Untitled - Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Transcription

Untitled - Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
ADVOKASI SURAT TANDA REGISTRASI APOTEKER TAHUN 2013
Pada tanggal 25 s.d. 28 April 2013
dilaksanakan Kegiatan Advokasi Surat
Tanda Registrasi Apoteker (STRA)
Tahun 2013 di Hotel Garden Permata,
Bandung.
Kegiatan ini bertujuan untuk (a)
mengadvokasikan kebijakan
pemerintah dalam meningkatkan
mutu tenaga kefarmasian; (b)
menjelaskan kewajiban apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian;
dan (c) mengadvokasikan sistem
registrasi online.
Pertemuan ini secara resmi dibuka
oleh Direktur Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dan
dihadiri oleh perwakilan dari Dinas
Kesehatan Provinsi seluruh
Indonesia;perwakilan Pengurus
Daerah Ikatan Apoteker seluruh
Indonesia; perwakilan Ketua Program
Studi Apoteker seluruh Indonesia.
Direktur Jenderal Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan, Dra. Maura Linda
Sitanggang, Ph.D dalam paparannya
menyampaikan hal-hal sebagai
berikut:
Sebagai salah satu bagian dari
pembangunan nasional,
pembangunan kesehatan Indonesia
diarahkan kepada pencapaian visi
'Masyarakat Sehat yang Mandiri dan
Berkeadilan'. Visi tersebut sekaligus
menjawab tantangan pencapaian
Millennium Development Goals
bidang Kesehatan, yang antara lain
menitikberatkan kepada penurunan
angka kematian bayi, peningkatan
kesehatan ibu dan pemberantasan
penyakit menular.
Di bidang kefarmasian, upaya
tersebut didukung oleh faktor-faktor:
1). Ketersediaan obat esensial generik
di sarana pelayanan kesehatan
dasar,
2).Mutu dan keamanan alkes dan
PKRT yang beredar,
3).Penggunaan obat rasional melalui
pelayanan kefarmasian yang
berkualitas,dan
4).Produksi bahan baku dan obat
termasuk obat tradisional serta
kualitas produksi dan distribusinya.
Guna mewujudkan faktor-faktor
pendukung pencapaian target MDG's
tersebut, maka apoteker perlu
mengambil peran aktif dalam setiap
dinamika pelayanan kesehatan
dengan mengaktualisasikan
kompetensi yang dimiliki. Salah satu
dinamika yang sangat dinantikan
masyarakat adalah pemberlakuan
j a m i n a n ke s e h a t a n n a s i o n a l
(universal coverage) yang akan
dimulai di tahun 2014 mendatang,
sebagai salah satu bentuk
pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial
Nasional. Dengan pemberlakuan
jaminan tersebut, maka seluruh
warga Negara Indonesia akan dicakup
d a l a m p e r l i n d u n ga n j a m i n a n
kesehatan. Hal ini diprediksi akan
meningkatkan pemanfaatan
p e l aya n a n ke s e h ata n fo r m a l ,
termasuk pelayanan kefarmasian.
Pada saat itu, kemampuan tenaga
kefarmasian - terutama apoteker untuk menyelenggarakan pelayanan
yang cost-effective akan sangat
diperlukan. Maka, sudah saatnya
insan tenaga kefarmasian membekali
dirinya dengan bekal pengetahuan
dan kemampuan yang diperlukan
untuk penyelenggaraan pelayanan
kefarmasian yang cost-effective.
Pemerintah memberikan perhatian
yang besar terhadap pelaksanaan
pekerjaan kefarmasian, terutama
dengan mempertimbangkan
keluhuran profesi tenaga kefarmasian.
Hal tersebut telah diakomodir dalam
berbagai tingkatan peraturan.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan
menyebutkan bahwa praktik
kefarmasian harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki
keahlian dan kewenangan sesuai
d e n ga n ke t e n t u a n p e ra t u ra n
perundang-undangan. Penjelasan
ketentuan tersebut tertuang dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 51
tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian, bahwa apoteker adalah
tenaga kefarmasian yang berhak
melakukan pekerjaan kefarmasian di
sarana produksi, distribusi, dan
pelayanan kefarmasian.
Menteri Kesehatan mengeluarkan
Permenkes No. 889 tahun 2011
tentang Registrasi, Izin Praktik, dan
Izin Kerja Tenaga Kefarmasian, yang
antara lain mengatur berdirinya
Komite Farmasi Nasional (KFN).
Komite ini bertugas untuk
meningkatkan mutu apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian dalam
melakukan pekerjaan kefarmasian,
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 03
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
sesuai dengan yang diamanatkan oleh
peraturan. Peningkatan mutu
tersebut dilaksanakan dengan
menerapkan sertifikasi dan registrasi,
pendidikan dan pelatihan
berkelanjutan, serta pembinaan dan
pengawasan tenaga kefarmasian.
Sampai saat ini melalui divisi
Sertifikasi dan registrasi telah
teregister di KFN sebanyak 40.860
orang apoteker dengan prosentase
23% laki-laki dan 77% perempuan.
Dinamika yang terjadi di dunia
ke s e h a t a n m e n u n t u t t e n a g a
kefarmasian untuk senantiasa
melakukan pembaharuan dan
peningkatan kompetensi. Selain harus
mampu melaksanakan pekerjaan
kefarmasian sesuai standar, apoteker
juga dituntut untuk mengikuti
perkembangan ilmu kefarmasian
terkini dan pemutakhiran informasi
dan regulasi yang berlaku secara
nasional maupun global. Dengan
d e m i k i a n , d i h a ra p ka n te n a ga
kefarmasian dapat memberikan
kontribusi nyata dalam tatanan
kesehatan masyarakat. Di samping
itu, pemerintah mengharapkan
tenaga kefarmasian yang tidak hanya
kompeten dan profesional di
bidangnya, tetapi juga menjadi insan
yang taat hukum dengan mematuhi
Hal.04 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
peraturan yang telah ditetapkan.
Komite Farmasi Nasional melalui
Divisi Pembinaan dan Pengawasan
berkewajiban untuk memastikan
kebenaran pelayanan kefarmasian.
Berbagai tindakan yang mengarah
pada bentuk malpraktik kefarmasian
maupun tindakan indisipliner tenaga
kefarmasian perlu diantisipasi melalui
pembinaan dan pengawasan. Hal ini
dilakukan demi menjamin kualitas
pelayanan kefarmasian yang pada
akhirnya akan meningkatkan quality
of health dan quality of life
masyarakat.
Tenaga kefarmasian yang handal akan
dihasilkan dari sistem pendidikan
yang berkualitas. Untuk itu, standar
pendidikan farmasi perlu menunjang
kebutuhan akan tenaga kefarmasian
yang kompeten. Penyelenggaraan
pendidikan yang terakreditasi akan
menjamin kualitas produk lulusannya.
Di samping itu, pendidikan
berkelanjutan perlu dilakukan dalam
m e n j a ga ku a l i ta s ya n g te l a h
dihasilkan melalui pendidikan yang
terakreditasi. Continuous
professional development (CPD)
dapat dilakukan melalui seminar
kefarmasian dengan sistem satuan
kredit profesi. Tenaga kefarmasian
yang melakukan pekerjaan dengan
kewenangan mandiri harus memiliki
kompetensi yang ditunjukkan oleh
sertifikat kompetensi. Dalam hal
inilah Divisi Pendidikan dan Pelatihan
Berkelanjutan Komite Farmasi
Nasional memberikan andilnya dalam
meningkatkan mutu tenaga
kefarmasian di Indonesia.
Keberadaan KFN pada hakekatnya
ditujukan untuk melindungi
m a sya ra kat , m e m e l i h a ra d a n
m e n i n g k a t k a n m u t u
penyeleng garaan pekerjaan
kefarmasian serta kepastian hukum
bagi masyarakat penerima pelayanan
dan Apoteker pemberi pelayanan.
Bertolak dari pemikiran tersebut
maka keanggotaan KFN yang terdiri
dari wakil-wakil dari Kementerian
Kesehatan, Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, IAI dan Asosiasi
Pendidikan Tinggi Farmasi dapat
memberikan kontribusi yang nyata
terutama bagi status dan peran
Apoteker sebagai tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan memberikan
apresiasi atas upaya KFN yang sejak
pembentukannya sampai saat ini
telah berhasil menyelesaikan STRA
dan bagi Apoteker yang baru lulus
sudah dapat secara langsung
mendapat STRA.
Dalam melakukan registrasi, kini
dapat memanfaatkan kemajuan
IPTEK di bidang informatika, yaitu
penggunaan registrasi secara online.
Dengan adanya fasilitas ini
diharapkan dapat dimanfaatkan
sebaik-baiknya.
Hasil dari sistem ini memudahkan
berbagai pertanyaan yang berkaiatan
dengan jumlah dan penyebaran
tenaga kefarmasian di Indonesia. KFN
dengan membagi 3 Divisi diharapkan
terus meningkatkan motivasinya.
Divisi pendidikan hendaknya terus
menerus bekerja sama dengan APTFI,
IAI dan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan sehingga seluruh
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
Institusi Pendidikan Tinggi Farmasi
dapat melahirkan Apoteker yang
berkualitas.
Divisi sertifikasi, registrasi dan lisensi
diharapkan dapat meningkatkan kerja
sama dengan IAI untuk kemudahan
pelaksanaan registrasi dan reregistrasi. Kemudahan dimaksud
dengan tetap memperhatikan mutu
a p o t e ke r m e l a l u i p r o s e s u j i
kompetensi dan atau porto folio
sehing ga dihasilkan sertifikat
kompetensi yang dapat memberikan
jaminan kualitas apoteker. Harapan
Kementerian Kesehatan agar IAI dan
APTFI menjalin kerja sama yang erat
untuk menyelenggarakan pendidikan
berkelanjutan.
Divisi pembinaan dan pengawasan
diharapkan dapat membuat berbagai
sarana untuk melihat kinerja
apoteker. Hendaknya kinerja apoteker
dapat meningkat setahap demi
setahap.
Dalam kaitan ini sesuai amanat PP
51/2009 dan Permenkes
889/Menkes/Per/V/2011, sudah
saatnya KFN segera membentuk
Komite Disiplin. Komite Disiplin ini
dapat mengambil contoh MKDKI yang
a d a p a d a Ko n s i l Ke d o k t e ra n
Indonesia.
Komite Farmasi Nasional
b e r ko o r d i n a s i d e n g a n D i n a s
Kesehatan Kabupaten/kota dalam hal
pengurusan izin kerja maupun izin
praktik dengan STRA sebagai
prasyarat kepengurusan izin tersebut.
M e l a l u i ke m a j u a n t e k n o l o g i ,
koordinasi akan dipermudah dengan
adanya sistem registrasi online. Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini,
akan dimulai registrasi apoteker
secara online, yang ke depannya akan
dilaksanakan sistem online STRTTK.
Sistem ini juga harus dipahami oleh
organisasi profesi dan institusi
pendidikan tinggi penyelenggara
program studi serta koordinator
registrasi apoteker.
Materi-materi lainnya yang dibahas
dalam pertemuan ini adalah sebagai
berikut: Laporan Program Kerja KFN
2011-2012 oleh Ketua Komite Farmasi
Nasional, Drs. Purwadi, Apt, MM, ME;
Sosialisasi Program Divisi Pembinaan
dan Pengawasan KFN oleh Drs.
Ahaditomo, Apt, MS; Konsep
Pemikiran KFN dalam Rangka
Pendidikan Profesi Farmasi oleh Dr.
Tutus Gusdinar Kartawinata, Apt;
Sertifikasi, Registrasi dan Lisensi serta
Penyelenggaraan Praktik Apoteker
oleh Dr. Faiq Bahfen, SH; Langkah
Kongkrit IAI dalam Mendukung UU
Kesehatan, PP 51 Tahun 2009 dan
Permenkes 889 Tahun 2011 oleh
Ketua Umum PP IAI M. Dani Pratomo;
Langkah Kongkrit APTFI dalam
Mendukung UU Kesehatan, PP 51
Tahun 2009 dan Permenkes 889
Tahun 2011 oleh Elly Wahyudin;
Penyelenggaraan Program
Pendidikan Profesi Apoteker dalam
kaitannya dengan PP 51/2009 dan
Permenkes 889/201; Peranan Dinas
Kesehatan dalam Pelaksanaan PP
51/2009 dan Permenkes 889/2011,
Permasalahan, Kendala dan Saran
oleh Drs. Arif Zaidi, Apt sebagai
perwakilan dari Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur
Dengan adanya pertemuan ini
diharapkan adanya kesamaan
pemahaman tentang
ke b i j a ka n p e m e r i n ta h d a l a m
meningkatkan mutu tenaga
kefarmasian; kewajiban apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian;
dan penggunaan sistem registrasi
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 05
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
KUNJUNGAN KERJA
MENTERI KESEHATAN KE PROVINSI SUMATERA UTARA
Pada tanggal 25 s.d 27 April 2013,
Menteri Kesehatan melakukan
kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera
Utara. untuk melihat sejauh mana
realisasi percepatan pencapaian
MDGs dan membantu seluruh jajaran
kesehatan di Sumatera Utara untuk
mencapai MDGs pada tahun 2015.
Dalam kunjungan ini, Menteri
Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A,
MPH didampingi Dirjen Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga
Aditama, Sp(K), Staf Ahli Menteri
Bidang Pembiyaan dan
Pemberdayaan Masyarakat, dr.
Yusharmen, D. Comm. H, M.Sc. dan
Direktur Bina Upaya Kesehatan
Rujukan, dr. Chairul Radjab Nasution.
Dalam kunjungannya, Menkes
menyampaikan paparan target dan
capaian MDGs tahun 2008-2012 yang
sudah terealisasi di Provinsi Sumatera
Utara dihadapan Sekretaris Daerah
Prov. Sumatera Utara Nurdin Lubis,
SH. MM, Kepala Dinas Provinsi
Sumatera Utara, Dr. Surjantini, M. Kes,
serta Kepala Dinas Kota/Kabupaten
se-Sumatera Utara.
Jumlah tenaga medis yang ada di
Provinsi Sumatera Utara meningkat.
Pada tahun 2008 jumlah tenaga medis
sebanyak 22,263 naik 26,605 pada
Hal.06 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
tahun 2012. Namun demikian
distribusinya belum menyeluruh ke
daerah-daerah yang ada di Sumut.
Jumlah Puskesmas di Prov Sumatera
Utara sebanyak 462 (Tahun 2008),
bertambah menjadi 556 (Tahun
2012). Kondisi ini, diharapkan mampu
m e m e n u h i ke b u t u h a n s a ra n a
prasarana kesehatan guna
meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan di Puskesmas.
Target Balita yang ditimbang berat
badannya (D/S), pada tahun 2011
adalah 70% dan tercapai 68,7%,
sedangkan target tahun 2012 sebesar
8 0 % d e n ga n c a p a i a n 7 4 , 8 % .
Sementara itu, presentase Balita gizi
buruk yang mendapat perawatan
target pada tahun 2011 dan 2012
tercapai sesuai target 100%.
Presentase bayi usia 0-6 bulan yang
mendapat ASI Eksklusif tahun 2012 di
Sumatera Utara masih sangat rendah,
yaitu 34,2% dari target 48%.
Sementara itu, presentase ibu hamil
yang mendapat Fe 3, target tahun
2012 adalah 90% dengan capaian
76,0%.
Menurut Menkes yang perlu menjadi
perhatian Dinas Kesehatan Provinsi
Sumatera Utara adalah meningkatnya
data kasus HIV-AIDS. Berdasarkan
data Dinkes Sumut jumlah kasus HIV
pada tahun 2009 adalah 1096 kasus
meningkat pada tahun 2012 yaitu
2189 kasus. Sementara kasus AIDS
pada tahun 2009 yaitu 1553 kasus dan
pada tahun 2012 ada 4241 kasus.
Lebih dari itu, angka kematian karena
AIDS pada tahun 2009 berjumlah 338
meningkat pada tahun 2012 menjadi
751. Mengenai Infeksi Menular
Seksual (IMS), pada tahun 2009
berjumlah 1845 kasus naik pada
tahun 2012 yaitu 4212 kasus.
Jumlah ODHA yang memenuhi syarat
terapi ARV pada tahun 2009
berjumlah 1553 meningkat hingga
4241 pada tahun 2012. Jumlah ODHA
yang sedang mendapatkan terapi ARV
pada tahun 2009 yaitu 487 dan pada
tahun 2012 meningkat menjadi 1425,
dan jumlah ODHA yang telah
mendapatkan terapi ARV pada tahun
2009 yaitu 1055 dan tahun 2012
berjumlah 3223.
Sedangkan sambutan Gubernur
Sumatera Utara yang disampaikan
oleh Sekda Provinsi Sumatera Utara
Nurdin Lubis diantaranya disampaikan
bahwa pada tahun 2013-2018 visi
pembangunan provinsi Sumatera
Utara adalah ”Sumatera Utara
menjadi provinsi yang berdaya saing
dan sejahtera”, untuk mewujudkan
visi ini sangat tergantung pada
masyarakat Sumatera Utara yang
harus memiliki sumber daya manusia
(sdm) yang handal dan berkualitas,
salah satu prioritas pembangunan
Sumatera Utara adalah bidang
kesehatan yang tentunya
memerlukan dukungan dari berbagai
sektor maupun para pemerhati
kesehatan untuk peningkatan
fasilitas, dana, sarana dan prasarana
yang memadai serta sumber daya
manusia (sdm) yang berkualitas
sehingga kedepan provinsi Sumatera
Utara mampu dan handal dalam
persaingan global yang semakin
nyata.
Untuk proses percepatan pencapaian
target program/kegiatan, maka
kebijakan yang dilakukan antara lain
adalah (a) Dalam rangka percepatan
MDGs tahun 2015 telah dibuat surat
edaran kepada seluruh
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
bupati/walikota di Sumatera Utara
pada tanggal 1 April 2013 agar
memprioritaskan seluruh target
pencapaian program MDGs; (b)
Penguatan peran daerah untuk
melakukan pelayanan obstetri
neonatal emergency komprehensif
(PONEK) dan peningkatan kesehatan
rujukan wajib dilakukan akreditasi
secara berkala, dan secara bertahap
semua rumah sakit umum
pengelolaannya sudah menjadi
Badan Layanan Umum (BLU) dan
Badan Layanan Umum Daerah
(BLUD); (c) Menjamin pembiayaan
kesehatan bagi seluruh masyarakat
miskin, tidak mampu serta
masyarakat di daerah terpencil.
perbatasan dan kepulauan melalui
pengembangan sistem jaminan
kesehatan daerah yang
berkesinambungan dan terintegrasi
antar kabupaten/kota, provinsi dan
pusat. Pemerintah Provinsi Sumatera
Utara telah mengalokasikan dana bagi
masyarakat miskin yang tidak
te r m a s u k p e s e r ta j a m ke s m a s
,sehinga seluruh masyarakat miskin
dapat dilayani di tingkat rujukan
provinsi
Dalam kesempatan tersebut juga
dilakukan penandatanganan
perjanjian kerjasama antara Dinas
Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
dengan Kantor Wilayah Departemen
Kehakiman dan HAM Provinsi
Sumatera Utara dalam
Pemberdayaan Tenaga Dokter Umum
di Lembaga Pemasyarakatan di
Wilayah Hukum Medan dan sekaligus
penandatanganan Prasasti dalam
rangka peresmian Rumah Sakit
Jasamen Pendidikan Saragih menjadi
Rumah Sakit Kelas B tempat
pendidikan yang dilakukan oleh
Menteri Kesehatan serta penyerahan
plakat kenang-kenangan.
Setelah acara pertemuan di Hotel
Santika, ku n j u n gan Men kes
dilanjutkan ke Lembaga
Pemasyarakatan Anak Klas II/A dan
Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Medan, yang kemudian dilanjutkan ke
ke RSU Dr. H. Adam Malik, dimana
dalam kunjungan ini Menkes
menanyakan kesanggupan RSU Dr. H.
Adam Malik untuk dapat
memperoleh status World Class
Hospital pada tahun 2014, karena
baru ada 2 World Class Hospital di
Indonesia yaitu RSCM Jakarta dan
RSUD Sanglah Bali, yang langsung
dijawab oleh seluruh jajaran staf RSU
Dr. H. Adam Malik bahwa mereka
sanggup menjadi World Class
Hospital pada tahun 2013 ini juga.
Dan kunjungan Menkes diakhiri ke
Puskesmas Padang Bulan.
Rencana Tindak Lanjut sebagai hasil
dari kunjungan kerja ini adalah (a)
Dalam rangka percepatan MDGs
Tahun 2015 Pemerintah Kota Medan
telah membuat surat edaran kepada
seluruh Bupati/Walikota di Sumatera
Utara pada tangal 1 April 2013 agar
memprioritaskan seluruh target
pencapaian program MDGs; (b)
Penguatan peran daerah untuk
melakukan pelayanan Obstetri
Neonatal Emergency Komprehensif
(PONEK) dan Peningkatan Kesehatan
Rujukan Akreditasi secara berkala,
dan secara bertahap dan diharapkan
semua RSU pengelolanya sudah
menjadi Badan Layanan Umum (BLU)
dan Badan Layanan Umum Daerah
(BLUD); (c) Berusaha lebih dekat dan
merangkul mitra kerja di dalam
masyarakat seperti Posyandu, PKK,
Kelompok Pemuda dan Remaja, LSM
Kesehatan dan lainnya dengan kerja
sama yang baik, agar penyuluhan dan
informasi setiap program kesehatan
dapat terlaksanan dan mencapai
sasaran seperti yang diharapkan.
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 07
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
RAPAT KONSULTASI TEKNIS
DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN
TAHUN 2013
”Penguatan System Pengawasan Alat
Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan
Rumah Tangga” merupakan tema
yang diangkat dalam
penyelenggaraan Rapat Konsultasi
Teknis Direktorat Bina Produksi dan
Distribusi Alat Kesehatan Tahun 2013
kali ini.
Kegiatan ini sendiri dilaksanakan pada
tanggal 1 s.d 4 Mei 2013 di Hotel
Aryaduta, Manado, Sulawesi Utara.
Pertemuan dihadiri dan dibuka oleh
Direktur Jenderal Bina Kefarmasian
dan Alkes, Ibu Dra. Maura Linda
Sitanggang, Ph.D. Turut pula hadir
dalam acara ini Direktur Bina Produksi
dan Distribusi Alat Kesehatan drg.
Arianti Anaya, MKM dan Sesditjen
Bina Kefarmasian dan Alkes Drs. H.
Purwadi, Apt, MM, ME.
Pertemuan ini dihadiri oleh peserta
dari daerah melibatkan Pejabat
Penanggung Jawab Program
Kefarmasian dan Alkes beserta Staf
Hal.08 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
Seksi Kefarmasian dan Alkes dari 33
Provinsi, juga hadir peserta pusat dari
lingkungan Direktorat Bina Produksi
dan Distribusi Alat Kesehatan. Turut
hadir pula narasumber dari Ditjen
B in a U p aya Ke s e h ata n , B P F K
Surabaya, dan LKPP.
Maksud dan tujuan Rakontek Dit Bina
Prodis Alkes Tahun 2013 ini adalah
melakukan koordinasi dan
menyatukan persepsi antara pusat
dan daerah dalam melaksanakan
pembinaan dan pengawasan
terhadap peredaran alat kesehatan di
Indonesia guna melindungi
masyarakat agar memperoleh alat
kesehatan yang terjamin keamanan,
mutu dan kinerjanya.
Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes,
Dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D
dalam sambutannya menyampaikan
bahwa Pembangunan Kesehatan di
Indonesia ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan,
kemampuan hidup sehat bagi setiap
o ra n g a ga r te r w u j ud d e ra j at
ke s e h ata n m a sya ra kat ya n g
setinggitingginya, sebagai investasi
bagi pembangunan sumber daya
manusia yang produktif secara sosial
dan ekonomis.
Salah satu langkah penting
pembangunan kesehatan Indonesia
akan dimulai pada 1 Januari 2014,
melalui implementasi Jaminan
Kesehatan Nasional bagi seluruh
masyarakat secara bertahap dengan
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
beroperasinya BPJS Kesehatan. Dalam
implementasi JKN, diperlukan
integrasi berbagai sub sistem
kesehatan seperti: 1) Pembiayaan
kesehatan; 2) Upaya kesehatan; 3)
SDM Kesehatan; 4) Sediaan farmasi,
alkes dan makanan; 5) Penelitian dan
pengembangan kesehatan; 6)
Manajemen, informasi, dan regulasi
Kesehatan; serta 7) Pemberdayaan
masyarakat.
Sebagai salah satu poin penting
pelaksanaan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN), Program Kefarmasian
dan Alat Kesehatan telah melakukan
langkah-langkah strategis antara lain:
1. Penggunaan Alat kesehatan yang
tepat guna;
2. Pemantapan keterjangkauan obat
dan alat kesehatan;
3. Analisa kebutuhan alat kesehatan
Dalam pelaksanaan SJSN maka
kebutuhan alkes akan meningkat 3
kali dari kebutuhan alkes saat ini.
Disamping itu makin berkembangnya
tekhnologi dan pelayanan kesehatan
s e r ta m e n i n g kat nya e ko n o m i
masyarakat maka
tuntutan
masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan yang bermutu menjadi
semakin tinggi.
Hal ini juga
mengakibatkan
meningkatnya
penggunaan alat kesehatan dan
Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
(PKRT) baik produk impor maupun
produk lokal di masyarakat.
Pada tahap akhir dari MDGs ini kita
juga harus bekerja keras untuk
mencapai target yang telah
ditetapkan seperti misalnya Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) yang masih
belum mencapai target. Capaian
tersebut perlu didukung oleh akses
te r h a d a p A l ke s ya n g a m a n ,
berkhasiat, bermutu, terjamin dalam
jenis dan jumlah sesuai kebutuhan
pelayanan kesehatan, serta tersedia
secara merata di seluruh Indonesia.
Alat kesehatan telah menjadi salah
satu bisnis yang menjanjikan
terutama di Indonesia yang
merupakan salah satu negara dengan
jumlah penduduk terbesar di dunia
yang menjadikannya sebagai pasar
alat kesehatan terbesar dunia
khususnya di ASEAN. Masalah ini
haruslah dapat diantisipasi dengan
baik oleh pemerintah pusat, daerah,
dan seluruh stakeholder untuk
melindungi masyarakat pengguna.
Hal ini sebenarnya memberikan
dampak yang positif bagi pelaksanaan
pelayanan kesehatan yang paripurna,
namun di sisi lain banyaknya jenis dan
jumlah Alat Kesehatan dan PKRT yang
beredar juga dapat memberikan
persaingan usaha yang semakin keras
untuk meningkatkan daya jual,
sehingga kadang kala mendorong
pengusaha yang hanya
mementingkan keuntungan untuk
melakukan segala upaya tanpa
memikirkan dampaknya bagi pasien
ataupun pengguna.
Adalah tugas pemerintah pusat dan
daerah dalam melakukan pembinaan,
pengawasan dan pengendalian alat
kesehatan di wilayah Indonesia.
Pe m b i n a a n d a n p e n g a w a s a n
(Binwas) di bidang Alat Kesehatan
dan PKRT secara garis besar ditujukan
pada 4 (empat) faktor utama yaitu
Sarana (Produksi dan Distribusi),
Tenaga, Produk/Komoditi, dan
Penggunaan.
Pelaksanaan Binwas Alkes dan PKRT
hendaknya dapat dilakukan secara
terpadu, mulai dari pusat dalam hal
ini Direktorat Bina Produksi dan
Distribusi Alat Kesehatan, di provinsi
dan kabupaten/kota oleh Dinas
Kesehatan Provinsi dan
kabupaten/kota.Suatu hal yang tidak
benar dan tidak mungkin
menghasilkan sesuatu yang optimal
apabila binwas alat kesehatan dan
PKRT dilakukan secara parsial.
Sementara itu materi-materi yang
dibahas.oleh para narasumber dalam
acara ini diantaranya adalah
Kebijakan Alat Kesehatan Dalam
Mendukung Sistem Jaminan
Kesehatan Nasional & Pencapaian
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 09
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
MDGs, yang dipaparkan oleh Dirjen
Bina Kefarmasian dan Alkes, Dra.
Maura Linda Sitanggang, Ph.D; Rapat
Koordinasi Direktorat Bina Produksi
dan Distribusi Alat Kesehatan, yang
dipaparkan oleh Direktur Bina
P ro d u k s i d a n D i st r i b u s i A l a t
Kesehatan drg. Arianti Anaya, MKM;
Pengendalian Alat Kesehatan Di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan, yang
dipaparkan oleh Kasubdit Alat Medik,
Dit Bina Pelayanan Penunjang Medik
dan Sarana Kesehatan, Ditjen Bina
Upaya Kesehatan, dr. Anwarul Amin;
Peran BPFK Dalam Melaksanakan
Pe n g u j i a n D a n Ka l i b ra s i A l at
Kesehatan, yang dipaparkan oleh
Kepala BPFK Surabaya, Ir. Rakhmat
Nugroho, MBAT; Peningkatan Sistem
Pengawasan Alkes & PKRT, yang
dipaparkan oleh Kasubdit Inspeksi
Drs. Rahbudi Helmi, Apt, MKM;
Penanganan Distribusi Produk
Diagnostik In Vitro (DIV) Dalam
Menjamin Mutu, yang dipaparkan
oleh Dra. Rully Makarawo, Apt.; serta
Pedoman Toko Alat Kesehatan dan
Pedoman Perusahaan Rumah Tangga
Hal.10 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
Alat Kesehatan Dan Perbekalan
Kesehatan Rumah Tangga, yang
dipaparkan oleh Kasubdit
Standardisasi dan Sertifikasi Dra. Lili
Sa'diah Yusuf, Apt.
Kegiatan Rapat Konsultasi Teknis
Direktorat Bina Produksi dan
Distribusi Alat Kesehatan Tahun 2013
ini dilaksanakan melalui sidangsidang pleno dengan metode
penyajian materi dan pembahasan
mendalam antara peserta dengan
narasumber menuju tercapainya
suatu rumusan komitmen dan
rekomendasi. Selain itu juga
dilaksanakan diskusi panel untuk
membahas Revisi Permenkes 1189,
1190 dan 1191 Tahun 2010.
Rekomendasi Pertemuan Rapat
Konsultasi Teknis Direktorat Bina
P ro d u ks i d a n D i st r i b u s i A l at
Kesehatan Tahun 2013 adalah (a)
Penguatan system pengawasan Alkes
dan PKRT merupakan tugas bersama
pusat dan daerah melalui
pelaksanaan masing masing peran
sesuai semangat otonomi daerah; (b)
Persyaratan kapasitas SDM dan
sinkronisasi Program Pengawasan
Alkes dan PKRT pada
Implementasinya membutuhkan
interkoneksi standar standar yang
berlaku dan format laporan Adverse
Event di sarana layanan melalui
kerjasama lintas program; (c)
Tantangan pengawasan Alkes dan
PKRT akan semakin meningkat, upaya
pengawasan harus dilakukan secara
komprehensif dan konsisten; (d)
Sistem informasi (e-monalkes) harus
dapat memberikan respons yang
cepat, tindak lanjutnya memberi
p erlin d u n ga n nyata kep a d a
konsumen atau pasien.
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
SOSIALISASI
E-CATALOG OBAT GENERIK
Pada tanggal 21 s.d 24 April 2013
dilaksanakan Kegiatan Sosialisasi ECatalogue Obat Generik di Hotel
Golden Flower, Bandung, Jawa Barat.
Maksud dan tujuan kegiatan ini
adalah melakukan koordinasi dan
menyatukan persepsi antara pusat
dan daerah dalam melaksanakan
pengadaan obat di tiap satuan kerja.
Pertemuan ini dihadiri oleh Direktur
Jenderal Bina Kefarmasian dan Alkes,
Dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D;
Direktur Bina Obat Publik dan
Perbekalan Drs. Bayu Teja Muliawan,
Apt., M.Pharm, MM; serta jajaran
eselon III dan IV di lingkungan
Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan. Sementara Peserta dari
daerah melibatkan Pejabat
Penanggung Jawab Program
Kefarmasian dan Alkes dan Staf Seksi
Kefarmasian dan Alkes, dari 33
Provinsi, dan undangan serta peserta
tambahan dari para pelaku
pengadaan obat di daerah.
Acara diawali dengan Laporan Ketua
Panitia oleh Direktur Bina Obat Publik
dan Perbekalan Kesehatan. Acara
kemudian dilanjutkan dengan
sambutan dari Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat yang langsung
disambung dengan sambutan dari
Direktur Jenderal Bina Kefarmasian
dan Alkes, Dra. Maura Linda
Sitanggang, Ph.D yang sekaligus juga
membuka secara resmi Pertemuan
tersebut.
Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes,
Dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D
dalam sambutannya menghimbau
agar dalam melakukan pengadaan
obat selalu melakukan pendekatan
penganggaran berdasarkan prestasi
kerja sebagaimana dilakukan dengan
memperhatikan keterkaitan antara
pendanaan dengan keluaran yang
diharapkan dari kegiatan dan hasil
serta manfaat yang diharapkan
termasuk efisiensi dalam pencapaian
hasil dan keluaran tersebut.
Materi sosialisasi yang
diberikan.dalam acara ini lebih
menekankan kepada pengkayaan
mengenai e-catalogue dan epurchasing serta pemahaman untuk
penggunaan software e-catalogue.
Keterkaitannya adalah dimana para
user atau pelaku pengadaan selain
harus melakukan perencanaan yang
tepat terhadap kebutuhan serta juga
h a r u s m e n g e t a h u i t a t a c a ra
melakukan pelelangan melalui
software e-catalogue obat ini.
Dalam sosialisasi ini juga memberikan
kesempatan kepada para peserta
untuk memberikan pertanyaan
mengenai segala hal yang terkait
dengan e-catalogue dan e-purchasing
dalam diskusi yang dipandu oleh para
narasumber sehingga pada akhirnya
menghasilkan rekomendasi antara
lain:
1. K e b i j a k a n E - C a t a l o g w a j i b
digunakan untuk pengadaan oleh
pemerintah baik satker pusat dan
daerah.
2. A p a b i l a a k a n d i l a k u k a n
penggeseran anggaran
dilaksanakan sesuai Peraturan
Mendagri, dan apabila akan
mengubah rincian objek belanja
dalam bentuk paket menjadi
uraian per jenis obat dalam RKA
dengan persetujuan BPKAD,,
BPKD, PPKAD, DPKAD, DPPKAD dll
3. Release E-Purchasing hari Rabu
Jumat (tanggal 24-26 April 2013).
4. Peraturan Kepala LKPP yang
berkaitan dengan penerapan ECatalog dan pencairan dana akan
dikomunikasikan dengan kepala
LKPP.
5. P e t u n j u k P e l a k s a n a a n E Purchasing baik secara elektronik
maupun manual , akan diterbitkan
oleh LKPP satu minggu setelah
release E-Purchasing.
6. Apabila ada gangguan teknis epurchasing secara elektronik maka
dapat dilakukan proses manual
mengacu pada petunjuk teknis
LKPP.
7. Sementara menunggu dokumendokumen tersebut di atas, Instalasi
Farmasi/PPK/ULP mempersiapkan
rencana pengadaan obat tahun
2013 baik melalui E-Catalog
maupun di luar E-Catalog.
8. Diusulkan kepada LKPP untuk
memuat dalam petunjuk
pelaksanaan e-catalog berkaitan
dengan proses lelang yang
telah/sedang berjalan sebelum
kontrak payung e-catalog antara
LKPP dengan penyedia pemenang
lelang pada tanggal 12 April 2013 .
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 11
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
KUNJUNGAN KERJA
MENTERI KESEHATAN KE PROVINSI PAPUA BARAT
Pada tanggal 7 s.d 11 Mei 2013
dilaksanakan Kegiatan Rapat Kerja
Kesehatan Daerah (Rakeskesda)
Provinsi Papua Barat Tahun 2013 di
Gedung Pari Waisai Kabupaten Raja
Ampat dan juga Kunjungan Kerja
Menteri Kesehatan RI Ke Kab Raja
Ampat Provinsi Papua Barat.
Acara Rapat Kerja Kesehatan Daerah
(Rakeskesda) Tahun 2013 dihadiri
oleh seluruh Jajaran Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) serta sektor terkait se
Provinsi Papua Barat .
Acara Rakerkesda yang dimulai pada
tanggal 7 Mei 2013 ini, dibuka oleh
Gubernur Provinsi Papua Barat Bram
Atururi, dan dipaparkan tentang 7
pokok bahasan yaitu (a) Capaian
Kinerja Tahun 2012 dan program
prioritas pembangunan kesehatan
tahun 2013 dan kebijakan
Hal.12 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
pembangunan kesehatan tahun
2014; (b) Capaian Target MDGs dan
SPM Bidang Kesehatan
Kabupaten/Kota; (b)
Dukungan/kebijakan ang garan
pembangunan kesehatan di Papua
Barat sesuai dengan amanat undangundang.
Peningkatan Akses dan Mutu
Pelayanan; (c) Peningkatan upaya
promotif, preventif, Pemberdayaan
Masyarakat dan Komunkasi Publik;
(d) Percepatan pencapaian MDG a, d
dan e; (e) Percepatan pecapaian MDG
e dan f, dan Pengendalian Penyakit
tidak Menular. Selanjutnya Gubernur
Provinsi Papua Barat membuka
Pameran dan mengadakan
peninjauan Pameran Pembangunan
Kesehatan Provinsi Papua Barat.
Kemudian pada hari kedua tanggal 8
Mei 2013 diadakan acara diskusi
panel yang membahas mengenai
Capaian Program Bina Upaya
Kesehatan, Capaian Program Bina Gizi
dan KIA, Capaian Program P2PL, serta
Capaian Program Kefarmasian dan
Alat Kesehatan:
Paparan mengenai Capaian Program
Kefarmasian dan Alat Kesehatan
disampaikan oleh Direktur Bina Obat
Publik dan Pebekalan Kesehatan Drs.
Bayu Teja Muliawan, Apt, M.Pharm,
MM
Selain itu acara diskusi panel juga
menyajikan berbagai materi lainnya
yaitu Kesiapan Pemerintah Dalam
Pe l a k s a n a a n S i s t e m J a m i n a n
Kesehatan yang disampaikan oleh
Pusat Pembiayaan dan Jaminan
Kesehatan; Dukungan Kebijakan
Anggaran Pembangunan Kesehatan
di Papua Barat yang disampaikan oleh
Komisi D DPRD Papua Barat;
Pencapaian Program MDGs dan
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
Standar Pelayanan Minimal yang
disampaikan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua
Barat.
Keesokan harinya pada Kamis tanggal
9 Mei 2013, Menteri Kesehatan dr.
Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH yang juga
didampingi oleh Dirjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dra.
Maura Linda Sitanggang, Ph.D tiba di
Raja Ampat dan melakukan kunjungan
ke RSUD Kabupaten Raja Ampat.
Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi
Sp. A, MPH meresmikan RSUD
Kabupaten Raja Ampat yang ditandai
dengan penandatanganan prasasti
serta pembukaan selubung papan
nama RSUD Raja Ampat. Turut hadir
pada peresmian RSUD Raja Ampat,
Gubernur Papua Barat Bram Atururi,
Bupati Raja Ampat, Drs. Markus
Wanma, M.Si, Wakil Bupati Raja
Ampat, Drs. Inda Arfan, Ketua DPRD
Raja Ampat, Henry AG Wairara, Wakil
Walikota Sorong, dan sejumlah tamu
undangan lainnya.
Berdirinya RSUD Kabupaten Raja
Ampat diharapkan dapat
meningkatkan akses masyarakat pada
pelayanan kesehatan yang
komprehensif dan bermutu, agar
seluruh lapisan masyarakat termasuk
masyarakat tidak mampu, dapat
memperoleh pelayanan kesehatan
yang komprehensif dan bermutu,
tanpa ada kendala biaya.
Kabupaten Raja Ampat mempunyai
karakteristik daerah kepulauan dan
merupakan daerah tujuan wisata
internasional. Oleh karena itu, rumah
sakit ini hendaknya bermanfaat
bukan saja bagi penduduk Kabupaten
Raja Ampat, melainkan juga bagi
wisatawan domestik dan
mancanegara yang berkunjung ke
Kabupaten Raja Ampat, ujar Menkes
RI pada sambutannya
Menkes juga menghimbau agar
Pemerintah Kabupaten Raja Ampat
segera melengkapi pelayananpelayanan di RSUD Kabupaten Raja
Ampat ini. Upaya ini juga harus
didukung dengan pemenuhan sarana
dan prasarana rumah sakit, sesuai
dengan standar perumahsakitan yang
diamanatkan UndangUndang Nomor
44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
Diharapkan RSUD Raja Ampat bisa
dinaikan statusnya sebagai RSUD
Kelas C, oleh karena itu pemerintah
daerah harus bekerja semaksimal
mungkin. ”Kami dari kementerian
sangat senang bisa membantu bila
Pemda Raja Ampat mempunyai niat
yang tulus, disamping itu pelayanan
kesehatan kepada masyarakat
haruslah terarah, karena pelayanan
kepada masyarakat merupakan hal
yang utama, jangan menyepelekan”,
tandas Menkes
Gubernur Papua Barat, Bram Atururi,
dalam sambutannya juga mengatakan
dengan hadirnya RSUD ini diharapkan
ke depan masyarakat Raja Ampat yang
hendak berobat dengan intensitas
penyakit yang kronis tidak perlu lagi ke
Sorong, karena dokter ahli dan
spesialis ada di RSUD ini. RSUD Raja
Ampat merupakan RSUD pertama di
Papua Barat yang memakai sistem
hidrolik untuk para diver.
Selanjutnya, kunjungan Menkes
dilanjutkan ke Gedung Pari Waisai,
te m p at d i l a ks a n ka n nya a ca ra
Rakerkesda Provinsi Papua Barat
Ta h u n 2 0 1 3 . D i s a n a M e n ke s
melakukan pemasangan dan
pelepasan tenaga pengumpul data
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
2013. Menkes juga berdialog dengan
peserta Rakerkesda Provinsi Papua
Barat Tahun 2013.
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 13
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
RAPAT KONSULTASI TEKNIS
DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK & PERBEKALAN KESEHATAN
TAHUN 2013
Pada tanggal 30 Mei s.d. 2 Juni 2013
d i l a k s a n a ka n ke g i a t a n R a p a t
Konsultasi Teknis (Rakontek) Tahun
2013 Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan di Hotel Grand
Pasundan, Bandung.
Pertemuan ini dihadiri oleh 93 orang
peserta yang terdiri dari 33 orang
Kepala Bidang/Kepala
Seksi/Penanggungjawabi
Kefarmasian dan 33 orang Kepala
Bagian Keuangan Pemerintah Daerah
dari setiap provinsi, serta 27 orang
peserta Pusat dari Direktorat Bina
O b a t P u b l i k d a n Pe r b e ka l a n
Kesehatan.
Rakontek secara resmi dibuka oleh
Direktur Jenderal Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan, Dra. Maura Linda
Sitanggang, Apt., Ph.D. Dalam
sambutannya dijelaskan bahwa Rapat
Konsultasi Teknis Direktorat Bina Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan
merupakan pertemuan yang sangat
penting, mengingat banyak terjadi
Hal.14 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
perubahan-perubahan yang
bermakna dalam berbagai hal terkait
ketersediaan obat dan vaksin.
Perubahan-perubahan tersebut
menuntut perlunya dilakukan
berbagai langkah agar apa yang
diharapkan dapat tercapai tanpa
hambatan yang berarti.
Perubahan yang sangat besar yang
terjadi adalah dengan
dilaksanakannya Jaminan Kesehatan
Nasional pada 1 Januari 2014.
Berbagai langkah telah dilakukan
dalam persiapannya, meskipun
demikian masih diperlukan adanya
kesamaan pemahaman dan sikap
untuk merealisasikannya.
Salah satu langkah terobosan adalah
dengan penerapan e-catalogue dan epurchasing dalam pengadaan obat
pemerintah baik di pusat, provinsi
dan kabupaten/kota. Mekanisme ini
lebih menjamin kompetisi yang sehat,
transparan dan akuntabel.
Untuk tahun 2013 ini, pelaksanaaan
e-catalog dimulai dengan
penyusunan Rencana Kebutuhan
Obat secara bottom up dari
Kabupaten/Kota, Provinsi dan
akhirnya dijadikan Rencana
Kebutuhan Obat Nasional, yang
kemudian dilakukan pelelangan harga
satuan. Dari hasil lelang ini telah
ditetapkan harga masing-masing item
obat, termasuk produsen yang akan
menyediakannya.
Penerapan e-catalogue dan epurchasing telah diresmikan Ibu
Menteri Kesehatan pada Rakerkesnas
di Jakarta, Surabaya dan Makasar
beberapa waktu yang lalu. Pada
ta n g ga l 1 2 A p r i l 2 0 1 3 te l a h
ditandatangani kontrak payung
antara produsen dan LKPP di Jakarta.
Agar ketersediaan obat dan vaksin
lebih terjamin, diperlukan
pemahaman yang sama dan
ko m i t m e n y a n g k u a t a n t a r a
pemerintah pusat, provinsi dan
kabupaten/kota, sehubungan dengan
terjadinya perubahan-perubahan
tersebut, antara lain berkaitan
dengan kendala dalam pelaksanaan
e-purchasing, termasuk pencairan
anggarannya.
Sementara itu, materi-materi yang
dibahas dalam pertemuan adalah
Pe n g e l o l a a n , Pe ke r j a a n , d a n
Pelayanan Kefarmasian dalam SJSN
o l e h D i r e k t u r J e n d e ra l B i n a
Kefarmasian dan Alat Kesehatan; Tata
Cara Pembayaran Dalam Rangka
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara serta Langkahl a n g ka h D a l a m P e n i n g ka t a n
Akuntabilitas dan Transparansi
Belanja Perjalanan Dinas Tahun 2013
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
oleh Direktorat Jenderal
Perbendaharaan (DJPB) Kementerian
Keuangan; Pelaksanaan Pengadaan
Obat Sistem E-Katalog Di Provinsi
Kalimantan Selatan oleh Kepala
Bidang Farmasi dan Litbang Dinas
Kesehatan Provinsi Kalimantan
Selatan; Kendala Penyediaan Obat
Menggunakan E-Catalogue Di
Provinsi Jawa Tengah oleh Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah;
Kendala Penyediaan Obat
Menggunakan E-Catalogue Di
Provinsi Maluku oleh Kepala Bidang
Fa r m a s i d a n M a ka n a n D i n a s
Kesehatan Provinsi Maluku;
Ta ta l a ks a n a Pe n g a d a a n O b a t
Menggunakan E-Catalogue (epurchasing) oleh Direktorat
Perencanaan Pengadaan RAPBN LKPP.
Rekomendasi Rapat Konsultasi Teknis
Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan Tahun 2013
adalah:
(a) E-Catalogue dilakukan sebagai
amanat Perpres 70 Tahun 2012
tentang pengadaan barang dan jasa,
untuk menjamin keterbukaan dan
transparansi dalam pengadaan obat
yang akan dilaksanakan secara
bertahap karena banyaknya halhal
yang harus dipertimbangkan;
(b) E-catalogue untuk tahun 2014
akan direncanakan ditayangkan pada
awal tahun dimana sistem ini
digunakan untuk pengadaan obat
untuk instansi pemerintah;
(c) Apabila dalam pelaksanaan epurchasing mengalami kendala,
disampaikan ke LKPP dan untuk
pengadaan dapat dilakukan secara
manual/offline;
(d) Kebutuhan obat yang melebihi
kuota yang tercantum dalam sistem ecatalogue disampaikan ke LKPP
dengan tembusan Dit Bina Oblik dan
Perbekkes;
(e) Untuk tahun mendatang perlu
disusun Rencana Kebutuhan Obat
yang mendekati kebutuhan di Instansi
Pemerintah yang dilaksanakan oleh
Kab/Kota (sarana yankes kab/kota)
dan Provinsi (sarana yankes provinsi)
yang dikompilasi di tingkat Provinsi;
( f ) Pe r te m u a n d a l a m ra n g ka
penyusunan RKO tingkat Provinsi
didukung dana Dekon;
(g) Pada prinsipnya pengadaan obat
menggunakan e-purchasing bukanlah
lelang, melainkan pembelian secara
elektronik, sehingga dalam proses
pengadaan obat terdiri dari beberapa
kontrak tidak menyalahi aturan yang
berlaku dan setiap kontrak akan
dibayarkan sesuai SPM yang dajukan
(tidak menyalahi aturan keuangan)
sepanjang alokasi dana masih
tersedia;
(h) Pemerintah Pusat akan melakukan
koordinasi dengan BPK, BPKP
(auditor) untuk mensosialisasikan
pengadaan obat secara e-catalogue
agar nanti tidak terjadi salah persepsi
antara program dengan auditor;
(i) Juknis Pelaksanaan E-Catalogue
segera diterbitkan (surat edaran);
(j) Untuk kebutuhan obat dalam
U n i v e rs a l C o v e ra g e ( J a m i n a n
Kesehatan Nasional) yang
diberlakukan Januari 2014 masih
dialokasikan DAK, buffer pusat, buffer
provinsi, dan obat program;
(k) E-logistic perlu disempurnakan dan
memasukkan semua obat generik dan
non generik.
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 15
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
PERESMIAN PABRIK KEDUA
PT WIDATRA BHAKTI
Wakil Menteri Kesehatan
(Wamenkes) RI Prof. Dr. Ali Ghufron
Mukti, M.Sc, Ph.D mewakili Menteri
Kesehatan RI meresmikan Pabrik
Kedua PT. Widatra Bhakti. Prosesi
peresmian ini didahului dengan
sambutan oleh Prof. Dr. Ali Ghufron
Mukti, M.Sc, Ph.D, kemudian
penandatanganan Prasasti oleh Wakil
Menteri Kesehatan yang di saksikan
oleh Mr. Ichiro Otsuka, President
Representatif Otsuka Pharmaceutical
Company;
Dra. Maura Linda
Sitanggang, Apt., Ph.D, Direktur
Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan; I Wayan Sudanta President
Director PT. Widatra Bhakti; Bapak
Agus Prabowo mewakili BPOM; Drs.
Noburu Nomura Konsulat Jenderal
Jepang; Kabag Biro Perekonomian
Provinsi Jawa Timur mewakili
Gubernur Jawa Timur dan Wakil
Bupati Pasuruan. Acara dilanjutkan
dengan membunyikan sirine secara
Hal.16 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
bersama.
Setelah ceremony peresmian selesai,
para undangan VVIP tersebut di atas
bersama-sama melakukan
penanaman pohon tanjung sebagai
simbol ajakan untuk secara bersama
menyelamatkan bumi kita. Dipilihnya
pohon tanjung karena selama ini
dikenal oleh masyarakat sebagai
obat.
Kemudian ibu Dra. Maura Linda
Sitanggang, Apt., Ph.D melakukan
pengguntingan pita untuk mengawali
plant tour para undangan guna
melihat lebih dekat proses produksi
pabrik ke-2 Widatra Bhakti. Kemudian
plant tour dilakukan juga oleh para
undangan lainnya secara
berkelompok.
Secara keseluruhan setelah melihat
pemutaran video company profile
maupun melihat sendiri secara
langusng pabrik Widatra, para
undangan cukup apreciate dan kagum
terhadap keberadaan dan
perkembangan Widatra.
Widatra Bhakti sendiri adalah sebuah
produsen cairan infus nasional yang
meresmikan pabrik keduanya dengan
kapasitas terpasang 30 juta botol. Saat
ini total kapasitas terpasang produksi
Widatra mencapai 90 juta botol.
Dengan demikian Widatra Bhakti
mengokohkan dirinya sebagai
produsen cairan infus terbesar di asia
tenggara yang mensuplai 50% lebih
pasar cairan infus di Indonesia.
Nuansa ceremony yang mengambil
tema tradisional yakni Indonesian
Heritage. Latar panggung yang
memadukan budaya Jawa Timur dan
Bali sepeti topeng, gapura, tarian
Banyuwangi dengan siluet pura dan
tarian pendet dari Bali membuat acara
menjadi semarak dengan akar budaya
bangsa
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
WORKSHOP PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA
SECARA RASIONAL
Pada tanggal 19 s.d 21 Juni 2013
dilaksanakan kegiatan Workshop
Penggunaan Antibiotika Secara
Rasional di Hotel Sahid Jaya,
Makassar, Sulawesi Selatan.
Pertemuan dihadiri oleh Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan
Dr. dr. H. Rachmat Latief, Sp.PD;
Kasubdit Penggunaan Obat Rasional
Dra. Hidayati Mas'ud, Apt, MM;
K a s u b d i t I S PA D i r e k t o r a t
Pengendalian Penyakit Menular
L an gsung dr. Arie Bratasena,
Sementara peserta dari daerah
melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi
Sulawesi Selatan, Kabid/Kasie farmasi
dari Dinas Kesehatan Kab/Kota
terpilih di Provinsi Sulawesi Selatan,
dokter/apoteker/tenaga teknis
kefarmasian dari 9 Puskesmas terpilih,
dokter dan apoteker dari Komite
Farmasi Terapi/Komite Medik Rumah
Sakit Umum Propinsi,
dokter/apoteker dari KFT RSUD
Kab/Kota, Ikatan Dokter Indonesia
dan Ikatan Apoteker Indonesia, serta
Fakultas Kedokteran dan Farmasi
Univ. Hasanudin
Maksud dan tujuan Workshop
Penggunaan Antibiotika Secara
Rasional ini adalah kelanjutan dari
kegiatan serupa di tingkat ASEAN yaitu
ASEAN Workshop on Rational Use of
Antibiotic yang merupakan
pelaksanaan program Penggunaan
Obat Rasional (POR) dari ASEAN
Working Group on Pharmaceutical
Development (AWGPD) yang telah
dilaksanakan bulan November tahun
2012 yang lalu. Dimana mengingat
masih tingginya persentase
penggunaan antibiotik secara tidak
tepat terutama pada penyakit ISPA
Non Pneumonia dan Diare Non
Spesifik yang termasuk dalam
indikator POR tingkat Nasional
Kegiatan Workshop Penggunaan
Antibiotika Secara Rasional ini,
diharapkan selain dapat
meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan peserta, juga terbentuk
jejaring di wilayah Propinsi yang
diintervensi yang secara konsisten dan
kontinyu melaksanakan upaya
peningkatan penggunaan antibiotik
secara rasional dan dikembangkan ke
seluruh wilayah kerja Propinsi.
Sehingga diharapkan dapat
meningkatkan penggunaan obat
secara Rasional di semua tingkat
pelayanan, baik di pelayanan
kesehatan dasar maupun rujukan.
Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian
yang pada kesempatan ini diwakili
oleh Kasubdit Penggunaan Obat
Rasional Dra. Hidayati Mas'ud, Apt,
MM dalam sambutannya
menyampaikan hal-hal sebagai
berikut:
a. Menurut WHO, penggunaan obat
yang rasional mensyaratkan bahwa
"pasien menerima obat yang tepat
untuk kebutuhan klinisnya, dalam
dosis yang memenuhi kebutuhan,
untuk jangka waktu yang cukup,
dengan biaya terendah untuk
individu dan komunitas”.
b.WHO memperkirakan bahwa lebih
dari setengah dari semua obat yang
diresepkan, diberikan atau dijual
secara tidak tepat, dan setengah
dari semua pasien tidak
menggunakannya dengan benar.
Penggunaan yang berlebihan,
kurang, atau penyalahgunaan dari
obat menyebabkan pemborosan.
c. Contoh penggunaan obat irasional
antara lain: penggunaan obat yang
terlalu banyak per pasien (polifarmasi); penggunaan antibiotik
yang tidak tepat, sering dalam dosis
yang tidak memadai, untuk infeksi
non-bakteri; penggunaan injeksi
yang berlebihan ketika formulasi
oral akan lebih tepat; peresepan
yang tidak sesuai dengan pedoman
klinis; swamedikasi yang dilakukan
oleh masyarakat secara tidak tepat;
serta kurangnya kepatuhan pasien
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 17
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
dalam penggunaan obat.
d.Penggunaan obat secara irrasional
mengakibatkan pengaruh yang
serius pada outcome terapi,
keamanan terapi dan pemborosan
biaya yang tidak perlu. Selain itu
penggunaan antibiotik secara tidak
tepat dalam pelayanan kesehatan
menyebabkan masalah resistensi
yang serius di seluruh dunia.
Resistensi antibiotik bukan hanya
menyebabkan masalah resiko
keamanan banyak obat pilihan
pertama tidak dapat lagi untuk
mengobati penyakit tetapi juga
menyebabkan masalah biaya.
e.O l e h ka re n a i t u d i p e r l u ka n
intervensi yang konsisten dan terus
menerus untuk mengatasi masalah
penggunaan obat secara tidak
rasional, khususnya antibiotik. Hal
ini memerlukan dukungan semua
pihak yang berkepentingan, bukan
hanya tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan, tetapi juga
masyarakat yang mendapatkan
pelayanan dan kalangan akdemisi
dalam memberikan pendidikan
yang konsisten dan berkelanjutan.
f. S a a t i n i P e m e r i n t a h t e l a h
melakukan berbagai upaya untuk
meningkatkan penggunaan
antibiotik secara rasional melalui
berbagai strategi, baik regulasi,
manajerial maupun edukasi. Namun
penggunaan antibiotik secara tidak
tepat masih banyak terjadi,
Hal.18 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
khususnya pada penyakit ISPA Non
Pneumonia dan Diare Non Spesifik
yang peresepannya di fasilitas
p e l aya n a n ke s e h a ta n d a s a r
dipantau dan dievaluasi secara
rutin.
g. Di lain pihak pada beberapa RS
Pendidikan melalui Ditjen Bina
Upaya Kesehatan telah
dikembangkan Pusat Pengendalian
Resistensi Antibiotik (PPRA) untuk
mengatasi dan mencegah
terjadinya resistensi antibiotik di
Rumah Sakit. Misalnya di RSUD
Soetomo Surabaya yang telah aktif
melalukan kegiatan PPRA. Namun
upaya ini belum mencakup RS lain di
wilayah yang lebih luas.
h.Untuk mencapai dan mewujudkan
tujuan Penggunaan Obat Rasional,
Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan
melalui Direktorat Bina Pelayanan
Kefarmasian harus melakukan
berbagai kebijakan dan upaya agar
tujuan tersebut tercapai dengan
tetap memperhatikan pembagian
peran dan tugas pusat dan daerah
sesuai dengan otonomi daerah.
Kegiatan Workshop Penggunaan
Antibiotika Secara Rasional ini
dilaksanakan melalui sidang-sidang
pleno dengan metode penyajian
materi dan pembahasan mendalam
antara peserta dengan narasumber
menuju tercapainya suatu rumusan
kesimpulan dan rekomendasi. Selain
itu juga dilaksanakan diskusi
kelompok.
Kesimpulan
1. Workshop ini telah dilaksanakan
dengan sukses dan dapat mencapai
tujuan penyelenggaraan ini sesuai
dengan keluaran yang diharapkan
2. Materi yang disampaikan dalam
kegiatan ini meliputi kebijakan
nasional dalam Penggunaan
Antibiotik, Penggunaan Antibiotik
berbasis EBM, Program PPRA, serta
strategi pengendalian resistensi
Antibiotik WHO.
3. Para peserta telah berdiskusi
secara kelompok untuk menyusun
rencana aksi dalam pelaksanaan
Program Peningkatan Penggunaan
Antibiotik secara Rasional pada
Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah
Sakit dan Puskesmas.
4. Rencana Aksi yang disusun telah
dipresentasikan meliputi
Penyusunan Pedoman Antibiotik di
Rumah Sakit, Pembuatan Pola
Kuman di Rumah Sakit, Pelaksanaan
Pilot Project DUE, Penerapan
Kebijakan dalam Penggunaan
Antibiotik, Promosi Penggunaan
A n t i b i o t i k s e c a ra R a s i o n a l ,
Pemantauan dan Evaluasi
penggunaan Antibiotik secara
berkala.
Rekomendasi
Rekomendasi untuk Dinas Kesehatan
Provinsi dan Kab/Kota
a. Dinkes membentuk tim penggerak
POR
b. Penunjukan focal point untuk di
ruang lingkup wilayah kerja di
daerah
c. Pembuatan laporan secara berkala
tentang Penggunan Antibiotik
pada ISPA NP, Diare NS dan injeksi
pada myalgia dengan
melaksanakan Monitoring berkala
Liputan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
oleh Dinkes provinsi ke sarana
pelayanan
d. Melaksanakan training, workshop,
sosialisasi kepada Nakes tentang
Penggunaan Antibiotik secara
Rasional
e. Koordinasi lintas sektor di masing
masing daerah yang melibatkan
semua stake holder seperti Dinkes
Prov/Kab/Kota, RS, Puskesmas,
Balai POM, Universitas dan
Organisasi Profesi
f. Meningkatkan pembinaan dan
pengawasan kepada apotek dan
TO, dan melakukan edukasi kepada
masyarakat untuk menekan
penjualan AB secara bebas
g. M e l a ku ka n m o n i to r i n g d a n
evaluasi penggunaan antibiotic
secara rutin dan kontinyu
h. Mengusulkan anggaran untuk
kegiatan terkait pengendalian
penggunaan antibiotik
Rekomendasi untuk Rumah Sakit
a. Pembentukan tim PPRA oleh
Rumah Sakit
b. Sosialisasi program PPRA DI Rumah
Sakit
c. Menentukan tempat untuk pilot
project drug use evaluation
d. Membuat panduan Antibiotik di
ICU
e. Membuat pola peng gunaan
Antibiotik di ICU
f. M e l i h a t p o l a p e n g g u n a a n
Antibiotik setelah pemberlakuan
panduan
g. Melakukan drug use evaluation
secara rutin dan kontinyu untuk
pemantauan dan evaluasi
penggunaan obat, termasuk
antibiotik
h. Edukasi kepada pasien dan
keluarga pasien di RS
i. Sosialisasi hasil program
j. Membuat kebijakan khusus dari
Direktur RS untuk mengendalikan
penggunaan antibiotik
Rekomendasi untuk Puskesmas
a. Sosialisasi penggunaan Antibiotik
yang rasional di puskesmas
b. Edukasi kepada masyarakat
c. Membatasi penggunaan Antibiotik
di puskesmas
d. Membuat kebijakan khusus dari
Kepala Puskesmas untuk
mengendalikan peng gunaan
antibiotik
e. Melakukan evaluasi RKO untuk
membatasi alokasi anggaran
pembelian antibiotik
Rekomendasi Untuk Organisasi
Profesi
a. Melakukan edukasi dan sosialisasi
kepada anggota tentang
penggunaan antibiotik secara
rasional
b. Menetapkan peraturan dalam
membatasi penjualan antibiotik
k h u s u s nya p a d a p e n j u a l a n
antibiotik tanpa resep di apotik
c. Melakukan pemantauan dan
pembinaan terhadap apoteker
yang menjual antibiotik secara
bebas (IAI)
d. Melakukan pemantauan dan
pembinaan terhadap dokter yang
meresepkan antibiotik secara tidak
rasional (IDI)
e. Berkoordinasi dan sosialisasi
dengan organisasi profesi terkait
lainnya seperti PAFI, PPNI
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 20
Ulasan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
KARTU JAMINAN SEHAT NASIONAL versus PHBS
MENYONGSONG SJSN 2014
Oleh: Drs. Jenry Simanjuntak, Apt, M.Si
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) sejak dini, perlu diterapkan
diseluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia secara konsisten,
terprogram, terinformasi, termonitor
dan terevaluasi untuk menunjang
Pembangunan Manusia Indonesia
Seutuhnya dibidang kesehatan
sehingga kelak menjadi proyek
percontohan bagi negara-negara di
dunia apabila dikelola dengan baik.
Perilaku hidup sehat ini hendaknya
terinformasikan secara konsisten,
informatif, komunikatif, edukatif dari
seluruh aspek kehidupan guna
mewujudkan sehat jasmani, rohani,
emosi, perekonomian yang sejahtera
lahir bathin dengan spiritualitas yang
tinggi menggapai kebersamaan
nasional secara nyata.
Bahwa kesehatan adalah hak asasi
manusia sebagaimana tercantum
dalam UU No.36/2009, maka seluruh
warga negara berhak mendapatkan
pelayanan kesehatan sebagaimana
yang diharapkan. Untuk itu
pemerintah berusaha memfasilitasi
dan membenahi keterwujudan suatu
wadah dengan payung hukum yang
jelas dengan diupayakannya suatu
SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional)
sesuai UU No 40 tahun 2004 dan UU
Hal.20 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
No.24 tahun 2011 melalui
ke b e ra d a a n B PJ S ( B a d a n
Penyelenggara Jaminan Sosial)
mewadahi Jaminan Kesehatan dan
Ketenaga-kerjaan ( jaminan
kecelakaan kerja, jaminan hari tua,
jaminan pensiun, dan jaminan
ke m at i a n ) ya n g a d a l a h h a s i l
transformasi: JAMKESMAS, ASKES,
ASABRI, JAMSOSTEK, TASPEN.
Kajian Informasi profile kesehatan di
seluruh wilayah Indonesia secara
terintegrasi kiranya menunjang
p e m b e rd aya a n d a e ra h d a l a m
pendanaan SJSN dan dibahas dalam
pertemuan yang melibatkan berbagai
pihak terkait. Pusat dan daerah
bekerja sama dan pembobotan
partisipasi daerah dengan
Pendapatan Asli Daerah hendaknya
menjadi acuan dalam pengambilan
kebijakan selanjutnya. Pembobotan
pembiayaan proporsi daerah juga
j a ra k l o ka s i d a r i p u s at ya n g
didasarkan PAD masing-masing
daerah hendfaknya dibahas dalam
peertemuan lintas sektor. Dengan
demikian akan terwujud BPJS pusat
dan BPJS daerah yang kesemuanya
dalam sistem IT Komputerisasi yang
online diseluruh Indonesia tetapi tak
dapat diretas oleh negara asing.
Gbr. 1 Struktur Age-Sex Population USA 1950
Berbagai negara berusaha
menampilkan pembiayaan dan
pengelolaan kebijakan Asuransi
Kesehatan Nasionalnya secara arif dan
bijaksana. Sebagai contoh RRC
membuat kebijakan keterlibatan
daerah dan pusat dengan ratio
pembiayaan 10-20% Daerah dan 8090% pendanaan kesehatannya
ditanggung oleh Pusat. Kanada
mencoba sepenuhnya mempunyai
kebijakan pembiayaan kesehatan
dibiayai oleh pemerintah pusat.
Amerika dengan sistem Medicare dan
Medicaid-nya belum menerapkan
satu pembiayaan sebagaimana yang
dilakukan oleh Taiwan yaitu satu
wadah kebijakan satu National Health
Coveraged. Negara di Eropa misalnya
Inggris untuk pembiayaan kesehatan
nasionalnya diantaranya terambil dari
pajak. Korea Selatan mencoba mengCover National healthcare-nya
melalui pendekatan budaya sehingga
tampaknya berhasil dalam perjalanan
membuat rakyatnya mempunyai
angka harapan hidup yang tinggi.
Kekhawatiran akan angka harapan
hidup yang tinggi dapat membuat
biaya pengobatan jadi tinggi dengan
struktur age-sex populasi demografi
USA 2050 (Gbr. 2) artinya lambat laun
Gbr. 2 Struktur Age-Sex Population USA 2050
Ulasan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
negara menuju bangkrut.
Melihat kejadian tersebut, sebaiknya
Indonesia belajar secara terus
menerus dan mencoba mengadopsi
kebijakan di negara-negara yang telah
establish pola kebijakan pembiayaan
kesehatan nasionalnya dan
menyesuaikannya dengan kultur yang
ada di Indonesia.
Seiring dengan perjalanan waktu,
Pemerintah telah berupaya secara
giat, mengkoordinir kebijakan Sistem
Jaminan Sosial Nasional membidangi
jaminan kesehatan menyongsong
pemberlakuannya pada tahun 2014
mendatang.
Keuntungan dan Kekurangan satu
wadah (National Health Coveraged) :
1.Keuntungan: Bahwa ketercakupan
masyarakat miskin dalam
mendapatkan perlakuan pelayanan
kesehatan yang sama diseluruh
wilayah indonesia dapat teratasi;
Perusahaan Farmasi yang
memproduksi obat atau alat
kesehatan dapat terjual dan
terhindarinya pemborosan obat
kadaluarsa dan harga obat yang
mahal; Terciptanya persaingan
harga murah diantara perusahaan
farmasi sehingga obat berharga
murah namun tetap berkualitas;
Terciptanya harmonitas antara
pusat dan daerah dalam tatanan
yang terpeliharanya MOU apabila
proporsi pembiayaan pusat lebih
besar dari daerah; Terbentuknya
Cabang-cabang BPJS didaerahdaerah yang membawa iklim segar
dalam kebersamaan berbangsa dan
bernegara pascaotonomi daerah;
Terlaksananya pelaksaanaan sistem
peng-Code-an penyakit misalnya
“ICD-10” dan revisinya melalui
jejaring IT Computer yang canggih
secara konsisten melalui clinical
pathway atau jalur lainnya;
Termotivasinya mencari suatu
solusi terbaik melalui penelitian
menjembatani jurang pemisah
dalam pelaksanaan kebijakan
selanjutnya; Terstimulasinya
penerapan jaringan informasi
teknologi berbasis komputer yang
tinggi diseluruh wilayah Indonesia;
Terciptanya suatu sistem 'on line”
pelatihan dan bimbingan, nilai
standar pelayanan yang termonitor
setiap hari diseluruh wilayah
Indonesia; Pemerintah pusat
dipaksa untuk siap menciptakan
iklim yang sehat dalam
memfasiliatasi keikut sertaan
semua pihak termasuk swasta;
Kepatuhan pada FORNAS
(Formularium Nasional) dan DOEN
(Daftar Obat Esensial nasional)
akan meningkat tajam yang
berdampak pada ketercapaian
penggunaan obat secara rasional;
Upah total Cavity profesi dokter,
apoteker, drg. Perawat. Bidan,
asisten apoteker, Fisioterapist,
penata rontgen, petugas medis non
medis lainnya, petugas lainnya dan
profesi lainnya dapat
terdokumentasikan dengan jelas
yang harus dibahas bersama;
Bimbingan teknis dari pusat sudah
dapat di-download secara cepat
melalui website Kemenkes yang
telah tersedia sehingga terjadi
penghematan uang negara yang
penggunaannya bisa dimanfaatkan
untuk membiayai program kegiatan
lainnya.
2.Kerugian: Diagnosis penyakit dari
pasien peserta kemungkinan
diragukan kerahasiaannya apabila
sistem IT Computerisasinya belum
maksimal dalam memprotect akses
data peserta seandainya kartu
disalah gunakan atau hilang; akan
ada perusahaan farmasi atau yang
lainnya yang gulung tikar apabila
irama Badan Penyelenggara tidak
terpatuhi; kebimbangan nasib
sediaan herbal dalam Formularium
Nasional apabila tidak dibahas
secara smart dan bijaksana; Untuk
hal tidak terlibat dalam kemitraan
maka akan banyak pengusaha
dibidang farmasi bertumbangan
dan untuk mencegah hal ini
sebaiknya dibahas secara arif, adil
dan bijaksana; Apabila pendanaan
obat yang perawatannya
membutuhkan waktu yang lama,
akan berdampak pada beban biaya
meningkat yang dikeluarkan SJSN;
Bagi daerah yang prasarana
listriknya belum tersedia akan
mengalami kesulitan mengakses
informasi data yang dikelola oleh
Badan Penyelenggara; Apabila
porsi pembiayaan antara Pusat dan
Propinsi/Kabupaten yang berbedabeda PAD-nya dilakukan tidak adil
dikhawatirkan dan semoga tidak
terjadi potensi konflik pusat dengan
daerah yang ujung-ujungnya
berdampak pada negara bangkrut
terlebih lagi melibatkan konsultan
dari negara asing yang tidak sinergis
dalam penentuan kebijakan SJSN.
Melihat uraian terbut diatas, kita
dihadapkan pada suatau realita
nantinya dipersimpangan jalan
apabila tidak dipersiapkan secara
matang, terprogram, dan jenius
berdampak dekstruktif bagi Negara
dalam menghadirkan Kartu Jaminan
S e h at N a s i o n a l ya n g s e d a n g
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 21
Ulasan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
diupayakan. Semoga upaya yang telah
dilaksanakan membawa keberhasilan
menyongsong tahun pelaksanaan
2014.
Berdasarkan pengalaman penulis
yang pernah mengecap indahnya
menikmati Kartu Jaminan Sehat
Nasional di Luar Negri, seluruh
penduduk baik asing yang berdomisili
sementara maupun penduduk lokal
direkrut untuk ikut serta menjadi
Peserta Kartu Jaminan Sehat Nasional
d e n ga n m e m b aya r ke wa j i b a n
perbulan (premi) diseuaikan dengan
kemampuan ekonomi masing-masing
peserta. Di Australia, terdapat suatu
wadah independent yang melayani
pembiayaan kesehatan kewajiban
menjadi peserta kartu jaminan Sehatnya dalam rasio pembagian yang
miskin dan peserta mampu dalam
kisaran angka perbandingan 1:5. Biaya
individu yang dibayarkan peserta
tidak boleh disamakan baik kaya
maupun miskin, setiap pasien
dibebankan sesuai proporsinya.
Usulan Bentuk Kartu Jaminan Sehat
Nasional
Ciri-Ciri Kartu jaminan Sehat Nasional
seperti wujud kartu ATM ditandai
dengan:
Belahan TAMPAK depan (Gbr.3):
adanya Badan Penyelenggara beserta
logonya, Nama, gambar foto peserta,
tertera kartu magnetik (sejenis segel
magnetik) dengan data Identitas diri
dan nomor peserta beserta tanggal,
Gambar 3 Belahan Tampak Depan
Hal.22 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
Gambar 4 Belahan Tampak Belakang
bulan , tahun lahir
Belahan TAMPAK belakang (Gbr.4):
terdapat informasi keterangan yang
mengarahkan peserta pada interaksi
dengan Badan Penyelenggara berikut
nomor kontak telp. yang sifatnya
online setiap saat dan juga alamat
situs email yang bisa dihubungi oleh
peserta ke Badan Penyelenggara.
Kartu peserta jaminan sehat bagi
penduduk asing yang telah terdaftar
dibedakan dengan No KTP sementara
peserta yang berdomisili di negara
penyelenggara.
Saran: adanya security sign dan PIN
number setiap peserta dan tanda
tangan peserta maupun finger print di
Kartu peserta yang intinya tidak dapat
disalahgunakan oleh orang lain
kecuali keluarga terdekat,
terutilisasinya kartu anggota peserta
untuk pembayaran tunai suatu
transaksi akibat adanya kerjasama
dengan Bank yang direvisi secara
periodik, nama peserta hendaknya
tertampilkan dengan tulisan muncul
sehingga tampil lebih menarik dengan
warna yang spesifik.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS)
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
adalah semua perilaku kesehatan
yang dilakukan atas dasar kesadaran
sehingga anggota keluarga atau
keluarga dapat menolong dirinya
sendiri dalam hal kesehatan dan
berperan aktif dalam kegiatankegiatan kesehatan di masyarakat
berdampak pada keluarga sehat dan
tidak mudah sakit, anak tumbuh sehat
dan cerdas, giat bekerja, demikian
juga masyarakat mampu
mengupayakan hidup sehat serta
mencegah ataupun menanggulangi
m a s a l a h m a s a l a h ke s e h a t a n .
Disamping itu, PEMDA ikut berperan
dalam terciptanya regional sehat
sekaligus menjadi percontohan bagi
daerah lain yang melibatkan petugas
Puskesmas diantaranya:
1.Peningkatan pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan agar ibu dan
bayi selamat dan sehat
2.Persentase peningkatan pemberian
ASI eksklusif dari usia 0-6 bulan agar
bayi tumbuh sehat dan tidak mudah
sakit
3.Peningkatan kesadaran menimbang
bayi dan balita agar terpantau
pertumbuhan dan perkembangan
bayi
4.ketersediaan air bersih agar
terhindar dari penyakit kulit ,
kecacingan dan muntaber
5.Penggunaan jamban sehat agar
terhindar dari muntaber di lingkungan
tempat tinggal
6.Kesadaran perilaku cuci tangan
pakai sabun agar bersih dan tidak
mudah sakit
7. Pemberantasan jentik nyamuk di
rumah serentak seminggu sekali agar
terhindar dari demam berdarah
8.Peningkatan makan buah dan sayur
setiap hari agar terhindar dari
penyakit stroke, hipertensi, diabetes
dan kanker.
9. Melakukan aktivitas fisik berolah
raga sehari-hari minimal 30 menit
setiap hari sehingga terhindar dari
penyakit jantung, stroke, hipertensi,
diabetes, dan kanker.
10. Peningkatan tidak merokok di
rumah agar anggota keluarga
terhindar dari bahaya 4000 racun
rokok. Indonesia berada di urutan ke-
Ulasan
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
3 jumlah perokok tertinggi didunia
dengan prevalensi 34.7%. Apabila
sehari saja bangsa Indonesia mogok
merokok sebungkus sehari maka akan
tersimpan uang sebesar Rp. 1 Trilyun
yang bisa membiayai puluhan ribuan
mahasiswa doktoral, master dan
sarjana dalam satu periodik
pendidikan, dan membayar fasilitas
kesehatan
11. Bebas narkoba agar terhindar dari
ketergantungan obat-obat terlarang
yang menyebabkan bahaya
ketergantungan obat dan kriminalitas
akibat narkoba.
12. Beristirahat yang cukup agar
terpenuhi kepulihan tenaga dan
kebugaran tubuh setelah akitivitas
yang dilakukan sehari-hari.
13. Peduli lingkungan yang bersih dan
sehat baik di udara sehingga tercapai
bebas polusi dengan menanam pohon
dengan demikian ikut serta
menunjang potensi hutan Indonesia
sebagai paru-paru dunia , bebas polusi
air sungai dengan tidak membuang
sampah sembarangan sehingga
terhindar dari banjir dan longsor,
tercegah pendangkalan danau,
terhindarinya pencemaran air laut,
juga bebas polusi tanah dengan tidak
membuang limbah sembarangan.
Gaya hidup sehat mutlak harus
dilaksanakan sejak dini dan butuh
waktu yang lama untuk merubah
kebiasaan hidup. Pemerintah telah
g i a t s e c a ra p r o a k t i f d e n g a n
melakukan promosi kesehatan dan
terprogram melalui Kemenkes di
Pusat Promosi Kesehatan. Kiranya
pengaplikasian Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS) yang telah
dilakukan melalui edukasi dan
bimbingan penyuluhan kepada
semua lini dari berbagai aspek
kehidupan lebih dikedepankan lagi
untuk mensukseskan kinerja BPJS
ya n g s e d a n g d i u p aya ka n i n i .
Kebehasilan BPJS juga tak lepas dari
keperdulian terhadap lingkungan
guna mencegah adanya wabah
penyakit, adanya protap penanganan
bencana alam dalam meminimalkan
resiko yang terjadi.
Kesimpulan
Tidak ada negara didunia ini
pengelolaan biaya anggaran
kesehatannya yang ideal sempurna
tetapi dapat diadopsi kebijakan yang
kira-kira cocok di Indonesia.
Dasar dalam mensukseskan BPJS
adalah pembenahan jejaring IT
Computerize yang dapat diakses di
seluruh Indonesia tetapi tidak dapat
diretas oleh negara asing sehingga
tetap menjaga kerahasiaannya.
Harap kita perhatikan semoga tidak
pernah pernah memberikan suatu
pembuat kebijakan didominasi oleh
negara asing yang berdampak pada
kedaulatan negara terjual.
Upah masing-masing profesi terlibat
d a l a m ke s e h a t a n h e n d a k n y a
diperoleh dari suatu konsensus
bersama misalnya tenaga kesehatan
medis (dokter, dokter gigi, perawat,
bidan, perawat gigi dan lain-lain) dan
te n a ga ke s e h ata n n o n m e d i s
(misalnya: apoteker, asisten apoteker
dan lain-lain). Besarnya uang iuran
hendaknya diujicoba sebelum
ditetapkan.
Akhir kata semoga SJSN dalam
perwujudan BPJS berjalan sukses
terlebih menyongsong
pemberlakuannya di tahun 2014.
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 23
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
BEBERAPA HAL YANG PERLU DIKETAHUI
SAAT MENGGUNAKAN OBAT
Ada beberapa hal yang harus kita ketahui
dan kita tanyakan secara detail kepada
pihak apotek ketika kita menggunakan
obat atau mendapatkan pengobatan, hal
tersebut berguna agar obat-obat yang kita
minum bisa bekerja secara maksimal dan
bisa cepat sembuh. Beberapa hal tersebut
diantaranya:
Aturan Pakai
Berapa kali obat harus diminum itu penting
diketahui secara benar, apalagi untuk obat
antibiotik atau antivirus, saat disebutkan 3
kali sehari kadang kita minum seenaknya
sendiri ketika kita sedang ingat. Padahal
seharusnya menurut aturan, obat tersebut
harus diminum setiap 8 jam agar obat
bekerja secara maksimal sama halnya dgn
obat-obat yang musti diminum 2 kali sehari
atau pun 4 kali sehari.
Sebelum makan
Artinya obat diminum saat perut dalam
keadaan kosong, bukan berarti saat
disebutkan obat diminum sebelum makan,
mutlak kita minum sebelum makan, tetapi
bisa saja kita minum obat tersebut sesudah
makan sekitar 2 jam sesudah makan,
karena pada selang waktu 2 jam dianggap
lambung sudah mulai kosong lagi, sehingga
obat-obat yang terpengaruh absorpsinya
karena makanan bisa digunakan.
Sesudah makan
Artinya obat tersebut diminum saat perut
tidak dalam keadaan kosong, karena
ditakutkan obat-obat yang bersifat asam
(misal: asam mefenamat) bisa mengiritasi
lambung saat perut kosong. Usahakan
untuk mengisi perut dengan makanan
walaupun hanya sedikit atau pun hanya
Hal. 24 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
dengan roti, dan saat minum obat tidak
boleh sampai 2 jam setelah makan, karena
setelah 2 jam lambung sudah kembali
mulai kosong.
Takaran obat
Alat yang kita gunakan untuk menakar obat
harus sesuai dengan aturan yang ada,
misalnya ketika kita mendapatkan obat
syrup dan harus meminumnya dengan
ukuran sendok teh atau sendok makan,
maka akan menimbulkan berbagai
masalah, salah satu diantaranya adalah
karena ukuran sendok dimasing-masing
tempat bisa berbeda. Di rumah seseorang
kemungkinan ukuran sendok tehnya bisa
berbeda dengan ukuran sendok di rumah
orang lain. Yang perlu ada tanyakan saat
anda berobat adalah berapa ml yang harus
minum, misalnya 5 ml, 10 ml ataukah 15
ml. atau ketika kita mendapatkan obat
dalam bentuk drop, di etiket dituliskan
bahwa yang harus diminum adalah 0.5 ml
ternyata ketika kita buka sediaan drop
tersebut tidak ada ukuran ml atau cc
melainkan tetesan. Apa yang akan terjadi?
Pasti anda akan kebingungan (1ml = 20
tetes).
Saat yang tepat untuk minum obat
Yang tidak kalah penting adalah kita harus
mengetahui kapan saat yang tepat kita
harus minum obat tersebut, (misal: obat
antialergi) karena kebanyakan obat
antialergi menyebabkan kantuk maka
sebaiknya obat tersebut diminum pada
malam hari sebelum tidur agar tidak
mengganggu aktifitas. atau contoh lain
m i s a l ny a f u r o s e m i d , ke t i k a k i t a
mengkonsumsi furosemid kita akan
merasa sering ingin buang air kecil maka
obat tersebut sebaiknya diminum pada
pagi hari sehingga tidak akan menggangu
aktifitas tidur kita di malam hari.
Sampai kapan anda harus meminum obat
Selain beberapa hal diatas ada satu hal
yang juga perlu anda tanyakan sampai
kapan obat yang anda peroleh harus
diminum. Contohnya:
Antibiotik
Untuk antibiotik dalam sediaan tablet obat
harus dihabiskan, minimal penggunaan
antibiotik adalah 3 hari dan maksimal
penggunaan disesuaikan dengan kondisi
masing masing pasien. Sedangkan untuk
sediaan syrup kering (biasanya sudah
dilarutkan oleh pihak apotek) rata-rata
penggunaaan obat adalah 1 minggu dari
hari pertama obat dilarutkan (contoh
amoksilin syrup) dan ada pula yang
memiliki batas melebihi 1 minggu. Sama
halnya dengan sediaan tablet, sediaan
syrup juga harus diminum sampai habis,
tetapi jika untuk syrup sudah melebihi
batas waktu yang sudah ditentukan masih
sisa maka obat tersebut tidak boleh
digunakan lagi dan harus dibuang
Analgetik-Antipiretik
Orang awam menyebutnya sebagai obat
penghilang rasa sakit (nyeri) dan penurun
demam. Obat-obat golongan ini diberikan
hanya jika diperlukan, artinya obat tidak
perlu diminum sampai habis tetapi obat
diminum sampai gejala hilang. Misalnya
pemakaian parasetamol yang hanya
diberikan ketika pasien demam, dan
ketika pasien sudah tidak menunjukan
gejala demam, obat bisa dihentikan.
Tetapi pemakaian obat demam bisa
berbeda ketika hal tersebut digunakan
pada pengobatan demam berdarah,
pasien yang demamnya turun bisa saja
memasuki masa kritis. Sehing ga
dianjurkan untuk lebih waspada pada
penggunaan obat demam.
Untuk itu bertanyalah anda kepada
Apoteker atau petugas apotek yang
menyerahkan obat kepada anda agar anda
mendapatkan pengobatan yang benar.
Jika anda mendapatkan pengobatan yang
benar maka anda akan segera sembuh.
Pepatah mengatakan ”Malu bertanya
sesat di jalan”.
Kumpulan-farmasi.blogspot.com
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
DIURETIKA
Diuretik adalah obat yang dapat
menambah kecepatan pembentukan urin.
Istilah diuresis mempunyai dua
pengertian, pertama menunjukkan adanya
penambahan volume urin yang diproduksi
dan yang kedua menunjukkan jumlah
pengeluaran zat-zat terlarut dalam air.
Fungsi utama diuretik adalah untuk
memobilisasi cairan udem yang berarti
m e n g u b a h ke s e i m b a n g a n c a i r a n
sedemikian rupa sehingga volume cairan
ekstrasel menjadi normal.
Proses diuresis dimulai dengan
mengalirnya darah ke dalam glomeruli
(gumpalan kapiler) yang terletak di bagian
luar ginjal (cortex). Dinding glomeruli inilah
yang bekerja sebagai saringan halus yang
secara pasif dapat dilintasi air,m garam dan
glukosa. Ultrafiltrat yang diperoleh dari
filtrasi dan mengandung banyak air serta
elektrolit ditampung di wadah, yang
mengelilingi setiap glomerulus seperti
corong (kapsul Bowman) dan kemudian
disalurkan ke pipa kecil. Di sini terjadi
penarikan kembali secara aktif dari air dan
komponen yang sangat penting bagi tubuh,
seperti glukosa dan garam-garam antara
lain ion Na+. Zat-zat ini dikembalikan pada
darah melalui kapiler yang mengelilingi
tubuli.sisanya yang tak berguna seperti
”sampah” perombakan metabolismeprotein (ureum) untuk sebagian besar
tidak diserap kembali.
Akhirnya filtrat dari semua tubuli
ditampung di suatu saluran pengumpul
(ductus coligens), di mana terutama
berlangsung penyerapan air kembali.
Filtrat akhir disalurkan ke kandung kemih
dan ditimbun sebagai urin.
Diuretik dapat dibagi menjadi 5 golongan
yaitu :
1. I n h i b i t o r k a r b o n i k a n h i d r a s e
(asetazolamid).
2. Loop diuretik (furosemid, as etakrinat,
torsemid, bumetanid)
3. Tiazid (klorotiazid, hidroklorotiazid,
klortalidon)
4. Hemat kalium (amilorid, spironolakton,
triamteren)
5. Osmotik (manitol, urea)
INHIBITOR KARBONIK ANHIDRASE
Karbonik anhidrase adalah enzim yang
mengkatalis reaksi CO2 + H2O => H2CO3.
Enzim ini terdapat antara lain dalam sel
korteks renalis, pankreas, mukosa
lambung, mata, eritrosit dan SSP, tetapi
tidak terdapat dalam plasma.
Inhibitor karbonik anhidrase adalah obat
yang digunakan untuk menurunkan
tekanan intraokular pada glaukoma
dengan membatasi produksi humor
aqueus, bukan sebagai diuretik (misalnya,
asetazolamid). Obat ini bekerja pada
tubulus proksimal (nefron) dengan
m e n c e ga h re a b s o r p s i b i ka r b o n at
(hidrogen karbonat), natrium, kalium, dan
air semua zat ini meningkatkan produksi
urine.
Yang termasuk golongan diuretik ini adalah
asetazolamid, diklorofenamid dan
metazolamid.
Asetazolamid
Farmakodinamika
Efek farmakodinamika yang utama dari
asetazolamid adalah penghambatan
karbonik anhidrase secara nonkompetitif.
Akibatnya terjadi perubahan sistemik dan
pearubahan terbatas pada organ tempat
enzim tersebut berada.
Asetazolamid memperbesar ekskresi K+,
tetapi efek ini hanya nyata pada permulaan
terapi saja, sehingga pengaruhnya
terhadap keseimbangan kalium tidak
sebesar pengaruh tiazid.
Farmakokinetik
Asetazolamid diberikan per
oral.Asetozalamid mudah diserap melalui
saluran cerna, kadar maksimal dalam
darah dicapai dalam 2 jam dan ekskresi
melalui ginjal sudah sempurna dalam 24
jam. Obat ini mengalami proses sekresi
aktif oleh tubuli dan sebagian direabsorpsi
secara pasif. Asetazolamid terikat kuat
pada karbonik anhidrase, sehingga
terakumulasi dalam sel yang banyak
mengandung enzim ini, terutama sel
eritrosit dan korteks ginjal. Distribusi
penghambat karbonik anhidrase dalam
tubuh ditentukan oleh ada tidaknya enzim
karbonik anhidrase dalam sel yang
bersangkutan dan dapat tidaknya obat itu
masuk ke dalam sel. Asetazolamid tidak
dimetabolisme dan diekskresi dalam
bentuk utuh melalui urin.
Efek Samping dan kontraindikasi
Pada dosis tinggi dapat timbul parestesia
d a n ka nt u k ya n g te r u s - m e n e r u s .
Asetazolamid mempermudah
p emb ent u ka n b at u gin j a l ka ren a
berkurangnya sekresi sitrat, kadar kalsium
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 25
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
dalam urin tidak berubah atau meningkat.
Asetazolamid dikontraindikasikan pada
sirosis hepatis karena menyebabkan
disorientasi mental pada penderita sirosis
hepatis. Reaksi alergi yang jarang terjadi
berupa demam, reaksi kulit, depresi
sumsum tulang dan lesi renal mirip reaksi
sulfonamid.
Asetazolamid sebaiknya tidak diberikan
selam kehamilan karena pada hewan
percobaan obat ini dapat menimbulkan
efek teratogenik.
Indikasi
Penggunaan utama adalah menurunkan
tekanan intraokuler pada penyakit
glaukoma. Asetazolamid juga efektif untuk
mengurangi gejala acute mountain
sickness. Asetazolamid jarang digunakan
sebagai diuretik, tetapi dapat bermanfaat
u n t u k a l ka l i n i s a s i u r i n s e h i n g ga
mempermudah ekskresi zat organik yang
bersifat asam lemah.
Sediaan dan posologi
Asetazolamid tersedia dalam bentuk tablet
125 mg dan 250 mg untuk pemberian oral.
LOOP DIURETIK
Termasuk dalam kelompok ini adalah asam
etakrinat, furosemid dan bumetanid.
Asam etakrinat termasuk diuretik yang
dapat diberikan secara oral maupun
parenteral dengan hasil yang memuaskan.
Furosemid atau asam 4-kloro-N-furfuril-5sulfomail antranilat masih tergolong
derivat sulfonamid.
Diuretik loop bekerja dengan mencegah
reabsorpsi natrium, klorida, dan kalium
pada segmen tebal ujung asenden ansa
Henle (nefron) melalui inhibisi pembawa
klorida. Obat ini termasuk asam etakrinat,
furosemid da bumetanid, dan digunakan
Hal. 26 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
untuk pengobatan hipertensi, edema,
serta oliguria yang disebabkan oleh gagal
ginjal. Pengobatan bersamaan dengan
kalium diperlukan selama menggunakan
obat ini.
Mekanisme kerja :
Secara umum dapat dikatakan bahwa
diureti kuat mempunyai mula kerja dan
lama kerja yang lebih pendek dari tiazid.
Diuretik kuat terutama bekerja pada Ansa
Henle bagian asenden pada bagian
dengan epitel tebal dengan cara
menghambat kotranspor Na+/K+/Cl- dari
membran lumen pada pars ascenden ansa
henle, karena itu reabsorpsi Na+/K+/Clmenurun
Farmakokinetik
Ketiga obat mudah diserap melalui saluran
cerna, dengan derajat yang agak berbedabeda.Bioavaibilitas furosemid 65 %
sedangkan bumetanid hamper 100%.
Diuretic kuat terikat pada protein plasma
secara ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di
glomerulus tetapi cepat sekali disekresi
melalui system transport asam organik di
tubuli proksimal.
Kira-kira 2/3 dari asam etakrinat yang
diberikan secara IV diekskresi melalui
ginjal dalam bentuk utuh dan dalam
konjugasi dengan senyawa sulfhidril
terutama sistein dan N-asetil sistein.
Sebagian lagi diekskresi melalui
hati.sebagian besar furosemid diekskresi
dengan cara yang sama, hanya sebagian
kecil dalam bentuk glukuronid. Kira-kira
50% bumetanid diekskresi dalam bentuk
asal, selebihnya sebagai metabolit.
Efek samping
Efek samping asam etakrinat dan
furosemid dapat dibedakan atas :
Reaksi toksik berupa gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit yang
sering terjadi, dan efek samping yang tidak
berhubungan dengan kerja utamanya
jarang terjadi.
Gangguan saluran cerna lebih sering
terjadi dengan asam etakrinat daripada
furosemid.
Tidak dianjurkan pada wanita hamil
kecuali bila mutlak diperlukan.
Asam etakrinat dapat menyebabkan
ketulian sementara maupun menetap.
Ketulian sementara dapat terjadi pada
furosemid dan lebih jarang pada
bumetanid. Ketulian ini mungkin sekali
disebabkan oleh perubahan komposisi
eletrolit cairan endolimfe. Ototoksisitas
merupakan suatu efek samping unik
kelompok obat ini.
Pada penggunaan kronis, diuretik kuat ini
dapat menurunkan bersihan litium.
Indikasi
Furosemid lebih banyak digunakan
daripada asam etakrinat, karena ganguan
saluran cerna yang lebih ringan. Diuretik
kuat merupakan obat efektif untuk
pengobatan udem akibat gangguan
jantung, hati atau ginjal.
Sediaan
Asam etakrinat. Tablet 25 dan 50 mg
digunakan dengan dosis 50-200 mg per
hari. Sediaan IV berupa Na-etakrinat,
dosisnya 50 mg, atau 0,5-1 mg/kgBB.
Furosemid. Obat ini tersedia dalam bentuk
tablet 20,40,80 mg dan preparat suntikan.
Umunya pasien membutuhkan kurang dari
600 mg/hari. Dosis anak 2mg/kgBB, bila
perlu dapat ditingkatkan menjadi 6
mg/kgBB.
Bumetanid. Tablet 0.5mg dan 1 mg
digunakan dengan dosis dewasa 0.5-2mg
sehari. Dosis maksimal per hari 10 mg.
Obat ini tersedia juga dalam bentuk bubuk
injeksi dengan dosis IV atau IM dosis awal
antara 0,5-1 mg, dosis diulang 2-3 jam
maksimum 10mg/kg.
TIAZID
Senyawa tiazid menunjukkan kurva dosis
yang sejajar dan daya klouretik maksimal
yang sebanding.
Merupakan Obat diuretik yang paling
banyak digunakan. Diuretik tiazid, seperti
bendroflumetiazid, bekerja pada bagian
awal tubulus distal (nefron). Obat ini
menurunkan reabsorpsi natrium dan
klorida, yang meningkatkan ekskresi air,
natrium, dan klorida. Selain itu, kalium
hilang dan kalsium ditahan. Obat ini
digunakan dalam pengobatan hipertensi,
gagal jantung ringan, edema, dan pada
diabetes insipidus nefrogenik.
Obat-obat diuretik yang termsuk golongan
ini adalah; klorotiazid, hidroklorotiazid,
hidroflumetiazid, bendroflumetiazid,
politiazid, benztiazid, siklotiazid,
metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan
indapamid.
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
Farmakodinamika
Efek farmakodinamika tiazid yang utama
ialah meningkatkan ekskresi natrium,
klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis
dan kloruresis ini disebabkan oleh
penghambatan reabsorbsi elektrolit pada
hulu tubuli distal. Pada penderita
hipertensi, tiazid menurunkan tekanan
darah bukan saja karena efek diuretiknya,
tetapi juga karena efek langsung terhadap
arteriol sehingga terjadi vasodilatasi.
Mekanisme kerja
bekerja pada tubulus distal untuk
menurunkan reabsorpsi Na+ dengan
menghambat kotransporter Na+/Cl- pada
membran lumen.
Farmakokinetik
Absorbsi tiazid melalui saluran cerna baik
sekali. Umumnya efek obat tampak setelah
1 jam. Didistribusikan ke seluruh ruang
ekstrasel dan dapat melewati sawar uri.
Dengan proses aktif, tiazid diekskresi oleh
sel tubuli proksimal ke dalam cairan tubuli.
Biasanya dalam 3-6 jam sudah diekskresi
dari badan.
Efek samping
Reaksi alergi berupa kelainan kulit,
purpura, dermatitis disertai
fotosensitivitas dan kelainan darah. Pada
penggunaan lama dapat timbul
hiperglikemia, terutama pada penderita
diabetes yang laten.
Ada 3 faktor yang menyebabkan antara
lain: berkurangnya sekresi insulin terhadap
peninggian kadar glukosa plasma,
m e n i n g ka t nya g l i ko g e n o l i s i s d a n
berkurangnya glikogenesis.
M e nye b a b ka n p e n i n g kata n ka d a r
kolesterol dan trigliserid plasma dengan
mekanisme yang tidak diketahui.
Gejala infusiensi ginjal dapat diperberat
oleh tiazid, mungkin karena tiazid
langsung megurangi aliran darah ginjal.
Indikasi
1. Tiazid merupakan diuretik terpilih
untuk pengobatan udem akibat payah
jantung ringan sampai sedang. Ada
baiknya bila dikombinasi dengan
diuretik hemat kalium pada penderita
yang juga mendapat pengobatan
digitalis unruk mencegah timbulnya
hipokalemia yang memudahkan
terjadinya intoksikasi digitalis.
2. Merupakan salah satu obat penting
pada pengobatan hipertensi, baik
sebagai obat tunggal atau dalam
kombinasi dengan obat hipertensi
lain.
3. Pengobatan diabetes insipidus
terutama yang bersifat nefrogen dan
hiperkalsiuria pada penderita dengan
batu kalsium pada saluran kemih.
HEMAT KALIUM
Diuretik yang mempertahankan kalium
menyebabkan diuresis tanpa kehilangan
kalium dalam urine.
Yang termasuk dalam kelompok ini antara
lain aldosteron, traimteren dan amilorid.
Antagonis Aldosteron
Aldosteron adalah mineralokortikoid
endogen yang paling kuat. Peranan utama
aldosteron ialah memperbesar
reabsorbsi natrium dan klorida di tubuli
serta memperbesar ekskresi kalium.
Yang merupakan antagonis aldosteron
adalah spironolakton dan bersaing
dengan reseptor tubularnya yang terletak
di nefron sehingga mengakibatkan retensi
kalium dan peningkatan ekskresi air serta
natrium. Obat ini juga meningkatkan kerja
tiazid dan diuretik loop. Diuretik yang
mempertahankan kalium lainnya
termasuk amilorida, yang bekerja pada
duktus pengumpul untuk menurunkan
reabsorpsi natrium dan ekskresi kalium
dengan memblok saluran natrium,
tempat aldosteron bekerja. Diuretik ini
digunakan bersamaan dengan diuretik
yang menyebabkan kehilangan kalium
serta untuk pengobatan edema pada
sirosis hepatis. Efek diuretiknya tidak
sekuat golongan diuretik kuat.
Mekanisme kerja
Penghambatan kompetitif terhadap
aldosteron. Bekerja di tubulus renalis
rektus untuk menghambat reabsorpsi
Na+, sekresi K+ dan sekresi H+
Farmakokinetik
70% spironolakton oral diserap di saluran
cerna, mengalami sirkulasi enterohepatik
dan metabolisme lintas pertama.
M eta b o l i t u ta m a nya ka n k re n o n .
Kankrenon mengalami interkonversi
enzimatik menjadi kakreonat yang tidak
aktif.
Efek samping
Efek toksik yang paling utama dari
spironolakton adalah hiperkalemia yang
sering terjadi bila obat ini diberikan
bersama-sama dengan asupan kalium
yang berlebihan. Tetapi efek toksik ini
dapat pula terjadi bila dosis yang biasa
diberikan bersama dengan tiazid pada
penderita dengan gangguan fungsi ginjal
yang berat. Efek samping yang lebih
ringan dan reversibel diantranya
ginekomastia, dan gejala saluran cerna
Indikasi
Antagonis aldosteron digunakan secara
luas untuk pengobatan hipertensi dan
udem yang refrakter. Biasanya obat ini
dipakai bersama diuretik lain dengan
maksud mengurangi ekskresi kalium,
disamping memperbesar diuresis.
Sediaan dan dosis
Spironolakton terdapat dalam bentuk
tablet 25, 50 dan 100 mg. Dosis dewasa
berkisar antara 25-200mg, tetapi dosis
efektif sehari rata-rata 100mg dalam dosis
tunggal atau terbagi. Terdapat pula
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 27
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
mg. Dosis sehari sebesar 5-10mg.
Sediaan kombinasi tetap antara amilorid 5
mg dan hidroklortiazid 50 mg terdapat
dalam bentuk tablet dengan dosis sehari
antara 1-2 tablet.
s e d i a a n ko m b i n a s i t e t a p a n t a ra
spironolakton 25 mg dan hidroklorotiazid
25mg, serta antara spironolakton 25 mg
dan tiabutazid 2,5 mg.
Triamteren dan Amilorid
Kedua obat ini terutama memperbesar
ekskresi natrium dan klorida, sedangkan
eksresi kalium berkurang dan ekskresi
bikarbonat tidak mengalami perubahan.
Triamteren menurunkan ekskresi K+
dengan menghambat sekresi kalium di sel
tubuli distal.
Dibandingkan dengan triamteren, amilorid
jauh lebih mudah larut dalam air sehingga
lebih mudah larut dalam air sehingga lebih
banyak diteliti.
Absorpsi triamteren melalui saluran cerna
baik sekali, obat ini hanya diberikan oral.
Efek diuresisnya biasanya mulai tampak
setelah 1 jam. Amilorid dan triameteren
per oral diserap kira-kira 50% dan efek
diuresisnya terlihat dalam 6 jam dan
berkahir sesudah 24 jam.
Efek samping
Efek toksik yang paling berbahaya dari
kedua obat ini adalah hiperkalemia.
Triamteren juga dapat menimbulkan efek
samping yang berupa mual, muntah,
kejang kaki, dan pusing.
Efek samping amilorid yang paling sering
selain hiperkalemia yaitu mual, muntah,
diare dan sakit kepala.
Indikasi
Bermanfaat untuk pengobatan beberapa
pasien udem. Tetapi obat ini akan
bermanfaat bila diberikan bersama dengan
diuretik golongan lain, misalnya dari
golongan tiazid.
Sediaan
Triamteren tersedia sebagai kapsul dari
100mg. Dosisnya 100-300mg sehari. Untuk
tiap penderita harus ditetapkan dosis
penunjang tersendiri.
Amilorid terdapat dalam bentuk tablet 5
Hal. 28 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
DIURETIK OSMOTIK
Istilah diuretik osmotik biasanya dipakai
untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan
cepat diekskresi oleh ginjal.
Contoh dari diuretik osmotik adalah ;
manitol, urea, gliserin dan isosorbid.
Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretik
osmotik apabila memenuhi 4 syarat :
1. Difiltasi secara bebas oleh glomerulus
2. Tidak atau hanya sedikit direabsorpsi sel
tubuli ginjal
3. Secara farmakologis merupakan zat
yang inert
4. U m u m n y a r e s i s t e n t e r h a d a p
perubahan-perubahan metabolik.
Diuretik osmotik merupakan zat yang
secara farmakologis lembam, seperti
manitol (satu gula). Diuresis osmotik
diberikan secara intravena untuk
menurunkan edema serebri atau
peningkatan tekanan intraoukular pada
glaukoma serta menimbulkan diuresis
setelah overdosis obat. Diuresis terjadi
melalui “tarikan” osmotik akibat gula yang
lembam (yang difiltrasi oleh ginjal, tetapi
tidak direabsorpsi) saat ekskresi gula
tersebut terjadi
Diuretik osmotik mempunyai tempat kerja
Tubuli proksimal
Diuretik osmotik ini bekerja pada tubuli
proksimal dengan cara menghambat
reabsorpsi natrium dan air melalui daya
osmotiknya.
Ansa Henle
Diuretik osmotik ini bekerja pada ansa
h e n l e d e n ga n ca ra m e n g h a m b at
reabsorpsi natrium dan air oleh karena
hipertonisitas daerah medula menurun.
Duktus Koligentes
Diuretik osmotik ini bekerja pada Duktus
Koligentes dengan cara menghambat
reabsorpsi natrium dan air akibat adanya
papillary wash out, kecepatan aliran filtrat
yang tinggi, atau adanya faktor lain.
Manitol
Manitol paling sering digunakan diantara
obat ini, karena manitol tidak mengalami
metabolisme dalam badan dan hanya
sedikit sekali direabsorpsi tubuli bahkan
praktis dianggap tidak direabsorpsi.
Manitol harus diberikan secara IV.
Indikasi
Manitol digunakan misalnya untuk :
Profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan
yang dapat timbul akibat operasi jantung,
luka traumatik berat, atau tindakan
operatif dengan penderita yang juga
menderita ikterus berat
Menurunkan tekanan maupun volume
cairan intraokuler atau cairan
serebrospinal
Efek samping.
Manitol dapat menimbulkan reaksi
hipersensitif.
Sediaan dan dosis
Untuk sediaan IV digunakan larutan 5-25%
dengan volume antara 50-1.000ml. dosis
untuk menimbulkan diuresis ialah 50-200g
yang diberikan dalam cairan infus selama
2 4 j a m d e n ga n ke c e p a t a n i n f u s
sedemikian, sehingga diperoleh diuresis
sebanyak 30-50ml per jam.
Untuk penderita dengan oliguria hebat
diberikan dosis percobaan yaitu 200
mg/kgBB yang diberikan melalui infus
selama 3-5 menit.bila dengan 1-2 kali dosis
percobaan diuresis masih kurang dari 30 ml
per jam dalam 2-3 jam.
Untuk mencegah gagal ginjal akut pada
tindakan operasi atau mengatasi oliguria,
dosis total manitol untuk orang dewasa
ialah 50-100g.
Kontraindikasi
Manitol dikontraindikasikan pada penyakit
ginjal dengan anuria, kongesti atau udem
paru yang berat, dehidrasi hebat dan
perdarahan intrakranial kecuali bila akan
dilakukan kraniotomi. Infus manitol harus
segera dihentikan bila terdapat tandatanda gangguan fungsi ginjal yang
progresif, payah jantung atau kongesti
paru.
Kumpulan-farmasi.blogspot.com
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
SELAYANG PANDANG EPILEPSI
Tanda Penyakit Epilepsi
Berbagai jenis penyakit telah ada sejak
jaman dahulu dan sejalan dengan
peningkatan pengetahuan kesehatan
dan medis, bermacam-macam jenis
penyakit telah ditemukan dan
diberikan nama. Termasuk adalah
penyakit epilepsi ini. Penyakit yang
dapat terjadi pada siapa pun walaupun
dari garis keturunan tidak ada yang
pernah mengalami epilepsi ini. Epilepsi
tidak bisa menular ke orang lain karena
hanya merupakan gangguan otak yang
tidak dipicu oleh suatu kuman virus
dan bakteri. Dengan pengobatan
secara medis baik dokter maupun
Rumah Sakit bisa membantu pasien
epilepsi untuk mengurangi serangan
tanda gejala epilepsi maupun
menyembuhkan secara penuh epilepsi
yang diderita oleh seseorang.
Epilepsi adalah gangguan kronik otak
dengan ciri timbulnya gejala-gejala
yang datang dalam serangan-serangan,
berulang-ulang yang disebabkan lepas
muatan listrik abnormal sel-sel saraf
otak, yang bersifat reversibel dengan
berbagai etiologi. Penyakit epilepsi
adalah merupakan gejala kompleks
dari banyak gangguan fungsi otak yang
dikarakteristikkan oleh kejang
berulang. Demikian adalah sedikit
mengenai pengertian epilepsi. Kejang
ini merupakan akibat dari pembebasan
listrik yang tidak terkontrol dari sel
saraf korteks serebral yang ditandai
dengan serangan tiba-tiba, terjadi
gangguan kesadaran ringan, aktivitas
motorik, atau gangguan fenomena
sensori. Epilepsi adalah sindroma otak
kronis dengan berbagai macam
etiologi dengan ciri-ciri timbulnya
serangan paroksimal dan berkala
akibat lepas muatan listrik neuronneuron otak secara berlebihan dengan
berbagai manifestasi klinik dan
laboratorik.
Penyakit Epilepsi merupakan suatu
kondisi yang disebabkan oleh
terganggunya aktivitas listrik otak
sehingga memicu terjadinya kejang
berulang. Ada sekitar 40 jenis epilepsi.
Meski tidak termasuk penyakit mental,
tapi epilepsi terjadi setelah cedera atau
kerusakan di otak. Menurut para
peneliti, tingginya insiden epilepsi di
negara berkembang terkait erat
dengan faktor risiko seperti cedera
kepala dan infeksi, misalnya dari cacing
daging babi dan kebutaan sungai yang
umumnya terjadi di benua Afrika.
Penyebab epilepsi secara pasti
memang tidak diketahui, dalam dunia
medis hal ini biasanya disebut dengan
idiopatik. Namun beberapa hal yang
bisa menyebabkan epilepsi atau faktor
predisisposisi penyakit epilepsi adalah
1. Asfiksia neonatorum.
2. Riwayat demam tinggi.
3. Riwayat ibu-ibu yang mempunyai
resiko tinggi (tenaga kerja, wanita
dengan latar belakang sukar
melahirkan, penggunaaan obatobatan, diabetes, atau hipertensi).
4. Pascatrauma kelahiran.
5. R i wayat b ay i d a r i i b u ya n g
menggunakan obat antikonvulsan
yang digunakan sepanjang
kehamilan.
6. Riwayat intoksikasi obat-obatan
atau alkohol.
7. Adanya riwayat penyakit pada masa
kanak-kanak (campak, penyakit
gondongan, epilepsi bakteri).
8. Riwayat gangguan metabolisme dan
nutrisi atau gizi.
9. Riwayat keturunan epilepsi.
Masalah dasarnya diperkirakan dari
gangguan listrik (disritmia) pada sel
saraf pada salah satu bagian otak yang
menyebabkan sel ini mengeluarkan
muatan listrik abnormal, berulang, dan
tidak terkontrol. Karakteristik kejang
epileptik adalah suatu manifestasi
muatan neuron berlebihan ini. Pola
awal kejang menunjukkan daerah otak
dimana kejang tersebut berasal. Juga
penting untuk menunjukkan jika klien
mengalami aura (suatu sensasi tanda
sebelum kejang epileptik yang dapat
menunjukkan asal kejang misalnya
melihat kilatan sinar dapat
menunjukkan kejang berasal dari lobus
oksipital).
Tanda khas epilepsi adalah kejang, dan
serangan kejang pada penderita
epilepsi seringkali berulang. Situasi ini
akan menyebabkan kondisi yang tidak
terkontrol, pelepasan abnormal terjadi
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 29
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
d e n ga n c e p at , d a n s e s e o ra n g
dikatakan menuju ke arah epilepsi.
gerakan-gerakan fisik yang tak teratur
disebut kejang. Akibat adanya
distriknia muatan listrik pada bagian
otak tertentu ini memberikan
manifestasi pada serangan awal kejang
sederhana sapai gerakan konvulsif
memanjang dengan penurunan
kesadaran. Keadaan ini dapat
dihubungkan dengan kehilangan
kesadaran, gerakan berlebihan,
hilangnya tonus otot serta gerakan dan
gangguan perilaku, alam perasaan,
sensasi, dan persepsi. Sehingga
epilepsi bukan penyakit tetapi suatu
gejala
Penyakit epilepsi yang ditandai dengan
kejang berulang paling banyak, hampir
80 persen, ditemukan di negara miskin
dan berkembang. Yang disayangkan
adalah bahwa sekitar 60 persen
penderita tidak mendapatkan terapi
yang layak. Banyak orang di negara
berkembang yang tidak paham bahwa
epilepsi bisa dikendalikan dengan
pengobatan yang tepat. Apalagi
ditambah pula adanya stigma dari
masyarakat terhadap penyakit epilepsi
juga membuat pasien enggan mencari
pengobatan dokter. Di beberapa
negara juga ada kepercayaan bahwa
epilepsi adalah penyakit kutukan.
Terapi Epilepsi
Hal. 30 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
Tujuan utama terapi epilepsi adalah
tercapainya kualitas hidup optimal,
sesuai dengan perjalanan penyakit
epilepsi dan disabilitas fisik maupun
mental yang dimilikinya. Untuk
tercapainya tujuan tersebut
diperlukan beberapa upaya, antara lain
menghentikan bangkitan (seizure),
mengurangi frekuensi bangkitan,
mencegah timbulnya efek samping,
menurunkan angka kesakitan dan
kematian serta mencegah timbulnya
efek samping dari obat anti epilepsi
(OAE)
Umumnya, 70% bangkitan dapat
teratasi dengan 1 jenis OAE, sedangkan
30% sulit diatasi meskipun dengan 3
atau lebih OAE yang kita sebut sebagai
epilepsi refrakter.
Prinsip Terapi Obat
Terapi dimulai dengan monoterapi,
yaitu memberikan 1 jenis OAE pilihan
sesuai dengan jenis bangkitan atau
sesuai dengan jenis sindrom epilepsi.
Dimulai dari dosis rendah dan
dinaikkan secara bertahap hingga dosis
efektif tercapai atau timbul efek
samping
Bila dengan penggunaan dosis
maksimum obat pertama tidak dapat
mengontrol bangkitan, maka dokter
akan menambahkan OAE kedua. Bila
OAE kedua tadi telah mencapai kadar
terapi, OAE pertama akan diturunkan
secara bertahap dan perlahan-lahan.
Penambahan obat ketiga akan
diberikan bila terbukti bangkitan tidak
dapat diatasi dengan penggunaan
dosis maksimal pada kedua OAE
pertama tadi.
Memilih obat yang tepat bagi
seseorang dengan epilepsi bukanlah
hal yang mudah.Selain pemilihan OAE
berdasarkan jenis bangkitan atau jenis
sindrom epilepsi, juga harus
mempertimbangkan umur, jenis
kelamin, kondisi tubuh, berat badan
dan respons masing-masing orang
terhadap pengobatan yang diberikan.
Dibutuhkan waktu sebelum seorang
dokter menentukan jumlah dan jadual
pengobatan yang dapat menghasilkan
respons terbaik dengan efek samping
paling sedikit.
Pada pasien yang baru didiagnosis dan
belum pernah diobati, pemberian OAE
biasanya sangat berhasil. Prinsip yang
harus diperhatikan adalah:
Pastikan diagnosis telah ditegakkan
dengan benar. Tidak dibenarkan untuk
melakukan "terapi percobaan" pada
kasus-kasus yang meragukan. Bila telah
mengalami bangkitan > 1x pada 1
tahun terakhir, terapi dapat dimulai
Pengobatan akan gagal bila pasien
tidak memahami pentingnya minum
obat teratur (sesuai jadwal), tujuan
dan maksud pengobatan.
Sedangkan pada pasien/penyandang
epilepsi yang telah diobati dan tidak
berhasil, pengobatan medikamentosa
akan menjadi lebih sulit. Prognosis
menjadi lebih buruk, resisten terhadap
pengobatan bisa terjadi dan terkadang
muncul masalah gangguan neurologis
yang lain, gangguan psikologis maupun
sosial.
Pengendalian serangan mungkin sulit
dilakukan, dan dalam hal ini penting
u nt u k m e n g h i n d a r i te r j a d i nya
toksisitas serta pengobatan yang
berlebihan. Jika memungkinkan,
sebaiknya dilakukan pemeriksaan
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
pengukuran kadar obat-obatan yang
sedang dikonsumsi
Setelah jadual pengobatan dibuat,
sangatlah penting meminum obat
dalam jumlah dan waktu yang telah
ditentukan oleh dokter. Bila sesuai
petunjuk, maka pengobatan akan
benar-benar menghilangkan
bangkitan selama berbulan-bulan.
INGAT! Hal ini bukan berarti epilepsi
telah disembuhkan. Anda tidak boleh
menghentikan obat atau mengurangi
jumlahnya tanpa anjuran dokter.
Orang dengan epilepsi yang memang
memerlukan pengobatan OAE jangka
panjang kadang mengalami
gangguan kesehatan lain yang juga
memerlukan pengobatan. Dalam
keadaan demikian, sebaiknya
konsultasikan kedokter, karena kita
harus mempertimbangkan
kemungkinan adanya interaksi
dengan obat-obat yang akan
diberikan.
Misalnya pada orang dengan epilepsi
yang meminum fenitoin, apabila
orang tersebut memerlukan juga
pengobatan golongan antasida
(magnesium, aluminium hidroksida),
maka sebaiknya OAE diminum 2-3
jam sebelum antasida karena obat
tersebut dapat menghambat absorpsi
fenitoin. Atau yang memerlukan
antibiotik seperti kloramfenkol, obat
tersebut akan menghambat
metabolisme fenitoin sehingga kadar
fenitoin dalam serum meningkat yang
dapat mengakibatkan terjadinya
intoksikasi fenitoin.
Interaksi obat juga dapat terjadi antar
obat anti epilepsi terutama pada ODE
yang meminum lebih dari 1 macam
OAE. Oleh karena itu sangatlah
penting untuk mengkonsultasikan
pada dokter Anda obat-obat yang
sedang diminum, dan segera
sampaikan bila terjadi keluhankeluhan atau efek samping obat
seperti gatal-gatal (alergi), pusing
berputar/ melayang, penebalan gusi,
rambut rontok, atau hal-hal lainnya
selama Anda mengkonsumsi obat anti
epilepsi
Penambahan vitamin seperti asam
folat dan B12 sebaiknya juga diberikan
pada orang dengan epilepsi yang
meminum OAE golongan
c a r b a m a ze p i n , o xc a r b a ze p i n ,
gabapentin, phenytoin, primidone
dan valproat. Dari hasil penelitian
yang dipublikasikan pada Februari
2011 yang dilakukan oleh Drs.
Linnebank dan teman-teman dari
University Hospital di Zurich, Swiss dan
University Hospital di Bonn, Jerman
terhadap 2.730 orang yang minum OAE
di bandingkan dengan 170 ODE yang
tidak diobati dan 200 orang sehat,
menemukan bahwa mereka yang
meminum carbamazepin,
oxcarbazepin, gabapentin, phenytoin,
primidone dan valproat berhubungan
dengan rendahnya kadar folat.
Bila dalam pengobatan kita masih
mengalami serangan/bangkitan,
jangan terburu-buru untuk menaikkan
dosis, mengganti obat, atau
menganggap pengobatan gagal dan
termasuk dalam jenis epilepsi yang
sulit diatasi dengan OAE. Ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi dan
harus kita pertimbangkan kembali.
Apabila kita seorang dokter mungkin
kita harus berfikir ulang apakah
diagnosis kita salah atau kurang tepat,
sehingga harus dipertajam lagi
anamnesis terhadap pasien dan
keluarga.
Faktor-faktor yang dapat menjadi
penyebab gagalnya pengobatan antara
lain
Ketidak patuhan pasien untuk minum
OAE secara teratur dan sesuai jadual
pengobatan seringkali menjadi
penyebab gagalnya pengobatan
Kemungkinan adanya faktor psikologis
tambahan yang harus dicari dan
dibicarakan.
Pertimbangkan kembali adanya
kemungkinan bahwa kejang yang
terjadi adalah kejang non epileptik
(misal: sinkop, psikogenik)
Pertimbangkan kemungkinan adanya
suatu penyakit neurologis progresif
lain yang mendasari terjadinya epilepsi
(misal: tumor otak).
Wwww.ina-epsy.org
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 31
Artikel
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
ANEMIA
penghancuran eritrosit terlihat berupa
zat warna kuning di urin dan tinja.
Terdapat suatu sistem feedback
control sehingga jumlah masa eritrosit
selalu konstan. Kurangnya kadar
hemoglobin di dalam darah akan
menyebabkan kurangnya oksigen di
dalam darah, karena hemoglobin
bertugas mengikat oksigen yang
berasal dari udara yang diangkut oleh
Anemia adalah keadaan dimana
paru. Oksigen merupakan faktor yang
jumlah sel darah merah atau jumlah
sangat penting dalam mengatur
hemoglobin (protein pembawa
berbagai proses metabolisme sel di
oksigen) dalam sel darah merah
dalam tubuh manusia.
berada dibawah normal. Sel darah
Anemia dapat terjadi akibat
merah mengandung hemoglobin,
1. Berkurangnya produksi eritrosit
ya n g m e m u n g k i n ka n m e re ka
(anemia defisiensi, anemia pada
mengangkut oksigen dari paru-paru
keganasan, anemia pada gangguan
dan mengantarkannya ke seluruh
ginjal)
bagian tubuh.
2. Meningkatnya kebutuhan (anemia
Anemia menyebabkan berkurangnya
karena perdarahan, anemia pada
jumlah sel darah merah atau jumlah
kehamilan)
hemoglobin dalam sel darah merah,
3. Peningkatan destruksi eritrosit
s e h i n g ga d a ra h t i d a k d a p a t
(anemia hemolitik antara lain
mengangkut oksigen dalam jumlah
malaria, thalassemia). Seringkali
sesuai yang diperlukan
anemia terjadi akibat adanya
tubuh.Umumnya batas minimal
penyakit lain atau terjadi beserta
untuk kadar hemoglobin pada orang
penyakit lain yang menyertainya
dewasa adalah 12 g/dl untuk wanita
(anemia pada penyakit kronik
serta 14 g/dl untuk laki-laki. Kadar
misalnya TBC ).
hemoglobin seseorang sangat
Dengan demikian jenis-jenis anemia
dipengaruhi oleh berbagai faktor,
sangat banyak, tergantung dari
antara lain usia, jenis kelamin, etnik,
penyebab terjadinya anemia.
sosioekonomi, letak geografi,
Penyebab umum dari anemia
kehamilan serta beberapa faktor
1. Perdarahan hebat akut (mendadak)
lainnya.Eritrosit mempunyai masa
seperti kecelakaan, pembedahan,
hidup dalam peredaran darah tepi
persalinan, pecah pembuluh darah.
selama 100-120 hari, dan sekitar 1%
2. Perdarahan kronik (menahun)
dari total eritrosit akan mengalami
seperti perdarahan hidung, wasir
penghancuran atau destruksi serta
(hemoroid), ulkus peptikum
penggantian setiap harinya. Eritrosit
3. Kanker atau polip di saluran
dibentuk di sumsum tulang, akan
pencernaan
beredar di dalam sirkulasi,
4. Tumor ginjal atau kandung kemih
selanjutnya terjadi destruksi pada
5. Perdarahan menstruasi yang sangat
limpa, hati serta sumsum tulang. Sisa
Hal. 32 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
banyak
6. Berkurangnya pembentukan sel
darah merah karena kekurangan zat
besi, kekurangan vitamin B12,
kekurangan asam folat, kekurangan
vitamin C, penyakit kronik
7. Meningkatnya penghancuran sel
darah merah yang disebabkan oleh
pembesaran limpa, kerusakan
mekanik pada sel darah merah,
reaksi autoimun terhadap sel darah
merah, hemoglobinuria nokturnal
paroksimal, sferositosis herediter,
elliptositosis herediter, kekurangan
G6PD, penyakit sel sabit, penyakit
hemoglobin C, penyakit hemoglobin
S-C, penyakit hemoglobin E,
thalasemia.
Gejala Anemia
Gejala umum yang terjadi pada
seseorang dengan anemia adalah
lemas, pusing, cepat lelah, mudah
mengantuk, sesak napas, berdebar,
tampak pucat yang dapat dilihat dari
konjunktiva di bagian mata. Kadang
dapat dilihat kulit yang kering, kuku
yang tampak tidak sehat atau kulit yang
berwarna kuning. Keadaan ini dapat
menyertai orang yang sulit makan,
sakit lama, terdapat perdarahan kronik
(menstruasi banyak dan lama, infeksi
cacing tambang, dan lain-lain),
kelainan bawaan pada eritrosit,
penyakit keganasan, ibu hamil dan
menyusui serta orang lanjut usia. Pada
pemeriksaan fisik bisa sampai ditemui
adanya pembesaran limpa, hati,
kelenjar limfe, pembesaran jantung,
tergantung dari beratnya anemia. Jika
anemia bertambah berat, bisa
menyebabkan stroke atau serangan
jantung.
Kumpulan-farmasi.blogspot.com
Kolom Hikmah
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
HATI YANG BERCAHAYA
Kenapakah orang-orang yang
beriman dan banyak pahalanya
memancarkan cahaya, sedangkan
yang banyak dosa 'memancarkan'
kegelapan alias kehilangan cahaya?
Dalam Al Qur'an Surat An Nuur: 35.
Allah membuat perumpamaan
bahwa DzatNya bagaikan sebuah
pelita besar yang menerangi alam
semesta. Cahaya yang dipancarkan
pelita itu berlapis-lapis, mulai dari
yang paling rendah frekuensinya
sampai yang tertinggi menuju cahaya
Allah
Ayat tersebut menggambarkan
bahwa hubungan antara Allah
dengan makhlukNya adalah seperti
hubungan antara Pelita (sumber
cahaya) dengan cahayanya. Artinya
makhluk Allah ini sebenarnya semu
saja. Yang sesungguhnya ADA adalah
DIA. Kita hanya 'pancaran atau
pantulan' saja dari eksistensiNya.
Allah telah menetapkan dalam
seluruh ciptaanNya itu bahwa
Kegelapan mewakili Kejahatan dan
Keburukan. Sedangkan Cahaya
Terang mewakili Kebaikan
Bahwa orang-orang yang beriman,
kelak di hari kiamat, benar-benar
akan memancarkan cahaya di
wajahnya. Sedangkan orang-orang
kafir, justru kehilangan cahaya alias
wajahnya gelap gulita
Cahaya di wajah orang beriman itu
muncul berasal dari berbagai ibadah
yang dilakukan selama ia hidup di
dunia. Setiap ibadah yang diajarkan
Rasulullah kepada kita selalu
mengandung dua unsur, yaitu ingat
kepada Allah (dzikrullah) dan
membaca firmanNya yang berasal
dari KitabNya
Nah, dari kedua unsur itulah cahaya
Allah muncul. Sebagaimana dikatakan
di atas, bahwa Allah adalah sumber
cahaya langit dan Bumi. Maka ketika
kita berdzikir kepada Allah, kita sama
saja dengan memproduksi getaran
cahaya. Dengan berdzikir khusyuk dan
menggetarkan hati. Kuncinya adalah
pada 'hati yang bergetar.
Hati adalah tempat terjadinya getaran
yang bersumber dari kehendak jiwa.
Getaran yang kasar akan dihasilkan jika
kita sedang dalam keadaan emosional.
Sebaliknya getaran yang lembut akan
muncul ketika kita sedang sabar,
tenteram dan damai
Ketika sedang berdzikir, hati kita akan
bergetar lembut. Hal ini dikemukan
oleh Allah, bahwa orang yang berdzikir
hatinya akan tenang dan tenteram.
Ketika seseorang dalam keadaan
tenteram, getaran hatinya demikian
lembut. Amplitudonya kecil, tetapi
frekuensinya sangat tinggi. Semakin
tenteram dan damai hati seseorang
maka semakin tinggi pula frekuensinya
Jadi, ketika kita berdzikir menyebut
nama Allah itu, maka hati kita bisa
bercahaya. Cahaya itu muncul
disebabkan resonansi dzikir.
Demikianlah dengan hati kita.
Dzikrullah itu menghasilkan
gelombang elektromagnetik dengan
frekuensi cahaya yang terus menerus
menyinari hati kita. Maka, hati kita pun
akan memancarkan cahaya. Hati harus
khusyuk dan tergetar oleh bacaan itu.
Bahkan sampai meneteskan air mata
Unsur yang kedua adalah ayat-ayat
Qur'an. Dengan sangat gamblang Allah
mengatakan bahwa Al Qur'an adalah
cahaya. Artinya, ketika kita membaca
kalimat-kalimat Allah itu kita juga
sedang mengucapkan getaran-getaran
cahaya yang meresonansi hati kita.
Asalkan kita membacanya dengan
pengertian dan pemahaman. Jika tidak
mengetarkan hati, maka proses dzikir
atau baca Al Qur'an itu tidak
memberikan efek apa-apa kepada jiwa
kita. Yang demikian itu tidak akan
menghasilkan cahaya di hati kita.
Ketika cahaya tersebut mengimbas ke
miliaran bio elektron di tubuh kita,
maka tiba-tiba badan kita akan
memancarkan cahaya tipis yang
disebut 'Aura'. Termasuk akan
terpancar di wajah kita.
Cahaya itulah yang terlihat di wajah
orang-orang beriman pada hari kiamat
nanti. Aura yang muncul akibat praktek
peribadatan yang panjang selama
hidupnya, dalam kekhusyukan yang
sangat intens.
Jadi, selain wajah yang memancarkan
cahaya, Allah juga memberikan
informasi tentang orang-orang yang
berwajah hitam muram. Wajah mereka
gelap gulita seperti tertutup oleh
potongan-potongan malam.
Orang -orang yang tidak pernah
beribadah kepada Allah itu wajahnya
tidak memancarkan aura. Sebab
hatinya memang tidak pernah bergetar
lembut. Yang ada ialah getaran-getaran
kasar
Semakin kasar getaran hati seseorang,
maka semakin rendah pula frekuensi
yang dihasilkan, maka ia tidak bisa
menghasilkan cahaya
Hati yang jelek adalah hati yang keras,
tidak bisa bergetar. Tingkatan hati yang
jelek itu ada 5, yaitu: 1. Hati yang
berpenyakit (bohong, marah, dendam,
iri, dengki, dsb), 2. Hati yang mengeras.
3. hati yang membatu. 4. Hati yang
tertutup. dan 5. Hati yang dikunci mati
oleh Allah.
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 33
Back To Nature
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
INFORMASI NUTRISI DAN MANFAAT PISANG
Buah pisang adalah buah yang mudah
dijumpai terutama di negara -negara
tropis. Buah yang banyak digemari ini
tak hanya enak namun memiliki
khasiat untuk kesehatan maupun
kecantikan.
Buah ini tak hanya mudah dicerna,
tapi juga mengandung 9 kandungan
gizi dan mengembalikan energi.
Dibanding buah lain, pisang memang
cenderung mudah dinikmati karena
tidak perlu lagi diolah
Sebagai informasi, sebuah pisang
yang matang akan mengandung 99
gram (gr) kalori, 1,2 gr protein, 0,2 gr
lemak, 25,8 miligram (mg)
karbohidrat, 0,7 gr serat, 8 mg
kalsium, 28 mg fosfor, 0,5 mg besi, 44
RE vitamin A, 0,08 mg vitamin B, 3 mg
vitamin C dan 72 gr air
Namun untuk mendapatkan
manfaatnya, Anda perlu cermat
memilih. Pasalnya hanya pisang yang
matang saja yang dapat mengubah
gula darah menjadi glukosa alami,
Hal. 34 l Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013
serta cepat diabsorsi ke dalam
peredaran darah
Ciri-ciri pisang yang matang, adalah
pisang yang kulitnya berwarna hijau
kekuning-kuningan dengan bercak
cokelat atau kuning. Semua kandungan
dalam pisang matang tersebut, akan
memberikan beberapa manfaat
kesehatan, terutama bagi:
Sumber Tenaga
Pisang dapat dicerna dengan mudah,
sehingga gula yang terdapat
didalamnya akan diubah menjadi
sumber tenaga yang baik untuk
pembentukan tubuh, kerja otot dan
juga sangat bagus untuk
menghilangkan lelah
Ibu Hamil
Wanita yang tengah hamil dianjurkan
untuk mengkonsumsi pisang, karena
mengandung asam folat tinggi yang
penting bagi kesempurnaan janin,
pembentukan sel-sel baru dan
mencegah terjadi cacat bawaan.
S e b u a h p i s a n g m a t a n g , a ka n
mengandung sekitar 85-100 kalori.
Sehingga dengan memakan dua pisang
segar, kebutuhan asam folat yang
sekitar 58 mikrogram dapat terpenuhi.
Di samping itu pisang akan membantu
menjaga kadar gula darah yang dapat
mengurangi morning sick, sehingga
pisang sangat baik untuk cemilan ibu
hamil
Penderita Anemia
Kandungan zat besi yang cukup tinggi
pada pisang, dapat menstimulasi
produksi hemoglobin dalam darah bagi
penderita anemia. Dua buah pisang
sehari, sangat baik untuk penderita
anemia
Penderita Sakit Maag
Sebagai buah yang dapat dikonsumsi
langsung, pisang tak membuat iritasi
atau kerusakan usus bagi penderita
maag. Buah ini sering digunakan untuk
melawan penyakit usus, sebab
teksturnya lembut
Pisang juga dapat menetralkan
kelebihan asam lambung dan melapisi
Back To Nature
Informasi kefarmasian dan alat kesehatan
perut sehingga mampu mengurangi
iritasi. Bagi yang mengalami penyakit
usus atau kolik akibat asam lambung,
Anda dapat mengkonsumsinya
dengan di campur pada segelas susu
cair
Penderita Penyakit Lever
Bagi penderita lever, dua buah pisang
sehari dengan tambahan satu sendok
madu, akan baik untuk menambah
nafsu makan dan meningkatkan kuat.
Penderita Luka Bakar
Khusus untuk penderita luka bakar,
Anda dapat menggunakan daun
pisang sebagai pengobatan. Caranya,
kulit yang terbakar dioles dengan
campuran abu daun pisang dan
minyak kelapa. Campuran ini mampu
mendinginkan kulit yang terbakar.
Yang Mengalami Stress
Pisang mengandung potasium, yaitu
mineral vital yang membantu
menormalkan detak jantung ,
mengirim oksigen ke otak dan
mengatur keseimbangan kadar air
dalam tubuh. Ketika mengalami
stress, metabolisme tubuh akan
meningkat drastis sehingga
mengurangi kadar potasium tubuh.
Dengan pisang, potasium dalam tubuh
kadarnya akan seimbang.
Penderita Stroke
Berdasarkan riset The New England
Journal of Medicine, mengkonsumsi
pisang setiap hari akan menurunkan
resiko kematian akibat stroke hingga
40%.
Mengontrol Temperatur
Di beberapa negara, pisang dipandang
sebagai makanan pendingin yang
dapat menurunkan temperatur fisik
dan emosional ibu hamil. Di Thailand
contohnya, ibu hamil mengkonsumsi
pisang untuk memastikan bayi lahir
dengan temperatur sejuk.
Meningkatkan Kekuatan Otak
Di sebuah sekolah Inggris, 200 pelajar
mampu menyelesaikan ujian akhir
hanya dengan sarapan pisang. Mereka
juga kerap mengkonsumsi pisang saat
jam istirahat serta makan siang, sebab
pisang mampu meningkatkan
kekuatan otak.
Sekolah Inggris tersebut merupakan
responden sebuah riset, dan
membuktikan bahwa kandungan
potasium pada pisang membuat para
pelajar jadi lebih aktif dalam proses
belajar
Di sisi lain, pisang juga bermanfaat bagi
kecantikan. Seperti juga pada buahbuah lain, seperti alpukat, bengkuang
dan mentimun, pisang juga kerap
dijadikan sebagai masker wajah, atau
untuk mengatasi rambut rusak dan
menghaluskan tangan.
Pisang juga punya peranan dalam
menurunkan atau menaikkan berat
badan. Sebuah penelitian telah
membuktikan, bahwa seseorang
mampu menurunkan berat badannya
dengan berdiet pisang.
Bila ingin menghilangkan berat badan,
caranya gampang. Setiap hari
konsumsilah empat buah pisang dan
empat gelas susu non fat atau susu cair
dalam sehari. Lakukan selama tiga hari
dalam seminggu.
Dari pisang dan susu tersebut, Anda
mendapatkan 1,250 kalori. Menu ini
cukup menyehatkan bagi tubuh Anda.
Selain menurunkan berat badan, diet
pisang juga membantu kulit wajah
menjadi lebih bersih dan tidak
berminyak.
Sedangkan yang ingin menambah
bobot tubuh, konsumsilah satu gelas
banana shake yang dicampur madu,
kacang dan mangga, sesudah makan.
Menu ini bila dikonsumsi setiap hari,
akan membantu menaikkan berat
badan.
Ternyata “si Kuning” ini juga mampu
membantu perokok mengatasi
masalah keracunan nikotin.
Kandungan vitamin B6 dan B12 yang
terdapat pada pisang, dapat
menetralisir pengaruh nikotin di dalam
tubuh. Selain itu enzim bromealin yang
terkandung dalam pisang pun, dapat
meningkatkan libido pria. Jadi
mengkonsumsi dapat memberikan
khasiat yang luar biasa pada tubuh
anda.
Halohalo.co.id
Buletin INFARKES Edisi III - Juni 2013 l Hal. 35

Similar documents

Untitled - Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Untitled - Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Ke s e h a ta n D ra . M a u ra L i n d a Sitanggang, Apt., Ph.D diwawancarai oleh RCTI mengenai peredaran obat generik di pasaran. Dalam wawancara tersebut disin...

More information

TOPIK UTAMA Di - Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat

TOPIK UTAMA Di - Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat E-Logistik di beberapa Provinsi (13 provinsi). Selain itu pada acara Rapat Kordinasi Nasional Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan di Padang dan Palu serta pada pertemuan pembeka...

More information