva berkata, "Jadi, Jack Scanlon
menculik anak orang karena anak itu mengingatkannya pada
anak yang sebenarnya akan dimilikinya? Dan istri Jack Scanlon
meninggal waktu melahirkan?"
"Benar." Jennifer berpaling pada Hakim Barnard. "Yang
Mulia, saya rasa dia bukanlah orang yang pantas dihukum
mati."
"Aku sependapat dengan kau," kata Di Silva tanpa diduga.
332
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer memandangnya dengan terkejut.
Kemudian Di Silva mengeluarkan beberapa lembar kertas
dari tas kerjanya. "Sekarang aku ingin menanyakan sesuatu,"
katanya. "Bagaimana perasaanmu kalau orang yang begini
yang dihukum mati?" Dia mulai membaca sebuah dokumen.
"Frank Jackson, umur tiga puluh delapan tahun. Lahir di Nob
Hill, San Francisco. Ayahnya seorang dokter, ibunya seorang
tokoh terkemuka dalam masyarakat. Waktu berumur empat
belas tahun, Jackson mulai menggunakan obat-obat bius, lari
dari rumah, tertangkap di Height Ashbury, dan dikembalikan
pada orang tuanya. Tiga bulan kemudian Jackson
membongkar ruang penyimpanan obat-obat ayahnya, mencuri
semua obat-obat bius yang ada di situ, lalu lari. Tertangkap di
Seattle atas tuduhan memiliki dan menjual obat-obat
terlarang, dihukum di penjara remaja, dibebaskan waktu dia
berumur delapan belas tahun, ditangkap lagi sebulan
kemudian atas tuduhan perampokan bersenjata dan rencana
untuk membunuh..."
Jennifer merasa perutnya tegang. "Apa hubungannya itu
semua dengan Jack Scanlon?"
Earl Osborne tersenyum masam padanya. "Jack Scanlon
adalah Frank Jackson."
"Saya tak percaya."
Di Silva berkata, "Lembaran kuning ini datang dari FBI satu
jam yang lalu. Jackson adalah seorang artis jempolan dan
pembohong, hal mana merupakan kelainan jiwanya. Selama
sepuluh tahun terakhir ini dia telah ditangkap atas tuduhantuduhan, mulai dari menikam, membakar dengan sengaja,
sampai merampok bersenjata. Dia telah menjalani hukuman di
Penjara Joliet. Dia tak pernah punya pekerjaan tetap dan dia
tak pernah kawin. Lima tahun yang lain ditangkap oleh FBI
dengan tuduhan penculikan. Dia menculik seorang anak
perempuan berumur tiga tahun dan mengirim surat tuntutan
uang tebusan. Jenazah anak perempuan itu ditemukan di
333
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebuah perhutanan dua bulan kemudian. Menurut laporan
pemeriksaan mayat, tubuhnya sudah membusuk, tapi ada
tanda-tanda tusukan pisau di seluruh tubuhnya. Dia diperkosa
dan disiksa."
Jennifer tiba-tiba merasa mual.
"Jackson dibebaskan berdasarkan alasan-alasan teknis yang
dicari-cari oleh seorang ahli hukum yang gila-gilaan."
Waktu Di Silva berbicara lagi, nadanya mencemooh.
"Itukah laki-laki yang kauinginkan bebas berkeliaran di jalan?"
"Boleh aku melihat dokumen itu?"
Tanpa berkata apa-apa Di Silva memberikannya pada
Jennifer, dan Jennifer membacanya. Orang itu adalah Jack
Scanlon. Tak dapat diragukan lagi Fotonya yang dibuat polisi,
terjepit pada kertas dokumen berwarna kuning itu. Dia tampak
masih muda waktu itu dan dia tak berjenggot, tapi tak
mungkin keliru lagi, itulah dia. Jack Scanlon ? Frank Jackson —
telah membohonginya habis-habisan. Dikarang-karangnya
kisah hidupnya dan Jennifer mempercayai setiap
perkataannya. Laki-laki itu begitu meyakinkan hingga Jennifer
sudah tak mau lagi bersusah payah meminta Ken Bailey untuk
menyelidikinya.
"Boleh aku melihatnya?" kata Hakim Barnard.
Jennifer menyerahkan dokumen itu padanya. Hakim itu
melihatnya sepintas, lalu memandang Jennifer, "Bagaimana?"
"Saya tak mau membelanya."
Di Silva berpura-pura terkejut dan mengangkat alisnya.
"Anda membuat saya terkejut sekali, Nona Parker. Anda selalu
berkata bahwa semua orang berhak dibela oleh seorang ahli
hukum."
"Memang semua orang," sahut Jennifer datar. "Tapi saya
punya peraturan tetap yang keras: saya tak mau membela
334
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang yang berbohong pada saya. Tuan Jackson harus
mencari seorang pembela lain."
Hakim Barnard mengangguk. "Pengadilan yang akan
mengatur hal itu."
Osborn berkata, "Saya minta supaya jaminan
pembebasannya segera ditarik kembali, Yang Mulia. Saya rasa
dia terlalu berbahaya untuk bebas berkeliaran."
Hakim Barnard berpaling pada Jennifer. "Pada saat ini Anda
masih pembelanya yang resmi, Nona Parker. Apakah Anda
berkeberatan?"
"Tidak," kata Jennifer tegang. "Tidak ada keberatan apaapa."
"Saya akan memerintahkan untuk menarik kembali
kebebasannya."
Hakim Lawrence Waldman telah mengundang Jennifer
untuk menghadiri undangan perjamuan makan malam amal.
Jennifer merasa gersang setelah semua kejadian petang itu
dan sebenarnya lebih suka pulang dan menghabiskan malam
itu dengan tenang bersama Joshua, tapi dia tak mau
mengecewakan hakim itu. Dia mengganti pakaiannya di
kantor, dan pergi menemui Hakim Waldman di Waldorf-Astoria
di mana perjamuan itu diselenggarakan.
Perjamuan itu merupakan pesta besar-besaran, yang
dihibur oleh bintang-bintang Hollywood, tapi Jennifer tak bisa
menikmatinya. Pikirannya melayang ke tempat lain. Hakim
Waldman memperhatikannya.
"Adakah sesuatu yang tak beres, Jennie?"
Jennifer memaksa dirinya untuk tersenyum. "Tidak, hanya
suatu masalah bisnis, Lawrence."
Dalam bisnis apa aku ini sebenarnya, pikir Jennifer,
berurusan dengan penjahat-penjahat kemanusiaan,
335
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemerkosa-pemerkosa, pembunuh-pembunuh, dan penculikpenculik? Jennifer lalu memutuskan bahwa malam itu baik
sekali untuk bermabuk-mabukan.
Seorang petugas mendatangi meja mereka dan berbisik di
dekat telinga Jennifer. "Maaf, Nona Parker, ada telepon untuk
Anda."
Jennifer seketika merasakan ada bahaya. Satu-satunya
orang yang tahu ke mana bisa menghubunginya adalah
Nyonya Mackey. Dia hanya mungkin menelepon kalau ada
sesuatu yang tak beres.
"Maafkan aku," kata Jennifer.
Dia mengikuti petugas itu menuju ke sebuah kantor kecil di
luar ruangan pesta itu.
Jennifer mengangkat gagang telepon dan terdengar suara
seorang laki-laki berbisik, "Keparat kau! Kau menipuku!"
Tubuh Jennifer mulai gemetar. "Siapa ini?" tanyanya.
Padahal sebenarnya dia sudah tahu.
"Kausuruh polisi menangkapku."
"Itu tak benar! Aku....”
"Kau berjanji akan menolongku."
"Aku akan menolongmu. Di mana...?”
"Bangsat pembohong!" Suaranya makin merendah hingga
sulit bagi Jennifer untuk menangkap kata-katanya. "Kau akan
menerima balasannya. Lihat saja!"
"Tunggu du....”
Hubungan diputuskan. Jennifer menggigil. Ada sesuatu
yang sama sekali tak beres. Frank Jackson alias Jack Scanlon
telah berhasil lolos dan dia menyalahkan Jennifer atas usaha
penangkapan itu. Bagaimana dia tahu di mana dia berada?
336
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pasti dia mengikutinya. Mungkin dia sedang menunggunya di
luar sekarang.
Jennifer mencoba menguasai tubuhnya yang gemetar,
mencoba berpikir, membayangkan apa yang terjadi. Laki-laki
itu rupanya telah melihat polisi yang datang akan
menangkapnya dan dia telah melarikan diri. Tak penting
bagaimana caranya. Yang penting adalah bahwa laki-laki itu
telah menyalahkannya atas kejadian itu.
Hakim Waldman melihat wajah Jennifer. "Ada apa
sebenarnya?"
Jennifer menceritakan padanya dengan singkat. Hakim itu
terperanjat.
"Ya, Tuhan! Maukah kau kuantar pulang?"
"Aku tak apa-apa, Lawrence. Tolong antar saja aku sampai
ke mobilku, aku bisa sendiri."
Diam-diam mereka menyelinap ke luar dari ruang pesta
yang besar itu, dan Hakim Waldman menunggui Jennifer
sampai petugas membawakan mobilnya.
"Apakah kau yakin bahwa kau bisa tanpa aku?"
"Terima kasih. Aku yakin polisi akan berhasil
menangkapnya sebelum pagi hari. Tak banyak orang serupa
dia berkeliaran. Selamat malam."
Jennifer berangkat, sambil meyakinkan dirinya bahwa tak
ada orang mengikutinya. Setelah dia yakin bahwa dia seorang
diri, dia membelok ke Jalan Ekspres Long Island, dan pulang.
Dia melihat ke kaca spion terus, mengamat-amati mobilmobil di belakangnya. Suatu kali mobilnya dihentikannya di
tepi jalan, membiarkan semua kendaraan melewatinya, dan
setelah jalan di belakangnya kosong, baru dia meneruskan
lagi. Kini dia merasa lebih aman. Pasti tidak akan lama lagi
337
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
polisi berhasil menangkap Frank Jackson. Sekarang pasti
sudah dimulai pencaharian menyeluruh atas diri penjahat itu.
Jennifer membelok ke jalan masuk ke rumahnya.
Pekarangan dan rumahnya yang seharusnya terangbenderang, kini gelap. Dia terbelalak memandangi rumahnya
dari mobil, dengan rasa tak percaya, sedang pikirannya mulai
tegang penuh rasa kuatir. Dengan ketakutan yang amat
sangat, dibukanya pintu mobilnya cepat-cepat lalu berlari ke
pintu depan. Pintu itu terbuka sedikit. Jennifer terhenti di pintu
itu sebentar, penuh ketakutan, lalu masuk ke lorong rumah.
Kakinya tersandung sesuatu yang sangat dan lembut, dan
napasnya jadi tersekat. Dinyalakannya lampu. Max terbaring di
permadani yang berlumuran darah. Leher anjing itu telah
disembelih dari telinga ke telinga sebelahnya. "Joshua!"
teriaknya. "Nyonya Mackey!" Jennifer berlari dari kamar ke
kamar sambil menyalakan lampu-lampu dan memanggilmanggil nama mereka, jantungnya berdebar demikian kuatnya
hingga dia merasa sulit bernapas. Dia berlari menaiki tangga
ke kamar Joshua. Tempat tidur anak itu bekas ditiduri, tapi
kini kosong. Jennifer mencari ke semua kamar di rumah itu,
lalu berlari turun lagi, pikirannya buntu. Frank Jackson pasti
sudah lama tahu di mana dia tinggal. Dia pasti mengikutinya
pulang pada suatu malam, atau setelah dia mendatanginya di
bengkel servis itu. Dia telah mengambil Joshua dan akan
membunuhnya untuk menghukum Jennifer, ibunya.
Waktu dia melewati kamar cuci, dia mendengar bunyi halus
menggaruk-garuk dari arah kamar pakaian. Perlahan-lahan
Jennifer berjalan ke arah pintu kamar kecil itu lalu menarik
pintunya. Di dalamnya gelap gulita.
"Jangan sakiti lagi saya," terdengar suara merintih.
Jennifer menyalakan lampu. Nyonya Mackey terbaring di
lantai,, kaki dan tangannya terikat kuat dengan kawat. Dia
hanya setengah sadar.
Cepat-cepat Jennifer berlutut di sisinya. "Nyonya Mackey!"
338
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wanita tua itu mengangkat mukanya memandang Jennifer
dan matanya mulai bisa melihat. "Dia mengambil Joshua,"
katanya terisak.
Perlahan-lahan sekali Jennifer membuka simpul kawat yang
sudah menggigit ke dalam daging kaki dan tangan Nyonya
Mackey. Dagingnya lebam dan berdarah. Jennifer membantu
pelayannya itu berdiri, Nyonya Mackey menangis dengan
histeris. "Saya tak bisa mencegahnya. Sa.... saya sudah
mencobanya: Saya...."
Dering telepon membelah ruangan itu. Kedua orang wanita
itu terdiam. Telepon berdering terus, dan bunyinya terasa
jahat. Jennifer berjalan ke arah telepon itu lalu mengangkat
gagangnya.
"Aku ingin tahu apakah kau sudah tiba di rumah," kata
suara itu.
"Di mana anakku?"
"Tampan benar anak itu, ya?" kata suara itu lagi.
"Tolonglah! Akan kulakukan apa saja. Apa saja yang kau
mau!"
"Kau telah melakukan segalanya, Nona Parker."
"Jangan! Tolong!" Jennifer terisak tanpa daya.
"Aku senang mendengar kau menangis," bisik suara itu.
"Kau akan menemukan anakmu kembali, Nona Parker. Baca
saja surat-surat kabar besok."
Dan hubungan pun diputuskan.
Jennifer berdiri tak bergerak, berjuang supaya tak pingsan.
Dia mencoba berpikir. Frank Jackson telah mengatakan, Kau
akan menemukan anakmu kembali, Nona Parker. Itu berarti
bahwa Joshua masih hidup. Kalau tidak, dia tentu tidak
mengatakan demikian. Jennifer menyadari bahwa dia hanya
menduga-duga berdasarkan kata-kata yang digunakan,
339
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berusaha untuk menghibur dirinya. Dia harus melakukan
sesuatu secepatnya.
Nalurinya yang pertama menyuruhnya menelepon Adam,
meminta bantuannya. Bukankah anaknya juga yang diculik,
anaknya yang akan dibunuh. Tapi dia tahu bahwa Adam tidak
akan bisa membantu apa-apa. Dia berada di tempat yang dua
ratus tiga puluh lima mil jauhnya. Hanya tinggal dua pilihan
lagi: yang pertama adalah menelepon Robert Di Silva,
mengatakan padanya apa yang telah terjadi, dan meminta
agar dia membentuk jaringan untuk mencoba menangkap
Frank Jackson. Oh, Tuhan! Itu akan makan waktu terlalu
lama.
Pilihan kedua adalah FBI. Mereka sudah terlatih untuk
menangani suatu penculikan. Masalahnya, ini tidak sama
dengan penculikan yang lain. Tak ada surat tuntutan uang
tebusan yang bisa mereka telusuri, tak ada kesempatan untuk
mencoba memperangkap Frank Jackson dan menyelamatkan
jiwa Joshua. FBI selalu bergerak menurut salurannya yang
biasa dan teguh pada garisnya. Pada saat seperti ini tidak
akan menolong. Dia harus mengambil keputusan cepat...
selagi Joshua masih hidup. Robert Di Silva atau FBI? Aduh,
alangkah sulitnya memikirkannya.
Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengambil keputusan.
Dicarinya nomor telepon. Jari-jarinya gemetar demikian
hebatnya hingga dia harus memutar tiga kali untuk
mendapatkan nomor yang tepat.
Waktu seorang laki-laki menjawab, Jennifer berkata, "Saya
ingin berbicara dengan Michael Moretti."
36
"Maaf, Nyonya. Ini Restoran Tony. Kami tak kenal Michael
Moretti."
340
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tunggu!" pekik Jennifer. "Jangan putuskan hubungan!"
Dia memaksa dirinya untuk berbicara setenang mungkin. "Ini
penting sekali. Saya... seorang temannya. Nama saya Jennifer
Parker. Saya perlu segera berbicara dengan dia."
"Tapi, Nyonya, sudah saya katakan...."
“Berikan padanya nama saya dan nomor telepon saya ini."
Lalu dia menyebutkan nomor teleponnya. Jennifer mulai
menggagap demikian hebatnya, hingga dia sulit berbicara.
"Ka... ka...katakan padanya...."
Hubungan diputuskan orang.
Dengan perasaan beku Jennifer meletakkan gagang
telepon. Dia kembali pada salah satu dari pilihannya semula.
Atau kedua-duanya. Tak ada alasan mengapa Robert Di Silva
dan FBI tak bisa menyatukan kekuatan mereka untuk
menemukan Joshua. Yang membuatnya merasa akan gila
adalah kesadarannya, betapa kecil kemungkinan mereka bisa
menemukan Frank Jackson. Waktunya sudah tak ada lagi.
Baca saja surat-surat kabar besok. Kata-katanya yang terakhir
itu yang bersifat memutuskan, yang membuat Jennifer yakin
bahwa dia tidak akan meneleponnya lagi, tidak akan memberi
kesempatan pada siapa pun untuk menelusuri dan
mencarinya. Tapi dia harus berbuat sesuatu. Dia akan
mencoba Di Silva. Dia menjangkaukan tangannya ke pesawat
telepon lagi. Telepon itu berdering waktu tangannya sampai
ke situ, hingga dia terperanjat.
"Di sini Michael Moretti."
"Michael! Aduh, Michael, tolong aku, tolonglah! Aku...." Dia
lalu terisak tanpa bisa menguasai dirinya. Gagang telepon
terlepas dari tangannya, lalu diambilnya lagi cepat-cepat, takut
kalau-kalau Michael memutuskan hubungannya. "Michael?"
"Aku di sini." Suaranya tenang. "Tenangkan dirimu, dan
ceritakan ada apa."
341
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"A.... aku...." Dia menghirup napas cepat-cepat dan dalam,
berusaha untuk menghentikan gemetarnya. "Anakku, Joshua.
Dia.... dia diculik. Dia akan membunuhnya."
"Tahukah kau siapa yang menculiknya?"
"Ya. Namanya Frank.... Frank Jackson." Jantungnya
berdebar kuat.
"Ceritakan apa yang terjadi." Suaranya tenang dan penuh
percaya diri.
Jennifer memaksa dirinya untuk berbicara lambat-lambat,
menceritakan peristiwa yang telah terjadi.
"Bisakah kau melukiskan bagaimana Jackson itu?"
Jennifer membayangkan garis besar gambaran laki-laki itu
dalam angannya. Gambaran itu disalinnya menjadi kata-kata,
lalu Michael berkata, "Bagus. Tahukah kau di mana dia pernah
dipenjarakan?"
"Di penjara Joliet. Katanya dia akan membunuh...."
"Di mana bengkel servis tempatnya bekerja itu?"
Diberikannya alamat itu pada Michael.
"Tahukah kau nama penginapan tempatnya tinggal selama
ini?"
"Ya. Tidak." Jennifer tak ingat. Dibenamkan kukunya ke
dahi sampai berdarah, memaksa dirinya untuk mengingatingat. Michael menunggu dengan sabar.
Tiba-tiba Jennifer ingat. "Namanya penginapan Travel Well.
Letaknya di 10th Avenue. Tapi aku yakin dia tak ada lagi di
sana."
"Kita lihat saja."
"Aku ingin anakku kembali hidup-hidup."
342
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Michael Moretti tidak menyahut, dan Jennifer tahu
mengapa.
"Lalu bila kutemukan Jackson....?"
Jennifer menarik napas dalam-dalam, gemetar, sebelum
berkata, "Bunuh dia."
"Jangan jauh-jauh dari teleponmu."
Hubungan diputuskan. Jennifer mengembalikan gagang
telepon.
Aneh, dia merasa agak tenang, seolah-olah sesuatu telah
berhasil dilaksanakan. Sebenarnya tak ada alasan dia bisa
begitu yakin pada Michael Moretti. Ditinjau dari sudut logika,
perbuatannya itu sembrono dan tak masuk akal; tapi hal ini
tak ada hubungannya dengan logika. Nyawa anaknya dalam
bahaya. Dengan sengaja dia telah menyuruh seorang
pembunuh menangkap seorang pembunuh lain. Bila tak
berhasil... Jennifer teringat akan gadis kecil yang telah
diperkosa dan diperlakukannya dengan kekerasan.
Jennifer pergi mengurus Nyonya Mackey. Luka-luka dan
lecetnya dirawatnya, lalu dibawanya ke tempat tidur. Jennifer
menawarkan obat penenang pada wanita itu, tapi Nyonya
Mackey menolak obat itu.
"Saya tak bisa tidur," tangisnya. "Aduh, Nyonya Parker!
Anak itu diberinya pil tidur."
Jennifer menatapnya ketakutan.
Michael Moretti duduk di meja kerjanya, menghadapi tujuh
orang yang sudah disuruhnya datang. Dia sudah memberikan
perintah-perintahnya pada tiga orang yang pertama.
Dia berpaling pada Thomas Colfax. "Tom, tolong gunakan
pengaruh koneksimu. Pergi datangi Kapten Notaras dan
mintalah semua keterangan mengenai Frank Jackson. Aku
memerlukan semua yang ada pada mereka tentang orang itu."
343
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi kita lalu menggunakan hubungan baik kita, Mike.
Kurasa...."
"Jangan membantah! Kerjakan saja!"
"Baiklah," kata Colfax kaku.
Michael menoleh pada Nick Vito. "Selidiki bengkel servis
tempat Jackson bekerja. Cari tahu apakah dia memasang
tukang pukul di sana, kalau-kalau dia punya teman."
Pada Salvatore Fiore dan Joseph Colela, "Pergi ke
penginapan Jackson. Sekarang dia mungkin sudah tak ada lagi
di sana, tapi tanyakan kalau-kalau dia berteman dengan
seseorang di sekitar itu. Aku ingini tahu siapa-siapa
temannya." Dia melihat ke arlojinya. "Sekarang sudah tengah
malam. Kalian! kuberi waktu delapan jam untuk menemukan
Jackson."
Orang-orang itu keluar.
Michael berseru lagi pada mereka, "Aku tak mau sampai
terjadi sesuatu atas diri anak itu. Lapor terus. Aku menunggu."
Michael Moretti memperhatikan mereka pergi, kemudian
mengangkat gagang salah satu pesawat telepon di mejanya
dan mulai memutar.
Pukul satu subuh.
Kamar itu tak besar, tapi rapi sekali. Frank Jackson suka
akan kerapian. Dia merasa bahwa itu merupakan bagian dari
hidupnya. Kerai-kerai dil jendela sudah diturunkan dan
kepingan-kepingan
kerai itu dipasang tegak supaya tak seorang pun bisa
melihat ke dalam kamar. Pintu terkunci dan dipasang rantai,
lalu ditindihnya pula dengan kursi. Dia berjalan ke tempat
tidur di mana Joshua terbaring. Frank Jackson telah
memasukkan dengan paksa tiga butir pil tidur ke dalam
kerongkongan anak itu, dan dia masih tidur nyenyak. Jackson
344
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah laki-laki yang tak mau untung-untungan dalam segala
sesuatu, maka kaki dan tangan Joshua diikatnya dengan
kawat yang sama dengan yang dipakainya untuk mengikat
Nyonya Mackey. Jackson memandangi anak yang sedang tidur
itu, dan dia dilanda oleh rasa sedih.
Mengapa orang-orang selalu memaksa dirinya melakukan
hal-halyang mengerikan ini? Dia sebenarnya laki-laki lembut
yang suka damai, tapi bila semua orang menentang kita, bila
semua orang menyerang kita, kita tentu harus membela diri.
Sulitnya, semua orang selalu menilainya rendah. Mereka tak
menyadari bahwa dia lebih pintar dari mereka semua, sampai
semuanya terlambat.
Setengah jam sebelum polisi tiba, dia sudah tahu bahwa
mereka akan menangkapnya. Waktu itu dia sedang mengisi
bensin sebuah mobil Chevrolet Camaro, dan dilihatnya
majikannya masuk ke dalam kantor untuk menerima telepon.
Jackson tak bisa mendengar percakapannya, tapi itu tak perlu.
Dia bisa melihat majikannya mencuri-curi melihat padanya
sedang dia berbicara berbisik di telepon. Frank Jackson tibatiba tahu apa yang telah terjadi. Polisi akan datang
menangkapnya. Si Parker celaka itu telah menipunya, dan
telah menyuruh polisi mengurungnya. Perempuan itu sama
saja dengan yang lain. Majikannya masih berbicara di telepon
waktu Frank Jackson cepat-cepat mengambil jaketnya, lalu
menghilang. Tak sampai tiga menit diperlukannya untuk
menemukan sebuah mobil yang tak terkunci di jalan dan
menggunakan kawat untuk menghidupkan mesinnya.
Beberapa saat kemudian dia sudah dalam perjalanan menuju
ke rumah Jennifer Parker.
Jackson benar-benar harus mengagumi kecerdasannya
sendiri. Mana ada orang yang akan ingat untuk mengikuti
wanita itu, untuk mengetahui di mana dia tinggal. Hal itu
dilakukannya pada hari Jennifer membebaskannya dari
tahanan. Dia memberhentikan mobilnya di seberang rumah
345
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer dan terkejut melihat Jennifer disambut oleh seorang
anak laki-laki kecil di pintu pagar rumah itu. Diperhatikannya
kedua beranak itu, dan sudah pada saat itulah dia merasakan
bahwa anak itu mungkin bisa dimanfaatkannya bila perlu.
Anak itu merupakan berkat yang tak disangka, bolehlah
disebut jaminan nasib baiknya.
Jackson tersenyum sendiri mengingat betapa ketakutannya
pelayan tua keparat itu. Dia merasa senang waktu
mengikatkan kawat ke pergelangan dan mata kaki wanita tua
itu. Tidak, sebenarnya dia tak suka. Dia merasa terlalu keras.
Itu dilakukannya karena perlu sekali. Pelayan itu menyangka
bahwa dia akan memperkosanya. Perempuan itu membuatnya
jijik. Sebenarnya semua perempuan menjijikkan, kecuali
ibunya yang bagaikan orang suci itu. Semua perempuan kotor,
tak suci, bahkan kakaknya sendiri yang pelacur itu. Hanya
anak-anak yang murni. Dia ingat akan gadis cilik yang
diculiknya terakhir. Anak itu cantik, rambutnya keriting,
panjang, dan berwarna pirang, sayangnya dia harus
merupakan balasan atas dosa-dosa ibunya. Ibu anak itu
membuat Jackson sampai dipecat dari pekerjaannya.
Orang-orang suka membuat kita sampai tak bisa mencari
nafkah dengan halal, lalu bila kita melanggar hukum mereka
yang bodoh itu, kita dihukumnya. Yang laki-laki pun jahat
juga, tapi perempuanlah yang paling jahat. Mereka itu seperti
babi-babi yang mengotori tempat suci dari tubuh kita. Lihat
saja Clara, pelayan rumah makan yang akan dibawanya ke
Kanada itu. Gadis itu cinta padanya. Gadis itu menyangka
betapa terhormatnya dia, karena dia tak pernah
menyentuhnya. Kalau saja dia tahu! Bayangan bercintaan
dengan dia saja telah membuat Jackson muak. Tapi dia
terpaksa harus membawa gadis itu ke luar negeri, karena
polisi mencari laki-laki yang seorang diri. Dia akan mencukur
jenggotnya dan memotong rambutnya, dan begitu dia berhasil
melewati perbatasan, Clara akan disingkirkannya. Itu tentu
akan menyenangkan sekali.
346
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Frank Jackson berjalan ke tempat sebuah kopor karton
yang sudah rusak, di atas rak barang-barang. Dibukanya
kopor itu lalu dikeluarkannya sebuah kotak perkakas dari situ.
Dia mengambil paku-paku dan tukul. Barang-barang itu
diletakkannya di atas meja kecil di sisi tempat tidur, di sebelah
anak yang sedang tidur itu. Lalu dia masuk ke kamar mandi
dan mengangkat sebuah jerigen bensin berisi dua galon, dari
bak mandi. Dibawanya ke kamar tidur dan diletakkannya di
lantai. Joshua akan dibakarnya hingga menyala. Tapi itu pun
setelah dia disalib dulu.
Pukul dua subuh.
Berita itu sudah tersebar di seluruh New York dan ke
seluruh negeri. Bermula di bar-bar dan rumah-rumah hiburan.
Sepatah kata yang diucapkan dengan berhati-hati di sana sini,
dibisikkan ke telinga yang siap dengar. Dimulai sebagai suatu
tetes dan meluas ke restoran-restoran murahan dan diskotik
yang ribut, serta ke tempat-tempat penjualan majalah yang
buka sepanjang malam. Berita itu didengar oleh sopir-sopir
taksi, sopir-sopir truk, dan gadis-gadis yang berkeliaran
tengah malam. Berita itu bagaikan sebutir kerikil yang
dijatuhkan ke dalam sebuah danau yang dalam dan gelap,
yang menimbulkan lingkaran riak yang makin lama makin
meluas dan menyebar. Dalam beberapa jam saja, semua
orang di jalanan tahu bahwa Michael Moretti menginginkan
info secepatnya. Tak banyak orang yang diberi kesempatan
untuk membantu Michael Moretti. Inilah kesempatan emas
untuk seseorang, karena Moretti adalah orang yang tahu
menunjukkan penghargaannya. Berita yang tersebar itu
menyatakan bahwa dia sedang mencari seorang laki-laki kurus
berambut pirang yang mirip Jesus. Orang-orang pun mulai
menggali ingatannya.
Pukul dua lewat seperempat subuh. Joshua Adam Parker
mulai bergerak dalam tidurnya dan Frank Jackson
mendekatinya. Dia belum membuka piama anak itu. Jackson
347
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memeriksa apakah paku-paku dan tukul masih ada di tempat
dan siap pakai. Penting sekali untuk bertindak cermat dalam
hal ini. Dia akan memaku tangan dan kaki anak itu sebelum
kamar dibakarnya. Ia bisa saja melakukan hal itu ketika anak
itu tidur tadi, tapi itu salah. Anak itu perlu bangun dulu untuk
melihat apa yang sedang terjadi, untuk mengetahui bahwa dia
dihukum karena dosa-dosa ibunya. Frank Jackson melihat
arlojinya. Pukul setengah delapan, Clara akan menjemputnya
di penginapan itu. Masih ada lima jam dan lima belas menit.
Masih banyak sekali waktu.
Frank Jackson duduk dan memperhatikan Joshua, dan satu
kali dia bahkan mengelus dengan lembut rambut anak kecil
itu.
Pukul tiga subuh.
Telepon-telepon yang pertama mulai diterima.
Ada dua buah pesawat di meja Michael Moretti, dan bila
yang sebuah diangkatnya, yang sebuah berdering pula.
"Aku telah mendapatkan info tentang laki-laki itu, Mike.
Beberapa tahun yang lalu dia melakukan perampokan di
Kansas City bersama Bigjoe Ziegler dan Mei Cohen."
"Aku tak perlu tahu apa yang dilakukannya beberapa tahun
yang lalu. Di mana dia sekarang?"
Bigjoe mengatakan sudah enam bulan dia tak mendengar
tentang laki-laki itu lagi. Aku akan mencoba menghubungi Mei
Cohen."
"Lakukan!"
Berita telepon yang berikutnya pun tidak menggembirakan.
"Aku sudah pergi ke penginapan Jackson. Dia sudah keluar.
Dia membawa sebuah kopor berwarna coklat dan sebuah
jerigen memuat dua galon yang mungkin berisi bensin.
Petugas di situ tak tahu ke mana dia."
348
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bagaimana dengan bar-bar di sekitar tempat itu"
“Salah seorang penjaga bar mengenali lukisan dirinya, tapi
katanya orang itu tak sering ke situ. Hanya dua atau tiga kali
dia ke situ sehabis bekerja."
“Seorang diri?"
"Menurut penjaga bar itu, ya. Agaknya dia tak tertarik pada
gadis-gadis di situ."
"Selidiki bar-bar tempat kaum gay”
Baru saja Michael meletakkan gagang telepon, telepon itu
sudah berdering lagi. Kali ini dari Salvatore Fiore.
"Colfax sudah berbicara dengan Kapten Notaras. Petugas
barang-barang sitaan polisi mempunyai catatan atas adanya
surat gadai atas nama milik pribadi Frank Jackson. Aku sudah
mendapatkan nomor surat gadainya dan nama toko
tempatnya menggadaikan. Toko itu dimiliki oleh seorang
Yunani, Gus Stavros, yang menadah barang-barang curian."
"Sudah kauselidiki toko itu?"
"Besok pagi baru bisa kami selidiki, Mike. Toko itu tutup.
Aku...."
Michael Moretti marah sekali. "Kita tak bisa menunggu
sampai pagi! Berangkat segera ke sana!"
Ada telepon dari Joliet. Michael sulit mengikuti
pembicaraannya karena orang yang menelepon baru saja
mengalami pembedahan jakun, dan suaranya seolah-olah
berasal dari dasar sebuah kotak.
"Teman satu sel Jackson bernama Mickey Nicola. Mereka
bersahabat karib."
"Tahu di mana Nicola itu sekarang?"
349
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, terakhir saya dengar dia berada di suatu tempat di
bagian timur. Dia teman kakak si Jackson. Kami tak punya
alamat perempuan itu."
"Apa alasan penangkapan Nicola?"
"Karena perampokan barang-barang perhiasan.”
Pukul setengah empat subuh.
Toko pegadaian itu terletak di Spanish Harlem di Second
Avenue dan 124th Street. Toko itu merupakan bangunan
bertingkat dua yang tak menarik; tokonya di bawah dan
tempat tinggal di tingkat atas.
Gus Stavros terbangun oleh cahaya lampu senter yang
disorotkan ke mukanya. Secara otomatis dia menjangkau
tombol alarm di sisi tempat tidurnya.
"Lebih baik jangan," kata suatu suara.
Cahaya lampu senter itu dialihkan dan Gus Stavros duduk
di tempat tidurnya. Dia melihat kedua laki-laki yang berdiri di
kiri-kanannya dan tahu bahwa peringatan tadi memang benar.
Yang seorang sebesar raksasa dan yang seorang lagi katai.
Stavros merasa seakan-akan penyakit asmanya akan
menyerang.
"Pergilah ke lantai bawah dan ambil apa saja yang kalian
mau," katanya dengan napas sesak. "Aku tidak akan
bergerak."
Si Raksasa, Joseph Colella, berkata, "Bangun. perlahanlahan."
Gus Stravros bangkit dari tempat tidurnya, berhati-hati,
tidak sampai membuat suatu gerakan mendadak.
Si Kecil, Salvatore Fiore, menyodorkan secarik kertas ke
hidungnya. "Ini nomor suatu surat gadai. Kami mau melihat
barangnya."
350
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik."
Gus Stavros turun ke lantai bawah, diikuti oleh kedua lakilaki tadi. Baru enam bulan yang lalu Stavros menyuruh pasang
suatu sistem alarm yang beragam. Ada lonceng yang bisa
ditariknya dan ada pula tempat-tempat tersembunyi di lantai
yang bisa diinjaknya, yang akan menjamin datangnya
bantuan. Tapi dia tidak melakukan satu pun dari
kemungkinan-kemungkinan itu karena nalurinya mengatakan
bahwa dia sudah akan mati sebelum siapa pun sempat datang
padanya. Dia tahu bahwa satu-satunya kesempatannya adalah
memberikan kedua laki-laki itu apa saja yang mereka ingini.
Dia hanya berdoa jangan sampai dia mati gara-gara serangan
asma celakanya, setelah laki-laki itu pergi.
Dinyalakannya lampu-lampu di lantai bawah dan mereka
semua berjalan ke arah pintu depan. Gus Stavros tak tahu apa
yang sedang terjadi, tapi dia sadar bahwa bahaya yang
mengancamnya bisa jauh lebih besar. Bila kedua laki-laki itu
datang semata-mata untuk merampoknya, mereka bisa saja
membersihkan isi toko itu tadi dan sudah pergi sekarang. Tapi
mereka agaknya hanya tertarik pada satu macam barang. Dia
ingin tahu bagaimana mereka itu bisa menghindari sistem
alarm baru yang hebat, yang terpasang di pintu-pintu dan
jendela-jendela, tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya.
"Bergerak terus," kata Joseph Colella.
Gus melihat ke nomor surat gadai itu lagi, lalu mulai
mencari arsipnya. Dia menemukan apa yang dicarinya,
mengangguk dengan puas, lalu pergi ke sebuah brankas besar
yang bisa dimasuki orang, membukanya, dengan kedua orang
itu tetap dekat di belakangnya. Stavros mencari di sepanjang
rak lemari, sampai dia menemukan sebuah amplop kecil.
Sambil berbalik pada kedua laki-laki itu, dibukanya amplop itu
lalu dikeluarkannya sebentuk cincin bermata berlian besar
yang berkilauan ditimpa sinar lampu dari atas.
351
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ini dia," kata Gus Stavros. "Saya memberinya lima ratus
dolar untuk itu." Cincin itu bernilai paling kurang dua puluh
ribu dolar.
"Kau memberikan lima ratus dolar pada siapa." tanya
Salvatore Fiore.
Gus Stavros mengangkat bahunya. "Seratus orang
langganan datang kemari setiap hari. Nama di amplopnya
tertulis John Doe."
Entah dari mana, Fiore tiba-tiba mengeluarkan sepotong
pipa timah, lalu menghantamkannya dengan bengis ke hidung
Gus Stavros. Laki-laki itu jatuh ke lantai sambil menjerit
kesakitan, menimpa darahnya sendiri.
Dengan tenang Fiore bertanya, "Siapa katamu yang
membawanya?"
Gus Stavros terengah mencari napas, berkata, "Saya tak
tahu namanya. Dia tak menyebutkan namanya. Sumpah mati."
"Bagaimana, rupanya?"
Darah mengalir ke dalam kerongkongan Gus Stavros
demikian derasnya hingga dia hampir tak bisa berbicara, tapi
dia tahu bahwa kalau dia pingsan sebelum dia sempat
berbicara, dia tidak akan pernah bangun lagi.
"Coba saya ingat-ingat dulu," dia memohon.
Stavros mencoba memusatkan ingatannya, tapi kepalanya
pusing sekali karena kesakitan, hingga sulit baginya. Dia
memaksa dirinya untuk mengingat langganan yang masuk
waktu itu, yang kemudian mengeluarkan cincin itu dari sebuah
kotak dan memperlihatkannya padanya. Sekarang dia ingat.
"Ra... rasanya dia pirang dan kurus kering...." Dia tersedak
karena darahnya. "Bantu saya berdiri."
Salvatore Fiore menyepak rusuknya. "Bicara terus."
352
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dia berjenggot, jenggot pirang....”
"Ceritakan tentang permata cincin itu. Dari mana itu?"
Dalam puncak kesakitannya pun, Gus Stavros masih
bimbang. Bila dia berbicara, dia akan mati kelak. Kalau tidak,
dia akan mati saat ini. Dia memutuskan untuk menunda
kematiannya selama mungkin.
"Permata itu dari Toko Tiffany."
"Siapa yang bekerja sama dengan si Pirang itu?"
Gus Stavros merasa lebih sulit bernapas. "Mickey Nicola."
"Di mana kami bisa menemukan Nicola?"
"Saya tak tahu. Di.... dia sudah lari dengan seorang gadis di
Brooklyn."
Fiore mengangkat kakinya dan menonjok hidung Stavros
lagi. Gus Stavros menjerit kesakitan.
"Siapa nama pelacur itu?" tanya Joseph Colella.
"Jackson. Blanche Jackson."
Pukul setengah lima pagi.
Rumah itu terletak jauh menjorok ke dalam, dikelilingi
sebuah pagar kayu kecil berwana putih dengan sebuah kebun
yang terpelihara baik-baik di depannya. Salvatore Fiore dan
Joseph Colella menginjak-injak bunga-bunga itu dan berjalan
terus ke pintu belakang. Tak sampai lima detik, mereka sudah
berhasil membukanya. Mereka masuk lalu berjalan ke arah
tangga ke lantai atas. Dari sebuah tempat tidur di atas,
mereka mendengar bunyi tempat tidur berderak-derak dan
suara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kedua lakilaki itu mengeluarkan pistol mereka, lalu perlahan-lahan
menaiki tangga.
Terdengar suara perempuan berkata, "Aduhai! Kau hebat
sekali, Mickey! Lebih kuat lagi, Sayang."
353
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Seluruhnya untukmu, Manis. Jangan hentikan dulu."
"Aaahh, tidak," erang yang perempuan. "Mari kita...."
Perempuan itu mengangkat mukanya, lalu berteriak. Yang
laki-laki menggeliat. Dia membuat gerakan menggapai ke
bawah bantal, tapi kemudian mengurungkan niatnya.
"Baiklah," katanya. "Dompetku ada dalam saku celanaku di
kursi itu. Ambillah, lalu angkat kaki cepat-cepat. Aku sedang
sibuk."
"Bukan dompetmu yang kami ingini, Mickey," kata
Salvatore Fiore.
Kemarahan di wajah Mickey Nicola berubah menjadi
sesuatu yang lain. Dia duduk di tempat tidur iiu, bergerak
dengan berhati-hati sambil mencoba memperhitungkan
kemungkinan. Yang perempuan menarik selimut sampai
menutupi dadanya, wajahnya membayangkan kemarahan
bercampur ketakutan.
Dengan berhati-hati Nicola mengayunkan kakinya ke sisi
tempat tidur, lalu duduk di tepinya, siap melompat. Napsu
birahinya sudah hilang sama sekali. Dia memperhatikan kedua
laki-laki itu, menantikan kesempatan.
"Mau apa kalian?"
"Apakah kau bekerja sama dengan Frank Jackson?"
"Persetan dengan kalian."
Joseph Colella menoleh pada temannya. "Tembak saja
bolanya yang dua buah itu."
Salvatore Fiore mengangkat pistolnya lalu membidik.
"Tunggu!" teriak Mickey Nicola. "Gila kalian ini!" Dia melihat
ke mata laki-laki kecil itu lalu cepat-cepat berkata, "Ya, aku
bekerja sama dengan Jackson."
"Mickey!" teriak perempuan itu marah.
354
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki itu menoleh dengan kasar. "Tutup mulutmu! Apa
kausangka aku akan mau jadi jembel tak bertenaga?"
Salvatore Fiore menoleh pada perempuan itu dan berkata,
"Kau kakak si Jackson, ya?"
Wajah perempuan itu membayangkan kemarahan amat
sangat. "Tak pernah mendengar nama itu."
Fiore mengangkat pistolnya dan makin mendekati tempat
tidur. "Kalian kuberi waktu dua detik untuk berbicara, kalau
tidak, kalian akan hancur di dinding itu."
Ada sesuatu dalam suara itu yang membuat perempuan itu
beku ketakutan. Fiore mengangkat pistolnya lagi dan wajah
perempuan itu jadi pucat-pasi.
"Katakan saja apa yang ingin mereka ketahui," seru Mickey.
Pistol mendekat terus sampai menekan payudara
perempuan itu.
"Jangan! Ya! Frank Jackson itu adikku."
"Di mana kami bisa menemukannya?"
"Aku tak tahu. Aku tak bertemu dengan dia. Demi Tuhan
aku tak tahu! Aku...."
Tangan Fiore menekan picu pistol. "Clara!" pekik
perempuan itu. "Clara yang tahu! Tanyakan pada Clara!"
"Siapa Clara?" tanya Colella.
"Di... dia pelayan bar, kenalan Frank."
"Di mana kami bisa bertemu dengan dia?"
Kali ini tak ada yang ragu. Kata-kata itu keluar dengan
mudahnya. "Dia bekerja di sebuah bar yang bernama The
Shakers di Queens." Perempuan itu lalu menggigil.
355
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Salvatore memandang kedua insan itu, lalu berkata dengan
sopan, "Kalian bisa meneruskan permainan cinta kalian
sekarang. Selamat menikmati."
Dan kedua laki-laki itu pun pergilah. Pukul setengah enam
pagi.
Clara Thomas, yang berasal dari Thomachevsky, sudah
hampir bisa memenuhi apa yang diimpikan seumur hidupnya.
Dia bersenandung dengan senangnya sambil mengisi kopor
kartonnya dengan pakaian yang akan diperlukannya di
Kanada. Dia sudah biasa bepergian dengan laki-laki, sebelum
itu, tapi yang ini lain. Ini akan merupakan perjalanan bulan
madunya. Frank Jackson tidak seperti seorang pun diantara
laki-laki yang pernah dikenalnya. Laki-laki yang datang ke bar,
yang suka meraba-rabanya, mencubit bokongnya, tak lebih
dari binatang. Frank Jackson lain. Dia seorang pria terhormat.
Clara menghentikan pekerjaannya sebentar untuk mengingat
perkataan itu lagi: pria terhormat. Dia tak pernah berpikir
begitu sebelumnya, tapi itulah Frank Jackson. Dia baru empat
kali bertemu dengan Frank
Selama hidupnya, tapi dia sudah tahu bahwa dia mencintai
laki-laki itu. Sejak semula dia sudah tahu bahwa laki-laki itu
pun tertarik padanya, karena dia selalu duduk dalam ruang
kecilnya. Dan setelah kedatangannya yang kedua kali, laki-laki
itu mengantarnya pulang, setelah bar tutup.
Aku harus mendapatkannya, pikir Clara dengan puas,
kalaupun aku masih bisa mendapatkan seorang laki-laki muda
setampan itu.
Dia berhenti sebentar berbenah, pergi ke cermin lemari
pakaian, memperhatikan dirinya. Mungkin dia agak terlalu
gemuk dan warna rambutnya agak terlalu merah, tapi dengan
berpantang dia akan bisa mengurangi beberapa kilogram
kelebihan beratnya itu, dan dia akan lebih berhati-hati kalau
mencat rambutnya lain kali. Secara keseluruhan, dia tidak
terlalu kecewa dengan apa yang dilihatnya. Pelacur tua ini
356
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih kelihatan bagus, katanya sendiri. Dia tahu bahwa Frank
Jackson ingin menidurinya, meskipun laki-laki itu tak pernah
menyentuhnya. Pria itu memang benar-benar luar biasa. Ada
semacam — Clara mengerutkan dahinya mencari perkataan
yang tepat — semangat yang bermutu pada dirinya. Clara
dibesarkan dalam keluarga Katolik yang baik, dan dia tahu
bahwa dia mencemarkan agama bila dia berpikiran demikian,
tapi bagaimanapun Frank Jackson mengingatkannya pada
Jesus. Dia ingin tahu bagaimana kiranya Frank di tempat tidur.
Yah, bila Frank pemalu, dialah yang akan mengajarkan
caranya. Frank telah membicarakan rencana mereka akan
menikah, begitu mereka tiba di Kanada. Impiannya telah
menjadi kenyataan. Clara melihat ke arlojinya dan insaf bahwa
dia harus bergegas. Dia sudah berjanji akan menjemput
Frank di penginapannya pukul setengah delapan.
Clara melihat kedua laki-laki itu melalui cermin waktu
mereka memasuki kamar tidurnya. Entah darimana mereka
muncul. Seorang raksasa dan seorang kerdil. Clara melihat
terus waktu keduanya berjalan ke arahnya.
Laki-laki yang kecil melihat ke kopornya. "Akan pergi ke
mana kau, Clara?"
"Itu bukan urusanmu. Ambil saja apa yang kauingini, dan
pergi dari sini. Penggal leherku bila dalam kamar ini ada
barang yang berharga lebih dari sepuluh dolar."
"Aku tahu sesuatu yang bisa membuat lehermu
terpenggal," si Raksasa berkata.
"Ambil saja, Bangsat!" bentak Clara. "Kalau ini akan
merupakan soal pemerkosaan, baiknya kuberi tahu saja kalian
bahwa aku sedang dalam perawatan dokter karena penyakit
kelamin."
"Kami tidak akan menyakitimu," kata Salvatore Fiore. "Kami
hanya ingin tahu di mana Frank Jackson."
357
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka melihat perubahan pada wanita itu. Tubuhnya tibatiba mengejang dan di wajahnya seolah-olah terpasang kedok.
"Frank Jackson?" Suaranya mengandung teka-teki. "Aku tak
kenal orang yang bernama Frank Jackson."
Salvatore Fiore mengeluarkan sebatang pipa timah dari
sakunya dan maju selangkah mendekatinya.
"Aku tak takut," kata Clara. "Aku....”
Lengan Fiore melesat ke wajah Clara, dan disertai rasa
sakit yang hebat Clara merasakan beberapa buah giginya
patah-patah dan terkumpul dalam mulutnya bagai kerikil
halus. Dibukanya mulutnya akan berbicara dan darah pun
mengalir ke luar. Kini orang yang besar yang mengangkat
pipanya.
"Jangan! Jangan!" katanya dengan mulut bagai tersumbat.
"Di mana kami bisa menemukan Frank Jackson?" tanya
Joseph Colella dengan sopan.
"Frank ada.... ada...."
Clara membayangkan pacarnya yang manis dan lembut itu
berada dalam tangan kedua binatang buas ini. Mereka akan
menyakitinya dan nalurinya mengatakan bahwa Frank tidak
akan bisa menanggung rasa sakit itu. Dia terlalu perasa. Kalau
saja dia menemukan jalan untuk menyelamatkannya, tentu
pacarnya itu akan berterima kasih padanya seumur hidup.
"Aku tak tahu."
Salvatore Fiore maju lagi dan Clara mendengar bunyi
kakinya berderak patah, bersamaan dengan rasa sakit yang
tak terperikan. Dia jatuh ke lantai, tak mampu berteriak
karena mulutnya penuh darah.
Joseph Colella berdiri di atasnya dan berkata dengan
senang, "Kau barangkali tak mengerti. Kami tidak akan
membunuhmu. Kami hanya akan terus mematahkan tulang-
358
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belulangmu. Bila kami sudah selesai, kau akan tinggal seperti
tahi kucing saja nanti. Percaya atau tidak?"
Clara percaya. Frank Jackson tidak akan mau melihatnya
lagi. Dia akan kehilangan pacarnya itu gara-gara kedua
bangsat ini. Tidak akan ada lagi impian yang menjadi
kenyataan, tidak akan ada perkawinan. Sekarang si Kecil yang
maju dengan pipa timahnya.
"Jangan, jangan," erang Clara. "Frank ada.... ada di
penginapan Brookside di Prospect Avenue. Dia....."
Dia pingsan.
Joseph pergi ke pesawat telepon lalu memutar suatu
nomor.
Michael Moretti menjawab. "Ya?"
"Penginapan Brookside di Prospect Avenue. Kamikah yang
harus mendatanginya?"
"Jangan. Aku akan menemui kalian di sana. Jaga supaya
dia tak pergi."
"Dia tidak akan ke mana-mana."
Pukul setengah tujuh.
Anak itu mulai bergerak lagi. Laki-laki itu memperhatikan
anak itu membuka matanya. Anak itu melihat kawat di
pergelangan dan di kakinya, lalu menengadah ke Frank
Jackson, dan dia lalu teringat kembali.
Inilah laki-laki yang menjejalkan pil-pil itu ke
kerongkongannya, lalu menculiknya. Joshua tahu tentang
penculikan-penculikan dari tv. Polisi akan datang dan
menyelamatkannya dan memasukkan laki-laki ini ke penjara.
Joshua sudah bertekad untuk tidak menunjukkan rasa
takutnya, karena dia ingin menceritakan pada ibunya betapa
beraninya dia.
359
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ibu saya akan datang membawa uang itu," Joshua
meyakinkan laki-laki itu, "jadi Anda tak perlu menyakiti saya."
Frank Jackson mendekati tempat tidur itu, lalu tersenyum
pada anak itu. Benar-benar cantik anak ini. Dia akan lebih
suka membawa anak ini ke Kanada daripada membawa Clara.
Frank Jackson melihat ke arlojinya dengan enggan. Sudah
waktunya membenahi barang-barangnya.
Anak itu mengangkat tangannya yang terikat, darahnya
sudah membeku.
"Tolonglah, lepaskan ikatan ini," pintanya dengan sopan.
"Saya tidak akan lari."
Frank Jackson suka mendengar kesopanan anak ini
berbicara. Nyata bahwa dia anak yang punya aturan. Padahal
anak-anak zaman sekarang sama sekali tak tahu sopan
santun. Mereka berlari saja berkeliaran di jalan-jalan seperti
binatang liar.
Frank Jackson masuk ke kamar mandi di mana dia telah
meletakkan kembali jerigen bensin supaya tidak mengotori
permadani di ruang tamu. Dia bisa membanggakan diri dalam
memperhatikan soal-soal terperinci seperti itu. Dibawanya
jerigen itu ke kamar tidur lalu diletakkannya. Dia pergi ke sisi
anak itu, diangkatnya tubuh yang terikat itu lalu
dibaringkannya di lantai. Kemudian diambilnya tukul dan dua
buah paku besar, lalu berlutut di sisi anak itu.
Joshua Parker memperhatikannya dengan mata lebar. "Apa
yang akan Anda lakukan dengan benda-benda itu?"
"Sesuatu yang akan membuatmu amat berbahagia.
Pernahkah kau mendengar tentang Jesus Kristus?"
Joshua mengangguk. "Tahukah kau bagaimana dia mati?"
"Disalib."
360
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus. Kau anak cerdas. Kita tak punya salib sekarang,
jadi kita harus melakukannya dengan apa yang ada."
Mata anak itu mulai membayangkan ketakutan amat
sangat.
Frank Jackson berkata, "Tak ada yang perlu ditakutkan.
Jesus pun tak takut. Kau tak boleh takut."
"Saya tak ingin menjadi Jesus," bisik Joshua. "Saya mau
pulang."
"Aku akan mengirimmu pulang." Frank Jackson berjanji.
"Kau akan kukirim pulang kepada Jesus."
Frank Jackson mengeluarkan sehelai sapu tangan dari saku
belakang celananya, lalu mendekatkannya ke mulut anak itu.
Joshua mempertautkan giginya kuat-kuat.
"Jangan membuatku marah."
Frank Jackson menekankan ibu jari dan telunjuknya di pipi
Joshua, memaksanya membuka mulut. Sapu tangan tadi
disumpalkan ke dalam mulutnya lalu melekatkan sepotong
plester untuk menahan sapu tangan itu. Joshua menegangkan
tangannya yang terikat kawat, dan tangan itu mulai berdarah
lagi. Frank Jackson mengelus luka yang terbuka lagi itu.
"Ini darah Kristus," katanya dengan lembut.
Diangkatnya salah satu tangan anak itu, dibalikkannya lalu
diletakkannya di lantai. Kemudian diambilnya sebuah paku.
Dengan sebelah tangannya ditempelkannya paku itu ke
telapak tangan Joshua, sedang yang sebelah lagi mengambil
tukul. Lalu paku tadi ditukulkannya ke lantai menembusi
tangan anak ilu.
Pukul tujuh lewat seperempat pagi.
Mobil mewah Michael Moretti yang berwarna hitam,
tertahan di Jalan Ekspres Brooklyn Queens, oleh sebuah truk
pembawa sayuran yang telah menumpahkan muatannya
361
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hingga berserakan di jalan. Hal itu menyebabkan lalu lintas
macet.
"Ambil jalan yang di sebelah sana dan lewati mobil itu,"
perintah Michael Moretti pada Nick Vito.
"Ada mobil polisi di depan, Mike."
“Pergi datangi mobil itu dan katakan pada siapa saja yang
sedang bertugas bahwa aku akan berbicara dengannya."
"Baik, Bos."
Nick Vito keluar dari mobil lalu berjalan bergegas ke mobil
patroli jalan itu. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan
seorang sersan polisi. Michael Morreti menurunkan kaca pintu
mobil itu lalu mengulurkan tangannya. Tangan itu berisi lima
lembar uang bernilai seratus dolar.
"Saya harus cepat-cepat, Saudara."
Dua menit kemudian, mobil polisi itu, dengan lampu merah
yang menyala, menuntun mobil mewah itu melewati
kekacauan di jalan. Setelah mereka bebas dari kemacetan lalu
lintas, sersan tadi keluar dari mobil polisi dan berjalan ke arah
mobil Michael Moretti.
"Perlukah saya menuntun mobil Anda ke sebuah tempat,
Tuan Moretti?"
"Tidak, terima kasih," kata Michael. "Jumpai saya hari
Senin." Pada Nick Vito dia berkata, "Jalan terus!"
Pukul setengah delapan pagi.
Lampu neon di depannya menerangi papan nama yang
bertulisan:
PENGINAPAN BROOKSIDE
SINGLE - DOUBLE
SEWA HARIAN ATAU MINGGUAN
362
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
PELAYANAN MEMUASKAN
Joseph Colella dan Salvatore Fiore duduk dalam mobil
mereka yang diparkir di seberang bungalow nomor tujuh.
Beberapa menit sebelumnya, mereka telah mendengar bunyi
tukul dari dalam, jadi mereka tahu bahwa Frank Jackson
masih ada di situ.
Seharusnya kita melompat saja dan membunuhnya secara
mendadak, pikir Fiore. Tapi instruksi Michael Moretti berbunyi
lain.
Mereka duduk bersandar menunggu.
Pukul delapan kurang seperempat pagi.
Di dalam bungalow nomor tujuh, Frank Jackson sedang
melakukan persiapan-persiapannya yang terakhir. Anak lakilaki itu telah mengecewakannya. Dia telah pingsan. Semula
Jackson ingin menunggu sampai Joshua sadar kembali,
sebelum memukulkan paku-paku berikutnya, tapi dia sudah
terlambat. Diangkatnya jerigen bensin, lalu dipercikkannya
bensin ke tubuh anak itu dengan berhati-hati, jangan sampai
mengenai muka yang bagus itu. Dia sempat membayangkan
tubuh di bawah piama itu dan ingin supaya dia masih sempat
untuk.... ah, tidak, itu bodoh sekali. Setiap saat Clara mungkin
tiba. Dia sudah harus siap berangkat bila perempuan itu tiba.
Dia merogoh sakunya, mengeluarkan kotak korek api lalu
diletakkannya dengan rapi di sebelah jerigen bensin, tukul,
dan paku-paku. Orang-orang selalu tidak memikirkan betapa
pentingnya kerapian.
Frank Jackson melihat ke arlojinya lagi dan berpikir apa
gerangan yang menghambat Clara.
Pukul delapan kurang sepuluh menit pagi.
Di luar bungalow nomor tujuh, mobil hitam mewah berhenti
mendadak hingga tergelincir, dan Michael Moretti melompat
363
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke luar. Kedua laki-laki dalam mobil yang pertama
mengikutinya.
Joseph Colella menunjuk ke bungalow nomor tujuh. "Dia
ada di dalam situ."
"Bagaimana dengan anak itu?"
Orang yang besar itu mengangkat bahunya. “Entah ya.
Gorden-gordennya tertutup semua."
"Apakah kami harus masuk dan mengambilnya sekarang?"
tanya Salvatore Fiore.
"Tinggal di sini."
Kedua laki-laki itu melihat padanya dengan terkejut. Dia
adalah pemimpin tertinggi. Dia punya anak buah yang bisa
mengambil langkah-langkah untuknya sementara dia duduk
bersandar dengan aman. Tapi sekarang dia masuk sendiri. Itu
salah.
"Bos, Sal dan aku bisa...” kata Joseph Colella.
Tapi Michael Moretti sudah berjalan menuju ke pintu
bungalow nomor tujuh, sambil memegang sebuah pistol yang
dipasang alat peredam. Dia berhenti sebentar untuk
mendengarkan, lalu mundur dan menendang dengan suatu
tendangan yang kuat sekali hingga pintu terbuka.
Dalam satu detik yang menegangkan, Moretti melihat
suasana di dalam: laki-laki berjenggot itu sedang berlutut di
dekat anak kecil itu — tangan anak itu terpaku di lantai,
sedang kamar itu berbau bensin. Laki-laki berjenggot itu
menoleh ke pintu dan menatap Moretti. Kata-kata terakhir
yang terucapkan olehnya adalah, "Rupanya bukan Cla...."
Peluru Moretti yang pertama mengenai tengah-tengah
dahinya. Pelurunya yang kedua menghancurkan
tenggorokannya, dan pelurunya yang ketiga menembusi
364
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jantungnya. Tapi waktu itu dia sudah tidak merasakan apaapa lagi.
Michael Moretti pergi ke pintu lalu melambai kedua laki-laki
yang masih menunggu di luar. Mereka bergegas masuk ke
pondok itu. Michael berlutut di dekat anak itu dan memegang
nadinya. Nadi itu terasa lemah dan tak teratur, tapi anak itu
masih hidup. Michael menoleh pada Joseph Colella. "Telepon
Dokter Prone. Katakan kita sedangi dalam perjalanan ke
rumahnya."
Pukul setengah sepuluh pagi. Pada saat telepon berdering,
Jennifer cepat-cepat mengangkat gagangnya dan
menggenggamnya erat-erat. "Halo."
Terdengar suara Michael Moretti berkata, "Aku akan
mengantarkan anakmu pulang."
Joshua mulai sadar dari tidurnya. Jennifer membungkuk,
merangkulnya, dan mendekapnya dengan lembut. Waktu
Michael menggendongnya masuk ke rumah, dia masih tidur.
Waktu Jennifer melihat tubuh Joshua yang tak sadar,
pergelangan dan mata kakinya dibalut tebal, dan tubuhnya
terbungkus kain kasa, Jennifer hampir-hampir akan gila.
Michael juga membawa dokter, dan orang tua itu
menghabiskan setengah jam untuk meyakinkan Jennifer
bahwa Joshua akan sembuh kembali.
"Tangannya akan sembuh," kata dokter meyakinkannya.
"Hanya akan tinggal bekas luka yang kecil saja, untungnya tak
ada syaraf atau serat-serat yang rusak. Luka-luka bekas
bensinnya hanya merupakan lecet saja. Tubuhnya sudah saya
mandikan dengan air mineral. Dalam beberapa hari ini saya
akan datang untuk memeriksanya terus. Percayalah, dia tidak
akan apa-apa."
Sebelum dokter itu pergi, Jennifer memintanya untuk
mengobati Nyonya Mackey.
365
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Joshua telah ditidurkan lagi dan Jennifer tetap menunggu di
sisinya, menungguinya untuk menenangkannya bila dia
terjaga. Anak itu bergerak, lalu matanya terbuka.
Waktu dia melihat ibunya, dia berkata dengan letih, "Aku
sudah yakin Mama akan datang. Sudahkah Mama memberi
laki-laki itu uang tebusannya?"
Jennifer hanya mengangguk, dia tak sanggup berbicara.
Joshua tersenyum, "Mudah-mudahan dia membeli permen
terlalu banyak dengan uang itu lalu sakit perut. Jadi lucu,
kan?"
"Lucu sekali, Sayang," bisik Jennifer. "Tahukah kau apa
yang akan kita lakukan berdua minggu depan? Aku akan
membawamu ke....."
Joshua tidur lagi.
Berjam-jam kemudian, Jennifer baru kembali ke ruang
tamu. Dia terkejut melihat Michael Moretti masih ada di situ.
Mau tak mau dia teringat akan pertemuannya yang pertama
dengan Adam Warner waktu laki-laki itu juga menunggunya di
apartemen Jennifer yang kecil dulu.
"Michael...." Kata-kata rasanya tak mau keluar. "A.... aku
tak bisa mengatakan be.... betapa besar rasa terima kasihku."
Michael memandangnya, lalu mengangguk.
Jennifer memaksa dirinya bertanya. "Lalu... lalu Frank
Jackson?"
"Dia tidak akan mengganggu siapa-siapa lagi."
Jadi semuanya sudah berlalu. Joshua sudah selamat. Tak
ada satu pun lagi yang ada artinya.
366
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer melihat pada Michael Moretti dan berpikir, Banyak
sekali hutang budiku padamu. Bagaimana aku bisa
membalasnya?
Michael memperhatikannya, diliputi kesunyian.
BAGIAN II
37
Dalam keadaan tanpa busana, Jennifer berdiri menatap ke
luar jendela yang besar, dari mana dia dapat melihat Teluk
Tangier. Hari itu hari yang indah dalam musim gugur,
udaranya dingin, dan di teluk itu tampak banyak sekali layarlayar putih, bagaikan burung air, dan kapal-kapal motor yang
menderu-deru bunyinya. Lima atau enam buah kapal pesiar
sedang berlabuh di pelabuhan. Jennifer merasakan kehadiran
Michael, lalu berbalik.
"Kau suka pemandangan itu?"
"Suka."
Michael memandangi tubuh Jennifer. "Aku juga suka."
Tangannya merayap ke payudara Jennifer, lalu mengelusnya.
"Mari kita kembali ke tempat tidur.".
Jennifer menggigil oleh sentuhannya. Michael menuntut
sesuatu yang tak pernah diminta oleh laki-laki lain mana pun
juga, dan Michael melakukan apa-apa yang tak pernah
diperbuat orang atas dirinya sebelumnya.
"Ya, Michael."
Mereka berjalan kembali ke kamar tidur, dan di sana,
sesaat lamanya, Jennifer terkenang akan Adam Warner. Tapi
kemudian dia lupa segala-galanya, kecuali apa yang sedang
terjadi atas dirinya.
367
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer tak pernah mengenal laki-laki seperti Michael
Moretti. Laki-laki itu tak pernah puas. Tubuhnya tegap,
langsing, dan keras, dan tubuh itu menyatu dengan tubuh
Jennifer, membawanya ke dalam hasratnya yang berapi-api,
membawa serta ke puncak gelombang napsu yang memukul
berulang-ulang kali hingga ingin rasanya dia menjerit karena
kesenangan yang meluap-luap. Bila mereka sudah selesai
bermain cinta, dan Jennifer terbaring keletihan, Michael
memulai lagi permainannya. Dan Jennifer terbawa lagi olehnya
ke dalam gairah yang rasanya tak tertanggungkan.
Kini Michael berbaring di sampingnya, menatap wajahnya
yang merah karena bahagia. "Kau suka kan, Sayang?"
"Ya."
Ada terkandung rasa malu dalam jawaban itu, malu karena
dia amat membutuhkannya, membutuhkan permainan
cintanya.
Jennifer terkenang yang pertama kali.
Waktu itu adalah pagi hari waktu Michael Moretti membawa
Joshua pulang dengan selamat. Jennifer sudah tahu bahwa
Frank Jackson sudah mati, dan bahwa Michael Moretti-lah
yang membunuhnya. Laki-laki yang berdiri di hadapannya ini
telah menyelamatkan anaknya untuknya, telah membunuh
orang demi dia. Hal itulah yang membuat Jennifer pertama
kalinya mempunyai perasaan yang mendalam.
"Bagaimana aku bisa menyatakan rasa terima kasihku?"
tanya Jennifer.
Michael Moretti lalu berjalan mendekatinya, mendekapnya,
dan menciumnya. Karena rasa setianya, terhadap Adam,
Jennifer berpura-pura sendiri bahwa itu hanya akan berakhir
dengan ciuman itu saja; tapi sebaliknya, itulah merupakan
awalnya. Dia tahu apa dan siapa Michael Moretti itu, namun
yang penting sekarang adalah apa yang telah dilakukannya.
368
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer tak mau berpikir dan membiarkan emosinya
menguasai dirinya.
Mereka lalu naik ke lantai atas, ke kamar tidur Jennifer, dan
Jennifer mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa dia sedang
membayar budi yang telah diberikan Michael padanya. Mereka
lalu ke tempat tidur, dan terjadilah pengalaman yang jauh
daripada yang pernah diimpikan Jennifer.
Adam Warner sudah bermain cinta juga dengannya, tapi
Michael Moretti memilikinya seluruhnya. Setiap jengkal dari
tubuhnya dipenuhi Michael dengan sensasi yang sempurna.
Michael seolah-olah bermain cinta dalam warna-warni yang
cemerlang menyilaukan, dan warna-warni itu berganti-ganti
terus dari suatu saat ke saat yang lain, hingga merupakan
kaleidoskop yang indah. Suatu saat dia bermain cinta dengan
lembut, penuh perasaan, dan saat berikutnya dia bengis,
menghantam, dan menuntut, dan perubahan-perubahan itu
membuat Jennifer tergila-gila. Dia menghentikan
permainannya, membuat Jennifer penasaran, menjadikan
Jennifer menginginkannya lagi, dan bila Jennifer sudah hampir
mencapai kepuasannya, dia berhenti.
Hingga Jennifer tak dapat menahan lagi dan meminta,
"Lagi Michael! Ulangi!"
Dan mulailah Michael menghantamnya lagi sampai Jennifer
menjerit kesenangan. Dia bukan lagi wanita yang membalas
budi. Dia telah menjadi budak terhadap sesuatu yang tak
dikenal sebelumnya. Empat jam lamanya Michael
menggaulinya, dan waktu laki-laki itu pergi, Jennifer tahu
bahwa hidupnya sudah berubah.
Jennifer berbaring di tempat tidurnya memikirkan apa yang
telah terjadi, mencoba memahaminya.
Bagaimana dia bisa begitu mencintai Adam dan masih juga
begitu terpesona oleh Michael Moretti? Thomas Aquinas telah
mengatakan bahwa kalau kita memasuki jantung kejahatan,
369
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita tidak akan menemukan apa-apa lagi di sana. Jennifer
ingin tahu apakah demikian pula halnya dengan cinta. Dia
menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya antara lain
disebabkan oleh kesepian yang amat sangat. Dia telah terlalu
lama dalam bayangan khayal, seorang laki-laki yang tak bisa
dilihatnya maupun dimilikinya, namun dia tahu bahwa dia
akan selalu mencintai Adam. Atau apakah itu sekedar suatu
kenangan dari cinta itu?
Jennifer tak yakin akan perasaannya terhadap Michael.
Rasa terima kasih, ya. Tapi itu hanya sebagian kecil saja. Ada
yang lebih dari itu. Yang jauh lebih besar. Dia tahu apa dan
siapa Michael Moretti itu. Michael telah membunuh demi dia,
itu memang benar, tapi dia pun telah membunuh untuk orang
dan kepentingan-kepentingan lain pula. Dia telah membunuh
orang-orang, demi uang, kekuasaan, demi rasa dendam.
Mengapa dia sampai bisa mempunyai perasaan seperti ini
terhadap laki-laki seperti itu? Mengapa dia sampai bisa
membiarkan laki-laki itu bermain cinta dengan dirinya dan
mempunyai hasrat berapi-api pula terhadapnya? Dia dilanda
rasa malu dan dia berpikir, Orang macam apa aku ini?
Dia tidak menemukan jawabnya.
Surat-surat kabar petang melaporkan adanya kebakaran di
sebuah penginapan di Queens. Dalam reruntuhannya
ditemukan kerangka seseorang yang tak dikenal. Dicurigai
adanya pembakaran dengan sengaja.
Setelah Joshua kembali, Jennifer telah berusaha untuk
membuat segala-galanya senormal mungkin baginya, takut
kalau-kalau bekas kejadian malam itu akan menyiksa
batinnya. Setelah Joshua bangun, Jennifer menyiapkan
makanan untuknya dan membawakannya ke tempat tidur.
Makanan yang dibawakannya itu tak masuk akal, merupakan
campuran dari bermacam makanan kesukaan Joshua: roti
370
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan sosis, sandwich dengan mentega kacang, dan bir dari
akar-akaran.
"Seharusnya Mama melihat orang itu," kisah Joshua sambil
makan. "Dia gila!" Diangkatnya tangannya yang berbalut.
"Menurut Mama, apakah dia benar-benar menyangka aku ini
Jesus Kristus?"
Jennifer menahan tubuhnya supaya tak menggigil. "En....
entahlah, Sayang."
"Mengapa orang sampai mau membunuh orang lain, ya?"
"Yah...." Maka pikiran Jennifer kembali melayang pada
Michael Moretti. Apakah dia berhak untuk menilai laki-laki itu?
Dia tak tahu tekanan-tekanan mengerikan apa yang mendasari
hidup orang itu, yang telah menjadikan dia sebagaimana
adanya sekarang. Dia harus tahu lebih banyak tentang laki-laki
itu, mencari tahu dan memahaminya.
"Apakah aku harus ke sekolah besok?" tanya Joshua.
Jennifer mendekap anaknya itu. "Tak usah, Sayang. Kita
berdua akan tinggal di rumah dan membolos sepanjang
minggu. Kita...."
Telepon berdering.
Michael yang berbicara. "Bagaimana Joshua?"
"Dia baik-baik.... terima kasih."
"Dan bagaimana perasaanmu?" Jennifer merasa
kerongkongannya tersekat karena malu. "Aku.... a.... aku baikbaik juga."
Michael tertawa kecil. "Bagus. Aku akan menemuimu untuk
makan siang besok. Di Restoran Donato Mulberry Street. Pukul
setengah satu."
Jennifer mengulangi kata-kata itu dan dia tak bisa
melangkah surut.
371
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pelayan kepala Restoran Donato kenal pada Michael, dan
mereka menyiapkan meja yang terbaik untuknya. Banyak
orang yang mampir ke meja mereka untuk memberi salam,
dan Jennifer lagi-lagi terheran-heran melihat bagaimana
orang-orang menghormatinya. Aneh sekali, karena Michael
Moretti mengingatkannya pada Adam Warner, kedua laki-laki
itu adalah orang-orang yang punya kekuasaan, masing-masing
dalam bidangnya sendiri.
Jennifer bertanya pada Michael tentang latar belakangnya,
karena ingin, tahu bagaimana dan mengapa dia sampai
terperangkap dalam kehidupan yang dijalaninya sekarang.
Michael cepat-cepat menyela, "Apakah kausangka aku
termasuk di sini karena keluargaku atau karena seseorang
menekanku?"
"Ya.... tentu, Michael."
Michael tertawa. "Aku telah berusaha mati-matian untuk
mencapai kedudukanku yang sekarang ini. Aku menyukainya.
Aku suka uangnya. Aku suka kekuasaannya. Aku ini raja,
Sayang, dan aku suka menjadi raja."
Jennifer memandanginya, mencoba untuk memahaminya.
"Tapi kau tak mungkin suka...."
"Dengarkan!" Dia yang semula banyak berdiam diri, kini
mencurahkan kata-katanya, mencurahkan kalimat-kalimat dan
rahasia hatinya, mencurahkan segala-galanya, seolah-olah
semuanya itu sudah tersimpan dalam dirinya selama
bertahun-tahun, menunggu sampai seseorang datang untuk
mendengarkannya. "Ayahku bolehlah disebut botol CocaCola."
"Botol Coca-Cola?"
"Benar. Ada bermilyar-milyar orang seperti dia di dunia ini,
dan kita tak dapat membedakan yang seorang dari yang lain.
Dia seorang tukang sepatu. Dia bekerja membanting tulang
372
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekedar cukup memberi kami makan. Kami tak punya apaapa. Hidup miskin itu hanya bagus bunyinya dalam buku-buku
saja. Dalam kehidupan sebenarnya, itu berarti kamar-kamar
yang berbau busuk karena tikus dan kecoa, dan makanan tak
enak yang membuat kita tak pernah kenyang. Waktu aku
masih kecil aku mengerjakan apa saja untuk mendapatkan
uang. Aku menjadi anak suruhan orang-orang besar, aku
mengantarkan kopi dan cerutu pada mereka, aku mencarikan
mereka pelacur — apa saja asal bisa hidup terus. Lalu pada
suatu musim panas, aku pergi ke Mexico City. Aku tak punya
uang, tak punya apa-apa. Celanaku robek. Pada suatu malam
seorang gadis mengajakku menghadiri suatu perjamuan
makan besar di sebuah restoran besar. Sebagai makanan
penutup disuguhkan semacam kue khusus Meksiko dengan
sebuah boneka keramik di tengah-tengahnya. Seseorang
dalam perjamuan itu menjelaskan bahwa menurut
kebiasaannya, barang siapa mendapatkan boneka keramik itu,
dialah yang harus membayar biaya perjamuan itu. Aku yang
mendapatkan boneka itu." Dia berhenti sebentar. "Boneka itu
kutelan."
Jennifer menggenggam tangan Michael. "Michael, banyak
orang yang hidup miskin dan...."
"Jangan bandingkan aku dengan orang lain." Nada
bicaranya keras dan tak kenal kompromi. "Aku adalah aku.
Aku tahu siapa diriku, Manis. Aku ingin tahu apakah kau tahu
siapa dirimu itu."
"Kurasa aku tahu."
"Mengapa kau mau bermain cinta denganku?"
Jennifer bimbang. "Yah, a.... aku berterima kasih padamu,
dan...."
"Omong kosong! Kau menginginkan aku."
"Michael, aku...."
373
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tak perlu membeli perempuan. Tidak dengan uang,
tidak pula dengan rasa terima kasih."
Jennifer harus mengakui sendiri bahwa Michael memang
benar. Dia memang menginginkan Michael, sebagaimana
Michael mengingini dirinya. Tapi, pikir Jennifer, laki-laki ini
pernah mencoba dengan sengaja menghancurkan diriku.
Bagaimana mungkin aku melupakan hal itu?
Michael membungkuk ke arah Jennifer dan menggenggam
telapak tangannya. Perlahan-lahan dibelainya setiap jari, tanpa
melepaskan pandangannya dari Jennifer. "Jangan permainkan
aku. Jangan pernah coba, Jennifer."
Jennifer merasa tak berdaya. Apa pun yang terjadi di
antara mereka berdua, menghapuskan masa lalu itu.
Waktu mereka sedang makan makanan penutiip, Michael
berkata, "Ngomong-ngomong, ada perkara untukmu."
Jennifer merasa seolah-olah mukanya ditampar. Dia
menatap Michael. "Perkara apa?"
"Salah seorang anak buahku, Vasco Gambutti, tertangkap
karena membunuh seorang polisi. Kuminta kau membelanya."
Jennifer merasa dirinya disakiti, dan marah karena Michael
mencoba memanfaatkan dirinya.
"Maaf, Michael," katanya datar. "Sudah kukatakan
sebelumnya. Aku tak mau terlibat dengan.... dengan....
teman-temanmu."
Michael tersenyum malas padanya. "Pernahkah kau
mendengar tentang anak singa kecil dari Afrika? Dia
meninggalkan induknya pergi ke sungai untuk minum, lalu
seekor gorila memukulnya sampai jatuh. Sedang dia mencoba
berdiri, seekor macan tutul menyikutnya. Kemudian
serombongan gajah datang dan hampir saja menginjakinjaknya sampai mati. Anak singa itu kembali ke sarangnya
374
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penuh ketakutan dan berkata, 'Tahukah, Mama.... belantara di
luar sana itu benar-benar kejam!."
Lama mereka diam. Dunia memang merupakan belantara
yang kejam, pikir Jennifer, tapi selama ini dia selalu berdiri di
tepinya, di luar belantara itu, bebas melepaskan dirinya bila
diingininya. Dia telah membuat peraturan-peraturan, dan
klien-kliennya menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan
itu.
Tapi kini Michael Moretti telah mengubah semuanya itu. Ini
merupakan belantara Michael. Jennifer merasa takut, takut
terperangkap ke dalamnya. Namun, bila diingatnya apa yang
telah dilakukan Michael bagi dirinya, dia memutuskan bahwa
apa yang dimintanya itu hanya soal yang kecil.
Dia bersedia membantu Michael sekali ini saja. "Kita akan
menangani perkara Vasco Gambutti," kata Jennifer memberi
tahu Ken Bailey.
Ken melihat pada Jennifer dengan rasa tak percaya. "Dia
seorang mafia! Salah seorang tukang pukul Michael Moretti.
Itu bukan jenis klien vang biasa kita terima."
"Yang ini kita terima."
"Jennifer, kita tak bisa sampai terlibat dalam gerombolan
itu."
"Gambutti berhak diadili dalam sidang yang adil, seperti
semua orang." Kata-kata itu terdengar hampa, bahkan bagi
telinganya sendiri.
"Aku tak bisa membiarkan kau...."
"Selama ini masih kantorku, akulah yang membuat
keputusan-keputusan." Jennifer melihat rasa terkejut dan
tersinggung di mata Ken.
Ken mengangguk, lalu berbalik berjalan ke luar kantor itu.
Ingin Jennifer memanggilnya kembali dan mencoba
375
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjelaskan. Tapi bagaimana mungkin? Dia tak yakin apakah
dia bisa menjelaskannya pada dirinya sendiri.
Waktu Jennifer pertama kali bertemu dengan Vasco
Gambutti, dia mencoba menganggap laki-laki itu sebagai
seorang klien biasa. Dia sudah biasa menangani klien yang
telah dituduh karena pembunuhan, tapi bagaimanapun juga,
yang ini lain. Laki-laki ini adalah seorang anggota dari suatu
jaringan yang luas suatu organisasi kejahatan, suatu
komplotan yang menghisap entah berapa milyar dolar dari
negara, suatu komplotan kejam yang tak segan membunuh
bila perlu, untuk melindungi diri sendiri.
Tuduhan terhadap Gambutti berat sekali. Dia tertangkap
waktu sedang merampok sebuah toko yang menjual bulu
binatang, lalu membunuh seorang polisi yang sedang tak
tugas, yang mencoba mencegahnya. Surat-surat kabar pagi
memberitakan bahwa Jennifer Parker yang akan menjadi ahli
hukum pembelanya.
Hakim Lawrence Waldman menelepon, "Benarkah berita
itu, Jennie?"
Jennifer langsung tahu apa maksudnya. "Benar, Lawrence."
Diam sebentar. "Aku heran. Kau tentu tahu siapa dia."
"Ya, aku tahu."
"Kau memasuki wilayah berbahaya."
"Tidak. Aku hanya membantu seorang teman."
"Begitukah? Berhati-hatilah."
"Baiklah." Jennifer berjanji.
Kemudian Jennifer baru menyadari bahwa hakim itu tidak
menyebut-nyebut tentang makan bersama lagi.
376
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah meneliti bahan-bahan yang telah dikumpulkan oleh
stafnya, Jennifer memutuskan bahwa perkara itu tak bisa
dibela.
Vasco Gambutti telah tertangkap basah dalam suatu
pembunuhan dan perampokan, dan sama sekali tak ada halhal yang meringankan. Selanjutnya, bila korbannya adalah
seorang polisi, maka pikiran para anggota juri selalu
dipengaruhi oleh emosi yang kuat.
Dia memanggil Ken Bailey ke kantornya untuk memberinya
instruksi.
Ken tidak mengatakan apa-apa, tapi Jennifer merasakan
keengganannya dan dia merasa sedih. Jennifer berjanji pada
dirinya sendiri bahwa sekali ini sajalah dia mau bekerja untuk
Michael.
Telepon pribadinya berdering dan Jennifer mengangkat
gagangnya. Michael berkata, "Halo, Sayang. Aku
menginginkan kau. Temui aku setengah jam lagi."
Jennifer terduduk diam, mendengarkan, dia sudah
merasakan lengan Michael yang memeluknya, tubuh Michael
yang menghimpitnya.
"Aku akan datang," kata Jennifer.
Maka lupalah dia akan janji pada dirinya sendiri.
Sidang perkara Gambutti berlangsung selama sepuluh hari.
Pers mengerahkan tenaga untuk menghadirinya, ingin
menonton Jaksa Di Silva dan Jennifer Parker dalam suatu
pertarungan terbuka lagi. Di Silva telah membuat
persiapannya dengan cermat sekali, dan dengan sengaja dia
tidak membesar-besarkan tuduhannya, dibiarkannya para
anggota juri menafsirkan sendiri bahan-bahan pemikiran yang
diajukannya dan mengembangkannya sendiri, menimbulkan
rasa takut dalam pikiran mereka, rasa takut yang lebih besar
daripada yang dilukiskannya.
377
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer duduk diam-diam selama pembacaan tuduhan itu,
jarang dia berdiri untuk menyatakan keberatannya.
Pada hari terakhir sidang itu, dia mengambil langkah. Ada
peraturan dalam hukum bahwa bila pembelaan terhadap
seseorang lemah, maka pembela harus mengajukan lawannya
ke sidang. Karena Jennifer tak ada bahan pembelaan untuk
Vasco Gambutti, maka dia memutuskan untuk mengajukan
Scott Norman, anggota polisi yang terbunuh, ke sidang. Ken
Bailey telah menggali segala sesuatu yang perlu diketahui
tentang Scott Norman. Tingkah lakunya kurang baik, tapi
sebelum Jennifer selesai, dia telah membuatnya sepuluh kali
lebih buruk daripada yang sebenarnya. Norman sudah dua
puluh tahun dalam angkatan kepolisian, dan selama masa itu
tiga kali dia diskors atas tuduhan melakukan kekerasan yang
tak perlu. Dia telah menembak dan hampir membunuh
seorang terdakwa yang tak bersenjata, dia telah memukul
seorang pemabuk di sebuah bar dan seseorang sampai perlu
diangkut ke rumah sakit gara-gara dia, hanya karena orang itu
terlibat dalam perkelahian dalam rumah tangganya sendiri.
Meskipun kejadian-kejadian itu telah terjadi dalam masa dua
puluh tahun itu, Jennifer telah membuatnya seolah-olah
almarhum telah melakukan serangkaian perbuatan yang
menjijikkan tanpa-henti-hentinya. Jennifer telah mengajukan
sejumlah saksi di mimbar untuk memberikan kesaksian yang
memberatkan perwira polisi yang meninggal itu, dan Robert Di
Silva sama sekali tak dapat berbuat apa-apa.
Dalam kesimpulannya, Di Silva berkata, "Ingat, Tuan-tuan
dan Nyonya-nyonya anggota juri, bahwa Perwira Scott
Norman bukanlah orang yang harus diadili di sini. Perwira
Scott Norman adalah yang menjadi korban. Dia dibunuh oleh
tertuduh Gambutti," sambil menunjuk orang itu.
Tapi Jaksa Di Silva menyadari sejak semula bahwa katakatanya itu tak ada gunanya. Jennifer telah membuat Perwira
Scott Norman jadi manusia yang sama jahatnya dengan Vasco
378
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gambutti. Dia bukan lagi anggota polisi yang agung, yang
mengorbankan hidupnya dalam mencegah kejahatan. Jennifer
Parker telah merusak citra diri polisi itu hingga si korban
menjadi tidak lebih baik daripada si pembunuh yang dituduh.
Juri kembali dengan keputusan tidak bersalah atas tuduhan
pembunuhan tingkat pertama, melainkan menuduh Vasco
Gambutti dengan pembunuhan biasa. Itu merupakan
kekalahan besar bagi Di Silva, dan media massa cepat
memberitakan satu lagi kemenangan bagi Jennifer Parker.
"Pakai bajumu yang sifon. Ini harus kita rayakan," kata
Michael pada Jennifer.
Mereka makan malam di restoran seafood di Village.
Pemilik restoran mengirim sebotol sampanye yang istimewa.
Michael dan Jennifer minum demi keselamatan.
"Aku puas sekali."
Karena diucapkan oleh Michael, itu merupakan
penghargaan besar.
Michael meletakkan sebuah kotak kecil yang di bungkus
dengan kertas berwarna merah putih ke tangan Jennifer.
"Bukalah."
Michael memperhatikan waktu Jennifer melepaskan ikatan
benang emas kemudian membuka tutup kotaknya. Dalam
kotak itu terletak sebentuk cincin bermata zamrud segi empat
yang besar, dikelilingi berlian.
Jennifer memandangnya dengan terbelalak. Dia ingin
menolak. "Aduh, Michael!" Dan dia melihat pandangan
kebanggaan bercampur senang di wajah pria itu.
"Michael, apa yang harus kuperbuat dengan dirimu?"
Dan dalam hatinya ia berkata: Aduh, Jennifer, apa yang
harus kuperbuat dengan dirimu sendiri?
379
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kauperlukan itu supaya sepadan dengan bajumu itu."
Michael memasukkan cincin itu ke jari manis tangan kiri
Jennifer.
"A.... aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku....
terima kasih. Rupanya ini benar-benar suatu perayaan."
Michael tertawa. "Perayaan yang sebenarnya belum lagi
dimulai. Ini baru permainan pendahuluannya."
Mereka sedang berada dalam mobil mewah, dalam
perjalanan ke apartemen milik Michael di pinggiran kota.
Michael menekan sebuah tombol untuk menaikkan kaca yang
memisahkan bagian belakang mobil dari pengemudinya.
Kami terkunci, terpisah dalam dunia kecil kami sendiri, pikir
Jennifer. Adanya Michael di dekatnya membuat hasratnya
berkobar.
Jennifer menoleh melihat mata Michael yang hitam. Michael
pun mendekatinya dan mulai meraba paha Jennifer, dan tubuh
Jennifer langsung terbakar.
Bibir Michael mencari bibir Jennifer dan tubuh mereka
berhimpitan. Jennifer merasakan kejantanan yang keras, dan
dia lalu meluncur turun ke lantai mobil. Dia mulai bermain
cinta dengan Michael, membelai-belai Michael dan
mengecupinya hingga Michael mulai mengerang, dan Jennifer
pun ikut mengerang bersamanya, sambil mempercepat
gerakan-gerakannya, hingga dirasakannya Michael mencapai
puncak kepuasannya. Perayaannya sudah dimulai.
Kini Jennifer memikirkan masa lalu itu sambil berbaring di
kamar hotel di Tangier, dan mendengarkan Michael mandi. Dia
telah merasa puas dan senang. Satu-satunya yang
dirindukannya adalah anaknya. Dia telah merencanakan untuk
sekali-sekali membawa serta Joshua dalam perjalanannya, tapi
nalurinya menyuruhnya memisahkan Joshua jauh-jauh dari
Michael Moretti. Joshua tak boleh sampai tersentuh oleh
bagian hidupnya yang itu. Jennifer merasakan seolah-olah
380
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hidupnya terdiri dari serangkaian kotak-kotak: ada Adam, ada
anaknya, ada pula Michael Moretti. Dan masing-masing harus
terpisah dari yang lain.
Michael keluar dari kamar mandi dengan hanya berkainkan
handuk. Bulu-bulu tubuhnya berkilat karena basah kena air.
Dia adalah binatang liar yang membangunkan hasrat.
"Berpakaianlah. Ada yang harus kita kerjakan."
39
Kejadiannya perlahan-lahan sekali hingga seolah-olah sama
sekali tak terjadi. Dimulai dengan Vasco Gambutti, dan tak
lama setelah itu Michael meminta Jennifer untuk menangani
suatu perkara lain lagi, kemudian satu lagi, hingga segera
menjadi suatu rangkaian perkara yang tak berkesudahan.
Michael menelepon Jennifer dan berkata, "Aku butuh
bantuanmu, Manis. Salah seorang anak buahku menghadapi
kesulitan."
Jennifer lalu teringat kata-kata Pater Ryan, Seorang
temanku menghadapi masalah kecil. Apakah ada
perbedaannya? Amerika telah menerima penyakit Godfather.
Jennifer membujuk dirinya sendiri dengan berkata bahwa apa
yang dilakukannya sekarang sama saja dengan yang
dilakukannya selama ini. Sebenarnya perbedaan itu ada —
bahkan suatu perbedaan besar.
Dia berada di tengah-tengah suatu organisasi dunia yang
besar.
Michael mengajak Jennifer ke rumah pertanian di New
Jersey. Di situlah Jennifer pertama kali bertemu dengan
Antonio Granelli, dan beberapa orang lain dari organisasi itu.
381
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada sebuah meja besar dalam dapur kuno itu ada Nick
Vito, Arthur Scotto yang diberi gelar Fat Artie, Salvatore Fiore,
dan Joseph Colella.
Waktu Jennifer dan Michael masuk, mereka berdiri di
ambang pintu mendengarkan Nick Vito sedang berkata, "...
seperti waktu aku sedang main di Atlanta. Tiba-tiba datang si
pengganggu keparat itu dan mencoba menyikutku sebab dia
juga mau main."
"Kau kenal orangnya?" tanya Fat Artie Scotto.
"Buat apa tahu? Dia minta supaya lampu dinyalakan. Dia
mencoba memelukku."
"Memelukmu?"
"Ya. Dia belum terlalu mabuk."
"Apa yang kaulakukan?"
"Eddy Fratelli dan aku membawanya ke sudut halaman dan
menembaknya. Peduli apa, biar bagaimanapun nasibnya
memang sial."
"Hei, apa kabar si kecil Eddie?"
"Dia sedang mendekam di Penjara Lewisburg."
"Bagaimana dengan ceweknya. Hebat perempuan itu."
"Memang. Aku kepingin main dengan dia."
"Tapi dia masih setia pada Eddie. Entah apa sebabnya."
"Aku suka pada Eddie. Dia pemberani." Benar-benar
percakapan orang-orang gembel.
Michael tertawa melihat reaksi Jennifer mendengar
percakapan itu, lalu berkata, "Mari kuperkenalkan pada Papa."
Antonio Graneli merupakan suatu kejutan besar bagi
Jennifer. Dia duduk di kursi roda, seorang laki-laki yang lemah
382
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali, yang hanya seperti kerangka; sulit membayangkan
bagaimana dia dulunya.
Seorang wanita menarik, berambut coklat, dan
berperawakan sintal memasuki ruangan itu, Michael berkata
pada Jennifer, "Ini Rosa, istriku."
Selama ini, Jennifer takut menghadapi saat itu. Beberapa
malam setelah Michael meninggalkannya dengan rasa sangat
puas, Jennifer berjuang melawan rasa bersalah yang seakanakan mempengaruhi dirinya. Aku tak mau menyakiti seorang
wanita lain. Aku mencuri. Aku harus menghentikan ini. Harus!
Tapi dia selalu kalah dalam pertempuran itu.
Rosa memandang Jennifer dengan mata yang bijaksana.
Dia pasti tahu, pikir Jennifer.
Mula-mula terasa kekakuan, lalu kemudian Rosa berkata
perlahan, "Saya senang bertemu Anda, Nyonya Parker.
Michael menceritakan betapa pintarya Anda."
Antonio Granelli menggeram. "Tak baik perempuan terlalu
pintar. Sebaiknya laki-laki saja yang berurusan dengan otak."
"Saya menganggap Nyonya Parker sebagai seorang lakilaki, Papa," kata Michael dengan wajah polos.
Mereka makan malam di ruang makan kuno yang luas.
"Anda duduk di sebelah saya," perintah Antonio Granelli
pada Jennifer.
Michael duduk di sebelah Rosa. Thomas Colfax, pengacara
perusahaan, duduk berseberangan dengan Jennifer, dan
Jennifer bisa merasakan sikap bermusuhan dari laki-laki itu.
Makanannya sempurna. Kebanyakan makanan Italia: mulamula dihidangkan makanan besar yang disebut antipasto,
kemudian menyusul pasta fagioli. Ada slada kacang yang
dicampur dengan jamur, daging piccata, linguini, dan ayam
goreng. Lauk-pauk berdatangan bagaikan tak ada hentinya.
383
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tak kelihatan pembantu di rumah itu, dan Rosa tak hentihentinya berdiri, duduk, dan melapangkan meja untuk
kemudian membawa lauk baru lagi dari dapur.
"Anakku, Rosa ini, pandai sekali memasak," kata Antonio
Granelli pada Jennifer. "Hampir sama pandainya dengan
ibunya, kan Mike?"
"Ya," sahut Michael dengan sopan.
"Rosa juga seorang istri yang baik sekali," Antonio Granelli
melanjutkan, dan Jennifer ingin tahu apakah itu suatu
pernyataan sepintas saja, ataukah suatu peringatan.
"Kau tidak menghabiskan dagingmu," kata Michael
"Tak pernah aku makan sebanyak ini, seumur hidupku,"
bantah Jennifer.
Padahal acara makan itu belum selesai.
Dihidangkan semangkuk buah-buahan segar dan sepiring
ceper keju, kemudian es krim dengan saus coklat panas. Dan
kemudian permen, mulai yang manis sampai yang pedas.
Jennifer tak habis pikir bagaimana Michael bisa menjaga
berat badannya.
Percakapannya ringan dan menyenangkan, dan bisa saja
terjadi di rumah mana pun di antara seribu keluarga Italia,
dan Jennifer merasa sulit percaya bahwa keluarga itu lain dari
keluarga-keluarga lain.
Sampai Antonio Granelli bertanya, "Adakah sesuatu yang
Anda ketahui tentang Unione Sicilliana?"
"Tidak," jawab Jennifer.
"Baiknya saya ceritakan itu pada Anda, Nyonya."
"Pa, namanya Jennifer."
384
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Itu bukan nama Itali, Mike. Terlalu sulit bagiku untuk
mengingatnya. Kau kupanggil Nyonya saja, ya? Boleh?"
"Boleh," sahut Jennifer.
"Unione Sicilliana itu dimulai di Sicilia untuk melindungi
orang-orang miskin terhadap ketidakadilan. Kau tahu, orangorang yang berkuasa merampok orang-orang yang miskin.
Orang-orang miskin tak punya apa-apa — tak punya uang, tak
ada pekerjaan, tidak mendapatkan keadilan. Maka dibentuklah
Unione itu. Bila terjadi ketidakadilan, orang mendatangi
anggota-anggota persekutuan rahasia itu dan dendam mereka
pun terbalas. Unione segera menjadi lebih kuat daripada
hukum, karena dia merupakan hukum rakyat. Kami percaya
apa yang tercantum dalam Injil, Nyonya." Dia menatap mata
Jennifer. "Bila ada yang mengkhianati, kami membalas
dendam."
Peringatan itu jelas sekali.
Secara naluriah Jennifer sudah lama tahu bahwa bila dia
bekerja untuk organisasi itu, berarti dia mengambil langkah
besar. Tapi sebagaimana kebanyakan orang luar, dia
mempunyai pengertian yang salah tentang organisasi itu.
Secara umum, mafia itu dilukiskan sebagai sekumpulan
gerombolan yang hanya duduk-duduk saja sambil memerintah
orang untuk membunuh dan hanya menghitung uang dari
praktek lintah darat dan rumah-rumah pelacur. Itu hanya
sebagian dari keadaan yang sebenarnya. Dari rapat-rapat
yang dihadiri Jennifer, dia jadi tahu selebihnya: mereka adalah
pengusaha-pengusaha yang bekerja dalam ukuran yang bukan
main besarnya. Mereka memiliki hotel-hotel, bank-bank,
restoran-restoran, kasino, perusahaan-perusahaan asuransi
dan pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan pembangunan,
dan serangkaian rumah sakit. Mereka mengawasi persatuanpersatuan buruh dan perkapalan. Mereka bergerak dalam
usaha rekaman dan menjual mesin-mesin pengecer rokok dan
permen. Mereka memiliki perusahaan-perusahaan
385
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemakaman, toko-toko roti dan kue, juga perusahaanperusahaan konstruksi. Uang masuk mereka bermilyar-milyar
setahun. Bagaimana rnereka menjalankan perusahaanperusahaan itu bukan urusan Jennifer. Tugasnya hanyalah
membela bila ada di antara mereka yang mengalami kesulitan
dalam hukum.
Robert Di Silva telah menuntut tiga orang anak buah
Michael Moretti karena telah membuat sekelompok gerobak
penjual makanan siang, terbalik. Mereka dituntut telah
berkomplot mengacaukan perdagangan dengan kekerasan.
Satu-satunya saksi yang mau memberikan kesaksiannya yang
memberatkan para tertuduh adalah seorang wanita yang
memiliki salah satu gerobak itu.
"Perempuan itu akan menghancurkan kita," kata Michael
pada Jennifer. "Dia harus ditangani."
"Kalian memiliki sebuah penerbitan majalah, bukan?" tanya
Jennifer.
"Ya, tapi apa hubungannya dengan gerobak-gerobak
penjual makanan itu?"
"Lihat saja nanti."
Diam-diam Jennifer mengatur supaya majalah itu
menawarkan sejumlah besar uang kalau saksi itu mau
memuat kisah kesaksiannya itu. Wanita itu menerima tawaran
tersebut. Dalam sidang, Jennifer memanfaatkannya untuk
mengaibkan alasan kesediaan wanita itu, dan tuduhan pun
ditarik kembali.
Hubungan Jennifer dengan teman-teman kerjanya berubah.
Waktu kantor itu mulai menerima serangkaian perkara mafia
berturut-turut, Ken Bailey masuk ke kamar kerja Jennifer dan
berkata, "Bagaimana ini? Kau tak bisa membela bajingan-
386
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bajingan itu terus-menerus. Mereka akan menghancurkan
kita."
"Jangan kuatir, Ken. Bukankah mereka membayar?"
"Masa kau begitu picik, Jennifer. Kaulah yang kelak harus
membayar. Mereka akan mencengkeram dirimu."
Justru karena dia tahu bahwa Ken memang benar, maka
dia lalu berkata dengan marah, "Hentikan, Ken."'
Ken menatapnya lama, lalu berkata, "Kau benar. Kau yang
bos."
Pengadilan kriminal hanya merupakan dunia yang sempit,
dan berita-berita tersebar dengan cepat. Waktu tersiar berita
bahwa Jennifer Parker akan membela perkara organisasi,
sahabat-sahabatnya yang berniat baik mendatanginya, dan
mengemukakan keberatan-keberatan yang sama dengan yang
telah dikatakan Hakim Lawrence Waldman dan Ken Bailey
padanya.
"Bila kau melibatkan dirimu dengan bajingan-bajingan itu,
kau akan disamakan dengan mereka."
"Semua orang berhak untuk dibela," jawab Jennifer pada
mereka semua.
Jennifer menghargai peringatan-peringatan mereka, tapi
dia merasa bahwa itu semua tak ada gunanya. Dia bukan
bagian dari organisasi itu; dia semata-mata membela
beberapa anggotanya. Dia adalah ahli hukum seperti ayahnya,
dan dia tidak akan pernah melakukan apa-apa yang akan
memalukan ayahnya. Belantara itu memang ada, tapi dia
masih tetap berada di luarnya.
Pater Ryan datang mengunjunginya. Kali ini bukan untuk
meminta bantuannya membela seorang teman.
387
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku kuatir mendengar tentang kau, Jennifer. Aku
mendengar laporan bahwa kau menangani.... anu.... orangorang yang tak benar."
"Siapa orang-orang yang tak benar itu? Apakah Pater
menilai dulu orang-orang yang datang pada Pater untuk
meminta bantuan? Apakah Pater menyuruh orang-orang pergi
menjauhi Tuhan karena mereka telah membuat dosa?"
Pater Ryan menggeleng. "Tentu tidak. Tapi kalau orang
secara pribadi membuat kekeliruan, itu lain. Lain lagi halnya
bila korupsi dijalankan dalam bentuk organisasi. Bila kau
membantu orang-orang itu, berarti kau membenarkan
perbuatan mereka. Kau menjadi bagiannya."
"Bukan. Saya seorang ahli hukum, Pater. Saya menolong
orang-orang yang dalam kesulitan."
Jennifer sudah mengenal Michael Moretti lebih baik
daripada siapa pun juga. Michael menyatakan perasaannya
pada Jennifer, perasaan yang tak pernah dibukakannya pada
siapa pun juga. Pada dasarnya dia adalah laki-laki yang
kesepian dan suka menyendiri, dan Jennifer adalah orang
pertama yang telah berhasil menembusi bentengnya.
Jennifer merasa bahwa Michael membutuhkan dirinya. Itu
tak pernah dirasakannya dari Adam. Dan Michael telah
memaksanya untuk mengakui bahwa dia pun membutuhkan
Michael. Michael telah mengorek perasaan-perasaan Jennifer
yang telah ditekannya baik-baik — napsu liar yang mencari
penyalurannya, yang selama ini dia takut melepaskannya. Tak
ada larangan bagi Michael. Bila mereka sedang di tempat
tidur, tak ada lagi batas-batas, tak ada penghalang. Sematamata kesenangan, kesenangan yang pada sangka Jennifer
dulu tidak akan mungkin ada.
Michael mengaku pada Jennifer bahwa dia tidak mencintai
Rosa, tapi nyata benar bahwa Rosa memuja Michael. Wanita
itu selalu siap melayaninya, mengurus semua kebutuhannya.
388
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer juga bertemu dengan para istri anggota-anggota
mafia lainnya, dan Jennifer menilai hidup mereka itu sangat
menarik. Suami-suami mereka keluar-masuk restoran, bar,
dan pacuan kuda dengan kekasih-kekasih simpanan mereka,
sedang istri-istri mereka tinggal di rumah menunggu mereka.
Seorang istri mafia selalu mendapat uang saku yang besar
jumlahnya, tapi mereka harus berhati-hati cara
membelanjakannya, karena takut menarik perhatian dinas
pajak.
Terdapat urut-urutan kedudukan berdasarkan kemampuan
masing-masing, mulai dari prajurit rendahan sampai
kedudukan yang tertinggi yang disebut Capo di tutti capi, dan
sang istri tak boleh memiliki mantel atau mobil yang lebih
mahal daripada yang dimiliki oleh istri atasan suaminya.
Para istri harus mengadakan perjamuan-perjamuan makan
malam untuk rekan-rekan suaminya, tapi mereka harus
berhati-hati supaya tidak terlalu mewah, harus sesuai dengan
kedudukan suaminya dalam hubungan dengan yang lain-lain.
Dalam upacara-upacara seperti pernikahan dan
pembaptisan, pada saat mana hadiah-hadiah disebutkan siapa
pemberinya, seorang istri tidak diperkenankan memberikan
hadiah yang lebih mahal daripada istri seseorang yang
kedudukannya lebih tinggi dalam organisasi.
Tata caranya sama ketatnya dengan tata cara dalam
perusahaan baja Amerika Serikat, atau di perusahaanperusaan besar lainnya.
Mafia merupakan badan penghasil uang yang mahabesar,
tapi Jennifer sudah tahu bahwa ada satu unsur yang tak kalah
pentingnya: kekuasaan.
"Organisasi kami lebih besar daripada pemerintahan
kebanyakan negara di dunia," kata Michael pada Jennifer.
"Penghasilan kami lebih banyak daripada beberapa
389
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perusahaan-perusahaan terbesar di Amerika ini kalau
digabungkan."
"Ada bedanya," kata Jennifer. "Mereka itu bekerja dengan
sah, dan...."
Michael tertawa. "Maksudmu, yang tidak tertangkap.
Belasan perusahaan di negeri ini sudah pernah dituduh
melanggar satu atau dua undang-undang. Jangan menipu
dirimu, Jennifer. Rata-rata orang Amerika zaman ini tak bisa
menyebutkan nama dua orang antariksawan yang sudah
pernah terbang ke angkasa luar, tapi mereka kenal namanama Al Capone dan Lucky Luciano."
Jennifer menyadari bahwa Michael sama besar
pengabdiannya dengan Adam, dengan caranya sendiri-sendiri.
Bedanya adalah bahwa hidup mereka menuju ke arah yang
berlawanan.
Dalam perusahaan, Michael sama sekali tak kenal keraguraguan. Itulah titik kekuatannya. Keputusan-keputusan yang
diambilnya semata-mata yang tepat untuk organisasi.
Di masa lampau, Michael mengabdi penuh untuk memenuhi
ambisinya. Waktu dalam hidupnya tak ada tempat yang
berdasarkan emosi terhadap seorang wanita. Baik Rosa
maupun pacar-pacarnya yang lain tak pernah merupakan
bagian dari kebutuhannya yang sebenarnya.
Dengan Jennifer lain halnya. Michael membutuhkannya
sebagaimana dia belum pernah membutuhkan wanita lain
sebelumnya. Michael tak pernah mengenal seorang pun
seperti dia. Badaniah, Jennifer menggairahkan, seperti juga
banyak wanita lain. Yang membuatnya istimewa adalah
kecerdasannya dan kesadaran akan kebebasan dirinya. Rosa
selalu patuh padanya, perempuan-perempuan lain takut
padanya; tapi Jennifer menantangnya. Jennifer setaraf dengan
dia. Jennifer tidak hanya cerdas. Otaknya cemerlang.
390
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Michael menyadari bahwa dia tidak akan pernah mau
melepaskan Jennifer.
Jennifer kadang-kadang mengadakan perjalanan dengan
Michael untuk urusan perusahaan, tapi sedapat mungkin dia
menghindari untuk bepergian, karena dia ingin bersama
Joshua sebanyak mungkin. Joshua sekarang sudah berumur
enam tahun dan telah menjadi gemuk sekali. Jennifer sudah
menyekolahkannya ke sebuah sekolah swasta di dekat rumah
mereka, dan Joshua senang sekali.
Dia naik sepeda beroda dua dan mempunyai satu armada
mobil balap mainan; dia suka bercakap-cakap dengan
bersungguh-sungguh pada Jennifer dan Nyonya Mackey.
Karena Jennifer ingin supaya Joshua tumbuh menjadi kuat
dan mandiri, maka dia selalu menjaga dengan cermat
keseimbangan dalam segala tindakannya, supaya Joshua tahu
betapa dia mencintai anaknya itu, membuat anak itu
menyadari bahwa ibunya selalu siap sedia bila dia
membutuhkannya, namun juga memberinya pengertian
supaya mandiri.
Jennifer mengajar anaknya supaya suka membaca bukubuku yang baik dan menyukai musik. Diajaknya anaknya
menonton sandiwara, tapi tidak pada malam pembukaan,
karena akan terlalu banyak orang yang akan mengenalinya
dan akan bertanya. Pada akhir pekan, mereka berdua
menonton film dan bersenang-senang. Pada hari Sabtu
mereka nonton film pertunjukan sore, lalu pergi makan di
restoran dan kemudian nonton film lain lagi. Pada hari Minggu
mereka pergi berlayar atau bersepeda berdua. Jennifer
memberikan seluruh perbendaharaan cintanya pada anak itu,
namun dia berhati-hati supaya anak itu tidak menjadi manja.
Siasat tindakannya dalam menghadapi Joshua
direncanakannya dengan lebih cermat daripada dia
merencanakan suatu perkara pengadilan. Dia bertekad untuk
391
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak jatuh ke dalam perangkap kebiasaan suatu keluarga
yang hanya ada satu orang tuanya.
Jennifer tidak merasa berkorban dalam menghabiskan
begitu banyak waktu bersama Joshua; anak itu memang
sangat menyenangkan. Mereka memainkan permainan dengan
kata-kata, dan Jennifer senang sekali melihat ketangkasan
otak anak itu. Dia termasuk anak yang terpandai dalam
kelasnya dan seorang olahragawan yang terkemuka, tapi dia
tidak menganggap dirinya hebat. Dia punya rasa humor yang
tinggi.
Bila tidak mengganggu pelajarannya, Jennifer membawa
Joshua bepergian. Dalam libur sekolah musim dingin, Jennifer
mengambil cuti untuk membawa Joshua pergi main ski ke
daerah Pocono. Dalam musim panas anak itu diajaknya ke
London dalam suatu perjalanan bisnis, dan dua minggu
lamanya mereka berjalan mengelilingi desa-desa. Joshua amat
menyukai Inggris.
"Bisakah aku bersekolah di sana kelak?" tanyanya.
Jennifer merasa terpukul. Tidak akan lama lagi anak itu
akan meninggalkannya untuk menuntut ilmu, untuk mencari
hidupnya, kawin, dan membina rumah tangga dengan
keluarganya sendiri. Bukankah itu yang diinginkannya bagi
anaknya itu? Tentu saja benar. Bila Joshua sudah siap, dia
akan melepas anak itu dengan tangan terbuka, namun dia
menyadari betapa akan sulitnya hal itu.
Joshua sedang memandanginya, menunggu jawabnya.
"Bisa, Mama?" tanyanya. "Ke Oxford barangkali?"
Jennifer mendekapnya erat. "Tentu. Mereka akan
beruntung kalau kau masuk ke situ."
Pada suatu hari Minggu pagi waktu Nyonya Mackey sedang
berlibur, Jennifer harus pergi ke Manhattan untuk mengambil
suatu dokumen mengenai keterangan seorang saksi. Joshua
pergi bermain-main ke rumah temannya. Waktu Jennifer
392
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pulang, dia segera menyiapkan makan untuk mereka berdua.
Dia membuka lemari es.... dan terpana. Di dalam lemari es
didapatinya selembar lipatan kertas kecil terselip di antara dua
buah botol susu. Adam biasa meninggalkan surat-surat kecil
begitu untuknya. Jennifer menatap surat itu, bagai tersihir, tak
berani menyentuhnya. Perlahan-lahan diambilnya lipatan
kertas itu lalu dibukanya. Surat kecil itu berbunyi, Kejutan!.
Bolehkah saya mengajak Alan makan bersama kita?
Setengah jam kemudian barulah denyut nadi Jennifer
normal kembali.
Sekali-sekali Joshua menanyakan ayahnya pada Jennifer.
"Beliau tewas di Vietnam, Joshua. Beliau adalah pria
pemberani."
"Tak adakah foto beliau pada kita?"
"Tak ada, Sayang. Kami... kami belum lama menikah waktu
beliau meninggal."
Dia benci harus berbohong, tapi dia tak punya pilihan lain.
Michael Moretti hanya satu kali bertanya tentang ayah
Joshua. "Aku tak peduli apa yang telah terjadi sebelum kau
menjadi milikku....aku hanya ingin tahu."
Jennifer berpikir, betapa akan besar tekanan Michael atas
diri Senator Adam Warner bila dia tahu keadaan sebenarnya.
"Dia tewas di Vietnam. Namanya tak perlu kusebutkan."
40
Di Washington DC, suatu panitia penyelidikan senat yang
diketuai oleh Adam Warner, telah mencapai hari terakhir
dari suatu pemeriksaan intensif mengenai pesawat
pembom XK-1, yang sedang diminta persetujuannya dari
senat oleh angkatan udara. Berminggu-minggu lamanya saksisaksi mata berdatangan ke Capitol Hill. Sebagian dari mereka
393
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memberikan keterangan bahwa pesawat pembom yang baru
itu akan merupakan pesawat yang terlalu mahal yang akan
menghabiskan keuangan pertahanan dan menghancurkan
negara, sedang sebagian yang lain lagi menyatakan bahwa
bila angkatan udara tidak mendapatkan persetujuan untuk
memiliki pesawat itu, maka pertahanan Amerika akan
demikian lemahnya hingga Rusia mungkin akan menyerang
Amerika Serikat dalam waktu yang singkat sekali.
Adam telah menyediakan dirinya untuk mengadakan
penerbangan uji coba dari sebuah contoh pesawat pembom
baru itu, dan rekan-rekannya dengan senang hati menerima
tawarannya itu. Adam adalah teman sejawat mereka, seorang
anggota klub mereka, dia tentu mau mengatakan yang
sebenarnya.
Pada suatu hari Minggu pagi Adam menerbangkan pesawat
pembom itu dengan awak seperlunya, dan dia telah mencoba
pesawat itu dengan penerbangan yang keras. Penerbangan itu
ternyata berhasil baik dan dia melaporkan kembali kepada
panitia senat bahwa pesawat pembom baru XK-1 itu adalah
suatu kemajuan dalam penerbangan. Dinasihatkannya supaya
pesawat itu diproduksi segera. Senat kemudian menyetujui
dana untuk itu.
Pers menyiarkan kejadian itu dengan panjang-lebar. Suratsurat kabar melukiskan Adam sebagai seorang pendatang
baru dalam lingkungan senator penyelidik, seorang ahli hukum
yang mau turun sendiri ke lapangan, untuk mempelajari
sendiri kenyataannya, dan tidak sekedar mempercayai katakata dari orang-orang yang memberikan keterangan dan
orang-orang lain yang terlihat karena melindungi
kepentingannya sendiri.
Baik Newsweek maupun Time memuat kisah tentang Adam
sebagai tajuk rencana, dan berita dalam Newsweek berakhir
sebagai berikut: Senat telah menemukan seorang pelindung
baru yang jujur dan mampu untuk menyelidiki beberapa
394
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masalah vital yang sering merupakan sampah bagi negara ini,
dan menjadikan masalah itu jelas, bukan menjadikannya
bahan sengketa. Di antara orang-orang yang berwenang
terdapat kepercayaan yang makin mendalam bahwa Adam
Warner mempunyai kemampuan-kemampuan yang akan
memungkinkannya untuk mencapai kedudukan presiden.
Jennifer membaca berita tentang Adam itu dengan penuh
perhatian dan merasa bangga sekali. Tapi juga dengan rasa
sakit. Dia masih mencintai Adam, dan dia juga cinta pada
Michael Moretti. Dia tak mengerti bagaimana hal itu mungkin.
Telah menjadi perempuan macam apa dia itu. Adam telah
menciptakan kesepian dalam hidupnya. Michael lelah
menghapuskan kesepian itu.
Penyelundupan obat-obat bius dari Meksiko makin
meningkat, dan sudah jelas bahwa satu organisasi kejahatan
ada di belakang kegiatan itu. Adam diminta untuk mengetuai
suatu panitia penyelidik.
Dikumpulkannya tenaga dari lima atau enam perusahaan
pengacara yang besar-besar di Amerika Serikat, lalu terbang
ke Meksiko, dan mendapatkan kesediaan kerja sama dari
pemerintah Meksiko. Dalam waktu tiga bulan, lalu lintas obatobat terlarang itu telah jauh berkurang.
Di rumah pertanian di New Jersey, Michael Moretti berkata,
"Kita menghadapi kesulitan."
Mereka sedang duduk di ruang kerja yang besar dan
nyaman. Dalam ruang itu ada Jennifer, Antonio Granelli, dan
Thomas Colfax. Antonio Granelli baru saja sembuh dari suatu
serangan jantung, dan dalam satu malam umurnya seolaholah telah bertambah dua puluh tahun. Dia merupakan
karikatur dari seseorang yang sudah menciut. Mukanya yang
sebelah kanan sudah lumpuh, hingga bila dia berbicara, air
liurnya berleleran dari sudut mulutnya. Dia sudah tua dan
395
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hampir tak bisa berpikir dengan waras lagi. Dia makin banyak
bergantung pada pertimbangan Michael. Meskipun dengan
enggan, dia bahkan sudah mau menerima Jennifer.
Tidak demikian halnya dengan Thomas Colfax. Perselisihan
antara Michael dan Colfax telah makin meruncing. Colfax
menyadari bahwa Michael dengan sengaja menggantikan dia
dengan perempuan itu. Colfax mengakui sendiri bahwa
Jennifer memang seorang ahli hukum yang pintar, tapi apa
yang bisa diketahui perempuan itu tentang kebiasaan borgata
itu? Tentang apa yang telah membuat persekutuan itu bisa
bekerja begitu lancarnya selama betahun-tahun ini? Mengapa
Michael sampai bisa memasukkan seorang asing — seorang
wanita pula lagi! — dan mempercayakan pada wanita itu
rahasia mati-hidup mereka. Keadaan itu tak dapat
dipertahankan. Colfax telah berbicara dengan pemimpin
tertinggi organisasi, para perwira organisasi, dan para
prajuritnya, seorang demi seorang, menyatakan rasa
kuatirnya, mencoba menarik mereka ke pihaknya, tapi mereka
semua takut melawan Michael. Bila Michael mempercayai
perempuan itu, maka mereka tahu bahwa mereka pun wajib
mempercayainya juga.
Thomas Colfax menyadari bahwa dia akan harus menunggu
saatnya. Tapi dia pasti mencari jalan untuk menyingkirkan
perempuan itu.
Jennifer menyadari benar perasaan Colfax itu. Dia telah
menggantikan laki-laki itu, dan harga diri Colfax tentulah tidak
akan mau memaafkannya. Kesetiaannya pada sindikat itu
akan membuatnya tetap bertahan dan melindungi Jennifer,
tapi bila rasa bencinya menjadi lebih hebat daripada
kesetiaannya itu...
Michael berpaling pada Jennifer. "Pernahkah kau
mendengar tentang Adam Warner?"
396
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jantung Jennifer berhenti berdetak sesaat. Tiba-tiba dia
merasa sulit bernapas. Michael memperhatikannya karena dia
mengharapkan jawaban.
"Mak.... maksudmu senator itu?" Jennifer berhasil berkata.
"Heeh. Kita harus menenangkan bajingan itu sedikit."
Jennifer merasakan wajahnya kehilangan darah. "Mengapa,
Michael?"
"Dia mengganggu kelancaran kerja kita. Gara-gara dia,
pemerintah Meksiko telah menutup pabrik-pabrik milik temanteman kita di sana. Semuanya akan hancur. Aku ingin
menghancurkan bangsat itu. Dia harus angkat kaki."
Jennifer memutar otaknya. "Bila kau mengganggu Senator
Warner," katanya dengan memilih kata-katanya dengan hatihati, "berarti kau akan menghancurkan dirimu sendiri."
"Aku tidak akan membiarkan...."
"Dengar, Michael. Kalau dia kausingkirkan, mereka akan
mencari sepuluh orang untuk menggantikannya. Bahkan
seratus orang. Semua surat kabar di negeri ini akan
menentangmu. Penyelidikan yang sedang berlangsung
sekarang tak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan apa
yang akan terjadi bila Senator Warner kaucelakakan."
"Sudah kukatakan, kita dirugikanl" kata Michael dengan
marah.
Jennifer mengubah nada bicaranya. "Michael, pakailah
otakmu. Kau sudah sering melihat penyelidikan seperti itu
dilakukan. Berapa lama hal itu berlangsung? Lima menit
setelah senator itu menyelesaikannya, dia akan menyelidiki
sesuatu yang lain lagi dan semuanya itu akan berlalu. Pabrikpabrik yang ditutup akan dibuka lagi dan kita akan
melanjutkan perdagangan kita. Dengan jalan itu tidak akan
ada akibat balik. Bila kaucobakan juga menjalankan caramu,
maka perkara itu tidak akan berkesudahan."
397
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak setuju," kata Thomas Colfax. "Menurut
pendapatku...."
"Tidak ada yang meminta pendapatmu," kata Michael
Moretti dengan geram.
Wajah Thomas Colfax seolah-olah baru saja ditampar.
Michael tidak memperhatikannya. Colfax berpaling pada
Antonio Granelli mencari dukungan. Orang tua itu sudah
tertidur.
Michael berkata pada Jennifer, "Baiklah, Saudara Penasihat,
untuk sementara Warner akan kita biarkan."
Jennifer menyadari bahwa dia menahan napasnya. Kini dia
menghirup udara perlahan-lahan. "Ada lagi yang lain?"
"Ada." Michael mengambil sebuah korek api emas yang
berat, lalu menyalakan sebatang rokok. "Teman kita Marco
Lorenzo dituduh melakukan pemerasan dan perampokan."
Jennifer telah membaca tentang perbuatan itu. Menurut
surat-surat kabar, Lorenzo adalah seorang yang
berpembawaan jahat sejak lahir, yang sering sekali harus
mendekam dalam penjara karena kejahatan-kejahatan
kekerasan.
"Apakah aku harus mengajukan banding?"
"Tidak. Usahakan supaya dia masuk penjara."
Jennifer memandangnya tak mengerti.
Michael meletakkan korek apinya ke meja kembali.
"Kudengar Di Silva merencanakan untuk mengusirnya kembali
ke Sicilia. Marco punya banyak musuh di sana. Bila dia
dikembalikan ke sana, tak akan sampai dua puluh empat jam
dia hidup. Tempat yang teraman baginya adalah Penjara Sing
Sing. Bila keadaan sudah mereda, satu atau dua tahun lagi,
baru kita keluarkan dia. Bisa kauusahakan itu?"
398
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer bimbang sebentar. "Bila kita berada di daerah
hukum yang lain, mungkin aku bisa mengusahakannya. Tapi
ini daerah Di Silva, dia tidak akan mau menerima permohonan
pertimbangan dari aku."
"Barangkali kita harus meminta pertolongan orang lain
untuk melakukannya," kata Colfax cepat.
"Kalau aku memang ingin orang lain yang melakukannya,"
bentak Michael, "aku sudah mengatakannya tadi." Dia
berpaling pada Jennifer. "Aku mau kau yang menanganinya."
Michael Moretti dan Nick Vito memperhatikan dari jendela
waktu Thomas Colfax memasuki mobilnya, lalu pergi.
"Aku ingin kau menyingkirkan dia, Nick," kata Michael. "Aku
tak bisa lagi mempercayainya. Dia seperti masih hidup di masa
lampau, seperti pak tua."
"Terserah, Mike. Kapan aku harus melakukannya?"
"Segera. Akan kuberi tahu nanti."
Jennifer sedang duduk di kamar kerja Hakim Lawrence
Waldman. Dalam setahun, baru itulah dia bertemu lagi dengan
pria itu. Pembicaraan-pembicaraan melalui telepon dan acaraacara makan sudah tak ada lagi. Yah, apa boleh buat, pikir
Jennifer. Dia menyukai Lawrence Waldman dan dia menyesal
persahabatan mereka sampai terputus, tapi dia sudah
menentukan pilihannya.
Mereka sedang menunggu Robert Di Silva, dan mereka
duduk berdiaman saja dengan perasaan tak enak, masingmasing tidak berusaha untuk memulai percakapan. Setelah
jaksa itu masuk, dimulailah rapat.
Hakim Waldman berkata pada Jennifer, "Kata Bobby kau
ingin membahas suatu permohonan pertimbangan sebelum
aku menjatuhkan vonis atas diri Lorenzo."
399
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar." Jennifer menoleh pada Jaksa Di Silva. "Saya rasa
akan salah bila kita memasukkan Lorenzo ke Penjara Sing
Sing. Itu bukan tempat yang baik baginya. Dia orang asing
yang tak sah. Saya rasa dia harus dikirim kembali ke tempat
asalnya, Sicilia."
Di Silva melihat pada Jennifer dengan terkejut. Dia telah
merencanakan untuk mengusulkan pemulangan kembali
penjahat itu, tapi kalau itu pula yang diingini Jennifer Parker,
maka dia harus mengubah keputusannya.
"Mengapa Anda mengusulkan itu?" tanya Di Silva.
"Karena beberapa alasan. Pertama-tama hal itu akan
mencegah dia untuk melakukan kejahatan lagi di sini, dan...."
"Sama saja kalau dia ada dalam sel di Penjara Sing Sing."
"Lorenzo sudah tua. Dia tidak akan tahan dalam penjara.
Dia akan jadi gila bila dimasukkan ke dalam penjara. Semua
sahabatnya ada di Sicilia. Di sana dia bisa hidup tenang di
bawah sinar matahari dan bisa mati dengan tenang dalam
lingkungan keluarganya."
Mulut Di Silva terkatup rapat karena marah. "Yang sedang
kita bicarakan ini adalah seorang penjahat yang telah
menghabiskan hidupnya dengan merampok, memperkosa, dan
membunuh, dan kau menginginkan agar dia berada di tengahtengah sahabat-sahabatnya di bawah sinar matahari?"
Dia menoleh pada Hakim Waldman. "Orang ini tak
bersungguh-sungguh."
"Marco Lorenzo punya hak untuk...."
Di Silva menghantamkan tinjunya ke meja. "Dia sama sekali
tak punya hak apa-apa! Dia telah dituduh berbuat kekerasan
dan perampokan bersenjata."
"Di Sicilia, bila seorang laki-laki....”
400
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dia tidak berada di Sicilia, persetan!" teriak Di Silva. "Dia
ada di sini! Dia telah berbuat kejahatan-kejahatan di sini dan
dia akan dihukum di sini. Yang Mulia, kita membuang waktu
Anda saja. Negara menolak semua permohonan pertimbangan
dalam perkara ini. Kami akan minta supaya Marco Lorenzo
dijatuhi hukuman masuk Sing Sing."
Hakim Waldman berpaling pada Jennifer. "Adakah lagi yang
ingin kaukatakan?"
Jennifer memandang Robert Di Silva dengan marah. "Tidak
ada, Yang Mulia."
"Besok vonis akan dijatuhkan. Anda berdua dipersilakan
pergi."
Di Silva bangkit dan meninggalkan kamar itu.
Di luar, di lorong gedung, jaksa menoleh pada Jennifer dan
tersenyum. "Kau sudah kehilangan semangat, Saudara
Pembela."
Jennifer mengangkat bahunya. "Kita tak bisa selalu
menang."
Lima menit kemudian, Jennifer memasuki kamar telepon
untuk berbicara dengan Michael Moretti. "Tak usah kuatir lagi.
Marco Lorenzo akan dimasukkan ke Sing Sing."
41
Waktu berlalu bagaikan sebuah sungai yang tak bertepi, tak
berbatas. Musim-musimnya tidak lagi ditandai oleh musim
salju, semi, gugur, atau musim panas, melainkan oleh harihari ulang tahun, kesenangan, kesulitan, dan penderitaan. Ada
pertempuran-pertempuran pengadilan yang dimenangkan, dan
ada perkara yang kalah, kenyataan mengenai Michael serta
kenangan tentang Adam. Tapi terutama Joshua-lah yang
401
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merupakan kalender waktu, yang mengingatkan betapa
cepatnya waktu berlalu.
Sukar dipercaya bahwa dia kini sudah berumur tujuh tahun.
Rasanya seolah-olah dalam semalam saja, dia telah beralih
dari permainan dengan pensil berwarna ke model-model
pesawat terbang dan olahraga. Joshua telah menjadi tinggi
dan makin hari makin mirip ayahnya, bukan saja dalam
penampilan lahiriahnya. Dia perasa dan sopan, dan dia punya
citra kuat tentang kejujuran. Bila Jennifer menghukumnya atas
suatu perbuatannya, Joshua berkata melawan, "Tinggi
badanku memang baru satu meter dua puluh senti, tapi aku
punya hak."
Dia benar-benar Adam cilik. Sebagaimana Adam, Joshua
juga seorang olahragawan. Pahlawan-pahlawannya adalah
Bebble bersaudara dan Cari Stotz.
"Mama tak pernah mendengar tentang mereka," kata
Jennifer.
"Di mana saja Mama selama ini? Mereka itulah yang
membentuk kelompok olahraga Little League."
"Oh, Bebble bersaudara dan Cari Stotz yang itu."
Pada hari-hari akhir pekan, Joshua nonton semua peristiwa
olahraga di tv — sepak bola, baseball, bola keranjang — apa
saja. Mula-mula Jennifer membiarkan Joshua nonton
permainan-permainan itu seorang diri, tapi waktu Joshua
mulai membahas permainan-permainan itu dengannya setelah
nonton, dan Jennifer merasa benar-benar buta, dia lalu
memutuskan untuk ikut nonton. Maka berdualah mereka
duduk di depan pesawat tv sambil ngemil popcorn dan
menyoraki pemain-pemain.
Pada suatu hari Joshua pulang dari main bola, dengan air
muka kusut, lalu berkata, "Ma, bisakah kita berbicara dari hati
ke hati?"
402
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tentu, Joshua."
Mereka duduk di meja dapur dan Jennifer menyiapkan roti
berlapis mentega kacang dan menuang segelas susu untuk
Joshua.
"Apa masalahnya?"
Suaranya tenang dan mengandung rasa kuatir. "Anu....
saya mendengar kawan-kawan bercakap-cakap, dan saya jadi
ingin tahu.... apakah masih akan ada seks bila saya sudah
besar?"
Jennifer membeli sebuah kapal layar Newport yang kecil,
dan pada hari-hari akhir pekan, Jennifer dan Joshua pergi ke
teluk untuk berlayar. Jennifer senang memperhatikan wajah
Joshua kalau dia sedang memegang kemudi. Wajahnya dihiasi
senyum penuh kebanggaan, yang disebut Jennifer senyum
Eric the Red. Joshua pandai sekali berlayar, seperti ayahnya.
Kenangan itu menyadarkan Jennifer. Dia berpikir, apakah dia
ingin menghidupkan kembali hidupnya bersama Adam dahulu
melalui anaknya itu. Semuanya yang dilakukannya dengan
Joshua — berlayar, atau peristiwa-peristiwa olahraga lain —
semuanya adalah hal-hal yang telah dilakukannya pula dengan
ayah anak itu. Jennifer meyakinkan dirinya bahwa dia
melakukan itu semua karena Joshua suka melakukannya, tapi
dia tak yakin apakah dia benar-benar jujur. Diperhatikannya
Joshua mengurus layar kapalnya, wajahnya berseri-seri,
pipinya kecoklatan oleh matahari dan angin, dan Jennifer
menyadari bahwa apa pun alasannya tidaklah penting.
Yang penting adalah bahwa anaknya berbahagia hidup
bersamanya. Anak itu bukan menjadi pengganti ayahnya. Dia
adalah dirinya sendiri dan Jennifer mencintainya lebih dari
siapa pun juga di muka bumi ini.
42
403
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Antonio Granelli meninggal, dan Michael mengambil alih
seluruh kekuasaan dalam kerajaannya. Pemakamannya
diselenggarakan besar-besaran, sebagaimana sepantasnya
dilakukan atas diri seseorang yang berkedudukan Godfather.
Para kepala dan anggota keluarga sindikat lain dari seluruh
negara datang untuk memberi penghormatan terakhir pada
teman mereka, dan akan meyakinkan pada pimpinan yang
baru mengenai kesetiaan dan dukungan mereka. FBI juga
hadir untuk mengambil foto-foto, demikian pula enam orang
dari badan pemerintahan lainnya.
Rosa sangat sedih karena dia amat mencintai ayahnya, tapi
dia menghibur dirinya dan merasa bangga karena suaminyalah
yang mengambil alih kedudukan ayahnya sebagai kepala
keluarga.
Jennifer makin hari makin menunjukkan manfaat dirinya
bagi Michael. Bila ada masalah, Jennifer-lah yang diajak
berunding oleh Michael. Thomas Colfax makin menjadi embelembel yang mengganggu saja.
"Tak usah kuatirkan dia," kata Michael pada Jennifer. "Dia
akan segera mundur."
Dering halus telepon membangunkan Jennifer. Dia tetap
berbaring sebentar, memasang telinganya lagi, lalu duduk dan
melihat ke jam digital yang ada di meja kecil. Jam
menunjukkan pukul tiga subuh. Jennifer mengangkat
gagangnya.
"Halo," Michael berbicara. "Bisakah kau langsung
berpakaian?"
Jennifer menegakkan duduknya dan berusaha
menghilangkan kantuknya dengan mengedip-ngedipkan
matanya. "Ada apa?"
"Eddie Santini baru saja ditangkap dengan tuduhan
perampokan bersenjata. Dia sudah dua kali masuk penjara.
404
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bila dia sampai dipenjarakan lagi, dia tidak akan dilepaskan
lagi."
"Apakah ada saksi?"
"Ada tiga orang, dan mereka melihatnya dengan baik."
"Di mana dia sekarang?"
"Di Seventeenth Precinct."
"Aku akan ke sana, Michael."
Jennifer mengenakan kimono dan turun ke dapur lalu
membuat sepoci kopi untuk dirinya. Dia duduk di ruang makan
sarapan, meminum kopi panasnya sambil menatap ke
kegelapan malam dan berpikir. Tiga orang saksi dan mereka
semua melihat dengan jelas.
Jennifer mengangkat telepon lalu memutar sebuah nomor.
"Tolong sambungkan ke pemerintah kota."
Jennifer berbicara cepat-cepat. "Saya ada informasi untuk
Anda. Seorang laki-laki bernama Eddie Santini baru saja
ditangkap atas tuduhan perampokan bersenjata. Pembelanya
adalah Jennifer Parker. Dia akan mencoba membebaskannya."
Jennifer memutuskan hubungan lalu mengulangi
pembicaraan itu dengan dua buah surat kabar dan dua buah
stasiun tv. Setelah dia selesai menelepon, dia melihat ke
arlojinya, lalu dia minum secangkir kopi lagi dengan santai.
Dia ingin memberi waktu pada para fotografer untuk pergi ke
daerah 51st Street. Dia naik ke lantai atas dan berpakaian.
Sebelum dia berangkat, dia pergi ke kamar tidur Joshua.
Lampu kecilnya menyala. Anak itu tidur nyenyak, selimutnya
acak-acakan melilit tubuhnya karena gelisah. Dengan halus
Jennifer memperbaiki letak selimut itu, mencium dahi anak itu,
lalu berjalan berjinjit ke luar kamar itu. "Mau ke mana, Ma?"
Jennifer berbalik lalu berkata, "Aku akan pergi bekerja.
Tidurlah lagi."
405
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jam berapa sekarang?"
"Jam empat subuh."
Joshua tertawa geli. "Sebagai seorang wanita, Mama
bekerja pada jam yang aneh."
Jennifer mendekati tempat tidur anaknya lagi. "Dan sebagai
seorang laki-laki kau tidur pada jam-jam yang aneh."
"Nanti malam kita nonton pertandingan Mets, ya Ma?"
"Pasti. Nah, sekarang selamat bermimpi lagi."
"Baik, Ma. Selamat membela perkara."
"Terima kasih, Kawan."
Beberapa menit kemudian, Jennifer sudah berada dalam
mobilnya, dalam perjalanan ke Manhattan.
Waktu Jennifer tiba, seorang fotografer dari surat kabar
Daily News sedang menunggu. Dia menatap Jennifer dan
berkata, "Benar rupanya! Anda benar-benar menangani
perkara Santini itu rupanya?"
"Bagaimana Anda tahu?" tanya Jennifer.
"Kabar burung, Saudara Pembela."
"Anda membuang waktu saja. Tidak akan ada pengambilan
foto."
Jennifer masuk, lalu mengurus jaminan pembebasan bagi
Eddie Santini, dia mengulur-ulur pelaksanaan itu sampai dia
merasa yakin bahwa kameraman tv, seorang wartawan, serta
seorang fotografer dari New York Times tiba di tempat itu.
Diperkirakan dia tak bisa lagi menunggu wartawan dari surat
kabar Post.
Kapten polisi yang bertugas berkata, "Ada beberapa orang
wartawan dan petugas tv di luar, Nona Parker. Anda bisa
keluar lewat belakang kalau Anda mau."
406
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Biar sajalah," kata Jennifer. "Akan saya tangani mereka."
Eddie Santini diajaknya keluar lewat lorong depan di mana
para fotografer dan wartawan sedang menunggu.
"Tuan-tuan, harap jangan mengambil foto." Jennifer lalu
menghindar waktu fotografer dan kameraman tv memotret.
"Apa yang membuat Anda mau menangani perkara ini?"
tanya seorang wartawan.
"Besok Anda akan mendengarnya. Sementara itu, saya
anjurkan sebaiknya jangan memakai foto-foto itu dalam
pemberitaan."
"Ah, apakah Anda tak pernah mendengar tentang
kemerdekaan pers?"
Tengah hari Jennifer menerima telepon dari Michael
Moretti. Suaranya bernada marah. "Sudahkah kau membaca
surat-surat kabar?"
"Tidak."
"Foto Eddie Santini terpampang di semua halaman-halaman
depannya dan pada berita-berita tv. Aku tidak menyuruh kau
menjadikan perkara ini suatu pertunjukan umum."
"Aku tahu. Itu gagasanku sendiri."
"Ya, Tuhan! Apa maksudmu?"
"Tujuannya, Michael, saksi yang tiga orang itu."
"Ada apa dengan mereka?"
"Kaukatakan mereka melihat Eddie Santini dengan jelas.
Nah, bila mereka dipanggil di pengadilan untuk mengenalinya,
mereka masih harus membuktikan bahwa mereka
mengenalinya, bukan karena mereka telah melihat fotonya di
halaman-halaman depan surat-surat kabar dan di tv."
407
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lama tak ada yang berbicara, lalu Michael berkata dengan
nada kagum, "Bajingan goblok aku ini!"
Jennifer tertawa.
Ken Bailey sedang menunggu di kamar kerjanya petang itu
waktu Jennifer masuk, dan dia segera tahu bahwa ada
sesuatu yang tak beres.
"Mengapa tak kaukatakan padaku?" tanya Ken.
"Mengatakan apa?"
"Tentang kau dan Michael Moretti."
Jennifer membatalkan jawaban ketus yang sudah hampir
tercetus. Mengatakan, Itu bukan urusanmu, memang mudah
sekali. Tapi Ken adalah sahabatnya, dia menaruh perhatian.
Secara tak langsung, itu urusannya juga. Jennifer terkenang
semuanya, kantor kecil yang mereka tempati bersama,
bagaimana Ken membantunya. Ada seorang sahabatku, ahli
hukum, yang telah berulang kali meminta bantuanku untuk
menyampaikan surat-surat panggilan menghadap ke
pengadilan. Aku tak punya waktu. Dia membayar dua belas
setengah dolar untuk setiap surat panggilan ditambah uang
jalan. Bisakah kau membantuku?
"Sebaiknya tak usah kita bahas soal ini, Ken."
"Mengapa tidak?" Suaranya mengandung kemarahan yang
hebat.
"Semua orang membicarakannya. Katanya kau adalah
kekasih Moretti." Wajah Ken pucat. "Ya, Tuhan!"
"Hidup pribadiku...."
"Dia hidup dalam selokan dan kau membawa air selokan itu
ke dalam kantor ini. Kau mengajak kami semua bekerja untuk
Moretti dan penjahat-penjahat itu."
"Berhenti!"
408
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Memang untuk mengatakan itulah aku datang. Aku akan
berhenti."
Kata-kata Ken itu sangat mengejutkan. "Kau tak bisa
berhenti. Dugaanmu mengenai Michael Moretti itu keliru.
Kalau saja kau mau bertemu dengan dia, kau akan
menyadari...."
Begitu kata-kata itu keluar, Jennifer tahu bahwa dia keliru.
Ken memandangnya dengan sedih, "Rupanya dia benarbenar sudah menjeratmu. Aku hanya mau mengenangmu
sebagai gadis yang tahu benar siapa kau sebenarnya. Tolong
sampaikan salam perpisahanku pada Joshua."
Dan Ken Bailey lalu pergi.
Jennifer merasa air matanya mulai memenuhi pelupuk
matanya, dan lehernya jadi tersekat demikian eratnya hingga
dia merasa sulit bernapas. Diletakkan kepalanya ke meja, lalu
menutup matanya. Dia mencoba menghilangkan rasa sakit itu.
Waktu Jennifer membuka matanya, hari sudah malam.
Kantor sudah gelap, yang tampak hanya nyala merah yang
mengerikan dari lampu-lampu jalanan. Dia pergi ke jendela
lalu menatap kota di bawahnya. Malam hari, kota itu tampak
seperti hutan belantara dengan hanya satu api unggun yang
hampir padam, untuk mencegah datangnya kengerian yang
mengintai.
Itulah hutan belantara milik Michael. Dan jalan ke luar dari
situ sudah tak ada lagi.
43
Keadaan kacau sekali di The Cow Palace, San Francisco,
tempat yang penuh dengan delegasi dari seluruh negara.
Mereka itu ribut dan berbicara nyaring. Ada tiga orang yang
bersaing untuk menjadi calon presiden, dan masing-masing
409
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah membuat kemajuan dalam masa pendahuluan. Tetapi
bintangnya, yang menonjol melebihi mereka, adalah Adam
Warner. Pada pemungutan suara yang kelima, Adam telah
terpilih sebagai calon dengan suara bulat. Partainya akhirnya
berhasil mendapatkan seorang calon yang bisa mereka ajukan
dengan bangga. Presiden yang masih menjabat, pemimpin
dari partai oposisi, telah mendapatkan nilai kepercayaan yang
rendah dan sebagian besar rakyat menilainya kurang cakap.
"Hanya bila kau berbuat yang tak senonoh yang disiarkan
oleh surat-surat kabar dalam terbitan jam enam nanti sore,
kau baru akan kehilangan kesempatan untuk menjadi presiden
berikutnya dari Amerika Serikat," kata Stewart Needham
meyakinkan Adam.
Setelah terpilih menjadi calon itu, Adam terbang ke New
York untuk suatu pertemuan di Hotel Regency dengan
Needham dan beberapa anggota partai yang terkemuka. Turut
hadir dalam ruangan itu, Blair Roman, kepala dari suatu
perusahaan periklanan yang nomor dua terbesar di negeri itu.
"Blair akan bertugas untuk menyebarluaskan kampanyemu,
Adam," kata Stewart Needham.
"Saya senang sekali diikutsertakan," kata Blair Roman
sambil tersenyum. "Anda akan merupakan presiden ketiga
yang saya tangani."
"Begitukah?" Adam merasa tak terkesan oleh orang itu.
"Sebaiknya saya beri Anda penerangan tentang rencana
permainannya." Blair Roman berjalan hilir-mudik dalam kamar
itu, sambil seolah-oleh mengayunkan alat pemukul golf. "Kita
akan menyuguhkan suatu propaganda tv ke seluruh negeri ini,
untuk memberikan citra diri Anda sebagai orang yang bisa
memecahkan segala masalah Amerika. Anda adalah Papa
Besar — tapi Papa Besar yang muda dan tampan. Mengerti,
Saudara Presiden?"
"Tuan Roman."
410
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya?"
"Jangan panggil saya Saudara Presiden."
Blair Roman tertawa, "Maaf. Terselip lidah, A.W. Dalam
pikiran saya, Anda sudah berada di Gedung Putih. Percayalah,
saya yakin Andalah orangnya untuk kedudukan itu, kalau
tidak, saya tidak akan mau menangani kampanye ini. Saya
terlalu kaya untuk bekerja dengan mengharapkan uang."
Waspadalah terhadap orang-orang yang berkata bahwa
mereka terlalu kaya untuk bekerja dengan mengharapkan
uang, pikir Adam.
"Kami sudah tahu bahwa Andalah orang untuk kedudukan
itu.... Sekarang kita ingin memberitahu rakyat mengenai hal
itu. Lihat saja kertas-kertas yang sudah saya siapkan ini,
beberapa bagian dari negara ini sudah saya bagi-bagi menjadi
beberapa kelompok etnis. Kami akan mengirim Anda ke
tempat-tempat penting di mana kita bisa memberikan kesan
yang mendalam."
Dia membungkuk mendekati wajah Adam dan berkata
dengan bersungguh-sungguh, "Istri Anda juga merupakan
bahan kampanye yang baik. Majalah-majalah wanita akan
berebutan mencari bahan tentang kehidupan keluarga Anda.
Kami benar-benar akan mempropagandakan Anda, A.W."
Adam mulai merasa tak senang. "Lalu bagaimana rencana
Anda untuk melakukannya?"
"Mudah saja. Anda adalah suatu barang produksi, A.W.
Kami akan berusaha untuk menjadikan Anda laku, seperti juga
kami berusaha membuat barang-barang produksi lainnya laku
terjual. Kami...."
Adam menoleh pada Stewart Needham. "Stewart, bisakah
aku berbicara empat mata denganmu?"
411
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tentu." Needham berpaling pada yang lain dan berkata,
"Mari kita beristirahat dulu untuk makan, dan bertemu lagi di
sini jam sembilan. Kita akan melanjutkan pembicaran ini lagi."
Waktu kedua laki-laki itu tinggal berduaan, Adam berkata,
"Ya, Tuhan, Stewart.... Orang itu berencana untuk menjadikan
soal ini suatu show. 'Kau hanyalah suatu barang produksi,
A.W. Kami akan berusaha membuatmu laku, seperti juga kami
berusaha untuk membuat barang-barang produksi lain laku
terjual.' Dia menjijikkan!"
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, Adam," Needham
membujuk "tapi Blair bisa berhasil. Waktu dia mengatakan
bahwa kau adalah presiden yang ketiga yang ditanganinya, dia
tidak main-main. Semua presiden, mulai dari Eisenhower,
selalu ada perusahaan periklanan yang menjadi otak
kampanyenya. Suka atau tidak, suatu kampanye selalu ada
segi propagandanya. Blair Roman tahu psikologi umum.
Bagaimanapun menjijikkannya, adalah kenyataan bahwa bila
seseorang ingin terpilih dalam suatu kedudukkan umum,
orang itu harus dijual — harus dianggap barang dagangan."
"Aku benci."
"Itu sebagian dari pengorbanan yang harus kauberikan."
Dia berjalan mendekati Adam lalu merangkul pundak Adam.
"Kau hanya harus ingat tujuannya. Kau ingin ke Gedung Putih?
Baik. Kita akan berusaha apa saja supaya kau bisa ke sana.
Tapi kau juga harus memainkan perananmu. Bila diharuskan
menjadi binatang gelanggang dalam suatu sirkus, turuti saja."
"Apakah kita benar-benar membutuhkan Blair Roman?"
"Kita memerlukan seseorang seperti itu. Blair termasuk
yang terbaik. Biar aku yang menanganinya. Aku akan
berusaha supaya dia tidak terlalu banyak menyusahkanmu."
"Terima kasih."
412
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kampanye pun dimulai. Dimulai dengan beberapa pidato
singkat di tv dan pemunculan-pemunculan pribadi, dan makin
lama makin meluas hingga tersebar ke seluruh negara. Ke
mana pun orang pergi selalu ada gambar Senator Adam
Warner yang besar dan berwarna. Di setiap negara bagian,
orang bisa melihatnya di tv, mendengarnya melalui radio, dan
melihat fotonya di papan reklame. Hukum dan ketertiban
adalah salah satu bahan pidato utama dalam kampanye itu,
dan panitia penyelidik yang diketuai Adam benar-benar diberi
tekanan.
Adam merekam pidato singkatnya selama satu menit di tv,
pidato singkat tiga menit, dan pidato singkat lima menit, yang
ditujukan untuk bagian-bagian tertentu di negeri itu. Pidatopidato singkat yang akan disiarkan di Virginia Barat membahas
pengangguran dan penyediaan besar batu arang yang bisa
membuat daerah itu makmur; bagian tv di Detroit
membicarakan tentang kebobrokan dalam kota; di New York
City, pokok pidato adalah meningkatnya angka kejahatan.
"Yang harus Anda lakukan hanyalah, mengenai sasaran
soal yang penting di suatu tempat, A.W." Blair Roman
memberi tahu Adam. "Bahan pidato utama tak perlu dibahas
secara mendalam. Kami akan mempromosikan bahan
produksinya, dan itulah Anda."
"Tuan Roman," kata Adam, "saya tak peduli bagaimana
statistik Anda. Saya bukan barang makanan dan saya tak ingin
dijual seperti barang makanan. Saya tetap akan membahas
bahan pidato saya secara mendalam, karena saya pikir rakyat
Amerika cukup cerdas dan ingin tahu sedalam-dalamnya
tentang itu."
"Saya hanya...."
"Saya minta Anda mengatur suatu perdebatan antara saya
dan Presiden untuk membahas soal-soal yang mendasar."
413
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah," kata Blair Roman. "Saya akan segera menemui
petugas kepresidenan, A.W."
"Satu hal lagi," kata Adam.
"Ya? Apa itu?"
"Jangan sebut saya A.W.!"
Di antara surat-surat terdapat pemberitahuan dari
Persatuan Ahli Hukum Amerika yang mengumumkan tentang
pertemuan tahunan di Acapulco. Jennifer sedang sibuk
menangani beberapa perkara, dan dalam keadaan biasa dia
akan menolak undangan itu. Tapi pertemuan itu akan
berlangsung bertepatan dengan libur sekolah Joshua, dan
Jennifer berpikir betapa akan senangnya Joshua di Acapulco.
"Kuterima undangan itu," katanya pada Cynthia. "Tolong
pesankan tiga tempat."
Dia akan mengajak Nyonya Mackey juga. Pada waktu
makan malam itu, Jennifer menyampaikan berita itu pada
Joshua. "Bagaimana kalau kita pergi ke Acapulco?"
"Itu kan di Meksiko," kata Joshua. "Di pantai baratnya."
"Betul."
"Bisakah kita pergi ke pantai di mana kaum wanita
berenang tanpa bh?"
"Joshua!"
"Pokoknya kan ada yang begituan di sana. Orang telanjang
itu wajar."
"Akan kupikirkan dulu."
"Dan bisakah kita menangkap ikan dengan menyelam?"
414
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer membayangkan Joshua mencoba menarik seekor
ikan besar dan dia tersenyum. "Akan kita coba. Ada ikan yang
besar sekali."
"Itu yang menarik," kata Joshua serius. "Kalau gampanggampangan saja tak menarik. Tak ada seninya lagi."
Seperti Adam saja yang berbicara.
"Aku setuju."
"Apa lagi yang bisa kita lakukan di sana?"
"Banyak, bisa menunggang kuda, bersepeda, melihat-lihat
pemandangan."
"Kita jangan pergi melihat-lihat gereja, ya? Gereja itu di
mana-mana serupa saja."
Kata-kata Adam lagi, Bila kita sudah melihat sebuah gereja,
berarti semua gereja sudah kita lihat.
Pertemuan akan dimulai hari Senin. Jennifer, Joshua, dan
Nyonya Mackey terbang ke Acapulco pada hari Jumat pagi
dengan menumpang jet Brainiff. Joshua sudah sering terbang,
tapi dia masih berdebar-debar karena senangnya bila ingat
akan naik pesawat terbang. Nyonya Mackey tak bergerak
karena ketakutan.
Joshua menghiburnya. "Pikir saja begini. Kalaupun pesawat
sampai mengalami kecelakaan, kita hanya satu detik
menderita." Nyonya Mackey menjadi pucat.
Pesawat mendarat di Lapangan Terbang Benito Juarez
pukul empat petang, dan sejam kemudian mereka bertiga tiba
di Las Brisas. Hotel tempat mereka menginap terletak delapan
mil di luar kota Acapulco dan terdiri dari serangkaian
bungalow berwarna merah muda yang cantik, yang dibangun
di atas bukit. Masing-masing ada pekarangan pribadi yang
kecil. Sebagaimana juga beberapa bungalow yang lain,
bungalow Jennifer ada kolam renangnya tersendiri. Mereka
415
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sulit mendapatkan tempat, karena ada pertemuan lain, dan
Acapulco sudah penuh sesak. Tapi Jennifer menelepon salah
seorang pemilik perusahaan yang menjadi kliennya, dan
sejam kemudian dia mendapat informasi bahwa dia ditunggu
di Las Brisas dengan senang hati.
Setelah mereka membongkar kopor, Joshua berkata,
"Bisakah kita pergi ke kota untuk mendengarkan mereka
berbicara? Saya tak pernah pergi ke suatu negara di mana tak
seorang pun pandai berbahasa Inggris." Dia berpikir sebentar
lalu menambahkan, "Negara Inggris jangan dihitung tentu."
Mereka pergi ke kota dan berjalan di sepanjang Zocalo,
pusat kota yang paling ramai. Tapi Joshua kecewa karena
satu-satunya bahasa yang terdengar adalah bahasa Inggris.
Acapulco penuh dengan wisatawan Amerika.
Mereka berjalan-jalan di sepanjang pasar yang beraneka
warna di tembok laut utama, di seberang Sanborn yaitu
bagian kota yang tua. Di sana ada beratus-ratus warung kecil
yang menjual bermacam-macam barang-barang dagangan.
Senja harinya mereka menumpang sebuah calan-dria, yaitu
sebuah kereta yang ditarik kuda. Mereka pergi ke Pie de la
Cuesta, pantai senja, lalu kembali ke kota.
Mereka makan malam di Restoran Armando's Le Club, dan
makanannya enak sekali.
"Saya suka sekali makanan Meksiko," kata Joshua.
"Bagus," kata Jennifer. "Tapi yang ini Restoran Prancis."
"Ya, tapi ada rasa Meksiko-nya."
Hari Sabtu adalah hari yang penuh. Pagi hari mereka
berbelanja di Quebrada, di mana terdapat toko-toko besar
yang lebih baik, lalu berhenti untuk makan siang cara Meksiko
di Coyuca 22. "Saya berani bertaruh, Mama pasti akan
mengatakan bahwa ini juga restoran Prancis."
416
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, ini Meksiko asli, Gringo."
"Apa itu gringo?"
"Kau itu gringo, artinya Amerika, Amigo."
Mereka berjalan melewati gedung fronton di dekat Plaza
Caleta, dan Joshua melihat papan-papan reklame yang
mereklamekan permainan jai alai di dalamnya.
Anak itu berhenti memandangi reklame itu dengan mata
terbuka lebar, dan Jennifer bertanya, "Inginkah kau melihat
permainan jai alai itu?"
Joshua mengangguk. "Kalau tidak terlalu mahal. Kalau kita
sampai kehabisan uang, kita nanti tak bisa pulang."
"Kurasa bisa kita atur."
Mereka masuk, lalu menonton permainan keras antara dua
regu. Jennifer memasang taruhan untuk Joshua dan regu
yang dipertaruhkannya, menang.
Waktu Jennifer mengajak kembali ke hotel, Joshua berkata,
"Aduh, Ma, tak bisakah kita melihat penyelam-penyelam
dulu?"
Tadi pagi dia mendengar manajer hotel bercerita tentang
penyelaman itu.
"Kau benar-benar belum ingin beristirahat, Joshua?"
"Oh, kalau Mama terlalu letih, baiklah.... Saya selalu lupa
umur Mama."
Jennifer jadi terharu. "Jangan pikirkan umurku." Lalu dia
menoleh pada Nyonya Mackey. "Kau masih kuat?"
"Tentu," erang Nyonya Mackey.
Pertunjukan penyelaman itu berlangsung di antara batubatu karang La Quebrada. Jennifer, Joshua, dan Nyonya
Mackey berdiri di sebuah pelataran penonton untuk umum,
417
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sedang penyelam-penyelam yang membawa lampu-lampu
yang menyala terjun sedalam seratus lima puluh kaki, ke
dalam sebuah teluk kecil sempit yang diapit oleh tebing-tebing
batu karang. Saat mereka terjun itu disesuaikan dengan
datangnya ombak besar. Salah perhitungan yang sekecilkecilnya akan berarti kematian mendadak.
Setelah pertunjukan itu selesai, seorang anak-laki-laki
berkeliling mengumpulkan derma untuk para penyelam.
"Uno peso, por favor."
Jennifer memberinya lima pesos. Malam itu Jennifer
bermimpi tentang penyelam-penyelam itu.
Las Brisas mempunyai pantai tersendiri, La Concha,
namanya. Dan pagi-pagi benar pada hari Minggu, Jennifer,
Joshua, dan Nyonya Mackey pergi ke sana, menumpang
sebuah mobil jip yang berlangit-langit merah muda yang
khusus disediakan oleh hotel untuk para tamunya. Cuaca baik
sekali. Laut bagaikan sehelai kain kanvas berwarna biru
berkilauan, dengan bintik-bintik yang terdiri dari speedboad
dan kapal-kapal layar.
Joshua berdiri di tepi pelataran, menonton para pemain ski
air yang lewat.
"Tahukah Mama bahwa olahraga ski air diciptakan di
Acapulco ini, Ma?"
"Tidak. Dari mana kaudengar itu?"
"Mungkin saya baca, atau mungkin juga saya karang
sendiri."
"Aku lebih cenderung percaya pada 'yang dikarang sendiri'
itu."
"Apakah itu berarti bahwa saya tidak akan boleh pergi main
ski air?"
"Speedboat itu laju sekali. Apakah kau tak takut?"
418
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Joshua memandangi pemain-pemain ski itu melayang di
permukaan air. "Laki-laki itu berkata, 'Aku akan mengirim kau
pulang ke tempat Jesus.' Lalu memaku tangan saya."
Itulah pertama kali Joshua menyatakan pengalaman
mengerikan yang telah dialaminya.
Jennifer berlutut lalu mendekap anaknya itu. "Mengapa kau
ingat itu, Joshua?"
Anak itu mengangkat bahunya. "Entah, ya. Barangkali
karena Jesus bisa berjalan di atas air dan semua orang itu
seperti berjalan di atas air saja." Dia melihat wajah ibunya
yang ketakutan. "Maafkan saya, Ma. Saya tak sering ingat
kejadian itu. Sungguh."
Jennifer mendekapnya erat-erat, "Tak apa-apa, Sayang.
Tentu kau boleh main ski nanti. Mari kita makan siang dulu."
Restoran di alam terbuka di La Concha, meja-mejanya
terbuat dari besi tempa beralaskan bahan berwarna merah
muda dan dilindungi payung-payung bergaris merah muda
dan putih. Makan siang di situ diselenggarakan secara
prasmanan dan meja hidangan yang panjang penuh dengan
berbagai macam lauk-pauk. Ada udang galah, kepiting, dan
ikan salem, bisa memilih daging dingin atau panas, bermacam
sayuran baik mentah maupun yang direbus, bermacammacam keju dan buah-buahan. Di meja yang terpisah terdapat
sederetan makanan penutup yang baru dimasak. Kedua
wanita itu memperhatikan Joshua mengisi dan menghabiskan
isi piringnya tiga kali, dan kemudian setelah kenyang duduk
bersandar.
"Restoran yang baik sekali," kata anak itu. "Saya tak peduli
makanan apa itu." Dia bangkit. "Saya pergi melihat-lihat
permainan ski dulu."
Nyonya Mackey makan sedikit sekali. "Tak apa-apakah
kau?" tanya Jennifer. "Kau tak makan apa-apa sejak kita tiba."
419
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nyonya Mackey membungkuk ke depan, lalu berbisik
dengan misterius, "Saya takut dendam Montezuma!"
"Kurasa kau tak perlu kuatir tentang hal itu di tempat
seperti ini."
"Saya tak bisa makan makanan luar negeri," dengus
Nyonya Mackey.
Joshua datang kembali ke meja dengan berlari-lari dan
berkata, "Saya sudah mendapatkan motor airnya, bolehkah
saya pergi sekarang, Ma?"
"Tidakkah kau mau menunggu sebentar lagi?"
"Untuk apa?"
"Joshua, kau akan tenggelam karena perutmu masih penuh
benar."
"Coba saja lihat!" pintanya.
Sementara Nyonya Mackey nonton di darat, Jennifer dan
Joshua naik speedboat, dan Joshua mulai belajar main ski air.
Selama lima menit yang pertama dia jatuh terus, tapi setelah
itu demikian pandainya dia main sehingga seolah-olah sudah
sejak lahir dia main ski. Sebelum petang itu berakhir, Joshua
sudah pandai memainkan berbagai gerakan dengan ski, dan
akhirnya main di atas tumitnya tanpa ski.
Selanjutnya mereka bermalas-malasan dan berenang.
Dalam perjalanan pulang ke Las Brisas di dalam jip, Joshua
bersandar pada Jennifer dan berkata, "Tahukah, Mama? Saya
rasa mungkin inilah hari yang paling hebat seumur hidup
saya."
Kata-kata Michael terkilas dalam pikiran Jennifer: Aku
hanya ingin kau tahu bahwa malam inilah aku paling
berbahagia selama hidupku.
420
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada hari Senin pagi-pagi benar, Jennifer bangun lalu
berpakaian untuk menghadiri pertemuan besar itu. Dia
mengenakan rok berwana hijau tua yang mengembang sekali,
dan blus tanpa bahu yang bersulam bunga mawar merah yang
besar sekali. Model blus yang terbuka itu menampakkan
kulitnya yang berwarna merah perunggu karena sinar
matahari. Jennifer memperhatikan dirinya di cermin dan dia
merasa puas. Meskipun anaknya menganggapnya sudah tua
sekali, Jennifer menyadari bahwa penampilannya masih
seperti kakak Joshua yang cantik, yang berumur tiga puluh
empat tahun. Dia tertawa sendiri dan berpikir bahwa liburan
ini merupakan salah satu gagasannya yang terbaik.
"Aku harus pergi bekerja sekarang. Jaga Joshua baik-baik.
Jangan biarkan dia terlau banyak kena sinar matahari," pesan
Jennifer pada Nyonya Mackey.
Pusat gedung pertemuan yang besar sekali itu merupakan
suatu kelompok yang terdiri dari lima buah bangunan yang
dihubung-hubungkan oleh teras-teras beratap. Bangunanbangunan itu terhampar di tanah seluas lebih dari tiga puluh
lima hektar dengan tumbuh-tumbuhan hijau yang subur.
Pekarangannya berumput, terpelihara dengan baik, di sanasini dipasangi patung-patung model pra-Columbia.
Pertemuan besar Persatuan Ahli Hukum Amerika itu
diadakan di Teotihuacan, balai utama yang bisa memuat
undangan sebanyak tujuh ribu lima ratus orang.
Jennifer pergi ke meja pendaftaran, mendaftarkan diri lalu
memasuki balai pertemuan. Ruangan itu penuh sesak. Dalam
kumpulan orang banyak itu dia melihat banyak sahabat dan
kenalannya. Hampir semuanya tidak memakai setelan resmi
yang biasa, melainkan kemeja sport yang berwarna cerah.
Kelihatannya seolah-olah semua orang sedang berlibur. Ada
atasan yang baik, pikir Jennifer, mengapa orang mengadakan
pertemuan di tempat seperti Acapulco ini dan bukan Chicago
atau Detroit. Mereka jadi bisa menanggalkan kerah baju
421
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka yang kaku dengan dasi yang suram dan bersenangsenang di bawah sinar matahari.
Jennifer telah diberi lembar acara waktu di pintu, tapi
karena asyik bercakap-cakap dengan beberapa orang teman,
dia tidak memperhatikannya.
Melalui pengeras suara terdengar orang berkata,
"Perhatian! Perhatian! Para hadirin dipersilakan mengambil
tempat masing-masing. Perhatian! Kami akan segera memulai
pertemuan ini. Silakan duduk!"
Kelompok-kelompok kecil itu mulai berpencar dan orangorang mulai mencari tempat duduk. Jennifer melihat enam
orang naik ke mimbar.
Di tengah-tengah mereka terdapat Adam Warner. Jennifer
terpana melihat Adam berjalan menuju kursi di dekat
pengeras suara, lalu duduk. Dia merasa jantungnya berdebar.
Terakhir dia bertemu dengan Adam adalah waktu mereka
makan siang bersama di restoran kecil Itali; pada hari itu
Adam mengatakan bahwa Mary Beth hamil.
Ingin benar Jennifer segera melarikan diri. Dia tak
menyangka Adam akan berada di tempat itu dan dia tak tahan
menghadapinya. Dia jadi panik memikirkan bahwa Adam dan
anaknya berada di satu kota. Jennifer menyadari bahwa dia
harus keluar dari gedung itu secepat mungkin.
Baru saja dia berbalik untuk pergi, terdengar ketua
mengumumkan melalui pengeras suara, "Saudara-saudara,
segera setelah semua hadirin duduk, kita akan mulai."
Karena orang-orang di sekelilingnya duduk semua, Jennifer
merasa tak pantas berdiri. Jennifer duduk dengan tekad untuk
menyelinap pergi segera setelah mendapat kesempatan.
Ketua berkata, "Pagi ini kita mendapat kehormatan dengan
hadirnya seseorang yang telah dicalonkan untuk menjadi
Presiden Amerika Serikat, sebagai pembicara tamu. Beliau
422
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah anggota Persatuan Ahli Hukum Amerika Serikat cabang
New York dan salah seorang anggota Senat Amerika Serikat
yang paling terkemuka. Dengan penuh rasa bangga saya
perkenalkan: Senator Adam Warner."
Jennifer memperhatikan Adam bangkit menyambut tepuk
tangan yang hangat. Dia mendekati pengeras suara, lalu
memandang ke ruangan. "Terima kasih, Saudara Ketua,
Saudara-saudara sekalian."
Suara Adam terdengar penuh dan bergema, dan. sikapnya
penuh wibawa dan pesona. Ruangan menjadi benar-benar
sepi.
"Banyak alasan mengapa kita berkumpul di sini." Dia
berhenti sebentar. "Ada di antara kita yang suka berenang dan
ada pula yang suka menyelam...." Grrr — orang tertawa
membenarkan. "Tetapi alasan utama kehadiran kita di sini
adalah untuk bertukar pikiran dan pengetahuan, dan
membahas konsep-konsep baru. Pada zaman ini, ahli hukum
lebih banyak disorot daripada kapan pun juga sepanjang
masa. Bahkan hakim agung dari mahkamah agung pun
memberikan penilaian yang tajam pada profesi kita."
Jennifer senang mendengar kata kita yang digunakan
Adam, menunjukkan bahwa dia merasa salah seorang di
antara mereka. Dibiarkannya kata-kata Adam menyerapi
dirinya, dia sudah merasa puas dengan hanya
memandanginya saja, memperhatikan gerak-geriknya,
mendengarkan suaranya. Suatu saat, Adam berhenti sebentar
dan menyusupkan jari-jari ke rambutnya, dan Jennifer merasa
dadanya tertusuk melihat gerak itu. Gerak itu sama benar
dengan kebiasaan Joshua. Putra Adam itu berada hanya
beberapa mil dari tempat itu, dan Adam tidak akan pernah
tahu.
Suara Adam menjadi lebih kuat, lebih mantap. "Beberapa di
antara Saudara-saudara di sini ada ahli hukum di bidang
kriminal. Saya harus mengakui bahwa cabang itu adalah
423
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cabang yang paling menarik dalam profesi kita. Ahli-ahli
hukum kriminal sering kali berurusan dengan hidup atau mati.
Itu suatu profesi yang sangat terhormat dan salah satu yang
bisa kita banggakan. Namun —" Suaranya menjadi keras —
"ada di antara mereka —" Sekarang Jennifer mendengar
bahwa Adam memisahkan dirinya dengan penggunaan kata
'mereka' — "yang memberi malu pada sumpah yang mereka
ucapkan. Sistem hukum Amerika didasarkan atas hak pada
setiap warga negara tanpa pilih, untuk disidang secara adil.
Tapi bila undang-undang lalu dijadikan bahan olok-olok, bila
para ahli hukum menghabiskan waktu dan tenaganya, angan
dan keahliannya, untuk mencari jalan melanggar undangundang itu, mencari jalan untuk merobohkan keadilan, maka
saya rasa sudahlah waktunya untuk melakukan sesuatu."
Semua mata dalam ruangan itu tertuju pada Adam yang
berdiri dengan mata berapi-api. "Saudara-saudara, saya
berbicara berdasarkan pengalaman pribadi dan rasa marah
yang mendalam karena melihat beberapa kejadian. Baru-baru
ini saya mengetuai suatu panitia senat untuk melakukan
penyelidikan tentang kejahatan yang terorganisir di Amerika
Serikat ini. Panitia saya sering merasa dihalang-halangi dan
dipermalukan oleh orang-orang yang menganggap dirinya
lebih berkuasa daripada badan pelaksana tertinggi bangsa
kita. Saya telah melihat hakim disuap, keluarga dari para saksi
diancam, dan saksi-saksi utama menghilang. Kejahatan
terorganisir di negara kita ini tak ||bahnya seperti ular pithon
yang mematikan, yang memeras perekonomian kita, menelan
habis pengadilan-pengadilan kita, bahkan mengancam
kehidupan kita. Sebagian terbesar dari ahli-ahli hukum kita
adalah pria dan wanita yang terhormat, yang melakukan
pekerjaan yang terhormat, tapi saya ingin memberikan
peringatan pada segolongan kecil yang berpikir bahwa
undang-undang mereka berada di atas undang-undang kita:
Anda telah membuat kekeliruan besar dan Anda akan dihukum
karenanya. Terima kasih."
424
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam duduk sedang hadirin bertepuk tangan riuh dan
meriah sambil berdiri. Jennifer jadi ikut-ikutan bangkit dan
bertepuk tangan bersama yang lain, tapi pikirannya tertuju
pada kata-kata Adam yang terakhir. Rasanya seolah-olah
Adam telah berbicara langsung pada dirinya. Jennifer berbalik
lalu berjalan menuju pintu keluar, sambil menguak jalan di
antara orang banyak.
Waktu Jennifer tiba di dekat pintu, dia dicegat oleh seorang
ahli hukum Meksiko yang tahun lalu bekerja sama dengan dia.
Laki-laki itu mencium tangan Jennifer dengan sopan lalu
berkata, "Suatu kehormatan besar kau berada di negeri kami
lagi, Jennifer. Aku minta dengan sangat supaya kau makan
bersamaku nanti malam."
Jennifer dan Joshua telah merencanakan untuk pergi ke
Maria Elena malam itu untuk menonton penari-penari
setempat. "Maaf, Luis. Aku sudah ada janji."
Matanya yang besar berair-air, menunjukkan kekecewaan.
"Kalau begitu, besok saja?"
Sebelum Jennifer sempat menjawab, seorang asisten jaksa
dari New York sudah berada di sampingnya.
"Halo," katanya. "Untuk apa kau kemari berkumpul dengan
rakyat jelata? Bagaimana kalau kita makan bersama malam
ini? Ada sebuah disko Meksiko bernama Napentha, lantainya
dibuat dari kaca yang disorot lampu dari bawah dan ada
cermin di atasnya."
"Menarik sekali, tapi terima kasih, aku sibuk malam ini."
Beberapa saat kemudian Jennifer mendapati dirinya
dikelilingi oleh ahli-ahli hukum dari seluruh negara, baik yang
pernah bekerja sama dengan dia maupun yang pernah
menjadi lawannya. Dia menjadi kerumunan orang banyak dan
semua ingin berbicara dengan dia. Setengah jam kemudian
barulah Jennifer dapat membebaskan dirinya. Dia bergegas ke
425
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lobi, dan sedang dia berjalan ke arah pintu keluar, Adam
berjalan ke arahnya, dikerumuni oleh para wartawan dan
petugas-petugas keamanan. Jennifer berusaha untuk menarik
diri, tapi terlambat. Adam sudah melihatnya.
"Jennifer!"
Sesaat timbul niatnya untuk berpura-pura tidak
mendengarnya, tapi dia tentu tidak bisa mempermalukan
Adam di hadapan orang-orang lain itu. Dia hanya akan
menyapanya cepat-cepat dan berlalu.
Diperhatikannya Adam berjalan ke arahnya sambil berkata
pada para wartawan, "Tak ada lagi yang dapat saya katakan,
Saudara-saudara."
Sesaat kemudian, Adam sudah memegang tangannya,
menatap matanya seakan-akan mereka tak pernah berpisah.
Mereka berdiri di ruangan itu dikelilingi oleh orang banyak,
namun mereka merasa seolah-olah berduaan saja. Jennifer
tak sadar berapa lama mereka berdiri berpandangan begitu.
Akhirnya Adam berkata, "Se — sebaiknya kita minum."
"Sebaiknya tidak." Jennifer ingin keluar dari tempat itu.
Adam menggeleng. "Tidak diperkenankan."
Adam menggandengjennifer lalu menuntunnya ke bar yang
sudah penuh sesak. Mereka menemukan sebuah meja di
bagian belakang.
"Aku meneleponmu dan menulis surat padamu," kata
Adam. "Kau tak pernah menerima teleponku, dan suratsuratku dikembalikan."
Adam menatapnya dengan pandangan bertanya. "Tak ada
sehari pun berlalu tanpa aku ingat padamu. Mengapa kau
menghilang begitu saja?"
"Itu sebagian dari tindakan ajaibku," jawab Jennifer ringan.
426
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang pelayan datang untuk bertanya apa yang ingin
mereka pesan. Adam menoleh pada Jennifer. "Ingin apa kau?"
"Tidak apa-apa. Aku benar-benar harus pergi, Adam."
"Kau tak bisa pergi sekarang. Ini suatu perayaan. Hari
jadinya revolusi."
"Revolusi mereka atau revolusi kita?"
"Apa bedanya?" Dia menoleh pada pelayan. "Margarita,
dua."
"Tidak. Aku —" Baiklah, pikir Jennifer, satu gelas saja.
"Minuman untuk saya, buat yang keras," kata Jennifer
sembrono.
Pelayan mengangguk lalu pergi.
"Aku selalu membaca tentang dirimu," kata Jennifer. "Aku
bangga sekali, Adam."
"Terima kasih." Adam ragu. "Aku juga membaca tentang
kau."
Jennifer memberi jawaban yang sesuai dengan nada bicara
Adam. "Tapi kau tidak bangga padaku, bukan?"
"Kelihatannya kau banyak klien dari sindikat."
Jennifer merasa pertahanan dirinya meningkat. "Kusangka
ceramahmu sudah berakhir tadi."
"Ini bukan ceramah, Jennifer. Aku menguatirkan kau.
Panitiaku sedang mengejar-ngejar Michael Moretti, dan kami
akan berhasil menangkapnya."
Jennifer melihat ke sekeliling bar yang dipenuhi para ahli
hukum itu. "Demi Tuhan, Adam, tak pantas kita membahas
soal ini, terutama di sini."
"Lalu di mana?"
427
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tak di mana-mana. Michael Moretti adalah klienku. Aku
tak bisa membahas tentang dia denganmu."
"Aku ingin berbicara denganmu. Di mana?"
Jennifer menggeleng. "Sudah kukatakan. Aku —"
"Aku harus berbicara tentang kita."
"Tidak ada 'kita'." Jennifer akan bangkit.
Adam menahan lenganjennifer. "Janganlah pergi. Aku tak
bisa membiarkan kau pergi. Sekarang belum."
Jennifer duduk lagi dengan enggan.
Adam memandang lekat pada wajah Jennifer. "Pernah kau
mengingat aku?"
jennifer memandang Adam dan dia tak tahu apakah dia
harus tertawa atau menangis. Pernahkah dia mengingat
Adam. Adam hidup di rumah Jennifer. Jennifer memberinya
ciuman selamat pagi setiap hari, menyiapkan sarapannya,
pergi berlayar bersamanya, mencintainya. "Ya," kata Jennifer
akhirnya, "aku ingat padamu."
"Aku senang. Apakah kau bahagia?"
"Tentu." Jennifer tahu bahwa dia terlalu cepat menjawab.
Sebab itu diubahnya suaranya jadi seenaknya. "Praktekku
berhasil. Dalam hal keuangan aku berkecukupan, aku sering
bepergian, aku bertemu dengan banyak pria menarik.
Bagaimana istrimu?"
"Dia baik-baik saja." Suara Adam merendah. "Dan
anakmu?"
Adam mengangguk, dan wajahnya membayangkan rasa
bangga waktu berkata. "Samantha baik sekali. Rasanya dia
tumbuh terlalu cepat."
Anak itu tentu seumur dengan Joshua.
428
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau tak pernah menikah?"
"Tidak."
Lama mereka diam, lalu Jennifer mencoba berkata lagi, tapi
dia ragu terlalu lama. Sudah* terlambat. Adam telah melihat
matanya dan dia segera maklum.
Dia menggenggam tangan Jennifer. "Oh, Jennifer. Aduh,
Sayangku!"
Jennifer merasa darahnya mengalir ke wajahnya. Dia sudah
lama tahu bahwa ini akan merupakan kesalahan besar.
"Aku harus pergi, Adam. Aku ada janji." "Batalkan janji itu,"
desaknya. "Maaf. Tak bisa." Jennifer hanya ingin keluar dari
tempat itu dan pulang melarikan diri.
"Aku seharusnya terbang kembali ke Washington
menumpang pesawat petang ini. Tapi bisa kuatur untuk
menginap kalau kau mau menemaniku nanti malam."
"Tidak! Tidak!"
"Jennifer, aku tak bisa membiarkan kau pergi lagi. Jangan
dengan cara ini. Kita harus berbicara. Mari kita makan malam
saja," kata Adam.
Digenggamnya tangan Jennifer lebih erat. Jennifer
memandangnya, berjuang dengan segenap kekuatannya, tapi
merasa dirinya makin lemah.
"Tolonglah, Adam," pintanya. "Orang tak boleh melihat kita
berduaan. Bila kau sedang mengejar Michael Moretti —"
"Ini tak ada hubungannya dengan Moretti. Seorang
sahabatku telah menawari aku untuk menggunakan kapalnya.
Kapal itu bernama Paloma Blanca. Berlabuh di Klub Kapal
Pesiar. Jam delapan."
"Aku tak mau ke sana."
429
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku mau. Aku akan menunggumu di sana." Di seberang
ruangan itu, di bar yang penuh sesak, Nick Vito sedang duduk
dengan dua orang gadis Meksiko yang diberikan seorang
sahabat padanya. Keduanya cantik, polos, dan masih di bawah
umur, persyaratan-persyaratan yang memenuhi selera Nick.
Sahabatnya telah menjanjikan keistimewaan kedua gadis itu,
dan dia benar. Gadis-gadis itu sedang menyandarkan diri pada
Nick sambil membisikkan janji-janji yang mendebarkan ke
telinganya, tapi Nick Vito tak mendengarkan. Dia sedang
menatap ke seberang tempat itu, ke ruang kecil di mana
Jennifer Parker sedang duduk dengan Adam Warner.
"Mari kita naik ke kamarmu sekarang, Sayang," usul salah
seorang gadis itu pada Nick.
Nick Vito ingin sekali berjalan ke tempat Jennifer dan orang
asing temannya itu untuk menyapanya, lapi kedua gadis itu
telah berhasil menyelipkan tangan mereka ke celah paha Nick
dan membelai-belainya. Dia jadi terangsang.
"Ayolah kita naik," kata Nick Vito.
Paloma blanca adalah sebuah kapal motor yang memancar
dengan bangga dan putih serta berkilauan di bawah sinar
bulan. Jennifer mendekati kapal itu perlahan-lahan, sambil
melihat berkeliling untuk meyakinkan diri bahwa tak ada
seorang pun melihatnya. Adam telah mengatakan padanya
bahwa dia akan menghindari petugas-petugas, keamanan
rahasia dan kelihatannya dia telah berhasil. Setelah Jennifer
mendapatkan tempat duduk untuk Joshua dan Nyonya Mackey
di Maria Elena, dia lalu naik taksi dan menyuruh sopirnya
menurunkannya dua blok sebelum dermaga.
Berulang kali Jennifer mengangkat gagang telepon untuk
menelepon Adam untuk mengatakan bahwa dia tidak akan
menemuinya. Dia lalu menulis surat pendek, tapi kemudian
merobeknya. Sejak saat dia meninggalkan Adam di bar,
Jennifer tersiksa oleh ketidakpastian. Dicarinya alasan-alasan
untuk tidak menemui Adam. Pertemuan itu tidak mungkin
430
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membawa akibat baik, bahkan akan membawa bencana yang
sangat besar. Karir Adam akan terancam bahaya. Dia sedang
berada di puncak popularitas umum, seorang yang penuh citacita dalam masa penuh cemooh, harapan negara untuk masa
depan. Dia adalah kesayangan media massa, tapi pers yang
telah membantu menciptakan citra dirinya itu pulalah yang
akan siap sedia mendorongnya ,ke dalam jurang yang teramat
dalam, bila saja Adam mengkhianati citra dirinya itu.
Oleh karena itulah Jennifer telah mengambil keputusan
untuk tidak menemuinya. Dia adalah seorang wanita lain,
yang menjalani hidup yang berbeda, dan dia kini milik
Michael....
Adam sedang menunggunya di atas titian untuk naik ke
kapal.
"Aku takut sekali kau tidak akan datang," katanya.
Dan Jennifer pun langsung berada dalam pelukan laki-laki
itu dan mereka lalu berciuman.
"Bagaimana dengan awak kapal ini, Adam?" tanya Jennifer
akhirnya.
"Mereka kusuruh pergi. Masihkah kauingat cara berlayar?"
"Masih."
Mereka mengembangkan layar, lalu menarik talinya ke sisi
kapal sebelah kanan, dan sepuluh menit kemudian kapal
Paloma Blanca menuju ke pelabuhan terus ke laut terbuka.
Selama setengah jam yang pertama, mereka sibuk mengatur
pelayaran, tapi tak sesaat pun mereka lupa bahwa mereka
hanya berduaan saja. Ketegangan mereka makin memuncak,
dan keduanya menyadari bahwa apa yang telah terjadi tak
dapat dielakkan.
Setelah mereka akhirnya meninggalkan pelabuhan dan
mereka berlayar di Samudra Pasific yang disinari rembulan,
Adam pindah ke tempat Jennifer lalu merangkulnya.
431
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka main cinta di dek kapal di bawah bintang, sedang
angin yang harum yang bertiup sepoi-sepoi lembut,
menyejukkan tubuh mereka.
Masa lalu dan masa depan tersapu habis, yang ada hanya
saat ini, yang merangkul mereka berdua dalam saat yang
pendek itu. Jennifer tahu bahwa berada dalam pelukan Adam
malam ini, bukanlah suatu awal; sebaliknya itu adalah
merupakan yang terakhir. Tak ada jalan untuk menjembatani
dunia yang memisahkan mereka. Mereka telah berjalan terlalu
jauh ke arah yang berlawanan, dan tak ada lagi jalan kembali.
Sekarang tidak, selamanya pun tidak.
Jennifer selalu menyimpan suatu bagian jdari Adam, yaitu
Joshua, dan itu cukup sudah baginya, harus cukup baginya.
Kenangan tentang malam itu harus disimpannya selalu
selama sisa hidupnya.
Mereka berbaring berdua, mendengarkan pukulan ombak
yang lembut pada badan kapal.
Adam berkata, "Besok —"
"Jangan bicara," bisik Jennifer. "Cintai sajalah aku, Adam."
Bibir Adam dikecupinya dengan ciuman-ciuman kecil dan
mengelus-ngeluskan jemarinya dengan lembut ke sepanjang
tubuh Adam yang kuat dan langsing itu.
"Oh Tuhan, Jennifer," bisik Adam, dan mulutnya mulai
menciumi tubuh Jennifer.
"Bajingan itu memberi aku malocchio terus," keluh
Salvatore Fiore, si Kecil, "jadi aku harus membakarnya."
Nick Vito tertawa, karena siapa pun yang begitu bodoh dan
mau main-main dengan si Bunga Kecil, harus mau keluar
untuk makan siang. Nick Vito sedang bersenang-senang di
dapur rumah pertanian bersama Salvatore Fiore dan Joseph
Colella, mereka membicarakan masa lalu sambil menunggu
432
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rapat di ruang tamu usai. Si Kerdil dan si Raksasa itu adalah
sahabat-sahabat karibnya. Mereka selalu menempuh bahaya
bersama-sama. Nick Vito melihat pada kedua sahabatnya itu
dan berpikir, Mereka ini seperti saudara-saudara kandungku.
"Bagaimana Pete, saudara sepupumu itu?" tanya Nick pada
si raksasa Colella.
"Dia sakit kanker dan harus dibedah, tapi dia akan
sembuh."
"Dia baik."
"Ya, Pete memang orang baik, hanya dia agak kurang
beruntung. Pada suatu perampokan bank, dia bertugas
mengawasi polisi, tapi sialnya dia yang ditangkap polisi dan
dipenjarakan. Dia dipenjarakan dan menderita sekali. Pembela
mencoba membebaskannya, tapi mereka gagal."
"Ya, kasihan. Pete itu bukan orang sembarang." "Memang.
Dia suka segala-galanya yang besar, uang besar, perempuan
yang besar, dan mobil besar."
Dari ruang tamu terdengar suara yang makin meninggi dan
marah. Mereka diam, mendengarkan sebentar.
"Kedengarannya Colfax menunjukkan ketololannya lagi."
Thomas Colfax dan Michael Moretti sedang berdua saja di
kamar itu, membahas suatu kegiatan perjudian besar yang
akan dimulai oleh keluarga itu di Kepulauan Bahama. Michael
telah menugaskan Jennifer untuk mengatur segi
perdagangannya.
"Kau tak bisa melakukan itu, Mike," Colfax membantah.
"Aku kenal semua orang di sana. Jennifer tidak tahu. Biar aku
saja yang menanganinya." Dia sadar bahwa dia berbicara
terlalu lantang, tapi dia tak dapat menguasai dirinya lagi.
"Sudah terlambat," kata Michael.
"Aku tak bisa mempercayai gadis itu. Tony juga tidak."
433
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tony sudah tak ada lagi di antara kita." Snara Michael
terdengar halus, suatu pertanda bahaya.
Thomas Colfax menyadari bahwa inilah saat yang tepat
untuk membela diri. "Sungguh, Mike, aku hanya berkata
bahwa menurutku masuknya gadis itu adalah suatu
kekeliruan. Aku sependapat denganmu bahwa dia cerdas, tapi
kuperingatkan kau, sebelum dia binasa, dia bisa
menghancurkan kita semua."
Padahal Thomas Colfax sendiri yang dikuatirkan Michael.
Penyelidikan Komisi Kejahatan Warner sedang dijalankan
dengan gencar-gencarnya. Bila mereka sampai menangkap
Colfax, berapa lamakah orang tua itu akan bisa bertahan
terhadap mereka sebelum dia membuka mulut? Thomas lebih
tahu banyak tentang keluarga mereka daripada Jennifer
Parker. Colfax-lah yang bisa menghancurkan mereka semua,
dan Michael tidak mempercayainya.
"Suruh dia pergi sebentar," kata Thomas Colfax. "Hanya
sampai penyelidikan itu mereda saja. Dia seorang wanita. Bila
mereka menekannya, dia akan buka mulut."
Michael memperhatikannya sebentar, lalu mengambil
keputusan. "Baiklah, Tom. Mungkin penda-patmu benar.
Mungkin Jennifer tidak berbahaya, tapi sebaliknya, bila dia
tidak berada di pihak kita seratus persen, untuk apa kita harus
mengambil sikap untung-untungan?"
"Itulah yang kusarankan." Thomas Colfax bangkit dari
kursinya dengan rasa lega. "Kau mengambil langkah yang
bijak."
"Aku tahu." Mike berpaling ke arah dapur lalu berteriak,
"Nick!"
Sesaat kemudian Nick Vito muncul.
"Antar Pak Pengacara kembali ke New York. Nick."
"Baik, Bos."
434
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Oh ya. Sambil lalu, tolong mampir dan sampaikan suatu
bungkusan." Dia menoleh pada Thomas Colfax. "Kau tidak
keberatan, kan?"
"Tentu tidak, Mike." Wajahnya merah karena merasa
menang.
"Mari ikut. Barangnya ada di lantai atas," kata Michael
Moretti pada Nick Vito.
Nick mengikuti Michael naik ke kamar tidurnya. Setelah
mereka masuk, Michael menutup pintunya.
"Kuminta kau berhenti sebelum keluar dari daerah New
Jersey."
"Baik, bos."
"Kau harus menurunkan sampah." Nick Vito tampak
kebingungan tak mengerti. "Pengacara itu," Michael
menjelaskan.
"Oh, baiklah."
"Bawa dia ke tempat tumpukan sampah. Tidak akan ada
seorang pun malam hari begini."
Lima belas menit kemudian mobil mewah mereka meluncur
ke arah New York. Nick Vito mengemudikan, sedang Thomas
Colfax duduk di sebelahnya.
"Aku senang Mike sudah memutuskan untuk menyingkirkan
perempuan keparat itu," kata Thomas Colfax.
Nick mengerling ke arah ahli hukum di sebelahnya yang
tidak menaruh curiga itu. "He-eh."
Thomas Colfax melihat ke arloji emasnya yang bermerek
Baume and Mercier. Waktu itu pukul tiga subuh; waktu
tidurnya sudah lama lewat. Dia bekerja terus seharian itu dan
dia letih. Aku sudah terlalu tua untuk melakukan semua
pertempuran ini, pikirnya.
435
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Masih berapa jauh lagi perjalanan kita?" "Tak jauh,"
gumam Nick.
Pikiran Nick Vito kacau-balau. Membunuh adalah bagian
dari pekerjaannya, dan dia menyukai pekerjaan itu, karena
dengan membunuh dia merasa mendapatkan kekuatan. Nick
merasa dirinya sebagai dewa bila dia membunuh; dia merasa
berkekuasaan besar. Tapi malam ini dia bingung. Dia tak
mengerti mengapa dia diperintah untuk menembak Thomas
Colfax. Colfax adalah pengacara mereka, orang yang dicari
oleh semua anggota sindikat bila dalam kesulitan. Di samping
Godfather, pengacaralah orang yang paling penting dalam
organisasi itu. Colfax sudah sering kali menghindarkan Nick
dari penjara.
Setani pikir Nick. Colfax memang benar. Mike sebenarnya
tak pernah boleh membawa masuk perempuan ke dalam
organisasi mereka. Laki-laki berpikir dengan otak. Perempuan
dengan pantatnya. Oh, ingin benar dia menangani Jennifer
Parker itu. Akan disakitinya perempuan itu habis-habisan,
kemudian —
"Awas! Kau menyimpang dari jalan!"
"Maaf." Nick cepat-cepat membelokkan mobil itu ke
jalannya kembali.
Tempat tumpukan sampah itu tinggal dekat lagi. Nick
merasa peluhnya keluar di ketiaknya. Dia mengerling pada
Thomas Colfax lagi.
Membunuh orang ini adalah soal yang mudah sekali. Sama
saja dengan membawa bayi tidur, tapi sialan. Bayinya bukan
yang ini\ Ada orangyang menghasut Mike. Ini dosa. Rasanya
seperti harus membunuh ayah sendiri.
Dia ingin dapat membicarakannya dengan Salvatore atau
Joe. Mereka pasti bisa memberi tahu apa yang harus
diperbuatnya.
436
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tumpukan sampah itu sudah tampak oleh Nick di depan, di
sebelah kanan jalan raya. Syarafnya mulai menegang,
sebagaimana yang selalu terjadi sebelum dia memukul.
Ditekankannya lengan kiri ke sisi tubuhnya yang sebelah kiri,
dan dirasakannya tonjolan pistol berlaras pendek berukuran
38 buatan Smith dan Wesson. Pistol yang tersembunyi itu
memberikan ketenangan padanya.
"Aku perlu tidur nyenyak," Thomas Colfax menguap.
"Ya." Dia memang akan tidur lama, lama sekali.
Mobil sudah mendekati tumpukan sampah sekarang. Nick
melihat ke kaca spion dan memperhatikan jalan di
hadapannya. Tak sebuah mobil pun kelihatan.
Dia tiba-tiba menekan rem lalu berkata, "Sialan,
kelihatannya ban kita kempis."
Mobil dihentikannya, dibukanya pintu mobil lalu keluar ke
jalan. Pistolnya dikeluarkannya dari sarungnya dan dipegang
di sisinya. Lalu dia berjalan ke tempat Colfax duduk dan
berkata, "Bisakah Anda membantu?"
Thomas Colfax keluar dari mobil. "Aku tak begitu pandai
me —" Dia melihat pistol yang teracung di tangan Nick dan
terhenti. Dia mencoba menelan. "A — ada apa Nick?"
Suaranya parau. "Apa yang telah kulakukan?"
Pertanyaan itulah yang telah memenul|i benak Nick
sepanjang malam itu. Ada orang yang mempermainkan Mike.
Colfax ada di pihak mereka, dia adalah salah seorang dari
mereka. Waktu adik laki-laki Nick mendapat kesulitan dengan
polisi federal, Colfax-lah yang bertindak dan menyelamatkan
anak itu. Orang tua itu bahkan memberinya pekerjaan. Aku
berhutang budi pada orang tua ini, sialan, pikir Nick.
Tangannya yang menggenggam pistol itu diturunkannya.
"Demi Tuhan, aku tak tahu, Tuan Colfax. Ini tak beres."
437
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thomas Colfax melihat padanya sebentar lalu mendesah.
"Lakukanlah sebagaimana yang diperintahkan padamu, Nick."
"Demi Tuhan, aku tak bisa melakukannya. Anda adalah
pembelaku."
"Mike akan membunuhmu kalau kaubiarkan aku pergi."
Nick tahu bahwa yang dikatakan Colfax itu benar. Michael
Moretti bukanlah orang yang mau menerima ketidakpatuhan.
Nick teringat akan Tommy Angelo. Angelo bertugas sebagai
sopir pada suatu penyelundupan bulu binata'ng. Michael
memerintahkannya untuk mengambil mobil yang bekas
mereka pakai untuk itu, dan memusnahkannya di sebuah
mesin pemusnah di bengkel besi tua di New Jersey milik
keluarga. Waktu itu Tommy Angelo terburu-buru karena harus
memenuhi janji kencan, maka mobil itu dibuangnya saja di
East Side Street, di mana para detektif pemerintah
menemukannya. Esok harinya Angelo lenyap, dan diberitakan
bahwa tubuhnya dimasukkan ke dalam sebuah mobil
Chevrolet tua dan dimusnahkan bersama. Tak seorang pun
yang melawan Michael Moretti tetap hidup. Tapi ada suatu
jalan, pikir Nick.
"Mike tak perlu tahu," kata Nick. Otaknya yang biasanya
lamban kini bekerja dengan cepat, bahkan hebat. "Dengar,"
katanya, "Anda hanya harus keluar dari negeri ini. Akan
kuceritakan pada Mike bahwa Anda sudah kukuburkan di
bawah sampah, maka mereka tidak akan menemukan Anda.
Anda bisa bersembunyi di Amerika Selatan atau tempat lain.
Anda tentu punya tabungan."
Thomas Colfax berusaha supaya harapannya tidak sampai
terdengar di suaranya. "Uangku banyak sekali, Nick. Akan
kuberikan padamu seberapa —"
Nick menggeleng kuat-kuat. "Ini kulakukan bukan untuk
uang. Ini kulakukan karena—" Bagaimana dia bisa
mengucapkannya? — "aku menaruh hormat pada Anda. Aku
438
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hanya minta supaya Anda juga melindungi aku. Bisakah Anda
menumpang pesawat yang terpagi ke Amerika Selatan?"
"Tak ada kesulitannya, Nick," kata Thomas Colfax. "Tolong
antar saja aku ke rumahku. Pasporku ada di sana."
Dua jam kemudian, Thomas Colfax sudah ada dalam
pesawat jet Eastern Airlines. Pesawat itu menuju ke
Washington DC.
Hari itu adalah hari mereka yang terakhir di Acapulco, suatu
pagi yang sempurna, dengan angin sepoi yang hangat dan
lembut, yang meniupkan lagu-lagu di daun-daun pohon
palma. Pantai di La Concha penuh sesak wisatawan yang
dengan serakahnya memanfaatkan matahari sebelum mereka
kembali ke pekerjaan rutin dalam kehidupan mereka seharihari.
Joshua berlari-lari datang ke meja tempat mereka sedang
sarapan, dengan memakai pakaian renang. Tubuhnya yang
atletis dan lentur itu tampak sehat dan coklat karena sinar
matahari. Nyonya Mackey berjalan perlahan-lahan di
belakangnya.
"Sudah cukup lama sekali makanan saya dicernakan, Ma.
Bolehkah saya pergi main ski air sekarang?"
"Joshua, kau baru saja selesai makan."
"Daya perubahan zat dalam tubuh saya ini tinggi sekali,"
dia menjelaskan dengan bersungguh-sungguh. "Makanan saya
cepat tercerna."
Jennifer tertawa. "Baiklah. Bersenang-senanglah, ya?"
"Ya, Ma. Mama nonton saja, ya?"
Jennifer memperhatikan Joshua berlari-lari di sepanjang
dermaga ke arah sebuah speedboat yang sedang
menunggunya. Dilihatnya anak itu bercakap-cakap serius
dengan pengemudinya, dan mereka berdua menoleh ke arah
439
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer. Jennifer memberikan isyarat mengizinkan, dan
pengemudi itu mengangguk, sedang Joshua mengenakan alatalat ski airnya.
Kapal motor itu menderum waktu dihidupkan mesinnya,
dan Jennifer melihat Joshua yang bangkit dengan alat ski yang
sudah terpasang.
"Olahragawan yang hebat sekali anak itu," kata Nyonya
Mackey.
Pada saat itu Joshua berpaling akan melambai pada
Jennifer, dia kehilangan keseimbangannya, lalu jatuh kena
tiang. Jennifer melompat, lalu berlari ke dermaga. Sesaat
kemudian dilihatnya kepala Joshua muncul di atas permukaan
air, dan melihat padanya dengan tertawa.
Jennifer berdiri terpana, jantungnya berdebar keras,
diperhatikannya Joshua yang mengenakan alat ski airnya
kembali. Speedboat berputar dan mulai hergerak maju lagi,
lalu menambah kecepatan untuk memungkinkan Joshua
berdiri lagi. Sekali lagi dia menoleh untuk melambai Jennifer,
lalu melaju menjauh di atas permukaan gelombang. Jennifer
memperhatikannya; dia masih tetap berdebar dan ngeri. Bila
sesuatu sampai terjadi atas dirinya... Dia ingin tahu apakah
ibu-ibu lain juga mencintai anaknya seperti dia, tapi agaknya
tak mungkin. Dia bersedia mati bagi Joshua, mau membunuh
demi anak itu. Aku sudah membunuh seseorang demi dia,
pikir Jennifer, melalui tangan Michael Moretti.
"Jatuh seperti itu tadi bisa berbahaya," kata Nyonya
Mackey.
"Syukurlah tidak."
Satu jam lamanya Joshua berada di air. Waktu motor
mendekat ke pantai kembali, Joshua melepaskan tali
penariknya, dan dengan anggun meluncur sendiri ke arah
pasir di pantai.
440
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia berlari ke arah Jennifer penuh kegirangan. "Kalau
Mama melihat kecelakaan di sana tadi! Mengerikan sekali!
Sebuah kapal layar terbalik, dan kami berhenti, lalu
menyelamatkan para penumpangnya."
"Bagus sekali, Nak. Berapa nyawa kausela-matkan?"
"Enam orang."
"Dan kalian menarik mereka keluar dari air?"
Joshua ragu. "Yah, kami bukan menarik mereka ke luar dari
air. Mereka itu duduk di sisi kapal mereka. Tapi mereka
mungkin mati kelaparan kalau kami tak datang."
Jennifer menggigit bibirnya menahan senyum. "Oh, begitu.
Beruntung benar mereka, kalian datang, ya?'"
"Jelas."
"Kau tidak sakit waktu kau sendiri jatuh, Sayang?"
"Tentu tidak." Dia meraba bagian belakang kepalanya.
"Cuma benjol sedikit."
"Coba kuraba."
"Untuk apa? Mama kan tahu bagaimana rasanya benjolan?"
Jennifer menjangkaukan tangannya, lalu perlahan-lahan
meraba-raba bagian belakang kepala Joshua.
Jari-jarinya menemukan sebuah benjolan besar. "Sampai
sebesar telur, Joshua."
"Ah, tak apa-apa."
Jennifer bangkit. "Sebaiknya kita kembali ke hotel."
"Sebentar lagilah, Ma."
"Tak bisa lagi. Kita harus berbenah. Kau tentu tak mau
sampai kehilangan pertandingan bolamu pada hari Sabtu?"
441
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Joshua mendesah. "Tidak. Soalnya si Terry Waters sudah
menunggu-nunggu kesempatan untuk menggantikan saya."
"Mana bisa. Dia melemparkan bola seperti anak
perempuan."
Joshua mengangguk dengan rasa puas. "Memang, ya?"
Sekembali mereka ke Las Brisas, Jennifer menelepon
manajer hotel meminta supaya mendatangkan seorang dokter
ke kamar mereka. Dokter itu tiba tiga puluh menit kemudian.
Dia seorang Meksiko yang Kemuk dan tegap, sudah setengah
baya, dengan berpakaian setelan putih model tua. Jennifer
mempersilakannya masuk ke bungalow mereka.
"Apa yang dapat saya bantu?" tanya Dokter Raul Mendoza.
"Anak saya tadi pagi jatuh. Di kepalanya ada benjolan
besar. Saya ingin yakin bahwa dia tak apa-apa."
Jennifer mengantarnya ke kamar tidur Joshua, di mana
anak itu sedang membenahi kopornya.
"Joshua, ini Dokter Mendoza.'"
Joshua mengangkat mukanya dan bertanya, "Siapa yang
sakit?"
"Tak ada siapa-siapa yang sakit, Sayang. Mama hanya
meminta dokter memeriksa kepalamu."
"Aduh, Mama! Ada apa dengan kepala saya?"
"Tidak apa-apa. Mama hanya akan lebih tenang bila Dokter
Mendoza memeriksanya. Kau mau kan menyenangkan hati
Mama?"
"Perempuan!" keluh Joshua. Dia melihat pada dokter itu
dengan curiga. "Anda tidak akan menusukkan satu jarum pun
ke badan saya, bukan?"
"Tidak, Senor, saya ini dokter yang tak suka menyakiti."
442
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Itu yang saya suka."
"Silakan duduk."
Joshua duduk di tepi tempat tidurnya, dan Dokter Mendoza
meraba-raba bagian belakang dari kepala Joshua. Joshua
menyeringai kesakitan tapi dia tidak berteriak. Dokter
membuka tas alat-alatnya lalu mengeluarkan sebuah kaca
pemeriksa mata. "Coba buka matamu lebar-lebar."
Joshua mematuhinya. Dokter Mendoza menatap melalui
alat tadi.
"Apakah Dokter melihat gadis-gadis telanjang menari di
situ?"
"Joshua!"
"Saya kan sekedar bertanya."
Dokter Mendoza memeriksa mata Joshua yang sebelah lagi.
"Kau sehat walafiat. Begitu ungkapannya, bukan?" Dokter itu
bangkit lalu menutup tas alat-alatnya. "Sebaiknya benjolan itu
dikompres dengan es," katanya pada Jennifer. "Besok anak itu
akan sehat."
Jennifer merasa seolah-olah suatu beban berat telah
diangkat dari hatinya. "Terima kasih," katanya.
"Saya akan mengurus pembayaran dengan kasir hotel,
Nyonya. Selamat tinggal, Anak muda."
"Selamat jalan, Dokter Mendoza."
Setelah dokter itu pergi, Joshua berpaling pada ibunya.
"Mama memang suka membuang-buang uang, ya Ma?"
"Aku tahu. Aku suka memboroskannya kalau untuk
makanan, kesehatanmu —"
"Sayalah orang yang paling sehat dalam regu kami."
"Pertahankanlah keadaan itu."
443
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Joshua tertawa. "Saya berjanji."
Mereka menumpang pesawat terbang yang pukul enam ke
New York, dan tiba kembali di Sands Point, rumah mereka,
larut malam. Joshua tidur terus sepanjang perjalanan pulang.
Ruangan itu rasanya penuh hantu. Adam Warner ada di
ruang kerjanya, menyiapkan suatu pidato besar-besaran yang
akan disiarkan tv, tapi dia tak bisa memusatkan pikirannya.
Pikirannya dipenuhi oleh Jennifer. Sejak dia kembali dari
Acapulco, dia tak bisa memikirkan apa pun juga yang lain.
Pertemuan dengan Jennifer hanya lebih meyakinkan Adam
pada apa yang memang telah diketahuinya sejak awal. Dia
telah menjatuhkan pilihan yang salah. Dia sebenarnya tak
pernah boleh melepaskan Jennifer. Kebersamaan dengan
Jennifer lagi mengingatkannya akan semua yang telah
dimilikinya, tapi kemudian dibuangnya, dan dia tak tahan
mengingat hal itu.
Dia berada dalam keadaan yang buruk sekali. Blair Roman
pasti akan menyebutnya, situasi yang tak akan memenangkan.
Pintu diketuk orang, dan Chuck Morrison, asisten kepala
Adam, masuk dengan membawa sebuah kaset. "Bisakah aku
berbicara sebentar denganmu, Adam?"
"Tak bisakah nanti saja, Chuck, aku sedang —"
"Tak bisa." Suara Chuck terdengar gugup.
"Baiklah. Apa yang begitu mendesak?"
Chuck Morrison lebih mendekati meja kerja Adam. "Aku
baru saja menerima telepon. Mungkin dari orang gila, tapi
kalau bukan, entahlah, aku tak tahu. Coba dengarkan ini."
Dimasukkannya kaset tadi ke dalam recordernya. di atas
meja Adam, ditekannya sebuah tombol dan mulailah pitanya
bersuara.
Siapa nama Anda?
444
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Itu tak penting. Saya tak mau berbicara kecuali dengan
Senator Adam Warner.
Senator sedang sibuk sekarang. Coba tulis saja surat pada
beliau dan saya akan —
Tidakl Dengarkan. Ini penting sekali. Katakan pada Senator
Adam Warner, bahwa saya bisa menyerahkan Michael Moretti
padanya. Saya mempertaruhkan hidup saya dengan
menelepon ini. Tolong sampaikan pesan itu pada Senator
Adam Warner.
Baiklah. Di mana Anda?
Saya menginap di penginapan Capitol di 32nd Street,
kamar empat belas. Katakan padanya supaya datang setelah
hari gelap dan dia harus yakin bahwa dia tidak diikuti orang.
Saya tahu Anda pasti merekam percakapan ini. Bila Anda
memutar pita ini untuk orang lain kecuali Senator itu, matilah
saya.
Terdengar bunyi klik, dan suara di pita itu berakhir.
Chuck Morrison berkata, "Bagaimana pendapatmu?"
Adam mengerutkan dahinya. "Kota ini penuh dengan orang
bejat. Tapi sebaliknya, orang itu tahu umpan apa yang harus
dipakainya bukan? Michael — Tuhanku — Moretti!"
Pukul sepuluh malam itu, Adam Warner dengan diikuti oleh
empat orang pasukan keamanan rahasia, dengan berhati-hati
mengetuk pintu kamar empat belas di penginapan Capitol.
Pintu dibuka selebar celah saja.
Begitu Adam melihat wajah laki-laki yang di dalam itu, dia
berbalik pada orang-orang yang menyertainya dan berkata,
"Tinggal di luar saja. Jangan biarkan siapa pun juga mendekati
tempat ini.”
Pintu terbuka lebih lebar, dan Adam masuk ke kamar.
"Selamat malam, Senator Warner."
445
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Selamat malam, Tuan Colfax."
Kedua laki-laki itu berdiri saling menilai.
Thomas Colfax kelihatan lebih tua daripada waktu Adam
melihatnya terakhir kali, tapi ada suatu perbedaan lain yang
hampir tak dapat dikatakan. Kemudian Adam baru tahu. Rasa
ketakutan. Thomas Colfax dalam keadaan takut. Selama ini dia
adalah orang yang punya rasa percaya diri, boleh dikatakan
angkuh, dan kini rasa percaya diri itu telah lenyap.
"Terima kasih atas kedatangan Anda, Senator." Suara
Colfax terdengar tegang dan gugup.
"Katanya Anda akan berbicara dengan saya mengenai
Michael Moretti."
"Saya bisa menyerahkannya ke pangkuan Anda."
"Bukankah Anda pengacara Moretti? Mengapa Anda mau
berbuat begitu?"
"Saya punya alasan-alasan sendiri."
"Seandainya saya mau bekerja sama dengan Anda, apa
yang Anda harapkan sebagai imbalannya?"
"Pertama-tama, kekebalan seutuhnya. Kedua, saya ingin
pergi ke luar negeri. Saya akan memerlukan paspor dan suratsurat — suatu bukti diri baru."
Jadi rupanya Michael Moretti telah memerintahkan untuk
membunuh Thomas Colfax. Itulah satu-satunya penjelasan
atas apa yang sedang terjadi sekarang. Adam hampir-hampir
tak bisa percaya akan nasib baiknya. Inilah kesempatan
terbaik yang mungkin diperolehnya.
"Bila saya memberi Anda kekebalan," kata Adam, "— saya
belum bisa menjanjikan apa-apa — Anda tentu mengerti
bahwa saya akan minta supaya Anda mau dibawa ke
pengadilan dan memberikan kesaksian penuh. Saya akan
meminta segala-galanya yang Anda tahu."
446
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akan saya berikan."
"Apakah Moretti tahu di mana Anda sekarang berada?"
"Sangkanya saya sudah mati." Thomas Colfax tersenyum
gugup. "Bila dia menemukan saya, saya akan mati."
"Dia tidak akan menemukan Anda, bila kita membuat suatu
perjanjian."
"Jadi saya mempertaruhkan hidup saya ke dalam tangan
Anda, Senator."
"Terus terang," kata Adam, "saya sama sekali tidak peduli
Anda, Moretti-lah yang saya ingini. Mari kita bicarakan syaratsyarat dasarnya. Bila kita sudah mencapai persetujuan, Anda
akan mendapatkan perlindungan sepenuhnya yang bisa
diberikan pemerintah. Bila saya merasa puas dengan
kesaksian Anda, kami akan memberi Anda sejumlah uang
yang cukup untuk hidup di negara mana pun yang Anda pilih,
dengan bukti diri yang Anda kehendaki. Sebagai imbalannya,
Anda harus menyetujui yang berikut ini: saya memerlukan
kesaksian penuh dari Anda mengenai kegiatan-kegiatan
Moretti. Anda harus memberikan kesaksian di hadapan dewan
juri yang besar, dan bila Moretti dihadapkan ke sidang, saya
harap Anda mau menjadi saksi di pihak pemerintah. Setuju?"
Thomas Colfax memalingkan mukanya. Akhirnya dia
berkata, "Tony Granelli tentu berbalik dalam kuburnya. Apa
yang telah terjadi dengan manusia? Bagaimana nasib
kehormatan?"
Adam tidak mendapatkan jawaban. Inilah orang yang
sudah beratus kali mempermainkan undang-undang, yang
telah menebus pembunuh-pembunuh sampai bebas lepas,
yang telah membantu menjadi otak kegiatan-kegiatan dari
organisasi kejahatan yang paling kejam yang pernah dikenal
dunia beradab. Dan dia bertanya bagaimana nasib
kehormatan.
447
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thomas Colfax bertanya pada Adam, "Kita akan
mengadakan perjanjian. Saya ingin itu dilakukan secara
tertulis, dan saya minta supaya itu ditandatangani oleh jaksa
agung."
"Baiklah." Adam melihat ke sekeliling kamar penginapan
yang buruk itu. "Sebaiknya Anda pindah dari tempat ini."
"Saya tak mau ke hotel. Moretti punya telinga di manamana."
"Di tempat ke mana Anda akan dibawa, tidak akan ada."
Sepuluh menit setelah pukul dua belas tengah malam,
sebuah truk militer dan dua buah jip yang dikendarai oleh dua
orang marinir bersenjata, berhenti di depan kamar nomor
empat belas. Empat orang polisi militer masuk ke kamar itu
dan sebentar kemudian keluar lagi dengan menggiring
Thomas Colfax secara ketat ke bak belakang truk tadi. Iringiringan itu berangkat lagi dari penginapan itu dengan sebuah
jip di depan truk itu, dan sebuah lagi menyusul di
belakangnya. Iring-iringan itu menuju ke Quantico, Virginia,
tiga puluh mil di sebelah selatan Washington. Iring-iringan
yang terdiri dari tiga mobil itu melaju dengan kecepatan
tinggi, dan empat puluh lima menit kemudian tiba di
pangkalan Korps Marinir Amerika Serikat di Quantico.
Komandan pangkalan itu, Mayor Jenderal Roy Wallace, dan
beberapa orang anggota marinir khusus, telah siap menunggu
di pintu gerbang. Begitu iring-iringan itu berhenti, Jenderal
Wallace berkata pada kapten yang bertugas khusus, "Tahanan
itu harus dibawa segera ke tempat tahanan tertutup. Tidak
akan ada yang boleh berbicara dengan dia."
Mayor Jenderal Wallace memperhatikan waktu iring-iringan
itu memasuki halaman. Dia mau mengorbankan sebulan
gajinya untuk bisa mengenali laki-laki dalam truk itu. Daerah
komando jenderal itu, terdiri dari stasiun udara korps marinir
seluas tiga ratus sepuluh are dan sebagian dari akademi FBI,
448
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lagi pula merupakan pusat utama untuk latihan para perwira
Korps Marinir Amerika Serikat. Selama ini mereka tak pernah
dimintai kesediaannya untuk menempatkan seorang tawanan
sipil. Ini betul-betul merupakan suatu pengecualian.
Dua jam sebelumnya, dia telah menerima telepon dari
komandan korps marinir sendiri. "Ada seorang laki-laki yang
sedang dalam perjalanan ke pangkalanmu, Roy. Kuminta
supaya kau mengosongkan tempat tahanan yang tertutup,
dan menempatkannya di sana sampai ada perintah-perintah
selanjutnya."
Jenderal Wallace menyangka dia telah salah dengar.
"Benarkah Anda katakan tempat tahanan tertutup, Pak?"
"Benar. Aku mau orang itu ditempatkan di situ seorang diri.
Tak ada seorang pun boleh mendekati dia. Pengawalan di
tempat itu harap dilipatgandakan. Mengerti?"
"Mengerti, Jenderal."
"Satu hal lagi, Roy. Bila terjadi sesuatu atas diri orang itu,
selama dia berada di bawah pengawasanmu, kau akan
mendapat hukuman."
Komandan lalu memutuskan hubungan.
Jenderal Wallace memperhatikan truk itu menuju ke tempat
tahanan tertutup, dan kembali ke kantornya, lalu menelepon
pembantunya Kapten Alvin Giles.
"Mengenai orang yang ditempatkan dalam tahanan yang
tertutup itu —" kata Jenderal Wallace.
"Ya, Jenderal."
"Tujuan kita yang utama adalah keselamatannya. Kuminta
supaya kau sendiri yang memilih pengawal-pengawalnya. Tak
ada orang lain yang boleh mendekatinya. Tak boleh ada
pengunjung, tak boleh ada surat-surat atau kiriman-kiriman.
Mengerti?"
449
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, Pak."
"Kau sendiri harus hadir waktu makanannya sedang
dimasak."
"Ya, Jenderal."
"Bila ada seseorang yang menaruh perhatian yang tak
wajar tentang dia, segera laporkan padaku. Ada pertanyaan?"
"Tidak, Pak."
"Bagus, Al. Lakukan semua dengan baik. Bila terjadi
sesuatu yang tak beres, aku yang akan dihukum."
Jennifer terbangun oleh bunyi hujan halus di atap. Hujan
turun pagi-pagi sekali, dan Jennifer berbaring saja
mendengarkan rintik-rintiknya yang halus mengenai rumah.
Dia melihat kejam weker. Sudah waktunya untuk
melakukan kegiatan hariannya.
Setengah jam kemudian, Jennifer turun ke lantai bawah, ke
kamar makan untuk sarapan bersama Joshua. Tapi anak itu
tak ada di situ.
Nyonya Mackey masuk dari dapur. "Selamat pagi, Nyonya
Parker."
"Selamat pagi. Mana Joshua?"
"Dia kelihatan begitu letih hingga saya pikir, biarkan saja
dia tidur lebih lama. Besok dia harus ke sekolah."
Jennifer mengangguk. "Pikiran yang baik."
Dia sarapan seorang diri, lalu naik ke lantai atas untuk
pamit pada Joshua. Anak itu masih tergolek di tempat
tidurnya, tidur nyenyak.
Jennifer duduk di tepi tempat tidurnya dan berkata
perlahan-lahan, "Hei, Penidur, aku mau pamit."
450
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Anak itu membuka matanya sebelah perlahan-lahan. "Ya,
Sobat, bye." Suaranya terdengar berat karena kantuknya.
"Apakah saya harus bangun?"
"Tidak. Coba dengar. Hari ini kau boleh bermalas-malasan
seharian. Kau boleh tinggal di rumah dan bersenang-senang.
Hujan terlalu lebat untuk pergi ke luar."
Joshua mengangguk dengan mengantuk. "Baiklah, Ma."
Matanya tertutup lagi dan dia tidur.
Sepanjang petang itu Jennifer berada di pengadilan, dan
waktu dia selesai dan tiba di rumah, hari sudah pukul tujuh
lewat. Hujan yang seharian tadi rintik-rintik saja, kini menjadi
lebat, dan waktu Jennifer memasuki jalan mobil ke arah
garasi, rumahnya kelihatan seperti sebuah puri yang
terkepung dikelilingi oleh parit yang meluap, yang airnya
berwarna abu-abu.
Nyonya Mackey membukakan pintu depan lalu membantu
Jennifer menanggalkanjas hujannya yang basah kuyup.
Jennifer mengguncang-guncangkan kepalanya untuk
membuang air yang melekat di rambutnya, lalu bertanya,
"Mana Joshua?"
"Tidur."
Jennifer memandang Nyonya Mackey dengan kuatir. "Tidur
teruskah dia sepanjang hari ini?"
"Tentu saja tidak. Tadi dia bangun dan macam-macam
yang dikerjakannya. Saya menyiapkan makan malamnya, tapi
waktu saya naik ke lantai atas untuk memanggilnya, dia sudah
tertidur lagi, jadi saya pikir, biar sajalah."
"Begitukah?"
Jennifer masuk ke kamar Joshua lalu masuk perlahanlahan. Joshua sedang tidur. Jennifer membungkuk dan
meraba dahinya. Badannya tak panas; warna mukanya
451
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
normal. Jennifer memegang nadinya. Tak ada apa-apa, kecuali
angan-angannya sendiri. Dia telah membiarkan angannya itu
terbang mengawang. Padahal Joshua mungkin main terlalu
giat sepanjang hari tadi, jadi wajarlah bila dia letih. Jennifer
menyelinap ke luar dari kamar itu lalu turun lagi.
"Tolong siapkan beberapa potong sandwich untuk Joshua,
Nyonya Mackey. Letakkan di sisi tempat tidurnya. Dia bisa
memakannya kalau dia bangun."
Jennifer makan malam di meja kerjanya sambil
mengerjakan ikhtisar-ikhtisar perkara, dan menyiapkan
pertanyaan-pertanyaan untuk saksi dalam sidang esok
harinya. Terniat dalam hatinya untuk menelepon Michael,
mengatakan bahwa dia sudah kembali, tapi dia ragu berbicara
dengan dia, karena masih terlalu singkat jarak waktunya
sesudah malam yang dihabiskannya bersama Adam.... Michael
sangat peka. Setelah lewat tengah malam barulah dia selesai
membaca. Dia berdiri lalu meregangkan tubuhnya, mencoba
menghilangkan ketegangan di punggung dan di tengkuknya.
Surat-suratnya dimasukkan ke dalam tas kerjanya, lampulampu dipadamkannya lalu naik ke lantai atas. Dia melewati
kamar Joshua dan menjenguk ke dalam. Anak itu masih tidur.
Sandwich di meja kecil, di samping tempat tidurnya, belum
disentuh.
Esok paginya waktu Jennifer turun untuk sarapan, Joshua
sudah ada di sana, sudah berpakaian dan siap untuk pergi ke
sekolah.
"Pagi, Ma."
"Selamat pagi, Sayang. Bagaimana perasaanmu?" "Baik.
Saya benar-benar letih. Pasti karena matahari Meksiko itu."
"Mungkin."
"Acapulco memang benar-benar hebat. Bisakah kita ke
sana lagi pada libur saya yang akan datang?"
452
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mengapa tidak? Senangkah kau akan kembali lagi ke
sekolah?"
"Saya menolak menjawabnya, dengan alasan bahwa
jawaban itu akan mengancam diri saya."
Pertengahan petang itu, sedang Jennifer mendengarkan
keterangan seorang saksi, Cynthia memanggil lewat interkom.
"Maaf, saya mengganggu, tapi ini ada seseorang yang
bernama Nyonya Stout menelepon —"
Dia adalah wali kelas Joshua. "Tolong sambungkan."
Jennifer mengangkat gagang telepon. "Halo, Nyonya Stout.
Apakah ada sesuatu yang tak beres?"
"Ah, tidak, semuanya baik-baik saja, Nyonya Parker. Saya
tak bermaksud mengejutkan Anda. Saya hanya berpikir,
sebaiknya saya sarankan pada Anda bahwa akan lebih baik
bila Joshua bisa tidur lebih banyak."
"Apa maksud Anda?"
"Hari ini dia tidur terus dalam hampir semua mata
pelajaran. Baik Nona Williams maupun Nyonya Toboco
mengatakan begitu. Mungkin Anda bisa mengusahakan
supaya dia pergi tidur lebih awal."
Jennifer menatap telepon itu. "Saya — ya akan saya
usahakan."
Perlahan-lahan dia meletakkan kembali gagang telepon itu
lalu berpaling pada orang-orang yang ada dalam kamar itu
dan memperhatikannya.
"Ma — maafkan saya," katanya. "Permisi, saya harus
pergi."
Dia bergegas keluar ke ruang penerimaan tamu. "Cynthia,
cari Dan. Minta supaya dia meneruskan mendengarkan
keterangan saksi itu. Ada sesuatu yang terjadi."
453
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Semua —" Jennifer sudah keluar dari pintu.
Dia pulang, mengemudikan mobilnya seperti orang gila,
melebihi batas kecepatan, melanggar lampu merah. Pikirannya
dipenuhi oleh bayangan-bayangan yang mengerikan, yang
terjadi atas diri Joshua. Jalan rasanya tak ada akhirnya, dan
ketika rumahnya tampak di kejauhan, Jennifer membayangkan
jalan mobil menuju rumahnya penuh dengan ambulans dan
mobil-mobil polisi. Nyatanya tempat itu kosong. Dia
menghentikan mobilnya di samping pintu depan lalu bergegas
masuk ke dalam rumah. "Joshua!"
Anak itu ada dalam kamar belajarnya, nonton pertandingan
baseball di tv.
"Hai, Ma. Mama pulang awal. Mama dipecat?" Jennifer
berdiri di ambang pintu menatap anaknya, tubuhnya rasa
mengambang karena lega. Dia merasa dirinya sebagai orang
yang tolol.
"Coba Mama tadi melihat pengumpulan angka yang
terakhir. Craig Swan benar-benar luar biasa!"
"Bagaimana perasaanmu, Nak?"
"Hebat."
Jennifer meletakkan tangannya ke dahi Joshua. Dia tak
demam.
"Kau yakin kau tak apa-apa?"
"Tentu saja. Mengapa Mama kelihatan lucu begitu? Mama
menguatirkan sesuatu? Apakah Mama ingin bicara dari hati ke
hati?"
Jennifer tersenyum. "Tidak, Sayang, Mama hanya —
apakah ada sesuatu yang terasa sakit?"
Joshua mengerang. "Dengar, Regu Met kalah lima lawan
enam. Tahukah Mama apa yang terjadi pada putaran
pertama?"
454
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia mulai bercerita dengan berapi-api tentang cara main
regu kesayangannya. Jennifer melihat saja padanya, dengan
perasaan memuja dan berpikir, Sialan angan-anganku ini. Dia
tentu sehat-sehat saja.
"Teruskanlah nonton sisa pertandingan itu. Mama akan
menyiapkan makan malam."
Jennifer masuk ke dapur dengan hati ringan. Dia lalu
membuat cake pisang, salah satu makanan penutup kesukaan
Joshua.
Tiga puluh menit kemudian, waktu Jennifer kembali ke
kamar belajar itu, Joshua terbaring di lantai, tak sadarkan diri.
Perjalanan ke Rumah Sakit Blinderman Memorial bagaikan
tak ada akhirnya. Jennifer duduk di bagian belakang ambulans
sambil menggenggam erat tangan Joshua. Seorang petugas
memegang alat bantuan zat asam di muka Joshua. Anak itu
belum lagi sadar. Sirene ambulans mengaung-ngaung, tapi
lalu lintas padat dan ambulans berjalan lambat, sedang orangorang yang ingin tahu, mengintai melalui jendela melihat
wanita yang berwajah putih pucat dan anak laki-laki yang tak
sadar. Jennifer merasakan hal itu sebagai suatu pelanggaran
terhadap ketenangan pribadi.
"Mengapa orang tak memakai kaca tak tembus eahaya
untuk ambulans?" tanya Jennifer.
Petugas itu terkejut dan memandangnya. "Bagaimana, Bu?"
"Tidak... tak apa-apa."
Setelah rasanya berabad-abad lamanya, barulah ambulans
berhenti di pintu masuk darurat di bagian belakang rumah
sakit. Dua orang dokter yang bertugas sedang menunggu di
pintu. Jennifer berdiri saja tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya
melihat saja waktu Joshua dipindahkan dari ambulans ke
brankar.
"Apakah Anda ibu anak ini?" tanya seorang petugas.
455
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya."
"Mari silakan ikut kami."
Maka menyusullah suatu kaleidoskop yang kabur, yang
terdiri dari bunyi cahaya dan gerak. Jennifer melihat Joshua
didorong melalui lorong rumah sakit yang panjang dan putih
ke kamar foto.
Jennifer ingin ikut, tapi petugas berkata, "Anda harus
mendaftarkan putra Anda dulu."
Seorang wanita yang kurus di meja depan bertanya pada
Jennifer, "Bagaimana cara Anda membayar? Apakah Anda
seorang pemegang asuransi Blue Cross atau asuransi lain?"
Ingin rasanya Jennifer berteriak pada perempuan itu dan
kembali ke sisi Joshua, tapi dipaksanya dirinya untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Setelah pertanyaanpertanyaan terjawab dan Jennifer sudah mengisi beberapa
formulir, barulah wanita itu mengizinkan Jennifer pergi.
Dia bergegas ke kamar foto, lalu masuk. Kamar itu kosong,
Joshua sudah tak ada di situ. Jennifer berlari ke luar, ke
lorong, sambil melihat ke sekelilingnya dengan gugup.
Seorang jururawat lewat.
Jennifer mencekam lengan jururawat itu. "Mana anak
saya?"
"Saya tak tahu," sahutnya. "Siapa namanya?"
"Joshua. Joshua Parker."
"Di mana Anda meninggalkannya tadi?"
"Dia — dia tadi sedang difoto — dia —"Jennifer mulai
kacau. "Apa yang diperbuat orang atas diri anakku? Katakan!"
Jururawat itu memperhatikan Jennifer dengan cermat, lalu
berkata, "Tunggu di sini, Nyonya Parker. Saya akan mencoba
mencari tahu."
456
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa menit kemudian jururawat itu kembali. "Dokter
Morris ingin bertemu dengan Anda. Mari ikut saya."
Jennifer merasa kakinya gemetar. Dia merasa sulit berjalan.
"Tak apa-apakah Anda?" Jururawat itu memperhatikannya.
"Saya ingin melihat anak saya." Mulutnya terasa kering
karena ketakutan.
Mereka masuk ke sebuah kamar yang penuh dengan alatalat yang aneh. "Tunggu di sini."
Beberapa saat kemudian Dokter Morris masuk. Dokter itu
gemuk, mukanya merah dan jari-jarinya coklat bekas rokok.
"Nyonya Parker?"
"Di mana Joshua?"
"Mari masuk kemari." Jennifer diajaknya ke dalam sebuah
kantor kecil di seberang kamar dengan .ilat-alat aneh tadi.
"Silakan duduk."
Jennifer duduk. "Jo — tak — tidak serius, bukan, Dokter?"
"Kami belum tahu." Suaranya halus, tak sepadan untuk
laki-laki seukuran dia. "Saya memerlukan beberapa
keterangan. Berapa umur putra Anda itu?"
"Baru tujuh tahun."
Kata baru itu keluar begitu saja, seolah-olah leguran
terhadap Tuhan.
"Apakah baru-baru ini dia mengalami kecelakaan?"
Dalam pikiran Jennifer terkilas bayangan Joshua vang
berpaling untuk melambai lalu kehilangan keseimbangannya
dan jatuh kena tiang. "Dia — dia mengalami kecelakaan waktu
sedang main ski air. Kepalanya terbentur."
Dokter itu membuat catatan-catatan. "Kapan itu terjadi?"
457
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya — beberapa — hari yang lalu. Di Acapulco." Sulit
rasanya untuk berpikir tenang.
"Apakah dia kelihatan baik-baik saja setelah kecelakaan
itu?"
"Ya. Hanya ada benjolan di bagian belakang kepalanya, tapi
selebihnya dia — dia kelihatannya tak apa-apa."
"Apakah Anda melihat dia kehilangan daya ingatnya?"
"Tidak."
"Ada perubahan-perubahan pada pribadinya?"
"Tidak."
"Tak ada kejang-kejang atau tengkuk kaku atau pusing
kepala?"
"Tidak."
Dokter berhenti menulis lalu memandangjennifer. "Saya
baru saja membuat foto-fotonya, tapi itu tidak cukup. Saya
masih — akan mengadakan pemeriksaan CAT."
"Pemeriksaan —?"
"Itu nama sebuah alat berkomputer dari Inggris yang bisa
mengambil foto dari bagian dalam otak. Sesudah itu mungkin
saya masih harus mengadakan beberapa tes. Anda setuju,
bukan?"
"Bi — bi — bila —" Dia jadi gagap — "itu perlu. Tapi itu
tidak sakit, bukan?"
"Tidak. Mungkin saya juga harus mengambil isi tulang
punggungnya."
Dokter itu membuatnya takut.
Jennifer memaksa dirinya untuk mengucapkan pertanyaan,
"Menurut Anda, apa penyakit anak saya itu? Ada apa dengan
dia?" Dia tak bisa mengenali suaranya sendiri.
458
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lebih baik saya tidak menduga-duga dulu, Nyonya Parker.
Satu atau dua jam lagi kita akan tahu. Dia sudah bangun.
Anda ingin bertemu dengan dia?"
"Ingin sekali."
Seorang jururawat mengantar Jennifer ke kamar Joshua.
Dia sedang berbaring di tempat tidur, kecil dan pucat
kelihatannya. Dia mengangkat mukanya waktu Jennifer
masuk.
"Hai, Ma."
"Hai, Nak." Jennifer duduk di tepi tempat tidur anaknya.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Rasanya aneh. Seolah-olah saya tidak di sini."
Jennifer menggapai lalu mengambil tangan Joshua. "Kau
ada di sini, Sayang. Dan Mama di sini juga bersamamu."
"Semuanya kelihatan seperti dua."
"Su — sudahkah hal itu kauceritakan pada dokter?"
"Sudah. Dia pun kelihatan dua. Mudah-mudahan saja Mama
tidak disuruhnya membayar dua kali."
Dengan lembut Jennifer merangkulkan tangannya ke
Joshua lalu mendekapnya. Tubuhnya terasa kecil dan layu.
"Ma."
"Ya, Sayang."
"Mama kan tidak akan membiarkan saya mati, ya?"
Mata Jennifer tiba-tiba terasa ditusuk-tusuk. "Tidak Joshua,
Mama tidak akan membiarkan kau mati. Para dokter akan
menyembuhkanmu, lalu Mama akan membawamu pulang."
"Oke. Dan Mama sudah berjanji kita akan pergi ke Acapulco
lagi, kapan-kapan."
"Ya. Segera setelah —"
459
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Joshua sudah tertidur lagi.
Dokter Morris masuk ke kamar itu dengan dua orang lakilaki yang memakai jas putih.
"Kami akan mulai mengadakan tes-tesnya sekarang,
Nyonya Parker. Sebentar saja. Anda boleh saja tinggal di sini
dan santai saja."
Jennifer melihat mereka membawa Joshua ke luar kamar.
Dia tetap duduk di tempat tidur, dan merasa seolah-olah
tubuhnya baru saja dipukuli. Semua energinya habis terkuras.
Dia duduk saja sambil menatap terus ke dinding yang
berwarna putih, «seolah-olah sedang kemasukan.
Sesaat kemudian suatu suara berkata, "Nyonya Parker —"
Jennifer mengangkat mukanya dan melihat Dokter Morris.
"Silakan, lanjutkan saja melakukan tes-tesnya," kata
Jennifer.
Dokter itu memandangnya dengan pandangan aneh. "Kami
sudah selesai."
Jennifer melihat pada jam yang ada di dinding. Rupanya
sudah dua jam dia duduk di situ. Kapan waktu itu berlalu? Dia
memandang wajah dokter, mencoba membacanya, mencari
tanda-tanda yang kecil, yang akan memberitahukan padanya
apakah berita itu baik atau buruk. Betapa seringnya sudah dia
melakukan hal serupa itu, membaca wajah para anggota juri,
dan dengan demikian tahu dari air muka mereka, bagaimana
keputusan mereka kelak. Seratus kali? Lima ratus? Kini karena
panik yang melanda dirinya, Jennifer lalu tak bisa membaca
apa-apa. Tubuhnya lalu menggigil tanpa bisa dikuasainya.
Dokter Morris berkata, "Putra Anda menderita subdural
haematoma. Dalam istilah awamnya, telah terjadi bekas
pukulan yang telah membeku pada otaknya."
460
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kerongkongannya tiba-tiba menjadi demikian keringnya
hingga tak sepatah pun bisa diucapkannya.
"A —" Dia menelan lalu mencoba lagi, "A — pa itu -—?" Dia
tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Saya harus segera membedahnya. Saya akan memerlukan
persetujuan Anda."
Kasar benar senda-gurau laki-laki ini terhadapnya. Sebentar
lagi dia pasti akan tersenyum dan berkata bahwa Joshua tak
apa-apa. Saya hanya menghukum Anda saja, Nyonya Parker,
karena telah membuang-buang waktu saya. Tak ada apa-apa
dengan putra Anda, dia hanya butuh tidur. Dia sedang
tumbuh. Anda jangan mengambil waktu kami yang
sebenarnya bisa kami manfaatkan untuk merawat pasien lain
yang benar-benar sakit. Dia akan tersenyum padanya dan
berkata, "Anda bisa membawa pulang putra Anda sekarang."
Dokter Morris melanjutkan. "Putra Anda masih muda dan
tubuhnya kelihatannya kuat. Kita bisa berharap
pembedahannya akan berhasil."
Dia akan membelah otak anaknya, mengoyak-ngoyaknya
dengan alat-alat yang tajam, mungkin menghancurkan apa
saja yang telah membentuk Joshua sebagai Joshua. Bahkan
mungkin — membunuhnya.
"Tidak!" perkataan itu diucapkan sebagai pekik kemarahan.
"Apakah Anda tak mau memberi kami izin untuk
membedah?"
"Saya —" Pikirannya begitu kacau, dia tak bisa berpikir. "A
— apa yang akan terjadi bila tidak dibedah?"
Dokter Morris menjawab apa adanya, "Putra Anda akan
meninggal. Apakah ayah anak itu ada di sini?"
Adam! Aduhai, betapa inginnya dia Adam ada di sini,
betapa inginnya dia merasakan lengan Adam merangkul
461
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tubuhnya, menghiburnya. Dia ingin Adam mengatakan
padanya bahwa semuanya akan beres, bahwa Joshua akan
sembuh.
"Tidak ada," sahut Jennifer akhirnya, "dia tak ada. Sa —
saya memberi Anda izin. Lakukanlah pembedahan itu."
Dokter Morris mengisi suatu formulir lalu memberikannya
pada Jennifer. "Tolong Anda tanda tangani."
Jennifer menanda-tangani surat itu tanpa melihatnya lagi.
"Berapa lama pembedahan itu?"
"Saya tak bisa tahu, sebelum saya buka —" Dokter itu
melihat air muka Jennifer. "Sebelum saya mulai membedah.
Apakah Anda mau menunggu di sini?"
"Tidak!" Dinding-dinding rasanya menyempit, mencekiknya.
Dia tak bisa bernapas. "Adakah tempat di mana saya bisa
berdoa?"
Tempat berdoanya itu sebuah kapel tua dengan lukisan
Jesus di atas altar. Ruang itu kosong, Jennifer seorang diri di
situ. Dia berlutut, tapi dia tak bisa berdoa. Dia memang bukan
orang yang kuat pada agama — untuk apa Tuhan
mendengarkan doanya sekarang? Dia mencoba menenangkan
pikirannya supaya dia bisa bercakap-cakap dengan Tuhan, tapi
rasa takutnya lebih besar; rasa takut itu telah menyelubungi
sepenuhnya. Dia terus-menerus menyesali dirinya tanpa
ampun. Kalau saja aku tidak mengajak Joshua ke Acapulco,
pikirnya.... Kalau saja aku tidak membiarkannya main ski air...
Kalau saja aku tak percaya pada dokter Meksiko itu... Kalau
saja. Kalau. Bila. Dia mulai tawar-menawar dengan Tuhan.
Sembuh-kanlah dia, dan aku akan berbuat apa saja bagi-Mu.
Dia membantah adanya Tuhan. Sekiranya ada Tuhan, maukah
dia berbuat begini terhadap seorang anak yang tak pernah
menyakiti seorang pun? Tuhan macam apayang mau
membiarkan anak-anak mati?
462
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya, karena keletihan yang amat sangat, pikiran
Jennifer jadi lebih lamban dan dia ingat apa yang dikatakan
Dokter Morris, Dia masih muda, dan tubuhnya kelihatannya
kuat. Kita bisa berharap pembedahan ini akan berhasil.
Segala-galanya akan beres. Pasti. Bila semua ini sudah
berlalu, dia akan membawa Joshua ke suatu tempat di mana
dia bisa beristirahat. Kalau dia suka, Acapulco pun boleh.
Mereka akan membaca dan memainkan bermacam-macam
permainan dan bercakap-cakap.
Waktu akhirnya Jennifer sudah terlalu letih untuk berpikir,
dia terduduk saja di sebuah bangku, pikirannya kosong dan
hampa, kosong. Seseorang menyentuh lengannya dan dia
menengadah. Dokter Morris berdiri di sampingnya. Jennifer
melihat air mukanya, dan dia tak perlu bertanya lagi.
Dia kehilangan kesadarannya.
Joshua terbaring di atas sebuah meja sempit dari logam,
tubuhnya diam untuk selamanya. Kelihatannya seolah-olah dia
tidur dengan tenang,. wajah mudanya yang tampan
membayangkan mimpi-mimpi jauh yang penuh rahasia.
Jennifer telah beribu kali melihat air muka anak itu seperti itu,
kalau dia tidur dengan nyaman di tempat tidurnya yang
hangat, sementara Jennifer duduk di sisi tempat tidurnya,
mengamati wajah anaknya itu dengan hati penuh rasa cinta
hingga dia merasa tercekik. Dan, entah sudah berapa kali dia
memperbaiki letak selimutnya dengan lembut untuk
melindungi anak itu dari dinginnya malam?
Kini dingin itu berada jauh dalam tubuh Joshua sendiri. Dia
tidak akan hangat lagi. Mata yang cemerlang itu tidak akan
pernah terbuka lagi untuk melihat padanya, dan dia tidak akan
pernah lagi melihat senyum di wajah itu, atau mendengar
suaranya, atau merasakan lengan-lengan mungilnya yang
kuat, merangkulnya. Tubuhnya telanjang di bawah kain itu.
463
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer berkata pada dokter, "Tolong beri dia selimut. Dia
kedinginan."
"Dia tak bisa —" Dokter Morris melihat mata Jennifer, dan
dia lalu berkata, "Ya, baiklah, Nyonya Parker," Dia lalu
berpaling pada jururawat dan berkata, "Ambil selimut."
Ada enam orang dalam ruangan itu, kebanyakan di
antaranya berseragam putih dan rasanya mereka semua
berbicara pada Jennifer, tapi Jennifer tak mendengar apa-apa
yang mereka katakan. Dia merasa dirinya berada dalam
sebuah tabung gelembung, terpisah dari mereka semua. Dia
bisa melihat bibir mereka bergerak, tapi dia tidak mendengar
bunyi. Dia ingin berteriak menyuruh mereka pergi, tapi dia
takut akan membuat Joshua terkejut. Seseorang
mengguncang lengannya dan terputuslah kesepian itu —
kamar itu tiba-tiba dipenuhi suara-suara meraung, dan semua
orang seakan-akan berbicara sekaligus.
Dokter Morris sedang berkata, "...perlu diadakan
pembedahan mayat."
Dengan tenang Jennifer berkata, "Kalau Anda sentuh lagi
anakku, akan kubunuh Anda."
Dia lalu tersenyum pada semua orang di sekelilingnya
karena dia tak mau orang-orang itu marah pada Joshua.
Seorang jururawat membujuk Jennifer supaya keluar dari
ruangan itu, tapi Jennifer menggeleng. "Saya tak bisa
meninggalkannya seorang diri. Mungkin nanti ada orang yang
memadamkan lampu. Joshua takut akan kegelapan."
Seseorang mencengkam lengannya, kemudian Jennifer
merasakan tusukan jarum, dan sesaat kemudian dia merasa
diselubungi kehangatan dan kedamaian, dan dia tertidur.
Sudah sore benar Jennifer baru terbangun. Dia berada
dalam sebuah kamar kecil di rumah sakit. Dia cepat-cepat
464
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bangkit, berpakaian, lalu mencari Dokter Morris. Dia merasa
tenang sekali.
Dokter Morris berkata, "Kami akan membantu Anda
mengurus segala-galanya sehubungan dengan
pemakamannya, Nyonya Parker. Anda tak perlu —"
"Saya akan mengurusnya sendiri."
"Baiklah." Dpkter itu ragu dan salah tingkah. "Mengenai
pembedahan mayat itu, saya yakin Anda tidak bersungguhsungguh waktu menolaknya tadi pagi. Saya —"
"Anda keliru. Saya tetap menolak."
Selama dua hari berturut-turut, Jennifer mengerjakan
semua kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan
kematian. Dia pergi ke pengurus pemakaman setempat dan
mengurus penguburan itu. Dia memilih sebuah peti kecil yang
berlapis kain satin. Dia bisa menguasai dirinya dan tak
menangis sedikit pun, dan kemudian hari, kalau dia
mengingat-ingat peristiwa itu lagi, dia tak ingat apa-apa lagi.
Rasanya seseorang telah mengambil alih tubuh dan
pikirannya, dan bertindak atas nama dirinya. Dia dalam
keadaan schok yang hebat, berlindung di balik dinding supaya
tidak menjadi gila.
Waktu Jennifer meninggalkan kantor pengurus pemakaman
itu, laki-laki itu berkata, "Jika ada pakaian khusus yang Anda
inginkan supaya dipakaikan pada putra Anda dalam
penguburan ini, Nyonya Parker, bisa Anda suruh antarkan, dan
kami akan memakaikannya."
"Saya akan memakaikan pakaian Joshua sendiri."
Laki-laki itu memandang Jennifer dengan terkejut. "Tentu,
kalau itu yang Anda inginkan, tapi —" Orang itu melihat
Jennifer pergi, dan berpikir, apakah Jennifer tahu betapa
sulitnya mengenakan pakaian m^yat.
465
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer pulang dengan mengemudikan mobilnya sendiri.
Dia menghentikannya dijalan masuk mobil, lalu masuk ke
rumah.
Nyonya Mackey ada di dapur, matanya merah dan
mukanya tegang karena sedih. "Aduh, Nyonya Parker! Saya
tak bisa percaya —"
Jennifer tidak melihat atau mendengarnya. Dia berjalan
saja melewati Nyonya Mackey, langsung naik ke lantai atas, ke
kamar Joshua. Kamar itu tetap sama seperti biasa. Tak ada
satu pun yang berubah, kecuali bahwa kamar itu kosong.
Buku-buku Joshua dan barang-barang mainannya, baseball,
dan alat-alat skinya, semuanya ada di sana menantikan
Joshua. Jennifer berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam
kamar itu sambil mencoba mengingat-ingat untuk apa dia
pergi ke kamar itu. Ohya, pakaian untuk Joshua. Dia berjalan
ke lemari pakaian Joshua. Ada setelan biru tua yang
dibelikannya untuk anak itu pada hari ulang tahunnya yang
terakhir. Joshua mengenakannya malam itu, waktu dia
membawanya makan malam di Lutece. Jelas benar diingatnya
betapa dewasa tampaknya Joshua malam itu, dan dengan
perasaan haru waktu itu Jennifer berpikir, Suatu hari kelak dia
akan duduk di sini bersama gadis yang akan dikawininya. Kini
hari itu tidak akan tiba. Tidak akan ada yang tumbuh. Tak ada
gadis. Tak ada kehidupan.
Kecuali setelan biru itu, ada beberapa celana blue jeans,
celana biasa, dan baju-baju kaus, satu di antaranya memakai
nama regu baseball Joshua. Jennifer membelai-belai pakaian
itu tanpa sadar, tanpa tahu waktu berlalu.
Tiba-tiba saja Nyonya Mackey berada di sampingnya. "Tak
apa-apakah Anda, Nyonya Parker?"
Jennifer menjawab dengan sopan, "Aku tak apa-apa,
Nyonya Mackey."
"Bisakah saya membantu Anda?"
466
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, terima kasih. Aku akan mengenakan pakaian
Joshua. Baju mana kira-kira yang suka dipakainya
menurutmu?" Suaranya cerah dan ceria, tapi matanya mati.
Nyonya Mackey melihat mata itu dan ketakutan. "Cobalah
Anda berbaring sebentar, Nyonya.^Saya akan memanggil
dokter."
Jennifer tetap memilih-milih pakaian yang tergantung
dalam lemari itu. Diambilnya seragam baseball lalu
dilepaskannya dari gantungan pakaian. "Kurasa Joshua suka
yang ini. Nah, apa lagi yang akan dibutuhkannya, ya?"
Tanpa bisa berbuat apa-apa, Nyonya Mackey melihat
Jennifer berjalan ke bufet anaknya, lalu mengeluarkan pakaian
dalam, kaus kaki, dan kemeja. Joshua akan memerlukan
barang-barang ini karena dia akan pergi berlibur. Berlibur
panjang.
"Apakah menurutmu dia akan cukup hangat memakai ini?"
Nyonya Mackey tak dapat menahan air matanya.
"Janganlah," pintanya. "Tinggalkan saja. Nanti saya bereskan."
Tapi Jennifer sudah turun ke lantai bawah membawa
pakaian itu.
Jenazahnya terbaring di kamar mayat. Joshua telah
dibaringkan di atas sebuah meja panjang yang membuat
tubuh anak itu kelihatan kecil sekali.
Waktu Jennifer datang membawa pakaian Joshua,
pengurus pemakaman itu mencoba sekali lagi. "Saya sudah
berbicara dengan Dokter Morris. Kami berdua sepakat, Nyonya
Parker, bahwa akan jauh lebih baik bila Anda biarkan kami
yang menangani ini semua. Kami sudah biasa dan —"
Jennifer tersenyum pada orang itu. "Keluarlah."
Orang itu meneguk air liurnya dan berkata, "Baiklah,
Nyonya Parker."
467
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer menunggu sampai orang itu meninggalkan kamar,
lalu berbalik ke tempat anaknya.
Dilihatnya muka anaknya yang tidur itu, lalu berkata,
"Mama akan mengurusmu, Sayang. Kau akan memakai
seragam baseball-mu. Kau suka, kan?"
Kain penutup tubuh itu disingkapkannya dan terlihatlah
tubuh telanjang yang layu, lalu mulailah dia mengenakan
pakaian itu. Dia mulai dengan memasang celana dalamnya —
dia merasa ngeri waktu teraba olehnya tubuh anaknya yang
sedingin es. Rasanya sekeras dan sekaku batu pualam.
Jennifer memaksa mengatakan pada dirinya bahwa tubuh tak
bernyawa yang dingin kaku ini bukanlah anaknya, bahwa
Joshua sedang berada di suatu tempat lain, hangat dan
senang. Tapi dia tak dapat memaksa dirinya untuk percaya.
Joshua-lah yang terbaring di meja ini. Tubuh Jennifer mulai
menggigil. Rasanya seolah-olah kedinginan dalam tubuh
Joshua telah merasuk dirinya sendiri, membuatnya merasa
kedinginan sampai ke sumsum. "Hentikan!" katanya pada
dirinya sendiri dengan garang. "Hentikan! Hentikan!
HentikanP''
Dia menghirup napas dalam-dalam sambil geme- ' tar, dan
setelah dia akhirnya menjadi lebih tenang, dia mulai lagi
mengenakan pakaian anaknya, sambil terus bercakap-cakap
dengannya. Dipakaikannya celana dalamnya, lalu celana
panjangnya, dan waktu dia mengangkat anak itu akan
memakaikan kemejanya, kepalanya terkulai, lalu jatuh kena
meja. Jennifer terpekik, "Aduh, maafkan Mama, Joshua,
ampuni Mama!" Dan dia lalu menangis.
Hampir tiga jam diperlukan Jennifer untuk memasang
pakaian Joshua. Anak itu memakai seragam baseball dan baju
kaus kesukaannya, kaus kaki putih, dan sepatu olahraga. Topi
baseball-nya. menutupi wajahnya, maka Jennifer akhirnya
meletakkan topi itu di dada anak itu. "Kaubawa saja topi ini,
Sayangku."
468
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu petugas pengurus pemakaman itu datang dan
menjenguk ke dalam kamar, Jennifer sedang berdiri di sisi
tubuh yang sudah berpakaian itu, memegang tangan Joshua
dan bercakap-cakap dengannya.
Laki-laki itu mendekatinya dan berkata dengan lembut,
"Kami akan mengurusnya sekarang."
Jennifer memandangi anaknya lagi untuk terakhir kalinya.
"Harap berhati-hati. Kepalanya luka."
Pemakamannya berlangsung sederhana. Hanya Jennifer
dan Nyonya Mackey yang tinggal melihat peti mati kecil yang
putih itu dimasukkan ke dalam liang kubur yang baru digali.
Ada terpikir oleh Jennifer untuk memberi tahu Ken Bailey,
karena Ken menyayangi Joshua dan demikian pula sebaliknya.
Tapi Ken sudah tak ada lagi dalam hidup mereka.
Waktu orang mulai melemparkan tanah ke peti mati itu,
Nyonya Mackey berkata, "Marilah, Nyonya. Mari saya antar
Anda pulang."
Jennifer menjawab dengan sopan, "Aku tak apa-apa. Aku
dan Joshua tidak akan membutuhkan-mu lagi, Nyonya
Mackey. Kau akan kuberi pesangon berupa gaji setahun dan
surat keterangan. Aku' dan Joshua mengucapkan terima kasih
atas segala-galanya."
Nyonya Mackey terpana menatap Jennifer yang lalu
berbalik dan pergi meninggalkannya. Dia berjalan dengan
berhati-hati, tegak lurus, seolah-olah dia sedang menjalani
suatu lorong abadi yang hanya cukup dijalani oleh satu orang.
Rumahnya sepi dan damai. Dia naik ke kamar Joshua dan
menutup pintunya, lalu berbaring di tempat tidur anaknya itu.
Dipandanginya semua barang milik , anak itu, semua barang
yang dicintainya. Seluruh dunia Jennifer ada dalam kamar itu.
Tak ada lagi yang harus dikerjakannya sekarang, tak perlu
pergi ke mana-mana. Yang ada hanya Joshua. Jennifer
469
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memulai kenangannya dengan hari kelahiran Joshua dan
menghayati kembali semua kenangan tentang anaknya itu.
Joshua yang mulai berjalan tertatih-tatih... Joshua yang
mengatakan car-car dan Mama, pergilah main dengan mainan
Mama sendiri... Joshua yang untuk pertama kalinya pergi ke
sekolah seorang diri, seperti tokoh kecil yang berani... Joshua
yang terbaring di tempat tidur karena sakit campak, tubuhnya
tersiksa karena kesakitan... Joshua yang dalam pertandingan
baseball membuat regunya menang... Joshua berlayar...
Joshua memberi makan gajah di kebun binatang... Joshua
yang menyanyikan lagu Shine On, Harvest Moon pada hari
Ibu... Kenangan itu berputar terus seperti film dalam otaknya.
Kenangan itu berhenti pada hari keberangkatan mereka ke
Acapulco.
Acapulco... di mana dia bertemu dengan Adam dan
bercintaan dengannya. Dia rupanya dihukum karena dia telah
memikirkan dirinya sendiri. Pasti, pikir Jennifer, pasti ini
hukuman bagiku. Inilah nerakaku.
Dan dia mulai lagi, mulai dengan hari kelahiran Joshua...
Joshua yang melangkahkan kakinya untuk pertama kali...
Joshua mengatakan car-car, dan Mama, pergilah main dengan
mainan Mama sendiri...
Waktu berlalu begitu saja. Kadang-kadang Jennifer
mendengar telepon berdering di suatu tempat yang jauh di
rumah itu, dan satu kali dia mendengar seseorang mengetuk
pintu depan rumahnya, tapi suara-suara itu tak ada artinya
baginya. Dia tidak akan membiarkan apa pun mengganggu
kebersamaannya dengan anaknya. Dia tinggal terus dalam
kamar itu, tanpa makan dan tanpa minum, tenggelam dalam
hidupnya sendiri bersama Joshua. Dia tak tahu lagi tentang
waktu, tak tahu sudah berapa lama dia berbaring di situ.
Hari itu sudah hari kelima. Jennifer mendengar bel pintu
depan berbunyi lagi, dan bunyi seseorang menggedor pintu
itu, tapi dia tak peduli. Siapa pun dia, dia pasti akan pergi lagi.
470
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sayup-sayup didengarnya kaca pecah, dan beberapa saat
kemudian pintu ke kamar Joshua terbuka lebar dan Michael
Moretti tegak berdiri di ambang pintu.
Satu kali sudah cukup bagi Michael untuk melihat tubuh
dan wajah yang kurus kering, dengan mata cekung yang
menatapnya saja, dan dia pun berseru, "Ya, Tuhan!"
Michael Moretti mengerahkan seluruh tenaganya untuk
membawa Jennifer keluar dari kamar itu. Jennifer melawannya
dengan histeris, meninjunya, dan mencakar matanya. Nick
Vito sedang menunggu di lantai bawah, dan mereka berdualah
baru berhasil membawa Jennifer masuk ke mobil. Jennifer tak
tahu siapa mereka dan untuk apa mereka di situ. Dia hanya
tahu bahwa mereka membawanya pergi dari anaknya. Dia
mencoba mengatakan pada mereka bahwa dia akan mati
kalau mereka mencoba memisahkan dari anaknya itu, tapi
akhirnya dia terlalu letih untuk melawan lagi. Dia tertidur.
Waktu Jennifer terbangun, dia berada dalam sebuah kamar
yang cerah dan bersih. Dari jendela kamar itu dia bisa melihat
pemandangan gunung dan danau biru di kejauhan. Seorang
perawat yang berseragam sedang duduk di sebuah kursi di sisi
tempat tidur, sambil membaca majalah. Dia mengangkat
mukanya waktu Jennifer membuka matanya.
"Di mana saya?" Lehernya terasa sakit dibawa bercakap.
"Anda berada di tengah-tengah sahabat Anda, Nona Parker.
Tuan Moretti yang membawa Anda kemari. Dia sangat kuaur
tentang diri Anda. Dia akan senang sekali kalau mendengar
bahwa Anda sudah bangun."
Perawat 'itu bergegas keluar dari kamar itu. Jennifer
terbaring saja di situ, pikirannya hampa, tak mau dibawa
berpikir. Tapi kenang-kenangan mulai bertimbulan lagi, tanpa
bisa dicegah, dan tak ada tempat untuk bersembunyi
menghindarinya, tiada tempat untuk melarikan diri. Jennifer
menyadari bahwa dia sudah mencoba membunuh dirinya
471
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanpa sebenarnya punya keberanian untuk melakukannya. Dia
hanya ingin mati dan ingin hal itu terjadi. Michael telah
menyelamatkannya. Ironis sekali. Bukan Adam, melainkan
Michael. Dia sadar bahwa dia tak adil bila dia menyalahkan
Adam. Dia tidak menceritakan yang sebenarnya pada Adam,
telah merahasiakannya hingga Adam tak tahu mengenai anak
mereka yang sudah dilahirkannya, yang kini sudah meninggal.
Joshua sudah tiada. Sekarang Jennifer bisa menghadapi
kenyataan itu. Rasa sakit itu dalam dan menyiksa, dan dia
tahu bahwa rasa sakit itu akan dibawanya sepanjang
hidupnya. Tapi dia bisa menanggungnya. Dia harus bisa.
Itulah keadilan yang menuntut balas.
Jennifer mendengar langkah-langkah kaki dan mengangkat
mukanya. Michael masuk ke "dalam kamar. Dia berdiri
memandangi Jennifer dengan agak heran. Dia seperti orang
gila waktu Jennifer menghilang. Dia hampir hilang ingatan
karena takut kalau-kalau sesuatu telah terjadi atas diri
Jennifer.
Michael berjalan mendekati tempat tidur, lalu menunduk.
"Mengapa tak kaukatakan padaku?" Michael duduk di tepi
tempat tidur. "Aku turut berdukacita."
Jennifer menggenggam tangan Michael. "Terima kasih kau
telah membawaku kemari. Ku — kurasa aku sudah agak
sinting."
"Sedikit."
"Sudah berapa lama aku di sini?"
"Empat hari. Dokter telah memberimu makan melalui
infus."
Jennifer mengangguk, gerak sekecil itu pun memerlukan
usaha yang besar sekali. Dia merasa letih luar biasa.
"Sebentar lagi orang mengantar sarapan. Dokter
memerintahkan padaku untuk membuatmu gemuk."
472
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tak lapar. Kurasa aku tak akan pernah mau makan
lagi."
"Kau harus makan."
Dan Jennifer heran karena ternyata Michael benar. Waktu
perawat datang membawakan telur setengah matang dengan
roti panggang dan teh di nampan, dia menyadari bahwa dia
lapar sekali.
Michael tetap saja di situ dan memperhatikannya, dan
setelah Jennifer selesai, Michael berkata, "Aku harus kembali
ke New York untuk menyelesaikan beberapa urusan. Beberapa
hari lagi aku akan kembali."
Dia membungkuk lalu mencium Jennifer dengan lembut.
"Sampai ketemu hari Jumat." Perlahan-lahan dibelaikannya
jari-jarinya ke wajah Jennifer. "Aku ingin kau cepat sembuh.
Kau dengar itu?"
Jennifer memandangnya lalu berkata, "Ya, aku dengar."
Ruang pertemuan yang besar di markas Korps Marinir
Amerika Serikat penuh orang hingga melimpah. Di luar
ruangan, satu skuadron pengawal bersenjata siap siaga. Di
dalam berkumpul orang-orang istimewa. Suatu dewan juri
khusus duduk di kursi, di sepanjang dinding. Di suatu sisi
sebuah meja panjang, duduk Adam Warner, Robert Di Silva,
dan Asisten direktur dari FBI. Di hadapan mereka duduk
Thomas Colfax.
Adam yang mengusulkan untuk membawa juri khusus itu
ke markas.
"Itulah satu-satunya jalan, kita pasti bisa melindungi
Colfax."
Dewan juri khusus menyetujui usul Adam, dan sekarang
sidang rahasia itu akan dimulai.
473
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam berkata pada Thomas Colfax, "Harap Anda
mengenalkan diri Anda."
"Nama saya Thomas Colfax."
"Apa pekerjaan Anda, Saudara Colfax?"
"Saya seorang pengacara, dengan surat izin praktek untuk
wilayah New York, juga di banyak negara bagian di negeri ini."
"Sudah berapa lama Anda menjalankan praktek
pengacara?"
"Lebih dari tiga puluh lima tahun."
"Apakah Anda membuka praktek untuk umum?"
"Tidak, Pak. Saya punya satu klien."
"Siapa klien Anda itu?"
"Selama hampir tiga puluh lima tahun, Antonio Granelli,
yang sekarang sudah meninggal. Dia digantikan oleh Michael
Moretti. Saya menjadi kuasa Michael Moretti dan
organisasinya."
"Apakah yang Anda maksud itu organisasi kejahatan?"
"Betul, Pak."
"Sehubungan dengan kedudukan yang Anda pegang
selama itu, apakah boleh kami simpulkan bahwa kedudukan
Anda memungkinkan Anda untuk mengetahui kegiatankegiatan di dalam, dari apa yang disebut organisasi itu?"
"Sedikit sekali kejadian di sana yang tidak saya ketahui."
"Dan kegiatan-kegiatan itu adalah kegiatan kriminal?"
"Benar, Senator."
"Dapatkah Anda melukiskan sifat dari beberapa kegiatan
itu?"
474
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thomas Colfax berbicara selama dua jam berikutnya.
Suaranya terdengar mantap dan tetap. Disebutkannya namanama, tempat-tempat, dan tanggal-tanggal kejadian, dan
sekali-sekali kisahnya demikian mempesona hingga orangorang dalam ruangan itu lupa di mana mereka berada. Mereka
terperangkap dalam kisah-kisah mengerikan yang sedang
diceritakan Colfax.
Dia berbicara tentang kontrak-kontrak pembunuhan yang
dikeluarkan, tentang saksi-saksi yang dibunuh supaya mereka
tidak bisa memberikan kesaksiannya, tentang pembakaran
gedung-gedung, penyiksaan, perbudakan kulit putih —
serangkaian kejahatan yang menyerupai daftar panjang dari
llieronymus Bosch. Untuk pertama kalinya diceritakan inti
operasi dari suatu sindikat kejahatan yang lerbesar di dunia,
dibeberkan untuk dilihat oleh semua orang.
Kadang-kadang Adam atau Robert Di Silva menanyakan
sesuatu, mengingatkan Thomas Colfax, menyuruhnya mengisi
kekosongan-kekosongan bila perlu.
Sidang itu berjalan jauh lebih baik daripada yang
diharapkan Adam. Tetapi tiba-tiba, ketika sudah mendekati
akhir, ketika tinggal beberapa menit saja lagi, terjadilah
bencana itu.
Salah seorang dari dewan juri menanyakan suatu operasi
membungakan uang.
"Itu terjadi dua tahun yang lalu. Michael menyingkirkan
saya dari beberapa kegiatan terakhir. Jmnifer Parker yang
menangani hal itu."
Adam membeku.
"Jennifer Parker?" tanya Robert Di Silva. IVrdengar
semangat yang meluap-luap dalam pertanyaan itu.
"Benar, Pak." Suara Thomas Colfax mengandung nada
dendam. "Sekarang dialah pembela tetap muanisasi itu."
475
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ingin benar Adam menyuruhnya menutup mulut, untuk
memerintahkan supaya apa yang baru diucapkannya tidak
dicatat, tapi sudah terlambat. Di Silva seolah-olah sedang
mencari nadi leher untuk, menyembelihnya, dan tak satu pun
yang bisa menghalanginya.
"Ceritakan lagi tentang perempuan itu," kata Di Silva
tegang.
Thomas Colfax melanjutkan. "Jennifer Parkerl terlibat dalam
usaha mendirikan perusahaan-j perusahaan kedok,
pembungaan uang..."
Adam mencoba menyela. "Saya tidak —"
"...pembunuhan."
Perkataan itu tergantung-gantung dalam ruangan itu.
Adam memecahkan kesunyian itu, "Kita — kita harus tetap
berpegang pada fakta, Tuan Colfax! Apakah Anda ingin
mengatakan pada kami bahwa Jennifer Parker terlibat dalam
pembunuhan?"
"Itulah yang ingin saya katakan. Dia memerintahkan untuk
membunuh orang yang telah menculik anaknya. Nama laki-laki
itu Frankjackson. Disuruhnya Moretti- membunuh orang itu
dan Moretti melakukannya."
Terdengar gumam suara kacau.
Anaknya! Adam berpikir: Pasti ada kekeliruan.
Dia berkata dengan menggagap, "Saya rasa — saya rasa
sudah cukup bukti yang kita dengar, yang bukan sekedar
didengar dari orang lain. Kami —"
"Itu tidak saya dengar dari orang lain," Thomasl Colfax
memberikan keyakinan. "Saya ada di kaman bersama Moretti
waktu dia menelepon."
476
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam mengepalkan kedua belah tangannya yang1 ada di
bawah meja demikian kuatnya, hingga seolah-olah tak
berdarah lagi. "Saksi kelihatan sudah letih. Saya rasa sudah
cukup untuk sidang ini."
Robert Di Silva berkata pada juri khusus, "Saya ingin
mengusulkan sesuatu tentang prosedur..."
Adam sudah tidak mendengarkan lagi. Dia ingin tahu di
mana dia sekarang berada. Dia sudah menghilang lagi. Sudah
berulang kali Adam mencoba menemukannya. Tapi sekarang
dia putus asa. Dia harus menemukan Jennifer secepatnya.
Operasi pembongkaran terbesar dalam pelanggaran hukum
di Amerika Serikat mulai bergerak maju.
Satuan Penyerangan Federal melawan organisasi kejahatan
dan pemerasan, bekerja sama dengan FBI, Dinas Pos dan Bea
Cukai, Dinas Perpajakan Dalam Negeri, Biro Narkotika Federal,
dan banyak liadan-badan lain.
Bidang penyelidikannya meliputi pembunuhan, komplotan
pembunuhan, pemerasan, penyiksaan, penghindaran
pembayaran pajak penghasilan, pe-nipuan-penipuan dalam
organisasi buruh, pembakaran rumah, lintah darat, dan obatobat terlarang.
Thomas Colfax telah memberi mereka kunci peti rahasia
dari kejahatan dan korupsi, yang akan membantu
menghapuskan sebagian besar dari ? iivanisasi kejahatan.
Keluarga Michael Moretti yang akan dipukul paling hebat,
tapi juga bukti-bukti yang mengenai keluarga-keluarga lain di
seluruh negara.
Di seluruh Amerika Serikat maupun di luar negeri, petugaspetugas pemerintah secara diam-diam menanyai teman-teman
dan rekan pengusaha mengenai orang-orang dalam daftar
mereka. Petugas-petugas di Turki, Meksiko, San Salvador,
Marseilles, dan Honduras bekerja sama dengan rekan-rekan
477
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kerjanya, dengan memberi mereka informasi mengenai
kegiatan-kegiatan pelanggaran hukum yang sedang dilakukan
orang di negara-negara itu. Penjahat-penjahat kecil dijaring
dulu, dan setelah mereka berbicara, mereka dibebaskan
sebagai imbalan kesaksian yang telah mereka berikan
mengenai tokoh-tokoh penting dalam kejahatan. Semuanya
dijalankan dengan berhati-hati, supaya mangsa yangi utama
tidak sampai merasa mendapat peringatan' tentang badai
yang akan melanda mereka.
Sebagai ketua Panitia Penyelidikan Senat, Adam Warner
terus-menerus harus menerima tamu yand mengalir di
rumahnya, di Georgetown, dan sidang-] sidang dalam ruang
kerjanya sering berlangsung sampai subuh. Tak diragukan lagi
bahwa bila semua ini sudah berlalu dan organisasi Michael
Moretti sudah digulung, maka perjuangan perebutan kursi
kepresidenan akan dengan mudah membawa kemeJ nangan
bagi Adam.
Dia seharusnya merasa bahagia. Tapi dia risaui
menghadapi krisis moral yang terbesar dalam hidupnya.
Jennifer Parker benar-benar telah terlibat,; dan dia harus
memberinya peringatan, menyuruh^ nya melarikan diri selagi
masih ada kesempatanJ Namun dia ada tanggungjawab lain:
tanggungjawab terhadap panitia yang menyandang namanyaJ
tanggung jawab terhadap senat Amerika Serikal sendiri. Dialah
yang akan menuntut Jennifer Parker,
Bagaimana dia bisa menjadi pelindungnya? Bila dia
memberi peringatan pada Jennifer dan hal itu ketahuan, maka
ia akan menghancurkan nama baik panitia penyelidikan itu
dan menghancurkan semua yang sudah berhasil dilaksanakan.
Hal itu akan menghancurkan masa depan dan keluarganya.
Adam terpana waktu mendengar Colfax mengatakan bahwa
Jennifer mempunyai anak.
Dia merasa, dia harus berbicara dengan Jennifer.
478
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam memutar nomor telepon Jennifer, dan seorang
sekretaris mengatakan, "Maaf, Tuan Adams, Nona Parker tak
ada di kantor."
"Ini — ini penting sekali. Tahukah Anda di mana saya bisa
menghubunginya?"
"Tidak, Tuan. Mungkin orang lain bisa membantu Anda?"
Tak seorang pun bisa membantunya.
Selama minggu berikutnya, setiap hari Adam mencoba
menghubungi Jennifer. Sekretaris Jennifer hanya berkata,
"Maaf, Tuan Adams, Nona Parker tak ada di kantor."
Suatu hari Adam sedang berada di kamar kerjanya, dan
akan menelepon Jennifer untuk ketiga kalinya, tiba-tiba Mary
Beth masuk ke kamar itu. Adam seenaknya mengembalikan
gagang telepon. Mary Beth mendekatnya lalu membelai
rambutnya. "Kau kelihatan letih, Sayang."
"Aku baik-baik saja."
Mery Beth berjalan ke sebuah kursi dari kulit halus \<ing
ada di seberang meja kerja Adam. lalu duduk. "Semuanya
menumpuk-numpuk bukan, Adam?"
"Kelihatannya begitulah."
"Kuharap semuanya lekas selesai, demi kebaikanmu. Tentu
tegangnya bukan main, ya?"
"Aku bisa menanggungnya, Mary Beth. Tak usah kuadrkan
diriku."
"Tapi aku merasa kuatir. Nama Jennifer Parker ada dalam
daftar itu, ya?"
Adam memandangnya dengan tajam. "Dari mana kau tahu
itu?"
Mary Beth tertawa. "Pahlawanku, rumah ini seolah-olah
sudah kaujadikan tempat pertemuan umum. Dengan
479
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendirinya aku ikut mendengar juga sedikit-sedikit apa yang
terjadi. Kelihatannya semua orang bernapsu untuk menangkap
Michael Moretti dan pacarnya itu." Diperhatikannya wajah
Adam, namun dia tak melihat reaksi apa-apa.
Mary Beth memandang suaminya dengan penuh kasih
sayang. Alangkah bodohnya laki-laki.Dia lebih tahu tentang
Jennifer Parker daripada Adam. Mary Beth memang selalu
merasa heran melihat seorang laki-laki yang bisa hebat dalam
bidang usaha dan politik, namun bodoh bila mengenai wanita.
Lihat saja betapa banyaknya orang-orang yang benar-benar
berkuasa yang menikah dengan perempuan-perempuan kecil
murahan. Mary Beth tahu hubungan suaminya dengan
Jennifer Parker. Bukankah Adam seorang laki-laki yang
menarik, yang banyak disukai orang? Dan sebagaimana semua
laki-laki, dia tanggap sekali mengenai hal itu. Mary Beth
memakai falsafah: maafkan, tapi tak pernah melupakan.
Mary Beth tahu apa yang terbaik untuk suaminya. Segalagalanya yang diperbuatnya adalah demi kebaikan Adam. Bila
semuanya itu sudah berlalu, dia akan mengajak Adam pergi.
Dia benar-benar kelihatan letih. Mereka akan meninggalkan
Saman-tha dengan pembantu, dan pergi ke suatu tempat
yang romantis. Mungkin ke Tahiti.
Mary Beth melihat ke luar jendela dan melihat dua orang
petugas dinas rahasia sedang bercakap-cakap. Mary Beth
punya perasaan campur-aduk tentang kehadiran orang-orang
itu. Dia tak suka karena merasa kebebasan pribadinya
terganggu, namun sebaliknya, kehadiran mereka di situ
mengingatkannya bahwa suaminya adalah seorang calon
untuk kedudukan kepresidenan Amerika Serikat. Ah, tidak,
bodoh benar dia. Suaminya benar-benar akan menjadi
presiden Amerika Serikat. Semua orang berkata begitu.
Bayangan akan tinggal di Gedung Putih rasanya sudah hampir
benar terwujud, hingga baru mengingatnya saja, Mary Beth
sudah merasa hangat. Kegiatan yang paling disukainya yang
480
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dibayangkannya, bila Adam sedang sibuk dengan rapatrapatnya, dia akan mengubah tata ruang Gedung Putih. Dia
akan duduk seorang diri dalam kamarnya, sambil mengubah
penataan perabot rumah tangga dalam otaknya,
merencanakan semua hal-hal yang mendebarkan yang akan
dilakukannya bila dia menjadi First Lady.
Dia sudah pernah melihat ruangan-ruangan yang tak boleh
dimasuki oleh umum: perpustakaan Gedung Putih yang berisi
hampir tiga ribu buah buku, Ruangan Cina dan Ruang
Penerimaan Diplomatik, kamar-kamar keluarga, juga tujuh
buah kamar tamu di lantai dua.
Dia akan tinggal di gedung itu bersama Adam dan menjadi
bagian dari sejarahnya. Mary Beth merinding teringat betapa
Adam nyaris melemparkan semua kesempatan itu gara-gara
perempuan Parker itu. Tapi syukurlah semua itu sudah berlalu.
Kini dia memperhatikan Adam yang duduk di meja
kerjanya, dia kelihatan pucat dan lesu.
"Bagaimana kalau kau kubuatkan kopi, Sayang?" Adam
ingm menolak, tapi mengubah pikirannya. "Enak sekali, tentu
aku mau." "Sebentar, ya?"
Begitu Mary Beth meninggalkan kamar itu, Adam
mengangkat telepon lagi dan memutar nomor. Hari sudah
malam, dan dia tahu kantor Jennifer pasti sudah tutup, tapi
tentu ada yang dinas menjaga telepon. Setelah Adam
menunggu seolah-olah seabad lamanya, barulah seorang
petugas menjawab.
"Ada soal yang mendesak," kata Adam. "Sudah beberapa
hari ini saya mencoba menghubungi Jennifer Parker. Di sini
Tuan Adams."
"Tunggu sebentar." Kemudian suara itu terdengar lagi,
"Maaf, Tuan Adams, saya tidak mendapatkan berita di mana
Nona Parker berada. Maukah Anda meninggalkan pesan?"
481
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak." Adam membanting gagang teleponnya dengan
rasa frustrasi, karena dia tahu bahwa kalaupun dia mau
meninggalkan pesan, Jennifer tetap tidak akan mau
menghubunginya.
Dia duduk sambil memandang ke kegelapan malam hari,
memikirkan belasan surat perintah penangkapan yang segera
akan dikeluarkan. Salah satu di antaranya atas tuduhan
pembunuhan.
Surat perintah itu akan ditujukan pada Jennifer.
Lima hari kemudian barulah Michael Moretti kembali ke
pondok gunung di mana Jennifer menginap. Selama berada di
sana, Jennifer hanya beristirahat, makan, dan berjalan-jalan di
sekeliling lorong-lorong. Waktu didengarnya mobil Michael,
Jennifer keluar untuk menyambutnya.
Michael memandanginya dari atas ke bawah, lalu berkata,
"Kau kelihatan jauh lebih baik."
"Aku memang merasa jauh lebih baik, terima kasih."
Mereka berjalan di sepanjang jalan yang menuju ke danau.
Michael berkata, "Aku akan memintamu berbuat sesuatu
untukku." "Apa itu?"
"Berangkat ke Singapura besok." "Singapura?"
"Seorang pramugara telah ditangkap di lapangan udara di
sana karena membawa muatan ganja. Namanya Stefan Bjork.
Dia dipenjarakan. Tolong bebaskan dia dengan uang jaminan
sebelum dia bicara."
"Baiklah."
"Kembalilah secepat mungkin. Aku akan merasa kehilangan
kau."
482
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ditariknya Jennifer dan didekapnya, lalu diciumnya dengan
lembut sekali, kemudian berbisik, "Aku cinta padamu,
Jennifer."
Jennifer tahu bahwa Michael belum pernah mengucapkan
kata-kata itu pada siapa pun juga.
Tapi kini sudah terlambat. Semua sudah berlalu. Ada
sesuatu yang sudah mati dalam dirinya, dan tinggallah dia
dengan rasa bersalah dan kesepian. Dia telah memutuskan
untuk mengatakan pada Michael akan pergi untuk selamanya.
Tidak akan ada lagi Adam dan tidak akan ada lagi Michael. Dia
harus pergi ke suatu tempat seorang diri, dan mulai lagi dari
awal. Dia harus melunasi hutang. Inilah yang terakhir yang
akan dilakukannya untuk Michael dan sekembalinya dari sana
dia akan mengatakannya pada Michael.
Esok paginya, Jennifer berangkat ke Singapura.
Nick vito, Tony Santo, Salvatore Fiore, dan Joseph Colella
sedang makan siang di Tony's Place. Mereka duduk di ruang
depan, dan setiap kali pintu terbuka, mereka otomatis
menoleh untuk melihat siapa-siapa pendatang baru. Michael
Moretti ada di kamar belakang, dan meskipun tak ada konflik
baru di antara keluarga, lebih baik berjaga-jaga.
"Apa yang terjadi atas diri Jimmy?" tanya Joseph Colella, si
Raksasa.
"Astutatu — Morte," kata Nick Vito. "Anak celaka itu jatuh
cinta pada adik seorang detektif. Babi betina itu rupanya
hanya umpan. Berdua dengan abangnya dia membujuk Jimmy
untuk berkhianat. Jimmy berusaha untuk memancing
percakapan dengan Mike, dan dia lalu memasang kawat untuk
menyadap percakapan itu dalam kaki celananya."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Fiore.
"Jimmy lalu begitu gugup hingga dia lalu mau buang air
kecil. Waktu celananya dibuka, kawat sialan itu keluar."
483
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Celaka!"
"Mike menyerahkannya pada Gino. Gino memakai kawat
Jimmy sendiri untuk mencekiknya. Anak itu mati perlahanlahan."
Pintu terbuka dan keempat laki-laki itu menoleh ke arah
pintu. Seorang laki-laki penjaja surat kabar masuk dengan
membawa New York Post edisi petang.
Joseph Colella berseru, "Mari sini, Koran." Dia berpaling
pada kawan-kawannya. "Aku kepingin tahu keadaan di
Hialeah. Aku bertaruh pada pacuan kuda hari ini."
Penjaja-koran itu sudah berumur tujuh puluhan dan berkulit
kasar karena sengatan matahari. Dia menyerahkan selembar
surat kabar pada Joseph Colella yang memberinya satu dolar.
"Ambil saja sisanya."
Michael Moretti pun akan berkata begitu. Joseph Colella
mulai membuka surat kabar itu, lalu mata Nick Vito
menangkap sebuah foto di halaman depan.
"Hei!" serunya. "Aku pernah melihat orang itu!"
Tony Santo ikut mengintip melalui bahu Vito. "Tentu,
Goblok. Itu kan Adam Warner. Dia sedang memperebutkan
kursi presiden."
"Bukan," kata Vito berkeras. "Aku pernah melihat-nya."
Dikernyitkan alisnya, mencoba untuk mengingat. Tiba-tiba dia
ingat.
"Aku ingat! Dialah laki-laki yang kulihat dalam bar di
Acapulco bersama Jennifer Parker."
"Bicara apa kau itu?"
"Ingatkah kalian waktu aku berada di sana bulan yang lalu
untuk menyerahkan suatu bungkusan? Aku melihat laki-laki ini
bersama Jennifer Parker. Mereka sedang minum-minum."
484
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Salvatore Fiore menatapnya. "Yakinkah kau?" "Yakin.
Mengapa?"
"Kurasa sebaiknya kauceritakan pada Mike," kata Fiore
lambat.
Michael Moretti memandangi Nick Vito, dan berkata, "Kau
sudah gila. Mau apa Jennifer Parker dengan Senator Warner?"
"Mana aku tahu, Bos. Aku hanya tahu bahwa mereka
sedang duduk minum-minum di bar itu."
"Hanya mereka berdua saja?"
"Ya."
Salvatore Fiore menyela, "Sebaiknya kauselidiki hal itu,
Mike. Si bangsat Warner itu sedang mati-matian menyelidiki
kita. Lalu mengapa Jennifer minum-minum dengan dia?"
Itulah yang ingin diketahui Michael. Jennifer memang
pernah berbicara tentang Acapulco dan pertemuan besar itu,
dan dia menyebutkan pula nama beberapa orang yang
ditemuinya di sana. Tapi dia tidak berkata sepatah pun
tentang Adam Warner.
Dia berpaling pada Tony Santo. "Siapa pengurus dari
persatuan penjaga pintu sekarang?"
"Charlie Corelli."
Lima menit kemudian, Mike sudah berbicara dengan Charlie
Corelli melalui telepon.
"...The Belmont Towers," kata Michael. "Seorang sahabatku
tinggal di sana sembilan tahun yang lalu. Aku ingin berbicara
dengan orang yang waktu itu bertugas sebagai penjaga pintu
di sana." Michael mendengarkan sebentar. "Terima kasih
banyak, Kawan." Lalu dia meletakkan gagang telepon.
Nick Vito, Santo, Fiore, dan Colella memperhatikannya.
485
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei, Bangsat-bangsat, tak ada kerjakah kalian? Keluar dari
sini." Keempat laki-laki itu cepat-cepat pergi.
Michael berpikir, membayangkan Jennifer dengan Adam
Warner. Mengapa Jennifer tak pernah menyebutkan nama
laki-laki itu? Lalu ayah Joshua yang katanya tewas dalam
peperangan Vietnam. Mengapa pula Jennifer tak pernah
menyebutkan namanya?
Michael Moretti lalu berjalan hilir-mudik dalam kantornya
itu.
Tiga jam kemudian, Tony Santo mengantar seorang lakilaki pemalu berumur enam puluhan
yang berpakaian compang-camping dan jelas ketakutan.
"Ini Wally Kawolsky," kata Tony.
Michael bangkit lalu menjabat tangan Kawolsky. "Terima
kasih atas kedatanganmu, Wally. Aku senang sekali. Silakan
duduk. Bisakah aku menawarkan minuman atau sesuatu yang
lain?"
"Tidak, tidak, terima kasih, Tuan Moretti. Saya baik-baik
saja. Terima kasih banyak." Dia mem-bungkuk-bungkuk terus.
"Jangan gugup. Aku hanya ingin menanyakan beberapa
pertanyaan, Wally."
"Silakan, Tuan Moretti. Apa pun yang ingin Anda ketahui.
Apa saja."
"Masihkah kau bekerja di Belmont Towers?"
"Saya? Tidak, Tuan. Sudah lima tahun yang lalu s.iya
berhenti. Ibu mertua saya sakit encok berat
155 an —
"Apakah kau ingat orang-orang yang menyewa lempat itu?"
486
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya. Saya rasa saya ingat kebanyakan di antaranya. Mereka
sudah seperti —"
"Apakah kau ingat seseorang yang bernama |ciinifer
Parker?"
Wajah Wally Kawolsky berseri. "Oh, tentu. Dia «-orang
wanita yang baik sekali. Saya bahkan ingat nomor
apartemennya. Seribu sembilan ratus dua puluh sembilan,
seperti angka tahun waktu pasaran ilunia hancur, bukan? Saya
suka padanya."
"Apakah banyak orang yang mengunjungi Nona l'.uker,
Wally?"
Wally menggaruk kepalanya perlahan-lahan. "Yah, sulit
mengatakannya, Tuan Moretti. Saya li.mya melihatnya kalau
dia keluar atau pulang."
"Pernahkah seorang laki-laki bermalam di apartemennya?"
Wally Kawolsky menggeleng. "Oh, sama sekali tidak, Tuan."
Jadi semuanya ini isapan jempol belaka. Michael merasa
lega sekali. Dia memang tahu bahwa Jennifer tidak akan
pernah —
"Bisa-bisa teman prianya pulang dan menangkap basah
mereka." Michael berpikir mungkin dia salah ? tafsir. "Teman
prianya?"
"Ya. Pria yang hidup bersama Nona Parker di sana."
Kata-kata itu bagaikan pukulan keras dengan palu di perut
Michael. Dia lalu tak dapat mengendalikan dirinya.
Diterkamnya leher baju Wally Kawolsky lalu ditariknya sampai
orang itu berdiri. "Goblok! Aku kan tadi sudah tanya apakah —
siapa nama pria itu?"
Laki-laki kecil itu ketakutan. "Saya tak tahu, Tuan Moretti.
Demi Tuhan, saya tak tahu!"
~
487
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Michael mendorongnya dengan kasar. Diambilnya surat
kabar tadi, lalu didorongnya ke bawah hidung Wally Kawolsky.
Kawolsky melihat foto Adam Warner dan berkata dengan
bersemangat, "Itulah dia! Itulah teman prianya."
Dan Moretti merasa seolah-olah dunia hancur lalu
menghimpitnya. Jennifer telah membohonginya selama ini;
Jennifer telah mengkhianatinya dengan Adam Warner! Mereka
berdua telah main d belakangnya, berkomplot melawannya,
mempermainkannya. Jennifer telah menjadikannya bahan
olok-olok.
Rasa dendam lama mulai bergelora dengan keras dalam diri
Michael Moretti, dan dia memutuskan akan membunuh
mereka berdua.
54
Jennifer terbang dari New York ke London, terus ke
Singapura, dengan berhenti selama dua jam di Bahrain.
Lapangan terbang yang boleh dikatakan masih baru di emirat
penghasil minyak itu sudah penuh sesak dengan laki-laki,
perempuan, dan anak-anak. Mereka semua mengenakan
pakaian khas setempat. Mereka itu tidur di lantai atau di
bangku. Di depan toko minuman keras di lapangan terbang
ilu, terdapat peringatan tercetak bahwa barang siapa minum
di tempat umum akan diancam dengan hukuman penjara.
Suasananya penuh kebencian, dan Jennifer merasa senang
waktu penerbangannya dilanjutkan.
Pesawat jet 747 mendarat di Lapangan Terbang Changi di
Singapura pukul empat lewat empat puluh menit petang.
Lapangan terbang itu masih baru benar, empat belas mil
jauhnya dari pusat kota. lapangan terbang baru itu
menggantikan lapangan yang lama yang bernama
International Airport. Waktu pesawat terbang mendarat dan
meluncur dijalur pendaratan, Jennifer melihat tanda-tanda
pembangunan yang masih berlangsung.
488
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bangunan bea cukainya besar, lapang, dan modern. Di
sana tersedia kereta-kereta bagasi untuk kemudahan para
penumpang. Para petugas bea cukainya bekerja dengan
efisien dan sopan dan dalam 15 menit Jennifer sudah selesai,
lalu pergi menuju kumpulan taksi.
Di luar jalan masuk, seorang laki-laki Cina setengah baya
mendatanginya. "Nona Jennifer Parker?"
"Ya."
"Saya Chou Ling." Dia penghubung Michael di Singapura.
"Saya membawa mobil yang siap membawa Anda."
Chou Ling mengawasi orang memasukkan barang-barang
Jennifer ke dalam ruang bagasi mobil, dan beberapa menit
kemudian mereka memulai perjalanan ke pusat kota.
"Apakah penerbangan tadi menyenangkan?" tanya Chou
Ling.
"Ya, terima kasih." Pikiran Jennifer sudah melayang pada
Stefano Bjork.
Seolah-olah pandai membaca pikiran Jennifer, Chou Ling
menganggukkan kepalanya ke arah depan mereka. "Itu
Penjara Changi. Bjork ada di situ."
Jennifer menoleh untuk melihat. Penjara Changi adalah
sebuah bangunan besar, jauh dari jalan raya, dikelilingi pagar
hijau dan kawat berduri yang dialiri listrik. Di setiap sudut ada
menara pengawas, yang dijaga oleh pengawal bersenjata, dan
jalan masuknya dihalangi oleh kawat berduri lagi, lalu lebih
jauh ke dalam ada lagi pengawal di pintu gerbang.
"Selama perang," Chou Ling berkisah, "semua karyawan
Inggris di pulau ini ditawan di situ."
"Kapan saya bisa ke situ untuk menjumpai Bjork?"
Chou Ling menjawab dengan berhati-hati sekali. "Ini suatu
persoalan yang sangat peka. Pemerintah sangat tegas
489
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenai pemakaian obat-obat terlarang. Para pelanggar
hukum yang melakukan kesalahan itu untuk pertama kalinya
sekalipun, ditangani tanpa ampun. Orang-orang yang
memperjualbelikan obat-obat itu..." Chou Ling mengangkat
bahunya penuh arti. "Singapura dikendalikan oleh beberapa
keluarga yang berkuasa. Keluarga Shaw, C.K. Tang, Tan Chin
Tuan, dan Lee Kuan Yew, perdana menteri. Keluarga-keluarga
itulah yang mengendalikan keuangan dan perdagangan
Singapura. Mereka tak mau obat-obat bius ada di sini."
"Kita tentu punya beberapa teman yang punya pengaruh di
sini."
"Ada seorang inspektur polisi, David Touh — seorang yang
punya rasa pertimbangan."
Jennifer berpikir, berapa nilai 'punya rasa penimbangan' itu,
tapi dia tak bertanya. Masih ada cukup waktu. Dia duduk
bersandar dan melihat-lihat pemandangan. Mereka sedang
melewati daerah pinggiran Singapura, dan kesan yang tak
terhingga besarnya adalah betapa banyaknya tanaman hijau
dan bunga bermekaran di mana-mana. Di kiri-kanan Mac
Pherson Road terdapat kompleks pertokoan yang modern,
yang berdampingan dengan kuil-kuil dan pagoda-pagoda
kuno. Orang-orang yang berjalan di sepanjang jalan pun, ada
yang memakai pakaian kuno dengan serban, ada pula yang
berpakaian bagus dengan gaya Barat mutakhir. Kota itu
kelihatannya merupakan suatu campuran yang beraneka
warna dari kebudayaan kuno dan kota dunia yang modern.
Pusat-pusat pertokoannya kelihatan masih baru dan segalanya
bersih sekali. Jennifer mengungkapkan hal itu.
Chou Ling tersenyum. "Untuk itu ada penjelasannya yang
sederhana. Barang siapa membuang sampah sembarangan,
didenda lima ratus dolar, dan hal itu dilaksanakan dengan
ketat."
Mobil membelok, lalu terus ke Stevens Road, dan di atas
mereka, di sebuah bukit, Jennifer melihat sebuah bangunan
490
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
indah berwarna putih dikelilingi oleh pohon-pohon dan bungabunga.
"Itulah Shangri-La, hotel Anda."
Lobinya besar sekali, putih, dan bersih tanpa cacat, dengan
pilar batu pualam dan kaca di mana-mana.
Sementara Jennifer mencatatkan diri, Chou Ling berkata,
"Inspektur Touh akan menghubungi Anda nanti." Diberikannya
sehelai kartu nama pada Jennifer. "Anda selalu bisa
menghubungi saya di nomor itu."
Seorang pelayan dengan wajah tersenyum mengambil
bagasi Jennifer dan mengantarkannya ke lift melalui sebuah
langkan. Ada sebuah kebun yang besar sekali di bawah air
terjun, ada pula kolam renang. Shangri-La adalah hotel yang
paling mempesona yang pernah dilihat Jennifer. Kamarnya di
lantai dua, terdiri dari sebuah ruang tamu besar dan kamar
tidur, dan sebuah teras dari mana dia bisa melihat suatu
hamparan bunga anthuriums berwarna merah dan putih,
bugenvil ungu dan pohon-pohon kelapa. Serasa berada di
tengah-tengah surga dunia, pikir Jennifer.
Angin sepoi-sepoi bertiup. Hari seperti inilah yang disukai
Joshua. Bisakah kita pergi berenang petang ini, Ma? Hentikan!
Jennifer menegur dirinya sendiri.
Dia berjalan ke arah telepon. "Saya ingin berbicara dengan
Amerika Serikat, New York City. Dengan Tuan Michael
Moretti." Jennifer menyebutkan nomornya.
Operator berkata, "Maaf. Semua sedang bicara. Silakan
mencoba lagi nanti."
"Terima kasih."
Di lantai bawah, operator itu melihat pada seseorang di sisi
papan pusat nomor telepon hotel itu, seolah meminta
pendapatnya.
491
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang itu mengangguk. "Bagus," katanya. "Bagus sekali."
Satu jam setelah Jennifer tiba di hotel itu, datang telepon
dari Inspektur Touh.
"Nona Jennifer Parker?"
"Ya. Saya sendiri."
"Di sini Inspektur David Touh." Suaranya lembut tanpa
logat tertentu.
"Ya, Inspektur. Saya memang sedang menunggu telepon
dari Anda. Saya ingin cepat-cepat mengurus —"
Inspektur itu cepat-cepat menyela, "Bisakah saya mengajak
Anda makan bersama malam ini?"
Suatu peringatan. Mungkin dia takut teleponnya disadap.
"Senang sekali."
The Great Shanghai adalah sebuah restoran yang teramat
besar dan ribut sekali, sebagian besar pengunjungnya adalah
orang-orang setempat yang sedang makan dan bercakapcakap nyaring. Di sebuah pelataran ada sebuah band yang
terdiri dari tiga alat musik, dan seorang gadis cantik yang
mengenakan cheongsam sedang menyanyikan lagu-lagu
Amerika populer.
Petugas penerima tamu berkata pada Jennifer, "Apakah
Anda mau meja untuk satu orang?"
"Saya akan menemui seseorang. Inspektur Touh."
Petugas itu tersenyum lebar. "Pak Inspektur sedang
menunggu Anda. Mari saya antar." Diantarkannya Jennifer ke
sebuah meja di bagian depan ruangan itu, di dekat tempat
band.
Inspektur David Touh adalah seorang laki-laki menarik yang
jangkung, kurus, yang berumur empat puluhan, berair muka
492
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
halus, dan matanya hitam berair-air. Pakaiannya setelan hitam
yang bagus dan hampir resmi.
Dia menarik sebuah kursi untuk Jennifer, lalu duduk
kembali. Band sedang memainkan lagu rock yang
memekakkan.
Inspektur Touh membungkuk ke arah Jennifer, lalu
berkata, "Bolehkah saya memesankan minuman untuk Anda?"
"Silakan. Terima kasih."
"Sebaiknya Anda mencoba cendol."
"Apa itu?"
"Minuman yang dibuat dari santan, gula kelapa, dan agaragar kecil-kecil. Anda pasti menyukainya."
Inspektur mengangkat mukanya, dan seorang pelayan
wanita segera berada di sisinya. Inspektur memesan dua gelas
cendol dan dim sum sebangsa makanan pendahuluan Cina.
"Saya harap Anda tak keberatan kalau saya memesan
makanan untuk Anda?"
"Sama sekali tidak. Saya senang."
"Saya dengar di negeri Anda kaum wanita terbiasa
memegang kendali. Di sini laki-laki yang masih memegang
tugas itu."
Orang ini mengutamakan jenis kelamin, pikir Jennifer, tapi
dia tak ingin bertengkar. Dia membutuhkan orang ini. Karena
ributnya dan suara musik, mereka hampir-hampir tak bisa
bercakap-cakap. Jennifer duduk saja bersandar dan melihat ke
sekelilingnya dalam ruangan itu. Jennifer sudah pernah pergi
ke negeri Timur lainnya, tapi orang-orang di Singapura
menurut dia luar biasa cantiknya, baik perempuan maupun
laki-laki.
493
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pelayan meletakkan minuman di hadapan Jennifer.
Minuman itu seperti coklat bersoda dengan lempenganlempengan kecil yang licin di dalamnya.
Inspektur Touh mengerti air mukanya. "Anda harus
mengaduknya."
"Saya tak dengar."
Laki-laki itu berteriak, "Anda harus mengaduknya!"
Dengan patuh Jennifer mengaduk minuman itu, lalu
dicicipinya.
Rasanya sama sekali tak enak, terlalu manis. Tapi Jennifer
mengangguk dan berkata, "Ra — rasanya lain."
Enam piring ceper dim sum dihidangkan. Di antaranya ada
yang berbentuk aneh yang tak pernah dilihat Jennifer, tapi
Jennifer memutuskan untuk tidak menanyakan namanya.
Makanannya enak.
Dengan berteriak untuk mengatasi hiruk-pikuk di ruangan
itu, Inspektur Touh menjelaskan, "Restoran ini terkenal karena
makanannya yang bergaya Nonya. Yaitu suatu campuran dari
bahan-bahan Cina dan bumbu Melayu. Tak pernah ada
resepnya yang dituliskan."
"Saya ingin membicarakan tentang Stefan Bjork," kata
Jennifer.
"Saya tak bisa mendengar Anda." Suara band memekakkan
telinga.
Jennifer membungkuk mendekatinya. "Saya ingin tahu
kapan saya bisa bertemu dengan Stefan Bjork."
Inspektur Touh mengangkat bahunya dan mengisyaratkan
dengan air mukanya bahwa dia tak bisa mendengarnya.
Jennifer jadi terpikir apakah laki-laki ini memilih meja ini
supaya mereka bisa bercakap-cakap dengan aman, ataukah
dia sengaja memilihnya supaya mereka tak bisa berbicara.
494
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian serangkaian lauk-pauk tak sudah-sudahnya
menyusul dim sum. Makan malam mereka malam itu benarbenar hebat. Satu-satunya yang dianggap Jennifer sebagai
gangguan adalah bahwa satu kali pun dia tak bisa
mengemukakan persoalan Stefan Bjork.
Setelah mereka selesai makan dan keluar, Inspektur Touh
berkata, "Mobil saya ada di sini." Dijentikkannya jarinya, dan
sebuah mobil Mercedes berwarna hitam yang terparkir
bergerak, lalu berhenti di dekat mereka. Inspektur itu
membuka pintu belakang untuk Jennifer. Seorang polisi
bertubuh besar yang berseragam duduk di belakang kemudi.
Ada sesuatu yang tak beres. Bila Inspektur Touh ingin
membicarakan soal-soal rahasia denganku, pikir Jennifer, dia
tentu mengatur supaya kami berduaan saja.
Jennifer masuk ke dalam mobil bagian belakang, dan
inspektur itu lalu duduk di sampingnya. "Ini kunjungan Anda
yang pertama di Singapura, bukan?"
"Ya.".
"Kalau begitu banyak yang harus Anda lihat."
"Saya datang kemari bukan untuk melihat-lihat, Inspektur.
Saya harus pulang secepat mungkin."
Inspektur Touh mendesah. "Kalian yang berdarah Kaukasia
ini selalu terburu-buru. Sudahkah Anda mendengar tentang
Jalan Bugis?"
"Belum."
Jennifer mengubah letak duduknya supaya dia bisa
memperhatikan Inspektur Touh. Laki-laki itu wajahnya sering
berubah-ubah, dan gerak-geriknya penuh arti. Dia kelihatan
ramah dan banyak bicara, namun sepanjang malam itu dia
tidak mengatakan apa-apa yang penting.
Mobil berhenti karena ada jigsaw, yaitu sebangsa becak
yang ditarik oleh manusia. Inspektur Touh memperhatikan
495
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jigsaw yang ditumpangi oleh dua orang wisatawan asing itu
lewat dengan penuh rasa benci.
"Suatu hari kelak kami akan melarang kendaraan itu
berdasarkan hukum."
Satu blok dari Jalan Bugis, Jennifer dan Inspektur Touh
keluar dari mobil.
"Mobil dilarang masuk ke jalan itu," Inspektur menjelaskan.
Laki-laki itu memegang lengan Jennifer, lalu berjalan di
sepanjang trotoar yang ramai itu. Beberapa menit kemudian
orang jadi demikian banyaknya hingga hampir tak bisa
bergerak. Jalan Bugis itu sempit dengan banyaknya warungwarung di kiri-kanannya, tempat menjual buah-buahan, sayur,
ikan, dan daging.
Ada pula restoran alam terbuka dengan kursi-kursi yang
mengelilingi meja-meja kecil. Jennifer berdiri saja menyerapi
pemandangan itu dengan segala bunyinya, baunya, serta
warnanya yang bercampur-baur. Inspektur Touh memegang
lengan Jennifer lagi, lalu menyikut-nyikut membuka jalan
untuk mereka. Mereka tiba ke sebuah restoran yang di
depannya ada tiga buah meja, semuanya ada orangnya.
Inspektur mencekam lengan seorang pelayan laki-laki yang
sedang lewat, dan sebentar kemudian pemilik restoran itu
mendatangi mereka. Inspektur mengatakan sesuatu padanya
dalam bahasa Cina. Pemilik itu mendatangi salah satu meja,
berbicara dengan tamu-tamu itu. Tamu-tamu itu memandang
Inspektur, lalu cepat-cepat bangkit dan pergi. Inspektur dan
Jennifer duduk di meja itu.
"Maukah Anda saya pesankan sesuatu?"
"Tidak, terima kasih." Jennifer melihat ke lautan manusia
yang berdesak-desakan, baik di tepi-tepi sampai ke tengah
jalan. Dalam keadaan lain mungkin dia bisa merasa senang
melihat semua itu. Singapura adalah sebuah kota yang
496
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempesona, sebuah kota yang bisa dinikmati bersama
seorang yang kita cintai.
Inspektur Touh berkata, "Lihat, hari sudah hampir tengah
malam."
Jennifer mengangkat mukanya. Mula-mula dia tak melihat
apa-apa. Lalu dilihatnya bahwa semua pemilik toko, secara
serentak mulai menutup warung-warung mereka. Dalam
waktu sepuluh menit, semua warung sudah ditutup dan
dikunci, dan semua pemiliknya sudah menghilang.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Jennifer.
"Akan Anda lihat."
Terdengar suara dengung dari kumpulan orang banyak di
ujung jalan, dan orang-orang mulai bergerak ke arah trotoar,
hingga dengan demikian tinggallah suatu ruangan kosong di
tengah jalan.
Seorang gadis Cina yang mengenakan gaun malam panjang
yang ketat sedang berjalan di tengah-tengah jalan. Gadis itu
adalah yang tercantik yang pernah dilihat Jennifer. Gadis itu
berjalan dengan anggun dan langkah lambat, sambil sebentarsebentar berhenti untuk menyapa orang yang duduk di
beberapa meja, kemudian berjalan terus lagi.
Waktu gadis itu mendekati meja tempat Jennifer dan
inspektur duduk, Jennifer bisa melihatnya lebih baik dari
dekat, dan dia ternyata lebih cantik lagi. Raut mukanya halus
dan lembut, sedang potongan badannya mempesona. Gaun
sutranya yang putih, dibelah di kedua belah sisi di bawah
hingga kita bisa melihat pahanya yang melengkung lembut,
dan dapat pula melihat payudaranya yang kecil, tapi sempurna
bentuknya.
Waktu Jennifer menoleh akan berbicara dengan inspektur,
muncul pula seorang gadis lain. Yang ini bahkan mungkin
lebih cantik daripada yang pertama. Dua orang lagi berjalan di
497
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belakangnya, dan dalam sekejap Jalan Bugis dipenuhi oleh
gadis-gadis remaja yang cantik-cantik itu. Mereka itu
campuran, ada yang Melayu, India, dan Cina.
"Mereka pasti pelacur," tebak Jennifer.
"Ya, waria."
Jennifer terbelalak memandangnya. Itu tak mungkin.
Dia berpaling dan melihat lagi ke gadis-gadis itu. Dia
sama sekali tak bisa melihat sifat kelaki-lakian barang sedikit
pun pada mereka.
"Anda bercanda."
"Mereka itu disebut Billy Bojs" Jennifer merasa bingung.
"Tapi mereka —"
"Mereka itu semua sudah menjalani operasi. Mereka
menganggap diri mereka wanita." Inspektur itu mengangkat
pundaknya.
"Jadi, yah, mengapa tidak. Mereka tidak mengganggu.
Anda harus tahu," dia menambahkan, “bahwa di sini pelacuran
dilarang. Tapi Billy Boys ini daya tarik yang baik bagi turis dan
selama mereka tidak mengganggu, polisi menutup mata saja."
Jennifer menoleh lagi ke anak-anak remaja yang
berkelainan dijalan itu. Mereka berhenti di beberapa buah
meja dan membuat janji dengan para langganan.
"Mereka hidup lumayan. Mereka menuntut bayaran sampai
dua ratus dolar. Bila mereka sudah terlalu tua untuk bekerja,
mereka menjadi Mama-sans."
Kini kebanyakan gadis itu duduk di meja dengan kaum pria,
menawarkan jasa mereka. Satu demi satu, mereka itu mulai
berdiri dan pergi dengan langganan mereka.
"Dalam semalam, mereka melayani dua sampai tiga
langganan," inspektur menjelaskan. "Mereka mengambil alih
498
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jalan Bugis ini pada tengah malam, dan mereka harus keluar
menjelang jam enam pagi, supaya warung-warung bisa dibuka
lagi untuk dagang. Bila Anda sudah siap, kita bisa pergi."
"Saya sudah siap."
Sedang berjalan itu, mau tak mau bayangan Ken Bailey
terkilas di pikiran Jennifer, dan dia berpikir, Kuharap kau
bahagia.
Dalam perjalanan pulang, Jennifer memutuskan bahwa,
ada sopir atau tidak, dia akan menyebutkan nama Bjork.
Waktu mobil membelok ke Orchard Road, Jennifer berkata
dengan tegas, "Mengenai Stefan Bjork —"
"Oh ya. Sudah saya atur, Anda bisa menemuinya jam
sepuluh besok pagi."
55
Di Washington d.c. Adam Warner yang sedang menghadiri
suatu rapat dipanggil untuk menerima telepon yang mendesak
dari New York.
Jaksa Robert Di Silva yang menelepon. Suaranya bernada
penuh kemenangan. "Juri besar khusus baru saja
mengembalikan tuduhan yang kita minta atas semua penjahat
itu! Kita sudah siap untuk bergerak." Tak ada jawaban.
"Apakah Anda ada di situ, Senator?"
"Masih." Adam memaksakan nada antusias ke dalam
suaranya. "Itu berita besar."
"Kita harus bisa mulai mengepung dalam waktu dua puluh
empat jam. Bila Anda bisa terbang ke New York, saya rasa kita
harus mengadakan rapat terakhir besok pagi dengan semua
badan-badan, supaya kita bisa mengatur langkah-langkah kita.
Bisa Anda usahakan itu, Senator?"
499
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bisa," kata Adam.
"Akan saya atur semua. Jam sepuluh besok pagi."
"Saya akan datang." Adam meletakkan kembali gagang
telepon. Juri besar khusus baru saja mengembalikan tuduhan
yang kita minta atas semua penjahat itu.
Adam mengangkat gagang telepon lagi, lalu mulai memutar
nomor lagi.
56
Ruang pengunjung di Penjara Changi adalah sebuah
ruangan kecil yang kosong, dengan dinding yang dikapur
putih.
Ruang itu hanya berisi sebuah meja panjang dengan kursikursi kayu yang keras, yang ditempatkan di kedua belah
sisinya. Jennifer menunggu sambil duduk di salah sebuah kursi
itu. Dia mengangkat mukanya waktu pintu terbuka, dan Stefan
Bjork masuk digiring oleh seorang pengawal yang berseragam.
Bjork berumur tiga puluhan. Dia seorang laki-laki jangkung
yang berwajah suram dan matanya menonjol. Dia menderita
kelainan kelenjar gondok, pikir Jennifer. Tampak jelas memar
pada dahi dan pipinya. Laki-laki itu duduk di seberang
Jennifer.
"Saya Jennifer Parker, pembela Anda. Saya akan mencoba
mengeluarkan Anda dari sini."
Laki-laki itu memandangnya dan berkata, "Sebaiknya
segera saja".
Kata-kata itu mungkin suatu ancaman, mungkin pula suatu
permohonan. Jennifer ingat kata-kata Michael: Usahakan
supaya dia bisa ditahan di luar dengan jaminan, sebelum dia
membuka mulut.
500
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah mereka memperlakukan Anda dengan baik?"
Laki-laki itu mencuri pandang pada penjaga yang sedang
berdiri di dekat pintu. "Ya, lumayan."
"Saya sudah mengajukan permohonan supaya Anda
ditahan di luar, dengan jaminan."
"Bagaimana kemungkinannya?" Bjork tak bisa
menyembunyikan besarnya harapan dalam suaranya.
"Saya rasa cukup baik. Paling lama dua atau tiga hari lagi."
"Saya harus keluar dari tempat ini."
Jennifer bangkit. "Sampai bertemu tak lama lagi."
"Terima kasih," kata Stefan. Dia mengulurkan tangannya.
"Jangan!" kata penjaga dengan tajam.
Keduanya menoleh pada pengawal itu.
"Tak boleh bersalaman."
Stefan Bjork memandang Jennifer, lalu berkata dengan
serak, "Segeralah."
Waktu Jennifer kembali ke hotelnya, ada pesan tertulis
bahwa Inspektur Touh tadi meneleponnya. Sedang dia
membaca pesan itu, telepon berdering. Inspektur Touh
berbicara.
"Sementara Anda menunggu, Nona Parker, saya pikir
mungkin Anda akan bisa bersenang-senang mengelilingi kota
kami."
Mula-mula Jennifer ingin menolak, tapi dia menyadari
bahwa tak ada satu pun yang bisa dilakukannya sampai dia
berhasil menempatkan Bjork di pesawat terbang untuk keluar
dari tempat ini. Sebelum itu berhasil, dia perlu menjaga
hubungan baik dengan Inspektur Touh.
501
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka Jennifer berkata, "Terima kasih. Saya akan senang
sekali."
Mereka berhenti untuk makan siang di Kampachi, lalu terus
menuju ke pinggiran kota, terus ke utara ke Bukit Timah Road
ke Malaysia, melewati serangkaian desa-desa kecil yang penuh
warna, di mana terdapat berbagai macam warung dan toko
makanan. Penduduknya kelihatannya berpakaian baik, dan
mereka kelihatannya cukup berada. Jennifer dan Inspektur
Touh berhenti di Pemakaman Kranji dan Tugu Pahlawan
Peperangan. Mereka berjalan menaiki tangga dan memasuki
gerbang biru yang terbuka. Di depan gerbang terdapat sebuah
salib besar dari pualam, dan di latar belakang ada sebuah pilar
yang besar sekali. Pekuburan itu merupakan lautan dari salibsalib putih.
"Peperangan buruk sekali akibatnya bagi kami," kata
Inspektur Touh. "Kami semua kehilangan banyak sahabat dan
anggota keluarga."
Jennifer diam saja. Dalam angannya dia melihat sebuah
makam di Sands Point. Tapi dia tak mau membiarkan dirinya
mengingat apa yang terbaring di bawah onggokan tanah yang
kecil itu.
Di Manhattan sedang berlangsung suatu rapat badanbadan penegak hukum di unit intelegen kepolisian di Hudson
Street. Dalam kamar yang penuh itu, terasa suasana
kemenangan. Kebanyakan orang-orang itu dulu mengadakan
penyelidikan dengan sikap sinis, karena mereka sudah sering
mengerjakan pekerjaan semacam itu. Dalam tahun-tahun
yang lalu pun mereka telah berhasil menumpuk bukti-bukti
yang memberatkan penjahat-penjahat, pembunuh-pembunuh,
dan pemeras-pemeras. Tapi dalam perkara kejahatannya,
pengacara-pengacara berbakat yang bayarannya mahal telah
memenangkannya dan berhasil membebaskan penjahatpenjahat yang mereka bela. Kali ini akan lain halnya.
502
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kesaksian dari bekas pembela tetap sindikat, Thomas Colfax,
ada dalam tangan mereka, dan tak seorang pun yang akan
bisa menggoyahkan-nya. Selama lebih dari dua puluh lima
tahun laki-laki itu telah merupakan poros dari sindikat itu. Dia
akan tampil di pengadilan dan akan menyebutkan namanama, tanggal, fakta-fakta, dan angka-angka. Dan kini badan
hukum itu sudah diberi aba-aba untuk bergerak.
Adam-lah yang telah bekerja paling keras dari siapa
punjuga dalam ruangan itu, untuk menjadikan saat itu
tercipta. Peristiwa itu akan merupakan pendorong
kemenangan yang akan membawanya ke Gedung Putih. Kini
setelah saatnya tiba, semuanya hancur. Di hadapan Adam
terdapat daftar nama orang-orang yang akan dituntut oleh juri
besar khusus. Nama yang keempat pada daftar itu adalah
nama Jennifer Parker, sedang tuduhan-tuduhan yang
tercantum di belakang namanya adalah pembunuhan dan
berkomplot untuk menjalankan beberapa kejahatan besar.
Adam Warner melihat ke sekeliling ruangan itu, dan
memaksa dirinya berbicara. "Anda — saya harus
mengucapkan selamat pada Anda semua."
Dia mencoba untuk berbicara lagi, tapi tak ada kata-kata
yang terucapkan. Dia dilanda rasa benci pada dirinya sendiri,
hingga dia merasa tersiksa.
Tepat benar apa yang dikatakan orang Spanyol, pikir
Michael Moretti. Dendam itu umpama makanan yang
sebaiknya dimakan setelah dingin. Satu-satunya alasan
mengapa Jennifer Parker masih hidup sekarang adalah karena
perempuan itu berada di luar jangkauannya. Tapi dia akan
segera kembali. Dan sementara itu, Michael sudah bisa
mengecap apa yang akan terjadi atas diri Jennifer. Gadis itu
telah mengkhianatinya, sebagaimana biasanya perempuan
mengkhianati seorang laki-laki. Atas perbuatannya itu, Michael
503
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan berusaha supaya Jennifer mendapatkan perlakuan
khusus.
Di Singapura, Jennifer mencoba lagi untuk menelepon
Michael.
"Maaf," kata petugas telepon memberitahu, "hubungan ke
Amerika Serikat masih penuh."
"Tolong coba terus, ya?"
"Tentu, Nona Parker."
Petugas itu mendongak melihat ke laki-laki yang mengawal
di samping papan penghubung, dan laki-laki itu memberinya
senyum berkomplot.
Robert Di Silva yang sedang berada di markas besarnya
dalam kota sedang melihat surat perintah penangkapan yang
baru saja disampaikan padanya. Surat perintah itu atas nama
Jennifer Parker.
Akhirnya berhasil juga aku menangkapnya, pikirnya. Dan
dia mengecap rasa puas yang hebat.
Petugas telepon memberitahukan, "Inspektur Touh ada di
lobi. Dia ingin bertemu dengan Anda."
Jennifer merasa heran, karena dia tidak mengharapkannya.
Inspektur itu tentu membawa berita tentang Stefan Bjork.
Jennifer turun ke lobi dengan lift.
"Maafkan saya karena tidak menelepon," kata Inspektur
Touh meminta maaf. "Saya rasa sebaiknya berbicara langsung
saja dengan Anda."
"Apakah Anda membawa berita?"
"Kita bisa berbicara dalam mobil. Saya ingin
memperlihatkan sesuatu pada Anda."
504
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka menjalani Yio Chu Kang Road.
"Apakah ada kesulitan?" tanya Jennifer.
"Sama sekali tak ada. Pembebasan atas jaminan itu akan
diputuskan lusa."
Lalu ke mana laki-laki ini akan membawanya?
Mereka sedang melewati sekelompok gedung-gedung di
Jalan Goatopah Road, dan pengemudi menghentikan mobil.
Inspektur Touh berpaling pada Jennifer. "Saya yakin ini
akan menarik bagi Anda."
"Apa yang menarik?"
"Marilah. Anda akan melihatnya."
Bagian dalam dari gedung itu, tua dan tak terpelihara, tapi
kesan yang paling menonjol adalah baunya, yang memberikan
kesan buas, primitif, dan busuk. Tak pernah Jennifer mencium
bau seperti itu sebelumnya.
Seorang gadis bergegas mendatangi mereka dan berkata,
"Apakah Anda memerlukan penunjuk jalan? Saya —"
Inspektur Touh mengisyaratkan supaya dia pergi. "Kami
tidak memerlukan Anda."
Dipegangnya lengan Jennifer dan mereka lalu berjalan ke
luar, ke pekarangan. Ada enam buah tangki besar yang
ditanamkan dalam tanah, dan dari dalam tangki-tangki itu
terdengar serangkaian bunyi bergeseran yang aneh. Jennifer
dan Inspektur Touh sampai ke tangki yang pertama. Di situ
terdapat tanda pengumuman: Jangan Ulurkan Tangan Anda
Ke Kolam. Berbahaya. Jennifer melihat ke dalam tangki itu.
Tangki itu penuh dengan buaya, besar dan kecil, ada
beberapa puluh ekor, semuanya bergerak terus, bergeseran
timpa-menimpa.
Jennifer merinding. "Apa ini?"
505
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ini sebuah tempat pemeliharaan buaya." Inspektur ikut
melihat ke bawah, ke binatang-binatang melata itu. "Bila
binatang-binatang itu berumur tiga sampai enam tahun,
mereka dikuliti dan kulit itu dijadikan dompet, ikat pinggang,
dan sepatu. Anda lihat bahwa kebanyakan di antaranya
mulutnya terbuka. Begitulah cara mereka bersantai. Justru bila
mulut mereka terkatup, kita harus berhati-hati."
Mereka berjalan terus ke sebuah tangki yang berisi dua
ekor buaya yang besar sekali.
"Yang ini sudah berumur lima belas tahun. Mereka
dipelihara hanya dengan maksud untuk pembiakan."
Jennifer menggigil. "Mereka jelek sekali. Saya tak mengerti
mengapa mereka tahan hidup berdua."
Inspektur Touh berkata, "Mereka tak suka. Sebenarnya
mereka tak sering kawin."
"Mereka pasti dari zaman prasejarah."
"Tepat. Mereka membawa kita kembali ke masa jutaan
tahun yang lalu, dengan cara hidup yang primitif yang sama
seperti di awal zaman."
Jennifer ingin tahu mengapa laki-laki itu membawanya
kemari. Bila Inspektur itu menyangka bahwa dengan melihat
binatang-binatang yang mengerikan itu, Jennifer akan tertarik,
dia keliru. "Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Jennifer.
"Sebentar lagi." Inspektur mengangkat mukanya melihat
gadis yang menemui mereka di dalam tadi. Gadis itu sedang
membawa sebuah nampan ke arah tangki nomor satu.
"Hari ini adalah hari memberi makan," kata Inspektur.
"Perhatikan."
Dia mengajak Jennifer ke tangki pertama itu. "Buaya-buaya
itu diberi makan ikan dan paru-paru babi setiap tiga hari
sekali."
506
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis itu mulai melemparkan makanan ke dalam kandang
buaya itu, dan kandang itu seketika meledak menjadi suatu
kesatuan kegiatan yang kacau-balau. Buaya-buaya itu, besar
dan kecil, menyerang makanan mentah yang berdarahdarah itu, mengoyaknya dengan taring-taringnya yang tajam.
Sedang Jennifer memperhatikan, dua di antara mereka
memperebutkan sepotong daging, dan kedua binatang itu
langsung berhadapan dan saling menyerang, saling menggigit
dan menghantam hingga kandang itu mulai berisi darah. Bola
mata salah satu buaya itu terkorek ke luar, tapi giginya masih
tertancap pada rahang penyerangnya dan dia tak mau
melepaskannya. Waktu darah mulai mengalir lebih banyak
meronai air, buaya-buaya yang lain pun mulai ikut serta.
Mereka menerkam kedua kawan mereka yang sudah luka itu,
mengoyakkan kepalanya sampai dagingnya kelihatan.
Kemudian mereka melahap keduanya hidup-hidup.
Jennifer merasa akan pingsan. "Marilah kita keluar dari
sini."
Inspektur Touh memegang lengan Jennifer. "Sebentar
lagi."
Dia masih terus memperhatikan, dan sebentar kemudian
barulah dituntunnya Jennifer ke luar.
Malam itu, Jennifer bermimpi tentang buaya-buaya yang
saling mencakar dan mengoyakkan sampai sama-sama
hancur. Dua di antaranya tiba-tiba berubah menjadi Michael
dan Adam, dan Jennifer terjaga di tengah-tengah mimpi
buruknya itu, tubuhnya gemetar. Dia tak bisa tidur lagi.
Razia-razia sudah dimulai. Baik petugas-petugas
pertahanan federal, maupun petugas-petugas setempat,
bertindak di beberapa negara bagian dan bahkan di beberapa
negeri asing. Telah diatur supaya razia itu dijalankan secara
serentak.
507
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di Ohio, seorang senator yang sedang berpidato di
hadapan suatu organisasi wanita mengenai kejujuran
pemerintah ditangkap.
Di New Orleans, suatu badan yang menjalankan taruhan
secara tak sah ditutup.
Di Amsterdam, suatu badan yang menyelendupkan berlian
dihentikan.
Seorang manajer bank di Gary, Indiana, ditangkap atas
tuduhan membungakan uang organisasi.
Di Kansas City, sebuah toko besar yang menjual barangbarang bekas kena razia, karena ternyata bahwa barangbarang itu adalah barang-barang curian.
Di Phoenix, Arizona, enam orang detektif dalam kegiatan
kejahatan ditahan.
Di Napoli, sebuah pabrik cocaine dirampas.
Di Detroit, suatu organisasi pencurian mobil yang meluas di
seluruh negara bagian dilumpuhkan.
Karena tak berhasil menelepon Jennifer, Adam Warner
pergi ke kantornya.
Cynthia langsung mengenalinya.
"Maaf, Senator Warner, Nona Parker sedang ke luar
negeri."
"Di mana dia?"
"Di Hotel Shangri-La di Singapura."
Harapan Adam timbul lagi. Dia bisa menelepon Jennifer dan
melarangnya kembali.
Baru saja Jennifer keluar dari kamar mandi, pengurus
rumah tangga hotel masuk.
"Maaf. Jam berapa Anda akan keluar dari hotel hari ini?"
508
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya tidak akan keluar hari ini. Besok saya baru
berangkat."
Pengurus rumah tangga itu tampak keheranan. "Saya
disuruh menyiapkan kamar ini untuk sualu rombongan yang
akan datang larut malam ini."
"Siapa yang menyuruh Anda berbuat begitu?"
"Manajer."
Di lantai bawah, datang telepon dari luar negeri. Yang
bertugas pada papan penghubung telepon adalah orang lain,
dan yang berdiri sampingnya pun orang lain pula.
Petugas berbicara pada alat penerima. "New York City
memanggil Jennifer Parker?"
Petugas itu melihat pada laki-laki yang berdiri di
sampingnya. Laki-laki itu menggeleng.
"Maaf, Nona Parker sudah keluar dari hotel."
Razia masih berlangsung terus. Orang melakukan
penangkapan-penangkapan di Honduras, San Salvador, Turki,
dan Meksiko. Jaringan itu menyapu pedagang-pedagang,
pembunuh-pembunuh, peram-pok-perampok bank, dan orangorang yang membakar dengan sengaja. Di Fort Lauderdale,
Atlantic City, dan Palm Springs telah diambil langkah-langkah
pengamanan.
Dan hal itu berjalan terus.
Di New York, Robert Di Silva mengikuti dengan cermat
semua kegiatan yang sedang dilakukan itu. Jantungnya
berdebar makin kuat bila dia memikirkan tentang jaringan
yang makin mendekati Jennifer Parker dan Michael Moretti itu.
Michael Moretti lolos dari jaringan penangkapan secara
kebetulan sekali. Waktu itu adalah hari peringatan kematian
ayah mertuanya, dan Michael pergi berziarah ke kuburan
orang tua itu bersama Rosa.
509
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lima menit setelah mereka berangkat, satu mobil penuh
agen FBI tiba di rumah Michael dan satu mobil lagi di
kantornya. Waktu mereka mendengar bahwa Michael tak ada
di kedua tempat itu, agen-agen itu menunggu.
Jennifer baru sadar bahwa dia lalai memesan tempat di
pesawat terbang untuk Stefan Bjork kembali ke Amerika
Serikat. Dia menelepon perusahaan Singapore Airlines.
"Di sini Jennifer Parker. Saya sudah terdaftar pada
perusahaan Anda pada Penerbangan One Twelve yang akan
berangkat besok sore ke London. Saya ingin mendaftarkan
satu tempat tambahan."
"Terima kasih. Harap menunggu sebentar." Jennifer
menunggu dan beberapa menit kemudian suara itu terdengar
lagi. "Apakah Anda Nona Parker dengan ejaan P-A-R-K-E-R ?"
"Benar."
"Pendaftaran Anda telah dibatalkan, Nona Parker."
Jennifer terkejut. "Dibatalkan? Oleh siapa?"
"Saya tak tahu. Nama Anda sudah dicoret dari daftar
penumpang kami."
"Pasti ada kekeliruan. Tolong cantumkan lagi nama saya di
daftar Anda."
"Maaf, Nona Parker. Penerbangan One-Twelve sudah
penuh."
Inspektur Touh-lah yang bisa membereskan segala
sesuatunya, pikir Jennifer. Dia tadi sudah menyatakan
kesediaannya untuk diajak makan malam bersama Inspektur
itu. Waktu itu dia akan mendengar apa yang terjadi. Inspektur
menjemputnya awal.
Jennifer menceritakan tentang kekacauan di hotel dan
pendaftaran pesawat terbang.
510
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki itu hanya mengangkat bahunya. "Inilah akibat cara
kerja kami yang sudah sangat terkenal tak efisien itu. Nanti
saya selidiki."
"Bagaimana dengan Stefan Bjork?"
Inspektur Touh mengatakan sesuatu dalam bahasa Cina
kepada sopirnya, dan mobil lalu berputar balik.
"Anda belum melihat Kallang Road. Anda akan suka sekali
melihatnya."
Mobil membelok ke kiri, ke Lavender Street, kemudian
setelah melewati satu blok, membelok ke kanan, ke Kallang
Bharu. Di sana banyak tampak papan-papan iklan besar, tokotoko bunga, dan perusahaan-perusahaan peti mati. Beberapa
blok kemudian, mobil membelok lagi.
"Ke mana kita?"
Inspektur menoleh pada Jennifer dan berkata dengan
tenang, "Kita sekarang berada di Jalan Tanpa Nama."
Jalan mobil mulai diperlambat. Di kedua sisi jalan hanya
ada pengusaha-pengusaha penguburan orang. Toko-toko itu
berderetan: Tan Kee Seng, Clin Noh, Ang Yung Long, Goh
Soon. Di depan mereka tampak orang sedang
menyelenggarakan penguburan. Semua orang yang sedang
berkabung mengenakan pakaian putih dan suatu band yang
terdiri dari tiga alat, dimainkan: sebuah alat tiup besar, sebuah
yang kecil, dan tambur. Jenazah diletakkan di atas sebuah
meja yang dikelilingi rangkaian bunga, sedang sebuah foto
yang besar dipasang pada sebuah kuda-kuda menghadap ke
depan. Orang-orang yang berkabung duduk berkeliling;
mereka itu makan.
567
Jennifer menoleh pada Inspektur. "Apa ini?"
511
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Inilah rumah-rumah kematian. Penduduk asli di sini
menyebutnya rumah mati. Mereka sulit mengucapkan kata
kematian. Inspektur memandang Jennifer dan berkata, "Tapi
kematian memang merupakan bagian dari kehidupan, bukan?"
Jennifer melihat betapa dingin mata inspektur itu, dan dia
tiba-tiba merasa takut.
Mereka pergi ke Restoran Golden Phoenix, dan setelah
mereka duduk, barulah Jennifer berkesempatan untuk
bertanya.
"Inspektur Touh, apakah Anda punya alasan tertentu
mengapa Anda membawa saya ke tempat pemeliharaan
buaya, dan ke rumah-rumah kematian tadi itu?"
Inspektur itu memandangnya dan berkata dengan datar,
"Tentu. Saya pikir tempat-tempat itu menarik perhatian Anda.
Terutama karena Anda datang kemari untuk membebaskan
klien Anda, Tuan Bjork. Kebanyakan bangsa kami yang mudamuda mati karena obat bius yang dimasukkan ke negeri kami
ini, Nona Parker. Sebenarnya saya bisa membawa Anda ke
rumah sakit di mana kami mencoba menyembuhkannya, tapi
saya rasa akan lebih mengesankan, bila Anda melihat di mana
mereka akan berakhir."
"Tapi semuanya itu tak ada hubungannya dengan saya."
"Itu hanya soal pendapat." Sirna sudah semua keramahan
dari suaranya.
Jennifer berkata, "Inspektur Touh, saya rasa Anda dibayar
mahal untuk —"
"Tidak akan cukup uang di dunia ini bagi siapa pun juga
untuk membayar saya."
Dia bangkit lalu mengangguk pada seseorang, dan Jennifer
menoleh. Dua orang laki-laki yang mengenakan setelan abuabu mendekati meja mereka.
512
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nona Jennifer Parker?"
"Ya."
Tak perlu lagi mereka mengeluarkan surat-surat tanda
pengenal mereka sebagai petugas FBI. Jennifer sudah tahu
sebelum mereka berbicara. "FBI. Kami ada surat-surat
ekstradisi dan surat perintah untuk menangkap Anda. Kami
akan membawa Anda kembali ke New York naik pesawat
terbang tengah malam."
57
Waktu Michael Moretti meninggalkan makam ayah
mertuanya, dia sudah terlambat untuk pergi memenuhi suatu
janji. Dia memutuskan untuk menelepon kantornya dan
membatalkannya. Dia berhenti di sebuah tempat telepon
umum di tepi jalan raya dan memutar nomor kantornya.
Telepon berbunyi dan suatu suara menjawab, "Bangunan
Acme."
Michael berkata, "Di sini Mike. Katakan —"
"Tuan Moretti tak ada. Telepon saja nanti."
Michael merasa tubuhnya menegang. Dia hanya berkata.
"Restoran Tony."
Dia mengembalikan gagang telepon, lalu bergegas kembali
ke mobil. Rosa melihat wajahnya dan berkata, "Adakah
sesuatu yang tak beres, Mike?"
"Entahlah. Kau akan kuantar ke rumah saudara sepupumu.
Tinggal di sana sampai kau mendengar berita dari aku."
*
Tony mengikuti Michael masuk ke kantornya di belakang
restoran.
513
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kudengar rumahmu dan kantor di pusat kota penuh
dengan polisi, Mike."
"Terima kasih," kata Michael. "Aku tak mau diganggu."
"Tidak akan."
Michael menunggu sampai Tony keluar dari kamar itu dan
menutup pintunya. Lalu dia mengangkat gagang telepon dan
memutar-mutar piring-piringannya dengan marah.
Kurang dari dua puluh menit kemudian Michael Moretti
sudah tahu bahwa dia sedang menghadapi suatu bencana
besar. Menerima laporan-laporan tentang razia-razia dan
penangkapan-penangkapan itu, Michael merasa tak dapat
percaya. Semua anak buahnya, dari yang tak penting sampai
yang penting, ditangkap. Rumah-rumah minum kena razia,
operasi-operasi perjudian dibekukan, arsip dan catatan rahasia
disita. Semua kejadian itu seperti mimpi buruk saja. Polisi
pasti sudah menerima informasi dari seorang anggota
organisasi.
Michael menelepon keluarga-keluarga lain di seluruh
negara, dan mereka semua ingin tahu apa yang terjadi.
Mereka sedang dihantam habis-habisan dan tak seorang pun
tahu dari mana sumber kebocorannya. Mereka semua curiga
bahwa itu berasal dari keluarga Moretti.
Jimmy Guarrhno, di Las Vegas, memberi ultimatum pada
Michael. "Aku menelepon ini atas nama badan komisi, Mike."
Badan Komisi Nasional adalah kekuasan tertinggi yang
mengambil alih kekuasaan keluarga perorangan bila ada
kesulitan. "Polisi sedang menggerebek semua keluarga. Pasti
ada seseorang yang penting yang telah membuka mulut. Kami
dengar dia adalah salah seorang anak buahmu. Kami beri kau
waktu dua puluh empat jam untuk mendapatkan dan
menghabisinya."
Di masa-masa yang lalu, razia polisi selalu hanya
menangkap cabang-cabang yang kecil saja, yang tak ada
514
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
artinya. Inilah pertama kalinya orang penting diciduk juga.
Seseorang yang penting yang telah membuka mulut. Kami
dengar dia adalah salah seorang anak buahmu.
Mereka pasti benar. Keluarga Moretti selalu yang paling
sulit terpukul dan sekarang polisi mencarinya. Pasti ada
seseorang yang memberinya informasi yang meyakinkan,
karena kalau tidak, polisi tidak akan mengadakan
penggerebekan sebesar ini. Tapi siapa orang itu? Michael
bersandar dan berpikir.
Siapa pun yang memberi tahu penguasa-penguasa itu,
pasti mengetahui soal-soal di dalam yang hanya diketahui
olehnya sendiri dan dua kaki tangannya yang terpenting, yaitu
Salvatore Fiore dan Joseph Colella. Hanya mereka bertigalah
yang tahu di mana arsip-arsip disembunyikan. Satu-satunya
orang lain yang juga tahu adalah Thomas Colfax, tapi Colfax
sudah terkubur di bawah tumpukan sampah di New Jersey.
Michael duduk memikirkan Salvatore Fiore dan Joseph
Colella. Rasanya tak bisa dipercaya bahwa salah seorang di
antara mereka itu telah melanggar sumpah omerta dan
membuka rahasia. Sejak awal mereka itu sudah ikut dia; dia
sendirilah yang telah memilih mereka. Dia telah
memperbolehkan mereka menjalankan operasi pembungaan
uang untuk kepentingan mereka sendiri, juga usaha
pelacuran. Mengapa mereka mau mengkhianatinya? Jawabnya
tentu sederhana: kursi yang sedang didudukinya sekarang ini.
Mereka menginginkan kursinya ini. Segera setelah dia keluar,
mereka akan masuk dan mengambil alih. Mereka itu
merupakan suatu tim; mereka pasti bekerja sama.
Kemarahan Moretti disusul niat untuk membunuh. Keparatkeparat goblok itu mencoba menyikutnya, tapi mereka tidak
akan hidup untuk menikmatinya. Pertama-tama dia harus
mengatur dulu supaya anak buahnya yang tertangkap
dilepaskan dengan jaminan. Dia membutuhkan seorang
pengacara yang bisa dipercayainya — Colfax sudah mati, dan
515
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer — Jennifer! Michael merasakan lagi kedinginan yang
menyelubungi hatinya. Masih terngiang-ngiang di telinganya
ucapannya sendiri. Kembalilah secepat mungkin. Aku akan
merindukanmu. Aku cinta padamu, Jennifer. Dia telah
mengucapkan kata-kata itu, padahal Jennifer telah
mengkhianatinya. Dia harus dihukum.
Michael menelepon dan menunggu lagi, dan lima belas
menit kemudian Nick Vito bergegas masuk ke kantornya.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Michael.
"Polisi masih berkeliaran di mana-mana, Mike. Aku
berputar-putar saja dengan mobilku beberapa kali. Tapi aku
bertindak sesuai dengan perintahmu. Aku tetap menghindar."
"Ada tugas untukmu, Nick."
"Siap, bos. Apa yang harus kulakukan?"
"Bereskan Salvatore dan Joe."
Nick Vito terbelalak memandangnya. "A — aku tak
mengerti. Waktu kaukatakan, bereskan mereka, maksudmu
kan bukan —"
Michael berteriak, "Maksudku pecahkan kepala mereka
sampai otaknya keluar! Apakah perlu digambarkan?"
"Ti — tidak," kata Nick Vito tergagap. "Aku hanya — Sal
dan Joe adalah kaki tanganmu yang top"
Michael bangkit, matanya mendelik berbahaya. "Kau mau
mengajari aku bagaimana mengurus persoalanku, Nick?"
"Tidak, Mike. Aku — ya tentu. Mereka akan kubereskan.
Kapan?"
"Sekarang. Langsung. Aku tak mau mereka sempat melihat
bulan nanti malam. Mengerti?"
"Ya. Aku mengerti."
516
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tangan Michael terkepal erat. "Kalau aku sempat, aku
sendiri yang akan mengurus mereka. Aku ingin supaya mereka
menderita, Nick. Buat supaya mereka menderita perlahanlahan, dengar? Perlahan-lahan sekali."
"Baik. Baiklah."
Pintu terbuka dan Tony masuk bergegas, wajahnya kelabu.
"Ada dua orang petugas FBI di luar, dengan surat perintah
untuk menangkapmu. Demi Tuhan, aku tak tahu bagaimana
mereka sampai tahu bahwa kau ada di sini. Mereka —"
Michael Moretti berpaling pada Nick Vito dan membentak.
"Keluar lewat jalan belakang. Jalan!" Dia menoleh pada Tony.
"Katakan pada mereka aku sedang di wc. Sebentar lagi aku
menemui mereka."
Michael mengangkat gagang telepon lalu memutar suatu
nomor. Sebentar kemudian dia berbicara dengan seorang
hakim dari mahkamah agung di New York.
"Ada dua orang petugas di rumahku membawa surat
perintah untuk menangkap aku."
"Atas dasar tuduhan apa, Mike?"
"Entahlah, dan aku tak peduli. Kau kutelepon untuk
menyelesaikan persoalannya nanti supaya aku bisa dibebaskan
dengan jaminan. Aku tak bisa diam-diam dalam kurungan. Aku
banyak urusan."
Sunyi sebentar, lalu hakim itu berkata dengan berhati-hati,
"Maaf, Mike, aku tak bisa membantumu kali ini. Penangkapanpenangkapan sedang dilakukan di mana-mana, bila aku mau
mencampuri —"
Michael Moretti berbicara dengan nada yang mengerikan.
"Dengarkan, Keparat, dengarkan baik-baik. Bila aku sampai
satu jam saja berada dalam penjara, aku akan berusaha
supaya kau juga berada di balik terali penjara selama sisa
hidupmu. Aku sudah mengurusmu dengan baik begitu lama.
517
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Apakah kau mau aku menceritakan pada jaksa, berapa
perkara yang kauselesaikan untukku? Apa kau mau aku
memberitahu panitia penyelidik kejahatan, berapa jumlah
simpananmu di Swis? Apakah kau mau —"
"Demi Tuhan, Michael!"
"Kalau begitu lakukan!"
"Akan kuusahakan," kata Hakim Lawrence Waldman. "Akan
kucoba —"
"Coba, Keparat! Lakukan! Kaudengar itu, Larry? Kerjakan!"
Michael membanting gagang telepon.
Otaknya sedang bekerja dengan cepat dan dingin. Dia tak
kuatir akan dimasukkan ke penjara. Dia tahu bahwa Hakim
Waldman akan menjalankan perintahnya, dan dia bisa percaya
pada Nick Vito untuk membereskan Fiore dan Colella. Tanpa
kesaksian mereka, pemerintah tidak akan bisa membuktikan
apa-apa untuk menjatuhinya hukuman.
Michael melihat ke cermin kecil di dinding, menyisir
rambutnya, memperbaiki letak dasinya, lalu keluar menemui
kedua petugas FBI itu.
Hakim Lawrence telah berhasil. Michael sudah tahu itu.
Pada sidang pendahuluan, seorang pembela yang dipilih oleh
Hakim Waldman memohon pembebasan dengan jaminan, dan
jumlahnya diputuskan lima ratus ribu dolar.
Di Silva marah dan frustasi waktu Michael Moretti keluar
dari ruang sidang.
58
Nick vito adalah laki-laki yang kecerdasannya terbatas.
Caranya mengabdi pada organisasi adalah dengan
menjalankan semua perintah tanpa bertanya dan
melaksanakannya dengan efisien. Nick Vito sudah sering
518
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berhadapan dengan pistol dan pisau, tapi dia tak pernah
mengenal takut. Namun kini dia takut. Sesuatu yang tak dapat
ditangkapnya dengan daya pikirnya telah terjadi, dan dia
merasa bahwa bagaimanapun juga, dia ikut bertanggung
jawab atas kejadian itu.
Sepanjang hari dia mendengar tentang razia-razia yang
sedang berjalan, penangkapan-penangkapan yang sedang
dilakukan. Didesas-desuskan bahwa ada seorang pengkhianat,
seorang yang berkedudukan tinggi dalam organisasi. Dengan
daya pikirnya yang terbatas itu sekalipun, Nick Vito bisa
menghubungkan kenyataan bahwa dia telah membiarkan
Thomas Colfax hidup, dan bahwa tak lama setelah itu
terdengar berita adanya seseorang yang mengkhianati
keluarga pada pejabat-pejabat pemerintah. Nick Vito yakin
bahwa itu tak mungkin Salvatore Fiore dan Joseph Colella.
Kedua mereka itu sudah seperti saudaranya sendiri, dan
keduanya sama fanatik kesetiaannya dengan dia sendiri, pada
Michael Moretti. Tapi dia tidak akan bisa menjelaskan itu pada
Michael kalau dia tak ingin dicincang halus, karena yang
mungkin berkhianat adalah Thomas Colfax, padahal Colfax
disangka sudah mati.
Nick Vito bingung apa yang harus diperbuatnya. Dia sayang
pada si Kembang Kecil dan si Raksasa. Fiore dan Colella sudah
banyak sekali menolongnya di masa lalu, seperti juga Thomas
Colfax. Tapi dia telah meloloskan Thomas Colfax, dan
sekarang lihat apa yang terjadi. Maka Nick Vito memutuskan
bahwa dia tidak akan bermurah hati lagi. Kini nyawanya
sendiri yang harus dilindunginya. Bila Fiore dan Collela sudah
dibunuhnya, selamatlah dia. Tapi karena mereka itu seperti
saudara-saudaranya sendiri, dia akan berusaha supaya
mereka mati cepat.
Nick Vito mudah saja menentukan di mana mereka berada,
karena mereka harus selalu siap siaga kapan pun Michael
memerlukan mereka. Si Kecil Salvatore Fiore sedang
519
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengunjungi kekasih simpanannya di apartemen perempuan
itu di 83rd Street dekat Museum Sejarah Alam. Nick tahu
bahwa sahabatnya itu selalu pulang dari sana pukul lima untuk
kembali ke rumah istrinya. Sekarang pukul tiga. Nick
menimbang-nimbang. Dia bisa menunggu di depan gedung
apartemen itu atau bisa juga langsung naik dan masuk ke
apartemen itu. Dia merasa terlalu gugup untuk menunggu. Dia
merasa muak dengan semua peristiwa ini. Bila ini semua
sudah berlalu, pikirnya aku akan minta libur dari Michael.
Mungkin akan kubawa beberapa orang gadis pergi ke Bahama.
Baru memikirkannya saja, dia telah merasa lebih baik.
Nick Vito memarkir mobilnya di sudut jalan dekat
apartemen itu, lalu berjalan kaki ke gedung itu. Dengan
menggunakan sepotong celluloid, dia membuka pintu depan,
lalu masuk. Dia tidak menggunakan lift melainkan naik tangga
ke lantai tiga. Dia berjalan ke arah pintu yang di ujung gang,
dan setiba di situ pintu itu digedornya.
"Buka pintu! Polisi!"
Didengarnya langkah-langkah cepat di balik pintu, dan
beberapa saat kemudian pintu terbuka sebatas rantai
pengaman yang besar. Di balik pintu dilihatnya tubuh Marina,
kekasih Salvatore Fiore, yang tanpa busana.
"Nick!" seru perempuan itu. "Gila kau. Kau menakuti aku
setengah mati."
Ditanggalkannya rantai pengaman pada pintu, lalu
dibukanya, "Sal, si Nick!"
Si Kecil Salvatore Fiore keluar dari kamar tidur, juga tanpa
busana, "Hei, Nicky! Mengapa kau kemari?"
"Sal, ada pesan dari Mike."
Nick Vito mengacungkan sebuah pistol kaliber 22 yang
memakai alat peredam suara dan menekan pelatuknya. Jarum
penembaknya menghantam ke petrum, dan pelurunya
520
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terdorong ke luar dari moncongnya dengan kecepatan tiga
ribu meter sedetik. Peluru yang pertama menghancurkan
batang hidung Salvatore Fiore. Peluru yang kedua
mengeluarkan mata kirinya. Waktu Marina membuka mulutnya
akan berteriak, Nick Vito berbalik dan mengirim sebuah peluru
ke kepalanya. Waktu perempuan itu roboh ke lantai, Nick
menembakkan sebuah peluru lagi ke dadanya, untuk
meyakinkan. Sayang, perempuan ini terbuang-buang, pikir
Nick, tapi Mike tentu tak suka kalau kubiarkan seorang saksi
hidup, barang seorang saja.
Si Besar Joseph Colella memiliki seekor kuda yang sedang
turut dalam pacuan kuda yang kedelapan di Belmont Park di
Long Island. Belmont adalah sebuah tempat pacuan yang
panjangnya satu setengah mil, suatu ukuran panjang yang
tepat benar untuk kuda yang sedang diikut-sertakan si
Raksasa itu. Dia telah menganjurkan pada Nick untuk bertaruh
atas kuda itu. Di masa lalu, Nick telah banyak menang taruhan
berkat petunjuk dari Colella. Colella selalu mempertaruhkan
uang sedikit atas nama Nick, bila kudanya ikut pacuan.
Sedang Nick berjalan ke tempat duduk Colella, dia merasa
menyesal bahwa di masa yang akan datang tidak akan ada
lagi yang memberinya petunjuk. Pacuan yang kedelapan baru
saja dimulai. Colella sedang berdiri di tempat duduknya,
menyoraki kudanya. PacuaTi itu adalah pacuan dengan
taruhan besar, dan orang-orang berteriak-teriak dan bersoraksorak sedang kudanya mengitari putaran yang pertama.
Nick Vito masuk dari belakang ke tempat khusus Colella,
dan bertanya, "Bagaimana keadaannya, Sobat?"
"Hei, Nick, kaudatang tepat pada waktunya. Si Beauty
Queen akan memenangkan pacuan ini. Aku sudah
menaruhkan uang untukmu."
"Bagus, Joe."
Nick Vito menekan pelatuk pistolnya yang berkaliber 22 ke
tulang punggung Joseph Colella, lalu menembakkannya tiga
521
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kali menembusi jasnya. Bunyi yang teredam tak terdengar
berkat sorak-sorai orang banyak. Nick melihat Joseph Colella
roboh ke tanah. Dipertimbangkannya apakah akan diambilnya
kartu taruhan yang ada dalam saku Colella. Tapi dia
mengurungkan niatnya itu. Kuda itu bisa saja kalah.
Nick Vito berbalik, lalu berjalan tanpa tergesa ke jalan
keluar, seorang manusia yang tak dikenal dalam kumpulan
orang banyak.
Telepon pribadi Michael Moretti berdering. "Tuan Moretti?"
"Siapa yang mau bicara dengan dia?"
"Di sini Kapten Tanner."
Michael berpikir sebentar mengingat-ingat nama itu.
Seorang kapten polisi. Di wilayah Queens. Salah seorang
bayaran mereka.
"Di sini Moretti."
"Saya baru saja mendapatkan informasi yang saya rasa
akan menarik bagi Anda."
"Dari mana kau menelepon?"
"Dari telepon umum."
"Ceritakan."
"Saya sudah tahu sumber segala kekacauan ini."
"Kau terlambat. Mereka sudah dibereskan."
"Mereka? Oh, yang saya dengar hanya Thomas Colfax."
"Kau tak tahu apa yang kaukatakan itu. Colfax sudah mati."
Kini giliran Kapten Tanner yang kebingungan. "Apa kata
Anda? Thomas Colfax sedang duduk di Markas Besar Marinir di
Quantico saat ini, sedang membukakan semua rahasia pada
siapa saja yang mau mendengarnya."
522
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau gila!" bentak Michael. "Aku tahu betul—" Dia terdiam.
Tentang apa dia tahu betul? Dia memang sudah menyuruh
Nick Vito untuk membunuh Thomas Colfax, dan Vito
mengatakan bahwa hal itu sudah dilaksanakannya. Michael
lalu berpikir. "Yakin benarkah kau, Tanner?"
"Tuan Moretti. Apakah saya mau menelepon kalau saya tak
yakin?"
"Akan kuselidiki. Kalau kau benar, aku akan ingat padamu."
"Terima kasih, Tuan Moretti."
Kapten Tanner meletakkan gagang telepon dengan rasa
puas pada dirinya sendiri. Dari pengalaman masa lampau dia
tahu bahwa Michael Moretti adalah orang yang tahu membalas
budi. Inilah kesempatan yang besar itu, kesempatan yang
memungkinkannya untuk pensiun. Dia melangkah ke luar dari
tempat telepon umum itu, menempuh udara dingin dalam
bulan Oktober.
Ada dua orang berdiri di tempat telepon itu, dan waktu
kapten itu akan melewati mereka, salah seorang di antaranya
menghadangnya. Dia memperlihatkan kartu tanda
pengenalnya.
"Kapten Tanner? Saya Letnan West dari Dinas Keamanan
Dalam Negeri. Komisaris polisi ingin berbicara dengan Anda."
Michael Moretti menggantungkan gagang telepon perlahanlahan. Naluri hewaninya meyakinkannya bahwa Nick Vito telah
membohonginya. Thomas Colfax masih hidup. Itulah
penyebab dari semua yang sedang terjadi sekarang. Dialah
rupanya yang telah menjadi pengkhianat. Padahal Michael
telah menyuruh Nick Vito untuk membunuh Salvatore Fiore
dan Joseph Colella. Tuhan, bodoh benar dia! Dia telah ditipu
oleh seorang penembak bayaran, sampai harus membunuh
dua orang anak buahnya yang paling utama! Bukan main
geramnya dia.
523
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia memutar sebuah nomor lalu berbicara singkat di
telepon itu. Setelah menelepon untuk kedua kalinya, dia
duduk menunggu.
Waktu didengarnya Nick Vito berbicara di telepon, Michael
memaksa dirinya supaya kemarahannya tidak terdengar dalam
suaranya,
"Bagaimana jalannya?"
"Beres, Bos. Tepat seperti yang kauperintahkan. Mereka
menderita perlahan-lahan."
"Bukankah aku bisa mengandalkan kau, Nick?"
"Tentu bisa. Kau kan tahu, Bos."
"Nick, kuminta kau membantuku untuk yang terakhir
kalinya. Salah seorang anak buah meninggalkan sebuah mobil
di sudut antara York dan 95th Street. Mobil itu mobil Camaro
berwarna coklat. Kuncinya ada di belakang klep pelindung
matahari. "Kita akan menggunakannya untuk suatu pekerjaan
malam ini. Tolong bawa kemari, ya?"
"Baik, Bos. Kapan kaubutuhkan? Aku baru saja akan —"
"Aku perlu sekarang. Langsung, Nick."
"Aku segera datang."
"Bye, Nick."
Michael mengembalikan gagang telepon. Ingin dia berada
di sana menyaksikan Nick Vito meledakkan dirinya bersama
mobil itu. Tapi ada satu hal mendesak yang harus
dilakukannya.
Jennifer Parker segera akan dalam perjalanannya pulang,
dan dia ingin menyiapkan segala-galanya untuknya.
59
524
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rasanya seperti suatu produksi film Holywood saja, pikir
Mayor Jenderal Roy Wallace, dengan tahananku sebagai
bintangnya.
Ruang pertemuan yang besar, di markas besar Korps
Marinir Amerika Serikat, penuh dengan ahli-ahli teknik dari
Korps Sandi, berkeliaran kian-kemari memasang kamera dan
peralatan suara serta lampu-lampu, sambil berbicara dengan
bahasa khususnya sendiri.
Mereka sedang bersiap-siap untuk mem-filmkan kesaksian
Thomas Colfax.
"Itu merupakan jaminan keamanan ekstra," kata Jaksa Di
Silva berkeras. "Kita tahu bahwa tak seorang pun bisa
mendekatinya, tapi akan lebih aman bila direkam." Dan yang
lain-lain pun setuju.
Satu-satunya orang yang tak hadir di situ adalah Thomas
Colfax. Dia akan dibawa masuk pada saat terakhir, bila segalagalanya sudah siap.
Benar-benar seperti bintang film.
Thomas Colfax sedang mengadakan pertemuan dalam
selnya dengan David Terry dari Departemen Kehakiman yang
bertugas menciptakan tanda-tanda bukti diri baru bagi orangorang yang ingin menghilang.
"Coba saya jelaskan sedikit dulu mengenai acara
pengamanan saksi oleh Pemerintah Federal," kata Terry. "Bila
sidang sudah selesai, kami akan mengirim Anda ke negara
mana pun juga yang Anda pilih. Perabot rumah tangga dan
semua milik Anda yang lain akan dikirim dengan kapal oleh
suatu perusahaan ekspedisi di Washington, dengan nomor
kode. Nomor itu nanti akan kami serahkan pada Anda. Tidak
akan ada jalan lain bagi siapa pun juga untuk menelusuri
Anda. Kami akan memberi Anda tanda bukti diri dan latar
belakang baru, dan bila Anda suka, bahkan juga wajah baru."
525
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya akan mengurus itu sendiri." Tak seorang pun
dipercayainya untuk mengetahui apa yang akan dilakukannya
dengan wajahnya.
"Biasanya, bila kami memberi tanda bukti diri baru kepada
seseorang, kami juga mencarikannya pekerjaan di bidang apa
pun yang cocok baginya, dan kami memberinya uang.
Mengenai diri Anda, Tuan Colfax, saya dengar bahwa
keuangan bukan masalah."
Thomas Colfax ingin tahu apa yang akan dikatakan David
Terry, kalau dia tahu berapa banyak uangnya yang sudah
diamankannya di bank-bank di Jerman, Swis, dan Hongkong.
Dia sendiri pun sudah tak tahu lagi, tapi menurut perkiraan
kasarnya, sembilan atau sepuluh juta dolar.
"Ya," kata Colfax, "saya rasa soal uang memang bukan
masalah."
"Baiklah kalau begitu. Yang pertama-tama yang harus
ditentukan adalah ke mana Anda ingin pergi. Adakah tempat
tertentu dalam pikiran Anda?"
Pertanyaannya sederhana sekali, namun besar sekali
artinya di balik itu. Yang sebenarnya akan dikatakan orang itu
adalah, Di mana kau akan menghabiskan sisa hidupmu?
Karena Colfax tahu bahwa, begitu dia tiba di suatu tempat
mana pun yang diingininya, dia tidak akan meninggalkannya
lagi. Tempat itu akan merupakan tempat tinggal abadinya,
tempatnya berlindung, dan dia tidak aman di bagian mana
pun dari dunia ini.
"Brasilia."
Itu merupakan tempat yang paling masuk akal. Di sana dia
sudah memiliki sebidang perkebunan seluas dua ratus ribu
are, atas nama suatu perusahaan Panama, hingga tidak akan
bisa ditelusuri sampai pada dirinya. Perkebunan itu sendiri
sudah merupakan sebuah benteng. Dia akan mampu
membayar orang-orang untuk melindunginya, hingga
526
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalaupun Michael Moretti akhirnya tahu di mana dia berada,
tak seorang pun bisa mendekatinya. Dia akan bisa membeli
apa saja, termasuk semua perempuan yang diingininya.
Thomas Colfax suka wanita Amerika Selatan. Orang
menyangka bahwa bila laki-laki mencapai umur enam puluh
lima tahun, kekuatan seksnya akan hilang, bahwa dia tidak
punya hasrat lagi, tapi Colfax mengalami bahwa semakin dia
tua, makin besar pula seleranya pada wanita. Dia bahkan suka
sekali kalau bisa mengajak tidur dua atau tiga perempuan
muda sekaligus, yang semuanya melayaninya. Makin muda
makin baik.
"Brasilia akan mudah mengurusnya," kata David Terry.
"Pemerintah kita akan membelikan Anda sebuah rumah kecil
di sana, dan —"
"Itu tak perlu." Colfax hampir saja tertawa terbahak
membayangkan dirinya harus tinggal di sebuah rumah yang
kecil. "Yang saya minta dari Anda hanya memberi saya tanda
bukti diri baru dan perjalanan dengan selamat. Yang lain
semua saya urus sendiri."
"Semau Andalah, Tuan Colfax." David Terry bangkit. "Saya
rasa semuanya sudah kita bicarakan." Dia tersenyum
meyakinkan. "Urusan ini akan mudah sekali. Saya akan segera
mulai mengatur langkah-langkah. Segera setelah Anda selesai
memberikan kesaksian, Anda akan sudah berada dalam
pesawat yang menuju ke Amerika Selatan.'"
"Terima kasih." Thomas Colfax memperhatikan tamunya
pulang, dan dia senang sekali. Dia telah berhasil! Michael
Moretti telah membuat kesalahan karena telah
menganggapnya remeh, dan itu akan merupakan kesalahan
Moretti yang terakhir. Colfax akan menguburkannya demikian
dalam hingga dia tidak akan bisa bangun lagi.
Dan kesaksian yang diberikannya akan difilmkan. Itu akan
menarik. Dia ingin tahu apa dia akan diberi make-up. Dia
melihat dirinya di cermin. Tidak buruk, pikirnya, untuk laki-laki
527
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seumurku. Aku masih tampan. Gadis-gadis Amerika Selatan
lebih suka pria yang agak tua yang sudah beruban.
Dia mendengar pintu sel terbuka, dan dia menoleh.
Seorang sersan marinir membawakan makanan Colfax. Masih
banyak waktunya untuk makan sebelum pembuatan film
dimulai.
Pada hari pertama, Thomas Colfax mengeluh tentang
makanan yang disuguhkan padanya, dan sejak saat itu
Jenderal Wallace mengatur supaya semua makanan Colfax
dipesan. Selama Colfax ditahan di benteng itu, usulnya yang
sekecil-kecilnya pun dianggap perintah. Mereka ingin
melakukan segala sesuatu untuk menyenangkannya, dan
Colfax memanfaatkannya sepenuhnya. Dimintanya perabot
rumah tangga, sebuah pesawat tv, dan setiap hari dia diberi
surat kabar dan majalah terbaru.
Sersan itu meletakkan makanan ke atas meja yang sudah
disiapkan untuk dua orang, dan seperti setiap hari, dia pun
berkata,
"Kelihatannya enak, Tuan."
Colfax tersenyum dengan sopan lalu duduk. Panggang
daging sapi yang setengah matang, yang disukainya, kentang
yang dihancurkan, dan puding Yorkshire. Dia menunggu
sampai marinir itu menarik kursi dan duduk di seberangnya.
Sersan itu mengambil pisau dan garpu, memotong daging
sedikit dan memakannya. Satu lagi gagasan Jenderal Wallace.
Harus ada pencicip khusus untuk makanan Colfax. Seperti
raja-raja zaman dahulu saja, pikirnya. Diperhatikannya marinir
itu mencoba daging panggang, kentang, dan puding
Yorkshire.
"Bagaimana rasanya?"
"Terus terang saya lebih suka daging yang matang."
528
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Colfax mengambil pisau dan garpunya sendiri, dan mulai
makan. Sersan itu keliru. Daging itu tepat benar masaknya,
kentangnya cukup berlemak dan panas, dan puding Yorkshirenya enak.
Colfax mengambil lalap dan menaruhnya di atas dagingnya.
Pada gigitan kedua Colfax menyadari bahwa ada sesuatu yang
sama sekali tak beres. Mulutnya terasa terbakar dan rasa itu
menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa terbakar.
Kerongkongannya tercekik, kejang, dan dia mulai sulit mencari
udara. Sersan marinir yang duduk di seberangnya
memandangnya dengan terbelalak. Thomas Colfax
mencengkam lehernya, dan mencoba mengatakan pada
sersan itu apa yang terjadi, tapi tak sepatah kata pun
terucapkan. Api dalam tubuhnya serasa menjalar dengan lebih
cepat, dan dia amat tersiksa. Tubuhnya menjadi kaku dan
kejang, lalu terbalik ke belakang, ke lantai.
Sersan itu memperhatikannya sebentar, lalu membungkuk
ke tubuh itu dan membalik kelopak mata Thomas Colfax untuk
meyakinkan bahwa dia sudah meninggal.
Kemudian dia pergi meminta bantuan.
60
Singapore airlines Penerbangan 246 mendarat di Lapangan
Udara Heathrow di London pukul setengah delapan pagi. Para
penumpang lain ditahan di tempat duduk masing-masing,
sampai Jennifer dan kedua petugas FBI keluar dari pesawat
dan masuk ke kantor pengamanan lapangan udara.
Ingin benar Jennifer membaca surat kabar untuk
mengetahui apa yang sedang terjadi di negerinya, tapi kedua
pengiringnya yang diam terus-menerus menolak
permintaannya itu, dan menolak diajak berbicara.
529
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua jam kemudian, mereka bertiga naik ke pesawat
terbang TWA yang menuju ke New York.
Di Gedung Pengadilan Amerika Serikat di Foley Square,
sedang diadakan rapat darurat. Yang hadir adalah Adam
Warner, Robert Di Silva, Mayor Jenderal Wallace, dan enam
orang wakil dari FBI departemen kehakiman, dan departemen
perbendaharaan.
"Bagaimana hal itu sampai bisa terjadi?" tanya Robert Di
Silva dengan suara bergetar karena marahnya. Dia berpaling
pada jenderal itu. "Anda sudah diberi tahu betapa pentingnya
Thomas Colfax itu bagi kami."
Jenderal itu mengangkat tangannya tak berdaya. "Kami
sudah mengambil semua langkah pengamanan sebisa-bisanya,
Tuan. Kini kami sedang menyelidiki bagaimana orang sampai
bisa menyelundupkan racun asam biru itu ke —"
"Saya sama sekali tak peduli bagaimana orang
melakukannya! Colfax sudah mati!"
Orang dari departemen perbendaharaan berbicara, "Berapa
pentingnyakah kematian Colfax itu bagi kita?
"Banyak sekali," sahut Di Silva. "Mencari saksi saja sulitnya
bukan main. Apa lagi sampai bisa memperlihatkan arsip-arsip
dan pembukuan keuangannya. Saya berani bertaruh bahwa
akan ada saja pembela yang mengatakan semua catatan dan
buku itu palsu."
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya seorang
dari departemen perbendaharaan.
Jaksa menjawab, "Kita teruskan langkah-langkah kita.
Jennifer Parker sedang dalam perjalanan pulang dari
Singapura. Kita punya cukup bukti untuk menyingkirkannya
selama-lamanya. Sementara dia kita tahan, akan kita suruh
dia menarik Michael Moretti pula. "Dia berpaling pada Adam.
"Anda setuju bukan, Senator?"
530
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam merasa mual. "Maaf."
Dia cepat-cepat keluar dari ruangan itu.
61
Petugas-petugas pemandu di tanah, yang memakai tutup
telinga yang kebesaran, mengayun-ayunkan kedua tongkatnya
yang berlampu sorot, memandu pesawat jumbo 747 ke arah
jalur tempat menunggu. Pesawat berhenti di lingkaran
tertentu dan setelah diberi aba-aba, pilot menghentikan
keempat mesin turbo buatan Pratt And Whitney.
Di dalam pesawat, pramugara berbicara melalui pengeras
suara, "Tuan-tuan dan Nyohya-nyonya, kita baru saja
mendarat di Lapangan Udara Kennedy, New York. Terima
kasih atas penerbangan Anda dengan TWA. Para penumpang
harap tinggal di tempat duduk sampai ada pengumuman
selanjutnya. Terima kasih."
Terdengar dengung suara protes orang. Sesaat kemudian
pintu dibuka. Kedua orang petugas FBI yang duduk dengan
Jennifer di bagian depan pesawat bangkit.
Salah seorang di antaranya menoleh pada Jennifer dan
berkata, "Mari."
Para penumpang melihat dengan perasaan ingin tahu
waktu ketiga orang itu meninggalkan pesawat.
Beberapa menit kemudian terdengar lagi suara pramugara
melalui pengeras suara, "Terima kasih atas kesabaran Anda,
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Sekarang Anda boleh turun."
Sebuah mobil pemerintah menunggu di jalan masuk, di
samping lapangan udara. Mula-mula mereka berhenti di
Gedung Metropolitan Correctio-nal Centre di Park Row nomor
150. Gedung itu berhubungan dengan Gedung Pengadilan
Amerika Serikat di Foley Square.
531
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah Jennifer didaftarkan, salah seorang FBI berkata,
"Maaf, kami tak bisa menahan Anda di sini. Kami mendapat
perintah untuk membawa Anda ke Penjara Riker's Island."
Perjalanan ke Riker's Island berlangsung tanpa bicara.
Jennifer duduk di tempat duduk belakang, diapit oleh kedua
petugas FBI itu. Dia tidak berkata apa-apa, tapi otaknya sibuk
bekerja. Kedua laki-laki itu tak mau berbicara selama
perjalanan menyeberangi samudra, maka Jennifer tak bisa
menduga betapa besar kesulitan yang dihadapinya. Dia tahu
bahwa keadaannya serius, karena tidaklah mudah untuk
mendapatkan ekstradisi.
Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya,
sementara dia berada dalam penjara. Usahanya yang pertama
haruslah supaya dia bisa bebas dengan jaminan.
Mereka sedang menyeberangi jembatan ke Riker's Island,
dan Jennifer melihat ke jalan yang sudah dikenalnya, jalan
yang sudah beratus-ratus kali dilaluinya bila dia pergi
menemui kliennya. Sekarang dia sendiri yang menjadi
tahanan.
Tapi tidak akan lama, pikir Jennifer. Michael akan
membebaskan aku.
Kedua orang petugas FBI menggiring Jennifer masuk ke
dalam gedung penerimaan dan salah seorang petugas tadi
menyerahkan perintah ekstradisi pada pengawal.
"Jennifer Parker."
Pengawal melihat surat perintah itu. "Kami memang
menunggu Anda, Nona Parker. Anda mendapat tempat di
kamar tahanan nomor tiga."
"Saya berhak untuk menelepon satu kali."
Pengawal menganggukkan kepalanya ke arah telepon di
meja tulisnya. "Tentu."
532
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jennifer mengangkat gagangnya sambil berdoa semoga
Michael Moretti ada. Dia mulai memutar nomor.
Michael Moretti memang sudah menunggu telepon dari
Jennifer. Selama dua puluh empat jam, dia tidak berpikir
tentang yang lain. Dia sudah menerima informasi waktu
Jennifer mendarat di London, waktu pesawatnya
meninggalkan Heathrow, dan waktu dia tiba kembali di New
York. Dia duduk di meja kerjanya sambil mengikuti dalam
angannya, perjalanan Jennifer ke Riker's Island.
Dibayangkannya Jennifer masuk ke penjara itu. Dia pasti akan
minta izin untuk menelepon sebelum dia dimasukkan ke sel.
Jennifer pasti akan meneleponnya. Hanya itu yang
diharapkannya. Satu jam lagi dia akan minta agar Jennifer
dibebaskan dari situ; dan perempuan itu kemudian akan
mendatanginya. Michael Moretti membayangkan saat Jennifer
Parker berjalan melewati pintu.
Jennifer telah berbuat sesuatu yang tak dapat dimaafkan.
Dia telah menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang akan
memusnahkannya. Selain itu, apa lagi yang telah
diberikannya? Rahasia-rahasia apa yang telah dibocorkannya?
Adam Warner adalah ayah dari anak Jennifer. Michael kini
yakin Jennifer telah membohonginya sejak awal, mengatakan
padanya bahwa ayah Joshua telah meninggal. Yah, itu
memang suatu ramalan yang akan segera menjadi kenyataan,
kata Michael sendiri. Dia terlanda konflik yang ironis. Di satu
pihak, dia punya senjata yang ampuh yang bisa menghina dan
menghancurkan Adam Warner. Dia bisa memeras Adam
Warner dengan ancaman akan menyiarkan hubungannya
dengan Jennifer; tapi bila itu dilakukannya, dia akan
membeberkan pula tentang dirinya sendiri. Bila keluargakeluarga lain sampai mendengar — dan mereka pasti akan
mendengarnya — bahwa peliharaan Michael adalah kekasih
simpanan dari ketua Panitia Penyelidikan Senat, maka Michael
akan menjadi bahan tertawaan. Dia tidak akan bisa lagi
533
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengangkat kepalanya atau memerintah anak buahnya.
Seorang suami yang bisa dipermainkan perempuan tak
pantas menjadi seorang kepala. Maka, bagaimanapun
menggiurkannya ancaman pemerasan itu, dia akan
merupakan senjata makan tuan. Michael menyadari bahwa dia
tak berani menggunakannya. Dia harus menghancurkan
musuh-musuhnya itu dengan jalan lain.
Michael melihat ke peta kecil yang digambarkan secara
kasar di atas meja kerjanya di depannya. Peta itu adalah peta
jalan yang akan dilalui Adam Warner dalam perjalanannya
untuk menghadiri suatu perjamuan makan malam pribadi
dalam rangka pengumpulan dana malam itu. Peta itu telah
dibeli Michael Moretti dengan harga lima ribu dolar. Peta itu
akan berarti kematian Adam Warner.
Telepon di meja kerja Michael berdering, dan dia terkejut.
Diangkatnya gagangnya dan terdengar suara Jennifer di ujung
lain. Suara yang telah membisikkan cinta kasih ke telinganya,
yang telah memintanya untuk main cinta dengannya, yang —
"Michael — kaukah itu?"
"Ya, aku di sini. Di mana kau?"
"Mereka membawaku ke Riker's Island. Mereka menahanku
atas tuduhan pembunuhan. Belum ada ketentuan berapa
besarnya uang tebusan. Kapan kau bisa—?"
"Aku akan membebaskanmu secepatnya. Tenang sajalah."
"Ya, Michael." Didengarnya kelegaan dalam suara Jennifer.
"Gino akan kusuruh menjemputmu."
Beberapa saat kemudian, Michael menjangkau telepon lagi,
dan memutar suatu nomor. Dia berbicara di telepon selama
beberapa menit.
"Aku tak peduli berapapun tingginya uang tebusannya. Aku
mau dia keluar sekarang juga."
534
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gagang telepon dikembalikannya, lalu menekan sebuah
tombol di meja kerjanya. Gino Gallo masuk.
"Jennifer Parker ada di Riker's Island. Satu atau dua jam
lagi dia akan dibebaskan. Jemput dia dan bawa kemari."
"Baik, Bos."
Michael bersandar di kursinya. "Katakan padanya bahwa
kita tak perlu kuatir tentang Adam Warner lagi setelah hari
ini."
Wajah Gino Gallo menjadi cerah. "Benarkah?"
"Benar. Dia sedang dalam perjalanan untuk mengucapkan
pidato, tapi dia tidak akan sampai ke situ. Dia akan mengalami
kecelakaan di jembatan, di New Canaan."
Gino Gallo tersenyum. "Hebat sekali, Bos."
Michael menunjuk ke pintu. "Pergi."
Jaksa Di Silva menentang pembebasan dengan jaminan
atas diri Jennifer, dengan seluruh kemampuan yang ada
padanya. Mereka sedang menghadap William Bennet, seorang
hakim dari Mahkamah Agung New York.
"Yang Mulia," kata Robert Di Silva, "terdakwa telah dituduh
dengan bermacam-macam kejahatan besar. Kita telah
mengekstradisikannya dari Singapura. Bila dia boleh
dibebaskan dengan tebusan, dia akan melarikan diri ke suatu
tempat, di mana kita tak bisa mengusahakan ekstradisi. Saya
mohon supaya Yang Mulia menolak permintaan pembebasan
itu."
John Lester, seorang bekas hakim yang mewakili Jennifer,
berkata, "Jaksa bersalah telah memutarbalikkan dengan cara
yang kotor, Yang Mulia. Klien saya tak pernah melarikan diri
ke mana-mana. Dia ke Singapura karena suatu urusan. Bila
pemerintah menyuruhnya kembali, dia akan melakukannya
dengan senang hati. Dia seorang pengacara yang terhormat
535
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan praktek yang maju di sini. Tidaklah masuk akal kalau
dia harus melarikan diri."
Lebih dari tiga puluh menit pertengkaran itu terjadi.
Akhirnya Hakim Bennet berkata, "Pembebasan
diperkenankan dengan jaminan sebesar lima ratus ribu dolar."
"Terima kasih, Yang Mulia," kata kuasa Jennifer. "Kami
akan membayar jaminan itu."
Lima belas menit kemudian, Gino Gallo membantu Jennifer
memasuki bagian belakang mobil Mercedes.
"Cepat sekali," kata laki-laki itu. Jennifer tak menjawab. Dia
sedang memikirkan apa yang terjadi. Di Singapura dia benarbenar terasing. Dia sama sekali tak tahu apa yang sedang
terjadi di Amerika Serikat, tapi dia yakin bahwa penangkapan
atas dirinya bukanlah suatu kejadian yang tak punya kaitan.
Mereka bukan ingin menangkap dia sendiri. Dia perlu benar
berbicara dengan Michael dan mencari tahu apa yang sedang
terjadi. Di Silva pasti sudah yakin, maka dia memerintahkan
supaya dia dibawa kembali atas tuduhan pembunuhan. Dia —
Gino Gallo mengucapkan dua patah kata yang menarik
perhatian Jennifer.
"...Adam Warner..."
Jennifer semula tidak mendengarkan.
"Apa katamu?"
"Kataku, kita tak perlu kuatir lagi akan Adam Warner.
Michael sudah memerintahkan untuk membereskannya."
Jennifer merasa jantungnya berdebar. "Sungguh? Kapan?"
Gino Gallo melepaskan sebelah tangannya dari kemudi,
akan melihat arlojinya. "Kira-kira lima belas menit lagi.
Direncanakan supaya kelihatannya seperti kecelakaan."
536
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mulut Jennifer tiba-tiba terasa kering. "Di mana —?" Dia tak
dapat mengucapkan kata-kata itu. "Di ma — di mana itu akan
terjadi?"
"New Canaan. Di jembatan."
Mereka sedang melewati Queens. Di depan tampak sebuah
pusat perbelanjaan dengan sebuah apotek.
"Gino, bisakah kau berhenti di toko obat itu? Aku harus
membeli sesuatu."
"Tentu." Dengan cekatan dia memutar kemudi dan
membelok memasuki jalan masuk ke pusat perbelanjaan.
"Perlukah kubantu?"
"Tidak, tidak, aku — aku hanya sebentar." Jennifer keluar
dari mobil lalu masuk bergegas. Di bagian belakang toko itu
ada sebuah tempat telepon. Jennifer membuka dompetnya.
Dia tak punya uang kecil, hanya mata uang Singapura saja.
Dia cepat-cepat pergi ke kasir lalu mengeluarkan selembar
uang dolar.
"Bisa saya minta tukaran dengan uang kecil?" Kasir yang
sedang merasa bosan mengambil uang Jennifer dan
memberinya segenggam uang logam. Jennifer berlari ke
tempat telepon. Seorang wanita gemuk sedang mengangkat
gagang telepon dan memutar nomor telepon.
Jennifer berkata, "Saya dalam keadaan darurat. Bisakah
saya —"
Wanita itu memandangnya dengan mendelik dan terus
memutar.
"Halo, Hazel," teriak wanita itu. "Ramalan bintangku tepat.
Hari ini aku sial sekali! Ingatkah kau sepatu yang ingin kubeli
di Toko Delman? Percayakah kau, sudah mereka jual sepatu
satu-satunya yang pas untukku itu."
Jennifer mencolek wanita itu dan meminta, "Tolonglah!"
537
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pakai teleponmu sendiri," desis wanita itu. Dia kembali ke
corong telepon. "Ingatkah kau sepatu dari kulit suede yang
kita lihat dulu? Habis! Jadi tahukah kau apa yang kulakukan?
Aku berkata pada kerani toko..."
Jennifer memejamkan matanya dan berdiri saja, tanpa
menyadari keadaan di sekelilingnya, hanya merasakan siksa
dalam dirinya. Michael tak boleh membunuh Adam Warner.
Dia harus melakukan apa saja untuk menyelamatkannya.
Wanita itu menggantungkan gagang telepon dan berbalik
pada Jennifer. "Seharusnya aku menelepon lagi untuk
menghajarmu," katanya.
Begitu dia pergi dengan senyum kemenangan, Jennifer
cepat-cepat menangkap gagang telepon itu. Dia menelepon
kantor Adam.
"Maaf," kata sekretarisnya, "Senator Warner tak ada di
kantor. Apakah Anda mau meninggalkan pesan?"
"Ini penting dan mendesak sekali," kata Jennifer. "Tahukah
Anda ke mana saya bisa menghubunginya?"
"Tidak, maaf. Kalau Anda mau —" Jennifer memutuskan
hubungan. Dia berpikir lagi, lalu cepat-cepat memutar nomor
lain. "Robert Di Silva."
Lama sekali rasanya dia harus menunggu, baru terdengar,
"Kantor Kejaksaan Negeri."
"Saya harus berbicara dengan Tuan Di Silva. Di sini Jennifer
Parker."
"
"Maaf. Tuan Di Silva sedang rapat. Beliau tak bisa digang —
"Tolong panggil dia. Ini keadaan darurat. Cepat!" Suara
Jennifer bergetar.
Sekretaris Di Silva ragu. "Sebentar."
538
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebentar kemudian Robert Di Silva berbicara, "Ya?"
Suaranya tak ramah.
"Dengar, dengarkan baik-baik," kata Jennifer. "Adam
Warner akan dibunuh. Sepuluh atau lima belas menit lagi.
Mereka berencana akan melakukannya di Jembatan New
Canaan."
Jennifer memutuskan hubungan. Tak ada lagi yang bisa
diperbuatnya. Sekilas terbayang tubuh Adam yang hancur,
dan dia menggigil. Dia melihat ke arlojinya dan diam-diam
berdoa semoga Di Silva masih sempat menyiapkan bantuan ke
sana.
Robert Di Silva meletakkan kembali gagang telepon, lalu
menoleh pada enam orang yang ada dalam kamar kerjanya.
"Aneh sekali telepon itu."
"Siapa itu?"
"Jennifer Parker. Katanya mereka akan membunuh Senator
Warner."
"Mengapa dia menelepon?"
"Mana aku tahu."
"Apakah menurut Anda berita itu bisa dipercaya?"
Jaksa Di Silva berkata, "Tentu tidak."
Jennifer memasuki pintu kantor, dan mau tak mau, hati
Michael tergetar melihat kecantikannya. Begitulah selalu
hatinya setiap kali dia melihat Jennifer. Di luar dia adalah
wanita tercantik yang pernah dilihatnya. Tapi di dalam, dia
pengkhianat berbahaya. Diperhatikannya bibir yang telah
mengecup Adam Warner, dan tubuh yang telah terbaring
dalam pelukan Adam Warner.
Sambil berjalan, Jennifer berkata, "Michael, aku senang
sekali bertemu kau. Terima kasih karena kau sudah mengatur
segalanya begitu cepat."
539
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tak ada sulitnya. Aku sudah menunggumu, Jennifer."
Jennifer tak dapat membayangkan betapa dalamnya arti katakata itu.
Dia duduk. "Michael, demi Tuhan, apa yang sedang
terjadi?"
Michael menatapnya, setengah mengaguminya. Dia yang
bertanggung jawab membantu orang menghancurkan
kerajaannya, dan dengan polos dia masih bertanya, apa yang
sedang terjadi.
"Tahukah kau mengapa mereka membawa aku kembali?"
Tentu, pikir Michael. Supaya kau bisa berbicara lebih
banyak lagi. Dia teringat akan burung kenari kecil yang
kuning, dengan leher yang sudah patah. Sebentar lagi Jennifer
akan seperti itu.
Jennifer memandang mata Michael yang hitam itu. "Kau tak
apa-apa?"
"Aku lebih baik daripada biasanya." Dia bersandar di
kursinya. "Beberapa menit lagi semua kesulitan kita akan
berlalu."
"Apa maksudmu?"
"Senator Warner akan mengalami kecelakaan. Hal itu
benar-benar akan melumpuhkan panitia." Dia melihat jam di
dinding. "Setiap saat aku akan menerima laporan telepon."
Ada sesuatu yang aneh dalam sikap Michael, sesuatu yang
menakutkan. Tiba-tiba Jennifer punya firasat akan adanya
bahaya. Dia tahu bahwa dia harus keluar dari sini.
Dia berdiri. "Aku belum sempat membongkar koporkoporku. Aku akan pergi —"
"Duduk." Nada rendah dalam suara Michael membuat bulu
kuduknya berdiri.
540
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Michael —"
"Duduk."
Dia mengerling ke pintu. Gino Gallo sedang berdiri
bersandar pada daun pintu itu, memperhatikan Jennifer
dengan air muka polos.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana," kata Michael. '
"Aku tak menger —"
"Jangan bicara. Jangan ucapkan sepatah kata pun lagi."
Mereka duduk menunggu, saling menatap, dan satusatunya bunyi dalam kamar itu hanyalah bunyi detik jam pada
dinding yang terasa nyaring. Jennifer mencoba membaca
mata Michael, namun mata itu hampa, tak ada bayangan apaapa.
Dering telepon memecahkan kesunyian kamar itu. Michael
mengangkat gagangnya. "Halo?... Yakinkah kau?... Baiklah.
Pergi dari situ." Dikembalikannya gagang telepon, lalu melihat
pada Jennifer. "Jembatan New Canaan penuh dengan polisi."
Jennifer merasakan kelegaan merayapi seluruh tubuhnya.
Dia merasa senang sekali. Michael sedang memperhatikannya,
dan dia berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu.
"Apa artinya itu?" tanya Jennifer.
"Tak apa-apa," sahut Michael, "tak apa-apa. Karena bukan
di situ Adam Warner akan mati."
62
Jembatan kembar di Garden State Parkway tidak tercantum
pada peta. Garden State Parkway melintasi Sungai Raritan di
antara kedua cabang Amboy yang membelah jembatan
menjadi dua, sebuah ke arah utara yang sebuah lagi ke
selatan.
541
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mobil itu baru tiba di sebelah Barat Perth Amboy, menuju
ke jembatan yang sebelah selatan. Adam Warner duduk di
belakang dengan seorang petugas dari dinas rahasia di
sebelahnya, sedang dua orang petugas dinas rahasia lainnya
duduk di depan.
Sejak enam bulan yang lalu, Agen Clay Reddin ditugaskan
sebagai pengawal pribadi senator itu, dan dia mulai mengenal
Adam Warner dengan baik. Selama ini dia beranggapan
bahwa senator itu seorang yang terbuka dan mudah didekati,
tapi sepanjang hari ini, dia aneh, diam, dan berjarak. Dia
sedang menghadapi kesulitan besar, pikir Agen Clay Reddin.
Agen itu tak ragu lagi bahwa Senator Warner-lah yang akan
menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya, dan Clay Reddin
yang bertanggung jawab supaya tak sampai terjadi apa-apa
atas diri senator itu. Dipelajarinya lagi langkah-langkah
pengamanan yang telah diambil untuk melindungi senator itu,
dan dia puas serta yakin bahwa tidak akan ada kesalahan.
Agen Reddin mengerling lagi pada orang yang mungkin
menjadi calon presiden itu, dan ingin tahu apa yang sedang
dipikirkannya.
Adam Warner sedang memikirkan cobaan yang sedang
dihadapinya. Dia telah diberi tahu Di Silva bahwa Jennifer
Parker sudah ditangkap.
Membayangkan Jennifer dikurung seperti binatang,
merupakan siksaan baginya. Dia terkenang terus akan saatsaat indah yang mereka nikmati bersama. Tak pernah dia
mencintai wanita lain seperti dia mencintai Jennifer.
Salah seorang petugas dinas rahasia yang di depan
berkata, "Kita akan tiba di Atlantic City tepat seperti yang
direncanakan, Pak Presiden."
Pak Presiden. Sebutan itu lagi. Berdasarkan semua
pengumpulan suara yang terakhir, dia berada jauh di atas. Dia
merupakan pahlawan bagi negara, dan Adam tahu bahwa
542
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penyelidikan kejahatan yang sedang diketuainya, yang akan
menghancurkan Jennifer Parker, punya andil yang tak kecil
artinya dalam sukses itu.
Adam melihat ke depan dan tampak bahwa mereka sedang
mendekati jembatan kembar. Tetapi di depan jembatan itu
ada sebuah jalan simpang, dan sebuah truk yang besar
sedang berhenti di jalan masuk di seberang jalan itu. Waktu
sedan mereka mendekati jembatan, truk itu mulai bergerak,
hingga kedua kendaraan itu tiba bersamaan di jembatan.
Sopir dinas rahasia itu menginjak rem dan memperlambat
jalannya. "Lihat si Goblok itu."
Radio bergelombang pendek berbunyi. "Sasaran Satu!
Sasaran Satu!"
Agen dinas rahasia yang duduk di samping sopir
mengangkat alat untuk berbicara. "Di sini Sasaran Satu."
Kini truk itu bersisian dengan sedan dan bersama-sama
mulai memasuki badan jembatan.
Truk itu merupakan penghalang yang benar-benar
menghalangi pemandangan sopir sedan. Sopir sedan
mempercepat jalannya untuk mendahuluinya, tapi bersamaan
dengan itu truk pun menambah kecepatannya pula.
"Mau apa dia?" gumam si sopir.
"Kami dapat berita mendesak dari Kantor Kejaksaan Negeri.
Sasaran Satu dalam bahaya! Anda dengar itu?"
Tanpa memberi tanda, truk itu mengambil jalan kanan,
mengenai sisi sedan, memaksanya menyerempet pagar
jembatan. Serentak ketiga orang dinas rahasia mengeluarkan
pistol mereka.
"Jatuhkan diri!"
Adam didorong ke lantai mobil, sedang Agen Reddin
melindungi Adam. Petugas-petugas dinas rahasia itu
543
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menurunkan kaca pintu mobil yang di sebelah kiri, lalu
mengacungkan pistol. Tapi tak ada sasaran yang akan
ditembak. Sisi badan truk menghalangi segalanya. Sopir truk
itu jauh di depan, tak kelihatan. Terasa lagi suatu dorongan,
kemudian terdengar bunyi derak waktu mobil sedan itu
menabrak pagar jembatan lagi. Sopir membanting kemudi ke
kiri, berjuang supaya mobil tetap berada di jembatan, tapi truk
itu tetap mendesaknya kembali. Sungai Raritan yang dingin
gelap, mengalir deras enam puluh meter di bawah mereka.
Petugas di samping sopir cepat menangkap mikrofon
radionya dan berbicara cepat, "Di sini Sasaran Satu! Bahaya!
Bahaya! Harap bantuan!"
Tetapi semua orang didalam sedan itu yakin bahwa sudah
terlambat mengharapkan bantuan untuk menyelamatkan
mereka. Sopir mencoba menghentikan mobil, tapi bemper truk
yang besar itu sudah memautnya, dan menyeret mobil kecil
itu. Tinggal beberapa detik lagi truk besar itu akan berhasil
menggulingkannya dari tepi jembatan. Pengemudi sedan itu
mencoba memakai siasat mengelak, dengan secara bergantian
menggunakan rem dan gas, untuk memperlambat dan
menambah kecepatan, tapi truk itu menekannya terus ke
pagar jembatan dengan kejam. Mobil sedan itu tak punya
ruangan untuk bergerak. Truk itu menutup semua jalan untuk
lewat ke sebelah kiri, sedang di sebelah kanan didesak terus
ke pagar besi jembatan. Sopir mati-matian mempertahankan
kemudi, waktu truk sekali lagi menekan sedan dengan keras,
dan semua orang mendengar pagar jembatan mulai berderak
akan lepas.
Kini truk menekan makin kuat, memaksakan sedan itu ke
tepi. Semua yang berada dalam mobil merasakan mobil yang
tiba-tiba miring, waktu roda depan melanggar pagar jembatan
dan jatuh ke tepi jembatan itu. Mobil itu tergantung-gantung
di tepi jembatan dan para penumpangnya mempersiapkan diri
untuk mati dengan caranya sendiri-sendiri.
544
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam tidak merasa takut, dia hanya merasa sedih yang
amat mendalam mengingat kekalahan dan hidupnya yang siasia. Seharusnya dengan Jennifer dia membagi hidupnya,
punya anak — dan tiba-tiba sesuatu dalam dirinya seolah-olah
memberi tahu padanya, bahwa mereka punya anak.
Sedan melonjak sekali lagi dan Adam berteriak satu kali,
menyesali ketidakadilan yang telah dan yang sedang terjadi.
Di atas kepala mereka terdengar derum helikopter polisi
yang sedang merendah, dan sesaat kemudian terdengar
tembakan senapan mesin. Truk itu terlonjak dan tiba-tiba
semua gerak berhenti. Adam dan yang lain-lain mendengar
helikopter itu berputar-putar di atas mereka. Mereka semua
tetap tak bergerak, karena mereka tahu bahwa gerak yang
sekecil-kecilnya pun akan membuat mobil terlempar melewati
jembatan, tercebur ke air.
Terdengar lengking sirene mobil polisi yang mendekat, dan
beberapa menit kemudian terdengar suara-suara yang
memekikkan perintah-perintah. Mesin mobil truk menderum
hidup kembali. Lambat dan cermat truk itu bergerak sedikit
demi sedikit, menjauhi mobil yang terjepit, membebaskan
mobil itu dari tekanannya. Mobil sedan terangkat sebentar
dengan cara yang mengerikan, lalu berhenti. Sebentar
kemudian truk sudah dimundurkan supaya tidak menjadi
penghalang, Adam dan yang lain-lain bisa melihat lagi melalui
kaca pintu sebelah kiri.
Ada enam buah mobil satuan, dan polisi berseragam
dengan pistol teracung memenuhi jembatan itu.
Seorang kapten polisi berdiri di sisi mobil yang penyok itu.
"Kami tidak akan bisa membuka pintu-pintu mobil,"
katanya. "Jadi Saudara-saudara akan kami keluarkan melalui
kaca-kacanya — sama sekali tak sulit."
Adam-lah yang mula-mula dikeluarkan melalui kaca,
perlahan-lahan dan berhati-hati, supaya tidak mengganggu
545
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keseimbangan mobil dan melemparkannya ke sungai. Ketiga
orang petugas dinas rahasia menyusul.
Setelah semua orang dikeluarkan dari mobil, kapten polisi
menoleh pada Adam dan bertanya, "Apakah Anda tak apaapa, Pak?"
"Tidak," katanya. "Saya tak apa-apa."
Adam berpaling melihat mobil yang tergantung-gantung di
tepi jembatan, dan kemudian melihat ke air sungai yang jauh
di bawahnya.
Michael Moretti mendongak melihat jam di dinding. "Pasti
sudah selesai sekarang." Dia menoleh pada Jennifer. "Pacarmu
sudah ada di dalam sungai sekarang."
Jennifer memandanginya dengan wajah pucat. "Kau tak
bisa —"
"Jangan kuatir. Kau akan diadili dalam sidang yang adil."
Dia berpaling pada Gino Gallo. "Apakah tadi kaukatakan
bahwa Adam Warner akan diledakkan di New Canaan?"
"Tepat seperti yang diperintahkan, Bos."
Michael melihat pada Jennifer. "Sidang sudah selesai."
Dia bangkit, lalu berjalan ke tempat Jennifer duduk.
Dicengkeramnya blus Jennifer lalu ditariknya sampai dia
berdiri.
"Aku mencintaimu dulu," bisiknya. Ditamparnya Jennifer
kuat-kuat, Jennifer tak bergeming. Ditamparnya lagi lebih
keras, kemudian sekali lagi untuk ketiga kalinya, lalu Jennifer
roboh ke lantai.
"Bangun! Kita akan bepergian." Jennifer tetap berbaring,
dia pusing karena tamparan-tamparan itu, dia mencoba
menghilangkan rasa pusing itu. Michael menariknya dengan
kasar sampai berdiri.
546
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah kau ingin kubereskan dia, Bos?" tanya Gino Gallo.
"Tidak. Bawa saja mobil ke belakang."
"Baik, Bos." Dia bergegas keluar dari kamar.
Mereka tinggal berduaan.
"Mengapa?" tanya Michael. "Dulu dunia ada dalam tangan
kita, tapi itu kausia-siakan. Mengapa?" Jennifer tak menjawab.
"Apakah kau mau kuhantam lagi demi masa lalu?" Michael
mendekatinya dan mencengkam lengan Jennifer. "Mau?"
Jennifer tak bereaksi. "Kau tidak akan menyakiti siapa-siapa
lagi, kau dengar itu? Aku akan melemparkanmu ke dalam
sungai menemani kekasihmu! Kalian bisa berduaan di sana."
Gino Gallo kembali ke kamar itu dengan wajah putih. "Bos!
Ada —"
Terdengar bunyi benda pecah di luar kamar. Michael
membungkuk mengambil pistol dari laci mejanya. Pistol itu
sudah di tangannya waktu pintu terbuka. Dua orang polisi
federal masuk dengan pistol teracung.
"Jangan bergerak!"
Dalam saat yang singkat itu Michael mengambil keputusan.
Diangkat pistolnya, dia berbalik, lalu ditembakkanya pada
Jennifer. Dia masih sempat melihat pelurunya memasuki
tubuh Jennifer, sesaat sebelum polisi mulai menembak. Masih
dilihatnya darah tersembur dari dada Jennifer, lalu dia merasa
sebuah peluru menghantam dirinya, kemudian sebuah lagi.
Dilihatnya Jennifer terbaring di lantai. Michael tak tahu, mana
yang lebih menyiksa, kematian Jennifer atau kematiannya
sendiri. Dirasakannya sebuah peluru menghantamnya lagi, lalu
dia tidak merasakan apa-apa lagi.
63
547
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang dokter sedang mendorong Jennifer di brankar,
membawanya ke luar dari kamar bedah dan masuk ke kamar
ICU. Seorang polisi berseragam ikut di sisi Jennifer. Lorong
rumah sakit penuh dengan polisi, detektif, dan para wartawan.
Seorang laki-laki berjalan ke meja penerimaan tamu dan
berkata, "Saya ingin melihat Jennifer Parker."
"Apakah Anda keluarganya?"
"Bukan. Saya temannya."
"Maaf. Tak boleh ada pengunjung. Dia ada di ruang ICU."
"Saya akan menunggu."
"Mungkin lama."
"Biarlah," kata Ken Bailey.
Sebuah pintu samping terbuka, dan Adam yang diapit oleh
suatu tim petugas dinas rahasia masuk. Wajahnya kurus dan
cekung.
Seorang dokter siap menyambutnya. "Silakan, Senator
Warner." Adam diantarnya ke sebuah kamar kerja kecil.
"Bagaimana dia?"
"Kami tak bisa optimis. Kami telah mengeluarkan tiga buah
peluru."
Pintu terbuka dan Jaksa Robert Di Silva masuk terburuburu. Dia melihat pada Adam Warner dan berkata, "Saya
benar-benar senang Anda tak apa-apa."
Adam berkata, "Saya tahu bahwa saya berhutang budi
pada Anda. Bagaimana Anda tahu?"
"Jennifer Parker menelepon saya. Dikatakannya bahwa
Anda akan dibereskan di New Canaan. Saya pikir itu mungkin
suatu usaha untuk mengalihkan perhatian saja, tapi saya tak
mau mengadu untung, maka saya pun lalu menyelidikinya.
548
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu saya mendengar rute perjalanan Anda, dan
kami cepat-cepat mengirim perlindungan. Saya rasa si Parker
itu yang berencana menghancurkan Anda."
"Tidak," kata Adam. "Tidak."
Robert Di Silva mengangkat bahunya. "Terserah Anda,
Senator. Yang penting Anda selamat." Dia berpaling pada
dokter. "Apakah dia masih bisa hidup?"
"Kemungkinannya tipis."
Jaksa itu melihat air muka Adam dan salah menafsirkannya.
"Jangan kuatir. Kalau dia selamat, dia akan kita hukum berat."
Jaksa memandang Adam dengan lebih tajam lagi. "Anda
sendiri tak sehat kelihatannya. Mengapa Anda tak pulang saja
dan beristirahat?"
"Saya ingin melihat Jennifer Parker dulu."
Dokter berkata, "Dia dalam keadaan koma. Mungkin dia
tidak akan sadar."
"Saya ingin melihatnya."
"Silakan, Senator. Mari."
Dokter itu berjalan di depan, ke luar dari kamar, disusul
oleh Di Silva, kemudian Adam. Mereka berjalan di lorong
sejauh beberapa meter, ke arah ruangan yang bertanda ICU
— Dilarang Masuk.
Dokter membukakan pintu untuk kedua pria itu. "Dia ada di
kamar yang pertama."
Di depan pintunya ada seorang polisi yang mengawal. Dia
mengambil sikap siap waktu melihat jaksa.
"Tak seorang pun boleh mendekati kamar ini tanpa izin
tertulis dari saya. Mengerti?" kata Di Silva.
"Siap, Pak."
549
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adam dan Di Silva memasuki kamar itu. Ada tiga buah
tempat tidur di situ, yang dua buah kosong. Jennifer terbaring
di tempat tidur yang ketiga, dengan selang-selang yang
terpasang di lubang hidung dan pergelangan tangannya.
Adam mendekati tempat tidur itu dan menatapnya. Wajah
Jennifer pucat sekali, dan matanya tertutup. Dalam keadaan
tenang begitu, dia kelihatan lebih muda. Adam serasa melihat
wajah gadis yang masih polos beberapa tahun yang lalu, gadis
yang berkata dengan marah padanya, Bila ada orang yang
menyuap saya, apakah Anda pikir saya akan mau tinggal di
tempat seperti ini? Saya tak peduli Anda mau apa. Pokoknya
saya mau supaya saya tidak diganggu. Adam terkenang akan
keberaniannya, cita-citanya, dan sifatnya yang mudah
tersinggung. Dia seperti malaikat, yang percaya pada keadilan
dan mau berjuang untuk itu. Kemudian apa yang salah? Dia
pernah dan masih mencintai gadis ini. Tapi dia telah
menentukan pilihan yang salah yang telah meracuni hidup
mereka semua, dan dia tahu bahwa dia tidak akan pernah
merasa bebas dari rasa bersalah selama hidupnya.
Dia menoleh pada dokter. "Beri tahu saya kalau dia—" Dia
tak bisa mengucapkan perkataan itu. "— kalau terjadi
sesuatu."
"Tentu," kata dokter.
Adam Warner memandangi Jennifer lama-lama dan
mengucapkan selamat berpisah dalam hatinya. Lalu dia
berbalik dan keluar untuk menghadapi para wartawan yang
siap menunggu.
Antara sadar dan tidak, Jennifer mendengar orang-orang
itu pergi. Dia tak tahu apa yang mereka katakan, karena katakata mereka dikacaukan oleh rasa sakit yang mencekamnya.
Rasanya dia mendengar suara Adam, tapi dia tahu bahwa itu
tak mungkin. Adam sudah meninggal. Dia mencoba membuka
matanya, tapi dia tak mampu.
550
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pikiran Jennifer mulai mengambang... Abraham Wilson
berlari-lari masuk ke kamar itu membawa sebuah kotak. Lakilaki itu tersandung dan kotak itu terbuka, lalu seekor burung
kenari kuning terbang ke luar dari kotak itu.... Robert Di Silva
berteriak. Tangkapi Jangan biarkan lepasl... Michael Moretti
menangkapnya dan tertawa, lalu Pater Ryan berkata, Lihat
semua orangl Ini suatu keajaibanl dan Connie Garret menarinari berkeliling dalam kamar itu, semua orang bertepuk
tangan.... Nyonya Cooper berkata, Aku akan memberikan
Wyoming padamu... Wyoming... Wyoming... lalu Adam masuk
dengan membawa berpuluh-puluh tangkai bunga mawar, dan
Michael berkata, Bunga-bunga itu dari aku, dan Jennifer
berkata, Akan kutaruh dalam jambangan. Lalu bunga-bunga
itu layu, mati, dan airnya tumpah ke lantai dan menjadi
danau, dan kemudian dia berlayar dengan Adam, dan Michael
mengejar mereka dengan ski air, lalu dia berubah menjadi
Joshua yang tersenyum pada Jennifer, lalu melambai tapi
kehilangan kesimbangan, dan Jennifer berteriak, Jangan
jatuh... Jangan jatuh — Jangan jatuh... lalu sebuah ombak
yang sangat besar mengangkat Joshua ke udara dan anak itu
merentangkan lengannya seperti Jesus, lalu lenyap.
Pikiran Jennifer menjadi tenang sesaat. Joshua sudah
hilang.
Adam sudah tak ada. Michael sudah mati.
Dia tinggal seorang diri. Akhirnya semua orang memang
tinggal seorang diri. Setiap orang mati dengan caranya
masing-masing. Kini akan lebih mudah mati.
Dia diresapi perasaan damai yang berkah. Segera tidak
akan ada lagi rasa sakit.
64
Pada suatu hari yang dingin dalam bulan Januari di Gedung
Capitol, Adam-Warner sedang disumpah sebagai presiden
Amerika Serikat yang keempat puluh. Istrinya memakai topi
551
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari bulu musang dan sehelai mantel dari bulu musang
berwarna lebih gelap, yang meningkatkan keindahan warna
kulitnya yang pucat, dari mantel itu hampir bisa
menyembunyikan kehamilannya. Dia berdiri di sebelah
putrinya, dengan bangga mereka berdua memperhatikan
waktu Adam mengucapkan sumpah jabatannya. Dan seluruh
negara ikut bersenang bersama mereka bertiga. Mereka
adalah yang terbaik di Amerika: sopan, jujur, dan baik, dan
mereka memang pantas tinggal di Gedung Putih. Di sebuah
kantor pengacara yang kecil di Kelso, Washington, Jennifer
Parker duduk seorang diri melihat pelantikan itu di tv. Dia
nonton terus sampai acara terakhir dari upacara selesai,
Adam, Mary Beth, dan Samantha meninggalkan pentas,
dikelilingi oleh petugas-petugas dinas rahasia. Kemudian
Jennifer memadamkan pesawat tv dan melihat gambargambar di layar itu hilang. Sama benar halnya dengan
mematikan masa lalu: menutup semua yang sudah terjadi
atas dirinya — cinta, kematian, kesenangan, serta rasa sakit.
Tak satu pun yang bisa menghancurkan dirinya. Dia adalah
orang yang selamat dalam perjuangannya.
Dikenakannya topi dan mantelnya lalu berjalan ke luar,
berhenti sebentar untuk melihat papan nama yang bertulisan:
Jennifer Parker, Penasihat Hukum. Sesaat dia terkenang akan
dewan juri yang telah membebaskannya. Dia masih tetap
seorang pengacara, sebagaimana ayahnya dulu. Dan dia akan
terus mencari sesuatu yang sulit didapatkan, yang disebut
keadilan. Dia berbalik menuju gedung pengadilan.
Jennifer berjalan lambat-lambat di sepanjang jalan sepi
yang bekas tersapu angin. Salju turun dengan halus, seolaholah menyelimutkan selendang sifon ke bumi. Dari sebuah
apartemen tak jauh dari situ, tiba-tiba terdengar suara orang
bergembira-ria, yang rasanya begitu asing, hingga Jennifer
berhenti sebentar untuk mendengarkan. Mantelnya
dieratkannya dan dia melanjutkan perjalanannya, sambil
552
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengintip ke tirai salju yang ada di hadapannya, seolah-olah
dia ingin melihat ke masa depannya.
Namun masa lalunyalah yang tampak olehnya, dan dia
mencoba mengingat-ingat kapan masa bahagianya berakhir.
0ooo0
553