PENGARUH INFLASI, HARGA MINYAK DUNIA, JUMLAH UANG

Transcription

PENGARUH INFLASI, HARGA MINYAK DUNIA, JUMLAH UANG
ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, SUKU
BUNGA, HARGA MINYAK DAN HARGA EMAS
TERHADAP RETURN SAHAM
(Studi Kasus Pada Pasar Modal Indonesia)
Disusun oleh:
Fauzan Yasmiandi
107081003240
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
IDENTITAS DIRI
Nama
: Fauzan Yasmiandi
Tempat / Tanggal Lahir
: Bandung, 25 Oktober 1989
Agama
: Islam
Alamat
: Jl. Gurame III No. 57 RT.01/01 Bambu Apus –
Ciputat, Tangerang selatan.
Telp / Hp
: 085722578767
E-mail
: [email protected]
PENDIDIKAN FORMAL
2007 – 2011
: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2004 – 2007
: SMAN 5 Cimahi
2001 – 2004
: SMPN 3 Padalarang
1995 – 2001
: SDN Ciburuy I
ABSTRACT
The main purpose of this study was to analyze the effects of inflation,
exchange rates, interest rates, oil prices and gold prices to stock returns. The data
used in this study is the data for inflation, exchange rate, SBI rates, fluctuations in
crude oil prices and world gold, and stock returns from January 2007 - December
2010.
The method of determining the sample used in this study was purposive
sampling and statistical tests used to test the hypothesis is to use multiple
regression analysis. Empirical results of this study indicate that: (a) Inflation
effect on stock returns. (b) Exchange effect on stock returns. (c) Interest rate does
not affect stock returns. (d) Oil prices affect the stock return. (e) Gold price affect
the stock return.
Key words: Inflation, Exchange Rates, Interest Rates, Oil Prices, Gold
Price, Stock Return.
i
ABSTRAK
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh inflasi,
nilai tukar, suku bunga, harga minyak dan harga emas terhadap return saham.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data inflasi, nilai tukar, suku
bunga SBI, fluktuasi harga minyak mentah dan emas dunia, dan return saham dari
Januari 2007 – Desember 2010.
Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
purposive sampling dan uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis
adalah dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil empiris penelitian
ini menunjukkan bahwa : (a) Inflasi berpengaruh terhadap return saham. (b) Nilai
Tukar berpengaruh terhadap return saham. (c) Suku Bunga tidak berpengaruh
terhadap return saham. (d) Harga Minyak berpengaruh terhadap return saham. (e)
Harga Emas berpengaruh terhadap return saham..
Kata kunci: Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Harga Minyak, Harga Emas, Return
Saham.
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat,
karunia, serta ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, SUKU BUNGA, HARGA
MINYAK DAN HARGA EMAS TERHADAP RETURN SAHAM”. Tak lupa
sholawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan kita Rasullullah SAW.
Skripsi ini ditujukan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian
Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen, Konsentrasi Keuangan,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari masih jauh dari
sempurna. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan yang penulis
miliki. Untuk itu, kiranya pembaca dapat memaklumi atas kekurangan yang
ditemui dalam skripsi ini.
Penulis
juga
menyadari
bahwa
sejak
awal
penyusunan
hingga
terselesaikannya skripsi ini banyak pihak yang telah membantu dan memberi
dukungan baik moril dan materil. Untuk itu, tak lupa pada kesempatan ini, secara
khusus penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada:
1.
Kedua Orang Tuaku yang selalu memberi dukungan baik moril maupun
materil hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
2.
Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis serta dosen pembimbing I yang telah mengarahkan dan memotivasi
penulis selama penulis menyusun penelitian ini.
iii
3.
Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, selaku Pudek I Bidang Akademik Fakultas
Ekonomi dan Bisnis serta selaku penasehat akademik, yang selalu
memberikan arahan, motivasi, dan nasihat serta saran – saran yang berharga
kepada penulis.
4.
Bapak Suhendra,S.Ag.,MM, selaku Kepala Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis.
5.
Ibu Titi Dewi Warninda, SE, M.Si selaku dosen pembimbing II yang telah
meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mengarahkan
penulisan skripsi ini serta motivasinya yang begitu besar bagi penulis.
6.
Seluruh dosen manajemen yang telah mengajarkan ilmu manajemen selama
penulis kuliah, semoga amal baktinya dijadikan amalan sholeh. Amin.
7.
Staf tata usaha FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya Ibu Siska,
Pak Rahmat, Ibu Umi, Mas Heri yang telah membantu penulis dalam
mengurus kebutuhan administrasi dan lain – lain.
8.
Keluarga besarku khususnya yang ada di Bandung dan dimanapun berada
yang selalu memberi dukungan dan semangat kepada penulis. semoga Allah
SWT senantiasa melindungi dan memberikan kebahagiaan kepada keluarga
besar kami, Amin.
9.
Kakakku Ir. Adri Darmawan beserta istri yang senantiasa selalu membantu
penulis, dan tak pernah letih untuk memberi semangat.
10. Tanteku Betty Suwiharyati, terima kasih atas bantuannya selama penulis
kuliah dan mohon maaf telah merepotkan selama penulis kuliah.
iv
11. Keluarga Besar Pramono (Bapak Pramono, Mamah Yanti, Niken, Niko,
Dede, Mas Rowi, Mbak Yuni, Mas Aris, De Anah) yang selalu memberi
semangat dan sindiran.
12. Sahabat – sahabat Cah Ready (Afry, Kiki, Achal, Adji, Opa, Emon, Mpi,
Piyo, Gie, Wawa, Rudy, Icha, Yunus, Dhole, Robby, Tony, Irsyam, Indra,
Dika, Abloy, Novi, dll) yang selalu menemani penulis dan senantiasa satu
dalam tawa dan canda.
13. Kawan – kawan seperjuangan di Manajemen FEB Uin Syarif Hidayatullah
Jakarta 2007 yang selalu semangat dalam berjuang menempuh gelar strata
satu.
14. Kawan – kawan Manajemen D 2007 dan Manajemen Keuangan B 2010, yang
tidak dapat disebutkan satu persatu, suatu kebahagiaan telah dipertemukan
dan diperkenalkan dengan kalian semua. Terima Kasih banyak atas motivasi
yang telah diberikan selama ini.
15. Kawan – kawan di Al – Barkah, terima kasih atas dukungannya.
16. Safitri Setyo Utami sekeluarga, yang selalu mendukung dan memberi
semangat kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih memiliki banyak
kekurangan. Dengan segenap kerendahan hati penulis mengharapkan saran,
arahan, maupun kritikan yang membangun demi penyempurnaan hasil
penelitian ini. Akhirnya hanya kepada Allah semua ini penulis serahkan,
karena hanya dengan ridha-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
v
Semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya
bagi penulis sendiri.
Jakarta,
September 2011
Penulis
vi
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ABSTRACT ... ...............................................................................................................
i
ABSTRACT .. ...............................................................................................................
ii
KATA PENGANTAR ..................................................................................................
iii
DAFTAR ISI ................................................................................................................
vii
DAFTAR TABEL .........................................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................................
xi
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................
1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................
18
C. Tujuan Penelitian..........................................................................................
18
D. Manfaat Penelitian........................................................................................
19
BAB II. LANDASAN TEORI
A. Pasar Modal Indonesia ..................................................................................
23
1. Pengertian Pasar Modal ............................................................................
23
2. Fungsi Pasar Modal ...................................................................................
24
3. Pasar Perdana dan Pasar Sekunder .............................................................
25
B. Saham ...........................................................................................................
28
1. Pengertian Saham ......................................................................................
28
2. Jenis – Jenis Saham ...................................................................................
29
C. Inflasi ............................................................................................................
38
1. Pengertian Inflasi.......................................................................................
38
2. Macam – Macam Aliran Inflasi .................................................................
39
3. Jenis – Jenis Inflasi....................................................................................
41
4. Dampak Inflasi ..........................................................................................
42
vii
D. Nilai Tukar ....................................................................................................
45
1. Pengertian Nilai Tukar...............................................................................
45
2. Sistem Nilai Tukar.....................................................................................
46
3. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kurs Mata Uang..............................
48
4. Prediksi Pasar ............................................................................................
49
5. Dampak Kurs Mata Uang ..........................................................................
50
E. Suku Bunga...................................................................................................
54
1. Pengertian Suku Bunga..............................................................................
54
2. Pola Pembelian Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ........................................
55
3. Tujuan Penerbitan SBI...............................................................................
56
4. Dampak Suku Bunga .................................................................................
57
F. Harga Minyak ...............................................................................................
59
1. Faktor Penggerak Harga Minyak Dunia .....................................................
61
2. Dampak Kenaikan Harga Minyak..............................................................
61
G. Harga Emas...................................................................................................
62
H. Penelitian Terdahulu......................................................................................
64
I. Kerangka Pemikiran ......................................................................................
67
J. Hipotesis .......................................................................................................
70
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................................
71
B. Metode Penentuan Sampel.............................................................................
71
1. Populasi.....................................................................................................
71
2. Sampel ......................................................................................................
72
C. Metode Pengumpulan Data............................................................................
73
D. Metode Analisis ............................................................................................
74
1. Menghitung Return Saham ........................................................................
74
2. Uji Asumsi Klasik .....................................................................................
74
3. Pengujian Hipotesis ...................................................................................
77
4. Analisis Model Regresi..............................................................................
79
5. Koefisien Determinasi ...............................................................................
80
viii
E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya ........................................
81
1. Variabel Endogen ......................................................................................
81
2. Variabel Eksogen ......................................................................................
81
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ...................................................
85
1. Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia .......................................................
85
2. Lembaga – Lembaga Penunjang Bursa Efek Indonesia .............................
86
3. Instrumen Pasar Modal .............................................................................
89
B. Analisis dan Pembahasan ..............................................................................
91
1. Analisis Deskriptif.....................................................................................
91
2. Pengujian Asumsi Klasik........................................................................... 103
a. Uji Normalitas Data.............................................................................. 103
b. Uji Heteroskedastisitas......................................................................... 104
c. Uji Multikolinieritas ............................................................................. 105
d. Uji Autokorelasi................................................................................... 106
3. Analisis Regresi Linier Berganda.............................................................. 107
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................................... 116
B. Saran ............................................................................................................. 117
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 118
LAMPIRAN – LAMPIRAN......................................................................................... 121
ix
DAFTAR TABEL
Tabel
Keterangan
Halaman
2.1. Penelitian Terdahulu ...............................................................................................
64
4.1. Return Saham Perusahaan Manufaktur.....................................................................
92
4.2. Tingkat Inflasi Indonesia..........................................................................................
93
4.3. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS ..................................................................
95
4.4. Tingkat Suku Bunga ................................................................................................
96
4.5. Harga Minyak (dalam Dollar) ..................................................................................
97
4.6. Harga Emas (dalam Dollar)...................................................................................... 100
4.7. Hasil Pengujian Multikolinieritas ............................................................................. 105
4.8. Pengujian Autokorelasi ............................................................................................ 106
4.9. Uji T ....................................................................................................................... 107
4.10. Uji F ..................................................................................................................... 113
4.11. Koefisien Determinasi............................................................................................ 115
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Keterangan
Halaman
1.1. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar ................................................
4
1.2. Pergerakan Inflasi Indonesia ....................................................................................
5
2.1. Kerangka Pemikiran.................................................................................................
68
2.2. Model Konseptual....................................................................................................
69
4.1. Pengujian Normalitas Data....................................................................................... 103
4.2. Pengujian Heteroskedastisitas .................................................................................. 104
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum, kinerja perekonomian Indonesia sampai dengan akhir
tahun 2006 menunjukkan stabilitas makro yang terjaga, sebagaimana
tercermin dari inflasi yang mecapai 6,6%, nilai tukar rupiah yang menguat,
dan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan akan tidak jauh berbeda dengan
tahun sebelumnya. Kegiatan ekonomi yang pada awal 2006 melemah akibat
merosotnya daya beli masyarakat paska kenaikan harga BBM pada Oktober
2005, secara berangsur – angsur tumbuh membaik. Untuk keseluruhan 2006,
perekonomian diperkirakan tumbuh 5,5%.
Secara umum, kinerja perekonomian Indonesia sampai akhir tahun 2007
cukup menggembirakan, yaitu diperkirakan tumbuh sebesar 6,3%, yang
merupakan angka pertumbuhan tertinggi sejak krisis 1997. Pencapaian ini
cukup signifikan, terutama jika dibandingkan fakta bahwa tahun 2007
perekonomian Indonesia dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan
sebagai akibat dari krisis utang subprime mortgage di Amerika Serikat yang
mendorong terjadinya gejolak di pasar uang internasional dan meningkatnya
harga minyak dunia.
Seperti pada hasil akhir pertumbuhan ekonomi Indonesia 2006, perbaikan
kinerja ekspor yang cukup signifikan berdampak positif pada kinerja Neraca
Pembayaran Indonesia (NPI). NPI justru mencatat surplus di tengah berbagai
gejolak serta melemahnya perekonomian di negara – negara industri maju.
1
Hal ini disebabkan oleh perubahan pasar ekspor regional, antara lain dengan
adanya diversifikasi pasar komoditas ekspor Indonesia ke Cina dan India, dari
sebelumnya yang lebih terfokus ke negara maju.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga semakin menurun sensitivitasnya
terhadap pergerakan minyak dunia. Kondisi nilai tukar rupiah pada paruh
pertama tahun 2007 secara rata – rata mengalami apresiasi sebesar 1,8%.
Sementara dengan terjadinya krisis subprime dan kenaikan harga minyak
dunia, nilai tukar rupiah mengalami sedikit pelemahan sebesar 1,1%. Dengan
demikian, untuk keseluruhan tahun 2007, nilai tukar Rupiah tercatat Rp.
9.140 atau terapresiasi 0,29% dibanding 2006 sebesar Rp. 9167. Dengan
kondisi tersebut, cadangan devisa pada akhir 2007 mencapai sebesar USD
56,9 miliar atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar
negeri pemerintah (Yanuar, SE.MM).
Pada saat terjadi krisis global, negara adidaya Amerika Serikat
mengalami resesi yang serius, sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan
ekonomi yang selanjutnya menggerus daya beli masyarakat Amerika. Hal ini
sangat mempengaruhi negara – negara lain karena Amerika Serikat
merupakan pangsa pasar yang besar bagi negara – negara lain termasuk
Indonesia. Penurunan daya beli masyarakat di Amerika menyebabkan
penurunan permintaan impor dari Indonesia. Dengan demikian ekspor
Indonesia pun menurun. Inilah yang menyebabkan terjadinya defisit Neraca
Pembayaran Indonesia (NPI). Bank Indonesia memperkirakan secara
keseluruhan NPI mencatatkan defisit sebesar US$ 2,2 miliar pada tahun 2008.
2
Penyebab lain terjadinya defisit NPI adalah derasnya aliran keluar modal
asing dari Indonesia khususunya pada pasar SUN (Surat Utang Negara) dan
SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Derasnya aliran modal keluar tersebut
menyebabkan investasi portofolio mencatat defisit sejak kuartal III – 2008
dan terus meningkat pada kuartal IV – 2008. Selain itu, adanya sentimen
negatif terhadap pasar keuangan global juga membuat terjadinya pelepasan
aset finansial oleh investor asing dan membuat neraca finansial dan modal
ikut menjadi defisit.
Secara umum, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil sampai
pertengahan September 2008. Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja
transaksi
berjalan
yang
masih
mencatat
surplus
serta
kebijakan
makroekonomi yang berhati – hati. Namun sejak pertengahan September
2008, krisis global yang semakin dalam telah memberi efek depresiasi
terhadap mata uang. Kurs Rupiah melemah menjadi Rp 11.711,- per USD
pada bulan November 2008 yang merupakan depresiasi yang cukup tajam,
karena pada bulan sebelumnya Rupiah berada di posisi Rp 10.048,- per USD.
Pergerakan Kurs Rupiah selama tahun 2008 dan awal 2009 dapat dilihat dari
grafik dibawah ini:
3
Gambar1.1
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar
Pada masa krisis global yang terjadi sejak beberapa waktu yang lalu,
terjadi keketatan likuiditas global, dengan demikian supply dollar relatif
sangat menurun. Hal inilah yang memberikan efek depresiasi terhadap
Rupiah. Sebenarnya depresiasi Rupiah menguntungkan kondisi dalam negeri,
karena secara teoritis akan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
Harga – harga produk dalam negeri menjadi relatif lebih murah apabila
dibandingkan dengan harga – harga produk sejenis yang diimpor dari negara
lain. Di pasar negara tujuan ekspor Indonesia, konsumen akan lebih memilih
produk dari Indonesia karena harganya lebih murah. Kondisi ini
menyebabkan ekspor Indonesia meningkat.
Namun hal itu tidak terjadi karena negara lain juga mengalami hal yang
sama seperti Indonesia dimana mata uangnya juga mengalami depresiasi.
Krisis global membuat daya beli masyarakat di setiap negara pada umumnya
menurun. Sehingga Depresiasi tidak serta merta membuat ekspor Indonesia
meningkat, bahkan ekspor justru turun. Berdasarkan laporan BPS awal Maret
2009 lalu, disebutkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Januari 2009 hanya
4
sebesar USD 7,15 miliar. Angka ini turun 17,7% dibandingkan nilai ekspor
pada Desember 2008 sebesar USD 8,69 miliar. Bahkan, jika dibandingkan
dengan Januari 2008, nilai penurunannya lebih besar lagi, yakni sebesar 36%.
Dorongan tersebut berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang
mendorong dikeluarkannya kebijakan subsidi harga BBM. Tekanan inflasi
makin tinggi akibat harga komoditi global yang tinggi. Namun inflasi tersebut
berangsur menurun di akhir tahun 2008 karena harga komoditi yang menurun
dan penurunan harga subsidi BBM. Pergerakan inflasi di Indonesia dapat
dilihat dari grafik berikut:
Grafik 1.2
Pergerakan Inflasi Indonesia
Dari grafik tersebut terlihat bahwa terjadi tekanan inflasi yang tinggi
hingga triwulan III – 2008 yakni hingga bulan September 2008. Hal ini dipicu
oleh kenaikan harga komoditi dunia terutama minyak dan pangan. Lonjakan
harga tersebut berdampak pada kenaikan harga barang yang ditentukan
5
pemerintah (administered prices) seiring dengan kebijakan pemerintah
menaikkan harga BBM bersubsidi. Setelah bulan September 2008, tingkat
inflasi mulai turun karena turunnya harga komoditi internasional, pangan dan
energi dunia. Penyebab lain dari terus menurunnya tingkat inflasi adalah
kebijakan Pemerintah menurunkan harga BBM jenis solar dan premium pada
Desember 2008, dan produksi pangan dalam negeri yang relatif bagus.
Bahkan awal Desember 2008 terjadi deflasi sebesar 0,04 persen. Deflasi
tersebut terjadi karena menurunnya harga pada sektor transportasi, konsumsi,
dan jasa keuangan. Keberhasilan menurunkan inflasi secara berangsur –
angsur tak lepas dari keberhasilan instansi terkait dalam memitigasi akselerasi
ekspektasi inflasi yang sempat meningkat tajam pasca kenaikan harga BBM.
Secara keseluruhan, inflasi IHK pada tahun 2008 mencapai 11,06 persen,
sementara inflasi inti mencapai 8,29 persen.
Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter yang mempunyai
independensi dari pemerintah mempunyai kewajiban menjaga stabilitas
moneter serta mengeluarkan kebijakan – kebijakan yang dapat meminimalisir
dampak dari krisis global. Bank Indonesia telah menerapkan beberapa
kebijakan yakni:
Pertama, Kebijakan dalam sektor moneter. BI mengarahkan kebijakan
pada penurunan tekanan inflasi yang didorong oleh tingginya permintaan
agregat dan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM yang sempat
mendorong inflasi mencapai 12,14 persen pada bulan September 2008. Untuk
mengantisipasi berlanjutnya tekanan inflasi, BI menaikkan BI rate dari 8
6
persen secara bertahap menjadi 9,5 persen pada Oktober 2008. Dengan
kebijakan moneter tersebut ekspektasi inflasi masyarakat tidak terakselerasi
lebih
lanjut
dan
tekanan
neraca
pembayaran
dapat
dikurangi.
Selanjutnya, memasuki triwulan II – 2008, seiring dengan turunnya harga
komoditi dunia serta melambatnya permintaan agregat sebagai imbas dari
krisis keuangan global, BI memperkirakan tekanan inflasi ke depan menurun,
sehingga BI Rate pada bulan Desember 2008 diturunkan sebesar 25 basis
point (bps) menjadi 9,25 bps.
Kedua, Kebijakan dalam sektor perbankan. Kebijakan tersebut diarahkan
pada upaya memperkuat ketahanan sistem perbankan, khususnya dalam
upaya persiapan implementasi Basel II. Basel II dibuat berdasarkan struktur
dasar the 1988 accord yang memberikan kerangka perhitungan modal yang
bersifat lebih sensitif terhadap risiko (risk sensitive) serta memberikan
insentif terhadap peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko di bank.
Hal ini dicapai dengan cara penyesuaian persyaratan modal dengan risiko dari
kerugian kredit dan juga dengan memperkenalkan perubahan perhitungan
modal dari eksposur yang disebabkan oleh risiko dari kerugian akibat
kegagalan operasional. Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan
kesehatan sistem keuangan, dengan menitikberatkan pada perhitungan
permodalan yang berbasis risiko, supervisory review process, dan market
discipline. Framework Basel II disusun berdasarkan forward – looking
approach yang memungkinkan untuk melakukan penyempurnaan dan
penyesuaian dari waktu ke waktu. Hal ini untuk memastikan bahwa
7
framework Basel II dapat mengikuti perubahan yang terjadi di pasar maupun
perkembangan – perkembangan dalam manajemen risiko. Kebijakan dalam
sektor perbankan lainnya adalah meningkatkan kapasitas pelayanan industri
perbankan syariah. Sistem perbankan syariah terbukti lebih tahan terhadap
hantaman krisis. Sistem perbankan ini juga sudah mulai digiatkan oleh negara
– negara non – muslim seperti Inggris, Italia, Hong Kong, China, Malaysia,
dan Singapura. Bahkan menurut anggota Komite Ahli Bank Indonesia,
perbankan syariah tetap stabil di saat krisis global berlangsung dikarenakan
perbankan syariah merupakan pilihan yang komprehensif, progresif, dan
menguntungkan.
Seiring dengan semakin dalamnya tekanan krisis global, sejak semester II
– 2008, kebijakan perbankan ditujukan pada upaya mengurangi imbas krisis
global pada perbankan domestik. Keketatan likuiditas yang terjadi akibat
krisis disikapi BI dengan mempermudah akses bank umum dan Bank
Perkreditan Rakyat (BPR) terhadap fasilitas pendanaan. Namun upaya
tersebut tetap dilakukan BI dengan memperhatikan risiko yang terjadi pada
perbankan nasional serta dampak yang lebih luas pada perekonomian rakyat.
Untuk itu, upaya menjaga ketersediaan pendanaan bagi sektor Usaha Mikro
Kecil Menengah (UMKM) sebagai bantalan perekonomian rakyat, juga
senantiasa dicermati. Terkait dengan kebijakan di sektor perbankan ini, BI
telah mengeluarkan ketentuan – ketentuan yang bertujuan untuk memberikan
ruang bagi perbankan dalam menyalurkan kredit dengan tetap memperhatikan
unsur kehati – hatian dan kestabilan ekonomi secara umum. Ketentuan –
8
ketentuan tersebut mencakup beberapa hal seperti: memperpanjang masa
transisi penerapan Basel II untuk perhitungan beban modal risiko operasional,
menyederhanakan tata cara pembukuan kantor bank (termasuk syariah),
menyesuaikan bobot Aset Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) untuk Kredit
Usaha Kecil dengan skim penjaminan, menyesuaikan tata cara penilaian
kredit dalam jumlah tertentu, memberikan fasilitas transaksi USD repurchase
agreement (repo) bank kepada BI, dan mengurangi kewajiban pembentukan
penyisihan penghapusan aktiva non produktif. Selanjutnya ketentuan –
ketentuan tersebut akan diikuti dengan langkah pengaturan secara lebih
mendalam, terkait dengan upaya peningkatan transparansi perbankan,
penguatan efektifitas manajemen risiko likuiditas, dan produk – produk
derivatif perbankan. Dengan demikian diharapkan seluruh pelaku industri
perbankan, baik bank umum, konvensional maupun syariah, akan memiliki
ruangan yang cukup untuk menjalankan fungsi intermediasinya tanpa
mengesampingkan prinsip kehati – hatian dan manajemen risiko, sebagai
prioritas utama.
Ketiga, Kebijakan di sektor pembayaran. Bank Indonesia turut berupaya
mencegah terjadinya guliran krisis global terhadap kelancaran sistem
pembayaran nasional. Dalam mencegah risiko sistemik dari risiko gagal bayar
peserta yang cenderung meningkat pada kondisi krisis dan menjaga
kelancaran sistem pembayaran, BI telah melakukan perubahan jadwal
setelmen sistem pembayaran pada hari tertentu. Kebijakan BI dalam sistem
pembayaran terus dilakukan untuk meningkatkan pengedaran uang yang
9
cepat, efisien, aman, dan handal, meningkatkan layanan kas prima, dan
meningkatkan kualitas uang. Sementara kebijakan non tunai diarahkan untuk
memitigasi risiko sistem pembayaran melalui pengawasan sistem pembayaran,
mengatur kegiatan money remittances, meningkatkan efisiensi pengelolaan
rekening
pemerintah,
dan
meningkatkan
pembayaran
non
tunai.
Sebagai Bank Sentral, BI memang mempunyai tanggung jawab dalam
membuat kebijakan – kebijakan dalam menstabilkan kondisi moneter
Indonesia. Dengan demikian diharapkan kebijakan – kebijakan yang dibuat
BI merupakan kebijakan yang strategis dan tepat sasaran dalam
meminimalisir dampak krisis keuangan. Kebijakan moneter yang diambil BI
juga diharapkan dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sektor
riil dan selanjutnya pada kesejahteraan masyarakat. (Catatan : Bahan tulisan
ini, antara lain bersumber dari laporan Bank Indonesia) (Ibnu Purna / Hamidi
/ Prima).
Setelah masa krisis berlalu, Indonesia berusaha memperbaiki tatanan
ekonomi negara yang sempat hancur. Dalam hal ini pasar modal tentu saja
berperan penting dan sangat strategis untuk mendukung langkah tersebut.
Dari pasar modal diharapkan banyak investor – investor yang akan
menginvestasikan dananya baik dalam bentuk aset riil maupun aset finansial.
Namun kegiatan tersebut tentu saja tidak lepas dari pengaruh kondisi
makroekonomi dan stabilitas politik negara. Seperti contoh inflasi, nilai tukar,
tingkat suku bunga, dll.
10
Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang – barang secara umum
mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang lama secara terus –
menerus. Harga barang yang ada mengalami kenaikan nilai dari waktu –
waktu sebelumnya dan berlaku di mana – mana dan dalam rentang waktu
yang cukup lama (Perpustakaan Online Indonesia).
Ratna Prihantini (2009) inflasi yang tinggi akan mengakibatkan
penurunan harga saham, karena menyebabkan kenaikan harga barang secara
umum. Kondisi ini mempengaruhi biaya produksi dan harga jual barang akan
menjadi semakin tinggi. Harga jual yang tinggi akan menyebabkan
menurunnya daya beli, hal ini akan mempengaruhi keuntungan perusahaan
dan akhirnya berpengaruh terhadap harga saham yang mengalami penurunan.
Pada saat tingkat inflasi mengalami kenaikan, dimana harga barang –
barang naik maka tentu saja akan mempengaruhi kondisi pasar modal. Begitu
juga dengan kurs atau nilai tukar. Menurut Paul R Krugman dan Maurice
(1994:73) kurs adalah Harga sebuah Mata Uang dari suatu negara yang
diukur atau dinyatakan dalam mata uang lainnya. Maka dari itu apabila kurs
suatu negara mengalami perubahan maka akan mempengaruhi kondisi pasar
modal negara tersebut.
Banyak studi empiris memperdebatkan bahwa nilai tukar akan
berpengaruh pada pasar modal melewati dua sumber. Sumber pertama depresi
terhadap nilai mata uang lokal meningkatkan ekspor dan menurunkan nilai
impor. Peningkatan nilai ekspor menimbulkan harapan akan pendapatan dari
domestik ekspor perusahaan, menguasai dalam penambahan persediaan harga
11
ekspor domestik perusahaan. Oleh karena itu, penguasaan ekspor secara
ekonomi meningkatkan keuntungan dari pasar modal sebaliknya menurunkan
penguasaan impor. Sumber kedua, krisis dari menurunnya tingkat mata uang
lokal akan membuat keadaan bergejolak, karena itu investor akan bersiap
menyimpan dollar untuk equity, yang mana itu akan menguasai mata uang
domestik. Di saat yang sama, risiko nilai tukar adalah faktor harga untuk
investor asing dalam menentukan stock market model dan krisis dari mata
uang domestik karena investor asing pindah dari pasar modal ke pasar uang.
Sebagai hasil, krisis mata uang berkemungkinan mempengaruhi pasar modal.
(Ali Fikri Hasibuan, 2009: 11 – 12).
Sertifikat Bank Indonesia adalah surat utang yang diterbitkan oleh
pemerintah, dan agen pemerintah, yang umumnya berjangka waktu
maksimum satu tahun. Surat utang yang demikian merupakan investasi yang
sangat likuid, yang dapat dijual (money market instruments) dan bank yang
ditunjuk oleh Bank Indonesia sebagai peserta lelang Sertifikat Bank Indonesia
(SBI) disebut dealer primer. www.bi.go.id
Jika suku bunga naik maka return investasi yang terkait dengan suku
bunga, misalnya deposito akan naik. Ini dapat menarik minat investor saham
untuk memindahkan dana ke deposito, sehingga banyak yang akan menjual
saham dan harga saham akan turun. Oleh karena itu perubahan suku bunga
mempengaruhi variabilitas return suatu investasi.
Kenaikan harga minyak dunia tentu saja sangat mempengaruhi kenaikan
harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia. Kenaikan harga BBM selalu
12
mempunyai akibat langsung terutama kepada semua sektor ekonomi yang
menggunakan Bahan Bakar Minyak sebagai sumber energi. Oleh karena
setiap barang membutuhkan jasa angkutan untuk sampai kepada konsumen,
maka mau tidak mau barang – barang pun pada gilirannya akan turut naik
harganya, menyesuaikan dengan kenaikan tarif angkutan dan tentu saja akan
mengakibatkan inflasi.
Pemerintah terus memantau harga minyak internasional dikaitkan dengan
kebijakan harga BBM dalam negeri. Dalam tiga minggu terakhir, sejalan
dengan pemotongan produksi OPEC, realisasi pasar riil & pasar perumahan
Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya serta kebijakan
perbankan Amerika Serikat, harga minyak mentah dunia telah mengalami
koreksi yang signifikan dari kisaran US$45 per barel menjadi US$ 50 per
barel.
Perkembangan harga minyak untuk waktu – waktu selanjutnya masih
mengalami tekanan dari rendahnya kebutuhan minyak akibat krisis ekonomi
global. Perkembangan ICP terus merangkak naik dari US$ 43,1 per barel
pada bulan Februari 2009, dan rata – rata bulan Maret 2009 telah mencapai
US$ 46,75 per barel.
Berdasarkan perhitungan harga rata – rata minyak dunia tahun 2009
masih berada pada kisaran US$40 – US$60/barel. Sementara itu dalam situasi
perekonomian global yang tidak menentu, perkembangan harga BBM
belakangan ini masih menunjukkan pola yang berbeda dengan pola
perkembangannya pada waktu – waktu sebelumnya.
13
Gejolak harga minyak dunia terus naik seiring dengan menurunnya
kapasitas cadangan. Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya gejolak ini,
salah satunya adalah persepsi terhadap rendahnya kapasitas cadangan harga
minyak yang ada saat ini, yang kedua adalah naiknya permintaan (demand)
dan di sisi lain terdapat kekhawatiran atas ketidakmampuan negara – negara
produsen untuk meningkatkan produksi, sedangkan masalah tingkat utilisasi
kilang di beberapa negara dan menurunnya persediaan bensin di Amerika
Serikat juga turut berpengaruh terhadap posisi harga minyak yang terus
meninggi.
Kekhawatiran ini menyebabkan naiknya harga minyak dari 36,05
dollar AS per barel menjadi 65,64 dollar AS per barel. Pada tahun 2006
harga minyak adalah sebesar 70,08 dollar AS per barel meningkat lagi pada
tahun 2007 yaitu menjadi sebesar 89,61 dollar AS per barel. Harga minyak
dunia terus meningkat hingga sekarang. Dimana harga minyak kembali
membumbung tinggi hingga mencapai angka yang jauh dari perkiraan.
Terlebih dengan adanya permintaan akan minyak yang terus meningkat,
terutama dari negara industri baru seperti China dan India.
Budi Santoso (2009) Meningkatnya harga minyak mentah dunia juga
dapat mempengaruhi harga saham pada berbagai sektor. Pengaruh yang
diberikan dapat bersifat positif dan dapat juga bersifat negatif. Selain itu
dampak yang diberikan oleh meningkatnya harga minyak mentah dunia
terhadap harga saham juga dapat bersifat langsung dan tidak langsung pada
14
kegiatan operasi suatu perusahaan. Maka dari itu pergerakan harga minyak
dunia akan di respon secara beragam oleh saham yang tercatat di bursa.
Emas merupakan salah satu bentuk investasi yang cenderung bebas
resiko (Sunariyah,2006). Emas banyak dipilih sebagai salah satu bentuk
investasi karena nilainya cenderung stabil dan naik. Sangat jarang sekali
harga emas turun. Dan lagi, emas adalah alat yang dapat digunakan untuk
menangkal inflasi yang kerap terjadi setiap tahunnya. Ketika akan
berinvestasi, investor akan memilih investasi yang memiliki tingkat imbal
balik tinggi dengan risiko tertentu atau tingkat imbal balik tertentu dengan
risiko yang rendah. Investasi di pasar saham tentunya lebih berisiko daripada
berinvestasi di emas, karena tingkat pengembaliannya yang secara umum
relatif lebih tinggi dari emas (www.investopedia.com).
India dan China merupakan negara dengan permintaan emas paling
tinggi di dunia. Pada musim – musim tertentu seperti musim kawin di India,
permintaan emas di pasar lokal India menjadi sangat tinggi, dan karenanya
dapat mempengaruhi permintaan emas dunia. Hal ini biasanya terjadi pada
bulan September, kemudian disusul dengan musim Natal di Amerika dan
Eropa, pada saat – saat seperti ini permintaan akan emas terus meningkat
yang menyebabkan harga emas menjadi naik. www.semuasaudara.com.
Bagi yang mempersepsikan emas sebagai investasi, 2010 adalah tahun
yang menggembirakan karena emas mengalami apresiasi nilai sekitar 23%
dalam Rupiah atau sekitar 3,5 kali hasil deposito atau tabungan. Akhir tahun
2009 lalu harga emas ditutup di angka Rp 1,444,040 sedangkan akhir tahun
15
2010 ditutup pada harga Rp 1,777,760,-. Dalam US$ kenaikan ini lebih
menyolok lagi karena harga emas dunia akhir 2009 adalah US$ 1,087.50
sedangkan akhir 2010 harga emas ini ditutup pada angka US$ 1,421.60 atau
mengalami peningkatan sekitar 30%.
Diantara penyebab kenaikan harga emas dunia tersebut yang bersifat
sangat fundamental adalah apa yang dilakukan oleh bank central-nya
Amerika atau the Fed, dengan perilaku kontroversialnya dalam mencetak
uang dari awang – awang atau yang disebut quantitative easing. Kenaikan
harga emas 2010 masih terkait langsung dengan dampak quantitative easing
1 yang dilakukan Amerika sejak November 2008. Saat itu mereka mulai
‘mencetak uang’ US$ 600 milyar untuk membeli apa yang disebut Mortgage
– Backed Securities (MBS) dan berbagai bentuk surat hutang lainnya,
namun karena kompleksitas problem negeri itu angka ini menggelembung
sampai US$ 2.1 trilyun pertengahan tahun 2010.
Angka yang US$ 2.1 trilyun tersebut seharusnya menurun bila ekonomi
negeri itu berhasil dipulihkan, namun kenyataannya kemudian di bulan
November 2010 the Fed mengumumkan lagi akan dilakukannya quantitative
easing 2 yang akan diimplementasikan hingga pertengahan 2011. Belajar
dari quantitative easing 1 yang dampaknya terhadap kenaikan harga emas
berlanjut sampai 2 tahun kemudian, maka dampak dari implementasi
quantitative easing 2 juga sangat mungkin akan mendongkrak harga emas di
tahun 2011 atau bahkan sampai 2012 nanti.
16
Jadi penyebab utama yang menjadikan harga emas melonjak sampai
30% dalam US$ tahun 2010, juga masih ada disana di tahun 2011. Ketika
quantitative easing 1 diputuskan November 2008, tahun berikutnya (2009)
harga emas dalam US$ naik 25%, dan tahun berikutnya lagi (2010) naik
hingga 30%.
Kenaikan harga emas dalam Rupiah tahun 2010 yang tidak setinggi
kenaikannya dalam US$ adalah karena faktor penguatan Rupiah terhadap
US$. Bila kurs rata – rata bulanan Desember 2009 adalah Rp 9,454/US$,
Desember 2010 ini rata – ratanya adalah Rp 9,024/US$ atau mengalami
penguatan 4.5%.
Penguatan yang sama tidak bisa diharapkan untuk tahun 2011 ini
karena akan menurunkan daya saing ekspor kita, sebaliknya kecenderungan
melemah ke kisaran angka tahun sebelumnya (2009) atau di angka Rp
9,400-an lebih memungkinkan bila negeri ini ingin terus menjaga surplus di
neraca perdagangannya. GeraiDinar.Com
Berdasarkan pemikiran tersebut, penulis ingin mengetahui lebih lanjut
mengenai pengaruh inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, harga minyak,
dan harga emas terhadap return saham, maka penulis membuat judul:
“ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, TINGKAT
SUKU BUNGA, HARGA MINYAK DAN HARGA EMAS TERHADAP
RETURN SAHAM”.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian – penelitian
sebelumnya. Adapun kelebihan penelitian ini dari penelitian – penelitian
17
sebelumnya yaitu dalam penelitian ini lebih terfokus kepada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, penelitian ini juga
menggunakan lima variabel independen yakni inflasi, nilai tukar, suku
bunga, harga minyak dan harga emas, lebih banyak dari penelitian –
penelitian sebelumnya yang sebagian besar hanya menggunakan tiga
variabel independen, selain itu periode penelitian lebih lama dan lebih
terbaru dari penelitian – penelitian sebelumnya yakni empat tahun periode
penelitian dari tahun 2007 sampai tahun 2010.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaruh inflasi terhadap return saham
2. Bagaimanakah pengaruh nilai tukar terhadap return saham
3. Bagaimanakah pengaruh tingkat suku bunga terhadap return saham
4. Bagaimanakah pengaruh harga minyak terhadap return saham
5. Bagaimanakah pengaruh harga emas terhadap return saham
6. Bagaimanakah pengaruh inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, harga
minyak dan harga emas terhadap return saham secara keseluruhan
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis pengaruh inflasi terhadap return saham
2. Untuk menganalisis pengaruh nilai tukar terhadap return saham
3. Untuk menganalisis pengaruh tingkat suku bunga terhadap return saham
18
4. Untuk menganalisis pengaruh harga minyak terhadap return saham
5. Untuk menganalisis pengaruh harga emas terhadap return saham
6. Untuk menganalisis pengaruh inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, harga
minyak dan harga emas terhadap return saham secara keseluruhan
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis, untuk menambah wawasan dalam bidang keuangan dan
pasar modal serta penerapan teori – teori yang telah dipelajari terhadap
keadaan yang sebenarnya.
2. Bagi perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, penelitian ini dapat
dijadikan acuan dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan
perusahaan.
3. Bagi pembaca, dapat menambah pengetahuan serta melengkapi literatur
bidang keuangan dan pasar modal.
4. Bagi penelitian selanjutnya, dapat menjadi referensi atau acuan yang
nantinya dapat dikembangkan untuk penelitian – penelitian selanjutnya.
19
BAB II
LANDASAN TEORI
Banyak hal yang mempengaruhi naik turunnya kinerja saham di antaranya
faktor makroekonomi seperti inflasi, nilai tukar uang, dan suku bunga
sebagaimana yang ditemukan oleh Tirapat dan Nitayagasetwat (1999).
Dalam analisis ekonomi makro tidak semua variabel diperhitungkan. Biasanya
yang diperhitungkan adalah yang pengaruhnya besar dan langsung seperti
munculnya gejala inflasi yang tidak terkendali, perubahan tingkat bunga atau kurs
yang merugikan, serta jumlah pengeluaran untuk belanja rutin bukan untuk
pembangunan, adalah hal yang konkret. (Kuntjoro, 2003: 68).
Faktor makro merupakan faktor yang berada di luar perusahaan, tetapi
mempunyai pengaruh terhadap kenaikan atau penurunan kinerja perusahaan baik
secara langsung maupun tidak langsung.
(Samsul, 2006:200). Faktor makroekonomi yang secara langsung dapat
mempengaruhi kinerja saham maupun kinerja perusahaan antara lain:
1. Tingkat bunga umum domestik
2. Tingkat inflasi
3. Peraturan perpajakan
4. Kebijakan khusus pemerintah yang terkait dengan perusahaan tertentu.
5. Kurs valuta asing
6. Tingkat bunga pinjaman luar negeri.
7. Kondisi perekonomian internasional.
8. Siklus ekonomi.
9. Faham ekonomi.
10. Peredaran uang.
20
Perubahan faktor makroekonomi di atas tidak akan dengan seketika
mempengaruhi kinerja perusahaan, tetapi secara perlahan dalam jangka panjang.
Sebaliknya harga saham akan terpengaruh dengan seketika oleh perubahan faktor
makroekonomi itu karena para investor lebih cepat bereaksi. Ketika perubahan
faktor makroekonomi itu terjadi, investor akan mengkalkulasi dampaknya baik
yang positif maupun negatif terhadap kinerja perusahaan beberapa tahun ke
depan, kemudian mengambil keputusan membeli atau menjual saham yang
bersangkutan.
Reaksi berlebihan tampak pada perubahan harga saham yang tajam, yaitu naik
atau turun secara tajam, kemudian terkoreksi oleh pasar sehingga tercapai harga
yang normal. Investor yang dapat mengestimasi perubahan faktor makro akan
mampu bertindak terlebih dahulu dalam membuat keputusan jual beli, dan akan
memperoleh keuntungan yang besar daripada investor yang terlambat dalam
mengambil keputusan jual beli saham.
Bodie (2006) untuk menentukan harga yang tepat bagi saham suatu
perusahaan, analis sekuritas harus memprediksi dividen dan laba yang dapat
diharapkan dari perusahaan tersebut. Ini merupakan inti dari analisis fundamental
yaitu analisis untuk menentukan nilai seperti prospek laba.
Keberhasilan usaha suatu perusahaan akan menentukan dividen yang dapat
dibayarkan kepada pemegang saham serta harga yang akan terbentuk di pasar
saham. Karena prospek suatu perusahaan terkait dengan kondisi ekonomi secara
umum, maka analisis fundamental harus mempertimbangkan lingkungan bisnis
dimana perusahaan beroperasi. Bagi beberapa perusahaan, lingkungan ekonomi
21
makro dan industri mungkin mempunyai pengaruh yang relatif lebih besar
dibandingkan kinerja di dalam industri. Dengan kata lain, investor harus selalu
mempertimbangkan gambaran besar ekonomi.
Perekonomian makro merupakan lingkungan dimana seluruh perusahaan
beroperasi. Pentingnya perekonomian makro dalam menentukan kinerja investasi
bisa dilihat dengan membandingkan tingkat indeks harga saham untuk
memprediksi laba per lembar saham dari perusahaan – perusahaan dimana harga
saham cenderung meningkat selaras dengan laba. Rasio yang tepat dari harga
saham terhadap laba (P/E Ratio) berubah terkait dengan tingkat bunga, risiko,
tingkat inflasi, dan variabel – variabel lainnya. Kemampuan untuk memprediksi
perekonomian makro dapat diterjemahkan ke dalam kinerja investasi yang
spektakuler. Tetapi, tidaklah cukup untuk memprediksi seluruh perekonomian
makro dengan baik.
Menurut Pananda Pasaribu (2009:2), faktor asing merupakan salah satu
implikasi dari bentuk globalisasi dan semakin terintegrasinya pasar modal di
seluruh dunia. Dan faktor luar negeri yang cukup memegang peranan penting
dalam pergerakan bursa Indonesia adalah harga komoditi, dalam hal ini harga
komoditi diproksi oleh harga minyak dunia. Sedangkan emas adalah cadangan
devisa suatu negara, sehingga jika suatu saat negara mengahadapi krisis maka
dapat menggunakan cadangannya untuk menangani krisisnya.
22
A. Pasar Modal Indonesia
1. Pengertian Pasar Modal
Dermawan Sjahrial (2006:15) mengungkapkan bahwa pengertian pasar
modal ada dua, yaitu:
a. Dalam Arti Sempit
Pasar modal merupakan kegiatan yang mempertemukan penjual dan
pembeli dana jangka panjang.
b. Dalam Arti Luas
1) Pasar
modal
adalah
keseluruhan
sistem
keuangan
yang
terorganisasi termasuk bank – bank komersial dan semua perantara
dibidang keuangan serta surat – surat berharga jangka panjang dan
pendek.
2) Pasar modal adalah semua pasar yang terorganisasi dan lembaga –
lembaga yang memperdagangkan warkat – warkat kredit (biasanya
yang berjangka waktu lebih dari satu tahun) termasuk saham –
saham, obligasi, hipotek dan tabungan serta deposito berjangka.
Brigham dan Houston (2009:150) pasar modal (capital market) adalah
pasar untuk saham – saham dan utang jangka panjang atau jangka
menengah perusahaan. Pasar modal adalah pasar yang relatif berjangka
panjang (lebih lama dari waktu jatuh tempo satu tahun) untuk berbagai
instrumen keuangan seperti obligasi dan saham. (Van Horne dan
Wachowicz, 2007:322).
23
Menurut Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1995, tentang Pasar
Modal, pengertian pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan
Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang
berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi
yang berkaitan dengan efek (Warsono, 2003:355).
Pasar modal dalam arti sempit adalah suatu tempat terorganisasi di
mana efek – efek diperdagangkan yang disebut Bursa Efek. Bursa efek
atau stock exchange adalah suatu sistem yang terorganisasi yang
mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik secara
langsung maupun dengan melalui wakil – wakilnya. Fungsi Bursa Efek ini
antara lain adalah menjaga kontinuitas pasar dan menciptakan harga efek
yang wajar melalui mekanisme permintaan dan penawaran (Siamat
Dahlan, 2001:249).
Pengertian Pasar Modal menurut Kamus Pasar Uang dan Modal adalah
kongkret atau abstrak yang mempertemukan pihak yang menawarkan dan
yang memerlukan dana jangka panjang, yaitu jangka satu tahun ke atas.
Abstrak dalam pengertian pasar modal adalah transaksi yang dilakukan
melalui mekanisme over the counter (OTC) (Siamat Dahlan, 2001: 249).
2. Fungsi pasar Modal
Menurut Yulfasni (2005:2) pasar modal dapat memainkan peranan
penting dalam suatu perkembangan ekonomi suatu negara. Karena suatu
pasar modal berfungsi sebagai:
24
a. Sarana untuk menghimpun dana – dana masyarakat untuk disalurkan
ke dalam kegiatan – kegiatan yang produktif
b. Sumber pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat bagi dunia usaha
dan pembangunan nasional
c. Mendorong
terciptanya
kesempatan
berusaha
dan
sekaligus
menciptakan kesempatan kerja
d. Mempertinggi efisiensi alokasi sumber produksi
e. Memperkokoh beroperasinya mekanisme market dalam menata sistem
moneter, karena pasar modal dapat menjadi sarana “open market
operation” sewaktu – waktu oleh Bank sentral
f. Menekan
tingginya tingkat bunga menuju suatu “rate” yang
reasonable dan
g. Sebagai alternatif investasi bagi para pemodal.
3. Pasar Perdana dan Pasar Sekunder
a. Pasar Perdana (Primary Market)
Menurut Brigham dan Houston (2009:150) pasar primer atau pasar
perdana adalah pasar dimana perusahaan – perusahaan mendapatkan
modal baru. Jika suatu perusahaan ingin menerbitkan saham – saham
biasa baru untuk mendapatkan modal, maka hal tersbut merupakan
transaksi pasar primer. Perusahaan yang menjual saham yang baru
diterbitkan tersebut akan menerima dana hasil penjualan atas penjualan
di dalam suatu transaksi pasar primer.
25
Van Horne dan Wachowicz (2007:322) mengungkapkan pasar
perdana (primary market) adalah pasar untuk “penerbitan” baru. Di
pasar inilah dana dikumpulkan melalui penjualan arus sekuritas baru
dari para pembeli sekuritas tersebut (sektor simpanan) kepada para
penerbit sekuritas (sektor investasi). Kemudian Weston dan Copeland
(1995:98) menambahkan bahwa pasar primer (primary market)
merupakan pasar di mana saham dan obligasi pertama kali dijual.
Pasar perdana merupakan penawaran surat berharga oleh penjamin
emisi dibantu oleh broker pertama kali dibeli oleh kumpulan individu
dan lembaga investasi (Dermawan Sjahrial, 2006:15).
Terdapat dua jenis saham biasa (common stock) yang diterbitkan
melalui pasar perdana. Pertama, penawaran perdana (initial public
offering – IPO) adalah saham perusahaan yang dijual pertama kali ke
publik oleh perusahaan yang tadinya berbentuk perseroan terbatas.
Kedua, saham baru musiman (seasoned new issues) ditawarkan oleh
perusahaan yang sudah pernah menerbitkan saham (Bodie, et.al,
2006:86).
Apabila dalam pasar perdana terjadi kelebihan jumlah permintaan
di atas jumlah penawaran (over subscription) maka pendistribusian
efek didasarkan pada sistem penjatahan (allotment). Adapun
pembayaran kembali atas kelebihan uang pesanan (refund) dilakukan
penjamin emisi dalam waktu selambat – lambatnya 4 hari setelah
penjatahan kepada pemodal. Selanjutnya pada tanggal yang telah
26
ditentukan penjamin emisi wajib menyerahkan seluruh hasil penjualan
efek. (Yulfasni, 2005:49).
b. Pasar Sekunder (Secondary Market)
Brigham dan Houston (2009:150) mengungkapkan pasar sekunder
(secondary market) adalah pasar dimana sekuritas yang telah ada dan
beredar diperdagangkan diantara para investor. Senada dengan
Brigham dan Houston, Weston dan Copeland (1995:98) menambahkan
bahwa pasar sekunder merupakan pasar di mana saham dan obligasi
yang telah dijual di pasar perdana kemudian diperdagangkan.
Pasar sekunder adalah pasar untuk sekuritas yang telah ada (telah
dibeli sebelumnya), bukan untuk emisi saham baru (Van Horne dan
Wachowicz, 2007:322). Pasar sekunder merupakan transaksi surat
berharga oleh penjamin yang terjadi di pasar modal yang tidak akan
mempengaruhi posisi keuangan perusahaan, dan pengaruhnya hanya
pada komposisi kepemilikan saham perusahaan (Dermawan Sjahrial
2006:15).
Bodie, et. al (2006:86) menambahkan bahwa pasar sekunder
(secondary market) merupakan tempat terjadinya pembelian dan
penjualan antar investor atas sekuritas yang telah diterbitkan.
Setelah melakukan penawaran pada pasar perdana dan semua efek
tercatat atas nama masing – masing investor atau efek yang
bersangkutan berada di tangan para investor, baru saham dicatatkan di
bursa
efek.
Ini
berarti
bahwa
efek
tersebut
hanya
boleh
27
diperdagangkan di bursa efek, sehingga kegiatan jual beli saham
perusahaan terjadi di luar perusahaan. Uang hasil perdagangan di pasar
sekunder tidak masuk kepada perusahaan melainkan ke dalam kas
penjual saham yang bersangkutan yakni investor (Yulfasni, 2005:50).
B. Saham
1. Pengertian Saham
Saham dapat didefinisikan sebagai salah satu instrumen keuangan
berupa surat atau lembar berharga yang diterbitkan perusahaan sebagai
tanda bukti penyertaan modal di perusahaan tersebut. Perusahaan yang
menerbitkan saham disebut perusahaan go public dan terdaftar di Bursa
Efek Indonesia. Sedangkan pihak yang membeli saham perusahaan disebut
dengan pemodal. Pemodal itu sendiri dikategorikan menjadi dua yaitu
investor dan spekulator. Tujuan pemodal membeli saham yaitu untuk
mencari keuntungan baik dari dividen maupun capital gain. Investor yaitu
pihak yang membeli saham dengan tujuan jangka panjang, sementara
spekulator membeli saham dengan tujuan untuk diperjualbelikan di pasar
modal sehingga mendapat capital gain.
Berikut ini merupakan beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli
mengenai pengertian saham antara lain:
a. Menurut Gitman: Saham adalah bentuk paling murni dan sederhana
dari kepemilikan perusahaan. (Gitman:2000,7)
b. Menurut Bernstein: Saham adalah selembar kertas yang menyatakan
kepemilikan dari sebagian perusahaaan. (Bernstein:1995,197)
28
c. Menurut Mishkin: Saham adalah suatu sekuritas yang memiliki klaim
terhadap pendapatan dan asset sebuah perusahaan. Sekuritas sendiri
dapat diartikan sebagai klaim atas pendapatan masa depan seorang
peminjam yang dijual oleh peminjam kepada yang meminjamkan,
sering juga disebut instrumen keuangan. (Mishkin:2001,4).
2. Jenis – Jenis Saham
Saham itu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu common stock
(saham biasa), preferred stock (saham preferen) dan saham treasuri.
Berikut ini akan dibahas mengenai saham preferen terlebih dahulu diikuti
oleh saham biasa dan saham treasuri.
a. Saham Preferen
Untuk menarik investor potensial lainnya, suatu perusahaan
mungkin juga mengeluarkan kelas lain dari saham, yaitu yang disebut
dengan saham preferen (preferred stock). Saham preferen merupakan
saham yang mempunyai sifat gabungan (hybrid) antara obligasi (bond)
dan saham biasa. Saham preferen mempunyai hak – hak prioritas lebih
dari saham biasa. Hak – hak prioritas dari saham preferen yaitu hak
atas dividen yang tetap dan hak terhadap aktiva jika terjadi likuidasi.
Akan tetapi, saham preferen umumnya tidak mempunyai hak veto
seperti yang dimiliki oleh saham biasa. (Jogiyanto, 2009).
Adapun ciri – ciri dari saham preferen menurut Dahlan Siamat
(1995:385) adalah:
29
1) Memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen.
2) Tidak memiliki hak suara.
3) Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam
pencalonan pengurus.
4) Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham
lebih dahulu setelah kreditur apabila perusahaan dilikuidasi.
Seperti bond yang membayarkan bunga atas pinjaman, saham
preferen juga memberikan hasil yang tetap berupa dividen preferen.
Seperti saham biasa, dalam hal likuidasi, klaim pemegang saham
preferen dibawah klaim pemegang obligasi. Dibandingkan dengan
saham biasa, saham preferen mempunyai beberapa hak, yaitu hak atas
dividen tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu jika terjadi likuidasi.
Oleh karena itu, saham preferen dianggap mempunyai karakteristik
ditengah – tengah antara bond dan saham biasa.
1) Karakteristik Saham Preferen
Beberapa karakteristik saham preferen adalah sebagai berikut:
a) Preferen terhadap dividen
Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima
dividen terlebih dahulu dibandingkan dengan pemegang saham
biasa.
b) Saham preferen juga umumnya memberikan hak dividen
kumulatif, yaitu memberikan hak kepada pemegangnya untuk
menerima dividen tahun – tahun sebelumnya yang belum
30
dibayarkan
sebelum pemegang
saham
biasa
menerima
dividennya. Jika saham preferen disebutkan memberikan hak
dividen kumulatif, maka dividen – dividen tahun sebelumnya
yang belum dibayarkan disebut dengan dividens in arrears.
Nilai dari dividens in arrears ini harus diungkapkan (disclose)
di catatan dalam laporan keuangan, sehingga investor dan calon
investor saham biasa dapat mengetahui dan dapat menilai
pengaruh dari kewajiban ini terhadap harga dari saham biasa.
Jika saham preferen tidak mempunyai bentuk dividen
kumulatif, maka suatu dividen yang tidak dibayar di periode
lalu akan hilang selamanya. Hal ini mungkin saja terjadi jika
perusahaan mengalami kerugian atau tidak mempunyai cukup
kas untuk membayarnya. Akan tetapi perusahaan akan berpikir
dua kali untuk tidak memenuhi kewajibannya membayar
dividen preferen. Sekali perusahaan tidak memenuhi kewajiban
ini, maka pasar akan memasukkannya ke dalam daftar hitam.
c) Preferen pada waktu likuidasi
Saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva
perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham
biasa pada saat terjadi likuidasi. Besarnya hak atas aktiva pada
saat likuidasi adalah sebesar nilai nominal saham preferennya
termasuk semua dividen yang belum dibayar jika bersifat
kumulatif.
Karena
karakteristik
ini,
investor
umumnya
31
menganggap
saham
preferen
dibandingkan
dengan
saham
lebih
biasa.
kecil
Akan
risikonya
tetapi
jika
dibandingkan dengan bond, saham preferen dianggap lebih
berisiko, karena klaim dari pemegang saham preferen dibawah
klaim dari pemegang bond.
2) Macam Saham Preferen
Untuk menarik minat investor terhadap saham preferen dan
untuk memberikan beberapa alternatif yang menguntungkan baik
bagi investor atau bagi perusahaan yang mengeluarkan saham
preferen, beberapa macam saham preferen telah dibentuk
diantaranya adalah sebagai berikut:
a) Convertible Preferred Stock
Untuk menarik minat investor yang menyukai saham biasa,
beberapa saham preferen menambah bentuk di dalamnya yang
memungkinkan pemegangnya untuk menukar saham ini dengan
saham biasa dengan rasio penukaran yang sudah ditentukan.
Pertukaran dari saham preferen ke saham biasa tidak
menimbulkan keuntungan (gain) atau kerugian (loss) di
perusahaan emiten. Di perusahaan emiten, nilai yang dicatat
untuk saham – saham ini adalah sebesar nilai nominalnya dan
selisih yang diterima yang berbeda dengan nilai nominalnya
dicatat sebagai rekening Agio Saham (Paid-in Capital in Excess
of Par Value). Juga di dalam catatan perusahaan emiten, nilai
32
pasar saat penukaran tidak diperhitungkan karena alasannya
adalah pertukaran saham tersebut dilakukan langsung dengan
perusahaan.
b) Callable Preferred Stock
Bentuk lain dari saham preferen adalah memberikan hak
kepada perusahaan yang mengeluarkan untuk membeli kembali
saham ini dari pemegang saham pada tanggal tertentu di masa
mendatang dengan nilai yang tertentu. Harga tebusan ini
biasanya lebih tinggi dari nilai nominal sahamnya.
c) Floating atau Adjustable-rate Preferred Stock (ARP).
Saham preferen ini merupakan saham inovasi baru di
Amerika Serikat yang dikenalkan pada tahun 1982. Saham
preferen ini tidak membayar dividen secara tetap, tetapi tingkat
dividen yang dibayar tergantung dari tingkat return dari
sekuritas t-bill (treasury bill). Saham preferen tipe baru ini
cukup populer sebagai investasi jangka pendek untuk investor
yang mempunyai kelebihan kas.
b. Saham Biasa
Jogiyanto (2009) Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas
saham saja, saham ini biasanya dalam bentuk saham biasa (common
stock). Pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan yang
mewakilkan
kepada
manajemen
untuk
menjalankan
operasi
perusahaan.
33
Menurut Dahlan Siamat (1995:385) ciri – ciri dari saham biasa
adalah sebagai berikut:
1) Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.
2) Memiliki hak suara (one share one vote).
3) Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila
bangkrut dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
Sebagai pemilik perusahaan, pemegang saham biasa mempunyai
beberapa hak. Beberapa hak yang dimiliki oleh pemegang saham biasa
antara lain:
1) Hak Kontrol
Pemegang saham biasa mempunyai hak untuk memilih dewan
direksi. Ini berarti bahwa pemegang saham mempunyai hak untuk
mengontrol siapa saja yang akan memimpin perusahaannya.
Pemegang saham dapat melakukan hak kontrolnya dalam bentuk
memveto dalam pemilihan direksi di rapat tahunan pemegang
saham atau memveto pada tindakan – tindakan yang membutuhkan
persetujuan pemegang saham.
2) Hak Menerima Pembagian Keuntungan
Sebagai pemilik perusahaan, pemegang saham biasa berhak
mendapat bagian dari keuntungan perusahaan. Tidak semua laba
dibagikan, sebagian laba akan ditanamkan kembali ke dalam
perusahaan. Laba yang ditahan ini (retained earnings) merupakan
sumber dana intern perusahaan. Laba yang tidak ditahan dibagikan
34
dalam bentuk dividen. Tidak semua perusahaan membayar dividen.
Keputusan perusahaan membayar dividen atau tidak dicerminkan
dalam kebijakan dividennya (dividend policy). Jika perusahaan
memutuskan untuk membagi keuntungan dalam bentuk dividen,
semua pemegang saham biasa mendapatkan haknya yang sama.
Pembagian dividen untuk saham biasa dapat dilakukan jika
perusahaan sudah membayarkan dividen untuk saham preferen.
3) Hak Preemptive
Hak preemptive merupakan hak untuk mendapatkan persentasi
pemilikan yang sama jika perusahaan mengeluarkan tambahan
lembar saham. Jika perusahaan mengeluarkan tambahan lembar
saham, maka jumlah saham yang beredar akan lebih banyak dan
akibatnya persentase kepemilikan pemegang saham yang lama
akan turun. Hak preemptive memberi prioritas kepada pemegang
saham lama untuk membeli tambahan saham yang baru, sehingga
persentase kepemilikannya tidak berubah.
Hak ini mempunyai dua tujuan. Tujuan yang pertama adalah
untuk melindungi hak kontrol dari pemegang saham lama. Tujuan
kedua dari hak ini adalah untuk melindungi pemegang saham lama
dari nilai yang merosot.
c. Saham Treasuri
Saham treasuri (treasury stock) adalah saham milik perusahaan
yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli
35
kembali oleh perusahaan untuk tidak dipensiunkan tetapi disimpan
sebagai treasuri. Perusahaan emiten membeli kembali saham beredar
sebagai saham treasuri dengan alasan – alasan sebagai berikut:
1) Akan digunakan dan diberikan kepada manajer – manajer atau
karyawan – karyawan di dalam perusahaan sebagai bonus dan
kompensasi dalam bentuk saham.
2) Meningkatkan volume perdagangan di pasar modal dengan harapan
meningkatkan nilai pasarnya.
3) Menambahkan jumlah lembar saham yang tersedia untuk
digunakan menguasai perusahaan lain.
4) Mengurangi jumlah lembar saham yang beredar untuk menaikkan
laba per lembarnya.
5) Alasan khusus lainnya yaitu dengan mengurangi jumlah saham
yang beredar sehingga dapat mengurangi kemungkinan perusahaan
lain untuk menguasai jumlah saham secara mayoritas dalam rangka
pengambilan alih tidak bersahabat (hostile takeover).
Sedangkan dari segi harga, menurut Sawidji Widoatmojo (1996;46)
harga saham dapat dibedakan menjadi 3 (tiga):
a. Harga Nominal
Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh
emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya
36
harga nominal memberikan arti penting saham karena dividen minimal
biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
b. Harga Perdana
Harga ini merupakan pada waktu harga saham tersebut dicatat di
bursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh
penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan
diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada
masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.
c. Harga pasar
Kalau harga perdana merupakan harga jual dari perjanjian emisi
kepada investor, maka harga pasar adalah harga jual dari investor yang
satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut
dicatatkan di bursa. Transaksi disini tidak lagi melibatkan emiten dan
penjamin emisi harga ini yang disebut sebagai harga di pasar sekunder
dan harga inilah yang benar – benar mewakili harga perusahaan
penerbitnya, karena pada transaksi di pasar sekunder, kecil sekali
terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan penerbit. Harga
yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media lain adalah
harga pasar.
Penetapan harga tersebut tentu saja dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Menurut Weston dan Brigham (1993:26-27) faktor yang dapat
mempengaruhi pergerakan harga saham adalah proyeksi laba per lembar
saham, saat diperoleh laba, tingkat risiko dari proyeksi laba, proporsi utang
37
perusahaan terhadap ekuitas, serta kebijakan pembagian dividen.
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham adalah
kendala eksternal seperti kegiatan perekonomian pada umumnya, pajak
dan keadaan bursa saham. Investor harus benar – benar menyadari bahwa
di samping akan memperoleh keuntungan tidak menutup kemungkinan
mereka akan mengalami kerugian. Keuntungan atau kerugian tersebut
sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor menganalisis keadaan harga
saham merupakan penilaian sesaat yang dipengaruhi oleh banyak faktor
termasuk diantaranya kondisi (performance) dari perusahaan, kendala –
kendala eksternal, kekuatan penawaran dan permintaan saham di pasar,
serta kemampuan investor dalam menganalisis investasi saham. Menurut
Sawidji (1996:81) : "Faktor utama yang menyebabkan harga saham adalah
persepsi yang berbeda dari masing – masing investor sesuai dengan
informasi yang di dapat".
A. Inflasi
1. Pengertian Inflasi
Menurut Sukirno (2004:27) inflasi adalah kenaikan harga – harga
secara umum berlaku dalam suatu perekonomian dari suatu periode ke
periode lainnya, sedangkan tingkat inflasi adalah presentasi kenaikan
harga – harga pada suatu tahun tertentu berbanding dengan tahun
sebelumnya.
Menurut Dornbusch dan Fischer (1987:6), inflasi adalah suatu gejala
dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus – menerus.
38
Inflasi adalah suatu keadaan yang mengindikasikan semakin melemahnya
daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai riil mata uang
suatu negara. (Khalwaty, 2000:5).
Inflasi adalah tingkat kenaikan harga barang – barang secara umum.
Inflasi yang tinggi sering dikaitkan dengan perekonomian terlalu panas
yaitu perekonomian dimana permintaan atas barang dan jasa melampaui
kapasitas produksinya, yang akan mendorong kenaikan harga.
2. Macam – Macam Aliran Inflasi
Sejak tahun 1970–an, analisis ekonomi terhadap inflasi dibedakan
menjadi dua kelompok aliran, yakni Keynesian dan Monetaris. Namun
dalam beberapa literatur disebutkan versi yang berbeda, dimana aliran
inflasi dibagi menjadi, Klasik, Keynesian, Moneterisme, dan Ekspektasi.
a. Teori Inflasi Klasik
Teori ini berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan
oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan
antara nilai uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila
jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka
nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan harga. Jadi
menurut Klasik, inflasi berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu
banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi maka obatnya
adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit.
39
b. Teori Inflasi Keynes
Teori ini mengasumsikan bahwa perekonomian sudah berada pada
tingkat full employement. Menurut Keynes kuantitas uang tidak
berpengaruh
terhadap
tingkat
permintaan
total,
karena
suatu
perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas
uang tetap konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan
naik. Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya permintaan
uang untuk transaksi, dengan demikian akan menaikkan suku bunga.
Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk investasi dan
akan melunakkan tekanan inflasi.
Analisa
Keynes
mengenai
inflasi
permintaan
dirumuskan
berdasarkan konsep inflationary gap. Menurut Keynes, inflasi
permintaan yang benar – benar penting adalah yang ditimbulkan oleh
pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan,
program investasi yang besar – besaran dalam kapital sosial.
c. Teori Inflasi Moneterisme
Teori ini berpendapat bahwa inflasi disebabkan oleh kebijaksanaan
moneter dan fiskal yang ekspansif, sehingga jumlah uang beredar di
masyarakat sangat berlebihan. Kelebihan uang beredar di masyarakat
akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di
sektor riil. Menurut golongan moneteris inflasi dapat diturunkan
dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan
melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau
40
melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap
subsidi atas nilai tukar valuta asing.
d. Teori Ekspektasi
Menurut
Dornbusch,
bahwa
pelaku
ekonomi
membentuk
ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi
rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa
depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian
rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan
berdasarkan informasi yang ada.
3. Jenis – Jenis Inflasi
Menurut Boediono (1985:162) Inflasi dapat di golongkan menjadi dua
golongan, golongan pertama didasarkan pada “parah” atau tidaknya inflasi
tersebut, yaitu;
a. Inflasi ringan ( dibawah 10% setahun)
b. Inflasi sedang (antara10 – 30% setahun)
c. Inflasi berat ( antara 30 – 100% setahun)
d. Hiperinflasi (diatas 100% setahun).
Penggolongan yang kedua adalah atas dasar sebab awal dari inflasi.
Atas dasar ini di bedakan 2 macam inflasi:
a. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai
barang terlalu kuat. Infasi ini disebut demand pull inflation.
b. Inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi, ini disebut cost
push inflation.
41
2. Dampak Inflasi
Jika inflasi suatu negara meningkat relatif dibandingkan negara –
negara rekanan dagangnya, maka neraca berjalan negara tersebut akan
menurun, jika faktor lain tidak berubah. Konsumen dan perusahaan pada
negara tersebut mungkin membeli lebih banyak barang di luar negeri
(karena tingginya inflasi lokal), sementara ekspor negara tersebut akan
menurun.
Andrie Setiadi (2009) Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai
pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih
baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang
bergairah
untuk
bekerja,
menabung
dan
mengadakan
investasi.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi
hiperinflasi keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian
dirasakan lesu, orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung atau
mengadakan investasi.
Maulidah (2004) pada saat terjadi inflasi, harga barang – barang
cenderung naik maka hal ini menyebabkan meningkatnya biaya produksi
yang dikeluarkan perusahaan. Peningkatan biaya produksi menyebabkan
harga jual produk meningkat sehingga akan mengurangi kuantitas produk
yang dijual, akibatnya laba menurun. Dengan menurunnya kinerja
keuangan perusahaan, menyebabkan dividen yang dibagikan kepada
pemegang
saham
berkurang,
sehingga
investor
enggan
untuk
mempertahankan kepemilikannya atas saham perusahaan.
42
Nasution dan Maharani (2006) tingkat inflasi yang tinggi akan
mengakibatkan harga input produk naik sehingga biaya produksi naik,
akibatnya keuntungan yang diperoleh perusahaan akan turun, maka dapat
dikatakan inflasi mempunyai hubungan negatif dengan harga saham.
Ratna Prihantini (2009) inflasi yang tinggi akan mengakibatkan
penurunan harga saham, karena menyebabkan kenaikan harga barang
secara umum. Kondisi ini mempengaruhi biaya produksi dan harga jual
barang akan menjadi semakin tinggi. Harga jual yang tinggi akan
menyebabkan menurunnya daya beli, hal ini akan mempengaruhi
keuntungan perusahaan dan akhirnya berpengaruh terhadap harga saham
yang mengalami penurunan.
Nurdin (1999) juga mengatakan bahwa inflasi yang semakin tinggi
maka harga – harga barang atau bahan baku mempunyai kecenderungan
yang meningkat juga. Peningkatan harga barang dan bahan baku ini akan
membuat biaya produksi tinggi, sehingga akan berpengaruh pada
penurunan jumlah permintaan secara individual maupun menyeluruh.
Penurunan jumlah permintaan ini pada akhirnya akan menurunkan
pendapatan perusahaan sehingga akan berpengaruh pada return yang
diterima perusahaan.
Penelitian Widjojo (dalam Almilia, 2003) mengatakan bahwa makin
tinggi tingkat inflasi akan semakin menurunkan tingkat profitabilitas
perusahaan. Sedangkan penelitian Utami dan Rahayu (2003) membuktikan
secara empirik semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah return saham.
43
Penelitian Adams et al. (2004) dan Nurdin (1999) bahwa secara signifikan
inflasi berpengaruh negatif terhadap return saham.
Menurut Sukirno (2004: 338), efek – efek buruk dari inflasi yaitu
sebagai berikut:
a. Inflasi dan Perkembangan Ekonomi
Inflasi yang tinggi tingkatnya akan menggalakkan perkembangan
ekonomi. Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan
produktif sangat tidak menguntungkan. Maka pemilik modal biasanya
lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi. Investasi
produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi akan menurun.
Sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran akan terwujud.
b. Inflasi dan Kemakmuran Rakyat
Disamping menimbulkan efek buruk ke atas kegiatan ekonomi
negara inflasi juga akan menimbulkan efek – efek terhadap individu
dan masyarakat.
c. Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang – orang yang
berpendapatan tetap.
Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga –
harga. Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu – individu
yang berpendapatan tetap. Sehingga daya beli masyarakat juga akan
menurun.
44
d. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.
Sebagian kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang.
Simpanan di bank, simpanan tunai, dan simpanan dalam institusi –
institusi Keuangan lain merupakan simpanan Keuangan. Nilai riilnya
akan menurun apabila inflasi berlaku.
e. Memperburuk pembagian kekayaan
Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan
menghadapi kemorosotan dalam nilai riil pendapatannya, dan pemilik
kekayaan bersifat keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil
kekayaannya. Sebagian penjual / pedagang dapat mempertahankan
nilai riil pendapatannya. Dengan demikian inflasi menyebabkan
pembagian pendapatan diantara golongan berpendapat tetap dengan
pemilik – pemilik harta tetap dan penjual / pedagang akan menjadi
semakin tidak merata.
B. Nilai Tukar
1. Pengertian Nilai Tukar
Nilai tukar mata uang didefinisikan sebagai harga relatif dari suatu
mata uang terhadap mata uang lainnya atau harga dari satu mata uang
dalam mata uang yang lain (Mishkin, 2008: 107).
Kurs adalah harga sebuah mata uang dari suatu negara yang diukur
atau dinyatakan dalam satuan mata uang lainnya. Kurs memainkan
peranan yang amat penting dalam keputusan pembelanjaan, karena kurs
45
memungkinkan bagi kita untuk menerjemahkan harga – harga dari
berbagai negara ke dalam satu bahasa yang sama. (Kurgmen, 2004:40).
Menurut Sadono Sukirno (2004:197) kurs (nilai tukar) valuta asing
adalah suatu nilai yang menunjukkan mata uang dalam negeri yang
diperlukan untuk mendapatkan satu unit mata uang asing.
Menurut Adiningsih, dkk (1998: 155) nilai tukar rupiah adalah harga
rupiah terhadap mata uang negara lain. Fabozzi dan Franco (1996:724), an
exchange rate is defined as the amount of one currency that can be
exchange per unit of another currency, or the price of one currency in
items of another currency.
Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya
atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore
1997:9). Menurunnya kurs rupiah terhadap mata uang asing khususnya
dollar AS memiliki pengaruh negatif terhadap ekonomi dan pasar modal
(Sitinjak dan Kurnisari, 2003).
2. Sistem Nilai Tukar
Menurut Bank Indonesia (2003) Pada dasarnya terdapat tiga sistem
nilai tukar yaitu:
a. Fixed exchange rate (sistem nilai tukar tetap)
b. Managed floating rate (sistem nilai tukar mengambang terkendali)
c. Floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang)
Menurut sistem moneter internasional, standar kurs tetap dewasa ini
lebih merupakan komitmen pemerintah untuk mempertahankan kurs mata
46
uangnya pada tingkat tertentu, Bank Sentral secara aktif akan menarik atau
melepas cadangan mata uangnya pada saat mata uang mengalami
depresiasi atau apresiasi, karena dampak dari apresiasi atau depresiasi ini
terkait erat dengan tingkat inflasi, maka pertimbangan tingkat inflasi
menjadi penting dalam penentuan kurs tetap.
Menurut Sadono Sukirno (2006: 404) kurs dalam pertukaran tetap
yaitu kurs yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan kepada beberapa
pertimbangan, misalnya pemerintah Indonesia menentukan bahwa kurs
pertukaran di antara Dollar US dan Rupiah adalah satu Dollar US sama
dengan Rp. 12.500, jadi berbeda dengan kurs yang berdasarkan pertukaran
bebas yaitu bisa saja setiap Dollar US dibeli dengan harga Rp. 10.000.
Pada sistem nilai tukar mengambang bebas, nilai tukar dibiarkan
bergerak sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi
di pasar. Dengan demikian, nilai tukar akan menguat apabila terjadi
kelebihan penawaran di atas permintaan, dan sebaliknya nilai tukar akan
melemah apabila terjadi kelebihan permintaan di atas penawaran yang ada
di pasar valuta asing.
Selain kedua sistem tersebut di atas, terdapat variasi sistem nilai tukar
diantara keduanya, seperti sistem nilai tukar mengambang terkendali.
Dalam sistem nilai tukar ini, nilai tukar tidak ditentukan sesuai mekanisme
pasar sepanjang dalam intervention band (batas pita intervensi) yang
ditetapkan bank sentral. Intervensi dapat untuk menjaga dari timbulnya
gangguan terhadap keseimbangan kurs yang sifatnya sementara atau
47
dilakukan secara permanen. Fluktuasi kurs sistem ini dipengaruhi oleh pita
intervensi yaitu besarnya toleransi kurs mata uang yang di izinkan untuk
berfluktuasi, dengan demikian bank sentral akan membutuhkan devisa
yang memadai untuk melakukan intervensi. (Purnomo Yusgiantoro, 2004:
16).
Bodie (2006) Satu faktor nyata yang mempengaruhi kompetisi
internasional dari industri suatu negara adalah nilai tukar mata uang negara
tersebut dengan negara lain. Nilai tukar atau kurs adalah tingkat dimana
mata uang domestik dapat di konversi menjadi mata uang asing. Ketika
nilai tukar berfluktuasi, nilai dolar dari barang yang dihargai menggunakan
mata uang asing juga akan berfluktuasi.
3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kurs Mata Uang
a. Tingkat Inflasi Relatif
Perubahan pada tingkat inflasi relatif dapat mempengaruhi aktivitas
perdagangan internasional, yang akan mempengaruhi permintaan dan
penawaran suatu mata uang dan karenanya mempengaruhi kurs nilai
tukar.
b. Suku Bunga Relatif
Perubahan pada suku bunga relatif mempengaruhi investasi pada
sekuritas asing, yang akan mempengaruhi permintaan dan penawaran
mata uang dan karenanya mempengaruhi kurs nilai tukar.
48
c. Tingkat Pendapatan Relatif
Karena pendapatan mempengaruhi jumlah permintaan barang
impor, maka pendapatan dapat mempengaruhi kurs mata uang.
d. Pengendalian Pemerintah
1) Mengenakan batasan atas pertukaran mata uang asing
2) Mengenakan batasan atas perdagangan asing
3) Mencampuri pasar mata uang asing
4) Mempengaruhi variabel makro seperti inflasi, suku bunga, dan
tingkat pendapatan.
4. Prediksi Pasar
a. Interaksi Faktor
Transaksi dalam pasar mata uang asing memfasilitasi baik arus
perdagangan maupun arus keuangan. Transaksi mata uang asing terkait
perdagangan biasanya tidak terlalu bereaksi terhadap berita tertentu.
Namun transaksi arus modal sangat responsif terhadap berita, karena
keputusan untuk mempertahankan sekuritas dalam mata uang tertentu
sering kali bergantung pada antisipasi perubahan nilai mata uang
tersebut. Sering kali faktor yang terkait perdagangan maupun keuangan
berinteraksi dan mempengaruhi pergerakan mata uang secara simultan.
b. Risiko Pergerakan Nilai Tukar
Sebagian bisnis internasional mengharuskan pertukaran satu mata
uang dengan mata uang lain untuk melakukan pembayaran. Karena
kurs mata uang berfluktuasi sepanjang waktu, arus keluar kas yang
49
dibutuhkan untuk melakukan pembayaran juga berubah. Karenanya,
jumlah mata uang asal perusahaan yang dibutuhkan untuk membeli
produk asing dapat berubah meskipun pemasok produk tidak
mengubah harga.
Bahkan jika seorang eksportir menggunakan mata uang asalnya,
fluktuasi kurs juga akan mempengaruhi permintaan asing atas produk
perusahaan. Saat mata uang negara asal meningkat, produk yang
menggunakan mata uang tersebut menjadi lebih mahal di negara asing,
sehingga dapat menyebabkan penurunan permintaan dan berakibat
pada penurunan arus kas masuk.
Bagi MNC yang memiliki anak perusahaan di negara lain, fluktuasi
nilai tukar mempengaruhi nilai pembayaran arus kas dari anak
perusahaan ke induknya. Jika mata uang induk perusahaan lebih kuat,
maka dana yang dibayarkan akan ditukar oleh jumlah mata uang asal
induk perusahaan yang lebih kecil.
5. Dampak Kurs Mata Uang
Mata uang tiap negara dinilai dalam kaitannya dengan mata uang lain
melalui kurs mata uang, sehingga mata uang dapat ditukar untuk
memfasilitasi transaksi internasional. Nilai dari sebagian besar mata uang
dapat berfluktuasi sepanjang waktu karena kekuatan pasar dan pemerintah.
Jika mata uang suatu negara meningkat nilainya dibandingkan dengan
mata uang lain, maka saldo neraca berjalan akan turun, jika hal lain tidak
berubah. Saat mata uang menguat, barang yang diekspor oleh negara
50
tersebut akan menjadi lebih mahal bagi negara pengimpor. Akibatnya,
permintaan barang tersebut akan berkurang.
Menurut Moh. Mansur (2009:3) melemahnya nilai tukar rupiah secara
signifikan akan dapat mempengaruhi tingkat pengembalian investasi suatu
perusahaan khususnya perusahaan yang hanya mengandalkan bahan baku
dari luar negeri, dan hal tersebut juga akan dapat menimpa perusahaan
yang hanya mengandalkan pinjaman luar negeri dalam bentuk dollar US
untuk membiayai operasi perusahaan. Jadi dengan terdepresiasinya kurs
rupiah akan mengakibatkan biaya yang akan ditanggung perusahaan
semakin besar sehingga akan menekan tingkat keuntungan yang diperoleh
perusahaan, dan hal tersebut akan dapat menurunkan harga saham
perusahaan yang diperjualbelikan di pasar modal.
Menurut Madura (2000) penentuan nilai tukar mata uang dalam sistem
mengambang bebas ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan demikian
hal itu akan sangat bergantung pada kekuatan faktor – faktor ekonomi
yang diduga dapat mempengaruhi kondisi permintaan dan penawaran
valuta asing di pasar valuta asing. Faktor – faktor tersebut antara lain
adalah perbedaan tingkat inflasi, perbedaan tingkat suku bunga, perbedaan
tingkat pendapatan nasional.
Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing akan sangat
mempengaruhi iklim investasi dalam negeri, terutama pasar modal.
Misalnya ketika terjadi apresiasi kurs rupiah, akan berdampak pada
perkembangan pemasaran produk Indonesia di luar negeri, terutama dalam
51
persaingan harga. Sebaliknya, bila terjadi depresiasi rupiah, akan
berdampak pada perusahaan – perusahaan go public, terutama yang
menggantungkan faktor produksi terhadap bahan – bahan impor, sehingga
biaya produksi meningkat, laba yang diperoleh menurun dan berakibat
jatuhnya harga saham perusahaan tersebut (Fahrudin, 2006).
Dalam penelitian Joko Sangaji tahun 2003 mengenai pengaruh nilai
tukar terhadap return saham LQ45 terdapat berbagai teori tentang
pengaruh nilai tukar terhadap return saham yaitu sebagai berikut:
Model flow oriented tentang penentuan nilai tukar (Dombusch dan
Fisher, 1980) menyatakan bahwa pergerakan nilai tukar mempengaruhi
daya saing internasional dan posisi neraca perdagangan, dan output riil
sebuah Negara, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap aliran kas
perusahaan – perusahaan baik sekarang dan masa depan serta harga saham
mereka. Pergerakan pasar saham juga mempengaruhi nilai tukar. Saham
mempengaruhi nilai tukar melalui permintaan uang menurut model
moneteris (Gavin, 1989).
Menurut Aggarwal (1981), Ma dan Kao (1990) perubahan dalam nilai
tukar mempunyai dua efek terhadap harga saham, yaitu efek langsung
melalui perusahaan multinasional dan efek tidak langsung melalui
perusahaan domestik. Ketika posisi laba atau rugi diumumkan, harga
sahamnya juga berpengaruh bagi perusahaan domestik. Di satu pihak,
devaluasi mata uang lokal akan meningkatkan atau menurunkan harga
saham, yang tergantung dari sifat operasi perusahaan. Perusahaan
52
domestik yang mengekspor sebagian outputnya akan memperoleh manfaat
langsung dari devaluasi karena peningkatan permintaan outputnya, yang
berarti penjualan meningkat dan profit juga meningkat. Ini berarti
devaluasi lokal akan menyebabkan harga saham meningkat secara umum.
Di lain pihak, bagi perusahaan yang menggunakan input impor dalam
proses produksinya, devaluasi mata uang lokal akan meningkatkan biaya,
menurunkan profit, dan akan menurunkan harga saham perusahaan.
Studi tentang hubungan antara nilai tukar dengan harga saham
memberikan berbagai hasil. Loudun (1993), Frang dan Loo (1994), Amain
dan Hook (2000) menunjukkan hubungan negatif antara harga saham dan
nilai tukar. Penelitian oleh Bahmani, Oskooee dan Sohrabian (1992)
mendapatkan adanya hubungan kausalitas dua arah antara harga saham
dan nilai tukar di pasar Amerika Serikat. Hasil yang sama, untuk
Hongkong dilakukan oleh Mok (1993) dan untuk Tokyo dilakukan oleh
Qio (1997). Selanjutnya penelitian Abdalla dan Murinde (1997)
menyimpulkan bahwa nilai tukar mempengaruhi harga saham untuk India,
Korea dan Pakistan, tetapi untuk Filipina, harga saham mempengaruhi
nilai tukar. Penelitian Friberg dan Nydhal (1997) untuk menguji hubungan
valuasi pasar saham dan nilai tukar efektif di 10 negara industri
menghasilkan kesimpulan bahwa semakin terbuka perekonomian, semakin
kuat dan positif hubungan antara return pasar saham dan nilai tukar.
Ramasamy dan Yeung (2001) menggunakan uji kausalitas Granger untuk
menentukan hubungan antara saham dan nilai tukar di 9 negara Asia
53
Timur dan menyimpulkan arah kausalitas menggambarkan perilaku hit and
run dan berubah berdasarkan periode waktu yang dipilih sehingga perlu
kehati – hatian dalam menginterpretasikan hasil kausalitas Granger.
Hubungan secara teoritis antara nilai tukar rupiah dengan harga saham
bersifat negatif yaitu apabila terjadi penurunan nilai tukar rupiah terhadap
dollar maka akan menurunkan tingkat pengembalian investasi saham.
Dengan merosotnya nilai tukar rupiah menunjuk kepada merosotnya
kemampuan ekonomi nasional Indonesia, maka kemampuan fundamental
perusahaan juga cenderung merosot, sehingga menurunkan tingkat
pengembalian saham. Sedangkan nilai tukar rupiah dengan harga saham
bersifat positif yaitu apabila terjadi sebaliknya. (Ruhendi dan Johan A,
2003).
C. Suku Bunga
1. Pengertian Suku Bunga
Suku bunga adalah harga atas dana yang dipinjam (Reilly dan Brown,
1997). Tingkat suku bunga adalah harga dari penggunaan uang yang
dipergunakan pada saat ini dan akan dikembalikan pada saat mendatang
(Herinan, 2003). Sedangkan Keynes dalam Boediono tahun 1985
berpendapat bahwa tingkat suku bunga ditentukan oleh permintaan dan
penawaran uang.
Sertifikat Bank Indonesia adalah surat utang yang diterbitkan oleh
pemerintah, dan agen pemerintah, yang umumnya berjangka waktu
maksimum satu tahun. Surat utang yang demikian merupakan investasi
54
yang sangat likuid, yang dapat dijual (money market instruments) dan
bank yang ditunjuk oleh Bank Indonesia sebagai peserta lelang Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) disebut dealer primer. www.bi.go.id
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berdasarkan surat edaran Bank
Indonesia No.6/4/DPM tanggal 16 Februari 2004 adalah surat berharga
dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai
pengakuan utang berjangka waktu pendek. (Selamet Riyadi, 2006: 45).
2. Pola Pembelian Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
a. Pembelian Melalui Pasar Perdana (langsung ke BI)
Pembelian SBI yang langsung ke BI yang dilakukan oleh bank atau
broker yaitu dengan melalui: (Rachmadi Usman, 2001: 77).
1) Lelang tetap mingguan yang dilakukan setiap hari Rabu / hari kerja
berikutnya apabila hari Rabu libur.
2) Lelang harian, yaitu transaksi intervensi Rupiah yang merupakan
suatu mekanisme untuk melakukan kontraksi atau ekspansi
moneter melalui kegiatan pinjam meminjam dana yang dilakukan
oleh Bank Indonesia secara langsung di pasar uang antar bank
(PUAB). Tentunya pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan
kebutuhan pengendalian moneter yang dilakukan oleh Bank
Indonesia.
3) BI dapat membeli kembali atas SBI yang telah beredar, baik secara
outright maupun secara repo.
55
b. Pembelian Melalui Pasar Sekunder
Selain pembelian melalui pasar perdana SBI juga ditransaksikan
melalui pasar sekunder, yaitu kegiatan SBI di luar pasar perdana, baik
langsung antarbank maupun melalui broker pasar uang. Transaksi ini
biasanya dilakukan:
1) Pembelian melalui broker maupun yang akan menjual SBI
2) Pembelian SBI dimaksud, baik secara repo maupun outright.
2. Tujuan penerbitan SBI
Tujuan diterbitkannya SBI yaitu guna mendorong mobilisasi dana dari
dalam negeri dan untuk mendorong pengembangan pasar uang. (Rachmadi
Usman, 2001: 77).
Tujuan diterbitkannya SBI, antara lain:
a. Mempengaruhi reserve money Bank Pembangunan Daerah (BPD).
b. Menarik minat bank – bank agar mereka dapat menanamkan kelebihan
cadangannya.
c. Menyediakan instrument pasar uang dalam denominasi rupiah yang
menghasilkan bunga, likuid dan bebas resiko (yang dapat digunakan
sebagai pengatur posisi cadangan bank).
d. Memperbesar likuiditas bank dalam perdagangan SBI di pasar
sekunder, selain itu juga ditujukan untuk mempengaruhi suku bunga
pasar.
56
3. Dampak Suku Bunga
Hermawan Darmawi (2006:188) tingkat suku bunga merupakan salah
satu indikator moneter yang mempunyai dampak dalam berbagai kegiatan
perekonomian sebagai berikut:
a. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi keputusan melakukan
investasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan
ekonomi.
b. Tingkat suku bunga juga akan mempengaruhi pengambilan keputusan
pemilik modal apakah ia akan berinvestasi pada real asset ataukah
pada financial asset.
c. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi kelangsungan usaha pihak
bank dan lembaga keuangan lainnya,
d. Tingkat suku bunga dapat mempengaruhi volume uang beredar.
Fitria Anggraeni (2011) Kenaikan tingkat suku bunga pinjaman
memiliki
dampak
negatif
terhadap
setiap
emiten,
karena
akan
meningkatkan beban bunga kredit dan menurunkan laba bersih. Penurunan
laba bersih akan mengakibatkan laba per saham juga menurun dan
akhirnya akan berakibat turunnya harga saham di pasar. Di sisi lain,
naiknya suku bunga deposito akan mendorong investor untuk menjual
saham dan kemudian menabung hasil penjualan itu dalam deposito.
Penjualan saham secara besar – besaran akan menjatuhkan harga saham di
pasar. Oleh karena itu, kenaikan suku bunga pinjaman atau suku bunga
deposito akan
mengakibatkan turunnya harga
saham. Begitupun
57
sebaliknya, penurunan bunga deposito akan mendorong investor
mengalihkan investasinya dari perbankan ke pasar modal. Investor akan
memborong saham sehingga harga saham terdorong naik akibat
meningkatnya permintaan saham.
Menurut Cahyono (2000:117) terdapat dua penjelasan mengapa
kenaikan suku bunga dapat mendorong harga saham ke bawah. Pertama,
kenaikan suku bunga mengubah peta hasil investasi. Kedua, kenaikan suku
bunga akan memotong laba perusahaan. Hal ini terjadi dengan dua cara.
Kenaikan suku bunga akan meningkatkan beban bunga emiten, sehingga
labanya bisa terpangkas. Selain itu, ketika suku bunga tinggi, biaya
produksi akan meningkat dan harga produk akan lebih mahal sehingga
konsumen mungkin akan menunda pembeliannya dan menyimpan
dananya di bank. Akibatnya penjualan perusahaan menurun. Penurunan
penjualan perusahaan dan laba akan menekan harga saham.
Menurut Stanley S. C. Huang bahwa perubahan suku bunga dapat
mempengaruhi harga saham dengan tiga cara, antara lain sebagai berikut:
a. Perubahan suku bunga dapat mempengaruhi kondisi perusahaan,
kondisi bisnis secara umum dan tingkat profitabilitas perusahaan yang
tentunya akan mempengaruhi harga saham di pasar modal.
b. Perubahan suku bunga juga akan mempengaruhi hubungan perolehan
dari obligasi dan perolehan dividen saham. Oleh karena itu daya tarik
yang relatif kuat antara saham dan obligasi.
58
c.
Perubahan suku bunga juga akan mempengaruhi psikologis para
investor
sehubungan
dengan
investasi
kekayaan
sehingga
mempengaruhi harga saham.
Menurut Iswardono (1999) menyatakan bahwa kenaikan suku bunga
akan berakibat terhadap menurunnya return saham begitu juga sebaliknya.
Akibat
meningkatnya
suku
bunga,
para
investor
lebih
suka
menginvestasikan dana di bank daripada investasi dalam bentuk saham
(Dombusch & Fisher, 1992).
Jika suku bunga naik maka return investasi yang terkait dengan suku
bunga, misalnya deposito akan naik. Ini dapat menarik minat investor
saham untuk memindahkan dana ke deposito, sehingga banyak yang akan
menjual saham dan harga saham akan turun. Oleh karena itu perubahan
suku bunga mempengaruhi variabilitas return suatu investasi.
A. Harga Minyak
Firman (2010:25), mengatakan bahwa para ahli berpendapat kenaikan
harga minyak disebabkan oleh ketatnya cadangan prasarana pengadaan
minyak: kapasitas produksi, pengangkutan dan terutama kapasitas kilang.
Berbagai faktor geopolitik maupun teknik telah berakumulasi dalam
meningkatkan atau juga menurunkan harga, di samping meningkatnya harga
permintaan akan minyak.
Dimas Ngurah Indraloka (2010), harga minyak dunia dinilai memiliki
pengaruh terhadap kelangsungan perekonomian di Indonesia khususnya di
sektor pasar modal, sehingga perubahan yang terjadi pada harga minyak dunia
59
tersebut dapat mempengaruhi kinerja pasar modal di Indonesia yang tercermin
pada pergerakan IHSG di BEI.
Naik dan turunnya harga minyak dunia dipengaruhi kemampuan Negara –
Negara anggota OPEC memenuhi kuota (N. Gregory Mankiw, 2003). Pada
dasarnya OPEC menentukan harga di depan koma dan para pedagang
menentukan yang dibelakangnya. Harga minyak dunia dapat mempengaruhi
harga saham, sebanyak 60% dari harga minyak saat ini adalah murni
spekulasi.
Budi Santoso (2009) Meningkatnya harga minyak mentah dunia juga dapat
mempengaruhi harga saham pada berbagai sektor. Pengaruh yang diberikan
dapat bersifat positif dan dapat juga bersifat negatif. Selain itu dampak yang
diberikan oleh meningkatnya harga minyak mentah dunia terhadap harga
saham juga dapat bersifat langsung dan tidak langsung pada kegiatan operasi
suatu perusahaan. Maka dari itu pergerakan harga minyak dunia akan di
respon secara beragam oleh saham yang tercatat di bursa. Naiknya minyak
mentah dunia pada tahun 2008 telah membuat sebagian besar bursa dunia
meningkat cukup tajam termasuk Indonesia.
Harga minyak OPEC merupakan harga minyak campuran dari negara –
negara yang tergabung dalam OPEC, seperti Algeria, Indonesia, Nigeria,
Saudi Arabia, Dubai, Venezuela, dan Mexico. OPEC menggunakan harga ini
untuk mengawasi kondisi pasar minyak dunia. Harga minyak OPEC lebih
rendah karena minyak dari beberapa negara anggota OPEC memiliki kadar
60
belerang yang cukup tinggi sehingga lebih susah untuk dijadikan sebagai
bahan bakar (www.opec.org).
1. Faktor Penggerak Harga Minyak Dunia
Menurut Mankiw (2003:223), pergerakan naik turunnya harga minyak
dunia dipasar sangat bergantung kepada kemampuan negara – negara
penghasil minyak dunia yang tergabung dalam memenuhi kuota.
Beberapa hal yang mempengaruhi harga minyak dunia antara lain
(www.useconomy.about.com):
a. Penawaran minyak dunia, terutama kuota suplai yang ditentukan oleh
OPEC.
b. Cadangan minyak Amerika Serikat, terutama yang terdapat di kilang –
kilang minyak Amerika Serikat dan yang tersimpan dalam Cadangan
minyak strategis.
c. Permintaan minyak dunia, ketika musim panas, permintaan minyak
diperkirakan dari perkiraan jumlah permintaan oleh maskapai
penerbangan untuk perjalanan wisatawan. Sedangkan ketika musim
dingin, diramalkan dari ramalan cuaca yang digunakan untuk
memperkirakan permintaan potensial minyak untuk penghangat
ruangan.
2. Dampak Kenaikan Harga Minyak
Kenaikan harga minyak secara umum akan mendorong kenaikan harga
saham sektor pertambangan. Hal ini disebabkan karena dengan
peningkatan harga minyak akan memicu kenaikan harga bahan tambang
61
secara umum. Ini mengakibatkan perusahaan pertambangan berpotensi
meningkatkan labanya. Kenaikan harga saham pertambangan akan
mendorong kenaikan IHSG.
(http://www.inilah.com/news/ekonomi/2010/01/02/256392/sahamtambang52masih-berkibar/).
B. Harga Emas
Emas merupakan salah satu bentuk investasi yang cenderung bebas risiko
(Sunariyah,2006). Emas banyak dipilih sebagai salah satu bentuk investasi
karena nilainya cenderung stabil dan naik. Sangat jarang sekali harga emas
turun. Dan lagi, emas adalah alat yang dapat digunakan untuk menangkal
inflasi yang kerap terjadi setiap tahunnya. Ketika akan berinvestasi, investor
akan memilih investasi yang memiliki tingkat imbal balik tinggi dengan risiko
tertentu atau tingkat imbal balik tertentu dengan risiko yang rendah. Investasi
di pasar saham tentunya lebih berisiko daripada berinvestasi di emas, karena
tingkat pengembaliannya yang secara umum relatif lebih tinggi dari emas
(www.investopedia.com).
Kenaikan harga emas akan mendorong investor untuk memilih
berinvestasi di emas daripada di pasar modal. Sebab dengan risiko yang relatif
lebih rendah, emas dapat memberikan hasil imbal balik yang baik dengan
kenaikan harganya (Adrienne Roberts FT Personal Finance, October 27th
2001, p 14). Ketika banyak investor yang mengalihkan portofolionya investasi
ke dalam bentuk emas batangan, hal ini akan mengakibatkan turunnya indeks
62
harga saham di negara yang bersangkutan karena aksi jual yang dilakukan
investor.
Sejak tahun 1968, harga emas yang dijadikan patokan seluruh dunia adalah
harga emas berdasarkan standar pasar emas London. Sistem ini disebut
London Gold Fixing. London Gold Fixing ialah penetapan harga emas
ditentukan dua kali sehari setiap hari kerja di pasar London oleh lima anggota
Pasar London Gold Fixing Ltd (www.goldfixing.com). Kelima anggotanya
yaitu Bank of Nova Scottia, Barclays Capital, Deutsche Bank, HSBC, Societe
Generale.
63
C.
Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
Peneliti
Judul
Metode
Hasil
1 Joko
Pengaruh Nilai
Error
Sebanyak 44 saham LQ45
Sangaji
Tukar
Correction
kecuali KAEF mempunyai
2003
Rupiah/Dollar
Model
koefisien regresi jangka
Terhadap Return (ECM)
panjang dengan arah positif.
Saham LQ45:
Hasil ini penting bagi
Aplikasi Model
investor
untuk
Koreksi
mempertimbangkan
nilai
Kesalahan
tukar rupiah terhadap dolar
Amerika sebagai salah satu
indikator dalam berinvestasi
ke dalam saham – saham
LQ45.
2 Murti
Pengaruh
Model Linier Variabel makro berpengaruh
Lestari
Variabel Makro
Klasik,
cukup signifikan terhadap
2005
Terhadap Return Model
fluktuasi harga saham, tetapi
Saham di Bursa
Autoregressi untuk
mempengaruhinya
Efek Jakarta:
ve,
Model dibutuhkan time lag antara 1
Pendekatan
kausalitas
sampai 3 bulan.
Beberapa Model Granger
3 Neni Astuti Analisa
Ordinary
Variabel
independen
2005
Pengaruh Suku
Least Square (perubahan suku bunga,
Bunga, Inflasi,
(OLS)
perubahan inflasi, perubahan
Kurs dan
kurs dan perubahan volume
Volume
perdagangan
saham)
Perdagangan
berdampak negatif terhadap
Saham Terhadap
variabel
dependen
Perubahan Stock
(perubahan stock return).
Return di BEJ
4 Zulfi
Analisis
Analisis
Inflasi tidak berpengaruh
Skendra
Pengaruh Inflasi, Regresi
secara nyata terhadap return
2005
Nilai Tukar dan
pasar, sebaliknya indeks
Bunga Deposito
nilai tukar serta bunga
Terhadap
deposito
pemerintah
Portofolio
berpengaruh secara nyata.
Optimum Saham
– Saham Blue
Chips di BEJ
64
No
Peneliti
5 Suyanto
2007
6
7
Judul
Analisis
Pengaruh Nilai
Tukar, Suku
Bunga dan
Inflasi Terhadap
Return Saham
Sektor Properti
yang Tercatat di
BEJ Tahun 2001
– 2005
Acmad Ath Analisis
Thobarry
Pengaruh Nilai
2009
Tukar, Suku
Bunga, Inflasi
dan GDP
Terhadap Indeks
Harga Saham
Sektor Properti
(Kajian Empiris
Pada BEI Tahun
2000 – 2008)
Metode
Regresi
Linier
Berganda
Hasil
Nilai
tukar
uang
berpengaruh
negatif
terhadap return saham Suku
bunga berpengaruh negatif
terhadap
return
saham
Inflasi berpengaruh positif
terhadap return saham.
Regresi
Berganda
Ali Fikri
Hasibuan
2009
Regresi
Linier
Berganda
Nilai tukar, suku bunga,
inflasi dan pertumbuhan
GDP secara bersama – sama
berpengaruh terhadap indeks
harga saham sektor properti,
sedangkan secara parsial
nilai tukar berpengaruh
positif signifikan terhadap
indeks harga saham sektor
properti sedangkan inflasi
berpengaruh
negatif
signifikan terhadap saham
sektor properti.
secara simultan terdapat
pengaruh yang signifikan
antara nilai tukar mata uang
dan indeks harga saham
global
(nasdaq,
taiex,
Nikkei, kospi) terhadap
pergerakan IHSG. Secara
parsial
tidak
terdapat
pengaruh yang signifikan
indeks taiex terhadap IHSG,
tetapi terdapat pengaruh
yang signifikan antara nilai
tukar mata uang dan indeks
harga saham global (nasdaq,
Nikkei, kospi) terhadap
IHSG.
Pengaruh Nilai
Tukar Mata
Uang dan Indeks
Harga Saham
Global Terhadap
Pergerakan
IHSG
65
No
Peneliti
8 Indoyama
Nasarudin
dan Sepuan
Adityawati
(2009)
9
Ratna
Prihantini
2009
Judul
Perbandingan
Analisis
Karakteristik
Perusahaan,
Industri,
dan
Ekonomi Makro
Terhadap Return
dan Beta Saham
(Studi
Kasus
IHSG dan JII
Tahun
20032008)
Metode
Structural
Equation
Modelling
(SEM)
Analisis
Pengaruh Inflasi,
Nilai Tukar,
ROA, DER, dan
CR Terhadap
Return Saham
Regresi
Linier
Berganda
Hasil
Hasil untuk JII:
a)EPS, BV, ROA pengaruh
signifikan thdp return &
beta
saham
sedangkan
DER&ROE tidak pengaruh
signifikan thdp return &
beta saham
b)Jenis industri & ukuran
industri pengaruh signifikan
thdp Return dan Beta saham.
c)PDB, kurs, dan inflasi
pengaruh signifikan thdp
return & beta shm
Hasil untuk IHSG:
a)EPS, BV, ROE, ROA
pengaruh signifikan thdp
return & beta saham
sedangkan
DER
tidak
pengaruh signifikan thdp
Return dan Beta saham.
b)Jenis dan ukuran industri
pengaruh signifikan thdp
Return dan Beta saham.
c)PDB, Kurs, dan Inflasi
tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap Return
dan Beta saham.
Inflasi,kurs,&DER pengaruh
negatif signifikn thdp return
saham sedangkan ROA dan
CR berpengaruh positif dan
signifikan terhadap return
saham pada industry real
estate dan properti.
66
D. Kerangka Pemikiran
Para investor selaku pemilik modal dalam menentukan keputusan investasi
terutama dalam bentuk saham tentunya mengharapkan pengembalian atau
return investasi. Return investasi tersebut dapat digolongkan dalam dua jenis
yakni dividen dan capital gain.
Pasar modal yang biasa dikenal dengan Bursa Efek Indonesia (BEI)
merupakan sarana atau media yang menyediakan dan membantu investor
dalam rangka melakukan investasi terutama dalam bentuk saham. Dari pasar
modal ini terjadi perdagangan saham yang nantinya dapat memberikan
keuntungan bagi investor.
Dengan menggunakan metode analisis regresi berganda, penelitian ini
akan menguji pengaruh variabel makroekonomi yakni inflasi, nilai tukar
rupiah, tingkat suku bunga, harga minyak dan harga emas terhadap return
saham.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat digambarkan kerangka pemikiran
dalam penelitian ini sebagai berikut:
67
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Bursa Efek Indonesia
Perusahaan Manufaktur
Variabel Independen:
1. Inflasi
2. Nilai Tukar
3. Suku Bunga
4. Harga Minyak
5. Harga Emas
Variabel Dependen:
Return Saham
Model Regresi
R = b0 + b1I + b2K + b3B + b4O + b4G + e
Asumsi Klasik
Normalitas
Heteroskedastisitas
Multikolinieritas
Autokorelasi
Analisis Model Regresi
Uji T (Parsial)
Uji F (Simultan)
Koefisien Determinasi
Interpretasi
68
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut maka dapat diperoleh model
konseptual dari penelitian ini sebagai berikut:
Gambar 2.2
Model Konseptual Return Saham Yang Dipengaruhi Variabel
Makroekonomi
Inflasi (X1)
Nilai Tukar (X2)
Suku Bunga (X3)
Return Saham (Y)
Harga Minyak (X4)
Harga Emas (X5)
69
E. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori tersebut, maka hipotesis
yang dapat dibangun dalam penelitian ini adalah:
H0
: Inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, harga minyak dan
harga emas tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham.
Ha
: Inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, harga minyak dan
harga emas mempunyai pengaruh terhadap return saham.
H01
: Inflasi tidak berpengaruh terhadap return saham
Ha1
: Inflasi berpengaruh terhadap return saham
H02
: Nilai Tukar tidak berpengaruh terhadap return saham
Ha2
: Nilai tukar berpengaruh terhadap return saham
H03
: Tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap return saham
Ha3
: Tingkat suku bunga berpengaruh terhadap return saham
H04
: Harga minyak tidak berpengaruh terhadap return saham
Ha4
: Harga minyak berpengaruh terhadap return saham
H05
: Harga emas tidak berpengaruh terhadap return saham
Ha5
: Harga emas berpengaruh terhadap return saham
70
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel – variabel
makroekonomi domestik dan makroekonomi asing terhadap return saham.
Variabel makroekonomi domestik tersebut yakni inflasi, nilai tukar
rupiah/US$ dan tingkat suku bunga SBI. Sedangkan makroekonomi asing
yaitu harga minyak dan harga emas. Variabel – variabel tersebut akan diuji
dengan menggunakan metode analisis regresi berganda.
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2007 – 2010. Adapun data –
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data return saham dari
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun
2007 sampai dengan tahun 2010.
B. Metode Penentuan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau
subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Nazir
(2004) mengatakan bahwa, “Populasi adalah berkenaan dengan data,
bukan orang atau bendanya”. Nawawi (2003) menyebutkan bahwa,
“Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil
71
menghitung ataupun pengukuran kuantitatif maupun kualitatif pada
karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil
pengukuran yang menjadi objek penelitian atau populasi merupakan objek
atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat – syarat
tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2007 sampai tahun 2010.
2. Sampel
Arikunto (2003) mengatakan “Sampel adalah bagian dari populasi
(sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah
sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat
mewakili seluruh populasi”. Sugiyono (2004) memberikan pengertian
“Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi”.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri – ciri atau
keadaan tertentu yang akan diteliti.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan
metode purposive sampling. (Abdul Hamid, 2010:17) purposive sampling,
sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang
paling baik untuk menentukan bahan penelitian. Purposive sampling
72
adalah pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbangan atau
kriteria sesuai dengan tujuan penelitian. Kriteria penentuan sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang memiliki data harga saham aktif
selama periode penelitian yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2010.
C. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data – data sekunder.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain (sudah tersedia) dan
digunakan untuk penelitian lain. Data tersebut diperoleh dari berbagai sumber
yaitu yahoo finance, Bank Indonesia, situs resmi OPEC, Biro Pusat Statistik
dan jurnal – jurnal serta literatur lainnya. Data yang digunakan meliputi:
1. Data return saham dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI). Seluruh data return saham tersebut diperoleh dari
Historical Price perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia melalui situs
Yahoo Finance.
2. Data inflasi, nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS dan suku bunga Bank
Indonesia selama periode tahun 2007 – 2010 yang diperoleh dari Bank
Indonesia melalui situs resmi www.bi.go.id
3. Data harga minyak bulanan selama periode Januari 2007 – Desember 2010
diperoleh dari situs resmi OPEC yaitu www.opec.org
4. Data harga emas yang digunakan adalah harga emas penutupan pada sore
hari (harga emas Gold P.M). Data yang digunakan adalah data rata – rata
harga emas bulanan yang diperoleh dari www.goldfixing.org
73
Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan studi kepustakaan,
yaitu dengan mempelajari berbagai teori – teori yang berkaitan dengan
variabel yang diteliti dan hal lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
Yang dapat menjadi sumber dari studi kepustakaan ini yaitu jurnal – jurnal,
buku – buku literatur, internet ataupun media lainnya yang dapat menunjang
penelitian ini.
D. Metode Analisis
1. Menghitung return saham
Untuk dapat menentukan variabel return saham diperlukan data harga
saham pembukaan dan harga saham pada penutupan pada hari saham
tersebut dipedagangkan di pasar sekunder. Penentuan variabel return
dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
r
= Stock Return
Opening Price
= harga saham pembukaan
Closing Price
= harga saham penutupan
2. Uji Asumsi Klasik
Untuk mengetahui pengaruh perubahan variabel independen terhadap
dependen baik secara parsial maupun secara simultan, maka digunakan
regresi linear berganda (Multiple Regression) dan alpha yang digunakan
adalah 5%. Sebelum dilakukan pengujian dengan regresi berganda,
74
variabel – variabel penelitian diuji dengan asumsi klasik atau bisa dikenal
dengan uji BLUE (Best Linear Unbiased Estimate) yaitu data terdistribusi
normal (uji normalitas), tidak terjadinya heteroskedastisitas, tidak
terjadinya autokorelasi dan tidak terjadinya multikolinearitas (Suyatmin
dan Sujadi, 2006: 22). Uji asumsi klasik terdiri dari pengujian – pengujian
sebagai berikut:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.
Seperti diketahui bahwa uji t dan uji F mengasumsikan nilai residual
mengikuti distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar, maka uji
statistik menjadi tidak valid.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menguji normalitas
model regresi adalah dengan melihat penyebaran data (titik) pada
sumbu diagonal dari grafik Normal P-Plot-nya. Jika data menyebar di
sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya, maka
model regresi memenuhi asumsi normalitas (Imam Ghozali, 2005:
147-149).
b. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu
pengamatan
ke
pengamatan
yang
lain
tetap,
maka
disebut
75
homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model
regresi yang baik adalah homoskedastisitas.
Salah
satu
cara
yang
dapat
digunakan
untuk
menguji
heteroskedastisitas adalah dengan melihat penyebaran data (titik) pada
grafik Scatterplot. Jika titik – titik tidak membentuk pola tertentu dan
menyebar di daerah positif dan negatif, maka tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi (Imam Ghozali, 2005:125–126).
c. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara
variabel independen.
Salah satu cara untuk mendeteksi multikolinieritas adalah dengan
melihat nilai Tolerance dan VIF pada table Coefficients. Jika nilai
Tolerance >0.1 dan nilai VIF <10, maka dapat dikatakan model regresi
tidak ada masalah multikolinieritas (Imam Ghozali, 2005:95-96).
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-i (sebelumnya).
Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang
waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual
76
(kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi
lainnya.
Salah satu cara untuk mendeteksi autokorelasi adalah dengan
melihat nilai DW (Durbin-Watson) pada tabel Model Summary.
Berikut ini adalah pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi
menurut Singgih Santoso, yaitu jika:
-2 < DW < 2
Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak terjadi
atau terdapat autokorelasi (Imam Ghozali, 2005:99-100).
3. Pengujian Hipotesis
a. Uji Parsial / Uji t
Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel
independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel
dependen. Uji t dapat dilakukan dengan rumus:
T = B / Std. Error
Cara melakukan uji t adalah sebagai berikut:
1) Quick look: bila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau
lebih, dan derajat kepekaan sebesar 5%, maka H1 dapat diterima
bila nilai t lebih besar dari 2 (dalam nilai absolut). Dengan kata
lain, suatu variabel independen secara individual mempengaruhi
variabel dependen.
77
2) Membandingkan nilai t dengan titik kritis menurut tabel. Apabila
nilai t hasil perhitungan lebih tinggi dibandingkan t tabel, maka H0
ditolak dan H1 diterima (Imam Ghozali, 2005:88–89).
b. Uji Simultan
Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel
independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai
pengaruh secara bersama – sama terhadap variabel dependen atau
terikat.
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini apakah H0 diterima
yang berarti secara bersama – sama variabel bebas tidak berpengaruh
terhadap variabel terikat atau H1 diterima yang berarti secara bersama
– sama variabel berpengaruh terhadap variabel terikat, maka dapat
digunakan uji F dengan rumus berikut:
F = Mean Square Regression / Mean Square Residual
Dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:
1) Quick look: bila nilai F lebih besar daripada 4 maka H1 dapat
diterima pada derajat kepekaan 5%. Dengan kata lain, semua
variabel bebas secara serentak berpengaruh terhadap variabel
terikat.
2) Membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F menurut
tabel. Apabila nilai F hitung lebih besar daripada F tabel, maka H0
ditolak dan H1 diterima (Imam Ghozali, 2005: 88).
78
4. Analisis Model Regresi
Regresi adalah alat analisis statistik yang berguna untuk mempelajari
arah dan besarnya pengaruh dari satu atau lebih variabel (selanjutnya
disebut sebagai variabel independen – Independent variable) terhadap satu
atau lebih variabel lain (selanjutnya disebut sebagai variabel dependen –
dependent variable). Regresi yang mengandung satu variabel indepeden
sering disebut sebagai regresi sederhana (simple regression), sedangkan
bila variabel independennya lebih dari satu sering disebut sebagai regresi
berganda (multiple regression) (Utomo, 2007: 147).
Metode yang digunakan dalam penelititan ini adalah analisis regresi
linear berganda (multiple regression). Analisis ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabe dependen.
Model persamaan regresi adalah sebagai berikut:
R = b0 + b1 X1 + b2X2 + b3 X3 + b4 X4 + b5X5 + e
R
= Variabel dependen Return Saham
b0
= konstanta
b1 – b5
= koefisien regresi dari setiap variabel bebas
X1
= Inflasi
X2
= Nilai Tukar
X3
= Suku Bunga
X4
= Harga Minyak
X5
= Harga Emas
e
= error term
79
Apabila model regresi sudah memenuhi asumsi klasik, setelah itu
dilakukan uji statistik dengan menggunakan analisis regresi linier
berganda untuk menjawab rumusan masalah yang ada.
5. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai
koefisien determinasi adalah nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti
kemampuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variasi
variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti
variabel – variabel independen memberikan hampir semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias
terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model.
Setiap tambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat
meskipun variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen. Oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk
menggunakan nilai Adjusted R Square pada saat mengevaluasi mana
model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai Adjusted R Square dapat naik
atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model
(Imam Ghozali, 2005: 87).
80
E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya
1. Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen
atau variabel bebas. Yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini,
yaitu Return Saham (Y).
Pada saat investor melakukan investasi dalam bentuk saham tentunya
investor tersebut mengharapkan keuntungan dari investasinya atau return
dari saham tersebut. Return atau keuntungan tersebut dibagi menjadi dua
yakni dalam bentuk dividen dan capital gain.
Dividen merupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada
pemegang saham pada saat rapat umum pemegang saham, sedangkan
capital gain merupakan selisih antara harga jual dan harga beli saham.
Perhitungan return saham dalam penelitian ini dirumuskan sebagai
berikut:
2. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi
sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (dependen). Adapun
variabel – variabel independen yang terdapat dalam penelitian ini yaitu:
81
a. Inflasi (X1)
Menurut Dornbusch dan Fischer (1987:6) inflasi adalah suatu
gejala dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus –
menerus. Inflasi adalah suatu keadaan yang mengindikasikan semakin
melemahnya daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai
riil mata uang suatu negara. (Khalwaty, 2000:5). Data inflasi dalam
penelitian ini menggunakan data tingkat inflasi per bulan selama
periode Januari 2007 – Desember 2010 yang diperoleh dari situs resmi
www.bi.go.id
b. Nilai Tukar (X2)
Nilai Tukar merupakan banyaknya unit mata uang yang dapat
ditukar atau dibeli dengan satu satuan mata uang lain atau harga suatu
mata uang yang dinyatakan dalam mata uang lain (Sartono: 2002
dalam Darminto:2010).
Nilai tukar mata uang didefinisikan sebagai harga relatif dari suatu
mata uang terhadap mata uang lainnya atau harga dari satu mata uang
dalam mata uang yang lain (Mishkin, 2008: 107). Data nilai tukar
dalam penelitian ini menggunakan kurs tengah bulanan selama periode
Januari 2007 – Desember 2010 yang diperoleh dari situs www.bi.go.id
c. Tingkat Suku Bunga (X3)
Suku bunga adalah harga atas dana yang dipinjam (Reilly dan
Brown, 1997). Tingkat suku bunga adalah harga dari penggunaan uang
82
yang dipergunakan pada saat ini dan akan dikembalikan pada saat
mendatang (Herinan, 2003).
Suku bunga yang dimaksud dalam penelitian ini yakni Sertifikat
Bank Indonesia (SBI). Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berdasarkan
surat edaran Bank Indonesia No.6/4/DPM tanggal 16 Februari 2004
adalah surat berharga dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh
Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek.
(Selamet Riyadi, 2006: 45).
Data suku bunga SBI dalam penelitian ini menggunakan data
perkembangan suku bunga SBI bulanan selama periode Januari 2007 –
Desember 2010 yang diperoleh dari situs www.bi.go.id
d. Harga Minyak (X4)
Harga
minyak
dunia
merupakan
salah
satu
indikator
makroekonomi yang secara universal perubahan – perubahan yang
terjadi dan fluktuasinya memiliki pengaruh terhadap perkembangan
ekonomi dunia khususnya pasar modal. Data harga minyak yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data perkembangan harga
minyak dunia selama periode Januari 2007 – Desember 2010 yang
diperoleh dari situs www.opec.org.
e. Harga Emas (X5)
Kenaikan harga emas akan mendorong investor untuk memilih
berinvestasi di emas daripada di pasar modal. Sebab dengan resiko
yang relatif lebih rendah, emas dapat memberikan hasil imbal balik
83
yang baik dengan kenaikan harganya. Data harga emas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perkembangan harga emas
bulanan selama periode Januari 2007 – Desember 2010 yang diperoleh
dari situs www.goldfixing.com
84
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia
Pada tahun 1912, tepatnya pada tanggal 14 Desember 1912 pemerintahan
Hindia Belanda mendirikan Bursa Efek di Batavia yang diselenggarakan
oleh Vereniging voor de Effectenhandel. Kemudian pada tanggal 11 Januari
1925, didirikan Bursa Efek di Surabaya, lalu disusul dengan pembukaan
Bursa Efek di Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925. Akan tetapi, Bursa
Efek ditutup pada awal tahun 1940 karena pada saat itu terjadi perang dunia
ke – 2, sehingga secara otomatis pasar modal yang sudah ada menjadi
vakum serta tidak ada perkembangannya.
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, sejarah pasar
modal Indonesia memasuki alam kemerdekaan yang tentunya akan
memberikan angin segar bagi perkembangan pasar modal dengan dimensi
dan situasi berbeda. Pemerintahan orde lama membentuk suatu badan yang
disebut PPUE (Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek – efek). Salah satu
tugas dari badan ini adalah melakukan berbagai kajian tentang kemungkinan
didirikannya Bursa Efek pasca kemerdekaan. Berbagai kajian yang
dilakukan tentunya menyangkut faktor ekonomi makro maupun ekonomi
mikro, karena pasar modal sangat erat kaitannya dengan faktor – faktor
ekonomi suatu Negara (Tuti Amalia, 2008: 46).
85
Pada tahun 1952, PPUE membuka Bursa Efek di Jakarta, yang sangat
diharapkan dapat menjadi penunjang perekonomian di Indonesia. Pada
tahun 2002 Bursa Efek juga mulai menerapkan sistem perdagangan jarak
jauh yang disebut Remote Trading System (RTS), sebagai upaya
meningkatkan akses pasar, kecepatan, dan frekuensi perdagangan. Dan
akhirnya, pada tahun 2007 dilakukan penggabungan Bursa Efek Jakarta
(BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) yang kemudian berubah nama
menjadi Bursa Efek Indonesia (Mutia Desanti, 2008: 56).
2. Lembaga – Lembaga Penunjang Bursa Efek Indonesia
Dalam kegiatannya, Bursa Efek Indonesia melibatkan banyak lembaga
yang mempunyai fungsi atau peran berbeda – beda yang saling menunjang
antara satu dengan yang lainnya. Pihak – pihak yang terkait dalam kegiatan
Bursa Efek Indonesia dalam Mutia Desanti (2008: 60 – 63) adalah:
a.
Perusahaan go public (Emiten)
Emiten adalah perusahaan yang melakukan emisi atau yang telah
melakukan penawaran dalam surat berharga.
b.
Perusahaan Efek
Perusahaan efek adalah perusahaan yang telah memperoleh izin
usaha untuk beberapa kegiatan seperti penjamin emisi efek, perantara
perdagangan efek, manajer investasi, atau penasehat investasi.
c.
Lembaga kliring dan penyelesaian penyimpanan adalah suatu lembaga
yang menyelenggarakan kliring dan penyelesaian transaksi yang terjadi
di Bursa Efek, penyimpanan efek serta penitipan harta untuk pihak lain.
86
d.
Perusahaan Reksadana
Perusahaan reksadana adalah pihak yang kegiatan utamanya
melakukan investasi, dan investasi kembali (reinvestasi).
e.
Lembaga penunjang pasar modal
Lembaga penunjang meliputi tempat penitipan harta, wali amanat
atau penanggung yang menyediakan jasa. Tempat penitipan harta
adalah pihak yang menyelenggarakan penyimpanan harta dalam
penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak tanpa
mempunyai hak kepemilikan atas harta tersebut.
f. Profesi Penunjang
Profesi penunjang terdiri dari akuntan publik, notaris, perusahaan
penilai (appraisal) dan konsultan hukum. Akuntan publik adalah pihak
yang memiliki keahlian dalam bidang akuntansi dan pemeriksaan
(auditing). Fungsi akuntan adalah memberi pendapat atas kewajaran
laporan keuangan emiten dan calon emiten. Notaris adalah pejabat yang
berwenang membuat akte otentik sebagaimana dimaksudkan dalam
Staad Glad 1860 No. 3 tentang pengaturan jabatan notaris. Peranan
notaris adalah membuat perjanjian, menyusun anggaran dasar dan
perubahannya, perubahan milik modal dan lain – lain.
Penilaian
appraisal
adalah
pihak
yang
menerbitkan
dan
menandatangani laporan penilai. Laporan penilai mencakup pendapatan
atas aktiva yang disusun berdasarkan pemeriksaan menurut keahlian
penilai. Konsultan hukum adalah ahli hukum yang memberikan dan
87
menandatangani pendapat hukum mengenai emisi atau emiten. Fungsi
utama konsultan hukum adalah melindungi pemodal atau calon
pemodal dari segi hukum. Tugasnya antara lain meneliti akte pendirian,
izin usaha, dan lain – lain.
g. Pemodal (Investor)
Pemodal
adalah
pihak
perorangan
maupun
lembaga
yang
menanamkan modalnya dalam efek – efek yang diperdagangkan.
f. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
BAPEPAM merupakan lembaga pemerintah yang mempunyai tugas
sebagai berikut:
1) Memonitor dan mengatur pasar modal sebagai tempat sekuritas –
sekuritas yang dapat diterbitkan dan diperdagangkan secara teratur,
wajar, efisien dengan maksud untuk melindungi kepentingan para
pemodal dan masyarakat.
2) Mengawasi dan memonitor pertukaran sekuritas, kliring, dan
lembaga – lembaga penyimpanan reksadana, perusahaan sekuritas
dan para pialang, serta berbagai lembaga pendukung pasar modal
dan para professional.
3) Untuk memberikan rekomendasi tentang pasar modal kepada
menteri keuangan.
Dengan
fungsi
tersebut
diharapkan
BAPEPAM
lebih
bisa
melaksanakan fungsi pengawasan terhadap kegiatan pendanaan efek
dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan yang diselenggarakan
88
oleh Bursa Efek, selain itu peraturan mulai dilakukan oleh Badan
Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) secara konsisten.
3. Instrumen Pasar Modal
Instrumen pasar modal pada prinsipnya adalah semua surat berharga
(efek) yang umumnya diperjualbelikan melalui pasar modal. Efek adalah
surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham, obligasi, sekuritas
kredit, tanda bukti hutang, rights, warrants, opsi atau setiap derivatif dari
efek atau setiap instrument yang ditetapkan oleh Bapepam sebagai efek.
Sifat efek yang diperdagangkan di pasar modal biasanya berjangka waktu
panjang. Instrument yang paling umum diperjualbelikan di Bursa Efek
Indonesia saat ini adalah saham, obligasi, dan rights.
a. Saham
Saham adalah surat bukti atau tanda kepemilikan modal pada suatu
perseroan terbatas. Dalam transaksi jual beli di Bursa Efek, saham atau
disebut
share
merupakan
instrument
yang
paling
dominan
diperdagangkan. Saham tersebut dapat diterbitkan dengan cara atas nama
atau atas unjuk. Saham dapat dibedakan antara saham biasa (common
stock) dan saham preferen (preferred stock). Perbedaan kedua saham itu
antara lain:
1) Saham Biasa
a) Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh data.
b) Memiliki hak suara (one share one vote)
89
c) Hak
memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila
bangkrut dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
2) Saham Preferen
a) Memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen
b) Tidak memiliki hak suara
c) Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam
pencalonan pengurus
d) Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham
lebih dahulu setelah kreditor apabila perusahaan dilikuidasi.
e) Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dan pembagian laba
perusahaan disamping penghasilan yang diterima secara tetap.
b. Right
Yaitu hak yang diberikan kepada pemegang saham lama untuk
membeli tambahan saham baru yang diterbitkan oleh suatu perusahaan,
penerbitan right di pasar modal Indonesia juga disebut penawaran efek
terbatas dengan hak membeli lebih dahulu. Biasanya perusahaan
menetapkan bahwa setiap pemegang saham lama diberi hak untuk
membeli sejumlah saham baru dengan suatu perbandingan yang
ditentukan.
c. Obligasi
Obligasi atau bonds adalah bukti hutang dari emiten yang dijamin
oleh penanggung yang memegang janji pembayaran bunga atau janji
lainnya secara pelunasan pokok pinjaman yang dilakukan pada tanggal
90
jatuh tempo. Obligasi pada prinsipnya merupakan instrument pasar
modal yang berjangka waktu panjang yaitu 3 s/d 30 tahun. Namun
demikian dilihat dari jangka waktu pendek yaitu antara 3 – 5 tahun,
berjangka waktu menengah 5 – 15 tahun dan berjangka waktu panjang
15 – 30 tahun (Tuti Amalia, 2008: 47 – 49).
B. Analisis dan Pembahasan
1. Analisis Deskriptif
Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
software SPSS 17.0 yang dapat menjelaskan variabel – variabel yang
diteliti yakni variabel independen (variabel bebas) inflasi, nilai tukar, suku
bunga, harga minyak dan harga emas serta variabel dependen (variabel
terikat) return saham.
a. Return Saham
Return saham didefinisikan sebagai aktifnya harga saham dari
periode sebelumnya. Saham – saham yang memiliki return tertinggi
mengindikasikan bahwa saham tersebut aktif diperdagangkan dan
dealer tidak akan lama menyimpan saham tersebut sebelum
diperdagangkan. Berikut data keseluruhan return saham perusahaan
manufaktur dari tahun 2007 – 2010:
91
Tabel 4.1
Return Saham Perusahaan Manufaktur
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
10.68
10.15
6.75
6.86
Februari
8.59
6.60
9.80
7.30
Maret
6.70
12.70
19.59
9.26
April
13.84
9.98
17.37
15.29
Mei
9.12
14.61
18.98
10.66
Juni
16.77
16.36
13.76
12.01
Juli
8.79
8.74
11.84
13.34
Agustus
10.19
9.48
10.75
8.14
September
11.27
13.53
10.91
19.77
Oktober
11.88
26.19
8.64
12.32
November
9.15
8.07
8.82
12.44
Desember
9.32
9.31
11.86
5.61
Sumber: yahoofinance
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa return saham
perusahaan manufaktur mempunyai angka tertinggi pada bulan
Oktober tahun 2008 yaitu sebesar 26,19 dan angka terendah pada bulan
Desember tahun 2010 yaitu sebesar 5,61.
92
b. Inflasi
Tabel 4.2
Tingkat Inflasi Indonesia
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
0.00087 0.00048 0.00010 0.00070
Februari
0.00052 0.00054 0.00020 0.00025
Maret
0.00020 0.00079 0.00020 0.00012
April
0.00013 0.00048 0.00030 0.00013
Mei
0.00080 0.00048 0.00030 0.00024
Juni
0.00019 0.00020 0.00010 0.00081
Juli
0.00060 0.00014 0.00040 0.00020
Agustus
0.00063 0.00043 0.00050 0.00021
September 0.00067 0.00081 0.00090 0.00019
Oktober
0.00066 0.00038 0.00020 0.00018
November 0.00015 0.00010 0.00030 0.00021
Desember 0.00092 0.00030 0.00030 0.00023
Sumber: www.bi.go.id
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa tingkat inflasi di
Indonesia mempunyai angka rata – rata tertinggi pada tahun 2007 yaitu
sebesar 0,00053 dan tingkat inflasi terendah pada tahun 2010 yaitu
sebesar 0,00029.
Peningkatan inflasi tersebut dominan disebabkan oleh adanya
kenaikan harga minyak dunia dan menyebabkan naiknya harga BBM
sebesar 126% dari harga normal. Naiknya tingkat inflasi pada tahun
2007 banyak disebabkan oleh Administered Price, seperti harga BBM
diatas.
93
Di samping dampak langsung (first round) pada inflasi sebesar
3,47%, pemerintah menyesuaikan tarif angkutan umum sesuai dengan
kenaikan BBM, sehingga kenaikan harga BBM tersebut juga
memberikan dampak lanjutan (second round) melalui kenaikan tarif
angkutan sebesar 2,07%, sehingga secara keseluruhan memberikan
sumbangan pada kenaikan inflasi sebesar 5,54%, tetapi dalam
kenyataannya banyak pengusaha angkutan umum yang menaikkan
harga diatas ketetapan pemerintah, sehingga menjadikan harga – harga
semakin melambung. Administered price lainnya yang juga ikut
mengalami kenaikan adalah elpiji, tarif PAM, cukai rokok, dan tarif
tol. Sehingga pada tahun 2007 Administered Price menyumbang
inflasi sebesar 8,1% naik 8% dari tahun sebelumnya, ini merupakan
angka sumbangan tertinggi dibanding sumbangan komponen penentu
lainnya.
Faktor lainnya yang berpengaruh adalah Inflasi Inti sebesar 6,1%
dan naik sebesar 2% dari tahun sebelumnya. Inflasi Inti adalah inflasi
yang diukur dari segala hal yang dapat diatur oleh kebijakan moneter.
Di tahun ini contohnya adalah jatuhnya harga jual rupiah sebesar 8,6%
yang memberikan tekanan terhadap perkembangan harga barang dan
jasa. (http://ariwibowoivan.wordpress.com/2008/12/08/inflasi-2005)
94
c. Nilai Tukar
Tabel 4.3
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS
Tahun
Bulan
2007
2008
2009
2010
Januari
9090
9291
11355
9365
Februari
9160
9051
11980
9335
Maret
9118
9217
11575
9115
April
9083
9234
10713
9012
Mei
8828
9318
10340
9180
Juni
9054
9225
10225
9083
Juli
9186
9118
9920
8952
Agustus
9410
9153
10060
9041
September
9137
9378
9681
8924
Oktober
9103
10995
9545
8928
November
9376
12151
9480
9013
Desember
9419
10950
9400
8991
Sumber: www.bi.go.id
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nilai tukar Rupiah
terhadap Dollar AS di Indonesia mempunyai angka tertinggi pada
November tahun 2008 yaitu sebesar 12151 dan angka terendah pada
bulan Mei tahun 2007 yaitu sebesar 8828.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semula relatif menguat,
namun dengan kenaikan harga minyak internasional dan kasus
subprime mortgage rupiah dalam beberapa bulan terakhir mengalami
pelemahan. Sampai hari terakhir tahun 2007 kurs rupiah mencapai Rp
9419 per dolar AS, sehingga secara rata – rata nilai tukar rupiah
mencapai Rp 9139 per dolar AS. Kenyataan bahwa cadangan devisa
95
mencapai lebih dari 57 miliar dolar AS (meningkat dari tahun
sebelumnya sebesar 41,6 miliar dolar AS) ternyata tidak membantu
banyak terhadap penguatan rupiah. Nilai cadangan devisa yang cukup
besar sementara nilai tukar relatif melemah dalam beberapa bulan
terakhir di tahun 2007, dapat dikatakan sebagai anomali yang terjadi
dalam nilai tukar rupiah kita.
d. Tingkat Suku Bunga
Tabel 4.4
Tingkat Suku Bunga
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
0.0079
0.0067
0.0079
0.0054
Februari
0.0077
0.0066
0.0073
0.0053
Maret
0.0075
0.0066
0.0068
0.0052
April
0.0075
0.0067
0.0063
0.0052
Mei
0.0073
0.0069
0.0060
0.0053
Juni
0.0071
0.0073
0.0058
0.0052
Juli
0.0069
0.0077
0.0056
0.0054
Agustus
0.0069
0.0077
0.0055
0.0054
September 0.0069
0.0081
0.0054
0.0054
Oktober
0.0069
0.0092
0.0054
0.0054
November
0.0069
0.0094
0.0054
0.0054
Desember 0.0067 0.0095
Sumber: www.bi.go.id
0.0054
0.0054
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa tingkat suku bunga di
Indonesia mempunyai angka tertinggi pada bulan Desember tahun
2008 yaitu sebesar 0,0095 dan tingkat suku bunga terendah terjadi
pada awal tahun 2010 yaitu sebesar 0,00052.
96
Peningkatan tingkat suku bunga merupakan salah satu upaya
pemerintah untuk menekan jumlah uang beredar dan menarik uang
tersebut untuk menstabilkan kondisi ekonomi dan menurunkan tingkat
inflasi, sedangkan penurunan tingkat suku bunga dilakukan pemerintah
untuk memicu pertumbuhan ekonomi dan menstabilkan tingkat inflasi.
Perkembangan tingkat suku bunga dari tahun 2007 sampai 2009
cenderung mengalami penurunan. Penurunan suku bunga ini bukan
hanya akan mampu menggerakan investasi, namun juga meningkatkan
kegiatan konsumsi yang mengalami kelesuan pasca kenaikan harga
BBM. Kegairahan transaksi ekonomi dan kepercayaan yang cukup
tinggi dari pelaku pasar juga tercermin dari transaksi di pasar modal.
e. Harga Minyak
Tabel 4.5
Harga Minyak (dalam Dollar)
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
50.73
88.50
41.52
76.01
Februari
54.45
90.64
41.41
72.99
Maret
58.47
99.03
45.78
77.21
April
63.39
105.16
50.20
82.33
Mei
64.36
119.39
56.98
74.48
Juni
66.77
128.33
68.36
72.95
Juli
71.75
131.22
64.59
67.91
Agustus
68.71
112.41
71.35
68.34
September
74.18
96.85
67.17
67.18
Oktober
79.36
69.16
72.67
73.63
November
88.99
49.76
76.29
76.00
Desember
87.19
38.60
74.01
81.01
Sumber: www.opec.org
97
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa harga minyak
tertinggi terjadi pada bulan Juli tahun 2008 yaitu sebesar 131,22 dan
harga minyak terendah terjadi pada bulan Desember tahun 2008 yaitu
sebesar 38,60.
Kenaikan harga minyak dunia tentu saja sangat mempengaruhi
kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia. Kenaikan
harga BBM selalu mempunyai akibat langsung terutama kepada semua
sektor ekonomi yang menggunakan Bahan Bakar Minyak sebagai
sumber energi. Oleh karena setiap barang membutuhkan jasa angkutan
untuk sampai kepada konsumen, maka mau tidak mau barang – barang
pun pada gilirannya akan turut naik harganya, menyesuaikan dengan
kenaikan tarif angkutan dan tentu saja akan mengakibatkan inflasi.
Harga minyak terus naik seiring dengan menurunnya kapasitas
cadangan. Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya gejolak ini, salah
satunya adalah persepsi terhadap rendahnya kapasitas cadangan harga
minyak yang ada saat ini, yang kedua adalah naiknya permintaan
(demand) dan di sisi lain terdapat kekhawatiran atas ketidakmampuan
negara – negara produsen untuk meningkatkan produksi, sedangkan
masalah tingkat utilisasi kilang di beberapa negara dan menurunnya
persediaan bensin di Amerika Serikat juga turut berpengaruh terhadap
posisi harga minyak yang terus meninggi.
Kekhawatiran ini menyebabkan naiknya harga minyak dari 36,05
dollar AS per barel menjadi 65,64 dollar AS per barel. Pada tahun
98
2006 harga minyak adalah sebesar 70,08 dollar AS per barel
meningkat lagi pada tahun 2007 yaitu menjadi sebesar 89,61 dollar AS
per barel. Harga minyak dunia terus meningkat hingga sekarang.
Dimana harga minyak kembali membumbung tinggi hingga mencapai
angka yang jauh dari perkiraan. Terlebih dengan adanya permintaan
akan minyak yang terus meningkat, terutama dari negara industri baru
seperti China dan India.
Pemerintah terus memantau harga minyak internasional dikaitkan
dengan kebijakan harga BBM dalam negeri. Dalam tiga minggu
terakhir, sejalan dengan pemotongan produksi OPEC, realisasi pasar
riil & pasar perumahan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan
sebelumnya serta kebijakan perbankan Amerika Serikat, harga minyak
mentah dunia telah mengalami koreksi yang signifikan dari kisaran
US$45 per barel menjadi US$ 50 per barel.
Perkembangan harga minyak untuk waktu – waktu selanjutnya
masih mengalami tekanan dari rendahnya kebutuhan minyak akibat
krisis ekonomi global. Perkembangan ICP terus merangkak naik dari
US$ 43,1 per barel pada bulan Februari 2009, sampai rata – rata bulan
Maret 2009 telah mencapai US$ 46,75 per barel.
Berdasarkan perhitungan harga rata – rata minyak dunia tahun
2009 masih berada pada kisaran US$40 – US$60/barel. Sementara itu
kurs rupiah dalam 2 bulan terakhir telah mengalami tekanan yang
cukup berat. Selain itu, dalam situasi perekonomian global yang tidak
99
menentu,
perkembangan
harga
BBM
belakangan
ini
masih
menunjukkan pola yang berbeda dengan pola perkembangannya pada
waktu – waktu sebelumnya.
f. Harga Emas
Tabel 4.6
Harga Emas (dalam Dollar)
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
631.16
889.59
858.69
1117.96
Februari
664.74
922.29
943.16
1095.41
Maret
654.89
968.43
924.27
1113.34
April
679.36
909.70
890.20
1148.69
Mei
666.85
888.66
928.64
1205.43
Juni
655.49
889.48
946.67
1232.92
Juli
665.29
939.77
934.23
1192.97
Agustus
665.41
839.02
949.38
1215.81
September 712.65
829.93
996.59
1271.10
Oktober
754.60
806.61
1043.16 1342.02
November
806.24
760.86
1127.04 1369.89
Desember
803.20
816.09
1134.72 1390.55
Sumber: www.goldfixing.org
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa harga emas tertinggi
terjadi pada bulan Desember tahun 2010 yaitu sebesar 1390,55 dan
harga emas terendah terjadi pada bulan Januari tahun 2007 yaitu
sebesar 631,16.
Secara jangka panjang emas cenderung meningkat harganya di
pasar dunia. Memang emas tak selalu naik. Dalam jangka pendek emas
100
sering mengalami masa fluktuasi yang curam juga. Harga emas sempat
mengalami fluktuasi yang cukup tajam pada awal tahun 2006 dan
selama periode akhir 2007 hingga awal 2009.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir harga emas cenderung naik.
Tujuh tahun lalu pada September 2002 harga emas Rp. 88,964/gram,
lima tahun kemudian, september 2007 harganya menjadi Rp.
204,152/gram. Berarti dalam lima tahun harga emas meningkat sebesar
129%. Pada Desember 2009 harga emas menjadi Rp. 350,000/gram
atau naik 293% dalam waktu tujuh tahun. Oleh karena itu, investasi
emas untuk jangka waktu pendek mungkin tak menarik. Tetapi akan
menarik jika investasi dimaksudkan untuk jangka panjang.
Beberapa hal yang mempengaruhi pergerakan naik/turunnya harga
emas, diantaranya :
Inflasi. Inflasi tidak pernah mengalahkan harga Emas, kenaikan
harga Emas selalu di atas nilai Inflasi. Berbeda dengan bunga bank,
bunga bank tidak akan pernah melibihi nilai inflasi. Bank akan merugi
jika memberikan suku bunga tabungan melebihi nilai Inflasi. Biasanya
pemerintah akan menentukan asumsi nilai Inflasi pada periode
Anggaran yang sedang berjalan, apabila prediksi tersebut di tengah
jalan berubah drastis menjadi lebih tinggi, maka harga Emas akan
meroket naik.
Terjadi Krisis Finansial. Setiap lima tahun biasanya terjadi krisis
finansial berskala kecil dan setiap sepuluh tahun krisis yang sama
101
dalam skala yang lebih besar biasanya terulang. Di saat seperti ini
timbul pula krisis kepercayaan, orang banyak yang tidak mau
menyimpan
surat
berharga
bahkan
uang.
Mereka
kemudian
mengalihkannya ke dalam bentuk Emas. Akibatnya harga Emas akan
melonjak tinggi.
Kurs Dollar Menguat Tajam. Bagi kita di Indonesia ber-investasi
Emas tampaknya merupakan sebuah keharusan. Selain faktor harga
Emas dunia yang terus menguat, faktor nilai rupiah terhadap dollar
yang tidak pernah menguat membuat harga Emas di Indonesia terus
naik. Walaupun di pasar dunia harga Emas menurun, seandainya
kondisi Rupiah kita justru melemah banyak terhadap Dollar, maka
harga Emas di pasaran Indonesia akan naik tajam.
Harga Minyak. Ada hal yang menarik antara harga Emas dan
Harga Minyak Mentah. Apabila minyak dibeli dengan Emas, maka
jumlah Emas yang dibutuhkan untuk membeli minyak relatif tidak
berubah dari 60 tahun terahir ini. Jadi apabila terjadi kenaikan harga
Minyak mentah dunia, maka harga Emas akan ikut naik. Semakin
tinggi kenaikan harga minyak, maka harga Emas-pun akan meroket,
dan tentunya akan diikuti oleh kenaikan harga Emas di pasar domestik.
Naiknya Permintaan Emas di Pasar Lokal. India dan China
merupakan negara dengan permintaan Emas paling tinggi di dunia.
Pada musim – musim tertentu seperti musim kawin di India,
permintaan Emas di pasar lokal India menjadi sangat tinggi, dan
102
karenanya dapat mempengaruhi permintaan Emas dunia. Hal ini
biasanya terjadi pada bulan September, kemudian disusul dengan
musim Natal di Amerika dan Eropa, pada saat – saat seperti ini
permintaan akan Emas terus meningkat yang menyebabkan harga
Emas menjadi naik. (source: www.semuasaudara.com)
2. Pengujian Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data dalam
penelitian ini mempunyai distribusi normal atau tidak. Data yang baik
adalah data yang mempunyai distribusi normal. Salah satu cara untuk
mengetahuinya adalah dengan melihat Normal P Plot. Jika titik – titik
yang mewakili sampel dalam penelitian ini mendekati garis diagonal maka
dapat dikatakan data tersebut berdistribusi normal. Berikut ini hasil uji
normalitas data:
Gambar 4.1
Pengujian Normalitas Data
103
Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa data dalam penelitian ini
memiliki penyebaran dan distribusi yang normal karena data memusat
pada garis diagonal PP-Plot. Maka dapat dikatakan bahwa distribusi data
adalah normal.
a. Uji Hesteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah terdapat
ketidaksamaan varian dalam fungsi regresi. Data yang baik adalah data
yang memiliki kesamaan varian atau yang disebut Homoskedastisitas.
Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihat Scatter Plot.
Jika penyebaran titik – titik yang mewakili sampel berada di daerah positif
dan negatif dalam Scatterplot, maka dapat dikatakan data tersebut
memiliki kesamaan varian atau homoskedastisitas.
Gambar 4.2
Pengujian Heteroskedastisitas
104
Dari tampilan scatter plot dapat disimpulkan bahwa data tersebut
memiliki kesamaan varians atau bersifat homoskedastisitas karena titik –
titiknya menyebar di daerah positif dan negatif serta tidak membentuk pola.
b. Uji Multikolinieritas
Dalam penelitian perlu dilakukan pengujian data bahwa data harus
terbebas dari Multikolinieritas, multikolinieritas terjadi ketika variabel
bebasnya saling berkorelasi satu sama lain. Gejala ini ditunjukkan dengan
korelasi antar variabel independen. Data regresi yang baik variabel
bebasnya
tidak
boleh
berkorelasi
satu
sama
lain.
Pengujian
Multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat table coefficient pada
kolom Tollerance dan VIF (Variance Inflation Factor) yang mana nilai
Tollerance >0.1 dan VIF <10 yang akan dijelaskan sebagai berikut:
Tabel 4.7
Hasil Pengujian Multikolinearitas
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Std. Error
Coefficients
Beta
t
-1.757
1.589
inf
.012
.014
kurs
.197
.153
sbi
.209
.090
oil
-.110
.041
.649
.068
.798
gold
Collinearity Statistics
Sig.
Tolerance
VIF
-1.106
.275
.047
.911
.367
.808
1.238
.091
1.291
.204
.434
2.306
.201
2.321
.025
.285
3.509
-.170
-2.709
.010
.546
1.831
9.566
.000
.307
3.255
a. Dependent Variable: return2
Tabel diatas menjelaskan bahwa di dalam data yang ada tidak terjadi
Multikolinearitas antara variabel independen karena tidak ada variabel
bebas yang memiliki nilai Tollerance <0.1 dan nilai VIF >10. Maka dapat
dikatakan memenuhi uji multikolinearitas.
105
c. Uji Autokorelasi
Autokorelasi
terjadi
ketika
kesalahan
pengganggunya
saling
berkorelasi satu sama lain. Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui
apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan
pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1
(sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problema
autokorelasi. Untuk mendeteksi Autokorelasi dalam penelitian ini maka
digunakan uji Durbin Watson (DW) pada tabel Model Summary. Jika -2 <
DW < 2, maka tidak terjadi autokorelasi dalam penelitian ini.
Tabel 4.8
Pengujian Auto Korelasi
b
Model Summary
Model
1
R
.954
R Square
a
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.910
.899
.05664
Durbin-Watson
.487
a. Predictors: (Constant), gold, kurs, inf, oil, sbi
b. Dependent Variable: return2
Pada tabel di atas, diketahui nilai Durbin Watson (d) adalah sebesar
0,487.
Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan
menggunakan nilai signifikansi 5%, jumlah sampel (n) 26 dan jumlah
variabel independen (k) adalah 5. Berdasarkan tabel hasil pengujian
autokorelasi diatas di dapat nilai Durbin Watson adalah -2 < 0,487 < 2,
maka dapat disimpulkan tidak ada autokorelasi baik positif maupun negatif.
106
1. Analisis Regresi Linier Berganda
a. Uji T Signifikansi parsial
Tabel 4.9
Uji T
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Coefficients
Std. Error
Beta
Collinearity Statistics
t
Sig.
Tolerance
VIF
-1.757
1.589
-1.106
.275
inf
.012
.014
.047
.911
.367
.808
1.238
kurs
.197
.153
.091
1.291
.204
.434
2.306
sbi
.209
.090
.201
2.321
.025
.285
3.509
oil
-.110
.041
-.170
-2.709
.010
.546
1.831
.649
.068
.798
9.566
.000
.307
3.255
gold
a. Dependent Variable: return2
Uji t bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh variabel
independen (Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Harga Minyak dan
Harga Emas) secara parsial terhadap variabel dependen (return saham)
dengan angka signifikansi (ɑ) sebesar 0.05. Hasil dari penelitian ini
dapat dilihat pada tabel Coefficients di atas. Adapun hasil penelitian
tersebut adalah sebagai berikut:
1) Inflasi memiliki angka signifikansi sebesar 0,367 dimana 0,367 >
0,05 serta angka t hitung sebesar 0,911 < 2, maka H0 diterima yang
berarti bahwa inflasi tidak mempunyai pengaruh terhadap return
saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan
penelitian Zulfi Skendra tahun 2005 yang menyatakan bahwa
inflasi tidak berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Serta
penelitian Indoyama Nasarudin dan Sepuan Adityawati (2009)
yang menyatakan bahwa PDB, Kurs, dan Inflasi tidak berpengaruh
107
secara signifikan terhadap Return dan Beta saham. Namun hasil ini
tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suyanto pada
tahun 2007 yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif
terhadap return saham. Hasil uji parsial yang menyatakan bahwa
inflasi tidak berpengaruh terhadap return saham dikarenakan
tingkat inflasi pada tahun 2007 – 2010 mengalami penurunan dan
secara perlahan mulai stabil. Memang terjadi tekanan inflasi yang
tinggi hingga bulan September 2008, hal ini dipicu oleh kenaikan
harga komoditi dunia terutama minyak dan pangan. Setelah bulan
September 2008, tingkat inflasi mulai turun karena turunnya harga
komoditi internasional pangan dan energy dunia.
2) Nilai Tukar memiliki angka signifikansi sebesar 0,204 dimana
0,204 > 0,05 serta nilai t hitung sebesar 1,291 < 2, maka H0
diterima yang berarti bahwa nilai tukar tidak mempunyai pengaruh
terhadap return saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Indoyama Nasarudin
dan Sepuan Adityawati (2009) yang menyatakan bahwa nilai tukar
tidak berpengaruh terhadap return saham. Namun hasil ini tidak
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Acmad Ath Thobarry
(2009) yang menyatakan bahwa secara parsial nilai tukar
berpengaruh positif signifikan terhadap indeks harga saham.
Hubungan secara teoritis antara nilai tukar rupiah dengan harga
saham bersifat negatif yaitu apabila terjadi penurunan nilai tukar
108
rupiah
terhadap
dollar
maka
akan
menurunkan
tingkat
pengembalian investasi saham. Dengan merosotnya nilai tukar
rupiah menunjuk kepada merosotnya kemampuan ekonomi
nasional Indonesia, maka kemampuan fundamental perusahaan
juga
cenderung
merosot,
sehingga
menurunkan
tingkat
pengembalian saham. Sedangkan nilai tukar rupiah dengan harga
saham bersifat positif yaitu apabila terjadi sebaliknya. (Ruhendi
dan Johan A, 2003). Secara umum, nilai tukar rupiah bergerak
relatif stabil sampai pertengahan September 2008. Hal ini terutama
disebabkan oleh kinerja transaksi berjalan yang masih mencatat
surplus serta kebijakan makroekonomi yang berhati – hati. Namun
sejak pertengahan September 2008, krisis global yang semakin
dalam telah memberi efek depresiasi terhadap mata uang. Kurs
Rupiah melemah menjadi Rp 11.711,- per USD pada bulan
November 2008 yang merupakan depresiasi yang cukup tajam,
karena pada bulan sebelumnya Rupiah berada di posisi Rp 10.048,per USD.
3) Suku Bunga memiliki angka signifikansi sebesar 0,025 dimana
0,025 < 0,05 serta nilai t hitung sebesar 2,321 > 2 maka H0 ditolak
dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel suku bunga
mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham secara
parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Suyanto 2007 yang menyatakan bahwa suku bunga
109
berpengaruh negatif terhadap return saham. Serta sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Stanley S. C. Huang bahwa
perubahan suku bunga dapat mempengaruhi harga saham. Menurut
Cahyono (2000:117) terdapat dua penjelasan mengapa kenaikan
suku bunga dapat mendorong harga saham ke bawah. Pertama,
kenaikan suku bunga mengubah peta hasil investasi. Kedua,
kenaikan suku bunga akan memotong laba perusahaan. Hal ini
terjadi dengan dua cara. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan
beban bunga emiten, sehingga labanya bisa terpangkas. Selain itu,
ketika suku bunga tinggi, biaya produksi akan meningkat dan harga
produk akan lebih mahal sehingga konsumen mungkin akan
menunda pembeliannya dan menyimpan dananya di bank.
Akibatnya penjualan perusahaan menurun. Penurunan penjualan
perusahaan dan laba akan menekan harga saham.
4) Harga Minyak memiliki angka signifikansi sebesar 0,010 dimana
0,010 < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa
harga minyak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return
saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ardian Agung Witjaksono (2010)
yang menyatakan bahwa harga minyak dunia berpengaruh positif
terhadap IHSG. Harga minyak dunia di pasar Asia relatif stabil
bahkan mengalami penurunan. Hal itu disebabkan optimisme
akibat perkiraan yang menunjukkan peningkatan cadangan minyak
110
mentah milik pemerintah Amerika Serikat. Perusahaan minyak dan
gas asal Prancis Total Energy & Petrolium memperkirakan dunia
akan kekurangan pasokan minyak pada 2015 akibat minimnya
investasi pasca krisis ekonomi. Perusahaan minyak raksasa di
beberapa negara dunia mulai mengurangi produksi minyak
menyusul minimnya permintaan di tengah krisis ekonomi global.
Langkah ini juga dilakukan untuk menjaga harga minyak. Banyak
negara turut terimbas krisis sehingga sulit meneruskan investasi
jangka panjang guna persiapan saat permintaan dan kondisi
ekonomi pulih. Padahal langkah investasi yang dilakukan saat ini
merupakan bekal produksi gas bumi dan minyak mentah pada 2010
hingga 2015. Karena itu dunia akan menghadapi kurangnya
pasokan minyak dalam menghadapi tingginya permintaan. Harga
minyak dunia juga diperkirakan melonjak lebih tinggi dari US$ 100
per barel dari harga saat ini sekitar US$ 70.
5) Harga Emas memiliki angka signifikansi sebesar 0,000 dimana
0,000 < 0,05 maka dapat dikatakan harga emas mempunyai
pengaruh signifikan terhadap return saham secara parsial dalam
penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Ardian Agung Witjaksono (2010) yang menyatakan bahwa
harga emas dunia berpengaruh positif terhadap IHSG. Harga emas
kembali mencetak rekor dan mencapai titik tertinggi baru. Dalam
kontrak pengiriman April, harga emas naik US$ 10.4 menjadi US$
111
1.438 per troy ounce dalam penutupan perdagangan bursa
komoditas New York, Rabu pekan lalu. Harga emas mencapai
harga tertinggi US$ 1.437,7 per troy ounce pada 2 Maret lalu.
Naiknya harga emas tak lepas dari aksi para investor yang
memburu logam mulia ini. Memanasnya situasi politik di Timur
Tengah dan Libya, bencana di Jepang, kebijakan bank sentral
Amerika Serikat, dan ancaman inflasi global juga mengerek harga
emas. “Dalam kondisi seperti itu, tak ada alasan untuk tidak
membeli emas," kata Adam Klopfenstein, ahli strategi pasar Lind
Waldock di Chicago. Analis dari Olympus Futures Charles Nedoss
memperkirakan harga emas akan kembali merangkak naik setelah
harga minyak melonjak di atas US$ 105 per barel akibat serangan
koalisi Amerika, Prancis, dan Inggris terhadap Libya.
Jadi dalam penelitian ini variabel Suku Bunga, Harga Minyak dan
Harga Emas terbukti mempunyai pengaruh secara parsial terhadap
return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Sedangkan variabel Inflasi dan Nilai Tukar tidak
mempunyai pengaruh secara parsial terhadap return saham karena
memiliki angka signifikansi diatas 0,05.
112
b. Uji F Signifikansi Simultan
Tabel 4.10
Uji F
b
ANOVA
Model
1
Sum of Squares
Regression
Residual
Total
df
Mean Square
2.828
5
.566
.155
54
.003
2.983
59
F
197.350
Sig.
.000
a
a. Predictors: (Constant), GOLD, INF, RES_2KURS, SBI, OIL
b. Dependent Variable: RETURN
Berdasarkan hasil SPSS diatas dapat diketahui bahwa signifikansi atau
probabilitas adalah sebesar 0,000. Oleh karena nilai signifikan atau F
hitung sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha 0,05 atau 5% maka Ho ditolak
yang artinya variabel independen inflasi, nilai tukar, suku bunga, harga
minyak dan harga emas secara simultan atau bersama – sama mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan manufaktur.
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Acmad Ath
Thobarry (2009) yang menyatakan bahwa nilai tukar, suku bunga, inflasi
dan pertumbuhan GDP secara bersama – sama berpengaruh terhadap
indeks harga saham. Serta penelitian yang dilakukan oleh Ratna Prihantini
(2009) yang menyatakan bahwa Inflasi, kurs, dan DER berpengaruh
negatif signifikn terhadap return saham.
113
c. Persamaan Regresi
Berikut adalah persamaan regresi dalam penelitian ini:
Y = -1,75 + 0,20 X3 – 0,11 X4 + 0,65 X5
Keterangan:
Y = Return Saham
X3 = SBI
X4 = Harga Minyak
X5 = Harga Emas
Berdasarkan persamaan tersebut diketahui nilai konstanta sebesar -1,75
menunjukan bahwa jika variabel kurs, suku bunga, dan harga emas bernilai 0
maka nilai return saham adalah -1,75 dengan asumsi variabel lain dianggap
tetap.
Nilai koefisien regresi variabel suku bunga bertanda positif artinya jika
variabel SBI mengalami kenaikan sebesar 1% maka akan meningkatkan return
saham sebesar 0,20 kali dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap.
Nilai koefisien regresi variabel harga minyak bertanda negatif artinya jika
variabel harga minyak mengalami kenaikan sebesar 1% maka akan
menurunkan return saham sebesar 0,11 kali dengan asumsi variabel lainnya
dianggap tetap.
Nilai koefisien regresi variabel harga emas bertanda positif artinya jika
variabel harga emas mengalami kenaikan sebesar 1% maka akan
meningkatkan return saham sebesar 0,65 kali dengan asumsi variabel lainnya
dianggap tetap.
114
d. Koefisien Determinasi (Adj RSquare)
Melalui pengujian serentak dapat diketahui besar koefisien
determinasi (Adj R2). Dari koefisien determinasi (Adj R2) dapat
diketahui derajat ketepatan dari analisis regresi linear berganda
menunjukkan besar variasi sumbangan seluruh variabel bebas terhadap
variabel terikatnya.
Tabel 4.11
Koefisien Determinasi
b
Model Summary
Model
1
R
R Square
a
.954
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.910
.899
.05664
Durbin-Watson
.487
a. Predictors: (Constant), gold, kurs, inf, oil, sbi
b. Dependent Variable: return2
Pada tabel di atas dapat dilihat nilai Adjusted R Square sebesar
0,899 atau 89,9% yang artinya variabel Y (Return Saham) dapat
dijelaskan oleh variabel X1 (Inflasi), X2 (Nilai Tukar), X3 (Suku
Bunga), X4 (Harga Minyak), X5 (Harga Emas) sebesar 89,9%
sedangkan sisanya sebesar 10,1% dijelaskan oleh faktor – faktor lain
seperti kondisi politik, kebijakan pemerintah, peraturan perpajakan,
peredaran uang dan sebagainya.
115
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan yang telah dibahas
pada bab – bab sebelumnya, maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Hasil uji secara parsial (uji t) yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
dari semua variabel bebas yang terdiri dari inflasi, nilai tukar, suku bunga,
harga minyak dan harga emas yang telah diuji, variabel inflasi dan nilai
tukar tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham sedangkan
variabel suku bunga, harga minyak dan harga emas mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap return saham pada α = 5%.
2. Hasil uji simultan (uji F) yang telah dilakukan menunjukkan bahwa semua
variabel bebas yang terdiri dari inflasi, nilai tukar, suku bunga, harga
minyak dan harga emas mempunyai pengaruh terhadap return saham pada
α = 5%.
3. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini adalah sebesar 89,9%, yang
berarti variabel bebas yang terdiri dari inflasi, nilai tukar, suku bunga,
harga minyak dan harga emas mampu menjelaskan return saham sebesar
89,9%, sedangkan sisanya sebesar 10,1% dijelaskan oleh faktor – faktor
lain di luar model regresi seperti kondisi politik, kebijakan pemerintah,
peraturan perpajakan, peredaran uang dan sebagainya.
116
B. SARAN
Berikut ini adalah beberapa saran dari penulis bagi para peneliti yang ingin
melanjutkan penelitian berikutnya berkaitan dengan penelitian ini:
1. Dalam penelitian ini hanya melihat dari faktor eksternal perusahaan saja,
disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan faktor – faktor
fundamental perusahaan seperti rasio keuangan, rasio profitabilitas dan
lainnya agar mendapat hasil yang lebih baik.
2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar menambah jumlah sampel
penelitian karena dalam penelitian ini hanya menggunakan 26 perusahaan
dari sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar menambah periode penelitian
dengan periode yang paling baru agar mendapat hasil yang lebih baik.
117
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Tuti. Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, Suku Bunga SBI dan Harga
Emas Terhadap Tingkat Pengembalian (Return) Saham Sektor Industri Barang Konsumsi
di Bursa Efek Indonesia. Skripsi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. 2008.
Astuti, Neni. Analisa Pengaruh Perubahan Suku Bunga, Perubahan Inflasi,
Perubahan Kurs Valas Dan Volume Perdagangan Saham Terhadap Perubahan
Stock Return Di Bursa Efek Jakarta. Sosekhum, vol. 1, No. 1. 2005.
Atmaja, Lukas Setia. Teori & Praktik Manajemen Keuangan. Yogyakarta: CV
ANDI. 2008.
Bodie, Kane dan Marcus. Investasi. Jakarta: Salemba Empat. 2006.
Brigham, F. Eugene. Joel F. Houston. Dasar – Dasar Manajemen Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat. 2009.
Gregory, Mankiw N. Teori Makro Ekonomi. Edisi 4. Jakarta: Erlangga. 2000.
Krugman, R. Paul dan Maurice, Obstfield. Ekonomi Internasional Dan Teori
Kebijakan. Jilid Kedua Edisi Keempat. Terjemahan PT. Indeks kelompok. Jakarta:
Gramedia. 2000.
M. G. Wright. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Penerbitan Yayasan Kanisius.
1976.
118
Madura,
Jeff. International
Corporate Finance (Keuangan Perusahaan
Internasional) Buku 2 edisi 8. Jakarta: Salemba Empat. 2006.
Madura,
Jeff. International
Corporate Finance (Keuangan Perusahaan
Internasional) Buku 1 edisi 8. Jakarta: Salemba Empat. 2009.
Mohammad D. Sulaiman, Adnan Hussain, Adnan Ali. Impact Of Macroeconomics
Variables On Stock Prices: Emperical Evidance In Case Of KSE (Karachi Stock
Exchange). European of Journal Scientific Research. 2009.
Nanga, Muana. Teori Masalah Dan Kebijakan Makro Ekonomi. Edisi Perdana.
Jakarta: Rajawali Pers. 2001.
Nopirin. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro Dan Mikro. Edisi Pertama. Yogyakarta:
BPFE. 1994.
Riduwan dan Ahmad Kuncoro, Engkos. Cara Menggunakan dan Memakai
Analisis Jalur ( PATH Analisis ), Jakarta: Alfabeta
Rodoni, Ahmad & Herni Ali. Manajemen Keuangan. Jakarta: Mitra Wacana
Media. 2010.
Rodoni, Ahmad dan Yong, Othman. Analisis Investasi dan Portofolio. Jakarta:
Murai Kencana. 2001.
Sadono, Sukirno. Pengantar Teori Ekonomi Makro. Edisi 2. Jakarta: Radja
Grafindo Persada. 2000.
119
Sangaji, Joko. Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/Dollar Terhadap Return Saham
LQ45: Aplikasi Model Koreksi Kesalahan. Scripta Economica, Vol. 6, No. 3.
2003.
Sartono, Agus. Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi. Edisi Keempat.
Yogyakarta: BPFE. 2001.
Sarwono. Analisis Jalur Untuk Riset Bisnis Dengan SPSS, Edisi Satu. Yogyakarta:
Audi, 2007
Singh, Bhupender. Inter-Relation Between FII, Inflation And Exchange Rate.
Sundjaja, S Ridwan. Inge Barlian. Dharma Putra Sundjaja. Manajemen Keuangan
2 Edisi 6. Bandung: Literata Lintas Media. 2010.
Utami, Mudji dan Mudjilah Rahayu. Peranan Profitabilitas, Suku Bunga, Inflasi,
Dan Nilai Tukar Dalam Mempengaruhi Pasar Modal Indonesia Selama Krisis
Ekonomi. Jurnal Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen
Petra. 2003.
Vale, A. Philip. Manajemen Keuangan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
1993.
120
LAMPIRAN 1
HASIL OUTPUT SPSS
121
122
LAMPIRAN 2
DATA – DATA
Return Saham Perusahaan Manufaktur
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
10.68
10.15
6.75
6.86
Februari
8.59
6.60
9.80
7.30
Maret
6.70
12.70
19.59
9.26
April
13.84
9.98
17.37
15.29
Mei
9.12
14.61
18.98
10.66
Juni
16.77
16.36
13.76
12.01
Juli
8.79
8.74
11.84
13.34
Agustus
10.19
9.48
10.75
8.14
September
11.27
13.53
10.91
19.77
Oktober
11.88
26.19
8.64
12.32
November
9.15
8.07
8.82
12.44
Desember
9.32
9.31
11.86
5.61
Tingkat Inflasi Indonesia
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
0.00087 0.00048 0.00010 0.00070
Februari
0.00052 0.00054 0.00020 0.00025
Maret
0.00020 0.00079 0.00020 0.00012
April
0.00013 0.00048 0.00030 0.00013
Mei
0.00080 0.00048 0.00030 0.00024
Juni
0.00019 0.00020 0.00010 0.00081
Juli
0.00060 0.00014 0.00040 0.00020
Agustus
0.00063 0.00043 0.00050 0.00021
September 0.00067 0.00081 0.00090 0.00019
Oktober
0.00066 0.00038 0.00020 0.00018
November 0.00015 0.00010 0.00030 0.00021
Desember 0.00092 0.00030 0.00030 0.00023
123
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS
Tahun
Bulan
2007
2008
2009
2010
Januari
9090
9291
11355
9365
Februari
9160
9051
11980
9335
Maret
9118
9217
11575
9115
April
9083
9234
10713
9012
Mei
8828
9318
10340
9180
Juni
9054
9225
10225
9083
Juli
9186
9118
9920
8952
Agustus
9410
9153
10060
9041
September
9137
9378
9681
8924
Oktober
9103
10995
9545
8928
November
9376
12151
9480
9013
Desember
9419
10950
9400
8991
Tingkat Suku Bunga
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
0.0079
0.0067
0.0079
0.0054
Februari
0.0077
0.0066
0.0073
0.0053
Maret
0.0075
0.0066
0.0068
0.0052
April
0.0075
0.0067
0.0063
0.0052
Mei
0.0073
0.0069
0.0060
0.0053
Juni
0.0071
0.0073
0.0058
0.0052
Juli
0.0069
0.0077
0.0056
0.0054
Agustus
0.0069
0.0077
0.0055
0.0054
September 0.0069
0.0081
0.0054
0.0054
Oktober
0.0069
0.0092
0.0054
0.0054
November
0.0069
0.0094
0.0054
0.0054
Desember
0.0067
0.0095
0.0054
0.0054
Sumber: www.bi.go.id
124
Harga Minyak (dalam Dollar)
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
50.73
88.50
41.52
76.01
Februari
54.45
90.64
41.41
72.99
Maret
58.47
99.03
45.78
77.21
April
63.39
105.16
50.20
82.33
Mei
64.36
119.39
56.98
74.48
Juni
66.77
128.33
68.36
72.95
Juli
71.75
131.22
64.59
67.91
Agustus
68.71
112.41
71.35
68.34
September
74.18
96.85
67.17
67.18
Oktober
79.36
69.16
72.67
73.63
November
88.99
49.76
76.29
76.00
Desember
87.19
38.60
74.01
81.01
Sumber: www.opec.org
Harga Emas (dalam Dollar)
Bulan
Tahun
2007
2008
2009
2010
Januari
631.16
889.59
858.69
1117.96
Februari
664.74
922.29
943.16
1095.41
Maret
654.89
968.43
924.27
1113.34
April
679.36
909.70
890.20
1148.69
Mei
666.85
888.66
928.64
1205.43
Juni
655.49
889.48
946.67
1232.92
Juli
665.29
939.77
934.23 1192.97
Agustus
665.41
839.02
949.38 1215.81
September 712.65
829.93
996.59 1271.10
Oktober
754.60
806.61 1043.16 1342.02
November
806.24
760.86 1127.04 1369.89
Desember
803.20
816.09 1134.72 1390.55
Sumber: www.goldfixing.org
125