klik disini... - (BPTP) Banten

Transcription

klik disini... - (BPTP) Banten
I.PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya
menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumberdaya manusia
yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Oleh karena itu,
pemenuhan kebutuhan pangan merupakan salah satu indikator utama bagi tercapainya
keberhasilan pembangunan nasional. Hal ini sejalan dengan amanat Undang - Undang
nomor 7 tahun 1996 tentang pangan yang menyatakan bahwa pemerintah bersama
masyarakat bertanggungjawab untuk mewujudkan ketahanan pangan. Kerjasama
Pemerintah dan masyarakat tersebut diharapkan mampu mewujudkan ketahanan
pangan, yaitu suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang
tercermin dari tersedianya pangan yang cukup (baik jumlah maupun mutunya), aman,
merata, dan terjangkau (Santoso, 2011).
Sasaran
ketahanan pangan nasional adalah (1). mewujudkan menyediaan
pangan tingkat nasional, regional, dan rumah tangga yang
cukup, aman, dan
terjangkau, (2). meningkatkan keragaman produksi dan konsumsi pangan masyarakat,
(3). meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalah kerawanan
pangan.
Selanjutnya
sasaran
ketahanan/kemandirian
pangan,
utama
pembangunan
pembangunan
pertanian
pertanian
adalah
berkelanjutan
dan
pengentasan kemiskinan. Sedangkan sasaran umum produksi pangan adalah
ketersediaan pangan dalam jumlah yang aman melalui sasaran produksi padi 2011
sebesar 70,6 juta ton GKG dan Surplus beras 10 juta ton 2014 dengan peningkatan
produktivitas dan perluasa areal tanam serta lahan baru (eksistensifikasi).
Salah satu upaya untuk mencapai pertanian berkelanjutan dan pengentasan
kemiskinan Badan Litbang Pertanian melalui model atau konsep baru diseminasi
teknologi
yaitu
program
Spektrum
Dimention
Multi
Channel
(SDMC)
dan
implementasinya dalam bentuk model Kawasan Rumah Pangan Lestari dengan prinsip
pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan
pangan dan gizi keluarga, serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk
pengembangan panngan rumah tangga merupakan salah satu alternatif untuk
mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga.
Gerakan pengembangan Kawasan Rumah Pangan lestari (KRPL) merupakan
salah satu upaya dalam implementasi Program percepatan Penganekaragaman Pangan
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
1
menuju kecukupan dan kemandirian pangan rumah tangga tani serta menuju Pola
Pangan Harapan (PPH) 95% pada tahun 2015 telah dimulai Badan Litbang Pertanian
sejak awal bulan Februari 2011 (Sinartani, 2011). Untuk itu, suatu kawasan harus
menentukan komoditas pilihan yang sesuai dan yang dapat dikembangkan secara
komersial dan berkelanjutan yang akan didukung dengan kebun bibit.
1.2. Perumusan Masalah
Pangan merupakan komoditas yang sangat strategis, karena pangan merupakan
kebutuhan dasar manusia dan rakyat Indonesia. Pemerintah dan masyarakat secara
bersama – sama harus mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional, baik dalam
jumlah maupun nilai gizinya, untuk memujudkan sumberdaya manusia yang
berkualitas dalam melaksanakan pembangunan nasional didalam kerangka mengisi
kemerdekaan yang telah 66 tahun kita peroleh dan sebagaimana diamanatkan oleh
Undang - Undang nomor 7 tahun 1996 tentang pangan yang menyatakan bahwa
pemerintah bersama masyarakat bertanggungjawab untuk mewujudkan ketahanan
pangan.
Pemerintah secara konsisten telah menetapkan kebijakan bahwa ketahanan
pangan nasional merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional. Sasaran
strategis ketahanan pangan nasional adalah mewujudkan kemandirian pangan melalui
peningkatan produksi dan produktivitas serta peningkatan kapasitas masyarakat
dibidang pertanian, perikanan dan kehutanan. Pencapaian sasaran strategis tersebut
dilakukan melalui upaya terpadu yang dikoordinasikan oleh Badan Ketahanan Pangan
Nasional. Upaya terpadu ini sangat penting karena sampai dengan saat ini pemerintah
belum mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dari produksi dalam
negeri, sehingga masih rentan terjadinya rawan pangan. Beberapa indikator
kerentanan kerawanan tersebut antara lain : masih tingginya nilai impor pangan,
semakin menurunya lahan pertanian yang produktif, rendahnya diversifikasi konsumsi
pangan, serta rendahnya akses masyarakat terhadap pangan.
Promosi dan sosialisasi konsumsi pangan non beras kepada masyarakat masih
kurang
sehingga masyarakat pada umumnya masih memandang rendah konsumsi
pangan non beras, yang berakibat sumber pangan non beras tersebut kurang diminati
masyarakat meskipun kandungan gizinya tidak kalah dengan beras. Kondisi ini
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
2
menyebabkan
tingkat
konsumsi
beras
sangat
tinggi,
yaitu
mencapai
139,5
Kg/kapita/tahun dan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah untuk
mencukupinya.
Untuk mengubah pola konsumsi masyarakat perlu ada kegiatan
promosi dan sosialisasi yang berkelanjutan dari semua pihak yang bertujuan
membangun persepsi masyarakat bahwa diversifikasi pangan tidak berpengaruh pada
gizi masyarakat bangsa Indonesia.
Bagaimana menyediakan pangan rumah tangga yang cukup, aman
dan terjangkau
Karena pangan merupakan faktor yang sangat strategis dan berkorelasi
langsung terhadap stabilitas nasional, maka pemerintah mempunyai komitmen untuk
menjamin tersedianya pangan masyarakat. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 68
tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan, ditegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan
pangan diutamakan dari produksi dalam negeri dengan mengoptimalkan semua
potensi nasional terutama potensi pangan lokal (Santoso, 2011). Pemanfaatan potensi
agroekosistem daerah perlu ditunjang dengan relevansi dan dan kapasitas teknologi
yang tersedia (Lakitan,
2011). Komitmen Kementrian Pertanian dalam mendukung
ketahanan pangan nasional pada hakekatnya dilaksanakan secara berkelanjutan. Hal
ini tercermin dari sasaran produksi padi 2011 sebesar 70,6 juta ton GKG dan Surplus
beras 10 juta ton 2014.
Bagaimana memanfaatkan pekarangan sebagai alternatif sumber
pangan keluarga dalam menuju kecukupan dan kemandirian pangan. Dalam
hal ini diperlukan teknologi dalam mengelola sayuran baik di pekarangan dan di
polibag, teknik mengelola tanamana pangan, hias, toga , teknik mengelola ternak.
Melalui gerakan KRPL ini diharapkan dapat menekan biaya pengeluaran rumahtangga
tani dengan cara memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Bagaimana meningkatkan keragaman produksi dan konsumsi pangan
masyarakat dengan memafaatkan pekarangan rumah masyarakat ? Dalam
hal ini,
masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanan tanaman
sayuran, tanaman toga, tanaman pagar sesuai potensi sumberdaya wilayah dan
budaya setempat. Disamping memanfaatkan tanaman, masyarakat diharapkan dapat
memanfaatkan ternak unggas untuk penyediaan pangan dan peningkatan pendapatan.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
3
Bagaimana
diversifikasi
pangan
dapat
dilakukan
dengan
memanfaatkan sumber pangan lokal yang berpotensi dikembangkan dalam
menunjang ketahanan pangan ? Potensi pangan lokal di wilayah Provinsi Banten
dipengaruhi
oleh
agroekosistem
Pemanfaatan potensi pangan
wilayah
dan
budaya
masyarakat
setempat.
lokal seperti umbi-umbian, hortikultura dan ternak
unggas diharapkan dapat menunjang ketahanan pangan masyarakat dan pangan
daerah.
Bagaimana peran penyuluhan dalam mendukung ketahanan pangan ?
Swasembada beras pada tahun 1984 dan 2008 belum menunjukan keberhasilan dalam
mewujudkan ketahanan pangan nasional karena tidak diikuti oleh meningkatnya
keragaman produksi dan konsumsi pangan masyarakat. Pada saat ini, Indonesia masuk
kedalam jebakan pangan (food entrapment), yaitu terjadinya sentralisasi terhadap
beras sebagai sumber pangan.
Seharusnya, pangan tidak hanya berhenti pada
karbohidrat tetapi juga protein, lemak, vitamin dan mineral. Kenyataannya, rata-rata
konsumsi beras masyarakat Indonesia meningkat menjadi 139,15 kg/kap/tahun pada
kurun waktu tahun 2006-2009. Nilai ini berada di atas rata-rata konsumsi beras dunia
sebesar 60 kg/kap/tahun. Selajutnya berdasarkan data SUSENAS, skor pola pangan
harapan (PPH) tahun 2009 mencapai 75,7 (sasaran 2015 = 95) yang mengindikasikan
bahwa keragaman pola konsumsi pangan masyarakat belum terwujud, dan konsumsi
masyarakat masih didominasi oleh kelompok padi-padian.
Peran dan dukungan penyuluhan sangat diperlukan dalam
program
swasembada pangan, pemanfatan keragaman produksi dan konsumsi pangan
masyarakat, penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya lokal, peningkatan
keamanan pangaan
serta
penurunan
konsumsi beras minimal sebesar 1,5% per
tahun (Suprapto, A, 2011). Implementasi dukungan penyuluhan dapat dilihat dari UU
Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, perikanan dan Kehutan,
pengawalan dan pendampingan penyuluh di sentra produksi padi, jagung dan kedelai
serta penetapan kebijakan satu desa satu penyuluh.
Teknologi
pertanian
dari
Badan
Litbang
yang
telah
tersedia
dalam
pengembangan produksi komoditas pangan, hortikultura,dan ternak serta pengolahan
hasil pertanian dapat menunjang pemanfaatan pekarangan rumah oleh masyarakat.
Hasil pemanfaatan pekarangan rumah diharapkan dapat
mewujudkan kemandirian
pangan rumah tangga dan peningkatan pendapatan yang pada pada akhirnya akan
meningkatkan kesejateraan masyarakat.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
4
1.3. Tujuan
1.
Memperoleh data dan informasi rumah tangga tentang tingkat pemanfaatan
pekarangan.
2.
Meningkatkan keterampilan keluarga dalam pemanfaatan lahan pekarangan
melalui diseminasi teknik budidaya sayuran, tanaman obat, pangan lokal, buahbuahan, ternak dan ikan.
3.
Memenuhi
kebutuhan
pangan
dan
gizi
keluarga
secara
lestari
dan
berkesinambungan melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan Kebun Bibit
Inti/Desa.
1.4. Keluaran
1.
Tersedianya
informasi karakteristik
rumah tangga tentang pemanfaatan
pekarangan pada 1 lokasi
2.
Meningkatnya keterampilan keluarga dalam pemanfaatan lahan pekarangan
sebanyak 50 orang.
3.
Tersedianya kebun bibit Inti/Desa dengan komoditas sayuran, tanaman obat,
pangan lokal dan buah-buahan sebanyak 200-250 pot/polibag, ternak sebanyak
2 unit dan ikan sebanyak 1 unit.
1.5. Perkiraan Outcome
1.
Terciptanya 1 (satu) Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) melalui
peningkatan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan
pekarangan di perkotaan maupun pedesaan untuk budidaya tanaman pangan,
buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan ikan,
pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.
1.6. Prakiraan Manfaat (Benefit)
1.
Melalui pengelolaan pekarangan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi
keluarga, menghemat pengeluaran dan juga dapat memberikan tambahan
pendapatan bagi keluarga sebesar 15-20 %.
2.
Pelaksanaan pelatihan
rumahtangga keluarga
mampu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan
dalam mengelola tanaman sayuran, pangan lokal,
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
5
tanaman obat di pekarangan, bedengan lahan, pot/polibag serta mengelola
ternak itik dan kolam ikan di lokasi utama dan percontohan M-KRPL.
1.7. Perkiraan Dampak (Impact)
1.
Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan melalui penggunaan inovasi
pertanian oleh keluarga/rumahtangga sebesar 15-20 %.
2.
Tambahan pendapatan dan pemehuhan kebutuhan konsumsi serta penghematan
pengeluaran keluarga/rumahtangga sebesar 15-20 %.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Konsep dan batasan Rumah Pangan Lestari adalah rumah yang memanfaatkan
pekarangan secara intensif melalui pengelolaan sumberdaya alam lokal secara
bijaksana, yang menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara
dan meningkatkan kualitas, nilai dan penganekaragaman, dimana Model Kawasan
Rumah Pangan lestari (Model KRPL) diwujudkan dalam satu dusun (kampung) yang
dilengkapi dengan fasilitas umum dengan pengembangan komoditas pilihan secara
komersial serta penyedian bibit
untuk keberlanjutan (Kementrian Pertanian, 2011).
Pemanfaatan lahan pekarangan ditujukan untuk memperoleh manfaat yang sebesarbesarnya melalui pengelolaan lahan pekarangan secara intensif dengan tata letak
sesuai pemilihan komoditas. Pennelompokkan lahan pekarangan dibedakan atas
pekarangan perkotaan dan pedesaan, masing-masing memiliki spesifikasi baik
menetapkan komoditas yang akan ditanam, besarnya skala usaha pekarangan maupun
cara menata tanaman ternak.
Persoalan dalam proses produksi pangan segar dan olahan juga mempunyai
banyak dimensi, mulai dari persoalan penyusutan luas lahan produksi akibat konversi
penggunaannya untuk usaha non-pertanian pangan sampai pada petani yang tidak
termotivasi untuk meningkatkan produktivitas lahannya karena tidak berkorelasi positif
dengan peningkatan pendapatannya. Spektrum persoalan ini tak semuanya berada
dalam koridor teknologi. Namun demikian, kompleksitas persoalan pangan tak boleh
menyurutkan optimisme untuk meningkatkan peran dan kontribusi teknologi terhadap
upaya pemenuhan kebutuhan pangan untuk seluruh rumah tangga Indonesia.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
6
Jutaan keluarga petani kecil produsen pangan menjadi penopang utama
kebutuhan pangan 230 juta penduduk Indonesia hingga sekarang. Mereka mengelola
sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan budi daya tanaman pangan dan tanaman
perdagangan serta ternak. Pola yang ini dikembangkan dari generasi ke generasi ini
terbukti berhasil memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan pendapatan keluarga, juga
menjaga kelestarian lingkungan. Sekitar 25 juta rumah tangga petani Indonesia setiap
tahunnya memproduksi pangan, meliputi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, dan ubi jalar
dengan nilai sekitar Rp 258,2 triliun (Kompas, 2010).
Swasembada
beras
pada
tahun
1984
dan
2008
belum
menunjukan
keberhasilan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional karena tidak diikuti oleh
meningkatnya keragaman produksi dan konsumsi pangan masyarakat. Pada saat ini,
Indonesia masuk kedalam jebakan pangan (food entrapment), yaitu terjadinya
sentralisasi terhadap beras sebagai sumber pangan. Seharusnya, pangan tidak hanya
berhenti pada karbohidrat tetapi juga protein, lemak, vitamin dan mineral. Kondisi
tersebut dapat terlihat dari semakin meningkatnya kebutuhan beras bagi masyarakat
Indonesia. Pada tahun 1960-an, konsumsi beras per kapita rakyat Indonesia sekitar
130 kg/tahun.
Namun, rata-rata konsumsi beras masyarakat Indonesia meningkat
menjadi 139,15 kg/kap/tahun pada kurun waktu tahun 2006-2009. Nilai ini berada di
atas rata-rata konsumsi beras dunia sebesar 60 kg/kap/tahun.
Berdasarkan data SUSENAS, skor pola pangan harapan (PPH) tahun 2009
mencapai 75,7 (sasaran 2015 = 95) yang mengindikasikan bahwa keragaman pola
konsumsi pangan masyarakat belum terwujud, dan konsumsi masyarakat masih
didominasi oleh kelompok padi-padian (Berita Pertanian Online, Jum’at 17 September
2010). Produk pangan dari hutan pada umumnya berupa pangan non – beras. Produk
pangan dari hutan tersebut belum banyak dimanfaaatkan oleh masyarakat, karena
pola konsumsi yang masih mengandalkan beras. Dengan jumlah penduduk yang
semakin bertambah serta persaingan pemanfaatan sumberdaya lahan yang semakin
ketat, maka dominasi beras dalam peta konsumsi penduduk ini semakin memberatkan
beban pemerintah dalam memenuhi kecukupan pangan masyarakat.
Pemasyarakan diversifikasi
pangan merupakan faktor yang sangat penting
agar ketergantungan pada beras dapat dikurangi dengan meningkatkan
kontribusi
penyediaan pangan non beras. Pola konsumsi yang buruk sangat terkait erat dengan
akses masyarakat dalam memperoleh sumber pangan akibat kemiskinan. Kenyataan
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
7
lapangan menunjukan bahwa banyak penduduk miskin yang mengalami rawan
pangan.
Untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan gizi masyarakat dapat
diawali dari pemanfaatan lahan pekarangan, dimana pekarangan dapat dikelola oleh
keluarga dalam menghasilkan bahan pangan seperti umbian, sayuran, buah-buahan,
bahan tanman rempah dan obat ternak unggas sehingga diperoleh manfaat
terpenuhinya kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, penghematan pengeluaran dan
tambahan pendapatan (Kementrian Pertanian, 2011). Untuk menjamin keberlanjutan
usaha pemanfaatan pekarangan maka ketersedian bibit perlu diperhatikan dengan
membangun kebun Bibit Desa (KBD). Keberlanjutan pengembangan rumah pangan
lestari dapat diwujudkan melalui pengaturan pola dan rotasi tanaman rumah pakan
lestari sehingga dapat memenuhi pola pangan harapan dan memberikan kontribusi
pendpatan keluarga.
Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari di Kayen, Pacitan Jawa Timur
memberikan dampak kepada Kepala Keluarga (KK) dimana setiap KK mampu menekan
belanja pengeluaran kebutuhan rumahtangganya Rp. 125.000-Rp.445.000 per bulan
dan Pola Pangan Harapan (PPH)nya naik dari 73.5% menjadi 87,5% (Sinar Tani ,
2011).
III. METODA PENELITIAN
3.1. Ruang Lingkup Kegiatan
Sasaran yang ingin dicapai dari Model KRPL ini adalah berkembangnya
kemampuan keluarga dan masyarakat secara ekonomi dan sosial, dalam memenuhi
kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan masyarakat yang
mandiri dan sejahtera.
Ruang lingkup kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari meliputi : (1)
Konsinyasi, (2) Pengumpulan informasi awal tentang potensi sumberdaya dan
kelompok
sasaran (3) Koordinasi dengan Dinas Terkait di Kabupaten/Kota untuk
mencari kesepakatan dalam penentuan calon kelompok sasaran dan lokasi, 4) memilih
pendamping yang menguasai teknik perberdayaan masyrakat sesuai criteria yang telah
ditentukan, 4) sosialisasi, menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan dan membuat
kesepakatan awal untuk rencana tindak lanjut yang akan dilakukan kepada kelompok
sasaran dan pemuka masyarakat serta petugas instansi terkait (5) penguatan
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
8
Kelembagaan Kelompok, (6). Perencanaan kegiatan, terutama rancang bangun
pemanfaatan lahan pekarangan (7). Pelatihan (8) pelaksanaan kegiatan , (9) Temu
lapang (10). Monitoring dan evaluasi, (11) pelaporan.
3.2. Waktu dan Lokasi Pengkajian
Pelaksanaan kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan lestari diadakan di
Kabupaten Serang dengan 2 (dua) lokasi kegiatan yaitu Kebun Percobaan Singamerta,
Kecamatan Ciruas dan Desa Kramat Watu, Kecamatan Kramat Watu. Pemilihan
komoditas disesuaikan berdasarkan agroekosistem setempat.
Kegiatan pengkajian
dimulai pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2011.
3.3. Bahan dan Alat
Bahan vertikultur (rak, media tanam dll), bahan tanaman bedengan, benih/bibit
tanaman toga, sayuran,buah dan pangan local serta tanaman pagar, pupuk, bahan
kandang (bamboo, waring dll), ternak unggas dan perikanan.
3.4. Metode Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan yang akan digunakan dalam kegiatan kawasan rumah
pangan lestari, mengacu pada pedoman umum Model Kawasan Rumah Pangan Lestari
(MKRPL). Tahapan-tahapan yang akan dilaksanakan dalam MKRPL, yaitu :
1. Tahap Persiapan. Kegiatan yang akan dilakukan dalam tahap ini, adalah :
(a) Pengumpulan informasi awal tentang potensi sumberdaya dan kelompok
sasaran,
(b) Pertemuan dengan dinas terkait untuk mencari kesepakatan dalam penentuan
calon kelompok sasaran dan lokasi,
(c) Kooordinasi dengan Dinas Pertanian dan Dinas Terkait lainnya di Kabupaten,
(d) Memilih pendamping yang menguasai teknik pemberdayaan masyarakat sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan.
2. Tahapan Pembentukan Kelompok: Kelompok sasaran adalah rumahtangga atau
kelompok rumahtangga dalam satu Rukun Tetangga, Rukun Warga atau satu
dusun/kampung. Pendekatan pembentukan kelompok
adalah partisifatif dengan
melibatkan kelompok sasaran, tokoh masyrakat dan perangkat desa. Kelompok
dibentuk dari, oleh, dan untuk kepentingan para anggota kelompok itu sendiri.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
9
3. Sosialisasi: Kegiatan sosialisasi dilakukan terhadap kelompok sasaran, pemuka
masyarakat dan petugas pelaksana terkait maksud dan tujuan kegiatan serta
membuat kesepakatan awal untuk rencana tindak lanjut yang akan dilakukan.
4. Survey baseline data tentang sosiobiofisik dan profil rumahtangga/KK di wilayah
desa lokasi KRPL. Identifikasi stratifikasi rumahtangga atau pengelompokkan tipe
lahan rumahtangga kepada :
a). Kelompok lahan pekarangan
sempit (tanpa
halaman), b). pekarangan sempit (< 120 m2), c). pekarangan sedang (120-400m2)
dan d). pekarangan luas (> 400 m2).
5. Penguatan
Kelembagaan
Kelompok,
dilakukan
untuk
meningkatkan
kemampuan kelompok dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi serta dapat
bekerjasama (gotong royong).
6. Perencanaan
Kegiatan:
adalah
melakukan
perencanaan/rancang
bangun
pemanfaatan lahan pekarangan dengan menanam berbagai tanaman pangan,
sayuran dan obat keluarga dan ternak serta penyusunan rencana kerja oleh
kelompok.
7. Pelatihan : Jenis pelatihan yang dilakukan diantaranya: teknik budidaya tanaman
pangan, buah dan sayuran, toga, teknik budidaya ikan dan ternak, pengolahan hasil
dan pemasaran serta teknologi pengelolaan limbah rumah tangga. Jenis pelatihan
lainnya adalah tentang penguatan kelembagaan.
8. Pelaksanaan : Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh kelompok dengan pengawalan
teknologi oleh peneliti dan pendampingan antara lain oleh Penyuluh.
3.3.1. Pelaksanaan kegiatan M-KRPL
“Model Kawasan Rumah Pangan Lestari” yang dibangun dari Rumah
Pangan Lestari (RPL) prinsipnya pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan.
Tujuannya untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, peningkatan
pendapatan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemanfaatan lahan pekarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga
merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah
tangga. Kegiatan KRPL akan dilaksanakan di 2 (dua) Lokasi, yaitu di Kebun Percobaan
Singamerta, Kecamatan Ciruas dan di desa Kramat Watu, Kecamatan Kramat Watu,
Kabupaten Serang.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
10
Sesuai dengan tujuan KRPL tersebut, maka kegiatan dan program utama yang
akan dilaksanakan, diantaranya :
1. Lahan Bedengan, kegiatan yang dilakukan diantaranya :

Pembuatan bedengan

Menyiapkan media tanam dan pemupukan (pupuk kandang, kompos, pupuk
anorganik dan pestisida).

Menyediakan ajir untuk tanaman, benih, bibit sayuran dan pangan lokal
2. Kegiatan peternakan, kegiatan yang dapat dilakukan, diantaranya :

Fasillitasi perbaikan dan pembuatan sarana kandang itik

Penyediaan ternak itik

Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik dengan menggunakan
dekomposer
3. Kegiatan perikanan, kegiatan yang dilakukan, diantaranya :
 Pembuatan kolam ikan
 Penyediaan benih ikan (lele dan nila).
4. Kebun Bibit Desa dan Kebun Bibit Inti
Untuk mendukung peningkatan kemandirian pangan dan keberlanjutan
produksi sayuran, pangan lokal, tanaman obat keluarga, dan buah-buahan, perlu
adanya kebun bibit. Kebun Bibit dimaksudkan untuk menyediakan bibit/benih tanaman
yang
akan
dikembangkan
dilahan
pekarangan
masyarakat
secara
lestari
(berkesinambungan). Keberadaan kebun bibit ini dapat memenuhi kebutuhan bibit
kelompok/luar kelompok, mengatasi kesulitan bibit tanaman, dapat menambah
pendapatan keluarga. Pembangunan Kebut Bibit Desa (KBD) dan Kebun Bibit Inti (KBI)
terutama untuk tanaman sayuran, umbi-umbian dan toga. Kebun Bibit Inti dapat
berada di BPTP, sedangkan Kebun Bibit Desa berada dilingkungan kawasan. Kegiatan
yang dilaksanakan di KBD dan KBI, diantaranya :
a. Memfasilitasi bangunan kebun bibit.
b. Menyiapkan media tanaman dan pemupukan untuk tanaman.
c. Bibit tanaman diperbanyak dengan polibag, pot atau lahan.
d. Menyediakan benih dan bibit tanaman, yaitu tanaman sayuran, tanaman obat
keluarga, pangan lokal, buah-buahan serta tanaman pagar.
5. Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia
Untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pelaksana KRPL, maka perlu
adanya kegiatan pelatihan-pelatihan, workshop, magang, dan study banding.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
11
Pelaksana kegiatan yaitu peneliti, penyuluh, teknisi, staf BPTP, petugas/penyuluh
dilokasi MKRPL, kooperator anggota rumah tangga/Kepala keluarga/ibu rumah
tangga/PKK. Pelatihan-pelatihan yang dapat diberikan, diantaranya :
a.
Pelatihan dengan materi mengelola tanaman sayuran di rak vertikulture/pot
polibag/bedengan.
b.
Pelatihan menyediakan media tanam, benih/bibit sayuran, tanaman obat keluarga,
dan pangan local.
c.
Pelatihan pembuatan kompos dari limbah pertanian
d.
Penumbuhan kelompok tani dalam pengelolaan KBD.
3.3.2. Pemanfaatan lahan Pekarangan
Pemanfaatan pekarangan dengan sayuran dapat dipilih model budidaya
vertikulur baik gantung atau tempel dan pada pot/polibag dengan komoditas pilihan
sayuran, pangan lokal dan tanaman toga.
Untuk model budidaya kandang dapat
dipilih ternak unggas sedangkan untuk model bedengan dan model surjan dapat dipilih
komoditas sayuran/buah/umbi/kacang-kacangan.
Pemilihan komoditas disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lahan
pekarangan yang akan dimanfaatkan. Pola penataan pekarangan MKRPL mengikuti
tingkat strata berdasarkan luasan lahan. Untuk tanaman sayuran dapat dipilih : sawi,
kangkung, bayam, kemangi,
kacang panjang, saledri, kemangi, selada dll. Untuk
tanaman obat keluarga (Toga) dapat dipilih jahe, kencur, antanan, sambiloto, kunyit
dll. Untuk Umbi-umbian dan kacang-kacangan dapat dipilh adalah ubi kayu, tales dan
ubi jalar. Tanaman pagar yang dapat dipilih adalah mangkokan, kedondong, singkong
yang dapat digunakan untuk lalapan dan pangan local. Tanaman pagar gamal dapat
dimanfaatkan sebagai pagar hidup dan
pakan ternak yang
disukai oleh ternak
ruminansia kecil seperti kambing dan domba. Sedangkan ternak yang dapat
dimanfaatkan adalah itik dengan tujuan menghasilkan telur dan daging.
3.3.3. Model Kawasan Rumah Pangan Lestari
Prinsip Kawasan Rumah Pangan Lestari adalah penataan pekarangan dengan
berbagai
jenis
tanaman
pangan,
sayuran,
buah-buahan,
maupun
ternak
(ikan/unggas/domba). Berdasarkan prinsip tersebut maka dilakukan pengelompokkan
lahan pekarangan. Kelompok lahan pekarangan dapat dibagi menjadi pekarangan
sempit (tanpa halaman), pekarangan sempit (< 120 m2), pekarangan sedang (120Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
12
400m2) dan pekarangan luas (> 400 m2). Pengelompokan lahan pekarangan
selanjutnya dilakukan pola penataan pekarangan mengikuti strata berdasarkan luasan
lahan (Tabel 1).
Tabel 1. Pola Penataan Pekarangan Mengikuti Strata Berdasarkan Luasan Lahan
(BBP2TP, 2011)
Strata
Pola Penataan
Komoditas
I (teras)
1. Vertikultur tegak
2. Vertikultur bertingkat
3. 10 pot tanah
Sayuran petik (pakcoi, selada bokor,
selada hijau, bayam hijau, bayam
merah, kucai, kangkung, seledri,
sutra sayuran (cabe, tomat, kenikir).
Tanaman obat keluarga
II (pekarangan
sempit)
1 Mini fountain
1 vertikultur melingkar
Berbagai jenis sayuran, ikan dan
tanaman obat keluarga
III (pekarangan
sedang)
1 Mini fountain
1 vertikultur bertingkat
1 kandang unggas
bedengan
Sayuran, tanaman obat keluarga,
umbi-umbian, ikan, unggas, dan
tanaman buah-buahan
IV (pekarangan
luas)
Kolam, kandang unggas, Sayuran, toga, umbi-umbian, ikan,
bedengan polibag
unggas dan tanaman buah
Kebun Bibit
Kelompok Desa
Persemaian
bedengan, Sayuran, toga, umbi-umbian, ikan,
persemaian
vertikultur unggas dan tanaman buah
dan
persemaian
di
nampan bertingkat
Setelah lahan pekarangan rumahtangga/kelompok ditentukan maka dilakukan
perencanaan rancang bangun pemanfaatan lahan pekarangan dengan menanam
berbagai tanaman pangan, sayuran, obat keluarga dan ternak serrta pengelolaan
limbah rumahtangga.
Dari rancang bangun pemanfaatan lahan ini akan diperoleh
model KRPL di setiap lokasi/Kabupaten/ kota sesuai dengan potensi sumberdaya dan
agroekosistem wilayah setempat.
3.3.4. Pengumpulan Data
Data bersumber dari data sekunder dan data primer. Data sekunder diawali
dengan pengumpulan rujukan yang relevan, pengumpulandata dari instnasi BPS, Dinas
Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota, Badan Ketahanan Pangan Provinsi/Kabupaten,
Kecamatan. Data primer bersumber dari petugas di Provinsi, Kabupaten, Kecamatan,
Gapoktan/Poktan dan rumahtangga/kepala keluarga/KK. Jumlah rumahtangga/KK per
RT/RK di wilayah desa/kabupaten lokasi KRPL terpilih akan ditentukan bersama-sama
dengan pihak yang terkait. Untuk pengumpulan data identifikasi rumahtangga/KK di
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
13
lokasi KRPL dilakukan dengan wawancara secara perorangan dan focus group
discussion (FGD) dengan kuisioner terstruktur.
IV. HASIL dan PEMBAHASAN
4.1. Lokasi Kegiatan
Kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari di Provinsi Banten berada di 3
(tiga) lokasi. Lokasi M-KRPL yang utama di Desa Kramatwatu, Kec. Kramatwatu, Kab.
Serang. Untuk percontohan berada di lingkungan sekitar kantor BPTP Banten. Dilokasi
ini juga dibangun Kebun Bibit Inti (KBI) yang nantinya akan mensuplai benih di Kebun
Bibit Desa (KBD). Selain itu juga dilaksanakan dilokasi Kampung Ternak Domba
Terpadu di Kelurahan Juhut, Kec. Karang Tanjung, Kab. Pandeglang.
4.2. Sinergi program antara BPTP Banten dengan program pemerintah
daerah dan pemangku kepentingan yang lain
Pertemuan koordinasi, sosialisasi dan sinkronisasi kegiatan telah dilakukan oleh
BPTP Banten. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi sinergitas program
kegiatan yang ada di Pemda (Distanak, BKPD, dan instansi lainnya). Kegiatan-kegiatan
tersebut dilaksanakan dengan :
1) Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Kab. Serang dan Balai
Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec. Kramatwatu, Kab. Serang
Koordinasi dan sinkronisasi dengan Badan Ketahanan Pangan dan
Penyuluhan Kab. Serang. Pertemuan dihadiri oleh Ir. H. Budi Prihasto (Kepala BKPP
Kab. Serang) dan Ir. Mewa Ariani, MS (Kepala BPTP), Kepala BPP Kramat Watu Bp.
Hopid dan staf BPTP, staf BKPP Kab. Serang dan PPL di BPP Kec. Kramatwatu.
Pertemuan membahas rencana kegiatan Rumah Pangan Lestari yang telah
dicanangkan oleh Presiden SBY yang ditindak lanjuti oleh Kementerian Pertanian
melalui Program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari.
Dalam pertemuan membahas rencana kegiatan seperti MKRPL yang
dilaksanakan BKPP th. 2011, sedangkan dari BPTP merencanakan mencari lokasi
dengan persyaratan lokasi strategis, masyarakatnya kooperatif, partisipatif dan
inovatif. Diharapkan dengan kegiatan MKRPL yang telah jadi dapat direplikasi oleh
masyarakat dan pemerintah daerah, sehingga tujuan MKRPL untuk meningkatkan
kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat meningkat akan tercapai.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
14
Berdasarkan hasil pertemuan koordinasi dan sosialisasi tersebut ditetapkan
lokasi MKRPL berada di perumahan Griya Anggrek RW 04 RT 04 Desa Kramatwatu,
Kec. Kramat Watu, Kab. Serang. Pelaksanaan kegiatan MKRPL telah mendapat
dukungan dari Pemerintah daerah. Bentuk dukungan tersebut diimplementasikan
dengan pelaksana pendamping lapangan.
Gb 1. Koordinasi dan sinkronisasi kegiatan di kantor
BPP Kramat Watu antara Ir. Budi Prihasto (Kepala
BKPP Kab. Serang) dan Ir. Mewa Ariani, MS (Kepala
BPTP Banten)
2)
Gb 2. Pertemuan antara BKPP, BPTP, BPP serta
ketua RT dan warga Perum Griya Anggrek.
Sosialisasi ke Pemerintah Daerah Prov. Banten
Kegiatan sosialisasi MKRPL telah dilakukan ke Pemerintah Daerah Prov. Banten,
yaitu pada saat kegiatan “Diseminasi Inovasi Pertanian Spesifik Lokasi” yang
dilaksanakan oleh BPTP Banten. Sosialisasi M-KRPL dilaksanakan dengan kegiatan
penyerahan benih/bibit sayuran secara simbolis oleh Wakil Gubernur Provinsi Banten
Bp. Muhammad Masduki kepada kepala BKPP Kab. Serang, PPL Kec. Kramatwatu serta
Ketua dan anggota MKRPL Desa. Kramatwatu. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepalakepala SKPD intansi terkait bidang Pertanian.
Gb 3. Wakil Gubernur Prov. Banten menyerahkan
bibit sayuran secara simbolis kepada Perwakilan
kelompok M-KRPL Desa Kramatwatu
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
Gb 4. Kepala BPTP Banten memberikan penjelasan
M-KRPL ke Wakil Gubernur Prov. Banten dan
Kepala-Kepala SKPD instansi terkait
15
3)
Sosialisasi ke Instansi dan Perumahan Griya Anggrek
Berdasarkan hasil koordinasi dan kunjungan lapangan yang dilaksanakan
bersama-sama dengan BKPP Kab. Serang dan BPP Kec. Kramatwatu ditetapkan lokasi
kegiatan di Perumahan Griya Anggrek RW 04 RT 04 sebagai Model Kawasan Rumah
Pangan Lestari (M-KRPL) Tipe perkotaan. Selanjutnya dilakukan kegiatan sosialisasi
MKRPL di perumahan Griya Anggrek, yang dihadiri oleh Kepala BKPD Prov. Banten,
Kepala BPTP Banten, Bappeda Prov. Banten, Distanak Kab. Serang, Kecamatan
Kramatwatu, Kepala Desa Kramatwatu, Ketua RW 04, Ketua RT 04, pengurus RT dan
warga setempat. Hasil sosialisasi menunjukkan respon yang baik dan kooperatif dari
warga, sehingga kegiatan MKRPL dapat dilaksanakan di lokasi tersebut.
Gb 5. Sosialisasi kegiatan ke warga Perum
Griya Anggrek RW 04 RT 04 Desa Kramatwatu
Gb 6. Sosialisasi dan pertemuan pelaksanaan
kegiatan M-KRPL ke instansi terkait
4.3. Pendampingan Implementasi kegiatan M-KRPL
1). Identifikasi Rumah Tangga
Tahap kegiatan selanjutnya dalam MKRPL adalah identifikasi rumah tangga dan
kelompok. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi stratifikasi rumahtangga atau
pengelompokkan tipe lahan rumahtangga kepada : a). Kelompok lahan pekarangan
sempit (tanpa halaman), b). pekarangan sempit (< 120 m2), c). pekarangan sedang
(120-400 m2) dan d). pekarangan luas (> 400 m2). Kegiatan dilaksanakan melalui
wawancara dan pengisian kuesioner rumah tangga terhadap 50 responden.
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa, dilokasi kegiatan terdapat variasi lahan
pekarangan yang berada di depan, samping dan belakang rumah. Namun sebagian
besar tergolong tipe lahan pekarangan sempit (< 120 m2) dan pekarangan sedang
(120 – 400 m2). Umumnya setiap rumah mempunyai pohon mangga (arum manis,
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
16
manalagi), dan sebagian besar pekarangan ditanami dengan tanaman hias diantaranya
euphorbia, anthurium, dll. Selain itu terdapat kolam-kolam air dan lahan kosong yang
belum dimanfaatkan dan sebagian kecil ada ditanami cabe. Kegiatan pengumpulan
identifikasi rumah tangga sampai pada tahap kegiatan entry data.
Gambar 7 dan 8. Kegiatan wawancara dan pengisian kuesioner identifikasi rumah tangga
2). Pembentukan Kelompok
Untuk mendukung pengembangan kegiatan MKRPL di lokasi kegiatan, maka
perlu dibentuk suatu kelembagaan yang terpadu. Tahap awal adalah pembentukan
kelompok sebagai dasar untuk penumbuhan kegiatan agribisnis. Terdapat 5 (lima)
dasa yang ada di RT.04 perumahan Griya Anggrek, yaitu ; Anggrek I, Anggrek II,
Anggrek III, Anggrek IV dan Anggrek Raya. Selanjutnya dibentuk Kelompok Wanita
Nuju Rahayu dengan susunan organisasi, yaitu :
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Ketua Kelompok
- Anggrek Raya
- Anggrek 1
- Anggrek 2
- Anggrek 3
- Anggrek 4
Anggota Kelompok
- Anggrek Raya
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
- Anggrek 1
- Anggrek 2
:
:
- Anggrek 3
- Anggrek 4
:
:
Eriani Ningsih
Mimin Mintarsih
Yayah
Sri W
Rita
Wiwik
Lilis
Sunayati
Upik, H. Sukimarta, Hj. Ati, Rumiati, Nani Suryati,Tati,
Nur Aeni, Epon R, Hj. Eni R, Sunaiyah, Hj. Ida N
Nurhaeti, Ernawati, Wadisi, Istiyanah, Sulasmi
Sofiatun, Agustina, Sri W, Hartini, Umiyanah,Supatmi,
Halimah, Roudatus S, Irmawati
Paini, Hj. Kori K, Siti Robiah, Anggun
Ida R, Ratu M,Yayah R, Hj.Nani, Narwati, Hj. E Siti R,
Maria S, Neti A, Yani N, Mimi R, Lisa H, Umi K, Siti H
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
17
3) Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia
Tahapan kegiatan selanjutnya setelah pembentukan kelembagaan adalah
penguatan kelembagaan kelompok. Kegiatan ini dilakukan
dengan tujuan untuk
meningkatkan kemampuan kelompok dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi
serta dapat bekerjasama (gotong royong) dalam pelaksanaan MKRPL. Kegiatan
peningkatan kemampuan sumberdaya manusia yang telah dilaksanakan adalah berupa
pelatihan, study banding dan workshop, yang diikuti oleh Tim KRPL di BPTP Banten,
petugas dan Kelompok di Desa Kramat Watu. Kegiatan tersebut adalah :
a) Study Banding
Kegiatan study banding oleh anggota kelompok Desa Kramat watu ke BPTP
Banten dan berkunjung ke kebun Balitro dan BBP2TP pada acara pameran Pekan
Pertanian Spesifik Lokasi di Bogor. Untuk Tim BPTP Banten melakukan study banding
ke BPTP DKI Jakarta yang telah melaksanakan kegiatan RPL dan Situ Cipule Kab.
Karawang Jawa Barat, tempat kunjungan ibu Presiden. Diharapkan dengan kegiatan
study banding akan meningkatkan informasi dan tempat pembelajaran bagi kelompok
untuk dapat diterapkan sendiri di kelompoknya.
Gb 9 dan 10. Tim KRPL berada di kebun bibit desa Situ
Cipule Kab. Karawang, Jawa Barat dan KWT Perum
Griya Anggrek RT 04 melakukan study banding ke
Balitro dan BBP2TP di Bogor
b) Workshop
Kegiatan workshop diadakan oleh Balai Besar Pengembangan dan Pengkajian
Teknologi Pertanian (BBP2TP) Bogor, yang di ikuti oleh Tim BPTP Banten. Dalam
kegiatan tersebut dijelaskan mengenai pelaksanaan MKRPL di seluruh BPTP dengan
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
18
mencontoh kegiatan yang telah ada di Pacitan, Jawa Timur. Selain itu juga harus
melakukan sinergi dengan instansi terkait di Provinsi, organisasi-organisasi dan sinergi
dengan kegiatan di Kementerian lainnya.
c) Pelatihan
Kegiatan pelatihan diadakan di BPTP Banten dan dilokasi kegiatan MKRPL yang
diikuti oleh seluruh Tim di BPTP Banten dan warga kelompok Perum Griya Anggrek RW
04 RT 04. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan adalah :

Pelatihan persiapan media tanam (tanah dan pupuk) serta penyemaian benih/bibit
sayuran di tray/rak vertikulture/pot polibag/dan bedengan, dengan narasumber
Tim BPTP Banten dan PPL Kec. Kramatwatu.

Pelatihan pelaksanaan kegiatan MKRPL dengan materi “Budidaya Tanaman di
Pekarangan mendukung KRPL” dengan narasumber BPTP DKI (Dr. Yudi Sastro dan
Muhammad Nur, Amd)
Gb 11 dan 12. Pelatihan persiapan media tanam dan penanaman sayuran di rak vertikultur/
pot/polybag di Desa Kramatwatu
4.4. Kebun Bibit Inti/Desa
Untuk mendukung peningkatan kemandirian pangan dan keberlanjutan
produksi sayuran, pangan lokal, tanaman obat keluarga, dan buah-buahan, perlu
adanya kebun bibit. Kebun Bibit dimaksudkan untuk menyediakan bibit/benih tanaman
yang
akan
dikembangkan
dilahan
pekarangan
masyarakat
secara
lestari
(berkesinambungan).
Keberadaan kebun bibit ini dapat memenuhi kebutuhan bibit kelompok/luar
kelompok, mengatasi kesulitan bibit tanaman, dapat menambah pendapatan keluarga.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
19
Pembangunan Kebut Bibit Desa (KBD) dan Kebun Bibit Inti (KBI) terutama untuk
tanaman sayuran, umbi-umbian dan toga. Kebun Bibit Inti dapat berada di BPTP,
sedangkan
Kebun
Bibit
Desa
berada
dilingkungan
kawasan.
Kegiatan
yang
dilaksanakan di KBI adalah menyediakan benih dan bibit tanaman, yaitu tanaman
sayuran, tanaman obat keluarga, pangan lokal, buah-buahan serta tanaman pagar dan
KBD saat ini pada tahap menyediakan benih/bibit sayuran untuk kelompok.
Gb 13 dan 14. Inisiasi Kebun Bibit Inti (KBI) di BPTP Banten dengan komoditas sayuran,
tanaman obat dan buah-buahan.
Gb 15 dan 16. Kepala BPTP Banten dan Kepala BKPD Prov. Banten memberikan arahan untuk
kegiatan Inisiasi Kebun Bibit Desa (KBD) di Perum Griya Anggrek RW 04 RT 04 Desa Kramat Watu
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
20
4.5. Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL)
Prinsip Kawasan Rumah Pangan Lestari adalah penataan pekarangan dengan
berbagai
jenis
tanaman
pangan,
sayuran,
buah-buahan,
maupun
ternak
(ikan/unggas/domba). Pada saat ini kegiatan M-KRPL telah diterapkan di Desa
Kramatwatu, Kec. Kramatwatu, Kab. Serang dan di Desa Juhut, Kecamatan Karang
Tanjung, Kab. Pandeglang. Kegiatan yang telah dilakukan terkait dengan komoditas
tanaman adalah :
a. Desa Kramat Watu
Pada saat ini di Desa Kramatwatu dengan tipe lahan perkotaan terdapat 3
(tiga) paket kegiatan, yaitu :
1. Strata I (teras) : 1 rak vertikulture, pot/polybag dengan tanaman sayuran
kangkung, bayam, caisim dan bawang merah.
2. Strata II (pekarangan sempit) : 1 rak vertikulture, pot/polybag dan bedengan lahan
kecil dengan tanaman kangkung, bayam, caisim, bawang merah, cabe dan tomat.
3. Strata III (pekarangan sedang) :
- 1 rak vertikulture, pot/polybag dan bedengan lahan sedang dengan tanaman
sayuran kangkung, bayam, caisim, bawang merah, cabe, dan kolam ikan lele
- lahan bedengan dengan komoditas tumpangsari kacang tanah dan jagung, serta
bedengan kacang panjang.
Gambar 17. Pemanfaatan Lahan Pekarangan di Desa Kramatwatu
Strata I (teras) 1 rak vertikulture,
pot/polybag sayuran
Strata II (pekarangan sedang) 1 rak vertikulture, pot/polybag
dan bedengan lahan kecil tanaman sayuran
Strata III (pekarangan sedang) : 1 rak vertikulture, pot/polybag dan bedengan lahan tanaman sayuran
dan tanaman hias, serta kolam ikan lele
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
21
Strata III (pekarangan sedang) : lahan bedengan kacang panjang dan tumpangsari jagung dan kacang
tanah
b. BPTP Banten
Pada saat ini di sekitar lingkungan kantor BPTP Banten baik yang disekitar
kantor dan di Kebun Percobaan Singamerta terdapat 4 (empat) paket kegiatan, yaitu :
1. Strata I (teras) : rak vertikulture, pot/polybag dengan tanaman sayuran kangkung,
bayam, caisim, bawang merah, selada, cabe, seledri, kucai, tanaman hias (sedap
malam) dan tanaman obat-obatan (kencur, sambiloto, daun dewa, dll).
2. Strata II (pekarangan sempit), terdiri dari :
- rak vertikulture, pot/polybag dan bedengan lahan kecil dengan tanaman
kangkung, bayam, caisim, bawang merah, cabe dan tomat.
- 1 rak vertikulture, pot/polybag dengan tanaman kangkung, bayam, caisim,
bawang merah, cabe, selada, tomat dan kolam ikan lele.
3. Strata III (pekarangan sedang) : lahan bedengan dengan komoditas sayuran
caisim, kangkung, bayam, kacang panjang, dan timun.
4. Strata IV (pekarangan luas) : rak vertikulture, pot/polybag dan bedengan lahan
sedang dengan tanaman sayuran kangkung, bayam, caisim, bawang merah, cabe,
tanaman hias (sedap malam), kolam ikan nila, ternak itik, domba/kambing dan
pembuatan kompos
Gambar 18. Pemanfaatan Lahan di BPTP Banten
Strata I (teras) : rak vertikulture, pot/polybag dengan
tanaman sayuran kangkung, bayam, caisim, bawang merah,
selada, cabe, seledri, kucai, tanaman hias (sedap malam) dan
tanaman obat-obatan (kencur, sambiloto, daun dewa, dll)
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
22
Strata II (Pekarangan sedang) 1 rak
vertikulture, pot/polybag dengan tanaman
kangkung, bayam, caisim, cabe, selada,
tomat, terong dan kolam ikan lele
Strata IV(pekarangan luas) : rak vertikulture, pot/polybag dan bedengan lahan sedang
dengan tanaman sayuran kangkung, bayam, caisim, bawang merah, cabe, tanaman hias
(sedap malam), kolam ikan nila, ternak itik, ternak domba dan pembuatan kompos
Strata III (pekarangan sedang) : lahan bedengan dengan komoditas sayuran caisim,
kangkung, bayam, kacang panjang, dan timun
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
23
c. Kelurahan Juhut
Pada tahun 2011 BPTP mempunyai kegiatan program Model pengembangan
pertanian perdesaan melalui inovasi (M-P3MI) salah satunya berada di Kelurahan
Juhut, Kec. Karang Tanjung, Kab. Pandeglang. Salah satu target yang ingin dicapai
dari program MP3MI di wilayah ini al : meningkatkan perluasan produksi sayuran
dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Umumnya petani di Kelurahan Juhut lahan
sayuran berada jauh dari pemukiman, sedangkan kegiatan beternak domba berada di
sekitar pemukiman. Oleh karena itu di laksanakan inisiasi M-KRPL di Kelurahan Juhut,
dengan tipe pemanfaatan lahan pekarangan perdesaan. Diharapkan kegiatan ini dapat
meningkatkan pendapatan dan mempersingkatkan waktu dan jarak tempuh dalam
bertanam sayuran.
Pada saat ini di Kelurahan Kramatwatu dengan tipe lahan perdesaan terdapat 3
(tiga) paket kegiatan, yaitu :
1. Strata I (teras) : rak vertikulture, pot/polybag dengan tanaman sayuran kangkung,
caisim, daun bawang, seledri dan kembang kol.
2. Strata II (pekarangan sempit) : rak vertikulture, pot/polybag dengan tanaman
sayuran kangkung, caisim, daun bawang, seledri, kembang kol dan kandang
domba.
3. Strata III (pekarangan sedang) :
-
pot/polybag dengan tanaman sayuran kembang kol, kandang domba, dan
inisiasi tempat kompos domba.
-
lahan bedengan dengan komoditas pangan lokal (talas beneng).
Gambar 19. Pemanfaatan lahan pekarangan di Kelurahan Juhut
Strata I (teras) : rak vertikulture, pot/polybag
dengan tanaman sayuran kangkung, caisim,
daun bawang, seledri dan kembang kol
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
Strata III (teras) : pot/polybag dengan
tanaman kembang kol, kandang domba,
tempat kompos
24
Gb. Strata III : lahan bedengan dengan
komoditas pangan lokal (talas beneng)
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
Gb. Kepala BPTP Banten menyerahkan
bibit secara simbolis untuk inisiasi M-KRPL
di Desa Juhut
25
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Terdapat 3 (tiga) paket kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari yang telah
telah diterapkan yaitu Desa Kramatwatu, Kab. Serang dan telah diinisiasi di
Kelurahan Juhut, Kab. Pandeglang serta ada 4 (empat) paket kegiatan di sekitar
kantor BPTP Banten.
2. Pada akhir tahun 2011 telah berkembang Kebun Bibit Inti/Desa sehingga dapat
menyediakan berbagai macam komoditas tanaman (sayuran, tanaman obat, buahbuahan, dan pangan lokal) yang siap digunakan oleh stakeholder baik instansi
terkait dan warga disekitarnya.
SARAN
Perlu adanya kegiatan sosialisasi dan sinkronisasi kegiatan ke pemerintah
daerah, kementerian/Lembaga lainnya, lembaga dan organisasi-organisasi lainnya.
Kegiatan ini dapat mempercepat keberhasilan kegiatan MKRPL.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
26
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2008a. Teknologi Budidaya Itik. Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan litbang Pertanian. 16 halaman.
Anonimous. 2008b. Teknologi Budidaya cabai Merah. Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan litbang Pertanian. 24 halaman.
Kementrian Pertanian 2011. Pedoman Umum Model Kawasan Rumah Pangan Lestari.
Kementrian Pertanian. 42 halaman.
Lakitan, B. 2011. Sinas Ketahanan Pangan untuk Kesejahteraan Rakyat. Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXXI. Hotel Peninsula
Jakarta, 29 September 2011. 20 halaman.
Santoso, H. 2011. Peran Sektor Kehutanan Dalam Mendukung Akses Pangan. Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXXI. Hotel Peninsula
Jakarta, 29 September 2011. 20 halaman.
Suprapto, A. 2011. Peran Penyuluhan dalam mendukung Ketahanan Pangan. Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXXI. Hotel Peninsula
Jakarta, 29 September 2011. 20 halaman.
Laporan Akhir M-KRPL TA. 2011 BPTP Banten
27